Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH ANALISIS KASUS AUDITING 2

DI SUSUN OLEH : Deby Terecya Umi Fitria N. Danu S. S. Ika Putri H. Voni Lusiana Maftukhah Sofia Dewi (131120000593) (131120000645) (131120000485) (131120000628) (131120000568) (131120000579) (131120000508)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA (UNISNU) JEPARA 2014

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-NYA, mungkin tim penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengerti dan memperluas ilmu tentang auditing, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan yang kami lakukan dari permasalahan yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah auditing 2. Makalah ini disusun oleh tim penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang permasalahan terhadap kecurangan internal yang terdapat pada perusahaan Comptronix Corp yang kiranya sangat penting untuk diinformasikan kepada pembaca terutama seorang yang bekerja di auditor guna untuk pembelajaran dan menambah wawasan. Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan, tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai kaidah. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas pada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan saran yang membangun. Terima kasih.

Jepara, Maret 2014

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 1.1. 1.2. Latar Belakang....................................................................................... 1 Rumusan Masalah.................................................................................. 2

BAB II LANDASAN TEORI .............................................................................. 3 2.1. Audit Terhadap Siklus Pendapatan : Pengujian Pengendalian................. 3 Pengendalian Transaksi Penjualan Kredit........................................ 3 Pengujian Pada Siklus Penjualan Dan Penagihan: Piutang Dagang 5

2.1.1. 2.1.2. 2.2.

Audit Terhadap Siklus Pengeluaran :Pengujian Pengendalian .............. 11 Pengendalian Transaksi Pembelian ............................................... 11 Pengendalian Transaksi Pengeluaran Kas...................................... 18

2.2.1. 2.2.2.

BAB III PEMBAHASAN .................................................................................. 22 3.1. 3.2. Kecurangan dan jenis kecurangan ........................................................ 22 Pendeteksian Kecurangan .................................................................... 23 Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud). ...... 24 Asset Misappropriation (Penyalahgunaan aset). ............................ 25 Corruption (Korupsi), ................................................................... 27

3.2.1. 3.2.1. 3.2.3.

BAB IV PENUTUP ........................................................................................... 29 DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Comptronix corp. mengumumkan bahwa anggota senior tim manajemennya telah menyatakan terlalu tinggi laba, dan akan dilakukan penyesuaian yang material atas laporan keuangan yang di audit pd th sebelumnya. Inti dari kecurangan adalah penggunaan utang usaha fiktif atas pembelian item peralatan yang besar untuk melebih sajikan aktiva tetap dan menyembunyikan penjualan fiktif. Eksekutif senior mengakali pengendalian internal comptronix yang ada dg melewati departemen pembelian dan penerimaan shg tdk ada orang di comptronix yang akan mengungkapkan skema tersebut. Para karyawan biasanya meninggalkan jejak kertas yang cukup ekstensif utk pembelian peralatan. Pengendalian internal terhadap transaksi akuisisi dan pengeluaran kas umumnya memerlukan pesanan pembelian, laporan penerima adalah faktur vendor sebelum pembyrn dapat diotorisasi oleh Chief Operating Officer atau bendahara, yang keduanya terlibat dlm kecurangan tersebut. Sebagai akibatnya, para eksekutif itu mampu melewati pengendalian terhadap pengeluaran kas dan mengotorisasi pembayaran atas pembelian fiktif tanpa membuat dokumen apapun untuk transaksi fiktif. Perusahaan juga menciptakan penjualan fiktif dan piutang yang terkait. Perusahaan mengeluarkan cek untuk membayar transaksi pembelian fiktif itu. Cek tersebut kemudian disetorkan kembali ke dalam akun perusahaan dan di catat sebagai penagihan atas piutang fiktif. Akibatnya, penjualan fiktif tersebut tampak telah tertagih. Dan pembayaran dilakukan utk mendukung pembelian aktiva tetap fiktif. Skema kecurangan itu membesar-besarkan kinerja perusahaan dengan melaporkan laba, padahal sebenarnya perusahaan mengalami kerugian.

Ketika kecurangan tersebut diumumkan kepada publik, harga saham comptronix menurun secaradrastis sebesar 72%. (Arens, 2008)

1.2. Rumusan Masalah Bagaimana cara auditor mampu menggungkapkan kecurangan atas contoh kasus Comptronix corp.?

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Audit Terhadap Siklus Pendapatan : Pengujian Pengendalian 2.1.1. Pengendalian Transaksi Penjualan Kredit Fungsi yang terkait : Fungsi Penjualan. Menerima surat order dari customer, Mengedit order dari customer, Menentukan tanggal Pengiriman & Mengisi surat order penjualan. Fungsi Otorisasi Kredit. Meneliti status kredit customer dan Memberikan otorisasi kredit kepada customer. Fungsi Penyimpanan Barang. Menyimpan, menyiapkan dan menyerahkan barang yang dipesan oleh customer kepada fungsi pengiriman. Fungsi Pengiriman Barang. Menyerahkan barang atas dasar surat order pengiriman yang diterimanyadari fungsi penjualan. Fungsi Penagihan membuat dan mengirimkan faktur penjualan kepada customer. Fungsi Pencatat Piutang. Mencatat semua akun (perkiraan) yang berkaitan dengan piutang. Fungsi Akuntansi Biaya. Mencatat kos produk jadi yang dijual dalam buku pembantu sediaan dan mencatat kos produk jadi yang dikembalikan oleh customer dalam transaksi retur pembelian. Fungsi Akuntansi Umum. Mencatat transaksi penjualan tunai & kredit, retur penjualan, pencadangan kerugian piutang dan penghapusan piutang. Fungsi Penerimaan Barang. Menerima barang dari transaksi pembelian dan retur penjualan. Dokumen: Surat Order Pengiriman. Tembusan Kredit (credit copy). Surat Pengakuan (ac knowledgement copy).

