Anda di halaman 1dari 44

Tugas 1 ( Organisasi Regional ) Nama : N P M : Kelas : Mata Kuliah: Dosen : Materi : Winda Hapsari.

H 18110529 2 KA 30 Teori Organisasi Umum Lista Kuspriatni Tugas 1 ( Organisasi Regional )

TUGAS 1

SAARC THE SOUTH ASIAN ASSOCIATION FOR REGIONAL COOPERATION

ASOSIASI KERJASAMA REGIONAL ASIA SELATAN


NEGARA-NEGARA ANGGOTA SAARC MENUJU INTEGRASI EKONOMI

LATAR BELAKANG MASALAH Kawasan Asia Selatan merupakan kawasan yang terdiri dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka,Nepal, Maldives, Bhutan, dan Afghanistan. Keseluruh Negara-negara tersebut memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun sayangnya tidak dikelola secara baik yang mengakibatkan banyak kasus konflik horizontal yang bersifat ekonomi, politik, sosial, dan budaya di tiap-tiap negara tersebut. Secara umum gambaran dari kawasan Asia Selatan sering diwarnai dengan konflik internal maupun konflik eksternal, dimana sejarah membuktikan seperti pemisahan Pakistan dari India, pecahnya Pakistan Timur menjadi Bangladesh, permusuhan India dengan Pakistan, dan banyaknya militan-militan pendukung terorisme di tiap Bnegara-negara tersebut yang kerap kali mengakibatkan hilangnya nyawa penduduk sipil dan memperburuk keadaan ekonomi dari negara-negara tersebut.

Berangkat dari konflik-konflik itulah dibutuhakn suatu organisasi regional untuk mewadahi tiap-tiap negara Asia Selatan demi mewujudkan kawasan yang terintegrasi dan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, kesejahteraan rakyatnya, dan perdamaian di tiap-tiap negara. Maka pada tanggal 8 Desember 1985 dibentuklah The South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC). Demi untuk mempercepat investasi lintasperbatasan di wilayah itu, yang akan memacu perkembangan ekonomi semua negara anggota, munculah Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan atau South Asian Free Trade Area(SAFTA). Negara-negara anggota SAARC mengharapkan bahwa dengan terciptanya suatu kawasan perdagangan bebas dapat membantu dan menolong mereka dalam aspek ekonomi terutama dalam era globalisasi seperti ini. Dengan adanya perdagangan bebas diharapkan dapat meningkatkan kegiatan perekonomian di kawasan regional Asia Selatan. Tertarik dengan latar belakang tersebut, maka tim penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan tersebut dan menuangkannya dalam makalah dengan judul SAARC : SAFTA (2004-2006).

PENDAHULUAN SAARC adalah singkatan dari South Asian Association for Regional Cooperation (Asosiasi bagi Kerjasama Regional Asia Selatan). Asosiasi ini adalah untuk organisasi ekonomi dan politik dari delapan negara di Asia Selatan. SAARC ini didirikan pada tanggal 8 Desember 1985 oleh India, Pakistan, Bangladesh, Sri Langka, Nepal, Maladewa, dan Bhutan. Pada bulan April 2007, yaitu pada Pertemuan Puncak Asosiasi ke-14, negara Afganistan menjadi anggotanya yang ke-8. Akhir tahun 1970-an, Presiden Bangladesh Ziaur Rahman mengajukan penciptaan blok perdagangan yang terdiri dari negaranegara Asia Selatan. Ide kerjasama regional di Asia Selatan kembali diperdebatkan pada bulan Mei 1981. Komite keseluruhan, yang bertemu di Colombo pada bulan Agustus 1981, mengidentifikasikan

lima bidang besar untuk kerja sama regional. Bidang baru akan ditambahkan tahun berikutnya. Secara formal, tujuan dari kerja sama regional sebagaimana disebutkan pada pasal 1 Piagam SAARC adalah: a) Mempromosikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Asia Selatan dan untuk meningkatkan kualitas hidup. b) Mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya di kawasan dan memberi peluang bagi seluruh individuindividu di kawasan untuk hidup dalam kehormatan dan mengaktualisasikan potensi mereka. c) Mempromosikan dan memperkuat rasa percaya diri bersama diantara negara-negara Asia Selatan. d) Membangun saling percaya, saling pengertian, dan apresiasi terhadap masalah-masalah pihak lain. e) Mempromosikan kerjasama yang aktif dan saling membantu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik dan sains. f) Memperkuat kerjasama antara negara-negara Asia Selatan di forum-forum internasional untuk kepentingan bersama. g) Bekerjasama dengan organisasi internasional dan regional yang memiliki maksud dan tujuan yang sama. Dilihat dari tujuan SAARC ini, maka peran yang akan dilakukan adalah menjadi aktor pelaku tugas di atas. Menjadi aktor yang akan mengejar harapan se-regional ditambah dengan aktor nasional masing-masing. Organisasi SAARC ini adalah kerjasama di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik sehingga fungsi yangnya ialah penggerak semangat se-regional. Dilihat dari tujuan yang tercantum dalam piagam SAARC tersebut maka peran dan fungsi yang akan dijalankannya tidaklah jauh dari apa yang menjadi tujuan dasar mereka. Sekretariat SAARC didirikan di Kathmandu pada tanggal 16 Januari 1987. Asosiasi ini dikepalai oleh sekertaris jendral yang dipilih oleh Dewan Menteri dari negaranegara anggota secara alpabetika selama tiga tahun mesa jabatan. Dia akan dibantu oleh Staf Profesional dan staf pegawai umum, dan juga sejumlah unit-unit fungsional disebut sebagai devisi-devisi yang ditentukan oleh direktur utusan dari negara-negara anggota. Sekretatariat mengkoordinasikan dan meminjau pengimplementasian

dari keaktifan, persiapan dan pelayan untuk pertemuan-pertemuan, dan melayani sebagai jalur komonikasi antara asosiasi dan negaranegara anggotanya sebagaimana organisasi regional lainnya. Tujuan dari SAARC yang sebagaimana tercantum pada piagam adalah : Untuk memajukan kesejahteraan dari rakyat-rakyat Asia Selatan dan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan dan menyediakan untuk tiaptiap individu untuk hidup bermatabat and untuk menyarinya bahwa mereka penuh dengan potensi Untuk memajukan dan memperkuat kepercayaan diri secara kolektif di antara negara-negara Asia Selatan Untuk memperbesar rasa saling kepercayaan, pemahaman, dan pengertian dari tiadari setiap masalah Untuk memajukan kerjasama yang aktif dan rasa saling menolong dalam perekonomian, sosial, kebudayaan, dan kajian riset dan teknologi Untuk memperkuat kerjasama dengan negara berkembang lainnya Untuk memperkuat kerjasama di antara anggota dalam forum internasional mengenai hal yang sedang terjadi Untuk bekerjasama dengan organisasi internasional dan regional yang memiliki target dan tujuan yang sama. Deklarasi dari SAARC disetujui pada tahun 1983 oleh para Menteri Luar Negeri. Selama pertemuan itu, para Menteri Luar Negeri juga memperkenalkan beberapa program bersama yang dikenal dengan Integrated Programme of Action (IPA), program kerjasama ini meliputi 9 area yang disetujui, yaitu Agrikultur; Pembangunan Daerah Pedalaman; Telekomunikasi; Meteorologi; Kesehatan dan Kependudukan; Transportasi; Pos; Ilmu dan Teknologi; Olahraga; Seni dan Kebudayaan. SAARC didirikan ketika piagam secara resmi disetujui pada tanggal 8 Desember 1985 oleh para Kepala Negara dari Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.

Afghanistan ditambahkan pada kelompok kawasan ini atas permintaan dari India pada tanggal 13 November 2005, dan menjadi anggota pada tanggal 3 April 2007. Dengan masuknya Afghanistan menjadikan anggota SAARC menjadi 8 negara. Dan pada April 2006, Amerika Serikat dan Korea Selatan secara resmi diterima sebagai peninjau. Uni Eropa juga menunjukan keinginannya untuk memberikan peninjauan dan mengajukannya secara resmi pada pertemuan Kementerian SAARC pada bulan Juli 2006. Para Menteri Luar Negeri negara-negara SAARC setuju untuk memberikan izin peninjauan terhadap Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Uni Eropa pada tanggal 2 Agustus 2006. Pada tanggal 4 Maret 2007, Iran mengajukan diri sebagai peninjau yang selanjutnya di ikuti oleh Mauritius. Sekretariat Sekretariat SAARC didirikan di Kathmandu pada tanggal 16 Januari 1987 dan diresmikan oleh Raja Nepal Birendra Bir Bikram Shah. Diketuai oleh Sekretaris Jenderal yang ditetapkan oleh Dewan Kementerian dari negara-negara anggota yang berdasarkan secara alfabetis dengan masa 3 tahun jabatan. Sekretaris Jendral dibantu oleh Staf Profesional dan Pelayanan Umum, beberapa unit fungsi yang bernama Divisi Penugasan, dan ketua dari utusan negara anggota. Sekretariat menyerasikan dan memantau implementasi dari aktifitas, persiapan dan pelayanan untuk pertemuan, dan menyediakan saluran komunikasi antara SAARC dengan anggotanya dan juga dengan organisasi regional lainnya. Dalam beberapa pertemuan terakhir, para ketua negara dari negara-negara anggota SAARC telah menentukan langkah-langkah yang penting dan insiatif yang kuat untuk memperkuat organisasi ini dan untuk memperlebar serta memperdalam kerjasama regional. Sekretariat SAARC dan negara-negara anggotanya menghormati tanggal 8 Desember sebagai hari Piagam SAARC. Berikut adalah daftar Sekretaris Jenderal di SAARC : Abul Hasan (Bangladesh), 16 Januari 1987 15 Oktober 1989

Khan Kisore Bhargava (India), 17 Oktober 1989 31 Desember 1991 Ibrahim Hussain Zakri (Maladewa), 1 Januari 1992 31 Desember 1993 Yadav Kant Silwal (Nepal), 1 Januari 1994 31 Desember 1995 Naeem U. Hassan (Pakistan), 1 Januari 1996 31 Desember 1998 Nihal Rodrigo (Sri Lanka), 1 Januari 1999 10 Januari 2002 Q. A. M. A. Rahim (Bangladesh), 11 Januari 2002 28 Februari 2005 Lyonpo Chenkyab Dorji (Bhutan), 1 Maret 2005 29 Februari 2008 Sheel Kant Sharma (India), 1 Maret 2008 Sekarang. Kritikan Ketidakmampuan SAARC menjalankan peranannya dalam mempersatukan Asia Selatan kerap kali disangkutkan dengan persengketaan politik dan militer antara India dan Pakistan. Dan karena alasan persengketaan ekonomi, politik, dan perbatasan di Asia Selatan, negara-negara anggotanya tidak dapat memanfaatkan keuntungan dari integrasi ekonomi di kawasan ini. Selama bertahuntahun, peranan SAARC di Asia Selatan hanya sekedar wadah untuk pertemuan tahunan anggota-anggotanya. Keanggotaan Anggota Tetap Republik Islam Afghanistan Republik Rakyat Bangladesh Kerajaan Bhutan Republik India Republik Maladewa Republik Demoktarik Federal Nepal Republik Islam Pakistan Republik Sosialis Demokratis Sri Lanka Anggota Peninjau Amerika Serikat Australia China Iran

Korea Selatan Jepang Mauritius Myanmar Uni Eropa 2. Anggota Kedepannya Republik Rakyat China telah menunjukan keinginannya untuk bergabung dengan SAARC. Sementara Pakistan dan Bangladesh mendukung keingingan China ini, India enggan untuk membicarakan prospek keanggotaan China, dan juga Bhutan disini malah tidak memiliki hubungan diplomatik dengan China. Walaupun pada KTT Dhaka 2005, India setuju untuk menjadikan China sebagai anggota peninjau dengan Jepang. Pada KTT ke-14, Nepal bersama dengan Pakistan mengumumkan dukungannya terhadap keanggotaan China. China menunjukan keinginannya untuk lebih terlibat di SAARC, walaupun terlalu awal untuk mendaftarkan sebagai anggota tetap. Indonesia berniat untuk menjadi peninjau dan didukung oleh Sri Lanka. Republik Islam Iran, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan 2 anggota negara SAARC, yang secara kebudayaan, ekonomi, dan politik berhubungan dengan Afghanistan, Pakistan, India, dan Bangladesh ini menunjukan keinginannya untuk menjadi anggota dari organisasi ini. Pada tanggal 22 februari 2005, Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazzi, menunjukan keinginan Iran untuk bergabung dengan SAARC dengan berkata bahwa negaranya mampu melengkapi kawasan ini dengan Hubungan Timur dan Barat. Pada tanggal 3 Maret 2007, Iran mengajukan diri sebagai peninjau. Federasi Rusia berniat untuk menjadi peninjau yang didukung oleh India. Myanmar telah menunjukan keinginannya untuk menjadi anggota tetap SAARC. Jika ini terkabulkan, maka Myanmar akan menjadi anggota ke-9 dalam organisasi ini. Belakangan ini, India mendukung Myanmar atas usulannya. Republik Afrika Selatan telah berpartisipasi dalam beberapa pertemuan.

Kawasan Asia Selatan ini memang kurang stabil, seringnya terjadi perang ditambah lagi kebanyakan negara-negara di kawasan ini adalah negara miskin. Kawasan ini juga terkenal dengan negara yang paling padat penduduknya di dunia, misalnya saja Bangladesh luas wilayahnya tidak lebih dari Pulau Jawa ditambah Pulai Bali dan Madura di Indonesia, menduduki urutan terpadat ke-8. Sehingga integrasi ekonomi merupakan harapan terbaik bagi warga Asia Selatan. Pada kenyataannya tidak ada alternatif baginya. Itu satusatunya masa depan kami, uangkap Mohammad Yunus, Ketua Grameen Bank, dan perintis sistem kredit mikro. Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Wolfgang Gerhardt bahwa integrasi ekonomi regioanal adalah sebuah prakondisi yang penting bagi terciptanya perdamaian di Asia Selatan. Ia menggaris bawahi tentang pentingnya ekonomi pasar, yang berfungsi menciptakan kesejahteraan, keterbukaan, perdamaian di Asia Selatan, yang akan terbebaskan dari kemiskinan dan penindasan. Sebagaimana SAARC komitmen memerangi kemiskinan, maka keinganan mencapai integrasi akan dilakukan. Dalam paper ini akan dijelaskan tentang pendekatan integrasi ekonomi regional yang mendukung upaya integrasi ekonomi regional oleh anggota-anggota SAARC. Konsep integrasi regional sebenarnya datang dari Eropa setelah Perang Dunia II. Negara-negara Eropa akhirnya sadar bahwa perang yang dua kali terjadi di kawasan ini menimbulkan kesengsaraan besar. Asumsi sederhana yang dapat diambil dari Eropa sebenarnya adalah meningkatkan tali perekonomian dan pertukaran yang tidak hanya akan menghasilkan hal positif dan bermanfaat dalam kemakmuran ekonomi, tetapi mempunyai manfaat politis juga. Yang menjadi gagasan dasar integrasi ekonomi Eropa ini adalah negara-negara pada wilayah geografis yang sama lebih berpotensi untuk bekerjasama. Dengan intensitas interaksi dalam kerangka kerja sama yang tinggi, negara-negara ini dapat mengeliminasi konflik aktual, bahkan dapat membangun kesadaran bersama terhadap potensi ancaman. Karl Deutsch mendefinisikan konsep ini

sebagai security community, yaitu penciptaaan lembaga-lembaga dan praktek-praktek yang cukup kuat dan cukup meluas sehingga bisa menjamin harapan akan adanya perubahan secara damai. Melalui lembaga seperti ini, konflik dan pertikaian bisa dilembagakan untuk memperoleh solusi damai. Konsep regional sendiri memiliki pengertian yang beragam. Regionalisme tersebut dapat dianalisa melalui tingkat kohesivitas sosial, kohesitas ekonomi, dan kohesitas organisasional. Kohesitas sosial ini terjadi karena etnisitas, ras, bahasa, agama, budaya, sejarah, kesadaran terhadap warisan masa lalu. Kohesitas ekonomi terjadi karena perdagangan, komplementaris ekonomi. Kohesitas organisasi sendiri terjadi karena kehadiran institusi regional yang formal. Integrasi regional pada kawasan Asia Selatan ini dilihat dari konteks domestik. Kenteks domestik yang dimaksudkan ialah, regionalisme dilihat sebagai interpretasi kepentingan nasional suatu negara dengan mempertimbangankan manfaat langsung dari kerja sama tersebut. Sejak dekade 1960-an. Teori integrasi ekonomi regional dipengaruhi oleh pendekatan yang dikembangkan Bela Balassa, yang berpendapat bahwa integrasi regional seharusnya berlangsung melalui lima tahapan, yaitu: free trade area,customs union, common market, economic and monetary union, dan political union. Tahapan-tahapan ini berlangsung terpisah, artinya untuk menuju tahapan yang lebih tinggi perlu dilewati tahap yang lebih rendah. Berikut penjelasan singkat tahapan integrasi ekonomi regional menurut Balassa, yang digambarkan lewat tabel. Pada saat KKT SAARC ke-13, para anggota menyerukan peningkatan saling perngertian dan peningkatan rasa saling percaya guna mewujudkan perdamaian, kestabilan dan kemajuan serta persahabatan di wilayah tersebut melalui prinsip-prinsip Piagam SAARC. Dalam pakta itu, India, Pakistan dan Sri Lanka akan mengurangi tarif bea mereka hingga 20% dalam dua tahun pertama. Pada akhir tahun 2012, tarif mereka seharusnya turun 0-5%.Nepal, Bhutan, Bangladesh dan Maladewa, negara-negara yang telah diberi status negara-negara yang kurang maju dalam SAARC, akan

mengurangi kewajiban bea mereka hingga 30% pada akhir 2007 dan hingga 0-5% pada akhir tahun 2015. Dengan pakta perdagangan bebas, kekuatan baru telah dimasukkan ke dalam badan regional ini, yang jika tak terlihat sebagai sebuah organisasi yang tak efektif yang tak dapat menyerahkan apa yang diharapkan atas itu, kata Ramsaran Mahat, seorang mantan Menteri Keuangan Nepal. Kehadiran perdagangan bebas ini, perdagangan luar negeri antara mereka semakin mudah. Ini tentunya meningkatkan pendapatan nasional mereka. SAARC yang menjadi organisasi kerja sama di Asia Selatan mendapat tanggapan yang berbeda. Beberapa anggotanya mengatakan kehadiran organisasi ini tidak mendatangkan hasil sma sekali, selain itu kehadiran organisasi ini membangkitkan semangat bagi anggotanya dalam berkarya. Misalnya saja masalah India-Pakistan mengenai Kasmir. Kehadiran SAARC menjadi sangat diragukan. Terlebih organisasi ini untuk bidang ekonomi, sedikit banyak sudah memberikan kontribusi pada anggotanya. Seperti pemberantasan kemiskinan. Kemiskinan adalah yang menjadi masalah di negaranegara berkembang. Masalah kemiskinan ini akan sangat berpengaruh terhadap bargaining potition mereka. Apapun tanggapan terhadap organisasi ini, semangat yang dimiliki anggotanya terhadap integrasi nasional Belajar dari pengalaman Eropa yang menjadi perintis integrasi ekonomi, serta ASEAN organisasi yang terdekat dari kawasannya membuat negara-negara kawasan Asia Selatan ini terus berusaha. Kestabilan dalam negeri menurut saya adalah faktor yang penting agar urusan luar negeri juga tercapai. Ini menurut saya, apabila kestabilan dalam negeri saja tidak tercapai maka akan sulit berurusan dengan kegiatan lain. Seperti penjelasan Mohammad Yusuf, integrasi adalahf harapan kawasan Asia Selatan, semoga harapan itu tercapai dengan dimulai saling membangun kepercayaan antara mereka.

4 SAARC Bisnis Pemimpin Conclave SAARC Kamar Dagang dan Industri terorganisir 4 Pemimpin konklaf Bisnis SAARC dengan tema "Perdamaian dan Kesejahteraan melalui Konektivitas Daerah" bekerja sama dengan Federasi Nepal Kamar Dagang & Industri pada tanggal 20-22 September 2011 di Kathmandu, Nepal. Konklaf ini didukung oleh Friedrich Naumann Stiftung, New Delhi kantor regional dan Kelompok Bank Dunia sebagai mitra pengetahuan. Pertemuan ini bertujuan untuk menentukan rencana aksi persuasif dari sektor swasta daerah untuk mendorong proses integrasi regional di Asia Selatan. Ram Baran Yadav Dr Presiden Nepal adalah tamu kepala dan SBLC 4 diresmikan. Dalam pidato pelantikannya dia mengatakan negara-negara Asia Selatan memiliki tujuan ekonomi umum dan tantangan ekonomi umum. Kita dapat bergerak menuju kemakmuran melalui penekanan kuat pada kerjasama regional. Negara Asia Selatan adalah rumah bagi

seperlima dari penduduk dunia dan sama-sama berlimpah dengan sumber daya yang harus dieksploitasi melalui upaya bersama. Pada kesempatan ini, Hon'ble Mr Ratnasiri Wickramanayake, MP dan Mantan Perdana Menteri, Sri Lanka mengatakan bahwa komunitas bisnis dengan peran dinamis dari Pemerintah masingmasing di Asia Selatan dapat membawa perubahan revolusioner dan selanjutnya mendorong laju integrasi regional di Asia Selatan. Mr Annisul Huq, Presiden SAARC Kamar Dagang dan Industri dalam pidatonya menyesalkan bahwa kebijakan penting yang seharusnya untuk meningkatkan perdagangan Asia Selatan diteruskan namun implementasi dan eksekusi memakan waktu hampir satu dekade sehingga efektifitas kebijakan hilang oleh waktu untuk datang dalam untuk efek. Dia menambahkan bahwa konektivitas yang lebih baik dan kepercayaan antara negara-negara Asia Selatan akan membuat gerakan dalam daerah bebas, "menunjuk Mr Huq dan mendesak kepada para pemimpin politik Asia Selatan untuk memamerkan kemauan politik untuk membawa perdamaian dan kemakmuran bagi Daerah yang home dari populasi dunia, memiliki potensi yang tak terbatas tetapi tetap setidaknya terintegrasi di dunia. Mr Suraj Vaidya, Presiden Federasi Nepal Kamar Dagang dan Industri (FNCCI) dalam sambutannya mengatakan bahwa perdagangan intraregional di antara negara-negara anggota SAARC dirusak oleh isu hambatan non-tarif dan daftar sensitif yang perlu ditangani efektif untuk ekspansi yang cepat dari perdagangan intra regional sambil menunjuk keluar perdagangan intra-regional sebagai salah satu ukuran penting untuk mengatasi situasi ekonomi rakyat daerah. Mr Tariq Sayeed, mantan Presiden langsung dan Mr Padma Jyoti, mantan Presiden SAARC CCI dihormati dengan medali emas oleh Presiden Nepal dalam pengakuan jasa mereka tak kenal lelah

untuk SAARC CCI dan melayani komunitas bisnis di Asia Selatan. Presiden incumbent Mr Annisul Huq dianugerahkan kepada pendahulunya sertifikat penghargaan juga. Sesi perdana ini diikuti oleh tujuh sesi termasuk sesi pidato perpisahan. Pertemuan ini diakhiri dengan adaptasi dari deklarasi Kathamndu. Acara ini menyaksikan kehadiran politisi terkemuka, akademisi terkemuka dan kepala perusahaan dari perusahaan dari kawasan dan di seluruh dunia. Konklaf tersebut dihadiri oleh lebih dari 500 delegasi di Asia Selatan termasuk partisipasi terbesar 120 dari Bangladesh diikuti oleh 75 dari Pakistan. Di pertemuan pertama diadakan di New Delhi (2005) kedua diadakan di Mumbai (2007) dan ketiga konklaf berlangsung di Kolombo pada tahun 2009.

Konferensi Konektivitas Daerah di Asia Selatan: Prospek Kerjasama dalam Transportasi & Komunikasi di Kolombo, Sri Lanka Konferensi ini diselenggarakan oleh SAARC IKK bekerjasama dengan FCCISL untuk membahas cara dan sarana untuk memastikan konektivitas daerah meningkat di Asia Selatan dengan fokus pada prospek untuk kerjasama dalam transportasi dan komunikasi. Perlunya kerjasama regional yang lebih besar dan kemampuan untuk lebih menerapkan resolusi muncul sebagai isu-isu kunci di konferensi. Konferensi ini dihadiri oleh siapa adalah siapa dari dunia bisnis di Asia Selatan dan diketuai oleh Profesor GLPeiris, Menteri Luar Negeri Terhormat, Pemerintah Sri Lanka. Mr Annisul Haq, Presiden CCI SAARC adalah keynote speaker. Seminar ini juga dibahas oleh Mr Kumar Mallimaratchi, Penjabat Presiden FCCISL, dan Mr Iftikhar Ali Malik, Wakil Presiden SAARC CCI. Proses yang dimoderatori oleh SAARC CCI Sekretaris Jenderal Muhammad Iqbal Tabish yang dalam sambutannya menekankan

bahwa karena konektivitas miskin, negara-negara Asia Selatan gagal memasuki 72% dari potensi perdagangan US $ 65 miliar yang tersedia pada tahun 2011. Dia menekankan bahwa masalah konektivitas di wilayah seharusnya tidak terbatas pada ruang perdagangan, tetapi perlu untuk mencapai alam konektivitas melalui kereta api tidak hanya dan koridor jalan tetapi juga melalui transportasi perairan pedalaman dan penerbangan, yang tidak hanya akan meningkatkan fisik, ekonomi dan orang-orang untuk konektivitas orang, tetapi juga akan menciptakan prospek yang lebih besar untuk konektivitas transportasi yang lebih baik daerah. FCCISL Pejabat Presiden Kumar Mallimaratchi menarik tentang pentingnya melaksanakan kebijakan dalam welcome address-nya. Dia adalah pandangan bahwa untuk perdagangan dan interaksi untuk tumbuh di negara-negara SAARC, masalah dihadapi dalam mempromosikan konektivitas daerah harus dihapus. Menurut dia, SAARC dan Asia adalah driver ekonomi di masa depan. Ini adalah tanggung jawab utama dari pengusaha untuk memastikan perdagangan lainnya yang berjarak SAARC. SAARC CCI Wakil Presiden Iftikhar Ali Malik dibawa ke perhatian peran penting bahwa berbagai pemerintah dan para pemangku kepentingan harus bermain di berbagai wilayah SAARC. Menjelaskan pentingnya infrastruktur, dia menyatakan bahwa konektivitas Daerah adalah salah satu aspek fundamental dari pembangunan dan Infrastruktur merupakan faktor penting untuk konektivitas yang lebih baik. Dalam hal ini, sementara mengutip angka dari Survei Penilaian Iklim Investasi (2008), Malik menjelaskan bahwa 40% perusahaan di India, 45% di Pakistan, 60% di Bangladesh dan 75% di Nepal melaporkan bahwa infrastruktur yang tidak memadai-suatu hambatan yang besar untuk mereka upaya ekspansi bisnis. Malik juga menekankan bahwa perdagangan intraregional sebagian besar masih belum direalisasi. Keynote speaker, SAARC CCI Presiden Annisul Huq menyatakan

