Anda di halaman 1dari 7

E. Sejarah Perkembangan Tasawuf 1.

Kehidupan Sufi pada Masa Nabi Bila berbicara masalah sejarah pertumbuhan tasawuf dalam islam, maka sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan tasawuf itu sama dengan pertumbuhan dan perkembangan tasawuf itu sama dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri. Hal ini mengingat keberadaan tasawuf adalah sama dengan keberadaan agama islam itu sendiri. Karena pada hakikatnya agama islam itu ajarannya hampir bisa dikatakan bercorak tasawuf. Karena itu tidak heran bila kehidupan tasawuf tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya agama islam mulai sejak zaman nabi Muhammad saw. Bahkan sebelum nabi Muhammad saw diangkat secra resmi oleh Allah swt sebagai Rasul-Nya, kehidupan beliau sudah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku kehidupan sufi, dimana bisa dilihat dari kehidupan seharihari beliau yang sangat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya dalam beribadah dan ber-taqarrub (mendekatkan diri) pada Tuhannya. Dan seperti sudah kita maklumi bersama, sebelum beliau menerima wahyu dari Allah pertama kali, beliau sudah seringkali melakukan kegiatan sufi dengan melakukan uzlah (menyendiri) di Gua Hira selama berbulan-bulan lamanya sampai beliau menerima wahyu pertama saat diangkat oleh Allah sebagai Rasul pada tanggal 17 Ramadhan tahun pertama kenabian. Setelah beliau resmi diangkat sebagai Nabi utusan Allah swt, keadaan dan cara hidup beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana kerakyatan, meskipun beliau berada dalam lingkaran keadaan hidup yang serba dapat terpenuhisemua keinginannya lantaran kekuasaanya sebagai Nabi yang menjadi kekasih Tuhannya. Pada waktu malam sedikit sekali tidur, waktunya dihabiskan untuk tawajjuh (menghadap) kepada Allah dengan memperbanyak dzikkir kepadaNya. Tempat tidur beliau terdiri dari balai kayu biasa dengan alas (tikar) dari daun kurma, tidak pernah memakai pakaian yang terdiri dari wol meskipun mampu membelinya. Pendek kata beliau lebih cinta dalam suasana hidup sederhana (meskipun pangkatnya Nabi) daripada hidup bermewah-mewah. Kehidupan beliau dalam rumah tangga yang amat sederhana memberikan contoh bagi para sahabatnya dengan hidup sederhana dan meninggalkan kemewahan dunia. Mulai dari

perabot rumah tangga, makanan, minuman, pakaian yang dipakai sehari-hari sungguh amat sederhana. Bahkan ada satu riwayat dari Bukhori yang menceritakan, bahwa Aisyah sempat mengeluh kepada keponakannya; Urwah ia berkata: Lihatlah Urwah, kadang-kadang berharihari dapurku tidak menyala dan aku jadi bingung olehnya. Urwah bertanya: Apakah yang menjadi makanan mu sehari-hari? Jawab Aisyah: paling untung yang menjadi makanan pokok adalah kurma dan air kecuali jika ada tetangga-tetangga Anshar mengantarkan makanan atau sesuatu kepada Rasullulah, maka dapat kami rasakan seteguk susu. Rasullulah menegaskan: Kami adalah golongan yang tidak akan makan kecuali lapar dan jika kami makan maka tidaklah sampai kekenyangan. Sahabat Annas menceritakan, bahwa Rasullulah pernah bersabda: Ketakutanku kepada Tuhan melebihi orang lain daripada ketegaranku kepada-Nya tak ada tolok bandingannya. Kadang-kadang kulalui tiga puluh hari lamanya dengan tak punya simpanan makanan di rumah, sehingga Bilal dating mengapit roti yang kami makan bersama-sama. Sahabat Ibnu Masud Ra. Menerangkan, bahwa ia pernah masuk ke rumah Rasullulah dan didapatinya Nabi sedang berbaring di atas sepotong anyaman daun kurma yang member bekas di pipinya. Dengan sedih Ibnu Masud bertanya: Ya Rasullulah, apakah tidak lebih baik aku mencari bantal untukmu. Nabi menjawab: Tak ada hajatku untuk itu. Aku dan dunia adalah laksana seorang yang sedang bepergian, sebentar berteduh dikala matahari sangat terik di bawah naungan sebuah pohon yang rindang, untuk kemudian berangkat lagi dari situ kea rah tujuannya. Demikianlah contoh yang diberikan oleh manusia termulia dan pemimpin manusia tertinggi ini, untuk membuk mata sahabat-sahabatnya, untuk apa sebenarnya manusia itu hidup. Untuk membuka hati keluarganya dan sahabt-sahabtanya, sehingga tubuh yang kasar itu dapat menerima percikan cahaya Ilahi yang lebih tinggi tentang wujud, sehingga dengan demikian dapat tercipta manusia yang sempurna utnuk hidup sederhana, menerima keadaan seadanya, manusia yang adil, manusia yang tinggi tingkat dan derajat-nya manusia yang mencintai kebaikan, manusia yang bermutu emas dalam bungkusan pakaian kemakrifatan.

Didkan yang dibawa Nabi Muhammad saw memang bukan hanya sekedar pengajaran semata-mata. Beliau member contoh dengan perbuatan dan tingkah lakunya, bukan hanya menyuruh atau menganjurkan yang ia sendiri tidak melakukannya. Memang prinsip hidup sederhana semacam itulah yang sangat menonjol dalam kehidupan Nabi dan prinsip ini pula yang sangat dipegang teguh dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. Bahkan beliaupun sempat berikan ajaran tentang batas antara kaya dan miskin. Beliau menetapkan: Barangsiapa di pagi hari merasa aman di rumahnya, merasa sehat badan dan melihat cukup makanannya untuh sehari, maka seakan-akan Tuhan telah mengaruniakan kepada orang itu, seluruh dunia seisinya. Oleh karena itu Utsman bin Affan menetapkan ukuran hidup sepanjang sejarah Nabi bahwa tak ada seorang manusiapun yang mempunyai hal lebih dari tiga perkara: Rumah untuk di diami, pakain untuk menutupi aurat dan sepotong roti serta segelas air minum. Ajaran ini dipraktikan oleh sahabat-sahabat Nabi. Tatkala ada seorang sahabat bertanya kepada Abdullah bin Umar: Apakah kami termasuk orang kafir?. Katanya: Apakah kamu mempunyai tempat tinggal? Jawabnya: Ya, maka kata Abdullah bin Umar:Engkau termasuk orang kaya. Kata orang itu lagi: Bahkan aku punya seorang pelayan. Lalu jawab Abdullah bin Umar: Jika demikian engkau termasuk golongan raja-raja. Demikian gambaran kehidupan sufi pada zaman Nabi yang dipraktikan langsung oleh Nabi Muhammad saw sendiri dan diikuti oleh para sahabatnya dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sufi Nabi inilah yang mempengaruhi para sahabatnya dalam kehidupan mereka sehari-hari dan keadaan ini berlanjut terus dengan diikuti para Tabiin, Tabiit, Tabiin sampai sekarang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Nabi telah memberikan contoh dan sekaligus meletakkan dasar hidup kerohanian dan tarekaat bagi para pengikutnya sepanjang zaman. Sebagai bukti nyata bahwa kehidupan sufi yang telah dipraktikan langsung oleh Nabi sangat berpengaruh pada kehidupan para sahabatnya. Hal ini dapat dilihat dari suasana kehidupan para sahabat beliau yang hidup secara sangat sederhana dan bahkan sangat kekurangan, tetapai dalam diri mereka memancar semangat beribadah. Hal ini tampak dalam kehidupan para sahabat beliau, seperti Abu Hurairah, Abu Darda, Salman al-Farisi, Abu Bakar

