Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PERANCANGAN PROSES TEKNIK KIMIA FLOWSHEET PROSES

Disusun oleh : OKKY RIZKY SINAGA ARI WIBOWO HARAHAP (0907114241) (0907135919)

KHAMALUDDIN ADITYA (0907133051)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2013

BAB 1 DESKRIPSI PROSES

1.1 Teknologi Proses The Lurgi Mega Methanol (LMM) The Lurgi Mega Methanol (LMM) adalah teknologi proses yang mengubah methanol menjadi propilen ( methanol to propylene / MTP ) dengan menggunakan fixed bed reactor pada tekanan 1,3-1,6 bar dan temperature 4200 C- 4900 C. Katalis yang dapat digunakan adalah alumino silicate dalam bentuk zeolit yang memiliki selektivitas tinggi untuk propilen. Produk sampingnya berupa bensin dengan bilanggan oktan tinggi , LNG, dan fuel gas. Teknologi proses yang kami gunakan adalah teknologi lurgi MTP dengan katalis berupa zeolit berjenis ZSM-5 yang dikembangkan oleh National Petrochemical Company (NPC) yang kemudian dinamakan NPC-RT Catalyst . Kelebihan menggunakan proses ini adalah : High Yield (hingga 65 % mole untuk basis C) 1. Proses sederhana ( biaya produksi rendah ) 2. Menggunakan sistem fixed-bed adiabatic reactor yang sederhana 3. Purification section yang sederhana dan telah dikenal luas 4. Kondisi operasi sedang 5. Produk samping yang bernilai jual cukup tinggi (Fuel gas, LNG, Gasoline,)

1.2 Uraian proses 1.2.1 Reaksi

Secara sederhana proses reaksi dapat dilihat pada flow diagram dibawah.

Fuel gas DME


MeOH CH3OH

Propylene Water Gasoline

LNG

Water

Reaksi yang berlangsung :

2 CH3OH

CH3OCH3 + H2O

(Pre-reaction)

a CH3OCH3

a CnH2n + a H2O

(Propylene reaction)

Konversi dari reaksi ini dapat dilihat pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Komponen Fuel gas Bensin LPG Propilen air Konversi ( % berat) 0.72 5.71 1.44 20.73 71.4

Block Flow Diagram secara keseluruhan dapat dilihat di bawah ini


MeOH, DME MeOH, DME

Reaktor

Separator

Compresor

Unit Purification

Water

Gasoline

LPG Propylene

MeOH Storage Tank

Water Storage Tank

Gasoline Storage Tank

LPG Storage Tank

Propylene Storage Tank

1.3 Uraian Proses Tahapan proses pembuatan propylene dari methanol yaitu, metanol (MeOH) sebagai bahan baku masuk ke dalam DME reaktor bersama dengan katalis yang digunakan, reaksi berlangsung selama 30 menit dengan suhu 573,15K. Setelah terbentuk DME kemudian dilanjutkan ke reaktor MTP dengan suhu operasi 673 K dan tekanan 3 bar. Produk dari reactor masuk ke dalam separator, di dalam separator produk tersebut dipisahkan menjadi 3 aliran. Aliran 1 berupa methanol dan dimetil eter (DME) yang kemudian akan direcyle kembali ke dalam reactor. Aliran 2 berupa air hasil reaksi yang akan digunakan untuk steam dan air pendingin. Aliran 3 merupakan produk utama yang yang masih tersisa sedikit pengotor.Aliran 3 hasil dari separator akan masuk ke kompresor yang kemudian akan dikompresi menuju unit purification. Di dalam unit purification aliran 3 akan dimurnikan sehingga menghasilkan keluaran berupa propylene, gasoline, dan LPG dan pengotor berupa sisa-sisa methanol dan dimetil eter. Metanol dan dimetil eter direcyle kembali menuju reactor dan propylene, gasoline serta LPG akan disimpan di storage masing-masing. 1.4 Gross Profit Margin (GPM) Tahap awal pra rancangan pabrik perlu dilakukan studi kelayakan. Studi tersebut yaitu analisa Gross Profit Margin (GPM). Untuk analisis GPM pabrik propylene dari methanol ini dapat dilihat pada tabel 1.3. Tabel 1.3 Analisa Gross Profit Margin (GPM) 3CH3OH Mol BM Kg/Kg C3H6 Rp/Kg 3672,9 13683,12 0 -1 32,042 2,284 C3H6 0,333 42,08 1
+

