Anda di halaman 1dari 14

Daftar Isi

Daftar Isi...................................................................................................................................... 1 Bab 1 Pendahuluan..................................................................................................................... 2 1.1Latar Belakang.................................................................................................................... 2 1.2Tujuan................................................................................................................................. 2 1.3Manfaat............................................................................................................................... 3 Bab 2 Dasar Teori........................................................................................................................ 3 2.1 Geodinamika...................................................................................................................... 3 2.2 Longsor dan Pen ebabn a.................................................................................................3 2.3 !ur"ei GP!......................................................................................................................... # 2.$ Penentuan Ti%e Longsor Berdasarkan Pergerakann a......................................................& Bab 3 Pembahasan..................................................................................................................... ' 3.1 Lokasi !tudi........................................................................................................................ ' 3.2 Identifikasi Longsor ..........................................................................................................( Bab $ )esim%ulan ..................................................................................................................... 13 Daftar Pustaka........................................................................................................................... 1$

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Survei Geodinamika adalah survei yang dilakukan untuk mengamati fenomena geodinamika. Geodinamika sendiri berarti fenomena pergerakan bumi yang terjadi akibat dari gaya yang berasal dari dalam bumi (endogen), Perkuliahan Geodinamika Pekan-1. Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam gunung api aktif terbanyak di dunia. Kemudian letak Negara Indonesia juga berada pada pertemuan antara tiga lempeng bumi utama, yaitu adalah lempeng urasian, !ustralian dan "a#ifi#. Kedua point tersebut merupakan potensi kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik. $i lain sisi potensi tersebut menjadi tantangan bagi kemaslahatan masyarakat Indonesia. "otensi alam Indonesia di atas ternyata bukan hanya memberikan bentang alam yang indah dan #antik saja namun juga ternyata memiliki aktifitas atau pergerakan yang kita sebut dengan aktifitas geodinamika. !ktifitas tersebut merupakan aktifitas yang %ajar dan tidak menimbulkan masalah apabila terjadi pada %ilayah yang tidak memiliki aktifitas masyarakatnya. Namun aktifitas geodinamika menjadi sebuah ben#ana atau bahaya apabila terjadi pada %ilayah yang memiliki aktifitas kehidupan sehari&hari. $engan kata lain proses manajemen geodinamika harus dilakukan agar fenomena ini tidak menjadi ben#ana bagi masyarakat atau minimal bias diminimalisir dampaknya melalui system yang terintegrasi dengan manajemen lainnya (mitigasi ben#ana, pembangunan , pertanian, perhutanan, dll). $alam makalah ini akan dibahas mengenai teknis dalam penentuan jenis fenomena longsor, salah satu bentuk manajemen geodinamika. $engan studi kasus pada %ilayah 'iloto, "un#ak, (a%a )arat. *etode yang digunakan adalah sesuai dengan keahlian jurusan penulis yaitu Survei G"S.

1.2 Tujuan
+ujuan dari makalah ini dibuat adalah , -. *ahasis%a mampu memahami jenis dan karakterisitik longsor .. *ahasis%a mampu memahami teknis penentuan jenis dan karakteristik longsor dengan metode G"S

1.3 Manfaat
*anfaat dari makalah ini dibuat adalah , -. *enambah %a%asan ilmiah mengenai fenomena longsor dan manajemennya untuk penulis dan pemba#a .. *emenuhi tugas perkuliahan Survei Geodinamika, +eknik Geomatika, I+S.

Bab 2 Dasar Teori


2.1 Geodinamika
Survei Geodinamika adalah survei yang dilakukan untuk mengamati fenomena geodinamika. Geodinamika sendiri berarti fenomena pergerakan bumi yang terjadi akibat dari gaya yang berasal dari dalam bumi (endogen), Perkuliahan Geodinamika Pekan-1. Nantinya fenomena ini menyebabkan perubahan dari bentuk permukaan bumi. !dapun fenomena geodinamika yang disurvey adalah , a) "ergerakan /empeng +ektonik b) "ergerakan Sesar #) Sea 0loor Spreading d) $eformasi e) /and Subsiden#e Kemudian selain itu dalam melakukan survey geodinamika terdapat aspek&aspek pengerjaan yang harus dilakukan yaitu , a) (aringan "emantau b) *etode dan teknik "engamatan #) Strategi dan *ekanisme "engamatan d) "engolahan data dan kontrol kualitas e) Interpretasi dan !nalisa 1asil

2.2 Longsor dan Pen ebabn a


+anah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material #ampuran tersebut, bergerak keba%ah atau keluar lereng. Ketika gaya gravitasi lebih besar dari resistensi lereng untuk bertahan, maka terjadilah longsor. Gaya penahan (resisting for#es) yang membantu mengontrol kestabilan lereng meliputi kekuatan (strength) dan kohesi (#ohession) material lereng, friksi antar butiran dan pendukung eksternal lereng lain. 0aktor&faktor kolektif ini disebut sebagai shear strength. )erla%anan dengan shear strength adalah gaya gravitasi. Gravitasi diberikan se#ara vertikal, namun memiliki komponen yang paralel terhadap lereng, dan inilah sesungguhnya yang membuat ketidakstabilan (lihat gambar.-). Sudut lereng yang besar memberikan komponen gravitasi yang bekerja menjadi lebih besar pula sehingga berbahaya dan dapat menyebabkan longsor. Sudut ke#uraman lereng yang mampu mengontrol dan meniadakan keruntuhan disebut
3

sebagai angle of repose. "ada sudut ini, gaya penahan mampu melakukan perla%anan terhadap gaya gravitasi. 2ntuk material yang tidak terkonsolidasi, angle of repose berkisar antara .3 4 5 674. 2ntuk lereng yang lebih #uram dari 674 biasanya pada batuan padat yang tidak mengalami pelapukan.

Gambar -. Kestabilan lereng sangat tergantung pada shear strength lereng yang meliputi kekuatan dan kohesivitas material lereng, friksi internal antarbutiran dan daya dukung eksternal lereng (*onroe 8 9i#ander, -::;)

Semua lereng berada pada kondisi kesetimbangan dinamik (dynami# e<uilibrium) artinya bah%a lereng selalu menyesuaikan kesetimbangan terhadap kondisi terbaru. Ketika kita mendirikan bangunan dan jalan di daerah perbukitan, maka kesetimbangan lereng akan terjadi. /ereng kemudian melakukan penyesuaian yang mungkin saja menyebabkan terjadinya longsor untuk membentuk kondisi yang baru. )anyak faktor yang dapat menyebabkan longsor, yaitu perubahan tingkat kelerengan (slope gradient), pelemahan material lereng karena pelapukan (%eathering), meningkatnya kandungan air (%ater #ontent), perubahan pada vegetasi penutup lereng dan kelebihan pembebanan (overloading). a) Sudut /ereng Sudut lereng dapat menjadi penyebab utama longsor. 2mumnya, lereng yang #uram akan kurang stabil karenanya lereng yang #uram akan memiliki kemungkinan longsor dibanding lereng yang landai. Sejumlah proses dapat menyebabkan lereng menjadi lebih terjal (oversteepen). Salah satu disebabkan oleh pemotongan pada bagian dasar lereng oleh aktivitas sungai atau aksi gelombang. 1al ini akan memindahkan dasar lereng (slope=s base) dan meningkatkan sudut lereng. !ksi gelombang, terutama selama badai seringkali menghasilkan longsor sepanjang tepi pantai atau danau yang besar.

