Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Keahlian yang dibutuhkan untuk memperoleh riwayat medis dan melakukan pemeriksaan fisik kepala dan leher merupakan suatu hal dasar serta hanya menyita sedikit waktu pemeriksa, namun demikian sangat berarti secara klinis. Banyak penyakit sistemik yang bermanifestasi di daerah telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher, begitu juga sebaliknya. Untuk mendapatkan keahlian dan keterampilan ini, perlu latihan yang berulang. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruangan yang tenang, tersedia sebuah meja kecil tempat meletakkan alat-alat pemeriksaan dan obat-obatan atau meja khusus E ! instrument unit yang sudah dilengkapi dengan pompa penghisap, kursi pasien yang dapat berputar dan dinaikturunkan tingginya serta kursi untuk pemeriksa dan meja tulis. Untuk pemeriksaan pada bagian leher tersendiri, memang biasanya tidak memerlukan peralatan khusus apa pun. "ang lebih dibutuhkan adalah kesensiti#itasan jari-jari tangan saat meraba bagian-bagian organ tubuh yang terdapat pada leher yang dapat diperiksa dari luar. I.2 Tujuan $okter muda diharapkan mampu menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi suatu organ pada tubuh serta mampu menjelaskan penyebab, patomekanisme, gambaran klinik, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, hingga prognosis dari suatu penyakit yang terdapat pada organ tersebut.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Anatomi & i!iologi Pada masa embrio awal tidak ada leher yang jelas yang memisahkan toraks dari kepala. &eher dibentuk seperti jantung, di mana berasal dari bawah foregut yang bermigrasi ke rongga toraks dan aparatus brankial berkembang menjadi bentuk yang sekarang. 'igrasi dari jantung merupakan sebab mengapa beberapa struktur dari leher bermigrasi terakhir. Pada masa embrio awal, terdapat beberapa tonjolan sepanjang tepi dari foregut yang juga dapat dilihat dari luar. !onjolan ini adalah aparatus brankialis.

)ecara filogenetik terdapat enam arkus brankialis, namun arkus kelima tidak pernah berkambang pada manusia dan hanya membentuk ligamentum arteriosum. ormal muara dari arkus kedua, ketiga, dan keempat diliputi oleh pertumbuhan dari daerah yang disebut tonjolan epiperikardial. )yaraf pada daerah ini adalah syaraf asesorius spinalis dan mesenkimnya membentuk otot sternokleidomastoideus dan trape*ius.

Bila dari luar, maka leher dapat terbagi menjadi beberapa regio seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini+

!rigonum )ubmentale !rigonum )ubmandibulare

-egio .er#icalis Posterior

!rigonum 'usculare

-egio )ternocleidomastoidea -egio .er#icalis &ateralis

&eher terdiri dari berbagai macam otot yang mengelilinginya serta tulang #ertebra cer#icalis pada bagian posterior sehingga leher dapat ditegakkan. )elain itu, leher juga merupakan tempat jalur perdarahan penting baik dari dan atau ke otak, yaitu terdapatnya arteri carotis communis dan #ena jugularis. $i leher juga terdapat benyak kelenjar getah bening dan terdapat sekitar /0 buah kelenjar limfe pada setiap sisi leher.

1tot-otot superficialis pada leher adalah otot-otot yang terdekat dengan kulit dan biasanya dapat terlihat saat leher digerakkan. 1tot-otot utama pada bagian ini adalah musculus trape*ius, musculus sternocleidomastoideus, dan musculus platysma. 1tot-otot dalam pada leher akan membagi setiap sisi leher menjadi ( trangular, yaitu triangular anterior dan triangular posterior. "ang memisahkan kedua trangular tersebut adalah musculus sternocleidomastoideus. &eher pada manusia berfungsi untuk menopang kepala. $engan adanya tulang #ertebra cer#icalis, maka kepala dapat ditegakkan. )elain itu, #ertebra cer#icalis juga memiliki persendian sedemikian rupa sehingga kepala yang tersanggah oleh leher dapat mengangguk, menoleh ke arah kanan atau kiri, dan berputar. &eher juga berfungsi untuk melindungi beberapa organ penting di bagian tengahnya, seperti trakea, esofagus, pita suara, dan kelenjar tiroid. II.2 "uang Le#er Dalam

Berdasarkan lokasinya dari os. 3yoid, maka ruang leher dalam terbagi menjadi tiga, yaitu+ 4. )epanjang leher %5 -uang retrofaringeal !erletak di bagian posterior dari faring esofagus. 'erupakan bagian anterior dari lapisan alar dari fascia dalam. 'eluas dari dasar tengkorak hingga setinggi !%6!(. 7nfeksi pada ruang ini dapat sangat mudah menyebar ke mediastinum.

