Anda di halaman 1dari 179

BAB III

KONSTRUKSI SOSIO ANTROPOLOGIS ISLAM INDONESIA

Sejarah Sosial Manusia Indonesia

Mempelajari sejarah, agaknya menjadi persoalan yang cukup


banyak mendapatkan rintangan, bukan karena faktor keilmiahan atau
ketidakilmiahan, melainkan lebih pada menepatkan perkiraan pada
kejadian yang telah lewat melalui peninggalan-peninggalan arkeologis
dengan berbagai spekulasi teori (speculative theory) yang berdasarkan
pada perkiraan. Dampak yang kemudian timbul adalah, karena di dunia
ini tidak hanya satu orang saja yang concern membahas histografi,
tentunya ada banyak pula pendapat spekulatif yang dimunculkan, ada
kalanya pendapat spekulatif antara satu ilmuwan dengan ilmuwan yang
lain sama dan sealur, namun tidak sedikit pula yang berbenturan, dan
sah-sah saja ketika salah seorang ilmuwan menganggap teori mereka
yang paling benar atas teori yang lainnya.

Taruhlah misalnya, ketika ditemukan fosil Pithecantropus


Erectus di Sangiran, Eugene Debois mengatakan bahwa Pithecantropus
Erectus adalah manusia tertua yang muncul di Indonesia. Eugene
Debois mengatakan demikian dengan perkiraan bentuk fosil, letak di
lapisan tanah, perkiraan umur, sampai perbandingan volume otak yang
konon lebih kecil ukurannya dengan manusia zaman sekarang dan
Homo Sapiens, Megantropus Palaeo Javanicus dan manusia purba
sejenisnya yang pernah hidup di zaman prasejarah. Atau paling
mudahnya, apakah untuk mengukur angka tahun masuknya Imigran
besar-besaran gelombang pertama dari Provinsi Yunan, China Selatan
pada Era 5.000 tahun sebelum masehi tepat perhitungannya atau hanya
berdasarkan pada perkiraan semata. Ini mungkin, oleh beberapa
sejarawan, akan dianggap datar dan pemahaman yang dangkal sekali,
tapi nanti kita buktikan bahwa ini merupakan sisi yang paling menarik
dari mempelajari sejarah.

Mungkin agak mudah untuk kemudian melacaknya


menggunakan dalil analitik ilmiah dan rasional (dalam artian umum)
untuk membahas persoalan sejarah yang “baru kemarin sore”. Masing-
masing pendapat akan diperkuat dengan saksi dan bukti yang kuat atas
teorinya itu. Dimana kemungkinan terjadi perselisihan teori akan dapat
diminimalisir. Namun itu juga akan menjadi perdebatan sengit apabila
masing-masing saksi yang diajukan memiliki pendapat yang berbeda
atas motif tindakan sejarah yang dilakukan, atau penafsiran terhadap
bukti sejarah, baik dokumentasi sejarah ataupun arkeologisnya,
berbeda pada point tertentu yang menyebabkan mis tafsir. Kemudian,
kalau kemudian sejarah ini dipelintir untuk kepentingan seseorang,
suatu pihak, suatu golongan dan atau sejenisnya, maka yang kemudian
terjadi adalah perdebatan sejarah pula.

Ambillah contoh sederhana, misalnya kita menganalisis


sejarah “baru kemarin sore” menggunakan model verstehende
(meminjam metode pengumpulan data ala Max Weber), yakni metode
mengumpulkan data dengan melihat motif subjektif atas tindakan
sosial oleh pelaku tindak sosial tersebut. Artinya, misalnya terjadi
tindak konfrontatif antara satu pihak dengan pihak lain tentunya juga
akan mengalami perbenturan teori konflik umum yang dimunculkan
karena masing-masing pihak yang terkait dengan laku sosial tersebut
mengklaim kebenaran atas teori yang diusungnya tersebut, dan karena
metode ini berlandaskan atas unsur subjektifitas pelaku tindak sosial
tersebut, maka tentunya tidak akan ada titik temu, dan yang terjadi
lagi-lagi kontroversi sejarah. Contoh misal, konfrontasi sejarah antara
Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie dengan Prabowo soal tragedi 1998 yang
didalamnya juga membawa nama-nama seperti Wiranto, Soeharto dan
pejabat tinggi setingkatnya yang terkait dengan tragedi tersebut
beberapa waktu yang lalu.

Konflik sejarah ini jelas melahirkan suasana keilmuan sejarah


yang tidak sehat, tidak ada garis besar yang dapat dijadikan patokan
sejarah karena masing-masing versi akan mengunggulkan versi
teorinya dan menganggap teori lain yang muncul sebagai counter part
atas versinya dinyatakan salah dan tidak berdasarkan pada fakta sosial
yang terjadi. Namun, itu justru yang membuat sejarah menarik untuk
dibahas, dimana dengan sejarah tersebut (maksudnya konfrontasi
sejarah) justru akan semakin mencerdaskan masyarakat melalui
konflik. Masyarakat dicerdaskan dengan konflik. Seperti tokoh dan
guru bangsa Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang menurut
beberapa penuturan dari aktivis muda hari ini dianggap tokoh yang
paling aktif mencerdaskan masyarakat dengan konflik. Yang selalu
mengambil “jalan lain” dari pemahaman universal, dan justru dengan
itu, menurut pendapat tersebut, masyarakat akan lebih dicerdaskan
dengan pembacaan atas realitas sosial yang kritis.

Ada dua prakondisi (kondisi objektif) menurut Dr. I Gde


Widja1 dalam mempelajari sejarah, dua prakondisi ini memberikan
warna tersendiri dalam mempelajari sejarah. Pertama, perlu adanya
upaya terus menerus untuk meluruskan sejarah yang sekarang
cenderung banyak terjadi ‘pemitosan’ sejarah. Kedua, karena tiap
generasi memiliki tantangan yang berbeda serta kondisi yang berbeda
pula, maka diperlukan, bagi generasi baru (dalam mempelajari sejarah)
dialog yang intensif dengan generasi lama.

Kemudian, mengutip apa yang dikatakan oleh Soekarno,


“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”2. Ini mengandung artian
yang dalam dalam pemahaman orang-orang tertentu, bahwa itu tidak

1 I Gde Widja, Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah, Laperda Pustaka


Utama, Yogyakarta, 2002 hal. 10-11
2 Wijanarka, Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya,
Ombak, Jogjakarta, 2006, hal. 11
hanya dimaknai datar saja melainkan ada ‘sesuatu’ yang ingin
disampaikan Soekarno, yakni pemahan atas perputaran arus konflik
sosial. Bukan berarti dengan jangan melupakan sejarah, Bung Karno
ingin terus dikenang sebagai Panglima Besar, presiden pertama RI,
Proklamator dan sederet jabatan dan gelar lain yang diperolehnya
melainkan, Menggunakan pemahaman kaum evolusionisme vulgar
(materialisme mekanis, dalam pendapat Mao Tse Tung) bahwa konflik
sosial yang telah terjadi akan terus terjadi pada masa-masa selanjutnya,
dengan perputaran konflik tertentu, bahwa kejadian yang telah terjadi
pada masa lampau akan terjadi lagi pada masa yang akan datang,
perbedaan yang terjadi tersebut hanya pada kuantitas dan kualitas
konflik saja, namun tidak merubah esensi konflik secara garis
besarnya.

Pada titik pemahaman inilah, bahwa sejarah akan terus


berputar, apabila telah mengalami tingkatan konflik dengan jenis
konflik tertentu, maka akan berputar lagi pada konflik pertama yang
telah terjadi sebelumnya, perbedaan hanya pada tingkatan kuantitas
dan kualitas konfliknya saja. Misal saja, pada zaman pra sejarah telah
terjadi peperangan untuk merebut kekuasaan, maka hari inipun terus
terjadi hal yang sama, perbedaan hanya pada kualitas dan kuantitas
perebutan kekuasaan itu. Kalau pada zaman dahulu orang berperang
adu fisik untuk mendapatkan kekuasaan atas orang lain atau publik.
Maka hari ini peperangan kekuasaan tersebut diekspresikan dalam
bentuk pertarungan antar partai atau golongan untuk mendapatkan
kekuasaan publik dan individu. Demikan halnya terjadi pada konflik
dasar sosial yang lainnya yang terus berputar seiring dengan
perputaran peradaban dan tata sosial di tengah-tengah masyarakat kita
hari ini.

Kembali pada persoalan ilmu sejarah dan hal lain yang terkait
dengan itu, bahwa apabila seseorang melakukan suatu tindakan, maka
hal yang akan terjadi adalah intended qonsequences, yakni dampak
yang ditimbulkan atas perilaku tindak sosial. Atau secara sederhananya
adalah konsekuensi dari apa yang dilakukan, tujuan atau misi yang
hendak didapatkan dari perencanaan dan tindakan dari laku yang
diperbuat. Selanjutnya, intended qonsequences lebih menuju pada hal
positif yang dituju (tujuan pokok yang hendak didapatkan) dan atau
sebaliknya, kegagalan yang akhirnya mendapatkan hawa konflik sosial
yang baru. Maksudnya bahwa intended consequences adalah dapat
berupa tujuan dari misi laku yang diperbuat atau justru dampak negatif
dari tindakan tersebut sebagai ekspresi kegagalan atau
ketidaksempurnaan dari tindak laku yang diperbuat tersebut.

Disinilah yang akan menciptakan sejarah, intended


consequences baik positif atau negatif akan mengarahkan pelakunya
menjadi tokoh sejarah yang akan membuat sejarah baru dalam
dinamika sosial. Ada kalanya itu akan menjadi bagian terpenting
sejarah yang dicatat dalam sejarah nasional sebagai tindakan yang
menyangkut kepentingan publik secara luas, namun adakalanya juga
hal tersebut justru hanya menjadi pelengkap atau bahkan sama sekali
tidak berpengaruh luas kepada publik secara keseluruhan hanya karena
hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam ranah publik secara luas.
Artinya, semua itu tergantung dari besar kecilnya intended
consequences terhadap kepentingan publik secara luas, kalu besar
berarti akan menjadi sejarah besar, namun apabila kecil maka akan
menjadi sejarah yang dikonsumsi oleh pelaku perbuatan tersebut.

Lalu kemudian, kita juga harus membaca pada sisi lain


tentang proses terbentuknya konflik sosial yang mampu menyeret
masyarakat secara keseluruhan terhadap konflik tersebut, yakni
membaca pada sisi analitis atas motif subjektif yang mendasari
seseorang atau beberapa orang terjun dalam konflik sebagai pelaku
utama (verstehende), atau dapat pula keharusan membaca
kecenderungan secara umum terhadap tindak pelaku tersebut dalam
dataran objektifitas dan keumuman yang khas
(generalisir/universalisasi konflik). Apa sebenarnya yang menjadi
dasar seseorang, pada ranah subjektif, atas tindakannya dalam
melakukan laku sosio individual dan apa pula pandangan publik secara
umum dalam memberi respon atas laku sosial ini.

Sebelum sampai pada titik lain, juga akan lebih bijak ketika
kita kemudian harus membaca dulu pada lingkup unintended
consequences, yakni munculnya atau terjadinya akibat tak
diperhitungkan dari tindakan yang dilakukan terhadap suatu susunan
kehidupan, baik tindakan-tindakan itu direncanakan sesuai planning
ataupun justru tanpa perencanaan sama sekali. Sebagai contoh
sederhana dari munculnya unintended consequences adalah terjadinya
apa yang kita sebut sebagai “Tragedi Mei 1998”. Dengan perencanaan
matang untuk menggulingkan penguasa otoriter Orde Baru, yang
memang menjadi tujuan bersama element gerakan mahasiswa, gerakan
ormas sampai gerakan yang melembaga non formal. Namun,
unintended consequences akan menggambarkan sisi lain dalam analisis
subjektif dalam menganalisis sesuatu. Misalnya, salah satu element
gerakan mahasiswa di Jogjakarta yang banyak memberi kontribusi
pemikiran yang memang matang pada medio mei 1998, ditengah
gempar-gemparnya isu menggulingkan presiden Soeharto, aktivis
tersebut banyak kemudian yang menelorkan teori-teori dan kajian-
kajian baru soal demokrasi, people power, kekuasaan rakyat,
pemerintahan pro poor, anti kekerasan dan diskirminasi etnis.

Sederhananya, dari sampel tersebut, intended consequences


dari tragedi Mei 1998 adalah turunnya Soeharto dan tumbangnya rezim
Orde Baru, sedangkan unintended consequences yang ditimbulkan
adalah, bergemanya wacana pembebasan, demokrasi dan berdirinya
elemet atau organisasi massa yang bergerak di bidang pemberdayaan
masyarakat, pembebasan sosial, dan organisasi-organisasi pergerakan
lainnya yang senada dengan itu.

Pentingnya pembahasan mengenai unintended consequences


lebih pada karena unintended consequences akan memberikan dampak
yang mendalam terhadap alur sejarah yang sedang berjalan.
Memberikan kontribusi terhadap perjalanan sejarah, karena unintende
consequences adalah juga merupakan proses sejarah dari konsekuensi
logis terjadinya point sejarah.

Selanjutnya, dalam subbab ini, penulis hendak merangkum


perjalanan sejarah nusantara secara kronologis sebagai pijakan dasar
untuk mengetahui secara genealogis dan antropologis perjalanan
nusantara, baik dalam wilayah intended consequences ataupun
unintended consequences.

Catatan sejarah banyak mengungkapkan mengenai teori


sejarah yang banyak bergulir dan malang melintang sebagai pisau
analisis untuk menggambarkan, mendeskripsikan, menemukan
kepastian dan menentukan unintended consequence dari perjalanan
sejarah sendiri. Pada awal abad 20an misalnya, catatan-catatan
Georges Dumezil, Claude Levi Strauss dan Jacques Lacan adalah
buku-buku yang dijadikan sandaran teori di eranya. Tidak heran kalau
banyak para pengkaji yang menempatkan nama-nama diatas sebagai
tokoh penting melalui karya intelektualnya. Tak heran pula, berbicara
mengenai sejarah, institusi semacam Cambridge’s Schools dan
Soviet’s School juga memiliki peran aktif dalam tiap riset sejarahnya.
Didukung pula tokoh ilmuwan lain seperti Fernand Braudel, Francois
Furet, Denis Richet dan Immanuel Le Roy Ladurie.

Membaca fenomena diatas, untuk menemukan pisau analisis


yang tepat dalam analisis sejarah, terlepas dari metodologi yang
dimunculkan sebagai akibat dari keberadaan teori sejarah, perlu
menentukan dengan tepat. Banyaknya teori yang ada membuat public
sering mengalami kebingunan, terutama dalam keputusannya dalam
menentukan teori sejarah yang digunakan. Dalam hal ini, sebagai pisau
analisis dasar dalam menentukan teori sejarah dan tepatnya sebagai
pisau analisis. Penulis menggunakan teori sejarah yang digulirkan oleh
Michel Foucault dalam bukunya tentang arkeologi dan genealogi, yang
berjudul Les Motss et les choses (The Order of Things). Berikut
penulis cantumkan pernyataan dari Michel Foucault yang kemudian
menjadi salah satu alasan penulis untuk menjadikan teori sejarahnya
Michel Foucault sebagai pisau analisis sekaligus gerak alur sejarah.

“Saya kira sejarah sudah menjadi objek sakralisasi yang


aneh bagi banyak intelektual. Jarak, keterbukaan dan penghargaan
konservatifnya, bagi sejarah merupakn jalan yang paling sederhana
untuk menggabungkan kesadaran politik dengan riset atau aktivitas
menulis mereka. Dibawah tanda pertentangan sejarah, semua wacana
berubah menjadi doa terhadap tuhan, penyebab segala sesuatu.
Muncul juga alasan yang lebih teknis. Seseorang harus mengakui
bahwa dalam bidang seperti lingistik, etnologi, sejarah, agama dan
sosiologi, konsep-konsep yang disusun abad 19 dan masuk dalam
kategori dialektika, sesungguhnya banyak yang sudah tidak
digunakan. Sekarang dalam pandangan beberapa orang, sejarah
sebagai sebuah disiplin ilmu membentuk satu perlindungan terakhir
dari pola dialektika. Dimana melalui sejarah orang bisa
menyelamatkan berkuasanya kotradiksi rasional”.

Lebih lanjut dia berkata, “Banyak intelektual yang mampu


mempertahankan dengan sungguh-sungguh, untuk dua alasan tersebut
diatas, dan melawan segala kemungkinan yang mungkin muncul,
suatu konsepsi sejarah yang diatur diatas model naratif sebagai
bagian peristiwa besar yang turut serta dalam hierarki ketentuan
(determinasi). Individu-individu terjebak dalam totalitas yang
melampaui dan meremehkan meraka, tetapi barangkali pada saat
yang bersamaan, mereka menjadi pengarang dadakan. Jadi, bagai
beberapa orang, sejrah, baik sebagai proyek individu maupun sebgai
satu totalitas, menjadi sesuatu yang tak terjangkau. Mereka menolak
pernyataan bahwa bentuk sejarah asertif aka nada untuk menyerang
penyebab terbesar revolusi”3

penghuni asli kepuluan nusantara adalah berasal dari suku


Negrito dan Weda. Kedua suku besar ini mendiami nusantara dari
ujung barat Sumatera hingga ujung timur papua. Ciri fisik dari ras
sub-negroid ini adalah bertubuh pendek, berambut kriting, kulit hitam
dengan badan kekar, hampir sama dengan ras negroid hanya saja suku
negrito dan weda bertubuh lebih pendek. Tentang asal darimana
sebenarnya Kedatangan suku Weda dan Negrito berasal, sampai hari
ini masih menjadi perdebatan panjang, pasalnya, apabila melihat dari
bukti arkelogis yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil dan
Sangiran, berupa Pithecantropus Erectus dan Megantropus Palaeo
Javanicus, diperkirakan sekitar 500.000 hingga 1 juta tahun yang lalu,
sekitar zaman glacial wurm, kepulauan nusantara telah dihuni oleh
manusia.

Pendapat ada yang mengatakan bahwa kedua suku bangsa ini


merupakan suku turunan dari penyebaran ras negroid di seluruh
penjuru dunia, seperti suku Aborigin di Australia, suku Indian di
Amerika dan sebagainya, maka dimungkinkan, suku Negrito dan Weda
yang ada di nusantara merupakan ras turunan dari mereka yang
mengembara mencari penghidupan baru dengan pengembaraannya.
Pendapat lain menyebutkan, bahwa ras negroid yang ada telah
melakukan perkawinan silang dengan ras mongoloid sehingga bentuk
tubuhnya hampir sama besarnya dengan ras mongoloid meskipun
kontur fisiknya serupa dengan orang-orang negroid. Tepatnya, ras
3 Michel Foucault, Pengetahuan dan Metode, Karya-karya Penting Foucault,
Jalasutra, Bandung, 2009, hal. 76
mongoloid yang dimaksud disini adalah suku Qunlun, pecahan ras
Mongoloid yang mengembara dan bertemu dengan ras Negroid, dari
suku Polinesia4.

Sebelum sampai jauh, agar pembahasannya dapat mengalir


dan meruntut, ada baiknya apabila pembahasannya dimulai dari
perkembangan zaman yang pernah ada. Secara umum, para scientist
memberikan pembagian babakan sejarah dengan tiga periode besar,
yakni Zaman Prasejarah, Zaman Proto Sejarah dan Zaman Sejarah.
Masing-masing pembagian babakan waktu ini ditentukan berdasarkan
dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan masing-masing koloni
mengembangan koloninya dengan sistem yang baru. Kemampuan
pengembangan sosial teknologi masing-masing koloni berbeda antara
yang satu dengan yang lainnya, perbedaan ini disebabkan karena
problem internal yang dihadapi dalam suatu koloni terkait dengan
kemampuan menangkap respon sosial yang bergejolak ditengah-tengah
mereka.

Pada zaman pra sejarah, para historian telah memberikan


babakan waktu tersendiri berdasarkan, sekali lagi, kemampuan
pengembangan pengetahuan dan teknologi suatu koloni, pada zaman
pra sejarah, masyarakat sama sekali tidak mengetahui bahasa literer,
membuat tulisan ataupun membaca tulisan, yang banyak digunakan
mereka untuk komunikasi lebih mengandalkan bahasa audio visual
melalui tutur tinular. Zaman pra sejarah ini di kepulauan nusantara
telah ditetapkan pembagiannya, yakni mulai masa berburu, masa
meramu dan masa perundagian. Selain dengan melihat dari sudut
pandang survival collective mereka, juga pembabagan sejarah biasa
dilakukan dengan melihat perkembangan teknologi dan pengetahuan
mereka, diantara pembagian tersebut adalah dimulai dari zaman batu

4 Hasil diskusi dengan Bapak Agus Sunyoto tahun 2008 di Semarang, Jawa Tengah. Referensi
yang digunakan oleh beliau adalah tulisan beliau dalam buku Pitutur, namun penulis belum dapat
menyajikan referensi tersebut karena beberapa faktor.
tua, zaman batu madya, zaman batu muda (neolithicum), zaman batu
besar (megaliticum) dan zaman logam.

Perlu dicantumkan juga kiranya mengenai babakan dalam era


pra sejarah, karena era pra sejarah merupakan era yang sangat panjang,
bahkan usianya melebihi zaman sejarah saat ini. periode Paleosene (70
juta thun sm), Periode Eosene (30 juta tahun sm), Periode Miosene (12
juta tahun sm) dan pleistosene (4 juta tahun sm). Pentingnya ini adalah
untuk mengetahuhi rentetan waktu berjalannya proses terbentuknya
bumi hingga kapan terjadinya kepulauan di nusantara dan bagaimana
prosesnya. Pada pembagian ini, munculnya kepulauan di nusantara
diperkirakan pada zaman pleistosene, yakni bersamaan dengan
terbentuknya dua benua besar, yakni Asia dan Australia. Pada waktu
itu gumpalan es yang berada kutub utara dan kutub selatan mencair.
Sehingga dari cairan tersebut menyebar dan menggenangi permukaan
daratan. Dari lelehan tersebut dataran yang tinggi, yang tidak
tergenang air menjadi deretan pulau-pulau yang di sebut dengan benua
Asia dan Benua Australia. Kepulauan Nusantara ini adalah bentukan
dari beberapa pegunungan yang agak tinggi.

Pada perkiraan babakan sejarah ini, dilihat dari perkiraan


yang dilakukan para historian dan arkeolog, Pithecantropus Erectus
sebagai manusia di nusantara yang tertua hidup pada kisaran waktu
500.000 hingga 1 juta tahun yang lalu, dengan sistem sosial yang
nomaden, mendapatkan kebutuhan makanan dengan berburu, alat yang
digunakan terbuat dari batu yang masih kasar, serta kebanyakan hidup
berkoloni dengan jumlah yang masih kecil, tempat tinggal mereka di
dalam goa-goa dan tempat yang aman lainnya.

Dikembalikan pada manusia pertama yang meninggali


nusantara, bentuk fisik Pithecantropus Erectus memiliki kesamaan
fisik yang cukup menonjol dengan suku Negrito. Diantaranya,
mulutnya moncong kedepan, bentuk tengkorak kepala, tinggi badan
dan besarnya tulang.

Terlepas dari semua itu, bahwa ada hal menarik yang


dilakukan sejak zaman Pitechantrophus Erectus, Megantrophus Palaeo
Javanicus, Homo Sapiens hingga manusia Negrito dan Weda pada
zaman proto Sejarah, yakni menyangkut aliran kepercayaan yang
mereka anut sebagai sandaran spiritual mereka. Mengenai keyakinan
ini, riset yang dilakukan oleh Emile Durkheim5 pada suku Aborigin di
Australia menghasilkan tesis yang cukup menarik, bahwa ketika zaman
permulaan, suku Aborigin menganut aliran kepercayaan dengan
menyembah serta menyucikan segala sesuatu yang membuat orang
Aborigin ketakutan atau merasa dirinya lebih rendah dibanding sesuatu
itu. Misalkan, orang Aborigin takut terhadap harimau, maka harimau
itu akan menjadi binatang suci bagi mereka dan mereka melakukan
penyembahan terhadap harimau tersebut sebagai bentuk pengabdian
spiritual mereka.

Sedikit menambahkan bahwa pada zaman glacial wurm


(zaman es terakhir) antara kepulauan nusantara dengan Australia serta
Asia Timur masih bersambung darat. Barulah pasca mencairnya es di
kutub utara dan selatan membuat titik air pantai naik dan memisahkan
pulau-pulau yang tadinya bersambung tersebut serta membentuk
kepulauan-kepulauan kecil di nusantara. Zaman glacial wurm terjadi
sekitar satu juta lima ratus ribu hingga satu juta tahun yang lalu, pada
dekade ini, es di kutub utara dan selatan, karena terjadi pemanasan
global saat itu mencair. Kejadian pada periode babakan sejarah ini
mengatakan bahwa apabila dibandingkan, yang terjadi adalah, pada
zaman glacial wurm di nusantara telah dihuni oleh Pithecantropus
Erectus dan di Australia nenek Moyang suku Aborigin telah mendiami
kepulauan nusantara.

5 Emile Durkheim, The Elementary Form of Religion Life, 2002, IRCISoD, Jogjakarta, hal. 253
Di kepulauan nusantara sendiri, penelitian yang dilakukan
oleh kebanyakan scientis dan sejarawan, bahwa kepercayaan
masyarakat zaman primitif adalah animisme dan dinamisme. Aliran ini
adalah aliran kepercayaan asli nusantara dimana nenek moyang bangsa
Indonesia sebelumnya melakukan penyembahan terhadap benda-benda
tertentu atau penyembahan terhadap arwah nenek moyang mereka. Di
zaman berburu, masyarakat Pithecantropus Erectus masih nomaden
gaya hidupnya, di saat melakukan perburuan, mereka apabila
menjumpai batu besar, pohon tua besar, atau apapun yang dalam
anggapan mereka sakral, maka mereka akan memberikan
penghormatan dan sembahyang untuk benda-benda tersebut dengan
ritus seperti yang biasa mereka lakukan. Dalam anggapan mereka,
benda-benda tersebut memiliki kekuatan yang akan melindungi mereka
dari marabahaya yang mungkin akan mereka jumpai saat mereka
melakukan perburuan di hutan tersebut, sehingga untuk
menghindarinya, mereka perlu melakukan ritual khusus kepada sesuatu
yang mereka anggap sebagai juru kunci hutan.

Dalam koloni Pithecantropus Erectus, kepercayaan


dinamisme menjadi hal yang lumrah terjadi, dan dari kepercayaan ini
seringkali mereka memberikan sesajian terhadap apa yang mereka
sembah, selain batu dan pohon, koloni Pithecantropus Erectus hingga
Megantrophus Palaeo Javanicus dan Homo Sapiens yang mempercayai
kepercayaan dinamisme ini, mereka juga melakukan penyembahan
terhadap mata air, tempat sakral, goa, laut dan tempat-tempat yang
dianggap memiliki kekuatan gaib. Sesaji yang mereka berikan adalah
sebagian dari apa yang mereka dapatkan dari hasil perburuan.

Animisme juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari


kepercayaan manusia purba, mereka menganggap tetua mereka adalah
sebagai perwakilan dari para dewa, mereka menganggap tetua mereka
sebagai jembatan penghubung antara mereka dengan para dewa yang
memberikan kekuatan dan perlindungan, penghormatan berlebih inilah
yang kemudian menjadikan aliran baru dalam sistem kepercayaan
mereka. Para tetua yang telah meninggal, mereka menyembahnya
sebagai orang suci, mereka meyakini bahwa dengan menyembah
terhadap tetua moyang mereka yang telah meninggal, maka arwah para
moyang akan memberikan keselamatan terhadap mereka. Pada kasus
ini, maka masing-masing koloni akan berbeda siapa tuhan yang
mereka sembah karena berbeda pula tetua koloni yang sebelumnya.

Tesis yang sebenarnya penulis hendak ajukan dalam


penjelasan ringkas ini adalah, bahwa penulis meyakini bahwa agama
atau aliran kepercayaan merupakan bagian terpenting dari tingkatan
peradaban manusia pada eranya.

Untuk menguji tesis ini, penulis memberikan beberapa


hipotesis dan data-data serta analisis pendek mengenai kondisi yang
terjadi pada zamannya. Pertama bahwa dengan sistem masyarakat
purba awal, dimana kehidupannya masih nomaden dan
menggantungkan kehidupannya dari hasil perburuan hutan, setelah
mereka menemukan tempat dimana mereka akan menggantungkan
kebutuhan spiritual mereka (aliran dinamisme) maka mereka akan
meninggali atau tepatnya berdomisili di sekitar tempat tersebut dan
kemudian kehidupan mereka menetap, tidak lagi nomaden. Kedua,
aliran animisme dalam sejarah digambarkan bahwa nenek moyang
yang mereka sembah biasanya disimbolkan dengan tanda-tanda,
simbol-simbol atau hal lainnya, misalkan dengan mengawetkan
jenazah nenek moyang mereka, atau menguburkan di tempat tertentu,
maka dalam kepercayaan mereka, mereka tidak akan meninggalkan
arwah nenek moyang mereka dengan mereka kemudian menetap di
daerah tersebut dari yang sebelumnya masih nomaden.

Selanjutnya, pengujian arkeologis, sebagaimana telah sedikit


disebutkan dimuka, ada pembabakan sejarah yang didasarkan pada
media fisik perlengkapan yang mereka gunakan, yakni dari zaman batu
tua, zaman batu madya, zaman batu muda, zaman batu besar dan
zaman logam. Pada zaman batu tua, dimana sebagai alat untuk
membantu pekerjaan mereka masih terbuat dari batu yang ada disekitar
mereka, biasanya berupa kapak perimbas, tanpa dibentuk ulang,
dihaluskan permukaannya atau dibentuk ulang sedemikan rupa
sehingga menjadi lebih praktis dan efisien. Seiring dengan kebutuhan
ritual mereka, pada zaman batu madya, mereka telah sedikit
memberikan rasa seni terhadap alat-alat yang mereka gunakan, yakni
dengan menghaluskannya, membuat perabota lain yang diperlukan
serta telah menetap kehidupan mereka untuk memberikan
penghormatan terhadap arwah nenek moyang atau tempat yang mereka
anggap sakral. Setelah itu, pada zaman batu muda, nilai artistik mulai
nampak lebih istimewa, alat seperti kapak lonjong merupakan
pengembangan terbesar, sumbangan seni yang diberikan kepada alat-
alat penunjang kehidupan agar lebih maju dalam ritualnya. Pertanda
paling jelas ditemukan di zaman batu besar (megaliticum), dengan
ditemukannya menhir, dolmen, kubur batu (sarfokagus) dan alat
lainnya mereka benar-benar dapat dikatakan telah mengalami
kemajuan yang luar biasa, dalam ritual mereka, mereka telah mampu
menciptakan meja pemujaan dari batu, kubur besar untuk
menguburkan moyang mereka dan atau sanak famili mereka, bangunan
sakral dan sebagainya. Dengan diciptakannya tempat khusus ini, dapat
dikatakan pasti bahwa agama atau aliran kepercayaan merupakan elan
vital dalam pergeseran tata peradaban. Apalagi ketika melihat zaman
setelahnya, yakni zaman logam, pada era ini, alat-alat upacara
keagamaan telah dipoles sedemikian rupa hingga membentuk alat yang
sudah sangat maju di zamannya, alat seperti bejana perunggu,
perhiasan upacara dan lainnya semakin meyakinkan bahwa tidak dapat
disangkal bahwa agama atau kepercayaan merupakan salah satu faktor
penunjang terpenting dalam mengembangkan tatanan sosial
masyarakat purba.

Selanjutnya, dalam khazanah kepercayaan dan agama di


nusantara, penulis juga akan menambahkan tentang apa yang diyakini
sebagai agama oleh masyarakat zaman dahulu, yakni apa yang hari ini
dikenal sebagai agama Kapitayan6. Aliran ini menyembah kepada Sang
Hyang Taya, yang berarti kosong. Kosong yang dimaksud disini,
agama ini menganggap tuhan mereka ada, tetapi tidak berwujud, tidak
dapat dilihat. Ada esensinya, tetapi tidak nampak eksistensinya. Sang
Hyang Taya ini merupakan refleksi tuhan menurut keyakinan mereka.

Kapitayan berasal dari kata dasar Taya yang berarti kosong.


Kosong dalam filosofi kapitayan adalah menyembah kepada Sang
Hyang Taya yang tidak nampak dalam pandangan mata fisik, namun
keberadaan Sang Hyang Taya dapat dirasakan dan dilihat dalam
bentuk fisik berupa alam raya. Sang Hyang Taya, dalam pandangan
mereka, adalah hal yang transenden, yang memiliki pengaruh besar
sebagai pencipta, penjaga sekaligus penghancur alam raya beserta
semua kekayaan yang ada didalamnya.

Ritus-ritus keagamaan yang dilakukan oleh penganut


kapitayan adalah sembahyang (Sembah Sang Hyang) tiga kali dalam
sehari, yakni pada saat matahari terbit, matahari diatas kepala dan pada
saat matahari terbenam. Sembahyang dilakukan di sebuah bangunan
peribadatan dengan bentuk kotak persegi empat dengan satu pintu
berbentuk persegi panjang dengan bagian atas setengah lingkaran yang
memanjang Kedalam. Tempat ini mereka menamainya dengan

6 Mengenai Agama Kapitayan ini, penulis dapatkan data-data dari penulis buku Suluk Abdul Jalil,
Bapak Agus Sunyoto, pertama dalam diskusi Pelatihan Kader Lanjut (PKL) Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Hotel eL Piramid, Kebumen tanggal 23-27 Desember 2007,
pada diskusi selanjutnya dengan beliau penulis sering mengikutinya di Semarang, Solo, Jogjakarta,
Solotigo dan berbagai tempat lainnya. Sayangnya, penulis tidak mampu menyajikan referensi,
karena menurut Bapak Agus Sunyoto, referensi yang beliau gunakan adalah buku klasik dengan
bahasa Jawa Kawi dan Sansekerta, tidak ada penjelasan mengenai identitas buku-buku tersebut.
langgar. Orang yang masuk didalamnya harus dalam keadaan suci dan
harus melepas alas kaki yang dikenakannya.

Dalam setiap langgar, ada alat utama yang digunakan sebagai


media mengumpulkan masyarakat untuk bersembahyang berupa beduk
yang terbuat dari kayu berlubang dengan lapisan kulit binatang. Alat
ini dibunyikan pada saat menjelang prosesi persembahyangan dimulai.
Bentuk langgar yang kotak, dalam keterangan selanjutnya, adalah
representasi dari kepercayaan kadhang papat kalimo pancer, yakni
secara eksplisit melambangkan empat penjuru mata angin dengan satu
titik sentral (yang transenden) mengarah ke bagian atas. Dalam makna
implisitnya, kadhang papat kalimo pancer lebih mengarah pada
kesetaraan ruang fisik dan ruang bathin serta kaitannya mengenai
transendensi hubungan manusia dengan Sang Hyang Taya.

Agama kapitayan mengenal istilah to/tu. Setiap kata yang


mengandung kata ini adalah -ajaran yang dimiliki oleh kapitayan.
Sebagai contoh, ajaran-ajaran kebaikan mereka menyebutnya sebagai
tuah, sedangkan ajaran jahat mereka menyebutnya sebagai tulah,
representasi kekuatan baik sebagai tuhan, dan pernyataan atas
kekuatan jahat disebut hantu.

Dalam ritusnya, penggunaan kata to/tu masih terlihat,


keberadaan Sang Hyang Taya direpresentasikan dalam bentuk watu,
tumbak, tugu, tuk dan lainnya. Sementara itu dalam upacara
keagamaan mereka menggunakan sesaji berupa tumpeng dan sesaji
yang paling ekstrim berupa tumbal. Sesaji tersebut ditaruh Kedalam
tumbu. Sang Hyang Taya dalam kepercayaan mereka adalah Tuhan
yang memiliki kekuatan gaib yang mampu menciptakan, merawat dan
bahkan menghancurkan alam. Sehingga untuk mencegah
penghancuran itu, berbagai ritus keagamaan diadakan.

Peletak dasar agama kapitayan, dalam sejarah disebutkan,


bernama Semar (Bodronoyo). Semar selain mengajarkan tentang ritus
peribadatan seperti itu, juga mengajarkan tentang puasa, balasan
kebaikan berupa surgaloka dan balasan atas tindakan jahat manusia
berupa nerakasengkala. Dia juga mengajarkan tentang anjuran berbuat
baik terhadap sesama manusia karena pada akhirnya nanti setelah
meninggalnya manusia akan ada kehidupan selanjutnya yang
merupakan balasan atas kehidupan sekarang di dunia.

Bodronoyo, dalam mitologinya merupakan putra dari Sang


Hyang Tunggal dari telur yang di hasilkan dengan istrinya. Dimana
setelah telur tersebut dilahirkan, karena Sang Hyang Tunggal merasa
risih apabila dia mempunyai putra akhirnya telur tersebut dilemparkan
ke Arcapada (bumi), namun ditengah jalan, tepatnya di Kahyangan,
telur tersebut ditangkap oleh Sang Hyang Wenang, dan kemudian
diteruskan kembali untuk dilempar ke Arcapada. Dari telur tersebut,
lahirlah tiga orang, dari kuningnya lahir Sang Hyang Guru (Bethara
Guru) yang kemudian tinggal di Kahyangan, dari putihnya lahir Semar
Bodronoyo (Bethara Narada) dan dari cangkanya lahirlah Togog. Dua
nama terakhir tinggal di Arcapada dan menjadi Sang Pamomong
(Punakawan) para ksatria di Arcapada.

Kembali pada masalah utama tentang penduduk kepulauan


Nusantara, sebagai suku bangsa asli nusantara, Weda dan Negrito
merupakan suku yang cukup mampu melakukan adaptasi yang paling
sempurna terhadap keseimbangan ekosistem nusantara, dari iklim
hingga kekayaan alamnya, sehingga dengan pola hidup yang nomaden
sekalipun, mereka tetap tidak mengalami halangan yang berarti untuk
terus mempertahankan ras mereka.

Barulah sekitar 6.000-5.000 tahun sebelum masehi, terjadi


imigrasi besar-besaran dari Provinsi Yun’an, Tiongkok Selatan karena
di daerah asalnya terjadi peperangan, perampokan, pembunuhan,
penganiayaan dan kejahatan lain yang membuat penduduk Provinsi
Yuna’an tersebut tidak nyaman. Imigrasi yang terjadi secara besar-
besaran inilah yang kemudian membuat nusantara mengalami
pembaharuan ras dan perubahan komposisi penduduk, yang
sebelumnya hanya ada dua suku bangsa besar yang mendiami
nusantara, kini bertambah satu lagi, yakni imigran tersebut.

Rombongan besar imigran, yang sekarang oleh para pakar


sejarah disebut sebagai Proto Melayu (Melayu Tua) datang ke
nusantara mendiami dua wilayah secara garis besarnya, yakni di
wilayah Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan, mereka kemudian
mendirikan klan baru yang akhirnya menjadi suku bangsa terbesar di
Kalimantan, suku Dayak. Sementara yang ada di Sumatera, mereka
mendiami sebagian wilayah Sumatera bagian tengah dan utara dan
menjadi suku Batak.

Sementara itu, yang terjadi pada penduduk asli nusantara,


yakni suku Weda dan Negrito dengan Kedatangan para imigran
tersebut, sebagian besar menyingkir dan membuka lahan kehidupan
baru di wilayah timur nusantara. Kalau suku Negrito lebih ketimur
dalam pengembaraan pencarian hunian selanjutnya (Papua dan
Maluku) maka suku Weda memilih dalam menentukan tempat
tinggalnya di daerah Sulawesi dan beberapa kepulauan di Maluku.
Meskipun sebagian kecil diantara penduduk Negrito dan Weda yang
tetap tinggal di daerah asalnya, hidup berdampingan dengan para
imigran, dan tak jarang terjadi perkawinan silang antara dua ras ini.

Kedatangan suku imigran dari Tiongkok ini, membawa alur


baru dalam tatanan sosial di nusantara. Selain memperkenalkan
peradaban dan tradisi yang baru di nusantara, mereka juga
menanamkan pola kehidupan yang sebelumnya telah mereka kenal di
Tiongkok. Namun, dengan demikian bukan berarti mereka menutup
diri dari khazanah kearifan lokal yang ada, mereka tetap menggunakan
tradisi yang ada untuk kemudian mereka menyilangkannya dengan
tradisi yang mereka bawa dari daerah asal mereka.

Yang menarik adalah, bahwa para penduduk asli nusantara,


justru mereka yang melakukan migrasi ke wilayah timur nusantara,
tidak kemudian mempertahankan tanah yang mereka miliki untuk
menjadi tempat tinggal mereka. Justru dengan kehadiran para imigran,
seharusnya mereka berani bangkit untuk memilih imigran yang
menempati wilayah timur nusantara. Pertimbangannya adalah, bahwa
di wilayah timur nusantara, saat itu merupakan daerah yang paling
potensial untuk mempertahankan kehidupan apabila masih
menggunakan sistem kehidupan yang berburu (food gathering).
Dengan kemudahan akes konsumsi semacam inilah maka para
penduduk asli yang berpindah tempat.

Putaran waktu terus membuat para imigran ini merasa bahwa


nusatara adalah merupakan tanah air mereka, jiwa-jiwa nasionalisme
mereka mulai muncul. Mereka merasakan betul bahwa tanah air
nusantara adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri mereka, bahkan
beberapa garis keturunan kebawah yang telah mereka dapatkan di
daerah tersebut menjadikan rasa nasionalisme mereka semakin
terpupuk subur.

200 tahun sebelum masehi, setelah lebih dari 5.000 tahun


tidak pernah terjadi migrasi besar-besaran dari China, maka di dekade
abad ini, para imigran dari Tiongkok datang kembali ke nusantara
untuk sekedar berupaya menjadi warga nusantara. Menjadi bagian
yang penting dalam kesetaraan berbangsa di nusantara.

Para imigran gelombang kedua ini semakin lama semakin


banyak. Mereka mencari tempat baru untuk dapat melangsungkan
kehidupan mereka selanjutnya, dan keturunan mereka pada periode
kedepannya. Rombongan yang bernama Deutro Melayu (Melayu
Muda) ini kemudian memilih Jawa, sebagian Sumatera, Bali, Nusa
Tenggara dan beberapa wilayah lain yang dianggap mampu untuk
tujuan dasar mereka melakukan migrasi.

Deutro Melayu sebagai imigrasi terbesar pada eranya dan era


sebelumya itu yang kemudian ‘memaksakan diri’ menjadi penduduk
asli nusantara, dengan berbagai upaya mereka kemudian berusaha
untuk menjadi nomor pertama dalam kuantitas jumlah penduduk di
kepuluan nusantara agar di kepulauan nusantara memiliki ke khas-an
seperti mereka. Hari inipun terbukti, bahwa kekuatan deutro Melayu
justru berjumlah hampir tujuh puluh persen dari jumlah penduduk ras
lainnya di kepulauan nusantara.

Kelompok Deutro Melayu masuk ke kepulauan nusantara


dalam beberapa periode dan masing-masing periode imigrasi itu
membawa jumlah manusia yang berbeda-beda jumlahnya. Kadang
banyak, tak jarang pula datang hanya kisaran ratusan orang. Dengan
wilayah penyebaran di titik-titik yang berbeda.

Asal dari orang Melayu baik Melayu Tua maupun


Melayu muda ada beberapa ahli yang kontroversi mengenai asalnya.
Ada yang berpendapat behwa datangnya orang Melayu tersebut berasal
dari Campa (sekarang daerah Vietnam), dan pendapat yang kedua
adalah orang Melayu tersebut berasal dari Tiongkok Selatan atau
tepatnya daerah Yunnan, dan pendapat yang terakhir menyebutkan dari
Teluk Tonkin.

Namun terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, para


ahli sepakat behwa asal mula dari Manusia Melayu baik Melayu Tua
maupun Melayu Muda tersebut adalah berasal dari daratan Asia bagian
selatan.

Dari penyebaraan yang disebutkan diatas, ada beberapa jalur


yang dilewati dari perosees penyebaran tersebut. Proses penyebaran
orang Melayu Prasejarah, menyebar ke Selatan dari dataran Asia
melalui dua jalur. Dari penyebaran tersebut, jalur pertama malalui
daerah sekitar Yunnan menuju ke Siam, Semenanjung Indochina,
semenanjung Melayu, kemudian menyebrangi selat Malaka dan
sampai ke Sumatra dan beberapa pulau lainya. Jalur kedua adalah
melalui daerah sekitar Hoakian dan Kwanlung di kawasan daratan di
daerah Tiongkok selatan, menuju ke Taiwan dan kepulauan Filipina
dan sampailah di daerah Kalimantan, Jawa dan kepulauan lainnya. Dr
Fridollin membenarkan dari proses penyebaran tersebut, yaitu dari
hasil penelitian bahwa jenis ikan yang ada di sekitar perairan di
Kalimantan sama dengan yang berada di sumatera. Karena pada jaman
purbakala proses penyabarannya melalui daerah pesisir pantai dan
sungai-sungai besar. Maka adalah wajar jika dari Tiongkok proses
penyebarannya orang-orang Ras Melayu menyebar ke Indochina dan
Asia tenggara.

Berdasarkan dari proses penyebaran dari Manusia


purbakala dapat diambil kesimpulan bahwa asal ususl dari bangsa
Indonesia dalah beerasal dari ras campuran. Ditinjau dari ilmu
etnologi, ini merupakan hasil dari ras campuran dari ras Mongoloid
dan ras Negroit yang terdapat di Indochina.

Hasil study di bidang antropologi menyebutkan :

Ras Indonesia dalah terdiri dari beberapa Ras. Yaitu Ras


Negrito, yang keturunannya adalah Suku Tapiro di Irian
Jaya.

Wedda, yang keturunannya antara lain suku Toala di


Sulawesi barat daya dan suku Kubu di Sumatera Selatan.

Melayu Tua, keturunannya antara laian Suku Batak di


Sumatera Utara dan Suku Dayak di Kalimantan.
Dan yang terakhir adalah Melayu Muda yang keturunannya
dalah suku Jawa, Bali, Bugis, Makasar, Ternate, dan
suku-suku yang berbahasa Minangkabao. Golongan.

Panjangnya pembabakan sejarah inilah yang kemudian


membawa babak baru dalam era perkembangan peradaban manusia di
nusantara. Referensi tentang study arkeologi dan sosiologi
menyebutkan bahwa banyaknya jenis suku dan perbedaan secara
geografis akhirnya menciptakan tatanan tradisi sendiri, membuat adat
istiadat sendiri secara evolutif. Dan hal ini pula yang kemudian
membuat aliran kepercayaan yang ada di nusantara semakin lama
semakin berkembang.

Pada versi yang sedikit berbeda dan lebih spesifik objek


kajiannya, tentang sejarah penduduk Indonesia. Disebutkan, sebagai
ras campuran atas keberadaan ras induk dan ras pendatang. Untuk
membedah ini, penulis bersandar pada catatan Van Hien yang dikutip
oleh penulis lokal, Akhmad Khalil, M.Fill.I. Van Hien seorang
Javanologis Belanda yang menulis tentang hal yang terjadi dan ada
dalam pikiran masyarakat Jawa pada decade 1920-an. Meskipun buku
Van Hien menitikberatkan pada persoalan mistik dan keyakinan
masyarakat, namun materi pembahasan tentang Jawa, baik sebelum
atau sesudah pulau ini dihuni manusia banyak disajikan dalam buku
ini.

Melandaskan penelitian ini pada Van Hien disamping karena


hal diatas juga disebabkan karena kronologi sejarah nusantara yang
jelas dan tidak debatable adalah ketika telah memasuki zaman
Majapahit sekitar abad ke-12-13 masehi. Dan alasan lain mengapa
pembahasannya lebih banyak menyebutkan Jawa dibanding nusantara
secara umum adalah karena dalam catatan Van Hien, disebutkan
kemudian, pada zamannya merupakan satu kesatuan kepulauan besar
yang bersatu dengan Sumatera, Bali, Madura dan beberapa daerah
lainnya yang merupakan pecahan.

Van Hien mencatat keterangan terbaik mengenai keadaan


geologi pulau Jawa dapat ditemukan dalam tulisan kuno Hindu yang
menyatakan bahwa Jawa sebelumnya adalah pulau-pulau yang diberi
nama Nusa Kendang yang menjdi bagian dari India. Pulau ini
merupakan hamparan dari beberapa pulau yang kemudian karena
letusan gunung-gunung berapi dan goyngan dahsyat gempa bumi
pulau-pulau itu bersatu. Babad itu menceritakan bahwa pada tahun 296
M terjadi letusan gunung-gunung berapi yang berada di pulau itu,
sehingga gunung yang semula ada menjadi hilang dan memunculkan
gunung-gunung berapi baru.

Dicertitakan pula, 148 tahun kemudian, lebih tepatnya tahun


444 M terjadi gempa bumi yang memisahkan Tembini, darah bagian
selatan pulau Jawa menjadi pulau tersendiri. Pulau tersebut adalah
Nusa Barung dan Nusa Kambangan di selatan pulau Jawa.

Awal abad ke-13 tepatnya di tahun 1208 pulau sumatera


karena suatu musibah gempa juga terpisah dengan pulau Jawa. Begitu
juga pada tahun 1254, Madura yang semula bernama Hantara
mengalmi kejaian serupa, terpisah dari pulau induk. Kejadian tersebut
disusul oleh pemisahan Bali pada tahun 1293, Bali yang tadinya
bergandeng dengan pulau Jawa, akhirnya terpisah juga.

Sumber sejarah lain yang tidak beredar adalah berasal dari


manuskrip kuno yakni Serat Asal Kraton Malang berasal dari daerah
Turki, tetapi ada yang menyebut dri daerah Dekhan (India). Pda tahun
350 SM, Raja Rum, pemimpin ddari wilayah tersebut mengirim
perpindahan penduduk sebanyak 20.000 orang laki-laki dan 20.000
orang perempuan yang dipimpin oleh Aji Keler. Pengiriman ini adalah
pengiriman yang kedua setelah kegagalan pengiriman pertama pada
tahun 450 SM dengan kembalinya seluruh utusan yang dikirim.

Jawa saat itu masih bernama Nusa Kendang ditemukan


sebagai pulau yang ditutupi hutan dan dihuni berbagai jenis binatang
buas dan tanah datarnya ditumbuhi tanaman yang dinamakan Jawi.
Karena seluruh dataran pulau ini ipenuhi tanaman tersebut, maka ia
member nama pula ini dengan nama “Jawi”.

Karena nama Jawi msih umum dan meliputi seluruh daratan


pulau itu, mka gak sulit menentukan loksi pendaratan para utusan ini.
Akan tetapi, diperkirakan pendaratan itu terjadi di Semampir, yaitu
suatu tempat yang terletak dekat Surabaya saat ini.

Gelombang perpindahan kedua ini juga ternyata mengalami


kegagalan, karena yang tersisa dari 20.000 pasang manusia, saat itu
tinggal 40 pasang. Hal ini mendorong Raja untuk mengirim utusan lagi
dengna persiapan yang lebih matang dan penyediaan alat yang lebih
lengkap untuk menjaga dari serangan binatang buas seperti yang
dialami utusan pertama dan kedua.

Disamping peralatan pengamnan diri, mereka juga dibekali


dengan alat pertanian, sebagi alat bercocok tanam bila kelak berhasil
menempatinya dengan aman. Sementara itu, untuk mencegah agar
orang-orang supaya tidak melarikan diri, diangkatlah seorang
pemimpin dari kalangan mereka, tersebutlah yang terangkat adalah
Raja Kanna. Gelombang ketiga ini rupanya berhasil dan akhirnya
mereka menyebar ke pedalaman yang terbuka di pulau Jawa. Dari sisi
keyakinan orang-orang gelombang ketiga ini menganut keyakninan
animisme.

Pada tahun 100 sebelum masehi, terjadi lagi perpindahan


penduduk keempat yang terdiri dari kaum Hindu-Wasiya. Mereka itu
adalah para petani dan pedagang yang karena permasalahan keyakinan
mereka, mereka meninggalkan India. Warga pindahan kelompok
keempat ini menetap di daerah Pasuruan dan Probolinggo. Kemudian
mereka secara perlahan membuat koloni-koloni di selatan pulau Jawa
yang pusatnya terletak di Singosari.

Koloni ini terus berkembang dan membentuk kerajaan kecil


di daerah Kediri, naskah lontar menyebutkan bahwa saat itu, sekitar
tahun 900-an masehi, kerajaan tersebut dipimpin oleh Nyai Kedi,
dengan kerajaan bernama Medang yang juga dinamakan Kamulan.
Keturunan Hindu-Wasiya ini selain menamakan kerajaannya Medang
atau Kamulan juga terkenal dengan Ngastina atau Gajah Huiya. Raja
yang memerintah disana adalah Prabu Jayabaya yang sebelumnya
dipimpin oleh Prabu Airlangga.

Cerita lain menyebutkan, bahwa bada tahun 78 M, dari


kerajaan Astina (Gujarat) mengirim seorang utusan yang bernama Aji
Saka. Ia diutus untuk menyelidiki apa yang terjadi di kepulauan
nusantara. Sesampai di kepulauan tersebut, ia mendarat di bagian timur
pulau Jawa yang saat itu masih bernama Nusa Kendang. Ia berhasil
mengalahkan Prabu Dewatacengkar seorang raja yang sangat tidak adil
dalam memimpin masyarakatnya. Namun kemengangannya ini
akhirnya dipupuskan setelah anak dari Dewatacengkar, Daniswara,
mengalahkan Ajisaka. Dari Aji Saka inilah yang kemudian dijadikan
patokan permulaan tahun baru Saka. Perhitungan dalam kalender tahun
Jawa pada perhitungan peredaran bulan.

Agama secara resmi yang diakui keberadaannya saat ini,


yang muncul pertama kali adalah agama Hindu. Agama ini muncul
sekitar tahun 78 Masehi. Perkiraan angka ini dihitung dari perjalanan
tahun Sakka, kalender tahunan berdasarkan peredaran bulan yang
digunakan oleh orang-orang Hindu. Namun penyebaran secara
mendetail mengenai jalur peredaran agama Hindu tidak diketahui pasti,
pada era pasca 78 M, setelah munculnya kerajaan-kerajaan di
nusantara, barulah dapat diketahui melalui referensi arkeologis dan
penelusuran sejarah.

Sejarah menyebutkan, bahwa kerajaan yang pertama kali


muncul di nusantara adalah kerajaan Kutai Kutanegara pada abad ke-5.
Kerajaan inilah yang oleh para sejarawan disepakati sebagai kerajaan
tertua yang ada di nusantara.

Sumber sejarah tertulis satu-satunya dari kerajan kutai adalah


Yupa yang berjumlah tujuh buah. Yupa dalah sebuah batu prasasti
yang berhuruf palawa yang berbahasa sansekerta yang meyebutkan
bahwa kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) berdiri pada awal abad V
yang tepatnya dalah tahun 400 M. Yupa tesebut dikeluaran oleh
seorang raja yang bernama Mulawarman. Selain yupa terdapat Arca
yang bersifat kehinduan yaitu Mukalingga dan Arca Ganesa.

Silsilah dari Raja Kerajaan kutai tersebut terdapat pada salah


satu ketujuh Yupa. Yang menyebukan diantaranya Yang pertama kali
mendirian Kerajaan adalah Kudungga, dan dia mempunyai anak yang
bernama Mulawarman, dan dialah sebagai penerus kerajaan.
Aswawarmman Mempunyai putra bernama Mulawarman dan dia
sebagai generasi ketiga dari Kerajaan Kutai.

Ada juga yangberanggapan bahwa pendiri (wangsakarta)


kerajan Kutai adalah Aswawarmman, karena dialah sebagai raja yang
telah menganut agama hindu. Bukan Kudungga karena Kudunga
dianggap belum suci karena masih menganut agama nenek moyang7.

Pada era yang bersamaan, telah berdiri pula kerajaan di pulau


Jawa, dan para sejarawan juga menyepakati bahwa kerajaan ini
merupakan kerajaan tertua yang ada di Jawa. Kerajaan yang dimaksud
disini adalah kerajaan Tarumanegara, berlokasi di Jawa Barat.

7 Tentang agama yang dianut oleh Kudungga, agama nenek moyang yang dianut adalah agama
Kapitayan.
Sumber-sumber sejarah dari kerajaan Tarumanegara relatif
lebih baik dari pada kerajaan Kutai yaitu tujuh buah prasasti batu,
berita Cina dari Fa hien dari dinasti Soui, dan Tang, arca-arca Rajasri,
arca wisni Cibuaya I, arca Cibuaya II. Dari bukti-bukti tersebut
menyebutkan puji-pujian terhadap raja Purnawarmman.

Berita Cina menyebutkan bahwa pada abad VI ada sebuah


negara yang bernama To lo mo, yang dianggap merupakan dari lafal
Taruma. Berita dari dinasti Siou menyebutkan bahwa pada tahun 528
dan 535 datag utusan dari kerajaan To lo mo.

Ada juga yang menyebutan bahwa pada abad V sudah ada


kerajaan. Raja dari Kerajaan Tarumanegara tersebut disebutkan yang
pertama adalah Nenenda Raja, Radjadiradjaguru, dan yang terakhir
adalah sang Purnawarmman. Namun dari berita tadi tidak dapat
diketemukan sumber-sumber lain yang mengatakan demikian.

Perkembangan Agama dan Masayarakat di Trumanegara


berdasarkan data-data dan peninggalan. Kalau dilihat dari beberapa
peninggalan perhiasan, agama yang dianut pada waktu itu adalah
agama Hindu. Arca-arca tersebut ada kesamaannya dengan yang
diketemukan di siam kamboja dan semenanjung Melayu.

Menurut berita Cina, di Nusantara ini terdapat suatu bahasa


yang digunakan. Yaitu bahasa percampuran bahsa Melayu yang
bercampur dengan bahasa Sansekerta. Adapun mata pencaharian dari
masarakat setempat adalah berburu, penambang, dan peternakan.

Pada babakan abad selanjutnya pasca Kutai dan


Tarumanegara, di kepulauan nusantara kemudian muncul dua kerajaan
besar yang hampir menguasai selain secara geografis juga mengusai
secara ekonomis di perairan nusantara, kedua kerajaan ini (dalam
babakan waktu yang hampir bersamaan) kerajaan Melayu dan
Kerajaan Sriwijaya.
Keberadaan dari kedua kerajaan ini yaitu Melayu dan
Sriwijaya adalah tidak terlepas dari arus perdagangan dan
perkembangna agama Hindu dan Budha pada waktu itu yaitu anatara
India dan Cina. Para pedagang itu menempuh dua jalur perdagangan.
Yaitu jalur selatan dan jalur utara. Jika orang India menempuh jalur
utara, daerah singgahi adalah tanah semenanjung, dan disinilah letak
kota Kedah yang kemudian tumbuh menjadi pelabuhan yang sangat
penting, dan kemudian sampailah pada Sumatra tenggara, dan ditempat
itulah ditemukan tanda-tanda bekas berkembangnya agama hindu.
Adapun jalur selatan adalah melewati selat sunda dan membelok ke
utara, dan sampailah pula ke Sumatra tenggara. Di tempat itulah
kemudian tumbuh sebuah kerajaan Melayu, yang kemudian muncul
pula kerajaan Sriwijaya yang cukup besar dan relatif lama masa
pemerintahannya. Kemunculan kerajaan yang terakhir inilah yang
banyak di teliti oleh beberapa ahli baikk politik, pemerintahan,
ekonomi perdagangan, karena kerajaan ini dianggap sebagai kerajaan
maritim yang yang besar di Nusantara.

Menurut Berita Tiong Hoa, pada tahun 644 atau permulaan


645 menyebutkan adanya kerajaan yang bernama Mo lo Yeu, yang
dianggap sebagai nama kerajaan Melayu. Menurut berita itu
menyabutkan bahwa pada tahun itu kerajaan Melayu mengirimkan
utusan ke Tiongkok untuk mempersembahkan hasil-hasil buminya
kepada kaisar. Kerajaan Melayu ini berpusat di sekitar Jambi.

Sekitar tahun 685, nama Melayu tidak muncul lagi


setelah ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya. Baru pada sekitar
pertengahan abad XIII M dijumpai lagi nama Melayu yaitu dalam
kitab Pararaton dan Nagarakertagama, disitu menyebutkan pada tahun
1275 Raja Kertanagara menirimkan pasukan, yang dikenal dengan
Ekspedisi Pamalayu.
Keteranan lainnya jua dapat di jumpai pada masa
pemerintahan Tribuanatunggadewi (1328-1350). Rupa-rupanya
kerajaan Melayu muncul lagi sebagai pusat pemerintahan di Sumatra.

Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan di Nusantara yang


keberadaannya Relatif dapat dilacak. Karena kerajaan Sriwijaya pada
waktu itu adalah sebaai pusat perdaganann dan jua sebagai kerajaan
yang menpunyai kekuatan Maritim yang sangat kuat. Kerajaan ini
muncul pada abad VII dan pengaruhnya hilang samasekali pada abad
XIV M.

Pada abad VII merupakan awal berdirinya kerajaan


Sriwijaya. Seperti yang di sebutkan pada Prasasti Kedukan Bukit yang
berangka tahun 605 S (683 M) yang berisikan tentang penaklukan
Melayu yan sekaligus sebagai Masa awal berdirinya kerajaan
Sriwijaya, dan Prasasti Kota kapur 608 S (686 M) yang berisikan
tentang penaklukan Bangka dan keinginannya menaklukan bumi Jawa,
yang menurut G Coedes bumi Jawa diartikan sebagai kerajaan
Tarumanegara. Pada Prasati Talang Tuo yang berangka 606 S (684 M)
menyebutkan tentang maklumat untuk meengatur ketentraman dan
kesejahteraan dalam negeri. Dari situ dapat simpulkan bahwa
SSriwijaya telah berhasil meluaskan daerahna mulai Melayu atau
Jambi sekarang saampai ke pulau bangka dan daerah lampung selatan,
dan hampir juga meliuaskan kekuasaan nya sampai ke Jawa.

Agama yang dianut pada masa itu adalah Agama


Buddha, dan pada abad VIII awal sampai XI M merupakan sebagai
masa keemasan dari bertumbuhnya agama Buddha. Menurut cerita I
tsing Sriwijaya merupakan pusat pembelajaran dari agama Budha dan
bahasa sansekerta. Oleh karena itu bagi pendeta Budha dari bangsa
China yang hendak ke India bersinggah dulu di Sriwijjaya selama
kurang lebih satu atau dua tahun, kemudian baru meneruskan ke India.
Prasasti Nalanda yang yang didirikan sekitar abad IX
oleh raja Dewapaladewa menyebutkan tentang pendirian bangunan
biara di Nalanda oleh Raja Sriwijaya yang menganut agama Budha
yaitu yaitu Balaputradewa.

Masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, yaitu pada awal


abad XIII, Dari berita China oleh Chao Ju Kua. Dia juaga
menyebutkan bahwa pada sekiatar abad XII adalah masa kemunduran
Sriwijaya yangdiakibatkan oleh serangan dari sekutunya yaitu kerajaan
Cola untuk merebutkan wilayah perdagangan. Dan pada abad XIII
kekacauan itu dapat di selesaikan dan Sriwijaya muncul sebagai
kerajaan yang kuat.

Masa surut kerajaa Sriwijaya, pada abad XIV. Berita itu


dari Dinasti Ming, bahwa Raja San Fo Tse pada tahun 1376 telah
takluk oleh Jawa. Kemudian akibat dari serangan Jawa maka kondisi
internelnya sangat kacau sehingga bajak-bajak laut Cian berhasil
merebut daerah itu. Maka berakhirlah kerajaan Sriwijaya.

Kejayaan kerajaan di wilayah Sumatera ini, bersamaan


dengan itu juga terjadi proses pengembangan kerajaan di tanah Jawa,
satu permisalan yang muncul sebagai bagian dari alur sejarah adalah
kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno.

Kerajaan Mataram Kona adalah keraajaan yang berlatar


belakang agama Hindu dan Budha. Kerajan ini diperkirakan berdiri
sekitar abad VII-VIII sampai pertengahan abad X yang berdiri di
kawasan Jawa tengah. Kemudian pada abad X akhir kerajan ini
dipindah kewilayah Jawa Timur yang menurut beberapa pendapat
perpindahan disebabkan adanya letusan gunung Merapi.

Bukti dari berdirinya Kerajan Mataran Ini didapat dari


Prasasti Tuk Mas yang menyebutkan bahwa awal mual berdirinya
kerrajan tersebuat adalah awal abad VII. Diperkirakam juga bahwa
Kerajaan Mataran ini adalah adakaitannay dengan kerajaan Ho ling
atau Keling, yang diperintah oleh seorang Ratu yang adil yaitu Ratu
Shi-Mo yang berdiri pada tahun 640 (kerajaan beragama Budha).

Pada Prasati Muntiasih juga menyebutkan Bahwa


Sanjaya Raja Mataram telah membuat sebuah Lingga pada tanggal 6
Oktober 732. dan diprasasti itu juga menyebutkan adanya Raja Yang
bernama Sanna yang memerintah dengan kasih sayang dan lembut.

Ada yang berpendapat bahwa ada dua Wangsa yang


berkuasa di Mataram (Jawa Tengah) Yaitu wangsa Sanjaya dan
Wangsa Sailendra. Akan tetapi menurut beberapa pendapat bahwa
Sanjaya adalah keturunan dari Dapunta Saelendra. Jadi Sanjaya adalah
keturunan dari wangsa Sailendra.

Sanjaya dianggap sebagai pendiri pertama di Mataram


karena Dia dianggap yang telah berhasil menyatukan Mataram setelah
Sanna, pamannya Sanjaya mangkat kerajan menjadi kacau, dan
Sanjayalah yang berhasil mengkondisikan Kerajaan.

Proses ini menurut kepercayaan bahwa Sanjaya adalah


Raja yang ke 5. karena menurut kepercayaan raja yang ke 4 adalah
masa kekacauan kerajaan. Jadi menurut beberapa pendapat bahwa
diperkirakan diantara Dapunta Sailendra dan Sanna atau diantara
Sanna dan Sanjaya ada seorang lagi yang menduduki sebagai Raja.
Akan tetapi pendapat itu tidak diperkuat dengan bukti-buktinya.

Raja-raja di Mataram Kuna hasil Penafsiran terhadap dua


Prasasti Muntyasih, 907 M dan Wanua Tengah III.(Raja setelah
Sanjaya)

Nama Raja Tahun (M)


Sanjaya Tak disebut
Rake Panangkaran 746-784
Rake Panunggalan 784-803
Rake Warak 803-827
Dyah Gula 827-828
Garung 828-847
Rake Pikatan 847-855
Kayuwangi Lokapala 855-885
Dyah Tagwas 885-885
Panumwangan 885-887
Gurun Wangi 887-887
Rake Wukal 894-898
Watu Kuro (Balitung) 899-911
Daksottama 911-915
Dyah Tolodong 915-923
Dyah Wawa 923-929
Mpu Sendok 929-
Pada pertengahan abad ke X Mataram dipindah Oleh
Mpu Sendok ke daerah Jawa Timur yang menurut beberapa penelitian
permindahanya di akibatkan meletusnya gunuang Merapi.
Berdasarkan beberapa keterangan dapat di ketahuai
behwa pendiri kerajaan Mataram di Jawa Timur adalah Mpu Sendok.
Menurut Prasati Paradah (943) kerajaan ini mengalami masa
kemreosotan ketika dipimpin Oleh Darmawangsa Teguh. Kemudian
Airlangga keponakan Darmawangsa berhasil mengemBalikan
Kerajaan Mataran dan membawa Mataram Pada puncak keemasan.

Setelah Kerajaan Mataram (Jawa Timur) yang dipimpin oleh


Airlanga mengalami masa keemasan maka Ia ingin menyendiri dan
bertapa. Sehingga untuk menanggulangi perpecahan maka di baginya
kerajaan menjadi dua yaitu Jenggal dan Panjalau. Dari sinilah mulai
timbul berbagai persoalan yang akhirnya munncul kerajaan Singasari.

Pembagian kekuasaan yang dilakukan oleh Airlangga


adalah kerajaan menjadi dua yaitu Kerajaan Panjalu (Keda) untuk
putra Dharmawangasa Teguh, iparnya dan kerajaan Jenggala untuk
putranya. Menurut para sejarawan perpecahan tersebut mengalami
puncaknya setelah wafatnya Raja Airlangga yang kemudian terjadi
saling ketidakpuasan antara kedua belah pihak, yang kemudian
ditentukan dengan jalan perang. Dalam peperangan tersebut Kerajaan
Jenggala mengalami kekalahan yang kemudian dijadikan daerah
kekuasaan oleh Kerajaan Panjalu (Keda) sampai kemudian Kerajaan
Panjalu mengalami masa keemasan.

Raja terakhir dari Kerajaan Panjalu adalah Srengga atau


Kertajaya yang kemudian mengalami kemerosotan setelah mendapat
serangan dari Ken Arok dari Tumapel dan kemudian pada tahun 1222
Panjalu ditaklukkan oleh Ken Arok.

Menurut para sejarawan, setelah kekalahan Panjalu dan


Jenggala oleh Ken Arok, kemudian disatukanlah dua kerajaan tersebut
menjadi Kerajaan Singasari. Kemunculan tokoh Ken Arok itulah
kemudian dipercayai munculnya wangsa baru yaitu Rajasawangsa atau
Girindrawangsa dan Wangsa inilah yang berkuasa di Singasari. Raja
Singasari yang terakhir adalah Raja Kertanagara.

Dalam perjalanannya Kerajaan yang dipimpin oleh Ken


Arok tersebut banyak sekali mengalami berbagai gejolak, baik gejolak
politik, ekonomi, sosial dan budaya yang banyak mempengaruhi
perkembangan kerajaan tersebut.

Permasalahan politik yang mendasar adalah ketika


munculnya Ken Arok menjadi penguasa di Tumapel yang menurut
cerita, naiknya Ken Arok adalah ketika dia telah berhasil membunuh
Tunggul Ametung.

Dari situlah muncul berbagai gejolak politik dan


permasalahan kekuasaan yang dampaknya sangat negatif terhadap
perkembangan ekonomi dan permasalahan sosial. yaitu saling
berebutnya kekuasaan antara keturunan dari Ken Arok dan dari
keturunan Tunggul Ametung. Kondisi yang semacam itu mulai
membaik ketika naiknya Kertanegara menjadi penguasa di Singasari.
Munculnya Kertanegara menjadi penguasa sangat mempengaruhi
perkembangan disegala bidang baik permasalahan kenegaraan dan
permasalahan sosial.

Langkah awal yang dilakukan Kartanegara adalah


menguatkan legitimasi kekuasaan atau pemutlakan kekuasaan. Salah
satu dari tindakan untuk mengokohkan kekuasaan adalah mengadakan
ekspedisi militer ke berbagai daerah baik di Jawa, Bali, bahkan sampai
ke sumatra. Ekspedisi itu tampaknya tidak hanya untuk perluasan
ekonomi, tapi juga untuk keinginan akan kebesaran kekuasaan.
Diceritakan pula pada masa kekuasaan Kertanegara datang utusan dari
kerajaan Cima yang pada waktu itu diperintah oleh Kaisar Khubilai-
Khan yaitu permintaan kerajaan Cina kepada Singasari untuk tunduk
dan memberikan upeti. Akan tetapi permintaan tersebut disambut
dengan dipotongnya telinga utusan dari Kaisar Khubilai-Khan tersebut
dan menyerukan perlawanan. Setelah penghinaan yang dilakuakan
Kertanegara tersebut maka Khubilai-Khan akan mengutus pasukan
untuk menyerang Kertanegara.

Dalam bidang keagamaan Kertanegara melakukan


langkah-langkah yaitu menganut agama Buddha Tantrayana aliran
Kalacakra. Aliran ini memuja teradap Siwa Hairawa. Tujuan akhir dari
pemujaan ini adalah Sunyaparananda, yaitu sebagai adibuddha yang
abadi.

Pada pemerintahan Kertanegara tidak begitu tampak


kemajuan dibidang ekonomi. Menurut para sejarawan yang
mengakibatkan adalah faktor internal kerajaan yang disibukkan dengan
permasalahan untuk penguatkan legitimasi kekuasaan.
Jayakatwang, salah seorang dari keturunan Kertajaya
(keturunan Tunggul Ametung) setelah lama menghimpun kekuatan
akhirnya melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan
Kertanegara. Dan akhirnya Kertanegara dapat dikalahkan oleh Jaya
Katwang dan menggantikan kekuasaan di Singasari. Kemudian anak
dari Kertanegara yaitu Raden Sanjaya berhasil merebut kembali
Singasari dengan bantuan pasukan Cina yang semula tujuan
Kedatangan pasukan Cina tersebut untuk menyerang Kertanegara.
Akan tetapi Kertanegara sudah terbunuh oleh Jaya Katwang.

Setelah Raden Sanjaya dapat menguasai Kerajaan


Singasari, maka Raden Sanjaya merubah Singasari menjadi Majapahit.
Dari situlah maka berakhirlah kerajaan Singasari yang menurut
sejarawan ada yang menyebut bahwa yang pertama kali mendirikan
Singasari adalah Ken Arok, dan ada yang menyebut bahwa yang
pertama kali mendirikan Singasari adalah Kertanegara.

Kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan besar di Jawa yang


berhasil menguasaai hampir seluruh nusantara. Keberadaan kerajaan
ini sejak akhir abad XIII hingga akhir abad XVI M. Meskipun
keberadaan Kerajaan tersebut dan kekuasaannya termasuk sebentar
hanya sekitar tiga abad, akan tetapi pengaruh kekuasaan tersebut
begitu hebat. Hal tersebut di karenakan politik kekuasaan yang
dilakukan oleh Majapahit sangat baik dan mampu mewarnai hampir
seluruh nusantara. Kemerosostan kerajaan ini dimulai setelah
sepeninggalnya Raja Hayam Wuruk. Karena sepeninggalnya banyak
terjadi kemelut dan terjadi perebuatan kekuasaan antara Keluarga
Kerajaan. Kehancuran Majapahit lebih dipertegas lagi setelah
mendapat serangan dari Pati Unus, Demak.

Keberadaan dari Kerajaan Majapahit melalui proses yamg


sangat panjang. Embrio Kerajaan Majapahit ini diperkirakan dari
Kerajaan Singasari. Setelah Kertanegara gugur oleh pemberontakan
yang dilakukan oleh Prabu Jayakatwang, Maka Kerajaan yang menurut
para sejarawan didirikan oleh Ken Arok dari Tumapel tersebut
dikuasai oleh Wangsa Isyana. Dari dikalahkannya Kertanegara tersebut
maka keturunan dari Kertanegara yaitu Raden Wijaya. Dia berusaha
merebut kembali kekuasaan moyangnya. Dari Geneologinya Wijaya
adalah termasuk dari keturunan Ken Arok dan Ken Dedes. Kemudian
ia diambil menantu oleh Kertanegara. Menurut Prasasti Kudadu 1294
M, Wijaya adalah yang di utus oleh Kertanegara untuk memimpin
pasukan Singasari untuk menghadang serangan dari arah utara,
kemudian dia kalah karena dihianati oleh Arddharaja dan melarikan
diri ke Madura. Dalam pelariannya Wijaya di dampingi oleh beberapa
orang diantaranya Sora, Ronggo Lawe dan Nambi, anak dari Aryya
Wiraraja. Pelariannya ke Madura tersebut atas anjuran dari Nambi,
untuk itu pelarian Wijaya tesebut dapat diterima oleh Aryya Wiraraja.
Setelah berada di Madura, Wijaya mendapat anjuran dari Wiraraja
untuk kembali ke Kediri dan menyerah kepada Jayakatwang. Wijaya
mendapatkan kepercayaan penuh oleh Jayakatwang, sehingga ketika ia
meminta hutan Terik untuk dibuka sebagai Desa. Daerah tersebut
dibuka oleh Wijaya dengan bantuan Wiraraja, dan diberi nama
Majapahit.

Pada tahun 1293 datang bala tentara dari Khubilai Khan


yang sebenarnya untuk menyerang Singasari yang hendak menghukum
Kertanegara di pelabuhan Tuban. Cerita perang tersebut disebutkan
dalam Tarih Tiongkok dengan jelas. Tertera Tatar (baik dalam
Pararaton maupun Nagarakertagama memakai nama Tatar) yang
berjumlah sekitar 20.000 pasukan yang dipimpin oleh Shih-Pi, I-Ke-
Me-Se dan Kau-Hsing. Kedatangan pasukan ini merupakan
kesempatan yang yang baik bagi Wijaya untuk membalas kepada
Jayakatwang. Kemudian Wijaya mengirimkan utusan kepada pimpinan
tentara Tartar bahwa ia tunduk kepada kekuasan Cina bersedia
membantu untuk menyerang Kediri. Diterimanya usulan Wijaya
tersebut dan akhirnya Wijaya dengan bantuan Tatar berhasil
mengalahkan Jayakatwang

Menurut tarih Tiongkok menyebutkan Jayakatwang


dibunuh, tetapi menurut Pararaton menceritakan bahwa Jayakatwang
dipenjarakan di Jenggaluh (Hujing Galuh). Dalam penjara ia
mengarang Kidung “Wukir Polaman” dan setelah sesai wafatlah
Jayakatwang. Matinya Jayakatwanng maka beakhirlah kekuasaann
Wangasa Ishana.

Setelah mampu mengalahkan Jayakatwang, ia berbalik


menyerang tentara Tatar. Dengan demikian maka Wijaya mampu
mendirikan kekuasaan moyangnya dan ia menobatkan diri menjadi
Raja Majapahit pada tahun 1215 saka (1293) dengan gelar Kertarajasa
Jayawardhana.

Pararaton menyebutkan mengapa Wijaya melakukan


penyerangan terhadap Tatar karena pasuakkn Tatar hendak membawa
putri-putri Kertanegara sebagai jarahan ke Cina.

Raden Wijaya menaiki tahta Kerajaan Majapahit atau


dengan nama sansekerta Tiktawilwa atau Wilwatikta dengan nama
Kertarajasa Jayawardhana (1293-1308)

Beberapa masalah kenegaraan Majapahit setelah


kenaikan Kertarajasa sampai dengan keruntuhan Kerajaan :

No Raja Tahun Masalah Sumber masalah


1 Kertarajasa 1295 Pemberontakan Tidak puas dengan
Ronggolawe kedudukan yang
diperoleh
2 Kertarajasa 1298-1300 Pemberontakan Difitnah oleh
Lembu Sora Jayapatni, sebagai
pembuat kerusuhan
3 Jayanegara 1316 Pemberontakan Difitnah oleh
Nambi Mahapatni
4 Jayanegara 1318 Pemberontakan Difitnah Oleh Nambi
Semi
5 Jayanegara 1319 Pemberontakan Difitnah oleh Nambi
Kuti
6 Jayanegara 1328 Ra Tanca Pembunuhan raja oleh
Tanca
7 Tribuanatungga 1331 Pemberontakan di
dewi Sadeng dan Keta
8 Tribuanatungga 1343 Penaklukan Bali Raja Bali yang jahat
dewi dapat dibunuh
9 Hayam Wuruk ? Perang Bubar Hayam Wuruk
menghendaki Dyah
Pitaloka sebagai
permaisuri. Gajah
Mada menginginkan
agar raja Sunda
mempersembahkan
Putrinya sebagai
tanda takluk, akan
tetapi raja Sunda tidak
mau.
10 Suhita 1401-1406 Peristiwa Pertentangan
Paregrek Wikramawardana
dengan Bre Wirabumi
yang tidak puas
terhadap kedudukan
Suhita sebagai Raja.
11 Suhita 1433 Pembunuhan Balas dendam dari
Raden Gajah keluarga Wirabumi
Karena R Gajah telah
membunuh Wirabumi
12 Rajasawardhana ? Memindahkan Keadaan politik
pusat Majapahit telah
pemerintahan di memburuk akibat
Keling-Kauripan pertentangan keluarga
dan beberapa daerah
bawahan melepaskan
diri.
13 1453 Masa kekosongan Akibat adanya
pertentangan keluarga
untuk merebutkan
kekuasaan,
memperlemah
kedudukan. Sehingga
tidak ada yang
muncul menjadi
penguasa.

Pasca runtuhnya Majapahit, yang oleh para seniman di eranya


disebut dengan istilah sirna ilang kertaning bhumi, selain dari factor
internal di kerajaan tersebut yang penuh dengan konflik, perebutan
kekuatasaan, juga dipengaruhi oleh banyak factor lainnya dari luar.
Konflik di internal yang terjadi membuat kerajaan Majapahit yang
besar dengan ratusan Negara-negara kecil dibawahnya memisahkan
diri dan membentuk pemerintahan sendiri tanpa ada intervensi dari
Majapahit.
Dengan melepaskan dirinya Negara-negara kecil dibawah
Majapahit, maka kekuatan militer Majapahit semakin melemah, hingga
akhirnya pada medio abad ke-15 kerajaan terbesar di nusantara ini
diserang dengan kekuatan militer Demak hingga runtuhlah kekuasaan
mereka.

Sementara di Demak, berdirilah kerajaan Islam pertama yang


didirikan oleh Raden Patah paa tahun 1478. Raden Patah adalah putra
Raja Majapahit, Brawijaya, dengan iu keturunan Champa (Daerah
yang sekarang adalah perbatasan Kamboja dan Vietnam).

Pada awal abad ke-14, Kaisar Yan Lu dari Dynasti Ming


mengirmkan seorang putri kepada Brawijaya di Kerajaan Majapahit
sebagai tanda persahabatan kedua negara. Putri yang cantik jelita dan
pintar ini segera mendapatkan tempat istimewa di hati raja. Raja
Brawijaya sangat tunduk pada semua kemauan sang putri jelita, yang
nantinya membawa banyak pertentangan dalam istana Majapahit.

Pada saat itu, Raja Brawijaya sudah memiliki permaisuri


yang berasal dari Champa, masih kerabat Raja Champa dan memiliki
julukan Ratu Ayu Kencono Wungu. Makamnya saat ini ada di
Trowulan, Mojokerto. Sang permaisuri memiliki ketidakcocokan
dengan putri pemberian Kaisar Yan Lu.

Akhirnya raja Brawijaya dengan berat hati harus


menyingkirkan Puteri cantik ini dari Majaphati. Dalam keadaan
mengandung putri cantik itu di hibahkan oleh Raja Brawijaya kepada
Adipati Palembang, Arya Sedamar. Dan disanalah Jim-Bun atau Raden
Fatah dilahirkan. Dari Arya Sedamar, ibu kandung Raden Fatah
memiliki anak laki-laki dan menjadi saudara kandung beda ayah
dengannya.

Setelah memasuki usia belasan tahun, Raden Patah, bersama


adiknya, dan diantar ibunya berlayar ke Pulau Jawa untuk belajar di
Ampeldenta. Raden Patah mendarat di Pelabuhan Tuban sekitar tahun
1419 masehi. Jim-Bun atau Raden Patah sempat tinggal beberapa
lama di Ngampeldenta, di rumah pamannya, Sunan Ampel dan juga
bersama para saudagar besar muslim lainny ketika itu. Di Ampeldenta
Raden Patah mendapatkan dukungan dari rekan-rekan utusan Kaisar
Cina, Panglim Cheng Ho atau juga dikenal Dampu Awang atau Sam
Poo Tai-Jin, panglima berasal dari Xin-Kiang yang beragama Islam.

Dengan dukungan moral yang banyak diberikan dari para


saudagar muslim dan para ulama saat itu, bersama dengan beberapa
ulama, Raden Patah mendirikan kerajaan Demak yang terletak di
sebelah timur Sam Poo Toa Lang (sekarang Semarang). Kejayaan
kerajaan Demak di bawah Raden Patah terbukti mampu menjadi
kekuatan besar yang tak tertandingi di zamannya.

Bahkan, dengan kekuatannya dan kewibawaannya, dia


mampu membuat pasukan gabungan dari Demak, Tuban, Banten dan
beberapa kerajaan besar lain di Sumatera untuk melakukan
penyerangan terhadap Portugis di Malaka dibawah komando Adipati
Unus. Hingga pada tahun 1518, Raden Patah yang sudah cukup umur
akhirnya mangkat dan tahta kerajaan Demak digantikan oleh anak
menantunya Adipati Unus yang karena prestasinya melawan Portugis
di Malaka ia mendapat gelar Pangeran Sabrang Lor.

1521 Masehi, Adipati Unus kembali membuat tentara


gabungan dan melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka.
Namun karena jumlah tentara yang tidak sebesar ekspedisi pertama
serta terbatasnya amunisi perang akhirnya Adipati Unus gugur dalam
pertempuran ini. Dan tahta kerajaan secara otomatis jatuh ke tangan
adik iparnya, Sultan Trenggono.

Di bawah Sultan Trenggono, Demak mengalami kemunduran


dan kemajuan yang mencolok. Dikatakan kemunduran karena
Trenggono tidak lagi melanjutkan misi besar Adipati Unus yang
membangun armada perang angkatan laut seperti zaman Majapahit,
dimana telah terbukti dengan kekuatan armada laut Demak semakin
Berjaya di tengah kerajaan besar yang ada. Oleh Trenggono, kekuatan
armada laut yang berpusat di Jepara akhirnya ditutup, kapal-kapal
besar yang belum selesai dibuat akhirnya dibiarkan begitu saja.
Sebagai gantinya, Trenggono memperkuat armada pasukan darat,
yakni pasukan kuda dan pasukan kaki.

Oleh Trenggono pasukan ini diberikan kepada Fatahilah


untuk melakukan penyerangan dengan jalur darat ke Jayakarta.
Perubahan pasukan ini ternyata membuat konflik cukup besar di dalam
istana, sehingga Ibunda Trenggono, Ratu Aisyah memilih untuk keluar
istana dan menempati rumah Adipati Unus di dekat pelabuhan Jepara.

Paska meninggalnya Sultan Trenggono, kerajaan dipimpin


oleh Sunan Prawoto, disinilah awal kemuduran kerajaan Demak
dimulai. Dengan menyerahkan tampuk kekuasaan ke Sunan Prawoto,
adik dari Sultan Trenggono yang juga merasa berhak atas kekuasaan di
Istana melawan Sunan Prawoto. Pangeran Seda Lepen ini kemudian
dibunuh oleh pasukan Sunan Prawoto karena melakukan aksi makar.

Tidak terima dengan perlakuan Sunan Prawoto yang


membunuh ayahnya, Arya Penangsang, putra kandung Pangeran Seda
Lepen akhirnya menghabisi Sunan Prawoto dan seluruh keluarganya
pada tahun 1561. Terbunuhnya Sunan Prawoto oleh orang suruhan
Arya Penangsang membuat Arya Penangsang naik takhta, oleh
kekhawatiran adanya dendam dari saudara atau orang dekatnya Sunan
Prawoto, Arya Penangsang juga memerintahkan pasukannya untuk
menghabisi Adipati Jepara. Kematian Adipati Jepara di tangan Arya
Penangsang membuat banyak Adipati memusuhi Arya Penangsang.

Dari balik layar, kekuatan yang dibangun oleh Joko Tingkir,


menantu dari Sunan Prawoto, berhasil membunuh Arya Penangsang.
Membaca situasi Demak yang tidak mungkin diselamatkan, akhirnya
Joko Tingkir memilih untuk memindahkan istanannya ke daerah
Pajang dan mendirikan Kesultanan Pajang.

Pada awal berdirinya, tahun 1549, kerajaan Pajang memiliki


Wilayah meliputi Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur
banyak yang melepaskan diri setelah kematian Sultan Trenggana.
Namun pada tahun 1568 Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) dan para
adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh sunan Prapen.
Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan
Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik,
Panji Wiryakrama dari Surabaya (Panji Wiryakrama adalah pemimpin
dari persekutuan adipati di Jawa Timur) dinikahkan dengan putri
Sultan Hadiwijaya. Untuk semakin memperluas wilayahnya, Sultan
Hadiwijaya kemudian memberikan putrinya kepada Raden Pratanu
atau Panembahan Lemah Dhuwur untuk dinikahkan sebagai symbol
kontrak politik antara kasultanan Pajang dengan kadipaten Madura.

Sebelum jauh, sedikit menyusupkan pada tahun pertama


berdirinya kerajaan Pajang, tepatnya di tahun 1549 terjadi
pemberontakan yang dilakukan oleh Arya Penangsang. Untuk
menumpas pemberontakan itu, Sultan Hadiwijaya akan
menghadiahkan tanah di Pati dan Mataram kepada siapapun yang
mampu menumpasnya. Tersebutlah dalam sejarah tersebut bahwa
pemberontakan itu berhasil diredamkan oleh Ki Ageng Pemanahan dan
Ki Penjawi.

Ki Penjawi pada tahun 1549 mendapatkan tanah Pati sebagai


hadiah atas penumpasan tersebut. Hal lain terjadi pada Ki Ageng
Pemanahan atas keberhasilan membunuh Arya Penangsang, konon
melalui tangan Sutawijaya, anak dari Ki Ageng Pemanahan,
mendapatkan hadiah tanah Mataram dan menjadi adipati di daerah
tersebut setelah beberapa tahun kemudian, yakni pada tahun 1556, itu
saja dibantu oleh Sunan Kalijogo.

Penundaan pemberian hadiah kepada Ki Ageng Pemanahan


oleh Sultan Hadiwijaya karena Sultan mendapatkan berita ramalan dari
Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan besar yang
besarnya melebihi Pajang.

Tahun 1975 Sutawijaya menggantikan ayahnya Ki Ageng


Pemanahan menjadi adipati di Mataram. Kemampuannya memimpin
kadipaten ini, membuatnya semakin besar dan daerahnya menjadi
makmur. Tahun 1582 konflik antara Pajang dan Mataram muncul.
Sutawijaya sebagai penguasa Mataram harus membela adik iparnya
yaitu Tumenggung Mayang yang di hukum buang ke Semarang atas
perintah dari Sultan Hadiwijaya.

Konflik yang semakin menajam ini membuat terjadi perang


besar-besaran. Jumlah tentara Pajang berkali-kali lipat dari jumlah
tentara yang dimiliki oleh Mataram. Namun Sutawijaya tidak
kehilangan akal. Dengan kemampuan dan pengalaman perangnya, dia
berhasil memukul mundur tentara Pajang dan memenangi peperangan.

