Anda di halaman 1dari 33

Makalah Sistem Perencanaan Plambing

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sistem plumbing adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangunan gedung, oleh karena itu perencanaan sistem plambing haruslah dilakukan bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan gedung itu sendiri, dalam rangka penyediaan air bersih baik dari kualitas dan kuantitas serta kontinuitas maupun penyaluran air bekas pakai atau air kotor dari peralatan saniter ke tempat yang ditentukan agar tidak mencemari bagian-bagian lain dalam gedung atau lingkungan sekitarnya. Setiap usaha dan atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya, sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Dan berdasarkan hal tersebut telah ditetapkan peraturan pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Plambing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang memenuhi syarat dan pembuang air bekas atau air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari bagian penting lainnya untuk mencapai kondisi higienis dan kenyamanan yang diinginkan. Perencanaan sistem plambing dalam suatu gedung, guna memenuhi kebutuhan air bersih sesuai jumlah penghuni dan penyaluran air kotor secara efesien dan efektif (drainase), sehingga tidak terjadi kerancuan dan pencemaran yang senantiasa terjadi ketika saluran mengalami gangguan. Drainase berasal dari bahasa Inggris drainage yang mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.

Sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain) dan bagian penerima air (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bagian lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa. Fungsi utama peralatan plumbing gedung adalah menyediakan air bersih dan atau air panas ke tempat-tempat tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan air sebagai proteksi kebakaran dan menyalurkan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari lingkungan sekitarnya. I.2 Maksud Dan Tujuan Maksud dan Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai salah satu tugasmata kuliah menggambar teknik 2 semester genap (II), program studi teknik lingkungan , Selain itu, penulisan ini juga bertujuan untuk mengingatkan pengetahuan penulis mengenai pentingnya keberadaan suatu sistem plumbing dan sanitasi sebagai bagian dari utilitas bangunan yang mendukung aktivitas dalam suatu gedung.

BAB II ISI II.1 Hal Umum Sistem Instalasi Plumbing 1. Sistem Air Bersih Sumber Air bersih diambil dari sumber air tanah berupa sumur dalam (deep well). Air dari Deep Well ini masuk ke tangki penampungan yang berfungsi juga sebagai tangki pengendap lumpur/pasir yang terbawa dari sumur. Air dari roof tank di alirkan ke seluruh instalasi bangunan dengan cara grafitasi. 2. Sistem Air Kotor dan Air Bekas Untuk limbah air kotor yang berasal dari toilet dan bangunan-bangunan penunjang masuk langsung ke septic tank yang dibuat berdekatan dengan bangunan tersebut, dan masuk ke dalam tangki resapan serta over flow diarahkan ke saluran terdekat. 3. Spesifikasi Teknis dan Produk a.SUMUR BOR, sebagai sumber air yang akan digunakan dibuat dengan total kedalaman pemboran min 30 meter atau ada penambahan kedalaman dengan menyesuaikan dengan kondisi permukaan air. Konstruksi sumur menggunakan pipa PVC AW wavin. Seluruh pelaksanaan teknis pembuatan sumur dalam ini harus sepenuhnya mengikuti rekomendasi dan petunjuk teknis dari instansi terkait yaitu Dinas Pertambangan Setempat dan Direktorat Geologi Tata Lingkungan, termasuk aturan peletakan screen, ukuran konstruksi sumur yang diijinkan, dan penentuan kapasitas pompa. Untuk menentukan lokasi titik sumur kontraktor harus melakukan test geolistrik. b.Pipa-pipa yang digunakan untuk instalasi plumbing ini adalah sebagai berikut :

Instalasi Air bersih untuk keperluan Domestic water (MCK) menggunakan pipa Galvanis GIP kelas Medium, sesuai dengan standar SNI/SII (Medium A). Instalasi Air Bersih untukProduksi Air Minum Dalam Kemasan menggunakan Pipa PVC RUCHIKA AW Class.

Instalasi Air Kotor menggunakan Pipa PVC AW Class dengan kualitas yang baik, rekomendasi material pipa PVC yang boleh digunakan adalah : RUCHIKA, atau WAVIN.

c.Fitting-fitting yang digunakan untuk pemipaan harus sesuai dengan standar pipa yang digunakan. d.Sambungan pipa air bersih dari bahan GIP, menggunakan system screw/ulir, dan setiap sambungan ulir harus diberi lem epoxi kecuali pada penyambungan ke peralatan plumbing seperti kran/valve menggunakan seal tape. e.Sambungan pipa PVC menggunakan lem PVC dengan kualitas yang baik atau sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat pipa PVC. f.Kontraktor harus sudah memperhitungkan adanya gantungan atau support pipa yang akan dipasang dengan memperhitungkan support harus kuat dan kaku. Jarak support/gantungan pipa yang akan dipasang adalah setian 1,5 meter. g.Untuk pipa-pipa yang ditanam dalam tanah dan harus melintas jalan, ditanam dalam tanah dengan kedalaman yang cukup (diatas 1 meter) dan harus dilindungi dengan pipa keras dengan diameter yang lebih besar. h.Galian pipa dalam tanah, harus terlebih dahulu diisi pasir yang dipadatkan lalu pipa digelar dan kemudian diurug kembali dengan pasir yang dipadatkan, sebelum diurug dengan tanah asal. i.Pompa-pompa yang digunakan harus dari merk yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya, termasuk juga after sales service dan ketersediaan suku cadangnya. Pompapompa yang dapat direkomendasikan untuk digunakan adalah merk EBARA, GRUNDFOS, TORISHIMA, CAPRARI, atau setara. j.Motor listrik yang digunakan sebagai penggerak pompa harus di kopel langsung oleh pabrik/distributor pemegang merk, dan motor listrik yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat pompa tersebut. k.Sebelum serah terima dilakukan test komisioning. Seluruh alat harus dicek fungsi dan kapasitasnya, terutama untuk pompa-pompa harus dicek besarnya arus listrik dan temperature kerja motor panas tidaknya Pekerjaan meliputi pengadaan, pemasangan, penyetelan dan pengujian dari semua peralatan/material seperti yang disebutkan dalam spesifikasi ini, maupun pengadaan dan pemasangan dan peralatan/material yang kebetulan tidak tersebutkan, akan tetapi secara.

umum dianggap perlu agar dapat diperoleh sistim instalasi air bersih dan instalasi air kotor yang baik, dimana setelah diuji, dicoba. dan disetel dengan teliti siap untuk dipergunakan. II.2 Lingkup Pekerjaan Pedoman dasar teknis yang dipakai pada prinsipnya adalah PEDOMAN PLUMBING INDONESIA 1979.

Pemasangan pipa untuk system sanitary/toilet lengkap dengan sambungan-sambungan untuk Kran air dan bak cuci di dapur. Pemasangan pipa untuk system air kotor (dari WC), air bekas, sesual dengan gambar. Pemasangan pipa PVC untuk instalasi pipa vent yang dihubungkan derigan pipa tegak air kotor maupun pipa tegak air bekas, serta pemasangan vent out pada puncak pipa. vent tegak.

1. Bahan/Material o Semua bahan/material yang digunakan/dIpasang harus dari jenis material berkualitas. baik, dalam keadaan baru (tidak dalam keadaan bekas pakai/ rusak/afkir), sesuai dengan mutu dan standar yang berlaku (SII) atau standar internasional seperti BS, JIS, ASA, DIN atau yang setaraf. o Pemborong bertanggung jawab penuh atas mutu dan kualitas material yang akan dipakai, setelah mendapat persetujuan pengawas/Direksi. o Sebelum dilakukan pemasangan-pemasangan, pemborong harus menyerahkan contoh-contoh (sample) dari bahan/material yang akan dipasang kepada pengawas/Direksi

II.3 Pekerjaan Penyediaan Air Bersih - Bahan


Bahan/material pipa untuk distribusi air bersih adalah GIP pipe, Pipa dan fitting yang digunakan harus mengikutl standar SII dan harus disertai sertifikat hasil pengujian. Katup-katup (valve) untuk ukuran lebih kecjl atau sama dengan 50 mm dibuat danri bahan kuningan dengan system penyambungan menggunakan ulir /screwed, sedangkan yang lebih besar dari 50 mm dibuat dari bahan GIP, dengan system sambungan ulir. Penggantung pipa. (hanger) dan penjepit pipa (klem) harus dari bahan metal yang digalvanis.

