Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL KERJA PRAKTEK PENINJAUAN LAPANGAN MIGAS BERDASARKAN ASPEK RESERVOIR DAN PEMBORAN PERTAMINA EP FIELD BUNYU

Disusun Oleh : ARNANDA 113100009

JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONALVETERAN YOGYAKARTA 2014

PENINJAUAN LAPANGAN MIGAS BERDASARKAN ASPEK RESERVOIR DAN PEMBORAN PERTAMINA EP FIELD BUNYU

II. LATAR BELAKANG Dunia pendidikan dan industri mempunyai kaitan erat, dimana dunia pendidikan mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia ( SDM ) untuk siap dan terampil dalam berkecimpung di berbagai sektor pembangunan. Industri sebagai salah satu sektor pembangunan mempunyai peran yang sangat penting dalam ikut menopang pembangunan nasional.. Melalui Kerja Praktek, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengerti tentang pelaksanaan kerja secara teoritis, namun juga dapat mengerti aplikasinya di lapangan. Kerja Praktek (KP) ini merupakan sebagian visualisasi dari mata kuliah yang telah ditempuh seperti teknik pemboran, teknik produksi dan teknik reservoir. Perkembangan ilmu dan teknologi dalam dunia Teknik Perminyakan yang semakin canggih, menuntut mahasiswa Teknik Perminyakan untuk memahami aplikasi dari teori-teori yang telah dipelajari dan mengetahui perkembangan teknologi perminyakan tersebut, khususnya yaitu: Aspek Reservoir (basement rock, cap rock, batuan induk dan struktur stratigrafi), Aspek Pemboran (aspek-aspek lithology yang perlu di pertimbangkan, Perencanaan pemboran, dan Penggunaaan teknologi pemboran yang sangat canggih dalam peningkatan hasil eksploitasi) dan Aspek Produksi (Perhitungan produksi yang semaksimal mungkin dengan biaya yang seminimal mungkin), serta dalam rangka peningkatan wawasan keilmuan perminyakan yang menunjang bagi mahasiswa Berdasarkan permasalahan di atas, maka diharapkan apa yang didapatkan dari kuliah di kampus mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan topik kerja praktek ini baik metode maupun peralatan yang digunakan dapat diterapkan/

dipraktekan di lapangan. Dari uraian di atas kami bermaksud mengadakan kerja praktek di Pertamina EP Field Bunyu

III. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan : 1. Untuk memenuhi persyaratan akademis yang telah ditetapkan Jurusan Teknik Perminyakan , Fakultas Teknologi Mineral. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 2. Mengetahui secara langsung bentuk, fungsi maupun cara kerja dari peralatan yang digunakan. 3. Menambah pengalaman praktek di lapangan, dan mampu

mengaplikasikan semua teori kuliah dengan di lapangan yang sebenarnya, sehingga pada nantinya dapat digunakan sebagai bekal di kemudian hari. Manfaat : Dapat mengaplikasikan teori dan konsep-konsep dalam perkuliahan Teknik Reservoir, Teknik Pemboran, Teknik Produksi, Teknik dan seluruh praktikum yang telah diberikan dengan kondisi lapangan dan dapat mengetahui secara langsung tentang pelaksanaan operasi dan kegiatan dalam industri perminyakan serta untuk menambah wawasan.

IV. TINJAUAN PUSTAKA 4.1. ASPEK RESERVOIR 4.1.1. Tinjauan Reservoir Reservoir minyak bumi adalah suatu batuan yang berpori dan mengandung hidrokarbon yang tetap pada tempat tersebut. Beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk terbentuknya suatu akumulasi minyak adalah : 1. Batuan Induk : Batuan yang kaya akan bahan organik. Setelah mengalami proses pematangan maka bahan organik ini menjadi fluida hidrokarbon. 2. Batuan Wadak : Batuan yang mampu menampung fluida di pori-pori batuan tersebut, atau disebut dengan batuan reservoir.

