Anda di halaman 1dari 37

O

p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
INTISARI KALKULUS 2
Penyusun:
Drs. Warsoma Djohan M.Si.
Program Studi Matematika - FMIPA
Institut Teknologi Bandung
Januari 2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Pengantar
Kalkulus 1 & 2 merupakan matakuliah wajib tingkat pertama bagi semua Program
Studi di Institut Teknologi Bandung (kecuali Desain dan Seni Murni). Dari segi teori,
materi yang tercakup merupakan materi dasar yang diperlukan bagi seluruh Program
Studi di ITB, sehingga isinya dari tahun ke tahun tidak banyak mengalami perubahan.
Penyusunan diktat ini bertujuan untuk mengefektifkan proses pembelajaran yang
berlangsung di kelas. Diktat dirancang untuk dipakai dosen dan juga mahasiswa.
Dosen memanfaatkannya sebagai media untuk ceramah dan diskusi di kelas, sedang-
kan bagi mahasiswa, diktat ini sebagai pengganti catatan kuliah. Untuk itu, diktat
dirancang dalam bentuk beningan (transparancies) yang cukup rinci. Untuk mengop-
timalkan proses pembelajaran, materi yang akan dibahas sebaiknya sudah disebar ke
mahasiswa sebelum perkuliahan dimulai. Dengan cara ini maka proses pembelajaran
di kelas dapat lebih efektif, di mana waktu lebih banyak digunakan untuk berinteraksi
(ceramah dan diskusi), dibandingkan dengan pola konvensional yang banyak meng-
habiskan waktu untuk mencatat.
Perlu dipahami bahwa diktat ini bukanlah pengganti buku teks, tetapi merupakan
perangkat bantu untuk meningkatkan proses pembelajaran, terutama dalam kelas.
Selain itu konsep-konsep matematika yang ditulis di sini masih sangat memerlukan
pemahaman dan penjelasan dari dosen pengajar. Soal-soal contoh dan latihan umum-
nya tidak dituliskan solusinya. Soal-soal ini sebagian untuk dibahas di kelas, sebagian
lagi untuk latihan mahasiswa secara mandiri. Cara ini diterapkan untuk menghindari
proses belajar yang hanya menghafal soal-jawab, tanpa memahami prosesnya.
Diktat ini mulai disusun pada bulan Januari 2004 dan dapat diselesaikan pada akhir
Mei 2004. Revisi dilakukan terus menerus secara kontinu. Penyusunan didasarkan
pada buku teks yang digunakan yaitu: Calculus and Analytic Geometry, edisi 9, D.
Varberg & E.J. Purcell . Semoga penulisan diktat ini dapat meningkatkan proses
pembelajaran matematika pada mahasiswa tingkat 1 di ITB. Kritik dan saran atas isi
diktat ini dapat disampaikan melalui e-mail ke warsoma@.math.itb.ac.id
Penyusun,
Warsoma Djohan








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1
Teknik Pengintegralan
Mencari anti turunan dari sebuah fungsi f(x) secara umum sukar dilakukan. Pada
bagian ini dibahas beberapa kelompok fungsi tertentu yang anti turunannya dapat
dihitung secara analitis. Berikut ini disajikan beberapa rumus anti turunan yang telah
dikenal dari pasal-pasal sebelumnya:
1.
_
k du = ku + c
2.
_
u
r
du =
_
u
r+1
r+1
+ c r = 1
ln|u| + c r = 1
3.
_
e
u
du = e
u
+ c 4.
_
a
u
du =
a
u
ln a
+ c a = 1, a > 0
5.
_
sinu du = cos u + c 6.
_
cos u du = sin u + c
7.
_
sec
2
u du = tanu + c 8.
_
csc
2
u du = cot u + c
9.
_
sec u tanu du = sec u + c 10.
_
csc u cot u du = csc u + c
11.
_
tanu du = ln| cos u| + c 12.
_
cot u du = ln | sin u| + c
13.
_
du

a
2
u
2
= sin
1
_
u
a
_
+ c 14.
_
du
u
2
+ a
2
=
1
a
tan
1
_
u
a
_
+ c
15.
_
du
u

u
2
a
2
=
1
a
sec
1
_
|u|
a
_
+ c
Buktikan sifat no: 11 dan 13.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 2
Pengintegralan dengan Metode Substitusi
Perhatikan masalah
_
f(x) dx. Pada metode ini, sebagian dari integran (fungsi yang
diintegralkan) disubstitusikan menjadi variabel baru. Substitusi diatur agar bentuk
integral dapat dibawa menjadi salah satu bentuk seperti pada halaman 1.
Contoh-Contoh:
1.
_
x
cos
2
(x
2
)
dx
2.
_
2

5 9x
2
dx
3.
_
6e
1/x
x
2
dx
4.
_
e
x
4 + 9e
2x
dx
5.
_
x
3
_
x
4
+ 11 dx
6.
_
a
tan x
cos
2
x
dx
7.
_
7
x
2
6x + 25
dx
8.
_
x
2
x
x + 1
dx
9.
_
sec x dx
10.
_
csc x dx
Pengintegralan Fungsi Trigonometri
Bentuk
_
sin
n
x dx dan
_
cos
n
x dx dengan n ganjil
Tulis sebagai
_

_
_
sin
n1
x sin x dx =
_
sin
n1
x d(cos x)
_
cos
n1
x cos x dx =
_
cos
n1
x d(sinx)
Dengan menggunakan rumus sin
2
x + cos
2
x = 1,
ubah sin
n1
x dalam cos x atau cos
n1
x dalam sin x
Contoh: Tentukan (a.)
_
sin
3
x dx (b.)
_
cos
5
x dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 3
Bentuk
_
sin
n
x dx dan
_
cos
n
x dx dengan n genap
Tulis
_

_
sin
n
x =
_
sin
2
x
_n
2
=
_
1
2

1
2
cos(2x)
_n
2
cos
n
x =
_
cos
2
x
_n
2
=
_
1
2
+
1
2
cos(2x)
_n
2
lalu pangkatkan
Contoh: Tentukan (a.)
_
sin
4
x dx (b.)
_
cos
6
x dx
Bentuk
_
sin
m
x cos
n
x dx dengan m atau n ganjil
Pisahkan satu suku dari yang berpangkat ganjil.
Untuk ilustrasi, misalkan yang ganjil adalah m.
Tulis sebagai
_
sin
m1
x cos
n
x sin x dx =
_
sin
m1
x cos
n
x d(cos x)
Ubah faktor sin
n1
x dalam cos x
Contoh: Tentukan
_
sin
4
x cos
3
x dx
Bentuk
_
sin
m
x cos
n
x dx dengan m dan n genap
Reduksilah pangkat m dan n dengan menggunakan identitas
sin
2
x =
1
2

