Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Fluidisasi adalah suatu fenomena berubahnya sifat suatu padatan (bed) dalam suatu reaktor menjadi bersifat seperti fluida dikarenakan adanya aliranfluida ke dalamnya, baik berupa liquid maupun gas.Jika suatu aliran udara melewati partikel unggun yang ada dalam tabung,maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan menimbulkan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecepatan superficial naik. Kecepatan superfisial adalah laju alir udara pada kolom yang kosong,sedangkan kecepatan interstitial adalah kecepatan udara di antara

partikel unggun.Pada kecepatan superfisial rendah, ungun mula-mula diam. Jika kecepatan superfisial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun mengembang dan menyebabkan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun. Hal ini menyebabkan unggun terfluidisasi dan sistem solid-fluida menunjukkan sifat-sifat seperti fluida. Kecepatan superfisial terendah yang dibutuhkan agar terjadi fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (Umf). Fluidisasi berhubungan dengan banyak proses industri kimia, misalnya dalam proses katalisasi maupun dalam proses pemurnian gas. Proses fluidisasi ini memiliki beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti jenis dan tipefluidisasi, aplikasi dalam industri serta spesifikasi dan cara kerja alatnya. Aplikasi fluidisasi dalam proses industri sangat banyak. Hal ini dimulai pada tahun 1926 untuk Gasifier Winkler berskala besar lalu Fluidized-bed Catalytic Cracking (FCC) crude oil menjadi bensin pada tahun 1942. Aplikasi tersebut semakin berkembang dan pada tahun 1990 dapat diklasifikasikan menjadi proses-proses kimia katalitik (seperti FCC dan sintesis Fischer-Tropsch), proses-proses kimia nonkatalitik (seperti thermal cracking dan gasifikasi batubara), dan proses-proses fisik (seperti pengeringan dan absorpsi). Selain itu, fluidisasi kontinu banyak dimanfaatkan dalam pabrik pengolahan untuk memindahkan padatan dari satu tempat ke tempat lain.Unggun terfluidisasi memiliki aplikasi yang luas karena karakteristik perpindahan panasnya yang sangat baik. Hal ini didukung oleh berubahnya sifat dari unggun tersebut menjadi seperti fluida sehingga perpindahan panas yang terjadi adalah secara konveksi.

Dengan demikian, partikel dan gas yang memasuki unggun terfluidisasi segera mencapai suhu unggun dan partikel dalam unggun bersifat isotermal pada semua situasi. Keadaan isotermal ini disebabkan oleh pencampuran yang merata dan area kontak yang luas antara gas dan partikel. Jadi, kita sebagai mahasiswa Teknik Kimia perlu mempelajari fluidisasi karena pada proses yang berhubungan dengan katalisasi ataupun hal yang erat kaitanya dengan perlakuan gas-solid dan liquid-solid, fluidisasi sangat diperlukan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Fenomena Fluidisasi Jika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun yang ada dalam tabung, maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan memberikan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecepatan superficial naik (kecepatan superficial adalah kecepatan aliran jika tabung kosong). Pada kecepatan superficial rendah, unggun mula-mula diam. Jika kecepatan superficial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun dan unggun akan terfluidisasi. Sementara itu, pressure drop akan tetap walaupun kecepatan superficial terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas. Kecepatan superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi disebut Minimum Fluidization Velocity (Umf). Konsep dasar dari suatu partikel unggun yang terfluidisasi dapat diilustrasikan dengan fenomena yang terjadi saat adanya perubahan laju alir gas seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Fenomena fluidisasi dengan variasi laju alir gas

Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat juga dapat diilustrasikan padagambar berikut ini:

Gambar 2. Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat Adapun fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain: 1. Fenomena fixed bed Terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 3

Gambar 3. Fenomena fixed bed 2. Fenomena minimum or incipient fluidization Terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Fenomena minimum or incipient fluidization 3. Fenomena smooth or homogenously fluidization Terjadi saat kecepatan dandistribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun samaatau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam. Kondisiini ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Fenomena smooth or homogrnously fluidization 4. Fenomena bubbling fluidization Terjadi ketika gelembung gelembung pada unggun terbentuk akibat densitas dan

distribusi partikel tidak homogen. Kondisiini ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 6. Fenomena bubbling fluidization

