Anda di halaman 1dari 4

Peritonitis Generalisata et causa Perforasi Gaster ABSTRAK Diagnosis peritonitis generalisata et causa perforasi gaster ditegakkan berdasarkan anamnesa

dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. Peritonitis dapat terjadi akibat suatu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri. Biasanya orang yang sering mengkonsumsi jamu-jamuan dan obat-obatan jenis NSAID sering mengalami masalah ini. Biasanya terjadi pada orang tua yang berusia 60 tahun ke atas. Pasalnya kondisi lambung mereka yang sudah mulai tipis diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi obat jenis NSAID yang sifatnya merusak lapisan lambung. Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster adalah penanganan secara pembedahan karena kebocoran tersebut harus dicari dan ditutup.

ISI Pasien datang ke IGD RSUD KRT Setjonegoro dengan keluhan nyeri perut mendadak yang sudah dirasakan sejak 2 hari yang lau. Nyeri dirasakan diseluruh lapan perut. Nyeri perut dirasakan terus menerus. Pasien juga mengeluh merasakan pusing cekot-cekot dan mual. Pasien mengaku tidak muntah. Nafsu makan menjadi turun. Ketika malam pasien sering mengeluarkan keringat dingin. Pasien juga sudah 2 hari ini tidak bisa buang air besar dan kentut. Buang air kecil dalam batas normal. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan dibenarkan, pasien mengaku memiliki riwayat minum obat penghilang lelah, dibeli sendiri di toko untuk mengobati kelelahan setelah beraktivitas. kebiasaan minum obat ini sudah dilakukan lebih dari 1 tahun yang lalu dan semakin sering mengkonsumsi dalam 3 bulan terakhir. TD : 181/91, Nadi : 114x/menit, RR : 28x/menit, Suhu :380C.Status lokalis didapatkan defans muscular (+), perkusi timpani dan nyeri ketika dilakukan perkusi, nyeri tekan seluruh lapang pekarut, tak tampak darm contour atau darm steifung

DIAGNOSIS Peritonitis Generalisata et causa Perforasi Gaster

TERAPI - Infus 30 tpm - Pasang DC - NGT - Foto BNO 2 posisi dan Foto Thorax AP/Lat - EKG - Lab lengkap - Puasa - Nifedipin Sublingual

DISKUSI Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. Peritonitis dapat terjadi akibat suatu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri. Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tandatanda rangsangan peritonium. Biasanya diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). 7 Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya, yakni:7 Demam tinggi, atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardia, dehidrasi hingga menjadi hipotensi Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi Bising usus menurun sampai menghilang. Dinding perut akan terasa tegang (defans muskular), biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasi yang menyakitkan, atau bisa pula tegang karena iritasi peritoneum. Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna merupakan suatu kasus kegawatan bedah. Perforasi gaster adalah salah satunya. Cairan dalam lambung yang bersifat asam akan mengganggu dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam perut lain yang sifatnya suci hama. Didalam rongga perut itu terdapat usus halus, usus besar, pancreas, limpa dan organ penting lainnya. Dan mereka (organ dalam perut tersebut) diliputi oleh cairan mucus yang bersih dan steril. Sehingga ketika lambung bocor, udara akan memenuhi rongga perut dan cairan lambung akan membuat rongga perut tidak steril lagi. Secara fisiologis, gaster relatif bebas dari bakteri dan mikroorganisme lainnya karena keasaman yang tinggi. Kebanyakan orang yang mengalami trauma abdominal memiliki fungsi gaster yang normal dan tidak berada pada resiko kontaminasi bakteri yang mengikuti perforasi gaster. Bagaimana pun juga mereka yang memiliki masalah gaster sebelumnya berada pada resiko kontaminasi peritoneal pada perforasi gaster. Kebocoran asam lambung kedalam rongga peritoneum sering menimbulkan peritonitis kimia. Bila kebocoran tidak ditutup dan partikel makanan mengenai rongga peritoneum, peritonitis kimia akan diperparah oleh perkembangan yang bertahap dari peritonitis bakterial. Pasien dapat asimptomatik untuk beberapa jam antara peritonitis kimia awal dan peritonitis bakterial lanjut. Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster adalah penanganan secara pembedahan karena kebocoran tersebut harus dicari dan ditutup. Intervensi bedah hampir selalu dibutuhkan dalam bentuk laparotomi explorasi dan penutupan perforasi dan pencucian pada rongga peritoneum (evacuasi medis). Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine, tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.

KESIMPULAN Diagnosis peritonitis generalisata et causa perforasi gaster pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesa, dimana pasien mengekuh tidak bisa BAB 2 hari, terakhir flatus 2 hari yang lalu, mual (+), muntah (-), perut kembung (+). Yang merupakan ciri khas pada perforasi gaster adalah adanya riwayat sering minum obat anti lelah ketika pasien selesai berktivitas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda yang mendukung diagnosis yaitu peristaltik usus menurun, nyeri tekan (+), defans muscular (+), selanjutnya dilakukan konfirmasi diagosis dengan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologis. Dari foto BNO 2 Posisi didapatkan jumlah udara dalam usus meningkat, free air (+). Udara bebas ini juga merupakan ciri khas adanya perforasi di organ dalam abdomen. Biasanya orang yang sering mengkonsumsi jamujamuan dan obat-obatan jenis NSAID sering mengalami masalah ini. Biasanya terjadi pada orang tua yang berusia 60 tahun ke atas. Pasalnya kondisi lambung mereka yang sudah mulai tipis diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi obat jenis NSAID yang sifatnya merusak lapisan lambung. Cairan dalam lambung yang bersifat asam akan mengganggu dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam perut lain yang sifatnya suci hama. Didalam rongga perut itu terdapat usus halus, usus besar, pancreas, limpa dan organ penting lainnya. Dan mereka (organ dalam perut tersebut) diliputi oleh cairan mucus yang bersih dan steril. Sehingga ketika lambung bocor, udara akan memenuhi rongga perut dan cairan lambung akan membuat rongga perut tidak steril lagi. Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster adalah penanganan secara pembedahan karena kebocoran tersebut harus dicari dan ditutup.

REFERENSI 1. Tim penulis EGC. Kamus kedokteran Dorland. 2002. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2. Tim editor EGC. Buku Ajar Ilmu Bedah De Jong. 2004. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC 3. Kumpulan catatan kuliah, 1997, Radiologi abdomen, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta 4. Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I, 1999, Abdomen Akut, dalam Radiologi Diagnostik, p 256-257, Gaya BARU, Jakarta. 5. Philips Thorek, Surgical Diagnosis, Toronto University of Ill nois College of Medicine, Third edition, 1997, Toronto. 6. Schwartz, Shires, Spencer, Principles of Surgery, Sixth edition, 1989 7. Arief M, Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S, 2000, Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Ed:3; Jilid: 2; p 302-321, Media Aesculapius FKUI, Jakarta 8. Biley, H. Ilmu Bedah Gawat Darurat. 1992. Gadjah Mada Univesity Press 9. http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/anatomi-fungsi-lambung.html 10. http://www.ahlinyalambung.com/?q=content/sebab-sebab-lambung-bocor

PENULIS Arvian Muhammad Barid Bagian Ilmu Bedah RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO