Anda di halaman 1dari 4

Perubahan fisik, psikologi, lingkungan, dan sosial akan terus terjadi di setiap tahap perkembangan manusia termasuk lansia.

Perubahan yang terjadi pada lansia berbeda dengan perubahan pada tahapan perkembangan lainnya. Jika pada masa balita maupun dewasa awal, perubahan fisik dan psikologi akan mengalami peningkatan, namun ditahapan lansia, hal tersebut justru mengalami penurunan. Penurunan fisik dan psikologi akan berpengaruh pada fungsi kognitif dan psikososial lansia. Kemampuan fungsi kognitif dan psikososial berubah seiring bertambahnya usia karena adanya perubahan selular yang permanen di dalam otaknya yang mengakibatkan berkurangnya neuron, yang tidak memiliki gaya regeneratif. Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lansia muncul akibat kesalahan konsep karena lansia memiliki kerusakan kognitif. Akan tetapi, perubahan struktur dan fisiologis yang terjadi dalam otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif dan fungsi secara nyata (Ebersoledan Hess, 1994). Fungsi kognitif pada lansia meliputi proses berpikir, belajar, dan mengingat sesuatu. Banyak orang yang beranggapan orang yang berusia lanjut akan mengalami kemunduran kognitif. Walaupun hal ini merupakan hal yang umum, tetapi pada kenyataannya masih banyak lansia yang mempunyai ketajaman kognitif di usia tua mereka. Perubahan fungsi kognitif pada lansia berhubungan dengan perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem saraf pusat dan otak. Peubahan-perubahan tersebut meliputi penurunan berat otak, berkurangnya aliran darah cerebral, melebarnya ventrikel dan sulci, mengecilnya neuron, berkurangnya jumlah neurotransmitter, dan akumulasi jumlah lipofusin di dalam sel saraf (Miller, 2012). Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi kemampuan lansia dalam mengolah informasi dan reaksi. Menurut Willis, Schaie, dan Martin pada tahun 2009, perubahan-perubahan tersebut tidak sepenuhnya mengurangi kemampuan fungsi kognitif pada lansia karena fungsi tersebut akan tetap ada walaupun fisiologis otak dan saraf berubah. Selain itu menurut teori scaffolding theory of aging and cognition, otak mempunyai respon adaptif untuk memilah atau menghilangkan fungsi dan struktur dari saraf sesuai dengan tahap perkembangan manusia dan hal ini merupakan hal yang normal. Pada lansia hal ini bisa dilihat dari penurunan kemampuan dalam mengingat dan berpikir abstrak dan peningkatan kemampuan dalam pengambilan keputusan dan kebijaksanaan. Perubahan kognitif pada lansia juga

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu edukasi, sosial ekonomi, penyakit kronis, status nutrisi, dan pengaruh obat-obatan. (Miller, 2012) Penelitian fisiologis memperlihatkan bahwa orang mempunyai dua jenis kemampuan intelektual, yaitu fluid intelligence dan crystallized intelligence. Fluid intelligence merupakan

kapasitas untuk memandang hubungan untuk bernalar dan melakukan pemikiran abstrak. Jenis inteligensi ini menurun seiring terjadinya perubajan degeneratif. Crystallized intelligence merupakan inteligensi yang diserap sepanjang hidup seperti kosa kata, informasi umum dan kemampuan mengevaluasi pengalaman. Jenis inteligensi ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya pengalaman saat orang menjadi tua (Thels&Merrit, 1994). Penurunan fluid intelligence mengakibatkan perubahan seperti 1) waktu proses yang melambat, 2) ketetapan stimulus (kesan). Lansia dapat mengacaukan simbol yang terdahulu apa bala baru diperkenalkan dengan kata atau simbolbaru. 3) menurunnya memori jangka pendek. 4) meningkatnya ansietas karena tes. Lansia takut untuk melakukan kesalahan dan akan menjadi sangat frustasi ketika benar-benar melakukan kesalahan, misalnya pada sebuah tes tertulis atau verbal. 5) mengubah persepsi waktu. Lansia beranggapan bahwa apa terjadi saat ini sangat penting. Sekalipun ada perubahan dalam kognisi akibat penuaan, sebagian besar penelitian berpendapat bahwa kemampuan lansia untuk belajar dan mengingat sebenarnya sama baiknya dengan yang sebelumnya jika diberiperhatian khusus, untukmemperlambatpenyampaianinformasi, tepat. relevansimateridanmemberiumpanbalik yang

