Anda di halaman 1dari 6

Perbuatan melanggar hukum yang dijadikan dasar menuntut ganti rugi pada umumnya disebutkan dalam pasal 1365

Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), yang merupakan duplikasi pasal 1401 BW Belanda. Untuk memahami konsepsi "perbuatan melanggar hukum" itu hakim di Indonesia mengikuti paham yang dianut di negeri Belanda, dimana sejak tahun 1919 hingga kini berpegang pada putusan Hoge Raad 31 Januari 1919 yang dikenal dengan arrest drukker. Menurut arrest tersebut, perbuatan melanggar hukum tidak lagi ditafsirkan secara sempit sebagai perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang saja, tetapi juga perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat sendiri, atau bertentangan dengan kesusilaan atau kepatutan dalam masyarakat, baik terhadap diri maupun barang orang lain.

KHUSUS mengenai "perbuatan melanggar hukum oleh penguasa", dunia peradilan di Belanda sempat menganut ajaran yang membedakan antara perbuatan penguasa di bidang hukum publik dan hukum privat. Sehingga aksi ganti rugi karena kelalaian penguasa dalam melaksanakan tugasnya di bidang hukum publik dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard). Tetapi sejak putusan Hoge Raad 21 November 1924 yang masyhur dengan sebutan Ostermann arrest, ajaran yang memilah perbuatan penguasa tidak dipakai lagi. Hoge Raad di Belanda menganut asas pertanggungan jawab negara, tanpa membedakan perbuatan melanggar hukum privat atau hukum publik. Sama seperti warga biasa yang melanggar hukum pidana. Atas dasar itulah Hoge Raad membenarkan tuntutan ganti rugi Ostermann (seorang pedagang) yang gagal mengekspor barang dagangannya karena izin untuk itu tidak diberikan oleh pejabat bea dan cukai di Amsterdam. Padahal, izin ekspor tersebut tidak diberikan bukan berdasarkan undang-undang, tetapi sebaliknya bertentangan dengan undang-undang. Jadi penguasa dalam kasus ini disalahkan karena tidak melaksanakan kewajiban hukum (publik)-nya sendiri.

UU No. 5 Tahun 1986 yang menjadi dasar penyelesaian sengketa TUN baru diundangkan tahun 1986? 1. Apakah sebelumnya ada sengketa di lingkungan TUN? Kalau ada dimana sengketa itu diselesaikan? Berarti ada kemungkinan penyelesaian sengketa di luar pengadilan TUN, kenapa di mungkinkan ada peradilan di luar Peradilan Administrasi Negara. Awalnya ada arrest hoge raad 1919 kemudian arrest hogeraad 1924. tentang perbuatan melawan hukum. Di mana ada perluasan mengenai pengertian perbuatan melawan hukum yang pada arrest hogeraad 1919 perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melawan undang undang sedangkan perbuatan melawan hukum pada arrest hogeraad 1924 mengalami perluasan yaitu tidak hanya melawan uu tapi juga melanggar hak subjek orang lain, melanggar kesusilaan, ketertiban, dan lain lain.

Bagaimana perbuatan melawan hukum bisa di dasarkan pada Arrest hogeraad 1924?kesimpulannya apa? Arrest Hogeraad 1924 (sebagai perbuatan melawan hukum oleh penguasa) karena melanggar hak orang lain baik itu dalam lingkup hukum perdata maupun publik, jadi tidak semata mata melanggar hukum perdata tapi juga hukum publik di mana ada kewajiban dari si pelaku, kwajiban hukum mengacu kepada pihak. Di dalam hukum perdata : kewajiban hukumnya orang perorangan kalau publik penguasa (lihat kasusnya) yaitu ostorman arrest. Contohnya apa kewajiban hukum itu? yaitu misalnya penguasa melakukan harus mengganti kerugian terhadap tindakannya telah merugikan masyarakat. Atau misalnya adanya kewajiban hukum lain yang wajib dilakukan namun banyak yang enggan dan menghindarinya yaitu jadi saksi, kalau melapor dapat menjadi saksi lebih baik tidak melapor terhadap suatu tindak pidana. Nilai nilai yang tumbuh dalam masyarakat Pada saat bicara nilai nilai sulit untuk diidentifikasi. PMH itu melanggar ketentuan yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Adanya norma norma atau kaidah kaidah agama, kesusilaan, kesopanan dll. Arrest hoge raad 1924 : Perlu dilakukan upaya hukum perlu dikonkritkan yang dapat dirumuskan sebagai PMH oleh penguasa. Jadi baru ada UU pada tahun 1986 karena pada waktu itu belum ada kategori kategori untuk merumuskan PMH oleh penguasa selain konten penetapan PMH oleh penguasa, ada hal lain yang berkaitan dengan kompetensi. peradilan umum terdiri dari penyelesaian sengketa pidana dan perdata, ada pengadilan militer pada masa Romawi. Maka kompetensi PTUN harus jelas dan berbeda. Penilaian kompetensi itu terikat dengan kompetensinya terkait dengan Arrest 1924. Belum menemukan kasus yang dari Arrest hogeraad itu dapat menjadi kompetensi PTUN