Surat Muat (bill of landing). Slip Pembungkus (packing slip). Tembusan Gudang (warehouse copy). ArsipPengawasan Pengiriman (sales order follow-up copy). Arsip Indeks Silang (cross-index file copy)

Aktivitas Pengendalian dalam Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Kredit : Pengguna ansurat order penjualan yang diotorisasi untuk setiap penjualan. Fungsi pemberi otorisasi kredit mengecek semua customer baru. Penentuan bahwa customer berada dalam daftar customer yang telah disetujui. Pengecekan batas kredit sebelum penjualan kredit dilaksanakan. Barang dikeluarkan dari gudang hanya atas dasar surat order pengiriman yang telah diotorisasi. Pengecekan barang yang dikirim dengan surat order pengiriman. Pemisahan fungsi pengiriman barang dari fungsi penjualan. Pembuatan dokumen pengiriman untuk setiap pengiriman barang. Setiap faktur penjualan harus dilampiri dengan surat order pengiriman yang telah diotorisasi dan dokumen pengiriman. Pencocokan faktur penjualan dengan dokumen pengiriman. Pertanggungjawaban secara periodik dokumen pengiriman. Pengecekan independen terhadap pemberian harga dalam faktur penjualan. Setiap pencatatan harus dilandasi dokumen sumber faktur penjualan dan dokumen pendukung yang lengkap. Pengecekan secara independen posting kedalam buku pembantu piutang dengan akun kontrol piutang dalam buku besar. Pertanggungjawaban semua faktur penjualan secara periodik. Panduan akun dan review terhadap pemberian kode akun. Pengiriman pernyataan piutang bulanan kepada kreditur.

2.1.2. Pengujian Pada Siklus Penjualan Dan Penagihan: Piutang Dagang Kedelapan Tujuan audit-terkait saldo piutang dagang: 1. Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumlah pada berkas utama, dan jumlah totalnya secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (Kecocokan perincian). 2. Pencatatan piutang dagang yang terjadi (Keberadaan) 3. Seluruh piutang dagang sudah dihitung (Kelengkapan) 4. Jumlah piutang dagang yang tepat (Akurasi) 5. Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi) 6. Pisah batas waktu piutang dagang yang tepat (Pisah batas) 7. Piutang dagang dinyatakan dalam nilai yang dapat direalisasikan (Nilai terealisasi) 8. Klien memiliki hak atas piutang dagang (Hak)

Tahap I: Mengidentifikasi Risiko bisnis klien yang memegaruhi piutamg dagang Auditor harus mempelajari bisnis dan industri klien serta mengevaluasi tujuan manajemen dan proses bisnis untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien, Risiko bisnis klien yang memegaruhi piutang dagang oleh auditor dianggap sebagai risiko yang tak terhindarkan dan dijadikan bukti perencanaan untuk piutang dagang. Menetapkan Salah saji yang dapat Diterima dan Mengevaluasikan Risiko bawaan Piutang dagang biasanya merupakan salah satu bagian terpenting dari pelaporan keuangan bagi perusahaan dengan penjualan kredit. Auditor menentukan risiko yang tak terhindarkan untuk masing-masing akun dengan mempertimbangkan risiko bisnis dan industri perusahaan klien. PSA 70 (SA 316) mengindikasikan bahwa auditor harus bisa

mengidentifikasikan risiko pelanggaran dalam pengakuan pendapatan. Hal ini biasanya memegaruhi evaluasi auditor terhadap risiko tersebut untuk

tujuan, eksistensi, batas waktu penjualan, pengembalian barang dagangan, dan batas penetapan cadangan kerugian piutang. Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus penjualan dan Penagihan Auditor umumnya memperhatikan tiga aspek pengendalian internal, yaitu: 1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian 2. Pengendalian atas penetapan pisah batas 3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tak tertagih. Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit-terkait transaksi dan tujuan audit terkait saldo, terutama untuk merencanakan risiko deteksi dan bukti-bukti yang akan digunakan dalam pengujian perincian saldo.

Piutang ------ berhubungan dengan penjualan dan penerimaan kas Kedua aspek yang berhubungan disebutkan dibawah ini: 1. Untuk penjualan, tujuan audit-terkait keterjadian transaksi (Occurance trancstation-related audit objective) memegaruhi tujuan audit-terkait keberadaan saldo. Untuk penerimaan kas, tujuan audit-terkait keterjadian transaksi memengaruhi tujuan audit-terkait kelengkapan transaksi. Alasan dari kesimpulan ini adalah karena kenaikan penjualan meningkatkan piutang dagang, namun penerimaan kas menurunkan saldo piutang dagang. 2. Nilai realisasi dan tujuan audit-terkait saldo piutang dagang, seperti halnya tujuan audit-terkait penyajian dan pengungkapan, tidak

dipengaruhi oleh evaluasi risiko pengendalian risiko.

Tahap II: Mendesain dan melakukan pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi. Auditor menggunakan hasil pengujian substantif atas transaksi untuk menentukan apakah perencanaan risiko deteksi sudah memenuhi untuk setiap tujuan audit-terkait saldo piutang dagang.