Pemasangan

Untuk sambungan yang menggunakan ulir harus memiliki spesifikasi panjang ulir.

Sebelum dilakukan penyambungan, baglan yang berulir harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat. Setiap pemasangan katup yang menggunakan ulir harus digunakan sepasang water moer (union coupling) untuk mempermudah pekerjaan pemeliharaan. Semua ujung yang terakhir, yang tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan dop/plug atau blank flanged. Pipa-pipa harus diberi penyangga, pipa-pipa tegak yang menempel sepanjang kolom atau dinding dan pada setiap percabangan atau belokan harus diberi pengikat (klem). Penyangga pipa harus dipasang pada lokasi-lokasi yang ditentukan. Apabila lokasi penggantung pipa berhimpitan dengan katup, maka penyangga tersebut harus digeser dari posisi tersebut dengan catatan pipa tidak akan melengkung apabila katup tersebut dilepas. Pipa-pipa induk dan distribusi harus ditest dengan tekanan hidrostatik sebesar 8 kg/cm2 dan dalam waktu minimum 8 jam, tekanan tersebut tidak turun/nalk serta tidak terjadi kebocoran. Instalasi yang hasil testnya tidak baik, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat yang diperlukan dan biaya perbaikannaya ditanggung oleh pemborong. Pipa-pipa yang ada di atas langit-langit, sepanjang kolom, dinding dan pada tempat-tempat yang terlihat harus dicat dengan wama sebagal berikut: Pipa air bersih dengan warna biru Pipa instalasi fire hydrant dengan warna merah Pipa air bekas dan air kotor dengan warna abuabu Pipa air hujan dengan warna putih

Sebelum air bersih dipakai, maka air yang ada dalam pipa dibuang dulu, kemudian sistim pemipaan diisi dengan larutan yang mengandung 50 mg/I Chloor dan didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam sistim dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa Chloor 2 mg/l.

- Tanki Air Atas (Roof Tank) Tanki air atas dibuat dan bahan Fiber Glass Reinforced Plastic (FRP), dipasang 1 buah dengan kapasitas 5000 It. Type tanki yang digunakan adalah vertical type, dilengkapi dengan lubang inlet, outlet, drain, manhole dan ventilasi. Tanki ditempatkan pada dudukan yang kuat, konstruksi beton besi WF II.4 Pekerjaan Instalasi Sanitasi dan Lain-lain a. Bahan Jenis bahan yang dipakai untuk menyalurkan air bekas dan air limbah manusia dalam bangunan memakai bahan PVC. Pipa air buangan, air kotor menggunakan PVC klas AW untuk yang tertanam dalam tanah.

Penyambungan pipa PVC dilakukan dengan solvent cement yang berkualitas baik. Sebelum melakukan penyambungan pipa, bagian yang akan disambung harus dibersihkan terlebih dahulu, bebas dari kotoran, air dan lain-lain. Solvent cement harus merata pada bagian permukaan yang akan disambung.

b.

Pemasangan Sambungan-sambungan antara pipa PVC, diberi solvent cement darl kualitas balk yang disetujui oleh pengawas/Direksi. Pada pipa vent, semua ujung pipa atau fitting yang terakhir tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan dop atau plug dari bahan material yang sama. Pipa PVC untuk saluran air kotor dan limbah manusia yang tertanam harus diberi pondasi bantalan beton I pc + 3 ps + 5 krI pada setiap Jarak 3 m, pondasi ini juga dipasang pada bagian sambungan pipa percabangan dan belokan. Pipa tegak (riser) harus diberikan bantalan beton pondasi pada bagian pertemuan antara pipa tegak dan datar di lantai dasar. Pipa-pipa sebelum disambungkan ke fixture harus ditest dahulu terhadap kebocoran-kebocoran. Instalasi yang hasil testnya tidak balk, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat yang diperlukan dan blaya perbalkan ditanggung pemborong. Penanaman pada tembok harus ditutup oleh pekeriaan finishing Plpa-pipa harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada hawa busuk keluar, dan tidak ada rongga-rongga udara, letaknya harus lurus. Untuk pipa air kotor mendatar yang berukuran lebih besar dari 80 mm harus dibuat kemiringan minimal I % (satu persen), dan pipa yang berukuran lebih kecil atau sama dengan 80 mm harus dibuat kemiringan minimal 2 % (dua persen). Pipa limbah manusia harus dipasang dengan kemiringan minimal 2 % (dua persen) Pada Ujung buntu dilengkapi dengan lubang pembersih (clean out) dengan ukuran diameter 50 mm atau 80 mm, Ujung-ujung pipa dan lubang-lubang harus didop/plug selama pemasangan, untuk mencegah kotoran masuk ke pipa.

II.5 Pekerjaan Pengujian Instalasi a. Instalasi Air Bersih Pipa instalasi plumbing siap terpasang seluruhnya. Siapkan alat penekanan tekanan, pompa system mekanik atau pompa motor dan alat ukur tekanan (pressure gauge). Hubungkan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi bangunan. Pengetesan dilaksanakan dengan cara bagian demi bagian dari panjang pipa maksimal 50 meter atau atas petunjuk Pengawas/Direksi.

Setelah selesai hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan, kran yang berhubungan ke instalasi diseluruh posisi ditutup dengan plug sesual dimensi kran. Pipa instalasi stap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge menunjukkan tekanan 8 kg/cm2 atau atas petunjuk pengawas/ Direksi. Tekanan 8 kg/cm2 ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus (atau atas petunjuk pengawas/Direksi) tidak ada penurunan, kecuali akibat perubahan cuaca. Untuk pemeriksaan tekanan bias dibuat daftar, dalam daftar ini tercantum tekanan per-jam maupun keadaan cuaca pada saat uji tekan dilakukan. Sesuai penguiian, sebelum pipa instalasi air bersih siap dipakai, maka pipa diisi larutan yang mengandung 50 mg Chloor/lIter, dan didiamkan selarna 24 jam. Setelah itu pipa instalasi dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa. chloor 2 mg/I

b.

Instalasi Pipa Air Kotor, Pipa Limbah Manusia Pipa instalasi seluruhnya siap terpasang. Test dilakukan dengan cara mengisi sistim, pipa, dengan air dan salah satu ujungnya. Pada bagian ujung-ujung lainnya ditutup dan air harus mencapal elevasi yang paling atas. Demikian seterusnya baglan demi baglan sampai meliputi seluruh sistem. Air di dalam pipa yang dimaksud ditahan sampai 8 jam. Penurunan permukaan air maximal yang diperbolehkan adalah 10 cm. Setelah pengujian selesai system pipa harus dibersihkan dari segala kotoran yang mungkin ada.

