Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN IV SINTESIS DIAZOAMINOBENZEN

I.

Tujuan Mempelajari reaksi garam diazonium dengan amina dalam sintesis diazoaminobenzen

II.

Tinjauan Pustaka Senyawa diazoamino disintesis dari senyawa garam diazonium dengan amina. Pada proses diazonisasinya digunakan asam klorida yang berlebih. Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen anilin dan tiga ekivalen asam kloroda dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan dua ekivalen natrium asetat ( Tim Dosen Kimia Organik Sintesis, 2014 ). Senyawa azo merupakan senyawaorganic dengan rumus umum ArN=NAr1 atau RN=NR1, dimana Ar dan Ar1adalah gugusaromatic, sedangkan R dan R1adalah gugusalkil. Umumnya senyawa azo berwarna yangdisebabkan adanya gugus azo N=N- dan karenaitu banyak digunakan sebagai zat warna (Fessenden dan Fessenden, 1984). Aril amina seperti anilin dapat dibuat dalam laboratorium dengan nitrasi senyawa aromatik yang diikuti engan reduksi gugus nitro. Suatu campuran kawat besi dan HCl pekat merupakan bahan pereduksi yang lazim untuk reaksi ini. Karena reaksi ini berlangsung dalam asam, produknya ialah amina terprotonkan. Pengolahan selanjutnya dengan basa akan

menghasilkan amina itu sendiri (Fessenden, 1986). Reaktivitas tinggi (dari garam dizaonium) disebabkan oleh

kemampuan pergi yang sangat bagus dari gas nitrogen, N2. Karena kemampuan pergi ini, gugus diazonium dapat ditukarganti oleh berbagai nukleofil, seperti I-. Beberapa reaksi subtitusi diduga berjalan dengan mekanisme radikal bebas. Dalam reaksi penggantian,umunya garam dizaonium dibuat (tetapi tidak diisolasi), kemudian ditambahkan reagen nukleofilik dan campuran dibiarkan menghangat atau dipanasi. Rendemen

produk subtitusi biasanyabaik sekali : 70-95 % dari arilamina awal. Gugus diazonium mudah digeser selaku N2 oleh ion halida (F-, Cl-, Br- atau I-) atau ion sianida (CN-). Reaksi-reaksi ini memberikan rute ke aril fluorida, iodida dan nitril (ArCN), yang tak satu pun dapat diperoleh langsung dengan subtitusi elektrofilik. Meskipun aril bromida dan aril klorida dapat disintesis dengan reaksi subtitusi elektrofilik, produk-produknya sering tercemar degan produk sampingan senyawa terdisubtitusikan. atau Penggantian diazonium murni, tak

menghasilkan

monokloro

manaobromo

terkontaminasikan oleh produk disubtitusi (Carey, 2001). Garam diazonium klorida dihasilkan darireaksi aromatik primer sepertianiline dengan asam nitrit antara dingin amina dalam in

larutanasam klorida pada suhu 0oC. Asam nitrit inibiasanya dibuat

situ oleh reaksi natrium nitritdengan HCl. Penambahan natrium nitrit kedalam aniline klorida disebut diazotasi. Pada saatdiazotasi suhu dijaga dibawah 10oC denganpendingin es, karena reaksi tersebut

sangateksotermis. Dalam reaksi ini ion diazoniumbertindak sebagai elektrofil. Struktur resonansiion diazonium menunjukkan bahwa

keduanitrogen mengemban muatan positif parsial.Nitrogen terminal menyerang posisi orto ataupara dari cincin benzene teraktifkan (cincin yang disubstitusi dengan suatu gugus pelepas electron seperi NH2 atau OH). Garam diazonium kloridabereaksi dengan 2-naftol pada suasana basa.Pada suasana basa 2-naftol akan melepaskan H+sehingga terbentuk ion fenoksida yang reaktif.Ion fenoksida dari 2-naftol menyerang senyawa

garamdiazonium melalui reaksi kopling sehinggaterbentuk

orto-fenilazo-2-naftol.Produk kopling mengandung gugus azo (-N=N-) dan biasanya dirujuk sebagai senyawa azo (Fessenden dan Fessenden, 1992). Gugus N2+ dapat digantikan H, dengan merekasikan garam diazonium dengn asam hipofosfit, H3PO2. Deret ini memberikan metode untuk membuang suatu gugus NH2 dari cincin aromatik. Reaksi kopling garam aril digunakan membuat zat warna dari anilin tersubtitusi. Dalam

reaksi ini ion dizaonium bertindak sebagai suatu elektrofil. Struktur resonansi untuk ion diazonium menunjukkan bahwa kedua nitrogen mengemban muatan positif parsial. Nintorgen terminal menyerang posisi para dari cincin benzen teraktifkan (cincin yang disubtitusi dengn suatu gugus pelepas elektron seperi NH2 atau OH). Produk kopling mengandung gugus azo (-N=N-) dan biasanya dirujuk sebagai senyawa azo. Banyak senyawa azo digunakan sebagai zat warna (Murry, 2000).