Tahap III: Mendesain dan melakukan Prosedur Analitis. Prosedur analitis biasa dilakukan dalam tiga tahap yaitu: selama perencanaan, saat pelaksanaan terperinci dan saat menyelesaikan audit. Prosedur analitis umumnya dilakukan selama tahap pengujian diselesaikan setelah tanggal neraca, namun sebelum dilakukan pengujian perincian saldo. Auditor menjalankan prosedur analitis untuk seluruh siklus penjualan dan penagihan, tidak hanya piutang dagang. Hal ini perlu dilakukan karena terdapat hubungan erat antara laporan laba rugi dengan akun-akun neraca. Jika auditor mengidentifikasi adanya kesalahan penyajian dalam penjualan atau pengembalian barang dagangan dengan menggunakan prosedur analitis, piutang dagang kemungkinan besar akan menutupi kesalahan tersebut. Prosedur Pengujian Audit-terkait saldo: 1. Piutang dagang ditambahkan secara tepat dan sesuai dengan berkas utama dan buku besar. 2. Piutang dagang dicatat sesuai keberadaannya 3. Piutang dagang dicatat secara lengkap 4. Akurasi piutang dagang 5. Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar 6. Penetapan Pisah batas (Cutoff) piutang dagang secara tepat . Tiga pendekatan dalam menetapkan kewajaran pisah batas yaitu: a. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat b. Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang memadai untuk menentukan tingkat kewajaran pisah batas. c. Menguji apakah pisah batas yang ditetapkan adalah tepat. GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi yang dapat ditagih. Nilai terealisasi piutang dagang sama dengan jumlah total piutang dagang dikurangi dengan cadangan piutang tak tertagih.

Konfirmasi Piutang Dagang Pentingnya konfirmasi,mengingat konfirmasi merupakan bukti yang sangat diandalkan. Tujuan utama konfirmasi piutang dagang adalah untuk memenuhi tujuan keberadaan, akurasi, dan pisah batas (cutoff)

Persyaratan Standar Auditing Standar auditing mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA 07 (SA330) menyebutkan tiga pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi yaitu: 1. Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini bisa terjadi pada perusahaan tertentu misal toko diskon dg penjualan tunai dan kartu kredit. 2. Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan. Dalam industri tertentu seperti rumah sakit. 3. Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti substantif lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup.

Jenis-jenis Konfirmasi: 1. Konfirmasi Positif Konfirmasi positif adalah komunikasi yang ditujukan kepada debitur untuk meminta konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar atau salah. - Formulir Konfirmasi kosong. Adalah jenis konfirmasi positif yang tidak menyebutkan jumlah yang dikonfirmasi, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi jumlahnya atau memasukkan informasi lain. - Konfirmasi tagihan. Adalah bentuk lain konfirmasi positif yang merupakan konfirmasi individual bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan.

2. Konfirmasi Negatif Konfirmasi negatif yang ditujukan kepada debitur, tetapi hanya meminta respon jika debitur tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi.

Auditor berhak menentukan jenis konfirmasi yang akan digunakan dan hal ini sebaiknya berdasarkan fakta dalam audit. PSA 07 menyatakan bahwa konfirmasi negatif dapat dilakukan hanya jika tiga kondisi berikut terpenuhi: 1. Piutang dagang terdiri dari sejumlah besar akun bersaldo kecil. 2. Kombinasi antara risiko pengendalian dan risiko bawaan adalah rendah. Kombinasi risiko tidak bisa dikatakan rendah jika pengendalian internal tidak efektif atau terdapat kemungkinan terjadi salah saji. 3. Jika diyakini bahwa penerima konfirmasi tidak mengabaikan konfirmasi yang diminta. Biasanya jika konfirmasi negatif dilakukan maka auditor akan memberikan penekanan pada efektifitas pengendalian internal, pengujian substantif atas transaksi dan prosedur analitis sebagai bukti kewajaran piutang dagang, dan mengasumsikan bahwa mayoritas penerima konfirmasi akan membaca dengan seksama dan merespon permintaan konfirmasi. Konfirmasi negatif biasa digunakan untuk audit rumah sakit, toko ritel, bank dan industri lain yang piutang daganganya berhubungan dengan masyarakat umum. Kombinasi konfirmasi negatif dan positif juga bisa dilakukan dengan mengirimkan konfirmasi positif kepada debitur dengan saldo besar dan menggunakan konfirmasi negatif kepada debitur bersaldo kecil.

Keputusan Pengambilan Sampel Faktor utama yang memengaruhi jumlah sampel dalam melakukan konfirmasi piutang dagang terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu: - Salah saji yang dapat diterima

- Risiko yang tak terhindar (ukuran relatif dari total piutang dagang, jumlah akun, hasil pengujian tahun sebelumnya, dan ekspetasi salah saji). - Risiko pengendalian - Risiko deteksi yang diperoleh dari pengujian substantif lainnya

(perluasan dan hasil dari pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detail lainnya). - Tipe konfirmasi (konfirmasi negatif biasanya membutuhkan sampel lebih banyak).

Analisis Perbedaan Ketika permintaan konfirmasi dikembalikan oleh pelanggan, auditor harus menentukan alasan jika ditemukan perbedaan. Dalam banyak kasus perbedaan tersebut disebabkan oleh beda waktu antara pencatatan klien dengan pelanggan.Beda waktu perlu dipisahkan dari pengecualian yang merupakan salah saji atas saldo piutang. Jenis perbedaan yang biasa terjadi pada hasil konfirmasi meliputi: 1. Pembayaran sudah dilakukan. 2. Barang belum diterima 3. Pengembalian barang 4. Kesalahan Klerikal dan jumlah yang dipertentangkan

Pengambilan Keputusan Keputusan akhir tentang piutang dagang dan penjualan adalah mengenai apakah bukti memadai telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan pengujian substantif lain untuk menguatkan pengambilan keputusan mengenai kebenaran saldo yang disajikan.

