Anda di halaman 1dari 20

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)

Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi Ilmu Kedokteran Klinik Minat Utama Epidemiologi Klinik

Diajukan oleh : Aris Hadi Indiarto

18254/PS/IKK/06

Kepada SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2009

ii

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadhirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin sehingga tesis dengan judul Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) ini berhasil diselesaikan. Tesis ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai derajat sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Kedokteran Klinik, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Pada kesempatan yang baik ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Osman Sianipar, DMM, M.Sc, Sp.PK(K), selaku pembimbing utama dan dr. Angela Nurini Agni, Sp.M, M.Kes, selaku pembimbing pendamping yang telah membantu penulis dengan bimbingan dan pengarahan dalam menyusun tesis ini. Penghormatan dan rasa terima kasih mendalam juga penulis sampaikan kepada : 1. Prof. dr. Sri Suparyati Soenarto, Sp.AK, Ph.D, selaku Direktur Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CE-BU) FK-UGM/RSUP Dr. Sardjito yang telah memberikan bantuan dan dorongan semangat dalam penyelesaian tesis ini. 2. Segenap staf pengajar dan staf pengelola Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CE-BU) FK-UGM/RSUP Dr. Sardjito, yang telah memberikan ilmu dan kelancaran administrasi selama proses pendidikan. 3. dr. Lia Gardenia Partakusuma, Sp.PK, selaku Direktur Umum, SDM dan Diklit RSUP Persahabatan, Jakarta, yang telah memberikan ijin penelitian.

iv

4. dr. Elysna Syahrudin, Sp.P, Ph.D, dan semua karyawan RSUP Persahabatan yang telah membantu kelancaran selama pengambilan data. 5. Drg. Titte K Adimidjaja, M.Sc.PH, selaku Sekretaris Badan Litbang Kesehatan yang semasa aktifnya telah memberikan ijin dan dukungan kepada penulis untuk mengikuti tugas belajar. 6. Ayahanda dan Ibunda yang selalu memberikan doa restu, dukungan dan semangat untuk terus menuntut ilmu. 7. Kedua anak dan istri serta saudara semua atas pengertiannya selama penulis menempuh pendidikan banyak menyita waktu kebersamaan kita. 8. Teman-teman seangkatan dan sepeminatan atas kekompakan dan saling bantu dalam tiap kesulitan serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam tesis ini sehingga sangat diharapkan saran dan masukan yang membangun untuk penyempurnaan tesis ini.

Yogyakarta, Maret 2009 Penyusun

Aris Hadi Indiarto

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................. DAFTAR TABEL ......................................................................................... DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. INTISARI ...................................................................................................... ABSTRACT .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ...... A. Latar Belakang ... B. Perumusan Masalah .... C. Pertanyaan Penelitian ..... D. Tujuan Penelitian .... E. Manfaat Penelitian ...... F. Keaslian Penelitian .................. TINJAUAN PUSTAKA . A. Definisi ................................... B. Epidemiologi .. C. Faktor Risiko .......................................... 1. Genetik ............................................................................... 2. Terpapar zat inhalasi .......................................................... 3. Infeksi ................................................................................. 4. Zat nutrisi ........................................................................... 5. Reaktiviti saluran nafas ...................................................... 6. Asap rokok ......................................................................... D. Diagnosis PPOK ..................... E. Gambaran Klinis PPOK .......................................................... F. Patogenesis PPOK .............................. G. Pentatalaksanaan PPOK ......... H. Biological Plausibility .... I. Rehabilitasi PPOK ...................................... J. Kerangka Konsep .... K. Hipotesis ......................... METODOLOGI PENELITIAN .............................................. A. Rancangan Penelitian .................... B. Jenis dan Sumber Data ....... C. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................. i ii iii iv vi viii ix x xi xii 1 1 7 9 9 10 10 13 13 16 19 20 21 22 23 23 24 29 31 32 36 37 39 40 41 43 43 43 43

BAB II

BAB III

vi

D. Populasi dan Sampel .............................................................. 1. Kriteria kasus ...................................................................... 2. Kriteria kontrol ................................................................... E. Perkiraan Besar Sampel .......................................................... F. Variabel Penelitian .................................................................. G. Definisi Operasional ............................................................... H. Nama Variabel, Metode, Skala dan Kategori ......................... I. Jalannya Penelitian .................................................................. J. Analisis Data ........................................................................... K. Keterbatasan Penelitian .......................................................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... A. Gambaran Umum Hasil Penelitian ......................................... B. Analisis Univariabel ............... C. Analisis Bivariabel ................................................................. D. Analisis Multivariabel ............................................................ KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... A. Kesimpulan ............................................................................ B. Saran ................................................... Ringkasan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

44 45 46 46 48 49 53 54 55 56 57 57 57 67 81 85 85 86 87

BAB V

vii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Sepuluh Penyebab Kematian di Amerika ............................. Zat-Zat pada Asap Rokok yang Berhubungan dengan Penyakit ................................................................................ Komponen Asap Rokok dan Rasio SSS terhadap MSS ...... Derajat PPOK Menurut Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) ...................................... Distribusi Responden Menurut Karakteristik Demografi .... Karakteristik Kelompok PPOK dan Non PPOK menurut Umur, Umur Pertama Kali Merokok, Lama Merokok, dan Jumlah Rokok ....................................................................... Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Hubungan antara Kejadian PPOK menurut Variabel Demografi .............................................................. Hubungan antara Kejadian PPOK menurut Variabel Kebiasaan Merokok .............................................................. Hasil Analisis Multivariat dengan Logistik Regresi ............ 75 82 68 61 31 58 26 27 2

viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Gambar 2. Prevalensi PPOK Laki-Laki dan Perempuan di Inggris Tahun 1990-1997 .......................................... Angka Kematian akibat PPOK di Amerika pada Penduduk Laki-Laki dan Perempuan sejak Tahun 1978 .......................................................... Efek Berhenti Merokok dengan Kemampuan Fungsi Paru ................................................................... Kerangka Konsep Penelitian ......................................... Skema Penentuan Populasi dan Sampel ........................ Distribusi Responden menurut Jenis Rokok ................. Distribusi Responden menurut Cara Merokok .............. Distribusi Responden menurut Kategori Perokok ........ Distribusi Responden menurut Kontinuitas Merokok .. Distribusi Responden menurut Penggunaan Alat Bantu Merokok ......................................................

17

18 37 42 45 63 64 65 66 67

Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10.

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4.

Penjelasan Mengenai Penelitian Informed Consent Kuesioner Penelitian Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) Daftar Singkatan

INTISARI Dalam satu dekade mendatang Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) segera menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di seluruh dunia dan akan menyerang 10% penduduk usia 40 tahun ke atas. Penyakit ini ditandai oleh adanya kelainan penyempitan saluran nafas yang bersifat irreversibel. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko yang paling nyata terhadap berkembangnya PPOK di samping faktor risiko lainnya. Karakteristik merokok yang meliputi jenis rokok, lama merokok, cara merokok, jumlah rokok, kontinuitas merokok, dan penggunaan alat bantu merokok merupakan variabel inti yang akan dilihat kaitannya dengan kejadian PPOK. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian PPOK dengan mengetahui besarnya nilai OR setiap variabel. Desain penelitian ini menggunakan rancangan kasus kontrol tidak berpasangan (un-matching case control study.) Sebanyak 72 orang perokok lakilaki dengan kriteria inklusi berhasil direkam dari dua poliklinik pada satu rumah sakit untuk mewakili kelompok kasus dan kontrol dengan jumlah masing-masing 36 orang. Setiap satu kasus didapat langsung dicari kontrolnya sehingga record terhadap kasus dan kontrol selalu berjalan beriringan. Penentuan kasus kontrol dilakukan antara lain dengan anamnese, pemeriksaan foto thorax, pengukuran dengan spirometer dan pemberian bronkodilator. Kasus dan kontrol sesuai kriteria penelitian selanjutnya dilakukan wawancara dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata umur pada masing-masing kelompok 66,33 tahun dan 62,86 tahun. Rata-rata umur pertama kali merokok pada kasus dan kontrol adalah 21,56 tahun dan 22,81 tahun; rata-rata lama merokok 37,33 tahun dan 35,83 tahun; serta rata-rata untuk jumlah rokok yang dihisap per hari 19,58 batang dan 10,44 batang. Pada analisis bivariabel hasil signifikan terjadi pada variabel jenis rokok dengan p value = 0,018; cara merokok, p value = 0,017; jumlah rokok, p value = 0,002; kontinuitas merokok, p value = 0,033 dan penggunaan alat bantu merokok, p value = 0,034. Variabel demografi seperti umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, status sosial ekonomi dan lingkungan tempat tinggal tidak menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kasus dan kontrol pada = 5% diperoleh p value lebih besar dari 0,05. Empat dari lima variabel yang masuk dalam analisis logistik regresi adalah jumlah rokok, p value = 0,024; OR = 4,461; cara merokok, p value = 0,031; OR = 4,756; jenis rokok, p value = 0,040; OR = 3,481 dan kontinuitas merokok, p value = 0,027; OR = 4,393. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kontinuitas merokok dan jenis rokok merupakan faktor risiko independen yang paling dominan dari kebiasaan merokok terhadap kejadian PPOK. Kata kunci : Faktor Risiko - Kebiasaan Merokok - PPOK

