Anda di halaman 1dari 18

analisis lemak soxhlet Laporan Praktikum ke 5 MK.

Analisis Zat Gizi Makro Tanggal mulai : 25 Maret 2011 Tanggal selesai : 25 Maret 2011

PENETAPAN LEMAK DENGAN METODE SOXHLET Oleh Kelompok 2 Karina Indah Pertiwi Avliya Quratul Marjan Ali Mahdi Bukhori Inti Makaryani Grevi Wiziani I14090026 I14090039 I14090041 I14090068 I14090108

Asisten Praktikum : Rahmi Khalida Tommy Marcelino

Penanggung Jawab Praktikum: Prof. Ir. Ahmad Sulaeman M.S . Ph.D

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PENDAHULUAN

Latar Belakang Menurut Lehninger (1982) lemak merupakan bagian dari lipid yangmengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya. Lemak dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut (Herlina 2002). Dalam mengetahui kadar lemak yang terdapat di bahan pangan dapat dilakukan dengan mengekstraksi lemak. Namun mengekstrak lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air (pelarut anhydrous) agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktivan pelarut tersebut menjadi berkurang. Sifat-sifat dari lemak dapat diidentifikasi dengan beberapa metodeTerdapat dua metode untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarut anhydrous.Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak. Pada praktikum penetapan kadar lemak ini digunakan metode ekstraksi kering yaitu metodeSoxhlet. Tujuan Praktikum penetapan lemak kasar dan komponen lipid dilakukan dengan tujuan agar praktikan dapat mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Metode yang digunakan tergolong dalam metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet

TINJAUAN PUSTAKA Metode Soxhlet Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian kembali ke

tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu (Nielsen 1998). Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling, bypass sidearm, thimble selulosa,extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out (Darmasih 1997). Langkah-langkah dalam metode Soxhlet adalah : menimbang tabung pendidihan ; menuangkan eter anhydrous dalam tabung pendidihan, susun tabung pendidihan, tabung Soxhlet, dan kondensator ; ekstraksi dalam Soxhlet ; mengeringkan tabung pendidihan yang berisi lemak yang terekstraksi pada oven 1000C selama 30 menit ; didinginkan dalam desikator lalu ditimbang (Nielsen 1998). Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 sampai dengan 10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam Thimble (selongsong tempat sampel) , di atas sampel ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah petroleum spiritus dengan titik didih 60 sampai dengan 80C. Selanjutnya, labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan petroleum spiritus 60 80C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak kemudian mulai dipanaskan (Darmasih 1997). Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997). Faktor yang Memengaruhi Kadar Lemak

Faktor-faktor yang memengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949). Crackers Crackers adalah jenis biskuit yang terbuat dari adonan keras melalui proses fermentasi atau pemeraman, berbentuk pipih yang mengarah kepada rasa asin dan renyah, serta bila dipatahkan penampang potongannya berlapislapis. Crackers tanpa pemanis merupakan tipe yang paling populer yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti roti dan penggunaanya lebih luas sebagai makanan diet. Ciri-ciri crackers yang baik adalah tekstur yang renyah, tidak keras apabila digigit, tidak hancur, dan mudah mencair apabila dikunyah. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan crackers dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bahanbahan yang berfungsi sebagai pengikat dan bahan pelembut tekstur. Bahan pengikat atau pembentuk adonan yang kuat adalah tepung terigu, air, dan garam, sedangkan bahan-bahan yang berfungsi sebagai pelembut tekstur adalah gula, mentega, dan leavening agent (baking powder)sebagai bahan pengembang (Manley 2000). Tabel 1 Syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992) Komponen Syarat Mutu Air Maks 5% Protein Min 9% Lemak Min 9.5% Karbohidrat Min 70% Abu Maks 1.5% Logam berbahaya Negatif Serat kasar Maks 0.5% Kalori (per 100 gr) Min 400 Jenis tepung Terigu Bau dan Rasa Normal,tidak tengik Warna Normal Sumber: Badan Standarisasi Nasional (1992)

Pelarut Heksana n-Heksana adalah bahan kimia yang terbuat dari minyak mentah. Normal heksana tidak berwarna dan memiliki bau yang tajam. Bahan ini mudah terbakar dan uapnya bersifat eksplosif. Kebanyakan heksana digunakan pada industri sebagai pelarut. Pelarut yang menggunakan n-heksana bisanya digunakan untuk mengestrak minyak sayuran dari hasil pertanian, seperti kedelai. Pelarut ini juga digunakan sebagai agen pembersih pada percetakan, tekstil, furniture, dan industri pembuatan sepatu. Heksana larut hanya pada air. Kebanyakan n-heksana yang tumpah di air akan mengapung ke permukaan dimana heksana akan menguap ke udara (U.S. Department of Health and Human Services 1999).

METODOLOGI Waktu dan Tempat Praktikum Analisis Zat Gizi Makro dilaksanakan pada hari Jumat tanggal25 Maret 2011 pukul 09.00-12.00 WIB di Laboratorium Kimia dan Analisis Makanan I, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penetapan lemak dengan metode Soxhlet adalah kertas saring, kaca arloji, eksikator, kondensor, labu lemak, gelas ukur, Soxhlet, oven, timbangan analitik, desikator. Selanjutnya, bahanbahan yang digunakan adalah pelarut lemak (hexana), biskuit. Prosedur Percobaan Labu lemak disiapkan dan ditimbang terlebih dahulu sebelum digunakan.

Labu lemak kemudian dikeringkan dalam oven selama 30 menit dalam suhu 1050 C. Sampel ditimbang tepat 3 gram di dalam kertas saring yang sesuai ukurannya. didinginkan dalam desikator selama 20 menit setelah itu ditimbang.

Pelarut lemak dimasukkan kedalam labu lemak secukupnya.

x Kertas saring diikat kemudian dimasukkan kedalam alat ekstraksi Soxhlet. Dituang pelarut (hexana) secukupnya ke dalam alat ekstraksi Soxhlet

x Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 20 menit dan ditimbang Setelah selesai diekstraksi maka dikeluarkan contoh dan pelarutnya Dihidupkan air pendingin dan pemanas kemudian dilakukan ekstraksi hingga semua lemak terpisah Labu lemak dikeringkan sekitar 60 menit di dalam oven Setelah selesai, pelarut kemudian disuling kembali dan labu lemak diangkat dan dikeringkan dalam oven pada suhu 1050 C

Gambar 1 Prosedur penetapan kadar lemak metode Soxhlet

HASIL DAN PEMBAHASAN Praktikum kali ini menggunakan metode Soxhlet untuk mengukur kadar lemak yang ada pada crackers. Crackers yang digunakan adalah crackers merk Ritz. Untuk langkah awal sebelum pengukuran, crackers harus dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortar dan pastel. Penghalusan dilakukan agarcracker dapat dimasukkan ke dalam alat dan juga dapat diekstraksi dengan lebih mudah. Crackers yang telah halus selanjutnya akan ditimbang pada timbangan analitik sebanyak kurang lebih 5 gram lalu dibungkus dengan kertas saring dan diikat untuk kemudian dimasukkan ke dalam thimble. Thimble adalah selongsong tempat sampel yang ada pada perangkat Soxhlet. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor. Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan . Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997). Ekstraksi lemak dari dalam dalam crackers dibantu oleh pelarutanhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air. Hal tersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Proses yang terjadi pada Soxhlet berlangsung selama kurang lebih 3 sampai dengan 4 jam. Lemak yang telah diekstraksi akan tertampung di labu lemak. Dari dalam labu lemak ini selanjutnya akan dihitung dengan rumus kadar lemak, yaitu : % lemak = x 100 Keterangan : B = berat labu lemak akhir A = berat labu lemak awal S = berat sampel Berdasarkan hasil praktikum penetapan kadar lemak metode Soxhlet ini didapatkan data sebagai berikut. Tabel 1 Data kadar lemak sampel cracker dengan metode Soxhlet

Nama Sampel Go potato Ritz Roma Arrow Brand Khong Guan Oops Butter Cracker

Kadar Lemak (%) 47,08 21,76 16,33 16,41 13,97 15,89

Setelah perhitungan berdasarkan berat sampel, berat labu lemak awal, dan labu lemak akhir menggunakan rumus yang ditentukan, didapatkan kadar lemak yang berbeda-beda dari keenam sampel. Crackers Go potato mengandung kadar lemak sebesar 47,08%, crackers Ritz mengandung kadar lemak sebesar 21,76%, crackers roma mengandung kadar lemak sebesar 16,33%, crackers arrow brand mengandung kadar lemak sebesar 16,41%,crackers khong guan mengandung kadar lemak sebesar 13,97%, dan oops butter crackers mengandung kadar lemak sebesar 15,89%. Kadar lemak menurut syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992) yaitu minimal 9.5%. Keenam sampel tersebut mengandung kadar lemak di atas 9.5% sehingga dapat dikatakan sesuai dengan syarat mutu biskuit (SNI 01-2973-1992). Diposkan oleh Avliya Quratul (ajan) di 22

Titen Pinasti 140603100003Tugas Analisis Makanan 2 Ekstraksi dengan alat Goldfish sangat praktis. Bahan sampel yang telahdihaluskan dimasukan kedalam thimbel dan dipasang dalam tabung penyanggayang pada bagian bawahnya berlubang. Bahan pelarut yang digunakanditempatkan dalam bekerglas di bawah tabung penyangga. Bila beaker glasdipanaskan uap pelarut akan naik dan didinginkan oleh kondensor sehinggaakan mengembun dan menetes pada sampel demikian terus menerus sehingga bahan akan dibasahi oleh pelarut dan akan terekstraksi, selanjutnya akantertampung ke dalam bekerglas kembali. Setelah ekstraksi selesai, sampel berikut penyangganya diambil dan diganti dengan bekerglas yang ukurannyasama dengan tabung penyangga. Pemanas dihidupkan kembali sehingga pelarutakan diuapkan lagi dan diembunkan serta tertampung ke dalam bekerglas yangterpasang di bawah kondensor, dengan demikian pelarut yang tertampung dapatdimanfaatkan untuk ekstraksi yang lain (Sudarmadji, 1996).Metode Goldfish merupakan metode yang mirip dengan metode Soxhletkecuali labu ekstraksinya dirancang sehingga solven hanya melewati sampel, bukan merendam sampel. Hal ini mengurangi waktu yang dibutuhkan untukekstraksi, tapi dengan kerugian bisa terjadi saluran solven dimana solven akan

melewati jalur tertentu dalam sampel sehingga ekstraksi menjadi tidak efisien.Masalah ini tidak terjadi pada metode Soxhlet, karena sampel terendam dalamsolven. Gambar Alat Goldfisch

Titen Pinasti 140603100003Tugas Analisis Makanan 3 II. PRINSIP

Melarutkan lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelarut lemakselama beberapa waktu menggunakan metode ekstraksi dengan alatsoxhlet/goldfish. Lemak yang terekstraksi (larut dalam pelarut) akanterakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet/gelas goldfish), kemudiandipisahkan dalam pelarutnya dengan cara dipanaskan dalam oven suhu 105 0 C.Pelarut akan menguap, sedangkan lemak tidak akan menguap karena titik didihlemak lebih dari 105 0 C, sehingga akan tertinggal dalam wadah untuk ditentukan beratnya. III. ALAT DAN BAHANAlat-Alat yang digunakan

Peralatan Ekstraksi Goldfisch

Labu ekstraksi

Beaker Glass

Kondensor

Oven Vakum

Neraca Analitis Bahan-bahan yang digunakan

Sampel lemak yang akan dianalisis

Pelarut (Kloroform, Petroleum eter, Etil eter, Benzene, Heksana, Aseton) IV. PROSEDUR 1. Timbang kira-kira 5 g bahan kering dan halus dan pindahkan ke dalamkertas saring atau kertas aluminium (aluminium foil) yang dibentuksedemikian rupa sehingga membungkus bahan dan dapat masuk dalamthimble, yaitu pembungkus bahan yang terbuat dari alumina yang porous. 2.

Pasang bahan dan thimble pada sample tube , yaitu gelas penyangga yang bagian bawahnya terbuka, tepat dibawah kondensor alat distilasi Goldfisch.3. Masukan pelarut, misalnya petroleum-ether secukupnya (paling banyak 75ml) dalam gelas piala khusu yang telah diketahui beratnya. Pasanglah piala berisi pelarut ini pada kondensator sampai tepat dan tak dapat diputar lagi.

Titen Pinasti 140603100003Tugas Analisis Makanan 4 4. Jangan lupa mengalirkan air pendingin pada kondensor. Naikkan pemanaslistrik sampai menyentuh bagian bawah gelas piala dan nyalakan pemanaslistriknya.5. Lakukan ekstraksi selama 3-4 jam. lalu matikan pemanas listriknya danturunkan. Setelah tidak ada tetesan pelarut, ambillah thimble dan sisa bahandalam gelas peyangga.6. Pasanglah gelas piala penampung pelarut ( solvent-recovery-tube ) ditempatgelas peyangga tadi. Gelas piala yang berisi pelarut dan minyak yangterekstraksi, dipasang lagi dan dilanjutkan pemanasan sampai semua pelarutmenguap dan tertampung dalam gela spiala penampung pelarut. Pelarut yangtertampung dapat digunakan lagi.7. Lepaskan gelas piala yang berisi minyak dari alat distilasi dan lanjutkan pemanasan diatas alat pemanas sampai berat konstan. Timbang berat minyakdan hitunglah persen minyak dalam bahan. V. PERHITUNGAN

Perhitungan Berat Lemak dalam Contoh ( )

Perhitungan Kadar Lemak (%) (

VI.