Gambar .. "emotongan oleh erosi sungai. (!) pemototongan bagian dasar lereng akan meningkatnya sudut lereng. ()) menyebabkan kehilangan kestabilan lereng.

b) Kandungan !ir (umlah air di dalam batuan dan tanah mempengaruhi kestabilan lereng. Kuantitas air yang besar dari pen#airan salju meningkatkan kemungkinan kerentanan lereng. "enambahan berat sejalan dengan penambahan air sudah #ukup untuk menyebabkan longsor. Selanjutnya perkolasi air sepanjang material lereng membantu untuk mengurangi friksi antar butiran sehingga menunjukkan kehilangan kohesi. 'ontoh, lereng berkomposisi lempung kering akan #ukup stabil, tetapi ketika basah maka dengan #epat akan kehilangan kohesivitas dan friksi internal sehingga menjadi sebab ketidakstabilan lereng. #) 4verloading 4verloading (pembebanan berlebih) hampir selalu disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penimbunan, pengisian dan penumpukan material. $iba%ah kondisi alamiah, beban material disangga oleh kontak antar butir (grain&to&grain #onta#t) sehingga menjaga kestabilan lereng. "enambahan beban yang disebabkan karena peningkatan tekanan air didalam material akan menurunkan shear strength lereng karena itulah terjadi pelemahan material lereng d) "elapukan dan Iklim /ongsor lebih sering terjadi pada material lereng yang lepas&lepas atau tidak terkonsolidasi dibandingkan dengan lapisan batuan dasar padat (solid bedro#k). Segera setelah batuan padat tersingkap di permukaan bumi, pelapukan mulai meme#ah (disintegrate) dan mengubah komposisi (de#ompose) batuan. $engan demikian, terjadi pengurangan shear strength dan peningkatan kerentanan (sus#eptibility) terhadap longsor. Semakin dalam >ona pelapukan yang terbentuk, maka semakin besar kemungkinan terjadinya beberapa tipe longsor. $i daerah tropis, temperatur tinggi menyebabkan hujan sering terjadi sehingga menyebabkan pelapukan meluas hingga kedalaman beberapa puluh meter dan longsor yang berlangsung #epat biasanya terjadi pada >ona pelapukan yang dalam.
*

2.3 !ur"ei GP!


Global Positioning System (G"S) adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Nama formalnya adalah N!?S+!@ G"S ( Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System). G"S didesain untuk memberikan informasi posisi, ke#epatan, dan %aktu. "ada dasarnya G"S terdiri atas A segmen utama, yaitu, a) Segmen angkasa (space segment) +erdiri dari .6 satelit yang terbagi dalam B orbit dengan inklinasi 33C dengan ketinggian .7..77 km dan periode orbit -- jam 3D menit. b) Segmen sistem kontrol (control system segment) *empunyai tanggung ja%ab untuk memantau satelit G"S agar satelit dapat tetap berfungsi dengan tepat. *isalnya untuk sinkronisasi %aktu, prediksi orbit, dan monitoring EkesehatanF satelit. #) Segmen pemakai (user segment) Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut, maupun udara, yang menggunakan re#eiver G"S untuk mendapatkan sinyal G"S sehingga dapat menghitung posisi, ke#epatan, %aktu, dan parameter lainnya.

Gambar A. Segmen G"S (!bidin 1. G., .777) "ada dasarnya konsep penentuan posisi dengan G"S adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak se#ara simultan ke beberapa satelit G"S yang koordinatnya telah diketahui. "osisi yang diberikan oleh G"S adalah posisi A dimensi (H, y, > atauI, J, h) yang dinyatakan dalam datum 9GS (World Geodetic System) -:D6, sedangkan tinggi yang diperoleh adalah tinggi ellipsoid. Se#ara garis besar penentuan posisi G"S dibagi menjadi dua metode, yaitu,

a.) *etode absolut $ikenal dengan point positioning, menentukan posisi hanya berdasarkan pada - pesa%at penerima saja. Ketelitian posisi dalam beberapa meter dan umumnya hanya digunakan untuk navigasi saja. b.) *etode diferensial Ketelitian posisi se#ara absolut yang hanya mengggunakan satu re#eiver G"S, dapat ditingkatkan dengan menggunakan penentuan posisi se#ara diferensial (relatif). "ada penentuan posisi diferensial posisi suatu titik ditentukan relative terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (titik referensi).