Kekalahan perang membuat beban pikiran dan moral Sultan


Hadiwijaya semakin berat. Dengan beban itu membuatnya sakit,
semakin hari sakitnya semakin parah dan akhirnya meninggal dunia.
Kematian Sultan Hadiwijaya mewariskan tahta kerajaan Pajang yang
pada akhirnya diperebutkan oleh dua orang keturunannnya yakni
Pangeran Benawa dan Arya Pangiri. Atas dukungan dari Paenembahan
Kudus, pada tahun 1583, Arya Pangiri naik tahta menjadi raja dari
kerajaan Pajang.

Pemerintahan Arya Pangiri dalam perjalanannya disibukkan


dengan upaya balas dendam pada Sutawijaya di Mataram. Karena
sibuknya memerangi Mataram maka kehidupan rakyat Mataram
terabaikan. Yang diutamakan adalah memperkuat tentara untuk
berperang melawan Mataram. Keadaan ini membuat Pangeran Benawa
yang telah tersingkir ke Jipang menjadi prihatin.

Tiga tahun setelah Pajang dipimpin oleh Arya Pangiri, 1586,


Pangeran Benawa akhirnya menentukan sikap, dia memilih bersekutu
dengan Sutawijaya di Mataram. Pangeran Benawa sadar bahwa
pilihannya bersekutu dengan Sutawijaya yang telah membunuh Sultan
Hadiwijaya adalah dosa yang tak termaafkan, namun dia sadar bahwa
tidak ada kekuatan lain yang mampu melawan Pajang kecuali dari
kekuatan Mataram, berangkat dari hal ini, Pangeran Benawa
menganggap Sutawijaya sebagai saudara tua. Di tahun yang sama itu,
pasukan besar dari Mataram dengan bantuan Pangeran Benawa
menyerbu Pajang. Kedua armada perang setelah bertempur besar-
besaran diakhiri dengan kekalahan Arya Pangiri. Kekalahan Arya
Pangiri ini harus ditebus dengan harga yang mahal, selain mengalami
tekanan yang begitu besar, dia juga diturunkan dari tahtanya sebagai
raja Pajang dan dikembalikan ke negeri asalnya, Demak. Dan secara
otomatis, Pangeran Benowo sebagai pihak yang memenangkan perang
menduduki tahta menjadi raja Pajang ketiga.

Pangeran Benowo memimpin Pajang dengan adil hingga


akhir hayatnya, namun masalah menghampiri tatkala ia meninggal, tak
ada putra mahkota yang menggantikannya. Sehingga keputusan yang
diambil paska meninggalnya beliau adalah Pajang menjadi wilayah
kecil Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Gagak Bintang, adik
kandung dari Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri mendirikan kerajaan Mataram dan


sekaligus menjadi raja pertama dengan gelar Panembahan Senopati.
Awalnya wilayah kerajaannya hanya di sekitar Jawa Tengah saja,
namun setelah mewarisi wilayah Pajang menjadi luas cakupan
wilayahnya hingga Jawa Timur dan Madura. Pusat pemerintahan
berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota
Yogyakarta dan selatan Bandara Adi Sucipto sekarang. Lokasi keraton
(tempat tinggal raja/istana) berada di daerah Banguntapan, kemudian
dipindah ke Kotagede. Setelah beliau meninggal dan dimakamkan di
Kotagede. Kerajaan ini diteruskan oleh putranya Mas Jolang yang
bergelar Prabu Hanyokrowati.

Sayangnya kekuasaan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung


lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di
hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak
atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat di
Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat
Mas Jolang yang begelar Adipati Martopuro. Ternyata Adipati
Martopuro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih keputra
sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.

Sesudah naik tahta, Mas Rangsang bergelar Sultan Agung


Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung.
Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa.
Wilayah Mataram mencakup pulau Jawa dan Madura. Ia memindahkan
lokasi keratin ke Kerta. Akibat dari gesekan dalam penguasaan
perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia,
Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan
Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram
melawan VOC. Setelah wafat, Sultan Agung dimakamkan di Imogiri
dan digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I.

Demikian seterusnya hingga perpecahan kerajaan Mataram


menjadi dua setelah perjanjian Giyanti, perpecahan ini membagi
kerajaan Mataram yang berpusat di Kasunanan Solo dan Kasultanan
Ngayogyakrta Hadiningrat hingga saat ini.

Konstruksi Sosiologis Islam Indonesia

Membahas Konstruksi Islam di nusantara, tidak dapat


dilepaskan dari keberadaan agama yang sebelumnya ada, ini menjadi
penting karena didalam konstruksi Islam Indonesia adalah bentuk
perpaduan kebudayaan antara budaya Islam dan budaya nusantara.
Sering disebut juga sebagai Islamisasi budaya nusantara. Namun
sebelum sampai disana, perlu sedikit dikaji pula tentang pola lalu lintas
penyebaran Islam pertama kalinya di seluruh kepulauan nusantara.

Objek dari penyebaran Islam pertama kali adalah kaum


ningrat (priyayi/bangsawan) dan masyarakat umum lainnya pada
tahapan selanjutnya. Keterkaitan penyebaran Islam dengan politik
kekuasaan bukan karena tidak mampu mengendalikan syahwat
politiknya saat itu, namun karena memang sudah merupakan setting
jangka panjang yang telah tersusun jauh hari sebelumnya sebagai salah
satu cara paling efektif untuk menyebarkan Islam, setidaknya secara
formalitas terlebih dahulu.

Sering terjadi saat Islam pertama kali datang ditengah-tengah


kerajaan nusantara, sebagai para pedagang, dan belum membentuk
system kekuasaan, bila situasi politik di suatu kerajaan mengalami
kekacauan dan kelemahan yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan
di kalangan keluarga istana, Islam dijadikan alat politik golongan
bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Bara
bangsawan yang bertikai menjalin hubungan dengan para pedagang
muslim yang posisi ekonominya lebih kuat karena mereka menguasai
perdagangan dan pelayaran.

Apabila kerajaan Islam berdiri, tidak jarang penguasanya


juga melancarkan serangan kepada kerajaan di sekitarnya yang non-
Islam. Untuk mencari alasan yang tepat mengenai serangan tersebut
memang cukup sulit, serangan tersebut dinilai serangan politis atau
serangan agamis, yang pasti, setiap penguasa memiliki naluri
melindungi dan mempertahankan kekuasaan dan rakyatnya. Jadi
dorongan yang sangat kuat untuk dalam penyerangan memang politis,
meskipun tetap disusupi nilai-nilai agamis untuk menyebarkan Islam.

Menenai jalur penyebaran pertama yang dilakukan oleh para


penyebar agama Islam, setidaknya dapat dirangkum dalam lima
strategi penyebaran, yakni melalui system perdagangan, pendidikan,
perkawinan, kesenian dan politik. Kelima cara ini digunakan pertama
kali untuk sekedar mengenalkan keberadaan Islam. Selanjutnya untuk
pengembangannya, dilakukan berbagai strategi pendidikan agama yang
melalui system tersebut secara lebih mendalam.

Untuk strategi pertama, yakni melalui jalur perdagangan,


pertama kali dilakukan oleh para pedagang muslim yang dating dari
Gujarat, Persia dan Arab. Cara ini untuk tahap pengenalan sangat tepat
mengingat dengan cara ini, masyarakat dan raja di suatu kerajaan yang
menjadi relasi perdagagannya memiliki respek yang cukup tinggi dan
disamping itu, mereka juga terlibat dalam perdagangan, sederhananya,
tidak mungkin seorang raja atau bangsawan akan tidak menghargai
relasi bisnisnya, apalagi relasi bisnis yang menguasai pelayaran dan
perdagangan internasional. Aktivitas semacam ini terpusat di bagian
utara pulau Jawa, yang demikian membuat banyak para pedagang
muslim yang tinggal dan menetap di daerah pantai utara Jawa.

Setelah transaksi perdagangan, cukup memiliki waktu untuk


singgah di daerah tersebut, biasanya apabila datang dalam waktu yang
cukup lama sambil menunggu musim angin untuk pelayaran kembali,
mereka mendirikan masjid atas seizin raja. Disaat itulah penyebaran
agama mulai dilakukan, mereka mengenalkan agama mereka kepada
raja dan para pembesar kerajaan dan sebagian masyarakat sipil yang
berada disekitarnya. Mengajak untuk memeluk Islam dan menjadikan
kerajaan yang dipimpin sebagai kerajaan Islam.

Setelah tahap pengenalan ini selesai, datang gelombang


selanjutnya yang disebut sebagai Mulla (sebutan untuk ulama Persia),
para Mulla adalah guru spiritual bagi para pedagang, mereka sendiri
juga melakukan aktivitas perdagangan. Para Mulla dalam sejarah
berhasil menaklukan daerah Majapahit yang berada di pesisir dengan
mengajak adipati yang memimpin untuk memeluk Islam. Cara-cara ini
terbukti banyak memberikan hasil, karena setelah rajanya memeluk
Islam, secara perlahan, masyarakat yang dipimpinnya juga mengikuti
jalan yang diambil oleh rajanya. Selain oleh faktor politik yang
demikian itu, juga konvensi mereka ke Islam karena sentuhan langsung
dengan para pedagang membuat mereka mengenal Islam sekaligus
melihat Islam sebagai tatanan yang menurut mereka paling tepat.

Para pedagang Islam memiliki status ekonomi yang jauh


lebih mapan dibandingkan dengan bangsa pribumi. Mereka, secara
ekonomi, memiliki lebih dibanding dengan pedagang lokal, sehingga
masyarakat lokal akan bangga apabila dipinang untuk dinikahi oleh
para pedagang muslim. Para pedagang ini, sebelum menikah, dengan
calon istrinya dilakukan persamaan akidah, setelah sama-sama muslim,
pernikahan baru dilangsungkan.

Pada perkembangan selanjutnya, para bangsawan juga


melakukan hal yang sama, menikah dengan anak para saudagar.
Misalnya apa yang terjadi dengan Raden Rahmat yang menikah
dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati menikahi Putri Kawunganten,
Prabu Brawijaya dengan Putri dari Campa yang melahirkan Raden
Patah (pendiri kerajaan Demak Bintoro). Penyebaran melalui jalur ini
terbukti paling efektif, dalam kepercayaan masyarakat nusantara, raja
adalah titisan para dewa, adipati dan para bangsawan adalah juga
memiliki trah pararaton yang kadewan, sehingga apa yang diucapkan,
apa yang dilakukan dan apa yang ditetapkan menjadi hukum bagi
masyarakat. Inilah yang kemudian memberi peran besar, bahwa
dengan masuknya para raja dan priyayi kalangan istana ke dalam
Islam, secara otomatis, masyarakat yang dipimpinnya juga masuk
Islam dan secara menyeluruh kemudian makin menyebar.

Pernikahan Raden Rahmat dengan Nyai Manila dari yang


bukan kalangan bangsawan, kemudian tinggal di daerah Surabaya.
Disana dia mempelajari system pendidikan masyarakat nusantara.
Dengan demikian secara perlahan kemudian mempraktekan hal yang
sama. Diawali dari pendidikan semacam padepokan, yang kemudian
dikenal dengan istilah pesantren. Kemudian lambat laun muridnya
makin lama makin banyak hingga banyak santrinya yang kemudian
ditugaskan untuk menyebarkan Islam dikawasan pedalaman nusantara.
Pesantren pertama kali berdiri ini oleh Raden Rahmat yang kemudian
bergelar Sunan Ampel diberi nama Ampeldenta. Demikian halnya
yang dilakukan oleh Sunan Giri di Gresik.

Para santri yang telah lulus di pesantren oleh para sunan itu
disebarkan diberbagai pelosok tanah air untuk mengenalkan kepada
masyarakat agama mereka. Mengajak untuk masuk ke dalam agama
Islam dan meninggalkan praktek peribadatan lama dengan cara yang
santun serta tidak konforontatif dengan masyarkat lokal. Ada yang
lebih unik dalam penyebaran Islam model ini, yakni dengan
menyilangkan kebudayaan, menggunakan praktik ritus keagamaan
klasik namun dikemas dalam gaya yang Islami, seperti praktek
nyadran, sedekah gunung, sedekah laut, ngapati, mitoni, mitungdino
dan sebagainya yang semula merupakan ritus agama Hindu, Budha dan
aliran kepercayaan digeser esensinya dalam kerangka keIslaman.
Hal ini terkait juga dengan penyebaran Islam melalui jalur
kesenian dan kebudayaan. Bahwa dengan proses akulturasi budaya
inilah masyarakat cenderung tidak melakukan perlawanan, bahkan
mengikuti secara perlahan dari inti ajaran keIslaman yang dianutnya.
Sampai sekarang yang paling terkenal untuk jalur ini adalah wayang
dan gamelan. Wayang menjadi proses Islamisasi yang tidak terlupakan
karena terrekam dalam sejarah hingga saat ini dengan menampilkan
tokoh ponakawan serta alur cerita yang digubah sedemikian rupa dari
daerah asalnya.

Di bidang ini Sunan Kalijaga sangat konsen, apalagi dengan


kelihaiannya menjadi dalang dan menabuh gamelan. Sunan Kalijaga
ketika mendalang berhasil menarik perhatian penonton, karena
disamping melakukan berbagai pembaruan diberbagai sisi, termasuk
pakem pewayangannya serta gubahan cerita dan babad yang
sedemikian menariknya, beliau juga tidak pernah memungut upah atas
pertunjukkannya itu, beliau hanya memberikan tiket masuk kepada
penonton dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Cara ini sangat membekas dihati masyarakat, terutama


masyarakat pedalaman yang sangat membutuhkan entertainment untuk
menghibur hiruk-pikuknya kehidupan sehari-hari mereka yang berat.

Terakhir, adalah melalui jalur politik, jalur ini menggunakan


diplomasi dan berbagai jalur sebelumnya seperti pernikahan dan
pendidikan. Melalui jalur politik, karena dalam kepercayaan public
bahwa pangucap raja adalah hukum yang diyakini sebagai sabda
pandhita ratu sangat bermakna di masyarakatnya. Setelah rajanya
berhasil diIslamkan, maka secara otomatis masyarakat disekitarnya
juga menganut Islam sesuai dengan sabda pandhita ratu.

Perbedaan mendasar dari penyebaran Islam di nusantara


dengan di daerah lainnya adalah, bahwa ketika penyebaran Islam
didaerah lain cenderung mudah diterima oleh masyarakat atau
penguasa daerah tersebut karena berhadapan dengan pola hidup dan
peradaban yang sederhana, sehingga kedatangan Islam menjadi
alternative peradaban yang menyimpan harapan membawa kebaikan
taraf kehidupan berikutnya.

Akan lain ketika dijumpai di tanah nusantara, terutama Jawa,


kedatangan Islam ditanah ini dihadapkan pada tatanan yang telah
stabil, memiliki kebudayaan yang telah maju, tatanan sosial yang
mapan serta ritus religi yang telah mengakar kuat. Dapat dilihat dari
panjangnya sejarah nusantara, bahwa di nusantara sebelumnya telah
berkembang pesat agama-agama klasik (animisme dan dinamisme)
serta agama-agama peradaban (Hindu dan Budha). Agama ini
memberikan warna sendiri dalam kehidupan sosial, bahkan seluruh
masyarakat nusantara pada era tersebut menyandarkan kebutuhan
sosialnya pada ritus keagamaan. Dapat disaksikan ini melalui ritus
sosial berupa nyadran, sedekah gunung, sesajen dan sebagainya yang
merupakan pengeJawantahan dari pernyataan keberagamaan mereka.

Menghadapi situasi yang sedemikian kompleks dan memiliki


peradaban cukup tinggi, para penyebar Islam harus berfikir berkali-kali
untuk mampu menembus batas penyebaran. Bahwa dengan
disebarkannya agama ditanah nusantara berarti merupakan upaya dasar
untuk mampu menembus batas sosial yang telah tersusun.

Situasi ini setidaknya memberikan arus jalan besar pemikiran


masyarakat nusantara pada era tersebut, pertama arus besar dari
kalangan istana dan para bangsawan yang telah membuka budaya
agung Hindu Budha dalam tatanan mereka. Arus ini sangat dihormati
dikalangan masyarakat sipil disekitar kotaraja. Sedangkan arus besar
kedua adalah arus besar dari masyarakat diluar kotaraja yang
didominasi oleh kalangan petani dan nelayan. Mereka masih bersandar
kebutuhan spiritual mereka pada animisme dan dinamisme.

Kalau yang pertama adalah telah mengembangkan tradisi


tulisan dengan memanfaatkan sastra keagamaan Hindu Budha yang
merupakan kebudayaan sinkritisme yang bersifat kompleks dari unsur
klenik yang serba magis-animis hingga unsur mitologis-mistis yang
halus tergabung menjadi satu sebagai bangunan budaya yang rumit dan
kompleks. Kebudayaan istana ini tetap mempertahankan religi
animisme-dinamisme dengan tata adat istiadat tertentu yang
mendukungnya dan telah diperkaya dengan sastra dan tata tulis Hindu,
maka yang kedua hanya sebatas tradisi lisan, tutur tinular, yang terus
berkembang dari masa ke masa.

Melihat perkembangan kebudayaan masyarakat nusantara


pada fase pra-Hindu-Budha, tampak bahwa kepercayaan masyarakat
pada sesuatu yang gaib, misteri hanya bersifat dugaan yang berawal
dari keterbatasan mereka memahami fenomena alam yang mengiringi
harapannya untuk bisa hidup secara lebih baik dan sejahtera. Begitu
datang ajaran baru dengan landasan yang lebih kuat, karena ditopang
oleh pengalaman para penyerunya disamping juga adanya ajaran yang
berdasarkan kitab suci, masyarakat nusantara lebih percaya dan
meyakini sebagai sesuatu yang lebih benar tanpa menghilangkan
kesan-kesan dan pengalaman yang didapat dalam praktik
keberagamaan sebelumnya. Begitu halnya pertama kali Islam
bersinggungan dengan masyarakat nusantara sebagai salah satu
alternative baru dalam pemahaman keberagamaan.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Islam


merupakan negara yang cukup makmur dengan tingkat keberagamaan
yang tinggi. Masyarakat Indonesia menempatkan agama pada titik
tertinggi dalam relung kesadarannya. Segala bidang kehidupan didasar
atas dasar agama, dihukumi oleh agama.
Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7, tetapi versi lain
sejarah Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-10 M. entah mana
yang benar, yang jelas ada satu titik yang perlu kita bahas dari
kedatangannya.

Pada masa pra sejarah, dengan bukti diketemukannya fosil


manusia purba, negara kita telah berpengalaman lebih dalam bidang
keagamaan. Terbukti dengan diketemukannya fosil berupa menhir,
dolmen, serta alat pemujaan lainnya. Bentuk agama mereka adalah,
berdasarkan penelitikan dari sosiolog, adalah animisme dan
dinamisme. Animisme dan dinamisme begitu kuat menggelora dalam
relung kesadaran orang-orang purba, segala sesuatu yang mereka
lakukan sering kali atas nama kepercayaannya ini.

Belum selesai tradisi animisme dan dinamisme yang


berkembang di Indonesia, datanglah agama Hindu Budha, dimana
kedua agama ini juga hampir sama ajarannya tentang konsep ritual
peribadatannya. Hindu Budha menjadi sesuatu yang mudah di terima
oleh masyarakat saat itu, karena apa yang terkandung didalam ajaran
Hindu Budha kebanyakan merupakan perkembangan lebih lanjut dari
apa yang telah mereka percayai sebelumnya. Tata sosial lambat laun
semakin berubah.

Perkembangan Hindu Budha yang sangat pesat memberikan


warna tersendiri bagi kebudayaan masyarkat Indonesia. Seni-seni
berupa seni pahat dan seni mematung direpresenatasikan dengan
membuat Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Dieng, Candi
Mendut dan sebagainya. Ajaran-ajaran berupa puasa ngrowot (puasa
tidak makan nasi), puasa Nyirih (Puasa tidak memakan sesuatu yang
bernyawa), pemberian sesaji, pelestarian terhadap lingkungan, seni
pewayangan dan seterusnya mewarnai kebudayaan Indonesia dan
merupakan peningkatan dari kebudayaan animisme dan dinamisme
yang sebelumnya telah tinggi.

Setelah maju dan berkembangnya agama Hindu Budha di


Indonesia, seiring dengan terbukanya nusantara sebagai jalur
perdagangan paling potensial di dunia, maka peleburan budaya antara
budaya asli nusantara dengan budaya asing yang masuk ke nusantara
membuat perbendaharaan budaya nusantara semakin kompleks.
Kemajemukan budaya ini kemudian membuat satu daerah dengan
daerah yang lain memiliki perbedaan yang mencolok. Satu wilayah
yang kebetulan sering disinggahi oleh pedagang-pedagang asing
memiliki corak budaya yang lebih maju dibandingkan dengan wilayah
lain yang sama sekali tidak tersentuh oleh pedagang-pedagang asing.
Ini membuat semakin mewarnai multikuluralisme.

Sisi lain, selain kemajuan budaya, dengan seringnya masuk


pedagang dari Gujarat, India dan Persia yang menganut agama Islam,
maka secara perlahan-lahan kebudyaan nusantara khususnya pesisir
mengalami perubahan. Semakin meningkat, dan semakin mendekati
pada kebudayaan Islam pada umumnya. Hal ini dikarenakan di setiap
Bandar perdagangan kerajaan pasti ada syahbandar yang bertugas
sebagai mediator bahasa antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.

Wilayah yang banyak melakukan transaksi perdagangan


dengan pedagang dari Gujarat, Persia dan India harus memiliki
syahbandar yang memahami dan mampu berkomunikasi dengan
bahasa itu agar terjadi transaksi yang benar-benar adil, serta tidak ada
penipuan salah satu diantara keduanya.

Syahbandar yang diangkat oleh kerajaan atau bahkan sampai


level kadipaten, biasanya diambil dari orang asing yang memahami
dan mampu berkomunikasi dengan bahasa lokal. Misalnya, orang
Gujarat yang pandai berbahasa Jawa atau Melayu akan diangkat
menjadi syahbandar di wilayah Tuban, mengingat Tuban adalah
terminal perdagangan yang cukup ramai setelah Malaka.

Syahbandar memiliki kedudukan yang tinggi setingkat


menteri untuk saat ini, artinya kalau boleh menyamakan, posisi
syahbandar sama dengan mentri Luar Negeri atau setidaknya Juru
Bicara Kenegaraan. Artinya dia memiliki kebebasan yang mutlak atas
wilayah tertentu yang menjadi garapannya. Didukung gaya kehidupan
masyarakat yang masih fedoalis, maka seolah posisi syahbandar iBarat
orang yang memiliki otoritas penuh terhadap masalah hubungan
eksternal dengan negara lain.

Orang Gujarat yang kebanyakan beragama Islam, yang


diangkat menjadi syahbandar, dengan bekal jabatan serta didukung
gaya kehidupan feodalistik masyarakat, maka lambat laun, tata sosial
masyarakat terpengaruh dengan gaya kehidupan syahbandar, dan
secara perlahan, mereka mulai meninggalkan kebudayaan Hindu
Budha mereka dan masuk Islam.

Selain itu, banyak syahbandar atau bahkan pedagang dari


Gujarat dan wilayah Arab lainnya yang kemudian menikah dengan
gadis pribumi, sehingga model penyebaran agama melalui pernikahan
banyak sekali dilakukan.

Lambat laun dari hal-hal yang semacam ini kemudian


menimbulkan tata sosial yang berlainan dengan budaya asli mereka.
Pernikahan budaya antara kebudayaan Hindu Budha dengan Islam
mulai nampak, munculnya bentuk baru pendidikan keberagamaan yang
merujuk pada system pembelajaran ala Hindu Budha banyak dilakukan
oleh penyebar agama ini. Termasuk juga bentuk bangunan masjid yang
mirip dengan kebudayaan bangunan ala Hindu.

Intinya, Islam di Indonesia merupakan Islam yang


mengambil Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sebagai rujukan utama
hukum Islam. Yang kemudian ini semua diakulturasikan dengan
budaya lokal yang ada. Dari sinilah memunculkan cirri kas khusus
yang memberikan warna berbeda dengan Islam daerah lainnya seperti
India, Mesir, Arab Saudi, Iran, Irak dan sebagainya.

Dakwah Islamiyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Secara etimologi kata Ahli Sunnah Wal Jama’ah terdiri dari


tiga kata, yaitu: ahli (pengikut), sunnah (jalan, tempat berlalu, ajaran)
dan jama’ah (kumpul, kompak). Dalam pandangan lain kata sunah
terkadang dipersamakan dengan “Tarekat” (jalan, ajaran) namun pada
prinsipnya keduanya memiliki perbedaan, di mana sunah lebih
menunjukkan pada apa – apa yang dinukil dari Rasulullah sedangkan
tarekat bersumber dari pada syaikh. Sunah itu sendiri secara lughot/
bahasa diartikan sebagai “Al thoriqoh mutlaqon khoirun au syarron
min sanna sunnatan hasanatan au sayyiatan”.

Dengan demikian maka aswaja menurut bahasa diartikan


sebagai pengikut/jalan kebenaran di dalam agama yang harus
dilewati/ditempuh karena telah disepakati kebenarannya oleh para
mujtahid (ahlu al-haq). Rumusan ini dari ahlul hadits menyatakan
bahwa sunnah adalah nabi Muhammad SAW. Sebagai kebalikan dari
bid’ah dan jama’ah adalah kesepakatan para ahlul haq/mujtahid.
Sebagaimana dinyatakan: (Assunnah hia sunnatu Muhammadain,
dliddu al bid’ati wa al jama’ah mujama’atu ahlu al haqqi wa ‘in
qollu, wa al furqotu mujama’atu ahli al batili wa ‘in katsaru).

Pernyataan di atas sejalan dengan pernyataan sahabat Ali as.


ketika ditanya oleh Ibnu Kuwa’ tentang pengertian Ahli Sunnah Wal
Jama’ah. Beliau mengatakan bahwa sunnah-sunnah nabi dan bid’ah
adalah sesuatu yang keluar dari sunah, sedangkan jama’ah adalah
kelompoknya pendapat para ahli kebenaran walaupun sedikit,
sedangkan firqoh adalah kompaknya pendapat para ahli kebatilan
walaupun banyak jumlahnya.

Atas dasar bahwa Aswaja merupakan kerangka paham yang


berdasarkan kepada pernyataan nabi tentang Islam yang benar yaitu:
ma ana wa ashabi yakni, Islam sebagaimana dicontohkan Rosulullah
dan para sahabatnya maka kalangan NU merumuskan ajaran Aswaja
sebagai sebuah ajaran keagamaan yang mendasar pada sumber Islam,
yaitu Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Rumusan Aswaja ini bukan
berarti membangun agama baru namun lebih sebagai upaya
penyelamat umat manusia dari kesesatan/bid’ah, sebagai hingga tetap
dalam bingkai Islam sebagaimana dicontohkan oleh nabi.

Aswaja ialah golongan yang tetap dan tidak menyimpang dari


Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Golongan ini satu pendapat di
dalam masalah aqidah (usuluddin) dan hanya sedikit perbedaan
pendapat di dalam masalah syari’at (furu’uddin), namun tidak terjadi
saling menganggap fasiq dan sesat terhadap yang lain. Para ulama
memberi batasan sederhana untuk memudahkan pengertian, bahwa
Aswaja ialah golongan masalah aqidah mengikuti madzhab Imam
Abul Hasan Al Asy’ari (260 – 324 H) dan Imam Abu Manshur Al
Maturidi (wafat: 333 H). ini tidak berarti, bahwa kedua Imam tersebut
adalah yang menciptakan pertama kali ajaran aqidah Aswaja namun
kedua-duanya hanyalah mengkodifikasikannya sesuai dengan sunah
Rasulullah SAW dan thoriqoh para sahabat. Bahkan Al Asy’ari dalam
hal ini banyak mendasarkan pada masalah – masalah aqidah yang telah
lebih dahulu dituangkan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’I di dalam
bermadzhabnya, juga Imam Al-Maturidi mendasarkan kepada aqidah
pada madzhab Imam Abu Hanifah.

Berikut pendapat lain yang dikutip dari makalah Ustadz


Yazid bin Abdul Qadir Jawas tentang ahlussunah wal jama’ah. Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang menempuh seperti apa yang
pernah ditempuh oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para
sahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang
dan ber-ittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
dan para sahabatnya.

As Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan atau cara,


apakah jalan itu baik atau buruk (Lisaanul ‘Arab VI/399). Sedangkan
menurut ulama ‘aqidah (terminologi), as Sunnah adalah petunjukan yang
telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para
sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun
perbuatan. Demikian inilah as Sunnah yang wajib diikuti. Orang yang
mengikutinya akan dipuji, dan orang yang menyelisihinya akan dicela.
(Buhuuts fii ‘Aqidah Ahlis Sunnah, hlm 16). Pengertian as Sunnah
menurut Ibnu Rajab al Hanbali (wafat 795 H):”As Sunnah adalah jalan
yang ditempuh, mencakup didalamnya berpegang teguh kepada apa yang
dilaksanakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para khalifahnya
yang terpimpin dan lurus, berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan
perbuatan. Itulah as Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, generasi
Salaf terdahulu tidak menamakan as Sunnah, kecuali kepada apa saja
yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam
Hasan al Bashri (wafat th. 110 H), Imam al Auza’i (wafat th 157 H) dan
Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th 187 H). “ (Jaami’ul ‘Uluum wal
Hikam, oleh Ibnu Rajab hlm 495, tahqiq dan ta’liq Thariq bin
‘Awadhullah bin Muhammad)

Disebut al Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran.


Tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul dibawah
kepemimpinan para imam (yang berpegang kepada) al haq (kebenaran),
tidak mau keluar dari jama’ah mereka, dan mengikuti apa yang telah
menjadi kesepakatan Salaful Ummah. (Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal
Jamaa’ah fil Aqiidah). Jama’ah menurut ulama ‘aqidah (terminologi)
adalah, generasi pertama dari ummat ini. Yaitu kalangan sahabat, tabi’in,
tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga
hari Kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. (Syarhul ‘Aqidah al
Waasithiyyah, oleh Khalil Hirras hlm 61) Imam Abu Syammah asy Syafi’i
(wafat th. 665 H) berkata: “Perintah untuk berpegang kepada jama’ah,
maksudnya adalah, berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya;
meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyelisihinya
banyak. Karena kebenaran itu ialah, apa yang dilaksanakan oleh
jama’ah yang pertama, yaitu yang diamalkan Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya, tanpa melihat kepada orang-
orang yang menyimpang sesudah mereka”.8

Adapun di dalam masalah syari’ah, aswaja menurut para


ulama pada akhir-akhir ini adalah yang mengikuti madzhab Imam Abu
Hanifah (80 – 150 H), Imam Malik (91 – 179 H), Imam As Syafi’I
(150 – 204 H), dan Imam Ahmad bin Hambal (164 – 241H). keempat
imam tersebut di dalam berijtihad menyimpilkan hukum
menggunakan dalil-dalil Al Qur’an, Hadits, Ijma’, Qiyas. Imam Ibnu
Sholeh meriwayatkan adanya Ijma’, bahwa tidak boleh mengikuti lain
empat madzhab tersebut, karena hanya empat madzhab itulah yang
dapat dikodifikasi secara utuh dan lengkap serta diriwayatkan secara
berturut-turut dengan silsilah sanad yang langsung sampai kepada
ulama’ muta’akhirin.

Adapun tentang perkembangan Aswaja di Indonesia, kiranya


dapat dilihat dari sudut pengalaman ajaran Islam oleh masyarakat
Indonesia terutama di Jawa. Kalau diamati secara lebih jauh, dapat
diduga bahwa aswaja sudah cukup lama berkembang di Indonesia,
bahkan bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Para wali
penyebar Islam di Indonesia menunjukkan bahwa ajaran – ajaran yang
beliau ajarkan itu menurut Aswaja. Ulama – ulama setelah para wali,

8 Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dakwah Salafiyah adalah Dakwah
Ahlussunnah, makalah ini penulis temukan di internet merupakan kutipan dari
Majalah As Sunnah Edisi 11/X/1428 H/2007 M. di download pada, 23 Agustus 2009
pukul 23.34
misalnya KH. Nawawi Banten (1813 – 1897 H), KH. Khotib
Minangkabau dan ulama – ulama pesantren menjelang abad 19 hingga
sekarang, semuanya di dalam pengembangan ajaran agama aswajadi
Indonesia mempunyai andil yang cukup besar, sehingga budaya
Indonesia utamanya di Jawa adalah aswaja. Rumusan aswaja ini dapat
diperinci lagi sebagai berikut: Bahwa pengikut Aswaja di dalam
memahami agama dari sumber-sumbernya tersebut menggunakan
pendekatan:

Di bidang aqidah mengikuti paham Aswaja yang dipelopori oleh


Imam Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Di bidang fiqih pendekatan salah satu empat madzhab (Abu


Hanifah, Al Asyafi’I, Maliki dan Al Hambal)

Di bidang tasawuf mengikuti antara lain Imam Al Junaidi al


baghdadi, Imam Al Ghozali dan Imam – imam lainnya yang
masih dalam satu sistem pemikiran (seperti: Abdul Qodir Al
Jaelani, Syuhrawardi, Ma’ruf Al Kharkhi, Bahaudin Al
Naqsabandi dan lain-lainnya).

Rumusan Aswaja di atas, di Indonesia telah dilaksanakan


secara konsekuen oleh NU sebagai suatu ikhtiar untuk membentuk
kepribadian bangsa yang bersifat sunni. Sikap-sikap yang ditekankan
adalah: Tawasut (moderat), I’tidal (selaras), Tasamuh (toleran),
Tawazun (seimbang) dan Amar Ma’ruf nahi Munkar (fungsi kontrol,
korektif, saran dan kritik).

Dalam sikap tawasut diharapkan menjadi umat/kelompok


yang menjadi panutan, bertindak lurus, adil dan selalu menghindari
sikap ekstrim. Dengan tasamuh diharapkan menyadari kehidupan yang
heterogen, menyadari perbedaan pendapat baik dalam masalah furu’
atau lainnya yang bernuansa ikhtilaf. Dengan tawazun, diharapkan
menjadi kelompok yang memiliki keseimbangan, baik dalam
pengabdiannya terhadap Allah, manusia dan lingkungannya, serta
pandai menyelaraskan kepentingan masa lalu, kini dan mendatang. Ini
berarti menghargai sejarah dan berwawasan kedepan. Sementara Amar
Ma’ruf Nahi Munkar, membuktikan perlunya kepekaan sosial, untuk
memotivasi perbuatan baik dan mencegah semua bentuk kejahatan
atau semua yang menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai
kemanusiaan.

Sikap-sikap di atas merupakan nilai-nilai yang ditawarkan


kepada bangsa Indonesia sgar mampu hidup di tengah-tengah
gempuran globalisasi – westernisasi, dan tetap hidup dalam bingkai
Islam asal (Aswaja), melalui penegakan akhlakul karimah dengan
penuh rasa persahabatan, baik Islamiyah, Wathaniyah maupun
Basyariyah.

Aswaja potongan istilah dari ahlus sunah wal jama’ah yang


merupakan salah satu madzhab Islam yang terlihat menonjolkan sisi
kemoderatannya dalam laku dan pemikiran merupakan hal yang
menarik untuk dijadikan sebagai pisau analisis setiap persoalan
mengenai ide dasarnya. Maksudnya, konsepsi dasar aswaja tentang
tasamuh, tawazun dsb dapat dijadikan sebagai pijakan dasar dalam sisi
pemikiran dan gerakan.

Konsepsi aswaja sebagai manhaj al fikr akan lebih dapat


diterima oleh publik sebagai sebuah kerangka berfikir, dimana dengan
menggunakan aswaja sebagai pisau bedah persoalan, maka solusi atas
persoalan tersebut tidak berat sebelah dan menguntungkan sebelah
yang lain. Artinya, bahwa prinsip aswaja yang mengajarkan tentang itu
dapat lebih mudah untuk menempatkan solusi atas problem sebagai
proporsi yang benar-benar problem solving dan bukan merupakan
solusi yang akan menimbulkan masalah dan persoalan baru di tengah
kemaslahatan umat.
Gambaran luasnya, lebih pada bagaimana aswaja dengan
prinsip dasarnya itu, mampu dijadikan sebagai paradigma dan landasan
kerangka pemikiran yang selanjutnya dapat dieJawantahkan dalam
dataran laku sosial.

Berbicara soal paradigma, paradigma merupakan satu hal


yang sangat vital dalam ranah individu ataupun kelompok oraganisasi.
Hal ini lebih didasarkan pada bahwa paradigma merupakan titik pijak
dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah
persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan perilaku
indiviu atau organisasi kelompok. Disamping itu, dengan paradigma
ini pula sebuah organisasi atau seseorang akan menentukan memilih
nilai-nilai universal dan abstrak menjadi khusus dan praksis
operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah organisasi
gaya berpikir seseorang.

Dalam perspektif ilmu sosial, ada beberapa pengertian


paradigma yang dibangun oleh para pemikir sosiologi. Salah satu
diantara para pemikir sosiologi yang menafsirkan paradigma adalah G.
Ritzer yang memberi pengertian paradigma sebagai pandangan
fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam ilmu.
Paradigma membantu apa yang harus di pelajari, pertanyaan yang
harus diJawab, bagaimana semsetinya pertanyaan-pertanyaan itu
diajukan dan aturan-aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan
Jawaban yang diperoleh. Dengan demikian, paradigma merupakan
kesatuan konsensus yang terluas dalam suatu bidang ilmu dan
membedakan antara kelompok ilmuan, yakni menggolongkan,
mendefiniskan, dan menghubungkan antara eksemplar, teori, metode
serta instrumen yang terdapat didalamnya. Mengingat banyaknya
efinisi yang dibentuk para sosiolog maka perlu ada pemilihan atau
perumusan tegas mengenai definisi paradigma yang hendak diambil
dalam merumuskan aswaja sebagai paradigma atau lebih tepatnya
kerangka berfikir. Hal ini perlu dilakukan untuk memberi batasan yang
jelas mengenai paradigma dalam pengertian kita atar tidak terjadi
perbedaan persepsi dalam memaknai paradigma.

Berdasarkan pemikiran dan rumusan yang disusun oleh ahli


sosiologi, maka pengertian paradigma dalam diri kita dapat
dirumuskan sebagai titik pijak untuk menentukan cara pandang,
menyusun sebuah teori, menyusun pertanyaan, dan membuat rumusan
mengenai masalah. Lewat paradigma ini pemikiran seseorang apat
dikenali dalam melihat dan melakukan analisis terhadap suatu masalah.
Dengan kata lain, paradigma merupakan cara dalam “mendekati” objek
kajiannya (the subject matter of particular dicipline) yang ada dalam
ilmu pengetahuan. Orientasi atau pendekatan umum (general
orientation) ini didasarkan pada asumsi-asumsi yang dibangun dalam
kaitan dengan bagaimana “realitas” yang dilihat. Perbedaan paradigma
yang digunakan oleh seseorang dalam memandang suatu masalah akan
berakibat pada timbulnya perbedaan dalam menyusun teori,
membentuk konstruk pemikiran, cara pandang sampai pada aksi dan
solusi yang diambil.

Sementara itu, dalam lingkup aswaja, konsep turunan berupa


akulturasi nilai-nilai dasar agama Islam (aqidah dan syari’ah) pada
wilayah muammalahnya dengan tradisi kearifan lokal menjadi titik
tekan utama untuk dilestarikan. Bahwa kearifan lokal yang bercorak
religius terus berusaha dikembangkan tanpa memformalkan hal
tersebut dalam aturan legal hukum. Penempatan tradisi sebagai sumber
unitas yang dinamis sekaligus paradoksal keberadaannya menjadi
sumber pembentukan identitas, mitos sekaligus mediasi rekayasa
sosial. Letak titik tekan penempatan tradisi sebagai sumber penciptaan
unitas sosial lebih merupakan upaya yang bersifat generalisir tanpa
mengalienasi khazanah lokal yang muncul.
Demikian halnya dalam persoalan menentukan paradigma
sosial, dimana dengan kesadaran akan keberadaan multikulturalisme,
agaknya akan lebih tepat apabila paradigma yang hendak dirumuskan
berkaca pada situasi multikultural sebagai landasan pertimbangan
utama. Hal ini penting mengingat bahwa kenyataan yang ada di
tengah-tengah masyarakat kita hari ini adalah majemuk. Sehingga
upaya penyeragaman menjadi satu sistem bersama tidak akan menjadi
solusi, namun akan menjadi persoalan baru dan bahkan munculnya the
clash of civilization akan tidak bisa dielakkan karena sikap
chauvinistik di masyarakat kita, baik disadari atau tidak, merupakan
hal yang riil. Masing-masing suku bangsa akan menganggap sukunya
yang paling benar dan menyalahkan yang lain, maka apabila persoalan
ini disulut dengan isu keseragaman, hal yang terjadi adalah konfrontasi
dan desintegrasi bangsa.

Negara bangsa Indonesia dibangun atas kesadaran tersebut,


para founding fathers menyadari akan sebuah tatanan kehidupan
masyarakat berperadaban dengan bersumber dan berpegang tyegus
terhadap nilai-nilai autenting bangsa yaitu tradisi engan seagala
pemaknaan yang diberikan, yakni multikultural. Oleh karenanya, kita
yakin bahwa founding fathers merumuskan pancasila sebagai media
untitas akan lebih diterima karena sikap moderat tanpa mengalienasi
kelompok dan etnis lainnya meskipun minoritas. Pancasila, telah
cukup menjadi identitas dan paradigma bersama masyarakat Indonesia
yang heterogenitas.

Selain pancasila sebagai dasar ideologi bernegara dan


berbangsa, perlu juga adanya paradigma yang mampu mengatur
tatanan sosial pada wilayah Islam secara khusus untuk mendukung
pancasila tanpa menggeser peran dan posisi pancasila, namun dengan
konsepsi pemikiran baru yang dalam perhitungannya mampu menjadi
sumber inspirasi dan sumber ideologi yang berbasis heterogenitas.
Dalam hal ini, penulis menawarkan konsep aswaja sebagai manhaj al
fikr sebagaimana yang telah diterapkan oleh salah satu organisasi
kemahasiswaan, PMII.9

Pertimbangannya, bahwa dengan konsep aswaja yakni


tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleran), tawasut (moderat), dan
I’tidal (adil) merupakan sikap-sikap yang diharapkan dan sesuai
dengan khazanah klasik (turats qadim) yang dimiliki masyarakat
Indonesia. Dalam setiap pencarian solusi atas problem sosial, apabila
dihadapi dengan sikap tersebut diatas, maka solusi yang muncul adalah
solusi yang seimbang tanpa mendeskreditkan salah satu pihak dan
mengunggulkan pihak lain pada sisi satunya.

Sikap tawazun (keseimbangan) mengandaikan adanya


kesamaan dan tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yang
lainnya dengan alat pembeda apapun. Tawazun menjadi solusi apabila
problem sosial yang muncul membutuhkan keadilan yang normatif
yang dapat diterima semua pihak, dengan sikap seimbang inilah, maka
kita, sebagai penganut paradigma aswaja akan lebih berdiri di titik
tengah setiap persoalan untuk kemudian dicari solusi atas problem
yang muncul tersebut.

Kembali kepada kesadaran heterogenitas masyarakat


Indonesia, maka hal yang lazim adalah perbedaan pandangan,
perbedaan adat, suku, budaya, bahasa sampai pada tradisi sosial. Dan
persoalan ini kadang juga berhadapan antara satu etnik dengan etnik
yang lain yang rawan munculnya chaos. Oleh karenanya, sikap toleran
menghargai pendapat orang lain, menghargai kebudayaan masyarakat

9 PMII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, adalah organisasi kemahasiswaan yang lahir
dalam rahim NU yang kemudian pada deklarasi Murnajati di Malang menyatakan Independen dan
keluar dari menjadi badan otonom NU secara struktural karena sikap politiknya. Dalam praktek
penggunaan Aswaja sebagai manhaj al Fikr, organisasi ini menerapkan prisip gerak dasar berupa
Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang kemudian konsepsi turuannya dalam gerakan diterjemahkan
melalui peraturan organisasi. PMII pertama kali diketuai oleh Mahbub Djunaedi hingga hari ini
tetap eksis dalam konstelasi gerakan mahasiswa.
etnis lain adalah sebuah keniscayaan. Sikap tasamuh dalam
penanamannya akan menjadi cerminan bahwa kesadaran pluralitas
akan dapat terselesaikan melalui sikap toleran tanpa upaya
menyeragamkan pada satu sistem kolektif untuk kepentingan sesaat atu
kepentingan golongan dan pribadi perseorangan yang memunculkan
wacana tersebut.

Moderat (tawasuth) adalah upaya mengambil titik tengah,


sementara tasamuh akan lebih berkata pada bagaiman setiap orang
mampu menghargai pendapat orang lain tanpa kemudian
menunggulkan salah satu diantaranya yang dapat menyulut konflik
sosial yang chaos. Dengan saling menghargai antar tradisi etnis ini,
maka kesamaan, bukan dalam artian hukum dan tradisi, akan dapat
terjamin lebih aman.