Karakteristik batuan reservoir, batuan reservoir sebagian besar adalah batuan sediment meski tidak jarang dalam kondisi tertentu batuan beku maupun batuan metamorf dapat pula menjadi batuan reservoir hidrokarbon. Batuan sedimen yang umum dijumpai dilapangan sebagai batuan reservoir adalah : batupasir, batuan karbonat dan batuan shale. Sifat Fisik Batuan , batuan fomasi yang dapat berpengaruh terhadap pemboran diantaranya yang akan dibahas yaitu : densitas, porositas, saturasi, hardness, permeabilitas, kompresibilitas dan sifat keabbrasivenessnya 3. Jalur Migrasi : Jalan minyak dari batuan induk sampai terakumulasi pada perangkap. 4. Perangkap : Kondisi dimana minyak dapat terakumulasi.

Ada beberapa jenis perangkap yaitu : a. Perangkap struktur, yaitu perangkap yang terjadi pada perubahan bentuk dari batuan reservoir yang disebabkan oleh perlipatan, patahan, retakan atau gabungan ketiganya. b. Perangkap Stratigrafi, adalah perangkap akibat perubahan struktur dan lithologi batuan reservoir yang dapat ketidakselarasan dan lain-lain. c. Perangkap Kombinasi, disebabkan oleh gejala stuktur dan stratigrafi sekaligus. 5. Penyekat : Penghalang minyak untuk bermigrasi lebih jauh. Dalam ekplorasi minyak yang dicari adalah perangkap-perangkap yang mempunyai kemungkinan untuk akumulasi minyak. Metode paling umum adalah untuk mencari perangkap-perangkap adalah dengan seismic survey. Dari data tersebut kemudian dilakukan pemboran yang disebut wildcat. Nilai resiko dari sumur wildcat ditentukan oleh banyaknya data geologi yang ada. Bial minyak telah ditemukan pada suatu perangkap maka akan dilanjutkan dengan pemboran pangembangan dengan maksud mengetahui batas dari lapangan tersebut. 4.1.2. Evaluasi Reservoir 4.1.2.1 Mekanisme Pendorong Reservoir berupa lensa, pembajian,

Mekanisme pendorong adalah tenaga yang dimiliki oleh reservoir secara alamiah yang digunakan untuk mendorong minyak selama produksi ke permukaan. Tenaga alamiah ini meliputi ; ~ water drive ~ solution gas drive ~ combination drive. 4.1.2.2. Penentuan Isi Minyak Awal dan Cadangan Ada beberapa metode perhitungan : a. Metode Volumetrik Penghitungan ini didasarkan pada peta struktur formasi dan peta isopach yang didapat dari data log, core, dan drill-stem atau test produksi. Peta stuktur menunjukan kedalaman yang sama dari formasi, dan struktur geologinya serta untuk menentukan titik nol dari peta isopach yang menunjukan batas antara air-minyak.. Peta Isopach menunjukan ketebalan yang sama dari formasi sehingga dapat menentukan luas areal dengan ketebalan yang sama . Dari keduanya dapat menentukan volume bulk yang produktif sebagai reservoir. Persamaan menentukan volume segmen dari zona produktif : 1. Metoda Piramidal
Vb h ( An An1 An . An1 ) 3

~ gas cap drive ~ gravity drainage dan

2. Metode Trapezoidal
Vb h ( An An 1 ) 2

An1

An

0,5

An1

An

0,5

Volume Puncak
Vb h An 3

Sehingga Volume Total :


Vb Vb

Dimana :

Vb An h

: Volume Bulk per-segmen, acre-feet : Luas Area dari suatu isopach, acre : Interval antara garis Isopach, feet

b. Metode Material Balance

Merupakan persamaan keseimbangan materi secara volumetris yang menyatakan apabila volume reservoir konstan, maka jumlah aljabar dari perubahan volume minyak, air, gas adalah sama dengan nol. Hal ini berlaku dengan asumsi : a. Tekanan dan perubahan tekanan pada batas minyak-air adalah sama diseluruh bagian reservoir. b. Saturasi fluida, Permeabilitas Relatif dan porositas batuan adalah seragam di seluruh bagian reservoir. c. Tidak ada tudung gas terproduksi dari tudung gas. d. Persamaan saturasi yang digunakan menganggap tidak terjadi pemisahan fluida secara gravitasi e. Tidak ada gas bebas di aquifer. Material Balance digunakan untuk memperkirakan Isi Hidrocarbon Awal ditempat, memperkirakan kinerja reservoir mendatang, memperkirakan jumlah air yang merembes dari aquifer, menentukan ukuran dari tudung gas. Persamaan Umum Material Balance *Tanpa Injeksi Gas *Tanpa PerembesanAir *Tanpa Injeksi Air