bahwa kurangnya konektivitas telah menghalangi Asia Selatan datang lebih dekat bersama sebagai suatu wilayah. Mengutip Muchkund Dubey, Huq menyatakan bahwa meskipun menjadi pengelompokan ideal untuk integrasi ekonomi, Asia Selatan tetap tidak tersentuh oleh gelombang pertama dari regionalisme di arena internasional dan tetap diwarnai oleh keraguan dan kecurigaan yang saling menguntungkan. Dia menekankan bahwa mimpi satu ekonomi, satu kesepakatan, satu kebanggaan, satu suara dan satu wilayah adalah apa kebutuhan Asia Selatan pada saat ini. Berkaca pada keberhasilan negara-negara ASEAN, Huq mengatakan bahwa Asia Selatan dan SAARC memberikan kontras dengan kawasan ASEAN. Meskipun negaranegara Asia Selatan yang membuat upaya bersama untuk meningkatkan konektivitas daerah melalui pembangunan infrastruktur, kesenjangan infrastruktur dalam hal indeks telah melebar di Asia Selatan sejak tahun 1990, ia menyesalkan. Huq mengusulkan agenda 10-item untuk Menteri Luar Negeri, pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis dari Asia Selatan. Huq menekankan bahwa dalam tujuh tahun ke depan, orang-orang Asia Selatan akan perlu untuk menghubungkan pada berbagai titik konektivitas, baik itu sosial, ekonomi, budaya atau spiritual. Huq selanjutnya disebut untuk komitmen dari kedua pemerintah dan masyarakat bisnis untuk mengambil lompatan besar dalam memfasilitasi konektivitas lebih lanjut di wilayah SAARC. Menyoroti pentingnya berfokus pada masalah beton, Guest GL Peiris Kepala Prof, Menteri Luar Negeri, Pemerintah Sri Lanka. menyatakan bahwa kita harus fokus pada isu-isu konkret untuk bergerak maju dan bahwa ada potensi besar di Asia Selatan. Peiris mendesak kolaborasi lebih dekat antara Kamar Dagang dan Industri (CCI) dan sektor swasta, yang menyatakan bahwa menempatkan di tempat strategi yang layak untuk meningkatkan kemajuan komersial penting. Mengomentari tentang pentingnya mengembangkan perdagangan di kawasan ini, ia berpandangan bahwa kita harus serius mengembangkan perdagangan di kawasan SAARC. Menurutnya,

konektivitas adalah faktor yang paling penting. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa masyarakat dan sektor swasta perlu menciptakan sinergi di bidang kepentingan bersama dan visi bersama mereka pada keamanan pangan, keamanan energi dan mekanisme terorisme diperlukan di tingkat regional. Sesi perdana ini diikuti oleh sesi kerja "Konektivitas fisik di Asia Selatan: Tantangan dan prospek bawah SAFTA" yang ditangani oleh pembicara terkemuka dari wilayah tersebut.

Senin, 11 Juni 2012 SARC (South Asian Regional Coorperation)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Latar belakang disusunnya maklah ini adalah untuk memenuhi tugas yang di berikan oleh Dosen pengajar. Makalah ini membahas tentang Kerja Sama Asia Asia Selatan. Sedikit sekali yang kita ketahui mengenai Asia Selatan terlebih lagi mengenai politik dan sejarahnya, di sini penulis berusaha menerangkan materi yang dibutuhkan sebagai referensi agar dapat menyempurnakan topik yang diperbincangkan. B. TUJUAN

Tujuan penyusunan ini juga untuk membuka jendela pengetahuan kita tentang sebuah sejarah bangsa Asia Selatan khusnya yang masih dipermasalahkan hingga kini. Harapan penulis adalah agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi mereka yang membutuhkan untuk referensi ataupun bahan bacaan semata.

BAB II PEMBAHASAN

A. SARC (SOUTH ASIAN REGIONAL COOPERATION) Dewasa ini kecenderungan suatu Negara dikawasan tertentu membentuk suatu badan kerja sama, baik kerja sama perdagangan atau badan keja sama dibidang pertahanan meupun kerja sama dibidang lainnya. Sebagai contoh badan keja sama yang tergabung dalam masyarakat ekonomi eropa yang dikenal dengan

Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Adalagi kerjasama kerena ikatan keinginan mempertahankan ideologi, sehingga membentuk kejasama dalam bidang pertahanan yaitu NATO.

Jika di atas mencerminkan Negara-negara industri yang sudah maju, maka negara-negara berkembang juga merasakan pentingnya kerja sama terutama kerjasama ekonomi. Dan kemudian sekitar tahun 1960-an badan kerja sama yang bersifat regional bermunculan, pada tahun 1959 kawasn Afrika Barat membentuk Masyarakan Ekonomi afrika barat (WEAC), kemudian Amerika latin membentuk LAFTA (latin American free trade association), ditahun 1964 negara-negara Arab membentuk pasaran bersama Arab, di kawasan Asia Tenggara beberapa Negara membentuk badan kerjasama yang diberi nama ASEAN (asociation of south east asian nation) pada tahun 1967.

Alasan pokok yang mendorong mereka mengadakan keja sama. Pertama, adanya kedekatan geografis, keterikatan poitik,dan fungsionalisme ekonomi dalam arti bahwa kerja sama regional dianggap lebih efektif untuk kepentingan negaranegara anggotanya dan kerena itu lebih dianggap realistis. Kedua, kenyataan perekonomian dunia yang diskriminatif dan perspektif dari negara-negara industri maju terhadap negara-negara berkembang, sehingga timbul ketimpangan disegala bidang, termasuk bidang ekonomi, teknologi dan politik. Melihat persepsi di atas, menekankan pentingnya adanya sebuah badan kerja sama regional, maka 13 tahun lalu tepatnya tanggal 2 agustus 1983 terbentuklah sebuah organisasi kerjasama regional di kawasan asia selatan yang dikenal dengan nama SARC (South Asian Regional Cooperation).

B.

LATAR BELAKANG BERDIRINYA SARC

Pada dasarnya terbantuknya kerja sama regional karena kepentinga politik dan keamanan. Memang dalam kerja sama cendrung dilakukan dari ekonomi dan

teknologi. Namun nantinya mengarah kepada ferfektif keamanan dan pencapaian politik.

Kemudian karena di kawasan asia selatan yang sangat rawan stablitas keamanan, kerawanan tersebut karena stabilitas yang selalu berada di permukaan. Kerawanan tersebut karena instabilitas yang berada di permukaan yang siap mengancam kapan saja. Hal ini disebabkan kawasan asia selatan berada pada samudera hindia. Dimana lautan ini menjadi akses bagi negara super power untuk masuk ke kawasan arab yang sering bergejolah. Bagi negara super power samudera hindia merupakan ajang kekuatan yang perlu dipertahankan.

Melihat dari situasi ini maka timbulah kemauan politik yang tegas. Karena permusuhan sudah bergejolak dari dahulu kala. Rasa permusuhan antar negara begitu mendalam menyangkut tentang agama, ras dan suku bangsa maupun karena perselisihan perbatasan. Denagn melihat adanya dampak positif dari adanya kerjasama regional diantaranya mengurangi perbedaan-perbedaan dan salah pengertian seperti di ASEAN. Hubungan antara negara asia selatan juga bisa diperbaiki lewat kerjasama pilitik, ekonomi, teknologi, sosial budaya dan kemanusiaan.

Ide atau gagasan pembentukan kerjasama di kawasan asia selatan dilontarkan oleh presiden Bangladesh Ziaur Rahman yang disampaikan oleh Samsul Huda Chowdhury menteri penerangan dan siaran Bangladesh kepada presiden srilanka J.R. Jayawardene saat kunjungan ke Kolombo pada bulan mai 1980. Adapun usulan Ziaur Rahman antara lain agar diadakan konferensi tingkat tinggi (KTT) ke tujuh Negara di asia selatan. Ide pembentukan kerjasama tersebut merupakan hasil kunjungan Ziaur Rahman ke Indonesia dan Negara-negara Asean lainnya. Ziaur Rahman mengetakan bahwa kawasan asia selatan satu-satunya yang tidak mempunyai institusi kerjasama regional.