Dengan demikian, apabila sikap seimbang, moderat serta


toleran dapat diterapkan dengan sikap I’tidal (adil) maka kesadaran
nalar dan laku dalam menyikapi heterogenitas akan semakin terbangun
dengan kuat. Disinilah kenapa kemudian aswaja hendak
ditransformasikan dari yang semuala menjadi mazhab kemudian
ditingkatkan satu etape menjadi kerangka berfikir dan paradigma sosial
yang berlaku kolektif.

Paham Ahlus Sunah wal jama’ah seringkali dikonotasikan


dengan paham yang bercorak perpaduan antara nilai-nilai sufistik,
akidah dan syari’ah yang mengutamakan keseimbangan dalil naqliyah
dengan dalil akliyah. Keseimbangan antara dalil tekstual dengan dalil
kontekstual inilah yang memungkinkan untuk selalu tanggap terhadap
persoalan-persoalan baru yang akhir-akhir ini perputarannya sangat
cepat. Penggunaan dalil rasio dengan melihat kondisi konteks sebagai
sebuah objek yang dikaji adalah hal yang keniscayaan. Terkait dengan
follow up tentang penyikapannya selanjutnya akan dihadapkan pada
dalil-dalil tekstual yang ada dalam Islam, baik berupa nash Al Qur’an
ataupun hadits yang menjurus pada persoalan tersebut.

Dengan keseimbangan ini pula, maka salah satu diantara dalil


rasio (aqliyah) dan dalil tekstual (naqliyah) tidak akan menjustifikasi
benar salah atas salah satu diantara keduanya. Ekstrimisme pemikiran
yang mengalienasikan tekstual tidak diterima dalam wilayah ini,
demikian juga sebaliknya, ortodoksi penggunaan dalil naqliyah yang
tertutup tidak akan bebas bergerak pada pemahaman aswaja. Dalam
paham ini keseimbangan untuk mencapai li maslahatil ummah dengan
pertimbangan malahat dan mafsadah yang matang.

Aswaja yang telah menunjukkan sikap moderatnya melalui


ciri dasarnya, juga dalam pengembangannya menunjukkan sikap yang
moderat juga selain pada penyikapan atas persoalan yang muncul juga
pada sisi ibadahnya. Konsep ibadah, baik pada ranah ibadah individual
ataupun ibadah kolektif tidak terlalu menekankan pada pengikatan
oleh syarat dan rukun serta ketentuan teknis lainnya (muqayyadah)
tetapi ada dan bahkan lebih banyak yang bersifat bebas tanpa
ketentuan yang mengikat (Muthalaqah). Sehingga dalam aplikasi
ibadahnyapun akan terus berubah sesuai dengan perkembangan sosial
yang selalu bergeser tatanannya.

Berangkat dari fleksibilitas aswaja dalam menyikapi berbagai


persoalan inilah yang kemudian memunculkan aswaja selain sebagai
sebuah madzhab10 (sesuai dengan sabda nabi), juga harus diterapkan
menjadi semacam bangunan konsepsi dasar pemikiran yang akhirnya
diterjemahkan dalam kesadaran laku.

Artinya, bahwa aswaja selain sebagai madzhab yang

10 Hadits tersebut berbunyi, “Masyarakat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani
menjadi 72 golongan, dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan, hanya satu yang akan selamat
(dari 73 golongan tersebut)”. Ketika ditanya sahabat, “Golongan mana yang akan selamat?” Rasul
menJawab “Ahlussunah wal Jama’ah” Dan ketika ditanya lagi, “Apa Ahlussunah wal jama’ah
itu?” Beliau menJawab, “Mereka yang mengikuti jalanku dan para sahabatku”.
mengatur tentang persoalan teoritis dan kontekstual pada dataran sosial
keagamaan, juga perlu kiranya aswaja dikembangkan menjadi
bangunan dasar pemikiran sehingga cakrawala berpikir akan luas,
namun tetap mengidealkan sikap yang moderat dan toleran.

Dimana apabila demikian, maka seheterogen apapun bangsa


Indonesia, seberapa banyakpun adat dan tradisi yang berkembang di
Indonesia, seberapa kuatpun ortodoksi berbudaya (chauvinisme) maka
itu tidak akan menjadikan batu sandungan dalam upaya univikasi atau
tepatnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

Heterogen adalah hal yang telah ada dan telah disadari


keberadaannya sejak zaman dahulu kala, bahkan sampai-sampai salah
seorang Empu dari kerajaan Mojopahit pada zaman periode kekuasaan
Hayam Wuruk membuat saloka yang terkait dengan heterogenitasnya
yang kemudian diadopsi sebagai jargon bangsa Indonesia, yakni
bhineka tunggal ika tan han dharma magrwa (walaupun berbeda-beda
tetapi tetap satu jua, tidak ada agama yang mendua). Karena
heterogenitas ini telah muncul sejak lama dan sejak zaman dahulu kala
berkembang pesat, maka ini seharusnya menjadi satu kekayaan bangsa,
bukan sebagai alat untuk penyamaan tradisi dan tindak desintegrasi
univikasi Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat
penuh.

Pertanyaan selanjutnya, kesadaran pluralitas ini apakah akan


hanya diketahui dalam dataran konsep atau kemudian diterjemahkan
dalam gerakan riil?, ataukah hanya menjadi jargon politik bangsa saja?
Jawaban pendeknya hanya, tergantung bagaimana kita menyikapinya
saja, tidak ada generalisir terhadap persoalan itu.

Penghargaan atas pluralitas inilah yang ditawarkan aswaja,


sehingga apabila aswaja tidak hanya sebagai madzhab, tetapi juga
sebagai manhaj al fikr, maka bangunan pemikiran dalam menciptakan
konsepsi baru serta membaca situasi riil yang terjadi di lapangan akan
lebih fleksibel dan moderat penyikapannya. Tidak ada hal yang lebih
dapat menjamin keragaman tersebut terus berjalan sesuai rencana yang
diharapkan, jadi, lagi-lagi, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Bukan berarti dalam jangka panjang aswaja bahkan menjadi


ideologi negara, berupaya untuk meruntuhkan pancasila, namun justru
itu sebenarnya upaya revitalisasi pancasila dalam dataran konsep dan
laku, upaya untuk menjaga keharmonisan heterogen yang merupakan
cita-cita luhur pancasila dan para founding fathers Indonesia tempo
dulu.

Aswaja harus mampu menjadi sebuah solusi global atas


persoalan sektoral sekalipun, dalam pergulatannya, sebagai sebuah
pemikiran tentunya aswaja sebagai manhaj al fikr tentunya akan
bergulat dengan pemikiran-pemikiran lain yang dinilai lebih up to date
dan lebih modern dan ilmiah. Oleh karenanya, sebagai salah satu dari
tradisi kemoderatan bangsa Indonesia, bahkan sebelum Islam masuk di
Indonesia sekalipun, maka kita harus memandang aswaja lebih
merupakan tradisi yang telah turun temurun dan ternyata terbilang
efektif (turats qadim).

Disadari atau tidak, hari ini pecaturan geopolitik,


geoekonomi, geososial dan geokultural semakin menjadi-jadi, bahwa
mulai dari sistem politik, sistem perekonomian makro dan mikro,
tatanan sosial sampai pada penyeragaman budaya menjadi lahan yang
subur untuk bertarung memperebutkan ideologi dominan. Pertarungan
ini akan terus berlanjut hingga salah satu ideologi memenangkan dan
berhasil meruntuhkan ideologi yang lainnya.

Budaya populer, sebagai representasi tawaran budaya


kapitalime modern yang dibingkai sangat rapi dan menarik perhatian
publik adalah musuh utama khazanah klasik yang kita miliki. Bahwa
budaya populer (turats Jadid) akan berhadap-hadapan dalam kontra
revolutif dengan kearifan lokal yang ada disetiap daerah. Pertarungan
tradisi ini belum akan berhenti sehingga satu budaya berhasil
menggulingkan budaya lainnya yang dirasa menjadi musuh utamanya.
Sayangnya, kesadaran sosial kolektif atas persoalan ini belum dapat
dibangun maksimal dalam wilayah sosial, dan masyarakat benar-benar
tidak kritis dalam membacanya. Oleh karena hal tersebut itulah maka
aswaja yang bersifat paling moderat harus mampu melawan tradisi
Barat yang banyak dinilai lebih tinggi tingkat mudharatnya dibaning
kemanfaatan untuk umat secara menyeluruh.

Dengan aswaja yang merupakan tradisi berbasis tradisi ini


harus dipertahankan sebagaimana Rasulullah mengajarkan secara tidak
langsung kepada setiap sahabat yang hadir dirumahnya mengenai
bagaimana bersikap moderat, bersikap seimbang dan adil. Popular
culture adalah model penjajahan gaya baru yang seharusnya disikapi
dengan krits bahwa negara kita kaya tradisi, tidak perlu mengimpor
popular culture secara menyeluruh karena justru akan mematikan
hazanah lokal yang telah ada sejak dulu.

Perlu diungkap pula dalam catatan ini, bahwa sejarah


munculnya aswaja (ahlussunah wal jama’ah) adalah bagian terpenting
mengapa NU saat ini dengan mudah mengklaim organisasinya sebagai
penganut aswaja. Pentingnya mencacat sejarah ini karena
dikhawatirkan banyak yang tidak mengetahui sejarahnya sehingga
dengan mudah ‘iman’ keaswajaannya bergeser dan aswaja, yang
menurut nabi sebagai satu paham yang paling benar, dapat diklaim
oleh organisasi lainnya yang norma dasarnya tidak didasarkan pada
sandaran aswaja, baik sebagai manhaj al fikr, manhaj al harokah atau
sebagai sandaran spiritual dalam ritus keagamaannya.

Pada dasarnya, sejarah aswaja, tidak terlepas dari sejarah


peradaban awal Islam pasca Rasulullah, dan didalamnya penuh dengan
darah dan kekerasan. Merupakan konflik politik yang tidak berujung
pada penyelesaian secara diplomatis ataupun peperangan. Namun tidak
pernah berhenti hingga saat ini dengan turunan-turunan coraknya.
Munculnya aswaja adalah sebagai antitesis terhadap konflik tersebut,
yang berdiri di tengah sebagai mediator sekaligus sebagai
penyeimbang gerakan pro dan kontra yang semakin lama semakin
meruncing.

Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda kepada para


sahabatnya tentang umat Islam pasca meninggalnya beliau, dalam
sabda beliau itu, beliau menceritakan bahwa kaum Yahudi terpecah
menjadi 72 golongan, yang masing-masing golongan mengklaim
kebenaran mutlak atas golongan yang dianutnya berdasarkan
perspektif agama dan sosial. Demikian juga dengan Islam pasca
meninggalnya Rasulullah, bahwa menurut rasul, umat Islam juga akan
terpecah menjadi 73 golongan yang masing-masing mengklaim
kebenaran atas keyakinan yang dianutnya, baik dilihat dari sudut
pandang agama maupun sudut pandang sosial.

Kebenaran-kebenaran yang disajikan ke-73 golongan yang


dimaksudkan oleh rasul, kemudian rasul mempertegas dengan
memberikan keterangan bahwa dari ke-73 golongan tersebut hanya ada
satu golongan yang selamat dan merupakan kebenaran yang hakiki
dilihat dari sudut pandang manapun. Mendengar pernyataan yang
sangat mengerikan itu, lalu sahabat mempertegas lagi pertanyaan
dengan langsung menohok rasul dengan pertanyaan tentang siapa
golongan yang dimaksudkan mendapat petunjuk dan kebenaran yang
dimaksud rasul. Dengan tegas rasul menJawab, bahwa golongan yang
selamat adalah golongan orang yang mengikuti sunnah rasul dan
sahabat-sahabatnya, lalu mempertegas lagi dengan istilah ahlussunah
wal jama’ah. Dari sinilah klaim kebenaran aswaja, baik sebagai
madzhab maupun sebagai golongan mendapatkan klaim dari berbagai
golongan yang lain. Masing-masing golongan mengklaim bahwa
golongannya adalah ahlussunah wal jama’ah dengan perspektif
masing-masing.

Sejarah panjangnya adalah, pasca meninggalnya Rasulullah


SAW, Rasulullah tidak meninggalkan petunjuk, petuah ataupun wasiat
tentang siapa yang kemudian setelahnya akan menjadi khalifah
pemimpin umat Islam kedepan. Hal ini sangat membuat bingung umat
Islam, karena pada awal Islam, keputusan mengenai kebijakan selalu
terpusat kepada rasul, tidak ada keputusan apapun, baik yang
menyangkut agama ataupun sosial yang tidak melalui rasul, maka
ketika rasul meninggal tanpa memberikan wasiat mengenai
kekhalifahan sangat membuat masyarakat Islam kebingungan. Apalagi
dengan munculnya banyak orang yang berpotensi memimpin Islam
setelah nabi. Spekulasi nama-nama khalifah muncul dari banyak nama-
nama sahabat yang paling dekat, yang paling berilmu hingga yang
paling memiliki kekayaan atau ketangkasan berperang.

Persoalan itu juga tidak lepas dari karakter dasar masyarakat


Arab yang memiliki karakter yang keras dan tidak mudah disatukan,
masyarakat padang pasir memiliki sifat yang cenderung fatalistic, dan
juga mereka akan mudah membentuk solidaritas dalam suku dan
membuat tali permusuhan dengan suku lain yang dianggap bersilang
pendapat. Sebagaimana sifat gurun pasir, pasir adalah padat dan tidak
mudah disatukan, labil dengan kondisi alam, mudah terbawa arus
angin, kemana angin berhembus, maka disana ia terlempar, demikian
juga dengan kondisi alam yang ada, kesulitan mendapatkan air
cenderung membuat masyarakat padang pasir menjadi seolah
mengabaikan usaha dan menggantungkan segala sesuatunya kepada
Allah dengan tanpa usaha yang berlebih untuk mengatasi.
Primordialisme pasca nabi-pun menjadi bagian yang tak
terpisahkan, masing-masing suku atau klan mengusulkan orang terbaik
dari mereka, memaksakan pimpinan mereka untuk menjadi khalifah
pengganti rasulullah, sehingga tak terelakkan, sederet nama-nama
sahabat semakin memenuhi bursa kepemimpinan Islam pasca
rasulullah ini. Tidak hanya itu, kondisi ini semakin diperparah dengan
banyaknya kandidat yang paling potensial melakukan trik dan intrik di
dalam diri mereka.

Dalam sidang terbatas yang diikuti oleh para sahabat


rasulullah, akhirnya dapat diputuskan khalifah pengganti rasulullah,
yakni Abu Bakar As Sidq radhilallahu ‘anhu. Pengangkatan khalifah
pertama ini bukan berarti keputusan final yang diambil, karena
keputusan ini ternyata juga kontroversial, apalagi tanggapan dari
kandidat lain yang muncul dan memiliki peluang yang sama besarnya.
Maka dapat ditemui banyak kontroversi yang terjadi antar sahabat.

Salah satu kontroversi yang paling kentara adalah ucapan


pengangkatan Abu Bakar As Sidiq ra sebagai khalifah dari Umar bin
Khattab. Ucapan beliau adalah “Falfatun min fatina ra’aha Allah
li’izzal Islam wal Muslimin”. Artinya, pengangkatan Abu Bakar adalah
merupakan kesalahan yang efek negatifnya dijaga oleh Allah untuk
kejayaan Islam dan umat Islam secara keseluruhan.

Meskipun dengan sambutan yang keras dari berbagai pihak


dengan kepemimpinan baru di tangan Abu Bakar As Sidiq ra ini,
namun pemerintahan dapat terus berjalan dan mengisi perjalanan
kepemimpinannya dengan program-program yang terbukti memberi
kemajuan cukup banyak bagi perkembangan dan kemajuan Islam, baik
di internal Arab maupun dalam ekspansi eksternalnya dalam
menyebarkan agama Islam hingga ke luar daerah.

Setelah cukup lama memimpin, Abu Bakar As Sidiq ra sakit


dan meninggal dunia. Saat sakit, beliau memberikan wasiat agar
khalifah generasi berikutnya untuk dipegang oleh Umar bin Khattab ra.
Wasiat sang khalifah yang telah wafat dipenuhi, Umar bin Khattab ra
menjadi khalifah penerus Abu Bakar As Sidiq ra. Namun bukan berarti
perang politik selesai di situ, dengan diangkatnya Umar bin Khattab ra
sebagai khalifah, serangan politik dari bani Umayah terus menerus
meneror perjalanan politiknya.

Termasuk yang paling gencar melakukan aksi terror adalah


dari kaum munafik di kalangan bani Umayah, mereka menggulirkan
isu yang tidak-tidak, termasuk isu yang mengatakan bahwa dengan
tabiat Umar bin Khattab ra yang keras, maka perjalanan kepemimpinan
juga militeristik dan membahayakan bagi kedamaian Islam kedepan.
Dengan tegar, khalifah Umar sebagai puncak pimpinan Islam
menghadapi dengan bijak perlakuan dari lawan politiknya itu.

Dengan tanggapan yang demikian itu, justru serangan dari


kaum munafik di kalangan bani Umayah semakin keras, hingga
membuat siasat licik untuk menghabisi nyawa khalifah. Melalui tangan
pasukan khusus pengawal khalifah, yakni Abu Lu’luah, akhirnya
khalifah Umar bin Khattab ra menemui ajal ditengah melakukan
ibadah di masjid. Kematian sang Khalifah ini pertanda perang politik
semakin memanas, apalagi berbagai kekuatan lain yang dengan siap
menyambut posisi kekhalifahan pasca khalifah Umar bin Khattab ra
semakin banyak dan membanjiri bursa calon khalifah.

Menjelang wafatnya, Umar bin Khattab ra sempat


memberikan wasiat agar tampuk kepemiminan kekhalifahan dipegang
oleh Abu Ubaid bin Jarroh. Namun ternyata kabar kematian calon
khalifah yang dikandidatkan khalifah Umar bin Khattab ra belum
terdengar sampai di telinga khalifah. Setelah dijelaskan akan kematian
Abu Ubaid bin Jarroh, barulah wasiatnya diubah, yakni dengan
membentuk tim formatur yang akan memilih calon khalifah.

Beberapa nama yang masuk calon formatur adalah Abdullah


bin Umar, putra dari Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar memiliki
syarat khusus dalam menjadi tim formatur, yakni memiliki hak suara
untuk memilih khalifah, namun tidak diperkenankan untuk memilih
khalifah. Nama lain yang masuk dalam dewan formatur adalah Ali bin
Abi Thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi
Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Zubair.

Selain berpesan tentang dewan formatur itu, beliau juga


berwsiat tentang mekanisme pengambilan keputusan dalam tim
formatur itu, yakni selama empat hari, terhitung sejak dibentuk dewan
formatur, dewan formatur harus menyelesaikan tugasnya memilih
khalifah. Apabila ternyata dalam empat hari itu ternyata tim formatur
tidak mengambil keputusan secara utuh, maka ketua dewan formatur
berhak mengambil keputusan sendiri, dan apabila ada yang tidak
menyepakati keputusan yang diambil oleh ketua tim formatur, maka
harus dibunuh sebagai imbalan atas ketidaksepakatannya.

Perang wacana terus berkecamuk, masing-masing suku


mengajukan nama-nama kandidat, juga bani yang turut serta
menyumbangkan nama-nama kandidat calon khalifah. Syarat utama
dari bursa calon ini adalah, masing-masing suku atau bani berhak
mengajukan satu nama calon. Sehingga praktis banyak kandidat
potensial terpental dari bursa, seperti Zubair bin Awwam yang
terpental dari bursa calon khalifah karena masih satu bani dengan Ali
bin Abi Thalib, yakni dari bani Hasyim. Nama-nama yang berputar di
bursa calon khalifah semaki membuat panic suasana tim formatur,
karena masing-masing suku tetap berpegang teguh atas kandidat di
sukunya sendiri tanpa berupaya mendapatkan kesamaan pandangan
untuk menentukan pucuk pimpinan Islam.
Akhirnya kunci terakhir dipegang oleh Abdurrahman bin
‘Auf ra, hanya dia yang belum menjatuhkan pilihan calon khalifah.
Kemudian, dengan posisinya yang masih netral, dia datang menemui
Ali bin Abi Thalib untuk berdialog empat mata, Abdurrahman bin
‘Auf ra berkata, “Seandainya kau tidak masuk diantara orang yang
dicalonkan, siapa yang kamu pilih?”. Ali bin Abi Thalib menJawab,
“Usman bin Affan”.

Setelah menanyakan kepada Ali bin Abi Thalib ra,


Jawabannya membuat Abdurrahman harus menemui Usman bin Affan
ra untuk menanyakan hal yang sama. “Usman, seandainya kau berada
di luar enam orang ini, siapa yang kamu pilih sebagai khalifah?”
Jawaban dari pertanyaan Usman atas pertanyaan itu, “Ali”.
Abdurrahman dapat mengambil kesimpulan tegas, bahwa kandidat
yang terkuat diantara calon khalifah adalah Usman bin Affan ra dan
Ali bin Abi Thalib ra. Abdurrahman-pun mengambil keputusan untuk
menjatuhkan pilihan. Sikap primordialisme diutamakan, yakni karena
dia berasal dari bani Umayyah, maka pilihan jatuhnya pada Usman bin
Affan ra. Dan kemudian terpilihlah Usman bin Affan ra sebagai
khalifah pengganti khalifah Umar bin Khattab ra.

Dalam perjalanan politiknya, Usman bin Affan ra ternyata


tidak mendapatkan jalan yang begitu mulus, banyak ganjalan yang
dialami oleh Usman bin Affan, apalagi saat berbagai kekuatan saling
sokong mendorong untuk meruntuhkan kekuasaan Usman bin Affan.
Suasana politik semakin mencekam. Kekuatan yang paling kentara
melawan kebijakan dan kepemimpinan Usman bin Affan adalah dari
kalangan bani Umayah yang munafik serta para pendukung Ali bin
Abi Thalib ra yang fanatic. Bahkan sangking fanatiknya, mereka
mengkultuskan Ali bin Abi Thalib ra serta mengatakan bahwa yang
paling pantas menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib ra.
Gelombang demonstrasi dari berbagai sisi terus menyerang
kepemimpinan Usman bin Affan. Sang khalifah semakin dipojokkan
oleh banyaknya adu domba yang mengadu domba berbagai daerah
kekuasaannya untuk melakukan aksi membangkan pada dirinya
sebagai khalifah. Isu yang pertama kali dihembuskan adalah bahwa
dalam menentukan gubernur untuk wilayah kekuasaannya, dinilai
terlalu nepotis, karena yang dipilih menjadi gubernur adalah orang-
orang dari kalangan suku atau klan keluarganya. Ini semakin membuat
kacau kondisi Negara saat itu.

Banyaknya demonstrasi yang terjadi membuat Usman bin


Affan perlu mengambil kebijakan tegas. Mengetahui kondisi yang
demikian itu, Ali bin Abi Thalib ra, segera melakukan lobby politik
dengan Usman bin Affan ra. Lobby tersebut inti dari yang
diperbincangkan adalah, agar Usman bin Affan ra segera
mengundurkan diri dari kursi ke khalifahan karena dinilai plin-plan
dan tidak tegas dalam pengambilan kebijakan. Melalui utusannya,
Hasan bin Ali, pada pagi harinya, Ali menanyakan kepada khalifah
tentang kesediaannya untuk meninggalkan kursi ke khalifahan.
Jawaban dari khalifah Usman bin Affan ra menyanggupi untuk
mengundurkan diri dari menjadi khalifah.

Namun pada sore harinya, Ali melakukan hal yang sama,


menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh Hasan
bin Ali. Kali ini dengan utusan lain, yakni Husein bin Ali. Namun
Jawaban yang diterima Husein bin Ali berbeda dari yang ditanyakan
oleh Hasan bin Ali. Khalifah tidak bersedia mundur, bahkan dengan
pertumpahan darah sekalipun, kursi kekhalifahan tetap akan
dipertahankannya. Mendengar Jawaban yang berbeda itu, Ali bin Abi
Thalib memandang bahwa suasana politik akan semakin kacau, oleh
karena itu, dia menugaskan kepada kedua orang anaknya, Hasan bin
Ali dan Husein bin Ali untuk menjaga pintu rumah sang khalifah dari
kemungkinan terburuk, pembunuhan terhadap khalifah.

Gelombang demonstrasi yang anarkis terjadi dimana-mana,


kekacauan sering terjadi tanpa diketahui sebab musababnya. Orang
Mesir datang ke Makkah dan menuntut agar gubernur Mesir dipecat
dari jabatannya. Dengan segera, Usman bin Affan ra menulis surat
pemecatan terhadap Abdullah bin Syarah dari jabatan sebagai gubernur
Mesir. Dengan membawa surat tersebut, akhirnya rombongan
demonstran kembali lagi ke Mesir dengan kemenangan.

Tidak terhenti sampai disitu ternyata, ditengah perjalanan


pulang kembali ke Mesir, ada yang membuat intrik lagi. Kali ini
dengan mengutus seorang budak hitam yang dibuat sangat
mencurigakan berjalan searah dengan mereka. Kecurigaan orang-orang
Mesir semakin menjadi manakala budak tersebut bertingkah aneh.
Orang-orang Mesir kemudian menangkap budak tersebut dan
memeriksanya. Terkejut mereka melihat surat yang dibawa oleh budak
tersebut yang berisi perintah pembunuhan kepada siapapun calon
gubernur yang akan menggantikan Abdullah bin Syarah. Dalam surat
itu, terpampang dengan jelas tanda tangan dari khalifah Usman bin
Affan ra. Terlepas dari tanda tangan itu asli atau tidak, surat itu telah
berhasil membuat orang Mesir merasa ditipu dan naik pitam, segera
rombongan yang sudah sampai ditengah jalan itu kembali ke Madinah
untuk meminta pertanggungJawaban khalifah.

Sesampai di Madinah, orang-orang Mesir semakin terkejut,


karena disana telah dijumpai rombongan besar dari Kuffah dan
Basyrah. Yang membuat mereka terkejut adalah, mereka datang dari
arah yang berbeda-beda, Kuffah berangkat dari daerah Utara dari arah
Madinah, sementara Basyrah berangkat dari arah Timur Madinah,
sementara rombongan mereka sendiri, Mesir, berangkat dari Arah
Timur Madinah. Yang membuat mereka bertanya, siapa yang membuat
scenario ini, dan mengapa yang mempunyai masalah orang mesir,
justru orang dari Kuffah dan Basyrah juga datang ke Madinah?.
Tentang siapa yang membuat scenario ini, tak ada satu orangpun yang
mengetahui siapa dalang dibalik semua itu.

Begitu mendengar kabar bahwa sang khalifah terkepung,


Muawiyah bin Abu Sofyan segera mengirimkan pasukan khusus dari
perwira tingginya untuk melindungi Usman bin Affan dari
kemungkinan terburuk, para perwira tinggi langsung didatangkan oleh
Muawiyah bin Abu Sofyan dari Damaskus. Namun ditengah
perjalanan itu, kabar tidak mengenakkan terdengar ditelinga para
Perwira Tinggi itu dan memaksa mereka kembali ke Damaskus untuk
mengabarkan kabar buruk tersebut.

Ditengah kekacauan yang semakin memanas itu, putra Abu


Bakar As Sidiq ra, Muhammad bin Abu Bakar menerjang khalifah
Usman bin Affan ra yang sedang membaca Al Qur’an. Dengan
hunusan pedangnya, Muhammad bin Abu Bakar berhasil membunuh
khalifah seketika itu juga. Kepala Khalifah terpenggal dan suasana
semakin menjadi kacau dengan kematian khalifah.

Mendengar kabar kematian Khalifah, Muawiyah bin Abu


Sofyan mulai memainkan insting politiknya. Muawiyah bin Abu
Sofyan mengumpulkan orang-orang Damaskus di masjid, dengan
tangisan, entah pura-pura atau nyata, dia menyatakan bela sungkawa
atas kematian orang terbaik di sukunya itu. Baju Usman bin Affan ra
yang masih berlumuran darah didatangkan dari Madinah. Baju tersebut
digantungkan di pintu masjid untuk membakar semangat dendam.
Tuntutannya adalah diberlakukan hukum qishash, yakni siapa yang
membunuh maka dibunuhlah pembunuh tersebut. Serta dibunuh pula
orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan terhadap Usman bin
Affan. Karena sifat dari orang-orang gurun pasir yang sangat
primordial, masyarakat Damaskus dan masyarakat dari suku Umayah
merasa terprovokasi untuk meminta pertanggungJawaban atas
kematian Usman bin Affan ra.

Pada saat yang bersamaan, Thalhah, Zubir, Sa’ad bin Abi


Waqas dan Abu Hurairah segera berunding untuk menentukan calon
khalifah pengganti Usman bin Affan, dari pertemuan itu memutuskan
untuk memilih Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Usman
bin Affan. Dari semua kalangan menyetujui Ali bin Abi Thalib sebagai
khalifah, hanya orang-orang Syam dan Syiria yang tidak mengakui Ali
bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Setelah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra dilantik menjadi


khalifah, Ali bin Abi Thalib mengeluarkan kebijakan pertamanya,
yakni memecat semua gubernur yang dipilih oleh Usman bin Affan ra,
karena banyak yang menuai protes atas kebijakan Usman bin Affan ra
tersebut yang dinilai terlalu nepotis dalam kebijakannya.

Aisyah yang saat itu sedang di Makkah, mendengar


pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah serta kabar
dibunuhnya Usman bin Affan sangat terprovokasi. Dari awal,
hubungan antara menantu dan mertua ini memang tidak harmonis,
selalu terjadi perbedaan pendapat hingga puncaknya di perang Jamal
yang menghabiskan nyawa hingga 10.000 orang dari kedua belah
pihak. Ketidakharmonisan hubungan keluarga ini karena Aisyah
merasa tersinggung saat diisukan selingkuh dengan Sofwan. Perang
yang dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib ini dikutuk oleh banyak
pihak, karena peperangan ini adalah peperangan yang akan semakin
memperlemah Islam. Dari kedua kelompok ini, muncullah kelompok
baru yang netral, yang tidak memihak keduanya, kelompok ini
dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqas.

Aisyah semakin menjadi, ketika kabar sampai ditelinganya, ia


langsung menuju ke Basrah, memobilisasi pasukan untuk menuju
Madinah dan menuntut Ali bin Abi Thalib untuk segera mengambil
tindakan atas berbagai kekacauan yang terjadi.

Satu tahun kemudian, Muawiyah bin Abu Sofyan menyusun


kekuatan besar untuk melakukan pemberontakan terhadap Ali bin Abi
Thalib. Perangpun berkecamuk, perang besar yang mengorbankan
banyak nyawa ini disebut perang Shiffin. Pasukan Ali bin Abi Thalib
dipimpin oleh orang yang ahli perang dari suku Badui asli,
pasukkannyapun sangat kuat sehingga mampu mendesak mundur
pasukan dari Muawiyah bin Abu Sofyan. Pasukan Muawiyah bin Abu
Sofyan terdesak mundur, tetapi belum kalah, pasukan Muawiyah
memiliki politisi yang sangat cerdik, Amr bin Ash. Ia membisiki
Muawiyah bin Abu Sofyan untuk mengubah siasat perangnya dengan
mengajuakan perjanjian damai dengan Ali bin Abi Thalib, Usulan
tersebut disetujui Muawiyah bin Abu Sofyan, ia memerintahkan
pasukannya untuk mengangkat Al Qur’an tinggi-tinggi sebagai tanda
ajakan damai. Ali paham bahwa itu adalah siasat licik dari Muawiyah,
karena itu, Ali bin Abi Thalib tetap memacu pasukannya untuk terus
maju menyerang.

Ditengah kebimbangan itu, dalam barisan Ali bin Abi Thalib


pecah, ada banyak pasukan yang menyerukan kata-kata “Mereka sudah
mengajak damai, kita harus berhenti menyerang”, “Pantaskan
menyerang orang yang sudah meminta damai”, bahkan pada barisan
kelompok ini tidak hanya seruan damai yang diserukan, tetapi
ancaman, ‘Jika Ali bin Abi Thalib tetap maju menyerang, jangan kaget
kalau terjadi pembunuhan Usman kedua kalinya”. Ini cukup membuat
curiga pasukan lainnya, karena tidak mungkin dalam satu barisan
perang, ada pasukan yang berani mengancam pimpinan pasukannya.
Akhirnya Ali bin Abi Thalib sepakat dengan seruan damai yang
diajukan oleh kelompok Muawiyah.
Setelah perang selesai, finah dikalangan umat Islam
menyebar kemana-mana, yakni mempertanyakan status hukum
berperang sesama muslim, dan Jawaban spekulatif inipun sangat
controversial, ada yang menyatakan halal dengan alasan tertentu,
adapula yang mengharamkannya.

Barisan yang paling kuat mengharamkan perang antar sesama


muslim adalah barisan kelompok khawarij, mereka adalah barisan
yang tidak sepakat dengan adanya perang, mereka tidak mengakui Ali
bin Abi Thalib, tetapi juga tidak berada di kelompok Muawiyah,
bahkan mereka mengharamkan keduanya. Dan mereka juga sempat
menyinggung perang antar sesama muslim yang terjadi sebelumnya,
yakni perang Jamal antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah. Mereka
menyatakan kafir terhadap Ali bin Abi Thalib, Aisyah dan Muawiyah.

Sementara kelompok lain, yang berada di barisan Ali bin Abi


Thalib adalah kelompok dengan legitimasi hadist (keshahan hadits ini
banyak dipertanyakan) “Ana madinah al ‘ilmi wa ‘Ali babuha” (Saya-
Muhammad- adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintunya. Hadist
ini sangat membuat masyarakat merasa bahwa Ali adalah yang paling
pantas memimpin mereka. Bahkan diantara yang paling fanatic di
barisan ini mengatakan bahwa sesungguhnya yang diangkat sebagai
nabi adalah Ali bin Abi Thalib, Muhammad adalah hanya sebagai juru
bicaranya saja. Kelompok ini pada perkembangan selanjutnya disebut
sebagai kelompok syi’ah.

Kelompok yang berkembang lainnya adalah kelompok yang


menggunakan medio doktrin agama untuk melegitimasikan kekuasaan
sebagaimana dilakukan oleh Muawiyah dengan doktrin jabariyah-nya.
Mereka berpendapat bahwa setiap hal yang terjadi adalah kehendak
Allah, bahwa manusia hanya dapat menerima dengan menjalankannya
saja. Doktrin kebenaran dan keburukan dikembangkan dengan
sedemikian rupa sehingga sangat mudah diterima oleh masyarakat
awwam. Gerakan ini dilawan dari putra khalifah Ali bin Abi Thalib,
yakni Muhammad bin Ali yang baru berusia 18 tahun. Ia menyerukan
kepada umat Islam di masjid-masjid bahwa setiap tindakan yang
terjadi, setiap hal yang terjadi di dunia ini adalah akibat dari perbuatan
manusia itu sendiri. Allah tidak ikut campur terhadap hal yang terjadi
di dunia ini. Doktrin ini kemudian disebut sebagai qadariyah.

Ada pula kelompok lain yang turut serta dalam penggolongan


agama ini, kelompok ini cenderung apatis dengan kehidupan politik,
mereka mengkonsentrasikan diri pada beribadah dan ilmu
pengetahuan. Termasuk didalamnya adalah kelompok para perawi’
hadits, para ahli zuhud dan pembaca Al Qur’an. Mereka murni hanya
mementingkan ibadah kepada Allah dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Berapa pendapat dari sejarawan muslim, menyebut
kelompok ini sebagai kelompok murji’ah, adapula yang memberi
nama dengan mu’tazilah, adapula yang menyebut dengan istilah
ahlussunah.

Gerakan ini pada perkembangan selanjutnya ternyata mampu


menandingi gerakan Muawiyah, sebagai counter part dan antithesis
dari teologi jabariyah. Kemenangan ini karena ajaran yang dibawa
oleh kaum mu’tazilah ternyata lebih mapan dalam konsepsi
pengetahuan dan ibadah. Posisi utama yang dikendalikan oleh Hasan al
Bashri sebagai pembawa arus gerakan mu’tazilah ini ternyata mampu
membalik ajaran jabariyah yang dikemas sedemikian rupa oleh
Muawiyah dengan pengembangan konsepsi pengetahuan yang
melahirkan banyak disiplin ilmu baru, diantara ilmu baru yang
berkembang diera tersebut adalah al ‘ilm al bayan, al ‘ilm al irfan dan
al ‘ilm al burhan. Tentulah dengan pemahaman pengetahuan turunan
yang lebih rasional dan sesuai dengan prinsip dasar agama, kaum
mu’tazilah mampu memperoleh posisi sosial dan politik yang sangat
kuat dan strategis.

Pasca munculnya ilmu-ilmu tersebut menjadi bahan


perdebatan yang cukup banyak dikalangan masyarakat, terutama para
ahli ilmu. Dari kaum mu’tazilah sendiri banyak semakin
mengandalkan rasio, serta meninggalkan berbagai pendekatan yang
sifatnya tidak rasional, seperti pendekatan peribadatan dan pendekatan
spiritual mistis. Perdebatan tentang teori kebenaran ini, kemudian
memunculkan nama baru sebagai penengah ditengah perdebatan
mu’tazilah yang mengunggulkan rasio, yakni Imam Abu Hanifah.
Beliau mengimbangi pemikiran mu’tazilah yang cukup liberal dengan
pemahaman rasio, mengimbangi pemahaman agama yang dangkal
kaum khawarij yang mudah mengkafirkan orang lain yang tidak
sepaham, serta cara pandang yang sangat mistik yang dikembangkan
kaum syi’ah.

Konsepsi keseimbangan dengan dasar tasamuh dan tawazun


inilah yang kemudian dalam waktu kedepan mendapat posisi strategis
dan berangsur-angsur terkenal dengan nama ahlussunah wal jama’ah.
Pada periode selanjutnya, paham ini semakin dikembangkan luas oleh
para ulama, diantaranya adalah Al muahsibi dan Ibnu Kullah. Bahkan
diantara para ulama yang paling tegas dalam mengaplikasikan
madzhab ini adalah Abu Hasan Al Asy’ari. Hebatnya lagi, Abu Hasan
Al Asy’ari memberlakukan ahlussunah wal jama’ah ini sebagai
madzhab resmi dinasti Abasiyah.

NU Struktural dan Kultural

Sebagaimana dapat mudah ditemukan referensi ilmiah


mengenai Nahdlatul Ulama’, baik jama’ah maupun jami’yyahnya,
semua kalangan, baik intern NU ataupun non NU bahkan non Islam
sekalipun dapat mengetahui secara lebih mendalam tentang jama’ah
dan Jami’yyah yang memiliki jumlah anggota terbesar di Indonesia.
Banyak ilmuwan dalam tesis atau disertasinya yang mengangkat NU
sebagai grand theme dari berbagai persepektif yang kemudian dikemas
dalam kemasan yang lebih menarik perhatian, meskipun sebenarnya
beberapa tradisi NU lebih dapat dinilai mistis non ilmiah daripada sisi
keilmiahannya. Nama-nama besar seperti Greg Barton, Ben Anderson,
Andre Felliard, David Levine, Herbert Feith, Harry J. Benda, Clifford
Geertz, Bruce Glassburner, Van Der Kroef, WF Wertheim, dan
Indonesianis lainnya adalah orang-orang yang sedikit banyak
meletakkan NU sebagai bagian penting dari Indonesia, baik dari sisi
sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.

Nahdlatul Ulama’, adalah organisasi yang berdiri pada


tanggal 31 Januari 1926 secara resmi pada pertemuan beberapa ulama’
besar yang membahas Komite Hijaz yang akan diberangkatkan ke
Makkah untuk menghadap ke Raja Ibnu Saud, Raja baru kerajaan
Saudi yang berasal dari kalangan Wahabi. Pertemuan ulama di
Surabaya ini, selain membahas mengenai kondisi Islam global, juga
mendiskusikan mengenai masa depan Islam Nusantara, tradisi warisan
zaman kuno, penjajahan, ekonomi masyarakat serta hal-hal lain yang
tekait dengan kondisi aktual saat itu.

Meskipun secara resmi berdiri pada tanggal 31 Januari 1926,


namun embrio organisasi ini telah ada sejak permulaan zaman
pergerakan, yakni dengan ditandai kemunculan Nahdlatut Tujjar,
organisasi sosial Islam yang bergerak untuk menangani persoalan
perekonomian sosial, khususnya untuk para pedagang yang ketika itu
banyak mengalami tindakan represif dari rezim penjajah Belanda,
adapula organisasi yang bernama Taswirul Afkar, yakni organisasi
yang secara khusus mendalami pendidikan, baik pendidikan agama
ataupun pendidikan umum dan sosial. Dan yang paling penting
sebenarnya tidak pada titik tersebut, justru dapat dikatakan, embrio NU
ada sejak adanya Islam di Jawa khususnya atau nusantara pada
umumnya, hal ini dapat dilihat dari peran Ulama besar pada zamannya
yang mencoba mengembangkan Islam yang lunak dengan
diakulturasikan dengan khazanah kearifan lokal. Ini justru menjadi
embrio utama NU dari zaman Samudera Pasai dan Demak Bintoro
yang Ulama di zaman tersebut menggunakan tradisi sosial sebagai
tradisi religius dengan perubahan-perubahan pada titik tertentu yang
dinilai melanggar norma sosial atau ajaran agama, Islam khususnya.

Mengapa dapat dikatakan embrio NU ada jauh sebelum


adanya organisasi?, setidaknya banyak faktor yang dapat dijadikan
asumsi logis mengenai hal ini, terkait dengan NU yang ada jauh
sebelum masuknya budaya Barat atau tradisi Wahabisme ke nusantara.
Secara umum, NU adalah organisasi (jami’yyah) yang memiliki
struktur keorganisasian, hirarki kepengurusan, sistem administrasi,
anggota serta sistem kaderisasi. Tetapi selain itu, NU adalah
sekumpulan orang yang menjaga tradisi tertentu dengan ritus tertentu
yang ada pada wilayah tertentu sesuai dengan khazanah kearifan lokal
wilayah tersebut, atau pendeknya dapat dikatakan komunitas
(Jama’ah). Secara organisasi NU memang lahir pada saat pertemuan
KH. Hasyim Asy’ari dengan ulama’-ulama’ besar lainnya di Surabaya,
namun sebagai Jama’ah yang mempertahankan tradisi kearifan lokal
sebagai modal utama mempertahankan tradisinya, NU ada jauh
sebelum zaman pergerakan awal. Tetapi, secara umum ini bukan klaim
kosong yang berdasarkan dalil tradisi, namun apabila ditarik pada
wilayah lainnya, NU adalah organisasi yang memiliki ‘kandang’
pesantren, NU adalah organisasi yang berada dibawah para Kyai-kyai
Pesantren, dan adanya pesantren sebagai satu institusi pendidikan
resmi pertama kali didirikan oleh Sunan Ampel di Ampeldenta
Surabaya.

Sebagai jam’iyyah, posisi NU dalam percaturan tata sosial


menjadi satu tatanan hirarkis organisasi. Dimana dalam organisasi ini
diatur tentang peraturan organisasi serta arahan roda organisasi yang
baik untuk jangka pendek ataupun jangka menengah dan panjang.
Tentulah sebagai sebuah organisasi yang memiliki massa sangat besar,
NU mempunyai tatanan hirarkis yang dimulai dari tingkatan kebawah
hingga tingkat teratas yang menjadi pusat komando NU.

Menilik hirarkis NU, organisasi yang menjadi representasi


kalangan pesantren ini, memulai jejaring hirarkisnya dari tingkatan
masjid dan mushala yang disebut sebagai KAR atau Kelompok Anak
Ranting, selanjutnya pada tingkat desa/dusun, disebut sebagai
pengurus Ranting, sedangkan di tingkatan Kecamatan istilah untuk
menyebut tingkatan ini adalah MWC (Majelis Wakil Cabang)
sedangkan untuk tingkat Kabupaten/Kota atau wilayah khusus disebut
dengan Pengurus Cabang. Beberapa cabang dalam satu provinsi atau
pulau membentuk organisasi bersama pada tingkatan tersebut dengan
nama Pengurus Wilayah yang biasanya berdomisili di ibu kota
provinsi. Selanjutnya seluruh pengurus Wilayah yang ada, NU berada
dalam garis komando PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).
--------- : Garis Koordinasi
_____ : Garis Instruksi

Sedangkan system di internal hirarkis tersebut, jam’iyyah NU


dipimpin oleh Dewan Syuro’, Dewan Mustasyar dan Dewan Tanfidz.
Dewan suro berfungsi sebagai kepala, biasanya pada tingkatan ini
adalah ulama/kyai yang telah memiliki pemahaman agama yang paling
tinggi, karena dalam posisi ini, para pengurus berkewajiban untuk
memberikan pembelaan dan pengajuan suatu perkara (sosial) kepada
Pengurus Tanfidziah. Dewan Syuro (Syuriyyah NU) ini apabila
disamakan dengan pola manajemen pesantren dapat dikatakan sebagai
Kyai/Ulama-nya yang memimpin umat dalam satu wilayah teritori
tersendiri dimana organisasi tersebut berada.