Ash Shiddiq, Umar-bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Abdullah bin Umar dan sebagainya. Dapat dicontohkan disini, seperti kehidupan Abi Hurairah Ra. Yang dalam sejarah disebutkan bahwa beliau tidak mempunyai rumah, hanya tidur diemperan Masjidil Haran Makkah, pakaian hanya melekat satu dibadan, makan tidak menetu, tidak pernah kenyang bahkan, jarang makan. Sampai pada suatu hari beliau duduk-duduk di pinggir jalan sedang ia sangat lapar. Tatkala Abu Bakar lewat, ia bertanay ayat apa yang harus dibacanya dari al-Quran untuk menekan laparnya. Abu Bakar tidak menjawab dan berjalan terus. Kemudian Umar bin Khattab lewat. Abu Hurairah minta kepadanya ditunjukkan ayat al-Quran yang dapat menahan laparnya. Umar tidak berbuat apa-apa dan meneruskan perjalanannya. Kemudian lewatlah disitu Rasullulah saw. Lalu beliau tersenyum melihat Abu Hurairah. Nabi tersenyum karena mengetahui apa yang terkandung dalam dirinya dan yang tersirat dimukanya. Nabi mengajak Abu Hurairah mengikutinya. Tatkala sampai dirumah, Nabi mengeluarkan satu bejana susu dan menyuruh minum Abu Hurairah sampai kenyang sampai ia tidak dapat menghabiskannya. Begitulah kehidupan sufi yang terjadi pada diri Rasullulah saw dan para sahabatnya dan diikuti pula oleh para TabiI Tabiit Tabiin sampai turun temurun pada generasi selanjutnya hingga sekarang ini. Sedang diantara sahabat Nabi yang mempraktikkan ibadah dalam bentuk tarekaat pertama kali adalah sahabat Hudzaifah al-Yamani. Dan perkembangan sufi kemudian dilanjutkan oleh generasi dari kalangan Tabiin, diantaranya adalah Imam Hasan Basri, seoranag Ulama besar Tabiin murid dari Hudzaifah alYamani beliau inilah yang pertama-pertama mendirikan pengajian tasawuf dikota Bashrah. Diantara murid-murid beliau yang dididk dalam madrasah tasawuf pertama adalah Malik bin Dinnar, Tsabit al-banay, Ayub al-SAktiyany dan Muhammad bin Wasi. Setelah berdirinya madrasah Tasawuf pertama di Bashrah lalu disusul dengan berdirinya madrsah ditempat lain, seperti di Iraq yang dipimpin oleh seorang tokoh ulama kalangan Tabiin lainnya yang cukup terkenal, yaitu Said bin Musayyab dan di Khurasan berdiri pula masdrasah tasawuf yang dipimpin oleh Ibrahim bin Adham. Dengan berdirinya madrasah-madrasah ini menambaha jelas kedudukan dan kepentingan tasawuf dalam masyarakat islam yang sangat

memerlukannya. Sejak itulah pelajaran ilmu tasawuf telah mendapatkan kedudukan yang tetap dan tidak akan terlepas dari masyarakat Islam sepanjang masa. Pada abad-abad berikutnya ilmu tasawuf semakin berkembang sejalan dengan perkembang agama Islam di berbagai belahan bumi. Bahkan menurut sejarah, perkembangan agama Islam ke Afrika, ke segenap pelosok Asia ini, Asia kecil, Asia Timur, Asia Tengah, sampai ke negara-negara yang berada ditepi lautan Hindia hingga ke negeri kita Indonesia, semuanya dibawa oleh dai-dai Islam dari kaum sufi. Merekalah sebenarnya dai dalam islam yang sebenarnya. Pengikut-pengikut mereka merupakan orang-orang ikhlas yang beribu-ribu jumlahnya,bahkan berpuluh-puluh ribu, telah menyerahkan segala apa yang ada padanya, hartanya, jiwanya untuk membela agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw lewat orang-orang sufi itu. Karena gerakan mereka mendekati gerakan Nabi-nabi atau Wali-wali, maka orang-orang yang dihadapiny, baik para Khalifah, para raja, pembesar raja dan orang-orang awam takut dan hormat kepada sufi itu. Para penyebar Islam umumnya terdiri dari kalangan ulama sufi, maka dengan sendirinya ajaran yang dibawanya dipengaruhi oleh ilmu tasawuf. Dengan demikian; para dai islam tersebut juga secara langsung mengembangkan ajaran tarekaatnya di berbagai daerah yang menjadi sasaran dakwahnya. Pada akhirnya ajaran tasawuf tersebar berkembang dengan cepat sejalan dengan perkembangan agama islam itu sendiri. 2. Perkembangan Tasawuf dan Tarekaat Semenjak dirintis dengan berdirinya madrasah sufi Bashrah sampai pada abad-abad berikutnya, tasawuf terus menerus berkembang berkat kegigihan dan semangat penyebarnya. Diantara para tokoh penyebar tasawuf itu pada akhirnya membentuk aliran-aliran tarekaat sendiri-sendiri, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani membentuk tarekat Qadiriyah, Syaikh Abdul Hasan Syadzili dengan tarekat Syadziliyah dan lain sebagainya. Demikian pula dengan munculnya beberapa tarekat lainnya, seperti Rifaiyah, Maulawiyah, Naqsabandiyah, Sanusiyah, Badawiyah dan lain-lain. Dan kini secara keseluruhan yang mutabarrah (dianggap abash) mencapai jumlah yang cukup banyak, yaitu sebanyak 41 aliran.

