Anda di halaman 1dari 14

ACARA II KOMPLEKSOMETRI

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Senyawa kompleks dapat di definisikan sebagai senyawa yang terbentuk antara dua senyawa kimia dengan mekanisme donor akseptor atau asam-basa. Setiap atom atauatau ion non-metal, baik bebas maupun terikat pada molekul yang netral atau ion yang bertindak sebagai donor bila dapat bertindak sebagai donor bila dapat memberikan pasangan elektron, sedangkan sebagai akseptor yaitu yang menerima atau bersama-sama megikat pasangan elektron tersebut, biasanya berupa atom logam atau atom netral. Senyawa kompleks secara garis besar dapat di bagi menjadi dua, yang komponen akseptornya adalah ion logam dan komponen akseptornya berupa molekul organik. Dalam tirtasi kompleksometri reksi antara senyawa kompleks dengan ion logam merupakan dasar pembentukan kompleks logam. Senyawa kompleks dengan ion logam ini disebut juga senyawa koordinasi, karena senyawa tersebut termasuk ikatan koordinasi kovalen sebagai donor yaitu molekul-molekul yang paling sedikit memiliki sepasang elektron bebas, donor ini disebut Ligan. Ligan yang ikatannya pada ion hanya satu tempat saja disebut ligan undental (satu gigi). Sedangkan yang dapat memberikan dua tempat di sebut bidentat, yang memeberikan tiga tempat tridentat, dan selebihnya di sebut polidentat. Ligan-ligan yang memberikan dua pasangan atau lebih disebut chelon atau pembentuk kelat. Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan

titrat saling mengompleks membantuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembantukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak. Tidak hanya dalam titrasi, karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks. Sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi r eaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasidalam larutan. Persyaratan mendasar

terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi, kompleks biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang di kenal dengan titrasi kelatometri. Kegunaan utama titrasi adalah untuk menentukan campuran ion logam dalam larutan. Pada praktikum ini, titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan total kesadahan air. Total kesadahan air adalah jumlah konsentrasi dari semua ion logam yang ada (kecuali ion logam alkali) yang diwujudkan sebagai konsentrasi ekuivalen dari kalsium karbonat. Kesadahan air umumnya disebabkan oleh

keberadaan karbonat dan bikarbonat dari kalsium dam magnesium. Namun pada tempat tertentu ion logam lainnya seperti besi dan mangan memberikan sumbangan yang signifikan pada kesadahan total. 2. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa dapat memahami dasar teori dari senyawa kompleks. b. Mahasiswa mampu melakukan titrasi dengan cara komplekso. c. Mahasiswa menghitung besar dan tingkat kesadahan air dari suatu sampleair dengan larutan Na2EDTA dan indikator EBT. 3. Pelaksanaan Praktikum (Waktu dan Tempat) Waktu dan Tempat Praktek Praktikum acara III Kompleksometri dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 16 Maret 2012 bertempat di Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian,Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Tijauan Alat dan bahan Dalam titrasi ini dipergunakan alat-alat sntaralain a) Buret Dan Statis. Buret dipakai sebagai tempat titran, biasanya yang dipakai adalah buret dengan volume 50 mL. Skala 0 ada dibagian atas dan 50 ada di bawah. Statis dipakai untuk menahan buret (meletakkan buret) pada waktu titrasi. b) Erlenmeyer. Erlenmeyer dipakai untuk meletakkan analit. Biasa yang dipergunakan untuk titrasi adalah ukuran 250 mL agar mudah dipegang dang lebih mudah melihat analit. c) Pipet Ukur. Untuk mengambil analit dengan volume tertentu misal 10, atau 25 mL maka gunakan pipet ukur, jangan menggunakan gelas ukur karena pipet ukur lebih presisi. Pipet ukur tersedia dalam banyak ukuran. c) Labu Ukur. Alat ini dipakai untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi (Anonim2,2010 ). Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain a)