10

2.2. Audit Terhadap Siklus Pengeluaran :Pengujian Pengendalian 2.2.1. Pengendalian Transaksi Pembelian Fungsi Terkait Berbagai fungsi yang terkait dalam transaksi pembelian berada di tangan unit organisasi berikut ini : No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Fungsi Fungsi gudang Fungsi pembelian Fungsi penerimaan Unit Organisasi Pemegang Fungsi Bagian Gudang Bagian Pembelian Bagian Penerimaan Barang

Fungsi pencatatan utang Bagian Utang Fungsi akuntansi biaya Bagian Akuntansi Biaya

Fungsi akuntansi umum Bagian Akuntansi Umum Fungsi penerimaan kas Bagian Kasa

Tanggung jawab setiap fungsi yang terkait dalam transaksi pembelian tersebut diuraikan berikut ini : 1. Fungsi gudang. Dalam sistem akuntansi pembelian, fungsi gudang bertanggung jawab untuk untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan posisi sediaan yang ada di gudang dan untuk menyimpan barang yang telah diterima oleh fungsi penerimaan. 2. Fungsi pembelian. Fungsi pembelian bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai harga barang, menentukan pemasok yang dipilih dalam pengadaan barang, dan mengeluarkan order pembelian kepada pemasok yang dipilih. 3. Fungsi penerimaan barang. Dalam sistem akuntansi pembelian, Fungsi ini bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenis, mutu, dan kuantitas barang yang diterima dari pemasok guna menentukan dapat atau tidaknya barang tersebut diterima oleh perusahaan.

11

4. Fungsi pencatatan utang. Dalam perolehan barang dan jasa, fungsi pencatat utang bertanggung jawab untuk mencatat transaksi pembelian ke dalam regrister bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dokumen sumber (bukti kas keluar) yang berfungsi sebagai catatan utang atau menyelenggarakan buku pembantu utang sebagai pembantu utang. 5. Fungsi akuntansi biaya. Dalam transaksi pembelian, fungsi akuntansi biaya bertanggung jawab untuk mencatat sediaan dan aktiva tetap. Secara garis besar transaksi pembelian mencakup prosedur berikut ini : 1. Fungsi gudang mengajukanb permintaan pembelian ke fungsi pembelian. 2. Fungsi pembelian meminta penawaran harga dari berbagai pemasok. 3. Fungsi pembelian menerima penawaran harga dari berbagai pemasok dan melakukan pemilihan pemasok. 4. Fungsi pembelian membuat order pembelian kepada pemasok lain. 5. Fungsi penerimaan memeriksa dan menerima barang yang dikirim oleh pemasok. 6. Fungsi penerimaan menyerahkan barang yang diterima kepada fungsi gudang untuk disimpan. 7. Fungsi penerimaan melaporkan penerimaan barang kepada fungsi akuntansi. 8. Fungsi akuntansi menerima faktur dari pemasok dan atas dasar faktur pemasok tersebut, fungsi akuntansi mencatat kewajiban yang timbul dari transaksi pembelian.

Dokumen Dokumen yang digunakan dalam transaksi pembelian dibagi menjadi dua golongan : dokumen sumber (source documents), yaitu dokumen yang dipakai sebagai dasar pencatatan ke dalam catatan

akuntansi, dan dokumen pendukung (corroborating documents atau

12

dokumen penguat), yaitu dokumen yang membuktikan validitas terjadinya transaksi. Berbagai dokumen yang digunakan dalam transaksi pembelian : 1. Surat permintaan pembelian. Dokumen ini merupakan formulir yang diisi oleh fungsi gudang atau fungsi pemakai barang untuk meminta fungsi pembelian melakukan barang dengan jenis, jumlah, dan mutu seperti yang tersebut dalam surat tersebut. 2. Surat permintaan otorisasi investasi (expenditure autborization request atau autborization for expenditure). Dokumen yang digunakan untuk meminta persetujuan pelaksanaan investasi dalam aktiva tetap dokumen ini diisi oleh fungsi yang mengusulkan pemerolehan aktiva tetap dan setelah diotorisasi oleh direktur fungsi yang bersangkutan dimintakan persetujuan dari direktur utaman. 3. Surat permintaan otorisasi reparasi (autborization for repair). Dokumen ini berfungsi sebagai perintah dilakukannya reparasi yang merupakan pengeluaran modal (capital expenditure) 4. Surat permintaan penawaran harga. dokumen ini digunakan untuk meminta penawaran harga bagi barang yang pengadaannya tidak bersifat berungkali terjadi (tidak repitif), yang menyangkut jumlah moneter pembelian yang besar. 5. Surat order pembelian. Dokumen ini digunakan untuk memesan penawaran barang yang telah dipilaih. Dokumen ini terdiri dari berbagai rembusan dengan fungsi sebagai berikut : a. Surat order pembelian. Dokumen ini merupakan lembar pertama surat order pembelian yang dikirim kepada pemasok sebagai order resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan. b. Tembusan pengakuan oleh pemasok. Tembusan surat order pembelian ini dikirim kepada pemasok, diminta tanda tangan dari pemasok tersebut dan dikirim kembali ke perusahaan sebagai bukti telah diterima dan disetujui order pembelian, serta kesanggupan pemasok memenuhi janji pengiriman barang seperti dalam dokumen tersebut.