Kesungguhan Bangladesh dalam membentuk kerjasama asia selatan terlihat dari pengiriman utusan-utusan khusus ke enam negara. Usulan dari bangladesh pada prinsipnya disetujui oleh negara-negara asia selatan. Hanya saja mengenai waktu mengenai waktu pembentukan belum disepakati, terutama India dan Pakistan, sedangkan empat negara lainnya yaitu Nepal, Srilanka, Bhutan, Maladewa menyambutnya dengan antusias. Proses pembentukan yang masih membutuhkan peroses panjang, terutama sekali sikap kehati-hatian kedua Negara besar India dan Pakistan. Hal ini dilatar belakangi sejarah kedua negara yang berselisih sejak lahir terpisah dari negara induk pada tahun 1947, dan itu berlangsung sampai sekarang.

Ketujuh negara asia selatan memajukan niatnya untuk bekerja sama demi kesejahteraan di kawasan mereka. Pertemuan untuk membicarakan usul presiden Bangladesh yang berlangsung di Kolombo, pertemuan setingkat menteri luar negeri menjadi sejarah awal terbentuknya SARC. Pertemuan Kolombo menghasilkan kesepakatan bersama untuk mengadakan kerjasama regional terlepas dari bayang-bayang militer. Pada pertemuan itu menteri luar negeri mengeluarkan kesepakatan bersama menerima secara bulat gagasan untuk membentuk suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Kemudian disepakati meneliti lima bidang kegiatan yang bisa dijadikan dasar kerjasama regional yaitu bidang pertanian, pembangunan pedesaan, telekomunikasi, meteorologi, penduduk dan perencanaan kesehatan. Pertemuan kedua diadakan pada tanggal 25 november 1981 di Kathmandu Nepal. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama mengenai pembentukan kerjasama asia selatan dan tentang rencana dasar yang sudah disepakati.

Kurang lebih setahun kemudian diadakan pertemuan ketiga. Pertemuan ini diadakan di Islamabad Pakistan pada tanggal 7-9 agustus 1982 setingkat mentri

luar negri. Pertemuan Islamabad disepakati untuk memperluas kerjasama meliputi sebelas bidang dimana dimasukkan bidang olahraga, kesenian dan kebudayaan.

Maka dari ketiga pertemuan di atas semakin memperjelas bahwa kehadiran kerjasama antar negara asia selatan ini sangat dibutuhkan. Maka antara februari dan maret di Dacca bangladesh akan diadakan sidang para mentri luar negeri dalam rangka meninjau kembali hasil yang tercapai. Di samping itu mempersiapkan juga pertemuan keempat di New Delhi India, diharapkan akan adanya keputusan konkrit tentang terbentuknya secara resmi organisasi kerjasama asia selatan.

Pada tanggal 2 agustus 1983 di New Delhi sebagai pertemuan keempat bagi ketujuh Negara kawasan asia selatan dikeluarkan juga Deklarasi New Delhi, dalam deklarasi tersebut hal yang sangat penting dan merupakan salah satu mata rantai sejarah anak benua ini berdirilah secara resmi suatu organisasi yang diberi nama SARC singkatan dari South Asian Regional Cooperation.

C. NEGARA-NEGARA ANGGOTA SARC Anggota SARC secara geografis terdiri dari tujuh Negara yaitu, India, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Srilanka dan Maladewa.

Negara india berfungsi sebagai primus inter pores diantara anggota SARC, yang atrinya yang pertama diantara sesama atau sebagai tempat pusat kawasan, karena India memiliki penduduk yang cukup besar dan perkembangan teknologi yang cukup pesat, hal ini sudah terjadi sejak kedatangan Inggris yang menganggap New Delhi sebagai pusat kekuasaan kolonial di asia selatan sehingga melahirkan kepemimpinan yang karismatik.

Sebenarnya Pakistan juga sebuah negara yang besar, tetapi karena politik dalam negeri yang tidak stabil maka pertumbhan ekonomi dan teknologinya menjadi terhambat. Tetapi bila masalah dalam negerinya dapat diatasi bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Pakistan akan berkembang seperti yang ada di India. Walaupun demikian kedua negara ini menyambut positif hadirnya kerjasama antar negara ini.

D. PROSPEK SARC DAN TANTANGAN Hambatan-hambatan psikologi yang menjadi penghalang utama terbentuknya SARC kini tidak menjadi penghalang lagi. Namun perjalanan SARC ini masih menjadi bahan kajian bagi semua negara di dunia ini, seperti yang dilontarkan Burhan D Magenda 1983 berupa pernyataan, apakah organisasi SARC ini mampu memainkan peran yang menonjol dimasa mendatang, yang tidak hanya dari bidang ekonomi, politik, teknologi dan dalam mempersatukan anggotaanggotanya tapi juga dalam menciptakan suatu identitas regional dibidang politik, seperti yang telah dicapai ASEAN.

Untuk mengakji lebih jauh mengenai pernyataan di atas, tentunya perlu diamati faktor-faktor yang paling dominan dalam kelangsungan SARC seperti yang. Salah satu nya peran kontruktif yang dapat dilakukan oleh yang perfungsi sebagai primus inter pores diantara anggota SARC. Dalam hal ini India dianggap sebagai primus inter proses. Bagi negara anggota SARC negara mana yang dianggap primus inter proses tidak menjadi masalah sepanjang negara tersebut tidak mendiktekan atau mendominasi keinginannya dalam kerja sama SARC.

Dengan demikian India dianggap dominan dalam SARC ini dianggap wajar karena perkembangan penduduk yang cukup pesat dan perkembangan teknologi. Dan

sejak kedatangan Inggris juga sudah mengnggap India sebagai pusat kekuasaan sehingga melahirkan kepemimpinan yang karismatik.

Jika India menjadi primus inter proses dapat dilihat dampaknya dari dua sisi yakni sisi positif dan sisi negatif. Dampak positif yakni, India merupakan negara terbesar di kawasan tersebut, pertumbuhan teknologi yang cukup pesat dengan demikian india dianggap cukup dominan dalam bidang ekonomi. Dengan perekonomian yang baik dapat menarik negara-negara miskin anggota SARC yang lain ikut berkembang perekonomiannya. Namun kendalanya di kawasan asia selatan hanya India yang perekonomiannya dan yang dihadapi kemiskinan yang cukup besar.

Menurut teori pembangunan India tidak mungkin memikul beban keenam negara lainnya. Memang ada Pakistan termasuk negara besar, tetapi Pakistan tidak dapat memainkan perannya secara maksimal, karena Pakistan secara pilitik tidak stabil di dalam negerinya, akibatnya perekonomian tidak terpacu tumbuh.

Secara keseluruhan bila dilihat pertumbuhan ekonomi, India hanya menjadi pusat kawasan politik tidak menjadi pusat kawasan ekonomi. Hal ini disebabkan ketergantungan pertumbuhan ekonomi anggota SARC cukup tinggi.

Dampak negatif India menjadi primus inter proses adalah hubungan India dengan beberapa negara di kawasan tersebut, hubungan India dengan Pakistan sudah tidak harmonis lagi sejak kedua negara tersebut merdeka. Sampai sekarang ini perang dingin masih terus berlangsung. Permasalahannya masyarakat India tidak begitu rela melepaskan Pakistan keluar dari negara induk,. Hal ini menjadi phenomena berkepanjangan di hati masyarkat India.

Di sisi lain Pakistan masih belum pulih dari kekalahan perang saudara, dimana intervensi India ke wilayah Pakistan dianggap campur tangan urusan dalam negeri. Berkat intervensi tersebut maka Bangladesh merdeka dan terpisah dari kedaulatan Pakistan. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Pakistan karena mereka pada dasarnya tidak merelakannya.

Selajutnya melihat hubunga mereka sekarang ini sulit dikatakan bahwa perang sudah reda. Pakistan yang merasa masyarakat dan wilayah Kashmir di India tidak terpisah dengan Pakistan. Oleh sebab itu Pakistan diam-diam membantu para pejuang Kashmir yang ingin merdeka dan kelur dari India. Sehingga diantara kedua negara sering terjadi bentrok di perbatasan.

Sebagai dua negara besar di asia selatan, perang dingin keduanya akan mejadi sikap tidak saling percaya. Sehingga kelangsungan SARC yang didominasi secara politik dipengaruhi oleh dua negara tersebut akan berpengaruh pada perkembangan SARC.kemungkinan SARC mengembangkan ekonomi bagi negara anggotanya akan terhenti. Jika demikian maka SARC yang diidam-idamkan akan kelur dari cita-cita semula.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa SARC sebagai organisasi kerjasama regional asia selatan masih menempuh jalan panjang. Ini berarti suatu identitas politik kawasan tidaklah mungkin diharapkan untuk masa yang cepat.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

SARC merupakan organisasi regional kawasan asia selatan, organisasi ini didirikan bertujuan untuk membantu sekaligus mendorong tumbuhnya perekonomian negara-negara asia selatan yang sudah jauh tertinggal dengan tetangga terdekat mereka Eropa dan asia tenggara. Seiring dengan berjalannya waktu tantangan dan rintangan yang akan dihadapi SARC akan membuktikan apakah mereka sudah benar-benar melakukan tugas mereka dengan benar atau bahkan belum ada perubahan sejak didirikannya SARC, ini membuktikan bahwa sebuah identitas besar tidak dapat dibentuk hanya dalam waktu yang singakat, tetapi membutuhkan proses panjang.