EDTA.EDTAmemindahkan ion-ion logam dari kompleks indikator logam kekompleks logam EDTA harus tajam dan cepat. b) Buffer pH 10. Penambahan buffer adalah untuk menjaga kondisi pH agar tetap konstan (Anonim1,2010). Etilen diamin tetra asetat (EDTA)

merupakan ligan penitrasi yang banyak dipakai pada titrasi kompleksometri. Molekul EDTA mempunyai 6 sisi ikatan dengan ion logam, yaitu 4 gugus karbonil dan 2 gugus amino, yang masingmasing mempunyai pasangan elektron yang tidak berpasangan. Sehingga EDTA merupakan ligan heksadentat (Suyatna dkk, 2011). Ketika EDTA untuk pertama kali diperkenalkan sebagai titran, kita kekurangan indikator visual yang baik, dan bermacam-macam teknik titik-akhir instrumental sering dipergunakan. Teknik ini masih bernilai untuk beberapa keadaan, tetapi sekarang suatu variasi luas indikator visual yang baik dapat diperoleh, dan biasanya titrasi visual merupakan

yang lebih serasi. Kita telah mengatahui di atas dengn menggunakan kalsium sebagai contoh, bahwa terjadi patahan besar dan sekonyogkonyong dalam pM dekat pada titik ekivalen dalam suatu titrasi khelometrik yang dapat dilaksanakan. Kita ingin mengubah patahan ini menjadi perubahan warna tepat seperti indikator asam-basa tanggap terhadap perubahan pH dengan berubah warna. Bermacam-macam zat kimia sering dinamakan indikator metalokhromik, sekarang dapat diperoleh untuk keperluan ini. Jika semua indikator pH perlu tanggap hanya dengan ion hidrogen, maka untuk titrasi khelometik kita memerlukan sederetan zat yang tanggap terhadap pMg, Pca, pCu dan sebagainya, meskipun suatu indikator seringkali dapat berguna dengan lebih dari satu ion logam. Pada dasarnya indikator metalokhromik merupakan senyawa organik berwarna, yang membentuk khelat dengan ion logam. Khelatnya harus mempunyai warna lain dari indikator bebasnya, tentu saja, dan jiaka suatu kosong indikator harus dihindari dan titik akhir yang tajam diperoleh, maka indikator harus melepaskan ion logamnya kepada titran EDTA pada suatu harga pM sangat dekat dengan titik hidrogen kepada ion hidroksida pada waktu titrasi suatu asam. Namun suatu pembahasan lengkap tentang keseimbangan yang bertalian dengan itu merupakan sedikit lebih sukar daripada pembahasan yang sama tentang indikator asam-basa. Hal itu disebabkan oleh keadaan bahwa indikator metalokhromik biasa juga mempunyai sifat asam-basa dan tanggap sebagai indikator pH maupun sebagai indiktor terhadap pM. Jadi agar dapat memerinci warna yang akan ditentukan oleh indikator metalokhromik dalam suatu larutan tertentu, kita pada umumnya harus mengetahui baik harga pH maupun harga pM untuk ion logm tertentu yang ada. Kompleks yang terbentuk antar ion kalsium dan Eriochrome Black T tidak sangat stabil dan perubahan warna terjadi sebelum waktunya dalam titrasi Ca dengan EDTA. Kesalahan titrasi dapat dikurangi dengan melakukan

standarisasi larutan EDTA terhadap larutan kalsium dengan memakai

keadaan-keadaan identik dengan keadaan yang dipakai bagi zat yang belum diketahui (Day and underwood, 1986). 2. Tijauan Pustaka Air terbentuk dari persatuan antara unsur-unsurnya. Reksi yang terjadi adalah 2H2O + O2 2H2O . dari reaksi tersebut diketahui

bahea dua molekul hidrogen menyatu dengan satu molekul oksigen. Jika dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen bertemu pada suhu dan tekanan yang sama, hanya akan terbebtuk uap air di akhir reaksi ( Markham and Smith,1988 ) Ditahun 1923, ditahun yang sama di saat Bronsted dan Lowry mendefinisikan asam dan basa dalam hal donor proton atau akseptor, seorang kimiawan Amerika, Lewis mengusulkan tentang konsep dasar asam dan basa (Fay,1998). Selain itu, struktur yang digunakan untuk menggambarkan senyawa kovalen di sebut struktur Lewis. Struktur Lewis adalah penggambaranikatan kovalen yang menggunakan lambang titikLewis dimana pasangan elektron ikatan dinyatakan dengan stu garis atau sepasang titik yang di letakkan di antara kedua atom, dan pasangan elektron bebas dinyatakan dengan titik-titik pada masing-masing atom. Hanya elektron valensi yang di tunjukkan pada struktur Lewis. Struktur Lewis pada molekul air, H2O menunjukkan lambang titik Lewis untyk oksigen memiliki dua titik atau elektron yang tidak berpasangan, sehingga diharapkan O dapat membentuk dua ikatan kovalen. Atom hidrogen hanya dapat membentuk satu ikatan kovalen karena H hanya memiliki satu valensi (Chang,2004 ). Air minum mempunyai standart persyaratan fisik, kimiawi maupun biologis. Pemakaian air bersih dan air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Zat-zat yang diserap oleh alam dapat berupa padatan terlarut, gas terlarut, dan padatan tersuspensi. Umumnya jenis pengotor yang terkandung dalam air tergantung pada jenis bahan yang berkontak dengan air itu, sedangkan