III. Alat dan Bahan 3.1.Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain neraca analitik, erlenmeyer 250 mL, magnet stirer, gelas ukur 100 mL, batang pengaduk, gelas arloji, melting point, seperangkat penyaring Buchner, botol semprot, dan gelas kimia 100 mL. 3.2.Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain aquadest, HCl pekat, anilin, natrium nitrit, natrium asetat, benzene, es batu, dan kertas saring.

IV.

Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja percobaan ini adalah: Memasukkan 75 ml air ke dalam erlenmeyer 600 ml, menambahkan 20 ml HCl pekat dan 13,7 ml aniline. Mengocok dengan stirrer lalu menambahkan 50 gram serpihan es. Selanjutnya memasukkan 5,2 gram natrium nitrit dalam 12 ml air, dengan pengadukan konstan selama 10 menit. Melanjutkan pengocokan dengan stirer selama 5 menit dan menambahkan 21 gram natrium asetat dalam 40 ml air. Endapan kuning mulai terbentuk dengan seketika. Melanjutkan pengocokan hingga 45 menit dan jangan membiarkan temperatur di atas 20C (menambahkan es seperlunya). Menyaring endapan kuning diazoaminobenzen dengan penyaring buchner dan mencuci endapan dengan 250 ml air dingin, dan mengeringkan secara sempurna. Lalu menimbang produk yang dihasilkan. Mengukur titik leleh dari diazoaminobenzen. Merekristalisasi crude diazoaminobenzen dengan 100 ml benzene hingga diperoleh senyawa murni diazoaminobenzen. Lalu menimbang serta mengukur titik lelehnya setelah rekristalisasi.

V.

Hasil Pengamatan Dan Analisa Data 5.1. Hasil Pengamatan No. 1. Perlakuan Hasil Pengamatan

75 mL air + 20 mL HCl pekat + Larutan berwarna coklat 13,7 mL anilin + 50 gram es (Larutan 1)

2.

Larutan 1 + 5,2 g NaNO2 dalam Larutan berwarna jingga 12 mL air + diaduk 5 10 menit (Larutan 2)

3.

Larutan 2 + 21 g CH3COOH Larutan berwarna kuning dalam 40 mL air + pengadukkan dengan endapan hitam 45 menit (Larutan 3)

4.

Menyaring larutan + mencuci Endapan berwarna coklat endapan dengan 250 mL air tua dingin + menimbang endapan + Berat endapan 33,514 g mengukur titik leleh Berat kaca arloji 23,725 g Berat kertas saring 0,459 g Titik leleh 101 oC

5.

Mencuci endapan dengan 100 Endapan berwarna coklat mL benzene + menimbang Berat endapan 28,762 g Berat kaca arloji 23,725 g Berat kertas saring 0,344 g Titik leleh 97 oC

endapan + mengukur titik leleh

5.2. Analisa Data Sebelum rekristalisasi : Berat kertas saring (A) Berat kaca arloji (B) = 0,459 g = 23,725 g

Berat kaca arloji + endapan + kertas saring (C) = 33,514 g

Sesudah rekristalisasi : Berat kertas saring (A) Berat kaca arloji (B) = 0,344 g = 23,725 g

Berat kaca arloji + kertas saring + endapan (C) = 28,762 g

Sebelum rekristalisasi Berat kristal diazoaminobenzen Berat kristal diazoaminobenzen Berat kristal diazoaminobenzen = (C) ( A +B) = (33,514) g (0,459 + 23,725) g = 9,33 gram

Sesudah rekristalisasi Berat kristal diazoaminobenzen Berat kristal diazoaminobenzen Berat kristal diazoaminobenzen = (C) ( A +B) = (28,762) g (0,344 + 23,725) g = 4,693gram