KESIMPULAN Analisis lemak menggunakan metode Goldfisch sama halnya denganmetode soxhlet namun, perbedaannya hanya terletak pada penggunaana labuekstraksinya. Metode Goldfisch termasuk kedalam metode ekstraksi cara kering.Penentuan kadar lemak selain dengan metode Goldfisch juga dapat digunakanmetode lain seperti Metode Soxhlet, Metode Gerber, dan Metode Babcock. VII. DAFTAR PUSTAKA Nielsen, S. 2010. Food Analysis . Fourth Edition. USA: Springer.Sudarmadji. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pangan . Yogyakarta: Liberty. Penentuan Kadar Lemak dan Minyak dengan Soxhlet

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Bahan 1. 2. Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tepung terigu Petrolium benzene

Bahan dan Alat

Alat eksrtaksi lemak lengkap dengan kondesor dan labu lemak Alat pemanas listrik atau penangas uap Oven Neraca analitik Desikator Labu lemak Kertas saring 13. Prosedur Kerja

14.

1.

Ambil labu lemakyang ukurannya sesuai dengan alat ekstraki soxhlet

yang akan digunakan, keringkan dalam oven, dinginkan dalam desikator dan timbang. 15. 2. Timbang 3 gram sampel dalam bentuk tepung dan kering serta

langsung dimasukan ke dalam kertas saring, yang sesuai ukuranya kemudian tutup

dengan kapas yang bebas lemak. Sebagai alternatif sampel dapat dibungkus dengan kertas saring. 16. 3. Letakkan timbel atau kertas saring yang berisi sampel tersebut dalam

alat ekstraksi soxhlet, kemudian pasang alat kondesor diatasnya dan labu lemak pemisah dibawahnya. 17. 4. Tuangkan pelarut dietil eter atau petroleum eter kedalam labu lemak

secukupnya sesuai dengan ukuran soxhlet yang digunakan. 18. 5. Larutkan refluks selama minimun 5 jam sampai pelarut yang kembali

kelabu berwarna jernih. 19. 6. Destilasi pelarut yang ada didalam labu lemak, tampung pelarutnya.

Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 150. 20. 7. Setelah dikeringkan sampai berat tetap dan didinginkan dalam

desikator, timban labu beserta lemaknya tersebut. Berat lemak dapat dihitung. 21. HASIL DAN PEMBAHASAN 22. 23. Hasil

Diketahui dari hasil praktikum yang telah dilakukan berat sampel

adalah 5 gram, berat labu lemak adalah 96,1 gram, berat akhir adalah 97,2gram, dan didapatkan hasil % lemak adalah 22 %. 24. 25. Pembahasan

Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping,

still pot (wadah penyuling) bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out. Soxhlet biasa digunakan dalam pengekstrasian emak pada suatu bahan makanan. Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas.

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Penetapan kadar lemak dengan metode soxhlet ini dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari bahan dengan pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air. Hal tersebut bertujuan supaya bahanbahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut hexana. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan. 26. Pada umumnya metode Soxhlet merupakan metode ekstraksi yang bersifat

kontinu. Metode ini merupakan peralatan labu lemak yang disambungkan dengan alat destilasi Soxhlet dan Kondensor. Lemak dapat diisolasi dengan mengekstraksinya menggunakan pelarut non polar, sedangkan sampel kering yang akan diisolasi lemaknya dibungkus dengan kertas saring. Prinsip penetapan kadar lemak kasar yaitu lemak diekstrak dengan pelarut non polar, seperti heksana dan dietil eter. Setelah pelarutnya diuapkan, lemaknya dapat ditimbang dan dihitung persentasenya. 27. Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan awal mulanya kami menimbang

sampel kemudian sampel tersebut dicampurkan dengan petrolium benzena. Setelah itu larutan sampel kacang tanah didihkan dengan pendingin balik (destilasi) sampai mendidih mengeluarkan uap. Petrolium benzene ini bersifat cepat larut sehingga saat didihkan larutan ini cepat menguap walaupun dalam keadaan belum mendidih. Setelah larutan mulai mendidih maka dimulailah menghitung untuk didihkan lagi selama empat jam. Setelah empat jam maka labu lemak dipanaskan dioven kemudian didinginkan dalam desikator dan timbang serta hitung lemaknya.