banyaknya zat pengotor tergantung pada waktu kontaknya. Bahanbahan mineral yang terkandung dalam air karena kontaknya dengan batu-batuan terutama kalsium karbonat (CaCO3), Magnesium karbonat (MgCO3), kalsium sulfat (CaSO4) dan sebagainya (Koesmantoro, 2010). Mg dan Ca termasuk dalam golongan alkali tanah. Alkali tanah ini memiliki sifat-sifat antara lain : a) Aktivitas. Logam-logam ini begitu aktif sehingga mereka tak terdapat sebagai unsur bila bersentuhan dengan udara atau air b) Sifat Metalik. Sifat metalik dalam keluarga-keluarga A cebderung makin bertambah dari atas kebawah pada tabel berkala c) Reaksi Khas. Logam alkali tanah adalah zat pereduksi yang sangat kuat, karena (Keenan et al, ) Air yang mengandung Mg atau Ca di sebut air sadah. Air yang bersifat sadah apabila dikonsumsi manusia akan menyebabkan gangguan kesehatan. Air yang memiliki tingkat kesadahan terlalu tinggi dapat menimbulkan karatan/korosi pada alat-alat yang terbuat dari besi, sabun jadi kurang membusa sehingga meningkatkan konsumsi sabun dan menimbulakn endapan-endapan atau kerak di dalam wadah-wadah pengolahan (Koesmantoro, 2010). Kualitas air baku dan air bersih haruslah memenuhi stantart baku mutu untuk air baku Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 maupun standart baku mutu untuk air bersih Permenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 ( Hardyanti dan Fitri, 2006). Pembentukan kerak (CaCO3) oleh air sadah pada sistem perpipaan di industri maupun rumah tangga menimbulkan banyak permasalahan teknis dan ekonomis. Hal ini disebabkan scale (kerak) dapt menutu[i (menyumbat) air yang mengalir dalam pipa dan sekaligus menghambat proses perpindahan panas pada peralatan penukar panas. Saat ini pengolahan air untuk begitu mudah kehilangan elektron.

pencegahan pembentukan kerak umumnya dilakukan secara kimiawi yaitu dengan resin penukar ion dan penambahan inhibitor kerak (Saksono,2006). Dalam 54 kasus kematian di kota-kota karena kekerasan air dari 60 bagian perjuta atau kurang,

konsentrasi magnesium rata-rata adalah 918g/g (Anderson et al, 1975) Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksomerri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengompleks membentuk hasil berupa kompleks (Anonim1, 2010).

C. METODOLOGI 1. Alat a. Buret b. Pipet volume c. Propipet d. Erlenmeyer e. Statif f. Beket glass g. Pipet mata 2. Bahan a. Air dari berbagai daerah (Jebres, Juwiring, Sukoharjo, Kentingan, Petoran, Gendingan, Baturan) b. Larutan buffer pH 10 c. Indikator EBT d. Larutan Na2EDTA

3. Cara Kerja 25 ml sampel air dipipet dan dimasukkan dalam erlenmeyer

Di tambah 2,5 ml larutan buffer pH 10 kemudian di kocok sampai bercampur merata

Ditambah 2-3 tetes larutan indikator EBT sehingga larutan berwarna merah anggur

Dititrasi dengan larutan Na2EDTA sampai terbentuk warna ungu

D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Percobaan

Tabel 2.1 Kesadahan Air pada Bebarapa Sampel Air kel Jenis Sample Vo l sa mp le Sample 25 A ml Jebres 25 ml Juwirin 25 g ml Sukoha 25 rjo ml Kenting 25 an ml Petoran 25 ml Gendin 25 gan ml Baturan 25 ml Sample 25 A ml Jebres Juwirin g Sukoha rjo 25 ml 25 ml 25 ml M Na2 EDTA Vol Na2 EDTA Kesadahan Air PerubaTinghan Warna kat Kesadahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Jernih putih kebiruan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Jernih putih kebiruan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Agak Keras -

1 2 3 4 5 6 7 8 9

0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M 0,05 M

50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 50 ml 1,5 ml

8,4

10 11 12

0,05 M 0,05 M 0,05 M

21,1 ml 23,5 ml 1,75 ml

9,8

Agak Keras -

Kenting 25 0,05 M an ml 14 Petoran 25 0,05 M ml 15 Gendin 25 0,05 M gan ml 16 Baturan 25 0,05 M ml Sumber : Laporan Sementara Pembahasan :

