Anda di halaman 1dari 72

Psikolinguistik dan Pembelajaran Bahasa

Abstrak : Kegiatan berbahasa berlangsung secara mekanistik dan mentalistik, artinya kegiatan berbahasa berkaitan dengan proses atau kegiatan mental ( otak ) manusia sehingga study linguistik perlu dilengkapi denagn study antardisiplin antara linguistik dan psikologi yang lazim disebut psikolinguistik. Obyek psikolinguistik adalah bahasa yakni bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa dan ruang lingkup psikolinguistik yakni bahasa dilihat dari aspek aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Hubungan bahasa dan pikiran adalah hubungan timbal balik bahwa bahasa membentuk pikiran dan sebaliknya pikiran membentuk bahasa. Bahasa merupakan medium paling penting bagi semua intekrasi manusia dan dalam banyak hal bahasa dapat disebut sebagai intisari dari fenomena social. Bahasa sebagaimana yang dikatakan oleh ahli sosiologi bahasa, bahwa tanpa adanya bahasa, tidak akan ada kegiatan dalam masyarakat selain dari kegiatan yang didorong oleh naruni saja. Sehingga bahasa merupakan pranata social yang setiap orang menguasai, agar dapat berfungsi dalam daerah yang bersifat kelembagaan dari kehidupan social. Dan bahwa psikolinguistik adalah sebagai sesuatu bidang ilmu yang luas yang turut berperan dalam memberikan berbagai pertimbangan khususnya dalam proses pembelajaran bahasa. Kata kunci :Psikolinguistik , bahasa, pikiran, pembelajaran.

A. PENDAHULUAN
Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya. Sebagai salah satu milik manusia, bahasa selalu muncul dalam segala aspek dan kegiatan manusia. Tidak ada satu kegiatan manusia pun yang tidak disertai dengan kehadiran bahasa. Oleh karena itu, jika orang bertanya apakah bahasa itu, maka jawabannya dapat bermacam-macam sejalan dengan bidang kegiatan tempat bahasa itu digunakan. Jawaban seperti, bahasa adalah alat untuk menyampaikan isi pikiran, bahasa adalah alat untuk berintekrasi, bahasa adalah alat untuk mengekspresikan diri, dan bahasa adalah alat untuk menampung hasil kebudayaan, semuanya dapat diterima. Sebagai alat intekrasi verbal, bahasa dapat dikaji secara internal dan eksternal. Secara internal kajian dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu, mulai dari struktur fonology, morphology, sintaksis, sampai stuktur wacana. Kajian secara eksternal berkaitan dengan hubungan bahasa itu dengan factor-faktor atau hal yang ada diluar bahasa seperti social, psikology, etnis, seni, dan sebagainya. Dewasa ini tuntutan kebutuhan dalam kehidupan telah menyebabkan perlunya dilakukan kajian bersama antara dua disiplin ilmu atau lebih. Kajian antara disiplin ini diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan manusia yang semakin kompleks. Pembelajaran bahasa, sebagai salah satu masalah komplek manusia, selain berkenaan dengan masalah bahasa, juga berkenaan dengan masalah kegiatan berbahasa. Sedangkan kegiatan berbahasa itu bukan hanya berlangsung mekanistik, tetapi juga berlangsung secara mentalistik, artinya kegiatan berbahasa itu berkaitan juga dalam proses atau kegiatan mental ( otak ). Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, study linguistik perlu dilengkapi dengan study antardisiplin antara linguistik dan psikologi. Inilah yang lazim disebut dengan psikolinguistik.[i] Dalam makalah sederhana ini akan dipaparkan tentang pengertian psikolinguistik, obyek dan ruang lingkupnya, subdisiplin ilmu psikolinguistik dan secara gamblang akan diungkapkan juga tentang bagaimana hubungan bahasa dengan pikiran ( otak ) manusia serta kaitan dengan pembelajaran bahasa terutama dalam bahasa asing dan kegagalan pendidikan dan pengajaran. B. PEMBAHASAN

1.Pengertian Psikolinguistik Secara etimologi kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing- masing berdiri sendiri dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun keduanya sama- sama meneliti bahasa sebagai obyek formalnya. Hanya obyek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa sedangkan psikologi mengkaji prilaku berbahasa atau proses berbahasa.[ii] Robert Lado seorang ahli dalam bidang pembelajaran bahasa mengatakan bahwa psikolinguistik adalah pendekatan gabungan melalui psikologi dan linguistik bagi telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian, perubahan bahasa, dan hal-hal yang ada kaitannya dengan itu yang tidak begitu mudah dicapai atau didekati melalui salah satu dari kedua ilmu tersebut secara terpisah atau sendiri-sendiri. Emmon Bach dengan singkat dan tegas mengutarakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara atau pemakai suatu bahasa membentuk atau membangun atau mengerti kalimat bahasa tertentu tersebut.[iii] Paul Fraisse menyatakan bahwa : Psycholinguistics is the study of relations between our needs for expression and communication and the means offered to us by a language learned in ones childrood and later. Psikolinguistik adalah telaah tentang hubungan antara kebutuhan kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjutnya.[iv] Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang jmengucapkan kalimat- kalimat yang didengarkannya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakekat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain psikolinguistik mencoba menerangkan hakekat struktur bahasa dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan pada waktu memahami kalimat-kalimat peneturan itu. Dikaitkan dengan komunikasi, psikolinguistik memusatkan perhatian pada modifikasi pesan selama berlangsungnya komunikasi dalam hubungan dengan ujaran dan penerimaan atau pemahaman ujaran dalam situasi tertentu. Berdasarkan batasan- batasan yang disebutkan diatas, terdapat pandangan sebagai berikut :[v] a. Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak.

b. Psikolinguistik berhubungan langsung dengan proses mengkode dan menafsirkan kode. c. Psikolinguistik sebagai pendekatan d. Psikolinguistik menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa. e. Psikolinguistik membicarakan proses yang terjadi pada pembicara dan pendengar dalam kaitannya dengan bahasa.

2.Obyek Dan Ruang lingkup Psikolinguistik Telah dijelaskan diatas bahwa psikolinguistik sebenarnya gabungan dua disiplin ilmu yakni gabungan linguistik dengan psikologi. Obyek linguistik adalah bahasa dan obyek psikologi adalah gejala jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa obyek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dengan gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologi. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasanya yang digunakan dengan orang yang sedang bergembira. Titik berat psikolinguistik adalah bahasa, dan bukan gejala jiwa. Itu sebabnya dalam batasan- batasan psikolinguistik selalu ditonjolkan proses bahasa yang terjadi pada otak, baik proses yang terjadi diotak pembicara maupun proses yang terjadi diotak pendengar.[vi] Dengan mencoba menganalisis obyek linguistik dan obyek psikologi dan titik berat kajian psikolinguistik, dapat ditarik kesimpulan bahwa ryang lingkup psikolinguistik mencoba memberikan bahasa dilihat dari aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Itu sebabnya topik-topik penting yang menjadi lingkupan psikolinguistik adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran. Akuisisi bahasa Pola tingkah laku berbahasa Asosiasi verbal dan persoalan makna. Proses bahasa pada orang yang abnormal, misalnya anak tuli. Persepsi ujaran dan kognisi. 3. Subdisiplin Psikolinguistik Psikolinguistik telah menjadi bidang ilmu yang sangat luas dan kompleks dan berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik. Diantara subdisiplin psikolinguistik adalah sebagai berikut :[vii] a.Psikolinguistik Teoritis Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses- proses rancangan wacana, dan rancangan intonasi. b. Psikolinguistik Perkembangan Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama maupun pemerolehan bahasa kedua. Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan simantik dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap dan terpadu. c. Psikolinguistik Sosial Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek social bahasa. Bagi suatu manyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan suatu gejala dan identitas social saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan bathin dan nurani yang sukar ditinggalkan. mental manusia

dalam berbahasa. Misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis,

d. Psikolinguistik Pendidikan Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran dalam kemahiran berbahasa, dan pegetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan. e. Psikolinguistik Neurology ( neuropsikolinguistik ) Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa dan otak manusia. Para pakar neurology telah berhasil menganalisis struktur biologis otak serta telah memberi nama pada bagian struktur otak itu. Namun ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk dalam otak itu. f. Psikolinguistik Eksperimen Subdisiplin ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan prilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain. g. Psikolinguistik Terapan Sundisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan enam subdisiplin psikolinguistik diatas kedalam bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termaksuk sub disiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurology,psikistri, komunikasi dan sastra. 4. Induk Disiplin Psikolinguistik Karena nama psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik, maka timbul pertanyaan : apa induk disiplin psikolinguistik itu, linguistik atau psikologi. Beberapa pakar berpendapat, psikolinguistik berinduk pada psikologi karena istilah itu merupakan nama baru dari psikologi bahasa yang telah dikenal pada beberapa waktu sebelumnya. Namun di Amerika Serikat pada umumnya, psikolinguistik dianggap sebagai cabang dari linguistik, meskipun Noam Chomsky, tokoh linguistik transformasi yang terkenal itu, cenderung menempatkan psikolinguistik sebagai cabang psikologi. Di prancis pada tahun enam puluhan, psikolinguistik dikembangkan oleh pakar psikologi. Sedangkan di Inggris psikolinguistik dikembangkan oleh pakar linguistik yang bekerjasama dengan beberapa pakar psikologi dari Inggris dan Amerika Serikat. Di Rusia psikolinguistik telah dikembangkan oleh para pakar linguistik pada Institut Linguistik Moskow. Sebaliknya di Rumania ada kecenderungannya menempatkan psikolinguistik sebagai satu disiplin mandiri, tetapi penerapannya lebih banyak diambil oleh linguistik. Bagaimana di Indonesia? Tampaknya psikolinguistik dikembangkan dibidang linguistik pada fakultas pendidikan bahasa dan belum pada program nono kependidikan bahasa. Psikolinguistik yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa sudah seharusnya diserasikan dengan perkembangan linguistik dan perkembangan psikologi. Untuk itu dituntut adanya penguasaan yang seimbang akan teori psikologi. Lalu yang patut dikembangkan dalam pendidikan bahasa adalah subdisiplin psikolinguistik perkembangan dan psikolinguistik pendidikan.

5. Pokok Bahasan Psikolinguistik Didalam Kurikulum Pendidikan Bahasa pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan mata kuliah psikolinguistik dimasukkan dalam kelompok mata kuliahproses belajar-mengajar, dan bukan pada kelompok mata kuliah linguistik atau kebahasaan. Hal ini karena pokok bahasan dalam psikolinguistik itu erat kaitannya denga kegiatan proses belajar mengajar bahasa itu yang mencakup antara lain masalah berikut antara lain : 1. 2. 3. Apakah sebenarnya bahasa itu? Apakah yang dimiliki oleh seseorang sehingga ia mampu berbahasa? Bahasa itu terdiri dari komponen apa saja? Bagaimana bahasa itu lahir dan mengapa ia harus lahir? Dimanakah bahasa itu berada atau disimpan ? Bagaimana bahasa pertama ( bahasa ibu) diperoleh oleh seorang kanak-kanak? Bagaimana perkembangan penuasaan bahasa itu ? bagaimanakah bahasa kedua itu dipelajari? Bagaimana seseorang bisa menguasai dua tau tiga atau banyak bahasa. 4. 5. 6. 7. 8. Bagaimana proses penyusunan kalimat atau kalimat-kalimat?. Proses apakah yang terjadi didalam otak waktu berbahasa. Bagaimanakah bahasa itu tumbuh dan mati ? bagaimana proses terjadinya sebuah dialek? Bagaimana proses berubahnya suatu dialek menjadi bahasa baru? Bagaimana hubungan bahasa denngan pemikiran ?. bagaimana pengaruh kedwibahasaan atau kemultibahasaan dengan pemikiran dan kecerdasan seseorang? Mengapa seseorang menderita penyakit atau mendapat gangguan berbicara sepert afasia dan bagaimana menyembuhkannya ? Bagaimana bahasa itu harus diajarkan supaya hasilnya baik ? 6. Bahasa Dan Pikiran Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu kemudian ingin menyampaikan hasil pemikiran itu, ia mengunakan alat dalam hal ini bahasa. Langacker mengatakan berfikir adalah aktifitas mental manusia. Aktivitas mental ini akan berlangsung apabila ada stimulus artinya ada sesuatu yang menyebabkan manusia untuk berfikir. Dalam kaitan ini Langacker mengatakan bahwa pikiran dikondisi oleh kategorik linguistik dan pengalaman yang dikodekan dalam wujud konsep kata yang telah tersedia. Seorang sarjana terkenal yang melihat hubungan bahasa dengan pikiran yakni Benjamin Whorf yang bersama-sama dengan Edward Sapir mengemukakan hipotesis yang terkenal dengan nama Hipotesis Whorf-Sapir ( Sapir Whorf Hypouthesis)menyatakan bahwa pandangan dunia suatu masyarakat ditentukan oleh struktur bahasanya.[viii] Adapun tesis Whorf mengenai hubungan antara bahasa dan pikiran mencakup dua hal yakni : 1. 2. Masyarakat linguistik yang berbeda, merasakan dan memahami kenyataan dengancara-cara yang berbeda. Bahasa yang dipakai dalam suatu masyarakat membantu untuk membentuk struktur kognitif para individu pemakai bahasa tersebut. Bahasa dapat memperluas pikiran. Dalam hal seperti ini seseorang harus banyak bergaul dan banyak membaca yang menyebabkan pandangan dan pikirannya bertambah luas. Pergaulan kita dengan para

ilmuwan, kegiatan seseorang banyak membaca pasti akan memperluaskan wawasan dan pikiran tentang banyak hal. Ketika seseorang mendengar pidato atau ceramah tentu banyak istilah atau konsep yang ia dengar. Konsep dan istilah-istilah itu menambah pembendaharaan bahasanya sekaligus memperluas pikirannya. Demikian pula dengan kegiatan membaca, apa yang belum diketahui akan diketahui, bahkan apa yang telah diketahui akan lebih mendalam dan meluas, dengan kata lain pikiran bertambah luas karena aktivitas yang berhubungan dengan bahasa, dengan menguasai banyak bahasa pikiran bertambah luas. Berbeda dengan pendapat Sapir dan Whorf, Jean piaget sarjana Prancis berpendapat bahwa justru pikiranlah yang membentuk bahasa. Tanpa pikiran bahasa tidak akan ada. Pikiranlah yang menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa, bukan sebaliknya.[ix] Menurut teori pertumbuhan kognisi, seorang anak mempelajari segala sesuatu mengenai dunia melalui tindakan-tindakan dari perilakunya kemudian baru melalui bahasa. Piaget yang mengembangkan teori pertumbuhan kognisi menyatakan jika seorang anak dapat menggolong-golongkan sekumpulan benda-benda dengan cara yang berlainan sebelum mereka dapat menggolong-golongkan benda tersebut dengan mengunakan kata-kata yang serupa dengan benda-benda tersebut, maka perkembangan kognisi telah terjadi sebelum dia dapat berbahasa. Biasanya kajian tentang hubungan bahasa dan pikiran dikaitkan dengan tiga nama besar seperti Boas yang dikenal sebagai Bapak anthropology Amerika , Sapir dan Whorf yang terkenal dengan teorinya bahwa cara berfikir seseorang sangat ditentukan oleh struktur bahasa ibunya ( native language ). Teori ini kemudian dikenal sebagaiSapir Whorf Hipothesis ( Hipotesis Sapir Whorf). Ada juga yang menyebutkan sebagaiTeori Relativitas Bahasa. Menurut Boas, Sapir dan Whorf manusia merupakan korban struktur bahasa ibunya ( prisoners of the structure native language ).[x] Sebagai sebuah teori wajar hipotesis Sapir dan Whorf juga mendapatkan sanggahan dari ahli yang lain antara lain : 1. 2. Jika pikiran manusia itu ditentukan oleh bahasa ibunya, bagaimana mungkin orang dari latar belakang yang berbeda-beda, tentu dengan struktur bahasa yang berbeda pula, bisa berkomunikasi. manusia didunia ini umumnya bilingual bahkan ada yang multilingual sejak kecil. Apakah kita bisa mengatakan mereka ini memiliki perangkat pikiran ( thoughat compartment ) yang berbeda karena struktur bahasanya masing-masing?. Tentu saja tidak. 3. Fakta bahwa kategori tertentu tidak ada dalam bahasa itu tidak berarti bahwa penutur asli bahasa itu tidak dapat memahami kategori tersebut. Misalnya system gramatikal yang menandai sumber informasi pada bahasa suku Hopi dapat dijelaskan dalam bahasa Inggris kendati tidak ada dalam sestem gramatikal bahasa Inggris. Akhirnya system gramatikal semua bahasa didunia memilki pola yang secara universal sama, walaupun sekilas tampak beda. Disini kelemahan hipotesis Sapir dan Whorf tampak[xi] Namun demikian, banyak ahli sekarang yang menggunakan hipotesis Sapir dan Whorf ini untuk keperluan study mereka. Terkait dengan hipotesis ini, banyak ahli bahasa yang berpendapat bahwa bahasa dapat mempengaruhi pikiran manusia dan sebaliknya pikiran manusia juga bisa mempengaruhi struktur bahasa. Dengan demikian, pikiran dan bahasa berada dalam hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, tetapi bukan pada hubungan sebab akibat. Uraian berikut barangkali bisa mempertegas kembali hubungan antara bahasa dengan pikiran.

Disemua budaya terdapat hubungan antara pikiran dan budaya. Ketika anak mulai belajar bahasa orang tuanya, mereka juga mulai belajar menyesuaikan diri dengan budaya orang tuanya. Ini yang disebut dengan Proses Inkulturasi. Pada saat ini anak mulai belajar dialek orang tua dan teman bermainnya. Bagi peminat bahasa memahami hubungan antara bahasa dan budaya dan melihat bagaimana keduanya berintekrasi tentu sangat penting. Terkait dengan dialek, para ahli sampai kepada kesepakatan bahwa tidak ada pertanyaan yang begitu menarik pada study linguistik selain sejauh mana bahasa atau dialek mempengaruhi bagaimana seseorang berfikir. Dalam dunia pendidikan, orang berasumsi bahwa bahasa menentukan pikiran seseorang. Bahasa dianggap sebagai factor diterminan yang menentukan lancar tidaknya nalar atau pikiran seseorang. Sedangkan yang lain berasumsi bahwa bahasa hanya mempengaruhi atau tidak menentukan pikiran seseorang. Menurut Vygotsky, ketika anak mulai belajar bahasa pada saat itu pula dia mulai mengembangkan kemampuan mengunggapkan sesuatu yang menghubungkannya dengan proses berfikir yang disebut dengan Inner Speech atau Egocentric Speech. Kita bisa memperhatikan seorang anak sendiri sambil menata permainan disekelilingnya. Ini menunjukkan bahwa pikiran mempengaruhi bahasa anak tersebut. Kemampuan inipun sebenarnya juga dimiliki orang dewasa misalnya ketika sedang menyelesaikan persoalan matematika, dia sambil berfikir, bicara sendiri seolah ada orang disekelilingnya. Disini jelaslah bahwa pikiran yang sedang berlangsung karena mengerjakan soal matematika tersebut berpengaruh pada bentuk ujaran yang diunggapkan. Dari kedua pendapat ini, jika dikolaborasi maka akan menghasilkan suatu pendapat bahwa hubungan antara bahasa dan pikiran adalah hubungan timbal-balik, dimana tidak hanya bahasa yang membentuk atau menentukan pikiran, namun pikiran juga membentuk bahasa. Seseorang memerlukan bahasa untuk mengungkapkan pikiran-pikiran yang ada diotaknya, begitu juga sebaliknya dalam berbahasa diperlukan pikiran sehingga proses berbahasa itu dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian hubungan anrata bahasa dan pola pikiran semakin menarik banyak peminat dari berbagai disiplin ilmu. Jauh sebelumnya tokoh seperti Boas, Sapir danWhorf telah memulai memeloporinya dengan mengajukan teori yang menyangkut masalah hubungan bahasa dan pola piker. Adalah sebuah kewajaran bahwa teorinya kemudian memperoleh teori tandingan dari ahli yang lain. Ini semakin menunjukkan persoalan bahasa dalam kaitannya dengan pola piker penuturnya sangat menarik dan menjadi kajian yang luas bukan hanya bagi ahli bahasa tetapi juga antropologii, psikolog dan ahli pendidikan. Kalaupun belum mencapai kata sepakat yang jelas dari uraian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa perkembangan budaya suatu masyarakat berimplikasi pada perkembangan bahasa masyarakat penuturnya dengan munculnya kosa kata dan pola kalimat yang baru. Perkembangan bahasa juga dipandang menyebabkan perkembangan budaya sebab peristiwa berbahasa dianggap sebagai peristiwa budaya. Karena antara ilmu bahasa ( linguistik ) dan ilmu budaya ( antropologi) jelas tidak bisa dipisahkan . keduanya saling mempengaruhi dalam hubungan saling terkait, bukan hubungan sebab akibat. Penutur bahasa idealnya mengetahui budaya masyarakat pemilik bahasa yang bersangkutan agar tidak terjadi kesalahan komunikasi yang dapat saja menimbulkan kesalahpahaman, ketersinggungan dan bahkan pertengkaran. Sebab berbahasa bukan sekedsar mengucapkan kata yang diatur sedemikian rupa menurut kaidah bahasa atau gramatika.

Tetapi berbahasa menyiratkan keluhuran makna baik makna social maupun cultural dari kata yang diucapkan. 7.Pengetahuan Tentang Ilmu Bahasa. Linguistik ( Latin ; lingua berarti bahasa ) adalah ilmu yang mempergunakan bahasa sebagai obyek study. Anggapan dasarnya adalah bahwa bahasa itu merupakan gejala atau fenomena alam yang berdiri sendiri terlepas dari fenomena yang lain. Karena itu bahasa dapat dipelajari secara tersendiri, tanpa memperhatikan aspek-aspek diluar bahasa. Obyek utama dari linguistik adalah bahasa sedangkan tujuan adalah untuk mengkaji bahasa sebagai bahasa dan untuk bahasa itu sendiri yaitu bagaimana sifat-sifat dan tata cara atau perilaku bahasa itu sendiri. Sebagaimana dikemukakan oleh Kridalaksana (dalam Nikelas, 1988:10), Ilmu pengetahuan itu dikelompokkan kedalam tiga bidang besar yaitu :[xii] 1.Ilmu pengetahuan alam termasuk didalamnya ilmu kimia, biologi, botani, geologi,astronomi, dan sebagainya. 2.Ilmu pengetahuan social budaya yang juga disebut dengan pengetahuan kemanusiaan termasuk didalamnya antropologi, sosiologi, ilmu pengetahuan kesusteraan, ekonomi dan sebagainya. 3.Ilmu pengetahuan formal juga disebut dengan pengetahuan apreori, termasuk didalamnya logika dan matematika. Berdasarkan kelompok pengetahuan tersebut, linguistik dapat dikelompokkan kedalam ilmu social budaya ( humanities), selanjutnya Kridalaksana menjelaskan bahwa sekalipun linguistik merupakan salah satu ilmu social atau kemanusian, namun kedudukannya sebagai ilmu yang atonom maka tidak perlu diragukan lagi, karena linguistik menyelidiki bahasa sebagai data utama. Dan juga, bahwa linguistik sudah mengembangkan seperangkat prosedur yang sudah dianggap standar. Jika kita ingin mempelajari sesuatu obyek, maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan adalah pertama ialah apakah obyek itu ?. dengan perkataan lain orang bertanya tentang apa itu bahasa atau hakekat bahasa itu ?. dengan istilah ilmu itu dikatakanOntology Bahasa. Secara ontology, ilmu bahasa mengkaji berbagai gejala bahasa, dan tali-temali bahasa dengan gejala lain. Wardhaugh (1986: 1) menyebutkan a language is what the members of a particular society speak. Sebelumnya Saussure (1973: 16) mendefinisikan bahasa sebagai .. a system of signs that express ideas. Jadi, pada hakikatnya bahasa adalah lisan. Dengan demikian, bahan kajian primer ilmu bahasa adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulisan merupakan bahan kajian sekunder (Verhaar, 1976: 3). Mengapa bahasa tulisan menjadi sekunder? Para tokoh hermeneutika kontemporer seperti Gadamer memandang bahwa menurut kodratnya bahasa adalah lisan, kemudian disusul bahasa tuli s demi efektivitas dan kelestarian bahasa tutur. Perubahan bahasa dari tutur ke tulis mengandung banyak kelemahan, misalnya kehilangan konteks dan daya ekspresi penuturnya (Rahardjo, 2005: 84). Pertanyaan yang kedua ialah bagaimana orang mempelajari bahasa itu atau menganalisis atau menelaah bahasa itu. Secara ilmiah disebut Epistemologi Bahasa. dalam epistemology bahasa para penganalisis bahasa mencari dan menentukan metode study bahasa. Maka lahirlah metodologi analisis bahasa. Secara alamiah dikatakan dengan Aksiologi Bahasa. Dengan berpedoman pada pengetahuan

akan ontology bahasa, epistemology bahasa dan aksiology bahasa itu barulah orang dapat memulai study tentang bahasa. Sebagai alat utama komunikasi dan interaksi yang hanya dimiliki manusia, bahasa memiliki ciri dan kekhasan sendiri yang berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain, baik dari aspek ontologik, epsitemologik maupun aksiologik. Pemahaman ontologik yang mencakup objek dan wilayah kajian, pemahaman epistemologik yang mencakup cara mengkajinya dan pemahaman aksiologik yang mencakup tujuan dan manfaat kajian penting dikuasai oleh setiap peneliti atau pengkaji bahasa. Kekeliruan penetapan objek dan wilayah kajian akan berakibat sangat fatal; bisa jadi penelitian yang semula dirancang sebagai penelitian bahasa bergeser ke penelitian bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi dan sebagainya. Berdasarkan objek kajiannya, bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Kajian internal bahasa dilakukan terhadap struktur intern bahasa seperti struktur fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan teks atau wacana. Kajian secara internal ini akan menghasilkan perian-perian bahasa itu saja tanpa ada kaitannya dengan masalah lain di luar bahasa dan menggunakan teori dan prosedur yang ada dalam disiplin linguistik saja. Orang menyebutnya sebagai disiplin linguistik murni ( pure linguistics). Karena hanya mencakup wilayah atau objek kajian di dalam bahasa, kajian demikian sering disebut kajian mikrolinguistik (microlinguistics).[xiii] Sebaliknya, kajian secara eksternal berarti kajian itu dilakukan terhadap hal-hal atau faktor-faktor di luar bahasa, tetapi berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya di masyarakat. Pengkajian secara eksternal ini akan menghasilkan rumusan-rumusan atau kaidah-kaidah yang berkenaan dengan kegunaan dan penggunaan bahasa dalam segala kegiatan manusia di masyarakat. Kajian secara ekternal tentu saja tidak saja menggunakan teori dan prosedur linguistik saja, tetapi juga menggunakan teori dan prosedur disiplin lain yang berkaitan dengan disiplin lain seperti sosiologi, psikologi, antropologi dan sejenisnya. Jadi kajian atau penelitian bahasa secara eksternal melibatkan dua disiplin atau lebih, sehingga wujudnya berupa ilmu antar-disiplin (interdisciplinary studies) seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, neurolinguistik, antropolinguistik, etnolinguistik, dan linguistik komputasi. Karena mencakup objek kajian di luar bahasa, kajian demikian lazimnya disebut makrolinguistik (macrolinguistics). 8.Pengajaran Bahasa Pengajaran bahasa disini maksudnya adalah usaha pengajar ( guru, dosen, instruktur ) dan lembaga untuk membantu orang belajar bahasa. Dalam definisi seperti ini yang menjadi pusat perhatian adalah belajar dan semua kegiatan pengajar dan materi pelajaran yang memungkinkan dan membantu kegiatan belajar itu adalah pemudahan ( bahasa inggris: facilitation). Proses dan hasil dari usaha seperti ini oleh banyak orang lebih suka disebut dengan pembelajaran daripada pengajaran. Implikasinya ialah bahwa makin banyak perhatian diberikan pada materi pelajaran dan motivasi pelajar dan makin berkurang pada metode dan teknik mengajar, dalam arti memanipulasi atau mengatur tindakan pelajar secara mekanis. Kalau seseorang belajar, tentu ada yang dipelajarinya. Dalam belajar bahasa, yang dipelajari ialah suatu keterampilan menggunakan unsure-unsur bahasa untuk berkomunikasi. Dalam kurikulum 19 84, pandangan dan dasar pemikiran ini diwujudkan dan diterapkan dalam merakit GBPP, khususnya GBPP Bahasa Indonesia dan GBPP Bahasa Inggris, yang komponen korikulernya terdiri atas dua bagian yaitu

Unsur-Unsur Bahasa Dan Kegiatan Berbahasa dan yang berakitan materinya dan cara penyajiannya mengikuti pendekatan komunikatif. Unsure bahasa yang diberikan ialah: ( 1) lafal dan ejaan, ( 2 ) tata bahasa, ( 3 ) kosakata. Kegiatan berbahasa diberikan ialah ( 1) membaca / pragmatic dan untu bahasa Indonesia saja, apresiasi sastra. Pembelajaran bahasa seperti ini adalah usaha membuat pelajar terampil menggunakan unsure bahasa secara wajar untuk berkomunikasi.[xiv] 9.Psikolinguistik pada pembelajaran Bahasa Bahasa merupakan cirri khas manusia dan hal itu merupakan hal yang komplek dan merupakan obyek study bagi kegiatan ilmu yang bermacam-macam sesuai dengan pandangan ilmuwan yang mempelajarinya. Bagi ahli filsafat, bahasa mungkin merupakan alat untuk berfikir, bagi ahli logika mungkin suatu kalkulus, bagi ahli ilmu jiwa mungkin jendela yang kabur untuk dapat ditembus guna melihat proses berfikir dan ahli untuk bahasa suatu system lambang yang arbitrer. Dengan begitu bahasa juga dapat diselidiki secara berbeda pula misalnya sebagai gejala individu ataupun gejala social. Dalam hal ini yang pertama penyelidikan bahasa itu merupakan bagian dari ilmu jiwa umum, sehingga kategori-kategori deskriptif seperti ingatan, keterampilan dan persepsi dapat dipakai untuk menerangkan tingkah laku yang bersifat kebahasaan maupun non kebahasaan.Sebagai gejala social, bahasa merupakan bagian dari sosiologi umum, sehingga kategori-kategori deskriptif yang dipakai untuk menerangkan bahasa adalah istilah sosiologi pula seperti struktur social kebudayaan, status dan peranan dan sebagainya. Dengan demikian study kebahasaan diwarnai oleh pengaruh dari luar dan inilah yang menimbulkan dorongan agar tercipta adanya otonomi atau kebebasan ilmu bahasa ( IB) dari ilmu yang lain.[xv] Di dalam mempertimbangkan penerapan teori-tiori linguistik dalam pembelajaran bahasa, dimungkinkan teori berasal dari linguistik teoritis dengan aliran yang ada seperti pembelajaran bahasa structural atau tranformasi, mungkin pula dari psikolinguistik maupun sosiolinguistik. Yang terpenting ialah bahwa teori itu dapat dimanfaatkan untuk pembenaran pelaksanaan pembelajaran bahasa. Ilmu bahasa teoritis dengan aliran Ilmu Bahasa ( IBS) misalnya menekankan sifat bahasa yang ada pada dasarnya diucapkan. Bukti diajukan seperti semua manusia itu berbicara, meskipun tidak mengenal tulisannya dan anak belajar berbicara dulu dan baru kemudian belajar membaca dan menulis. Sebagai konsekuensinya, Pembelajaran Bahasa ( PB ) menekankan penguasaan bahasa lisan dalam bahasa asing. Tulisan bahasa tidak diajarkan pada tingkat permulaan dan ditunda sampai murid menguasai bahasa lisannya dengan baik. Sebagai dasar pertimbangan memperkenalkan bahasa dan tulisan dengan waktu yang bersamaanhanyalah menimbulkan kesukaran rangkap karena murid dihadapkan pada dua kesukaran belajar selakigus. Ilmu Bahasa Struktural ( IBS) juga menekankan sifat bahasa yang unik, yang mengandung pengertian bahwa bahasa itu berbeda satu dari yang lain. Implikasinya ialah bahwa orang yang belajar bahasa asing akan menjumpai kesukaran yang terutama disebabkan oleh adanya unsure yang berbeda antara bahasa ibu murid dengan bahasa sasaran. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa ( PB) perlu dilakukan analisis kontrastif antara kedua bahasa untuk identifikasi unsure yang berbeda agar dapat dipersiapkan sebelumnya langkah-langjkah untuk mengatasinya.[xvi] Bahasa terdiri dari dua aspek yakni aspek pengetahuan dan aspek keterampilan, yang keduanya harus diperhatikan dan dikembangkan dalam Pembelajaran Bahasa (PB). Murid yang telah memahami kaidah,

baik itu melalui penjelasan atau bimbingan guru agar murid menemukan sendiri, segera saja diberi kesempatan untuk mengunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Guru tidak dianjurkan untuk banyak berteori mengenai bahasa, karena Pembelajaran Bahasa (PB) lebih ditekankan pada penggunaan bahasa dalam pergaulan antar manusia, mengingat bahasa adalajh juga suatu gejala social. Inilah suatu prinsip yang ditekankan oleh Ilmu Psikolinguistik maupun Sosiolinguistik. Ilmu psikolinguistik mengajarkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi untuk menyampaikan maksud pikiran atau perasaan. Sehingga pembelajaran bahasa hendaknya bukan dimaksudkan agar murid hanya menguasai bahasa itu sebagai suatu sestem belaka yang berdiri sendiri, hingga sampai pada apa yang disebut taraf penguasaan keterampilan memanipulasi bahasa saja. Banyak guru bahasa yang mengeluh bahwa murid yang telah sampai pada taraf penguasaan keterampilan bahasa ( skill getting phase ) yakni mengunakan bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Mungkin ini disebabkan oleh perhatian guru yang terlalu menitik beratkan pada kemampuan murid menghasilkan kalimat yang betul secara gramatikal, sehingga kurang memberi kesempatan pada murid untuk menyatakan kemampuan atau isis hati dengan kalimat yang telah dipelajari itu. Berdasarkan pengalaman ini sebaiknya latihan berkomunikasi diberikan sedini mungkin, bila perlu bersamaan dengan latihan kebahasaan untuk membuat kaliamat yang betul. Munkin sebaiknya guru jangan terlalu bersifat hiper-korek, yang meminta murid menghasilkan kalimat yang betul saja hingga mengorbankan arus komunikasi. Ini pun juga tidak berarti bahwa murid dihadapkan pada situasi yang rumit sehingga titik tolak berkomunikasi, melainkan dipilihkan situasi yang cukup sederhana dan dalam batas kemampuan murid untuk berkomunikasi. Disinilah letak seninya, guru dituntut untuk dapat kreatif dan inovatif dalam menciptakan situasi yang serasi dengan kemampuan murid, agar murid terdorong melatih menggunakan bahasa sasaran sebagai media komunikasi.[xvii] Seseorang belajar bahasa dan dikatakan mampu berbahasa apabila pertamamempunyai pemilikan tentang bahasa tersebut yang oleh Noam Chamsky dikatakan a speakers competence, his knowledge of the language .dan kedua mempunyai kemampuan penggunaan bahasa tersebut yang oleh Noam Chomsky dikatakan his performance, his actual use of the language in concrete situation .[xviii] Adapun pertimbangan penerapan psikolinguistik pada pembelajaran bahasa adalah pada : Kelompok pembuat dan penentu kebijaksanaan bahasa. Selain pertimbangan psikolingusitik juga pertimbangan sosiolinguistik. Kelompok pendidik Guru. Pendidik guru harus dapat memberikan informasi tentang metode dan teknik baru yang efektif dalam pengajaran bahasa. Kelompok guru. Guru akan melihat konsekuensi pengajaran bahasa. Hasil atau konsekuensi ini ditentukan oleh interaksi ( a) guru, ( b) siswa,( c ) metode dan teknik, (d ) materi dan isi pengajaran bahasa. Kelompok penguasaan alat-alat pendidikan khususnya pengajaran bahasa. Dengan kemajuan teknologi, alat Bantu pengajaran pun dikembangkan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah penghasil alat laboratorium bahasa, film bahasa dan lain sebagainya.[xix]

Dengan adanya berbagai pertimbangan diatas, hendaknya dapat kita upayakan bahwa dalam pembelajaran bahasa diperlukan kerjasama berbagai pihak untuk merealisasikan sebuah hasil kongkrit yang mungkin sampai saat ini kurang yakni pertimbangan psikolinguistik sebagai suatu ilmu yang mengajarkan bagaimana penggunaan bahasa itu secara actual dalam berkomunikasi. Dari paparan diatas dapat kita garis bawahi bahwa psikolinguistik sebagai bidang ilmu yang menitikberatkan pada penerapan bahasa secara actual dan komunikasi harus bisa terwujud. Tentunya dengan dukungan berbagai pihak, sebab dalam belajar bahasa asing perlu diberikan asumsi bahwa belajar bahasa asing itu mudah. Dan yang harus kita lakukan adalah menerpkan berbagai metode dan pendekatan yang memungkinkan siswa mudah memahaminya. Satu yang tak dapat kita pungkiri bahwa bahasa merupakan satu bentuk kebiasaan. 10.Kegagalan Pendidikan Dan Pengajaran Sebagai salah satu institusi yang paling bertanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, pendidikan kita tampaknya gagal mengembangkan daya imajinatif peserta didik. Pengajaran bahasa masih sarat dengan muatan struktur yang mengakibatkan anak didik terbiasa berfikir structural. Padahal struktur hanya bagian kecil dari bahasa Sedangkan pengajaran sastra seperti dongeng, drama, roman sejarah dan sejenisnya belum berhasil membangun watak dan jati diri anak didik dan mengembangkan daya kreatifitas mereka. Padahal lewat sastra kita bisa mengasah kemahiran bahasa, melalui dongeng bisa dikembangkan kesadaran bahwa hidup ini tidak mudah dan penuh cobaan dan toh manusia bisa mengatasinya asal memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi. Lewat roman sejarah bisa dikembangkan persoalan kemasyarakatan, sebab roman sejarah bukan hanya memberi informasi tentang peristiwa atau keadaan social, budaya ekonomi tentang peristiwa atau keadaan social budaya ekonomi politik masa lalu, melainkan juga menumbuhkan ikatan bathin suatu bangsa dengan masa lalunya. Sulit diingkari bahwa kegagalan pengajaran bahasa kepada anak didik kita telah melahirkan pemakaipemakai bahasa yang tidak bermatabat, sehingga yang terjadi adalah prilaku berbahasa yang jauh dari nilai estetika karena mengandalkan emosi dan ambisi pribadi. Bahasa menjadi piranti saling hujat dan menjatuhkan sebagaimana kita saksikan pada realitas berbahasa masyarakat kita akhir-akhir ini. Padahal kesatunan, prilaku bahkan tingkat kemajuan kehidupan atau peradaban suatu bangsa terlihat dari bahasanya. Kekayaan kosakata suatu bahasa memperhatikan kemajuan peradaban bangsa pemiliknya. Sementara itu, keteraturan dan ketataasasan kaedah berbahasa kita mengalami persoalan yang cukup serius. Kita dapat mencermati dalam masyarakat betapa kata-kata yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan sangat jelas, tetapi diucapkan dengan salah. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan misalnya psikologi diucapkan saikoloji. Menghadapi realitas pengunaan bahasa demikian, pengajar bahasa memainkan peran sangat penting, bukan saja bagaimana mengajar bahasa sesuai kaidah dan aturan sehingga menghasilan anak didik yang mampu berbahasa dengan baik dan benar tetapi lebih dari itu adalah bagaimana menanamkan gambaran kebangsaan kepada anak didik.Dalam amanatnya pada Kongres Bahasa Indonesia VIII di Jakarta ( 17/10/2003) lalu Mendiknas Prof A Malik Fadjar menyatakan bahwa pengajar bahasa harus kreatif melahirkan karya bagi setiap generasi. Kita harus sadar bahwa bahan dapat melahirkan generasi yang mampu menunjukkan orang-orang berperadaban.[xx]

Mengutip amanat Malik Fadjar, untuk menyongsong kehidupan kedepan yang sangat kompleks dan membangun peradaban bangsa dalam arti luas, serta mengantarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bermakna setidaknya terdapat lima upaya yang harus dilalui oleh para pakar, peminat dan pengajar bahasa adalah 1. 2. 3. 4. 5. Menanamkan dan menumbuhkan keberaksaraan ( literacy) secara fungsional. Menekankan kemampuan berkomunikasi yang baik. Menjalankan pendekatan keilmuan Memainkan peran pemeliharaan terhadap temuan dan kelayakan bahasa. Memainkan peran pemugaran, pemeliharaan dan perbaikan bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang hidup dieraglobalisasi untuk ketahanan nasional. Persoalan bahasa Indonesia sekarang ini tidak bisa dipandang hanya sebagai sebuah symbol kebahasaan semata. Agar memperoleh jawaban akar permasalahan secara komprehensif diperlukan cara pandang linguistik dengan melibatkan analisis multidimensional artinya permasalahan bahasa tidak saja dipandang sebagai persoalan linguistik semata, tetapi juga persoalan social, budaya, dan politik. Sejauh ini perspektif baik ilmu psikolinguistik maupun sosiolinguistik yaitu chaika ( 1982) tampaknya sangat tepat untuk memahami bahwa wajah dunia kebahasaan kita seperti sekarang ini tentu tidak lepas dari kondisi masyarakat kita yang dari aspek social, politik, ekonomi dan budaya memang sedang terpuruk. Dengan gambaran kebahasaan kita saat ini memang sangat sulit untuk menggali otentisitas kebudayaan dan peradaban kita. Wajar pula kija persoalan keindonesiaan kita memang mulai ada yang mengungat. 11. Faktor-Faktor Bagi Keberhasilan Pembelajaran Bahasa Metode dan teknik pengajaran itu bukanlah satu-satunya factor yang menentukan keberhasilan datau kegagalan pengajaran bahasa. Keberhasilan pengajaran bahasa membutuhkan beberapa hal sebagai factor penunjang yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :[xxi] 1. 2. Fasilitas Fisik, salah satu misalnya ruang belajar yang jumlahnya memadai berdasarkan setiap ruang kelas sebaiknya memuat hanya maksimum 30 orang pelajar. Textbook, textbook yang sesuai dengan tujuan dan metode pengajaran, sebaiknya sudah tersedia lengkap sebelum program pengajaran dimulai. Selanjutnya sewaktu-waktu adalah perlu textbooks tersebut ditinjau kembali untuk disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan yang selalu berubah dalam jangka waktu tertentu. 3. Pengajar ( guru ) yang qualified. Pelaksana program pengajaran bahasa adalah para pengajar bahasa yang kwalitasnya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu metode yang sudah dianggap baik. Karena itu pengadaan pengajar yang qualified ( berkelayakan ) mutlak perlu baik melalui program latihan, penataran atau pendidikan khusus, dan sebagainya. 4. Tujuan yang jelas. Betapapun baik dan sempurna sesuatu metode pengajaran yang dipergunakan dan meskipun tersedia tenaga pengajar yang berkelayakan, tetapi apabila tujuan program pengajaran bahasa tidak jelas, maka tidak terjamin hasil dicapai dapat memuaskan. Dari itu tujuan dari program pengajaran bahsa harus digariskan secara jelas dan dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pengajaran bahasa. 5. Lingkungan yang favourable. Pengaruh lingkungan terhadap perasaan dan pemikiran seseorang adalah suatu hal yang tak dapat diingkari, baik itu lingkungan itu berupa pergaulan manusiawi yang dibentuk

oleh sikap mental dan alam pemikiran masyarakat sekeliling prang itu ataupun berupa keadaan tempat dimana ia itu hidup atau belajar. Mengingat hal tersebut lingkungan yang menyenangkan dan membantu merupakan factor yang dapat menunjang keberhasilan pengajaran bahasa. 6. Pengaturan penyelenggaraan yang baik. Pembagian tugas yang baik dan pengaturan waktu yang terkoordinir bagi pelaksanaan masing tugas adalah merupakan factor yang besar pula pengaruhnya sebagai factor penunjang keberhasilan program pengajaran bahasa. Demikianlah beberapa hal; yang patut diutarakan sebagai factor penunjang bagi keberhasilan pelaksanaan pengajaran bahasa, yang sudah tentu pengadaan dan pengaturan factor tersebut sepatutnya mendapat perhatian dari para penyelengga pengajaran bahasa terutama bahasa arab. Apabila pengajaran bahasa arab di Indonesia mencapai hasil yang lebih maju dan lebih memuaskan.

C. PENUTUP
Bahasa dan berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu. Bahasa adalah obyek kajian linguistik, sedangkan berbahasa adalah obyek kajian psikologi. Psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik. Psikolinguistik mencoba menguraikan proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarkannya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Bahasa merupakan kegiatan yang terus menerus dan selalu berkembang. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang sudah selesai. Bahasa merupakan sesuatu kegiatan yang sedang berulang dengan melalui alat bicara untuk menyatakan pikiran. Seorang anak yang lahir mempunyai otak yang dirancang untuk dapat belajar suatu bahasa sehingga mereka dapat diperkenalkan dengan lingkungan sekitar yang sesuai. Ada suatu pendapat yang terkenal, bahwa pandangan dunia suatu masyarakat ditentukan oleh struktur bahasa. Pendapat ini sering kali disebut Hipotesis Whorf.Bahasa bukanlah jubah yang harus mengikuti bentuk pikiran. Bahasa adalah cetakan, wadah pikiran dan akal yang dituangkan. Secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakekat bahasa dan bagaimana struktur itu diperole, digunakan pada waktu bertutur dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam peneturan itu. Kerjasama antara psikologi dan linguistik setelah beberapa lama berlangsung tampaknya belum cukup untuk dapat menerangkan hakekay bahasa seperti tercermin dengan definisi diatas. Bantuan dari ilmuilmu lain yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul, Psikolinguistik : Kajian Teoretik, PT Rineka Cipta, Jakarta , 2003. Chotib, Achmad dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab, Pada Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama,Jakarta, 1976. Dardjowidjojo, Soenjono ,Perkembangan Linguistik Di Indonesia, Arcan, Jakarta, 1985. Daniel, Jos, Parera, Linguistik Edukasional Pendekatan Konsep Dan Teori Pengajaran Bahasa, Erlangga, Jakarta ,1986.

Fuad Effendy Ahmad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab,Misykat, Malang, 2004. Guntur, Herry, Taringan, Psikolinguistik, Angkasa, Bandung, 1986. Kridalaksana, Harimurti, Pengantar Linguistik Umum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1988. Majid, Abdul, Said Ahmad Mansur, Ilmu Al-Lughah An-Nafsi, Jamiah Al-Mulki As-Suudi, Riyadh, 1982. Patede, Mansoer, Aspek-Aspek Linguistik, Nusa indah, Yogyakarta,1990 . , Linguistik Terapan , Nusa Indah, Yogyakarta, 1990. Rahardjo, Mudjia, Lingkup Dan Paradigma Penelitian Bahasa,( Dalam Makalah Semiloka nasional, Feb, 2005. -, Wacana Kebahasaan, Dari Filsafat Hingga Sosial-Politik Cendekia Paramulya, Malang, 2004. , Relung-Relung Bahasa, Bahasa Dalam Wacana Politik Indonesia Komtemporer, Aditya Media, Yogyakarta, 2002. Tatlana, Cazacu Slama, Introducation To Psycholinguistics, The hague- Paris, Mouton, 1973. Yusuf, Tayar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995.

[i] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoretik,( Jakarta ; PT Rineka Cipta, 2003),hal, 1 [ii] Ibid, hal, 5 [iii] Herry Guntur Taringan, Psikolinguistik,( Bandung : Angkasa, 1986 ), hal, 3. [iv] Cazacu Tatlana Slama, Introducation To Psycholinguistics,( The hague- Paris : Mouton, 1973), hal 39. [v] Mansoer Patede, Aspek-Aspek Linguistik,( Yogyakarta : Nusa indah, 1990 ), hal, 13. [vi] Ibid, hal, 18-19. [vii] Abdul Chaer, Ibid,hal, 6-7. [viii] Abdul Majid Said Ahmad Mansur, Ilmu Al-Lughah An-Nafsi ( Riyadh: Jamiah Al-Mulki As-Suudi, 1982), hal 136-137. [ix] Abdul Chaer, Ibid,hal, 54. [x] Mudjia Rahardjo, Relung-Relung Bahasa, Bahasa Dalam Wacana Politik Indonesia Komtemporer,( Yogyakarta; Aditya Media, 2002), hal 44 [xi] Ibid,hal 45.

[xii] Kridalaksana, Harimurti, Pengantar Linguistik Umum,( Yogyakarta; Gajah Mada University Press, 1988), hal, 10 [xiii] Mudjia Rahardjo, Lingkup Dan Paradigma Penelitian Bahasa,( Dalam Makalah Semiloka nasional, Feb, 2005), hal 14 [xiv] Mudjia Rahardjo, Wacana Kebahasaan, Dari Filsafat Hingga Sosial-Politik , ( Malang; Cendekia Paramulya, 2004), hal 60. [xv] Soenjono Dardjowidjojo, Perkembangan Linguistik Di Indonesia,( Jakarta; Arcan, 1985 ), hal, 11 [xvi] Ibid,hal, 12-13. [xvii] Ibid, hal 16-18 [xviii] Jos Daniel Parera, Linguistik Edukasional Pendekatan Konsep Dan Teori Pengajaran Bahasa,( Jakarta ; Erlangga, 1986), hal 21. [xix] Ibid,hal, 133-134. [xx] Mudjia Rahardjo, Wacana Kebahasaan, Dari Filsafat Hingga Sosial-Politik , ( Malang; Cendekia Paramulya, 2004), hal 76. [xxi] Achmad Chotib dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab, Pada Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN, ( Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama ; Jakarta, 1976), hal 2006-2007

HAKIKAT SOSIOLINGUISTIK
HAKIKAT SOSIOLINGUISTIKoleh Diana Mayasari - 12706251068 Pengantar

Manusia dalam kehidupan sehari-hari menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal untuk memenuhi melaksanakan kehidupan yang selaras dengan manusia yang lainnya. pada komunikasi verbal manusia dapat menggunakan bahasa lisan yang diucapkan melalui artikulator, sedangkan vbahasa nonverbal dapat dilakukan melalui mimik dan gesture. Manusia merupakan makhluk hidup yang heterogen di dalamnya ada berbagai bahasa, budaya dan suku serta kelas. Berdasarkan hal tersebut maka mereka juga mempunyai beragam bahasa sebagai wujud dari latar belakang budaya dan lingkungan masyarakat yang berbeda atau bisa juga disebabkan oleh kelas sosial yang berbeda. Keanekaragaman bahasa yang dipengaruhi oleh masyarakat sebagai penutur bahasa merupakan fenomena yang akan dikaji oleh salah satu cabang linguistik yang dikenal dengan sosiolinguistik. Apa itu sosiolinguistik? Banyak ahli yang menyebutkan apa arti dari sosiolinguistik. dari etimologi sosiolinguistik berasal dari dua kata sosio dan linguistik. Sosio berasal dari sosiologi, yakni ilmu yang menelaah bidang sosial yang mengkaji bagaimana masyarakat itu terbentuk, bagaimana manusia beradaptasi, bersosialisasi, dan bagaiamana menyelesaikan berbagai masalah yang timbul dalam masyarakat, sedangkan linguistik diartikan sebagai ilmu bahasa atau kajian yang mengenai bahasa sebagai sasaran utamanya. Penjelasan lain menyebutkan sosio adalah masyarakat dan linguistik mengenai kajian bahasa. Sehingga sosiolinguistik tersebut lahir untuk menjawab berbagai fenomena sosial dan bahasa (Chaer dan Agustina, 2010: 2). Spolsky (2008: 3) mengartikan sosiolinguistik sebagai ranah kajian diantara bahasa dan masyarakat sosial, diantara pengguna bahasa dan struktur sosial dimana penggunaa bahasa itu hidup. Trugill menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah bagian dari linguistik yang berkaiatan dengan bahasa sebagai gejala sosial dan gejala kebudayaan. Implikasi dari pengertian ini menyatakan bahwa bahasa bukan hanya dianggap sebagi gejala sosial melainkan juga gejala kebudayaan (Sumarsono dan Partana, 2004: 3-4). Hal ini dikarenakan disamping masyarakat memiliki bahasa juga tak lepasdari budaya yang diciptakannya. Dengan demikian, sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji tiga aspek, yakni bahasa, masyarakat, dan bahasa yang dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak terlepas dari budaya dan nilai-nilai kemasyarakatan. Bagaimanakah hubungan sosiolinguistik dengan cabang ilmu lain?

a. Sosiolinguistik dengan Linguistik Umum

Sosiolinguistik merupakan ilmu yang mengkaji linguistik yang dihubungkan dengan faktor sosiologi. Dengan demikian, sosiolinguistik tidak meninggalkan linguistik. Apa yang dikaji dalam linguistik dijadikan dasar bagi sosiolinguistik untuk menunjukkan perbedaan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan faktor sosial. Apa yang dikaji dalam linguistik, meliputi apa yang ditelaah De Saussure, kaum Bloomfieldien (Bloomfield, Charles Fries, dan Hocket) serta kaum Neo Bloomfieldien dengan deep structure dan surface structurenya, dipandang oleh sosiolinguis sebagai bentuk bahasa dasar yang ketika dikaitkan dengan pemakai dan pemakaian bahasa akan mengalami perubahan dan perbedaan.

Kajian mengenai fonologi, morfologi, struktur kalimat, dan semantik leksikal dalam linguistik dipakai oleh sosiolinguistik untuk mengungkap struktur bahasa yang digunakan oleh tiap-tiap kelompok tutur sesuai dengan konteksnya. Karenanya, tidaklah mungkin seorang sosiolinguis dapat mengkaji bahasa dengan tanpa dilandasi pengetahuan mengenai linguistik murni itu. Sosiolinguistik mengkaji wujud bahasa yang beragam karena dipengaruhi oleh faktor di luar bahasa (sosial), yang dengan demikian makna sebuah tuturan juga ditentukan oleh faktor di luar bahasa. Untuk dapat mengungkap wujud dan makna bahasa sangat diperlukan pengetahuan tentang linguistik murni (struktur bahasa), supaya kajian yang di lakukan dengan dasar sosiolinguistik tidak meninggalkan objek bahasa itu sendiri (Sumarsono dan Partana, 2004: 7-9). b. Sosiolinguistik dengan Dialektologi

Dialektologi merupakan ilmu yang mempelajari variasi bahasa atau berbagai dialek bahasa yang tersebar di berbagai wilayah dengan tujuan mencari hubungan kekerabatan. Dialektologi memeiliki persamaan dengan sosiolinguistik. hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sumarsono dan Partana (2004: 9-11) bahwa persamaan tersebut terletak pada penggunaan metode dalam penelitian keduanya sama-sama menggunakan metode komparatif. Sedangkan segi perbedannya, sosiolinguitik menelaah tentang pergeseran bahasa, variasi bahasa, dengan menitikberatkan pada batas-batas kemasyarakatan (usia, jenis kelamin, status sosial, lapisan sosial dan sebagainya) bukan atas dasar batas-batas regional, objek dialektologi yang menelaah asal muasal bahasa atau hanya berfokus pada dialek regional yang didasarkan atas batas-batas wilayah alam. c. Sosiolinguistik dengan Retorika

Retorika diartikan sebagai kajian tentang tutur terpilih (slected speech), seperti gaya bahasa (style). Dalam hal ini kaitan antara sosiolinguistik dan retorika penutur dalam memilihstyle tidak hanya dilihat dari apa yang ingin dikatakan atau bentuk bentuk bahasa yang ingin dikeluarkan (seperti yang dikaji retorika) tapi juga dengan siapa ia akan bertutur pada situasi apa serta atau harus memperhatikan konteks pertuturan . Selain itu kesejajaran diantara keduanya adalah variasi bahasa sebagai objek studi keduanya. Namun, pada dimensi sosiolinguistik tidak hanya mengkaji bentuk-bentuk bahasa yang terpilih saja namun dikaitkan dengan faktor yang menyebabkan munculnya bentuk bahasa tersebut. Hal ini bisa dikaitkan dengan komponen tutur yang disampaikan oleh Hymes dalam akronim SPEAKING d. Sosiolinguistik dengan Psikologi

Hubungan Sosiolinguistik dengan Psikologi Pada masa Chomsky, linguistik mulai dikaitkan dengan psikologi dan dipandang sebagai ilmu yang tidak independen. Lebih jauh Chomsky mengatakan (1974) bahwa linguistik bukanlah ilmu yang berdiri sendiri. Linguistik merupakan bagian dari psikologi dalam cara berpikir manusia. Chomsky melihat bahasa sebagai dua unsur yang bersatu, yakni competence dan performance. Competence merupakan unsur dalam bahasa (deep structure) dan menempatkan bahasa dari segi kejiwaan penutur, sedangkan competence merupakan unsur yang terlihat dari parole (Brown, 2007: 12 ).

Dengan demikian, Chomsky memandang bahwa bahasa bukanlah gejala tunggal, namun dipengaruhi oleh faktor kejiwaan penuturnya. Apa yang dikemukakan Chomsky tentang struktur dalam dan struktur luar digunakan oleh sosiolinguistik sebagai pedoman bahwa tuturan yang nampak sebenarnya hanyalah perwujudan dari segi kejiwaan penuturnya. Lebih lanjut sosiolinguistik membuka diri untuk menelaah perbedaan bentuk tuturan itu. Kaitan antara competence dan performance terlihat dari penggunaan bahasa penutur. Orang dikatakan mempunyai kompetensi dan performansi yang baik apabila dapat menggunakan berbagai variasi bahasa sesuai dengan situasi. Orang yang berperformansi baik tentulah memiliki kompetensi yang baik, dan memungkinkan penggunaan kode luas ( elaborated code). Sebaliknya, orang yang kompetensinya rendah, akan muncul kode terbatas (restricted code). Dalam psikologi perkembangan terdapat fase perkembangan. mulai menangis (tangis bertujuan: lapar, dingin, takut), tengkurap, duduk, merangkak, dan berjalan. Kesemuanya diikuti atau sejalan dengan perkembangan kebahasaannya (Mackey (1965) melalui Iskandarwassid dan Sunendar (2010: 85). Dalam sosiolinguistik, hal ini diadopsi sebagai variasi bahasa dilihat dari segi usia penutur, (orang mempelajari bahasa sesuai dengan tingkat perkembangannya). Karenanya dikenal juga variasi bahasa remaja dan manula. Dari sudut psikologi, laki-laki memiliki kejiwaan yang secara umum berbeda dengan wanita. Karenanya, apa yang mereka tuturkan juga tidak sama. Sosiolinguistik mentransfer konsep ini, sehingga muncullah istilah variasi bahasa berdasarkan genus atau jenis kelamin (Bahasa dan Jenis Kelamin, Sumarsono dan Partana, 2004: 97-130). e. Sosiolinguistik dengan sosiologi

Sumarsono dan Partana (2004: 5-7) mengemukkan persamaan sosiolingguistik dengan sosiologi sebagai berikut. 1. Sosiolinguistik memerlukan data atau subjek lebih dari satu orang individu. 2. Menggunakan metode kuantitaif dengan teknik sampling random atau acak 3. Menggunakan metode wawancara, rekaman, dan pengumpulan dokumen 4. Pengolahan data menggunakan metode deskriptif. 5. Keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme (timbal balik) sebagai berikut. a. Data sosiolinguistik yang memberikan ciri-ciri kehidupan sosial, menjadi barometer untuk sosiologi.

b. Aspek sikap berbahasa mempengaruhi budaya material dan spiritual suatu Masyarakat. c. Bahasa yang diteliti secara sosiolinguistik adalah alat utama dari perkembanagan penegetahuan mengenai sosiologi.

Dengan kata lain, sosiolinguistik membantu sosiologi dalam mengklasifikasi strata sosial, seperti yang ditunjukkan oleh Labov dalam penelitiannya mengenai tuturan [r] dalam masyarakat Amerika dalam tingkat sosial yang berbeda.

f.

Sosiolinguistik dengan Antropologi Antropologi merupakan kajian mengenai masyarakat, seperti asal usul budaya, adat istiadat, dan kepercayaan. Antropologi memandang bahwa budaya yang dimiliki masyarakat memiliki kaitan dengan bahasa. Jika kita menengok linguistik bandingan historis yang di dalamnya mengkaji asal usul bahasa menyebutkan bahwa suatu daerah yang mempunyai persamaan bahasa pasti memiliki kesamaan budaya atau terletak dalam daerah yang tidak saling berjauhan. Misalnya antara Indonesia dengan Malaysia yang mempunyai bahasa yang sama, yakni bahasa melayu austronesia. Sosiolinguistik mengkaji ulang apa yang ditemukan oleh antropologi adanya kaitan antara budaya dan bahasa. Sehingga muncullah berbagai pandangan yang juga mempengaruhi penggunaan bahasa seperti hipotesis Saphir-Whorf. Kemudian melalui budaya yang dikaji oleh antropologi akan diketahui sistem kekerabatan yang kemudian diambil alih oleh sosiolinguistik dalam kaitannya dengan terms of addres atau kata sapaan. Selain itu, antropologi juga memberikan pengetahuan yang cukup bagaimana seorang penutur dari daerah lain berkomunikasi dengan warga yang berasal dari daerah yang berbeda. Hal tersebut merupakan kajian sosiolinguistik (Sumarsono dan Partana, 2004: 1314).

g. Sosiolinguistik dengan Pragmatik

Pragmatik merupakan kajian penggunaan bahasa yang dihubungkan dnegan konteks, yakni topik pembicaraan, tujuan, tempat dan sarana yang digunakan. Fakta ini digunakan oleh sosiolinguistik dalam menelaah variasi bahasa atau ragam bahasa. Jika pragmatik melihat tuturan dengan konteks, sosiolinguistik juga meilihat peristiwa tutur dengan mempertimbangkan konteks namun dilihat dari sisi yang berbeda. Konteks yang ada di dalam sosiolinguistik berkaitan dengan jenis kelamin, usia, pendidikan, dan kelas sosial pengguna bahasa yang nantinya akan muncul slang, jargon dan register sedangkan pragmatik melihat konteks dari tempat, tujuan dan penutur. Meskipun demikian, keduanya harus memiliki dasar pengetahuan bersama common ground untuk memiliki pemahaman yang sebenarnya.

Penutup

Berdasarkan pemaparan yang telah diberikan dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang mengkaji fenomena sosial berkaitan antara bahasa dan pengguna bahasa. Selain itu sosiolinguistik juga memiliki kaitan dengan cabang ilmu lainnya seperti sosiologi, dialektologi, psikologi, retorika, linguistik umum, antropologi dan pragmatik serta masih banyak hubungan dengan cabang ilmu yang lainnya yang dapat memperkaya kajian sosiolinguistik serta dapat memperkaya ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan tentang bahasa.

Daftar Pustaka
Brown. Douglas. 2008: Prinsip Pembelajaran Dan Pengajaran Bahasa Edisi Kelima. Jakarta. Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Iskandarwassid dan Sunendar, Dadang. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Spolsky, Bernard. 2008. Sosiolinguistics. New York: Oxford University Press. Sumarsono dan Partana, Paina. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Nilai Praktis Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa oleh Diana Mayasari S. Pd 12706251068 Pendahuluan Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi, sarana untuk mengekspresikan diri, dan merupakan bagian yang erat dari budaya serta nilai-nilai masyarakat penuturnya, yakni masyarakat bahasa. Bahasa mengalami berbagai fenomena sebagai bentuk keberadaan bahasa tersebut. Adanya berbagai budaya, suku, etnis, pendidikan, gender dan perpindahan yang ada di Indonesia merupakan salah satu sebab munculnya fenomena-fenomena bahasa. Seiring perkembangan zaman fenomena bahasa telah banyak dikaji oleh para ilmuan. Berdasarkan pengkajian tersebut melahirkan berbagai cabang-cabang ilmu bahasa sepertisosiolinguistik, psikolinguistik, neurolinguistik, antropolinguistik, dan lain sebagainya. Penelitian feneomena bahasa turut mewarnai pembentukan tujuan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum bahasa. Seperti yang diungkapkan Siahaan (1987: 5) kurikulum bahasa sebagai sarana terwujudnya tujuan pendidikan dipengaruhi banyak faktor, seperti politik bahasa, tradisi pengajaran, teori-teori pengajaran bahasa, kemudian hasil-hasil penelitian dalam kebahasaan yang menjadi dasar keilmuannya. Di samping itu tujuan penelitian bahasa di Indonesia dapat diarahkan kepada dua sasaran, yakni untuk kepentingan ilmu pengetahuan bahasa atau linguistik dan untuk kepentingan pengajaran bahasa Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Parera (1986: 9) bahwa penelitian bahasa dapat dipergunakan untuk mempersiapkan materi pengajaran, memperbarui metode mengajar, menambah pengetahuan tentang bahasa, dan melakukan analisis evaluasi tentang pengajaran dan pelajaran bahasa. Berbicara mengenai pengajaran bahasa maka tidak lepas dari apa yang disebut linguistik terapan (applied linguistic). Sosiolinguistik dapat dikatakan sebagai linguistik

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

terapan. Hal ini dikarenakan kajian sosiolinguistik tidak hanya dari struktur intern saja melainkan telaah dari struktur ekstern. Salah satu diantaranya digunakan sebagai landasan pengembangan praktis pengajaran bahasa. Kaitan antara sosiolinguistik, linguistik terapan, dan pengajaran bahasa akan diulas dalam tulisan ini. Berdasarkan latar belakang tersebut maka ulasan ini diberi judul Nilai Praktis Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa. Sekilas Mengenai Sosiolinguistik Sosiolinguistik menelaah bahasa yang dipengaruhi oleh masyarakat. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Spolsky (2010: 1) yang menyebutkan bahwa sosiolinguistik adalah bidangyang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat sosial, antara penggunaan bahasa dan struktur sosial di mana pengguna bahasa hidup. Kelebihan sosiolinguistik terletak pada masalah-maslah yang ditelaah dalam kajian tersebut. Tujuh dimensi sosiolinguistik yang dipaparkan Chaer dan Agustina (2010: 5) telah dirumuskan pada tahun 1964, di University of California, Los Angeles sebagai masalah yang dibicarakan dalam sosiolinguistik. Berikut uraian dari ketujuh dimensi tersebut. Identitas sosial dari penutur. Identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi. Analisis singkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial. Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran. Tingkatan variasi dan ragam linguistik, dan Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik. Salah satu dari beberapa dimensi tersebut yang dipilih oleh penulis untuk ditelaah adalahpenerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik . Dimensi masalah ini membicarakan kegunaan dari penelitian sosiolinguistik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat. Hal ini senada dengan pendapat Chaer dan Agustina (2010: 6) yang menyebutkan bahwa pengajaran bahasa, pembakuan bahasa, penerjemahan, mengatasi konflik sosial akibat konflik bahasa merupakan aplikasi praktis dari penelitian sosiolinguistik . Penerapan praktis penelitian sosiolinguisik dalan pengajaran bahasa adalah pokok permasalahan yang ditekankan dalam ulasan ini. Nilai Praktis Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa

Pembelajaran bahasa tidak dapat berlangsung dengan baik tanpa memanfaatkan jasa ilmu-ilmu lain yang relevan dengannya seperti: psikologi, pedagogik, sosiologi, antropologi, manajemen, sosiolinguistik, psikolinguistik dan linguistik. Mengutip pemaparan Parera (1986: 1) bahwa linguistik mengajarakan teori-teori penganalisisan dan pendeskripsian bahasa sebagai satu objek studi yang mengajarakn komponen-komponen kebahasaan dan teknik-teknik pendeskripsian bahasa. Selain itusosiolinguistik mengajarkan bagaimana penggunaan bahasa itu secara aktual dalam komunikasi khususnya dalam pengajaran. Dengan demikian pengajaran bahasa memiliki kaitan yang erat dengan sosiolingusitik. Jika dilihat dari sudut objek kajian pengajaran bahasa erat sekali hubungnnya dengan linguistik, akan tetapi bila dilihat dari beberapa sudut yang lain keduanya menunjukkan beberapa titik perbedaan terutama jika ditinjau dari segi tujuan, metode dan sikap. Titik perbedaan itu terlihat dari uraian Kaseng (1989: 2) sebagai berikut. 1. Tujuan, linguistik bertujuan menemukan kriteria atau teori universal yang akan menerangkan fenomena bahasa, sedangkan guru bahasa bertujuan membantu murid menguasai bahasadengan materi yang diberikan melalui pengajaran.

2.

Metode linguistik menggunakan metode formal dan abstrak, sedangkan guru bahasa menggunakan metode fungsional dan praktis, seperti pendekatan komunikatif, pendekatan koordinatif dan lain sebagainya. Sikap, linguistik melihat bahasa sebagai suatu sistem sedangkan guru bahasa melilhat bahasa sebagai suatu keterampilan, baik itu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan adanya dua tendensi yang bersifat saling menjauhi antara dua hal yang kelihatan berbeda, tapi sangat bermanfaat untuk didekatkan terasa penting hadirnya cabang ilmu yang dikenal dengan nama linguistik terapan ( applied Linguistic). Linguistik terapan berusaha menjembatani dua pandangan yang ada antara teoretis dan praktis yang disebabkan oleh perbedaan sikap, metode dan tujuan kedua kelompok tersebut. Secara umum yang dimaksud dengan ilmu terapan adalah pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk merencanakan dan membuat desain bagi kegiatan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari (Parera,1987:10). Jika dikatakan sosiolinguistik sebagai ilmu linguistik terapan, maka terapan yang dimaksud di sini memiliki arti pemanfaatan ilmu sosiolinguistik untuk kepentingan proses pengajaran bahasa. Pengajaran bahasa pada suatu negara atau suatu daerah merupakan suatu keputusan politik, ekonomi dan sosial. Ini yang disebut kebijakan pengajaran bahasa. Apabila secara politis telah ditentukan, bahasa apa yang harus diajarkan, dan kepada siapa bahasa itu harus diajarkan, maka langkah selanjutnya adalah bahan apa yang harus diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Parera (1986: 11) yang menjelaskan kebijakan pengajaran bahasa melalui bagan berikut.

3.

Keterangan: M= metode dan variabel-variabel bahan T= variabel guru: apa yang dibuat oleh guru I= variabel instruksi: apa yang diperoleh pelajar S= variabel sosiokultural: apa dan bagaimana sikap lingkungan L= variabel pengajar: apa yang dilakukan oleh pelajar. Lalu dimanakah fungsi sosiolinguistik dalam pengajaran bahasa? Para ahli bahasa tidak menjamin bahwa penemuan teoritis mereka akan berguna dalam pengajaran bahasa. Hal ini tercermin dari kontroversi pendapat mereka tentang peranan teori linguistik dalam pembelajaran bahasa. Ada dua kubu yang saling bertentangan. Yang pertama kontra dengan pendapat yang mengatakan bahwa teori mempunyai peranan dalam pengajaran bahasa. Pendapat ini dipeloporiRobert Stokwell dan Sol saporta sedangkan yang kedua pro bahwa teori linguistik mempunyai peranan penting dalam pengajaran bahasa tokohnya adalah S.Pit Corder ( melalui Wahab, 1998: 112-114) Beralih dari kontroversi ini melalui berbagai kajian menunjukkan bahwa sumber yang paling kuat dan tepat untuk menentukan silabus pembelajaran bahasa adalah linguistik baik sebagai ilmu murni ataupun terapan. Melalui kajian ini penulis mendukung bahwa teori linguistik mempunyai peranan penting dalam pengajaran bahasa. Berawal dari sinilah akan diketahui nilai praktis seperti apa yang akan diberikan sosiolinguistik. Kita bisa melihat kontribusi sosiolinguistik dalam pembelajaran bahasa melalui aplikasi linguistik, yakni bagaimana sumbangan sosiolinguistik dalam menentukan bahan pembelajaran, silabus dan pelaksanaan pengajaran bahasa. Merujuk pendapatParera (1989:11-13) bahwa terdapat tiga tahap aplikasi linguistik berkaitan kontribusi linguistik dalam pengajaran bahasa sebagai berikut. Tahap aplikasi pertama adalah tahap deskripsi linguistik . Tahapan ini memberi jawaban atas pertanyaan general tentang hakekat bahasa yang diajarkan. Tahapan ini tidak menjawab tentang apa yang akan diajarkan atau bagaimana suatu bahan akan disusun. Hal ini dikarenakan sumbangan atau kontribusi linguistik kepada pengajaran bahasa bersifat tidak langsung linguistik hanya memberikan sumbangan tersebut berupa bahan begitu juga sosiolinguistik. Gambaran dari aplikasi tahap pertama ini terlihat dalam bagan berikut.

Tahap aplikasi kedua berhubungan dengan soal isi silabus . Kita tidak akan mengajarkan keseluruhan bahasa. Dalam tahapan ini kita akan melakukan desain hasil. Untuk itu akan dilakukan pemilihan bahan. Kriteria pemilihan bahan pembelajaran bisa bermacammacampandangan Misalnya saja, manfaat bagi pembelajar, apa yang diperlukan pembelajar dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan bahasa yang akan dipelajarinya, perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa yang akan dipelajarinya, kesulitan apa yang dihadapi oleh pembelajar bahasa asing pada umumnya, variasi dialek perbandingan interlingual, dan perbedaan antara dua bahasa, sepertiantara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahasa Indonesia dengan bahasa Arab dan sebagainya (lebih luas lagi baca Richards, 2002: 5189). Pemilihan bahan ini sangat erat sekali dengan aplikasi kajian sosiolinguistik terutama jika bahan pembelajaran ingin menyiapkan bagi pembelajar asing, seluk-beluk variasi dialek perbandingan interlingual dan perbandingan antara dua bahasa. Aplikasi tahapan kedua ini tergambar dalam bagan berikut.

Tahap aplikasi ketiga merupakan tahap kegiatan pembelajaran bahasa karena pada tahapkedua belum bisa membuat silabus yang lengkap dan utuh tentang bahasa, maka

kaidah-kaidah penyusunan silabus ini harus memperhatikan faktor linguistik, psikolinguistik maupun sosiolinguistiksebagai bahan pengajaran dan pendekatan proses belajar mengajar. Gambaran aplikasi ketiga bisa dilihat dalam bagan berikut.

Penutup Berdasarkan uraian di atas kontribusi sosiolinguistik dalam pengajaran bahasa memiliki nilai praktis yang cukup signifikan terutama dalam memberikan informasi tentang hakekat bahasa danpemilihan bahan ajar yang sesuai dengan konteks kemasyarakatan, kondisi sosial pembelajar bahasa, mengenai apa yang diajarkan, kapan, berapa lama materi tersebut diajarkan, pembuatan silabus, dan kegiatan pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, tenaga pendidik, disarankanmemahami kajian teori lingustik terutama ilmu-ilmu murni dan linguistik terapan. Selain itu, juga memperdalam sosiolinguistik mengingat bahwa bahasa tidak bisa lepas dari gejala dan fenomena sosial yang dalam hal pendidikan pengajar bahasa perlu memahami tingkat sosial kebahasaan padasiswa dan lingkungan tempat proses pembelajaran dan pemerolehan bahasa siswa.

DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan: Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Parera, Jis Daniel. 1986. Linguistik Edukasional : Pendekatan Konsep dan Teori Pengajaran Bahasa. Jakarta: Erlangga. Spolsky. Bernard. 2010. Sosiolinguistics. New York: Oxford University Press. Wahab, Abdul. 1998. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press

PSIKOLINGUISTIK DAN SOSIOLINGUISTIK DALAM PENGAJARAN BAHASA Pengajaran Sajak de Saussure membuat tanggapan dan pencerapan bagi menjalankan pengkajian bahasa dari segi struktur bentuk, maka linguistik berkembang dengan majunya. Bidang linguistik berkembang dengan begitu pesat dalam kurun ke-20 ini. Ini bermakna kajian linguistik telah lama bermula. Sejak manusia mula berasa kagum terhadap bahasanya, mereka telah mula mengkaji dan mempelajari bahasa mereka itu. Manusia mula belajar mengkaji bahasanya kerana keperluan untuk menguasainya. Oleh itu, Panini, seorang ahli agama Hindu, telah mula mempelajari bahasa Sanskrit sejak 3000 tahun dahulu demik kepentingan mengekalkan sebutan dan bacaan yang tepat bagi kitab suci Veda. Hasil kajian dan pengamatan itu masih dimanfaati oleh masyarakat Hindu hingga ke hari ini. Sarjana Yunani juga demikian, mereka berusaha menggolongkan kata-kata mengikut sifat benda-benda di dunia. Sehingga hari ini pun, penggolongan kata yang dibuat oleh orang Yunani itu seperti nama, perbuatan, sifat, sendi, dan seruan, masih kita pakai. Begitu juga Al-Khalil dalam kurun ke-7 M telah mengkaji bunyi-bunyi al-Quran yang tersusun pada zaman itu dapat dibakukan sistem sebutan dan ejaannya sehingga bacaannya masih kekal tidak berubah hingga sekarang. Daripada apa yang saya perkatakan ini terlihat bagaimana linguistik am: fonologi, morfologi sintaksis, semantik, danleksikografi berhubung rapat dengan pembelajaran dan pengajaran bahasa. Pendek kata tanpa deskripsi dari segi linguistik, maka sukarlah sesuatu bahasa itu diajarkan secara formal. Hasil kajian linguistik am terhadap bahasa itu dapat menjadi bahan penting dalam pengajaran bahasa. Sengaja saya gunakan di sini istilah pengajaran bahasa kerana istilah pembelajaran mencakupi pengertian lain. Bidang pembelajaran mencakupi bidang psikologi, iaitu cara bahasadiperoleh dan dipelajari. Aspek ini lebih lazim dikenali sebagai psikolinguistik. Memang psikolinguistik danlinguistik gunaan terlibat dalam pengajaran bahasa, dan bidang-bidang ini telah begitu berkembang dan penting sehingga setiap satunya menjadi bidang sendiri pula. Dalam bab ini, saya membincangkan implikasi teori-teori tertentu dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa.

Kaedah Pengajaran Bahasa Zaman Yunani Mungkin manusia telah mula belajar bahasa selain daripada bahasa kandungnya sejak mereka mula berasa perlu untuk berhubung antara satu sama lain. Tidak syak lagi bahawa ahli-ahli pelayaran, ketua-ketua angkatan perang yang menakluki negara-negara lain, telah mempelajari bahasabahasa lain untuk memudahkan kerja mereka. Agaknya sukar untuk kita menentukan corak kaedah yang mereka gunakan. Satu caranya ialah kita dapat membuat andaian tentang hal ini dengan melihat cara orang Zaman Pertengahan mempelajari bahasa. sebenarnya perkembangan dalam pembelajaran bahasa semenjak zaman Yunani sehinggalah kurun ke-20 ini tidaklah banyak berubah. Apabila pertembungan antara manusia menjadi lebih rapat akibat sistem perhubungan antara manusia menjadi lebih rapat akibat sistem perhubungan antara manusia menjadi lebih rapat akibat sistem perhubungan antara manusia menjadi lebih rapat akibat sistem perhubungan yang merapatkan negara-negara, maka pembelajaran bahasa memerlukan kaedah yang lebih berkesan dan boleh menimbulkan hasil yang baik dalam masa yang lebih singkat. Sebelum itu, perkembangannya amat perlahan. Sebenarnya pembelajaran bahasa sehingga itu, hanyalah bergantung pada kaedah terjemahan; samalah sebagaimana orang mempelajari bahasa Latin pada masa dahulu. Dalam kaedah ini, terjemahan memainkan peranan yang amat penting. Bahan-bahan pengajaran mereka hanyalah terbentuk daripada bahan terjemahan semata-mata. Dalam bahagian tatabahasa pula, unsurunsur tersebut selalu diajarkan secara formal. Tatabahasa yang diajarkan itu biasanya menggunakan kerangka dan unsur-unsur tatabahasa Latin yang disesuaikan di sana sini kepada bahasa yang diajarkan. Dalam mempelajari bahasa Malaysia, kita juga sentiasa dipengaruhi oleh unsur-unsur dan keadaan ini. Buku yang dikarang untuk mengajar bahasa Melayu yang dihasilkan oleh Swettenham (1886), Maxwell (1882), Winstedt (1927), dan Zaba (1965) sendiri, terang-terang didasarkan kepada tatabahasa bahasa Inggeris yang sebenarnya disadur daripada tatabahasa bahasa Latin. Zaba pula menerima unsur-unsur bahasa Arab. Umpamanya deskripsi jenis kata-katanya masih lagi mengikut golongan katakata Yunani, seperti yang ditiru oleh Latin kerana Zaba menerima adanya kata-kata jenis nama, perbuatan, sifat, sendi, dan seruan.Swettenham pula membincangkan unsur kala seolah-olah bahasa Melayu itu adalah suatu bahasa yang mempergunakan kala seperti bahasa Inggeris. Begitu juga Winstedt menyebut unsur bilangan Zaba (1940/1965) pula tidak sunyi daripada masalah demikian. Dalam bukunyaPelita Bahasa Melayu I, Zaba

mengatakan bahawa huruf menghasilkan bunyi. Ini tidak berbeza daripada pendapat Yunani 2000 tahun dahulu, dan konsep ini masih belum berubah dalam buku Zaba. Seperti yang saya katakan tadi, proses pembelajaran bahasa ini berubah dengan pesat dalam kurun ke-20 ini. Hal ini telah berlaku kerana beberapa faktor. Negara-negara mula berhubung antara satu dengan lain dan memerlukan pembelajaran bahasa untuk perhubungan. Perkembangan linguistik telah memberi pedoman yang baharu kepada bidang ini; dan tidak juga kurang pentingnya, bahawa dalam masa Perang Dunia Kedua, negara Amerika Syarikat telah memberi tumpuan kepada pembelajaran bahasabahasa Eropah seperti bahasa Jerman, Perancis, dan Rusia untuk kepentingan peperangan. Hal ini telah menghasilkan kesan positif yang banyak terhadap pembelajaran bahasa. di samping itu pada masa yang sama, kajian psikologi menjadi lebih saintifik. Salah satu daripada bidang yang dikaji, ialah, bagaimana kanak-kanak belajar menuturkan bahasa. kajian-kajian seperti ini dijalankan oleh Freud, Piaget, dan ahli-ahli psikologi yang lain, telah mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap pengajaran bahasa. mereka mendukung teori behaviorisme. Apa yang mereka anggap behaviorisme itu ialah gerak-geri binatang, termasuklah manusia, segalagalanya merupakan dasar dalam pembentukan tabiat. Pembentukan tabiat ini mestilah berdasarkan rangsangan dan gerak balas. Ramai ahli psikologi menjalankan kajian tentang behaviorisme. Kajian dan hasil kajian ini digunakan untuk menjelaskan seorang ahli psikologi di Universiti Harvard, B.F. Skinner, yang menulis buku Verbal Behavior (1957). Dalam buku itu beliau membincangkan teori bagaimana manusia belajar bertutur. Segala-galanya ini mempunyai implikasi dalam bidang pengajaran dan pembelajaran bahasa. Teori Behaviorisme Salah satu bidang yang kuat mempengaruhi bidang pembelajaran bahasa ialah psikologi. Teori psikologi ini menyelidik tabiat manusia. Saya tidaklah mahu membincangkan teori ini satu persatu, tetapi hanyalah sekadar menyentuh teori behaviorisme ini bersangkutan dengan implikasi pembelajaran bahasa. Dalam kurun ke-19, aliran kajian psikologi di Amerika mula bergerak berpisah daripada pemikiran sarjana di Eropah. J.B. Watson (1878-1958) profesor psikologi di Universiti John Hopkins mengarang bukunya, Psychology from the Standpoint of a Behaviorist (1919). Dia hanya mengkaji lakuan dan tidak mementingkan pengalaman sedar. Lakuan padanya hanyalah gerak-gerak otot, dan tidak lebih daripada itu. Penafiannya terhadap sesuatu yang

subjektif menyebabkan dia dapat membuat kajian terhadap perkara-perkara yang sedar. Inilah sumbangannya yang besar, iaitu penolakannya terhadap pembezaan jasad dan fikiran. Inilah yang dipegang oleh ramai ahli psikologi lakuan. Walau bagaimanapun, semua ahli psikologi menumpukan perhatian kepada objektif lakuan ini, selalu mengkaji binatang, suka menganalisis mengikut rangsangan dan gerak balas, dan memberi penumpuan kepada pembelajaran sebagai pusat pengkajian. Di samping itu kita dapati E.R. Guthrie yang menjadi profesor psikologi di Universiti Washington. Bukunya The Psychology of Learning (1935) mengandungi pendapat bahawa, pembelajaran itu berlaku dengan adanya rangsangan dan diikuti dengan gerak balas. Dengan kata lain, yang dimaksudkannya ialah kalau sesuatu gerak balas itu berlaku dalam satu keadaan tertentu, maka semasa kita berada dalam keadaan seperti itu pada masa yang lain, maka kita akan melakukan gerak balas yang sama. Apabila ada rangsangan dan tindak balas, maka berlakulah pembelajaran. Ternyata bahawa kenyataan seperti ini ada kurangnya dari segi pembelajaran. Katakanlah seorang itu diberi teka silang kata, dia membuatnya dengan betul, mak apabila diberi teka silang kata yang lain dia akan berbuat demikian juga. Tetapi kalau dia tidak dapat membuatnya, maka teka silang kata itu akan ditinggalkannya. Pada satu masa lain, di diberi teka silang kata yang sukar juga, dan tidak dapat dibuatnya, lalu ditinggalkannya. Dia telah memberi gerak balas yang sama seperti dahulu. Adakah dia sudah belajar sesuatu dalam hal ini? Dalam pembelajaran bahasa, nama ahli psikologi yang masyhur ialah Skinner seperti yang saya sebut di atas. Skinner ialah seorang ahli behavioris dari Universiti Harvard. Skinner juga berpegang kepada teori behaviorisme, iaitu pembelajaran berlaku kalau ada rangsangan dan gerak balas. Dalam hal ini, beliau menjalankan eksperimen dengan menggunakan binatang. Salah satu daripadanya ialah dengan menggunakan merpati. Merpati itu dikurung di dalam kotak. Di dinding kotak itu ada suis. Apabila suis itu dipatuk terbukalah suatu lubang yang mengeluarkan makanan. Ini bermakna, merpati itu mematuk sebagai satu rangsangan dan setelah rangsangan dilaksanakan merpati itu akan mendapat balasanmakanan. Keadaan ini tidak jauh berbeza daripada yang disebut oleh Watson dan Guthrie, tetapi apa yang berbeza ialah tentang konsep pengukuhan. Pengukuhan ini dianggap oleh Skinner sebagai asas dalam proses pembelajaran. Bagi Skinner ada dua jenis pembelajaran. Kedua-duanya berlainan kerana ada dua jenis lakuan. Pertama ialah lakuan responden, iaitu gerak balas yang

automatis dan tetap. Misalnya, kita dilahirkan dengan banyak gerak balas, dan kita mempelajari sesuatu yang baharu itu dengan secara pembiasaan. Lutut terangkat kalau diketuk oleh doktor. Itu merupakan satu lakuan yang ada rangsangan (ketuk) dan ada gerak balas (kaki terangkat). Ini adalah lakuan responden yang berlaku secara automatis. Kedua ialah lakuan operan. Bagi Skinner kebanyakan lakuan ialah jenis operan. Lakuan responden tadi ialah gerak balas daripada rangsangan, tetapi lakuan operan berlaku menurutlingkungan atau keadaan. Rangsangannya tidak semestinya menerbitkan gerak balas tertentu, seperti berjalan, bercakap, bekerja, dan sebagainya. Misalnya, lakuan menelan makanan bukan sahaja kerana rangsangan terlihat makanan, tetapi juga ras lapar, lingkungan sosial, dan beberapa lingkungan atau suasana yang berlainan. Belajar melalui lakuan operan itulah yang dikatakan pensyaratan tetapi lain daripada gerak balas otot secara autonomatis. Dalam bukunya Verbal Behavior (1957) Skinner telah membincangkan proses pembelajaran bahasa dengan lebih lanjut dengan menggunakan unsur rangsangan dan gerak balas, dan suatu suasana pengukuhan yang terlibat dalam menghasilkan pembelajaran secara maksimum. Pengukuhan menambah kemungkinan berlaku gerak balas. Menurutnya, lakuan bahasa ialah suatu lakuan yang diperkukuh oleh seseorang pendengar dan berkembang menurut prinsip yang sama dengan lakuan operan yang lain. Dalam beberapa keadaan tertentu, penutur itu juga menjadi pendengarnya sendiri dan memperkukuh lakuan bahasanya sendiri. Dari sinilah terbitnya kaedah latih tubi, iaitu rangsangan dan gerak balas dalam sesuatu pelajaran bahasa itu disenaraikan menurut polanya, iaitu lakuan yang boleh dikaji dari segi rangsangan dan gerak balas. Latih tubi itu akan menimbulkantabiat yang dapat dikukuhkan dan akan lekat dipelajari sebagi tabiat. Semenjak Skinner, ramai lagi ahli psikologi yang mengkaji bagaimana pembelajaran bahasa berlaku. Kebanyakan mereka mengkaji bagaimana kanak-kanak mempelajari bahasa dan implikasinya terhadap pengajaran bahasa. antara kajian ini ialah usah R. Brown, yang dijelaskan dalam bukunya A First Language: The Early Stages (1974). Beliau telah mengkaji perkembangan bahasa kanak-kanak dari segi pembentukan ayat. Bidang lain, walaupun ada tersebut, hanya disentuh secara sambil lalu. Banyak lagi usaha lain yang membaiki konsep Skinner dan ada implikasinya terhadap kaedahkaedah pengajaran bahasa. sejak Skninner, ramai lagi sarjana lain yang telah

membuat kajian lanjut tentang behaviorisme, sehinggalah terbit golongan neobehaviorisme. Chomsky (1967) dengan keras menafikan pendapat behaviorisme ini. Dalam penafiannya itu, Chomsky menyatakan bahawa teori behaviorisme itu hanya sebuah dongeng. Baginya, behaviorisme tidak memberi tempat kepada taraf akal yang lebih maju yang ada pada manusia. Behaviorsme tidak mengendahkan kemampuan otak manusia terhadap pembelajaran bahasa. cara kanak-kanak mempelajari bahasa mungkin lebih bermanfaat kepada pengajaran dan pembelajaran bahasa. dalam mengkaji bagaimana kanakkanak banyak mempelajari lakuan berbahasa atau bukan bahasa melalui pengamatan atau peniruan secara tidak sedar terhad ap apa yang dibuat oleh orang dewasa dan kanak-kanak lain. Kanak-kanak tidak belajar hanya melalui perancangan bahasa yang rapi daripada ibu bapa mereka. Pada peringkat majunya kanak-kanak itu pandai mengeluarkan ayat-ayat yang belum pernah didengarnya dahulu, atau memahami ayat-ayat tersebut. Kebolehan ini menunjukkan ada proses penting yang tidak bersangkut paut dengan makluman balik daripada lingkungan atau rangsangan. Jadi, teori Skinner yang mengatakan pembelajaran itu berlaku mengikut perancangan lakuan berbahasa melalui pengukuhan itu sama sekali ditolaknya seperti dalam kutipan ini, sebenarnya dalam pemerolehan bahasa, adalah jelas bahawa pengukuhan, pengamatan secara tidak sedar, dan sifat ingin tahu semula jadi (lengkap dengan kecenderungan kuat untuk meniru) adalah faktor-faktor penting, samalah juga dengan kemampuan yang istimewa yang ada pada pelajar itu untuk membuat generalisasi, hipotesis, dan memproses maklumat dalam beberapa cara yang khusus dan amat kompleks, yang tidak dapat kita deskripsikan atau cuba memahaminya, yang sebahagian besarnya mungkin inat, atau mungkin akan berkembang melalui satu cara pembelajaran melalui pendewasaan sistem sarafnya. Memanglah diakui bahawa dapatan yang masih selalu dipergunakan dalam pengajaran bahasa kedua dan bahasa asing pada masa ini, ialah, hasil kajian ahli lakuan tadi. Konsep ini telah disesuaikan oleh W.M. Rivers (1964) untuk membentuk prinsip pengajaran bahasa asing. Dia telah membuat empat andaian yang penting: 1. Pembelajaran bahasa asing (sesuai juga untuk bahasa kedua) pada dasarnya adalah suatu proses mekanikal, iaitu pembentukan tabiat. 2. Kemahiran akan dicapai secara lebih berkesan kalau bentuk pertuturan dikemukakan dahulu. Dengan kata lain belajar mendengar dan bertutur

itu adalah tabiat yang asas kalau dibandingkan dengan kemahiran menulis dan membaca. 3 Pelajar dapat menerima pelajaran dengan lebih berkesan dengan menggunakan iktibar. Ini bermaksud memberi persamaan atau memberi pelajar kebolehan untuk menerima pelajar dengan secara melihat persamaan dan pertalian dalam bentuk-bentuk yang diajar. Umpamanya dalam memberi latih tubi polaAnda sukakah melihat wayang? Maka dijawab, Ya! Tentu sekali, maka diperkenalkan pula pola yang sama seperti Anda sukakah melihat televisyen? Dan jawapannya, Ya! Tentu sekali. Dengan kata lain, pelajar telah dilatih tubi dalam pola yang sama, bagi membentuk tabiat secara mekanikal. 4. Makna kata pula dipelajari dalam konteks budaya yang hidup dan penuh. Ini adalah cara yang difikirkan berkesan dalam memberi makna. Makna kata memanglah terjalin rapat dengan budaya. Misalnya, jam, kalau kita katakan di luar konteks maka kita menggambarkan segala macam jam, tetapi jam Melayu akan merujuk kepada konsep tidak mematuhi masa, yang telah menjadi amalan setengah -setengah orang Malaysia. Makna seperti ini hanya wujud dalam konteks budaya Malaysia. Aliran Behaviorisme dan Mentalisme Aliran menentang kaedah pengajaran berdasarkan fahaman behaviorisme yang dijelaskan di atas terbahagi kepada dua jenis. Pertama, guru-guru bahasa sendiri sentiasa menentang akan sebarang pembaharuan dalam kaedah pengajaran dan pembelajaran. Hal ini timbul daripada perasaan terancam oleh perkembangan baharu itu dan ditolak sebelum kaedah baharu diberi perhatian yang sewajarnya. Penolakan sebarang yang baharu ini hanyalah satu sikap yang ingin mengekalkan status quo sahaja. Kedua ialah aliran transformasi yang mempunyai teori yang berlainan tentang sifat bahasa itu sendiri, dan proses bagaimana bahasa itu berkembang di kalangan kanakkanak. Pendapat-pendapat baharu ini banyak memberi sumbangan terhadap aliran struktur, dalam proses menjadi dwibahasa atau mempelajari bahasa kedua. Aliran transformasi ini memberi sumbangan yang berkesan dalam pembelajaran bahasa kalau dibandingkan dengan fahaman struktur. Aliran ini mempunyai pengaruh yang besar dalam perancangan bahan mengajarkan bahasa. Aspek bahasa yang diterangkan dengan lebih berkesan oleh aliran transformasi ialah sifat kreatif bahasa itu sendiri. Misalnya, dalam mempelajari bahasa, apa yang berlaku ialah pelajar bukan sekadar

mempelajari senarai panjang ayat-ayat sahaja, tetapi lebih daripada itu. Bahasa bukan hanya terdiri daripada jumlah rumusan tatabahasa yang boleh dilihat atau dihafal sahaja. Pelajar itu sebenarnya telah mempelajari suatu proses daya kreatif yang membolehkan wujudnya perkembangan. Jadi, bagi aliran struktur, pembelajaran bahasa itu melibatkan kebolehan pelajar menggunakan rumusan-rumusan tersebut. Aliran transformasi mengatakan bahawa, pembelajaran bahasa itu ialah proses menyerap rumusan-rumusan tatabahasa itu bersama-sama kemahiran berbahasa yang sedia ada pada manusia itu. Kemahiran ini bersifat inat atau tersembunyi dan tercetus apabila pembelajaran bahasa itu bermula. Ini adalah pendekatan mentalisme yang bertentangan dengan pendekatan behaviorisme atau mekanikal. Selama ini belum pernah disentuh perkara yang kita maksudkan dengan istilah yang bahasa itu kreatif, menyebabkannya boleh dipelajari. Sebenarnya tidak ada bahasa yang betul-betul sama antara satu sama lain, tetapi adalah juga betul kalau dikatakan tidak ada dua bahasa yang betul-betul berbeza. Bagi orang ramai, mereka melihat apa yang nyata iaitu dua bahasa itu adalah berlainan, iaitu, secara luar dua bahasa itu memanglah berlainan sama sekali. Apabila dilihat struktur dalaman bahasa itu, maka ternyatalah ada persamaannya. Persamaan inilah yang meyakinkanlah kita bahawa bahasa itu boleh dipelajari. Suatu sifat bahasa yang penting dari segi pengajaran dan pembelajaran ialah, bahawa, bahasa itu bersifat kreatif. Kita boleh menggunakan unsur-unsur yang terhad yang ada dalam sesuatu bahasa itu, dan menghasilkan ungkapan yang lebih besar, misalnya, dengan menggabungkan kata-kata, kita dapat menerbitkan jumlah ayat yang tidak terhingga banyaknya. Seorang penutur mampu membentuk beribu-ribu ayat baharu yang tidak pernah diucapkannya atau didengarnya dahulu, semata-mata setelah menguasai sistem tatabahasanya. Sebagai contoh kita lihat jadual di bawah: Zaiton Nordin Rizal Ali menghantar membawa memberi membaling buah raga buku bola itu kepada kawannya kakaknya bapanya abangnya

Dengan membaca dari kiri ke kanan bagi setiap kemungkinan ayat, kita akan dapat menerbitkan 256 buah ayat. Dengan menambahkan satu kata lagi kepada setiap baris dalam jadual di atas, maka bilangan ayat yang boleh diterbitkan akan menjadi 625 buah. Kalau ditambah satu ruang lagi dengansemalam, pagi tadi, tadi, dan baru sekejap tadi, maka bilangan ayat yang boleh diubah bentuknya (aktif menjadi pasif) seperti Ali membaling bola

itu kepada abangnya semalam, menjadi, Bola itu dibaling oleh Ali kepada abangnya semalam, maka bilangan ayat akan menjadi dua kali ganda banyaknya, iaitu 6250 buah. Ini adalah satu contoh yang amat kecil, dengan menggunakan lapan belas buah kata dan dua buah bentuk ayat. Jadi, pembelajaran bahasa itu bukan sahaja mempelajari tabiat automatis dalam membentuk aya-ayat tadi, tetapi juga mempunyai kebolehan untuk mentafsirkan segala macam ayat yang didengar atau dibacanya. Tegasnya manusia terpaksa mempelajari sistem terhad bahasa itu, iaitu, tatabahasa sesuatu bahasa itu, supaya membolehkannya mempelajari dan menggunakan bahasa itu secara kreatif dan hidup. Jadi, sistem struktur itulah yang dipelajari. Semua bahasa mempunyai sistem strukturnya. Bentuk struktur itulah yang berbeza daripada satu bahasa kepada satu bahasa yang lain. Pola struktur yang berlaku itu adalah kecil jumlahnya dan boleh dipelajari, tetapi kekreatifnya adalah tidak terhad. Kaedah Mengajar Bahasa Kadang-kadang kita terlihat iklan di akhbar yang berbunyi BELAJAR BAHASA Malaysia DALAM TIGA BULAN, LEARN BAHASA IN TWO MONTHS?, dan sebagainya. Tentu sekali kita berhak bertanya apakah agaknya kaedah yang dipakai oleh institusi tersebut sehingga dapat memendekkan masa pembelajaran bahasa sehingga sebegitu singkat, walhal kanak-kanak terpaksa mengambil masa yang begitu lama, tiga atau empat tahun sebelum dapat menguasai bahasa kandungnya. Demikian juga kaum yang tidak menuturkan bahasa Malaysia sebagai bahasa kandung, masih ramai yang tidak dapat menguasai bahasa Malaysia setelah tinggal di negara ini seumur hidupnya. Sekali imbas kita mungkin terbawa-bawa oleh iklan seperti ini. Sebenarnya perkara ini boleh berlaku, tetapi peringkat kecapaian dalam bahasa yang diajarkan itu patutlah dipersoalkan. Memang pembelajaran bahasa adalah begitu pesat sekali pada peringkat permulaan. Tetapi, setelah sampai ke peringkat pertengahan, maka pembelajaran yang dapat diserap mungkin akan mula mendatar dan tidak begitu pesat lagi. Biasanya institusi ini hanya mengajar sampai ke peringkat permulaan ini sahaja. Mungkin pembelajaran hingga ke peringkat ini boleh berlaku, dan pengetahuan bahasa setakat ini tentu sekali dapat membolehkan pelajar ini menggunakan bahasa yang sudah dan terhad dalam lingkungan percakapan yang terhad. Sekiranya diperlukan lebih daripada itu, maka perlulah ada pendedahan yang lebih lama, lebih menyeluruh, dan lebih khusus. Untuk memperlengkap lagi perbincangan ini maka perlulah saya berikan ringkasan tentang apa yang dikatakan dengan kaedah mempelajari bahasa

itu. Di sini kita akan hanya membicarakan satu persatu kaedah tersebut secara ringkas. Sebenarnya kaedah amat bergantung pada pendekatan kita terhadap bahasa. Ini akan dibincangkan dalam Bab 7. Kaedah Tatabahasa Terjemahan Kaedah Tatabahasa Terjemahan ini selalu juga disebut kaedah klasik. Ini mungkin kaedah yang dipergunakan sebelum kaedah lain timbul. Oleh sebab dahulunya para sarjana hanya mempunyai bahan sastera tertulis, dan oleh sebab kemahiran menulis itu dijadikan tujuan yang penting, maka perkara tersebut menjadi tujuan dalam kaedah tatabahasa terjemahan ini. Kaedah ini dirancangkan dengan tujuan memberi kemahiran menulis, dan bukan kemahiran bertutur. Oleh itu kaedah ini tidaklah mementingkan sebutan. Kaedah ini hanya mementingkan ejaan dan penulisan dalam bahasa yang diajarkan tersebut. Penggunaan bahasa secara aktif tidak berlaku. Rumusan tatabahasa dijelaskan dengan panjang lebar supaya menjadi pedoman pembentukan ayat-ayat melalui terjemahan. Selalunya yang diutamakan ialah unsur-unsur kekecualian daripada yang lazim dalam bahasa yang dipelajari itu, ataupun tentang unsur-unsur yang selalu disalahgunakan. Kosa kata diberi pada peringkat awal pelajaran. Terjemahan adalah difikirkan cara yang sesuai dan utama dalam mempelajari kosa kata. Kata-kata itu diberi dalam bentuk terasing daripada konteks. Kata-kata disusun dalam ayat menurut rumusan tatabahasa. Rumusan-rumusan tatabahasa itu dihafal sebagai cara menguasai bahasa itu. Isi atau kefahaman tidak dipentingkan sangat, hanya sebagai latihan tatabahasa. Latihan selalu menggunakan bahan terjemahan daripada bahasa yang diajarkan ke dalam bahasa kandung. Ayat-ayat yang digunakan mungkin tidak berhubungan antara satu sama lain, tetapi merupakan bauran struktur yang mungkin sedia wujud dalam bahan terjemahan tersebut. Walau bagaimanapun, kaedah ini mempunyai beberapa ciri yang baik. Kaedah ini mungkin tidak memerlukan pembiayaan yang begitu banyak, jadi tidaklah sukar digunakan. Sementara itu guru yang tidak begitu fasih dalam bahasa itu masih boleh digunakan untuk mengajarkan bahasa tersebut. Demikian juga kaedah ini tidak mengehadkan saiz kelas, berapa ramai sekalipun bilangan pelajarnya boleh diajarkan melalui kaedah ini. Latihan yang intensif berjam-jam juga tidak diperlukan. Kalau diperhatikan, kebaikan kaedah ini bukanlah dari segi pembelajarannya atau dari segi menguntungkan pelajarnya, tetapi hanya dari segi pengajaran sahaja. Contoh penggunaan kaedah ini ialah pelajaran bahasa Malaysia oleh G. Soosai dan Adibah Amin, masing-masing di akhbar Star dan New Straits Times. Mereka

mengajarkan bahasa Malaysia dengan menggunakan kaedah terjemahan, khususnya daripada bahasa Inggeris kepada bahasa Malaysia. Dalam hal ini, bilangan pelajarnya ialah seluruh pembaca akhbar tersebut. Kaedah Terus Kaedah terus ini merupakan satu tindakan balas awal terhadap kaedah tatabahasa terjemahan yang dibincangkan di atas tadi. Kalau diperhatikan kaedah terjemahan itu, tentu terlihat ada beberapa masalah dan kelemahan, misalnya, tidak ada dua kata yang betul-betul sama ertinya dalam dua bahasa. Sedangkan kata kereta dan motokar harus mendukung pengertian yang berlainan menurut latar budaya bahasa Malaysia dan Inggeris. Begitu juga struktur dua bahasa adalah berlainan. Konsep yang boleh dibentuk dalam satu kata, mungkin tidak dapat dibuat begitu dalam bahasa Malaysia. Misalnya, portable hanya satu kata dalam bahasa Inggeris, tetapi dalam bahasa Malaysia kita akan dapati bahawa maknanya mungkin hanya dapat dijelaskan dalam satu rangkai kata, seperti boleh dibawa ke sana sini. Kaedah terus ini diajarkan dengan menggunakan satu bahasa sahaja iaitu bahasa matlamat atau yang diajarkan. Bahasa kandung orang yang mempelajari bahasa itu tidak digunakan. Dengan kata lain, kaedah ini terus menggunakan bahasa matlamat. Kadang-kadang kaedah ini juga dikenali sebagaikaedah semula jadi kerana menggunakan apa yang dianggap cara semula jadi seperti juga kanak-kanak mula belajar bahasa. ini sesuai dengan konsep yang dijelaskan oleh Kaedah Berlitz, yang mengajukan supaya bahasa matlamat digunakan dengan serta-merta supaya pelajar mula berfikir dalam bahasa yang dipelajarinya itu. Oleh sebab bahasa lain tidak digunakan, maka pengajaran kata dijalankan dengan menggunakan benda-benda atau objek yang konkrit, atau melalui perbandingan dan persamaan sekiranya benda itu tidak konkrit. Rumusan-rumusan tatabahasa diajarkan melalui tunjuk cara dengan contoh-contoh yang sesuai, yang telah diserapkan ke dalam bahan pengajaran. Pengajaran dimulakan secara lisan, dengan tunjuk cara dan gambar-gambar atau objek yang konkrit tadi, dan pelajar menghafalnya dan mencuba mengikutinya. Oleh itu latih tubi menjadi syarat yang terpenting. Untuk tujuan itu, kelas mestilah kecil saiznya dan pengajaran mestilah intensif, mungkin 56 sehari. Walau bagaimanapun, keintensifan pelajaran boleh dikurangkan kalau tidak diperlukan. Mereka yang berpegang teguh pada kaedah ini menolak pengajaran tatabahasa secara formal dalam kaedah ini, kerana bagi mereka kanak-kanak belajar dengan tidak mempelajari tatabahasa. Pendek kata ini dianggap sama dengan kaedah mempelajari bahasa pertama.

Kaedah ini tentu sekali mempunyai kelebihan berbanding dengan kaedah tatabahasa terjemahan tadi. Kaedah ini akan dapat memberikan penguasaan pertuturan yang baik. Dengan itu juga pengajaran tulisan menjadi mudah dipraktiskan. Oleh sebab bahasa yang datang daripada bermacam-macam bahasa itu tidak menjadi halangan. Guru tidak akan terpaksa menterjemahkannya ke dalam banyak bahasa. dalam pada itu ternyata bahawa, kaedah ini mungkin memerlukan masa yang agak panjang untuk pengajaran sesuatu bahasa itu kerana penjelasan tidak boleh dijalankan melalui terjemahan. Oleh sebab kaedah ini menggunakan pertuturan, maka mereka yang fasih sahaja boleh mengajar bahasa itu. Kaedah ini amat khusus dan gurunya harus terlatih secara khusus juga. Kaedah Bacaan Mungkin membaca adalah suatu kaedah yang mudah sekali. Kaedah bacaan ini tidak memerlukan penghafalan ataupun penggunaan tatabahasa secara aktif. Kaedah ini hanya menggunakan bacaan. Membaca hanya memerlukan pelajar mengenal kata-kata yang tertulis dan membacanya. Kaedah bacaan ini mementingkan sebutan, dan ini mudah kerana ia memerlukan pengajaran peringkat pengenalan sahaja dan tidak memerlukan penghafalan rumusanrumusan yang rumit. Membaca kuat-kuat hanya perlu untuk latihan sebutan, dan bukan untuk tujuan lain, dan tidak juga untuk kefahaman. Terjemahan selalunya tidak dijalankan. Pembelajaran melalui kaedah ini selalunya menggunakan kosa kata yang dirancangkan dengan teratur menurut frekuensi penggunaannya. Bahan bacaan dipertingkatkan dengan baik, dan disusun semula di tempat-tempat yang perlu. Kaedah ini selalu dipergunakan di dalam bilik darjah sebagai sebahagian daripada kaedah lain, dan mungkin juga ini berlaku dengan cara tidak disedari. Kaedah Dengar dan Ajuk Kaedah dengar dan ajuk ini menggunakan dialog untuk dihafal dan diikuti secara ajukan, iaitu dimulakan dengan sebutan lisan. Dialog yang digunakan dianggap realistik dan latih tubi dijalankan secara berseorangan atau berkumpulan. Latih tubi dialog tersebut dijalankan dengan memberi perhatian terhadap sebutan dan intonasi yang betul. Yang menjadi matlamat kaedah ini ialah pencapaian sebutan penutur kandung bahasa itu. Bahan pita rakaman digunakan dengan sepenuhnya, lebih-lebih lagi kalau gurunya bukan penutur kandung bahasa yang diajarkan. Alat pandang dengar juga digunakan dengan luasnya. Ini adalah kaedah yang dipergunakan oleh Alliance Francaise untuk mengajarkan bahasa Perancis. Latih tubi semuanya dibentuk

dalam keadaan yang sebenar, dan juga sentiasa disertai dengan bahan pandang dengar yang lengkap. Hanya selepas pelajar menguasai sebutan, maka barulah mereka diberikan latihan menulis. Mula-mulanya latihan menulis ini terkawal dan diberikan hanya bahan yang telah dipelajari, dan hanya selepas itu baru latihan menulis itu dijalankan secara bebas. Latihan menyebut dan membaca itu pula dijalankan dengan menggunakan bahan yang dikawal, disusun, dan peringkatkan. Sistem tatabahasa diperkenalkan secara induktif dan dengan pemeringkatan yang teratur. Kosa kata misalnya, diberi sedikit demi pada awalnya dan selalunya dalam konteks yang bermakna. Kata-kata yang diberikan itu adalah berdasarkan, bukan sahaja menurut frekuensi tetapi juga menurut gunanya. Ada kata-kata yang tidak selalu digunakan tetapi amat berguna bagi kanak-kanak. Misalnya, perkataan gergasi tidak selalu digunakan tetapi berguna kepada kanak-kanak, dan perlu diajarkan awal-awal lagi, walaupun frekuensinya rendah. Kaedah Askar Kaedah askar ini timbul dalam masa Perang Dunia Kedua, apabila anggota tentera memerlukan kemahiran dalam beberapa bahasa bagi memudahkan operasi tentera dalam peperangan tersebut. Oleh sebab keperluan itu, maka hasil yang paling baik perlulah dicapai dalam sesingkat masa yang boleh. Oleh sebab kemahiran bahasa itu diperlukan untuk operasi tentera, maka kemahiran lisan menjadi matlamat utama. Pelajar hendaklah mencapai peringkat kemahiran berbahasa yang sama dengan kemahiran penutur kandung bahasa itu, baik dalam sebutan mahupun dalam bidang memahami bahasa itu. Tulisan tidak menjadi matlamat penting. Oleh sebab matlamat dan masa yang diberi itu dipengaruhi oleh keadaan peperangan yang sentiasa mendesak, maka masa belajar diintensifkan sedemikian rupa sehingga mencapai 6-9 jam sehari pada setiap hari. Pelajar-pelajar yang dipilih untuk belajar bahasa asing melalui kaedah itu hendaklah mempunyai semua kualiti yang akan membolehkan pengajaran dan pembelajaran bahasa dijalankan dengan tidak mengalami kesangsian dari segi sikap, motif, umur, dan kemampuan. Pencapaian dalam pembelajaran bahasa itu mestilah semuanya baik. Kemajuan yang dicapai oleh setiap orang pelajar itu dicatat dan dikawal dengan kepersisan tentera. Selain itu kaedah yang dipakai adalah sama dengan kaedah terus, iaitu latih tubi dipergunakan dengan seluas-luasnya, melalui guru yang terdiri daripada penutur bahasa kandung. Kaedah ini menggunakan teori behaviorisme atau

tanggapan bagaimana kanak-kanak mempelajari bahasa mereka dengan cara semula jadi. Kaedah Eklektik Kaedah eklektik ini adalah suatu kaedah yang menggabungkan segala ciri yang baik dalam pengajaran bahasa yang terdapat dalam kaedah-kaedah lain. Jadi, kaedah ini dijalankan dengan mencampurkan unsur-unsur tertentu daripada semua kaedah di atas. Ini dilakukan misalnya, dengan menggunakan kaedah terus untuk mengajar makna kata, dan seterusnya kaedah dengar dan ajuk digunakan pula untuk melatih tubi pola-pola ayat dan seterusnya kaedah bacaan digunakan pula untuk melatih bacaan dan sebutan pelajar. Proses Pembelajaran Bahasa Kedua Segala kaedah yang dibicarakan di atas telah dipergunakan untuk mengajar dan belajar bahasa. Saya tidak menafikan tentang kejayaannya dalam pengajaran bahasa kedua di tempat-tempat lain. Tetapi dalam hal ini Malaysia mengalami satu keadaan sosiolinguistik yang agak berlainan. Pengajaran bahasa di sekolah-sekolah atau di sebarang institusi lain, selalunya didapati tidak mendatangkan hasil yang maksimum, walaupun gurunya cukup terlatih, bahannya cukup terancang, motif pelajar cukup tinggi untuk lulus ujian atau untuk kepentingan pekerjaan, dan dasar negara tidak kurang memberi keutamaan terhadap bahasa Malaysia. Dalam hal ini pengajaran bahasa Malaysia masih tidak berkesan, atau kesan yang diperlukan itu lambat dapat dihasilkan. Tentu sekali kita bertanya mengapa, dan apakah yang kurang atau cacatnya sehinggakan pengajaran bahasa Malaysia itu masih kurang berkesan? Bagi saya, apa sahaja kaedah yang digunakan mungkin tidak menimbulkan persoalan yang begitu rumit, asalkan kaedah itu sesuai dengan keadaan dan keperluan. Tujuan haus diutamakan. Kalau masa panjang maka kaedah yang perlahan seperti terjemahan, boleh digunakan. Kalau masa singkat harus kaedah terus lebih berkesan, dengan tidak mengira sangat apakah lata belakang psikologi dalam membentuk kaedah tersebut. Walaupun demikian, ingin juga saya membuat kepastian, bahawa, memang ada perbezaan yang besar antara mempelajari bahasa pertama dengan mempelajari bahasa kedau. Dalam bab ini, tumpuan saya adalah berat kepada pembelajaran bahasa Malaysia sebagai bahasa kedua, dan tidak sebagai bahasa pertama kepada kanak-kanak Melayu. Ini mungkin tidak menimbulkan masalah besar.

Dengan kaedah, bahan, guru, dan masa yang diberikan maka adalah aneh mengapa orang bukan Melayu tidak cepat, dan tidak fasih menguasai bahasa Malaysia. Walau bagaimanapun, mungkin soal guru itu masih menjadi masalah, kerana di mana-mana terdapat kekurangan guru bahasa Malaysia. Juga ada guru bukan Melayu yang masih belum fasih atau baik penguasaan bahasanya ditugaskan mengajarkan bahasa Malaysia. Mungkin masalah yang paling besar ialah, bahasa Malaysia yang diajarkan itu adalah formal, dan tidak ada kegunaan atau persamaannya dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, sehingga para pelajar terpaksa mempelajari suatu dialek yang berlainan yang tidak boleh mereka praktiskan di luar bilik darjah. Masalah itu dihadapi baik oleh pelajar Melayu atau bukan Melayu. Dengan kata lain, bahasa itu diajarkan dalam suatu ruang yang vakum, dan tidak ada lingkungan budayanya. Saya perhatikan hal ini dan saya yakin pengajaran dan pembelajaran mana-mana bahasa itu, hendaklah dilakukan dalam konteks budaya dan sosial yang hidup. Dengan itu dapatlah saya katakan yang pembelajaran bahasa Malaysia di Malaysia oleh kaum bukan Melayu itu, hendaklah dengan menggunakan dialek yang hidup supaya mereka dapat menggunakannya di luar bilik darjah dengan serta-merta. Dalam proses menjadi dwibahasa ini, yang lebih diutamakan ialah proses pembelajaran bahasa kedau oleh mereka yang sudah dewasa, atau oleh mereka yang melebihi umur lima tahun, apabila pembelajaran suatu bahasa asing itu tidak lagi berlaku secara semual jadi. Pembelajaran itu hendaklah pula berlaku dalam satu lingkungan masyarakat bahasa yang dituturkan itu, dan dalam kegiatan budaya yang tertentu. Proses menjadi dwibahasa ini adalah proses menghilangkan keasingan dalam sesuatu budaya tempat seseorang itu tinggal. Dalam hal ini, bukan hanya perkara tentang bahasa yang terlibat tetapi juga masalah psikologi. Sebenarnya ini adalah suatu masalah persepaduan yang amat kompleks, iaitu proses seseorang mencuba menyerap tabiat budaya bahasa yang baharu itu, tetapi tabiat yang sedia ada padanya sentiasa mempengaruhi yang lain, sebab kedua-duanya adalah berlainan. Si pelajar bahasa itu perlu menguasai tabiat yang baharu itu dan mempergunakan tabiat yang baharu dan yang lama itu mengikut masa dan konteksnya yang sesuai. Pada pendapat Chomsky, bahasa itu adalah sesuatu yang mempunyai daya kreatif seperti yang saya jelaskan di atas tadi. Ini adalah sesuatu yang amat penting dalam bahasa. walau bagaimanapun, penafian Chomsky terhadap tabiat tertentu dalam sesuatu bahasa itu mungkin tidak boleh diterima. Ini dapat kita perhatikan daripada satu contoh dalam mempelajari bahasa

Inggeris. Seorang Melayu harus dipengaruhi oleh tabiat sebutannya dalam bahasa Malaysia. Misalnya, dalam menyebut bunyi t sudah tentu orang Melayu itu tidak akan menyebutnya dengan letupan yang sempurna, sebagaimana dalam bahasa Inggeris, dan ini menyebabkan sebutan orang itu akan menjadi pelat kemelayuan. Umpamanya dia akan menyebut perkataan hat sebagai [hat] sahaja dan tidak [hat] sebagaimana sebutan orang Inggeris asli. Sebagai satu contoh lain, proses pembelajaran bahasa itu adalah satu proses menguasai tabiat baharu, yang sentiasa dipengaruhi oleh tabiat lama, dapat dilihat apabila seorang penutur bahasa Malaysia terus mempergunakan partikel penegasan lah, walaupun dia bertutur dalam bahasa Inggeris. Misalnya, dalam ungkapan I want to go home lah,jelas menampakkan kepada kita bahawa unsur tabiat dalam struktur ayat bahasa Malaysia, iaitu, lah telah dipindahkan ke dalam bahasa Inggeris. Chomsky membuat suatu ketentuan yang penting dalam membincangkan perkembangan bahasa di kalangan kanak-kanak. Agaknya pendapat Chomsky memang dapat diterima dalam hal ini, iaitu dia memberi tempat kepada kebolehan terpendam yang ada pada kanak-kanak dalam mempelajari bahasa. di menyatakan bahawa proses perkembangan bahasa di kalangan kanak-kanak dalam lingkungan umur 1 hingga 5 tahun itu, tidaklah akan dapat dijelaskan dengan sempurnanya dengan hanya mengkaji syarat-syarat pembentukan dengan sempurna dengan hanya mengkaji syarat-syarat pembentukan tabiat. Orang dewasa semasa mempelajari bahasa, adalah mempelajari sesuatu pola yang sudah baku. Oleh yang demikian bagaimanakah agaknya orang dewasa itu mempelajari pola-pola bahasa kedau yang dipelajarinya itu? Di sini tidak harus kita membincangkan bagaimana bahasa kandung dikuasai dan bagaimana kanak-kanak mempelajari bahasa kandungnya. Kita tidaklah pula bertujuan mengeluarkan teori pembelajaran bahasa. apa yang kita tahu ialah, bahawa, sebagai seorang dewasa, semasa mempelajari bahasa kedua, kita terpaksalah berlatih. Kita terpaksa berlatih dengan begitu teliti dan rapi, lebih-lebih lagi apabila tabiat bahasa kandung kita berbeza dan mempengaruhi tabiat bahasa yang sedang dipelajari. Oleh itu, mempelajari bahasa ini mungkin dapat dikatakan sebagai suatu proses mempelajari tabiat baharu samalah seperti seseorang itu mempelajari memandu kereta di sebelah kanan jalan dan kemudian terpaksa memandu di sebelah kiri jalan. Dalam hal ini terdapat kecenderungan untuk mempergunakan tabiat-tabiat yang lama. Oleh itu, tabiat yang sama perlulah dipergunakan di tempat yang sesuai dan pemandu itu harus berhati-hati juga supaya mempergunakan

tabiat yang baharu itu di tempat-tempat yang berkenaan sahaja. Dalam mempelajari sesuatu bahasa yang baharu itu, kita tidak harus menimbulkan masalah yang rumit, dan oleh itu dalam proses mempelajari bahasa itu, kita patut menumpukan perhatian kepada proses bahasa itu, kita patut menumpukan perhatian kepada proses pembelajaran perbezaan antara tabiat kedua-dua bahasa itu. Oleh hal yang demikian dapatlah kita perhatikan bahawa perkara yang penting sekali dalam hal pembelajaran bahasa itu ialah latihan. Walau bagaimanapun, haruslah diketahui bahawa latihan hanyalah merupakan satu bahagian sahaja daripada seluruh proses menjadi dwibahasa. Latihan yang demikian mencakupi latihan mendengar, pendedahan kepada penggunaan bahasa itu, berfikir, bertutur, sama ada dengan menggunakan bahan yang dibentuk secara tersusun atau rambang. Tidaklah dapat dipercayai bahawa sebarang bahasa dapat dipelajari tanpa latihan. Ini tidaklah pula bermakna bahawa latihan itu sahaja yang penting, kerana sebenarnya ada unsur-unsur lain yang terlibat. Latihan akan membentuk tabiat. Walau bagaimanapun, tabiat juga dapat terbentuk tanpa latihan, lebih-lebih lagi dalam kes pembelajaran bahasa kandung. Pelajar mungkin dapat dibimbing menggunakan latihan dengan lebih berkesan. Kita cuba bincangkan mengapa agaknya orang menjadi dwibahasa? Mari kita lihat beberapa profil penutur bahasa di Pulau Pinang. Seorang penjaja mi bangsa India di Pulau Pinang fasih menggunakan bahasa kandungnya, Tamil, bijak berbahasa Melayu dan Hokkien, dan juga boleh berbahasa Inggeris sedikit-sedikit. Seorang penjaja ikan bangsa Cina di Pasar Chowrasta, Georgetown, Pulau Pinang, boleh berbahasa Hokkien, Tamil, Melayu, dan Inggeris. Ini sebenarnya adalah satu ciri umum bagi ramai penduduk Georgetown, Pulau Pinang. Seorang pegawai tinggi bangsa Melayu yang dipelajarinya sebagai bahasa kandung dan secara formal di sekolah. Kalau kita ke tempat lain, di Balik Pulau misalnya, terdapat penduduk Melayu yang hanya tahu menggunakan bahasanya sendiri sahaja. Apakah sebenarnya setengah-setengah manusia perlu menjadi dwibahasa dan setengah-setengahnya tidak. Keadaan begini timbul kerana mereka berbilang bangsa dan tidak ada satu bahasa pun yang dominan, jadi, setiap kaum mengekalkan bahasanya. Di samping itu, mereka juga perlu menguasai semua bahasa untuk berhubung antara satu sama lain. Ternyata di sini bahawa, di bandar Georgetown, Pulau Pinang, keadaan adalah kosmopolitan. Sesiapa sahaja akan dapat mempelajari dua tinga bahasa dengan mudah, dan di tempat lain mereka tidak diperlukan mengetahui bahasa lain

mengetahui bahasa lain daripada bahasa kandungnya untuk berhubungan. Hal ini semuanya, walaupun betul, tidaklah menjelaskan kepada kita mengapa manusia mesti mempelajari sebuah bahasa asing atau bahasa lain kerana ingin berhubung dengan seorang lain. Seseorang yang tiba dalam sesebuah masyarakat baharu itu adalah dianggap asing. Selalunya keasingan ini akan beransur hilang apabila dia telah menjadi semakin fasih dalam bahasa masyarakat yang didatanginya itu. Perhubungan dengan masyarakat itulah yang akan dapat menghilangkan segala sikap keasingannya tersebut. Orang luar itu tadi sentiasa dikelilingi oleh lingkungan yang asing. Oleh itu dia akan mencuba mengatasi masalah ini dengan menghilangkan unsur keasingan ini, dan menjadi salah seorang ahli masyarakat baharu itu pula. Dalam hal ini, memang boleh didapati orang yang tidak pernah dan tidak perlu mencuba untuk menghilangkan unsur keasingan ini. Ada kaum asing di Malaysia, yang boleh hidup terasing. Mereka hidup dalam masyarakat kaum sendiri, bersekolah, bekerja, dan bergaul dengan tidak sedikit pun memerlukan penggunaan bahasa Malaysia. Pernah saya temui seorang tua India di Georgetown, Pulau Pinang, yang bekerja sebagai nelayan, ke laut berseorangan pada tiap-tiap hari, dan menjual hasil tangkapannya kepada seorang India lain. Walaupun umurnya sudah 53 tahun, dia tidak tahu menggunakan bahasa Malaysia sepatah pun. Walau bagaimanapun, saya rasa, tentu diakui ramai, bahawa, keperluan mempelajari sesuatu bahasa itu dan juga peringkat kecapaiannya adalah bergantung pada dorongannya sendiri. Jelas sekali dorongan ini ada di kalangan masyarakat Malaysia. Kanak-kanak sekolah amat terdorong mempelajari bahasa Malaysia sebagai keperluan kelulusan untuk melanjutkan pelajaran dan menjalankan pekerjaan, ramai pula yang terdorong mempelajari bahasa Inggeris untuk tujuan yang sama. Bagi ahli politik, kefasihan dalam bahasa Inggeris memberi kemungkinan yang lebih luas dalam tindak-tanduknya. Ada pula golongan yang mempelajari bahasa untuk mengeksploit, misalnya, penjajah Inggeris yang datang ke Semenanjung Tanah Melayu dahulu, telah mempelajari bahasa Melayu semata-mata untuk tujuan mentadbir jajahan ini. Tetapi dalam mempelajari sesuatu bahasa, amat mustahak dikekalkan dorongan pembelajaran itu, dan hanya mereka yang betul-betul berminat dan berkesanggupan serta yakin bahawa bahasa itu akan membantunya, akan berjaya dalam usahanya tersebut. Bahasa kedua itu amat perlu untuk berhubungan, walaupun hubungan secara terhad boleh berlaku tanpa bahasa. Tetapi, hubungan tanpa bahasa itu pun bergantung pada budaya bahasa tertentu. Hanya mereka yang ingin terus tinggal sebagai

orang asing dalam sesebuah masyarakat itu, akan terus tidak mempedulikan keperluan bahasa kedua tersebut. Walaupun kemahiran dalam bahasa kedua itu berguna tetapi ternyata bahawa hubungan akan terhad, dan pendatang itu tidak akan dapat menjadi sebahagian daripada masyarakat itu dengan sepenuhnya. Suatu contoh lain ialah masyarakat Gurkha, yang dahulunya bekerja sebagai askar upahan Inggeris, telah datang kembali ke Malaysia berjaja bermacam-macam jenis manik dan batu perhiasan di kaki lima kedai di bandar-bandar besar. Mereka tidak pernah cuba bercampur, dan tidak pernah menggunakan bahasa tempatan untuk berhubungan dengan masyarakat tempatan, selain hubungan berjual beli yang terhad itu. Akibatnya mereka terus terasing. Jadi, saya pandang proses pembelajaran itu harus berlaku dalam konteks masyarakat yang aktif dan memberangsangkan. Rancangan Pengajaran dan Pembelajaran yang Unggul dan yang Praktis Setelah meninjau dari segi sosiolinguistik tentang keadaan tertentu, lebihlebih lagi tentang pengajaran dan pembelajaran bahasa Malaysia, maka ternyatalah bahawa apa yang berlaku sekarang adalah sesuatu yang masih boleh dibaiki untuk mendapatkan hasil yang maksimum, memang seorang guru bahasa Malaysia akan sentiasa tertanya-tanya, apakah agaknya suatu kaedah yang unggul untuk digunakan bagi menjamin hasil yang 100% berjaya? Ada banyak faktor yang terlibat dalam pembelajaran bahasa, dan untuk mencapai kepuasan bagi semua faktor itu adalah sesuatu yang mustahil. Walau bagaimanapun, sekadar untuk berbincang, kita boleh cuba menggambarkan suatu rancangan pengajaran dan pembelajaran bahasa yang unggul. Dalam mempelajari bahasa sebagai bahasa kedua, sebuah rancangan pengajaran dan pembelajaran yang unggul agaknya harus mengandungi sifat-sifat dan faktor-faktor yang berikut: rancangan itu harus memberi pertimbangan yang berat dan tepat sepenuhnya kepada segala implikasi dan faktor tentang pembelajaran bahasa. Apa yang dimaksudkan di sini ialah bahasa itu sendiri harus dipertimbangkan, proses pembelajaran dan segala faktor lain yang terlibat juga mesti diambil kira: 1. Pengetahuan yang terperinci dan menyeluruh tentang bahasa yang diajarkan itu mestilah sudah wujud, iaitu tentang sifat-sifatnya, tatabahasanya, dan segala macam ciri bahasa itu perlulah diberi pertimbangan. Perbezaan sifat-sifat bahasa itu dengan bahasa kandung si pelajar hendaklah dijelaskan selengkap-lengkapnya. 2. Rancangan itu juga harus disampaikan melalui kaedah yang berkesan.

3. Guru yang mengajarkannya mestilah berkebolehan dan terlatih. 4. Pengajaran dan pembelajaran perlu berlaku dalam konteks budaya bahasa yang diajarkan, dan bukan dalam keadaan budaya kosong. 5. Rancangan itu juga hendaklah disesuaikan dengan segala macam kemungkinan perkembangan, mengikut latar belakang pelajar, iaitu rancangan tersebut hendaklah hidup dan anjal untuk diterima oleh pelajar-pelajar yang mempunyai latar belakang dan perbezaan perseorangan yang pelbagai itu. 6. Pengajaran dan pembelajaran itu berlaku dalam masyarakat yang penuh simpati dan menggalakkan, pendek kata tidak ada halangan dari segi sosial untuk belajar, pendedahan kepada bahasa itu mudah berlaku. 7. Rancangan itu juga dapat mengatasi segala macam masalah psikologi, dan sebarang tekanan serta kebosanan tidak harus timbul dalam proses pengajaran dan pembelajaran itu. Kesukaran tidak timbul. Malahan rancangan itu harus pula dapat memberi dorongan atau rangsangan yang penuh untuk membolehkan pelajar menyerap pengajaran itu mengikut kadar kemampuan sendiri. Kalau dilihat betul-betul ciri-ciri yang diperakukan ini untuk menerbitkan sebuah rancangan yang unggul bagi pengajaran dan pembelajaran bahasa kedua itu, maka sekali imbas kita sudah tahu rancangan sedemikian tidak pernah wujud, dan mungkin mustahil diwujudkan. Apa yang praktis ialah kita perlulah mengetahui ciri-ciri rancangan yang unggul ini, dan kita bandingkan pula dengan apa yang boleh ada bagi kepentingan guru dan pelajar, untuk tujuan menilai dan menganalisis bahan tersebut dengan tujuan menghasilkan bahan yang terbaik. Kadang-kadang dengan perancangan yang serba lengkap pelajar masih lagi gagal mencapai kemahiran yang diharapkan itu. Selalunya pelajar akan menyalahkan perancangan pelajaran sebagai perkara yang menghalang mereka daripada mencapai objektif itu. Sebenarnya, perancangan untuk pengajaran dan pembelajaran, walau bagaimana baik sekalipun, hanya menjadi panduan untuk mempelajari bahasa itu sahaja dan bukannya sesuatu yang menjamin akan tumbuhnya tabiat baharu dalam bahasa baharu itu. Kebanyakan rancangan pengajaran dan pembelajaran bahasa itu berhasil kerana pelajarnya lebih daripada apa yang diajarkan secara formal. Kalau pelajar itu tidak berusaha lebih daripada apa yang diajarkan secara formal, atau kembali ke rumah dan menyambung pembelajaran sebagaimana yang dipraktiskan oleh kebanyakan ibu bapa, maka pembelajaran bahasa itu

mungkin tidak berhasil. Begitulah keadaannya dengan bahasa Malaysia. Biasanya kegagalan mencapai objektif pembelajaran bahasa itu, disebabkan ketiadaan aptitud atau usaha yang gigih. Kalaulah rancangan pengajaran dan pembelajaran bahasa itu tidak unggul, maka apakah rancangan yang dipraktiskan itu cukup baik? Saya percaya semua rancangan itu boleh dibaiki, dan kadang-kadang seseorang pelajar dapat membaiki rancangan yang sedang dipelajarinya. Contohnya dapat diambil daripada kasus yang berikut. Seorang pelajar mempelajari bahasa Perancis di Paris. Kaedah yang digunakan adalah kaedah tradisi. Guru sahaja yang bercakap sepanjang hari. Tetapi, pelajar itu dapat mencapai kemahiran yang baik dengan menggunakan masa dia bertembung dengan penutur-penutur lain di luar darjah untuk mempelajari, atau memperkukuh pembelajarannya. Memanglah sukar kerana percakapan dan perbualan di luar darjah itu tidak teratur atau tidak disusun untuk kepentingan pelajar. Demikian juga halnya dengan mereka yang bukan penutur bahasa Malaysia di Malaysia, mungkin tidak mendapat pengajaran yang maksimum di dalam kelas. Tetapi di luar kelas, keadaan itu tidak pula mengizinkan dia mempelajari bahasa Malaysia dengan teratur. Malah lebih buruk daripada itu, kerana ada ketiak dia menganggap dapat mencontohi penggunaan bahasa Malaysia yang baik, tetapi selalu pula dia menghadapi halangan. Tidak ramai orang Melayu yang menuturkan bahasa Malaysia formal untuk dicontohi oleh mereka. Kalau adapun orang yang menggunakan bahasa Malaysia, mungkin pula mereka bahasa Malaysia pasar, atau dialek bahasa Malaysia tempatan. Wayang gambar dapat memberi contoh yang agak baik, tetapi mungkin amat terhad. Televisyen pula agak sama keadaannya. Bahasa bertulis pula kadang-kadang mengandungi kesalahan yang mengelirukan. Ini merupakan penghalang kepada penguasaan bahasa yang baik untuk pelajar. Perkara yang mustahil bagi kita ialah menggambarkan, bagaimana pembelajaran dan pengajaran itu dapat didasarkan kepada ciri-ciri bahasa Malaysia yang dideskripsi dengan selengkapnya untuk tujuan ini, apabila kita sendiri mengetahui deskripsi tatabahasa bahasa Malaysia yang lengkap masih belum ada. Kita tahu juga, bahawa, pengajaran bahasa patut didasarkan pada persamaan dan perbezaan antara bahasa yang diajarkan dengan bahasa kandung pelajar. Dalam hal ini bahasa Malaysia masih belum diperbandingkan dengan lengkapnya dengan bahasa lain seprti Hokkien, Kanton, Khek, Tamil, Bengali, Malayalam, Telugu, dan sebagainya. Usaha membandingkan bahasa Malaysia dengan bahasa Inggeris, tidaklah begitu

berguna kerana bahasa Malaysia itu bukan untuk diajarkan kepada penutur Inggeris. Hasrat untuk mempergunakan guru yang cukup mahir dalam bahasa Malaysia dan terlatih untuk mengajar bahasa Malaysia juga mungkin merupakan suatu masalah. Sekolah-sekolah kerap bersungut tidak mempunyai guru bahasa Malaysia yang cukup. Ini bukan soal mereka terlatih atau tidak, tetapi ialah soal guru tidak ada. Keadaan di sekolah rendah juga demikian, tetapi ada satu masalah lain yang khusus saya perhatikan di sekolah-sekolah rendah. Mungkin hal ini akan difikirkan dengan serius oleh pegawai-pegawai utama bagi mata pelajaran bahasa Malaysia ini. Oleh sebab usaha kerajaan yang berjalan dengan amat pesat untuk melaksanakan bahasa Malaysia sebagai bahasa pengantar, maka guru-gurunya telah diberi latihan singkat. Ada yang dapat mempelajarinya dengan pantas dan ada yang tidak. Keadaan ini jelas menimbulkan masalah. Memang menjadi harapan agar bahasa Malaysia itu diajarkan dalam konteks sosial yang tepat. Implikasinya ialah masalah memilih dialek yang harus diajarkan. Kalau diajarkan dialek baku yang formal, dalam bentuk tulisan, maka pelajar tidak dapat menggunakannya dalam konteks lain. Tetapi, kalau kita semua mengerti apa yang dianggap sebagai baku, harus ini tidak menjadi masalah besar. Dialek yang diajarkan itu biarlah dialek yang hidup supaya dapat digunakan dengan serta-merta dalam masyarakat di luar sekolahnya, dan pembelajaran tidak akan menjadi latihan dalam bilik darjah sahaja. Isu ini amatlah sukar, saya sendiri tidak yakin dapat membuat keputusan muktamad, tetapi mungkin saya lebih cenderung kepada mengajarkan suatu dialek yang hidup dan realistik. Konsep baku itu sebenarnya alah satu norma, dan norma ini adalah satu konsep abstrak yang mungkin berbeza-beza daripada seorang kepada seorang yang lain. Diharapkan juga, pembelajaran itu dapat berjalan dalam suasana yang mementingkan individu, latar belakangnya, serta menurut kesanggupannya. Tetapi dalam sesebuah darjah di sekolah-sekolah di Malaysia, yang terdiri daripada 40 orang pelajar, maka tumpuan kepada individu itu amat sukar dilakukan. Masalah ini bertambah berat lagi kalau difikirkan pula yang para pelajar itu mungkin terdiri daripada tiga, empat, atau lima rupa kaum yang berlainan di samping keperluan yang berbeza antara pelajar bahasa kandung atau bahasa pertama dengan pelajar bahasa kedua, dalam mempelajari bahasa Malaysia. Kalau pelajar bahasa Malaysia yang sepatutnya diajarkan bahasa Malaysia sebagai bahasa pertama, diajarkan bahasa Malaysia sebagai bahasa pertama, diajarkan bahasa Malaysia sebagai bahasa kedua,

harus dia akan bosan kerana dia tidak memerlukan rumusan asas tentang bahasa itu, sebaliknya dia memerlukan latihan yang boleh memperkaya dan melicinkan penggunaan bahasanya, dan tidak perlu mempelajari bahasa itu dari mual. Yang lebih merumitkan lagi ialah cara menguji mereka. Ujian bahasa pertama berbeza daripada ujian bahasa kedua. Kanak-kanak Melayu harus gagal dalam ujian bahasa Malaysia kalau ujian itu dilakukan sebagi bahasa kedua dan bukan bahasa pertama. Pengajaran bahasa juga harus berlaku dalam suasana yang memberi dorongan kepada pelajar. Adakah ini berlaku? Mungkin kebanyakan pelajar betul-betul berminat menguasai bahasa Malaysia, tetapi simpati ibu bapa mungkin lebih berat kepada bahasa Inggeris. Mungkin juga ada bapa yang mengetahui anaknya itu lemah dalam bahasa Malaysia, dan akan mencari seorang munsyi untuk anaknya. Adakah ini jawapannya? Adakah anak itu diberi dorongan yang betul-betul menggalakkan dalam mempelajari bahasa Malaysia? Pelajaran di rumah mungkin membosankan dan menambahkan kebuntuan kanak-kanak itu sahaja. Di sekolah pula mungkin dapat diberi sokongan terhadap pembelajaran bahasa ini dengan mengadakan kelab bahasa Malaysia, dan semua pelajar dimestikan bertutur dalam bahasa Malaysia semasa di sekolah pula, samalah seperti di sekolah Inggeris dahulu yang mendenda muridnya kalau tidak bertutur bahasa Inggeris. Akhir sekali haruslah pengajaran itu dapat disampaikan dalam suasana yang tidak mengandungi tekanan dan sebarang masalah psikologi. Semua anggota masyarakat yang ada dalam kelompok pelajar tersebut hendaklah mahir dalam bahasa Malaysia dan sentiasa menuturkannya. Mereka hendaklah sentiasa mendorong dan bertutur dalam bahasa Inggeris. Pelajar itu juga tidak menanggung sebarang beban sosial atau persendirian yang boleh mengganggu proses pembelajarannya. Dalam membincangkan suasana pembelajaran di atas, kita Cuma melihat suasana yang terbaik, dan ini adalah sesuatu yang agak mustahil dapat diwujudkan. Kebangkalian Kejayaan Selama ini saya telah berbincang tentang keadaan yang membentuk kaedah pengajaran dan faktor-faktor penting yang mempengaruhi pembelajaran bahasa Malaysia. Sekarang, saya cuba membutirkan kebangkalian kejayaan dalam mempelajari bahasa itu. Memang kita tidak dapat membuat ramalan yang tepat sama ada pembelajaran bahasa itu akan berjaya atau tidak, tetapi ada beberapa perkara yang akan dapat kita senaraikan untuk mengukur atau menentukan berjaya atau tidaknya pembelajaran sesuatu bahasa itu.

Kebangkalian ini saya pungut dan sesuaikan daripada buku yang bertajuk Attitudes and Motivation in Second Language Learning, yang dikarang oleh R.C. Gardner dan W.E. Lambert (1972): 1. Jika pelajar yang mempunyai aptitud yang tinggi, peluang yang baik, motif yang kuat, serta belajar dalam lingkungan masyarakat yang mendorong, maka usahanya dalam pembelajaran bahasa itu tentu sekali akan berjaya. 2. Seorang yang bermotif tinggi dan berpeluang baik, tetapi tidak mempunyai aptitud yang tinggi terhadap pembelajaran bahasa, akan juga mencapai kejayaan yang baik, lebih-lebih lagi kalau masyarakat sekelilingnya itu mendorongnya. 3. Seorang yang bermotif tinggi serta mempunyai aptitud yang baik, tetapi kurang berpeluang, maka mungkin juga dia akan mencapai kejayaan yang agak baik, kalaulah ada individu di sekelilingnya yang memberi sokongan dan dorongan kepada pembelajarannya itu. 4. Kalau seorang pelajar itu berpeluang baik untuk belajar bahasa dan mempunyai aptitud yang tinggi, maka kejayaannya bergantung pada motifnya. Motifnya itu pula bergantung pada lingkungan budaya di sekelilingnya. Keadaan ini mungkin banyak berlaku kepada kanakkanak sekolah di Malaysia dalam mempelajari bahasa Malaysia. Masyarakat dan budaya sekelilingnya selalu tidak memberi sokongan terhadap pembelajarannya, sehingga menyebabkan penguasaan bahasa Malaysia mereka itu tidak baik. Hanya mereka yang dapat mengatasi masalah ini dalam setengah-setengah suasana yang berjaya. 5. Kalau seorang pelajar itu bermotif tetapi tidak mempunyai aptitud dan peluang untuk belajar, maka kegagalan pasti berlaku. Kalaulah budaya dan masyarakat sekelilingnya membantu, maka dia akan mempunyai sedikit harapan untuk mendapat kejayaan. 6. Kalau seorang pelajar itu mendapat peluang yang baik untuk belajar bahasa, tetapi tidak mempunyai aptitud dan motif, maka dia akan gagal. Peluang yang diberi kepadanya itu akan menjadi sia-sia sahaja. Kebudayaan yang menyokong pembelajaran itu juga akan membosankannya. 7. Pelajar yang beraptitud tinggi, tetapi tidak bermotif dan tidak diberi peluang dalam pembelajarannya juga akan menghadapi kegagalan. Walau bagaimanapun, lingkungan yang menyokong mungkin

membantunya menentukan motifnya, kalau tidak hasilnya adalah kegagalan. Kesimpulan Dalam perbincangan di atas jelas bahawa hubungan antara psikologi dan pembelajaran serta pengajaran adalah amat rapat. Hasil penyelidikan psikologi memberi beberapa keterangan tentang proses pembelajaran yang kemudiannya menentukan kaedah pengajaran. Di samping itu pula terdapat beberapa faktor penting dalam menentukan kejayaan pengajaran dan pembelajaran tersebut iaitu aptitud, dorongan, dan sokongannya.

Psikolinguistik
Pengertian Psikolinguistik Psikolinguistik yaitu suatu disiplin ilmu yang bertujuan mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat stuktur bahasa, bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.

Tujuan Mempelajari Psikolinguistik Yaitu untuk membantu menyelesaikan permasalahan kompleks manusia dalam

pembelajaran berbahasa, karena selain berkenaan dengan masalah berbahasa, juga berkenaan dengan kegiatan berbahasa. Sedangkan kegiatan berbahasa itu bukan hanya berlangsung secara mekanistik, tapi juga berlangsung secara mentalistik. Artinya, kegiatan berbahasa itu berkaitan juga dengan proses atau kegiatan mental (otak). Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, studi linguistik perlu dilengkapi dengan studi antardisiplin antara psikologi dan linguistik, yang lazim disebut psikolinguistik.

Sejarah Kelahiran Psikolinguistik

Istilah psikolinguistik muncul pada tahun 1954 dalam buku Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood yang berjudul Psycolinguistics : A Survey of Theory and Research Problems. Namun sebenarnya sejak jaman Panini, ahli tata bahasa dari India, dan Sokrates, ahli filsafat dari Yunani, pengkajian bahasa dan berbahasa telah dilakukan. Tentu saja kajian mereka tidak terlepas dari aliran filsafat yang mereka anut, karena memang filsafat merupakan induk dari semua disiplin ilmu.

Pada awalnya, psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi, dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dilanjutkan dengan adanya kerja sama antara pakar linguistik dan pakar psikologi, dan kemudian muncullah pakar-pakar psikolinguistik sebagai disiplin ilmu.

Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Linguistik Dalam kajian linguistik, Psikolinguistik berperan sebagai ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik yang mengkaji bahasa dan hakikat bahasa sebagai objek formalnya. Karena berasal dari dua displin yang berbeda; yaitu psikologi dan linguistik, maka objek materialnya pun berbeda. Linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.

Pentingnya Psikolinguistik dalam Studi Linguistik Psikolinguistik berperan penting karena mencoba menerapkan pengetahuan psikologi dan llinguistik pada masalah-masalah seperti pada pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit bertutur kata seperti afasia, gagap, dan lainnya; serta masalah-masalah sosial lain yang menyangkut bahasa, seperti bahasa dan pendidikan, bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa.

Tujuh Subdisiplin Psikolinguistik, yaitu: 1. 2. 3. 4. Psikolinguistik Teoretis Psikolinguistik Perkembangan Psikolinguistik Sosial Psikolinguistik Pendidikan

5. 6. 7.

Psikolinguistik-Neurologi (Neuropsikolinguistik) Psikolinguistik Eksperimen Psikolinguistik Terapan

Fokus Kajian Psikolinguistik Pada Fakultas Pendidikan, yaitu: a. Psikolinguistik Perkembangan

Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan berbahasa, baik pemerolehan bahasa pertama maupun pemerolehan bahasa kedua. Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu. Pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Sedangkan pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya.

Ada dua proses yang terjadi ketika seorang anak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses ini menjadi syarat terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan memngamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan kalimat sendiri. Proses kompetensi ini apabila telah dikuasai anak-anak akan menjadi kemampuan linguistik anakanak. Jadi, kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan memahami dan kemampuan melahirkan kalimat baru yang dalam linguistik transformasi generatif disebut perlakuan, atau pelaksanaan bahasa, atau performansi.

Teori yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa, diantaranya: 1. Hipotesis Nurani Terdapat dua macam hipotesis nurani, yaitu hipotesis nurani bahasa (merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia) dan hipotesis nurani mekanisme (merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa proses

pemerolehan berbahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman. 2. Hipotesis Tabularasa Tabularasa secara harfiah berarti kertas kosong, dalam arti belum ditulisi apa -apa. Lalu, hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman.

Menurut Skinner (1957) berbicara merupakan satu respon operan yang dilazimkan kepada suatu stimulus dari dalam atau dari luar, yang sebenarnya tidak jelas diketahui. Untuk menjelaskan hal ini Skinner memperkenalkan sekumpulan kategori respon bahasa yang hampir serupa fungsinya dengan ucapan, yaitu: a. Mands Kata Mands adalah akar dari kata command, demand, dan lain-lain. Satu Mand adalah satu operan bahasa di bawah pengaruh stimulus yang bersifat menyingkirkan, merampas, atau menghabiskan. Di dalam tata bahasa, Mand ini sama dengan kalimat imperatif. b. Tacts Tacts adalah benda atau peristiwa kongkret yang muncul akibat adanya stimulus. c. Echoics Yaitu auatu perilaku berbahasa yang dipengaruhi oleh respons orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu. d. Textuals Yaitu perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus tertulissedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. e. Intra verbal operant Yaitu operan berbahasa yang diatur oleh perilaku berbahasa terdahulu yang dilakukan atau dialami penutur.

3.

Hipotesis Kesemestaan Kognitif Menurut teori ini, bahasa diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Srtuktur ini diperoleh anak-anak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang di sekitarnya.

Dewasa ini, seperti juga dalam linguistik, dalam kognitifisme perhatian juga lebih ditujukan pada masalah makna (semantik) serta peranannya dalam pemerolehan bahasa.

Hipotesis kesemestaan kognitif dalam psikologi ini sejalan dengan hipotesis nurani mekanisme dalam linguistik. Perbedaannya terletak pada nama saja karena dikemukakan oleh dua disiplin ilmu yang berbeda yang saling mempengaruhi: hipotesis kesemestaan kognitif oleh psikologi sedangkan hipotesis nurani mekanisme oleh linguistik modern.

b.

Psikollinguistik Pendidikan

Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.

Ada dua tipe pembelajaran bahasa, yaitu: 1. Tipe Naturalistik Bersifat alamiah, tanpa Guru, dan tanpa kesengajaan. Pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. 2. Tipe Formal Berlangsung di dalam kelas dengan Guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang sudah disiapkan.

Hipotesis-hipotesis pembelajaran bahasa diantaranya: a. b. c. Hipotesis Kesamaan antara B1 dan B2 Hipotesis Kontrastif Hipotesis Krashen

Adapun faktor-faktor penentu dalam pembelajaran Bahasa kedua diantaranya: a. b. c. d. e. Faktor Motivasi Faktor Usia Faktor Penyajian Formal Faktor Bahasa Pertama Faktor Lingkungan

Pokok Bahasan Psikolinguistik, antara lain:

a.

Apakah sebenarnya bahasa itu? Apakah yang dimiliki oleh seseorang

sehingga dia mampu berbahasa? Bahasa itu terdiri dari komponen-komponen apa saja? b. Bagaimana bahasa itu lahir dan mengapa dia harus lahir? Di manakah

bahasa itu berada atau disimpan? c. Bagaimanakah bahasa pertama (bahasa ibu) diperoleh seorang kanak-kanak?

Bagaimana perkembangan penguasaan bahasa itu? Bagaimana bahasa kedua itu dipelajari? Bagaimana seseorang bisa menguasai dua, tiga, atau banyak bahasa? d. Bagaimana proses penyusunan kalimat atau kalimat-kalimat? Proses apakah

yang terjadi di dalam otak waktu berbahasa? e. Bagaimanakah bahasa itu tumbuh dan mati? Bagaimana proses terjadinya

sebuah dialek? Bagaimana proses berubahnya suatu dialek menjadi sebuah bahasa baru? f. Bagaimana hubungan bahasa dengan pemikiran? Bagaimana pengaruh

kedwibahasaan atau kemultibahasaan dengan pemikiran dan kecerdasan seseorang? g. Mengapa seseorang menderita penyakit atau mendapatkan gangguan

berbicara (seperti afasia), dan bagaimana cara menyembuhkannya? h. Bagaimana bahasa itu harus diajarkan supaya hasilnya baik? Dan sebagainya.

Manfaat Mempelajari Psikolinguistik Bagi Guru dan atau Calon Guru Bahasa Indonesia Manfaat yang bisa diambil diantaranya: 1. Dapat mengetahui sejarah kelahiran dan perkembangan psikolinguistik

sebagai suatu disiplin mandiri. 2. Dapat membantu Guru dalam memahami siswanya yang berbeda dalam hal

kecerdasan. 3. Dapat mengetahui bagaimana bahasa pertama dan bahasa kedua itu

diperoleh. 4. Dapat mengetahui mengapa seseorang bisa menderita penyakit bertutur

dan bagaimana cara menyembuhkannya. 5. baik. 6. Dapat mengetahui bagaimana suatu dialek itu tercipta. Dapat membantu Guru dalam mengajarkan bahasa kedua supaya hasilnya

7.

Dapat mengetahui bagaimana proses yang terjadi di dalam otak ketika

berbahasa.

PEMBERDAYAAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN PENGETAHUAN LINGUISTIK A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Posisi ilmu tentang bahasa (linguistik) sangat erat kaitannya dengan kegiatan pengajaran bahasa. Hal ini ditegaskan oleh Soenardji (1989: 95) yang menyatakan Kedudukan linguistik dalam lingkup kegiatan pendidikan (dan dengan sendirinya tercakup pula kegiatan pengajaran) sudah bersifat aksiomatik. Aksiomatik berarti pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian (Depdikbud, 1990: 16) Corder (1974) dalam Pateda (1991: 24) menyatakan Pengajaran linguistik adalah pemanfaatan pengetahuan tentang alamiah bahasa yang dihasilkan oleh peneliti bahasa yang digunakan untuk meningkatkan keberhasilgunaan tugas-tugas praktis yang menggunakan bahasa sebagai komponen inti. Dalam batasan tersebut terlihat adanya keterkaitan antara pengajaran linguistik dengan pengetahuan linguistik. Pengetahuan linguistik digunakan untuk kepentingan praktis, tetapi bidang yang tetap berkaitan dengan bahasa. Penerapan pengetahuan linguistik di dalam berbagai objek adalah suatu aktifitas. Aktifitas dalam pengajaran bahasa bukanlah studi teoritis, melainkan penerapan temuan dalam studi teoritis. Orang yang bergerak dalam pengajaran linguistik (guru bahasa) adalah pengguna teori dan bukanlah penghasil teori bahasa. Mereka hanya pengguna teori yang dihasilkan oleh pakar bahasa atau ahli bahasa. Memang, ahli bahasa dengan guru bahasa berbeda dalam beberapa hal, misalnya hal yang berhubungan dengan tujuan, metode, dan sikap. Tujuan ahli bahasa yakni menghasilkan teori dan rincian bahasa, sedangkan guru bahasa bertujuan agar siswa segera terampil berbahasa dalam bahasa yang sedang diajarkan. Dilihat dari segi metode, metode ahli bahasa bersifat formal dan abstrak, sedangkan metode guru bahasa bersifat fungsional dan praktis. Dilihat dari segi sikap, seorang ahli bahasa melihat bahasa sebagai seperangkat sistem, sedangkan guru bahasa melihat bahasa sebagai seperangkat keterampilan. Linguistik menghasilkan teori dan rincian bahasa tertentu. Teori dan rincian bahasa tersebut diterapkan dalam proses belajar mengajar bahasa yang bersangkutan, termasuk bahasa Indonesia. Untuk mengajarkan bahasa Indonesia dibutuhkan

pengeta-huan linguistik yang cukup. Pengetahuan tentang linguistik tersebut yang akan membantu pengajar bahasa sehingga teori dan rincian bahasa tadi dapat diajarkan dengan baik melalui pengajaran bahasa. Guru bahasa Indonesia yang tidak memiliki wawasan linguistik selalu ragu-ragu, baik ketika menjelaskan materi yang diajarkan atau menjawab pertanyaan siswa. Guru tersebut ragu-ragu apakah yang dijelaskan memang betul atau kurang tepat? Misalnya seorang siswa bertanya Manakah yang benar, menerjemahkan ataumenterjemahkan? Apabila guru tersebut menjawabmenerjemahkan yang benar tentu siswa bertanya lagi mengapa bukan menterjemahkan karena bentuk itu yang selalu digunakan oleh mayarakat untuk berkomunikasi? Guru bingung. Guru yang tidak bijaksana akan marah atau akan menjawab Ya, dua-duanya benar. Siswa tidak memperoleh pegangan. Siswa menangkap kesan bahwa dalam bahasa Indonesia boleh begini, boleh begitu, tidak ada kaidah yang pasti. Contoh lain, siswa bertanya, Apakah kata meja, kata benda? Guru menjawab ya. Kalau bermeja-meja, misalnya dalam kalimat Hidangan di pesta itu diatur bermejameja. Guru bingung lagi. Tadi ia menjawab bahwa bentuk meja adalah kata benda, tetapi kini ada bentuk bermeja-meja, yang jelas bermeja-meja dan meja masih ada hubungan bentuk. Guru bingung. Guru yang tidak bijaksana akan marah atau akan menakut-nakuti siswa yang bertanya tadi. Sikap yang demikian mengakibatkan wibawanya turun di mata siswa. Guru dikatakan bodoh dan tidak heran kalau siswa memperolok-olok guru atau tidak mempedulikan guru. Siswa akan ribut, kelas akan sulit dikendalikan, tidak jarang ada guru yang lari menghadap kepala sekolah atau tidak bersedia mengajar di kelas itu. 2. Batasan dan Ruang Lingkup Pokok Bahasan Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan yang akan dikemukakan pada makalah ini perlu dibatasi pada pemberdayaan pengajaran bahasa Indonesia melalui peningakatan dan pengembangan pengetahuan linguistik. Dengan demikian, rumusan masalah pada makalah ini dikemukakan dalam bentuk pertanyaan, yaitu Bagaimanakah peningkatan dan pengembangan pengetahuan linguistik dapat memberdayakan pengajaran bahasa Indonesia? 3. Tujuan Pembahasan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan dan pengembangan pengetahuan linguistik dapat memberdayakan pengajaran bahasa Indonesia. 4. Manfaat Pembahasan Berdasarkan tujuan pembahasan di atas, maka makalah ini diharapkan dapat bermanfaat: a) sebagai bahan masukan bagi pengajar bahasa Indonesia dalam pemberdayaan pengajaran bahasa Indonesia; dan

b) untuk memperluas pengetahuan penulis sebagai mahasiswa dan guru mata pelajaran bahasa Indonesia.

B. Tinjauan Teori
1. Linguistik a. Linguistik sebagai Suatu Ilmu Linguistik adalah ilmu tentang bahasa (Depdikbud, 1990: 527). Ilmu ini mengkaji tentang bahasa secara ilmiah. Kata linguistik berasal dari bahasa Latin lingua yang berarti bahasa. Objek utama dari linguistik adalah bahasa. Dari beberapa definisi linguistik yang dikemukakan oleh para linguis, kelihatan bahwa tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengkaji bahasa sebagai bahasa dan untuk bahasa itu sendiri (Nikelas, 1988: 9). Linguistik digolongkan ke dalam kelompok ilmu sosial. Ilmu sosial menyatu dengan ilmu kemanusiaan karena fenomena sosial tergantung sepenuhnya dari ciri-ciri manusia, sebaliknya, ilmu tentang manusia tidak dapat tidak bersifat sosial. Linguistik menurut Jean Piage (1970) termasuk ke dalam ilmu nomotik, yaitu ilmu-ilmu yang berusaha mencari kaidah-kaidah mempergunakan metode aksperimental dan berusaha untuk memusatkan penelitian pada bidang yang terbatas. Ilmu lain yang tergolong sebagai ilmu nomotik adalah psikologi, sosiologi, etnologi, ekonomi, dan demografi. Piage juga mengatakan bahwa beberapa aspek pendekatan bahasa bersifat historis, dan ada pula beberapa aspek bahasa yang dapat didekati secara filosofis. Kridalaksana dalam Kencono (1982) menjelaskan bahwa sekali pun linguistik merupakan salah satu ilmu sosial atau kemanusiaan, namun kedudukannya sebagai ilmu yang otonom tidak perlu diragukan lagi, karena linguistik menyelidiki bahasa sebagai data utama. Selain itu, linguistik sudah mengembangkan seperangkat prosedur yang sudah dianggap standar. Sebagai suatu ilmu yang otonom, linguistik harus mempunyai dsar disiplin ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan modern, disiplin ilmiah itu telah mengalmi perkembangan sebagai berikut. 1) Pertama, tahap spekulasi. Pada tahap ini, data yang dibicarakan tidak dikemukakan berdasarkan suatu teori atau suatu patokan, melainkan haya berdasarkan anggapan belaka. Misalnya, dalam bidang kebahasaan, dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia berasal dari bahasa Ibrani. Orang juga mengira bahwa Adam dan Hawa juga berbicara dalam bahasa Ibrani. Benarkah semua bahasa bersumber atau diturunkan dari bahasa Ibrani dan benarkah Adam dan Hawa bercakap-calap dalam bahasa tersebut? Sukar dibuktikan. Anggapan ini tentu cuma spekulasi belaka. Dalam legenda suku Dayak Iban di Kalimantan dinyatakan bahwa pada zaman dahulu manusia hanya mempunyai satu bahasa tetapi karena keracunan cendawan,

mereka jadi berbicara dalam berbagai bahasa. Ini pun hanya spekulasi yang sukar diterima pada zaman sekarang. 2) Kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli mengumpulkan dan menggolong fakta-fakta yang menjadi objek penelitian secara teliti tanpa memberikan teori apapun. Dalam penyelidikan bahasa tahap ini belum dianggap tahap yang ilmiah karena ilmu yang matang bukan merupakan kumpulan fakta semata. 3) Ketiga, tahap perumusan teori. Dalam tahap ini suatu disiplin berusaha memahami masalah-masalah dasar yang dihadapi lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah itu. Sesudah itu, dirumuskankanlah suatu hipotesis atau teori yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis yang sudah diajukan tadi. Linguistik dewasa ini telah mengalami tahap ketiga ini. Jadi, sebagai suatu ilmu, linguistik sudah benar-benar melalui prosedur ilmiah. Namun, suatu usaha penyelidikan dan penelitioan baru dapat dikatakan ilmiah kalau sudah memenuhi tiga syarat dalam pelaksanaan pekerjaannya. Syarat-syarat tersebut adalah eksplisit, sistematis, dan objektif. Syarat keeksplisitan dapat dipenuhidengan menyatakan secara jelas kriteria yang dipakai dalam melakukan penelitian termasuk menyususn peristilahan yang jelas dan konsisten. Kriteria yang eksplisit diperlukan untuk menandai apa-apa yang diteliti. Peristilahan yang konsisten pun merupakan syarat bagi pendekatan ilmiahharus jelas-- batasan istilah yang dipakai. Antara istilah yang satu dengan yang lain tidak boleh ada kontradiksi. Syarat kesistematisan dapat dipenuhi dengan tiga hal, yaitu: 1) menyusun prosedur standar yang harus digunakan dalam penelitian. Di sini peneliti memulai analisisnya dengan melihat berbagai aspek dari data serta hubungannya dengan aspek-aspek lain. Umpamanya seorang peneliti bahasa akan menyelidiki bunyi bahasa. Pertama-tama dia harus menentukan dulu apa yang disebut vokal dan apa yang disebut dengan konsonan; kemudian menyelidiki satuan-satuan yang lebih besar seperti kata dan kalimat. Setelah itu baru menyelidiki makna dan akhirnya barulah sampai pada penyelidikan bunyi tersebut. Dalam mmengikuti prosedur ini yang penting peneliti harus bertindak secara konsisten. 2) menentukan kerangka deskripsi yang dipakai untuk menyesuaikan pandangan tentang data. Setiap penyelidik harus mengetahui apa yang harus dilihat dan dicari, sebab dia tidak mungkin memulai penelitiannya dengan pikiran dan pandangan yang kosong. Kerangka deskripsi ini merupakan suatu versi pendahuluan dari pemerian akhir yang diharapkan akan disusun setelah kegiatan penelitian itu selesai. Kerangka deskripsi itu mungkin tidak begitu jelas atau lengkap pada mulanya tetapi dalam pekerjaan selanjutnya dapat terus-menerus disempurnakan.

3) Mengadakan pengujian akhir yang ketat terhadap hipotesis, perkiraan atau pandangan terhadap bahasa. Pengujian ini dilakukan dengan mengadakan kontrol terhadap segala kemungkinan yang ada. Semua kemungkinan itu harus dijelaskan dan adanya saling pengaruh dari setiap kemungkinan itu harus dilihat dan diketahui. Syarat keobjektifan dapat dipenuhi dengan mengadakan penelitian terhadap data eksperimen yang terkontrol. Hasilnya harus terbuka terhadap pengamatan dan penilaian langsung. Apabila eksperimen itu diulangi, hasil penilaiannya akan tetap sama. Objektifitas menuntut kita tetap selu bersikap terbuka terhadap analisis, kritis dengan setiap hipotesis sampai dapat dibuktikan secara memadai, hati-hati dengan prasangka atau dugaan-dugaan, dan berusaha selalu menggunakan prosedur standar yang telah ditentukan. Dalam merumuskan teori tentang bahasa, linguistik juga menggunakan metode induktif dan deduktif sekaligus. Berdasarkan metode yang dipakai ahli bahasa dalam mengkaji dan menjelaskan tentang bahasa, kita dapat menekankan bahwa linguistik merupakan ilmu sosial yang kedudukanya sangat otonom dan berdiri sendiri dengan cara dan metoda yang baku dan sistematika ilmiah. Linguistik adalah ilmu praktis yang objeknya bahasa. Selain menggunakan pendekatan umum yang dibicarakan di atas, linguistik juga menggukan pendekatan-pendekatan tertentu dalam bahasa. Kridalaksana dalam Nikelas (1988: 13) menjelaskan sebagai berikut. 1) Linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif, artinya yang dipentingkan dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang, bukan menurut si penyelidik seharusnya diungkapkan. Bukanlah tugas linguistik menyusun kaidah-kaidah yang menjelaskan apa-apa yang betul atau yang salah. 2) Linguistik berbeda daripada pendekatan-pendekatan lain. Dalam hal ini linguistik tidak berusaha untuk memaksakan sesuatu dalam suatu bahasa ke dalam kerangka bahasa yang lain. Misalnya, beberapa puluh tahun yang lalu banyak ahli bahasa yang meneliti bahasa-bahasa di Indonesia dengan menerapkan kategori-kategori yang berasal dari bahasa Latin, Yunani, atau Arab sehingga kita sekarang mewarisi konsep-konsep yang tidak cocok untuk bahasa-bahasa Indonesia seperti kata majemuk, tekanan, pengacauan bunyi, fonem, huruf dan sebagainya. Pendekatan terhadap bahasa yang sudah-sudah tidak melihat bahwa setiap bahasa itu mempunyai sistem yang bersamaan. Ini dapat diakui bila telah dibuktikan adanya. 3) Linguistik juga memperlakukan bahasa sebagai suatu sistem dan bukan hanya sebagai kumpulan dari unsur-unsur yang terlepas. Cara pendekatan semacam ini disebut pendekatan struktural, sedangkan pendekatan bahasa yang menganggapnya sebagai kumpulan unsur-unsur yang tidak berhubungan satu sama lain disebut

pendekatan otomatis. Pendekatan terakhir ini menandai ilmu bahasa abad ke-19 dan sebelumnya. 4) Linguistik bersifat dinamis dan bukan bersifat statis. Linguistik selalu berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya pemakainya. Oleh sebab itu, pendekatan kepada bahasa dapat dilakukan secara deskriptif (sinkronis), yaitu dengan mempelajari berbagai aspeknya pada suatu masa tertentu. Selain itu, dapat juga dilakukan pendekatan secara historis(diakronis) yaitu dengan mempelajari perkembangannya dari waktu ke waktu. 5) Linguistik mendekati dan mendekati bahasa sebagai yang diucapkan yang berupa bunyi; sedangkan bahasa tulisan hanya bersifat sekunder. b. Bahasa sebagai Objek Linguistik Bertitik tolak dari definisi linguistik, dapat diambilkesimpulan bahwa objek linguistik adalah bahasa. Bahasa sebagai objek linguistik yang menyebabkan linguistik diputuskan menjadi satu disiplin ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Berkaitan dengan kemajuan teknologi sekarang, kita dapat berbicara langsung dengan orang lain meskipun orang itu tinggal beratus-ratus kilometer dari tempat tinggal kita. Kiata dapat menghubunginya dengan jalan menelepon jarak jauh yang berarti kita telah menggunakan bahasa. Semestinya kita harus berlayar menemuinya, tetapi dengan menggunakan bahasa melalui jasa telepon, kita dapat memintamisalnya agar ia mengirim uang kepada kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berkata, Toni, ambilkan buku itu! Tidak beberapa lama kemudian, buku yang kita maksud sudah berada di tangan kita. Ini berarti dengan menggunakan beberapa patah kata, ada kegiatan manusia yang diganti. Ini berarti pula bahwa bahasa berfungsi mengganti diri kita dan kegiatan kita. Menggunakan bahasa mengirimkan lambang-lambang dari pembicara menuju pendengan. Oleh karena bahasa yang berwujud kata-kata dan kalimat yang digunakan berasal dari pribadi seseorang, maka dapat dikatakan bahwa bahasa bersifat individual. Bahasa berfungsi menghubungkan pribadi dengan pribadi. Bahasa bersifat personal yang berarti berguna untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan kemauan individu. Sesuatu yang dikatakan oleh pembicara akan ditafsirkan oleh pendengar. Dengan kata lain, setelah kata atau kalimat yang berwujud bunyi-bunyi itu dihasilkan, orang yang mendengarnya bisa saja menaatinya. Ini berarti terjadi kerja sama antara pembicara dengan pendengar. Ini berarti pula bahwa hakikat bahasa yang bersifat individual itu menjadi kooperatif. Maksudnya, antara pembicara dengan pendengar terjadi kerja sama dengan jalan menggunakan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat melaksanakan amanah kehidupannya di dunia ini secara sempurna. Bahasa menjadi alat yang sempurna untuk menghubungkan dunia seseorang dengan dunia di luar dirinya. Bahasa sebagai alat mengacu juga sebagai alat

perekam dan penyampai aktivitas kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. c. Bidang-bidang Kajian Linguistik Dewasa ini, perkembangan linguistik sangat pesat sekali. Aspek lain yang berkaitan dengan bidang-bidang kajian linguistik juga berkembang. Kajian tentang bahasa tidak hanya meliputi satu aspek saja tetapi telah meluas ke bidang atau aspek-aspek di luar bahasa yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan kehidupan manusia. Berikut ini kita lihat pembidangan linguistik. Pada dasarnya linguistik mempunyai dua bidang besar, yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik mempelajari bahasa dari struktur dalam bahasa tersebut. Bidang-bidang pada ilmu ini secara umum terbagi atas (1) teori linguistik, (2) linguistik deskriptif, dan (3) linguistik historis komparatif. Bidang-bidang ilmu ini secara khusus terbagi atas (1) linguistik deskriptif, (2) linguistik historis komparatif, dan (3) sejarah linguistik. Makrolinguistik adalah bidang-bidang yang mengkaji bahasa yang berhubungan dengan faktor-faktor di luar bahasa; termasuk di dalamnya bidang antardisiplin dan bidang terapan. Bidang-bidang antardisiplin antara lain (1)fonetik, (2) stilistik, (3) filsafat bahasa, (4) psikolinguistik, (5) sosiolinguistik, (6) etnolinguistik, (7) filologi, (8) semiotik, dan (9) epigrafi. Bidang terapan terbagi atas (1) pengajajaran bahasa, (2) penterjemahan, (3) leksikografi (4) fonetik terapan, (5) sosiolinguistik terapan, (6) pembinaan bahasa internasional, (7) pembinaan bahasa khusus, (8) linguistik medis, (9) grafologi, dan (10) mekanolinguistik. Teori linguistik adalah cabang linguistik yang memusatkan perhatian pada teori umum dan metode-metode umum dalam penelitian bahasa. Linguistik deskriptif adalah bidang linguistik yang menyelidiki sistem bahasa pada masa tertentu. Cabang ini terbagi atas fonologi, deskriptif, morfologi deskriptif, sintaksis deskriptif dan leksikologi deskriptif. Fonologi meneliti ciri-ciri dan fungsi bunyi, baik bahasa pada umumnya maupun pada bahasa tertentu. Morfologi menyelidiki kata seta hubungan antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis lazim juga disebut tata bahasa atau gramatika. Leksikologi berkenaan dengan perbendaharaan kata atau kosa kata. Linguistik historis komparatif (diakronis) menyelidiki perkembangan bahasa dari suatu masa ke masa yang lain, serta menyelidikiperbandingan bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Fonetik adalah ilmu yang mengkaji tentang bunyi. Stilistika adalah ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk sastra. Stilistika merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dan kesusastraan. Filsafat bahasa adalah ilmu yang menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta menyelidiki dasar-dasar konseptual dan teoritis

linguistik. Jadi, filsafat bahasa merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dengan filsafat. Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan perilaku dan akal budi manusia. Psikolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dan psikologi. Sosiolinguistik merupakan ilmu yang menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyarakat. Jadi, sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dengan sosiologi. Filologi mempelajari naskah-naskah kuno yang yang menjadi bukti perkembangan budaya manusia. Filologi merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bagsa yang terdapat dalam bahanbahan tertulis. Semiotika mempelajari lambang-lambang atau tanda-tanda lalu lintas, kode morse, dan sebagainya. Epigrafi mempelajari tulisan kuno yang terdapat pada prasasti-prasasti. Pengajaran bahasa merupakan ilmu terapan. Bidang ini mencakup bahan pengajaran, teknik mengajar, penyusunan bahan dan evaluasi pengajaran bahasa, dan lain-lain. Bidang terapan lainnya adalah masalah penterjemahan. Dalam penterjemahan ini tercakup metode alih bahasa dari satu bahasa ke bahasa lainnya yang berkaitan dengan linguistik, antara lain leksikografi, yaitu ilmu yang berkenaan dengan metode dan penyusunan kamus. Fonetik terapan merupakan ilmu yang berkenaan dengan teknik pengucapan bunyi, seperti melatih orang gagap, dan lain-lain. Di samping itu masalah pembinaan bahasa juga merupakan bidang terapan ilmu bahasa, terutama dalam pem-binaan bahasa internasional atau bahasa-bahasa khusus yang perlu dibina dan dikembangkan. Grafologi adalah ilmu yang berkenaan dengan seluk-beluk bahasa tulis. Semantik termasuk ke dalam ilmu linguistik umum yang menitikberatkan kajian bahasa dari segi makna, baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat deskriptif serta bersifat historiskomparatif. Bidang yang menkaji khusus dalam bidang penggunaan bahasa lainnya adalah Pragmatik. Pragmatik mengkaji bagaimana makna dikomunikasikan dengan kata atau kalimat dalam aspek-aspek konteks bahasa. Pengkomunikasian makna selalu dilihat dari penggunaannya berdasarkan waktu, tempat, hubungan sosial antara pembicara dan pendengar. Selain itu, juga dikaji asumsi si pembicara terhadap reaksi pendengar dan pengertiannya. Bagan berikut menggambarkan bidang-bidang linguistik (Nikelas, 1988: 16) MIKROLINGUISTIK MAKROLINGUISTIK umum 1. teori linguistik 1. antardisiplin 2. linguistik deskriptif a. fonetik

khusus

3. linguistik historis komparatif 1. linguistik deskriptif 2. linguistik historis komparatif

b. stilistika c. filsafat bahasa d. psikolinguistik e. sosiolinguistik f. etnolinguistik g. filologi h. semiotik i. epigrafi 2. terapan a. pengajaran bahasa b. penterjemahan c. leksikografi d. fonetik terapan e. sosiolinguistik terapan f. pembinaan bahasa internasinal g. pembinaan bahasa khusus h. linguistik medis i. grafologi j. mekanolinguistik

sejarah linguistik 3. Pengajaran Bahasa oleh Guru Tugas utama guru bahasakalau dikaitkan dengan tujuan instruksional yang ingin dicapaiadalah berusaha keras agar siswa menjadi tuntas berbahasa dalam bahasa yang diajarkan. Tugas guru mengajarkan bahasa dan bukan mengajarkan teori bahasa. Dewasa ini terdapat kesan bahwa guru lebih banyak mengajarkan teori bahasa dan tidak mengajarkan bagaimana siswa menggunakan bahasa yang diajarkan. Tugas guru bahasa dengan tugas ahli bahasa memang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada skema berikut (Pateda, 1991: 37). Linguistik Pada skema I terlihat pekerjaan guru bahasa, yakni mengajarkan bahasa tertentu. Untuk mengajarkan bahasa tertentu itu, guru bahasa melaksanakannya melalui pengajaran materi tertentu setiap kali pertemuan terpogram. Untuk mengajarkan bahan itu, guru bahasa harus mempunyai wawasan linguistik. Berhubung banyak teori kebahasaan yang terdapat dalam teori linguistik, guru bahasa harus pandai-pandai memilih teori mana yang lebih bermakna untuk melandasi pengajaran bahan. Tujuan pengajaran itu adalah agar siswa menjadi tuntas dalam bahasa yang sedang diajarkan. Pada skema II terlihat pekerjaan ahli bahasa, yaitu meneliti bahasa tertentu lalu menganalisisnya, mengambil kesimpulan, dan melaporkannya hasil penelitian itu dalam bentuk perian bahasa yang diteliti. Untuk mengadakan penelitian itu, ahli bahasa menggunakan teori tertentu, baik yang digunakan untuk mendukung

metodologi penelitian, latar belakang teori yang digunakan, maupun cara pelaporannya. Hasil akhir pekerjaan ahli bahasa adalah menyusun suatu perian bahasa atau mengembangkan teori kebahasaan tertentu. Pekerjaan itu ditujukan untuk pengembangan teori linguistik, kepentingan bahasa tertentu dan hasilnya ditujukan kepada sesama ilmuwan yang bergerak dalam bidang linguistik dan praktisi-praktisi kebahasaan, misalnya guru bahasa. Hal itu berbeda dengan guru bahasa yang pekerjaannya ditujukan kepada siswa. Menurut Stevick (1982) dalam Pateda (1991: 38), tugas guru bahasa meliputi tiga hal. Ketiga tugas itu adalah (1) mengembangkan potensi komunikasi, (2) mengembangkan potensi linguistik, dan (3) mengembangkan potensi personal. Tugas guru yang berhubungan dengan upaya mengembangkan kompentensi komunikasi mengacu pada upaya agar siswa mampu berkomunikas, baik sesama teman maupun dengan manusia lain. Tugas utama di sini adalah berusaha agar siswa berani dan tidak ragu-ragu untuk mengemukakan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Ketiga domain itu tentu harus menggunakan bahasa yang benar. Siswa harus memahami kaidah-kaidah bahasa yang digunakan ketika ia berkomunikasi. Hal itu perlu agar tidak terjadi salah paham. Kompentensi berkomunikasi dan kompentensi linguistik bersama-sama akan memperkuat kemandirian siswa sebagai makluk yang berkembang dan didengar pendapatnya. Keberanian berkomunikasi menggunakan bahasa yang tepat menimbulkan rasa kepercayaan pada diri sendiri bahwa ia merupakan pribadi yang berarti. Ia tidak akan ragu-ragu karena ia mengetahui kemampuan dirinya. Dalam keadaan tertentu ia dapat menentukan sikap terhadap sejumlah alternatif yang dihadapinya karena kompentensi personalnya telah berkembang sedemikian melalui interaksi positif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dan siswa dengan lingkungan. Kompentensi berkomunikasi dan kompentensi linguistik berkembang secara baik apabila pada diri siswa sendiri terdapat motivasi. Motivasi yang dimaksud adalah berkomunikasi, mengembangkan komunikasi linguistik bahkan mengembangkan komunikasi personal. Dikaitkan dengan motivasi, ada empat faktor utama yang turut menentukan. Keempat faktor itu adalah (1) sosiolinguistik, (2) siswa, (3) metode, dan (4) guru. Faktor sosiolinguistik mengacu kepada hubungan siswa dengan lingkungan sosialnya. Ini berarti pilihan bahasa siswa dikaitkan dengan fungsi dan situasi. Faktor siswa mengacu pada upaya sadar yang muncul dari siswa sendiri untuk mengembangkan poteni yang dimiliki. Faktor metode mengacu pada cara yang dilaksanakan sehingga siswa secara sadar berkeinginan berkomunikasi. Faktor guru mengacu pada upaya guru yang mengakibatkan siswa mau berkomunikasi.

Mengajarkan bahasa berarti aktivitas terpogram menyediakan fasilitas yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dan keterampilannya (Pateda, 1991: 39). Sebagai guru bahasa Indonesia sebaiknya ia: 1) menguasai semua metode pegajaran bahasa dan dapat menerapkan metode itu dalam proses belajar mengajar, 2) menguasai bahan yang akan dan sedang diajarkan, 3) melaksanakan semua kegiatan sekolah, misalnya melaksanakan ulangan, 4) menguasai semua jenis dan prosedur penilaian, 5) menguasai semua tipe latihan berbahasa, 6) menguasai pengelolaan kelas, misalnya dapat mengatasi keributan siswa karena gangguan, 7) menguasai teknik pegajaran individual, 8) dapat menentukan dan menguasai silabi pelajaran, 9) dapat memanfaatkan media pengajaran yang tersedia, 10) menguasai tujuan pengajaran dan aktivitas untuk mencapai tujuan tersebut, dan 11) menguasai teknik-teknik pendidikan.

C. Pembahasan
Tugas guru memang berat karena guru bukanlah manusia yang menghadapi benda mati, bukan menghadapi tumpukan kertas, guru bukanlah guru tik yang kalau salah mengetik tersedia tip ex untuk memperbaiki kesalahan itu. Guru adalah manusia biasa yang penuh keterbatasan. Selain itu, ia menghadapi manusia yang sedang berkembang yang memiliki sejumlah potensi yang harus dilacak dan dikembangkan. Dalam kegiatannya, guru harus dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu dasar, misalnya ilmu alamiah dasar, ilmu sosial dasar, dan ilmu budaya dasar. Guru juga harus dibekali dengan ilmu pendidikan, misalnya dasar-dasar pendidikan, layanan bimbingan belajar, pengelolaan kelas, interaksi belajar mengajar, penilaian, dan perencanaan pengajaran bahasa. Tentu saja ilmu yang berhubungan dengan bidang studi harus mempunyai porsi yang banyak dalam pengalokasian waktu. Secara ideal, seorang guru bahasa Indonesia adalah seorang ahli bahasa Indonesia, peneliti, dan penulis bahan pelajaran kebahasaan. Ia juga harus selalu mendalami dan mengikuti perkembangan ilmu yang diajarkannya. Seorang guru bahasa Indonesia mau tidak mau harus menguasai linguistik. Sekali pun harapan ideal pertama, yaitu menjadi ahli bahasa dapat diperlunak, tetapi dengan pengetahuan linguistik yang dimiliki, guru bahasa Indonesia dapat mengajarkan aspek bahasa Indonesia sehingga siswa dengan mudah menguasai bahan yang diajarkan. Bagaimanakah seorang guru bahasa Indonesia menerangkan kata menanamkan dan menanami kalau tidak menguasai tata bahasa Indonesia. Bagaimana pula guru bahasa Indonesia mengajarkan pengimbuhan ber + ajar menjadi belajardan bukan berajar, kalau guru

tersebut tidak menguasai linguistik? Bagaimana guru bahasa Indonesia dapat mengajarkan pragmatik kalau ia sendiri tidak pernah bergaul dengan sosiolinguistik? Pendek kata, seorang guru bahasa Indonesia harus menguasai linguistik kalau ia ingin menjadi guru yang baik. Guru bahasa Indonesia harus menguasai fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan ilmu-ilmu sekerabat dengan linguistikmisalnya sosiolinguistik dan psikolinguistikdalam bahasa Indonesia. Tentu saja pengetahuan linguistik bagi seorang guru bahasa Indonesia lebih bersifat praktis dalam arti membentengi diri agar dapat menjelaskan gejala bahasa Indonesia yang diajarkannya. Jelas pula, seorang guru bahasa Indonesia tidak boleh hanya mengajarkan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dapat diajarkan untuk menuntun pola penggunaan bahasa Indonesia ketika siswa berkomunikasi. Guru sebaiknya memahami bagaimana agar kaidah bahasa yang dianalisis berdasarkan konsep linguistik dapat menampakkan diri dalam pemakaian bahasa siswa. Hal itu perlu ditekankan karena guru bahasa Indonesia tidak mengajar siswa menjadi ahli bahasa Indonesia, tetapi berusaha agar siswa mahir berbahasa. Guru bahasa Indonesia selain memenuhi syarat teknis administratif sebagai guru, juga harus dilandasi dengan pengetahuan linguistik. Hal itu penting agar wawasannya tentang pengajaran bahasa Indonesia bertambah luas. Dengan demikian, linguistik mempunyai kegunaan bagi guru bahasa Indonesia. Kegunaan itu sekurang-kurangnya dalam tiga hal, yakni (1) kegunaan untuk peningkatan mutu profesi, (2) kegunaan secara teoritis, dan (3) kegunaan secara praktis (Pateda, 1991: 41) 1. Kegunaan untuk Peningkatan Mutu Profesi Guru bahasa Indonesia merupakan profesi dan tidak semua orang bisa melaksanakannya. Memang, banyak guru bahasa Indonesia, tetapi tidak akan pantas disebut guru bahasa Indonesia kalau profesinya hanya digunakan untuk sekedar memperoleh nafkah. Kalau seorang guru ingin meningkatkan profesinya sebagai guru bahasa Indonesia maka seharusnya ia ia membentengai pengetahuan dan keterampilannya dengan teori linguistik. Mengapa? Secara mudah dijawab bahwa linguistik berobjekkan bahasa, sedangkan di dalam pengajaran bahasa, bahasalah yang diajarkan kepada siswa. Jika guru bahasa Indonesia memahami betul wujud, hakikat,karakteristik, tataran, dan teori bahasa Indonesia, tentu guru tersebut akan melaksanakan tugasnya lebih baik jika dibandingkan dengan guru bahasa Indonesia yang tidak mengetahui teori linguistik. Berdasarkan kenyataan, bahasa Indonesia berwujud berdasarkan apa yang dilihat, yaitu bahasa tulis dan ada yang berwujud berdasarkan apa yang didengar atau dituturkan, yaitu bahasa lisan. Guru bahasa Indonesia tentu harus pandai melihat kenyataan ini. Kenyataan ini yang harus diusahakan agar dipahami dan dapat dipraktikkan oleh siswa.

Dalam kegiatan berbahasa, tugas guru bahasa Indonesia adalah mengelola kebahasaan kelas sedemikian rupa sehingga siswa yang dihadapi mengalami perubahan dalam keterampilan berbahasa dari suatu keadaan tertentu menuju keadaan yang lebih meningkat dari keadaan sebelumnya. Keterampilan berbahasa tersebut adalah (1) berbicara, (2) mendengar, (3) membaca, dan (4) menulis. Dalam keterampilan berkomunikasi, dijabarkan tujuan agar siswa dapat melafalkan kata-kata secara tepat. Guru bahasa Indonesia tentu harus menguasai prinsip-prinsip fonologi bahasa Indonesia. Demikian juga kalau dirumuskan tujuan belajarnya agar siswa dapat menyusun kalimat yang benar, guru bahasa Indonesia harus menguasai prinsip-prinsip sintaksis. Kalau guru dapat menjelaskannya dengan baik dan siswa dapat memahami dengan baik pola kebahasaan yang diajarkan, niscaya perubahan tingkah laku berbahasa siswa terlihat setiap hari. Kalau guru bahasa Indonesia dapat menjawab pertanyaan siswa secara meyakinkankarena dilandasi teori linguistik niscaya keper-cayaan siswa kepada gurunya bertambah kuat. Dengan demikian, hal tersebut akan meningkatkan wibawa guru di hadapan anak didiknya. 2. Kegunaan secara Teoritis Setiap ilmu pengetahuan diusahakan berkembang terus oleh ahlinya, termasuk di sini linguistik. Dewasa ini, linguistik berkembang pesat berkat kegigihan para ahli di bidang ini. Disiplin ilmu ini makin meluas dan melahirkan subdisiplin baru, misalnya telah muncul neurolinguistik, biolinguistik, dan linguistik statistik. Guru bahasa Indonesia seharusnya mengikuti terus perkembangan ilmu ini karena profesinya berkaitan erat dengan linguistik. Guru bahasa Indonesia yang profesional mendalami, memburu, dan meningkatjan terus mutu pengajaran bahasa Indonesia yang diajarkannya. Sebagai guru yang bersifat pemburu ilmu, harus membaca, mengikuti siaran radio, televisi, ceramah, pertemuan ilmiah kebahasaan. Guru sebagai orang yang bersifat suka mening-katkan mutu pengajarannya, sering mengadakan pembaharuan, baik yang berhubungan dengan materi yang diajarkannya maupun yang berhubungan dengan metode mengajar. Guru bahasa Indonesia yang mendalami bidang studinya selalu bertanya apakah teori kebahasaan yang diketahuinya masih cocok dengan perkembangan ilmu itu? Seba-gai seorang pemburu ilmu, guru harus bertanya apakah sudah ada pendapat baru yang berkaitan dengan bahan yang diajarkan? Apakah ada buku baru? Apakah ada penemuan baru di negara lain yang berkaitan dengan bahan yang diajarkan? Hal ini memaksa guru untuk berlangganan majalah kebahasaan, setia mengikuti siaran, menyisihkan waktu membaca surat kabar, dan selalu berusaha mengikuti pertemuan ilmiah atau ceramah kebahasaan.

Seorang guru bahasa Indonesia bukan menjelaskan teori linguistik tetapi teori linguistik dimanfaatkannya secara maksimal untuk meningkatkan mutu pengajaran bahasa Indonesia yang dilaksanakannya. Pengetahuan tentang teori linguistik belum cukup bagi guru bahasa. Kalau hanya pengetahuan teori linguistik saja yang diketahui, guru bahasa akan sama dengan seorang ahli bahasa. Guru bahasa Indonesia, selain harus memahami teori linguistik, ia harus meningkatkan profesinya dengan jalan mendalami ilmu pendidikan dan keguruan. Betapa pun ahlinya guru bahasa dalam bidang linguistik, kalau ia sendiri tidak mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang berdayaguna dan berhasilguna maka usahanya akan gagal. Guru itu akan lebih banyak berceramah, berteori, dan akan kurang berhasil mengubah tingkah laku berbahasa siswa. Pendek kata, seorang guru bahasa Indonesia harus berwawasan luas, baik dalam bidang studi yang diajarkan, ilmu kependidikan, maupun ilmu bantu lainnya yang akan turut menunjang proses belajar mengajar. 3. Kegunaan secara Praktis Kalau berbicara tentang guru bahasa Indonesia, banyak tuntutan aktivitas yang harus dilaksanakannya. Guru tersebut adalah seorang yang menghadapi sejumlah siswa di dalam kelas, penulis buku teks, atau seorang yang membuat perencanaan bahan pengajaran yang siap disajikan. Selain itu, guru bahasa Indonesia adalah pelayan masyarakat dalam bidang bahasa Indonesia. Konsekwensinya, guru bahasa Indonesia harus siap menghadapi pertanyaan anggota masyarakat tentang bahasa Indonesia. Untuk itu tidak ada pilihan lain selain meningkatkan profesi kependidikan dan sekaligus pengetahuannya di bidang kebahasaan. Guru bahasa Indonesia harus banyak melaksanakan kegiatan penunjang agar dapat meningkatkan mutu profesi dan pengetahuan di bidang kebahasaan. Kegiatan penunjang itu dapat dilaksanakan dengan dua jalur, yakni jalus formal dan jalur informal. Kalau melalui jalur formal, guru tersebut dapat berusaha menambah pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan formal. Pendidikan formal ini, misalnya dapat diikuti melalui Universitas Terbuka. Kegiatan penunjang yang dapat dilaksanakan melalui jalur informal antara lain: a) menambah pengetahuan melalui buku baru yang diperoleh dengan membeli atau meminjam di perpustakaan, b) membaca surat kabar atau majalah yang ada hubungannya dengan persoalan pendidikan atau kebahasaan, c) mengikuti siaran radio dan televisi, d) mengikuti kegiatan ilmiah berupa seminar, lokakarya, konfrensi, simposium, dan sebagainya yang berkaitan dengan bahasa,

e) mengadakan penelitian mandiri, baik biaya sendiri maupun biaya sponsor, f) bertanya atau berdialog dengan pakar pendidikan dan ilmu bahasa, g) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat, misalnya penyuluhan bahasa, h) mengikuti perlombaan, dan menyiarkan atau menulis hasil penelitian atau pengalaman melalui media massa.

D. Simpulan dan Saran


1. Simpulan Guru bahasa Indonesia di kelas tidak menghadapi benda mati tetapi menghadapi manusia yang kreatif, berpotensi, dan dinamis. Dalam kegiatannya, guru harus dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik ilmu tentang pendidikan maupun yang bersangkutan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Dalam hal ilmu pendidikan, guru harus dibekali dengan ilmu pendidikan, misalnya dasar-dasar pendidikan, layanan bimbingan belajar, pengelolaan kelas, interaksi belajar mengajar, dan penilaian. Dalam hal peningkatan profesi sebagai guru bahasa Indonesia, guru tersebut mau tidak mau ha-rus menguasai linguistik. Pengetahuan linguistik sekurangkurangnya berguna dalam tiga hal, yakni (1) kegunaan untuk peningkatan mutu profesi, (2) kegunaan secara teoritis, dan (3) kegunaan secara praktis. 2. Saran-saran Mengacu pada pembahasan yang dikemukakan, ada beberapa saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan pemberdayaan guru bahasa Indonesia melalui peningkatan dan pengembangan pengetahuan linguistik, yaitu: a. guru bahasa Indonesia sebaiknya membekali diri dengan ilmu pendidikan dan pengetahuan linguistik, b. guru bahasa Indonesia harus mengikuti terus perkembangan ilmu yang diajarkannya, dan c. guru bahasa Indonesia harus berusaha menambah pengetahuan dan keterapilannya, baik melalui pendidikan formal maupun informal. DAFTAR PUSTAKA Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Mulyono, Anton M. dkk. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. _______ . 1981. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan. Nikelas, Syhwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa. Jakarta: Depdikbud. Pateda, Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Flores: Nusa Indah. Soenardji. 1988. Sendi-sendi Linguistika bagi Kepentingan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Debdikbud. Subyakto-N, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

BIBLIOGRAFI Abdullah Hassan, Hasnah Ibrahim dan Mashudi Kader,1989. Kesalahan Bahasa Dalam Bahasa Malaysia.Kuala umpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Abdullah Yusuf,2010. HBML3403 Linguistik dan Sosiolinguistik. Selangor: Meteor Doc. Sdn. Bhd. Arbak Othman,1983. Permulaan ilmu linguistik. Selangor: Sarjana (M) Sdn. Bhd. Awang Sariyan,1984. Isu-isu Bahasa Malaysia. Petaling Jaya: Fajar Bakti Sdn. Bhd. Jhn Lyons,1994. Bahasa dan Linguistik. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Langacker,R.W.(1972). Fundamentals of linguistics .New York: Harcourt, Brace Jovanich. Nik Safiah Karim,1980. Bahasa Melayu Teori dan aplikasinya.Kuala Lumpur: Sarjana Enterprise. Nor Hisham Osman ,2001. Perancangan Bahasa. Shah Alam : Al-Hikmah Jurnal Markus Lim.(2008). Bersangka baik Terhadap Bahasa Kebangsaan.Jurnal Dewan Bahasa,8,8:56-7