Dari 41 aliran tarekat di atas, tarekat yang paling banyak berpengaruh, paling terkenal dan banyak pengikutnya di masyarakat islam adalah : a. Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani; lahir pada tahun 470 H. wafat pada tahun 561-(1164 M). pengikutnya yang terbanyak adalah di India, Afganistan, Baghdad, dan Indonesia. b. Tarekat Rifaiyah yang diciptakan oleh Syaikh Ahmad bin Abu Hasan Ar RifaI, wafat pada tahun 570H (1174 M). pengikutnya yang terbanyak di daerah Maroko dan al-Jazair. c. Tarekat Sahrawardiyah yang di-nisbat-kan (digolongkan) kepada penciptanya, Syaikh Abu Hasan Ali bin al-sahrawardi yang wafat pada tahun 638 H (1240 M). pengikutnya paling banyak adalah di Afrika. d. Tarekat Syadziliyah yang di-nisbat-kan (digolongkan) kepada pendirinya Syaikh abu Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul jabbar As Syadzili, wafat pada tahun 655H (1256 M). pengikutnya yang terbanyak di Afrika. e. Tarekat Ahmadiyah yang diciptakan oleh Syaikh Ahmad Badawi, wafat pada tahun 675 H(1276 M). pengikutnya yang terbanyak di daerah Maroko. f. Tarekat Maulawiyah yang di-nisbat-kan (digolongkan) kepada pendirinya, yaitu Syaikh Maulana Jalaluddin Ar Rumi, meninggal pada tahun 672 H (1273 M). pengikutnya yang terbanyak di daerah Turki dan Turkistan. g. Tarekat Naqsabandiyah yang di-nisbat-kan (digolongkan) kepada pendirinya Syaikh MMuhammad bin Muhammad Bahauddin Bukhari, wafat pada tahun 791 H (1391 M). pengikutnya yang terbanyak berada di Malaysia. h. Tarekat Hadadiyah yang di-nisbat-kan (digolongkan) kepada pendirinya, yaitu Syaikh Abdullah Baalawy al-Hadad al-Hamdany, wafat pada tahun 1095 H (1695 M). pengikutnya terbanyak di daerah Jazirah Arab, Malaysia, dan sekitarnya. Diantara, beberapa tarekat diatas, tarekat yang paling banyak pengaruh dan pengikutnya di Indonesia adalah tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah, terutama di pulau Jawa, Sumatra dan Madura. Tarekat Qadiriyah adalah tarekat yang didirikan oleh Sulthanul Auliya Sayid Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani. Tarekat ini dalam perjalanannya beriringan dengan tarekat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Bukhari, yaitu tarekat Naqsabandiyah dan pada

akhirnya kedua tarekat ini berubah nama, bergabung menjadi satu dengan nama Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah yang sejak bulan yang sejak bulan Januari 1978 bermarkas pusat di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur Indonesia. Selain itu di Pulau Jawa khususnya juga terdapat beberapa tarekat yang tidak seberapa besar pengaruh dan pengikutnya bila dibandingkan dengan tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah. Diantaranya adalah tarekat Syathariyyah yang didirikan oleh Syaikh Abdullah Syathar dari India, wafat pada tahun 1485 tarekat ini pertama kali didirikan di Banten oleh Syeikh Abdul Muhyi dari Karang. Di samping tarekat Syathariyah di atas terdapat pula tarekat Tijaniyah yang didirikan oleh Sayyid Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijani yang lahir di daerah Ain Mahdi al-Jazair pada tahun 1150 H/1730 M dan wafat di kota Fez, Maroko pada tahun 1230H/1810 M. Selain itu, masih ada lagi beberapa tarekat yang kurang terkenal dan tidak seberapa berpengaruh, yaitu tarekat Shiddiqiyah yang berpusat di Ploso Jombang jawa Timur yang didirikan oleh K.H. Mukhtar Muthi pada tahun 1958. Di Kediri juga terdapat tarekat Wahidiyah yang didirikan oleh K.H. Abdul Majid Maruf yang berpusat di Kedunglo Kediri Jawa Timur. Selanjutnya untuk tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah di kalangan ulama, khususnya yang tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama adalah diakui secara sah sebagai tarekat Mutabarah, sedangkan untuk tarekat lainnya seperti Shiddiqiyah, Wahidiyah, Syadzillah dan Syathariyah dianggap sebagai tarekat ghairu mutabarrah. Demikian pandangan para kyai NU khususnya yang ada di Jawa Timur. Demikian riwayat singakat pertumbuhan dan perkembangan tarekat sejak zaman Nabi, Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin sampai pada generasi ulama hingga sekarang ini.