Np[Bo (Rp - Rs)Bg - G[Bg - Bgi)

Bgi. P(SwiCw Cf) 1 - Sw Boi. P(SwiCw Cf) Bo - Boi (Rs - Rsi)Bg 1 - Sw

Jika ada produksi air, pada pembilang ruas kanan ditambahkan Wp. Aplikasi Material Balance perlu penyesuaian dengan kondisi tekanan reservoir, yaitu PPb (Undersaturated) atau P<Pb (Saturated).

c. Metode Decline Curve Sejarah produksi mencerminkan produktivitas formasi atau karakteristik reservoir. Penurunan kurva produksi dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu : Laju alir awal atau laju laju aliran pada suatu waktu tertentu. Bentuk kurva

Laju (kecepatan) Penurunan produksi.

Kurva penurunan produksi dibagi menjadi 3 jenis : Kurva Eksponensial, plot laju produksi terhadap waktu atau produksi kumulatif berupa garis lurus. Penurunan Harmonik, plot laju produksi terhadap produksi kumulatif berupa garis lurus. Penurunan Hiperbolik, plot log laju produksi terhadap waktu dan log laju produksi terhadap produksi kumulatif tidak merupakan garis lurus.

4.2. ASPEK PEMBORAN 4.2.1. Tujuan Pemboran Pemboran adalah suatu kegiatan atau pekerjaan membuat lubang dengan diameter dan kedalaman yang sudah ditentukan. Dalam pembuatan lubang untuk mencapai kedalaman tertentu tersebut, yang harus diperhatikan adalah mempertahankan ukuran diameter lubang serta membawa serpihan batuan (cutting) kepermukaan. Dalam dunia perminyakan kegiatan pemboran sangat kompleks, dimana dalam kegiatan pemboran mempunyai dua buah parameter yaitu : a. Parameter Tidak Dapat Diubah Parameter ini meliputi : Kondisi formasi, yang meliputi tekanan dan temperature suatu formasi. Sifat dan jenis formasi

b. Parameter Yang Dapat Diubah Parameter ini meliputi : Rate of Penetration. Weight on Bit.

Kegiatan pemboran dalam dunia perminyakan meliputi :

Penambahan kedalaman. Mempertahankan diameter lubang bor. Mengangkat hasil pemboran kepermukaan.

Dalam pemboran yang harus benar benar kita perhatikan adalah effisiensinya, karena hal tersebut menyangkut factor pembiayaan. Dalam bab ini akan dibahas tentang perencanaan material material dalam pemboran. 4.2.2. Peralatan Pemboran Menurut fungsinya, secara garis besar peralatan pemboran dapat dibagi menjadi lima sistem peralatan utama, yaitu system tenaga, system angkat, system putar, system sirkulasi dan system pencegah sembur liar. 4.2.2.1. Sistem Tenaga Sistem tenaga dalam operasi pemboran terdiri dari power suplay equipment serta transmisi equipment. Powersuplay equipment berupa prime mover, prime mover mampu menghasilkan tenaga 500-5000 Hp. Tenaga yang dihasilkan ditransmisikan keseluruh unit pemboran serta kebutuhan lainnya secara mekanik ataupun electrik sesuai dengan ruang yang tersedia. Prime mover sebagai sistem daya penggerak harus mampu mendukung keperluan fungsi angkat, putar, pemopaan, penerangan, dan lain lain. Dengan demikian perencanaan dan pemilihan tipe dan jenis prime mover yang dipergunakan harus memperhatikan hal tersebut. 4.2.2.2. Sistem Angkat Sistem ini memberikan ruang kerja yang cukup untuk pengangkatan dan penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan lainnya. System angkat terdiri dari dua bagian utama, yaitu : a. Supporting Structure. Fungsi utamanya adalah untuk menyangga peralatan peralatan pemboran dan juga memberi ruang yang cukup bagi operasi pemboran. Supporting structure terdiri dari drilling tower (derrick atau mast), sub structure dan rig floor. Drilling tower atau disebut menara pemboran dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Conventional/standart derrick.