B.

SARAN

Sebuah organisasi besar berawal dari individu yang kemudian membaur dan kumpulan individu ini akan menjadi salah satu pemegang peranan penting baik dalam sebuah masyarakat, daerah provinsi, negara bahkan memiliki andil besar dalam sejarah dunia. Maka hendaknya kita mulai membangun sebuah pemikiran perubahan mulai dari diri kita sendiri hingga membawa tanah air tercinta ini di lihat sebagai salah satu aktor pembaharuan dunia.

SAARC : SAFTA (2004-2006) 15122009 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kawasan dan Asia Selatan merupakan kawasan yang terdiri memiliki

dari India, Pakistan,Bangladesh, Sri Afghanistan. Keseluruh

Lanka, Nepal, Maldives, Bhutan, tersebut

Negara-negara

sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun sayangnya tidak dikelola secara baik yang mengakibatkan banyak kasus konflik horizontal yang bersifat ekonomi, politik, sosial, dan budaya di tiap-tiap negara tersebut. Secara umum gambaran dari kawasan Asia Selatan sering diwarnai dengan konflik internal maupun konflik eksternal, dimana sejarah membuktikan seperti pemisahan Pakistan dari India, pecahnya Pakistan Timur menjadi Bangladesh, permusuhan India dengan Pakistan, dan banyaknya militan-militan pendukung terorisme di tiap Bnegara-negara tersebut yang kerap kali mengakibatkan

hilangnya

nyawa

penduduk

sipil

dan

memperburuk

keadaan

ekonomi dari negara-negara tersebut. Berangkat dari konflik-konflik itulah dibutuhakn suatu organisasi regional untuk mewadahi tiap-tiap negara Asia Selatan demi mewujudkan kawasan yang terintegrasi dan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, kesejahteraan rakyatnya, dan perdamaian di tiap-tiap negara. Maka pada tanggal 8 Desember 1985 dibentuklah The

South

Asian

Association

for

Regional

Cooperation (SAARC). Demi untuk mempercepat investasi lintasperbatasan di wilayah itu, yang akan memacu perkembangan ekonomi semua negara anggota, munculah Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan atau South Asian Free Trade Area (SAFTA)[1]. Negara-negara anggota SAARC mengharapkan bahwa dengan terciptanya suatu kawasan perdagangan bebas dapat membantu dan menolong mereka dalam aspek ekonomi terutama dalam era globalisasi seperti ini. Dengan adanya perdagangan bebas diharapkan dapat meningkatkan kegiatan perekonomian di kawasan regional Asia Selatan. Tertarik dengan latar belakang tersebut, maka tim penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan tersebut dan menuangkannya dalam makalah dengan judul SAARC : SAFTA (2004-2006). B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah yang menjadi topik pembahasan dalam penulisan Organisasi dan Administrasi Internasional ini, yaitu :

1. Bagaimana SAARC dalam menciptakan SAFTA di Asia Selatan? C. Pokok Masalah Tujuh negara anggota Asia Selatan pada saat KTT SAARC di Islamabad pada Januari 2004, dengan 1 Januari 2006 ditetapkan sebagai batas waktu untuk pelaksanaannya. Pakta perdagangan bebas yang bertujuan meningkatkan kerjasama perdagangan dan ekonomi antar-negara di Asia Selatan diberlakukan pada awal tahun baru itu, negara-negara anggota Perhimpunan Kerjasama Regional Asia Selatan telah melakukan apa yang dinamakan kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia, tetapi di sebuah kawasan yang masih dalam kemiskinan, pertumbuhan ekonomi minimum dan keterbelakangan. Disini perdagangan bebas di Asia Selatan dianggap sebagai salah satu penolong untuk memajukan kawasan regional ini untuk mencapai kesejahteraan dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Dilain itu juga, pedagangan bebas dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan keterpurukan dari negara-negara anggota SAARC. Maka dari itulah lahir SAFTA yaitu Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan, yang diharapkan dapat mengakomodir harapan-harapan ekonomi dari negara-negara anggotanya. SAFTA juga berperan penting dalam menyatukan perekonomian Asia Selatan sehingga tercipta integrasi ekonomi yang maksimal di kawasan ini.[2] D. Tujuan penulisan Dengan menelaah judul penulisan Organisasi dan Administrasi Internasional di atas, dapatlah diketahui apa yang menjadi maksud dan tujuan penulisan ini.

Maksud dari penulisan ini, yaitu : 1. Untuk mengetahui profil mengenai SAARC; 2. Untuk mengetahui pembentukan SAFTA oleh SAARC; 3. Untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh SAFTA dalam rangka pembentukan perdagangan bebas di Asia Selatan. E. Ruang Lingkup dan Batasan Di dalam mengkaji perdagangan bebas di Asia Selatan yang dimotori oleh SAARC dengan pemberlakuan SAFTA, tim penulis membatasi ruang lingkup pada permasalahan ekonomi saja. Tim penulis membasi batasan pada kurun waktu 2004 sampai tahun 2006. Tim penulis mengawali dari tahun tersebut karena dibuatnya Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan (SAFTA), dan mengakhiri pada tahun 2006 dimana ditetapkan sebagai batas waktu pelaksanaan dari SAFTA. BAB II DESKRIPSI UMUM SAARC THE SOUTH ASIAN ASSOCIATION FOR REGIONAL COOPERATION

ASOSIASI KERJASAMA REGIONAL ASIA SELATAN


A. Sejarah

The South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC)


adalah sebuah organisasi ekonomi dan politik yang terdiri dari 8 negara di kawasan Asia Selatan. Mengenai hal kependudukan,

organisasi ini meruapakan organisasi regional yang terbesar, dengan jumlah pendudukan hampir mencapai 1,5 miliar orang. Organisasi ini didirikan pada tanggal 8 Desember 1985 oleh India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Maladewa, dan Bhutan. Pada bulan April 2007, tepatnya pada saat KTT SAARC yang ke-14, Afghanistan menjadi anggota dari organisasi ini yang ke-8. Pada akhir tahun 1970-an, presiden Bangladesh Ziaur Rahman mengusulkan untuk memciptakan suatu blok perdagangan yang terdiri dari negara-negara di Asia Selatan, dan ide kerjasama regional ini diperbincangkan kembali pada Mei 1980. Para Menteri Luar Negeri dari 7 negara bertemu untuk pertama kalinya di Kolombo, pada bulan Agustus 1981 untuk memperkenalkan 5 area dalam kerjasama regional. Beberapa area kerjasama yang baru akan ditambahkan pada beberapa tahun ke depannya. Tujuan dari SAARC yang sebagaimana tercantum pada piagam adalah :

Untuk memajukan kesejahteraan dari rakyat-rakyat Asia Selatan dan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya; Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan dan menyediakan untuk tiap-tiap individu untuk hidup bermatabat and untuk menyarinya bahwa mereka penuh dengan potensi; Untuk memajukan dan memperkuat kepercayaan diri secara kolektif di antara negara-negara Asia Selatan; Untuk memperbesar rasa saling kepercayaan, pemahaman, dan pengertian dari tiadari setiap masalah;

Untuk memajukan kerjasama yang aktif dan rasa saling menolong dalam perekonomian, sosial, kebudayaan, dan kajian riset dan teknologi; Untuk memperkuat kerjasama dengan negara berkembang lainnya; Untuk memperkuat kerjasama di antara anggota dalam forum internasional mengenai hal yang sedang terjadi; Untuk bekerjasama dengan organisasi internasional dan regional yang memiliki target dan tujuan yang sama. Deklarasi dari SAARC disetujui pada tahun 1983 oleh para Menteri Luar Negeri. Selama pertemuan itu, para Menteri Luar Negeri juga memperkenalkan beberapa program bersama yang dikenal dengan Integrated Programme of Action (IPA), program kerjasama ini meliputi 9 area yang disetujui, yaitu Agrikultur; Pembangunan Daerah Pedalaman; Telekomunikasi; Meteorologi; Kesehatan dan Kependudukan; Transportasi; Pos; Ilmu dan Teknologi; Olahraga; Seni dan Kebudayaan. SAARC didirikan ketika piagam secara resmi disetujui pada tanggal 8 Desember 1985 oleh para Kepala Negara dari Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka. Afghanistan ditambahkan pada kelompok kawasan ini atas

permintaan dari India pada tanggal 13 November 2005, dan menjadi anggota pada tanggal 3 April 2007. Dengan masuknya Afghanistan menjadikan anggota SAARC menjadi 8 negara. Dan pada April 2006, Amerika Serikat dan Korea Selatan secara resmi diterima sebagai peninjau. Uni Eropa juga menunjukan keinginannya untuk memberikan peninjauan dan mengajukannya secara resmi pada pertemuan Kementerian SAARC pada bulan Juli 2006. Para Menteri Luar Negeri negara-negara SAARC setuju untuk memberikan izin