Dewan Syuro (Syuriyah) ini dipimpin oleh seorang


kyai/ulama yang memiliki pemahaman agama lebih matang, tingkat
peribadatan yang tinggi serta kemampuan menyelesaikan konflik sosial
yang muncul (melalui forum bahtsul masail). Di tingkat Pengurus
Besar yang memimpin dewan syuro ini disebut sebagai rais ‘aam.
Sedang ditingkat wilayah dan atau cabang disebut sebagai Rais
Syuriyah. Rais ‘Aam menjadi kyai untuk seluruh warga Nahdlatul
Ulama di seluruh Indonesia dan secara otomatis menjadi rujukan
hukum oleh seluruh PC NU atau PW NU dalam pengambilan
keputusan yang terkait dengan problem sosial.

Sedangkan yang dimaksud dengan Dewan Mustasyar


ditempatkan sebagai dewan penasehat. Tugas dan wewenang dari
posisi ini adalah memberikan pertimbangan, nasihat serta masukan-
masukan yang terkait dengan kebijakan organisasi. Dewan mustasyar
dengan posisi ini setidaknya mampu ‘mempengaruhi’ Dewan
Tanfidziyah dalam penyikapan dan realisasi program kerjanya.

Posisi selanjutnya disebut dengan dewan tanfidziyah, dewan


ini ibaratnya adalah lembaga eksekutif, dimana dalam posisi ini adalah
posisi fight yang bersentuhan langsung sebagai eksekutor kebijakan
organisasi. Dengan dipimpin oleh seorang ketua dengan perangkat
lengkap di berbagai sector kehidupan sosial, dewan tanfidz menjadi
pemegang kendali organisasi serta yang paling berwenang untuk
mengambil keputusan organisasi. Secara berurutan, dapat digambarkan
sebagai berikut:
--------- : Garis Koordinasi
_____ : Garis Instruksi

NU sebagai Jam’iyyah menempatkan struktur kepengurusan


sebagai alat legitimasi terhadap kebijakan organisasi, dimana melalui
struktur ini, kebijakan organisasi, baik internal maupun eksternal yang
paling berwenang untuk mengeluarkannya adalah ketua dewan
tanfidziyah bersama dengan ketua dewan syuro (rais syuriyah).
Kebijakan yang telah dikeluarkan oleh organisasi yang bersifat internal
diterjemahkan melalui struktur dibawahnya yang memiliki hubungan
langsung dengan kebijakan tersebut.

Dalam hal kebijakan eksternal, Ketua Dewan Tanfidziyah


bersama dengan ketua dewan syuro melakukukan analisis dari
berbagai sudut pandang, bersama pula dewan mustasyar dan struktur
kepengurusan pada tingkatan tersebut. Analisis ini digunakan sebagai
upaya antisipasi terjadinya hal-hal yang diluar misi dasar organisasi.
Setelah pembahasan dilakukan, maka pengambilan keputusan atas
kebijakan organisasi baru dapat dikeluarkan dan dihubungkan dengan
pihak luar yang terkait.
Sementara itu, pada tingkatan paling bawah, yakni Kelompok
Anak Ranting (KAR) yang struktur kepengurusannya serta aktivitas
organisasinya berada di masjid-masjid dan mushalla, pola pengambilan
kebijakan lebih didasarkan atas kebutuhan bersama jama’ah. Artinya,
pengambilan kebijakan organisasi diputuskan bersama dengan jama’ah
(masyarakat sekitar) dengan turut serta melibatkan pengurus masjid
serta ulama setempat. Hal ini karena KAR bersentuhan langsung
dengan masyarakat dan bertanggungJawab penuh atas kondisi jama’ah
yang dipimpin.

Selain structural tersebut, NU juga memiliki beberapa badan


otonom (banom) yang membawahi beberpa sector sosial. Keberadaaan
badan otonom ini berfungsi sebagai gerakan spesifik, dimana objek
dari gerakan tersebut tertuju secara langsung melalui nama lembaga.
Beberapa badan otonom yang dimaksud adalah Muslimat, Fatayat, GP.
Ansor, IPNU/IPPNU, Lesbumi, Lakpesdam, dan sebagainya. Banom
ini selain badan otonom resmi yang berlaku dari pengurus besar hingga
pengurus ranting, ada pula badan otonom yang didirikan pada masing-
masing tingkatan kepengurusan tertentu, namun tidak dijumpai pada
structural yang lain. Hal ini didasarkan pada faktor kebutuhan akan
lembaga tersebut yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang
lain. Keberadaan badan otonom ini, oleh pengurus structural
digunakan sebagai kePajangan tangan.

Muslimat adalah organisasi kewanitaan NU yang anggotanya


berumur kisaran 40-45 tahun keatas. Muslimat termasuk organisasi
kewanitaan yang memiliki sejarah panjang dalam menopang gerakan
NU sepanjang sejarah. Organisasi yang diperuntukkan untuk
memberikan bekal spiritual dan moral bagi wanita usia separuh baya
ini juga memberikan sumbangsih terhadap pengembangan pendidikan
masyarakat dengan banyaknya lembaga pendidikan yang didirikan
oleh Muslimat. Selain lembaga pendidikan, Muslimat juga mendirikan
beberapa rumah bersalin, pos pendidikan, pengajian dan sebagainya.

Sementara Fatayat, hampir sama dengan muslimat. Ini juga


merupakan organisasi kewanitaan dengan anggota yang kisaran
umurnya 25-40 tahun. Organisasi yang digawangi oleh ibu-ibu muda
ini dalam kontribusi sosialnya telah tercatat dalam sejarah sebagai
organisasi yang memberikan pengaruh besar terhadap kesejahteraan
sosial. Peranannya baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam
lingkungan sosial telah menempatkan Fatayat sebagai badan otonom
NU yang cukup aktif dalam aktivitas organisasinya.

GP Ansor juga merupakan salah satu badan otonom NU yang


memiliki ruang gerak di wilayah kepemudaan. Gerakan Pemuda Ansor
(GP Ansor) adalah merupakan barisan muda NU yang memiliki
barisan paramiliter sebagai barisan keamanan NU, pasukan paramiliter
ini disebut sebagai Banser atau barisan Ansor serba guna. Banser
sebagai sebuah organisasi turunan memiliki kekuatan yang hampir ada
disetiap tingkatan kepengurusan jami’yah NU, mulai dari pusat hingga
KAR. Pada awalnya, berdirinya Banser adalah sebagai kesatuan
pelindung dan pengaman para kyai NU yang sedang beraktivitas
dakwah. Banser merupakan penerjemahan lanjutan dari apa yang
pernah ada dalam NU di masa kolonial, yakni pasukan perang. Pada
saat itu, NU memiliki kesatuan perang sebagai pengeJawantahan atas
keputusan resolusi jihad dan pernyataan perang NU melawan
penjajahan sebagai manifesto kehidupan berbangsa.

Ansor selain memiliki Banser juga memiliki kepengurusan


sendiri yang bergerak dengan jalan sesuai AD/ART sendiri.
Kepengurusan Ansor diatur secara mandiri mulai dari tingkat pusat
hingga ranting. Namun keberadaan Ansor sebagai organisasi otonom
NU membuat gerakan dan jalur organisasinya harus tetap berkiblat
pada organisasi induk, yakni nahdlatul Ulama.
Kantong pelajar dan mahasiswa juga memiliki wadah
tersendiri yakni IPNU dan IPPNU. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
adalah organisasi pelajar NU yang khusus untuk laki-laki sedangkan
untuk perempuan, didirikan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama yang
juga memiliki kepengurusan dan tatanan organisasi sendiri. Meskipun
dua organisasi ini berbeda kepengurusan dan masing-masing memiliki
system organisasi sendiri, namun keduanya menjadi satu kesatuan
yang hampir tak terpisahkan antara yang satu dengan yang lainnya
karena keduanya memiliki arah gerak serta cita dan tujuan yang sama.

IPNU/IPPNU dahulu juga merupakan kantong mahasiswa,


dimana pada awal berdirinya diperuntukkan khusus untuk para pelajar,
namun ketika para mahasiswa NU yang awalnya tergabung dalam
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memilih mengeluarkan diri karena
problem ideologi, kemudian membentuk divisi kemahasiswaan dalam
IPNU/IPPNU. Namun problem ‘nama’ organisasi membuat para
mahasiswa memikirkan kembali membentuk wadah baru yang cita dan
tujuan searah namun memiliki ruang khusus, maka atas prakarsa dari
para aktivis mahasiswa di tahun 1960 berdirilah Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang kemudian resmi menjadi
badan otonom sebagai wadah mahasiswa dalam NU. Meskipun dua
belas tahun kemudian memilih untuk keluar dari NU karena persoalan
politik yang digelar dalam deklarasi Murnajati PMII.

IPNU dan IPPNU sebagai kantong pelajar membawa arah


baru bagi perkembangan pengkaderan NU ditingkat pelajar. Dimana
dengan IPNU, doktrin aswaja mulai disuntikan ditengah para pelajar
serta menumbuhkan sikap yang nahdliyyah ditengah para pelajar
dalam hubungan sosial dan agamanya. Pengkaderan dalam IPNU dan
IPPNU membawa misi besar sebagai penyokong awal gerakan
pengkaderan disisi pembangunan sumber daya manusia NU.
Teringat Lekra (lembaga kesenian rakyat) dan Manikebu
(Manifesto Kebudayaan) serta berbagai kelompok seni lainnya yang
ada di era orde lama, maka untuk membentuk kantong budaya di tubuh
NU dibentuklah Lesbumi. Lesbumi selain memfasilitiasi
pengembangan budaya dan seni masyarakat juga memberikan warna
baru dalam pengembangan berbudaya, menampilkan perkembangan
baru dalam system kebudayaan serta memberikan corak baru dalam
hubungan seni antar seniman yang saat itu sangat konfrontatif.
Sebutlah misalnya pertarungan besar yang terjadi dalam satu angkatan
seni antar kelompok, diantara Lekra dan Manikebu banyak sekali
konflik, yang direpresentasikan dalam karya, yang bertolak belakang.

Keberaadan Lesbumi juga bercita-cita untuk melestarikan


khazanah kearifan lokal yang ada, dimana Lesbumi memberikan corak
tersendiri dalam pengembangan kebudayaan sebagaimana disebutkan
diatas. Lesbumi memilih untuk menempatkan khazanah lokal sebagai
asset terbesar budaya yang perlu dikembangkan dan dilestarikan,
sehingga dalam setiap karya dan produksinya, khazanah lokal memberi
arti tersendiri dalam perform lesbumi.

Lembaga kajian dan pengembangan sumber daya manusia


(lakpesdam) NU juga memberi warna baru dalam cara pandang tentang
sumber daya manusia, lembaga ini concern dalam pengembangan
sumber daya manusia, baik dalam lingkup politik, sosial, budaya,
ekonomi serta pemberdayaan sumber daya manusia dibidang tenaga
kerja dan tatanan sosial. Sebutlah misalnya tentang peranan lakpesdam
dalam menghadapi banyaknya TKI/TKW NU yang berada diluar
negeri, pentingnya lakpesdam dalam gerakan ini adalah untuk
memproteksi, mengantisipasi serta menangani terjadinya kekerasan,
baik kekerasan fisik maupun non fisik yang sering kali terjadi.

Rabithan Ma’had Islamiyah (RMI) adalah induk semang NU,


dimana dalam RMI, peranan pondok pesantren sebagai ‘induk’ NU
mendapatkan posisi tersendiri dalam ruang sendiri pula. Hubungan
antar lembaga pesantren yang satu dengan yang lain difasilitasi dalam
ruang yang sama di RMI, hal ini dapat dilihat dari perkembangan RMI
dari masa ke masa yang menjadi wadah komunikasi, wadah pertukaran
pendapat serta wadah pengembangan keagamaan dalam berbagai
sector kehidupan.

Didalam RMI, selain terjalin komunikasi antar pesantren,


juga mempererat hubungan antara pesantren yang satu dengan
pesantren yang lain, sehingga suasana harmonis antar pesantren dapat
tercipta melalui lembaga ini. Terinspirasi dari gaya ulama pesantren
pada masa lampau yang sering terjalin komunikasi dan pertukaran
pelajar, maka RMI menempatkan posisi organisasinya berada pada
tingkatan tersebut yang tidak ingin terjadi pergeseran antar posisi
pesantren. Atau bahkan ‘pertengkaran’ antar pesantren.

Disamping itu, RMI juga dalam komunikasinya membawa


misi paling penting dalam mengemban ajaran NU. Dimana sesuai
statute NO 1926, bahwa setiap kitab yang diajarkan di pesantren harus
yang tidak bertolak belakang dengan ajaran Islam ahlussunah wal
jama’ah. Peranan RMI dalam hubungan antar pesantren juga ada
public share soal itu. Peranan vital inilah yang menjadi posisi RMI
sangat penting selain sebagai ‘ruh’ gerakan NU.

Demikian juga halnya dibidang pengambilan keputusan


hukum dalam NU, selain bersumber dari kitab-kitab yang ditentukan
oleh pesantren (RMI), sebagai wadahnya dibentuk lembaga khusus
yang menangani persoalan sosial yang terjadi terkait dengan hukum
agama. Dalam NU, lembaga tersebut diberi nama dengan lembaga
bahtsul masa’il. Lembaga ini khusus menangani soal keputusan
hukum dalam persoalan yang terjadi, baik yang bersifat mendasar
ataupun turunan. Lembaga ini bertugas mengumpulkan kyai dan
ulama, masyarakat, pengkaji dan serta orang yang ahli dibidangnya,
untuk bermusyawarah menentukan hukum atas persoalan yang terjadi
yang akan dibahas.

Lembaga ini menjadi ‘hakim’ atas masalah sosial yang


terjadi. Melalui lembaga ini pula, dapat diketahui keputusan atas
problem sosial yang terjadi, hukum halal haramnya serta peraturan lain
yang terkait atasnya.

Untuk mempublikasikan hasil ijtihad hukum yang diambil


dalam keputusan bahtsul masail tersebut, dalam NU dibentuk
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Lembaga ini membawa
misi dakwah kepada warga NU khususnya dan umat muslim pada
umumnya, serta pada cakupan paling luas, seluruh masyarakat tanpa
memandang suku dan agamanya.

LDNU membawa arah pengembangan pola komunikasi


sosial keagamaan. Lembaga ini menjadi mediator antara jami’yah NU
dengan jama’ah NU. Dengan LDNU, maka posisi NU stuktural akan
mampu bersentuhan langsung dengan NU cultural. Sehingga dalam
pengembangannya, NU tetap tidak jauh dari akar rumput yang
merupakan basis masa terbesarnya.

Dalam bidang pendidikan formal, NU juga memiliki


perangkat khusus, lembaga ini diberi nama Ma’arif. Lembaga yang
khusus menangani pendidikan formal, baik jenjang dasar hingga lanjut
ini memiliki ruang gerak yang lumayan luas. Pada tingkat kabupaten/
kota misalnya, peranan Ma’arif hampir setara dengan Dinas
Pendidikan atau Departemen Agama dalam mengurusi persoalan
pendidikan NU. Posisi ini cukup strategis sebagai lembaga yang
khusus menangani persoalan pendidikan agama di tingkatan dasar.

Lembaga ini mulai dari pendidikan TK, MI/SD, SMP/MTs,


MA/SMA/SMK serta Perguruan Tinggi yang berada dibawah naungan
NU sebagai pemegang kebijakan yang penting. Dengan lembaga ini
pula, pendidikan masyarakat, terutama di daerah pedesaan, tidak lagi
mendapatkan kesulitan.

Secara historiorganisatoris, lembaga ini merupakan manifesto


dari statuten NO 1926 yang diantara isinya adalah mendirikan lembaga
yang bergerak dalam pengembangan pendidikan keagamaan serta
pendidikan sosial. Amanat ini diwujudkan dan telah direpresentasikan
dalam kehidupan sosial agama. Terbukti dengan menjamurnya
pendidikan ma’arif NU. Hanya saja, pengembangannya masih sangat
terbatas.

PengeJawantahan lain dari statuten NO 1926 dalam


pengembangan perekonomian sosial adalah berdirinya Lembaga
Perekonomian Nahdlatul Ulama. Salah satu amanat dari founding
fathers NU adalah melakukan pemberdayaan sosial melalui lembaga
perekonomian, yang dalam statuten NO disebut sebagai perniagaan.
Pentingnya pemberdayaan ekonomi sosial ini adalah, dengan system
pemerdayaan ekonomi yang tepat, maka jaminan kesejahteraan
masyarakat NU dapat lebih terakomodir, sehingga penempatan posisi
sosial masyarakat NU tidak lagi terbelakang.

Pemberdayaan ekonomi adalah juga merupakan misi dari


pengeJawantahan atas berdirinya nahdlatul wathan. Organisasi yang
didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah sepulang dari Makkah. Yakni
kebangkitan para pedagang. Disamping itu pula, dengan pemberdayaan
dibidang ekonomi, maka peranan NU sebagai organisasi sosial
keagamaan dapat benar-benar menjadi pemberdaya sekaligus
pembangkit kesejahteraan sosial secara menyeluruh.

Pemberdayaan ekonomi ini saat ini dibentuk dengan


didirikannya lembaga-lembaga keuangan yang memberikan wadah
khusus pada pengembangan ekonomi masyarakat NU lemah. Dimana
pada pelayanannya ada yang memberikan kredit usaha dengan system
bagi hasil. Berbagai upaya selain mendirikan lembaga keuangan juga
dilakukan seperti memberikan pelayanan pembentukan kelompok
usaha yang paling potensial di masing-masing daerah.

Dibidang pertanian dan perikanan, NU juga memiliki


lembaga khusus yang concern dibidangnya, yakni Lembaga
Pengembangan Pertanian NU. Lembaga ini khusus menangani masalah
pertanian yang terkait dengan pemberdayaan pertanian, peningkatan
hasil pertanian, pengolahan system baru yang lebih produktif serta
pemberian stimulus untuk pengembangan system pertanian yang telah
ada.

Dalam bidang pertanian ini, NU memposisikan diri sebagai


lembaga yang mengayomi kebutuhan para petani akan peningkatan
hasil serta jaminan kualitas hasil pertanian. Oleh karenanya, lembaga
NU ini sering mengadakan pelatihan pertanian dengan bekerja sama
dengan pihak ketiga yang memiliki ruang gerak pertanian yang paling
concern. Tujuannya adalah, pengembangan hasil pertanian dapat
dilakukan melalui system pengkaderan pertanian yang dilakukan
secara menyeluruh dan bertahap.

Serta dibidang hukum, NU memiliki lembaga khusus, yakni


Lembaga Bantuan Hukum NU. Lembaga ini diisi posisinya oleh para
sarjana hukum, magister hukum, doctor hukum sampai professor yang
ahli dalam bidang hukum untuk melakukan pendampingan,
penyelesaian serta pemberdayaan hukum masyarakat NU. Lembaga ini
didirikan mengingat banyaknya terjadi kasus hukum yuridis
masyarakat yang tidak tercover oleh NU, sehingga dalam
pendampingannya selalu saja dilakukan oleh orang lain.

Berangkat dari fenomena inilah, NU memiliki inisiatif untuk


membentuk lembaga Bantuan Hukum NU agar masyarakat NU juga
tercover dalam pendampingan hukum serta merupakan bentuk
pengayoman terhadap warga NU dari NU jami’yah ke jama’ah NU.

Fenomena sosial lain adalah, banyaknya warga NU yang


menjadi buruh dan karyawan di perusahan-perusahaan, baik di dalam
maupun di luar negeri. Untuk mengcover ini, NU mendirikan
Sarbumusi, Serikat Buruh Muslim Indonesia. Lembaga ini sejak awal
berdirinya hendak menjadikan para buruh serta karyawan yang ada
lebih terakomodir dalam ruang yang sama dengan kesepahaman yang
sama pula. Ruang ini selain sebagai forum komunikasi, juga
memberikan wadah untuk mempersatukan buruh dalam satu suara.
Sehingga kebijakan perusahaan atau pemerintah dalam penetapan
UMR dapat lebih terkawal, sehingga kesejahteraan buruh dapat
dilaksanakan.

Sarbumusi dalam wilayah kerjanya memiliki ruang yang


lebar, tidak hanya buruh dalam wilayah nasional saja, tetapi juga buruh
migran dan buruh yang berada di perusahaan-perusahaan pemerintah
dan asing. Lembaga ini menjadi penting manakala pada tiap tahunnya,
pengambilan kebijakan penetapan UMR sering kali tidak sesuai
dengan kebutuhan buruh. Oleh karenanya, selain sebagai lembaga
advokasi, lembaga ini juga sebagai mediator antara pengambil
kebijakan dengan pihak yang terkait dengan kebijakan tersebut, baik
buruh/karyawan atau pemilik perusahaan.

Adapula Haiah Ta’miril Masajid Indonesia (HTMI) yang


bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dibidang
pengembangan dan pemakmuran masjid. Serta Jam’iyah Ahlit
Thariqah Al Mu’thabarah an Nahdliyah, yakni salah satu majelis
khusus untuk digunakan sebagai wadah para aktivis tarekat di dalam
Nahdlatul Ulama. Tarekat ini meliputi banyak aliran yang kesemuanya
itu tertampung dalam wadah lembaga ini.

Selain lembaga-lembaga diatas, adapula di dalam sturktural


NU lembaga lain yang memiliki peranan yang lebih dalam kehidupan
sosial keagamaan masyarakat NU. Diantaranya adalah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga, Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah
NU (LAZIS NU), Lembaga Waqaf dan Pertanahan NU, Lembaga
Takmir Masjid Indonesia, Lembaga Pelayanan Kesehatan, Lajnah
Falakiyah, Lajnah Ta’lif wa nasyr NU dan lembaga-lembaga lain yang
merupakan lembaga structural untuk menopang kepengurusan NU
dalam upaya suksesi kemaslahatan NU sebagai organisasi yang
memiliki basis massa terbesar di Indonesia.

Dalam masing-masing tingkatan structural di dalam NU,


adapula pertemuan-pertemuan rutin yang diselenggarakan agar laju
organisasi tetap berjalan pada rel yang ditetapkan. Pertemuan tersebut
adalah, muktamar, Konferensi Besar, Musyawarah Nasional Alim
Ulama, Konferensi Wilayah, Konferensi Cabang, Konferensi Majelis
Wakil Cabang dan Rapat Anggota.

Penjelasan dari pertemuan-pertemuan diatas adalah, pertama,


muktamar. Muktamar adalah instansi permusyawaratan tertinggi dalam
Nahdlatul Ulama. Diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama sekali dalam lima tahun. Muktamar memilih Rais ‘Am dan
Wakil Rais ‘Am melalui pemungutan suara langsuntg. Ketua Umum
Tanfidziyah dipilih oleh muktamar setelah mendapat persetujuan Rais
‘Am dan Wakil Rais ‘Am.

Kedua, Konferensi Besar adalah instansi tertinggi setelah


muktamar dan diadakan oleh pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Konferensi Besar ini dihadiri oleh Pengurus Besar Pleno dan utusan
Pengurus Wilayah. Ketiga, Musyawarah Nasional Alim Ulama, yakni
musyawarah alim-ulama yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar
Syuriyah, satu kali dalam satu periode kepengurusan untuk
membicarakan masalah keagamaan.

Sementara keempat, Konferensi Wilayah yakni instansi


permusyawaratan tertinggi untuk tingkat wilayah, dihadiri oleh
Pengurus Wilayah dan utusan Pengurus Cabang yang ada didaerahnya,
terdiri dari Syriyah dan tanfidziyah. Konferensi Wilayah ini
diselenggarakan sekali dalam lima tahun. Kelima, Konferensi Cabang,
adalah Instansi permusyawaratan tertinggi pada tingkat Cabang,
dihadiri oleh utusan-utusan Syuriyah dan Tanfidziyah Majelis Wakil
Cabang dan Ranting di daerahnya dan diadakan sekurang-kurangnya
sekali dalam lima tahun.

Keenam, Konferensi Majelis Wakil Cabang adalah instansi


permusyawaratan tertinggi pada tingkat Majelis Wakil Cabang,
dihadiri oleh utusan-utusan Syuriyah dan Tanfidziyah Ranting di
daerahnya dan diselenggarakan sekali dalam empat tahun. Ketujuh,
Rapat Anggota, yakni instansi permusyawaratan tertinggi pada tingkat
Ranting yang dihadiri oleh anggota-anggota Nahdlatul Ulama di
daerah Ranting dan diselenggarakan selambat-lambatnya sekali dalam
tiga tahun.

Sementara itu, diluar struktur, dapat pula disaksikan


fenomena menarik yang setiap hari dapat dijumpai di desa-desa.
Pengajian rutin, pengajian selapanan, pengajian mingguan, yassinan,
tahlilan, mitung dino, matang puluh, ngapati, mitoni, ziarah, tarikatan
serta forum sosial lainnya yang berada tidak jauh dari aktivitas sosial
sehari-hari. Termasuk diantaranya adalah jama’ah shalat tiap waktu
shalat.

Yang unik dari aktivitas tersebut adalah, bahwa dalam


aktivitas tersebut adalah aktivitas dari warga NU. Bahwa ada ‘sturktur
lain’ yang berkembang dalam tubuh NU melalui lembaga-lembaga
sosial yang tidak terstruktur dan melakukan aktivitasnya tanpa ada
back up sepenuhnya dari NU struktur. Bahwa dalam aktivitas sosial
keagamaan mereka menyadarkan spiritualitas mereka pada paham
yang sama dengan NU, Islam Ahlussunah Wal jama’ah, namun dalam
aktivitas keseharian mereka, berjalan seperti apa adanya. Tanpa
campur tangan dari kepengurusan NU, baik tingkatan cabang hingga
ranting.

Di setiap dusun, tahlilan pada malam jum’at adalah aktivitas


rutin yang hampir-hampir tak ada matinya. Setiap dusun, ditiap daerah,
tahlilan malam jum’at adalah bagian penting yang tidak bisa
ditinggalkan begitu saja. Istilah hukumnya, menjadi fardlu kifayah.
Setiap malam jum’at itu pula, bergilir tiap rumah dalam satu dusun
menjadi tuan rumah untuk melakukan ritus ini, ritus mendoakan
terhadap orang yang telah mendahului kembali ke alam lain.

Tahlilan malam jum’at seolah menjadi faksi tersendiri yang


berjalan secara natural tanpa motif apapun, tidak ada motivasi atau
kepentingan yang bergerak atasnya, semuanya berjalan dengan sendiri-
sendiri tanpa ada kepentingan lain yang menyusup diantaranya.
Dengan kekuatan inilah, kekuatan akan kebutuhan sandaran spiritual
sosial, kelompok-kelompok ini tetap bertahan.

Demikian juga dengan kelompok sosial keagamaan lainnya,


seperti pengajian ibu-ibu, tahlilan ibu-ibu, albarzanji, diba’an,
pengajian mingguan, pengajian remaja, tahlilan pemuda, tarekatan,
serta kelompok yang tidak kalah pentingnya, kelompok shalat jama’ah
pada tiap waktu shalat. Mereka berjalan sendiri, hanya kebutuhan
spiritual yang menjadi pemacu semangat mereka untuk tetap
mempertahankan tradisi yang telah lama berjalan ini. Hampir setiap
hari, dalam tujuh hari satu minggu, tidak ada waktu yang kosong untuk
aktivitas sosial keagamaan. Baik siang hari maupun malam hari.
Dengan kelompok-kelompok yang berbeda dan bentuk aktivitas yang
kadang berbeda pula ritusnya.

Pada barisan lain, yang berlaku secara insidental, kelompok


besar juga dapat ditemui dalam wilayah sosial. Tradisi mitung dino
adalah tradisi tahlilan mendoakan orang yang meninggal selama tujuh
hari berturut-turut dari hari kematiannya. Tradisi ini merupakan ritual
turunan dari ritual dalam agama dan kepercayaan yang telah ada
sebelumnya. Bahwa orang yang sudah meninggal harus diadakan
upacara untuk mengantar kepergian orang tersebut ke alam kekal. Oleh
para ulama di zaman dahulu, ritual upacara ini kemudian digeser
menjadi ritus berdoa bersama untuk mengantar kepergian orang yang
meninggal dan dikemas dalam tradisi tahlilan, seperti yang sekarang
ini masyarakat NU jalankan sebagai tradisi.

Setelah upacara mitung dino, masyarakat NU juga selalu


melakukan upacara yang sama di usia kematian ke-40, atau sering
disebut dengan istilah matangpuluh. Upacara ini pada dasarnya sama,
hanya merupakan loncatan berjangka dalam upacara tahlilan periodik.
Setelah empat puluh hari kematian, juga ada istilah nyewu, yakni
upacara tahlilan setelah seribu hari kematian juga ada khaul yang
diperingati setiap tahun untuk mengingat dan mendoakan kematian
orang yang mendahului.

Selain upacara kematian, dalam ritus sosial keagamaan NU


juga ditemui ritual lain seperti nyadran. Upacara untuk menghormati
bulan suci Sya’ban ini dilakukan menjelang bulan puasa. Yakni
melakukan upacara sedekahan. Diantara yang paling sering dan rutin
dilakukan adalah di kasultanan Jogjakarta. Disini ritual nyadran
dilakukan dengan upacara besar-besaran, selain merupakan upacara
masyarakat Jogjakarta, diwaktu ini juga dilakukan prosesi nyepuh,
yakni membersihkan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh kraton
Jogja. Ada pula prosesi sedekah laut, sedekah gunung, padhusan dan
lain sebagainya yang dilakukan dengan berdoa bersama kepada tuhan
melalui perantaraan (wasilah) kepada gunung atau laut yang telah
memberi kepada masyarakat sekitar sumber kehidupan yang tiada
berakhir untuk kelangsungan hidup mereka.

Setelah upacara tersebut selesai, diadakan ruwatan bersama


masyarakat, yakni makan bersama serta berdoa kepada tuhan untuk
tetap memberikan kekuatan kepada gunung atau laut yang telah
memberikan kepada mereka penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keseharian mereka. Pendek kata, ritual ini adalah ritual ucapan terima
kasih kepada tuhan melalui perantara alam yang telah memberi berkah
kepada manusia.

Membaca Albarzanji dan manaqiban juga merupakan ritual


warga NU, disini, dalam ritual ini, mereka secara bersama-sama
membaca sejarah hidup nabi Muhammad SAW serta para sahabat dan
ulama-ulama besar. Ritual ini dimaksudkan agar manusia tetap
mengingat sejarah perjuangan nabi dan sahabat serta para ulama yang
telah berjuang untuk menyebarkan Islam diseluruh penjuru dunia.
Penghormatan terhadap para pendahulu mereka ini juga diiringi
dengan membaca shalawat bersama-sama dan menjadikan ritual ini
sebagai ritual ‘wajib’ setiap minggunya dibanyak pelosok desa. Gema-
gema irama rebana semakin menambah semarak ritual ini.

Dan yang dapat dijumpai setiap harinya, praktik ibadah orang


NU saat shalat subuh adalah membaca doa qunut pada I’tidal raka’at
terakhir, tujuan dari membaca doa qunut adalah mengikuti sunnah
rasul dan qaul para imam madzhab yang menekankan pentingnya
shalat subuh dengan qunut sebagaimana dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW dalam beberapa hadist yang berkata tentang itu.
Selain pada waktu shalat subuh, orang NU juga membaca doa qunut
manakala terjadi musibah, bencana atau peperangan. Qunut pada saat
ini disebut dengan doa qunut nazilah yang dibaca tidak hanya waktu
subuh, tetapi pada setiap shalat yang dilakukan agar mendapat
perlindungan dari Allah dari marabahaya yang mengancam mereka
akibat musibah atau peperangan yang terjadi yang dapat mengancam
keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Adapula ritual lain yang sering dilakukan oleh warga NU,


yakni mengadakan upacara ulang tahun nabi Muhammad SAW, ritual
ini sering disebut sebagai maulid Nabi (muludan). Upacara untuk
memperingati hari kelahiran nabi, yakni tanggal 12 rabiul awwal ini,
hampir setiap tahun diadakan oleh masyarakat sendiri untuk
memberikan penghormatan kepada nabi serta mengingat sejarah
perjalanan kehidupan beliau yang dapat dijadikan panutan bagi umat
manusia. Disamping itu, ritual warga NU yang paling kentara pada
bulan ramadhan adalah, warga NU selalu menjalankan shalat tarawih
23 raka’at atau lebih sebagai pengeJawantahan atas pernyataan
memuliakan bulan ramadhan.

Dan yang paling tidak kalah pentingnya dari semua itu


adalah, keberadaan pesantren. Pondok pesantren sebagai institusi
pendidikan agama yang telah ada sejak awal Islam masuk ke Indonesia
ini adalah ‘kandang’ utama warga nahdliyyin. Sebagaimana dapat
dilihat dalam sejarah awal berdirinya NU, NU lahir ditengah
pergulatan pemikiran para pembaharu Islam yang hendak menjadikan
Islam, dalam pemahamannya menggunakan metode baru yang
dikembalikan pada al Qur’an dan hadits sebagai referensi dasar dan
kemudian ditafsirkan secara benar salah dengan ekstrim.

Perkembangan dinamika pemikiran Islam dizaman


pergerakan awal itulah yang membuat ulama dari kalangan pesantren
mendirikan NU sebagai alat perjuangan sekaligus penerapan Islam
yang ahlussunah wal jama’ah sebagai satu madzhab yang paling tepat
dibandingan madzhab yang lain, terutama madzhab wahabisme yang
sangat ekstrim dalam memahami ajaran agama.

NU dan Perjalanan Politiknya

Tujuan pertama yang dinyatakan Nu pada tahun 1926 adalah


untuk menciptakan hubungan antara ulama yang berpegang pada
empat madzhab sunni dan meneliti buku-buku teks agama untuk
mengetahui apakah buku-buku tersebut mengandung pikiran-pikiran
para reformis atau tidak. Tujuan-tujuan lainnya adalah untuk
melakukan amal, pendidikan, memajukan pertanian dan perdagangan.
Dalam tujuan dasar pemberntukan Nahdlatul Ulama ini, berbicara
terkait dengan nasionalisme tidak disebutkan secara eksplisit sekali
pun hal tersebut sudah sangat popular dikalangan beberapa kyai,
termasuk pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Chasbullah, yang
dalam gerakan dilakukan sebelumnya baik di Syarikat Islam, serta
perhimpunan sekolah-sekolah agama (Nahdlatul Wathan) beliau selalu
mengajarkan murid-muridnya untuk menyanyikan lagu anti kolonial.

Demikian juga dalam perjalanan sejarah awalnya Nahdlatul


Ulama, organisasi terbesar di Indonesia ini tidak terlalu
mempersoalkan urusan politik dari kolonial, baik yang bersifat
imperialis kolonialistik maupun yang bersifat sosial. Organisasi ini
hanya terpusat pada kebijakan pemerintah Hindia Belanda dibidang
keagamaan. Banyak kasus yang dapat dijadikan contoh mengenai
perlawanan Nahdlatul Ulama terhadap kebijakan Pemerintah Hindia
Belanda dibidang keagamaan yang tidak sesuai dengan ketentuan
syara’ serta tidak membawa kemaslahatan sesuai ajaran Islam.

Sejarah telah mencacat, kebijakan Pemerintah Hindia


Belanda ketika mengeluarkan kebijakan Ordonasi Guru, kebijakan
yang dikeluarkan pada tahun 1905, diubah pada tahun 1923 dan 1925,
yang mengatur tentang kriteria-kriteria yang ketat pada sekolah-
sekolah. Para ulama jelas merasa gerah, sebab kebijakan tersebut
terbukti mengalienasi lembaga pendidikan yang dimiliki oleh
Nahdlatul Ulama, baik dalam Nahdlatul Wathan maupun Taswirul
Afkar, sebab dalam urusan manajemen, lembaga pendidikan yang
dimiliki oleh Nahdlatul Ulama kurang begitu terorganisir secara tertib.

Demikian halnya juga terjadi ketika Pemerintah Hindia


Belanda mencabut peraturan warisan dari yurisdiksi Peradilan Islam di
Jawa, Madura dan Kalimantan Selatan pada tahun 1937. Pada masa
periode ini, pemikiran politik NU lebih ditempatkan sebagai posisi
yang oposan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada sisi keagamaan
yang cenderung kurang kooperatif, sedangkan pada kebijakan lainnya,
Nahdlatul Ulama tidak terlalu mempersoalkan sebagaimana gerakan
organisasi lainnya. Fokus Nahdlatul Ulama adalah pada misi sosial,
yakni hal-hal yang terkait dengan masyarakat umum, dibidang agama,
peradagangan, pertanian serta urusan lain yang terkait dengan
kemaslahatan umat sesuai dengan ketentuan syara’.

Namun kondisi tersebut ternyata mulai mengalami


pergeseran, cara pandang politik Nahdlatul Ulama telah mengalami
pengembangan yang sedemikian tinggi, dari yang awalnya nalar politik
tersebut berkembang dalam masing-masing individu dalam jam’iyah
Nahdlatul Ulama, saat ini mulai berubah menjadi perbincangan umum
dikalangan para elit structural Nahdlatul Ulama.

Dasar pemikiran dari perubahan nalar politik ini karena


disebabkan pentingnya, dalam anggapan Nahdlatul Ulama,
kemerdekan bangsa untuk menjamin kebebasan menjalankan system
sosial yang dikelola sendiri oleh orang pribumi. Tidak ada lagi
intervensi asing yang merupakan ‘orang luar’ dan menerapkan hukum
tidak sesuai dengan tempatnya. Berangkat dari hal inilah, maka
Nahdlatul Ulama mulai merancang satu system kemerdekaan secara
menyeluruh dengan menempatkan posisi orang pribumi sebagai
pemimpin nasional yang akan menjadi motor penggerak.

Pada bulan Juni 1940 dalam satu pertemuan rahasia di


Muktamar Nahdlatul Ulama ke-15, para elit structural NU mengambil
keputusan yang cukup mengagetkan. Yakni melakukan diskusi serta
mengambil keputusan soal siapakah calon presiden yang paling tepat
untuk memimpin Indonesia.

Melihat bukan pada hasil diskusi, melainkan pada materi


yang didiskusikan, terhitung para elit Nahdlatul Ulama sudah berani
menentukan posisi politiknya. Pada posisi pertama yang vis a vis
terhadap pemerintah Kolonial Belanda, kemudian mengambil posisi
lain sebagai posisi oposisi lebih kuat dengan rencana impeachment
terhadap pemerintah Kolonial Belanda dengan menetukan calon
presiden yang akan memimpin Indonesia setelah merdeka.

Tentunya pemikiran ini tidak didasari dengan alasan yang


pendek, ada alasan khusus yang dipikir secara mendalam dan panjang
mengapa para elit Nahdlatul Ulama berani mengambil posisi yang
demikian itu. Alasan yang paling riil adalah, bahwa Nahdlatul Ulama
menginginkan kemerdekaan yang berdaulat. Menginginkan system
pemerintahan yang diatur sendiri oleh orang pribumi dengan
demokrasi, tidak dengan imperialisme.

Dalam pertemuan di Muktamar di Surabaya itu, hasil


keputusannya adalah, ada dua opsi kandidat yang diusung sebagai
calon presiden, yakni seorang pimpinan Partai Nasional Indonesia
yang sangat lantang dalam menentang kebijakan pemerintah Hindia
Belanda, Soekarno. Kandidat yang kedua adalah, seorang lulusan dari
Belanda yang sangat cerdas dalam pemikirannya, pemikir dari
Sumatera, Drs. Mohammad Hatta. Kedua kandidat inilah yang saat itu
paling menonjol dan paling mungkin untuk dapat dijadikan pemimpin
perjuangan rakyat kedepan untuk mencapai Indonesia merdeka.

Track record perjuangan kedua tokoh ini benar-benar dicatat


sebagai bahan pertimbangan layak atau tidaknya menjadi pemimpin
bangsa. Setidaknya dilihat dari langkah-langkah yang telah dilakukan
oleh dua orang ini dapat memberikan gambaran yang cukup untuk
memutuskan calon presiden.

Dari hasil voting yang dilakukan oleh sebelas orang elit


Nahdlatul Ulama telah berhasil menentukan secara aklamatif siapa
yang tepat untuk memimpin bangsa Indonesia. Sepuluh orang memilih
Soekarno sebagai calon presiden dan hanya satu orang yang memilih
Drs. Mohammad Hatta sebagai presiden.

Yang paling aneh adalah, diantara dua kandidat tersebut,


yang paling mendalam pengetahuan agamanya, setidaknya dalam kaca
mata public, justru adalah Drs. Mohammad Hatta, karena sebelum
berangkat ke negeri Belanda untuk melanjutkan studynya, dia banyak
mengenyam pendidikan agama Islam. Sementara Soekarno,
pengetahuan agama secara mendalam dilakukan ketika kost di rumah
H.O.S. Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan yang mendirikan
Syarikat Islam. Dan paling menarik, gagasan Soekarno adalah
membentuk Negara sekuler yang memisahkan agama dengan Negara.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mustafa Kemal Attaruk di
Turki. Padahal sedari awal Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang
paling getol memperjuangkan kepentingan agama atas kepentingan
politik dan kepentingan lainnya11.

Belum lagi, gagasan Soekarno tentang Negara sekuler yang


diidam-idamkannya setelah bercermin dari prestasi Mustafa kemal
11 St. Sularto, Dialog dengan Sejarah; Soekarno Seratus Tahun, Kompas,
Jakarta, 2001, hal. 204
Attaruk pada awalnya sangat mendapatkan peralawanan dari berbagai
kalangan, dan yang paling menonjol adalah dari kalangan Islam
reformis. Nahdlatul Ulama sendiri, pada tanggal 1 Juli 1940 dalam
surat kabar Berita Nahdlatoel Oelama menulis secara eksplisit
mengenai penolakannya terhadap system Negara sekuler yang ingin
diciptakan oleh Soekarno12.

Tulisan lain di Berita Nahdlatoel Oelama pada bulan Agustus


1940 telah mulai melunak, dalam tulisan tersebut, Nahdlatul Ulama
telah memahami konsepsi yang diajukan oleh Soekarno dan
mendukung gagasan-gagasan besarnya untuk menciptakan pluralisme,
yakni memisahkan kepentingan agama dengan Negara serta tidak
melakukan diskriminasi antar agama karena mayoritas dan minoritas
serta kesemuanya itu berdiri pada satu paham kebersamaan yang
nasionalis dan mengayomi semua golongan.

Pada awalnya, Nahdlatul Ulama, sebagaimana kebanyakan


organisasi Islam yang lainnya hendak menjadikan Indonesia sebagai
Negara yang memiliki hukum Islam sebagai dasar yurisprudensi
Negara. Bahwa Nahdlatul Ulama juga menginginkan agar peraturan
sosial yang berlaku di Indonesia ditertibkan berdasarkan ajaran agama.
Namun setelah mulai ‘merapat’ ke dalam barisan nasionalis melalui
kedekatan secara politik dengan pemikiran-pemikiran Soekarno, serta
pertimbangan dari para founding fathers Nahdlatul Ulama, NU
mengubah haluan politiknya tidak lagi berdasarkan atas Islam, tetapi
berdasarkan system nasional yang berasaskan kebersamaan untuk
saling mengayomi sesama. Kesadaran ini timbul karena kesadaran
bahwa Indonesia adalah Negara yang majemuk, sehingga apabila
diseragamkan pada satu system mayoritas, dengan memaksakan
system tersebut kedalam wilayah tirani minoritas, maka konflik rasial

12 Andree Feillard, Nahdlatul Ulama dan Negara, dalam kumpulan artikel


berjudul, Gus Dur, NU dan Masyarakat Sipil, Ellyasa KH. Darwis (Ed), LKiS,
1994, hal 7
tidak akan terhindarkan.

Peranan Nahdlatul Ulama dalam pemahaman mengenai


pluralisme dan kesadaran majemuk itu kembali dimanifestasikan
dalam perumusan naskah Pancasila, tanggal 1 Juni 1945. Perdebatan
mengenai konsepsi dasar Negara ini didahului dari upaya penetapan
Piagam Jakarta (The Jakarta Charters). Piagam ini menuliskan secara
eksplisit mengenai kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para
pemeluknya.

Tujuh kata ini yang menjadi perdebatan panjang, bahwa


apabila dicantumkan dalam dasar Negara, maka secara otomatis dasar
Negara ini tidak memberikan proteksi kepada tirani minoritas yang
ada. Artinya, keberadaan agama lain yang tidak disebutkan secara
langsung dalam Piagam Jakarta eksistensinya dipertanyakan kembali.
Padahal, agama-agama ini ada kebanyakan jauh sebelum Islam datang
ke nusantara.

Pada perdebatan soal ini, utusan dari Manado dan Bali


menemui KH. Hasyim Asy’ari, mereka adalah penganut dari agama
lain, kedatangan mereka menghadap kepada Rais Akbar Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama ini adalah untuk mengadukan eksistensi
mereka dalam kerangka Negara kesatuan yang sedang dirumuskan.
Pencantuman tujuh kata tersebut, oleh mereka, dianggap mengalienasi
keberadaan agama mereka yang merupakan agama mayoritas di daerah
mereka. Kedatangan mereka membuahkan hasil. Setelah kedua utusan
tersebut pergi, KH. Hasyim Asy’ari, memanggil anaknya, KH. Wahid
Hasyim untuk menghadap.

KH. Wahid Hasyim adalah salah satu utusan Nahdlatul


Ulama (kalangan pesantren) dalam penyusunan naskah Pancasila. Pada
pertemuan ini, mereka memperbincangkan mengenai konsepsi dasar
Negara dengan rumusan-rumusan strategisnya. Hasil diskusi mereka,
memutuskan agar Nahdlatul Ulama melalui utusannya, dapat
membawa suara yang sesuai dengan konsep dasar ahlussunnah wal
jama’ah, yakni prinsip tasamuh, tawazun, I’tidal dan amar ma’ruf
nahi munkar serta misi Islam yang rahmatal lil’alamin. Diputuskan
dengan tegas Nahdlatul Ulama menolak konsep Jakarta Charter dan
menerima pancasila sebagai dasar Negara. Pertimbangan lain adalah,
bahwa Indonesia adalah Negara multikulural, multiagama dan multi
tradisi, sehingga keanekaragaman ini perlu dijaga untuk menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa.

Keputusan politik ini, memberikan sumbangan besar terhadap


bangsa Indonesia, dan secara tidak langsung, Nahdlatul Ulama turut
serta memberikan kontribusi besar terhadap upaya mencapai
pandangan kemajemukan yang bersatu dibawah satu naungan bersama
yang tidak saling mengucilkan satu sama lain. Sesuai dengan cita-cita
Soekarno untuk membentuk Negara secular dengan konsep baru,
Nahdlatul Ulama turut mendukung dengan mengesampingkan hal yang
diperjuangkan sejak awal untuk membentuk darul Islam dan
menyetujui langkah pemisahan kepentingan antara kepentingan agama
dan Negara, namun pemisahan ini tidak berarti Negara tidak campur
tangan dalam urusan agama secara sepenuhnya. Agama masih menjadi
tanggung Jawab Negara dalam pelestariannya.

Pada awalnya, tepat mulai pembahasa dasar Negara, 1 Juni


1945, Nahdlatul Ulama dengan gigih memperjuangkan berlakunya
Jakarta Charter, hingga ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1945, NU
masih bersikeras dengan teguh mengajukan bahwa Jakarta Charter
adalah konsep yang tepat untuk menyusun sebuah Negara. Bahkan,
utusan dari Nahdlatul Ulama sempat mengusulkan agar presiden dan
wakil presiden juga harus beragama Islam. Secara otomatis, usulan
mereka ditolak oleh kalangan sekuler dan kalangan non muslim.
Karena keberadaannya jelas akan mengalienasikan agama yang mereka
anut serta kepercayaan terhadap agama mereka tidak mendapatkan
legitimasi dari Negara.

Setelah ditetapkan sebagai dasar Negara pada tanggal 22 Juni


1945, Piagam Jakarta berlaku sebagai dasar Negara yang sah. Namun
hal lain terjadi pada hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia,
ada utusan orang Kristen yang bertemu dengan Drs. Mohammad Hatta
dan mengatakan daerah mereka tidak akan masuk dalam sebuah
Negara yang berdasarkan agama. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Drs.
Mohammad Hatta beserta empat pimpinan Islam, termasuk
diantaranya KH. Wahid Hasyim dari NU mengaakan pertemuan untuk
membahas persoalan tersebut.

Pada pertemuan itu, diputuskan bahwa kalangan Nahdlatul


Ulama, melalui KH. Wahid Hasyim, setelah melalui diskusi dengan
KH. Hasyim Asy’ari, sebagaimana disebutkan diatas, menerima
perubahan terhadap Piagam Jakarta. Tujuh kata dalam Piagam Jakarta
dihapus dan ditambahkan kata-kata Yang Maha Esa, sebagai
representasi dari pernyataan keberagamaan yang monoteistik
sebagaimana dianut oleh Islam.

Pertimbangan lain yang menjadi bahan rujukan oleh KH.


Wahid Hasyim adalah, pertama, bahwa Indonesia masih membutuhkan
kekuatan bersama dari berbagai kalangan, baik muslim ataupun non
muslim untuk bersatu padu mengusir penjajah Belanda yang hendak
kembali lagi ke negeri jajahan mereka. Dengan persatuan dan kesatuan
inilah maka kemungkinan untuk dapat memukul mundur penjajah
semakin terbuka lebar peluangnya. Kedua, terkait dengan penerapan
syari’at Islam, pada nantinya akan ditetapkan melalui UUD 45 pasal
ke-29 sebagai pernyataan keagamaan diyakini untuk diamalkan oleh
seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 22 Oktober 1945, NU kembali menyatakan sikap


politiknya, yakni sikap politik kebangsaan. Pada saat itu, tentara
Inggris and sekutu mulai berdatangan untuk menduduki kembali negeri
jajahan mereka yang telah merdeka. Nahdlatul Ulama dengan keras
meminta kepada pemerintah untuk mengambil sikap tegas menyikapi
kedatangan mereka. Sehingga karena sikap politik kebangsaan dan
komitmen Nahdlatul Ulama terhadap Negara Indonesia yang berdaulat,
maka Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menyerukan seruan jihad
kepada seluruh anggotanya. Seruan jihad ini ditindaklanjuti oleh para
simpatisan Nahdlatul Ulama dalam bentuk resolusi Jihad. Perang suci
untuk mengusir penjajah asing yang hendak kembali menjadikan
Indonesia Negara yang dapat dieksploitasi secara sosial ekonomi.

Nahdlatul Ulama terus mendesak pemerintah baru Soekarno-


Hatta untuk menurunkan kebijakan yang tegas. Tindakan yang
dilakukan Nahdlatul Ulama ini membuat penjajah yang hendak
menjajah kembali Indonesia merasa sangat gerah dengan perlawanan
yang dilakukan kalangan tradisionalis. Meskipun dengan senjata
seadanya, dengan perlengkapan perang yang apa adanya, tentara
tradisional terus maju, bahkan siap mati untuk mencapai derajat mati
syahid, dalam membela Negara. Pada kasus inilah akhirnya Hadratus
Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan maqalah: “Cinta tanah air
adalah sebagian dari iman”. Dari doktrin inilah, semangat perlawanan
kaum tradisional yang dibantu oleh tentara Negara semakin berani
melawan dengan tanpa rasa takut.

Kedekatan Nahdlatul Ulama dengan para tokoh nasionalis


semakin membuat keretakan hubungan antara Nahdlatul Ulama dengan
kalangan Islam modernis/para pembaharu. Apalagi ketika dilihat
dalam pidato yang disampaiakan oleh Rais ‘Am Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Chasbullah, Rais ‘Am kedua setelah
meninggalnya KH. Hasyim Asy’ari. Padahal pada awalnya, sejak
tahun 1937 Nahdlatul Ulama telah bergabung dengan kaum modernis
dan tokoh pembaharu dari berbagai organisasi pergerakan Islam dalam
MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah majelis khusus antar
organisasi Islam dalam rangka melindungi kepentingan umum.

Dalam pidato pelantikannya, tahun 1950, KH. Wahab


Chasbullah mengatakan tentang kekuatan Nahdlatul Ulama sebagai
salah satu “kanon” dan menyentuh pada persoalan politik secara
langsung, suatu jalan yang sama sekali tidak lazim berlangsung dalam
organisasi sosial-keagamaan.

Konflik semakin memanas antara kalangan Nahdlatul Ulama


dengan kalangan modernis, sehingga pada tahun 1952, Nahdlatul
Ulama mengambil keputusan tegas dalam bidang politik, yakni keluar
dari Masyumi. Pertimbangan keluar ini disamping konflik yang
semakin memanas antara kelompok tradisionalis dengan kelompok
modern juga disebabkan karena kelompok pembaharu ini terus
mengalienasikan Nahdlatul Ulama dalam posisi di Masyumi, terlalu
mendominasi di dalam satu ruang politik. Kebijakan keluar dari
Masyumi ini diambil pada Muktamar ke-19 di Palembang, disamping
menyatakan diri keluar dari Masyumi, pada muktamar ini juga
diputuskan bahwa Nahdlatul Ulama mengubah organisasinya dari
organisasi keagamaan menjadi partai politik.

Keputusan hasil muktamar ini, selain menimbulkan gejolak


di luar, terjadinya pertentangan antara kaum tradisionalis dan kaum
modernis, juga terjadi perdebatan panjang di dalam tubuh Nahdlatul
Ulama sendiri. Ketegangan muncul antara kaum tua dengan kaum
muda. Kaum tua mengusulkan sebagaimana tersebut diatas, sedangkan
dari kaum muda menginginkan agar dari keputusan tersebut dilakukan
peninjauan ulang. Setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya
kaum muda dapat menerima keputusan dari kaum tua namun dengan
mengajukan tiga syarat.
Tiga syarat yang dimaksud adalah, pertama, pengambilan
keputusan tersebut agar jangan sampai menimbulkan kegoncangan
bagi umat Islam di Indonesia. Kedua, pelaksanaan keputusan tersebut,
terlebih dahulu harus dilakukan perundingan dengan Masyumi. Ketiga,
putusan tersebut dijalankan dalam hubungan yang lebih luas yang
berkenaan dengan aadnya keinginan untuk membentuk dewan
pimpinan umat Islam yang nilainya lebih tinggi, dimana partai dan
organisasi Islam baik yang sudah maupun yang belum tergabung
dengan Masyumi dapat berkumpul dan berjuang bersama-sama.

Sebagai implementasi dari keputusan tersebut, pasca


muktamar, Nahdlatul Ulama membentuk “Delegasi Muktamar NU”,
yang terdiri atas tujuh orang. Mereka adalah, Zainul Arifin sebagai
ketua yang merangkap anggota delegasi, KH. Wahab Chasbullah
(PBNU) Amien Iskandar (Cabang Bandung), Hulaimi (Cabang
Tasikmalaya), Zaenal Muttaqien (Cabang Ciparai), Husin Saleh
(Cabang Jakarta Raya) dan Junaidi Yasin (Cabang Menes). Delegasi
ini membawa tuntutan-tuntutan NU untuk memperbaiki Masyumi.
Apabila tuntutan itu dipenuhi, NU akan tetap bernaung dalam wadah
partai politik Masyumi. Tetapi apabila tuntutan itu tidak dapat
dipenuhi, NU akan keluar dari Masyumi. Diantara tuntutan NU adalah
soal penghapusan dualism keanggotaan di dalam Masyumi.

Meskipun akhirnya tidak disepakati, pertemuan dengan pihak


Masyumi, Delegasi Muktamar NU yang sebelumnya telah mengajukan
dua usulan, yakni, pertama, megubah organisasi Masyumi menjadi
satu badan federasi yang hanya mempunyai anggota-anggota
organisasi saja, bukan perorangan. Untuk yang terakhir ini Nahdlatul
Ulama mengusulkan agar dimasukkan kedalam partai-partai lain,
partai baru yang namanya bukan Msyumi. Kedua, menetapkan
Masyumi sebagai partai yang beranggota perorangan, konsekuensinya,
para anggota organisasi-organissi yang tergabung di dalamnya
dikeluarkan, kemudian, dibentuk suatu badan federasi baru yang
namanya bukan Masyumi. Dengan ditolaknya kedua usulan tersebut,
dengan alasan Masyumi tetap menginginkan anggota dualisme, maka
NU akhirnya mengukuhkan untuk menjalankan hasil keputusan
muktamar, yakni keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik.
Adapun keanggotaan dalam parlemen yang sedang berjalan, Nahdlatul
Ulama tetap berada dibawah naungan Masyumi hingga
berlangsungnya pesta demokrasi ditahun 1955.

Keputusan keluar dari Masyumi ini, ada dua resiko besar


yang akan dihadapi oleh Nahdlatul Ulama. Pertama, wewenang politik
Nahdlatul Ulama diperkuat, suatu campuran politisi agama dan politisi
sekuler yang terkadang lebih menaruh perhatian pada patronase
dibandingkan persoalan-persoalan agama. Kedua, Nahdlatul Ulama
menjadi lebih dekat dengan Soekarno dan kelompok nasionalis.
Dengan dukungan ini, ia juga mengamankan bagi dirinya sendiri suatu
posisi yang menyenangkan dalam kancah politik dan mempertahankan
departemen agama di tangannya. Jumnlah kursi cabinet yang diberikan
kepada Nahdlatul Ulama semakin meningkat, disamping Departemen
Agama, juga diberikan kursi Departemen Agraria dan kursi Wakil
Perdana Menteri. Kemudian dalam cabinet Ali Sastroamidjojo (1956-
1957) suatu koalisi yang unik terbentuk dari partai-partai besar kecuali
komunis, NU memperoleh 5 kursi kabinet.

Dengan keluarnya Nahdlatul Ulama dari Masyumi, membuat


tokoh-tokoh Masyumi meragukan kemampuan Nahdlatul Ulama dalam
urusan politik, terutama dari kalangan bawah. Bahkan salah satu tokoh
Islam Reformis, Isa Ansari sangat ironis sekali dalam pernyataan
politiknya yang meragukan kemampuan Nahdlatul Ulama dalam
mengendarai roda politik. Namun statement ini kemudian dibantah
dengan logika sederhana dari kyai kharismatik Jombang, KH. Wahab
Chasbullah, “Bila saya membeli mobil baru, penjualnya tidak akan
bertanya, apakah saya mempunyai surat izin mengemudi, bukankah
begitu? Saya akan membuat iklan untuk mencari supir dan saya yakin
akan banyak sopir yang antri menunggu di depan pintu saya”.

Selain dengan Jawaban yang demikian, untuk menJawab


tantangan dari kaum modernis yang kebanyakan diantara mereka
adalah tokoh-tokoh didikan dari Barat, Nahdlatul Ulama dalam
urusannya mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak, para
ekonom, ahli hukum, pengusaha serta tokoh lainnya yang tidak
memiliki hubungan langsung dengan Nahdlatul Ulama. Cara ini
terbukti efektif dalam rangka menJawab dengan Jawaban konkrit atas
keraguan yang diajukan kalangan modernis.

Nahdlatul Ulama semakin menunjukkan sikap politiknya


yang tegas dan sesuai prinsip dasar ahlussunah wal jama’ah. Pada
akhir tahun 1953, Nahdlatul Ulama memberikan gelar kepada
Soekarno dengan sebutan Waliyyul Amri Al Dlarury bi’Isyaukah yang
memberikan legitimasi kepada presiden dan menteri agama merujuk
pada peradilan agama menurut aturan-aturan fiqh. Kelihatannya
sederhana, namun ternyata dengan memberikan gelar ini, para
pembaharu melakukan pengecaman yang keras terhadap Nahdlatul
Ulama, menurut mereka, langkah yang diambil Nahdlatul Ulama
merupakan langkah penjegalan terhadap kaum pembaharu untuk
merealisasikan terbentuknya Negara Islam dengan dasar syari’ah yang
selama ini sedang diupayakan melalui dewan konstituante.

Pada setahun berikutnya, tahun 1954, KH. Wahab Chasbullah


memiliki keinginan Negara Indonesia di dasarkan pada syari’ah, dan
demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam program resminya,
Nahdlatul Ulama menghendaki suatu “Negara nsional berdasarkan
Islam” dimana kepala Negara dan para menterinya harus Islam, kecuali
untuk para administrator bisa non-muslim. Pendidikan agama akan
menjadi kewajiban namun agama non-Islam akan dihormati. Otonomi
akan pada tingkatan tertentu bisa diberikan kepada wilayah-wilayah
yang mayoritas non muslim, “Sejauh hal itu tiadk merusak
kepentingan umum”. Dengan Pancasila, Nahdlatul Ulama khawatir
akan gerakan-gerakan kebatinan akan menggunakan dasar pertamanya
Ketuhanan Yang Maha Esa untuk bertahan hidup.

Dilihat dari perjalanan sejarah, yang paling gigih dalam


pembelaan terhadap Islam sebenarnya bukan Masyumi atau kelompok
pembaharu yang tergabung dalam ruang lainnya, tetapi malah justru
Nahdlatul Ulama. Tentu saja usulan Nahdlatul Ulama mendukung
Negara Islam yang menJawab usul ABRI untuk kembali ke UUD
1945, yaitu kembali ke Negara non-Islam dan menguatnya kekuasaan
presiden. Perdebatan-perdebatan sangat sengit pun tak terhindarkan,
dalam satu perdebatan mengenai itu, KH. Wahab Chasbullah malah
sempat berbicara tentang jahiliyyah dalam hubungan dengan Pancasila.
Namun kedua usulan yang sama kerasnya itu akhirnya tidak
mendapatkan suara mayoritas salah satu diantara keduanya, bahkan
tidak mampu menembus angka dua pertiga suara. Usulan Nahdlatul
Ulama mendapatkan 201 suara yang mendukung, dan 265 menolak,
sementara usulan ABRI mendapatkan penolakan 269 suara dan
mendapat persetujuan 203 suara, hanya selisih dua suara.

Pada tahun 1957, Angkatan Darat menyatakan keadaan


Darurat Perang, tepatnya di bulan Maret. Hal ini didesak atas
banyaknya insiden pemberontakan-pemberontakan di daerah-daerah
karena tidak dilibatkannya mereka dalam system perpolitikan secara
langsung dalam parlemen. Keadaan darurat inilah yang akhirnya
membuat presiden Soekarno dan ABRI mengeluarkan Dekrit Presiden
1 Juli 1959 tentang pemberlakukan kembali UUD 45 sebagai dasar
Negara Indonesia. Nahdlatul Ulama akhirnya menyetujui dekrit
tersebut, namun dengan konsekuensi, bahwa UUD 45 tersebut diilhami
dari Piagam Jakarta.

Pertanyaan yang sebenarnya paling mendasar untuk diajukan


dari perdebatan diatas adalah, mengapa Nahdlatul Ulama terlalu
berhati-hati dengan Pancasila sebagai dasar Negara setelah selama 14
tahun menerimanya sebagai satu-satunya ideologi nasional?. Dalam
kasus ini, Nahdlatul Ulama mempunya dua alasan yang sangat
rasional. Disamping keinginannya yang wajar sebagai lembaga
keagamaan yang juga berkeinginan untuk menciptakan Negara Islam,
kasus lain yang terjadi adalah dengan keberadaan Partai Komunis
Indonesia yang suaranya hanya 2% dibawah suara Partai Nahdlatul
Ulama dari hasil pemilu 1955.

Mengapa demikian? Karena dikalangan grass root, terutama


pada aliran kepercayaan yang masih tersebar di berbagai belahan tanah
air, Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama Pancasila, dijadikan
legitimasi bagi keberadaan mereka oleh para elit daerah PKI. Dalam
kampanye politiknya, partai komunis terbesar di Indonesia ini
memberikan perlindungan, melalui Pancasila, terhadap keberadaan
aliran kepercayaan yang dipandang sebagai laku ritus teologis yang
syirik oleh para ulama. Sehingga dikhawatirkan, aliran kepercayaan ini
kedepan akan menjadi ‘agama’ bagi para konstituen Partai Komunis
Indonesia.

Setidaknya itulah yang menjadi alasan mengapa Nahdlatul


Ulama begitu gigih memperjuangkan terbentuknya Negara Islam dan
menolak Pancasila sebagai dasar ideology Negara. Pertanyaan kedua,
mengapa Nahdlatul Ulama dengan begitu mudah menerima dekrit
presiden yang menyatakan pemberlakuan kembali UUD 45 sebagai
dasar Negara Indonesia?.

Dalam prinsip agama, terutama bidang fiqh, dalam Nahdlatul


Ulama, salah satu Imam Madzhab mengeluarkan al Ushul Al Fiqh,
yang diantara banyak di dalamnya, salah satunya berisi, menghindari
kerusakan (mafsadah) aharus lebih didahulukan dari pada mencari
kemaslahatan (maslahah). Dari sumber teori al ushul al fiqh inilah
yang dijadikan legitimasi dari mengapa Nahdlatul Ulama menerima
pemberlakuan UUD 45 sebagai dasar Negara.

Menurut Nahdlatul Ulama itu adalah jalan keluar yang paling


baik, dimana Nahdlatul Ulama telah berupaya menciptakan keberadaan
Negara Islam hingga akhir. Nahdlatul Ulama tahu kemana ia dapat
pergi dengan adanya tekanan-tekanan oleh ABRI dan
ketidakmungkinan mencapai suara mayoritas. Perasaan khawatir
timbul pada Kyai Bisri Sansuri terhadap Demokrasi Terpimpin yang
diberlakukan oleh Presiden Soekarno, meskipun demikian, hal itu tidak
menghalangi Kyai Wahab Chasbullah dari keyakinannya bahwa umat
belum siap untuk berkonfrontasi dengan pemrintah. Dalam kata-
katanya, Nahdlatul Ulama harus menumpang kereta sebelum terlalu
terlambat untuk mengontrol pemerintah menurut formula klasik Al
Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar. Ketika Masyumi dan Partai
Sosialis Indonesia yang menolak demokrasi terpimpin Soekarno,
dilarang pda tahun 1960, hanya Nahdlatul Ulama yang bisa bergembira
karena ia belum mengikuti jalan partai-partai tersebut yang telalu
tergesa dalam mengambil kebijakan politik. Bukan hanya sekedar
bertahan tetapi karena hegemoni di bidang agama menjadi meningkat.

Dalam dekade 1960-an, tepatnya medio awal dekade, NU


juga mengambil sikap politik yang lebih tegas dari sebelumnya. Yakni
Nahdlatul Ulama menempatkan diri sebagai kekuatan melawan
komunisme dalam segala bentuknya. Hamper disemua lini kehidupan
yang berhasil digarap PKI, NU tampil sebagai kekuatan pembanding
yang mencoba membendung gerakan komunisme tersebut. Posisi
melawan terhadap gerakan komunisme ini didasarkan atas
ketidaksamaan prinsip dasar kepercayaan beragama. Kalau yang
pertama meletakan agama sebagai landasan kehidupan, baik dibidang
sosial serta bidang-bidang yang lainnya, yang kedua menempatkan
agama sebagai lembaga sosial yang hegemonic dan bernilai doctrinal.
Oleh karenanya, keduanya jelas bersebrangan dan satu sama lain tidak
mendukung. Bahkan kalangan ekstrimis yang kedua, menempatkan
agama sebagai sesuatu yang sangat tidak diperlukan karena keberadaan
agama justru merupakan lembaga yang dapat dimanfaatkan secara
politik namun tidak memberikan kesejahteraan yang konkrit terhadap
rakyat dalam segala tingkatannya.

Gerakan perlawanan politik ini dapat dilihat diberbagai lini


politik mereka, apabila yang satu mendirikan kelompok taktis, maka
yang satunya bergerak mengimbanginya dengan membuat kelompok
yang sama untuk tujuan yang sama dan berupaya saling menjatuhkan
satu sama lainnya. Tak jarang, kelompok ini seringkali menimbulkan
konflik horizontal di masyarakat sendiri.

Dapat dilihat misalnya, ketika Partai Komunis Indonesia


mendirikan Gerakan Potensif Pemuda Rakyat, sebagai wadah
kepemudaan untuk kader-kader PKI, NU dengan lantang menyiarkan
keberadaan Gerakan Pemuda Ansor dengan Barisan Ansor Serba Guna
(Banser) sebagai antithesis terhadap gerakan PKI. Demikian juga pada
gerakan lainnya, ketika Nahdlatul Ulama mendirikan Serikat Buruh
Muslimin Indonesia (Serbumusi) adalah alasan utama untuk
membendung gerakan PKI yang dilakukan melalui SOBSI. Demikian
halnya juga terjadi ketika PKI mendirikan Barisan Tani Indonesia
(BTI), Nahdlatul Ulama juga mendirikan Persatuan Tani Nahdlatul
Ulama Ulama (Pertanu). Demikian pula ketika Lembaga Kebudayaan
Rakyat (Lekra) sebagai wadah kebudayaan konstituen PKI, Nahdlatul
Ulama Ulama hadir sebagai barisan penghadang gerakan melalui
Lembaga Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi)13.
13 Hairus Salim HS, Kelompok Paramiliter NU, LKiS, Yogyakarta, 2004, hal. 9-
10
Perbedaan pandangan dan sikap anti komunis yang
dikobarkan oleh Nahdlatul Ulama mencapai titik puncak ketika PKI
melakukan kudeta berdarah di tahun 1966. Kudeta yang menggunakan
hubungan rahasia dengan elite militer Negara, baik dari kalangan
Angkatan Udara hingga Pasukan Cakrabirawa (Pasukan Pengaman
Presiden) ini yang kemudian dikenal dengan G30.S/PKI.

Sehari setelah pemberontakan pada tanggal 30 September


1966 itu, GP-Ansor sebagai wadah kaum muda NU adalah organisasi
yang pertama kali memberikan kecaman keras terhadap tindakan PKI.
Dalam statementnya, GP-Ansor menulis; (1) Mencela dengan keras
tindakan perebutan kekuasaan oleh apa yang menamakan dirinya
“Gerakan 30 September” dan; (2) Menolak dan menentang
pembentukan “Dewan Revolusi”. Bahkan tidak hanya sebatas
mengeluarkan statement, GP-Ansor juga aktif bersama militer
melakukan penangkapan dan penyembelihan terhadap PKI.

Dengan dipimpin Subhan ZE, Nahdlatul Ulama mempelopori


pembentukan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu),
yang kemudian menjadi Front Pancasila yang didukung oleh wakil-
wakil dari NU, PSII, Katholik, IPKI, Parkindo, Perti, PNI,
Muhammadiyah, Soksi dan Gasbindo. Gerakan anti komunis ini juga
merupakan gerakan yang pertama dikalangan sipil.

Pada tanggal 4 Oktober, KAP-Gestapu mengadakan


demonstrasi pertama yang menuntut pelarangan partai-partai yang
telah melakukan, merencanakan serta mendukung G 30 S/PKI.
Tuntutan lain adalah, harta kekayaan orang-orang yang terlibat harus
disita sebagai kekayaan Negara dan yang bagi para perangkat
pemerintah yang terlibat dalam pemberontakan itu segera dibersihkan.
Statemen itu dibaca sendiri oleh Subchan ZE.

Aktivis NU lain selain Subchan ZE, yang tampil


dipermukaan adalah Zamroni, seorang pimpinan organisasi badan
otonom NU, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dia
menjabat sebagai ketua Umum PB PMII sekaligus juga ketua
presidium KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), yang
dibentuk tanggal 25 Oktober 1965 di kediaman Mayor Jendral Syarif
Thayeb, menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, sebuah
organisasi yang menyatakan diri anti-Soekarno. Para aktivis KAMI
tidak hanya dari PMII, tetapi juga dari kalangan Islam modernis, HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam), serta gerakan mahasiswa Kristen dan
nasionalis sekuler.

Pada tanggal 4 Oktober malam, semua media massa yang


ada, baik cetak maupun elektronik sudah disebarkan pernyataan
dibubarkannya PKI dan penyeruan kepada semua masyarakat
Indonesia agar mendukung gerakan yang dilakukan oleh ABRI, yakni
gerakan penertiban umum. Subchan ZE sendiri terus melakukan agitasi
massa secara terus menerus dan besar-besaran guna melakukan
gerakan sesuai misi KAP-Gestapu.

Dari konflik tersebut, dapat terlihat dengan jelas, bahwa


Negara dalam situasi genting, bukan pada dataran konflik nasionalnya
yang sudah demikian kentara, namun dari sisi politik. Ada dua
kepemimpinan Negara yang sah saat itu, pertama, kepemimpinan yang
dipegang oleh Soekarno atas nama presiden RI/Mandataris MPR serta
Jenderal Soeharto yang memegang amanat Supersemar (Surat Perintah
Sebelas Maret).

Membaca kondisi seperti ini, tokoh muda Nahdlatul Ulama


yang tidak bergerak dilapangan, serta beberapa orang lapangan dan
beberapa tokoh lainnya mengajukan memorandum ke DPR.
Memorandum yang diajukan adalah DPR GR segera mengadakan
Sidang Istimewa dalam rangka menJawab situasi yang mulai memanas
ini. Setelah memorandum diajukan, DPR GR menyetujui
memorandum tersebut dan mengadakan Sidang Istimewa sebagaimana
yang diusulkan.

Hasil sidang Istimewa MPRS memutuskan Ketetapan MPRS


yang berisi diantaranya Memberhentikan Presiden Soekarno dari
jabatannya dan memilih/mengangkat pejabat presiden. Dalam
keputusan itu juga berisi, perintah kepada Badan Kehakiman untuk
mengadakan pengusutan, pemeriksaan dan penuntutan secara hukum.

Serangkaian sidang-sidang yang diadakan oleh MPR


akhirnya menetapkan Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967
tentang pemberhentian masa jabatan presiden Soekarno danh
mengangkat Jendral Soeharto sebagai pejabat presiden. Memilih
jenderal Soeharto sebagai pejabat presiden ini berkat kekuatan dari
Supersemar yang diperkuat oleh TAP MPRS No. IX/MPRS/1966.
Setahun kemudian, tepatnya di bulan Maret 1968, MPRS akhirnya
mengukuhkan Jenderal Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia
kedua dengan jabatan penuh.

Dibawah pemerintahan Jenderal Soeharto, dia memulai


langkah politiknya dengan permintaan kepada seluruh partai politik
yang ada agar mengadakan pemilihan umum. Permintaan itu
sebelumnya memang sudah diusulkan Soekarno kepada pemerintah
yang baru, menantang kepada Jenderal Soeharto tentang siapa yang
memang membawa amanat rakyat secara menyeluruh.

Tanggal 3 Juli 1971, menjadi pemilu pertama bagi


pemerintahan Jenderal Soeharto. Pemilu kali ini diikuti oleh 9 partai
politik dan satu golongan, yakni Golongan Karya. Pada pemilihan
umum kali ini, hasilnya cukup mengagetkan banyak pihak, baik
masyarakat Nahdlatul Ulama sendiri atau masyarakat di luar Nahdlatul
Ulama. Karena hasil pemilu menunjukkan Golongan Karya yang baru
pertama kali mengikuti proses pemilihan umum menjadi pemenang
pemilu, sementara di urutan kedua adalah Partai Nahdlatul Ulama.
Golkar berhasil mengantongi 67,8% atau 227 kursi parlemen,
sementara NU berhasil mengantongi 18,7% atau 58 kursi. Perolehan
NU naik sekitar 0,3% dari hasil pemilihan umum di tahun 1955.
Sementara partai pemenang pemilu di tahun 1955, Partai Nasional
Indonesia (PNI) nasibnya sangat tragis, dia hanya mampu
mengantongi 6,9% suara, sangat jauh loncatannya karena ditahun 1955
PNI berhasil mendapatkan 22,3% suara.

Pada tahun 1972, Presiden Soeharto mengeluarkan keputusan


mengenai perlu adanya fusi partai politik. Bahwa dari banyaknya
partai, perlu dikelompokan berdasarkan visi dan misi dasarnya. Secara
keseluruhan, akhirnya presiden memutuskan untuk memfusi dari 9
partai politik yang ada dan mengikuti pemilu di tahun 1971,
disederhanakan menjadi dua partai dan satu golongan.

Untuk partai politik yang bernafaskan Islam, dibentuklah


Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sementara dari kalangan
nasionalis, dibentuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan satu
golongan untuk menampung organisasi politik yang tidak tercover
dalam kategorisasi di atas, yakni Golongan Karya (Golkar).

Sebagai partai yang bernafaskan Islam, Nahdlatul Ulama


mengikuti keputusan presiden tersebut meskipun pada awalnya sempat
melakukan protes karena pengelompokan partai dan organisasi politik
yang bernafaskan Islam tersebut sama sekali tidak menunjukkan
identitas Islam dalam nama partai, namun akhirnya dapat diredam oleh
pemerintah orde baru melalui perangkat politiknya presiden Soeharto.
Tanggal 5 Januari 1973, Partai Persatuan Pembangunan resmi berdiri
sebagai partai politik, selain Partai Nahdlatul Ulama juga bergabung
partai politik lain yang sama-sama memiliki corak keIslaman, yakni
Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Parmusi dan Partai Tarbiyatul
Islam (Perti).

Pendirian Partai Persatuan Pembangunan ini melalui


konfederasi dalam rapat Presidium Badan Pekerja dan Pimpinan
Fraksi. Mereka sepakat mefusikan diri dalam satu partai politik.
Deklarasi fusi ini ditanda tangani oleh KH. Idham Cholied (NU), H.M.
Mintaredja (MI), H. Anwar Cokroaminoto (SI) H. Rusli Halil (Perti)
dan KH. Masykur (NU). Adapun mengenai structural kepengurusan,
dalam konfederasi itu diputuskan bahwa untuk jabatan kepengurusan
disusun berdasarkan pada pertimbangan kekuatan dan keahlian
masing-masing.

Di masa-masa awal, posisi NU dalam PPP relative cukup


strategis, jika dibandingkan, perjalanan politik di PPP mengalami
perbaikan yang signifikan dibandingkan ketika NU bergabung di
Masyumi. Namun demikian, peranan tokoh-tokoh NU masih
mendominasi di Dewan Syuro partai, kalau melihat sejarah perjalanan
politik dengan Masyumi, peranan inilah yang sering dipegang oleh NU
dan juga yang menjadi alasan pokok mengapa NU keluar dari barisan
Masyumi.

Sementara posisi awal di dewan eksekutif (semacam dewan


tanfidziyah dalam struktur NU) dipegang oleh utusan dari Parmusi
(Partai Muslimin Indonesia) yakni H.M. Mintaredja. Setelah lengser
dari jabatannya sebagai ketua dewan eksekutif, H.M. MIntaredja
digantikan oleh Djaelani Naro yang berpasangan dengan tokoh NU di
dewan syuronya, yakni KH. Bisri Sansuri. KH. Bisri Sansuri dengan
karakternya yang sangat low profile, pengetahuan agama yang
mendalam serta lemah lembut dan santun memunculkan charisma yang
luar biasa ditengah kancah perpolitikan PPP.

KH. Bisri Sansuri yang mencerminkan sikap luar biasa


sebagai seorang ulama sekaligus politisi NU, ternyata mampu
membawa hawa segar dalam tubuh PPP. Hal ini dapat dibuktikan
dengan kehadirannya, yang selama delapan tahun PPP terdapat
keretakan-keretakan (faksi-faksi) berdasarkan kepentingan individu
atau kelompok, dapat diredam dan disatukan. Dawuh-nya seolah
mampu menyihir para politisi PPP dari berbagai kalangan untuk
‘tunduk’ dalam kekuasaannya. Berkat KH. Bisri Sansuri ini pula,
posisi politik NU di tubuh PPP semakin kuat dan mendapatkan posisi
strategis secara politik.

Berkat duet ini pula, PPP pada tahun 1977, pemilu kedua
yang diadakan oleh pemerintah orde baru mengalami kenaikan jumlah
suara, selain karena fusi partai juga karena mulai banyaknya
masyarakat yang simpati terhadap PPP. PPP mampu mengambil 99
kursi DPR dengan prosentase suara mencapai 29,29%.

Namun sayangnya, kehadiran KH. Bisri Sansuri ditubuh PPP


hanya sampai di tahun 1980 di bulan April. Beliau meninggal dunia.
Dengan meninggalnya ulama NU yang sangat kharismatik ini
membuat posisi NU dalam tubuh Partai Persatuan Pembangunan
semakin melemah. Kondisi ini diperparah dengan cengkraman H.
Djaelani Naro, ketua dewan eksekutif partai yang hendak menguasai
secara menyeluruh posisi strategis partai. Berkat ambisiusnya H.
Djaelani Naro ini pula, posisi NU dalam PPP semakin kehilangan
sayapnya. Padahal NU merupakan massa terbesar dalam tubuh partai.

Kenekatan Djaelani Naro ini semakin menjadi ketika


menjelang diadakannya pesta demokrasi (pemilihan Umum) 1982,
Naro menjelang pemilu menyodorkan daftar calon legeslatif (caleg)
PPP kepada pemerintah yang menempatkan 29 Caleg NU pada urutan
terbawah, yang itu berarti kemungkinan terpilihnya sangat kecil, atau
bahkan tidak tepilih sama sekali. Meskipun demikian, awalnya orang-
orang dalam tubuh NU di PPP masih merasa biasa saja, namun setelah
kebijakan-kebijakan Naro yang lain yang semakin menjadi-jadi,
bahkan Andree Feilland dalam bukunya, NU Vis a Vis Negara
menyebutkan kebijakan Naro sebagai proses de-NU-isasi14. Dengan
problem yang sedemikian kerasnya itu, posisi NU dalam tubuh PPP
semakin mengecil dan membuat jurang pemisah yang semakin lebar.

Dari konflik kebijakan internal ini, akhirnya NU melakukan


protes keras terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Naro
yang selalu mengalienasikan Nahdlatul Ulama. Selain sudah
melanggar consensus, secara psikologis Naro juga telah melecehkan
tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama. Sayangnya protes keras yang terus
menerus ini sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Naro.

Kondisi perpecahan di internal PPP semakin diperparah lagi


dengan konflik yang memanjang dari luar, yakni posisi awal Nahdlatul
Ulama yang mengambil sikap vis a vis terhadap pemerintah. Kondisi
ini memaksa Nahdlatul Ulama untuk mengambil keputusan tegas
sebagai posisi yang oposan atau posisi yang akomodatif. Pada pidato
yang tegas, Presiden Soeharto melakukan penyerangan terhadap semua
kelompok/organisasi di tanah air yang mencoba melawan ideology
Pancasila.

Posisi dilematis ini, Nahdlatul Ulama justru kemudian


menjadi organisasi massa pertama yang secara implicit menyatakan
mengakhiri konfrontasi dengan pemerintah. Keputusan menyatakan
mengakhiri konfrontasi dengan pemerintah ini terjadi ketika Nahdlatul
Ulama mengadakan Musyawaran Nasional Alim Ulama pada
Desember 1983 di Situbondo, Jawa Timur. Pada munas alim ulama ini,
ada dua hal penting yang diputuskan sebagai langkah politik Nahdlatul
Ulama. Pertama, Nahdlatul Ulama menyatakan dirinya mengakhiri
konfrontasi dengan pemerintah, komitmen ini ditandai dengan
14 Andree Feilland, Nu Vis a Vis Negara, Op Cit, hal. 223
penerimaan pancasila sebagai ideology organisasi. Kedua, Nahdlatul
Ulama menyatakan keluar dari Partai Persatuan Pembangunan dan
secara umum menyatakan keluar dari politik praktis. Menerima
Pancasila sebagai asas tunggal bangsa merupakan bentuk perjalinan
hubungan baik dengan pemerintah, karena pada saat itu, banyak sekali
gerakan Islam yang menolak menerima Pancasila seperti gerakan
Usroh di berbagai tempat di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat pada
terjadinya Peristiwa Lampung yang mencapai puncaknya di tahun
198915.

Keputusan ini kemudian dipertegas dalam Muktamar


Nahdlatul Ulama ke-27 di Situbondo juga pada 8-12 Desember 1984
yang menyatakan pengunduruan diri dari politik praktis. Dalam
muktamar inilah yang kemudian dikenal dengan proses lahirnya
Khittah 1926.

Khittah berarti garis lurus. Dalam hubungannya dengan


Nahdlatul Ulama, kata ini berarti garis pendirian, perjuangan dan
kepribadian Nahdlatul Ulama, baik yang berhubungan dengan
keagamaan, kemasyarakatan dan termasuk diantaranya jalur politik
yang ditempuh. Khittah ini juga dalam Nahdlatul Ulama dijadikan
sebagai kerangka berfikir dan landasan bergerak, baik pribadi ataupun
secara organisasi serta dalam proses pengambilan keputusan.

Melihat sejarah sebelumnya, gagasan khittah ini sebenarnya


telah digagas oleh para pembesar Nahdlatul Ulama sejak tahun 1959.
Dalam muktamar ke-22 di Jakarta, Desember 1959, seorang
muktamirin16 dari Mojokerto, KH. Achyat Chalimi, mengatakan,
“Peranan politik partai NU telah hilang dan perannya dipegang oleh
perorangan. Sehingga partai sebagai alat sudah hilang. Karena itu

15 Abdul Syukur, Gerakan Usroh di Indonesia;Peristiwa Lampung 1989,


Ombak, Jogjakarta, 2003, hal. 33
16 Muktamirin adalah istilah untuk menyebutkan anggota/peserta muktamar,
yakni peserta permusyawaratan tertinggi di tubuh NU
diusulkan agar NU kembali pada tahun 1926”.17

Alasan lain dari para ulama yang ada dalam tubuh Nahdlatul
Ulama adalah pada awalnya Nahdlatul Ulama adalah organisasi Sosial
keagamaan yang mengedepankan aspek kesejahteraan agama dan
sosial, namun hari ini peranannya tergeser oleh kepentingan politik
dari segelintir elit Nahdlatul Ulama yang berupaya untuk merebut
kekuasaan akan tetapi mengabaikan kepentingan dasar Nahdlatul
Ulama. Ini menunjukkan nilai-nilai ke-NU-an yang ada telah
digeserkan peranannya menjadi hanya sebagai kendaraan politik.

Menanggapi protes tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul


Ulama memberikan Jawaban dalam pandangan umum yang
disampaikan oleh KH. Idham Chalid. “Kita kembali kepada semangat
dan jiwa ta’abbudiyah tahun 1926, tapi dalam perjuangan , kita
berjuang di tahun 1959”.18

Namun demikian, semangat para ulama Nahdlatul Ulama


untuk menegakkan khittah ternyata tidak terhenti sampai disitu saja,
melainkan terus berjalan hingga pada muktamar ke-25 di Surabaya
pada tahun 1974. KH. Dahlan, seorang anggota presidium kabinet dan
menteri agama terakhir dari unsur Nahdlatul Ulama memberikan
pandangan tentang kemungkinan-kemungkinan perubahan struktur
politik di dalam pemerintahan orde baru. Gagasan Khittah di
muktamar Surabaya kali ini digulirkan langsung oleh Rais Am PBNU,
KH. Wahab Chasbullah. Kepada muktamirin beliau menyarankan
pentingnya kembali ke khittah. KH. Wahab Chasbullah ketika
menyampaikan usulan ini pada pidato iftitah dalam Muktamar,
sehingga isi muktamar juga sedikit banyak bersinggungan dengan
khittah. Tetapi sayangnya, masalah khittah ini belum mendapat
tanggapan yang begitu serius, hanya dijadikan wacana tambahan.

17 Kacung Marijan, Quo Vadis NU setelah Kembali ke Khittah, hal 133


18 Ibid, hal. 85
Pada muktamar berikutnya ditahun 1979 di Semarang,
wacana khittah semakin beredar berputar di kalangan muktamirin.
Bahkan menjadi wacana yang paling santer beredar. Pemikiran untuk
mengembalikan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan
(jam’iyah diniyah) sebagaimana awal berdirinya di tahun 1926
berangkat dari beberapa fenomena yang terjadi di sekitar Nahdlatul
Ulama. Pertama, kekecewaan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama terhadap
percaturan politik yang ada, dimana posisi Nahdlatul Ulama semakin
terpinggirkan; Kedua, adanya kekecewaan terhadap kalangan politisi
di NU, yang dianggap cenderung bersifat oportunistik. Dimana di satu
sisi, massa Nahdlatul Ulama hanya dijadikan alat politik yang hanya
menguntungkan dan disisi lain mereka cenderung mengabaikan
kepentingan (aspirasi) politik Nahdlatul Ulama di dalam PPP,
sehingga Nahdlatul Ulama mengalami penyusutan jumlah kursi di
DPR/MPR dan DPRD.

Gagasan khittah semakin memanas di Muktamar Semarang.


Bahkan salah satu keputusan muktamar ke-26 ini yakni dalam
keputusan program dasar pengembangan lima tahun yang bertujuan;
(1) menghayati makna seruan kembali ke jiwa 1926; (2) memantapkan
upaya intern untuk memenuhi seruang tersebut; dan (3) memantapkan
cakupan partisipasi Nahdlatul Ulama secara lebih nyata dalam
pembangunan bangsa. Namun sayangnya, Program Dasar
Pengembangan Lima tahun ini tidak berjalan mulus. Hal ini
disebabkan karena dalam tubuh Nahdlatul Ulama tidak mencapai
kesepakatan pemahaman dan pengeJawantahannya, meskipun telah
disepakati sebagai salah satu produk hukum yang disahkan
keberadaannya.

Konfrontasi di internal ini memetakan Nahdlatul Ulama


menjadi tiga faksi besar. Yakni faksi politik yang digawangi oleh
Idham Cholied dan para politisi lainnya yang sejalan dengannya. Faksi
ini menginginkan agar Nahdlatul Ulama tetap berada di jalur politik
untuk memperjuangkan kepentingan politiknya, sehingga organisasi
yang besar seperti Nahdlatul Ulama tetap mendapatkan ‘kehormatan’
secara politik. Faksi kedua adalah faksi khittah. Faksi ini di dominasi
oleh para ulama, kyai dan tokoh Nahdlatul Ulama lainnya yang tidak
bergerak di jalur politik. Dimana keinginan mereka adalah,
mengembalikan Nahdlatul Ulama pada kerangka dasarnya, yakni
sebagai lembaga sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Pada faksi ini,
nama-nama seperti KH. Abdul Hamid, KH. Ahmad Siddiq, KH. Ali
Maksum, dan sederetan nama-nama kyai lain menjadi pelopor.
Sementara faksi terakhir, faksi yang dipimpin oleh HM. Yusuf
Hasyim, lebih mengusulkan agar Nahdlatul Ulama tetap berada di jalur
politik namun Nahdlatul Ulama juga harus tetap memberikan
perhatiannya dalam gerakan pada aspek sosial keagamaan.19

Munculnya tiga faksi tersebut memberi artian bahwa


Nahdlatul Ulama telah berhasil membawa organisasinya pada
ketentuan awal berdirinya Nahdlatul Ulama, yakni sebagai lembaga
sosial keagamaan secara konseptual, namun dalam hal operasional,
Nahdlatul Ulama mengalami kegagalan total, karena tiga faksi
menunjukkan perpecahan internal NU dalam hal pandangan politiknya.
Kegagalan dalam operasional produk hukum ini salah satu penyebab
yang paling rentan adalah banyaknya pengurus besar Nahdlatul Ulama
yang juga merupakan pimpinan tinggi dari Partai Persatuan
Pembangunan.