BAB III PENUTUP III. 1 Kesimpulan Dalam membuat sebuah bangunan baik itu sebuah rumah tinggal dari yang bertipe sederhana sampai ke rumah yang bertipe luxury (mewah) dan gedung sederhana baik itu gedung kerja maupun hotel dan apartment yang mewah sekali pun pasti memerlukan sanitasi yang semuanya itu pasti menngunakan instalasi plumbing sedangkan Fungsi utama dari peralatan plumbing gedung adalah menyediakan air bersih dan atau air panas ke tempat-tempat tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan air sebagai proteksi kebakaran dan menyalurkan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari lingkungan sekitarnya

Sistem Plumbing dan Sanitasi PLAMBING : untuk air bersih SANITASI : untuk pembuangan (cair dan padat) PLAMBING : penyediaan air bersih yang dikehendaki dengan tekanan dan debit yang cukup SANITASI : membuang atau pengeluaran air kotor dari tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian lainnya. PERALATAN SANITER : SHAFT : lubang di lantai yang digunakan untuk saluran - saluran vertikal LAVATORI : wastafel

URINAL : pembuangan air kencing pria

BIDET : pembuangan air kencing wanita

FLOOR DRAIN : pembuangan air di kamar mandi

PIPA AIR BERSIH harus diisi penuh dengan air. PIPA SANITASI digunakan hanya separuh dari pipa. JENIS DAN PERALATAN PLAMBING : 1. Peralatan Air Minum 2. Peralatan Air Panas 3. Peralatan Pembuangan dan Vent 4. Peralatan Saniter ( Plumbing Fixture) : Peralatan Pemadam Kebakaran Peralatan Pengolahan Air Kotor Peralatan Penyediaan Gas Peralatan Dapur Besar Peralatan Pencucian (laundry) Peralatan Air Pendingin (CHILER) dan berbagai pipa instalasi lainnya. SYARAT DAN MUTU BAHAN : Tidak menimbulkan gangguan kesehatan atau akustik dan radiasi Permukaan halus dan tahan korosi ( sesuai jenis dan karakteristik fluida) Bebas kerusakan mekanis UNDANG-UNDANG, PERATURAN dan STANDART : Pedoman Plambing Indonesia (DIRJEN CIPTA KARYA) PROSEDUR PERENCANAAN : Rancangan konsep (jenis/ denah/ jumlah penghuni)

Penelitian Lapangan (topografi, jarak ruang terbuka dengan sekelilingnya) Pra rancangan (dimensi, volume, alur ) Rancangan Pelaksanaan AIR BERSIH : AIR DINGIN dan AIR PANAS SYARAT FISIK AIR MINUM : Jernih bersih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Mempunyai suhu berkisar 10?-25? C Memenuhi syarat kesehatan SUMBER AIR BERSIH : PDAM dan air tanah SUMBER AIR TANAH DIBEDAKAN : SUMUR GALIAN BIASA kedalaman antara 5 15 m SUMUR POMPA dengan MESIN kedalaman antara 16 40 m SUMUR POMPA dengan SEMI DEEP WELL kedalaman 50 100 m SUMUR POMPA dengan MESIN DEEP WELL kedalaman lebih dari 100 m

KEBUTUHAN AIR BERSIH : DOMESTIC (rumah tangga) : minum, memasak FIRE FIGHTING : hose reel, sprinkler, hydrant ENVIROMENTAL PLANT : air washing, evaporate cooling, cooling tower (AC) EXTERNAL : garden house sprinkler, car wash MANUFACTURING : process cooling, industrial process water Contoh industri yang menggunakan air dalam jumlah besar : pabrik pengalengan ikan TABEL KEBUTUHAN AIR

LUAS LANTAI (m) JUMLAH AIR APARTEMENT 20 l KANTOR 10 l HOTEL 30 l Untuk menghitung kebutuhan air : luas lantai bangunan x standart jumlah air Cara lain : BANGUNAN UNIT STANDART APARTEMENT Per orang 135 l 225 l HOTEL Per orang 185 l 225 l KANTOR Per orang 70 l 90 l BIOSKOP Per kursi 45 l RUMAH SAKIT Per tempat tidur (bed) 280 l 470 l Untuk menghitung kebutuhan air : jumlah unit x standart jumlah air SISTEM PEMIPAAN AIR BERSIH : SISTEM HORIZONTAL SISTEM VERTIKAL SISTEM HORIZONTAL : pemipaan menuju satu titik akhir (END FEEDING) Keuntungan : pipa sedikit, rawan macet, biaya murah Kerugian : rawan macet Pemipaan yang melingkar atau membentuk ring (LOOPING) Keuntungan : tidak rawan macet,sedikit maintanance Kerugian : pipa banyak, agak mahal SISTEM VERTIKAL : POMPA LANGSUNG (UPFEED) Keuntungan : menjamin tekanan dan volume air Kerugian : pemakaian listrik besar GRAVITASI (DOWN FEED) Keuntungan : pemakaian listrik kecil Kerugian : tekanan tidak tetap PENYIMPANAN AIR BERSIH : Terbagi atas :

GROUND RESERVOIR, yang harus dipertimbangkan : lokasi tempat, tempat ruang pompa, tempat pengurusan, bahan dan persyaratan TANGKI AIR (di atap), yang harus dipertimbangkan : harus berbahan ringan seperti fiberglass TABEL UNTUK MENGHITUNG JUMLAH TANDON DOMESTIK : LUAS LANTAI (m) STANDART APARTEMENT 0,012 0,015 HOTEL 0,015 0,02 PUSAT PERBELANJAAN 0,005 0,006 PERKANTORAN 0,008 0,01 RUMAH SAKIT 0,015 0,02 Untuk menghitung jumlah tandon domestik : luas lantai (m) x standart AIR PANAS ( mandi dan cuci tangan ) ALAT YANG DIGUNAKAN : Pemanas dengan gas Pemanas dengan listrik Pemanas dengan energi surya (radiasi matahari) SISTEM : BRANCH SYSTEM LOOPED SYSTEM (untuk bangunan publik) Air panas tidak boleh memakai pipa besi, tetapi POLYPROPILEN tebal bukan PVC AIR BUANGAN : Air bekas buangan (bekas cucian dan mandi) : menggunakan PVC max. 4 m, sudut sambungan < 90? Air kotor / kotoran : dihubungkan ke septic tank, kemiringan pipa 0,5 1% Air limbah (limbah dapur yang mengandung minyak) : harus ditampung dulu di GREASE TRAP (perangkap lemak) Air hujan : diameter talang vertikal minimal 3, kemiringan talang0,5 1 % Pembuatan pipa septic tank dibuat pada musim hujan terderas, untuk melihat air muka tertinggi. SEWAGE TREATMENT PLAN (STP): melakukan proses pemaksaan proses demineralisasi dengan menggunakan zat kimia. Normalnya proses demineralisasi (penguraian) berlangsung selama 24 jam, dengan STP cukup 2 jam saja.

RUMUS MENGHITUNG VOLUME SEPTIC TANK : VOLUME AIR KOTOR + VOLUME LUMPUR SEPTICTANK CONTOH SOAL : rumah tinggal berpenghuni 5 orang, closet digunakan 4 kali sehari, volume tangki 8 l (2 kali siram), produk lumpur 30 l/orang/tahun. Pengurasan septic tank dilakukan per 5 tahun. JAWAB : Volume air kotor = (54)x(82) = 360 l / hari Volume lumpur = 5305 = 750 l / 5 tahun Jadi volume septic tank = 360+750 = 1110 l = 1,11 m SALURAN AIR HUJAN / PEMATUSAN / DRAINASE : Saluran pematusan merupakan bagian dari saluran air kotor khususnya yang mengalirkan air hujan dari talang vertikal, talang horizontal dan saluran air hujan pada halaman rumah tinggal. Saluran air hujan dialirkan ke saluran kota. FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DI DALAM DESAIN SAL. AIR HUJAN : Permukaan air tertinggi Jumlah maksimum air hujan yang terjadi Panjang pipa pembuangan Batasan atau hambatan dalam perencanaan Saluran air hujan lebih baik ditampung di sumur resapan, kalau penuh baru di salurkan ke saluran kota

Peralatan Plambing Definisi Peralatan Plambing Istilah alat plambing digunakan untuk semua peralatan yang dipasang di dalam ataupun diluar gedung, untuk menyediakan air panas atau air dingin dan untuk mengeluarkan air buangan. Dan untuk lebih sederhananya, alat plambing merupakan peralatan yang dipasang pada: 1. Ujung akhir pipa yang berfungsi untuk memasukkan air. 2. Ujung awal pipa yang berfungsui memasukkan air. Peralatan Plambing dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Tidak menyerap air/sedikit sekali menyerap air. 2. Mudah dibersihkan. 3. Tidak berkarat dan tidak mudah aus. 4. Relatif mudah. 5. Alat Plambing mudah dipasang.

Biasanya, bahan yang sering digunakan adalah porselen, besi atau baja yang dilapisi email, berbagai jenis plastik dan baja tahan karat. Untuk bagian alat plumbing yang tidak atau jarang kena air, ada juga yang menggunakan kayu sebagai bahannya. Alat Plambing yang tergolong mahal dan mewah menggunakan marmer berkualitas tinggi. Sedangkan bahan lain yang saat ini mulai banyak digunakan terutama untuk membuat bak mandi (bathtub) adalah FRP atau resin poliester yasng diperkuat dengan anyaman serat gelas.

Fungsi Peralatan Plambing Fungsi dari peralatan plambing antara lain : 1. Untuk menyediaklan air bersih ke tempat-tempat yang diinginkan dengan cukup. 2. Membuang air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa memberikan pencemaran bagi bagian-bagian yang lainnya.

Fungsi pertama terjadi pada sistem penyediaan air bersih dan yang kedua oleh sistem pembuangan. Dahulu, tujuan utama dari sistem penyediaan air adalah untuk menyediakan air yang cukup berlebihan. Tapi pada saat ini, ada pembatasan pada pemakaian air karena pertimbangan penghematan energi dan adanya keterbatasan sumber energi. Apalagi saat ini tidak diperbolehkan untuk membuang air buangan baik oleh limbah domestik maupun limbah industri langsung ke sdalam saluran pembuanganatau bahkan ke dalam badan air. Hal itu terjadi karena untuk melindungi lingkungan dan manusia sdari berbagai pencemaran lingkungan yang dapat berdampak negatif bagi manusia, baik itu menimbulkan penyakit ,bau yang tidak enak atau yang lainnya.

Jenis-jenis Peralatan Plambing Peralatan Plambing dapat dibedakanberdasarkan fungsinya menjadi : - Peralatan Plambing dalam artian khusus : a. Peralatan untuk penyediaan air bersih/air minum b. Peralatan untuk penyediaan air panas c. Peralatan untuk pembuangan dan vent d. Peralatan saniter (plumbing fixtures) - Peralatan Plambing dalam artian yang lebih luas : a. Peralatan untuk pemadam kebakaran b. Peralatan untuk mengelola air kotor c. Peralatan penyediaan gas d. Peralatan dapur e. Peralatan untuk mencuci (laundry) f. Peralatan pengelola sampah g. Berbagai instalasi yang lainnya Hal tersebut terakhir meliputi instalasi pipa untuk menyediakan zat asam, zat lemas, udara kempa, air murni, air steril, dan juga perpipaan vakum (untuk menyedot). Dan ada juga yang menyebutkan bahwa alat plumbing meliputi peralatan Plambing dalam artian khusus ditambah dengan peralatan-peralatan untuk pemadam kebakaran, pengolahan air kotor dan penyediaan gas.

Prinsip Dasar Instalasi Plambing

Dalam perencanaan dan pemasangan alat plambing ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal-hal ini tidak dapat diabaikan keberadaannya, karena mampu mengurangi (menurunkan) kemanfaatannya dari sistem dan dapat mengganggu konstruksi gedung. Prinsip-Prinsip itu adalah : 1. Konsep denah alat plambing Konsep denah alat plambing selain mempertimbangkan pemakaian energi secara keseluruhan yang perlu dijadikan dasar peletakan alat plambing adalah segi arsitektual bangunan atau dapat disebut sebagai aspek estetika tata ruang bangunan. 2. Perlindungan konstruksi gedung Perlindungan konstruksi gedung dilakukan karena adanya pembebanan akibat pemasangan pipa dan perlengkapannya. Untuk keperluan tersebut pipa tidak boleh langsung dipasang menembus bagian

konstruksi sepertoi pondasi, balok, atau dinding. Oleh karena itu dibuatlah selubung (sleeve) yang terpasang pada tempat dimana pipa menembus. 3. Perlindungan pipa dari kerusakan Perlindungan pipa dari kerusakan penting diperhatikan karena dapat mempengaruhi kualitas air yang didistribusikan. Beberapa kerusakan yang dapat terjadi adalah korositas, yang menyebabkan perkaratan biasaanya terjadi pada pipa besi. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian lapiasan aspal atau cat untuk menahan karat. 4. Perencanaan sistem plambing yang baik Perencanaan sistem plambing yang baik adalah memperhatikan pemasangan katup untuk pengeluaran udara sehingga tidak menimbulakan penyumbatan. Perlakuan pemasangan pipa baik yang lurus dan pipa yang melengkung haruslah berbeda. Misalnya, pada pipa yang mendatar keatas dibuat agak miring (searah aliran). 5. Perencanaan sistem pembuangan Perencanaan sistem pembuangan untuk mencegah pipa dari tersumbatnya dan kerusakan pipa akibat turbulensi aliran, maka kemiringan pipa dibuat sama atau lebih dari diameter pipa.

Sistem penyediaan air bersih meliputi berbagai peralatan seperti tangki air bawah tanah (ground reservoar), tangki atas atap (roof tank), pompa, perpipaan dan aksesoris lainnya. Dengan peralatanperalatan seperti ini yang dirancang dan dipasang dengan baik diharapkan aliran air baik untuk air bersih maupun air buangan dapat dialirkan tanpa hambatan. Pada dasarnya ada dua sistem pengaliran air dalam gedung, yaitu: 1. Sistem Pengaliran Air Keatas Pipa utama dipasang dari tangki atas ke bawah sampai langit-langit lantai terbawah gedung dan bercabang tegak ke atas untuk melayani lantai-lantai atasnya, lantai terbawah memiliki langit yang lebih tinggi sehingga memudahkan dalam pemasangan pipa. 2. Sistem Pengaliran Kebawah Pipa utama dipasang dari tangki atas mendatar dalam langit-langit teratas gedung dan dibuat cabangcabang tegak ke bawah untuk melayani lantai-lantai di bawahnya. Pada sistem ini diperlukan ruang yang cukup dalam langit-langit teratas untuk memasang pipa utama secara mendatar, serta ruang yang cukup pula untuk perawatan dan pemeliharaan, operasi penyetelan katup-katup pada pipa tegak ke bawah.

Peralatan Saniter Peralatan saniter seperti kloset, peturasan, dan bak cuci tangan umumnya dibuat dari bahan porselen atau keramik. Bahan ini sangat populer karena biayanya dalam hal ini pembuatanya cukup murah, dan ditinjau dari segi sanitasi sangat baik. Beberapa jenis peralatan saniter antara lain :

1. Kloset, dibagi dalam beberapa golongan menurut kontruksinya : a. Tipe Wash-Out Tipe ini adalah yang paling tua dari jenis kloset duduk. Tipe ini sekarang dilarang di Indonesia karena kontruksinya berdampak pada timbulnya bau yang tidak sedap akibat penggelontoran yang tidak sempurna. b. Tipe Wash-Down Tipe ini lebih baik daripada wash-out, bau yang timbul akibat sisa kotoran lebih sedikit jika dibandingkan dengan tipe wash-out. c. Tipe Siphon Tipe ini mempunyai kontruksi jalannya air buangan yang lebih rumit dibandingkan dengan tipe washdown, untuk sedikit menunda aliran air buangan tersebut sehingga timbul efek siphon. Bau yang dihasilkan lebih berkurang lagi pada tipe ini. d. Tipe Siphon-jet Tipe ini dibuat agar menimbulkan efek siphon yang lebih kuat, dengan memancarkan air dalam sekat melalui suatu lubang kecil searah aliran air buangan. Tipe siphon-jet ini menggunakan air penggelontor lebih banyak. e. Tipe Blow-Out Tipe ini sebenarnya dirancang untuk menggelontor air kotor dengan cepat, tapi akibatnya membutuhkan air dengan tekanan sampai 1 kg/cm2, dan menimbulkan suara berbisik. 2. Peturasan Ditinjau dari kontruksinya, peturasan dapat dibagi seperti kloset, di mana yang paling banyak digunakan adalah tipe wash-down. Untuk tempat-tempat umum, sering dipasang peturasan berbentuk mirip talang terbuat dari porselen, plastik, atau baja tahan karat, dan harus memenuhi syarat -syarat sebagai berikut: a. Dalamnya talang 15 cm atau lebih. b. Pipa pembuangan ukuran 40 mm atau lebih dan dilengkapi dengan saringan. c. Pipa penggelontor harus diberi lubang-lubang untuk menyiram bidang belakang talang dengan lapisan air. d. Laju aliran air penggelontor dapat ditentukan dengan menganggap setiap 45 cm panjang talang ekivalen dengan satu peturasan biasa.