(5 $anger space Bagian depan dibatasi oleh lapisan alar dari fascia dalam. Bagian belakang dibatasi oleh lapisan pre#ertebra. 'eluas dari dasar tengkorak hingga ke

diafragma. $iberi nama tersebut karena berisikan jaringan areolar longgar dan kurang resisten terhadap penyebaran infeksi.

,5 -uang pre#ertebra Bagian depan dibatasi oleh fascia pre#ertebral. Bagian posterior dibatasi oleh otot-otot leher dalam. 'eluas sepanjang leher dari kolumna #ertebra. 7nfeksi pada ruang ini biasanya akan terlokalisasi dikarenakan tebalnya lapisan fibrosa antara fascia dan otot-otot dalam.

25 -uang pembuluh darah #iseral 'erupakan ruang yang membungkus arteri karotis. )ama seperti ruang pre#ertebra, lapisan ini resisten terhadap penyebaran infeksi. &apisan ini meluas dari dasar tengkorak hingga ke mediastinum. -uang ini menerima kontribusi dari semua , lapisan fascia dalam sehingga sangat mudah terkena infeksi secara sekunder dari ruang-ruang lainnya.

B. )uprahyoid %5 -uang submandibular Bagian anterior dan lateral dibatasi oleh mandibula. Bagian superior dibatasi oleh mukosa. Bagian inferior dibatasi oleh lapisan superfisial dari fascia dalam. Bagian posterior dibatasi oleh hyoid. -uang submandibula terdiri dari ruang sublingual dab ruang submylohyoid.

(5 -uang parafaringeal Bagian superior dibatasi oleh dasar tengkorak. Bagian inferior dibatasi oleh hyoid. Bagian anterior dibatasi oleh raphe ptyergomandibular. Posterior dibatasi oleh fascia pre#ertebra. Bagian medial dibatasi oleh fascia buccofaringeal. Bagian lateral dibatasi oleh lapisan superfisial dari fascia /

dalam. -uang ini terhubung dengan ruang submandibula, ruang retrofaringeal, ruang parotid, dan ruang mastikator

,5 -uang peritonsil Bagian medial dibatasi oleh kapsula tonsila palatina. Bagian lateral dibatasi oleh muskulus konstriktor faringeal superior. Bagian superior dibatasi oleh pilar tonsil anterior. Bagian inferior dibatasi oleh pilar tonsil posterior. -uang ini berisikan jaringan areolar longgar.

25 -uang mastikular dan temporal $ibentuk oleh lapisan superfisial dari fascia ser#ikal dalam. -uang ini terdiri dari muskulus masseter, muskulus pterygoid, dan muskulus temporalis. -uang ini terhubung secara langsung dengan ruang temporal.

05 -uang parotid $ibentuk oleh lapisan superfisial dari fascia dalam dan septum tebal dari kapsula dalam kelenjar. -uang ini berisikan limfe nodus parotis, syaraf fasial, #ena fasial posterior. -uang Parotis terhubung secara langsung dengan ruang parafaringeal.

.. 7nfrahyoid

%5 -uang #iseral anterior $ibentuk oleh lapisan tengah dari fascia dalam. -uang ini berisikan tiroid, trakea, dan esofagus. -uang #iseral anterior terhubung dengan ruang retrofaringeal di bagian lateral.

%;

II.$ Pemerik!aan %elenjar Lim&e )istem aliran limfe leher penting untuk dipelajari karena hampir semua bentuk radang atau keganasan pada kepala dan leher akan terlihat dan bermanifestasi ke kelenjar limfe leher. )eperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa setidaknya terdapat /0 buah kelenjar limfe pada setiap sisi leher, kebanyakan berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius. -angkaian jugularis interna ini dibagi dalam kelompok superior, media, dan inferior. )elain itu, terdapat pula kelompok kelenjar limfe lainnya, seperti submental, submandibula, ser#ikalis superfisial, retrofaring, paratrakeal, skalenus anterior, dan suprakla#ikula. Keluhan yang biasanya disampaikan oleh pasien adalah benjolan pada daerah leher. 3al-hal yang perlu ditanyakan saat anamnesis pada kasus gangguan kelenjar limfe adalah, sudah berapa lama hal tersebut dirasakan, seberapa besar benjolan yang

%%

dirasakan, apakah benjolan semakin bertambah besar, apakah terasa nyeri, apakah ada demam yang dirasakan, apakah pasien ada batuk, apakah pasien ada pilek, apakah pasien menderita sakit gigi, apakah ada gusi yang bengkak.

)elain pengelompokkan di atas, dikenal pula pengelompokkan letak kelenjar limfe leher menurut )loan Kattering 'emorial .ancer .enter .lassification yang dibagi menjadi 0 daerah penyebaran kelompok kelenjar, yaitu+ 7. Kelenjar yang terletak di trigonum submental dan submandibular. 77. Kelenjar yang terletak di %6, atas dan termasuk kelenjar limfe jugularis superior, kelenjar digastrik, dan kelenjar ser#ikal posterior superior. 777. Kelenjar limfe jugularis di antara bifurcasio carotis dan persilangan musculus omohioid dangan musculus sternocleidomastoideus dan batas posterior musculus sternocleidomastoideus. 7<. =rup kelenjar di daerah jugularis inferior dan suprakla#ikula. <. Kelenjar yang berada di segitiga posterior ser#ikal.

%(

Pasien dengan penyakit pada leher dan wajah dapat mempunyai banyak gejala yang ber#ariasi. Keluhan-keluhan ini harus digolongkan seperti dimana tempat yang sesungguhnya, waktu awitan, lamanya, dan gejala-gejala yang menyertai baik lokal mau pun sistemik. Palpasi leher dan wajah harus dilakukan dengan sistematis. Kelenjar limfe leher dan metastasis seringkali terletak pada segitiga leher depan. $aerah ini perlu diinspeksi secara cermat. &angkah-langkah pemeriksaan fisik kelenjar limfe leher pada pasien+ %. informed consent, beri tahu kepada pasien mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan dan mintalah persetujuan akan tindakan tersebut. (. siapkan ruang pemeriksaan dengan penerangan yang sesuai. ,. tempatkan pasien pada posisi duduk tegak yang nyaman, tapi tidak bersandar. 2. lakukanlah cuci tangan rutin sebelum melakukan pemeriksaan. 0. pemeriksa berdiri di belakang pasien dan beri tahu pasien bahwa pemeriksaan akan dimulai. 8. pemeriksa mulai melakukan palpasi6perabaan pada kelenjar limfe secara sistematis> dimulai dari regio preauricula, postauricula, occipitale, submandibula, submental, musculus sternocleidomastoideus, supracla#icula, dan infracla#icula. /. lakukan pada kedua sisi secara bersamaan, de?tra dan sinistra, hal ini berguna untuk membandingkan antara sisi kanan dan sisi kiri, serta mengefisienkan waktu pemeriksaan. 9. lakukan cuci tangan rutin kembali setelah selesai pemeriksaan.

Bila terdapat pembesaran kelenjar limfe, maka tentukanlah ukuran, bentuk, konsistensi, jumlah limfe yang membesar, perlekatan dengan jaringan sekitar, dan terasa nyeri atau tidak. %,

II.$ Pemerik!aan %elenjar Tiroi' Kelenjar tiroid terletak tepat di bawah laring pada kedua sisi dan sebelah anterior trakea. 'erupakan salah satu kelenjar endokrin terbesar. Kelenjar ini normalnya memiliki berat %0-(; gram pada orang dewasa. Kelenjar tiroid memiliki ( buah lobus yang dihubungkan oleh istmus yang tipis. )ecara embriologis kelenjar tiroid berasal dari e#aginasi epitel faring yang membawa pula sel-sel dari kantung faring lateral. E#aginasi ini berjalan ke bawah dari pangkal lidah menuju leher hingga mencapai letak anatomiknya yang terakhir. !iroid menyekresi ( macam hormon utama, yaitu tiroksin @!25 dan triiodotironin @!,5. Kedua hormon ini sangat meningkatkan kecepatan metabolisme tubuh. )elain itu, kelenjar tiroid juga menyekresikan hormon kalsitonin yang penting bagi metabolisme kalsium.

Untuk dapat membentuk tiroksin dalam jumlah normal, setiap tahunnya dibutuhkan kira-kira 0; mg yodium. $engan melakukan serangkaian proses di dalam kelenjar tiroid, sehingga yodium akan menjadi hormon tiroksin dan triiodotironin. &angkah-langkah pemeriksaan fisik kelenjar tiroid pada pasien+ %. informed consent, beri tahu kepada pasien mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan terhadapnya dan mintalah persetujuan akan tindakan tersebut. (. siapkan ruang pemeriksaan dengan penerangan yang sesuai. ,. tempatkan pasien pada posisi duduk tegak yang nyaman, tapi tidak bersandar.

%2

2. lakukanlah cuci tangan rutin sebelum melakukan pemeriksaan. 0. mulailah pemeriksaan secara inspeksi terlebih dahulu pada jarak beberapa meter dari pasien, agar dapat mengetahui letak kelenjar tiroid mintalah pasien untuk melakukan gerakan menelan. 8. setelah inspeksi, baru lakukan palpasi pada kelenjar tiroid dengan posisi pemeriksa berada di belakang pasien. /. tempatkan jari-jari kedua tangan agak sedikit ke bawah pada sisi kanan dan sisi kiri kartilago tiroid 6 adamAs apel pasien. 9. mintalah pasien untuk melakukan gerakan menelan, maka kelenjar tiroid akan ikut bergerak mengikuti irama gerak menelan. :. lakukan interpretasi hasil pemeriksaan kelenjar tiroid. %;. lakukanlah cuci tangan rutin setelah melakukan pemeriksaan.

4da pun interpretasi hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut+ derajat ; B subjek tanpa gondok derajat % B subjek dengan gondok yang dapat diraba @palpable5 o derajat %a B subjek dengan gondok teraba membesar, tetapi tidak terlihat meski leher sudah ditengadahkan maksimal o derajat %b B subjek dengan gondok teraba membesar, tetapi terlihat dengan sikap kepala biasa @tidak perlu ditengadahkan5 derajat ( B subjek dengan gondok terlihat @#isibel5 pada jarak dekat derajat , B subjek dengan gondok besar sekali terlihat pada jarak jauh selain melakukan pemeriksaan fisik, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu anamnesis, seperti sudah berapa lama keluhan dirasakan, seberapa besar benjolan dirasakan, apakah benjolan semakin bertambah besar, apakah pasien sering keringatan, apakah pasien sering merasa lapar dan makan, tapi berat badan pasien

%0

tetap turun, apakah ada terasa nyeri, apakah badan terasa semakin membesar tapi terasa lemah. BAB III PENUTUP

III.1 %e!im(ulan &eher merupakan bagian tubuh manusia yang berfungsi untuk menopang dan menegakkan kepala serta untuk melindungi berbagai organ yang berada pada bagian dalamnya, seperti organ tiroid, trakea, esofagus, dan pembuluh darah otak. Untuk menjalankan fungsinya tersebut, maka leher memiliki beberapa struktur yang kokoh yang terdiri dari tulang #ertebra ser#ikalis dan juga berbagai macam otot yang mengelilinginya. .ukup banyak penyakit tubuh, baik lokal mau pun sistemik yang dapat bermanifestasi pada leher, terutama pada kelenjar limfe @kelenjar getah bening5 leher. )elain itu, organ pada leher, seperti kelenjar tiroid sendiri juga dapat bermanifestasi pada bagian ini. 1leh karena itu, perlu dilakukan suatu pemeriksaan khusus pada leher untuk memastikan manifestasi klinis tersebut. III.2 Saran Pemeriksaan kelenjar limfe dan juga pemeriksaan kelenjar tiroid pada pasien sebaiknya dilakukan secara bersamaam dalam suatu pemeriksaan secara bergantian. )elain mengefisienkan waktu pemeriksaan, tidak jarang pula gangguan pada kelenjar tiroid dapat bermanifestasi pada kelenjar limfe yang berada di sekitarnya.

%8

DA TA" PUSTA%A

%. Boies, &awrence -., dkk. %::/. Buku Ajar Penyakit THT Ed.8. Cakarta+ E=. (. =uyton, 4rthur .., dan Cohn E. 3all. (;;/. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed.%%. Cakarta+ E=. ,. Price, )yl#ia 4., dan &orraine '. Dilson. (;;0. Patofisiologi <ol.( Ed.8. Cakarta+ E=. 2. Put*, -., dan -. Pabst. (;;8. Sobotta Cil.% Ed.((. Cakarta+ E=. 0. )oepardi, Efiaty 4rsyad, dkk. (;%(. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Ke ala, dan !eher Ed./. Cakarta+ Badan Penerbit EKU7 8. http+66www.healthline.com6human-body-maps6neck

%/