2.# Penentuan Ti$e Longsor Berdasarkan Pergerakann a


$alam memantau longsor, pengukuran geodetik dapat lebih murah, praktis dan mampu men#akup area yang lebih luas. +etapi pemanfaatan metode geodetik belum dikembangkan hingga mampu berperan untuk mengetahui perilaku material penyusun lereng atau karakteristik dari suatu fenomena longsor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam rangka mitigasi ben#ana longsor. "erilaku material penyusun lereng dapat diketahui melalui status vektor perpindahan posisi titik pantau geodesi, ke#epatan dan per#epatan. !rah dan besar perpindahan titik pantau geodesi, ke#epatan dan per#epatan dapat dijadikan masukan bagi penentuan strategi mitigasi ben#ana longsor. Karakteristik longsor, yang dinyatakan melalui perilaku material penyusun lereng, dapat memberikan petunjuk tentang tipe longsor yang dimiliki sebuah lereng. )ila ditinjau dari tipe gerak lun#urnya, longsor dapat dibedakan menjadi longsor rotasionalK rotational slides dengan bentuk bidang gelin#ir sirkular dan longsor translasionalKtranslational slides dengan bentuk bidang gelin#ir planar. )erdasarkan jumlah bidang gelin#ir yang dimiliki oleh >ona longsor sebuah lereng maka tipe longsor dibedakan menjadi longsor dengan bidang gelin#ir tunggalKsingle slide dan longsor dengan bidang gelin#ir lebih dari satu. /ongsor dengan bidang gelin#ir lebih dari satu terbagi menjadi dua, yaitu longsor dengan bidang gelin#ir berurutKsuccessive slide dan longsor dengan bidang gelin#ir bersusunKmultiple slide ($ikau @. dkk, -::B).Skempton dan 1ut#hinson (-:B:) mendefinisikan tipe lain yang disebut sebagai longsor retrogresifKretrogressive slide. (!bramson dkk, -::B).

&

Bab 3 Pembahasan
3.1 Lokasi !tudi
!rea studi yang dipilih adalah >ona longsor pada lereng seluas L 67 hektar yang berada pada posisi geografis -7;C77M77N & -7;C77M.7N )+ dan 7BC6.M67N & 7BC6AM77N /S, yang berada pada kilometer DD.- jalur jalan 'ianjur&"un#ak di Kampung )aru& "un#ak $esa 'iloto Ke#amatan "a#et Kabupaten 'ianjur (a%a )arat. Se#ara umum, ka%asan pun#ak 'iloto dibagi menjadi lima unit morfologi, yaitu unit I yang meliputi area kompleks Gunung /emo, unit II meliputi area kompleks "ondok 'ikoneng, Gunung *as, Gunung Gedogan, dan Gunung (oglok, unit III meliputi area "un#ak, (ember dan sekitarnya, unit I? meliputi area kompleks Sindanglaya, dan unit ? merupakan lereng perbukitan area 'empaka, +ugu dan sekitarnya. $engan adanya pembagian morfologi ini maka arah aliran air tanah dapat diketahui, termasuk area akumulasi air. 2nit I dan II berperan sebagai area infiltrasi air dan unit III, I? dan ? merupakan area aliran air, yang bersifat lokal. Gona longsor berada pada unit morfologi III, dilihat bah%a unit I dan II mempunyai #urah hujan yang tinggi. "ada unit III, air tanah akan terakumulasi. !ir tanah tersebut akan merembes melalui lapisan batuan permeabel (lapisan pasir) dan men#apai unit I?. Sebelum men#apai unit I?, air tanah akan mele%ati unit III. 1al ini akan meningkatkan tekanan air pori, sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar 6. 4leh sebab itu yang paling mungkin mengalami longsor adalah unit III. Kondisi ini sebagai salah satu penyebab terjadinya longsor (Sugalang, -:D:). "emantauan terhadap >ona longsor 'iloto dilakukan dengan metode geodeti# dengan pengukuran terestris (-:DB&.77-) dan survei G"S (.77.&.773). $ata yang digunakan dalam makalah ini hanya data dari survei G"S.

Gambar 6. !liran air di sekitar >ona longsor (Sugalang, -:D:)


'

3.2 Identifikasi Longsor


"enentuan lokasi pemasangan titik&titik pantau G"S ini menga#u pada informasi geologi mengenai peta daerah longsor, hasil analisis obstruksi pengamatan satelit G"S, dan faktor kestabilan titik pantau yang sudah ada, berupa pengukuran terestris terdahulu. "emasangan titik referensi harus pada area stabil dan lokasi titik pantau G"S pada area yang bergerak (longsor), dapat dilihat pada gambar .. )erdasarkan jarak terhadap ga%ir utama, posisi titik G"S-, G"S., G"SA, G"S6 dan G"-A berada pada bagian atas >ona longsor, titik G"S3, G"SB, G"S;, G"S:, G"-7, G"-6, *7-7 berada pada bagian tengah >ona longsor dan titik G"SD, G"--, G"-. berada pada bagian ba%ah >ona longsor, dekat di sungai 'ijember.

Gambar 3. Sebaran +itik "antau G"S

Survei G"S yang dilakukan menggunakan metode statik differensial dengan alat re#eiver geodetik frekuensi ganda (dual fre<uen#y), lama survei berkisar antara 6&B jam dengan interval perekaman data per A7 detik dan sudut elevasi -3C sehingga terhindar dari multipathKsinyal pantulan (lihat tabel -). Survei G"S terhadap titik&titik pantau dilakukan se#ara periodik sebanyak 3 (lima) kala. Kala dilakukan tanggal .-&.. (anuari .77., yang merupakan musim penghujan pengukuran dilakukan terhadap -3 titik pantau dengan . titik referensi, kala . dilakukan tanggal 6&3 !pril .77. yang merupakan musim kemarau terhadap -3 titik pantau G"S yang diamati -3 buah, kala A dilakukan tanggal -7 *ei .77A, yang merupakan musim kemarau terhadap -. titik pantau (A titik pantau tidak diamati karena mempunyai obstruksi yang kurang bagus) dan - titik referensi, kala 6 dilakukan tanggal -6&-3 *ei .776, yang merupakan musim kemarau terhadap -. titik pantau,
(

dan terakhir kala 3 dilakukan tanggal A&6 (uli .773, yang merupakan musim kemarau terhadap -. buah dan - titik referensi.
+abel -. *etode "engamatan G"S yang dilakukan

"erpindahan posisi titik pantau terestris diperoleh dengan menghitung selisih dua koordinat dari dua kala yang berurutan sehingga dihasilkan vektor perpindahan posisi titik pantau dalam arah easting, northing dan beda tinggi, yang disebut sebagai model statik. d j O H(j-) P H(j.) QQQQQQQQQQQ(-) 2ntuk memperoleh nilai ke#epatan dan per#epatan perpindahan material lereng digunakan model kinematik yang diaplikasikan terhadap data survei G"S. *odel kinematik merupakan fungsi dari perpindahan posisi, ke#epatan dan per#epatan titik pantau. !pabila disajikan dalam bentuk persamaan, dapat dilihat pada persamaan berikut ini (Ral#inkaya dan )ayrak, .776) ,

a !i O a

aN!i O aN! ah!i O ah! ..............................................(A) $ari hasil prediksi di atas, dihitung perpindahan posisi horisontal kumulatif untuk mengetahui titik pantau yang aktif. +itik pantau G"S yang aktif se#ara horisontal adalah G"S; dan G"--. +itik pantau G"-7 mengalami perpindahan posisi yang besar %alaupun hanya kala - dan ., dapat dilihat pada gambar 6. !da beberapa titik yang memiliki perubahan horisontal (easting dan
1+

northing) ke#il tetapi perubahan vertikal besar, seperti titik pantau G"S-, G"S., G"S6, G"S;, G"SD, G"S:, G"-7 dan G"-- (lihat gambar A dan gambar 6). +itik pantau G"S, yang memiliki perpindahan horisontal ke#il tetapi perpindahan vertikal besar adalah G"S-, G"S., G"S6, G"S3, G"SD dan G"S:, dapat diasumsikan sebagai posisi s#arp atau a%al retakan longsor, dapat dilihat pada gambar 3. "ada perpindahan posisi se#ara vertikal terdapat nilai negatif dan positif dimana negatif menandakan lokasi titik pantau yang bersangkutan mengalami penurunanKambles dan positif mengalami kenaikanKtonjolan. $alam %aktu yang lama, tonjolan&tonjolan yang terbentuk akan mengalami pelapukan dan akan dihasilkan permukaan bergelombang yang tidak beraturan atau berbukit ($ikau, -::B).

Gambar B. "erpindahan posisi hori>ontal komulatif

Gambar ;. "erpindahan ?ertikal Kumulatif +itik "antau G"S

11

Gejala umum yang terdapat pada suatu >ona longsor dengan satu bidang gelin#ir adalah pada bagian atas perpindahan vertikal negatif lebih dominan dibandingkan perpindahan horisontal, pada bagian tengah perpindahan vertikal besarnya hamper sama dengan perpindahan horisontal dan pada bagian ba%ah perpindahan vertikal positif lebih dominan dibandingkan perpindahan horisontal. Keadaan ini dapat dijadikan sebagai a#uan perkiraan a%al bah%a se#ara umum, >ona longsor 'iloto memiliki tipe longsor rotasional dan memiliki beberapa unit longsor minor. !pabila profil vertikal lereng >ona longsor dengan posisi s#arp pada titik pantau G"S-, G"S., G"S6, G"S3, G"SD dan G"S: maka dapat diestimasi bah%a lereng >ona longsor 'iloto memiliki satu bidang gelin#ir major dan empat bidang gelin#ir minor, lihat gambar D.

Gambar D. "osisi Scarp pada "enampang ?ertikal +itik "antai

Gona longsor 'iloto terjadi pada lereng, yang memiliki jenis material batuan sedimen (breksi, lempung, lanau, pasir) di bagian ba%ah dan batuan volkanik di bagian atas akan mempunyai potensi besar untuk mengalami longsor. !danya infiltrasi air dari permukaan atau rembesan air ke dalam tanah membuat susunan material tersebut mudah menjadi bidang gelin#ir ($ikau, -::B). (enis material longsor di 'iloto dikategorikan sebagai kerakal #ampuran atau debris.

12

Bab # %esim$ulan
)erdasarkan hasil studi pengamatan karakterisitik penyebab tanah longsor pada ka%asan 'iloto, "un#ak, (a%a )arat dengan metode pengamatan G"S geodeti#, didapatkan bah%a longsor yang terjadi disana lebih diakibatkan karena perpindahan pada sumbu verti#al. Ini artinya se#ara umum tipe longsornya adalah rotational. Kemudian jika dilihat dari posisi geografis dan hodrologisnya, ka%asan 'iloto, "un#ak, (a%a )arat ini terletak pada ka%asan dimana aliran air tanah dari daerah yang lebih tinggi itu mengalir. !rtinya 'iloto berada pada >ona lintasan air tanah sehingga menyebabkan kondisi pori tanah bersifat lembab dan mudah sekali mengalami longsor. +ipe longsor yang disebabkan oleh fa#tor air ini disebut dengan "ebris #lo$.

13

Daftar Pustaka
http,KKpoetrafi#.%ordpress.#omK.7-7K7DK.AKfaktor&penyebab&longsorK ($iakses pada tanggal .6& *aret&.7-6 pukul .7.77 9I)) %era S.& dkk. "emanfaatan *etode Geodetik 2ntuk Identifikasi Karakteristik $an +ipe /ongsor."ekan Ilmiah +ahunan III. Surabaya. .77B

1$