3 H2O 1 18 1,283

Yield Propylene = 65% mol

Persamaan reaksi berdasarkan stoikiometri reaksi: CH3OH Berat molekul Methanol Berat molekul Propylene : 32,04 g/mol : 42,08 g/mol 0,65 C3H6 + 0,35 H2O

H2O produk tidak punya nilai eknomi, maka GPM:

Yield Propylene = 65% mol GPM = [0,65 x Rp 575,78/mol] [1 x Rp 117,68/mol] = Rp 256,58/mol Propylene

Analisa GPM menunjukkan dari penjualan 1 kg produk didpatkan GPM sebesar Rp 6098/kg propylene. Analisa yang didapat bernilai positif sehingga dapat disimpulkan pabrik layak didirikan.

1.5 Pemilihan proses batch vs continiue Faktor diperlukannya operasi Batch : 1. Laju Produk a. Kadang kala batch jika kurang dari 10 x 106 lb/yr b. Umumnya batch jika kurang dari 1 x 106 lb/yr c. Pabrik dengan berbagai Produk 2. Keinginan Pasar a. Produksi yang musiman b. Umur produk yang singkat 3. Permasalahan Scale-up a. Waktu reaksi yang sangat lama b. Penanganan slurries pada laju alir rendah c. Terjadinya kerak yang sangat cepat

( Douglas 1988, hal 111 )

Pertimbangan : 1. Laju Produk a. Kadang kala batch jika kurang dari 10 x 106 lb/yr b. Umumnya batch jika kurang dari 1 x 106 lb/yr c. Pabrik dengan berbagai Produk Laju produk propilen yang ingin dihasilkan adalah 1.5 x 108 lb/tahun . Pabrik hanya memproduksi propilen

2. Keinginan Pasar a. Produksi yang musiman b. Umur produk yang singkat Produksi propilen dilakukan terus menerus. Selain karena permintaan pasar yang cukup tinggi, propilen adalah produk industri yang sangat dibutuhkan setiap saat. Propilen sebagai produk dapat disimpan pada jangka waktu yang lama.

3. Permasalahan Scale-up a. Waktu reaksi yang sangat lama b. Penanganan slurries pada laju alir rendah c. Terjadinya kerak yang sangat cepat Reaksi tidak berjalan dalam watu lama yaitu 1 jam Reaksi berlangsung dalam fasa gas, reaktan dan produk tidak menyebabkan kerak Kesimpulan: Dari beberapa pertimbangan diatas, tidak didapat faktor yang mengarah diperlukannya operasi secara batch, Oleh karena itu, Operasi dijalankan dalam kondisi Countinuous

1.6. Struktur Input-Output Flowshet Masukan Reaktor Methanol Dimetil eter (DME) Tujuan Reaktor Reaktor Keluaran reaktor DME Methanol Propylen Tujuan Recycle Recycle Produk utama menuju tangki penyimpanan untuk dijual. LNG Produk samping bernilai jual tinggi, menuju ke tangki penyimpanan untuk dijual Gasoline Produk samping bernilai jual tinggi, menuju ke tangki penyimpanan untuk dijual H2O Pertimbangan : a. Metanol yang tidak terkonversi 19,74 % atau setara dengan 9478 Kg /jam, dengan nilai Rp. 146.000.000/tahun . sehingga Metanol Lebih Baik Jika Di Recycle b. DME yang tidak terkonversi 0.6 % tau setara dengan 280.94 kg/ jam atau setara Rp 10.000.000/ tahun. Sehingga DME Lebih Baik Jika Di Recycle c. Air merupakan produk samping yang harus disingkirkan agar didapat asam glutamat pekat, sehingga air harus dipisahkan dari produk keluaran reaktor, namun air dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan utilitas. Sehingga Air dapat dipergunakan untuk utilitas Tangki umpan boiler

d. Gasoline merupakan produk samping bernilai jual tinggi sehingga dapat Gasoline dipisahkan dari reaktannya untuk disimpan kemudian di dijual e. LPG merupakan produk samping bernilai jual tinggi sehingga dapat LPG dipisahkan dari reaktannya untuk disimpan kemudian di dijual f. Propilen adalah produk utama, karena konversi reaktor yang masih menyisakan reaktan, asam glutamat harus dimurnikan dan dipisahkan. Sehingga Asam glutamat dipisahkan dari reaktannya untuk disimpan kemudian di dijual Kesimpulan : 1. Metanol dan DME lebih baik jika di recycle 2. Air dapat dipergunakan untuk utilitas 3. Propilen, gasoline dan lpg dipisahkan dari reaktannya untuk disimpan kemudian di dijual

1.7 Perancangan pemisahan Keluaran reaktor Fuel gas(C2) Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5) Methanol Water Fasa Gas Gas Gas Gas Gas Gas Gas Gas Senyawa Ethane (C2) Propilen Propane (C3) DME Butane (C4) Pentane (C5) Metanol Water Rumus molekul C2H6 C3H6 C3H8 C2H6O C4H10 C5H12 CH4O H2O Titik didih (oC) -89 -47.8 -42 -23.6 -0.5 36 65 100

Heuristic 1 : Lightest First ( zat yang paling ringan pertama ) ( Douglas 1988, Tabel 7.3-4 )

Dari data fasa zat-zat keluaran reaktor di dapat bahwa terdapat perbedaaan volatilitas yang tinggi antara methanol, air dan gasoline (C5 ) dengan keluaran reaktor yang lain, oleh karena itu dilakukan pemisahan 3 fasa keluaran.

Fuel gas LPG DME Gasoline


CT-101

Methanol Water

Pemilihan alat pemisahan berdasarkan beberapa pertimbangan antaran lain : 1. Fasa keluaran berupa gas 2. Perbedaaan volatilitas methanol dan air dengan keluaran reaktor yang lain cukup tinggi 3. Keluaran reaktor memiliki suhu yang tinggi 500oC Oleh karena itu proses pemisahan yang digunakan adalah proses pendinginan. Alat yang digunakan adalah cooling tower dikarenakan untuk mendinginkan keluaran hingga mencapai temperature 35 oC dapat menggunakan air pendingin Aliran masuk dan keluar cooling tower CT-101 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1.6 Aliran masuk dan keluar cooling tower

Umpan CT-101 Fuel gas(C2) Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5) Methanol Water

Keluaran CT-101 Bawah Methanol Water Gasoline (C5) Tengah Atas Fuel gas(C2) Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5) -

Aliran atas akan menuju DME removal, aliran tengah menuju tangki penyimpanan gasoline dan aliran bawah menuju methanol recovery destilation.

Heuristic 2 : Most Plentiful First ( yang paling banyak pertama ) ( Douglas 1988, Tabel 7.3-4 ) Untuk aliran atas Aliran atas menuju destilator DME removal dimana propylene merupakan keluaran dengan massa terbesar sehingga propylene menjadi light key component dan propane menjadi heavy key component. Keluaran DME removal Umpan DME removal Fuel gas(C2) Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5) Light key Heavy key Atas Fuel gas(C2) Propylene Bawah Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5)

Aliran atas akan menuju deetanizer dan aliran bawah akan menuju LPG desatilation 1

Untuk Bawah Aliran bawah menuju methanol recovery destilation Keluaran DME removal Umpan DME removal Fuel gas(C2) Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5) Light key Heavy key Atas Fuel gas(C2) Propylene Bawah Propylene LPG (C3) DME LPG (C4) Gasoline (C5)