EKSTRAKSI LEMAK KASAR MENGGUNAKAN SOXHLET EXTRACTOR


1. DASAR TEORI Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling) bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet,

expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out. Soxhlet biasa digunakan dalam pengekstrasian emak pada suatu bahan makanan. Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas (Harper 1979). Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Penetapan kadar lemak dengan metode soxhlet ini dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari bahan dengan pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar bebas air. Hal tersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut hexana (Darmasih 1997). Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang dan kemudian dibungkus dengan kertas saring atau ditempatkan dalam thimble (selongsong tempat sampel), di atas sample ditutup dengan kapas. Kertas saring ini berfungsi untuk menjaga tidak tercampurnya bahan dengan pelarut lemak secara langsung. Pelarut dan bahan tidak dibiarkan tercampur secara langsung agar bahan-bahan lain seperti fosfolipid, sterol,asam lemak bebas,pigmen karotenoid, klorofil dan lain-lain tidak ikut terekstrak sebagai lemak. Hal ini dilakukan agar hasil akhir dari penentuan kadar lemak ini lebih akurat. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan pelarut anhydrous (Lucas 1949). Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet. Alat ekstraksi soxhlet disambungkan dengan labu lemak yang telah diisi pelarut lemak dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor. Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan. Penentuan kadar lemak pada bahan tersebut dilakukan selama beberapa jam tergantung dari jumlah emak yang terkandung dalam bahan. Semakin banyak kadungan lemak yang terdapat pada bahan, semakin lama proses ekstraksi lemak dilakukan (Darmasih 1997). Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997). 2. PRINSIP SOXHLET

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soklet terdiri dari:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

pengaduk / granul anti-bumping still pot (wadah penyuling) Bypass sidearm thimble selulosa extraction liquid Syphon arm inlet Syphon arm outlet Expansion adapter Condenser (pendingin) Cooling water in Cooling water out

Bahan yang akan diekstraksi ialah jagung, dedak, tepung ikan, pelet. Penentuan kadar lemak dengan pelarut organik, selain lemak juga terikut Fosfolipida, Sterol, Asam lemak bebas, Karotenoid, dan Pigmen yang lain . Karena itu hasil ekstraksinya disebut Lemak kasar . 3. MEKANISME KERJA CARA SOXHLET dalam Thimble (selongsong tempat sampel) , di atas sample ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah Petroleum Spiritus/n-heksan/Alkohol 95 %/Petroleum Benzen dengan titik didih tertentu. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan Petroleum Spirit/nheksan/Alkohol 95 % sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet . Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan . Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soklet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 4 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan. Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5-10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan

4.

MEKANISME KERJA CARA EKSTRAKSI SEDERHANA

Sampel dihancurkan dengan waring-blender sebanyak 5 gr Tambahkan pelarut Kloroform-Metanol sebanyak 20 ml Diamkan beberapa menit, saring dan tampung filtratnya Lalu filtrat dicuci oleh aquadest sebanyak 20 ml Gojog dan diamkan sampai terpisah dua bagian Buang cairan bagian atasnya Lakukan pencucian sebanyak 3 kali Tambahkan sedikit metanol dan kloroform untuk menghomogenkan (lakukan di lemari asam) Keringkan larutan yang diperoleh hingga lemak/minyak saja yang didapat 5. DASAR PEMILIHAN METODE, KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN METODE SOXHLET Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas. LAMPIRAN SIFAT FISIK PELARUT DAN TETAPAN KENAIKAN TITIK DIDIH MASSA TITIK PELARUT JENIS, d (g . DIDIH (0C) -3 cm ) Petroleum 0,88 20/4 80,1 Benzena Alkohol 95 % 0,789 20/4 78,5 n-Heksana 0,66 20/4 69,0

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008, http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:Soxhlet_Extractor.jpg diakses tanggal 20 Agustus 2008 Anonim, 2008, http://whale.wheelock.edu/bwcontaminants/analysis.html diakses tanggal 20 Agustus 2008 Darmasih. 1997. Prinsip Soxhlet. peternakan.litbang.deptan.go.id/user/ptek97-24.pdf. [28 Maret 2010] Harper, V. W Rodwell, P. A Mayes. 1979. Biokimia. Jakarta: Penerbit EGC. Lucas, Howard J, David Pressman. 1949. Principles and Practice In Organic Chemistry. New York: John Wiley and Sons, Inc.