peninjauan terhadap Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Uni Eropa pada tanggal 2 Agustus 2006. Pada tanggal 4 Maret 2007, Iran mengajukan diri sebagai peninjau yang selanjutnya di ikuti oleh Mauritius. B. Sekretariat Sekretariat SAARC didirikan di Kathmandu pada tanggal 16 Januari 1987 dan diresmikan oleh Raja Nepal Birendra Bir Bikram Shah. Diketuai oleh Sekretaris Jenderal yang ditetapkan oleh Dewan Kementerian dari negara-negara anggota yang berdasarkan secara alfabetis dengan masa 3 tahun jabatan. Sekretaris Jendral dibantu oleh Staf Profesional dan Pelayanan Umum, beberapa unit fungsi yang bernama Divisi Penugasan, dan ketua dari utusan negara anggota. Sekretariat menyerasikan dan memantau implementasi dari aktifitas, persiapan dan pelayanan untuk pertemuan, dan menyediakan saluran komunikasi antara SAARC dengan anggotanya dan juga dengan organisasi regional lainnya. Dalam beberapa pertemuan terakhir, para ketua negara dari negaranegara anggota SAARC telah menentukan langkah-langkah yang penting dan insiatif yang kuat untuk memperkuat organisasi ini dan untuk memperlebar serta memperdalam kerjasama regional. Sekretariat SAARC dan negara-negara anggotanya menghormati tanggal 8 Desember sebagai hari Piagam SAARC. Berikut adalah daftar Sekretaris Jenderal di SAARC : 1. Abul Hasan (Bangladesh), 16 Januari 1987 15 Oktober 1989

2. Khan Kisore Bhargava (India), 17 Oktober 1989 31 Desember 1991 3. Ibrahim Hussain Zakri (Maladewa), 1 Januari 1992 31 Desember 1993 4. Yadav Kant Silwal (Nepal), 1 Januari 1994 31 Desember 1995 5. Naeem U. Hassan (Pakistan), 1 Januari 1996 31 Desember 1998 6. Nihal Rodrigo (Sri Lanka), 1 Januari 1999 10 Januari 2002 7. Q. A. M. A. Rahim (Bangladesh), 11 Januari 2002 28 Februari 2005 8. Lyonpo Chenkyab Dorji (Bhutan), 1 Maret 2005 29 Februari 2008 9. Sheel Kant Sharma (India), 1 Maret 2008 Sekarang. C. Kritikan Ketidakmampuan SAARC menjalankan peranannya dalam

mempersatukan Asia Selatan kerap kali disangkutkan dengan persengketaan politik dan militer antara India dan Pakistan. Dan karena alasan persengketaan ekonomi, politik, dan perbatasan di Asia Selatan, negara-negara anggotanya tidak dapat memanfaatkan keuntungan dari integrasi ekonomi di kawasan ini. Selama bertahun-tahun, peranan SAARC di Asia Selatan hanya sekedar wadah untuk pertemuan tahunan anggota-anggotanya. D. Keanggotaan 1. Anggota Tetap

Republik Islam Afghanistan

Republik Rakyat Bangladesh Kerajaan Bhutan Republik India Republik Maladewa Republik Demoktarik Federal Nepal Republik Islam Pakistan Republik Sosialis Demokratis Sri Lanka 1. Anggota Peninjau

Amerika Serikat Australia China Iran Korea Selatan Jepang Mauritius Myanmar Uni Eropa 2. Anggota Kedepannya

Republik Rakyat China telah menunjukan keinginannya untuk bergabung dengan SAARC. Sementara Pakistan dan Bangladesh mendukung keingingan China ini, India enggan untuk membicarakan prospek keanggotaan China, dan juga Bhutan disini

malah tidak memiliki hubungan diplomatik dengan China. Walaupun pada KTT Dhaka 2005, India setuju untuk menjadikan China sebagai anggota peninjau dengan Jepang. Pada KTT ke-14, Nepal bersama dengan Pakistan mengumumkan dukungannya terhadap keanggotaan China. China menunjukan keinginannya untuk lebih terlibat di SAARC, walaupun terlalu awal untuk mendaftarkan sebagai anggota tetap.

Indonesia berniat untuk menjadi peninjau dan didukung oleh Sri Lanka. Republik Islam Iran, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan 2 anggota negara SAARC, yang secara kebudayaan, ekonomi, dan politik berhubungan dengan Afghanistan, Pakistan, India, dan Bangladesh ini menunjukan keinginannya untuk menjadi anggota dari organisasi ini. Pada tanggal 22 februari 2005, Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazzi, menunjukan keinginan Iran untuk bergabung dengan SAARC dengan berkata bahwa negaranya mampu melengkapi kawasan ini dengan Hubungan Timur dan Barat. Pada tanggal 3 Maret 2007, Iran mengajukan diri sebagai peninjau. Federasi Rusia berniat untuk menjadi peninjau yang didukung oleh India. Myanmar telah menunjukan keinginannya untuk menjadi anggota tetap SAARC. Jika ini terkabulkan, maka Myanmar akan menjadi anggota ke-9 dalam organisasi ini. Belakangan ini, India mendukung Myanmar atas usulannya.

Republik Afrika Selatan telah berpartisipasi dalam beberapa pertemuan.[3] BAB III

PEMBAHASAN SAFTA SOUTH ASIAN FREE TRADE AREA

KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASIA SELATAN


A. Pengertian Teoritis Pengertian kawasan perdagangan bebas dalam dunia perdagangan internasional menurut Blacks Law Dicitionary, pengertian Free Trade Area atau kawasan perdagangan bebas adalah sebagai berikut :

A duty-free area within a country to promote commerce, esp. transshipment and processing, without entering into the countrys market.
(sebuah area/kawasan didalam suatu negara yang diperuntukan bagi memajukan perdagangan, terutama dalam hal pengangkutan dan pemprosesannya, tanpa harus masuk ke dalam pasar dari suatu negara) Dalam Kyoto Convention 1999, Specific Annex I, Annex Concerning Free Zones, Chapter 2 merumuskan Free Zones sebagai berikut : 1. Definisi Zona bebas adalah wilayah suatu negara yang berada diluar daerah pabean, sepanjang menyangkut pengenaan bea cukai dan pajak impor. 2. Jenis

Kawasan bebas dapat terdiri dari satu atau dua jenis sebagai berikut : 1. Kawasan komersial untuk kegiatan perdagangan yang

kegiatannya terbatas hanya untuk pengiriman barang. 2. Kawasan industri untuk kegiatan industri yang memungkinkan kegiatan pemprosesan. 3. Kegiatan setaip pihak yang berhak menggunakan gudang pabean, dapat melakukan kegiatan : 1. Pemeriksaan barang; pengambilan contoh, pemeliharaan barang dan rangkaian kegiatan yang wajar dalam melakukan persiapan pengiriman barang. 2. Jika pihak yang yang berwenang barang atau mengizinkan kebutuhannya pada dilakukannya memperoleh yang pengolahan maka harus disebutkan jenis pemprosesan atau manufaktur seluruh pembebasan pungutan bea cukai dan pajak yang berlaku di kawasan, hanya prusahaan memperoleh izin melakukan kegiatan tersebut.[4] B. Sejarah South Asian Free Trade Area (SAFTA) adalah suatu langkah transisi yang kemudian diarahklan pada pasar bersama dan integrasi ekonomi. Pada tahun 1995, sidang ke-16 Dewan Kementerian setuju untuk berjuang merealisasi SAFTA, dan dirancang pada tahun 1996 sebagai langkah yang penting untuk kemajuan dari kawasan perdagangan bebas oleh grup ahli antar pemerintahan dari negaranegara anggota atau Inter-Governmental Expert Group (IGEG). Pada KTT ke-10 di Kolombo pada tanggal 29-31 Juli 1998, memutuskan untuk membangun komite yang terdiri dari beberapa staf ahli yang

disebut dengan Committee of Experts (COE) yang bertugas untuk membuat draf yang meliputi berbagai aspek untuk menciptakan kawasan perdagangan bebas diantara negara-negara anggota, juga sebagai pertimbangan asimetri dalam pembangunan regional dan menghasilkan pemikiran untuk pengurusan yang realistis dalam rangka mencapai tujuan.[5] Sebenarnya Para menlu negara SAARC telah menetapkan perjanjian untuk membentuk Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan pada akhir 2001, kata Menlu Nepal Madhuraman Acharya. Kawasan perdagangan bebas itu semula akan mulai diterapkan pada tahun 2000, tetapi kemudian ditunda pada akhir 2001.[6] Draf perjanjian SAFTA yang dirancang oleh COE ditandatangani pada tanggal 6 Januari 2004 sewaktu KTT SAARC ke-14 di Islamabad. Perjanjian ini akan dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2006. Sementara itu, catatan produk yang sensitif, aturan-aturan perihal asal, dan bantuan teknis dan mekanisme kompensasi untuk kerugian bagi negara-negara anggota yang kurang berkembang masih dalam proses negosiasi.[7] Dibawah program pembebasan perdagangan yang dijadwalkan selesai pada 10 tahun ke depan tepatnya pada tahun 2016, bea masuk produk dari negara-negara dikawasan tersebut akan dikurangi secara bertahap. Akan tetapi, sebelum perjanjian ini masuk ke batas akhirnya negara-negara yang kurang berkembang, India, Pakistan, dan Sri Langka akan mengurasi bea masuk sebesar 0-5% pada 1 Januari 2009 dari produk yang akan masuk ke negaranegara anggota. negara-negara dari yang kurang akan berkembang perbedaan mengharapkan keuntungan tambahan

perjanjian yang sesuai dengan butir di perjanjian SAFTA.[8]