Rendemen Kristal diazoaminobenzen

Rendemen =

= 50,30 %

VI. Persamaan Reaksi

VII. Pembahasan Senyawa diazoamino disintesisi dari senyawa garam diazonium dengan amina. Pada proses diazosiasinya digunakan asam klorida yang berlebih. Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen anilin dengan tiga ekivalen asam klorida dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan dua ekivalen natrium asetat. Ion diazonium bertindak sebagai suatu elektrofil ang berasal dari gugus diazo yang memiliki muatan positif parsial. Tujun percobaan percobaan ini adalah untuk mempelajari reaksi garam diazonium dengan amina dalam sintesis diazoaminobenzen Senyawa azo merupakan senyawa organic dengan rumus umum ArN=NAr1 atau RN=NR1, dimana Ar dan Ar1adalah gugusaromatic, sedangkan R dan R1adalah gugusalkil. Umumnya senyawa azo berwarna yangdisebabkan adanya gugus azo N=N- dan karenaitu banyak digunakan sebagai zat warna. Langkah awal dalam percobaan ini adalah mencampurkan HCl pekat berlebih dengan anilin dalam aquadest lalu mengocok dengan stirrer sambil menambahkan 50 gram serpihan es. Tujuan perlakuan ini adalah untuk membentuk garam diazo. Garam diazonium adalah senyawa antara sistesis yang bermanfaat, salah satunya dalam reaksi kupling diazonium. Nitrogen ujung pada kation diozonium digunakan sebagai suatu elektrofil dalam suatu reaksi substitusi elektrofilik pada aromatik. Sebagian besar produk tipe reaksi kupling diazonium berwarna cerah, dikenal dengan azo-dyes. Pembuatan garam diazonium disebut dengan reaksi diazotisasi/diazotasi Untuk pembuatan garam diazonium diperlukan tiga macam pereaksi, yaitu suatu amina aromatik primer, suatu asam mineral, dan garam natrium nitrit. Reaksi pebuatan garam diazonium dilakukan dalam keadaan dingin dengan cara mempertahankan suhu reaksi dibawah 5oC. Menurut McMurry (2000), agar garam diazo yang terbentuk lebih stabil, sehingga meminmalisis bahkan menghentikan terjadinya pelepasan nitrogen selama proses reaksi berlangsung. Suhu ideal untuk menghentikan pelepasan nitrogen adalah

pada suhu 0 5

C. Penguapan nitrogen harus diminmalisir agar

pembentukan garam diazonium dapat terbentuk. Selanjutnya mencampurkan 5,2 gram natrium nitrtit yang bertujuan untuk membantu pembentukan asam nitrti yang sifatnya tidak stabil dan tidak tersedia secara alami kecuali disintesis. Dalam pembentukan garam diazonium, digunakan Natrium Nitrit (NaNO2) dan HCl pekat. HCl pekat akan menghidrolisis natrium nitrit sehingga terbentuk asam yang akan dihidrolisis oleh larutan HCl pekat menjadi asam nitrit. Asam nitrit ini akan berkontribusi memberikan gugus N-nya pada 3-nitroanilin untuk

membentuk suatu garam diazonium. Gugus N padaujung kation diazonium inilah yang akan berperan sebagai elektrofil yang akan menyerang reagen pengupling. Asam nitrit yang terbentuk, dapat bereaksi dengan HCl untuk melepaskan molekul air serta menghasilkan ion NO+. Ion NO+ akan diserang oleh pasangan elektron bebas dari anilin yang nantinya akan diikuti oleh reaksi dehidrasi (pelepasan molekul air). Pada reaksi ini, terjadinya donor proton dari suatu basa konjugasi yang mudah lepas yaitu HCl. Selanjutnya campuran ditambahkan natrium asetat yang bertujuan untuk mengeliminasi suatu ion klorida yang terikat pada padatan dan masih terdapat dalam campuran sebagaimana yang terlihat pada reaksi dan mekanisme reaksi. Bila ion klorida tidak dieliminasi, maka akan memungkinkan terjadi mekanisme reaksi SN1 yang mana ion klorida akan menyerang ion diazo yang terikat langsung pada cincin benzen sehingga molekul air yang ada akan menggantikan posisi diazo sehingga hasil yang terbentuk berupa senyawa fenol. Dari hasil pengamatan terlihat endapan kuning yang merupakan endapan diazoamninobenzen mulai terbentuk dengan seketika. Melanjutkan pengocokan hingga 45 menit dan jangan membiarkan temperatur di atas 20C (menambahkan es seperlunya). Selain untuk menghentikan pelepasan nitrogen, menjaga temperature 20o C juga untuk membantu proses pengendapan (pembentukan endapan). Selanjutnya endapan yang terbentuk disaring pada penyaring Buchner, didinginkan, kemudian mencuci dengan air dingin dan dikeringkan lalu

