Anda di halaman 1dari 16

TINJAUAN PUSTAKA Bayi Kurang Bulan (BKB) dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

A. Definisi Bayi Kurang Bulan (BKB) adalah bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi < 37 minggu ( < 259 hari) (Damanik, 2008). Sedangkan, Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gr tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Damanik, 2008; Pusponegoro HD, dkk., 2005).

B. Klasifikasi dan Etiologi BBLR 1. Persalinan kurang bulan/prematur Bayi lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada umumnya bayi kurang bulan ini disebabkan: Faktor ibu

a. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisis dan psikologis. Penyakit lainnya ialah nefritis akut, diabetes melitus atau tindakan operatif dapat merupakan faktor etiologi prematuritas. b. Usia Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun Umur (< 20 tahun atau > 40 tahun) dan pada multigrafida yang jarak antara kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah ialah pada usia 26-35 tahun. c. Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial-ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir

darinperkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang lahir pada perkawinan yang sah. Faktor Janin

Hidramnion, kehamilan ganda umunya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.

2. Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan pada saat dalam kandungan (Janin tumbuh lambat atau retardasi pertumbuhan intra uterin) dengan berat lahir < persentil ke 3 grafik pertumbuhan janin (Lubchenco). Penyebabnya adalah: Terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta

- Kurang baiknya keadaan ibu atau gizi ibu - Hambatan pertumbuhan yang berasal dari bayi sendiri (Pudjiadi, 2010; Poned , 2008; Hasan R & Alatas H, 2007).

C. Patofisiologi Pada kelainan sirukulasi uteroplasenta akibat dari perkembangan plasenta yang abnormal, pasokan oksigen, masukan nutrisi, dan pengeluaran hasil metabolik menjadi abnormal. Janin menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi pada trimester akhir sehingga timbul pertumbuhan janin terhambat yang asimetrik yaitu lingkar perut yang jauh lebih kecil daripada lingkar kepala. Pada keadaan yang parah mungkin akan terjadi kerusakan tingkat seluler berupa kelainan nukleus dan mitokondria. Pada keadaan hipoksia, produksi radikal bebas di plasenta menjadi sangat banyak dan antioksidan yang realtif kurang (misalnya: preeklampsia) akan menjadi lebih parah. Soothil dan kawan-kawan (1987) telah melakukan pemeriksaan gas darah pada pertumbuhan janin terhambat yang parah dan menemukan asidosis dan hiperkapnia, hipoglikemia, dan eritroblastosis. Kematian pada jenis asimetrik lebih parah jika dibandingkan dengan simetrik. Penyebab pertumbuhan janin terhambat simetrik adalah faktor janin atau lingkungan uterus (diabetes, hipertensi). Faktor janin adalah kelianan genetik (aneuploidi),

umumnya trisomi 21, 13 dan 18. Secara keseluruhan pertumbuhan janin terhambat hanya 20% saja yang asimetrik pada penelitian terhadap 8.722 di amerika (Saifuddin AB, Rachimhadhi T & Winkjosastro GH., 2009). Salain itu, ibu dengan berat badan kurang sekali melahirkan bayi yang berukuran lebih kecil daripada yang dilahirkan ibu dengan berat normal atau berlebihan. Infeksi virus tertentu berhubungan dengan gangguan pertumbuhan janin. Bayi-bayi yang menderita infeksi rubella congenital dan sitomegalovirus (CMV) umumnya terjadi gangguan pertumbuhan janin, tidak tergantung pada umur kehamilan saat mereka dilahirkan. Diperkirakan 40% dari seluruh variasi berat lahir berkaitan dengan kontribusi genetik ibu dan janin (Kosim MS, dkk., 2008).