Barulah kemudian, sebagaimana telah disebutkan dimuka,


pada munas alim ulama di Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah, di
Situbondo tahun 1983 menjadikan masalah khittah ini sebagai agenda
utama pertemuan. Bahkan dalam salah satu siding komisi, para ulama
yang mengikuti musyawarah nasional Alim Ulama ini membentuk
19 Maksoem Machfoedz, kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama,
Surabaya, Yayasan Kesatuan Umat, 1982, hal 269
komisi khittah, yakni komisi khusus yang membahas mengenai
landasan perjuangan Nahdlatul Ulama, yang di dalamnya terdapat
persoalan mengenai asas tunggal dan struktur organisasi Nahdlatul
Ulama.

Sejarah terjadinya Munas Alim Ulama yang menempatkan


khittah sebagai agenda utama tidak telepas dari konflik yang ada di
internal NU. Di dalam Nahdlatul Ulama ada dua kubu yang bersetru
mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pertama adalah kubu
Cipete dan kelompok Situbondo. Kalau yang pertama merupakan
representasi dari pemikiran KH. Idham Cholied serta para
pendukungnya yang berada di jalur politik, maka yang kedua
merupakan representasi dari kalangan pesantren di Jawa Timur yang
dipimpin oleh Kyai As’ad Syamsul Arifin, bahkan sangking kerasnya,
Kyai As’ad mengeluarkan statement untuk tidak mengakui KH. Idham
Cholied sebagai ketua umum PBNU.

Dari persetruan ini, kyai As’ad Syamsul Arifin memiliki cara


tersendiri untuk memenangkan pendapatnya, melalui sayap pemuda
yang di-backing olehnya, ia memainkan peranannya baik dalam munas
ataupun muktamar. Kelompok muda yang dimaksud adalah
“Kelompok Diskusi 164”. Mei 1983, kelompok ini berkumpul di
Jakarta untuk mengadakan pembahasan mengenai kronologi sejarah
perjalanan Nahdlatul Ulama, setelah melakukan pembahasan yang
sedemikian panjangnya, kelompok ini berhasil mengambil keputusan
untuk mendirikan “Tim Tujuh untuk Pemulihan Khittah NU 1926”.

Tim ini dipimpin oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang


di damping oleh HM. Zamroni (Wakil Ketua/Aktivis ’66 dari PMII),
Said Budairy (Sekretaris), H. Mahbub Djunaedi (Pendiri dan Ketua
Umum pertama PMII), Fahmi Saifudin, Daniel Tanjung dan Ahmad
Bagja (Mantan Ketua umum PMII). Tim ini memiliki tugas untuk
menyusun serta merumuskan konsep pembenahan dan pengembangan
Nahdlatul Ulama sesuai dengan khittah 1926 serta menyusun pola
kepemimpinan NU.20

Hasil-hasil dari keputusan yang diambil oleh Tim Tujuh


untuk Pemulihan Khittah NU 1926 inilah yang kemudian dijadikan
referensi serta materi persidangan dalam Musyawarah Nasional Alim
Ulama di bulan Desember 1983 di Situbondo dan Muktamar Nahdlatul
Ulama di bulan Desember 1984 di Situbondo yang inti dari kedua
forum permusyawaratan tinggi ini adalah kembali ke khittah Nahdlatul
Ulama 1926 dengan pengembangan-pengembangan tertentu untuk
lebih mengembangkan Nahdlatul Ulama di sisi sosial dan keagamaan.
Pada muktamar ini pula, ketua Tim Tujuh untuk Pemulihan Khittah
NU 1926, KH. Abdurrahman Wahid, terpilih sebagai ketua dewan
Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Konsekuensi logis dari khittah Nahdlatul Ulama adalah


penegasan bahwa Nahdlatul Ulama tidak lagi terikat oleh PPP.
Nahdlatul Ulama memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk
menyalurkan aspirasi politiknya ke partai manapun. Lebih tegas lagi,
salah satu hasil dari Musyawarah Nasional Alim Ulama, memberikan
landasan gerak yang tegas, bahwa setiap pengurus Nahdlatul Ulama
ditingkat manapun, dilarang keras untuk merangkap jabatan sebagai
pengurus partai politik. Sikap musyawarah nasional Alim Ulama yang
begitu tegas dalam hal kepengurusan ini berangkat dari berkacanya
kemungkinan kondisi yang akan dihadapi, pertama bahwa merangkap
jabatan berarti membagi konsentrasi kerja, hal ini berpengaruh
terhadap kondisi orang tersebut dalam melaksanakan tugas dan
jabatannya sesuai amanat yang diembannya. Padahal dua organisasi
ini, baik Nahdlatul Ulama ataupun partai politik, memiliki ruang gerak
serta tujuan yang berbeda. Kedua, lebih pada penanaman citra diri.

20 Kacung Marijan, Op. Cit, hal. 140


Yakni bahwa dengan adanya ketidakrangkapan kepengurusan, maka
citra Nahdlatul Ulama (sebagai organisasi yang khittah) dapat lebih
tercermin sebagai jam’iyyah Diniyah. Selain faktor itu, para ulama
juga menyadari madharat yang timbul akibat Nahdlatul Ulama terlalu
dalam bersinggungan dengan politik menyebabkan Nahdlatul Ulama
sendiri terpecah kesatuannya, timbul konflik di internal Nahdlatul
Ulama.

Aturan lain soal ketentuan khittah Nahdlatul Ulama, dalam


Muktamar Situbondo disebutkan:

Hak politik adalah salah satu hak dari seluruh warga Negara,
termasuk warga Negara yang menjadi anggota Nahdlatul
Ulama. Tetapi Nahdlatul Ulama bukan merupakan wadah
kegiatan politik praktis. Penggunakan hak politik
dilakukan menurut ketentuan perundang-undangan yang
ada dan dilaksankan dengan akhlakul karimah sesuai
dengan ajaran Islam, sehingga tercipta kebudayaan politik
yang sehat.

Nahdlatul Ulama menghargai warga Negara yang


menggunakan hak politiknya secara baik, sungguh-
sungguh dan bertanggung Jawab.

Untuk mempertegas peraturan ini, menjelang pemilihan


umum 1987, Kyai As’ad Samsul Arifin, melalui Mahbub Djunaedi
memberikan ketegasan untuk mengontrol sikap politik warga
Nahdlatul Ulama. “Dalam Pemilu 1987 nanti, warga Nahdlatul Ulama
wajib menyukseskan pesta demokrasi, tetapi tidak wajib berkampanye
untuk PPP. Sekali lagi, Nahdlatul Ulama bukan PPP dan PPP bukan
Nahdlatul Ulama, karena keduanya punya dunia sendiri-sendiri.
Keduanya tidak punya ikatan organisasi. Ini merupakan keputusan
Muktamar PPP dan keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama”.21

Penegasan dilakukan karena adanya ketidaksepahaman


mengenai hasil Muktamar, terutama tentang keputusan Khittah
Nahdlatul Ulama. Seperti konflik yang terjadi sebelumnya, antara kubu
KH. Idham Cholid dan kubu Kyai As’ad Syamsul Arifin, konflik ini
terus berlanjut. KH. Idham Cholied, melalui generasi penerusnya yang
masih duduk di PPP seperti H. Imron Rosadi, H. Imam Sofwan, Kyai
Syansuri Badawi dan beberapa tokoh Nahdlatul Ulama lainnya masih
tetap berupaya untuk melakukan manuver politiknya dengan
melakukan konspirasi menggulingkan Naro dari kursi ketua umum
partai.

Menanggapi berbagai konflik yang mencuat itu, satu hal


lontaran dari salah satu tokoh Nahdlatul Ulama yang terkenal karena
interpelasinya terhadap NKK/BKK, Syafi’i Sulaiman, “Tapi
Pemeritnah tetap saja tidak percaya, bahwa Nahdlatul Ulama betul-
betul netral dari PPP. Untuk membuktikannya bahwa Nahdlatul Ulama
betul-betul keluar dari PPP, suara PPP harus dikurangi. Tanpa itu,
pemerintah tidak percaya kepada Nahdlatul Ulama”22.

Tarik menarik dan konflik semakin memanas antara dua


belah pihak, terutama menjelang pemilu 1987, saat masa kampanye,
kedua belah pihak memanfaatkan kesempatan ini untuk
kepentingannya masing-masing. Kelompok pertama, yang konsisten
dengan hasil muktamar Situbondo, yang menginginkan Nahdlatul
Ulama kembali ke khittah, banyak mendapatkan serangan. Namun
mereka tidak kalah dalam memberikan perlawanan yang serupa.
Kelompok kedua, yang tetap menginginkan Nahdlatul Ulama berada
pada jalur politik, banyak menggandeng ulama-ulama untuk turut serta
berkampanye dengan jargon PPP adalah saluran aspirasi politik umat

21 Kacung Marijan, Op. Cit, hal. 160


22 Kacung Maridjan, op.cit hal. 160-161
Islam. Termasuk juga, jargon lain yang muncul, Nahdlatul Ulama
adalah salah satu organisasi yang membidani lahirnya PPP, maka,
seluruh warga Nahdlatul Ulama harus memilih PPP sebagai aspirasi
politiknya.

Gesekkan itu terus berlanjut, kelompok pertama, yang


diantaranya terdapat Abdurrahman Wahid, KH. Ahmad Siddiq, KH.
As’ad Syamsul Arifin, KH. Yusuf Hasyim, Mahbub Junaidi dan
sederet tokoh nasional lainnya memberikan reaksi keras atas disangkut
pautnya Nahdlatul Ulama kedalam kampanye dalam upaya
pemenangan PPP. Reaksi keras ini adalah upaya untuk mengeluarkan
Nahdlatul Ulama secara structural dan cultural terhadap padangan
Nahdlatul Ulama adalah bagian integral dari PPP.

Reaksi keras yang muncul dari kelompok Situbondo


(kelompok yang konsisten terhadap keputusan muktamar Situbondo)
direpresentasikan dengan melakukan black campaign terhadap
kampanye PPP di kantong-kantong Nahdlatul Ulama seperti di Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan daerah lainnya. Aksi kampanye
balik untuk menyerang PPP itu sebenarnya telah dilakukan selama
setahun sebelumnya, yakni di tahun 1986, H. Syafi’i Sulaiman, dalam
penutupan konferensi cabang Nahdlatul Ulama di Lumajang, dalam
pidatonya mengatakan, “Nahdlatul Ulama bukan PPP, bukan Golkar,
bukan pula PDI”23.

Tentulah dengan aksi black campaign yang dilakukan para


tokoh Nahdlatul Ulama barisan Situbondo membawa angin segar bagi
kontestan pemilu lainnya. Golkar dan PDI semakin mendapatkan angin
segar untuk dapat merealisasikan cita-cita politiknya mendapat kursi
banyak di DPR/MPR. Kampanye yang dilangsungkan di banyak
tempat oleh kelompok Situbondo terbukti berhasil memojokkan PPP.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, para ulama mengadakan
23 Kacung Maridjan, op.cit, hal.162
bahtsul masail sekitar pemilu 1987. Hasil dari bahtsul masail terbukti
cukup mengagetkan, yakni menggiring pondok pesantren se-DIY
untuk memilih Golkar sebagai aspirasi politiknya. Alasan mereka
memilih Golkar adalah, Golkar dipandang mampu membawa manfaat
bagi bangsa dan umat Islam Indonesia, juga merupakan representasi
dari perintah ketaatan terhadap ulil amri. “Kami yakin dengan
menitipkan aspirasi ke Golkar, disamping kita juga membawa
kewibawaan ulama, juga permasyarakatan ajaran Ahlussunah wal
jama’ah akan lebih dapat terealisir”24.

Tidak hanya itu, black campaign yang dilakukan oleh


Kelompok Situbondo tidak hanya terhenti pada seruan, pidato, kajian,
atau selebaran saja. Melainkan telah sampai kepada keputusan resmi
PBNU. Instruksi PBNU ini langsung ditanda tangani oleh KH. As’ad
Syamsul Arifin, KH. Achmad Siddiq, Abdurrahman Wahid dan HM.
Anwar Nuris tertanggal 16 April 1987 yang berisi butir-butir sebagai
berikut:

Seluruh warga Nahdlatul Ulama, baik aktivis/fungsionaris


maupun anggota biasa/simpatisan dimanapun berada
dilarang/haram mencoblos tanda gambar bintang/PPP
pada pemilu 23 April 1987 nanti.

Seluruh warga Nahdlatul Ulama tersebut dilarang/haram


menjadi Golput.

Diperintahkan kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk


menyalurkan aspirasi politiknya kepada salah satu dari
Golkar atau PDI dengan landasan ahlaqul karimah.

Agar pengurus jam’iyah Nahdlatul Ulama di segala tingkatan

24 DPW Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta, Hasil Bahtsul Masail


sekitar Pemilu Antar Pondok Pesantren se-DIY, Yogyakarta: Karya GRafika,
1987, hal. 3. Dikutip dari Bahrul Ulum, Bodohnya Nahdlatul Ulama apa
Nahdlatul Ulama Dibodohi?, Yogyakarta, Ar Ruzz, 2002. Hal.97
meningkatkan kerjasama dengan aparat pemerintahan dan
pelaksana pemilu, terutama dalam rangka mengadakan
pendataan terhadap aktivsi/fungsionaris serta warga
Nahdlatul Ulama yang selama masa kampanye aktif
mendukung PPP, baik tenaga, harta maupun dalam wujud
tingkah laku, lebih lagi yang bersifat memfitnah dan
mendiskreditkan ulama dan jam’iyah itu sendiri.

Agar para alim ulama menhggerakan dan meningkatkan


gerakan batin, baik dengan shalat hajat, istighatsah,
maupun pembacaan hizib dan doa. Bukan saja untuk
meningkatkan taqarub kita kepada Allah SWT, tetapi
lebih dari itu gerakan inti ulama yang terselubung PPP
segera mendapatkan penyelesaian dari Allah SWT sesuai
dengan upayanya selama ini.

Agar pengajian/majelis ta’lim dan kegitan keagamaan yang


diselenggarakan/dilakukan oleh jam’iah Nahdlatul Ulama
setelah Pemulu 1987 tidak lagi melibatkan warga
Nahdlatul Ulama yang termasuk pada butir 4 (empat)
diatas25.

Setelah instruksi ini dikeluarkan dan diedarkan oleh PBNU,


justru timbul masalah lagi, harian Suara Indonesia, menurunkan
laporan yang berisikan fatwa KH. As’ad Syamsul Arifin, inti dari
laporan tersebut adalah, bahwa tindakan menggembosi salah satu dari
tiga kontestan pemulu tidak dibenarkan oleh agama Islam. Barang
siapa yang suka menggembosi tidak sah menjadi imam shalat, tidak
sah menjadi wali anaknya, karena hukumnya rusak (fasad)26.

Meskipun terdapat banyak sekali rintangan, baik dari luar,


dari kelompok Cipete (kelompok yang tetap menghendaki Nahdlatul
25 Kacung Marijan, op.cit, hal. 164
26 Kacung Marijan, op.cit, hal. 165
Ulama berada dalam PPP, dipimpin oleh KH. Idham Cholied) serta
konflik internal dari KH. As’ad Syamsul Arifin, ternyata hasil yang
didapatkan oleh Kelompok Situbondo terbukti cukup membuahkan
hasil. Suara PPP di pemilu 1987 menurun drastis. Hasil pemilu 1987
jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya melonjak turun hingga
40%, sebuah gembosan yang luar biasa.

Dari penurunan suara yang terjadi di PPP, para konstituen


PPP ternyata berpindah, kebanyakan ke Golkar, hampir semua
kenaikan suara Golkar diimbangi dengan menurunnya suara PPP. Di
dalam PPP, Nahdlatul Ulama memmberikan porsi terbesar pemilih
yang eksodus. Di tahun 1971, Nahdlatul Ulama mampu meraih 2/3
total suara partai Islam. Jika proporsi itu tetap sama pada tahun 1982,
berarti hilangnya suara PPP antara 1982 dan 1987 yang lebih dari 40%
adalah mustahil tanpa adanya eksodus besar-besaran pemilih dari
kalangan Nahdlatul Ulama.

Apabila dibandingkan, hasil perolehan suara empat partai


yang berfusi di PPP dalam pemilu 1971 sejumlah 27,1% (2/3 adalah
suara Nahdlatul Ulama), di pemilu berikutnya, tahun 1977, terjadi
kenaikan tipis, yakni mendapat suara sejumlah 27,8%, sedangkan pada
pemilu tahun 1982, PPP mendapatkan suara sejumlah 27,8%
(mengalami sedikit penurunan). Namun setelah gerakan black
campaign yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid dan kawan-
kawan, suara PPP di pemilu tahun 1987 melonjak turun hingga ke
prosentase 16%. 27

Analisis data pemilu 1987 memperlihatkan bahwa, dukungan


Nahdlatul Ulama terhadap PPP merosot di 24 dari 27 daerah pemilihan
propinsi, kecuali di Propinsi Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya dan
Timor Timur (salah satu propinsi di Indonesia yang kini menjadi

27 Martin Van Bruinessen, Nahdlatul Ulama, Tradisi, relasi-relasi Kuasa,


Pencarian Wacana Baru, Yogyakarta, LKiS, 2002, hal. 144
Negara sendiri dengan nama Timor Leste) yang jaraknya cukup jauh
dan angkanya tidak terlalu berarti.

Angka perhitungan akhir pemilu 1987 menunjukkan


kemenangan yang gilang gemilang bagi partai pemerintah Golkar
(plus Nahdlatul Ulama). Dikatakan Golkar dan Nahdlatul Ulama,
karena Nahdlatul Ulama (setidaknya kelompok Situbondo) telah
melakukan black campaign terhadap PPP yang memang memiliki
massa besar di kalangan umat Islam. Kelompok Situbondo berani
melakukan hal tersebut karena merasa gerah di PPP yang dipimpin
oleh H. Djaelani Naro yang sangat berani mengalienasikan Nahdlatul
Ulama dalam system berpolitiknya, beberapa pembesar Nahdlatul
Ulama justru dibuang, tidak ditempatkan sebagaimana layaknya
kelompok yang mendominasi partai.

Berkat ‘bantuan’ dari Kelompok Situbondo, Golkar


mengalami kemenangan yang gilang-gemilang. Ucapan terima kasih
yang diberikan oleh Golkar (pemerintah) kepada Nahdlatul Ulama
berupa pemberian otonomi khusus bagi Nahdlatul Ulama, penguatan
pemberdayaan madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah serta
pesantren, guru-gurunya mendapatkan perhatian khsusus dari
pemerintah. Pemeberdayaan baik fisik ataupun non fisik terus berjalan,
bahkan pemerintah, melalui kaki tangannya (Yayasan Amal Bhakti
Muslim Pancasila) banyak mendirikan masjid-masjid di daerah
kantong Nahdlatul Ulama.

Ditingkatan elite sendiri, Slamet Effendi Yusuf, ketua GP


Ansor, diberikan posisi khsusus di Golkar, yakni menjabat sebagai
Ketua Departemen Pemuda DPP Golkar, meskipun sempat menuai
protes di kalangangan dua belah pihak, di Nahdlatul Ulama dan di
Golkar, Slamet Effendi Yusuf dengan mudah menduduki jabatannya.

Di Nahdlatul Ulama, sebagaimana keputusan khittah


Nahdlatul Ulama 1984 di Situbondo, pengurus Nahdlatul Ulama
ataupun badan otonomnya, dilarang untuk merangkap jabatan sebagai
pengurus organisasi atau partai politik, sementara di Golkar, seorang
ketua departemen harus memiliki masa bhakti di partai minimal 10
tahun dan karena Slamet Effendi Yusuf di tahun 1982 pernah menjadi
Calon Anggota DPR PPP dari daerah pemilihan Yogyakarta. Namun
ternyata, protes dan kritik tajam seputar itu tertelan waktu.

Di lain pihak, terjadi hal yang lebih dilematis lagi,


Abdurrahman Wahid, sebagai ketua Tanfidziyah PBNU, oleh
pemerintah diberikan kursi khusus sebagai anggota MPR.
Abdurrahman Wahid diangkat karena dianggap mewakili masyarakat
secara umum.

Tentunya, bagi Abdurrahman Wahid sendiri menjadi problem


yang sangat dilematis, satu sisi ia harus memimpin roda organisasi
PBNU apabila menerima tawaran tersebut ia harus meninggalkan
organisasi yang dipimpinnya agar lebih fokus, namun apabila
menolak, ia khawatir hubungan baik yang telah ia bangun dengan
pejabat tinggi selama ini akan hancur. Paling rumit, seandainya dia
menerima jabatan itu, dia akan mengalami kebingungan dalam
menentukan fraksi yang akan menampungnya. Memilih PPP akan
membuatnya merasa kehilangan muka, karena ia adalah termasuk
pihak yang menggembosi suaranya, memilih PDI, tidak mungkin
karena akan mempersulit dirinya sendiri, sementara ketika memilih
Golkar, akan nampak terbuka sekali jalur politiknya. Namun demikian,
putusan akhir yang dia ambil adalah, menerima tawaran untuk menjadi
anggota MPR dan menentukan Golkar sebagai fraksi yang akan
menampungnya.

Kritik sempat muncul dari kalangan Nahdlatul Ulama sendiri,


namun kritik itu tidak bertahan lama, bahkan dalam muktamar 1989 di
Yogyakarta, tidak ada yang melakukan gugatan yang serius terhadap
Abdurrahman Wahid dalam rangkap jabatannya sebagai anggota MPR
yang memilih fraksi Golkar.

Setelah keputusan khittah 1984 di Situbondo, perjalanan


kepemimpinan Nahdlatul Ulama berjalan mulus, bahkan nyaris tanpa
kendala yang berarti. Bahkan karena kemulusannya itu, pada
muktamar 1989 di Yogyakarta, seluruh peserta hampir mendukung
kepemimpinan Nahdlatul Ulama periode pertama khittah. Saat itu pula,
lahirlah penegasan tajam tentang khittah Nahdlatul Ulama dengan
pesan-pesan:

“Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial


keagamaan (jam’iyah diniyah) tidak mempunyai ikatan
organisasi dalam bentuk apapun dengan organisasi kekuatan
sosial politik yang manapun juga. Nahdlatul Ulama tidak
akan menggabungkan diri secara organisatoris kedalam
organisasi sosial politik manapun, tetapi juga tidak akan
bersikap menentang organisasi sosial politik manapun, dan
tidak akan menjadi partai politik sendiri”28.

Dalam muktamar ke-28 itu, Nahdlatul Ulama juga melakukan


pembahasan mengenai kemungkinan pandangan politik netral atau
golput. Keputusan mengenai hal ini, Nahdlatul Ulama memberikan
fatwa kewajiban untuk menyalurkan aspirasi politiknya melalui partai
peserta pemilu, namun tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti
salah satu partai, kebebasan memilih diberikan sepenuhnya kepada
warga Nahdlatul Ulama. Sedang tentang perbedaan pandangan dalam
pilihan politik harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan,
tawaddu’ (rendah hati), dan saling menghargai satu sama lain sehingga

28 PBNU, Permasalah dan Jawaban Muktamar Nahdlatul Ulama ke-28, Menara


Kudus, Kudus, 1989 hal. 171, sebagaimana dikutip oleh Bahrul Ulum, Op.cit.
hal. 104
dalam berpolitik tetap menjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan
Nahdlatul Ulama.

Meskipun Nahdlatul Ulama telah berpisah dengan PPP.


Apalagi setelah konflik politik pemilu di tahun 1987 yang terjadi
benturan cukup keras antara Nahdlatul Ulama dan PPP. Namun,
Nahdlatul Ulama ternyata masih bermain di setiap langkah politik PPP.
Pada muktamar ke-2 PPP, tahun 1989, politisi Nahdlatul Ulama
berhasil menempatkan tiga orang anggota formatur, yakni Imam
Sofwan, Karmani dan Sulaiman Fadli. Walaupun Nahdlatul Ulama
tidak berhasil memperjuangkan Chalid Mawardi atau Karmadi menjadi
ketua umum PPP, namun mereka berhasil menempatkan Matori Abdul
Djalil sebagai sekretaris umum dan sejumlah orang Nahdlatul Ulama
di dalam kepengurusan PPP. Di pihak lain, mereka menyepakati
terpilihnya Ismail Hasan Metareum sebagai ketua umum dari pada H.
Jaelani Naro yang dinilai terlalu otoriter dan telah banyak membuat
maneuver politik yang mengalienasikan Nahdlatul Ulama.

Tidak hanya di muktamar PPP ini saja Nahdlatul Ulama


bermain, pada muktamar selanjutnya, di tahun 1994, Nahdlatul Ulama
kembali mengeluarkan taring politiknya di PPP. Bahkan secara tegas
Nahdlatul Ulama menyatakan bahwa mereka ingin mengambil alih
kepemimpinan partai pada kepengurusan mendatang. Para tokoh
Nahdlatul Ulama yang terlibat langsung dalam konstelasi ini adalah
KH. Yusuf Hasyim, KH. Syansuri Baidawi dan KH. Munasir. Mereka
pulalah yang menyusun jalan politik upaya perebutan kursi ketua
umum PPP, pada pertemuan pertama mereka di Taman Mini Indonesia
Indah (TMII). Pertemuan lain yang terjadi adalah pertemuan antara
KH. Yusuf Hasyim dengan Buya Ismail Hasan Metareum serta para
ulama dan politisi di Rembang, Jawa Tengah. Hasil pertemuan ini,
mereka menyepakati untuk mendukung politisi Nahdlatul Ulama,
siapapun orangnya nanti untuk merebut kursi pimpinan PPP.
Sayangnya, sederet pertemuan berikutnya ternyata tidak
membuahkan hasil yang sebagaimana diharapkan. Kelompok
Nahdlatul Ulama yang masih berupaya merebut kursi pimpinan DPP
PPP, ternyata masih tidak mampu menandingi kekuatan Perti
(Muslimin Indonesia) dibawah kekuatan Buya Ismail Hasan Metareum
(incumbent) yang di back up sepenuhnya oleh pemerintah orde baru.
Kelompok Nahdlatul Ulama yang masih tetap bertahan di PPP ini
menyebut kelompok mereka sebagai Kelompok Rembang, di
dalamnya banyak terdapat kyai-kyai besar seperti KH. Maimoen
Zubair yang menjadi motor penggerak Kelompok Rembang.

Namun kekalahan Kelompok Rembang dalam Muktamar


PPP 1994 ini tidak mematahkan semangat mereka untuk tetap bertahan
di partai berlambang bintang ini. Sebagaimana yang dituturkan oleh
Ketua Majelis Pertimbangan PPP yang sekaligus tokoh besar
Nahdlatul Ulama, KH. Maimoen Zubair dalam wawancara dengan Edy
Budiarso dari Tempo.

“Orang Nahdlatul Ulama kan bebas menyalurkan aspirasi


politiknya, termasuk ketua umumnya sendiri, sedangkan
Nahdlatul Ulama-nya sendiri kan tidak bisa dibawa kemana-
mana. Nahdlatul Ulama organisasi mass agama, dan agama
itu dimana-mana…. Itu hak pribadi saya… kehadiran PPP
itu tetap dibutuhkan sebagai kekuatan politik dalam
kehidupan bernegara kita. Artinya bhineka tunggal ika tetap
dipertahankan. Saya sebagai orang PPP, karena PPP
berasal dari fusi partai-partai Islam. Dan sekarang ini Islam
itu sudah besar dan ada dimana-mana… masing-masing
sudah mengakui mana yang tepat. Saya sejak dulu ada di
PPP, sehingga saya istiqamah saja”29.

29 http://www.tempo.co.id/ang/min/01/50/utama2.htm, di download pada


Sabtu, 26 September 2009, pukul 21.34
Disisi lain, bagi kelompok Situbondo yang dipimpin oleh
Abdurrahman Wahid, ternyata kemesraan yang dibangun dengan
pemerintah selama ini tidak berlangsung lama. Setelah berjasa
memenangkan Golkar pada pemilihan umum 1977 dan
‘menyingkirkan’ PPP dalam tubuhnya, serta penerimaan ‘reward’ dari
pemerintah, justru kelompok Situbondo ini mengalami kolaps. Hal ini
dikarenakan banyak terjadinya ketimpangan cara pandang antara
Abdurrahman Wahid dan pemerintah yang sering tidak senada.

Rujuk antara pemerintah dan politik Islam berpuncak pada


pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada
tanggal 7 Oktober 1990. Ide yang bergulir dari para mahasiswa dari
Universitas Brawijaya, Malang yang disambut baik oleh Imaduddin
Abdulrahim dan Dawam Raharjo. ICMI akhirnya berdiri dan untuk
memperkuat posisi ICMI, Imaduddin menggandeng dua menteri
sebagai penguat, yakni Emil Salim dan BJ. Habibie. BJ. Habibie
kemudian menghadap presiden untuk meminta restu mengenai
keberadaan ICMI, Presiden dengan senang hati menyetujui BJ.
Habibie untuk bergabung di ICMI dengan harapan kedepannya ICMI
akan dapat digunakan sebagai senjata dari kalangan intelektual muda
Islam yang dapat menopang dirinya.

Ternyata meskipun telah mendapatkan ‘restu’ dari presiden,


keberadaan ICMI justru menimbulkan konflik baru dari kalangan
ABRI. Mereka tidak memberikan izin pelaksanaan kongres di Malang.
Alasan ABRI adalah, keberadaan ICMI tak ubahnya seperti Masyumi,
bayang-bayang ketakutan masa lalu yang dilakukan Masyumi
menimbulkan kabut pekat di kalangan ABRI.

Berdirinya ICMI yang diharapkan mampu menjadi batu


loncatan bagi banyak kalangan untuk dapat langsung ‘duduk manis’
tanpa melalui banyak rintangan membuat para cendekiawan banyak
yang tertarik untuk bergabung di wadah baru ini. Namun, beberapa
intelektual nasional banyak pula yang menolak kehadiran ICMI. Deliar
Noer misalnya, ia beranggapan keberadaan ICMI hanyalah sebagai
barisan pendukung pemerintah yang tidak benar-benar menegakkan
demokrasi di Indonesia. Selain Deliar Noer, Abdurrahman Wahid juga
menolak bergabung dengan ICMI.

Penolakan yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid


berdampak sangat luas, setidaknya bagi kalangan tradisionalis, karena
dia mencabut legitimasi penuh Islam yang mau diraih baik oleh
presiden maupun ICMI. Secara resmi, Abdurrahman Wahid melakukan
penolakan terhadap keputusan pemerintah, dan menyatakan secara
tidak langsung vis a vis terhadap presiden. Akhirnya, tawaran yang
selama ini ditawarkan kepada Abdurrahman Wahid untuk memimpin
Forum Demokrasi, sebuah lembaga nirlaba yang concern berjuang
menegakkan demokrasi di Indonesia, diterimanya sebagai tindakan
civil disobedience kepada pemerintah. Selain di Forum Demokrasi
Abdurrahman Wahid juga memperluas jaringan eksternal Nahdlatul
Ulama-nya antara lain menjadi salah satu Dewan Presidium WCRP
(World Council of Religion and Peace); anggota Dewan Pembina dan
Pendiri Pusat Simon Perez untuk perdamaian (Simon Perez Peace
Centre) yang bermarkas di Tel Aviv, Israel; serta ia menjadi Penasehat
International Dialogue Foundation on Perspective Studies of Syari’ah
and Secular Law di Den Haag, Belanda.

Ketidakmesraan hubungan antara pemerintah dan Nahdlatul


Ulama semakin menajam. Pada tahun 1992, saat rencana akan
diselenggarakan Rapat Akbar Nahdlatul Ulama di Jakarta. Secara
sepihak pemerintah melakukan pelarangan kegiatan. Presiden
melakukan penghalangan terhadap kegiatan rapat akbar ini. Sehingga,
dengan tegas, Abdurrahman Wahid menulis surat kepada presiden;
“Dengan menghalangi Nahdlatul Ulama mendapatkan
legitimasi penuh bagi posisi-posisinya, tanggung Jawab
orientasi kelompok keagamaan kini berada di tangah
pemerintah. Apabila pemerintah juga gagal, maka dalam
sepuluh tahun mendatang, kekutan yang tidak mau menerima
ideology nasional akan bertambah besar dan akan
mengancam Republik Indonesia beserta Pancasila … yang
saat ini terjadi di Aljazair akan terjadi juga di sini … dan
apabila kecenderungan ini berlanjut, sebuah Negara Islam
akan menggantikan Negara yang kita miliki sekarang ini”.30

Tidak terhenti sampai disitu saja serangan yang dilakukan


oleh pemerintah kepada Abdurrahman Wahid. Melalui ICMI,
pemerintah melakukan penggembosan kekuatan Abdurrahman Wahid
di dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Sehingga gerakan Anti-
Abdurrahman Wahid pun muncul, terutama dari kelompok yang
mendukung keberadaan ICMI. Sedikitnya sudah 4 kali pemerintah
berusaha menggulingkan Abdurrahman Wahid dari kursi ketua umum
PBNU, namun keempat usaha itu ternyata tidak membuahkan hasil
yang sebagaimana diharapkan oleh pemerintah. Abdurrahman Wahid
tetap duduk dengan tenang, bahkan semakin keras melakukan
controlling terhadap pemerintah Orde Baru.

Pada Munas Alim Ulama di Cilacap tahun 1987,


Abdurrahman Wahid pertama kali diserang secara halus untuk
dilengserkan, namun peranan KH. Achmad Siddiq melindunginya.
KH. Achmad Siddiq memberikan dukungan penuh kepada
Abdurrahman Wahid dengan memepertaruhkan jabatannya sendiri
sebagai Rais ‘Aam. Serangan kedua muncul saat berlangsungnya
Muktamar Nahdlatul Ulama di Krapyak Jogjakarta tahun 1989, namun
keberadaan KH. Ali Ma’sum memberikan perlindungan yang luar

30 Andree Feillard, op.cit, hal.405


biasa kepada bekas santrinya itu, meskipun serangan banyak
bermunculan kepadanya. KH. Achmad Siddiq kembali terpilih sebagai
Rais ‘Am PBNU dengan 118 suara melawan 116 suara yang
mendukung Idham Chalied.

Serangan selanjutnya pada Munas Lampung tahun 1992, kali


ini Abdurrahman Wahid berhadapan dengan tokoh yang cukup
berpengaruh, KH. Ali Yafie. Namun serangan dari kubu KH. Ali Yafie
ternyata mampu di pukul mundur olehnya karena keberhasilan
Abdurrahman Wahid dalam reformasi Nahdlatul Ulama. Suatu tingkat
kestabilan telah tercapai, meskipun pada tahun yang sama KH.
Achmad Shiddiq yang selama ini mendampinginya sebagai Rais ‘Am
wafat. Sebagai penggantinya, KH. Ilyas Ruchiyat, seorang ulama yang
dianggap paling netral kemudian dipilih menjadi Rais ‘Am ad interim.

Pada muktamar Nahdlatul Ulama ke-29 di Cipasung, tahun


1994, posisi Abdurrahman Wahid benar-benar terancam ketika
pemerintah ikut bergabung dengan kelompok yang sangat
menyesalkan kritiknya terhdap ICMI untuk menggulingkannya.
Namun, ia kembali terpilih dengan kemenangan tipis, suatu bukti
bahwa kekuatan Abdurrahman Wahid merupakan kekuatan
tradisionalis pembaharu yang sangat kuat.

Kekuatan Abdurrahman Wahid terbukti cukup ampuh, ia


mampu bertahan dari empat kali serangan yang dilakukan oleh
pemerintah. Bahkan ia dengan semakin ganas melakukan maneuver-
maneuver politik yang cukup meresahkan bagi pemerintah orde baru.
Ia sangat kritis terhadap setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah
orde baru.

Salah satu kebijakan yang paling banyak diamati, selain di


bidang politik adalah perekonomian nasional khususnya bidang
pembangungan nasional. Dalam membiayai pelaksanaan
pembangunan, tentu dibutuhkan dana yang besar. Di samping
mengandalkan devisa dari ekspor nonmigas, pemerintah juga mencari
bantuan kredit luar negeri. Dalam hal ini, badan keuangan
internasional IMF berperan penting. Dengan adanya pembangunan
tersebut, perekonomian Indonesia mencapai kemajuan. Meskipun
demikian, laju pertumbuhan ekonomi yang cukup besar hanya
dinikmati para pengusaha besar yang dekat dengan penguasa.

Pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan pemerataan


dan landasan ekonomi yang mantap sehingga ketika terjadi krisis
ekonomi dunia sekitar tahun 1997, Indonesia tidak mampu bertahan
sebab ekonomi Indonesia dibangun dalam fondasi yang rapuh. Bangsa
Indonesia mengalami krisis ekonomi dan krisis moneter yang cukup
berat. Bantuan IMF ternyata tidak mampu membangkitkan
perekonomian nasional. Hal inilah yang menjadi salah satu factor
penyebab runtuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998.

Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah


adanya krisis moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi
Indonesia terus memburuk seiring dengan krisis keuangan yang
melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin merajalela,
sementara kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketimpangan
sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya kerusuhan
sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan
utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi
total.

Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal


12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu me-
ninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti akibat bentrok
dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah Elang
Mulya Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan.
Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar
sebagai “Pahlawan Reformasi”.

Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto


berjanji akan mereshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet
Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite Reformasi yang
bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk
MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi.
Dalam perkembangannya, Komite Reformasi belum bisa terbentuk
karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet
Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden
Soeharto mundur dari jabatannya. Tepat tanggal 21 Mei 1998,
Presiden Soeharto membacakan keputusan pengunduran dirinya
sebagai Presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada wakil
presiden untuk sementara waktu sampai dilangsungkannya pemilihan
umum. Dari keputusan itu, secara otomatis BJ. Habibie diangkat
menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Ditubuh Nahdlatul Ulama sendiri, pada Juni 1998, KH.


Cholil Bisri memprakarsai pertemuan politik di pesantrennya,
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. Dalam mengawali
perbincangan itu, KH. Cholil Bisri mengatakan “Kini sudah saatnya
Nahdlatul Ulama berbuka, setelah lebih dari 32 tahun berpuasa dari
arena politik yang sempat membuat Nahdlatul Ulama
sempoyongan”.31

Dalam pertemuan itu, tidak hanya para kyai yang hadir,


namun juga para politisi Nahdlatul Ulama dari berbagai partai politik
ikut serta menghadirinya. Dari pembicaraan awal oleh KH. Cholil
Bisri, muncullah diskusi yang panjang mengenai system berpolitik
Nahdlatul Ulama. Keputusan akhirnya, mereka sepakat untuk

31 Fawzy Alco, Seribu Angin, Upaya Membenturkan Antar Kyai Lewat


Panggung Politik, Qirtas, Yogyakarta, 2003, hal. 2
mendirikan partai baru yang merepresentasikan keberadaan Nahdlatul
Ulama dalam konstelasi politik nasional. Kesepakatan itu kemudian
ditindak lanjuti, masih dalam pertemuan itu, untuk membentuk
“Lajnah Sebelas” yang bertugas untuk membuat rumusan tentang visi,
misi, platform hingga AD/ART partai untuk diusulkan ke PBNU.

Usulan dari pertemuan Rembang itu direspon positif oleh


PBNU, PBNU sebagai tindak lanjut membentuk tim lima ditambah tim
asistensi yang terdiri dari empat orang yang akhirnya menjadi tim
Sembilan. PBNU nampaknya tidak hanya mendapatkan usulan dari
kelompok Rembang saja, melainkan banyak DPW Nahdlatul Ulama
dan DPC Nahdlatul Ulama yang mendesak melakukan hal yang sama,
tidak hanya sekedar usul, namun usulan mereka juga disertai dengan
usulan nama-nama partai.

Di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada tanggal 23 Juli 1998


diadakan pertemuan antara politisi Nahdlatul Ulama, ulama Nahdlatul
Ulama serta para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama lainnya, pada
pertemuan tersebut, lahirlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang
langsung dibidani oleh PBNU. Pukul 15.00 WIB, lima kyai sepuh
didaulat untuk mendeklarasikan partai baru ini, kelima kyai tersebut
adalah KH. Ilyas Ruhiyat, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir
Ali, KH. Muchith Muzadi dan KH. Musthofa Bisri.

Menyadari keputusan untuk mendirikan partai sangat riskan,


dan jelas akan banyak mendapatkan kritikan, baik dari dalam
Nahdlatul Ulama sendiri atau dari luar Nahdlatul Ulama. Abdurrahman
Wahid sebagai ketua umum PBNU mengeluarkan instruksi kepada
seluruh jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan
untuk tidak merangkap jabatan menjadi pengurus PKB.

Abdurrahman Wahid dan para fungsionaris PBNU untuk


memperkuat legitimasi PKB dimata warga Nahdlatul Ulama
khususnya dan di mata masyarakat Indonesia pada umumnya, selalu
mengatakan bahwa PKB adalah satu-satunya partai yang lahir dari
dalam Nahdlatul Ulama. Pernyataan meligitimasi PKB menjadi satu-
satunya partai yang menampung aspirasi politik warga Nahdlatul
Ulama membuat konflik besar di internal Nahdlatul Ulama. Banyak
tokoh Nahdlatul Ulama yang tidak dilibatkan dalam pembentukan
partai baru ini akhirnya melakukan perlawanan terhadap Abdurrahman
Wahid, perlawanan yang sangat terbuka dengan membuat partai-partai
tandingan yang secara tidak langsung membawa nama Nahdlatul
Ulama.

Abu Hasan, seorang saingan terkuat Abdurrahman Wahid


dalam muktamar Nahdlatul Ulama di Ciasung tahun 1994 untuk
merebutkan kursi ketua umum PBNU mendirikan Partai SUNI (Serikat
Uni Nasional Indonesia). Pengusaha dari Jambi ini merupakan orang
yang paling tidak sepakat dengan keputusan sepihak yang diambil oleh
PBNU dalam membentuk PKB.

Selain Abu Hasan, tokoh lain yang ikut mendirikan partai


pesaing PKB adalah KH. Syukron Amin. Dia mendirikan PNU (Partai
Nahdlatul Ummah). Partai ini didirikan oleh ulama Nahdlatul Ulama
yang aktif dalam organisasi dakwah ittihadul muballighin. Partai ini
juga mendapatkan dukungan kuat dari beberapa pemimpin Nahdlatul
Ulama termasuk KH. Idham Chalied, mantan ketua umum PBNU dan
KH. Sahal Mahfudz. Dua bulan setelah PNU berdiri, berdiri pula partai
baru pesaing PKB, yakni PKU (Partai Kebangkitan Ummat). Kalau
selama ini Abdurrahman Wahid mendapatkan rival dari lawan
politiknya, kali ini melalui PKU Abdurrahman Wahid justru
bertentangan dengan pamannya sendiri, KH. Yusuf Hasyim serta adik
kandungnya, KH. Salahudin Wahid. Bahkan serangan dari barisan
keluarga ini mengelurkan statemen yang cukup keras dengan
mengatakan partai yang mereka dirikan merupakan aspirasi dari para
anggota yang tidak puas dengan kepemimpinan Abdurrahman Wahid32.

Serangan demi serangan terus menerus menembak


Abdurrahman Wahid, namun kelihaiannya dalam berpolitik membuat
dia semakin kuat ketika ditentang. Terbukti dengan banyaknya
serangan justru membuat barisan PKB ditangan putra KH. Wahid
Hasyim ini semakin banyak mendapatkan dukungan, tidak hanya dari
kalangan Nahdlatul Ulama saja, melainkan bahkan dari komunitas non
muslim, karena PKB yang didirikan PBNU tidak mengkhususkan
sebagai penampung aspirasi umat Islam, namun terbuka bagi seluruh
rakyat Indonesia tanpa memandang suku dan agama. Inilah yang
merupakan salah satu era babak baru Nahdlatul Ulama dalam kancah
perpolitikan nasional pasca tumbangnya kekuasaan otoriter yang
dipimpin oleh Soeharto.

Mundurnya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, meyusul


krisis moneter yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997
mengawali tahapan baru dalam pemerintahan Indonesia. Secara
formal, tahapan baru ini ditandai dengan beralihnya kekuasaan Negara
dari tangah Soeharto ke tangan BJ. Habibie untuk sementara waktu
sampai diadakan pemilu.