5. Fenomena slugging fluidization Terjadi ketika gelembung-gelembung besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat. Pada kondisi ini terjadi penolakan sehingga partikelpartikel padat seperti terangkat. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 7

Gambar 7. Fenomena slugging fluidization 6. Fenomena chanelling fluidization Terjadi ketika dalam unggun partikel padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 8

Gambar 8. Fenomena chanelling fluidization 7. Fenomena disperse fluidization Terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan berekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi iniditunjukkan pada gambar 9

Gambar 9. Fenomena disperse fluidization Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : 1. Laju alir fluida dan jenis fluida. 2. Ukuran partikel dan bentuk partikel 3. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel 4. Porositas unggun 5. Distribusi aliran 6. Distribusi bentuk ukuran fluida 7. Diameter kolom 8. Tinggi unggun Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Selain itu,fenomena pada gambar 2 dapat dijelaskan melalui persamaan Bernoulli dengan aliran laminer sebagai berikut, yaitu:

persamaan (1) Pada gambar 2, terlihat bahwa perbedaan tekanan sepanjang unggun secara linear berbanding lurus dengan laju alir volumetrik selama fluidisasi belum tercapai.Jika padatan berupa partikel seperti pasir, ketahanan partikel tersebut terhadap aliran fluida akan menurun dengan meningkatnya porositas partikel tersebut. Pengukuran P pada sepanjang unggun dapat dinyatakan denganpersamaan sbb:

persamaan (2)

Untuk kecepatan yang kurang dari kecepatan fluidisasi minimum (Umf)maka unggun akan berperilaku sebagai packed bed namun, jika kecepatan aliran fluida dinaikkan melebihi Umf, maka tidak hanya unggun yang terangkat, tetapi partikel akan bergerak dan akan saling berbenturan satu sama lain dan akhirnya keseluruhan massa partikel akan menjadi sama dengan massa fluida.

Gambar 10. Transition from packed bed to fluidized bed Selama fluidisasi, penurunan tekanan sepanjang unggun akan tetap walaupun kecepatan superfisial terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas:

persamaan (3) Jika laju alir ke unggun terfluidisasi diturunkan bertahap, penurunan tekanan akan tetap konstan dan tinggi unggun akan berkurang.Walaupun demikian, tinggi unggun terakhir akan lebih besar daripada tinggi mula-mula untuk fixed bed . Hal ini dikarenakan solid di dalam tabung cenderung berkumpul lebih rapat daripada jika solid diam secara bertahap dari keadaan terfluidisasi. Penurunan tekanan pada laju alir rendah lebih kecil daripada nilai awal di fixed bed. Unggun yang terfluidisasi akan bersifat menyerupai liquid, di antaranya: 1. benda yang lebih ringan akan mengapung di atas unggun (yaitu benda-benda yang densitasnya lebih kecil daripada densitas bulk unggun). 2. Permukaan akan tetap horizontal bahkan dalam unggun yang miring. 3. Solid dapat mengalir melalui bukaan di kolom sama seperti liquid, 4. Unggun memiliki tekanan statis karena gravitasi, nilainya sebesar ogh, 5. Ketinggian antara dua unggun terfluidisasi yang serupa sama dengan tekanan statik mereka.

2.2 Jenis Jenis Fluidisasi 2.2.1 Fluidisasi Partikulat Dalam fluidisasi pasir dengan air, partikel-partikel bergerak menjauh satusama lain dan gerakannya bertambah hebat dengan meningkatnya kecepatan,tetapi densitas unggun rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama di semua bagian unggun. Proses ini disebut fluidisasi partikulat dan bercirikan ekspansi hamparan yang cukup besar tetapi seragam pada kecepatan tinggi. (McCabe,1985:151). Akan tetapi, tidak semua fluida liquid pasti menghasilkan fluidisasi partikulat, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan densitas. Dalam kasus dimana densitas fluida dan solid tidak terlalu berbeda, ukuran partikel kecil, dan kecepatan aliran fluida rendah, unggun akan terfluidisasi merata dengan tiap partikel bergerak sendiri-sendiri melewati jalur bebas rata-rata (mean free path) terjadi tidak merata. Sebagian besar fluida melewati unggun dalam bentuk gelembung (bubbles). Di sini, unggun memiliki banyak karakteristik liquid dengan fasa fluida terjadi pada saat gas menggelembung melewati unggun. Fluidisasi jenis ini disebut fluidisasi agregat. (Foust, 1959:643). Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus, dan bersifat kohesif sangat sukar terfluidisasi karena gaya tarik antar partikel lebih besar dari pada gaya seretnya. Partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun dengan membentuk channel. Pengembangan volume unggun dalam fluidisasi gelembung terutama disebabkan oleh volume yang dipakai oleh gelembung uap, karena fase rapat pada umumnya tidak berekspansi dengan peningkatan aliran. Dalam penurunan berikut ini, aliran gas melalui fase rapat diandaikan sama dengan Umf dikalikan dengan fraksi unggun yang diisi oleh fase rapat, ditambah sisa aliran gas yang dibawaoleh gelembung (McCabe, 1985:154), sehingga:

persamaan (4) dimana: f b = fraksi unggun yang diisi gelembungu b = kecepatan rata-rata gelembung Dalam fluidisasi agregat, fluida akan membuat gelembung pada padatan unggun dalam tingkah laku yang khusus. Gelembung fluida meningkat melalui unggun dan pecah pada permukaan unggun dan akan tejadi splashing dimana partikel unggun akan bergerak

ke atas. Seiring dengan meningkatnya kecepatan fluida, perilaku gelembung akan bertambah besar. (Brown, 1955:269). Keberadaan fluidisasi partikulat atau agregatif merupakan hasil dari pengaruh gaya gravitasi pada fasa-fasa yang ada dalam unggun terfluidisasi dan juga karena mekanika fluida ruah dari sistem. Angka Froude, yaitu rasioantara kinetik dengan energi gravitasi merupakan salah satu kriteria penentu jenis fluidisasi apa yang terjadi. (Foust, 1959:643). Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara hilang tekan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui metode-metode yang bersifat semi empiris, yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak berdimensi. Untuk aliran laminer dengan kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya viscous, Blake memberikan hubungan :

persamaan (5) dimana: P/L = hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggungc = faktor gravitasi = viskositas fluida = porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruangkosong didalam unggun dengan volume unggun u = kecepatan alir superfisial fluida S = luas permukaan spesifik partikel Sphericity merupakan faktor bentuk yang dinyatakan sebagai rasio dariarea permukaan volume partikel bulat yang sama dengan partikel itu dibagidengan area permukaan partikel. Material yang melingkar seperti katalis dan pasir bulat memiliki nilai sphericity sebesar 0.9 atau lebih. Kecepatan Fluidisasi Minimum (Umf) adalah kecepatan superficial terendah yangdibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi. Umf dapat dicari dengan menggunakan persamaan.

persamaan (6)

Di mana bilangan Archimides (Ar) adalah : Untuk memprediksi Umf, Ergun menurunkan suatu korelasi dengan cara menyamakan pressure drop pada saat Umf dengan berat unggun persatuan luasdan diperoleh persamaan sebagai berikut.

pers. (7) Suku pertama persamaan Ergun dominan untuk aliran laminer sedangkansuku kedua dominan pada aliran turbulen. Pengukuran Umf dapat diperoleh dari grafik P vs Umf, yaitu sesuai titik potong atau antara bagian kurva yang datarseperti yang digambarkan pada gambar 10. Kecepatan terminal Kecepatan terminal suatu partikel (Ut) merupakan kecepatan gas yangdibutuhkan untuk mengatur partikel tunggal yang tersuspensi dalam aliran gas.Kecepatan terminal suatu partikel dinyatakan dalam persamaan:

(pers 8) Dalam aliran laminer dan mengikuti Hukum Stokes:

(pers 9 & 10)

Persamaan ini mengindikasikan bahwa untuk partikel yang berukuran kecil viskositas merupakan faktor dominan setiap gas dan untuk partikel seret, dan gaya buoyant mengalahkan berat partikel serta gaya antar partikeltersebut ( Kirk Othmer, 1994:147).