1
2
cos(2x) dan cos
2
x =
1
2
+
1
2
cos(2x)
Contoh: Tentukan
_
sin
2
x cos
4
x dx
Bentuk
_
tan
n
x dx dan
_
cot
n
x dx
Untuk tan
n
x keluarkan faktor tan
2
x = sec
2
x 1
Untuk cot
n
x keluarkan faktor cot
2
x = csc
2
x 1
Contoh: Tentukan (a.)
_
tan
4
x dx (b.)
_
cos
3
x dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 4
Bentuk
_
tan
m
x sec
n
x dx dan
_
cot
m
x csc
n
x dx n genap
Untuk tan
m
x sec
n
x keluarkan faktor sec
2
x dx = d(tanx)
Untuk cot
m
x csc
n
x keluarkan faktor csc
2
x dx = d(cot x)
Contoh: Tentukan (a.)
_
tan
3/2
x sec
4
x dx
Bentuk
_
tan
m
x sec
n
x dx dan
_
cot
m
x csc
n
x dx m ganjil
Untuk tan
m
x sec
n
x keluarkan faktor sec x tanx dx = d(sec x)
Untuk cot
m
x csc
n
x keluarkan faktor csc x cot x dx = d(csc x)
Contoh: Tentukan (a.)
_
tan
3
x sec
1/2
x dx
_
sin(mx) cos(nx) dx,
_
sin(mx) sin(nx) dx,
_
cos(mx) cos(nx) dx
sin(mx) cos(nx) =
1
2
[ sin(m + n)x + sin(mn)x ]
sin(mx) sin(nx) =
1
2
[ cos(m + n)x cos(mn)x ]
cos(mx) cos(nx) =
1
2
[ cos(m + n)x + cos(mn)x ]
Contoh: Tentukan (a.)
_
sin(2x) cos(3x) dx
(b.)

sin(mx) sin(nx) dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 5
Substitusi yang Merasionalkan
Bentuk ini digunakan untuk beberapa integran yang memuat tanda akar.
Bentuk
n
_
(ax + b)
m
, gunakan substitusi (ax + b) = u
n
Contoh: (a)
_
dx
x

x
(b)
_
x
3

x 4 dx (c)
_
x
5
_
(x + 1)
2
dx
Bentuk
_
a
2
x
2
,
_
a
2
+ x
2
, dan
_
x
2
a
2
Pada ketiga bentuk tersebut, masing-masing gunakan substitusi:
x = a sint

2
t

2
x = a tant

2
< t <

2
x = a sec t 0 t , t =

2
Diperoleh:

a
2
x
2
= a cos t

a
2
+ x
2
= a sec t

x
2
a
2
=
_
a tant 0 t <

2
a tant

2
< t
Contoh: Tentukan integral-integral berikut
(a)
_
_
a
2
x
2
dx (b)
_

4 x
2
x
2
dx
(c)
_
dx

9 + x
2
dx (d)
_
1

x
2
+ 2x + 26
dx
(e)
_
2x

x
2
+ 2x + 26
dx (e)
_
3
2

x
2
1
x
3
dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 6
Pengintegralan Parsial
Misalkan u = u(x) dan v = v(x) dua buah fungsi.
D
x
[uv] = u

v + uv

Jadi
uv =
_
u

v dx +
_
uv

dx
_
uv

dx = uv
_
u

v dx atau
_
u dv = uv
_
v du
Contoh: Tentukan integral-integral berikut
(a)
_
x cos x dx (b)
_
2
1
ln x dx (c)
_
sin
1
x dx
(d)
_
x
2
sinx dx (e)
_
e
x
sinx dx (f)
_
sec
3
x dx
(g)
_
tan
2
x sec
3
x dx
(f) Tunjukkan:
_
sin
n
x dx =
sin
n1
x cos x
n
+
n 1
n
_
sin
n2
x dx
(g)
_
x cos
2
x sin x dx (h)
_
x sin
3
x dx (tulis sin
3
x =
_
1 cos
2
x
_
sin x)
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 7
Pengintegralan Fungsi Rasional
Pasal ini membahas pencarian anti turunan berbentuk:
_
P(x)
Q(x)
dx dengan P(x), Q(x) polinom.
Contoh: Tentukan
_
x
5
+ 2x
3
x + 1
x
3
+ 5x
dx
Bila derajat pembilang derajat penyebut, lakukan proses pembagian.
x
5
+ 2x
3
x + 1
x
3
+ 5x
= x
2
3 +
14x + 1
x
3
+ 5x
(buktikan !)
Jadi,
_
x
5
+ 2x
3
x + 1
x
3
+ 5x
dx =
_
(x
2
3) dx +
_
14x + 1
x
3
+ 5x
dx
Pada ruas kanan, integral pertama mudah diselesaikan. Kesulitan hanya pada inte-
gral kedua. Dengan demikian pembahasan cukup dibatasi pada bentuk fungsi rasional
dengan derajat pembilang lebih kecil dari derajat penyebut.
Bentuk 1: Pembilang konstanta, penyebut terdiri dari satu faktor linear.
_
1
(ax + b)
m
dx gunakan substitusi u = ax + b
Contoh: (a)
_
2
(2x + 1)
3
dx (b)
_
2
3x + 5
dx
Bentuk 2: Pembilang polinom derajat 1, penyebut terdiri dari satu faktor linear
dengan multiplisitas m.
Kita uraikan seperti pada ilustrasi berikut:
p(x)
(ax + b)
m
=
A
1
(ax + b)
+
A
2
(ax + b)
2
+ +
A
m
(ax + b)
m
Contoh:
_
x 3
(x 1)
2
dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 8
Bentuk 3: Penyebut terdiri dari faktor
2
linear dengan multiplisitas satu.
S(x)
(x x
1
) (x x
2
) (x x
n
)
=
A
1
x x
1
+
A
2
x x
2
+ +
A
n
x x
2
Contoh:
_
6
(x + 2)(x 1)
dx
Perhatikan bahwa penguraian di atas tidak bergantung pada polinom S(x), asalkan
derajatnya lebih kecil dari derajat penyebut.
Latihan: (a)
_
6
(2x 1)(x + 3)
dx (b)
_
5x + 3
x
3
2x
2
3x
dx
Bentuk 4: Penyebut terdiri dari faktor
2
linear dan beberapa faktor multiplisitasnya
lebih dari satu.
Uraikan faktor bermultiplisitas satu seperti pada bentuk 2, sedangkan untuk yang mul-
tiplisitasnya lebih dari satu kita uraikan sebanyak pangkatnya seperti contoh berikut:
x
2
11x + 15
(x 2)
2
(x + 1)
=
A
(x 2)
+
B
(x 2)
2
+
C
x + 1
x
2
11x + 15
(x 2)
2
(x + 1)
=
A(x 2)(x + 1) + B(x + 1) + C(x 2)
2
(x 2)
2
(x + 1)
x
2
11x + 15 = A(x 2)(x + 1) + B(x + 1) + C(x 2)
2
Substitusikan secara beruntun nilai-nilai x = 2, x = 1 dan x = 0 pada persamaan
di atas, maka diperoleh B = 1, C = 3 dan A = 2. Jadi
x
2
11x + 15
(x 2)
2
(x + 1)
=
2
x 2
+
1
(x 2)
2
+
3
x + 1
(bentuk 1)
Contoh: (a)
_
8x
2
+ 5x 8
(2x 1)
2
(x + 3)
dx (b)
_
3x
5
+ 17x
4
+ 9x
3
64x
2
30x + 1
(x 1)
2
(x 2)(x + 3)
3
dx
Bentuk 5: Pembilang konstanta dan penyebut polinom kuadrat denit dengan mul-
tiplisitas 1.
Contoh:
_
1
x
2
+ 4x + 8
dx.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 9
Bentuk 6: Pembilang polinom derajat satu sedangkan penyebut polinom kuadrat
denit dengan multiplisitas 1.
Ubah bentuknya sbb.
px + q
x
2
+ bx + c
=
p
2
(2x + b)
x
2
+ bx + c
+
q
p
2
b
x
2
+ bx + c
Contoh:
_
2x + 10
x
2
+ 4x + 8
dx
Bentuk 7: Penyebut terdiri dari dua faktor atau lebih dan memuat faktor kuadrat
denit bermultiplisitas 1.
S(x)
(xt)(x
2
+bx+c)
=
A
xt
+
Bx+C
x
2
+bx+c
Contoh:
_
7x
2
+ 2x 7
(4x + 1)(x
2
+ 4x + 8)
dx
Bentuk 8: Penyebut memuat faktor kuadrat denit bermultiplisitas 2.
S(x)
(xt)(x
2
+bx+c)
2
=
A
1
xt
+
A
2
x+A
3
x
2
+bx+c
+
A
2
x+A
3
(x
2
+bx+c)
2
Contoh:
_
16x
4
+ 11x
3
+ 46x
2
+ 17x + 6
(4x + 1)(x
2
+ 1)
2
dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 10
Bentuk Tak tentu Limit
Perhatikan tiga buah limit berikut:
(a) lim
x0
sin x
x
(b) lim
x3
x
2
9
x
2
x 6
(c) lim
xa
f(x) f(a)
x a
Bila masing-masing titik limitnya disubstitusikan, ketiganya menghasilkan bentuk
0
0
,
tetapi bila dihitung nilai limitnya, hasilnya dapat berbeda-beda. Bentuk seperti ini
dinamakan bentuk tak tentu.
Aturan LHopital 1: Misalkan lim
xa
f(x) = lim
xa
g(x) = 0.
Bila lim
xa
f

(x)
g

(x)
ada (boleh takhingga) maka lim
xa
f(x)
g(x)
= lim
xa
f

(x)
g

(x)
Contoh: Tentukan limit-limit berikut:
(a) lim
x0
sin x
x
(b) lim
x0
1cos x
x
(c) lim
x2
+
x
2
+3x10
x
2
4x+4
(d) lim
x0
tan(2x)
ln(1+x)
(e) lim
x0
sin xx
x
3
(f) lim
x0
1cos x
x
2
+3x
(h) lim
x
e
x
x
1
Aturan LHopital 2: Misalkan lim
xa
|f(x)| = lim
xa
|g(x)| = .
Bila lim
xa
f

(x)
g

(x)
ada (boleh takhingga) maka lim
xa
f(x)
g(x)
= lim
xa
f

(x)
g

(x)
Contoh: Tentukan limit-limit berikut:
(a) lim
x
x
e
x
(b) lim
x
x
a
e
x
, a>0 (c) lim
x
ln x
x
a
a>0 (d) lim
x0
+
ln x
cot x
Bentuk Tak Tentu 0 . Diubah jadi bentuk
0
1

atau

1
0
Contoh: Tentukan lim
x

2
tanx ln(sinx).
Bentuk Tak Tentu .
Samakan penyebutnya sehingga berbentuk
0
0
atau

Contoh: Tentukan lim


x1
+
_
x
x1

1
ln x
_
.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 11
Bentuk Tak Tentu 0
0
,
0
, dan 1

. Lakukan penarikan logaritma.


Contoh: Tentukan (a) lim
x0
+
x
x
(b) lim
x0
+
(x + 1)
cot x
(c) lim
x

(tanx)
cos x
Catatan: Bentuk-bentuk berikut merupakan bentuk tertentu
0

,

0
, +, , 0

(jelaskan!)
Integral Tak Wajar: batas
Pada pendenisian integral yang lalu,
b
_
a
f(x) dx, a dan b berhingga. Pada bagian ini
akan dibahas bila batas integrasinya .
a.
b
_

f(x) dx = lim
t
b
_
t
f(x) dx
b.

_
a
f(x) dx = lim
q
q
_
a
f(x) dx
c.

f(x) dx =
0
_

f(x) dx +

_
0
f(x) dx
Catatan:

f(x) dx = lim
t
t
_
t
f(x) dx
Bila suku-suku di ruas kanan nilainya berhingga, dikatakan integral tak wajar tersebut
konvergen dan nilainya adalah hasil di ruas kanan.
Contoh-Contoh:
1. Tentukan (a)
1
_

xe
x
2
dx (b)

_
0
sinx dx
2. Tentukan k supaya

k
1+x
2
dx = 1
3. Carilah semua nilai p supaya

_
1
1
x
p
dx konvergen.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 12
Integral Tak Wajar: Integran Tak Hingga
Ilustrasi: Perhatikan integral tentu
1
_
2
1
x
2
dx.
Bila kita hitung memakai teorema dasar kalkulus 1:
1
_
2
1
x
2
dx =
_

1
x
_
1
2
= 1
1
2
=
3
2
Hasil ini tidak wajar, sebab integrannya f(x) =
1
x
2
fungsi yang positif.
Penyebab ketidakwajaran ini karena f(x) tidak terdenisi di x = 0 [2, 1].
Integral ini merupakan integral tak wajar, jadi tidak boleh dihitung seperti di atas.
Bentuk-bentuk integral tak wajar karena integrannya takhingga didenisikan sbg:
a. Misalkan lim
xa
+
|f(x)| = , maka
b
_
a
f(x) dx = lim
ta
+
b
_
t
f(x) dx
b. Misalkan lim
xb

|f(x)| = , maka
b
_
a
f(x) dx = lim
qb

q
_
a
f(x) dx
c. Misalkan f(x) kontinu pada [a, b] kecuali di c [a, b],
maka
b
_
a
f(x) dx =
c
_
a
f(x) dx +
b
_
c
f(x) dx
Contoh-Contoh:
1. Tentukan Integral-Integral berikut (a)
2
_
0
1

4x
2
dx (b)
1
_
0
1
x
dx
2. Carilah semua nilai p supaya
2
_
0
1
x
p
dx konvergen.
3. Periksa kekonvergenan (a)
1
_
2
1
x
2
dx (b)
3
_
0
1
(x1)
2
3
dx
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 13
Deret Tak Hingga
Pada bagian ini akan dibicarakan penjumlahan berbentuk
a
1
+ a
2
+ + a
n
+ dengan a
n
R
Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu pengertian barisan tak hingga.
Barisan Tak Hingga
Barisan tak hingga adalah fungsi f : N R.
Barisan biasanya hanya dituliskan nilai-nilai fungsinya sebagai berikut:
a
1
, a
2
, a
3
, dengan a
n
= f(n), n N
Notasi lain untuk barisan: {a
n
}

n=1
, atau {a
n
}
Contoh-Contoh:
1. a
n
= 1
1
n
: 0,
1
2
,
2
3
,
3
4
,
4
5
,
2. b
n
= 1 (1)
n 1
n
: 0,
3
2
,
2
3
,
5
4
,
4
5
,
7
6
,
6
7
,
3. c
n
= (1)
n
+
1
n
: 0,
3
2
,
2
3
,
5
4
,
4
5
,
7
6
,
6
7
,
4. d
n
= 0, 999: 0, 999 ; 0, 999 ; 0, 999 ;
Diskusi: Bila n cenderung menuju nilai berapakah suku barisan di atas ?
Denisi Kekonvergenan Barisan: Barisan {a
n
} disebut konvergen ke L, ditulis
lim
n
a
n
= L, artinya untuk setiap > 0, dapat dicari bilangan positif K sehingga
untuk n K = |a
n
L| < . Barisan yang tidak konvergen disebut divergen.
Contoh: Dengan denisi kekonvergenan barisan, Tunjukkan lim
n
(1
1
n
) = 1
Rumus umum suku barisan tersebut a
n
= 1
1
n
.
Misalkan sebuah bilangan positif, dicari bilangan asli K supaya,
untuk semua n K berlaku |a
n
1| < , ()
a
1
, a
2
, a
3
, , a
K1
, a
K
, a
K+1
, a
K+2
, a
K+3
,
. .
|a
n
1| <
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 14
Kembali pada pernyataan (), untuk mencari bilangan K, kita lakukan berikut:
|a
n
1| < |(1
1
n
) 1| <
|
1
n
)| <

1
n
<
|a
n
1| < n >
1

Dari pernyataan terakhir, dengan memilih bilangan asli K yang lebih besar dari
1

,
maka hubungan () dipenuhi.
Contoh: Perhatikan barisan c
n
= (1)
n
+
1
n
.
Apakah barisan ini konvergen ke -1?
Bila kita perhatikan nilai suku-suku barisan tersebut adalah sebagai berikut
0,
3
2
,
2
3
,
5
4
,
4
5
,
7
6
,
6
7
, ,
1001
1000
,
1000
1001
,
1003
1002
,
1002
1003
,
Perhatikan bahwa sukus-suku ganjil (warna biru), cenderung menuju -1, sedangkan
suku-suku yang genap (warna oranye), cenderung menuju 1.
Dengan demikian, bila =
1
2
kita tidak mungkin mendapatkan bilangan asli K
sehingga untuk semua n K berlaku |a
n
(1)| <
1
2
. Jadi lim
n
(1)
n
+
1
n
= 1.
Pertanyaan lebih lanjut, apakah lim
n
(1)
n
+
1
n
ada?, Jelaskan jawaban anda.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 15
Sifat-Sifat: (sama dengan sifat-sifat limit fungsi yang telah dikenal)
Misalkan {a
n
}, {b
n
} barisan
2
yang konvergen, k R dan p N.
lim
n
1
n
p
= 0
lim
n
k = k
lim
n
(a
n
b
n
) = lim
n
a
n
lim
n
b
n
lim
n
(a
n
b
n
) = lim
n
a
n
lim
n
b
n
lim
n
a
n
b
n
=
lim
n
a
n
lim
n
b
n
syarat lim
n
b
n
= 0
Misalkan a
n
= f(n). Bila lim
x
f(x) = L maka lim
n
f(n) = L
Prinsip Apit: Misalkan {a
n
}, {b
n
}, dan {c
n
} barisan
2
dengan sifat a
n
c
n
b
n
untuk suatu n K (mulai indeks yang K).
Bila lim
n
a
n
= L dan lim
n
b
n
= L maka lim
n
c
n
= L
lim
n
a
n
= 0 lim
n
|a
n
| = 0
Contoh-Contoh:
1. Tentukan lim
n
3n
2
7n
2
+ 1
2. Tentukan lim
n
ln n
e
n
3. Tentukan lim
n
sin
3
n
n
4. Misalkan 1 < r < 1, tunjukkan lim
n
r
n
= 0
(perhatikan
1
|r|
> 1, lalu tulis
1
|r|
= 1 + p, tunjukan 0 |r|
n

1
pn
)
bagaimanakah nilai lim
n
r
n
bila |r| 1 ?
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 16
Barisan Monoton Pengertian kemonotonan barisan persis sama dengan pengertian
kemonotonan pada fungsi. Sebuah barisan {a
n
} disebut monoton tak turun bila
memenuhi a
n
a
n+1
dan disebut monoton tak naik bila memenuhi a
n
a
n+1
.
Sifat:
Bila {a
n
}

dan terbatas di atas, maka {a


n
} konvergen.
Bila {a
n
}

dan terbatas di bawah, maka {a


n
} konvergen.
Catatan: Untuk pengamatan sifat barisan, kemonotonan {a
n
} cukup dimulai
dari suatu indeks, yaitu bagian ekornya, depannya tidak perlu teratur.
Contoh: Buktikan barisan {b
n
} dengan b
n
=
n
2
2
n
konvergen
(tunjukkan {b
n
} monoton tak naik untuk n 3).
Catatan. Untuk menunjukan sebuah barisan {a
n
} monoton, gunakan salah satu cara
berikut:
Periksa tanda dari a
n+1
a
n
Bila a
n
selalu positif atau selalu negatif, periksa nilai dari
a
n+1
a
n
.
Bila a
n
= f(n), bentuk fungsi real f(x), lalu periksa tanda dari f

(x).
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 17
Deret Tak Hingga
Bentuk umum: a
1
+ a
2
+ a
3
+ =

n=1
a
n
dengan a
n
R.
Tetapkan barisan {S
n
} sebagai berikut:
a
1
..
, a
1
+ a
2
. .
, a
1
+ a
2
+ a
3
. .
, , a
1
+ a
2
+ + a
n
. .
,
S
1
S
2
S
3
S
n
Barisan ini disebut barisan jumlah parsial dari deret

n=1
a
n
Secara intuitif bila n maka S
n

n=1
a
n
Denisi: Sebuah deret

n=1
a
n
disebut konvergen ke S bila lim
n
S
n
= S.
Deret Geometri: a + ar + ar
2
+ ar
3
+ =

k=1
ar
k1
a, r R
Sifat: Deret geometri

k=1
ar
k1
konvergen untuk |r| < 1 dengan nilai S =
a
1r
dan
divergen untuk |r| 1.
Bukti: Sebut S
n
= a + ar + ar
2
+ + ar
n1
.
S
n
rS
n
= a ar
n
(tunjukkan !)
S
n
=
a(1r
n
)
1r
r = 1
Untuk |r| < 1, lim
n
S
n
=
a
1r
(lihat contoh 4 halaman 15)
Untuk |r| > 1, r = 1, {S
n
} divergen (lihat contoh 4 halaman 15)
Untuk r = 1, {S
n
} divergen (mengapa ?)
Contoh: Tentukan nilai deret berikut:
4
3
+
4
9
+
4
27
+
4
81
+
Sifat: (uji kedivergenan deret) Bila

n=1
a
n
konvergen maka lim
n
a
n
= 0
sifat ini ekivalen dengan: bila lim
n
a
n
= 0 maka

n=1
a
n
divergen.
Contoh: Periksa kekonvergenan

n=1
n
3
2n
3
+2n
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 18
Deret harmonik: 1 +
1
2
+
1
3
+ +
1
n
+ =

n=1
1
n
Perhatikan lim
n
a
n
= lim
n
1
n
= 0, apakah deret ini konvergen ?
S
n
= 1 +
1
2
+
1
3
+ +
1
n
= 1 +
1
2
+
_
1
3
+
1
4
_
+
_
1
5
+
1
6
+
1
7
+
1
8
_
+
_
1
9
+ +
1
16
_
+ +
1
n
> 1 +
1
2
+
2
4
+
4
8
+
8
16
+ +
1
n
= 1 +
1
2
+
1
2
+
1
2
+
1
2
+ +
1
n
Jadi lim
n
S
n
= , jadi {S
n
} divergen atau deret harmonik divergen.
Deret Teleskopik / Kolaps :
_
1
a
1

1
a
2
_
+
_
1
a
2

1
a
3
_
+
_
1
a
3

1
a
4
_
+ =

n=1
_
1
a
n

1
a
n+1
_
Pada deret ini : S
n
=
1
a
1

1
a
n+1
Contoh: Periksa kekonvergenan deret

k=1
1
(k + 2)(k + 3)
Sifat Linear: Jika

n=1
a
n
,

n=1
b
n
deret yang konvergen dan c R maka
(a)

n=1
c a
n
= c

n=1
a
n
dan (b)

n=1
(a
n
+ b
n
) =

n=1
a
n
+

n=1
b
n
Sifat: Jika

n=1
a
n
divergen dan c = 0 maka

n=1
c a
n
divergen
Contoh: Tunjukkan

n=1
1
9n
divergen
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 19
Pengelompokan Suku-Suku Deret
Perhatikan deret 1 1 + 1 1 + 1 1 + + (1)
n
+ 1 +
Suku ke n dari deret ini adalah a
n
= (1)
n+1
Karena lim
n
a
n
= lim
n
(1)
n+1
= 0 maka deret ini divergen.
Sekarang kita kelompokkan suku-sukunya sebagai berikut:
Pengelompokan a: (1 1) + (1 1) + (1 1) + = 0
Pengelompokan b: 1 (1 1) (1 1) (1 1) + = 1
Ternyata deret hasil pengelompokannya dapat dibuat konvergen. Hal ini tentu saja
salah. Jadi secara umum suku-suku sebuah deret tidak boleh dikelompokkan karena
nilainya akan berubah.
Sifat: Pengelompokan suku-suku sebuah deret yang konvergen tidak mengubah nilai
dan kekonvergenannya. (tetapi posisinya tidak boleh ditukar) .
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 20
Deret Positif
Pengujian kekonvergenan deret secara umum sukar dilakukan. Untuk deret yang suku-
sukunya tak-negatif, tersedia berbagai macam sifat untuk menguji kekonvergenannya.
Denisi: Sebuah deret

n=1
a
n
disebut deret positif bila a
n
0.
Uji Jumlah Terbatas:
Deret positif

n=1
a
n
konvergen jumlah parsialnya, S
n
, terbatas di atas.
Contoh: Tunjukkan
1
1!
+
1
2!
+
1
3!
+ konvergen. (perlihatkan
1
n!

1
2
n1
)
Uji Integral:
Diberikan deret

n=1
a
n
dengan a
n
= f(n). Dibentuk fungsi f(x). Bila f(x) kontinu,
positif dan tak naik pada [1, ] maka

n=1
a
n
konvergen

_
1
f(x) dx konvergen. (ilustrasikan secara geometri )
Perhatikan bahwa

n=1
a
n
=

_
1
f(x) dx
Contoh
2
:
1. Uji kekonvergenan deret

k=2
1
k ln k
2. Deret

n=1
n
e
n
diaproksimasi nilainya memakai 5 suku pertama
5

n=1
n
e
n
, sehingga
galatnya adalah

n=6
n
e
n
. Aproksimasilah galat tersebut memakai integral tak wajar.
Uji Deret-p: 1 +
1
2
p
+
1
3
p
+
1
4
p
+ =

k=1
1
k
p
dengan p konstanta.
Deret-p konvergen untuk p > 1 dan divergen untuk p 1 (buktikan !).
(petunjuk: untuk p > 0 gunakan uji integral, untuk p < 0 gunakan uji suku ke-n)
Contoh: Periksa kekonvergenan deret

k=1
1
k
0,001
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 21
Uji Banding: Misalkan 0 a
n
b
n
untuk n N.
Bila

n=1
b
n
konvergen maka

n=1
a
n
konvergen
Bila

n=1
a
n
divergen maka

n=1
b
n
divergen
Contoh
2
: Periksa kekonvergenan (a)

n=1
n
5n
2
4
(b)

n=1
n
2
n
(n+1)
(c)

n=3
1
(n2)
2
(untuk soal c, tunjukkan untuk n 3 berlaku
1
(n2)
2

9
n
2
).
Uji Banding Limit: Misalkan a
n
0, b
n
0 dan lim
n
a
n
b
n
= L.
Bila 0 < L < maka kekonvergenan

n=1
a
n
dan

n=1
b
n
bersamaan.
Bila L = 0 dan

n=1
b
n
konvergen maka

n=1
a
n
konvergen
Contoh
2
: Periksa kekonvergenan (a)

n=1
3n2
n
3
2n
2
+11
(b)

n=1
1

n
2
+19n
(c)

n=1
ln n
n
2
(untuk soal c, gunakan pembanding

n=1
1
n
2
,

n=1
1
n
dan

n=1
1
n
3/2
).
Uji Hasil Bagi: Misalkan

n=1
a
n
deret positif dengan lim
n
a
n+1
a
n
=
Bila < 1 deret konvergen.
Bila > 1 deret divergen.
Bila = 1 tidak diperoleh kesimpulan
Contoh
2
: Periksa kekonvergenan (a)

n=1
2
n
n!
(b)

n=1
2
n
n
100
(c)

n=1
n!
n
n
(untuk soal c, gunakan sifat lim
n
(1 +
1
n
)
n
= e) .
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 22
Ringkasan: Misalkan

n=1
a
n
sebuah deret positif:
Jika lim
n
a
n
= 0 maka deret divergen.
Jika a
n
mengandung n!, r
n
atau n
n
, gunakan uji hasil bagi.
Jika a
n
berbentuk fungsi rasional (pangkat konstan dalan n), gunakan uji banding
limit. Sebagai deret pembanding gunakan pangkat tertinggi dari pembilang dibagi
penyebut.
Jika uji-uji di atas gagal, coba dengan uji banding, uji integral atau uji jumlah
terbatas.
Catatan: Item 2, 3, dan 4 hanya dapat dipakai untuk deret positif.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 23
Deret Ganti Tanda
Bentuk umum : a
1
a
2
+a
3
a
4
+a
5
a
6
+ =

n=1
(1)
n1
a
n
a
n
> 0 n
Contoh-contoh:
1. 1 1 + 1 1 + 1 1 +
2. 1
1
2
+
1
3

1
4
+
1
5

1
6
+
3. 1 2 + 3 4 + 5 6 +
Secara umum kekonvergenan deret ganti tanda sukar untuk ditentukan !!, tetapi untuk
yang suku-sukunya menurun pengujiannya mudah dilakukan.
Perhatikan deret ganti tanda

n=1
(1)
n1
a
n
dengan 0 < a
n+1
< a
n
.
Bentuk barisan jumlah parsial: S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, S
5
, S
6
,
1
S
2
S
4
S
6
S
8
S
3
S
5
S
7
S L L
Perhatikan:
1. barisan: S
1
, S
3
, S
5
, monoton turun dan terbatas di bawah sehingga konver-
gen, misalkan limitnya S

.
2. barisan: S
2
, S
4
, S
6
, monoton naik dan terbatas di atas sehingga konvergen,
misalkan limitnya S.
S

S
n
n ganjil dan S

S
n
n genap sehingga S

selalu terletak diantara S


n
dan
S
n+1
n N.
Dengan alasan serupa S

selalu terletak diantara S


n
dan S
n+1
n N.
Jadi |S

| |S
n+1
S
n
| = |a
n+1
| = a
n+1
Bila lim
n
a
n
= 0 maka semua suku barisan S
n
menuju limit yang sama yaitu S

=
S

= S, jadi barisan {S
n
} konvergen .
Karena S selalu terletak antara S
n
dan S
n+1
maka
|S S
n
| |S
n+1
s
n
| = |a
n+1
| = a
n+1
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 24
Uji Deret Ganti Tanda
Misalkan a
1
a
2
+ a
3
a
4
+ a
5
a
6
+ suatu deret ganti tanda dengan
0 < a
n+1
< a
n
. Bila lim
n
a
n
= 0 maka deret konvergen. Bila nilai deret tersebut
diaproksimasi dengan S
n
maka galatnya a
n+1
.
Contoh-contoh:
Periksa kekonvergenan deret-deret berikut:
1. 1
1
2
+
1
3

1
4
+
1
5

1
6
+ (deret harmonik ganti tanda)
2.

n=1
(1)
n1 n
2
2
n
Kekonvergenen Mutlak dan Bersyarat
Perhatikan deret berikut:
1 +
1
4

1
9
+
1
16
+
1
25

1
36
+
Deret ini tidak dapat diuji dengan Uji Deret Ganti Tanda, mengapa ?
Bila setiap suku dari deret tersebut dimutlakkan maka diperoleh deret:
1 +
1
4
+
1
9
+
1
16
+
1
25
+
1
36
+
Apakah deret terakhir ini konvergen ? Beri alasan !
Deret

n=1
|a
n
| disebut deret mutlak dari deret

n=1
a
n
Sifat
Bila

n=1
|a
n
| konvergen maka

n=1
a
n
konvergen.
Berikan contoh sebuah deret

n=1
a
n
yang konvergen tapi

n=1
|a
n
| divergen.
Sebuah deret dikatakan
a. Bila

n=1
|a
n
| konvergen, dikatakan deret tersebut konvergen mutlak.
b. Bila

n=1
a
n
konvergen tetapi

n=1
|a
n
| divergen, dikatakan deret konvergen bersyarat.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 25
Contoh
2
: Periksa kekonvergenan (mutlak/bersyarat/divergen) deret
2
berikut:
1.

n=1
cos(n!)
n
2
2.

n=1
(1)
n+1 1

n
3.

n=1
(1)
n1 n
2
2
n
Uji Hasil Bagi Mutlak
Misalkan

n=1
a
n
sebuah deret (sebarang). Tetapkan = lim
n
|a
n+1
|
|a
n
|
.
a. Jika < 1 deret konvergen mutlak.
b. Jika > 1 deret divergen.
c. Jika = 1 tidak ada kesimpulan
Contoh: Tunjukan deret

n=1
(1)
n+1 3
n
n!
konvergen mutlak
Teorema Penukaran Tempat
Suku-suku sebuah yang konvergen mutlak boleh dipertukarkan posisinya, nilai deretnya
tidak akan berubah.
Latihan: Periksa kekonvergenan deret-deret berikut:
1.

n=1
4n
3
+3n
n
5
4n
2
+1
2.

n=1
(1)
n+1

n+1+

n
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 26
Deret Pangkat Dalam x
Bentuk Umum:

n=0
a
n
x
n
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ dengan x R
Perjanjian: Pada notasi sigma di atas suku a
0
x
0
= a
0
, walaupun x = 0.
Masalah:
Untuk nilai-nilai x berapa saja deret tersebut konvergen.
Mungkinkah sebuah deret pangkat divergen untuk semua nilai x R.
Berapa nilai dari deret pangkat tersebut. (Jika ada, berupa apa nilainya).
Perhatikan deret berikut: a + ax + ax
2
+ dengan a konstanta
Deret tersebut merupakan deret geometri dengan pengali x dan akan konvergen untuk
1 < x < 1 dengan nilai S(x) =
a
1x
.
a + ax + ax
2
+ =
a
1x
1 < x < 1
Himpunan dari semua nilai x yang menyebabkan suatu deret pangkat konvergen dise-
but Himpunan/Daerah Kekonvergenan Deret.
Pada a + ax + ax
2
+ , himpunan kekonvergenannya 1 < x < 1.
Secara umum, alat untuk menentukan daerah kekonvergenan suatu deret pangkat
adalah Uji Hasil Bagi Mutlak.
Contoh
2
:
Tentukan himpunan kekonvergenan dari deret-deret berikut:
1.

n=0
x
n
(n+1)2
n
2.

n=0
x
n
n!
3.

