Anda di halaman 1dari 3

Nama : Imilda Astriyani NIM : 03201112056

Persalinan premature merupakan penyebab masalah dalam kebidanan karena dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas perinatal. Penyebab partus prematur sulit ditentukan, tetapi tampaknya berhubungan dengan faktor kehamilan yaitu: hidramnion, KPD, kehamilan kembar, perdarahan antepartum, faktor individu: kurang gizi, anemia, paritas, usia ibu terlalu muda dan terlalu tua, perokok, minum alkohol, riwayat pernah melahirkan premature (Rudiati, 2010). Menurut data dunia, kelahiran prematur mencapai 75-80% dari seluruh bayi yang meninggal pada usia kurang dari 28 hari. Data dari WHO (2009) menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan terhadap kematian bayi yang dikenal dengan fenomena 2/3. Pertama adalah fenomena 2/3 kematian bayi pada usia 0-1 tahunan terjadi pada masa neonatal (bayi berumur 0-28 hari). Kedua adalah 2/3 kematian bayi pada masa neonatal dan terjadi pada hari pertama (Ifa, 2011). Sedangkan angka kematian bayi (AKB) menurut Survey Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI), tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup (PDPERSI, 2010). Departemen Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi di Indonesia yang meninggal dunia sebelum umurnya mencapai 1 tahun. Kematian bayi yang berusia 0 sampai 1 tahun di Indonesia, masih terbilang tinggi dibandingkan di negara-negara tetangga. Sekitar 50 persennya meninggal sebelum mencapai usia 1 bulan (Ifa, 2011). Penyebab persalinan premature berdasarkan faktor ibu yaitu sebagian besar karena KPD sebanyak 48 responden (87,3%), karena infeksi sebanyak 3 responden (5,4%) dan karena faktor hidramnion sebanyak 4 responden (7,3%). Penyebab terjadinya persalinan premature dari faktor plasenta di RSUD Bangil yaitu, plasenta previa sebanyak 5 responden (45,4%), dan solusio plasenta sebanyak 2 responden (18,2%). Persalinan premature merupakan kelainan proses yang multifactorial . kombinasi keadaan obstetric, sosiodemografi, dan faktor medic yang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya persalinan premature (Saifudin, 2009). Faktor

Predisposisi Terjadinya Kelahiran Prematur antara lain faktor Ibu seperti malnutrisi, riwayat kelahiran prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, kelainan uterus, hidramnion, penyakit jantung, hipertensi atau penyakit kronik lainnya, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, infeksi, trauma dan lain lain. Sedangkan dari Faktor janin antara lain cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, keadaan sosial ekonomi yang rendah, kebiasaan : pekerjaan yang melelahkan, merokok (Arif, 2010). Akibat dari persalinan prematur, anak yang dilahirkan mengalami berbagai masalah kesehatan karena kurang matangnya janin ketika dilahirkan yang mengakibatkan banyaknya organ tubuh yang belum dapat bekerja secara sempurna. Hal ini mengakibatkan bayi premature sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia luar rahim, sehingga mengalami banyak gangguan kesehatan, pertumbuhan janin yang terhambat, kelainan mental termasuk berpotensi tinggi risiko terhadap terjadinya autis dan gangguan bahasa lainnya dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan (Rudhiati, 2010). Menurut Surasmi (2003) faktor penyebab terjadinya persalinan premature antara lain toksemia gravidarum yaitu terjadinya eklampsi dan preeklampsi. Sedangkan Menurut Andika (2007) dalam Rudhiati (2010) menyatakan resiko persalinan permatur pada ibu dengan preeklampsi lebih besar terjadi karena preeclampsia mempengaruhi pembuluh darah arteri yang membawa darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga terjadi persalinan premature. salah satu bentuk toksemia gravidarum adalah preeklampsi dimana pada ibu hamil yang mengalami akan terjadi gangguan pada sirkulasi pembuluh darah yang membawa nutrisi dari ibu ke janin, dan hal ini akan menyebab terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada janin dan pertukaran oksigen akan terganggu, sehinggga dengan kejadian ini maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi. Penyebab dari persalinan premature selain kehamilan kembar dan toksemia gravidarum adalah dari faktor kehamilan yaitu terjadinya perdarahan pada saat kehamilan atau ante partum bleeding (Surasmi, 2003). Perdarahan dapat

menyebabkan ibu harus menjalani persalinan premature karena dengan semakin banyak jumlah darah yang keluar pada saat kehamuilan akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan oksigen dan nutrisi pada janin sehingga hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya persalinan premature. Menurut Suririnah (2008) dalam Rudhiati (2010) persalinan premature meningkat pada usia < 20 dan > 35 tahun, ini disebabkan karena pada usia < 20 tahun alat reproduksi belum matang sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan janin. Sedangkan pada usia > 35 tahun juga dapat menyebabkan persalina premature karena umur ibu yang sudah resiko tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba,IBG.,2010. Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta:EGC Rudiati, dkk (2012). Gambaran Faktor Penyebab Persalinan Prematur di Kamar Bersalin RSUD dr. Soeroto Ngawi dalam Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes ISSN: 2086-3098 Saifuddin (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Surasmi (2003). Perawatan Bayi Risiko Tinggi. Jakarta : EGC