Fungsi psikososial mempunyai peranan penting dalam hidup lansia. Perubahan dari fungsi psikosial tidak dapat dihindari dan dapat diprediksi sehingga lansia dapat disiapkan untuk menghadapinya dengan menyiapkan koping yang strategis, Terdapat enam kejadian dalam hidup lansia yang dapat mempengaruhi fungsi psikososial pada lansia, yaitu: Stereotip terhadap lansia: devaluasi, sikap yang negatif dari lingkungan sekitar, dan mitos-mitos mengenai lansia. Penyakit kronis: penurunan fungsi tubuh dan sensorik, efek samping dari obat, kerentanan tubuh, kehilangan uang, dan ketidakmampuan untuk berkendara. Pensiun: kehilangan pendapatan, kehilangan peran dan identitas, kehilangan kekuasaan, kehilangan kegiatan, kehilangan tujuan hidup, dan kehilangan relasi. Kematian teman-teman: kehilangan kegiatan sosial dan ancaman kematian diri sendiri. Kematian istri atau suami: kehilangan orang yang selalu membantu, kehilangan teman hidup, kehilangan teman seksual, kesepian, perubahan tanggung jawab, dan ketergantungan terhadap orang lain.

Relokasi ke panti sosial: perubahan lingkungan tempat tinggal, kehilangan area privasi, dan pindah dari teman-teman.

Erikson (1963) menanamkan tugas perkembangan psikososial major pada tahap kehidupan ini sebagai integritas ego versus keputusasaan. Fase dewasa tua ini mencakup penanganan terhadap realitas penuaan, penerimaan kenyataan yang tak terelakkan bahwa kita semua akan mati, menghubungkan kegagalan masalalu dengan kepentingan sekarang dan di masa depan dan mengembangkan rasa pertumbuhan dan tujuanuntuk masa yang akan datang, tugas psikososial yang paling umum pada penuaan meliputi perubahan gaya hidup dan status sosial yang terjadi akibat pensiun, penyakit atau kematian pasangan, kerabat dan teman, pindahnya anak, cucu dan teman, pindah kelingkungan yang asing seperti panti werda. Pada fase yang terakhir ini setiap orang ini memiliki keterbatasan eksistensi usia lanjut menghadapi kemungkinan kematian, melihat makna hidup secarapositif, menciptakan keharmonisan eksistensi diri berhasil, memiliki integritas, memiliki perasaan berarti dalam hidup, merasakan kebahagiaan, mengembangkan toleransi yang mendalam, memiliki kebijaksanaan, dapat menghargai kontinuinitas masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Apabila gagal melalui maka akan memunculkan perasaan tidak berarti dalam hidup, merasa putusasa, menyesali diri, perasaan muak dan tidak dapat menerima kehidupannya, kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain, selalu mengingatkan kesempatan untuk mengulangi kembali hidup, takut menghadapi kematian serta tidak memiliki spiritualitas.

Kejadian-kejadian tersebut secara langsung memberikan dampak kepada kehidupan lansia. Banyak orang menganggap kejadian-kejadian tersebut hanya akan memberikan dampak negatif saja, tetapi itu bergantung kepada pola koping yang dimiliki oleh lansia tersebut. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi psikososial, yaitu agama dan spiritualitas, penurunan fungsi tuubuh dan budaya. (Miller, 2012) Selain itu, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut: 1. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.

2.

Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.

3.

Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.

4.

Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadangkadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.

5.

Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya