Anda di halaman 1dari 53

RESEARCH PROPOSAL

I. Judul : KRITIK NALAR DAKWAH JAM’IYYAH


NAHDLATUL ULAMA

Telaah Sosio Politik NU dengan Pendekatan Arkeologi dan


Genealogi Postmodernisme Michel Foucault

II. Latar Belakang

Begitu Perang Dunia I berakhir pada 1918, Kesultanan


Turki Usmani di Turki guncang. Sementara kekuasaan sultan,
yang meneruskan tradisi kekhalifahan Islam di seluruh dunia,
mulai dipersoalkan oleh kaum nasionalis Turki yang dipimpin
oleh Mustafa Kemal Pasha. Akhirnya, pada 1922, Majelis
Rakyat Turki menghapus kekuasaan Sultan Abdul Majid dan
menjadikan Turki sebagai republik. Dan dua tahun kemudian
Majelis menghapuskan lembaga khilafat.

Perkembangan politik di Turki tersebut ternyata cukup


membuat bingung dunia Islam. Ada di antara para pemimpin
Islam yang kemudian mulai berpikir untuk membentuk khilafat
baru. Termasuk kaum muslimin Indonesia, yang merasa ikut
bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saat
itu, pada 1924, Mesir sedang mempersiapkan sebuah muktamar
tentang masalah khilafat tersebut.
Untuk mengantisipasi diselenggarakannya kongres tersebut,
pada 4 Oktober 1924 sejumlah ormas Islam membentuk Komite
Khilafat di Surabaya. Komite itu diketuai oleh Wondoamiseno
(Syarikat Islam), dengan K.H.A. Wahab Chasbullah (kalangan
pesantren) sebagai wakil. Dalam Kongres Al-Islam III di
Surabaya, Desember 1924, antara lain diputuskan untuk
mengirim delegasi ke Kongres Khilafat di Kairo, yang
beranggotakan Suryopranoto (Syarikat Islam), A.R. Fachruddin
(Muhammadiyah), dan K.H. Wahab Chasbullah (pesantren).

Ternyata Kongres Khilafat di Kairo ditunda, karena


perhatian umat Islam seluruh dunia tertuju pada perkembangan
di Hijaz (kini Arab Saudi) ketika Ibnu Saud, yang kemudian
menjadi raja, mengambil alih kekuasaan Syarif Husein.
Berkolaborasi dengan para ulama Wahabi, pemerintahan baru di
Hijaz mulai melakukan pembersihan terhadap praktik beragama
yang dianggap tak sesuai dengan paham Wahabi, paham yang
menganggap praktik-praktik kaum tradisionalis yang tidak
tertera dalam Al-Quran dan hadis adalah bid’ah.

Pergeseran konstelasi geopolitik pada dekade kedua abad


20 membawa arus baru dalam dunia sosiopolitik Islam. Tidak
hanya di Indonesia yang saat itu masih dibawah kungkungan
cengkraman imperialisme dan kolonialisme Belanda, tetapi di
dunia secara umum. Dengan kemenangan kaum Wahabi yang
terjadi di Arab Saudi dan kenaikan Ibn Saud pada puncak
tertinggi pemerintahan Arab Saudi kemudian memfatwakan
pemberlakuan paham Wahabi di kawasan suci Makkah dan
Madinah. Selain itu, Ibn Saud juga berencana menggusur
makam Rasulullah dengan berbagai pertimbangan, termasuk
kekhawatiran adanya syirik dalam setiap ziarah yang dilakukan
umat muslim di dunia. Upaya globalisasi Wahabi, yakni ketika
Hejaz telah dikuasi Wahabi, dunia Islam banyak mengimport
gagasan-gagasan Wahabi dalam bentuk pemurnian Islam1.

Untuk meluluskan keinginannya itu, kemudian Ibnu Saud


berencana mengadakan pertemuan umat muslim se-dunia.
Kongres Umat Islam akan diadakan di Arab Saudi sebagai
langkah awal utuk dapat menjelaskan tentang maksud keinginan
menegakkan Islam yang kaffah.

Perubahan yang dilakukan secara radikal sebagai buah


dari kemenangan gemilang dari pemberontakan yang dilakukan
oleh kaum wahabi di daerah Hejaz kemudian mengubah nama
Hejaz menjadi Arab Saudi. Kontan saja, tindakan frontal ini
membuat warga Indonesia yang tinggal di Hejaz merasa gerah,
masalahnya orang Indonesia yang tinggal di Hejaz adalah
penganut Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menganut salah satu
dari empat madzhab.

Kegerahan ini tidak berhenti sampai disitu saja. Kegerahan


juga dialami oleh umat Islam di Indonesia, karena bagi mereka,
persoalan di Hejaz tidak hanya menyangkut warga Hejaz saja,
melainkan persoalan umat Islam di seluruh dunia karena Hejaz
merupakan sentral sekaligus sandaran spiritual umat Islam.
Selain sebagai tempat dimana Islam dilahirkan hingga menuai
kejayaan pada masanya, juga karena di Hejaz terdapat kota suci
Makkah dan Madinah yang setiap tahun selalu diadakan ritual
haji untuk memenuhi rukun Islam.

Tersebutlah ketika kabar tersebut sampai di Indonesia,


kekhawatiran ulama Indonesia terhadap cengkraman kaum
Wahabi di Hejaz semaki menjadi. Apalagi ketika melihat

1 Nur Khaliq Ridwan, NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan Menjelang satu
Abad, LKiS, Yogyakarta, 2008, hal 27
rencana-rencana yang digagas oleh Raja Ibn Saud sebagai
penguasa wilayah Hejaz. Ulama-ulama besar di Jawa Timur
kemudian dengan kekhawatirannya itu, atas gagasan besar
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab
Hasbullah mengadakan pertemuan untuk membahas persoalan
yang sangat mencekam bagi kelangsungan umat Islam di dunia
itu. Bertempat di Langgar H. Moesa, Kertopaten, Surabaya
akhirnya pertemuan itu dilangsungkan dengan keputusan akan
membentuk semacam komite yang akan dikirim ke Hejaz untuk
melakukan diplomasi dengan raja Ibn Saud. Komite yang
dimaksudkan disini kemudian diberi nama Comite Hejaz.

Namun setelah rencana di Langgar H. Moesa itu


disepakati, ditengah jalan terjadi perubahan rencana. Comite
Hejaz yang terdiri tidak hanya para ulama itu, tetapi juga tokoh
muda mengubah alur kerja agar lebih praktis dan efisien.
Semula rencana akan mengirimkan utusan ke Hejaz untuk
melakukan dialog dengan Raja Ibn Saud kemudian tidak dapat
dilakukan, keputusan selanjutnya, mereka hanya mengirimkan
telegram kepada Raja Ibn Saud.

Pada hari Kamis tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab


1345 H di Lawang Agung Ampel Surabaya, Comite Hejaz
mengadakan pertemuan untuk kesekian kalinya untuk
merealisasikan gagasan-gagasan pada pertemuan yang diadakan
di Langgar H. Moesa, Kertopaten. Pada pertemuan ini, selain
membahas tentang program kerja utama, bagaimana melakukan
diplomasi dan dialog dengan raja Ibnu Saud juga menghasilkan
keputusan bahwa pasca terbentuknya Comite Hejaz sebagai
organisasi taktis para ulama, maka dipandang perlu untuk
membentuk organisasi tetap untuk terus mengawal keberadaan
Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah disetiap tempat di belahan
nusantara. Keputusan final yang diambil adalah, mereka sepakat
mendirikan organisasi bernama Nahdlatoel Oelama (NO)
meskipun dalam era sebelumnya telah berdiri Sjarikat Islam
yang mewakili segmen sosial yang berbeda dengan organisasi
lokal (Surakarta) lainnya yang kemudian berubah menjadi
gerakan keagamaan, kemasyarakatan dan ekonomi2.

Harapan dari terbentuknya organisasi Nadhlatoel Oelama


ini adalah dapat menjadi benteng untuk mempertahankan ajaran
Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Islam yang menghargai dan
memeberikan posisi terhadap khazanah kearifan lokal (tradisi
Islam Jawa/Islam Indonesia)3, dengan menganut salah satu
madzhab dari empat madzhab yang ada, menjadi benteng Islam
Indonesia dan mempertahankan keberlangsungan proses
pengembangan Islam dengan sistem pesantren. Disamping itu,
organisasi ini juga diharapkan mampu menyelesaikan problem
sosial, ekonomi, politik dan budaya di tengah-tengah masyarakat
Indonesia yang saat itu masih dicengkram oleh penjajah
Belanda. Sebagai susunan pengurus HB (Hoof Bestuur/pegurus
Besar) untuk pertama kalinya adalah:

2 DA Rinkes, dalam H. 1083, 35 KITLV (Arsip ) sebagaimana dikutip oleh Kutowijoyo,


Raja, Priyayi dan Kawula, Ombak, Yogyakarta, 2006, hal. 111
3 Mark R. Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus kebatinan, LKiS,
Yogyakarta, 2006, hal 96
Ra'is Akbar : Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
Wakil Ra'is : KH. Said bin Shalih
Katib Awwal : KH. Abdul Wahab Hasbullah
Katib Tsani : Mas H. Alwi Abdul Aziz
A'wan : 1. KH. Abdul Halim (Leuwimunding)
2. KH. Ridlwan Surabaya (pencipta lambang NU)
3. KH. Bisri Sansuri, Denanyar, Jombang.
4. KH. Said.
5. KH. Abdullah Ubaid, Surabaya.
6. KH. Nahrawi Thahir, Malang.
7. KH. Amin, Surabaya.
8. KH. Kholil Masyhuri, Soditan, Lasem, Jateng
Musytasyar : 1. KH. Asnawi, Kudus
2. KH. Ridlwan, Semarang.
3. KH. Nawawi, Sidogiri, Pasuruan.
4. KH. Doro Muntoho, Bangkalan.
5. KH. Ahmad Ghonaim Al Misri.
6. KH. Hambali, Kudus.

Presiden : H. Hasan Gipo


Penulis : H. Sadik alias Sugeng Yudodiwiryo
Bendahara : H. Burhan
Komisaris : H. Saleh Syamil
H. Ihsan
H. Nawawi
H. Dahlan Abd. Qohar
Mas Mangun
Setelah Nahdlatoel Oelama didirikan, telah lengkap
dengan HB serta rancangan program kerja yang akan disusun,
maka secara otomatis keberadaan Comite Hejaz yang
sebelumnya telah eksis dibubarkan. Pertimbangannya adalah
agar kinerja keduanya tidak saling berbeturan dan tidak terjadi
pula tanggung jawab ganda bagi yang berada di kedua
organisasi ini. Dengan dibubarkannya Comite Hejaz, maka
seluruh tanggung jawab dan program kerja yang telah disepakati
untuk direalisasikan oleh Comite Hejaz juga dibebankan kepada
Nahdlatoel Oelama

Organisasi yang baru berdiri di tengah blantika organisasi


lain di era pergerakan ini ternyata tidak hanya terhenti pada
konsep saja. Nahdlatoel Oelama membuktikan bahwa dirinya
mampu menjadi tolok ukur organisasi di zamannya. Keberanian,
ketegasan dan kehebatan gerakannya telah mampu dibuktikan
dengan keberhasilannya. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal yang
dilakukan NO setelah disusun, program kerja mampu
terealisasikan, baik program kerja yang dilimpahkan dari
Comite Hejaz ataupun program kerja yang disusun sendiri.
Adapun keberhasilan tersebut dapat dibuktikan dengan agenda
sebagai berikut:

1. Pada bulan Februari 1926 M.


setelah berhasil
menyelenggarakan kongres Al
Islam di Bandung yang dihadiri
oleh tokoh-tokoh organisasi Islam
selain NU, seperti: PSII,
Muhammadiyah dan lain-lainnya.
Diantara keputusan kongres
tersebut adalah mengirimkan dua
orang utusan, yaitu: H.Umar Said
Tjokroaminoto dari PSII dan KH.
Mas Mansur dari
Muhammadiyah, ke Muktamar
Alam Islam yang diselenggarakan
oleh raja Ibnu Saud (raja Saudi
Arabia) di Makkah. Disamping
itu, Jam'iyyah NU juga
mengirimkan utusan yang khusus
membawa amanat NU, yaitu: KH.
Abdul Wahab Hasbullah dan KH.
Ahmad Ghonaim Al Misri.
Alhamdulillah kedua utusan ini
berhasil dengan baik.

2. Kedua beliau ini pulang dengan


membawa surat dari raja Sa'ud ke
Indonesia tertanggal 28 Dzul
Hijjah 1347 H./ 13 Juni 1928 M.,
nomor: 2082, yang isinya antara
lain menyatakan bahwa raja Ibnu
Sa'ud menjanjikan akan membuat
satu ketetapan yang menjamin
setiap ummat Islam untuk
menjalankan Agama Islam
menurut paham yang dianutnya.

3. Sesuai dengan yang diharapkan


oleh bangsa Indonesia, maka
sejak lahir, Jam'iyyah NU telah
berani memberikan reaksi secara
aktif terhadap rencana pemerintah
Penjajah Belanda mengenai:

4. Ordonansi Perkawinan atau


Undang-Undang Perkawinan,
yang isinya mengkombinasikan
hukum-hukum Islam dengan
hukum-hukum yang dibawa
Belanda dari Eropa.

5. Pelimpahan pembagian waris ke


Pengadilan Negeri (Nationale
Raad) dengan menggunakan
ketentuan hukum di luar Islam.

6. Persoalan pajak rodi, yaitu pajak


yang dikenakan kepada warga
negara Indonesia yang bermukim
di luar negeri.

7. Dan lain-lainnya.

Hal yang paling menarik dari apa yang disajikan NU


dalam program kerja yang dilakukannya adalah, meskipun NU
bukan partai politik, namun wilayah gerakan yang dilakukannya
berkutat mengenai politik sebagian besar diantaranya.

Pada tanggal 5 September 1929 Jam'iyyah NU


mengajukan Anggaran Dasar (Statuten) dan Anggaran Rumah
Tangga (Huishoudelijk Reglemen) yang telah disusun kepada
Pemerintah Hindia Belanda. Dan pada tanggal 6 Februari 1930
mendapat pengesahan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai
organisasi resmi dengan nama: "PERKOEMPOELAN
NAHDLATOEL OELAMA" untuk jangka waktu 29 tahun
terhitung sejak berdiri, yaitu: 31 Januari 1926.

Hoofbestuur (Pengurus Besar) Nahdlatul Ulama juga


berusaha membuat lambang NU dengan jalan meminta kepada
para Kyai untuk melakukan istikharah. Dan ternyata Almarhum
KH. Ridlwan Abdullah, Bubutan Surabaya berhasil. Dalam
mimpi, beliau melihat gambar lambang itu secara lengkap
seperti lambang yang sekarang; tanpa mengetahui makna
simbol-simbol yang terdapat dalam lambang tersebut satu-
persatu.

Setelah berdiri secara resmi, Nahdlatoel Oelama mendapat


sambutan dari seluruh masyarakat Indonesia yang sebagian
besar berhaluan salah satu dari madzhab empat. Sehingga dalam
waktu yang relatif singkat, 4 sampai 5 bulan, sudah terbentuk 35
cabang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang antara
lain:

1. Jam'iyyah Nahdlatul Ulama dipimpin oleh para ulama


yang menjadi guru dari para kyai yang tersebar di
seluruh Nusantara, khususnya Hadlratus Syaikh KH.
Hasyim Asy'ari.

2. Kesadaran ummat Islam Indonesia akan keperluan


organisasi Islam sebagai tempat menyalurkan aspirasi
dan sebagai kekuatan sosial yang tangguh dalam
menghadapi tantangan dari luar.

Sebagai organisasi sosial yang harus menangani semua


kepentingan masyarakat, Nahdlatul Ulama memandang sangat
perlu untuk membentuk kader-kader yang terdiri dari generasi
muda yang sanggup melaksanakan keputusan-keputusan yang
telah diambil oleh NU. NU sebagai organisasi yang berbasis
pesantren seringkali pula muncul anggapan bahwa dunia
pesantren pada umumnya, telah dianggap sebagai komunitas
dengan proses yang telah “selesai” dan tidak diyakini bisa
mengalami perubahan, apalagi menjadi motor perubahan4.
Untuk itu, pada tanggal 12 Februari 1938, atas prakarsa KH.
Abdul Wahid Hasyim selaku konsul Jawa Timur,
diselenggarakan konferensi Daerah Jawa Timur yang
menghasilkan keputusan untuk menyelenggarakan pendidikan
formal, yaitu mendirikan madrasah-madrasah, disamping sistem
pendidikan pondok pesantren. Madrasah-madrasah yang
didirikan itu terdiri dari dua macam, yaitu:

1. Madrasah Umum, yang terdiri dari:

a. Madrasah Awwaliyah, dengan


masa belajar 2 tahun.

b. Madrasah Ibtidaiyyah, dengan


masa belajar 3 tahun.

c. Madrasah Tsanawiyyah, dengan


masa belajar 3 tahun.

d. Madrasah Mu'allimin Wustha,


dengan masa belajar 2 tahun.

e. Madrasah Mu'allimin 'Ulya,


dengan masa belajar 3 tahun.

4 Hairus Salim HS dkk, Kultur Hibrida, Anak Muda NU di Jalur Kultural, LKiS,
Yogyakarta, 1999, hal.2
2. Madrasah Kejuruan
(Ikhtishashiyyah), yang terdiri dari:

a. Madrasah Qudlat (Hukum).

b. Madrasah Tijarah (Dagang).

c. Madrasah Nijarah
(Pertukangan).

d. Madrasah Zira'ah (Pertanian).

e. Madrasah Fuqara' (untuk orang-


orang fakir).

f. Madrasah Khusus.