13

c. Tembusan fungsi peminta barang. Tembusan ini dikirim kepada fungsi fungsi yang meminta pembelian bahwa barang yang dimintainya telah dipesan. d. Arsip tanggal penerimaan. Tembusan surat order pembelian ini disimpan oleh fungsi pembelian menurut tanggal penerimaan barang yang diharapkan, sebagai dasar untuk mengadakan tindakan penyelidikan jika barang tidak datang pada waktu yang telah ditetapkan. e. Arsip pemasok. Tembusan surat order pembelian ini disimpan oleh fungsi pembelian menurut nama pemasok, sebagai dasar untuk mencari informasi mengenai pemasok. f. Tembusan fungsi penerimaan. Tembusan surat order pembelian ini dikirim ke fungsi penerimaan sebagai otorisasi untuk menerima barang yang jenis, spesifikasi, mutu, kuantitas, dan pemasoknya separti yang tercantum dalam dokumen tersebut. g. Tembusan fungsi akuntansi. Tembusan surat order pembelian ini dikirim ke fungsi akuntansi sebagai salah satu dasar untuk mencatat kewajiban yang timbul dari transaksi pembelian. 6. Laporan penerimaan barang. Dokumen ini dibuat oleh fungsi penerimaan untuk menunjukkan bahwa barang yang diterima dari pemasok telah memenuhi jenis, spesifikasi, mutu dan kuantitas seperti yang tercantum dalam surat order pembelian. 7. Surat perubahan order pembelian. Surat perubahan order pembelian dibuat dengan jumlah lembar tembusan yang sama dan dibagikan kepada pihak yang sama dengan yang meminta surat order pembelian. 8. Bukti kas keluar. Dokumen ini dibuat oleh fungsi akuntansi untuk dasar pencatatan transaksi pembelian. Dokumen ini berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas untuk pembayaran utang kepada pemasok dan yang sekaligus berfungsi sebagai surat pemberitahuan kepada

14

kreditur mengenai maksud pembayaran (berfungsi sebagai remittance advice). 9. Faktur dari pemasok. Dokumen ini merupakan tagihan dari pemasok, yang berisi jenis, kuantitas, dan harga barang yang menjadi kewajiban perusahaan kepada pemasok.

Catatan Akuntansi Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi pembelian : 1. Register bukti kas keluar. Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan voucher payable procedure, jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi pembelian adalah register bukti kas keluar. 2. Jurnal pembelian. Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan account payable proceduer, jurnal yang dicatat dalam untuk transaksi pembelian adalah jurnal pembelian. 3. Buku pembantu utang. Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan account payable proceduer, buku pembantu yang digunakan untuk mencatat utang kepada pemasok adalah buku pembantu utang. Jika dalam pencatatan utang, perusahaan

menggunakan voucher payable procedure, yang berfungsi sebagai catatan utang adalah arsip buku kas keluar yang belum dibayar (unpaid vaucher file). 4. Buku pembantu sediaan. Dalam sistem akuntansi pembelian, buku pembantu sediaan ini digunakan untuk mencatat kos sediaan yang dibeli.

Aktivitas Pembelian.

Pengendalian

dalam

Sistem

Informasi

Akuntansi

Aktiva pengendalian yang dapat mencegah dan mendeteksi salah saji mencakup : 1. Otorisasi umum dan khusus untuk setiap pembelian.

15

2. Setiap surat order pembelian harus didasarkan pada surat permintaan pembelian yang telah diotorisasi. 3. Setiap penenrimaan barang harus didasarkan pada surat order pembelian yang telah diotorosisasi. 4. Fungsi penerimaan barang menghitung, menginspeksi, dan

membandingkan barang yang diterima dengan data barang yang tercantum dalam surat order pembelian. 5. Penyerahan barang dari fungsi penerimaan barang ke fungsi gudang harus didokumentasikan. 6. Bukti kas keluar harus dilampirkan dengan dokumen pendukung yang lengkap dan sah. 7. Setiap pencatatan ke register bukti kas harus didukung dengan bukti kas keluar yang dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap. 8. Pengecekan secara independen posting ke dalam buku pembantu utang usaha, sediaan, aktiva tetap, dengan akun kontrol yang bersangkuatn ke buku besar, 9. Pertanggungjawaban secara periodik semua formulir bernomor urut tercetak. 10. Panduan akun dan review terhadap pemberian kede akun. 11. Review kinerja secara periodik.

Penyusunan Program Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi Pembelian. Berdasarkan daftar prosedur audit yang dapat digunakan oleh auditor untuk melakukan pengujian pengendalian terhadap transaksi pembelian dapat disusun program audit untuk pengujian pengendalian terhadap transaksi pembelian. Menurut aserse yang dituju : keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilainan atau alokasi.

16

Penjelasan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap transaksi pembelian. 1. Lakukan pengamatan terhadap prosedur persetujuan atas permintaan pembelian, order pembelian, penerimaan barang, pembuatan membuktikan: a. Adanya pemisahan tiga fungsi pokok : fungsi operasi, fungsi penyimpanan, dan fungsi akuntansi dalam penanganan sistem pengendalian b. Setiap transaksi pembelian dilaksanakan oleh lebih dari unit organisasi sehingga tercipta adanya pengecekan intern dalam setiap pelaksanaan transaksi tersebut. Pengamatan dilaksanakan dengan mengikuti pelaksanaan suatu transaksi pembelian atau dengan cara memeriksa tanda tangan otorisasi yang tercantum dalam dokumen sumber dan dokumen pendukung transaksi pembelian. 2. Ambil sampel transaksi pembelian dari regrister bukti kas keluar dan lakukan pemeriksaan terhadap dokumen pendukung. Auditor mengambil sampel bukti kas yang belum keluar (unpaid voucher) dari arsip tersebut yang diselenggarakan oleh fungsi utang dan bukti keluar yang telah dibayar (paid voucher) dari arsip dokumen tersebut yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi biaya. 3. Periksa bukti digunakannya formulir bernomor urut tercetak dan pertanggungjawaban pemakaian formulir tersebut. Penggunaan nomor urut tercetak miring menjamin kelengkapan transaksi bukti kas keluar.pengamatan ini dituju untuk

pembelian yang dicatat dalam catatan akuntansi. 4. Ambil sampel bukti kas keluar yang dituju dan dilakukan pengusutan ke dokumen pendukung dan catatan akuntansi yang bersangkutan. Untuk membuktikan bahwa setiap transaksi pembelian didahului dengan adanya otoeisasi pembelian didahuliu dengan adanya otorisasi pembelian barang atau jasa, auditor mengambil sampel bukti kas keluar dari arsip dokumen tersebut yang disimpan oleh fungsi

17

utang (unpaid voucher file) dan yang disimpan oleh fungsi akuntansi biaya (paid voucher file). 5. Periksa adanya pengecekan independensi terhadap posting ke buku pembantu dan jurnal. Untuk menguji keandalan prosedur pencatatan transaksi pembelian, auditor menguji ketelitian posting ringkasan register bukti kas keluar ke dakam akun yang bersangkutan dalam buku besar (misalnya akun Sediaan, Biaya, Aktiva Tetap). (Mulyadi, 2002)

2.2.2. Pengendalian Transaksi Pengeluaran Kas Fungsi yang Terkait Fungsi yang terkait dan tanggung jawab setiap fungsi dalam transaksi pengeluaran kas adalah sebagai berikut: 1. Fungsi yang memerlukan pengeluaran kas 2. Fungsi pencatat utang 3. Fungsi keuangan 4. Fungsi akuntansi biaya 5. Fungsi akuntansi umum 6. Fungsi audit intern 7. Fungsi penerima kas

Dokumen dan Catatan yang Umum dalam Transaksi Pengeluaran Kas Sejumlah dokumen dan catatan umum yang tercakup dalam siklus pengeluaran-transaksi pengeluaran kas adalah sebagai berikut: 1. Permintaan cek Berfungsi sebagai sebagai permintaan dari fungsi yang memerlukan pengeluaran kas kepada fungsi pencatat utang untuk membuatbukti kas keluar. 2. Bukti kas keluar

18

Berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas kepada fungsi keuangan sebesar yang tercantum dalam dokumen tersebut. Selain itu, juga berfungsi sebagai surat pemberitahuan yang dikirim kepada kreditur dan berfungsi pula sebagai dokumen sumber bagi pencatatan berkurangnya utang. 3. Cek Merupakan dokumen yang digunakan untuk memerintahkan bank melakukan pembayaran sejumlah uang kepada orang atau organisasi yang namanya tercantum pada cek. Pilihan dalam penggunaan cek untuk pembayaran adalah chek issuer membuat cek atas nama dan chek issuer membuat cek atas unjuk. 4. Kuitansi Dokumen ini merupakan bukti tanda terima cek dari penerimaan cek pembayaran. 5. Register cek Digunakan untuk mencatat pengeluaran kas dengan cek, digunakan untuk menvatat cek-cek perusahaan yang dikeluarkan untuk

pembayaran para kreditur perusahaan atau pihak lain. 6. Buku besar Akun buku besar yang terkait dalam transaksi pengeluaran kas adalah utang usaha dan kas.

Aktivitas

Pengendalian

dalam

Sistem

Informasi

Akuntansi

Pengeluaran Kas Aktivitas pengendalian yang dapat mencegah dan mendeteki salah saji mencakup: 1. Penandatanganan cek harus mereview bukti kas keluar dan dokumen pendukungnya. 2. Pembubuhan cap lunas terhadap bukti kas keluar yang telah dibayar beserta dokumen pendukungnya. 3. Pengecekan secara independen antara cek dan bukti kas keluar. 19

4. Pertanggungjawaban semua nomor urut cek. 5. Pengecekan secara independen posting ke dalam catatan akuntansi. 6. Rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak ketiga yang independen. 7. Pengecekan secara independenterhadap tanggal yang tercantum dalam bonggol cek dan tanggal pencatatannya.

Program Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi Pengeluaran Kas 1. Melakukan pengamatan terhadap prosedur pembuatan cek dan pencatatan cek ke dalam register cek. 2. Mengambil sampel transaksi pengeluaran kas dari register cek dan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen pendukung. 3. Memeriksa bukti digunakannya formulir bernomor urut tercetak dan pertanggungjawaban pemakaian formulir tersebut. 4. Mengambil sampel bukti kas keluar yang telah dibayar dan melakukan pengusutan ke dokumen dan catatan akuntansi yang bersangkutan. 5. Memeriksa adanya pengecekan independen terhadap posting ke buku pembantuu dan jurnal.

Risiko yang terdapat struktur pengendalian intern siklus pengeluaran. Dalam memahami risiko pengendalian yang timbul dalam transaksi pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan-kemungkinan salah saji, pengendalian yang dibutuhkan, serta kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini: 1. Terhadap transaksi pembayaran hutang. - Kemungkinan adanya pengeluaran cek untuk pembelian yang tidak disetujui, harus dikendalikan dengan cara penandatanganan cek melakukan penelaahan terhadap kelengkapan pendukung voucher dan persetujuannya. Auditor dapat melakukan pengujian dengan cara

20

observasi apakah penandatanganan cek melakukan pengecekan dengan bebas terhadap dokumen pendukung. - Kemungkinan voucher dibayar dua kali, dikendalikan dengan pemberian cap terhadap voucher dan dokumen pendukungnya bila telah dibayar. Auditor dapat melakukan pengujian apakah semua pembayaran diberi cap. - Check mungkin dibayarkan untuk jumlah yang salah, dikendalikan dengan pengecekkan oleh pihak yang bebas mengenai kesesuaian jumlah dalam check dengan voucher-nya. - Check mungkin dirubah setelah ditandatangani, dikendalikan dengan pengecekan pemberian tanda cek yang dikirim. Auditor dapa melakukan pengujian dengan melakukan wawancara tentang prosedur pengiriman check, dan observasi proses pengiriman check. 2. Terhadap transaksi pengeluaran kas. - Check mungkin tidak dicatat, dikendalikan dengan check yang bemomor urut tercetak. Auditor melakukan pengujian terhadap penggunaan dokumen bemomor urut tercetak. - Kesalahan-kesalahan dalam pencatatan check, dikendalikan dengan pembuatan rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak yang bebas. Auditor dapat melakukan pengujian terhadap bank rekonsiliasi. - Check tidak dicatat dengan segera, dikendalikan oleh pihak yang bebas untuk mencocokkan tanggal check dan tanggal pencatatannya. Pengujian yang dilakukan dengan memperlihatkan kembali adanya kebebasan dalam pengecekan.

21

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Kecurangan dan jenis kecurangan Untuk lebih berhasilnya peran auditor dalam pencegahan dan pendeteksian adanya kecurangan, sebaiknya internal auditor perlu

memahami kecurangan dan jenis-jenis kecurangan yang mungkin terjadi dalam perusahaan. G.Jack Bologna, Robert J.Lindquist dan Joseph T.Wells mendifinisikan kecurangan Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver (Bologna, Lindquist, & Wells, 2002) yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Dan dari tindakan jahat tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara financial. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu (1) tindakan/the act., (2) Penyembunyian/theconcealment dan (3) konversi/the conversion. Misalnya pencurian atas harta persediaan adalah tindakan, kemudian pelaku akan menyembunyikan kecurangan tersebut misalnya dengan membuat bukti transaksi pengeluaran fiktif. Selanjutnya setelah perbuatan pencurian dan penyembunyian dilakukan, pelaku akan melakukan konversi dengan cara memakai sendiri atau menjual persediaan tersebut. Pada dasarnya terdapat dua tipe kecurangan, yaitu eksternal dan internal. Kecurangan eksternal adalah kecurangan yang dilakukan oleh pihak luar terhadap suatu perusahaan/entitas, seperti kecurangan yang dilakukan pelanggan terhadap usaha; wajib pajak terhadap pemerintah. Kecurangan internal adalah tindakan tidak legal dari karyawan, manajer dan eksekutif terhadap perusahaan tempat ia bekerja. Berkaitan dengan itu Association of Certified Fraud Examinations (ACFE, 2000), salah satu asosiasi di USA yang mendarmabaktikan

22

kegiatannya

dalam

pencegahan

dan

pemberantasan

kecurangan,

mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok sebagai berikut: 1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud),

Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan non finansial. 2. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation), Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam Kecurangan Kas dan Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang (fraudulent disbursement). 3. Korupsi (Corruption), Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan (economic extortion).

3.2. Pendeteksian Kecurangan Sebagaimana diuraikan sebelumnya, resiko yang dihadapi

perusahaan diantaranya adalah Integrity risk, yaitu resiko adanya kecurangan oleh manajemen atau pegawai perusahaan, tindakan illegal, atau tindak penyimpangan lainnya yang dapat mengurangi nama baik reputasi perusahaan di dunia usaha, atau dapat mengurangi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adanya resiko tersebut mengharuskan internal auditor untuk menyusun tindakan pencegahan / prevention untuk menangkal terjadinya kecurangan sebagaimana diuraikan dalam bagian sebelumnya. Namun, pencegahan saja tidaklah memadai, internal auditor harus memahami pula bagaimana cara mendeteksi secara dini terjadinya kecurangan-kecurangan yang timbul. Tindakan pendeteksian tersebut tidak dapat di generalisir terhadap semua kecurangan. Masing-masing jenis

23

kecurangan memiliki karakteristik tersendiri, sehingga untuk dapat mendeteksi kecurangan perlu kiranya pemahaman yang baik terhadap jenisjenis kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan. Sebagian besar bukti-bukti kecurangan merupakan bukti-bukti tidak sifatnya langsung. Petunjuk adanya kecurangan biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala- gejala (symptoms) seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang, dokumentasi yang mencurigakan, keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari rekan sekerja. Pada awalnya, kecurangan ini akan tercermin melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi / keadaan lingkungan, maupun perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi / situasi tertentu, perilaku / kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag (Fraud indicators). Meskipun timbulnya red flag tersebut tidak selalu merupakan indikasi adanya kecurangan, namun red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan yang terjadi. Pemahaman dan analisis lebih lanjut terhadap Red flag tersebut dapat membantu langkah selanjutnya untuk memperoleh bukti awal atau mendeteksi adanya kecurangan. Berikut adalah gambaran secara garis besar pendeteksian kecurangan berdasar

penggolongan kecurangan oleh ACFE tersebut di atas.

3.2.1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud) Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut: 1. analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase. Sebagai contoh, adanya kenaikan persentase hutang niaga dengan total hutang dari rata-rata 28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase biaya penjualan dengan total penjualan dari 13 20% menjadi 17% mungkin dapat menjadi satu dasar adanya pemeriksaan kecurangan.

24

2.

analisis

horizontal,

yaitu

teknik item

untuk

menganalisis selama

persentasepersentase

perubahan

laporan

keuangan

beberapa periode laporan. Sebagai contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% sedangkan harga pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada perubahan lainnya dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka hal ini dapat menimbulkan sangkaan adanya pembelian fiktif, penggelapan, atau transaksi illegal lainnya. 3. analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, adanya penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya perhitungan rasio tersebut.

3.2.1. Asset Misappropriation (Penyalahgunaan aset). Teknik untuk mendeteksi kecurangan-kecurangan kategori ini sangat banyak variasinya. Namun, pemahaman yang tepat atas pengendalian intern yang baik dalam pos-pos tersebut akan sangat membantu dalam melaksanakan pendeteksian kecurangan. Dengan demikian, terdapat banyak sekali teknik yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi setiap kasus penyalahgunaan aset. Masing-masing jenis kecurangan dapat dideteksi melalui beberapa teknik yang berbeda. Misalnya, untuk mendeteksi kecurangan dalam pembelian ada beberapa metode deteksi yang dapat digunakan. Metode-metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara kombinasi gabungan, setiap metode deteksi akan menunjukkan anomalies / gejala penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan ada tidaknya kecurangan. Selain itu, metodemetode tersebut akan menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam

pengendalian intern dan mengingatkan / memberi peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa mendatang.

25

Analytical Review Suatu review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidakbiasaan atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. Sebagai contoh adalah perbandingan antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya yang dapat mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah biala dibandingkan dengan tingkat penjualannya. Metode analitis lainnya adalah perbandingan pembelian persediaan bahan baku dengan tahun sekarang yang mungkin

mengindikasikan adanya kecurangan overbilling scheme atau kecurangan pembelian ganda.

Statistical Sampling Sebagaimana persediaan, dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu daftar alamat PO BOX akan

mengungkapkan adanya pemasok fiktif Vendor or outsider complaints Komplain / keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan alat deteksi yang baik yang dapat mengarahkan auditor untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Site Visit Observation Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut. Observasi terhadap bagaimana transaksi akuntansi dilaksanakan kadangkala akan memberi peringatan pada CFE akan adanya daerah-daerah yang mempunyai potensi bermasalah Dalam banyak kasus kecurangan, khususnya kasus pencurian dan penggelapan aset, biasanya terdapat tiga faktor, yaitu: 1. ada satu tekanan pada seseorang, seperti kebutuhan keuangan

26

2. adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan dan menyembunyikan kecurangan yang dilakukan 3. adanya cara pembenaran perilaku tersebut yang sesuai dengan tingkatan integritas pelakunya,

Ada tiga elemen dalam struktur pengendalian intern yang perlu diperhatikan dengan baik, yaitu Lingkungan pengendalian, Sistem akuntansi, dan prosedur pengendalian, dengan rincian sebagai berikut:

Jika struktur internal control sudah ditempatkan dan berjalan dengan baik, peluang adanya kecurangan yang tak terdeteksi akan banyak berkurang. Pemeriksa kecurangan harus mengenal dan memahami dengan baik setiap elemen dalam struktur pengendalian intern agar dapat melakukan evaluasi dan mencari kelemahannya.

3.2.3. Corruption (Korupsi) Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau

27

transaksinya. Pendeteksian atas kecurangan ini dapat dilihat dari karakteristik (Red flag) si penerima maupun si pemberi. Orang-orang yang menerima dana korupsi ataupun penggelapan dana pada umumnya mempunyai karakteristik (red flag) sebagai berikut: - The Big Spender - The Gift taker - The Odd couple - The Rule breaker - The Complainer - The Genuine need Sedangkan orang yang melakukan pembayaran mempunyai karakteristik (red flag) sebagai berikut: - The Sleaze factor - The too Succesful bidder - Poor quality, higher prices - The one-person operation

28

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan kasus di atas, Comptronik corp terbukti telah melakukan kecurangan (fraud) dengan melakukan permainan angka-angka laporan keuangan atau Financial Numbers Game. Perusahaan berusaha menaikkan laba dengan membuat penjualan dan piutang fiktif untuk menarik investor. Investor akan bersedia menginvestasikan modalnya di perusahaan yang memiliki corporate earning power (kemampuan untuk menghasilkan pendapatan) yang bagus. Harga saham yang semakin tinggi akan meningkatkan market valuation dan secara otomatis meningkatkan nilai kemakmuran pejabat senior, sebab jika pendapatan perusahaan naik, maka bonus yang diterimanya pun akan meningkat. Kecurangan dalam bentuk ini dapat dideteksi dengan menggunakan rasio perputaran persediaan (inventory turnover), dan dokumen pendukung dari pihak ketiga yang adalah dokumen bank dan dokumen Vendor.

29

DAFTAR PUSTAKA

ACFE. (2000). Fraud Examiners Manual. New York: ACFE. Arens. (2008). Accounting & Auditing Enforcementt Realese. Chicaho: Commerce Clearing, Inc. Bologna, G. J., Lindquist, R. J., & Wells, J. T. (2002). Fraud Examination. Thomson: South-Western. Mulyadi. (2002). Auditing 2. Jakarta: Salemba Empat.

30