Fitting Saniter Beberapa jenis fitting saniter antara lain : 1. Keran air, ada beberapa macam yaitu :

a. Keran air yang dapat dibuka dan ditutup dengan mudah. b. Keran air yang dapat dibuka tetapi akan menutup sendiri, misalnya untuk cuci tangan. c. Keran air yang laju alirannya diatur oleh ketinggian muka air, yaitu keran atau katup pelampung. 2. Katup gelontor dan tangki gelontor a. Katup gelontor berfungsi mengatur aliran air penggelontor, untuk kloset dan peturasan. b. Tangki gelontor, dibuat dari plastik, ada yang otomatis dan ada juga yang harus dijalankan oleh orang.

Dasar Perencanaan Plumbing

2.1 Umum Dalam kesehariannya manusia tidak pernah lepas dari masalah kesehatan, baik itu menyangkut air bersih, air buangan atau sampah jika tidak dirancang atau dikelola dengan baik. Kesehatan merupakan hal yang sangat berharga bagi manusia. Menjaga kesehatan manusia dapat dimulai dengan menjaga kesehatan lingkungannya, baik tempat bekerja atau tempat pemukimannya (Tresna Sastrawijaya, 1991). Dalam hal ini, fasilitas sistem plambing yang baik memberikan andil yang cukup penting bagi manusia untuk menjaga kesehatan lingkungan gedung tempat bekerja atau bermukim, dan berperan besar dalam membantu kelancaran dari operasional gedung itu sendiri, misalnya saja dalam memenuhi kebutuhan air bersih ataupun penyaluran air buangan dengan cepat (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). Fungsi dari peralatan plambing adalah: 1. 2. Menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup; Membuang air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian penting lainnya.

Selain itu peralatan plambing juga ditujukan untuk penyaluran gas, penyaluran air hujan dan pencegahan bahaya kebakaran dalam suatu bangunan (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). 2.2 Dasar- Dasar Perencanaan Plambing

2.2.1 Dasar-Dasar Sistem Penyediaan Air Bersih 2.2.1.1 Kualitas Air Tujuan terpenting dari penyediaan air adalah menyediakan air bersih. Penyediaan air minum dengan kualitas yang tetap baik merupakan prioritas utama. Banyak negara telah menetapkan standar kualitas untuk tujuan ini. Untuk gedung-gedung yang dibangun di daerah yang tidak tersedia fasilitas penyediaan air minum untuk umum, air baku haruslah diolah dalam gedung atau dalam instalasi pengolahan agar dicapai standar kualitas air yang berlaku (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). 2.2.1.2 Kebutuhan Air Pemakaian air tergantung pada beberapa faktor yaitu populasi, iklim, kebiasaan dan cara hidup. Kebutuhan air bersih harus mencukupi siang dan malam, tersedia langsung bagi pengguna tanpa adanya kekurangan air, sehingga ketersediaan air ini bisa berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan akan air itu sendiri baik masa sekarang maupun akan datang. Untuk mendapatkan kebutuhan air yang cukup besar tentunya harus dilakukan pencarian sumber air bersih yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti air tanah (air tanah dangkal, air tanah dalam dan mata air) dan air permukaan (danau, sungai, dan sebagainya) (Suripin, 2004). 2.2.1.3 Pencemaran Air dan Pencegahannya

Sistem penyediaan air dingin meliputi beberapa peralatan seperti tangki air bawah tanah, tangki air atas atap, pompa-pompa, perpipaan, dan lain-lain. Dalam peralatan-peralatan ini, air bersih harus dapat dialirkan ke tempat-tempat yang dituju tanpa mengalami pencemaran (Soufyan M.Noerbambang Takeo Morimura, 2000). Hal-hal yang dapat menyebabkan pencemaran antara lain (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. 2. 3. 4. 5. 6. Masuknya kotoran hewan; Masuknya serangga ke dalam tangki; Terjadinya karat dan rusaknya tangki dan pipa; Terhubungnya pipa air bersih dengan pipa lain; Tercampurnya air bersih dengan air dari jenis kualitas lain; Aliran balik air dari jenis kualitas lain ke dalam pipa air bersih.

Adapun beberapa contoh pencemaran dan pencegahannya adalah (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Larangan hubungan pintas

Hubungan pintas (cross connection) adalah hubungan fisik antara dua sistem pipa yang berbeda, satu sistem pipa untuk air bersih dan sistem pipa lainnya berisi air yang tidak diketahui atau diragukan kualitasnya, di mana air akan dapat mengalir dari satu sistem ke sistem lainnya. Demikian pula sistem penyediaan air bersih tidak boleh dihubungkan dengan sistem perpipaan lainnya. Sistem perpipaan air bersih dan peralatannya tidak boleh terendam dalam air kotor atau bahan lain yang tercemar. 2. Pencegahan aliran balik

Aliran balik (back flow) adalah aliran air atau cairan lain, zat atau campuran, ke dalam sistem perpipaan air bersih, yang berasal dari sumber lain yang bukan untuk air bersih. Aliran balik tidak dapat dipisahkan dari hubungan pintas dan ini disebabkan oleh terjadinya efek siphon-balik (back siphonage). Efek siphon-balik terjadi karena masuknya aliran ke dalam pipa air bersih dari air bekas, air tercemar, dari peralatan saniter atau tangki, disebabkan oleh timbulnya tekanan negatif dalam pipa. Sebagai contoh dapat dilihat kemungkinan-kemungkinan pada bak mandi, bak cuci, mesin pencuci, dan lain-lain. Apabila pencucian dilakukan dalam bak dengan slang air tersambung pada keran sedang ujung slang terendam dalam air cucian, air kotor bekas cucian dapat terisap ke dalam sistem pipa air bersih pada waktu tekanan negatif. Tekanan negatif dalam sistem pipa sering disebabkan oleh terhentinya penyediaan air atau karena pertambahan kecepatan aliran yang cukup besar dalam pipa. Pencegahan aliran balik dapat dilakukan dengan menyediakan celah udara atau memasang penahan aliran-balik. 3. Pukulan air

Penyebab pukulan air bila aliran dalam pipa dihentikan secara mendadak oleh keran atau katup, tekanan air pada sisi atas akan meningkat dengan tajam dan menimbulkan gelombang tekanan yang akan merambat dengan kecepatan tertentu, dan kemudian dipantulkan kembali ke tempat semula. Gejala ini menimbulkan kenaikan tekanan yang sangat tajam sehingga menyerupai suatu pukulan dan

dinamakan gejala pukulan air (water hammer). Pukulan mengakibatkan berbagai kesulitan seperti kerusakan pada peralatan plambing, getaran pada sistem pipa, patahnya pipa, kebocoran, dan suara berbisik sehingga dapat mengurangi umur kerja peralatan dan sistem pipa. Pukulan air cenderung terjadi dalam keadaan sebagai berikut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): a. Tempat-tempat di mana katup ditutup/dibuka mendadak; b. Keadaan di mana tekanan air dalam pipa selalu tinggi;

c. Keadaan di mana kecepatan air dalam pipa selalu tinggi; d. Keadaan di mana banyak jalur ke atas dan ke bawah dalam sistem pipa; e. Keadaan di mana banyak belokan dibandingkan jalur lurus; f. Keadaan di mana temperatur air tinggi.