n=0
n! x
n
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 27
Bentuk dari himpunan kekonvergenen hanya berupa salah satu dari 3 bentuk berikut:
Terdiri dari 1 titik yaitu x = 0, dikatakan jari-jari kekonvergenannya 0.
Berupa sebuah selang/interval (R, R) (bisa tutup, buka atau setengah buka),
dikatakan jari-jari kekonvergenannya R.
Seluruh R, dikatakan jari-jari kekonvergenannya .
Sebuah deret pangkat selalu konvergen mutlak di dalam inverval kekonvergenannya
sedangkan pada kedua ujungnya belum tentu. Bila pada kedua ujungnya juga konver-
gen, dikatakan deret pangkat tersebut konvergen mutlak di daerah kekonvergenannya.
Pada contoh 1 di atas, apakah deret konvergen mutlak di daerah kekonvergenannya ?
Deret Pangkat Dalam x a
Bentuk Umum:

n=0
a
n
(x a)
n
= a
0
+ a
1
(x a) + a
2
(x a)
2
+
dengan a konstanta dan x R
Bentuk dari himpunan kekonvergenen deret pangkat dalam (xa) selalu berupa salah
satu dari 3 bentuk berikut:
Terdiri dari 1 titik yaitu x = a, dikatakan jari-jari kekonvergenannya 0.
Berupa sebuah selang/interval (a R, a + R) (bisa tutup, buka atau setengah
buka), dikatakan jari-jari kekonvergenannya R.
Seluruh R, dikatakan jari-jari kekonvergenannya .
Contoh: Tentukan interval dan jari-jari kekonvergenan dari deret

n=0
(x1)
n
(n+1)
2
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 28
Operasi Deret Pangkat
Pada pasal ini akan dikaji: Pendiferensialan, Pengintegralan dan Operasi Aljabar (tam-
bah, kurang, kali dan bagi) dari deret pangkat.
Perhatikan sebuah deret pangkat yang konvergen ke fungsi S(x).

n=0
a
n
x
n
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ = S(x)
Misalkan I adalah interval kekonvergenannya dan x titik di dalam I, maka:
S

(x) =

n=0
D
x
(a
n
x
n
) =

n=1
na
n
x
n1
= a
1
+ 2a
2
x + 3a
3
x
2
+
dan
_
x
0
S(t) dt =

n=0
_
x
0
(a
n
t
n
) dt =

n=0
a
n
n + 1
x
n+1
= a
0
x +
1
2
a
1
x
2
+
1
3
a
2
x
3
+
Dengan operasi Pendiferensialan dan Pengintegralan terhadap deret pangkat kita da-
pat memperoleh rumus-rumus deret untuk fungsi yang lain seperti dikemukakan pada
contoh-contoh berikut ini:
Perhatikan deret pangkat:
1
1x
= 1 + x + x
2
+ x
3
+ 1 < x < 1
Apabila didiferensialkan maka diperoleh:
1
(1x)
2
= 1 + 2x + 3x
2
+ 4x
3
+ 1 < x < 1
dan bila diintegralkan diperoleh
ln(1 x) = x +
x
2
2
+
x
3
3
+
x
4
4
+ 1 < x < 1
Dengan substitusi u = x dan hasilnya var. u diganti dengan x, diperoleh:
ln(1 + x) = x
x
2
2
+
x
3
3

x
4
4
+ 1 < x < 1
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 29
Hasil Titik Ujung
Misalkan f(x) =

n=0
a
n
x
n
, untuk R < x < R. Jika f kontinu diujung-ujung R
dan R dan deretnya konvergen pada titik tersebut maka rumus tersebut berlaku pada
ujung-ujung interval.
Latihan:
1. Lakukan substitusi x = t
2
pada deret
1
1x
lalu integralkan untuk memperoleh
rumus tan
1
(x) = x
x
3
3
+
x
5
5

x
7
7
+ 1 < x < 1
2. Lakukan operasi pendiferensialan pada deret
S(x) = 1 + x +
x
2
2!
+
x
3
3!
+ x R
untuk memperoleh rumus deret e
x
.
Tugas Mandiri
Pelajari Pasal 9.7, Kalkulus karangan Purcell edisi 9 : Operasi aljabar deret pangkat.
Deret Taylor dan McLaureen
Pada pasal sebelumnya kita telah melihat bahwa sebuah deret pangkat yang konvergen
akan konvergen ke suatu fungsi S(x). Pada pasal ini akan dipelajari proses sebaliknya.
Diberikan sebuah fungsi fungsi f(x) dan konstanta real a. Kita akan mencari formula
(bila dapat), supaya fungsi tersebut dapat dinyatakan sebagai deret:
f(x) = c
0
+ c
1
(x a) + c
2
(x a)
2
+ c
3
(x a)
3
+ (1)
Pada persamaan terakhir, kita harus menentukan nilai-nilai: c
0
, c
1
, c
2
, c
3
, .
Bila ruas kiri dan kanan dari persamaan (1) kita turunkan, diperoleh:
_

_
f

(x) = c
1
+ 2c
2
(x a) + 3c
3
(x a)
2
+ 4c
4
(x a)
3
+
f

(x) = 2! c
2
+ 6 c
3
(x a) + 12 c
4
(x a)
2
+ 20 c
5
(x a)
3
+
f

(x) = 3! c
3
+ 24 c
4
(x a) + 60 c
5
(x a)
2
+ 120 c
6
(x a)
3
+
.
.
.
Dengan mensubstitusikan x = a maka diperoleh:
c
0
= f(a), c
1
= f

(a), c
2
=
f

(a)
2!
, c
n
=
f
(n)
(a)
n!
(2)
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 30
Teorema Ketunggalan
Fungsi f(x) hanya dapat diuraikan secara tunggal dalam bentuk:
f(x) = c
0
+ c
1
(x a) + c
2
(x a)
2
+ c
3
(x a)
3
+
dengan c
n
=
f
(n)
(a)
n!
.
Deret f(a) + f

(a)(x a) +
f

(a)
2!
(x a)
2
+
f

(a)
3!
(x a)
3
+ disebut deret
Taylor dari f(x) disekitar a. Bila a = 0 dinamakan deret MacLaurin.
Pertanyaan:
Apakah sebuah deret Taylor menggambarkan fungsi semula ?
Sebagai ilustrasi, perhatikan pada deret Taylor
1
1x
= 1 + x + x
2
+
Teorema Taylor: Misalkan f(x) dapat diturunkan terus pada interval (a r, a +r),
maka deret Taylor
f(a) + f