Pada fluidisasi minimum partikelmemperlihatkan pergerakan yang minimal dan secara langsung unggun akansedikit terangkat. 2.4 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Fluidisasi Kelebihan dari teknik fluidisasi adalah: 1. Properti transfer panas yang baik dalam gas-fluidized bed. Gelembung yang terbentuk menjaga unggun bersifat isotermal dan laju transfer panasyang tinggi diperoleh antara unggun dan permukaan yang dicelupkan. 2. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zatpadat secara kontinu dan memudahkan pengontrolan. 3. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindahpanas yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas permukaan kecil. 4. Perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukuptinggi. 5. Sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasimemungkinkan pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor. Kekurangan dari teknik fluidisasi adalah: 1. Kecepatan fluida yang digunakan terbatas pada jangkauan dimana unggun terfluidisasi. Jika kecepatan jauh lebih besar dari Umf, dapat terjadi kehilangan material yang cukup besar akibat terbawa keluar dari unggun serta ada kemungkinan terjadi kerusakan partikel karena kecepatan operasi yang terlalu besar. 2. Tenaga untuk memompa fluida sehingga terjadi fluidisasi harus besar untuk unggun yang besar dan dalam. 3. Ukuran dan tipe partikel yang dapat digunakan dalam teknik ini terbatas. 4. Karena sifat unggun terfluidisasi yang kompleks, seringkali terjadi kesulitan dalam mengubah skala kecil menjadi skala industri. 5. Adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin 6. Butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya sejumlah tertentu padatan.

2.5 Perilaku Gelembung Pada Ketinggian Unggun 2.5.1 Perilaku Gelembung Gelembung yang lebih besar cenderung naik lebih cepat dibanding gelembung yang kecil sehingga antar gelembung akan terjadi tumbukan dan bergabung (coalescence) dan gelembung semakin bertambah besar. Dinding tabung juga mempengaruhi gerekan gelembung sehingga gelembung cenderung bergerak ke arah dalam unggun. Gelembung terjadi dalam kebanyakan unggun yang terfluidisasi dan peranannya sangat penting karena akibat laju dari perubahan massa atau energi diantara gas dan padatan dalam unggun. Gelembung terbentuk dalam unggun yang terfluidisasi dari ketidakstabilan sistem 2 fasa. Pengontrolan ukuran gelembung dapat diperoleh dengan mengontrol distribusi ukuran partikel atau dengan meningkatkan kecepatan gas. Mengacu pada teori gelembung dua fasa dan fluidisasi, semua gas yang dibutuhkan untuk fluidisasi minimum melewati unggun dalam proses pembentukan gelembung. Gelembung meningkat melalui unggun dalam 2 kondisi yang berbeda. Gelembung yang meningkat secara padat dapat terjadi padakecepatan gas kurang dari Umf dan hal ini memberikan kesempatan untuk gas melewati partikel unggun dan sirkuit pendek melalui gelembung menuju kepermukaan unggun.Kecepatan suatu gelembung yang bertambah besar melalui fluida unggundinyatakan dalam rumus:

2.5.2 Ketinggian Unggun Tinggi unggun dapat diplot terhadap kecepatan superficial. Untuk kecepatan superficial tinggi permukaan berfluktuasi karena pecahnya gelembung di permukaan sehingga ketinggian unggun hanya dapat diukur dengan perkiraan. 2.6. Sifat Sifat Perpindahan Panas Unggun Terfluidisasi Unggun yang terfluidisasi oleh gelembung-gelembung tercampur dengan sangat baik karena pertikel-partikel unggun tersirkulasi oleh gelembung udara yang naik.

Akibatnya, suhu unggun sangat seragam walaupun terdapat reaksi yangsangat eksoterm. Jika luas permukaan tranfer panas antara gas dan unggun cukuptinggi, gas dan pertikel cepat mencapai suhu yang sama. Laju transfer panas yang tinggi dapat diperoleh antara permukaan panas yang tercelup di dalam unggun dengan unggunnya itu sendiri. Tiga mekanisme yang menyumbangkan transfer panas antara unggun terfluidisasi dan permukaan adalah : a. Untuk partikel unggun dengan diameter < 500 dan densitas < 4000 kg/m3 (kecuali paertikel halus yang sangat kohesif), mekanisme utama adalah adanya sirkulasi antara bulk unggun dan partikel yang berdekatan dengan permukaan panas (Particle Convective Mechanism). Partikel mampu mentransfer banyak panas karena mempunyai kapasitas panas pada saat awal partikel berdekatan dengan permukaan panas, terdapat gradien suhu lokal yang besar yaitu adanya perbedaan suhu yang besar antara bulk unggun dengan permukaan sehingga laju perpindahan panas sangat besar. Akan tetapi, semakin lama suhu unggun semakin mendekati suhu permukaan. Jadi untuk selang waktu tertentu laju transfer panas semakin tinggi jika pertikel bersinggungan dengan permuikaan panas dalam recident time yang singkat yang dapat diperoleh dengan mengatur kondisi operasi.Tetapi harus diingat bahwa recident time yang ekstrim kecil untuk memperoleh koefisien perpindahan panas yang paling tinggi dibatasi oleh konduktivitas panas gas dan jarak jalur transfer panas terpendek di manapanas mengalir secara konduksi antara partikel unggun dan permukaan panas. b. Untuk unggun dalam ukuran atau densitas yang lebih besar, kecepataninterstisial adalah turbulen yang berarti bahwa transfer panas konveksimelalui gas menjadi penting. Jika transfer panas mode ini menjadi dominanmaka transfer panas akan naik dengan naiknya diameter partikel (karenamakin besar partikel maka makin besar turbulensi kecepatan interstisial). c. Untuk suhu yang lebih tinggi akan terdapat perbedaan suhu yang sangat besar antara unggun dan permukaan panas sehingga transfer panas secara radiasi menjadi penting. Perpindahan kalor ke permukaan dalam sistem padat-gas koefisien perpindahan panas ke permukaannya sangat tergantung pada kualitas fluidisasi yang terjadi (Coulson, 1968:215). Untuk menghitung koefisien perpindahan panas tersebut dapat digunakan persamaan Dow dan Jacob berikut.

2.7 Penyimpangan dari Keadaan Ideal (Interlock) Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel. Pada kenyataannya, keadaan di atas tidak selamanya bisaterjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada Gambar 11, terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi perubahan kondisi dari unggun tetap menjadi unggun terfluidakan.

Gambar 11. Kurva karakteristik fluidisasi tidak ideal karena terjadi interlock

2.8. Keuntungan dan kerugian fluidisasi a. Keuntungan fluidized bed 1. Kebocoran seperti pada aliaran cairan dan partikel-partikel memberikan kontrol secara kontinyu. 2. Kecepatan pencampuran solid mendekati kondisi isothermal, tekanan melalui reaktor dimana operasi dapat dikontrol dengan mudah. 3. Sirkulasi solid oleh fluidized bed membuatnya mungkin untuk transportasi dengan jumlah yang sangat banyak. b.Kerugian fluidized bed 1. Sulit menggambarkan aliran gas dengan deviasi besar dari sumber aliran dan dengan passing dari solute dan gelembung-gelembung menyebabkan tidak efisiennya sistem kontak. Hal ini menjadi serius bila konversi tinggi dan reaktan-reaktan dibutuhkan. 2. Kecepatan penguapan solid dalam uniformnya. Waktu tinggal solid ini memberikan konversi lebih efektif dengan kata lain untuk mengerjakan solid secara batch. Pencampuran ini menolong karena memberikan produk solid seragam untuk reaksireaksi katalitik. 3. Erosi pipa dan tempat abrasi partikel. 4. Untuk pengoperasian luas katalitik pada tempat operasi yang berpengaruh terhadap kecepatan reaksi. 2.9 Penggunaan proses fluidisasi dalam industri 1.Operasi Secara Fisik (Physical Operation), seperti: a. Transportasi: Sifat fluidisasi pada fluidized bed juga merupakan sifat yang sama dengan cairan dan sifat ini sangat efektif digunakan untuk alat transportasi dari bubuk padatan. b. Heat Exchanger (HE): Fluidized bed dapat digunakan untuk HE operasi fisik dan kimia kareana kemampuannya untuk mempercepat perpindahan panas dan menjaga suhu menjadi konstan dengan ditunjukkan sebagian kecil dari bermacam penggunaan dalam lingkup ini. c. Adsorpsi: Proses adsorpsi multistages fluid chart untuk pemisahan dan pemurnian kembali komponen gas.