xi

ABSTRACT In the next decade, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) will soon be the third leading cause of death worldwide and will attack 10 percents of people age 40 years old and above. The disease was marked by irreversible respiratory obstruction disorder. Among the other factors, the smoking habit is the most factual risk factor of the COPD development. The characteristics of smoking which cover the types of cigarette, the duration of smoking, the smoking technique, the number of cigarettes, the smoking continuity and the use of assisting tools for smoking are the main variables which will be analyzed on its relationship with the COPD occurrence. The research aims at discovering the relationship of smoking habit with COPD occurrent by identifying the number of Odds Ratio (OR) value of each variable. The research employed the un-matching case control study design. As many as 72 male smokers with inclusion criteria were successfully recorded from two polyclinics in one hospital to represent the groups of case and control, which consists of 36 smokers each. Every time a case was occurred, the control was immediately taken to maintain consecutive case and control record. The diagnosis of case and control was conducted through anamnese, thorax x-ray, spirometry test and bronchodilator test. The case and control suitable with the research criteria were then analyzed through interview with questionnaire. The research results show that average age in each case and control groups were 66,33 years old and 62,86 years old. Average ages of the first time in contact with cigarette in case and control group were 21,56 years old and 22,81 years old, average time of smoking duration were 37,33 years old and 35,83 years old, whereas the average number of cigarettes smoked daily were 19,58 and 10,44 cigarettes. On the bivariable analysis, significant results occurred in types of cigarette variable with p value = 0,018, the smoking technique with p value = 0,017, the number of cigarettes with p value = 0,002, the smoking continuity with p value = 0,033 and use of assisting tools for smoking with p value = 0,034. Demography variables such as age, education level, occupation, social economic status and the environment of dwelling places did not show any significant differences between case and control with = 5% obtains p value more than 0,05. Four of five variables involved in logistic regression analysis were the number of cigarette with p value = 0,024, OR = 4,461; the smoking technique with p value = 0,031, OR = 4,756; the types of cigarette with p value = 0,040, OR = 3,481 and the smoking continuity with p value = 0,027, OR = 4,393. The research concludes that smoking continuity and types of cigarette are the most dominant independent risk factors of smoking habit on COPD occurrence. Keywords : Risk Factor - Smoking Habit - COPD

xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar dan menyerang sekitar 10 persen penduduk usia 40 tahun ke atas (Mangunnegoro, 2001). Penyakit ini ditandai dengan kelainan penyempitan saluran nafas, dan berhubungan dengan kelainan respon inflamasi yang berlangsung secara kronik. Penelitian yang dilakukan oleh Weiss et al. (2003) menyebutkan bahwa penyakit ini adalah penyebab utama kematian bagi individu berusia di atas 65 tahun dan menjadikan ancaman serius bagi sebagian besar penduduk Amerika. Penyakit ini ditemukan hampir di semua negara, baik di negara yang sudah maju, maupun berkembang. Prevalensi PPOK cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan berdampak pada kerugian besar di sektor pembiayaan kesehatan. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan umur produktif seseorang dengan PPOK hingga 20 persen (Mangunnegoro, 2001). Biaya terbesar karena kegagalan terapi dan perawatan di rumah sakit. Sebagai contoh di Jepang, diperkirakan total biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk membiayai penderita PPOK hingga mencapai 805,5 milyar yen atau setara dengan 6,8 milyard dolar AS per tahun sedangkan di negara Eropa beban finansial PPOK mencapai 40 milyar euro (Rachmawati, 2006). Pada saat ini data menyebutkan bahwa dari semua angka kematian karena berbagai penyakit di dunia, PPOK menduduki peringkat ke-4, naik dari

peringkat ke-6 sekitar lima tahun yang lalu dan diperkirakan akan menduduki peringkat ke-3 pada tahun 2020 mendatang (Widjaya, 2006). Peningkatan proporsi penderita PPOK pada populasi penduduk dunia juga dilaporkan terus meningkat terutama pada beberapa kelompok berisiko dan tidak jarang menyebabkan kematian. Seperti halnya di Amerika Serikat, pada tahun 1987 PPOK telah menjadi penyebab kelima dari 10 penyakit penyebab kematian seperti terlihat dalam Tabel 1 (Connors et al., 1991).
Tabel 1. Sepuluh Penyebab Kematian di Amerika

Total 1. Penyakit jantung * 2. Kanker 3. Stroke 4. Kecelakaan 5. PPOK 6. Pneumonia dan influenza 7. Diabetes 8. Bunuh diri 9. Liver kronik 10. Atherosklerosis Semua penyebab lainnya
*) termasuk 512.000 kematian akibat penyakit jantung koroner

2.123.000 760.000 477.000 150.000 95.000 78.000 69.000 39.000 31.000 26.000 32.000 376.000

Studi berskala internasional telah dilakukan untuk mengestimasi prevalensi global Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) serta melihat faktor risiko yang berperan. Data dari 12 titik kawasan di beberapa negara seperti Cina, Turki, Austria, Afrika Selatan, Selandia Baru, Jerman, Polandia, Norwegia, Canada, Amerika, Philipina dan Australia berhasil dikumpulkan. Prevalensi ratarata PPOK derajat II pada penelitian tersebut sebesar 10,1 persen (11,8 persen terjadi pada pria dan 8,5 persen pada wanita). Risiko PPOK akan meningkat dua

kali lipat seiring dengan penambahan umur 10 tahun dan pada orang yang merokok (Fister, 2007). Penelitian di Kota Salzburg Austria mendapatkan hasil seperempat penduduk tetap kota tersebut dengan umur lebih besar atau sama dengan 40 tahun setidaknya mempunyai obstruksi saluran pernafasan ringan. Penyakit yang ditandai adanya penyempitan saluran pernafasan ini bahkan diyakini tidak dilaporkan dengan baik di berbagai negara karena adanya perbedaan definisi PPOK. Sebagai contoh suatu survey berbasis popuasi di Jepang pada tahun 2004 menyebutkan angka prevalensi PPOK sebesar 10,9 persen tetapi kementrian kesehatan hanya melaporkan prevalensi sebesar 0,3 persen (Schirnhofer et al., 2007). Berdasarkan hasil studi nasional di Inggris didapatkan 10 persen lakilaki dan 11 persen perempuan yang berumur antara 16-65 tahun mengalami obstruksi ringan. Studi yang sama di kota Manchester melaporkan sekitar 11 persen orang dewasa berumur lebih dari 45 tahun mengalami obstruski saluran nafas yang tidak reversible. Sumber lain menyebutkan bahwa prevalensi PPOK derajat ringan di Amerika sebesar 6,8 persen, PPOK derajat sedang sebesar 1,5 persen dan PPOK tergolong berat sebesar 0,5 persen (Devereux, 2006). Pada tahun 1991 di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 14 juta orang menderita PPOK, meningkat 41,5 persen dibandingkan tahun 1982. Lakilaki dan perempuan mempunyai angka kematian yang sama sebelum usia 55 tahun, tetapi pada laki-laki angka kematian ini terus meningkat, dan pada usia 70