ditimbang dan diperoleh berat endapan sebesar 9,33 gram. Fungsi pencucian dengan air dingin adalah untuk tetap menjaga nitrogen tetap terikat dan pembentukan Kristal dapat berlangsung sempurna juga sebagai rekristalisasi awal untuk membersihkan pengotor-pengotornya. Endapan

diazoamninobenzen ditentukan titik lelehnya dengan menggunakan alat melting point. Hasil yang diperoleh adalah 101oC. Menurut Gnanou dan Fontanille (2008), titik leleh dari garam diazoaminobenzen yang belum direkristalisasi mencapai 92,5 oC. Hasil ang diperoleh tidak sesuai dengan literature. Hal ini dikarenakan saat pengujian titik leleh sampel ang diamati terlalu sedikit yang dimasukan kedalam pipa melting point sehingga saat mencapai titik lelehnya sampel tidak dapat diamati dan penentuan titik lelehnya pun tidak sesuai. Selanjutnya merekristalisasi kristal diazoaminobenzen menggunakan petroleum benzene. Penggunaan petroleum benzene karena sifatnya yang sama-sama tidak polar. Maka kristal diazoaminobenzen dapat sedikit larut. Hasil rekristalisasi disaring pada penyaring buchner kemudian ditimbang dan diperoleh berat kristal diazoaminobenzen murni adalah 4,693gram. Kristal diazoaminobenzen diukur titik lelehnya dan didapat sebesar 97 oC. Menurut Carey (2001), titik leleh kristal diazoaminbenzen murni adalah 98
o

C. Jadi, hasil yang diperoleh telah sesuai dengan literatur. Tahap selanjutnya menghitung rendemen krital yang diperoleh. Hasil

yang diperoleh dari hasil perhitungan sebesar 50,30 %. Menurut Carey (2001), rendemen kristal diazoaminobenzen adalah 59,59 %. Jadi hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan literature. Prinsip kerja melting point antara lain memasukan sampel pada pipa kapiler lalu memampatkannya, kemudian memasukan pipa kapiler yang berisi sampel pada alat melting point. Mengatur suhu mulai operasi (dalam percobaa ini dimulai dari suhu 85 oC) dan suhu akan lain perlahan-lahan. Mengamati sampel dan melihat proses pelelehannya sambil mengamati dan mencatat suhu saat proses pelehan mulai terjadi.

VIII. Kesimpulan dan Saran 8.1. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulakan bahwa senyawa diazoaminobenzen dapat disintesis dari senyawa garam diazonium dengan amina. Dengan penggunaan asam klorida yang berlebih. Berat krital yang diperolah dari hasil percobaan untuk Kristal sebelum rekristalisasi adalah 9,33 gram dan setelah rekristalisasi adalah 4,693 gram sehingga rendemennya adalah 50,30 %. Hasil titik leleh dari garam diazoaminobenzen yang belum direkristalisasi adalah 101 oC dan setelah rekristalisasi adalah 97 oC.

8.2. Saran Untuk percobaan selanjutnya, sampel yang akan dimasukan kedalam pipa kapiler melting point bias lebih banyak agar proses pengamatan pelehan dapat diamati dengan baik.

Daftar Pustaka

Carey, Francis A. 2001. Organic Chemistry Fourth Edition. McGraw Hill. New York Fessenden & Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid Dua Edisi Ketiga. Penerbit Erlangga. Jakarta Gnanou, Y & Fontanille, M. 2008. Organic and Physical Chemistry Of Polimer. John Wiley & Sons Inc. New Jarsey McMurry. 2000. Organic Chemistry Fifth Edition. Brooks/Cole. Ohio

LEMBAR ASISTENSI

Nama Stambuk Kelompok Asisten

: Christianto Pasunu : G 301 11 022 : IV : Firmansyah

No.

Hari / Tanggal

Perbaikan

Paraf

PERCOBAAN IV SINTESIS DIAZOAMINOBENZEN

Disusun Oleh :
Nama Stambuk Kelompok Asisten : Christianto Pasunu : G 301 11 022 : IV : Firmansyah

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK DAN BIOKIMIA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TADULAKO 2014