Terkait dengan kompetensi ada 2 (dua) pendapat: 1. Thorbecke subjectum litis, orang perorangan atau badan hukum. Dan kepentingan itu harus merugikan orang perorangan atau badan hukum itu. Sehingga mereka dapat menuntut berdasarkan hak atau kepentingannya yang terganggu Contohnya: seorang pemilik tanah yang membangun rumahnya dengan sah apabila keluarnya kebijakan yang merugikan pihak tersebut berkaitan dengan tanahnya. Masuknya ke PTUN. 2. Buys

objectum litis, objek sengketa milik tanah perorangan atu badan hukum. Sehingga sengketanya dimasukan ke peradilan tata usaha negara yang berkaitan dengan tanah yang tunduk pada ketentuan ketentuan privat oleh karenanya pada hakikatnya kemudian pandangan atau pendapat itu lebih mendekati pada prof. Buys maka Belanda sendiri tidak melahirkan peradilan administrasi sendiri, di Indonesia pada tahun 1970 juga sama diselesaikannya oleh hukum perdata yang dipersoalkannya adalah hak hak itu sendiri. Dengan pendekatan yang terbalik lahirnya administrasi negara apabila hak hak privat ini menjadi tidak berdiri sendiri atau dengan kata lain hak hak privat sudah tidak lagi menjadi hak hak penuh sudah terkontaminasi dengan peradilan administrasi negara itu sendiri makin mengecilnya hak hak secara utuh dan penuh maka sengketa peradilan administrasi negara penuh pendekatannya tidak lagi privat tapi publik. Hal ini lah yang teridentifikasi sebelum lahirnya UU No. 5 Tahun 1986. Pada saat kepentingan publik makin menonjol peran dari hak hak menipis maka diperlukan peradilan administrasi negara. Hak milik itu tidak lagi menjadi hak terkuat, terpenuh, dan tertinggi karena adanya hak sosial, jadi sudah dikontaminasi oleh kepentingan publik. Kalau hak hak privat itu sudha berkurang maka kita harus berbicara mengenai perlindungan hak hak privat itu sendiri.

Kasus ARREST DRUKKER ( kasus percetakan )

Pada suatu ketika di kota Amsterdam terdapat 2 perusahaan percetakan buku yaitu milik COHEN dan milik LINDENBAUM. Kedua perusahaan percetakan tersebut bersaing keras satu sama lain. Pada suatu hari pegawai LINDENBAUM dibujuk oleh COHEN dengan bermacam macam hadiah agar memberitahukan rahasia perusahaan LINDENBAUM dan ternyata siasat COHEN berhasil sehingga rahasia perusahaan LINDENBAUM terbuka dan diketahui oleh perusahaan COHEN sehingga perusahan tersebut menjadi maju pesat sedangkan perusahaan LINDENBAUM mengalami kemunduran dan kerugian. Oleh karena itu setelah LINDENBAUM mengetahui rahasia perusahaannya dicuri oleh COHEN, LINDENBAUM menggugat COHEN ke pengadilan atas perbuatan melawan hukum COHEN. Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung berpendapat bahwa yang dimaksud perbuatan melawan hukum tidak hanya perbuatan melanggar undang undang saja akan tetapi juga termasuk perbuatan yangbertentangan dengan hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat sendiri. Jadi COHEN dianggap melanggar kewajiban hukum ( dalam berusaha harus bersaing sehat tidak boleh saling merugikan ). Mahkamah Agung juga berpendapat bahwa perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melanggar ketertiban umum dan kesusilaan umum dalam masyarakat. Putusan Mahkamah Agung ini diputuskan pada tanggal 31 Januari 1919 dan digunakan oleh pengadilan Indonesia ( perbuatan melawan hukum dalam arti luas ).

Kasus Mark Arrest: Sebelum Perang Dunia I, seorang warganegara Jerman memberi sejumlah pinjaman uang kepada seorang warganegara Belanda pada tahun 1924. dari jumlah tersebut masih ada sisa pinjaman tetapi karena sebagai akibat peperangan nilai Mark sangat menurun, maka dengan jumlah sisa tersebut hampir tidak cukup untuk membeli prangko sehingga dapat dimengerti kreditur meminta pembayaran jumlah yang lebih tinggi atas dasar devaluasi tersebut. Namun, Pasal 1757 KUHPer menyatakan Jika saat pelunasan terjadi suatu kenakan atau kemunduran harga atau ada perubahan mengenai berlakunya mata uang maka pengembalian jumlah yang dipinjam harus dilakukan dalam mata uang yang berlaku pada saat itu. Hoge Raad menimbang bahwa tidak nyata para pihak pada waktu mengadakan perjanjian bermaksud untuk mengesampingkan ketentuan yang bersifat menambah dan memutuskan bahwa orang Belanda cukup mengembalikan jumlah uang yang sangat kecil itu. Menurut Hakim pada badan peradilan tertinggi ini, tidak berwenang atas dasar itikad baik atau kepatutan mengambil tindakan terhadap undang-undang yang bersifat menambah.Putusan Mark Arrest ini sama dengan Sarong Arrest bahwa hakim terikat pada asa itikad baik, artinya hakim dalam memutus perkara didasarkan pada saat terjadinya jual beli atau saat penjam-meminjam uang. Apabila orang Belanda meminjam uang sebanyak 1000 gulden, maka orang Belanda tersebut harus mengembalikan sebanyak jumlah uang diatas, walaupun dari pihak peminjam berpendapat bahwa telah terjadi devaluasi uang.Berbeda dengan kondisi di Indonesia pada tahun 1997 dimana kondisi negara pada saat itu mengalami krisis moneter dan ekonomi. Pihak perbankan telah mengadakan perubahan suku bunga bank secara sepihak tanpa diberitahu kepada nasabah. Pada saat perjanjian kredit dibuat, disepakati suku bunga bank sebesar 16 % per tahun, akan tetapi setelah terjadi krisis moneter, suku bunga bank naik menjadi 21-24 % per tahun. Hal ini menandakan bahwa pihak nasabah berada pada pihak yang dirugikan karena kedudukan nasabah berada pada posisi yang lemah (low bargaining posistion). Oleh

karena itu, pada masa-masa yang akan datang pihak kreditur harus melaksanakan isi kontrak sesuai dengan yang telah disepakatinya, yang dilandasi pada asas itikad baik.