Anda di halaman 1dari 9

BACA JURNAL SMF ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG, DAN TENGGOROK

TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK UNTUK TULI SENSORINEURAL MENDADAK SETELAH GAGAL DENGAN TERAPI KORTIKOSTEROID ORAL DAN INTRATIMPANI

Thanarath Imsuwansri, MD1. Pipat Poonsap, MD2, Kornkiat Snidvongs, MD3


1

Departemen Ilmu Kesehatan Mata dan Ilmu Kesehatan Telinga idung Tenggorok, !akultas Kedokteran "niversitas #urapha, $hon #uri, 2 Divisi Ilmu Preventi% Medis, &umah Sakit '(hakornkiattiwong, Pangkalan 'ngkatan )aut Sattahip, $hon #uri. 3 Departemen Ilmu Kesehatan Telinga idung Tenggorok, "niversitas $hulalongkorn, #angkok, Thailand.

*leh+ Narendra Wahy J n!"r ,IM. -.2-111-1-/0

Dosen Pem(im(ing+ dr# Ba$%an& Indra, S'#THT dr# Mar!a K(ard!)a(a)!, S'#THT
Disusun "ntuk Melaksanakan Tugas Kepaniteraan Klinik Mad1a SM! Ilmu Pen1akit Telinga , idung, dan Tenggorok Di &SD Dr.Soe(andi 2em(er

SMF ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG, DAN TENGGOROK RSD dr# SOEBANDI JEMBER *+,*

)aporan Kasus

TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK UNTUK TULI SENSORINEURAL MENDADAK SETELAH GAGAL DENGAN TERAPI KORTIKOSTEROID ORAL DAN INTRATIMPANI

Thanarath Imsuwansri, MD1. Pipat Poonsap, MD2, Kornkiat Snidvongs, MD3


1

Departemen Ilmu Kesehatan Mata dan Ilmu Kesehatan Telinga


2

idung Tenggorok, !akultas


3

Kedokteran "niversitas #urapha, $hon #uri,

Divisi Ilmu Preventi% Medis, &umah Sakit Departemen Ilmu

'(hakornkiattiwong, Pangkalan 'ngkatan )aut Sattahip, $hon #uri.

Kesehatan Telinga idung Tenggorok, "niversitas $hulalongkorn, #angkok, Thailand.

'(strak Steroid sistemik dan intratimpanik sering digunakan untuk mengo(ati tuli sensorineural mendadak idiopatik. Terapi lain 1ang di(erikan adalah vasodilator, imunosupresan, dan antivirus. ,amun han1a 314 pasien 1ang dapat sem(uh se5ara sempurna, dan perde(atan terapi pilihan masi (erlangsung. Pada laporan kasus ini, kita melaporkan (ahwa pasien dengan tuli sensorineural mendadak idiopatik 1ang gagal dengan terapi steroid sistemik dan intratimpani namun kemudian dapat sem(uh setelah mendapat terapi oksigen hiper(arik. Kata Kun5i + Terapi oksigen hiper(arik, Tuli sensorineural mendadak, kortikosteroid

Pendahuluan Tuli sensorineural mendadak idiopatik, dide%inisikan se(agai penurunan pendengaran sensorineural le(ih dari 3- d#, paling sedikit tiga %rekuensi (erturut6turut pada pemeriksaan audiometri dan (erlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari. 718 merupakan pen1akit dengan

etiologi 1ang tidak diketahui. Tuli ini dapat mengarah ke mor(iditas 1ang permanen. Terapi 1ang tersedia adalah kortikosteroid, vasodilator, imunosupresan, dan antivirus. 9alaupun masih dalam kontroversi masih sering digunakan. Sampai saat ini, kortikosteroid, adalah o(at 1ang paling diterima se5ara luas, tetapi tidak ada pedoman praktek standar di seluruh dunia 1ang diterima untuk pengo(atan tuli sensorineural mendadak idiopatik. 728. #er(agai &e:imen terapi kortikosteroid tersedia, termasuk (er(agai :enis, dosis, dan rute administrasi. Se(uah dosis tinggi kortikosteroid oral dan intravena diper5a1a dapat mengem(alikan penurunan pendengaran. Kortikosteroid oral di(erikan dengan metode tappering o%% selama periode 1-61/ hari 738. ,amun demikian, hasil terapi tidak dapat dianggap memuaskan, karena han1a 314 pasien 1ang mengalami kesem(uhan 7/8. In:eksi kortikosteroid intratimpani telah (an1ak digunakan untuk mem(erikan kortikosteroid langsung ke dalam telinga dalam (agi pasien 1ang (elum (erhasil dengan menggunakan kortikosteroid sistemik. Komplikasi 1ang telah dilaporkan aki(at in:eksi kortikosteroid intratimpani , per%orasi mem(ran timpani, m1ringitis dan otitis media. Terapi oksigen hiper(arik telah ter(ukti mem(erikan e%ek tam(ahan 1ang signi%ikan (ila digunakan dalam kom(inasi dengan terapi steroid untuk Tuli sensorineural mendadak idiopatik 708. asil dari Tuli sensorineural mendadak idiopatik se5ara signi%ikan mem(aik pada terapi kom(inasi Terapi oksigen hiper(arik dengan modalitas pengo(atan konvensional 738. )aporan kasus ini menggam(arkan seorang pasien 1ang mengalami pemulihan penuh setelah terapi oksigen hiper(arik, setelah upa1a pengo(atan tidak (erhasil dengan kortikosteroid oral dan intratimpani. LAPORAN KASUS Mani%estasi Klinis Seorang pria Thailand (erusia 3. tahun datang ke "niversitas #urapha dengan tuli mendadak (ilateral progresi%. Dia memiliki hipertensi 1ang dapat dikontrol dengan (aik oleh amlodipin. Dia ti(6ti(a kehilangan pendengaran telinga kiri n1a dan mengalami tinitus dan telinga terasa penuh. Steroid dosis tinggi 7 prednisolone, 3- mg;hari8 telah di(erikan oleh dokter pertama. Ia Kemudian terkena tuli se(elah kanan tanpa ada per(aikan telinga se(elah kiri dan kemudian diru:uk ke pengarang pertama. Dia tidak memiliki riwa1at otitis media atau penggunaan o(at6 o(at ototoksik. Tekanan darahn1a 1/0;<0 mm g. Pemeriksaan telinga dalam (atas normal. Pemeriksaan we(er dengan garputala 012 = tidak ditemukan menun:ukkan respon pada kedua

telinga. Dia didiagnosa tuli sensorineural mendadak idiopatik (ilateral progresi%. Magnetic Resonance Imaging dari otak dan 5ere(ropontine dalam (atas normal. Veneral disease research laboratory 7>D&)8, treponema pallidium hemagglutination 7TP '8,dan anti6Human imunodeficiency virus 7 I>8 non reakti%. Pada pemeriksaan darah lengkap tidak ditemukan leukositosis dan tidak anemia. ?ula darah puasa @0 mg;dl. Terapi Standar Pengo(atan steroid oral dosis tinggi 7prednisolone, 3- mg ; hari8 di(erikan oleh dokter pertama 3 hari setelah ter:adin1a gangguan pendengaran. 'udiogram diulang setelah seminggu pengo(atan. 'udiogram menun:ukkan (ahwa telinga sistemik kemudian dihentikan. Pengo(atan Pen1elamatan Steroid intratimpani 7metiprednisolon, /- mg;m)8 di(erikan ke dalam telinga kiri 3 kali seminggu 7 pada hari ke6 @,1-, 13 setelah onset8. Pendengaran pasien setelah pem(erian ketiga menun:ukkan peningkatan pada kedua telinga. 'm(ang (atas konduksi udara adalah 3- d# dan 03 d# pada masing6masing telinga kanan dan kiri. 'm(ang konduksi telinga adalah /3 d# untuk kedua telinga. Terapi iper(arik Karena terapi hiper(arik (ukan merupakan standar untuk tuli sensori neural mendadak, maka ini diperkenalkan kepada pasien se(agai terapi alternati%. Karena tidak ada peningkatan setalah audiogram terakhir 7hari ke6138, pasien men1etu:ui untuk dilakukan terapi hiper(arik 7hari6338 untuk terapi pen1elamatan setelah (erdiskusi dengan pengarang. Program terapi hiper(arik di:adwalkan men:adi 1- sesi (erdasar ta(el terapi 'ngkatan )aut 'merika Serikat, 7@- menit 2 'T'8 7gam(ar 18. Kami menggunakan ruangan dengan 3 kursi untuk terapi hiper(arik 7gam(ar 2 dan 38, dengan dimulai pada hari ke633 setelah tuli. Setelah sesi ke tiga dari terapi hiper(arik 7hari ke63<8, pendengaran 1ang normal kem(ali tanpa tinitus dikedua telinga. 'udiogram menun:ukkan (ahwa pendengaran men:adi normal dengan am(ang kanan 2- d# dan am(ang kiri 3- d#. Tinitus hilang dengan evaluasi visual analog scale. Pasien kanan mengalami tuli sensorineural dengan am(ang (atas .< d# dan tuli telinga kiri dengan am(ang (atas @- d#. Pem(erian steroid