Ketika Habibie mengganti Soeharto sebagai presiden tanggal


21 Mei 1998, ada lima isu terbesar yang harus dihadapinya, yaitu:

Masa depan Reformasi;

Masa depan ABRI;

Masa depan daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari


Indonesia;

Masa depan Soeharto, keluarganya, kekayaannya dan kroni-


kroninya; serta
32 Bahrul Ulum, op.cit, hal. 136
Masa depan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Lima tantangan besar yang menjadi beban bagi BJ. Habibie


adalah warisan-warisan kejahatan orde baru yang harus ia selesaikan.
Namun sebelum itu, ia mengambil kebijakan terlebih dahulu dengan
melakukan pengujian ulang terhadap beberapa produk hukum berupa
undang-undang yang dikeluarkan orde baru serta mengganti atau
merubahnya dengan yang lebih tepat sesuai dengan tuntutan era
reformasi. Sedikitnya ada lima undang-undang yang berhasil dia garap
dalam periode pertama kepemimpinannya;

UU No. 1 tahun 1985 tentang Pemilu

UU No. 2 tahun 1985 tentang Susduk MPR/DPR

UU No. 3 tahun 1985 tentang Sistem Kepartaian

UU No. 4 tahun 1985 tentang Pengaturan Antisubversif.

UU No. 5 tahun 1985 tentang Organisasi Massa di Indonesia.

Secara otomatis, dengan berubahnya system penyelenggaraan


pemilu, system kepartaian serta Susduk MPR/DPR, banyak tokoh yang
mencoba ‘mengadu nasib’ dengan mendirikan partai-partai baru untuk
bertarung dalam pemilihan umum yang akan berlangsung pada tahun
1999. Setidaknya ada 148 partai politik yang telah mendaftarkan diri
untuk menjadi kontestan dalam pemilu 1999 setelah terjadinya
perubahan undang-undang system kepartaian. Namun setelah melalui
proses verifikasi oleh Tim Sebelas (Nurcholis Madjid, Miriam
Budiardjo, Adi Andojo Suetcipto, Mulyana W. Kusumah, Kastorius
Sinaga, Eep Safulloh Fatah, Rama Pratama, Adnan Buyung Nasution,
Affan Gafar dan Anas Urbaningrum), hanya 48 partai yang dinyatakan
lolos verifikasi dan mendapatkan tiket untuk mengikuti pemilihan
umum tahun 1999 dengan bukti surat keputusan Mendagri selaku
ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU) No. 3 tahun 199933.

Membuka lembaran politik baru bagi pemerintahan BJ.


Habibie tidak hanya berpengaruh di internal bangsa, dengan
banyaknya partai yang hendak turut bertarung di pemilu yang
mencapai angka hingga 148 partai, ini adalah jumlah partai terbesar
sepanjang sejarah Indonesia. Namun tidak hanya partai saja yang over
quote, dalam pelaksanaan pemilu 1999 mendapatkan perhatian yang
luar biasa dari dunia intenasional. Hal ini dapat dibuktikan dari
banyaknya pihak luar negeri yang ikut serta meramaikan pesta
demokrasi dengan mengambil peran sebagai peneliti, pengawas
(pemantau) serta pengamat politik.

Lembaga-lembaga pemantau pemilu yang terdaftar di KPU


dari luar negeri mencapai 20 lembaga/organisasi dan dari dalam negeri
sendiri, lembaga pemantau mencapai angka 119 lembaga resmi. Selain
itu, tidak kurang dari 13 perwakilan Kedutaan Besar, lembaga dari
dalam negeri antara lain KIPP (Komite Independent Pemantau
Pemilu), Forum Rektor, Unfrel (University Network for Free Election),
Jampi (Jaringan Masyarakat Pemantau Pemilu) Jappin (Jaringan
Pesantren Pemantau Pemilu), IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia),
PWI Reformasi, Namfrel (National Citizens Movement for Free
Election) dari Filipina dan Carter Center. Jumlah pemantau asing yang
terdaftar di KPU sebanyak 515 orang. Sedangkan jumlah pengamat
dari Kedutaan Jepang, Amerika, Inggris, Kanda, Prancis dan Australia
sebanak 139 orang34.

Secara umum, pelaksanaan pemilu 1999 dinilai oleh sejumlah


lembaga pemantau pemilu independent, baik dari dalam maupun luar
negeri, sudah jauh lebih baik dan memenuhi syarat sebagai “free and
fair election” di bandingkan dengan pemilu yang diselenggarakan oleh

33 Bahrul Ulum, op.cit, hal .154


34 Bahrul Ulum, op.cit, hal. 154-155
pemerintahan Orde Baru. Namun demikian, itu bukan berarti pemilu
1999 bebas dari kecurangan. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) sempat mengadakan jajak
pendapat terhadap hasil dari pemilu 1999. Dari jajak pendapat yang
bersifat acak tersebut, ternyata masyarakat cenderung ragu bahwa
partai-partai politik yang ada akan memenuhi komitmennya pada
kepentingan masyarakat setelah pemilu usai. Mereka bercermin pada
pemilu 1999 yang dinilai hasilnya tak memuaskan. Karena itu,
menjelang pemilu legislatif yang digelar 5 April 2004 lalu, masih
banyak masyarakat yang belum menentukan pilihannya (undecided
voter). Jajak pendapat tersebut menemukan fakta bahwa angka
undecided voter cukup tinggi, berkisar antara 35% hingga 60% dari
seluruh partai berdasarkan perbandingan pemilu 1999.

Jajak pendapat tersebut juga mencatat 60% responden


menyatakan tidak puas dengan hasil pemilu 1999. 43% responden
menyatakan tidak yakin, sedangkan 24% tak punya pendapat apa-apa.
Hanya 33% yang berpikiran sebaliknya, bahwa pemilu 2004 akan
membawa perubahan. Sebagian responden juga tak melirik partai-
partai baru yang bermunculan pasca 1999. Sebanyak 74% responden
yang rata-rata berusia 17 tahun atau sudah menikah itu ternyata tidak
dapat menyebutkan partai-partai baru tersebut35.

PKB sebagai representasi politik Nahdlatul Ulama, ternyata


juga mampu menembus angka yang sama sekali tidak terduga, PKB
bertengger di urutan ke-3 dalam pelaksanaan pemilu kali ini dengan
meraup suara sekitar 13 juta suara. Sebagai pemenangnya adalah PDI-
P yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan
153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 suara atau 22,44 persen
sehingga mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding

35 M. Misbachul Mujib, M.Hum, Pemilu Indonesia Fakta dan Optimisme


terhadap Idealita, Makalah untuk syarat Calon Anggota KPU Bantul, 20
Agustus 2008
Pemilu 1997. PKB dengan 13.336.982 suara atau 12,61 persen,
mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71
persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding
Pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen,
mendapatkan 34 kursi. Di luar lima besar, partai lama yang masih ikut,
yakni PDI merosot tajam dan hanya meraih 2 kursi dari pembagian
kursi sisa, atau kehilangan 9 kursi dibanding Pemilu 199736.

Tidak seperti pada pemilihan umum yang diselenggarakan


oleh pemerintah Orde Baru, pada Pemilihan Umum kali ini tidak
menghasilkan kekuatan tunggal mayoritas (Single Majority).
Komposisi hasil pemilu itu, memaksa kekuatan-kekuatan politik untuk
melakukan koalisi antar partai dalam rangka memenangkan
pertarungan-pertarungan politik di Sidang Umum MPR. Bacaan koalisi
telah banyak muncul ditengah para pengamat politik. Disamping itu,
massa fanatic juga telah turut serta menyumbangkan peranannya dalam
upaya koalisi antar partai. Misalnya, pendukung fanatic dari Megawati
Soekarno Putri yang merupakan ketua umum PDI-P, mengadakan aksi
cap jempol darah sebagai dukungan kepada Megawati untuk duduk
sebagai presiden. Kekuatan lain yang muncul dari partai Golkar yang
menjagokan BJ. Habibie dengan ancaman dari rakyat Makassar yang
akan merdeka bila BJ. Habibie tidak terpilih.

Dua kubu saling mengandalkan kekuatannya, karena


disamping keduanya tokoh yang paling berpengaruh di tingkat
nasional, juga karena partai yang mengusungnya merupakan partai
pemenang pemilu urutan pertama dan kedua. Keduanya saling
menggalang kekuatan koalisi untuk memenangkan dirinya dalam
Sidang Umum MPR.

36 The Asian Network for Free Election (ANFREL), A Decade of Democracy in


Indonesia: 2009 Free Election, Report of International Election Observation
Mission, 2009, hal. 34
Ide cerdas kemudian muncul dari para politisi Islam, dari dua
kekuatan besar yang ada, tentu akan lebih menarik lagi apabila muncul
satu kekuatan pembanding dari poros tengah, yakni koalisi antar partai
Islam. Ide cemerlang ini kemudian menjadi wacana serius di kalangan
politisi, bahkan mencuri perhatian Megawati dan Habibie. Kesadaran
menciptakan poros tengah ini berangkat dari kenyataan bahwa Habibie
merupakan kandidat yang masih kontroversi di tengah Golkar sendiri
karena banyak calon lain dari partai Golkar yang juga ingin maju.
Sementara Megawati tidak mempunyai dukungan terbuka dari partai
politik lain. Premis dasar inilah yang kemudian memunculkan
statement every body’s game yang akhirnya memunculkan kekuatan
poros tengah.

Kekerasan benturan yang terjadi antara kubu Megawati dan


kubu Habibie membuat para politisi di poros tengah berfikir tajam
untuk memunculkan calon alternative. Usul cerdas muncul dari Amien
Rais, Politisi Partai Amanat Nasional (Representasi dari massa
Muhammadiyah) adalah mengajukan Abdurrahman Wahid sebagai
calon presiden dari poros tengah, menurut Amien Rais, Abdurrahman
Wahid adalah tokoh yang paling tepat karena kelihaian, kecerdasan
serta kemampuan luar biasa dalam menciptakan surprise politik. Lebih
jauh, Amien mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid merupakan
calon yang memiliki criteria terbaik di antara yang terjelek (the best
among the worst).

Kemunculan Abdurrahman Wahid yang dijagokan oleh


Amien Rais ternyata tidak berjalan mulus, perdebatan sengitpun terjadi
dikalangan poros tengah sendiri. Matori Abdul Jalil, ketua umum
Partai Kebangkitan Bangsa menuduh Amien Rais hendak
‘mendompleng’ menduduki RI-2 dari kekuatan yang dimili oleh
Abdurrahman Wahid, sementara politisi PKB lainnya, AS Hikam,
pencalonan ini dianggap tidak masuk akal. Lebih jauh, secara tegas
Yusril Ihza Mahendra, Politisi Partai Bulan Bintang, mengatakan
bahwa pencalonan Abdurrahman Wahid sebagai presiden adalah
keputusan Amien Rais sendiri, bukan merupakan keputusan poros
tengah37.

Abdurahman Wahid sendiri ternyata belum mengambil


keputusan mengenai dicalonkannya dirinya oleh Amien Rais. Tetapi
dengan getolnya, Amien Rais tetap memperjuangkan pencalonan
Abdurrahman Wahid sebagai presiden. Dalam pengajian bersama
antara Pemuda Muhammadiyah dengan GP Ansor di kantor PP
Muhammadiyah, Amien Rais kembali menegaskan dukungannya
kepada Abdurrahman Wahid.

Sebagaimana tradisi Nahdlatul Ulama, para ulama kemudian


mengadakan pertemuan, beberapa kali pertemua yang diadakan,
mereka masih ragu terhadap pencalonan yang diajukan oleh Amien
Rais atas nama poros tengah. Untuk meyakinkan keseriusan poros
tengah, tokoh-tokoh politik dari poros tengah kemudian mengadakan
pertemuan dengan para ulama-ulama Nahdlatul Ulama. Pertemuan itu
antara lain berlangsung di Pesantren Langitan, Jawa Timur, Rumah
Abdurrahman Wahid, Jakarta Selatan, dan di Buntet, Jawa Barat.

Abdurrahman Wahid yang masih bimbang dengan


keputusannya, akhirnya diyakinkan oleh pamannya, KH. Yusuf
Hasyim. Dengan berbekal ‘restu’ dari pamannya itu, Abdurrahman
Wahid akhirnya menerima pinangan dari Poros Tengah. Kesediaannya
menjadi calon presiden pertama kali digelar dalam acara yang
diadakan oleh BM PAN di Hotel Arya Duta. Sayangnya, kesediaan
Abdurrahman Wahid menerima lamaran menjadi calon presiden dari
Poros Tengah tidak mendapatkan dukungan dari partai yang
dibidaninya, PKB. PKB justru mengadakan koalisi dengan PDI-P
untuk mengusung Megawati.
37 Bahrul Ulum, op.cit, hal. 161
Kekuatan poros tengah semakin tajam, apalagi dengan
kemenangan Amien Rais yang merupakan tokoh poros tengah dalam
pemilihan ketua MPR. Kekuatan gabungan Poros Tengah berhasil
mengalahkan koalisi PDI-P dan PKB. Tidak hanya itu, Poros Tengah
juga berhasil memukul PDI-P dan PKB untuk kedua kalinya pada
pemilihan ketua DPR. Poros Tengah mendukung Akbar Tandjung,
politisi senior dari Partai Golkar. Karena menderita kekalahan yang
bertubi-tubi, akhirnya PKB mulai berpaling dari PDI-P. Salah satu
kebijakan yang diambil oleh PKB adalah kembali mendukung
Abdurrahman Wahid dan bergabung bersama Poros Tengah.

Presiden BJ. Habibie, yang juga merupakan kandidat dari


Partai Golkar, justru mengalami nasib yang kurang beruntung. Laporan
pertanggungJawaban jabatannya sebagai presiden selama 512 hari
ditolak oleh Sidang Umum MPR. Berkaca pada ditolaknya laporan
pertanggungJawaban yang ia bacakan, BJ. Habibie dengan sportif
menarik diri dari pencalonan sebagai Presiden RI.

Pengunduran diri Habibie sebagai calon presiden dari Partai


Golkar semakin memperlebar konflik antara PDI-P dengan Poros
Tengah. Perebutan kursi presiden antar dua kubu ini semakin panas.
Hingga saat yang paling menegangkan untuk kedua kubu ini terjadi,
tepatnya tanggal 20 Oktober 1999, suasana pemilihan presiden begitu
menegangkan. Hasil akhirnya, Poros Tengah mengantongi 373 suara
dengan kandidat Abdurrahman Wahid, sedangkan kekuatan PDI-P
dengan kandidat Megawati Soekarno Putri hanya mampu mengantongi
313 suara. Suara lain, 9 Abstain dan 4 suara dinyatakan tidak sah.

Dari hasil pemilihan, Abdurrahman Wahid terpilih menjadi


presiden RI, pendukungnya menyambut kemenangan Abdurrahman
Wahid dengan mengumandangkan shalawat badar, “lagu kebangsaan
Nahdlatul Ulama”. Abdurrahman Wahid sendiri, kemudian
mengangkat tangan Megawati Soekarno Putri meneriakkan “Merdeka”
dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Megawati serta
menyerukan agar Megawati dan pendukungnya agar dilindungi38.

Kemenangan Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI ke-4


tidak hanya kemenangan untuk dirinya sendiri, melainkan kemenangan
untuk ‘kaum bersarung’ dan warga Negara secara keseluruhan.
Berbagi bentuk tasyakur atas kemenangan kader Nahdlatul Ulama itu
hampir ditiap kantong-kantong Nahdlatul Ulama seperti di Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat serta daerah kantong lainnya. Sisi
lain, kemenangan ini juga berhasil mengangkat citra Nahdlatul Ulama
dalam konstelasi perpolitikan nasional, dimana selama pemerintahan
Orde Baru Nahdlatul Ulama selalu mendapatkan marginalisasi dari
penguasa, saat ini Nahdlatul Ulama telah berhasil menunjukkan
taringnya sebagai organisasi yang benar-benar memiliki kemampuan
diberbagai sector kehidupan.

Di dalam tubuh Nahdlatul Ulama sendiri, kemenangan


Abdurrahman Wahid justru memecah Nahdlatul Ulama kedalam
beberapa faksi yang saling bertentangan. Ketua Lakpesdam saat itu,
Ulil Abshar Abdalla mengkategorikan faksi dalam tubuh Nahdlatul
Ulama menjadi 3 faksi utama. Faksi pertama adalah faksi politik yang
diwakili oleh para politisi Nahdlatul Ulama, yakni faksi elite Nahdlatul
Ulama yang bersentuhan langsung dengan politik yang bergelut di
PKB. Kedua, faksi Kyai, yakni faksi yang tidak langsung bersentuhan
dengan dunia politik tetapi tidak mengharamkan berpolitik, tujuan
mereka yang penting Nahdlatul Ulama tetap berada pada jalurnya
sebagai organisasi sosial keagamaan tanpa tersentuh dengan unsur
politik. Ketiga, faksi muda Nahdlatul Ulama, faksi ini adalah faksi
yang paling concern dalam pemikiran dan kajian. Kebanyakan dari
faksi ketiga ini adalah para aktivis muda Nahdlatul Ulama yang duduk

38 Bahrul Ulum, op.cit hal. 166


diberbagai organisasi yang memiliki hubungan baik langsung atau
tidak langsung dengan Nahdlatul Ulama. Mereka praktis menjauhi
dunia politik dan berkonsentrasi pada pengembangan pemikiran KH.
Abdurrahman Wahid, terutama dalam hal pemikiran sosial dan
agama.39

Di faksi pertama sendiri, faksi para elite Nahdlatul Ulama


yang berada di jalur politik, konflik terus terjadi, terutama para elite
yang merasa tidak puas dengan keberadaan PKB. Muncul partai yang
‘berlabel’ Nahdlatul Ulama seperti PKU, Partai SUNI dan PNU.
Konflik sejarahpun tetap terulang, dimana konflik dengan PPP masih
tersisa, para politisi PPP yang dari Nahdlatul Ulama tetap masih
terkesan vis a vis dengan Abdurrahman Wahid.

Pada muktamar Nahdlatul Ulama ke-XXX di Lirboyo,


Kediri, Jawa Timur, November 1999, Abdurrahman Wahid secara
resmi dan sesuai prosedur yang berlaku dalam tata administratif
Nahdlatul Ulama telah selesai masa jabatannya dari Ketua Umum
PBNU. Abdurrahman Wahid yang telah menduduki kursi kepresidenan
kemudian menyerahkan kepada muktamirin untuk memberikan
masukan, usulan atau kritikan terhadap pemerintahan yang
dipimpinnya saat ini.

Hasil dari muktamar yang cukup panas ini, melahirkan


kepemimpinan baru dalam tubuh Nahdlatul Ulama, yakni di tangan
KH. Hasyim Muzadi dan Rais Am dipegang oleh KH. Sahal Mahfudz.
Duet kepemimpinan ini pada awalnya sangat harmonis, meskipun pada
nantinya keduanya banyak terlibat konflik langsung terkait dengan
pandangan politik.

Abdurrahman Wahid selama menjadi presiden seringkali


bersebrangan dengan ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi. Terutama

39 Bahrul Ulum, op.cit, hal. 182-183


tentang cara pandang Abdurrahman Wahid yang seringkali ‘nyeleneh’.
KH. Hasyim Muzadi memandang apa yang dilakukan oleh
Abdurrahman Wahid sebagai tindakan yang tidak mencerminkan kader
Nahdlatul Ulama yang baik, karena sering kali mengeluarkan
statement yang kontroversial. Bahkan, melalui Forum Kyai Langitan,
KH. Hasyim Muzadi memberikan kritikan tajam untuk Abdurrahman
Wahid tentang tindakan kontroversialnya itu.

Tidak hanya dari tubuh Nahdlatul Ulama yang mengalami


kegelisahan mengenai tindakan Abdurrahman Wahid yang sangat
controversial, tetapi juga di jajaran legeslatif. Mayoritas anggota DPR
telah menandatangani penggunaan hak angket untuk dapat
melengserkan Abdurrahman Wahid dari kursi kepresidenan. Kasus
yang digulirkan adalah mengenai buloggate dan bruneigate. Pada
Sidang Tahunan MPR Agustus 2000, anggota DPR yang telah
bersepakat menggunakan hak angketnya akan memperjuangkan
pencabutan mandat yang diberikan MPR kepada presiden dan
menyerahkan jabatan presiden untuk sementara waktu kepada wakil
presiden sampai pemilu berlangsung.

Upaya yang dilakukan oleh DPR ternyata membuat gerah


warga Nahdlatul Ulama diberbagai tingkatan, bahkan KH. Hasyim
Muzadi yang sebelumnya telah banyak mengkritik sepak terjang
Abdurrahman Wahid kini memposisikan diri sebagai pembela. Ia
banyak memberikan pembelaan terhadap Abdurrahman Wahid dalam
kapasistasnya sebagai kader Nahdlatul Ulama melalui media massa.
Sayangnya, pembelaan yang dilakukan oleh KH. Hasyim Muzadi tidak
mendapat respon positif dari Abdurrahman Wahid, namun justru
sebaliknya. Abdurrahman Wahid tidak terlihat ada perbaikan dalam
kinerjanya, tetapi malah tambah merosot.

Melihat posisi politik yang sedemikian parahnya itu, Amien


Rais, promotor utama yang mengusung Abdurrahman Wahid sebagai
presiden kemudian mengeluarkan statemen yang semakin memanaskan
situasi politik, “Biar saya dihujat sebagai orang yang bertanggung
Jawab mempresidenkan Abdurrahman Wahid. Saya hanya ingin
menebus dosa atas pilihan yang keliru tempo hari itu. Karena itu
Abdurrahman Wahid tidak perlu bertahan lebih lama, demi kutuhan
bangsa”40.

Praktis pernyataan yang sangat controversial itu disambut


dengan kemarahan yang luar biasa dari warga Nahdlatul Ulama. Tidak
hanya menyalahkan Amien Rais saja, melainkan institusi
Muhammadiyah dan PAN. Pendukung Abdurrahman Wahid dari Jawa
Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat telah bersiap untuk membela
Abdurrahman Wahid. KH. Cholil Bisri, mengatakan, “Kalau
Abdurrahman Wahid dipaksa turun, santri pendukungnya akan
bertindak, dan bila massa pesantren itu bertindak, gesekan antara
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah tak terhindarkan. Karena
itulah, saya berusaha menepis upaya massa mengidentifikasi Amien
Rais dengan Muhammadiyah”41

Konflik ini memaksa KH. Hasyim Muzadi yang juga ketua


PBNU turun tangan. KH. Hasyim Muzadi setelah meminta restu dari
Kyai Langitan42 mengadakan safari keliling guna menyelamatkan
kepemimpinan Abdurrahman Wahid dari upaya impactment yang
dilakukan oleh Amien Rais dan kelompoknya. Safari pertama, ia
mengunjungi Abdurrahman Wahid untuk menyampaikan pesan-pesan
dari para kyai di Jawa Timur, selanjutnya ia mendatangi Megawati
Soekarno Putri, kemudian Syafi’i Ma’arif, ketua Pimpinan Pusat

40 http://www.gatra.com/2000-10-26/versi_cetak.php?id=641, Gus Dur di


desak Mundur, Edisi 4 November 2000, hal 25
41 Ibid, hal. 24
42 Forum ulama-ulama sepuh NU yang merupakan forum tertinggi secara
cultural di dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Di dalamnya terdapat kyai-kyai
khash yang dijadikan patokan petuah.
Muhammadiyah untuk meminta dukungan agar Abdurrahman Wahid
tetap diberi kesempatan untuk memimpin bangsa ini. Selain safari,
KH. Hasyim Muzadi juga memberikan statement:

”Jika Abdurrahman Wahid dimundurkan, karena didasarkan


pada desakan-desakan, baik perorangan maupun kelompok, akan
semakin memicu polarisasi masyrakat. Tapi apakah Abdurrahman
Wahid saja yang bisa di desak mundur? Apakah Amien Rais atau
Akbar Tandjung tidak bisa didesak mundur juga? Kalau sekarang
timbul gelombang meminta Abdurrahman Wahid mundur, lalu
bagaimana jika nanti ada desakan agar Amien Rais dan Akbar
Tandjung mundur. Kalau negara sudah seperti ini, maka akan kacau.
Karena itu, berilah kesempatan kepada Abdurrahman Wahid satu
periode ini. Kalau dia keliru, mari sama-sama meluruskan, dikritik
atau diingatkan. Sebab dia memimpin Negara yang dimiliki oleh
orang banyak. Jadi kritikan terhdap Abdurrahman Wahid jangan
dipasung, tapi jangan pula diturunkan”43.

Gelombang meminta Abdurrahman Wahid turun telah sampai


puncaknya pada tanggal 23 Juli 2001. Saat itu, Sidang Istimewa
dilangsungkan dengan agenda pencabutan mandat MPR kepada
Abdurrahman Wahid sebagai kepala negara. Dalam sidang itu pula,
jabatan presiden setelah dicabutnya mandat diserahkan kepada wakil
presiden Megawati Soekarno Putri untuk menjalankan roda
pemerintahan sampai pemilu diselenggarakan.

Putusan sidang istimewa MPR tersebut berujung pada konflik


yang luar biasa, barisan pendukung Abdurrahman Wahid turun ke
Ibukota dari seluruh penjuru tanah air, mereka memberi nama barisan
ini dengan Pasukan Berani Mati. Pasukan besar yang dipimpin oleh
KH. Nuril Arifin (Gus Nuril), pengasuh pondok pesantren Soko
Tunggal, Semarang, Jawa Tengah ini telah berikrar dengan seluruh
43 Bahrul Ulum, op.cit, hal. 200
pasukkannya bahwa mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi
pemimpin mereka. Dari Kabupaten Wonosobo sendiri, jumlah pasukan
berani mati yang dikirim ke Jakarta sejumlah 99 orang dipimpin oleh
Kyai Achmad Fadlun Zuhri (Gus Fadlun), mereka berangkat atas restu
dan ‘jaminan’ dari Mbah Natsir, Stieng, Kejajar.

Menurut penuturan Achmad Fadlun Zuhri, kekuatan Pasukan


Berani Mati saat itu hampir mencapai 500 ribu orang. Angka ini
diperoleh dari jumlah bus yang disewa untuk perjalanan ke Jakarta
sejumlah 150 bus besar, kebanyakan mereka dari Jawa Timur. Di
Jakarta mereka menempati Asrama Haji Pondok Gede, Kantor Ansor
dan beberapa tempat lainnya. Keberadaan Pasukan Berani Mati
membuat aparat mengalami kerepotan. Disamping jumlah mereka
yang sangat besar, kedatangan mereka juga disertai tekad untuk
berjuang meskipun dengan taruhan nyawa. Kemungkinan, menurut,
Fadlun, seandainya terjadi bentrok dengan aparat, Pasukan Berani Mati
kemungkinan menang lebih, soalnya selain di dukung dengan tekad
mereka yang bulat, juga mereka dibekali dengan kekuatan yang tidak
kasat mata. “Menang mungkin, tapi kita kan satu komando, jadi tidak
mungkin bertindak ceroboh, kemungkinan bisa menang, PBM dibekali
dengan kekuatan yang tidak kelihatan oleh mata” tuturnya.44

Seluruh pasukan berani mati telah berkumpul di Bundaran HI


dengan kawalan ketat aparat keamanan. Rencana mereka akan
mengadakan longmarch ke Senayan. Namun ditengah perjalanan,
mereka dihentikan oleh para Kyai Sepuh termasuk Mbah Idris Lirboyo
untuk menghentikan aksi mereka.

KH. Nuril Arifin, panglima pasukan berani mati menuturkan,


sehari sebelum dilaksanakan istighatsah akbar pasukan yang

44 Hasil Wawancara melalui telephone dengan Kyai Achmad Fadlun Zuchri,


Komandan pasukan berani mati Wonosobo, pada tanggal 26 September 2009,
pukul 16.53.
dipimpinnya dibubarkan atas insturksi dari PBNU ''Kami ini patuh
pada kiai dan ulama. Begitu Kiai Hasyim Muzadi (Ketua Umum
PBNU) perintah agar PBM bubar, kami tidak usah bertanya apa
alasannya, ya kami ikuti perintah itu,'' katanya45.

Pertimbangan untuk membubarkan Pasukan Berani Mati


justru berasal dari kalangan kyai sepuh, fungsionari PBNU dan
Abdurrahman Wahid sendiri. Dikhawatirkan apabila Pasukan Berani
Mati dibiarkan menjalankan aksinya, yang terjadi adalah kondisi
negara semakin kacau. Aparat dikhawatirkan tidak akan mampu
membendung amukan massa dari Pasukan Berani Mati. Untuk
menjaga kemaslahatan bersama, para Kyai sepuh bersama dengan
fungsionari PBNU akhirnya bersepakat untuk menginstruksikan agar
PBM dibubarkan. PBM sendiri adalah organisasi taktis yang dibentuk
karena solidaritas dan dukungan pada Abdurrahman Wahid dan bukan
keputusan resmi PBNU, namun seluruh PBM adalah warga Nahdlatul
Ulama, sehingga yang dapat menghentikan aksi mereka hanyalah kyai
sepuh dan atau PBNU.

Pasca pelengseran Abdurrahman Wahid sebagai presiden dan


digantikan oleh Megawati Soekarno Putri yang bersanding dengan
Hamzah Haz (dari PPP), kondisi Nahdlatul Ulama semakin hari kian
tambah parah. Konflik di internal semakin banyak. Konflik yang terus
menerus akhirnya berujung pada menjelang pemilu tahun 2004 dimana
Abdurrahman Wahid memecat Matori Abdul Djalil. Pemecatan
dilakukan karena Matori dianggap penghianat. Dengan pemecatan itu,
Matori tidak tinggal diam, dia melakukan perlawanan secara politis
dengan Abdurrahman Wahid dan perlawanan melalui jalur hukum
meskipun akhirnya kalah.

Kekalahan Matori Abdul Djalil, baik secara politik ataupun

45 http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/04/28/0037.html, Di
download pada 26 September 2009, pukul 17.15
secara hukum berujung pada pembentukan partai baru yang dia gagas
untuk menandingi PKB di pemilu 2004, partai yang ia dirikan bernama
Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Namun, partai tersebut ternyata
gagal menjadi peserta pemilu 2004.

Konflik dengan Matori Abdul Djalil terbukti cukup


berpengaruh terhadap suara PKB di pemilu 2004. Suara PKB yang
sebelumnya di Pemilu 1999 mampu meraup angka 13.336.982 suara
pemilih dengan posisi di tiga besar, pada pemilu 2004 PKB kehilangan
suara hingga 1.347.418 suara menjadi 11.989.546 suara. Atau sekitar
2% suara PKB hilang karena konflik yang terjadi.

Di luar PKB, Kondisi Nahdlatul Ulama tidak kalah


memprihatinkan. Tiga kader Nahdlatul Ulama sekaligus maju bersama
menjadi calon wakil presiden, ketiga calon adalah KH. Salahudin
Wahid (adik kandung Abdurrahman Wahid) yang berpasangan dengan
Wiranto, KH. Hasyim Muzadi (Ketua PBNU) yang berpasangan
dengan Megawati Soekarno Putri dan HM. Jusuf Kalla yang
berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara yang
mencalonkan diri menjadi presiden adalah Hamzah Haz yang
berpasangan dengan Agum Gumelar. Namun diantara keempat kader
Nahdlatul Ulama yang bertarung dalam pilpres 2004, yang paling
disorot adalah pencalonan yang dilakukan oleh KH. Hasyim Muzadi,
pasalnya, selain dia sedang menjabat sebagai ketua umum PBNU, dia
juga tidak memiliki partai politik yang mengusung, sehingga praktis,
bacaan politik public langsung mengarahkan bahwa tujuan dari KH.
Hasyim Muzadi maju adalah, Megawati ingin menggunakan suara
massa Nahdlatul Ulama.

Megawati-Hasyim Muzadi berhasil meraup 31.569.104 suara


dan dapat bersaing dengan SBY-Kalla dengan suara sejumlah
39.838.184 pada babak kedua Pilpres 2004. Pada putaran kedua
pilpres, suatu kebahagian bagi kalangan tertentu di dalam Nahdlatul
Ulama, yang berhasil mengangkat ketua PBNU masuk dalam putaran
kedua pilpres, yang artinya, selangkah lagi menuju kursi RI-2. Tetapi,
hasil pada pilpres putaran kedua tidak seperti yang sebagaimana
diharapkan, Suara Mega-Hasyim tidak mampu menungguli suara
SBY-Kalla. Sehingga praktis, pukulan telak bagi Nahdlatul Ulama
yang mengalami kekalahan beruntun.

Pasca konflik berkepanjangan antara Matori Abdul Djalil


sebagai ketua PKB pertama, disusul kemudian konflik PKB jilid II,
yang juga dengan ketua umum PKB kedua, Alwi Shihab. Konflik ini
sama posisinya dengan konflik kedua, hanya saja dalam konflik ini
agak lebih luas, Abdurrahman Wahid dibantu oleh Muhaimmin
Iskandar dan Alwi Shihab dengan Saefullah Yusuf. Keduanya sempat
mengadakan muktamar luar biasa dan menggalang kekuatan dari
kalangan kyai. Namun akhirnya, keputusan pengadilan memenangkan
kubu Abdurrahman Wahid-Muhaimmin Iskandar dan memecat Alwi
Shihab dan Saefullah Yusuf dari Ketua Umum dan Sekjen.

Konflik ini ternyata tidak berhenti sampai disitu saja,


kekalahan kubu Alwi Shihab oleh para pendukungnya dianggap
sebagai kesalahan besar Abdurrahman Wahid. Perpecahan terjadi tidak
hanya di kalangan elite poltik saja, melainkan merayap hingga para
ulama langitan terpanggil untuk menyelesaikan konflik yang
berkepanjangan ini. PBNU sendiri juga telah berupaya untuk menjadi
mediator, namun hasilnya gagal. Kubu Alwi Shihab, KH. Chaerul
Anam dan beberapa politisi lain akhirnya menggandeng kyai Langitan
untuk mendirikan partai baru untuk menandingi kekuatan PKB, dari
hasil pertemuan antar ulama dan politisi, lahirlah PKNU (Partai
Kebangkitan Nasional Ulama).

Para ulama melahirkan PKNU setelah melalui istikhoroh


(memohon petunjuk Allah SWT) dan ijtihad politik dalam bentuk
serangkaian pertemuan. Sebelum kelahiran PKNU disepakati di
Langitan, didahului dengan pertemuan di Pondok Pesantren Al-Falah,
Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, pada tanggal 10 Nopember 2006.
Ihwal pendirian partai politik baru sejatinya sudah disepakati oleh
semua kiai/ulama dalam rapat hari Rabu tanggal 6 September 2006 di
Graha Astra Nawa, Jl Gayungsari Timur, Surabaya.

Rapat ini memberikan mandat kepada KH. Abdullah Faqih


(Langitan, Widang, Tuban) dan KH. Abdurrochman Chudlori
(Tegalrejo, Magelang). Tugasnya mempersiapkan pendirian partai baru
sekaligus melakukan istikhoroh guna memperoleh isyaroh atau
petunjuk-petunjuk dari Allah SWT. KH. Abdullah Faqih dan KH.
Abdurrochman Chudlori kemudian mengembangkan menjadi Tim 9
pada pertemuan di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, hari
Kamis tanggal 14 September 2006. Tim 9 berkembang menjadi Tim
17 dalam rapat hari Jum’at tanggal 21 September 2006 di Pondok
Pesantren Lirboyo, Kediri, dan dilengkapi dengan Tim 13 Asistensi.
Kemudian dilanjutkan dengan Pertemuan kiai-kiai kharismatik yang
dibagi dalam dua forum. Forum pertama digelar terbuka di Aula
Pondok Langitan. Forum ini untuk menjaring keinginan kiai dan tokoh
NU yang tak tergabung dalam Tim 17. Di antara kiai sepuh yang hadir,
KH Abdurrahman Chudlori (Magelang), KH Ma'ruf Amin, KH Mas
Subadar (Pasuruan), KH Muhaiminan Gunardo (Temanggung), KH
Nurul Huda Jazuli (Kediri), KH Idris Marzuki (PP Lirboyo Kediri),
KH Sholeh Kosim (Sidoarjo) dan kiai sepuh lainnya yang tergabung
dalam Tim 17, tim yang merumuskan dan menggodok partai baru.
Forum kedua digelar tertutup di ruang belakang Pondok Langitan.
Pertemuan itu hanya diikuti Tim 17.

Agendanya, kesepakatan pembentukan partai baru, nama dan


asas partai, AD/ART partai, lagu atau mars partai, struktur
kepengurusan di tingkat nasional dan daerah, serta lainnya. "Para
ulama sepakat menggunakan nama PKNU.

Keputusan ini telah melalui berbagai pertimbangan. Dalam


rumusan parpol yang sudah didaftarkan ke Departemen Hukum dan
HAM itu, Susunan kepengurusan PKNU terdiri dari dewan mustasyar,
dewan syuro dan dewan tanfidz. Fungsi dari dewan mustasyar salah
satunya adalah memiliki kewenangan di dalam menyelesaikan
berbagai persoalan dan mengantisipasi apabila ada persoalan di
internal partai. Sementara logo PKNU warna dominan hijau, terdapat
bintang 9 beserta bola dunianya. Serta ada warna merah dan putih
sebagai lambang bendera Indonesia.

Rencana pendirian partai baru ini, didasarkan pada


pertimbangan panggilan hati nurani para kiai dan besarnya aspirasi
rakyat bawah, yang menghendaki perlunya wadah politik warga NU.
PKNU lahir pada hari Selasa tanggal 21 Nopember 2006 di Pondok
Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur.

Kelahiran PKNU disepakati melalui akad dan mufakat


(ittifaq) sejumlah ulama yang oleh masyarakat dikenal mempunyai
integritas keilmuan dan bermoral dalam pertemuan Tim Tujuh-Belas.
Tim Tujuh-Belas yang melahirkan PKNU merupakan representasi para
ulama dari Nahdlatul Ulama (NU). Mereka antara lain KH. Abdullah
Faqih (Langitan, Tuban, Jawa Timur), KH. Ma’ruf Amin (Tenara,
Banten), KH. Abdurrochman Chudlori (Tegalrejo, Magelang, Jawa
Tengah), KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin (Panji, Situbondo, Jawa
Timur), KH. M. Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri, Jawa Timur), KH.
Ahmad Warson Munawwir (Krapyak, DI Jogjakarta), KH.
Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung, Jawa Tengah), KH.
Abdullah Schal (Bangkalan, Jawa Timur), KH. Sholeh Qosim
(Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur), KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso,
Kediri, Jawa Timur), KH. Chasbullah Badawi (Cilacap, Jawa Tengah),
KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA (Mampang Prapatan, DKI
Jakarta), KH. Mas Muhammad Subadar (Besuk, Pasuruan, Jawa
Timur), KH. A. Humaidi Dakhlan, Lc (Banjarmasin, Kalimantan
Selatan), KH. M. Thahir Syarkawi (Pinrang, Sulawesi Selatan), Habib
Hamid bin Hud Al-Atthos (Cililitan, DKI Jakarta), dan KH. Aniq
Muhammadun (Pati, Jawa Tengah).

Asas merupakan ciri khusus yang dapat membentuk karakter


politik bagi sebuah partai. Bagi PKNU, asas Islam Ahlus Sunnah Wal
Jamaah bermakna mendasar untuk membentuk karakter dan sikap
politik yang moderat (tawassuthiyyah), toleran (tasammuhiyyah),
reformatif (islahiyyah), dinamis (tathowwuriyyah), dan bermetode
(manhajiyyah). Adapun prinsip perjuangan partai adalah lebih
operasional, bagaimana mengaktualisasikannya dalam kehidupan
nyata. Prinsip perjuangan PKNU adalah pengabdian kepada Allah
SWT, menegakkan kebenaran dan keadlan, mewujudkan kebersamaan
dan persaudaraan sejati sesuai dengan nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah
Wal Jamaah di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Semoga "Dengan
adanya partai baru ini diharapkan nantinya bisa menjadi wadah
kepentingan orang NU dan mereka yang nasionalis muslim berfaham
ahlu sunnah wal jamaah.46

Setelah konflik dengan kubu Alwi Shihab berakhir dengan


pendirian partai baru, konflik selanjutnya terjadi justru dari internal
partai, dimulai dari pemecatan ketua DPW PKB Jawa Tengah, Abdul
Kadir Karding, S.Pi dan digantikan oleh KH. Yusuf Chudhori
(Tegalrejo, Magelang) merembet pada konflik ditingkat pusat.
Abdurrahman Wahid memecat Sekjen DPP PKB, Lukman Edi yang
juga menjabat sebagai menteri pembangunan daerah tertinggal.
46 http://dpwpknuJawatengah.blogspot.com/2008/07/sumber.html, di
download pada 26 September 2009, pukul 20.14 WIB.
Disusul kemudian, Abdurrahman Wahid memasang Yenni Zanuba
Wahid (putri Abdurrahman Wahid) untuk menggantikan Lukman Edi
di posisi Sekjen berpasangan dengan Muhaimmin Iskandar.

Kekecewaan kubu Lukman Edi merambat pada konflik


tingkat lanjut, kali ini giliran Muhaimmin Iskandar yang dipecat oleh
Abdurrahman Wahid dari jabatan ketua umum. Muhaimmin yang
sebelumnya telah mengenal sepak terjang Abdurrahman Wahid,
terutama belajar dari konflik dengan kubu Alwi Shihab pada periode
sebelumnya setidaknya telah mengetahui celah kelemahan
Abdurrahman Wahid.

Dalam posisi ini, pertarungan antara kubu Abdurrahman


Wahid dengan Muhaimmin Iskandar semakin memanas, pertarungan
ini membuat posisi PBNU merasa serba salah. PBNU telah berkali-kali
mencoba memfasilitasi penyelesaian konflik yang terjadi, namun
hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Konflik ini semakin luas, banyak DPW dan DPC yang


berpengurus ganda, versi Muhaimin Iskandar dan versi Abdurrahman
Wahid. Demikian halnya dengan daftar calon anggota legeslatif yang
diusulkan untuk mengikuti pemilihan umum 2009. Calon ganda tidak
terelakkan.

Berkat kelihaian Muhaimin yang telah banyak belajar dari


sepak terjang Abdurrahman Wahid, membuat konflik ini dimenangkan
oleh Muhaimin Iskandar, praktis kubu Abdurrahman Wahid diberbagai
tingkatan dibredel secara hukum. Caleg-caleg partai yang telah
diusulkan dari kubu Abdurrahman Wahid banyak yang mengundurkan
diri, untuk yang tidak mengundurkan diri, oleh kubu Muhaimin, caleg
yang sebelumnya pendukung Abdurrahman Wahid ditempatkan di
nomor urut yang kurang begitu menguntungkan. Alhasil dari konflik
yang berkepanjangan ini membuat PKB semakin hancur. Hasil pemilu
2009 menunjukkan PKB berada pada jurang yang sangat memilukan,
suaranya turun drastic hingga hampir mencapai 50% dari pemilu
sebelumnya.

Pada pemilu 2009 yang berlangsung pada 9 April 2009, PKB


berada di urutan ke-7 dibawah PPP dan PAN. Partai Demokrat berada
di urutan pertama dengan 21.703.137 suara (20,85%), di urutan kedua
Partai Golkar dengan 15.037.757 suara (14,45%), posisi ketiga diambil
oleh PDI P dengan 14.600.091 suara (14,03%), selanjutnya PKS
dengan 8.206.955 suara (7,88%), PAN dengan 6.254.580 suara
(6,01%), PPP 5.533.214 suara (5,32%), PKB 5.146.122 suara
(4,94%), Gerindra 4.646.406 suara (4,46%), Hanura 3.922.870 suara
(3,77 %). Total Suara Sah Nasional sejumlah 104.099.785 suara.
Berikut tabelnya47;

47 http://mediacenter.kpu.go.id/, di download pada 26 September 2009 pada


pukul 21.02
Kekalahan Nahdlatul Ulama tidak hanya terhenti pada
pemilihan legeslatif 2009 saja, tetapi berlanjut pada tahapan
selanjutnya di pemilihan presiden. Secara terbuka, KH. Hasyim
Muzadi menyatakan dukungannya kepada kader Nahdlatul Ulama
yang turut bertanding dalam pilpres, yakni H.M. Jusuf Kalla yang
berpasangan dengan Wiranto. Kandidat lain adalah Megawati
Soekarno Putri yang berpasangan dengan Prabowo Subiyanto serta
Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono.

Hasil pilpres 2009 kembali membuat ‘malu’ Nahdlatul


Ulama, pasalnya calon yang dijagokan oleh ‘Nahdlatul Ulama’ (KH.
Hasyim Muzadi) mengalami kekalahan, sementara calon yang
didukung oleh PKB, PPP, dan kelompok politik Nahdlatul Ulama
lainnya berhasil memenangi pilpres. Komisi Pemilihan Umum resmi
menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai pemenang
Pemilu Presiden 8 Juli 2009. Pasangan ini meraih 73.874.562 suara
(60,80 persen), jauh melampaui perolehan Megawati Soekarnoputri-
Prabowo Subianto (32.548.105 suara atau 26,79 persen) dan Jusuf
Kalla-Wiranto (15.081.814 suara atau 12,41 persen)48.

48 http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/sosial-politik/5748-menuju-
pilpres-babak-kedua.html, di download pada 26 September 2009 pukul 21.30