2. Protable Skid Mast. 3. Mobile atau trailer mounted type mast. Menurut API menara yang terbuat dari besi baja tercantum dalam standart 4A dan menara kayu tercantum standart 4B. sedangkan untuk tipe mast termasuk dalam 4D. ukuran menara pemboran yang penting ialah kapasitas, tinggi, luas lantai dan tinggi lantai bor. b. Hoisting Equipment. Peralatan pengangkatan terdiri dari : 1. Drawwork : merupakan otak dari derrick, karena melalui drawwork, seorang driller melakukan dan mengatur operasi pemboran. Drawwork juga merupakan rumah daripada gulungan drilling line. 2. Overhead tools : terdiri dari crown block, traveling block, hook dan elevator. 3. Drilling line : terdiri dari reveed drilling line, dead line, dead line anchor dan storage and suplay. Drilling line digunakan untuk menahan (menarik) beban pada hook. 4.2.2.3. Sistem Putar Fungsi utama dari system putar (rotary system) adalah untuk memutar rangkaian pipa bor dan juga memberikan beratan diatas pahat untuk membor suatu formasi. Rotary system terdiri dari tiga sub komponen, yaitu : 1. Rotary assembly : terdiri dari rotary table, master bushing, Kelly bushing dan rotary slip. 2. Rangkaian pipa pemboran : terdiri dari swivel, Kelly, drill pipe dan drill collar. 3. Mata bor atau bit. Susunan rangkaian pipa bor berputar dari atas ke bawah adalah swivel head Kelly stop cock Kelly sub drill pipe sub drill collar fload sub bit. Namun demikian dalam prakteknya dilapangan karena keperluannya, sering juga rangkaian pipa pemboran ini dilengkapi dengan stabilizer atau reamer. 4.2.2.4. Sistem Sirkulasi Sistem sirkulasi tersusun oleh empat sub komponen utama, yaitu :

1. Drilling Fluid. 2. Preparation area : ditempatkan pada tempat dimulainya sirkulasi Lumpur Tempat persiapan ini meliputi mud house, steel mud pits/tanks, mixing hopper, chemical mixing barrel, bulk mud storage bins, water tanks dan reserve pit. 3. Circulating equipment. 4. Conditioning area terdiri dari settling tanks, reserve pits, mud gas separator, shale shaker, degasser, desander dan desilter. Jadi secara umum Lumpur pemboran putar dapat disirkulasikan dengan urutan sebagai berikut : Lumpur dalam steel mud pit dihisap oleh pompa - pipa tekanan stand pipe rotary hose swivel head Kelly drill pipe drill collar bit annulus drill collar annulus drill pipe mud line/flow line, shale shaker steel mud pit dihisap pompa kembali dan seterusnya. 4.2.2.5. Sistem Pencegah Sembur Liar Sistem pencegahan sembur liar (blow out preventer) dipasang untuk menahan tekanan dari lubang bor. Blow Out Preventer (BOP) system berfungsi untuk menutup ruang annular antara drill pipe dan casing bila terjadi gejala kick. System peralatan ini bekerja secara pneumatic (dengan menggunakan udara dan gas, biasanya dipakai) dan secara mekanik.BOP system terdiri dari BOP stack, accumulator dan supporting system. BOP stack terdiri dari rangkaian annular preventer, pipe ram preventer, drilling spools, blind ram preventer dan casing head. Accumulator fungsi utamanya adalah menutup valve BOP stack dengan cepat saat keadaan darurat. Accumulator bekerja dengan high pressure hidrolis pada saat terjadi kick.Supporting system terdiri dari choke manifold dan kill line