13

22,5 ml 20,5 ml 21 ml 21,7 ml

Tirasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembantukan senyawa kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titrat dan titran saling mengkompleks membantuk hasil berupa. Reaksi- reasksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan

penerapannya juga banyak. Tidak hanya dalam titrasi, karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Pada titrasi ini di tambah kan pula larutan Buffer pH 10. Penambahan buffer ini dimaksudkan untuk menjaga agar pH dalam keadaan konstan. Dari percobaan menentukan tingkat kesadahan air kali ini, digunakan beberapa sample dari berbagai daerah, yaitu : Sample A, Jebres, Juwiring, Sukoharjo, Kentingan, Petoran, Gendingan, dan Baturan. Namun pada praktikum yang telah dilaksanakan kelompok 1-16 hanya sample A dan sample dari Sukoharjo saja yang menunjukkan perubahan warna setelah dititrasi. Sample A di dapat kesadahan airnya 8,4 dengan perubahan warna menjadi putih kebiruan, sehinggan diketahui tingkat kesadahannya sangat lunak. Kemudian untuk sample dari Sukoharjo di dapat kesadahan airnya 9,8 dengan perubahan warna menjadi putih kebiruan, sehingga di ketahui tingkat kesadahan air dari sample Sukoharjo sangat lunak. Sementara untuk sample-sample yang lain tidak

menunjukkan adanya perubahan setelah dititrasi. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, banyaknya EBT dan keakuratan Na2EDTA dapat mengakibatkan kesalahn dalam proses titrasi. Selain itu, kesalahan titrasi dapat dikurangi dengan melakukan standarisasi larutan EDTA terhadap larutan kalsium dengan memakai keadaan-keadaan identik dengan keadaan yang dipakai bagi zat yang belum diketahui. Faktor yang mempengaruhi

kesadahan air adalah banyaknya mineral yang terkandung dalam air tersebut seperti Mg dan Ca.

E. KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan disimpulkan bahwa : 1. Air sadah adalah air yang di dalamnya terlarut garam-garam kalsium dan magnesium. 2. Metode yang di gunakan dalam menentukan kesadahan air ini adalah dengan menggunakan mekanisme pembentukan ion kompleks. 3. Kesadahan yang di dapat dari percobaan adalah : Sample A : 8,4 Sukoharjo : 9,8 4. Tingkat kesadahan dari kedua sample adalah agak keras.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson et al.1975.Ischemic Heart Disease, Water Hardness and Myocardial Magnesium.Vol 113 Anonim1.2010. http://www.scribd.com/doc/72019733/6/ACARA-VII-TITRASIPEMBENTUKAN-SENYAWA-KOMPLEKS-PENETAPANKESADAHAN-AIR.Di Unduh pada tanggal 28 Maret 2012 pukul 21:15 WIB Anonim2.2010.http://kimiaanalisa.web.id/peralatan-titrasi/.Di tanggal 29 Maret 2012 pikul 20:17 WIB unduh pada

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti edisi ke 3. Erlangga Jakarta. Day, R.A and Underwood.1986.Analisa Kimia Kuantitatif.Erlangga:Jakarta Fay, McMurry.1988.Chemistry Fourth Edition.Erlangga:Jakarta. Hardyanti, Nurandani dan Fitri, Nurmeta Diana.2006.Studi Evalusi Instalasi Pengolahan Air Bersih Untuk Kebutuhan Domestik Dan Non domestik (Studi Kasus Perusahaan Tekstil Bawen Kabupaten Semarang).Vol 1 No. 1 Keenan et al.1984.Kimia Untuk universitas Jilid 2.Erlangga:Jakarta Koesmantoro, Hery.2010. Penurunan Kesadahan Menggunakan Zeolit (Tinjauan Lama Waktu Kontak Dengan Ca++).Vol.1 No.1 Markham and Smith.1998.General Chemistry.Erlangga:Jakarta Saksono, Nelson.2006.Magnetisasi Air Sadah Untuk Pencegahan Pembentukan Kerak.Edisi No.4. Suyatna dkk.2011.Penggunaan ESI La Untuk Penentuan Ion Lantanum Secara Titrasi Potensiometri Dengan EDTA.

LAMPIRAN

Perhitungan : Rumus menentukan kesadahan Air = ( )

Sedangkan untuk mencari kandungan Ca digunakan rumus seperti berikut : ( )

Dan untuk mencari kandungan Mg dapat digunakan rumus sebagai berikut : ( )

1. Sample A ( )

( ( )

2. Sukoharjo ( )