Anda di halaman 1dari 4

1. PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Nelayan terposisikan sebagai kelompok masyarakat yang miskin dan dimiskinkan secara fisik dan non-fisik karena ketidakberdayaan mereka menegakkan haknya atas fungsi lingkungan. Kaum nelayan miskin karena kualitas lingkungan hidupnya secara fisik dan sosial makin rusak. Hamparan hutan manggrove yang mendukung segala aspek kehidupan nelayan di wilayah pinggiran laut rusak dan tidak mampu lagi berfungsi lagi sebagai tempat berpijah dan pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan biota perairan pantai lainnya. Walaupun manggrove diketahui memiliki manfaat yang banyak bagi kehidupan nelayan, namun nelayan tidak berdaya untuk mempertahankan keberadaan hutan manggrove. Menutur BPDAS Wilayah II, pada tahun 2006 di daerah asahan, Deli Serdang, manggrove yang 113.203 Ha diantaranya dinyatakan rusak, dan diklarifikasi sebagai hutan manggrove yang masih baik hanya 26.662 Ha. Data ini menunjukkan bahwa tingkat perhatian dan kesadaran akan pentingnya hamparan lahan manggrove di pinggir pantai sangat rendah. Rendahnya komitmen menjaga keberadaan manggrove sama halnya dengan membiarkan nelayan terseret nasib buruk ketingkat kemiskinan yang makin dalam. Kondisi yang sama dialami oleh hutan manggrove yang ada di pesisir pantai pulau seluruh indonesia. Laut tidak lagi jadi sahabat bagi nelayan. Laut sekarang bahkan sebagai tantangan, dan nelayan memiliki peluang kalah yang jauh lebih besar. Kenyataan pahit yang harus diterima adalah bahwa walau nelayan tetap diakui sebagai pemilik laut, tapi ikan telah jadi milik orang lain. Di laut nelayan menghadapi masalah oleh peristiwa alam, hambatan teknologi, ketiadaan modal dan juga sistem birokrasi. Di laut lepas, nelayan tidak mampu bersaing dengan nelayan asing dan juga nelayan bermodal besar yang memiliki kapal dengan penjejak kumpulan ikan (fish finder), navigasi dan alat tangkap yang efefktif. Pukat harimau, pukat tarik, tangkul tarik, jaring tarik, dan berbagai jenis alat tangkap lainnya baik yang namanya saling berbeda dengan nama sama telah menguras kekayaan laut dan bahkan merusak hingga kedasar laut tanpa mampu dicegah oleh pemerintah. Pemilik modal besar dapat menagkap ikan dari tengah laut hingga pinggiran pantai, dari lapisan atas hingga dasar laut dan dengan menggunakan alat tangkap jenis apapun tanpa ada batasan. Bahkan rumpon, tuasan dan terumbu buatan yang di buat nelayan unyuk mengumpul ikan di perairan dangkal juga disapu oleh rantai pukat harimau yang beroperasi sampai ke pinggir. Satu-satunya harapan untuk menyelamatkan kehidupan nelayan hanyalah pada kebijakan pemerintah dengan mengatur areal dan waktu tangkap. Kebijakan penting yang harus dilakukan pemerintah sesuai undang-undang adalah menetapkan jalur hijau 300 meter sepanjang pantai dan memulihkan kualitas dan fungsi hutan manggrovenya. Pemerintah harus dapat mendorong pengelolaan hutan manggrove yang memaksimalkan manfaat produk non kayunya.area hutan manggrove harus dapat menjadi sandaran kehidupan nelayan bila tidak melaut. Sebagai kelompok masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka sepenuhnya dari hasil laut, maka upaya mengentaskan kemiskinan nelayan hanya dapat dilakukan dengan melindungi kawasan tangkapan. Pemerintah daerah harus berani menetapkan jalur tangkap untuk nelayan kecil sampai empat mil ke tengah laut sesuai kewenangannya. Pemanfaatan areal tangkap ini harus diawasi hanya untuk tangkapan kapal tanpa