D. Gejala klinis 1. Bayi prematuritas murni Berat badan < 2500 gr, panjang badan 45 cm, lingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm. Masa gestasi < 37 minggu. Tampak luar sangat tergantung pada maturitas atau lamanya gestasi itu. Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang. Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia imatur. Densesus testikulorum biasanya belum sempurna dan labia minora belum tertutup oleh labia majora. Pembuluh darah kulit banyak terlihat dan peristaltis usus pun dapat terlihat. Rambut biasanya tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu-persatu. Tulang rawan dan daun telinga bulum cukup, sehingga elastisitas daun telinga masih kurang. Jaringan mama belum sempurna, demikian pula puting susu belum terbentuk dengan baik. Bayi kecil, posisinya masih posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral, pergerakannya kurang dan masih lemah. Bayi lebih banyak tidur daripada bangun. Tangisnya lemah, pernafasan belum teratur dan sering terdapat serangan apnu. Otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tangkai dalam abduksi, sendi lutut dan sendi kaki

dalam keadaan fleksi dan kepala menghadap satu jurusan. Tonic neck reflex biasanya lemah, reflek moro dapat positif. Reflek menghisap dan menelan belum sempurna, demikian pula reflek batuk (Hasan R & Alatas H, 2007). 2. Dismaturitas Dismaturitas dapat terjadi pre-trem, term, post-term. Pada pre-term akan terlihat gejala fisis bayi prematur murni ditambah dengan gejala dismaturitas. Dalam hal ini berat badan <2500 gr, karakteristik fisis sama dengan bayi prematur dan mungkin ditambah dengan retardasi pertumbuhan dan wasting. Pada bayi cukup bulan dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah wasting, demikian pula pada post-term dengan dismaturitas. Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta dapat dibagi dalam 3 stadium menurut berat ringanya wasting tersebut, yaitu: (1) Stadium pertama. Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulit longgar, kering seperti perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium. (2) Stadium kedua. Didapatkan tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan pada kulit, plasenata dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterin. (3) Ditemukan tanda stadium kedua ditambah dengan kulit yang berwarna kuning, demikian pula kuku dan tali pusat. Ditemukan juga tanda anoksia intrauterin yang lama (Hasan R & Alatas H, 2007).

E. Langkah diagnostik 1. Anamnesis Umur ibu Riwayat hari pertama haid terakhir Riwayat persalinan sebelumnya Paritas, jarak kelahiran sebelumnya

Kenaikan berat badan selama hamil Aktivitas Penyakit yang diderita selama hamil Obat-obatan yang diminum selama hamil

2. Pemeriksaan fisik Berat badan <2500 gr Tanda prematuritas (bila bayi kurang bulan) Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan) 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan skor Ballard Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang bulan Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisis gas darah Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau jika didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gangguan napas USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan 35 minggu , dimulai pada umur 2 hari dan dilanjutkan sesuai hasil yang didapat (Pusponegoro HD, dkk., 2005).

F. Manajemen 1. Medikamentosa Pemberian vitamin K Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu) 2. Mempertahankan suhu tubuh normal

Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti, kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk

Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin Ukur suhu tubuh sesuai jadwal pada tabel dibawah ini Keadaan bayi Bayi sakit Bayi kecil Bayi sangat kecil Frekuensi pemgukuran Tiap jam Tiap jam 12 Tiap 6 jam Bayi keadaan membaik Sekali sehari

3. Pemberian minum ASI merupakan pilihan utama Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 gr/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu (Pusponegoro HD, dkk., 2005). 4. Volume makanan dan cairan untuk bayi kecil menurut Subekti NB, Karyuni PE & Meiliya E. (2008) Bayi kecil membutuhkan volume makanan dan cairan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan berat badan mereka. Bayi tanpa penyakit mayor/ bayi sehat 1,75 2,5 kg Izinkan bayi mulai menyusui. Jika bayi tidak dapat menyusu, berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian susu alternatif (cangkir, cangkir dan sendok, memeras ASI dengan tangan ke dalam mulut bayi, slang

lambung). Volume makanan dan cairan harian total sebagai berikut: Hari kehidupan 1 2 3 4 5 6 7+

ml/kg BB makanan 60 dan/atau cairan 1,5 1,749 kg

80 100 120

140 150 160+

Berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian makanan alternatif setiap tiga jam sesuai dengan tabel dibawah ini sampai bayi dapat menyusu Hari kehidupan 1 2 3 4 26 5 30 6 33 7 35

Volume makan setiap 12 tiga jam (ml/ makanan) 1,25 1,49 kg

18 22

Berikan perasan ASI melalui dengan slang lambung setiap tiga jam sesuai dengan tabel dibawah ini. Lanjutkan pemberian susu dengan cangkir/sendok sesegera mungkin setelah bayi tersebut dapat menelan tanpa batuk atau meludahkannya. Hari kehidupan 1 2 3 4 22 5 26 6 28 7 30

Volume makan setiap 10 tiga jam (ml/ makanan) < 1,25 kg

15 18

Pasang slang IV dan berikan hanya cairan IV selama 48 jam pertama. Berikan perasan ASI melalui slang lambung setiap dua jam yang dimulai pada hari ke-3, atau hari berikutnya jika kondisi bayi masih belum stabil, dan secara perlahan kurangi volume cairan IV sambil meningkatkan volume makanan oral sesuai tabel dibawah ini. Lanjutkan

pemberian makan dengan cangkir/sendok sesegeran mungkin setelah bayi dapat menelan tanpa batuk atau meludahkannya. Hari kehidupan Kecepatan (ml/jam cairan atau 1 IV 4 tetes 2 4 3 3 4 3 5 2 6 2 7 0

mikro/menit) Volume makan setiap 0 dua jam (ml/ makanan) 0 3 5 8 11 15

Bayi sakit 1,75 2,5 kg Jika bayi awalnya tidak membutuhkan cairan IV, izinkan bayi mulai menyusu. Jika bayi tidak dapat menyusu, berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian

makanan alternatif. Tentukan kebutuhan volume susu untuk pemberian makan sesuai dengan usia bayi. Hari kehidupan 1 2 3 4 5 6 7+

ml/kg BB makanan 60 dan/atau cairan

80 100 120

140 150 160+

Jika bayi membutuhkan cairan IV, pasang selang IV dan berikan hanya cairan IV selama 24 jam pertama. Berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian makan alternatif setiap tiga jam yang dimulai pada hari ke-2, atau hari berikutnya jika kondisi bayi masih belum stabil, dan secara perlahan kurangi volume cairan IV sambil meningkatkan volume makanan per oral sesuai dengan tabel dibawah ini: Hari kehidupan 1 2 4 3 3 4 2 5 0 6 0 7 0

Kecepatan cairan IV 5 (ml/jam atau tetes

mikro/menit)

Volume

makanan 0

14

22

30

35

38

setiap tiga jam (ml/ makanan) 1,5 1,749 kg Pasang selang IV, dan berikan hanya cairan IV selama 24 jam pertama. Berikan perasan ASI melalui slang lambung setiap tiga jam yang dimulai pada hari ke-2, atau hari berikutnya jika kondisi bayi masih belum stabil, dan secara perlahan kurangi volume cairan IV sambil meningkatkan volume makanan per oral sesuai dengan tabel dibawah ini: Hari kehidupan 1 2 4 3 3 4 2 5 2 6 0 7 0

Kecepatan cairan IV 4 (ml/jam atau tetes

mikro/menit) Volume makanan 0 6 13 20 24 33 35

setiap tiga jam (ml/ makanan) 1,25 1,49 kg Pasang slang IV dan berikan hanya cairan IV selama 24 jam pertama. Berikan perasan ASI melalui slang lambung setiap tiga jam yang dimulai pada hari ke-2, atau hari berikutnya jika kondisi bayi masih belum stabil, dan secara perlahan kurangi volume cairan IV sambil meningkatkan volume makanan per oral sesuai tabel di bawah ini. Lanjutkan pemberian makan dengan cangkir/sendok segera setelah bayi dapat menelan tanpa batuk atau meludahkannya. Hari kehidupan 1 2 3 3 3 4 2 5 2 6 0 7 0

Kecepatan cairan IV 3

(ml/jam

atau

tetes

mikro/menit) Volume makanan 0 6 9 16 20 28 30

setiap tiga jam (ml/ makanan) < 1,25 kg Berikan makanan dan cairan seperti yang diuraikan untuk bayi sehat dengan berat badan kurang dari 1,25 kg.

G. Komplikasi Bayi kecil cenderung mengalami komplikasi. Beberapa masalah yang khususnya rentan bagu bayi kecil mencakup: 1. Kesulitan pemberian makan (kesulitan pemberian makan adalah suatu masalah umum; sejalan dengan pertumbuhan bayi, kemampuan makan akan membaik) 2. Suhu tubuh tidak normal. Kangaroo mother care adalah metode yang direkomendasikan untuk mempertahankan suhu tubuh bayi kecil. Metode perawatan ini direkomendasikan untuk bayi yang tidak mengalami penyakit serius, dan khususnya untuk bayi yang berat badannya kurang dari 1,8 kg) 3. Kesulitan bernapas, misalnya sindrom distres pernapasan dan apnea 4. Enterokolitis nekrotik 5. Ikterus akibat prematuritas 6. Perdarahan intraventrikuler 7. Anemia (untuk mencegah anemia defisiensi besi, berikan sediaan besi oral kepada bayi kecil guna memberikan unsur besi 2 mg/kg BB sekali sehari dari usia dua bulan sampai usia 23 bualan) 8. Glukosa darah rendah (Subekti NB, Karyuni PE & Meiliya E., 2008)

10

H. Pemantauan (Monitoring) 1. Terapi Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan Preparat besi sebagai suplementasi mulai diberikan pada usia 2 minggu 2. Tumbuh kembang Pantau berat bayi secara periodik Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir 1500 gr dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500 gr). Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari: o Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari o Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari o Apabila kenaikan berat tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 ml/kg/hari o Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu 3. Pemantauan setelah pulang Masalah jangka panjang yang mungkin timbul Gangguan perkembangan Gangguan pertumbuhan Retinopati karena prematuritas Gangguan pendengaran Penyakit paru kronik Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit Kenaikan frekuensi kelainan bawaaan

11

Untuk itu perlu pemantauan sebagai berikut Sesudah pulang dari ke 2, 10, 20, 30; dilanjutkan setiap bulan Hitung umur koreksi Pertumbuhan: BB, PB dan lingkar kepala Tes perkembangan, DDST Awasi adanya kelainan bawaan

(Pusponegoro HD, dkk., 2005).

12

PENYAKIT MEMBRAN HIALIN A. Definisi Penyakit Membran Hialin (PMH) adalah nama lain untuk Sindrom Gangguan Pernafasan (SGP) atau Respiratory Distress Syndrome (RDS) dalam bahasa Inggeris. Ini adalah diagnosis klinis pada bayi baru lahir prematur dengan kesulitan pernapasan, termasuk takipnea (> 60 napas/menit), retraksi dada, dan sianosis di ruangan biasa yang menetap atau berlangsung selama 48-96 jam pertama kehidupan, dan gambaran foto rontgen dada yang karakteristik (pola retikulogranular seragam dan bronkogram udara perifer) (Mohamed FB, 2004).

B. Etiologi Etilogi penyakit ini sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Kelainan yang terjadi dianggap karena faktor pertumbuhan atau karena pematangan paru belum sempurna. Penyakit ini biasanya mengenai bayi prematur, terutama bila ibu menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu yang menderita diabetes melitus, toksemia gravidarum, hipotensi, seksio sesaria dan perdarahan antepartum. Kelainan ini merupakan penyebab utama kematian bayi prematur (50-70%) (Hasan R & Alatas H, 2007). C. Patofisiologi Berbagai teori telah dikemukakan sebagai penyebab kelaianan ini. Pembentukan subtansi surfaktan paru yang tidak sempurna dalam paru, merupakan salah satu teori yang dianut. Surfaktan ialah zat yang memegang peranan dalam pengembangan paru dan merupakan kompleks yang terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak. Senyawa utama zat tersebut ialah lesitin. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai maksimum pada minggu ke 35. Peranan surfaktan ialah untuk merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjasi kolaps paru dan mampu untuk meanahan sisa udara fungsional pada akhir ekspirasi. Defisiensi subtansi surfaktan yang ditemukan pada penyakit membran hialin menyebabkan kemampuan paru untuk

mempertahankan stabilitasnya terganggu. Alveolus akan kembali kolaps setiap 13

akhir ekspirasi, sehingga pada pernafasan berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang lebih kuat. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan menimbulkan: Oksigenasi jaringan menurun, sehingga akan terjadi metabolisme anaerobik dengan penimbunan asam laktat dan asam organik lainnya yang menyebabkan terjadinya asidosis metabolisme pada bayi. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris yang akan menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya fibrin dan selanjutnya fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik akan membentuk suatu lapisan yang disebut membran hialin. Asidosis dan atelektasis juga menyebabkan terganggunya sirkulasi darah dari dan ke jantung. Demikian pula aliran darah paru akan menurun dan hal ini mengakibatkan berkurangnya pembentukan substansi surfaktan (Hasan R & Alatas H, 2007). D. Diagnosis a. Anamnesis - Riwayat kelahiran kurang bulan, ibu DM - Riwayat persalinan yang mengalami asfiksia perinatal (gawat janin) - Riwayat persalinan saudara kandung dengan penyakit membran hialin. b. Pemeriksaan fisik - Gejala biasanya dalam 24 jam pertama kehidupan. - Dijumpai sindrom klinis yang terdiri dari kumpulan gejala: o Takipnea o Nafas merintih o Retraksi dinding dada o Kadang dijumpai sianosis (pada udara ruangan) - Perhatikan tanda prematuritas - Kadang ditemukan hipotermia, edema perifer, edema paru. - Perjalanan klinis bervariasi sesuai dengan beratnya penyakit, besarnya bayi, adanya infeksi dan derajat dari pirau PDA. - Penyakit dapat menetap atau menjadi progresif dalam 48-96 jam pertama. c. Pemeriksaan penunjang - Foto toraks posisi AP dan lateral bila diperlukan serial

14

Gambaran radiologis yang khas berupa retikulogranular yang disebut dengan ground glass appearance disertai dengan gambaran bronkus dibagian perifer paru (air bronchogram). Terdapat 4 stadium: o Stadium 1: pola retikulogranular o Stadium 2: stadium 1 + air bronchogram o Stadium 3: stadium 2 + batas jantung paru kabur o Stadium 4: stadium 3 + white lung - Laboratorim o Darah tepi lengkap dan kultur darah o BGA o Rasio lesitin sfingomielin pada cairan paru (L/S rasio) < 2:1 o Shake test E. Tata laksana a. Medika mentosa - Manajemen umum o Jaga jalan nafas tetap bersih dan terbuka o Terapi oksigen sesuai kondisi o Antibiotik : diberikan anibiotik dengan spektrum luas biasanya dimulai dengan ampisilin 50 mg/kgbb intravena tiap 12 jam dan gentamisin untuk berat lahir < 2 kgdosis 3 mg/kgbb perhari. Jika tidak terbukti infeksi antibiotik dihentikan o Analisis Gas Darah dilakukan berulang untuk manajemen respirasi - Manajemen khusus Pemberian surfaktan dilakukan bila memenuhi persyaratan, obat tersedia dan lebih disukai bila tersedia fasilitas NICU. b. Bedah Tindakan bedah dilakukan jika timbul komplikasi yang bersifat fatal seperti pneumotoraks, pneumomediatinum, empisema subkutan. F. Pencegahan - Mencegah persalinan prematur - Pemberian terapi kortikosteroid antenatal pada ibu dengan ancaman persalinan prematur. - Mengelola ibu DM dengan baik (Pudjiadi, 2010).

15

Daftar Pustaka

Cunningham FG, dkk. 2006. Obstetri williams vol 1 edisi 22. Jakarta: EGC. Hasan R & Alatas H. 2007. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika Jakarta Kosim MS, dkk. 2008. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Badan Penerbit IDAI Mohamed FB. 2004. Hyaline Membrane Disease (Respiratory Distress Syndrome). Dalam:Gomella TL,Eyal FG, Zenk K E, editors. Neonatology: Management, Procedures, On-Call Problems, Diseases, and Drugs. Edisi ke5. New York: The McGraw-HillCompanies Pudjiadi dkk. 2010.Pedoman Pelayanan Medis. Jilid I. IDAI: Jakrta Pusponegoro HD, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I 2004. Badan Penerbit IDAI Saifuddin AB, Rachimhadhi T & Winkjosastro GH. 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Subekti NB, Karyuni PE & Meiliya E. 2008. Buku Saku Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Panduan untuk Dokter, Perawat & Bidan. Jakarta: EGC Suraatmaja, S. 2007. Kapita Selekta Gastroentrologi Anak. Jakarta: Sagungseto.

16