kemudian melan:utkan terapi untuk ke empat kalin1a 7hari ke6/18 dan sesi ke lima 7 hari ke6/28 sesuai :adwal. 'udiogram (erikutn1a menun:ukkan (ahwa pendengaran 1ang normal 1aitu (atas 22 d# pada telinga kanan dan 2- d# pada telinga kiri. 'uidogram dan waktu dilaksanakann1a ditun:ukkan pada gam(ar / dan 0. Tidak ada e%ek samping pada pelaksanaan terapi hiper(arik dan in:eksi intratimpani.

?am(ar 1. Ta(el terapi terapi oksigen hiper(arik /0;@- menit. Total waktu 1ang di(utuhkan @0 menit

?am(ar 2. &uangan iper(arik

?am(ar 3. Isi ruangan iper(ari

Diskusi Sekarang, kesadaran dari terapi hiper(arik se(agai terapi tuli sensorineural mendadak idiopatik masih rendah di Thailand. Sedangkan rumah sakit 'ngkatan )aut dan (e(erapa rumah sakit swasta telah dilengkapi dengan ruang hiper(arik, han1a se:umlah ke5il dari sekolah kedokteran 1ang meren5anakan pemasangan terapi hiper(arik. Komunikasi e%ekti% antara dokter

dan pasien sangat di(utuhkan. Pasien mempun1ai hak untuk mengetahui resiko dan keuntungan dari terapi, terutama ketika terapi alternati% 1ang tidak ada dalam standar tersedia dan ketika pasien merupakan kasus pertama dalam negara terse(ut. Se(agai tam(ahan, kriteria terapi pen1elamatan harus didiskusikan dalam hal waktu terapi dan dera:at pendengaran. Pada kasus ini, peneliti memulai terapi hiper(arik pada minggu ke 0 7 hari ke6338 setelah onset tuli. Pada tahap ini, pemulihan spontan tidak dapat diharapkan, karena proses in%lamasi tidak akan terus (ertahan sampai 263 minggu. 9alaupun pem(erian steroid intratimpani 7dosis terakhir di(erikan pada hari ke6138 menawarkan (e(erapa keuntungan, 1ang ditun:ukkan dengan peningkatan audiometri, per(aikan tam(ahan setelah hari ke633 tidak dapat diharapkan. Tuli (ilateral 1ang moderat merupakan aspek lain dimana pasien dapat mengalami (e(erapa keuntungan daripada kerugian dari terapi pen1elamatan.

?am(ar /. 'udiogram, 7'8 Se(elum terapi 7#8 setelah pem(erian kortikosteroid oral 7$8 Setelah pem(erian kortikosteroid intratimpani 7D8 setelah terapi oksigen hiper(arik

?am(ar 0. )evel pendengaran (erdasarkan waktu terapi

9alaupun kita tidak dapat memastikan pen1e(a( dari tuli, ini mungkin terkait dengan kekurangan oksigen 1ang dise(a(kan oleh pro(lem vaskular 1ang (elum dapat di identi%ikasi. Terapi hiper(arik meli(atkan perna%asan pada oksigen murni 1ang (erasal dari ruang khusus. Metode ini digunakan untuk meningkatkan suplai oksigen ke telinga dan ke otak untuk menurunkan dera:at keparahan tuli dan tinitus7.8. Terapi hiper(arik pada kasus ini menghasilkan pen1em(uhan sempurna dari dera:at pendengaran tanpa tinitus atau komplikasi lain. Penelitian lain menun:ukkan per(andingan keluaran dari terapi hiper(arik, menun:ang hasil dari laporan kasus kami. Pasien 1ang menerima terapi hiper(arik dalam hu(ungann1a dengan kortikosteroid menun:ukkan peningkatan klinis di(andingkan dengan han1a menerima kortikosteroid pada penelitian 1ang dilakukan oleh !u:imura et al.708 &egimen standar dari terapi hiper(arik untuk mengo(ati tuli sensorineural mendadak idiopatik (elum dapat di tentukan. &en5ana awal kami adalah melakukan terapi sesuai ta(el /0;@- 7@- Menit 2 'T'8 untuk 1- sesi. ,amun ketika pasien menun:ukkan kem(ali ke pendengaran normal setelah sesi ke lima, maka lima sesi terakhir di1akini tiak ada gunan1a dan di(atalkan. &egimen lain 1ang dia:ukan oleh Topu= et al. 738, dimana meli(atkan melakukan terapi hiper(arik 2,0 'T' dalam waktu @- menit dua kali sehari selama lima hari pertama dan sehari sekali selama 10 hari (erikutn1a, :uga menun:ukkan hasil 1ang (agus. Pasien dengan usia