SAFTA mengharuskan negara berkembang di Asia Selatan yaitu India, Pakistan dan Sri Lanka untuk menurunkan bea masuk menjadi 20 persen dalam waktu dua tahun sampai dengan 2007. Dalam dalam waktu lima tahun 20 persen bea masuk akan diturunkan menjadi kosong (bebas) yang akan di lakukan secara bertahap setiap tahunnya akan sampai diberi tahun 2012. selama Pada tiga negara-negara tahun untuk terbelakang di Asia Selatan yaitu Nepal, Bhutan, Bangladesh dan Maladewa tambahan membebaskan bea masuk dan akan mengurangi kewajiban bea mereka hingga 30% pada akhir 2007 dan hingga 0-5% pada akhir tahun 2015[9]. Pakistan telah menandatanganinya akan tetapi belum mulai melaksanakanya. Dan ada harapan India akan memulainya sekitar tahun 2008.[10] Setelah berakhirnya tahun 2007, India, Pakistan, Sri Lanka atau negara yang lebih maju di antara negara-negara anggota SAARC akan menurunkan tarifnya dari 30% menjadi 0% dalam lima tahun sedangkan negara-negara yang lebih miskin akan melakukan hal yang sama dalam waktu delapan tahun. Perdana Menteri India Manmohan Singh menyatakan, implementasi SAFTA akan menaikkan tingkat perdagangan intra-regional dari 6 miliar menjadi US$14 miliar per tahunnya. [11] C. Program Liberalisasi Pasar Didalam Perjanjian SAFTA Article 7 disebutkan beberapa program dasar liberalisasi pasar, yaitu : 1. Negara-negara anggota yang menyetujui jadwal penurunan tarif berikut ini :

a. Penurunan tarif bagi negara yang tidak termasuk kelompok negara tidak berkembang dari tingkat tarif semula sampai 20% dalam jangka waktu 2 tahun, dari tanggal berlakunya persetujuan. Negara-negara anggota di dorong untuk mengambil pengurangan dalam pembayaran tahunan yang sama. Bilamana tingkat tarif sesudah resmi diberlakukan secara aktual dibawah 20%, akan ada penurunan tahunan pada basis margin preferensi 10% pada tingkat tarif aktual setiap 2 tahun. b.Penurunan tarif oleh negara-negara anggota kurang berkembang dari tarif yang berlaku sekarang akan menjadi 30% dalam jangka waktu 2 tahun sejak perjanjian berlaku efektif. Bilamana tarif aktual sewaktu perjanjian berlaku efektif berada dibawah 30% akan ada penurunan tahunan pada basis prefensi sebesar 5% atas tingkatan tarif aktual setiap 2 tahun. c. Penurunan tarif berikutnya oleh negara-negara yang tidak termasuk kelompok negara tidak berkembang dari 20% atau dibawah 0-5% akan diberlakukan dalam jangka waktu 5 tahun, dimulai dari tahun ketiga berlakunya peraturan perjanjian. Namun, penurunan tarif berikutnya oleh Sri Lanka akan menjadi 6 tahun. Negara-negara anggota didorong untuk mengambil penurunan tahunan yang seimbang, tapi tidak kurang dari 15% pertahunnya. 1. Penurunan tarif berikutnya oleh negara-negara kurang

berkembang dari 30% atau dibawah 0-5% akan diberlakukan kedua kalinya dalam waktu 8 tahun sejak tanggal peraturan diberlakukan. 2. Jadwal penurunan tarif diatas tidak akan menghalangi negara anggota untuk segera menurunkan tarif mereka ke 0-5% atau percepatan penurunan tarif.

3. a.Negara-negara anggota tidak akan memberlakukan liberalisasi program perdagangan pada paragraf 1 diatas, kepada tatanan tarif yang dimasukan dalam daftar sensitif yang akan dirundingkan oleh negara-negara anggota (negara berkembang dan yang tidak berkembang) dan disatukan dalam persetujuan ini sebagai bagian integral dalam persetujuan ini sebagai bagian integral. Jumlah produk dalam daftar sensitif akan menjadi batasan maksimum untuk secara bersama-sama disetujui oleh negara-negara anggota dengan flexibilitas kepada negara-negara kurang berkembang guna mencari pengambilan nilai sehubungan kepentingan produk ekspor mereka. b.Daftar sensitif akan ditinjau ulang setiap empat tahun atau lebih dini yang mungkin diputuskan oleh Dewan Kementerian, seperti tertera dibawah artikel 10 dengan tujuan mengurangi daftar barang-barang pada daftar sensitif. 1. Negara-negara anggota akan memberitahukan Sekretariat SAARC semua tindakan non-tarif dan para-tarif perdagangan mereka pada basis tahunan. Tindakan yang diumumkan akan ditinjau ulang oleh komite para ahli, seperti tertera dibawah artikel 10, pada rapat-rapat reguler mereka untuk mengkaji relevansinya dengan syarat-syarat WTO. Komite ahli akan merekomendasikan penghapusan atau mengimplementasikan tindakan yang tidak secara memaksa agar memfasilitasi perdagangan antar SAARC. 2. Semua anggota akan menghapus semua batasan jumlah, kecuali diperbolehkan oleh GATT 1994, sehubungan produk-produk yang dimasukan dalam program liberalisasi perdagangan. 3. Dalam hal ketetapan yang tertuang didalam paragraf 1 dalam artikel ini. Negara-negara yang kurang berkembang akan

mengurangi tarif mereka 0-5% untuk produk-produk mereka dalam jangka waktu 3 tahun sejak tanggal berlakunya persetujuan.[12] D. Instrumen Perjanjian SAFTA akan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan sesuai dengan instumen dibawah ini : 1. Program Liberalisasi Perdagangan 2. Peraturan Masing-Masing Negara 3. Perjanjian Institusi 4. Konsultasi dan Prosedur Penyelesaian Perselisihan 5. Undang-Undang Usaha Perlindungan 6. Instrumen lainnya yang dikemudian hari akan dikaji.[13] E. Komponen[14] 1. Tarif[15] 2. Para-Tarif[16] 3. Undang-Undang Non-Tarif 4. Undang-Undang Perdagangan Langsung BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Dengan komitmen untuk memperkuat kerjasama dibidang

perekonomian intra SAARC dan untuk kemaksimalkan potensi

regional untuk perdagangan dan pembangunan yang sangat berguna bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan negaranegara anggota, maka menurut tim penulis kawasan perdagangan bebas di Asia Selatan sangat bermanfaat dan sangat mendukung kegiatan perekonomian dinegara kawasan tersebut. Terlebih lagi India yang saat ini mengalami ledakan ekonomi yang sangat besar sangat menunjang negara-negara di Asia Selatan lainnya untuk melakukan gebrakan yang sama didalam bidang perekonomian internasional yang bisa diakomodir oleh suatu badan yang menangani perdagangan bebas di kawasan Asia Selatan. Dengan itulah SAFTA lahir yang berfungsi sebagai fasilitator untuk memajukan kawasan regional Asia Selatan dan juga mempercepat laju tingkat pertumbuhan ekonomi dari negara-negara anggota, selain itu juga SAFTA dapat mengundang para investor asing yang ingin menanamkan modalnya di negara-negara anggota SAARC. Hal ini terbukti dengan meningkatnya iklim investasi asing di India. Akhir kata bahwa Perjanjian SAFTA dirancang untuk mendorong kerja sama ekonomi dan perdagangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan itu. DAFTAR PUSTAKA Kuroda, Haruhiko. Kebangkitan Regionalisme Asia. Metro Manila : ADB, 2008. Samuelson, Paul A. Dan William D. Nordhaus. Makro-Ekonomi. Jakarta : Penerbit Erlangga, 1994. Website :

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=2008073023162 8AA1C2oM http://en.wikipedia.org/wiki/South_Asian_Association_for_Regional _Cooperation http://one.indoskripsi.com/node/6085 http://www.encyclo.co.uk/define/Para-tariff http://www.kapanlagi.com/h/0000090062.html http://www.kapanlagi.com/h/0000093143.html http://www.kapanlagi.com/h/0000096821.html http://www.saarcsec.org/data/agenda/economic/safta/SAFTA%20AGREEMENT.pdf http://www.saarc-sec.org/?t=2.1.6 http://www.sinarharapan.co.id/berita/0201/02/lua01.html