motor atau hanya dengan alat tangkap pancing. Inilah saatnya pemerintah menunjukkan kewenangannya dalam mengawasi, mengendalikan, menegakkan hukum serta meningkatkan peran kelembagaan yang terkait dengan pemenuhan hak asasi masyarakat atas lingkungan yang baik dan sehat, dan atas hak untuk bekerja dengan pendapatan yang layak 1.2. Dasar Hukum a) UU 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup b) PP 19 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut peraturan pemerintah RI Nomor : 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antar pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintah kabupaten/ kota. 1.3. Tujuan a) Pemberdayaan dan penyerapan partisipasi masyarakat pesisir pantai untuk meningkatkan kualitas lingkungan pesisir pantai dan laut dangkal. b) Peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat nelayan pesisir pantai. c) Pilot priyek pengelolaan laut larangan yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya kelautan. d) Meningkatkan sumber pendapatan dan penghasilan nelayan. e) Memulihkan daya dukung pesisir pantai dan laut dalam wilayah kewenangan pemerintah Kota/ Kabupaten. 1.4. Hasil yang diharapkan a) Adanya kawasan pesisir pantai dan laut dangkal yang ditetapkan sebagai laut larangan perpengelola untuk pemulihan kualitas lingkungan laut dan daya dukungna terhadap kehidupan nelayan. b) Meningkatnya kualitas biota laut yang dapat dijadikan sasaran tangkap nelayan untuk meningkatkan sumber pendapatan dan nilai pencarian nelayan. c) Adanya pilot proyek yang bisa ditularkan pada daerah lain baik pada wilayah pesisir pantai dan laut dangkal lainnya di Indonesia. 1.5. Ruang Lingkup Kegiatan a) Membangun sistem dan sosialisasi pada pemerintah Kabupaten/ kota sebagai wilayah pilot proyek. b) Merancang detil desaign kegiatan menyangkut administrasi dan teknis pemulihan kualitas laut larangan. c) Menyiapkan infrastruktur pendukung keberhasilan. Seperti penyediaan rumpon berpengelola dan penetapan wilayah laut larangan dalam kewenangan pemerintah daerah kabupaten/ kota. d) Penyediaan rumpon yang mampu mengantisipasi pengrusakan oleh jaring pukat harimau. e) Penyediaan fasilitas dan pengaturan kerja nelayan dalam kelompok pengelola laut larangan untuk menghindari pencurian ikan baik melalui tangkapan jaring maupun dengan sistem pencurian menggunakan lampu. f) Membangun kelompok nelayan calon peserta pengelola laut larangan. g) Sosialisasi kepada kelompok nelayan calon peserta pengelola laut larangan.

h) Pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir pantai untuk meningkatkan kualitas lingkungan biota perairan pantai dan laut dangkal melalui kegiatan laut larangan. 1.6. Penerima Manfaat Penerima manfaat kegiatan ini adalah KLH, provinsi sumatera Utara dan Kabupaten Serdang Bedagai.

II. Metodologi Pengelolaan laut larangan dengan kelengkapan rumpon yang mampu mengantisipasi sapuan rantai pukat harimau seharusnya dibangun di setiap daerah kampung nelayan. Dengan menetapkan kawasan laut larangan serta memberdayakan masyarakat nelayan selaku pengellanya, maka program ini diharapkan dapat memulihkan kualitas lingkungan dan daya dukung laut dangkal dan pesisir pantai. Makin luas penetapan kawasan laut larangan, maka maikin tinggi perlindungan terhadap kehidupan dan harapan berusaha nelayan.

III. Lokasi Kegiatan Beberapa wilayah di Kabuapaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

IV. Tenaga Ahli Yang Dibutuhkan Untuk memenuhi kebutuhan dalam kajian Dalam Implementasi Kearifan Lokal (Laut Larangan) Dalam Pengelolaan Lingkungan Pesisir dan Laut Secara Terpadu di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara, maka tenaga ahli yang dibutuhkan dengan kriteria sebagai berikut: 1. Satu orang Ahli Pengelolaan SDA Pesisir dan Laut dengan latar belakang pendidikan S2 dan berpengalaman 5 tahun. 2. Satu orang Ahli Sosial Ekonomi dan Budaya dengan latar belakang pendidikan minimal S2 dengan pengalaman 5 tahun. 3. Satu orang Ahli Biologi Kelautan dengan latara belakang pendidikan minimal S1 dengan pengalaman 5 tahun. 4. Satu orang Tenaga Pendukung/Staf Administrasi

V. Waktu Pelaksanaan Kegiatan penyusunan Kajian dalam implementasi kearifan lokal (Laut Larangan) dalam Pengelolaan Lingkungan Pesisir dan Laut Secara Terpadu di Kab. Serdang Bedagai Provinsi Sumut dilaksanakan dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan dengan rincian sebagai berikut: