Anda di halaman 1dari 14

TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (3 6 TAHUN)

Disusun Oleh:

Diah Hastuti, S.Kep Mori Rahayu, S.Kep Ratma Dhani Dewi.B, S.Kep Rizki Fauzan, S.Kep Yulinar, S.Kep

KEPANITERAAN KLINIK KEPERAWATAN SENIOR FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH 2014

TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH


A. Pendahuluan Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya. Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain. Anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah berteman, kreatif, dan cerdas bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain. Begitu juga di rumah sakit bermain harus tetap dilanjutkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembanganya kreatifitas anak, dan anak dapat beradaptasi secara lebih efektif terhadap stress. Oleh karena itu petugas kesehatan hendaknya memperhatikan kebutuhan bermain bagi anak yang dirawat di rumah sakit. Pada usia anak

prasekolah (3-6 tahun) bermain lebih difokuskan pada perkembangan fisik, perkembangan sosial, perkembangan mental, dan kreatifitas.

B. Pengertian Usia Prasekolah Masa prasekolah adalah masa pada anak berusia 3 sampai 6 tahun (Wong, 2003). Pada usia 3 tahun anak mulai menunjukkan pola bermain parallel yaitu ia dapat duduk dalam suatu ruangan bersama anak lain sambil bermain sendiri1

sendiri. Pada usia mulai 4 tahun anak dapat bermain bersama dengan anak yang lain yang berarti bahwa ia mulai dapat berbagi dan menyukai hubungan dengan orang lain. Ia juga sudah dapat main secara berkelompok. Pada usia 5 sampai 6 tahun, anak mulai bermain secara berkelompok dengan jenis kelamin yang sama. Masa ini beralihnya anak dari dunia dirinya ke dunia yang lebih luas terutama dunia sekolah.

C. Bermain pada Usia Prasekolah Pada masa ini inisiatif anak mulai berkembang dan anak ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai hal-hal disekitarnya. Anak mulai berfantasi dan mempelajari model keluarga atau bermain peran, dengan demikian permainan anak lebih banyak menggunakan simbol-simbol dalam permainan. Mainan yang dianjurkan pada masa prasekolah untuk perkembangan fisik berupa mainan papan jungkat-jungkit, perosotan dengan tinggi sedang, ayunan yang dapat diatur, kendaraan yang dikendarai, sepeda roda tiga, mengarungi kolam, kereta sorong, kereta luncur. Untuk perkembangan sosial mainan yang dianjurkan berupa rumah mainan berukuran anak, boneka, mesin kasir, mesin tulis mainan, peralatan dokter dan perawat, alat-alat berdandan, truk, mobil, kereta, paku, palu dan gergaji. Sedangkan untuk perkembangan mental dan kreatifitas berupa mainan buku-buku, puzzle, lilin yang bisa dibentuk (plestisin), permainan bermusik, permainan gambar, gunting tumpul, kertas koran, pregummed berbentuk geometrik, papan tulis dan kapur, rangkaian konstruksi kayu dan plastik.

D. TUJUAN 1. Tujuan Umum Setelah dilakukan terapi bermain pada anak 3-5 tahun selama 60 menit, anak diharapkan bisa mengekspresikan perasaaannya dan menurunkan

kecemasannya, merasa tenang selama perawatan dirumah sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat sehingga anak bisa merasa nyaman selama dirawat dirumah sakit, serta dapat melanjutkan tumbuh kembang anak yang normal atau sehat. 2

2. Tujuan Khusus Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak mampu : a. Bisa merasa tenang selama dirawat. b. Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter dan perawat c. Mau melaksanakan anjuran dokter dan perawat d. Gerakan motorik halus pada anak lebih terarah e. Kognitifnya berkembang dengan mengetahui cara menggosok gigi dan mencuci tangan dengan teknik yang benar, dan mengetahui cara mengelompokkan sampah untuk dibuang pada tempat sampah yang tepat. f. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang dirawat diruang yang sama g. Ketakutan dan kejenuhan selama dirawat di rumah sakit menjadi berkurang. h. Mengembangkan nilai dan moral anak dengan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan i. Mengembangkan bahasa, anak mengenal kata-kata baru. j. Melatih sosial emosi anak.

E. MANFAAT TERAPI BERMAIN 1. Memfasilitasi situasi yang tidak familiar 2. Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol 3. Membantu untuk mengurangi stres terhadap perpisahan 4. Memberi kesempatan untuk mempelajari tentang fungsi dan bagian tubuh 5. Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan dan prosedur medis. 6. Memberi peralihan dan relaksasi. 7. Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing. 8. Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan. 9. Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif terhadap orang lain. 3

10. Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat 11. Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik (Wong ,1996).

F. FUNGSI BERMAIN 1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan rangsangan taktil,audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran di kemudian hari anak lebih cepat berkembang di bandingkan tidak ada stimulasi sejak dini.

2. Membantu Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.

3. Meningkatkan Sosialisasi Anak Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura 4

menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang

4. Meningkatkan Kreatifitas Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobilmobilan.

5. Meningkatkan Kesadaran Diri Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.

6. Mempunyai Nilai Terapeutik Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya.

7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar.

G. MACAM - MACAM BERMAIN 1. Bermain aktif Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi : a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play) Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar. b. Bermain konstruksi (Construction Play) Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumahrumahan. c. Bermain drama (Dramatic Play) Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya. d. Bermain fisik Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain. 2. Bermain pasif Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh ; Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb. Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini : a. Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain. b. Tidak ada variasi dari alat permainan. c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya. d. Tidak mempunyai teman bermain.

H. ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE) Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk : 1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll. 2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll. 3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll. 4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dan lain-lain. I. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN 1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak. 2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak. 3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk. 4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain. 5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit. 6. J. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIFITAS BERMAIN 1. Tahap perkembangan 2. Jenis kelamin anak 3. Status kesehatan anak 4. Lingkungan yang tidak mendukung 5. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai dengan anak 7

K. PETUNJUK PERKEMBANGAN ANAK USIA 3-5 TAHUN (PRA-SEKOLAH) 1. Dari aspek fisik Di rentang usia 3-5 tahun dengan titik puncak di usia 5 tahun, kemampuan motorik anak, baik kasar maupun halus, sudah mencapai tingkat kematangan. Untuk motorik kasar, anak sudah bisa berjalan, berlari, melompat, berdiri dengan satu kaki, bahkan memanjat. Sedangkan untuk motorik halus, anak sudah bisa menjimpit benda-benda kecil, semisal koin. Mulai usia 5 tahun ke atas seharusnya anak sudah mampu memegang pensil dengan benar seperti yang dilakukan orang dewasa pada umumnya. Namun ingat, kemampuan memegang pensil dengan benar ini bukan berarti anak juga wajib bisa menulis 2. Dari aspek social Di usia ini anak seharusnya sudah terampil berinteraksi dengan teman sebayanya. Peran peer group mulai terlihat penting. Jadi, jika anak di rentang usia ini masih soliter alias asyik dengan dunianya sendiri, khususnya bagi anak usia 4 tahun ke atas, berarti dia mengalami keterhambatan dalam perkembangan social 3. Dari aspek kognisi Wajarnya anak di rentang usia ini sudah masuk fase praope-rasional. Dalam bahasa awamnya, anak sudah dapat membayangkan objek tertentu atau seseorang hanya dari deskripsi, nama atau suaranya. 4. Dari aspek bahasa Menguasai lebih dari 1.000 kosakata. Penguasaan tata bahasanya pun meningkat pesat. Contohnya, sudah bisa 3-4 tahun mengatakan, "Aku mau makan pisang manis." Anak mulai kenal sopan santun saat bicara. Misalnya, ketika menjawab pertanyaan guru atau orang dewasa, ia sudah bisa 4-6 tahun memilih kata yang lebih santun.

5. Dari aspek kepribadian Di rentang usia ini anak diharapkan memiliki inisiatif untuk bereksplorasi sebanyak dan sejauh mungkin. Sayangnya, anak kerap dihadang oleh aturan-aturan tertentu yang membatasi eksplorasinya. 8

L. KARAKTERISTIK BERMAIN USIA 3-5 TAHUN (PRASEKOLAH) 1) Cross motor and fine motors 2) Dapat melompat,bermain dan bersepeda. 3) Sangat energik dan imaginative 4) Mulai terbentuk perkembangan moral 5) Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dgn kelompok 6) Assosiative play 7) Dramatic play 8) Skill play 9) Laki-laki aktif bermain di luar 10) Perempuan didalam rumah Alat permainan yang cocok untuk anak usia 3-5 tahun: 1. Peralatan rumah tangga 2. Sepeda roda Tiga 3. Papan tulis/kapur 4. Lilin,boneka,kertas 5. Drum,buku dengan kata simple,kapal terbang,mobil,truk

M. TUJUAN TERAPI BERMAIN KETIKA ANAK HOSPITALISASI Tujuan kegiatan : a. b. c. d. Memberi informasi. Memicu normalisasi. Menggunakan sistem pendukung yang dikenal. Mengidentifikasi teknik koping.

Contoh kegiatan : a. b. c. d. e. f. 9 Mendesain tanda selamat dating. Memicu orang tua mengisi angket mengenai ritual anak Memicu orang tua membawa foto dan mainan Memberi daftar kegiatan rumah sakit. Proaktif melakukan permainan.

N. PRINSIP BERMAIN DI RUMAH SAKIT Menurut Thompson ED. (1992) prinsip bermain di rumah sakit adalah : 1) Kelompok umur yang sama 2) Permainan akan lebih efektif apabila dilaksanakan dalam kelompok umur yang sama agar jenis permainan yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak. 3) Pertimbangan keamanan dan infeksi silang 4) Permainan yang digunakan hendaknya yang mudah dicuci agar infeksi silang dapat dihindari 5) Tidak banyak energi serta permainan singkat 6) Anak yang sakit biasanya tidak memiliki energi yang cukup untuk bermain sehingga permainan yang diberikan harus merupakan permainan yang tidak menguras tenaga energi yang besar 7) Waktu bermain perlu melibatkan orang tua 8) Bila kegiatan bermain dilakukan bersama orang tua, maka hubungan orang tua dengan anak akan lebih akrab dan kelainan atau perkembangan penyakit dapat segera diketahui secara dini.

O. TERAPI BERMAIN MEWARNAI GAMBAR 1. Pengertian Menggambar adalah sebuah ekspresi yang di keluarkan oleh seseorang yang didalamnya menunjukkan sebuah seni dan mengandung arti atau makna tertentu. Menggambar bisa dijadikan sebuah metode terapi pada seseorang anak yang menderita sakit untuk menghibur dan mengeksplorasi dirinya baik intelegensi dan emosional. 2. Keuntungan Menggambar Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain dengan menggambar, antara lain: a. Membuang ekstra energi. b. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ. c. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak. 10

d. Anak belajar mengontrol diri. e. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya. f. Meningkatnya daya kreativitas. g. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak. h. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan. i. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya. j. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan. k. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya. 3. Cara Permainan Gambar yang telah kami siapkan mula-mula di sebutkan nama gambar yang ada, kemudian membuka perekat yang ada digambar tersebut, buka bubuk pewarna yang terdapat didalam bungkusan, kemudian ambil bubuk pewarna tempelkan pada gambar dan diratakan dengan menggunakan jari telunjuk dan ditekan-tekan agar serbuk pewarna merekat pada gambar sambil melihat contoh warna pada gambar yang telah tersedia. 4. Sasaran Anak usia prasekolah (3 6 tahun) yang dirawat di poli anak RSUZA 5. Jumlah Peserta Jumlah peserta adalah semua anak yang berobat di poli dengan usia 3 sampai 6 tahun. 6. Penyaji Leader Co-leader Fasilitator : Yulinar, S.Kep : Diah Hastuti, S.Kep : Ratma Dhani Dewi.B, S.Kep Mori Rahayu, S.Kep Rizki Fauzan, S.Kep 7. Tempat dan Waktu Tempat Waktu : Poli Anak : Jumat, 17 Januari 2014 Pukul 10.00 WIB 11

8. Strategi Pelaksanaan dan Alokasi Waktu

No Strategi Pelaksanaan 1 Pembukaan

Kegiatan Mahasiwa

Kegiatan Anak

Waktu

- Mengucapkan salam - Memperkenalkan diri - Menjelaskan tujuan kegiatan - Memperkenalkan alat permainan

- Menjawab salam, mendengarkan dan memperhatikan

5 menit

Kegiatan Inti

- Menjelaskan aturan main - Membagikan gambar pada masing-masing anak - Membimbing anak mewarnai sesuai gambar yang ada. - Memberi reinforcement positif pada anak - Memilih hasil warna terbaik - Mengeksplorasikan perasaan anak setelah bermain

- Mendengar dan memperhatikan - Menempel warna yang disediakan - Menyebutkan hasil dari gambar yang dipilih sesui dengan warna yang tersedia.

30 menit

Penutup

- Menyimpulkan - Mengakhiri 12

- Mengungkapkan perasaan

5 menit

kegiatan dan memberi salam

- Menjawab salam

9. Evaluasi 1. Anak mampu membuat menempelkan warna sesuai dengan macam-macam gambar. 2. Anak mampu menyebutkan gambar dan warna yang dibuat

10. Penutup Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan fisik, emosi, mental, intelektual, kreatifitas, dan sosial. Oleh karena itu diharapkan kepada petugas kesehatan hendaknya memperhatikan kebutuhan bermain pada anak yang dirawat di rumah sakit dan juga anak yang berobat jalan di poli.

13