Jelas bahwa pencegahan gejala pukulan air menyangkut tindakan untuk mengatasi keadaan-keadaan diatas, dan meliputi cara-cara berikut ini (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): a. b. c. Menghindarkan tekanan kerja yang terlalu tinggi; Menghindarkan kecepatan aliran yang terlalu tinggi; Memasang rongga udara atau alat pencegah pukulan-air;

d. Menggunakan dua katup-bola-pelampung pada tangki air. 2.2.1.4 Sistem Penyediaan Air Dingin Sistem penyediaan air dingin yang banyak digunakan dapat dikelompokkan dalam berbagai jenis yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). 1. Sistem sambungan langsung Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama penyediaan air bersih Perusahaan Air Minum. 2. Sistem tangki atap Dalam sistem ini, air ditampung terlebih dahulu dalam tangki bawah (yang berada di lantai terendah bangunan atau di bawah muka tanah) dan kemudian dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di atas lantai tertinggi bangunan, ini dilakukan jika tekanan air kecil dari pipa utama, tapi jika tekanan air cukup tinggi tangki bawah dapat dihilangkan. 3. Sistem tangki tekan Kerja dari sistem ini yaitu air yang telah ditampung di dalam tangki bawah dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga udara di dalamnya terkompresi dan air dapat dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan. 4. Sistem tanpa tangki (booster system)

Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun baik tangki bawah, tangki tekan, ataupun tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan pompa menghisap air langsung dari pipa utama (misalnya, pipa utama Perusahaan Air Minum). 2.2.1.5 Pompa Pompa yang menyedot air dari tangki bawah atau tangki bawah tanah dan mengalirkannya ke tangki atas atau tangki atap dinamakan pompa angkat (mengangkat air dari bawah ke atas), sedangkan pompa yang mengalirkan air ke tangki tekan dinamakan pompa tekan. Pompa penyediaan air dapat diputar oleh motor listrik, motor turbin, motor baker, dan sebagainya (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). Jenis-jenis pompa penyediaan air yang banyak digunakan adalah (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Pompa sentrifugal Komponen dari pompa sentrifugal adalah impeller dan rumah pompa. Pompa dengan impeller tunggal disebut pompa tingkat tunggal (single stage). Apabila beberapa impeller dipasang pada satu poros dan air dialirkan dari impeller pertama ke impeller kedua dan seterusnya secara berturutan, disebut pompa dengan tingkat banyak (multi stage). 2. Pompa submersibel Pompa submersibel adalah suatu pompa dengan konstruksi di mana bagian pompa dan motor listriknya merupakan suatu kesatuan dan terbenam dalam air. Pompa submersibel terbagi atas pompa turbin untuk sumur dan pompa submersil untuk sumur dalam. Kelebihan dan ciri-ciri pompa submersibel, adalah (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): a. Tidak diperlukan suatu bangunan pelindung pompa; b. Tidak berisik; c. Konstruksinya sederhana, karena tidak ada poros penyambung dan bantalan perantara; d. Pompa dapat bekerja pada kecepatan putaran tinggi; e. f. Mudah dipasang; Harga relatif murah.

2.2.2 Dasar-Dasar Sistem Penyediaan Air Panas Sistem penyediaan air panas adalah instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih, dipanaskan dengan berbagai cara, baik langsung dari alat pemanas ataupun melalui sistem perpipaan (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). 2.2.2.1 Instalasi Penyediaan Air Panas Dalam memenuhi kebutuhan akan air panas, ada dua jenis instalasi yang dapat di gunakan yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Instalasi lokal

Pada jenis ini suatu pemanas air dipasang di tempat atau berdekatan dengan alat plambing yang membutuhkan air panas. Pemanas dapat menggunakan gas, listrik ataupun uap sebagai sumber kalor. 2. Instalasi sentral Jenis ini yaitu air panas yang dihasilkan di suatu tempat dalam gedung, kemudian dengan pipa distribusi dialirkan keseluruh lokasi alat plambing yang membutuhkan air panas. 2.2.2.2 Temperatur Air Panas Air panas dalam alat plambing digunakan untuk mencuci muka dan tangan, mandi, mencuci pakaian, alat-alat dapur dan sebagainya. Temperatur air yang digunakan untuk berbagai keperluan tersebut berbeda-beda. Standar temperatur air panas menurut jenis pemakaiannya dapat dilihat pada Tabel 2.1 (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). Tabel 2.1 Standar Temperatur Air Panas Menurut Jenis Pemakaiannya No 1 2 Jenis Pemakaiannya Minum Mandi: - dewasa - anak-anak 3 4 5 6 7 Pancuran mandi Cuci muka dan cuci tangan Cuci tangan untuk keperluan pengobatan Bercukur Dapur: * Macam-macam keperluan * Untuk mesin cuci: - proses pencucian - proses pembilasan 8 Cuci pakaian: * Macam-macam pakaian * Bahan sutra dan wol * Bahan linen dan katun 9 Kolam renang 60 33-49 49-60 21-27 45-60 70-80 45 Temperatur (C) 50-55 42-45 40-42 40-43 40-42 43 46-52

10

Cuci mobil (di bengkel) Sumber: Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000 2.2.2.3 Sistem Pipa

24-30

Sistem penyediaan air panas dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan sistem pipa, cara pengaliran dan cara sirkulasinya. Menurut sistem pipanya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000): 1. Sistem aliran ke atas (up feed)

Air panas dialirkan kepada alat-alat plambing melalui pipa-pipa cabang dari suatu pipa utama yang di pasang pada lantai terbawah gedung. 2. Sistem aliran ke bawah (down feed)

Air panas dialirkan kepada alat-alat plambing melalui pipa-pipa cabang dari suatu pipa utama yang dipasang pada lantai paling atas gedung. Menurut cara penyediaannya dibagi lagi menjadi dua macam yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000): 1. Sistem pipa tunggal

Pipa hanya akan mengantarkan air panas dari tangki penyimpanan atau pemanas tanpa pipa balik. 2. Sistem sirkulasi atau dua pipa

Pipa akan menghantarkan air panas dari tangki penyimpanan atau pemanas dan kemudian air akan dibalikkan kembali ke tangki penyimpanan dengan pipa balik apabila tidak ada pemakaian air panas pada alat plambing. Sedangkan menurut cara sirkulasinya dibedakan atas sirkulasi gravitasi dan sirkulasi paksaan dengan menggunakan pompa. 2.2.3 Dasar-Dasar Sistem Penyaluran Air Buangan 2.2.3.1 Jenis Air Buangan Air buangan atau sering juga disebut air limbah adalah semua cairan yang dibuang baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh-tumbuhan maupun yang mengandung sisa-sisa proses industri. Air buangan dapat dibedakan atas (SNI 03-6481-2000): 1. Air kotor

Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air buangan mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plambing lainnya. 2. Air bekas

Air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya, seperti: bak mandi (bath tub), bak cuci tangan, bak dapur, dan lain-lain. 3. Air hujan Air hujan yang jatuh pada atap bangunan. 4. Air buangan khusus