diatas 0- tahun memiliki tuli sensorineural 1ang (erat 1ang le(ih dari 3- d# dan menerima terapi hiper(arik tanpa :eda menun:ukkan pemulihan 1ang 5ukup (aik. 9alaupun kita tahu (ahwa terapi hiper(arik mem(antu oksigenasi kedalam :aringan target, meknisme ker:an1a (elum dapat diketahui dengan pasti. "ntuk tuli sensorineural mendadak idiopatik, telinga dalam dan kemampuan mendengar dapat diper(aiki dengan mekanisme ini. Penelitian 1ang le(ih lan:ut se(aikn1a dilakukan termasuk penelitian terhadap (inatang untuk mengerti aspek molekular dan histopatologi dari terapi hiper(arik dan u:i klinis a5ak. Kesimpulann1a, terapi hiper(arik dapat digunakan untuk terapi ad:uvan tuli sensorineural mendadak idiopatik. Ini mungkin dapat mem(antu oksigenasi pada telinga dalam dan memulihkan kemampuan mendengar. Pasien 1ang gagal untuk merespon kortikosteroid oral dan intratimpani dapat merasakan keuntungan dengan terapi ini. investigasi le(ih lan:ut se(aikn1a dilakukan termasuk penelitian terhadap (inatang untuk mengerti aspek molekular dan histopatologi dari terapi hiper(arik dan u:i klinis a5ak. Ben) ran Ke'en)!n&an Tidak ada potensi kepentingan 1ang relevan terhadap penelitian ini. U-a'an )er!$a .a/!h Terima kasih kami u5apkan terhadap 'sso5. Pro%. Surade: 2aru:inda dan Dr. ,apadon Tang:aturonrasme untuk (antuan teknis mereka. Re0eren/!
1.

ughes ?#, !reedman M',

a(erkamp T2, ?ua1 MA. Sudden sensorineural

hearing loss. *tolar1ngol $lin ,orth 'm. 1@@3 2unB2@738+3@36/-0.


2. &au5h SD. $lini5al pra5ti5e+ Idiopathi5 sudden sensorineural hearing loss. , Angl

2 Med. 2--< 'ug 21B30@7<8+<336/-.


3. $onlin 'A, Parnes )S. Treatment o% sudden sensorineural hearing loss+ I. a

s1stemati5 review. 'r5h *tolar1ngol ead ,e5k Surg. 2--. 2unB133738+0.36<1

4. 9ilson 9&, #1l !M, )aird ,. The e%%i5a51 o% steroids in the treatment o%

idiopathi5 sudden hearing loss+ a dou(le6(lind 5lini5al stud1. 'r5h *tolar1ngol. 1@<- De5B1-37128+..263
5. !u:imura T, Su=uki

, Shiomori T, "daka T, Mori T.

1per(ari5 oC1gen and

steroid therap1 %or idiopathi5 sudden sensorineural hearing lossD Aur 'r5h *torhinolar1ngol. 2--/ 'ugB2317.8+3@363
6. Topu= A, Eigit *, $inar ", Seven

. Should h1per(ari5 oC1gen (e added to

treatment in idiopathi5 sudden sensorineural hearing lossD Aur 'r5h *torhinolarn1ol. 2--/ 'ug+23/7<8+<3163
7. #ennet M ,Kertes= T, Eeung P.

1per(ari5 oC1gen %or idiopathi5 sudden

sensorineural hearing loss and tinnitus. $o5hrane Data(ase s1st &ev. 2--. 2an 2/B 718+$D--/.3@