2. Operasi Secara Kimia Contoh: Reaksi gas dengan katalis padat dan reaksi padat dengan gas. 2.10 Aplikasi fluidisasi dalam industri a. Gasifikasi : batubara b. Transportasi: Fluidisasi dapat terfluidisasikan sama seperti cairan, sifat ini digunakan untuk transportasi padat berupa serbuk. c. Pencampuran bubuk halus (dengan ukuran partikel berlainan) d. HE e. Pelapisan bahan peledak pada permukaan logam f. Drying dan sizeing 2.11 Industri yang menggunakan metoda fluidisasi Beberapa Industri yang menggunakan metoda fluidisasi adalah : 1. Proses desulfurisasi batubara Proses desulfurisasi batubara Tondongkurah, Sulawesi Selatan telah dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida yang diencerkan dalam asam sulfat berkonsentrasi 0,1 N. Percobaan desulfurisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan kolom fluidisasi yang mempunyai ukuran panjang 80 cm dengan diameter 3,5 cm. Kolom dihubungkan dengan sebuah pompa sirkulasi yang mampu memberikan suplai larutan dengan jumlah aliran yang diatur sebesar 100 cc per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa proses selama 2 jam dengan mempergunakan kolom tersebut mampu mengurangi 13,9 persen jumlah sulfur yang terdapat di dalam batubara Tondongkurah yang berukuran (-14+20) mesh. Perpanjangan waktu sirkulasi larutan hidrogen peroksida dari 2 jam menjadi 6 jam mampu meningkatkan jumlah pengurangan sulfur menjadi sebesar 42,3 persen. Hasil percobaan lainnya menunjukkan bahwa perkecilan ukuran partikel batubara dari (-14+20) mesh menjadi (-20+48) mesh mampu meningkatkan angka tersebut. Pada percobaan desulfurisasi dengan ukuran batubara (-20+48) mesh selama 2 jam, jumlah pengurangan sulfur adalah 19,6 persen. Demikian pula, apabila waktu sirkulasi dinaikkan menjadi 6 jam pengurangan sulfur meningkat menjadi 48,9 persen. 2. Pembuatan Gas Sintetis Dari Batubara Dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidisasi.

Percobaan gasifikasi

dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan

menggunakan reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65 mesh). Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. Pada kondisi fluidisasi suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. Suhu reaktor sistem unggun fluidisasi adalah 900 0C. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas) dilakukan pemurnian dengan alat cyclone, condenser dan scrubber. Sesudah syngas dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas

chromatography (GC).

BAB III KESIMPULAN Dari penjelasan di atas diperoleh kesimpulan, bahwa : 1.

Daftar Pustaka Fee, C.J., A Simple but Effective Fluidized-Bed Experiment, Chem. Eng. Educ., Summer 1994, pp. 214-217. Kunii, D., and Levenspiel, O., Fluidization Engineering, Butterworth-Heinemann, Boston, 1991. Coulson, 1968:215 Kirk Othmer, 1994:147 (Brown, 1955:269). (Foust, 1959:643). (McCabe, 1985:154),