tahun angka kematian ini menjadi dua kali lipat dari perempuan (American Thoracic Society, 1995). Penelitian lain menyebutkan bahwa pada tahun 1980-2000 di Amerika terjadi peningkatan kematian akibat PPOK pada penduduk perempuan dari 20,1 menjadi 56,7 per 100.000 dan 73,0 menjadi 82,6 per 100.000 pada penduduk lakilaki. Untuk pertama kalinya yaitu pada tahun 2000 dilaporkan lebih banyak penduduk perempuan meninggal akibat PPOK daripada penduduk laki-laki dengan perbandingan angka 59.936 : 59.118 (Devereux, 2006). Penelitian serupa pada tahun 1968-1969 untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan kejadian PPOK mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda, yaitu status sosial ekonomi rendah, kebiasaan merokok, depresi dan obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya obstruksi (Thorn et al., 2007). The Asia Pacific COPD Roundtable Group memperkirakan, jumlah penderita PPOK sedang hingga berat di negara-negara Asia Pasifik mencapai 56,6 juta penderita dengan angka prevalensi 6,3 persen. Angka prevalensi bagi masingmasing negara seperti Cina, Jepang dan Vietnam berkisar antara 3,5 6,7 persen. Di negara-negara Eropa, prevalensi PPOK secara klinis bervariasi sekitar 4-10 persen dari penduduk dewasa. Pasien PPOK di Eropa cenderung lebih tua, lebih parah bahkan lebih terpengaruh oleh eksaserbasi dan menderita kekambuhan penyakit itu lebih lama. Jumlah pria yang menderita PPOK di Eropa lebih sedikit dibandingkan di Asia Pasifik (55,1 persen : 65,3 persen). Sebaliknya di Eropa jumlah perempuan yang menderita PPOK lebih banyak daripada di Asia Pasifik (43,6 persen : 33,9 persen) (Rachmawati, 2006).

Angka kesakitan dan kerugian ekonomi yang terjadi akibat PPOK tergolong tinggi, jumlahnya besar bahkan hingga lebih dari dua kali dari dampak kesakitan dan kerugian akibat penyakit asma. Beban biaya pengobatan akan menjadi berat terutama bagi penderita PPOK dengan frekuensi eksaserbasi tinggi, dan akan menurunkan kualitas hidup bagi penderita ringan. Sejak pertengahan tahun 1990 di Inggris telah terjadi peningkatan permohonan perawatan di rumah sakit sekitar 50 persen dan paling tidak terdapat 10 persen permohonan perawatan darurat di rumah disebabkan oleh PPOK. Angka ini akan semakin besar pada musim dingin. Kebanyakan pasien berumur lebih dari 65 tahun dengan kondisi yang sudah parah. Rata-rata setiap penderita PPOK harus berkunjung ke unit-unit pelayanan kesehatan sebanyak 6-7 kali dalam setahun sehingga biaya yang harus dikeluarkan juga meningkat baik secara individual maupun cost impact secara luas. Suatu penelitian PPOK terhadap 888 responden di Greece pada umur responden lebih dari 35 tahun dengan riwayat merokok lebih dari 100 batang seumur hidupnya, mendapatkan prevalensi keseluruhan sebesar 8,4 persen, di

mana sebesar 11,6 persen adalah laki-laki dan 4,8 persen adalah perempuan. Berdasarkan kelompok umur 30 49 tahun diketahui sebesar 40,4 persen adalah laki-laki dan 47,2 persen adalah perempuan. Sebagian besar dari mereka yang tergolong dalam PPOK derajat ringan tidak menyadari akan penyakitnya itu (Tzanakis et al., 2004). Penelitian untuk mengetahui prevalensi PPOK juga berhasil dilaksanakan di Nanjing, Cina dengan jumlah sampel 29.319 orang dengan umur

lebih besar atau sama dengan 35 tahun. Diketahui sebanyak 67,75 persen responden berasal dari daerah perkotaan, dan 32,3 persen berasal dari daerah pedesaan. Sebanyak 49,7 persen adalah laki-laki dan 50,3 persen adalah perempuan, dengan prevalensi keseluruhan sebesar 5,9 persen. Namun ahli dari WHO menyebutkan bahwa prevalensi PPOK di kota tersebut sebesar 8,4 persen (Xu et al., 2005). Menurut National Population Health Study (NPHS), 51 persen

penderita PPOK sering mengeluh dan sesak nafas merupakan penyebab terbatasnya aktivitas di rumah, kantor dan lingkungan sosial (Huang et al., 2005). Penyakit ini menimbulkan gangguan kualitas hidup dan kapasitas fungsi paru penderita bahkan sampai menyebabkan kematian (Duerden, 2006). Penderita PPOK akan mengalami penurunan faal paru yang patologik dan berakibat pada keluhan sesak nafas serta keterbatasan aktivitas (WHO, 2001). Keluhan sesak nafas yang timbul terutama akibat penurunan kapasitas otot-otot pernafasan dalam kaitannya dengan peningkatan beban mekanik (Weber et al., 1994). Keterbatasan aktivitas disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan dan hiperinflasi dinamik. Saat ini PPOK merupakan penyakit non infeksi kedua tersering di dunia yang menyebabkan kematian 2,75 juta orang per tahun dan diperkirakan menjadi dua kali lipat pada tahun 2030 (Tashkin et al., 2004). Sementara itu di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta penderita dengan prevalensi 5,6 persen (Rachmawati, 2006). Jumlah penderita PPOK cenderung meningkat dari waktu ke waktu walaupun belum ada data nasional yang tersedia. Pada tahun 1992 Departemen Kesehata RI melakukan survei

kesehatan rumah tangga dan melaporkan bahwa PPOK bersama dengan asma bronkial menduduki peringkat kelima dari sepuluh penyakit yang paling sering didapatkan di mana angkanya mencapai 7 persen, serta merupakan penyebab kematian keenam (SKRT, 1992). Hampir semua penderita PPOK juga menderita bronkitis kronis yang ditandai dengan batuk menetap minimal tiga bulan per tahun selama paling sedikit dua tahun berturut-turut (Rachmawati, 2006). Data di RSUP Persahabatan Jakarta yang merupakan pusat rujukan penyakit paru nasional menunjukkan bahwa PPOK menduduki peringkat ke-4 dari jumlah penderita yang dirawat (Yunus, 2000b). B. Perumusan Masalah Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh perlambatan aliran udara yang bersifat irreversible dan

reversible sebagian. Keterbatasan aliran udara ini bersifat progresif yang disebabkan oleh respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang merugikan (Mangunnegoro, 2001). Berbagai jenis partikel atau gas yang merugikan merupakan faktor risiko utama dalam perkembangan penyakit ini di samping beberapa faktor lainnya. Robert et al. (1982), mengatakan bahwa beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena PPOK antara lain adalah paparan asap rokok, polusi udara, meliputi polusi di dalam ruangan, polusi di luar ruangan (gas buang kendaraan bermotor, debu jalanan), dan polusi tempat kerja (bahan kimia, zat iritasi, gas beracun) serta infeksi saluran nafas bawah berulang. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Hendrick et al. (1998) yang mengatakan

terdapat banyak variasi paparan polutan yang berhubungan dengan PPOK. Hampir semua jenis polutan udara berpotensi menyebabkan batuk dan ikut berkontribusi dalam menyebabkan terjadinya obstruksi saluran nafas. Selain itu dia juga menyebutkan bahwa paparan yang tinggi terhadap debu dan polutan di udara sanggup meningkatkan risiko 3,6 kali untuk terkena PPOK. Paparan dengan asap rokok merupakan faktor risiko yang diduga kuat berhubungan dengan kejadian PPOK dan kebanyakan penderita PPOK dengan gangguan pernafasan merupakan perokok berat. Suatu penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan merokok dapat menyebabkan kejadian PPOK hingga mencapai angka 90 persen. Pada tahun 1995 di Rusia rokok menduduki peringkat pertama penyebab kematian pria. Tercatat satu dari tiga pria perokok meninggal karena kebiasaan merokok. Sumber lain menambahkan bahwa seseorang yang merokok dalam kurun waktu 20-25 tahun berpeluang terkena PPOK (Aza, 2003). Schayck et al. (2002) dalam suatu penelitiannya mengatakan paling tidak 95 persen dari orang-orang yang berkembang menjadi PPOK adalah perokok dan fungsi paru mereka menurun lebih cepat dari orang yang tidak merokok. Pada penelitian tersebut ditemukan satu dari enam perokok yang dilakukan uji spirometri berisiko terhadap berkembangnya PPOK. Penelitian prospektif selama 39 tahun di California terhadap 118.094 orang menyimpulkan bahwa perokok aktif kuat dipastikan sebagai faktor risiko terhadap penyakit jantung, kanker paru dan PPOK (Enstrom et al., 2003). Hasil penelitian serupa terhadap 303.020 orang dengan tujuan untuk melihat hubungan antara paparan lingkungan asap rokok dengan berbagai penyakit saluran