(a)(x a) +
f

(a)
2!
(x a)
2
+
f

(a)
3!
(x a)
3
+
akan menggambarkan f(x) pada interval tersebut bila
lim
n
R
n
(x) = lim
n
f
(n+1)
(c)
(n+1)!
(x a)
n+1
= 0 dengan c (a r, a + r)
Suku R
n
(x) disebut suku sisa Taylor.
Soal-soal:
1. Tentukan deret McLaureen dari f(x) = sin(x) dan tunjukkan hasilnya berlaku
untuk semua x R.
2. Seperti soal 1 untuk f(x) = cos(x).
3. Dengan menguraikan ln(x+1) atas deret McLaureen, aproksimasilah nilai
1
_
0
ln(x+
1) dx memakai 5 suku pertama dari deret tersebut.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 31
Deret-Deret McLaureen yang penting:
1.
1
1x
= 1 + x + x
2
+ x
3
+ 1 < x < 1
2. ln(1 + x) = x
x
2
2
+
x
3
3

x
4
4
+ 1 < x < 1
3. tan
1
x = x
x
3
3
+
x
5
5

x
7
7
+ 1 < x < 1
4. e
x
= 1 + x +
x
2
2!
+
x
3
3!
+
5. sin x = x
x
3
3!
+
x
5
5!

x
7
7!
+
6. cos x = 1
x
2
2!
+
x
4
4!

x
6
6!
+
7. sinh x = x +
x
3
3!
+
x
5
5!
+
x
7
7!
+
8. cosh x = 1 +
x
2
2!
+
x
4
4!
+
x
6
6!
+
9. (1 + x)
p
= 1 +
_
p
1
_
x +
_
p
2
_
x
2
+
_
p
3
_
x
3
+ 1 < x < 1
dengan
_
p
k
_
=
p(p1)(pk+1)
123k
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 32
Aproksimasi Taylor untuk Fungsi
Tujuan: menghampiri suatu fungsi dengan sebuah polinom.
f(x) p
n
(x) n derajat polinom yang digunakan
Aproksimasi Linear / Polinom Taylor derajat satu
f(x) p
1
(x) = c
0
+ c
1
(x a) a konstanta (3)
Pada masalah ini, kita harus menentukan nilai c
0
dan c
1
agar hampiran tersebut baik.
Pada hampiran Taylor dipilih supaya fungsi f dan polinom p
1
nilainya di titik a berimpit
sampai turunan pertama.
f(a) = p
1
(a) dan f

(a) = p

1
(a)
Dengan mensubstitusikan kedua persamaan di atas pada (3) maka diperoleh c
0
= f(a)
dan c
1
= f

(a).
f(x) f(a) + f

(a)(x a)
ilustrasi geometri
Contoh: Hampiri nilai ln(0, 9) dengan polinom Taylor derajat satu.
(p
1
(0, 9) = 0.100000 ; ln(0.9) = 0, 10536051565782630123).
Aproksimasi kuadrat / Polinom Taylor derajat dua
f(x) p
2
(x) = c
0
+ c
1
(x a) + c
2
(x a)
2
a konstanta (4)
Kriteria yang digunakan untuk menentukan nilai c
0
, c
1
dan c
2
adalah:
f(a) = p
2
(a), f

(a) = p

2
(a) f

(a) = p

2
(a)
Dengan mensubstitusikan ketiga persamaan di atas pada (4) diperoleh
c
0
= f(a), c
1
= f

(a) dan c
2
=
f

(a)
2!
.
f(x) f(a) + f

(a)(x a) +
f

(a)
2!
(x a)
2
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 33
Contoh: Hampiri nilai ln(0, 9) dengan polinom Taylor derajat dua.
(p
1
(0, 9) = 0.105000 ; ln(0.9) = 0, 10536051565782630123).
Aproksimasi Polinom Taylor derajat n
f(x) p
n
(x) = c
0
+ c
1
(x a) + c
2
(x a)
2
+ + c
n
(x a)
n
(5)
Nilai c
k
ditentukan dari syarat f
(k)
(a) = p
(k)
n
(a) k = 0, 1, , n.
Dengan mensubstitusikan syarat tersebut satu-persatu pada (5), diperoleh:
c
0
= f(a) , c
1
= f

(a) , c
2
=
f

(a)
2!
, , c
n
=
f
(n)
(a)
n!
Bentuk umum hampiran polinom Taylor orde n dari fungsi f(x) disekitar titik a adalah:
f(x) p
n
(x) = f(a) + f

(a)(x a) +
f

(a)
2!
(x a)
2
+ +
f
(n)
(a)
n!
(x a)
n
Hal khusus, bila a = 0 maka p
n
(x) disebut polinom McLaureen:
f(x) p
n
(x) = f(0) + f

(0)x +
f

(0)
2!
x
2
+ +
f
(n)
(0)
n!
x
n
Latihan:
1. Hampiri nilai ln(1, 1) dengan polinom Taylor derajat empat.
(p
4
(1, 1) = 0, 09530833333 ; ln(1, 1) = 0, 095310179804324860044).
2. Tuliskan polinom McLaureen orde n dari f(x) = e
x
.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 34
Hampiran polinom Taylor terhadap f(x) = x

x sin(x) disekitar x =

4
p
1
(x) = 0.77875 + 1.54690 x
p
2
(x) = 0.20805 0.96596 x + 1.59974 x
2
p
8
(x)
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010








O
p
e
n

S
o
u
r
c
e

N
o
t

F
o
r

C
o
m
m
e
r
c
i
a
l

U
s
e
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 35
Tugas Mandiri: Pelajari metode Horner untuk menghitung nilai polinom.
Galat/Error/Kesalahan
Galat adalah perbedaan nilai dari suatu besaran dengan nilai hampirannya.
ilustrasi: cos(0, 2) 1
1
2!
(0, 2)
2
+
1
4!
(0, 2)
4
0, 9800667
galat metode galat perhitungan
(galat pemotongan) (galat pembulatan)
Galat pemotongan terjadi karena adanya pemotongan rumus matematika tertentu,
sedangkan galat pembulatan diakibatkan karena keterbatasan penyimpanan bilangan
pada alat hitung kita.
Perlu diperhatikan, walaupun hasil hitungan numerik selalu berupa hampiran,
bila sumber galatnya hanya galat pemotongan, maka kita dapat mengatur besar
galat yang terjadi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dijamin oleh rumus berikut:
Rumus Sisa Taylor
Misalkan f(x) fungsi yang dapat diturunkan sampai (n+1) kali disekitar titik a, maka
f(x)=f(a) + f

(a)(x a) +
f

(a)
2!
(x a)
2
+ +
f
(n)
(a)
n!
(x a)
n
+ R
n
(x)
dengan R
n
(x) =
f
(n+1)
(c)
(n+1)!
(x a)
n+1
, c diantara x dan a (suku sisa Taylor)
Secara umum nilai galat R
n
(x) tidak diketahui, tetapi batas atasnya dapat dicari.
Semakin besar n yang digunakan umumnya R
n
(x) makin kecil, mengapa?
Latihan:
1. Taksirlah batas galatnya bila ln(1, 1) dihampiri dengan p
4
(x).
2. Hampiri e
0,8
dengan galat tidak melebihi 0,001
3. Galat suatu hasil perhitungan numerik adalah E = |
c
2
sin c
c
| dengan 2 c 4.
Taksirlah batas maksimum galat tersebut.
URL:materikuliah.math.itb.ac.id Warsoma Djohan/Prodi. Matematika - FMIPA - ITB/2010