Air buangan ini mengandung gas, racun atau bahan-bahan berbahaya, seperti: yang berasal dari pabrik, air buangan dari laboratorium, tempat pengobatan, rumah sakit, tempat pemotongan hewan, air buangan yang bersifat radioaktif atau mengandung bahan radioaktif, dan air buangan yang mengandung lemak. 2.2.3.2 Sistem Penyaluran Air Buangan Sistem pembuangan air terdiri atas (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000): 1. Sistem pembuangan air kotor dan air bekas Sistem ini terdiri atas 2 macam yaitu: a. Sistem tercampur: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor dan air bekas kedalam satu saluran. b. Sistem terpisah: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor dan air bekas kedalam saluran yang berbeda. 2. Sistem penyaluran air hujan Pada dasarnya air hujan harus disalurkan melalui sistem pembuangan yang terpisah dari sistem pembuangan air bekas dan air kotor. Jika dicampurkan, maka apabila saluran tersebut tersumbat, ada kemungkinan air hujan akan mengalir balik dan masuk kedalam alat plambing terendah dalam sistem tersebut. Dalam sistem penyaluran air buangan, air buangan yang biasanya mengandung bagian-bagian padat harus mampu dialirkan dengan cepat. Untuk maksud tersebut pipa pembuangan harus mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup dan sesuai dengan banyak dan jenis air buangan yang akan dialirkan. Sistem penyaluran air hujan pada prinsipnya hanya mengalirkan debit hujan yang terjadi di atap bangunan ke tempat yang diinginkan, seperti drainase perkotaan. 2.2.3.3 Perangkap Air Buangan Tujuan utama sistem pembuangan adalah mengalirkan air buangan dari dalam gedung keluar gedung, ke dalam instalasi pengolahan atau riol umum, tanpa menimbulkan pencemaran pada lingkungan maupun terhadap gedung itu sendiri. Karena alat plambing tidak terus menerus digunakan, pipa pembuangan tidak selalu terisi air dan dapat menyebabkan masuknya gas yang berbau ataupun beracun, bahkan serangga. Untuk mencegah hal ini, harus dipasang suatu perangkap sehingga bisa menjadi penyekat atau penutup air yang mencegah masuknya gas-gas tersebut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000). Suatu perangkap harus memenuhi syarat-syarat berikut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000):

1.

Kedalaman air penutup

Kedalaman air penutup ini biasanya berkisar antara 50 mm sampai 100 mm. Pada kedalaman 50 mm, kolom air akan tetap dapat diperoleh penutup air sebesar 25 mm dengan tekanan (positif maupun negatif) sebesar 25 mm. Angka 100 mm merupakan pedoman batas maksimum, walaupun batas ini tidak mutlak. Ada beberapa alat plambing khusus yang mempunyai kedalaman air penutup lebih dari 100 mm, tetapi perangkapnya dibuat dengan konstruksi yang mudah dibersihkan. 2. Konstruksinya harus sedemikian rupa agar selalu bersih dan tidak menyebabkan kotoran tertahan atau mengendap. 3. Konstruksinya harus sedemikian rupa sehingga fungsi air sebagai penutup tetap dapat terpenuhi;

Kriteria yang harus dipenuhi untuk syarat ini adalah: a. b. c. Selalu menutup kemungkinan masuknya gas dan serangga; Mudah diketahui dan diperbaiki kalau ada kerusakan; Dibuat dari bahan yang tidak berkarat.

4. Konstruksi perangkap harus cukup sederhana agar mudah membersihkannya karena endapan kotoran lama kelamaan akan tetap terjadi; 5. Perangkap tidak boleh dibuat dengan konstruksi di mana ada bagian bergerak ataupun bidangbidang tersembunyi yang membentuk sekat penutup. Perangkap alat plambing dapat dikelompokkan sebagai berikut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Dipasang pada alat plambing a. Perangkap jenis P, berbentuk menyerupai huruf P dan banyak digunakan. Perangkap jenis ini dapat diandalkan dan sangat stabil kalau dipasang pipa Vent. Perangkap jenis P biasanya dipasang pada kloset, lavatory, dan lain-lain. b. Perangkap jenis S, berbentuk menyerupai huruf S dan seringkali menimbulkan kesulitan akibat efek siphon, biasanya dipasang pada lavatory. 2. Dipasang pada pipa pembuangan a. Perangkap jenis U, berbentuk menyerupai huruf U dan dipasang pada pipa pembuangan mendatar, umumnya untuk pembuangan air hujan. Kelemahan jenis ini adalah memberikan tambahan tahanan terhadap aliran. Perangkap jenis ini biasanya dipasang pada peturasan, pada pipa pembuangan air hujan di dalam tanah. b. Perangkap jenis tabung, mempunyai sekat berbentuk tabung, sehingga mengandung air lebih banyak dibandingkan jenis-jenis lainnya sehingga air penutup tidak mudah hilang, biasanya dipasang pada floor drain dan bak cuci dapur. 3. Menjadi satu dengan alat plambing Perangkap jenis ini merupakan bagian dari alat plambing itu sendiri, misalnya pada kloset dan beberapa jenis peturasan; 4. Dipasang di luar gedung.

2.2.4 Dasar-dasar Sistem Vent Sistem vent merupakan bagian penting dalam sistem suatu pembuangan, sedangkan tujuan dari sistem vent ini antara lain (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. 2. 3. Menjaga sekat perangkap dari efek sifon atau tekanan; Menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan; Mensirkulasi udara dalam pipa pembuangan.

Karena tujuan utama dari sistem vent ini adalah menjaga agar perangkap tetap mempunyai sekat air, oleh karena itu pipa vent harus dipasang sedemikian rupa agar mencegah hilangnya sekat air tersebut. 2.2.4.1 Jenis Sistem Vent Sistem itu sendiri dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Sistem vent tunggal (individual)

Pipa vent dipasang untuk melayani satu alat plambing dan disambungkan kepada sistem Vent lainnya atau langsung terbuka ke udara luar; 2. Sistem vent lup

Pipa vent yang melayani dua atau lebih perangkap alat plambing dan disambungkan kepada vent pipa tegak; 3. Sistem vent tegak

Pipa ini merupakan perpanjangan dari pipa tegak air buangan diatas cabang mendatar pipa air buangan tertinggi;

4.

Sistem vent lainnya, diantaranya: a. Vent bersama

Pipa vent yang melayani perangkap dari dua alat plambing yang dipasang bertolak belakang atau sejajar dan dipasang pada tempat di mana kedua pipa pengering alat plambing tersebut disambungkan bersama; b. c. Vent basah;

Vent yang juga berfungsi sebagai pipa pembuangan; d. Vent menerus

e.

Vent tegak yang merupakan kelanjutan dari pipa pembuangan yang dilayaninya; f. Vent sirkit

g. Vent cabang yang melayani dua perangkap atau lebih dan berpangkal dari bagian depan penyambungan alat plambing terakhir suatu cabang datar pipa pembuangan sampai ke pipa tegak vent; h. Vent pelepas

i. Pipa vent yang dipasang pada tempat khusus untuk menambah sirkulasi udara antara sistem pembuangan dan sistem vent. 2.2.4.2 Persyaratan Pipa Vent Adapun persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem plambing antara lain (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura, 2000): 1. Kemiringan pipa vent

Pipa vent harus dibuat dengan kemiringan cukup agar titik air yang terbentuk atau air yang terbawa masuk kedalamnya dapat mengalir secara gravitasi ke pipa pembuangan. 2. Cabang pada pipa vent

Dalam membuat cabang pipa vent harus diusahakan agar udara tidak akan terhalang oleh masuknya air kotor atau air bekas manapun. Pipa vent untuk cabang mendatar pipa air buangan harus disambungkan secara vertikal pada bagian tertinggi dari penampang pipa cabang tersebut, jika terpaksa dapat disambungkan dengan sudut tidak lebih dari 45o terhadap vertikal. Syarat ini bertujuan untuk mencegah masuknya air buangan pada pipa yang dalam keadaan penuh ke dalam pipa vent. 3. Letak bagian mendatar pipa vent

Dari tempat sambungan pipa vent dengan cabang mendatar pipa air buangan, pipa vent tersebut harus dibuat tegak sampai sekurang-kurangnya 150 mm di atas muka air banjir alat plambing tertinggi yang dilayani oleh vent tersebut, sebelum dibelokkan mendatar atau disambungkan kepada cabang pipa vent. Walaupun demikian cukup banyak ditemukan keadaan di mana terpaksa dipasang pipa vent di bawah lantai. Pipa vent semacam itu melayani pipa cabang mendatar air buangan dan dari tempat sambungannya dengan cabang mendatar tersebut pipa vent hanya dibuat pendek dari sambungannya dari arah tegak kemudian langsung dibelokkan mendatar masih dibawah lantai (tetapi letaknya masih berada di atas cabang mendatar tersebut). 4. Ujung pipa vent

Ujung pipa vent harus terbuka ke udara luar, tetapi harus dengan cara yang tidak menimbulkan gangguan kesehatan. 2.2.5 Dasar-Dasar Sistem Pencegahan Kebakaran Prinsip dari sistem pencegahan kebakaran ini adalah harus selalu tersedia volume air yang cukup untuk keperluan pencegahan kebakaran, tanpa mengganggu pemakaian air bersih.

2.2.5.1 Pipa Tegak dan Slang Kebakaran

Pipa tegak dan slang kebakaran adalah suatu rangkaian perpipaan, katup, penyambung slang kebakaran, slang kebakaran, dan sistem penyediaan air yang digunakan untuk menanggulangi kebakaran. Sistem dari pipa tegak dan slang kebakaran mempunyai berbagai jenis yaitu: 1. Wet stand pipe system

Yaitu pipa tegak dengan pipa yang selalu berisi air dan tekanan air pada sistem di jaga tetap. Katup suplai air pada sistem ini selalu dalam kondisi terbuka dan bila katup slang kebakaran dibuka maka air akan mengalir keluar. 2. Dry stand pipe system

Suatu pipa tegak yang tidak berisi air, di mana peralatan penyediaan air akan mengalirkan air ke sistem secara otomatis jika katup slang kebakaran dibuka. 3. Sistem pipa tegak dengan pengadaan air ke sistem melalui operasi manual

Yaitu dengan menggunakan kontrol jarak jauh yang terletak pada kotak slang kebakaran untuk menghidupkan suplai air. 4. Sistem pipa tegak tanpa suplai air yang permanen

Jenis ini digunakan untuk mengurangi waktu yang diperlukan petugas pemadam kebakaran untuk membawa slang kebakaran ke lantai atas pada gedung tinggi dan suplai air diperoleh dari mobil tangki pemadam kebakaran. Jika dilihat dari manusia yang mengoperasikannya maka sistem pipa tegak dan slang kebakaran digolongkan atas 3 kelas pelayanan, yaitu: 1. Kelas 1

Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh petugas pemadam kebakaran dan mereka yang terlatih untuk menangani kebakaran besar dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 2,5. 2. Kelas 2

Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan sendiri sambil menunggu petugas pemadam kebakaran datang dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 1,5. 3. Kelas 3

Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan dan petugas pemadam kebakaran dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 1,5 dan 2,5. 2.2.5.2 Sprinkler Sistem sprinkler otomatis akan bekerja jika fusible bulb / fusible link penahan orifice kepala sprinkler pecah/meleleh akibat panas dari kebakaran, sehingga air menyembur keluar dari kepala sprinkler. Akibatnya tekanan air dari dalam pipa akan berkurang, katup pengontrol akan terbuka dan pompa akan bekerja memompakan air dari bak penampung ke

jaringan pipa yang dibantu juga dengan pressure tank. Aliran air yang melalui katup pengontrol akan mengaktifkan tanda bahaya yang terletak di dekat katup kontrol. Jenis-jenis sistem sprinkler adalah (Dept.Pekerjaan umum, 1987): 1. Wet pipe system

Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada jaringan pipa berisi air yang bertekanan sepanjang waktu. Jika terjadi kebakaran, sprinkler akan diaktifkan oleh panas yang membuka penahan orifice kepala sprinkler dan air akan segera menyembur, akibatnya tekanan air pada pipa akan berkurang dan katup kontrol akan membuka dan mengaktifkan pompa kebakaran. 2. Dry pipe system

Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada pipa berisi udara atau nitrogen yang bertekanan. Jika kepala sprinkler terbuka karena panas dari api, tekanan udara akan berkurang dan katup kontrol dry pipe akan terbuka oleh tekanan air, sehingga pompa kebakaran akan hidup dan air akan mengalir mengisi jaringan dan menyembur dari kepala sprinkler yang terbuka. 3. Preaction system

Sistem ini adalah sistem dry pipe dengan udara bertekanan atau tanpa tekanan pada pipa. Jika terjadi kebakaran maka alat deteksi akan bekerja dan mengaktifkan pembuka katup kontrol, sehingga air mengalir mengisi pipa dan keluar dari kepala sprinkler otomatis yang terbuka akibat panas dari api. 4. Deluge system

Sistem ini sama dengan preaction system, kecuali bahwa semua kepala dalam keadaaan terbuka. Jika api mengaktifkan peralatan deteksi, maka katup kontrol sprinkler akan terbuka dan air akan mengalir disepanjang pipa dan keluar dari semua kepala sprinkler pada daerah operasi dan membanjiri daerah operasi. 5. Kombinasi dry dan preaction

Sistem ini berisi udara bertekanan. Jika terjadi kebakaran, peralatan deteksi akan membuka katup kontrol air dan udara dikeluarkan pada akhir pipa suplai, sehingga sistem ini akan berisi air dan bekerja seperti wet pipe. Sistem sprinkler yang ada didesain berdasarkan atas jenis hunian itu sendiri, seperti ukuran pipa, jarak kepala sprinkler, densitas semburan sprinkler dan kebutuhan airnya sendiri. Berdasarkan jumlah barang yang mudah terbakar dan sifat mudah terbakarnya, maka jenis hunian diklasifikasikan atas: 1. Hunian bahaya dengan kebakaran ringan

Adalah jenis hunian di mana jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong rendah dan kebakaran dengan pelepasan panas yang rendah. Contohnya: sekolah, rumah sakit, museum, perpustakaan, hotel, tempat tinggal, dan sebagainya. 2. Hunian bahaya dengan kebakaran sedang Jenis ini dibedakan atas 3 kelompok yaitu:

Kelompok I: Untuk sifat mudah terbakar yang rendah, jumlah bahan yang mudah terbakar menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah seperti: tempat parkir mobil, pabrik roti, pengolahan susu, pabrik elektronika, dan sebagainya; Kelompok II: Untuk jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah. Seperti: pabrik pakaian, tumpukan buku perpustakaan, percetakan, pabrik tembakau, dan sebagainya; Kelompok III: Untuk jumlah dan atau sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong tinggi dan kebakaran dengan pelepasan panas yang tinggi, seperti : pabrik gula, pabrik kertas, pabrik ban, bengkel, dan sebagainya. 3. Hunian bahaya dengan kebakaran tinggi

Yang termasuk kelas ini adalah hunian yang dianggap rawan terhadap bahaya kebakaran. Contohnya hanggar pesawat, pabrik plastik, perakitan bahan peledak, dan sebagainya.

Setiap sistem sprinkler harus memiliki sumber penyediaan air otomatis dengan kapasitas dan tekanan yang memadai untuk mensuplai sistem sprinkler dengan periode minimal 30 menit. Sumber air untuk sistem sprinkler dapat diperoleh dari: sistem air PAM, pompa kebakaran otomatis, tangki tekan, dan tangki gravitasi (Standar Nasional Indonesia, 2000). 2.2.6 Dasar-Dasar Sistem Penyaluran Air Hujan Dalam sistem pengaliran air hujan yang harus diperhatikan hanyalah luas tangkapan hujan dan arah aliran dari air, sedangkan prinsip pengalirannya tidak jauh berbeda dengan air buangan.