Pada masa penjajahan Belanda, ummat Islam Indonesia


selalu mendapat tekanan-tekanan dari pemerintah penjajah
Belanda, disamping penghinaan-penghinaan yang dilakukan
oleh golongan di luar Islam kepada agama Islam, Al Qur'an dan
Nabi Besar Muhammad saw. Untuk menghadapi hal tersebut,
maka Nahdlatoel Oelama memandang perlu untuk
mempersatukan seluruh potensi ummat Islam di Indonesia.

Pada tahun 1937 Nahdlatoel Oelama telah memelopori


persatuan ummat Islam di seluruh Indonesia dengan membidani
kelahiran dari Al Majlis al Islamiy al A'la Indonesia (MIAI),
dengan susunan dewan sebagai berikut:
Ketua Dewan : KH. Abdul Wahid Hasyim, dari NU
Wakil Ketua Dewan : W. Wondoamiseno, dari PSII
Sekretaris (ketua) : H. Fakih Usman, dari Muhammadiyah
Penulis : S.A. Bahresy, dari PAI
Bendahara : 1. S. Umar Hubeis, dari Al Irsyad
2. K.H. Mas Mansur, dari Muhammadiyah
3. Dr. Sukiman, dari PII

Adapun tujuan perjuangan yang akan dicapai oleh MIAI


antara lain sebagai berikut:

1. Menggabungkan segala
perhimpunan ummat Islam
Indonesia untuk bekerja bersama-
sama.

2. Berusaha mengadakan perdamaian


apabila timbul pertikaian di antara
golongan ummat Islam Indonesia,
baik yang telah tergabung dalam
MIAI maupun belum.

3. Merapatkan hubungan antara


ummat Islam Indonesia dengan
ummat Islam di luar negeri.

4. Berdaya upaya untuk keselamatan


agama Islam dan ummatnya.

5. Membangun Konggres Muslimin


Indonesia (KMI) sesuai dengan
pasal 1 Anggaran Dasar MIAI.

Pada masa penjajahan Jepang, MIAI masih diberi hak


hidup oleh Pemerintah Penjajah Jepang. Malah suara MIAI tetap
diijinkan untuk terbit selama isinya mengenai hal-hal berikut:

1. Menyadarkan rakyat atas keimanan


yang sebenar-benarnya dan
berusaha dengan sekuat tenaga bagi
kemakmuran bersama.

2. Penerangan-penerangan dan tafsir


Al Qur'an.

3. Khutbah-khutbah dan pidato-pidato


keagamaan yang penting dari para
ulama atau kyai yang terkenal.

4. Memberi keterangan kepada rakyat,


bagaimana daya upaya Dai Nippon
yang sesungguhnya untuk
membangunkan Asia Timur Raya.

5. Memperkenalkan kebudayaan Dai


Nippon dengan jalan berangsur-
angsur.

Akan tetapi setelah Letnan Jendral Okazaki selaku


Gunseikan pada tanggal 7 Desember 1942 berpidato di hadapan
para ulama dari seluruh Indonesia yang dipanggil ke istana
Gambir Jakarta, yang isinya antara lain: Akan memberikan
kedudukan yang baik kepada pemuda-pemuda yang telah
dididik secara agama, tanpa membeda-bedakan dengan
golongan lain asal saja memiliki kecakapan yang cukup dengan
jabatan yang akan dipegangnya, maka sekali lagi Nahdlatul
Ulama tampil ke depan untuk memelopori kalahiran dari Majlis
Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) sebagai organisasi
yang dianggap mampu membereskan segala macam persoalan
kemasyarakatan; baik yang bersifat sosial maupun yang bersifat
politik, agar keinginan untuk menuju Indonesia Merdeka, bebas
dari segala macam penjajahan segera dapat dilaksanakan. Dan
setelah Masyumi lahir, maka MIAI pun dibubarkan.

Pemerintah Penjajah Jepang memang mempunyai taktik


yang lain dengan Penjajah Belanda terhadap para ulama di
Indonesia. Dari informasi yang diberikan oleh para senior yang
dikirim oleh pemerintah Jepang ke Indonesia jauh sebelum
masuk ke Indonesia (mereka menyamar sebagai pedagang
kelontong dan lain sebagainya yang keluar masuk kampung),
penjajah Jepang telah mengetahui bahwa bangsa Indonesia yang
mayoritas beragama Islam serta menganut paham Ahlus Sunnah
Wal Jama'ah, semuanya ta'at, patuh dan tunduk kepada
komando yang diberikan oleh para ulama.

Oleh karena itu, penjajah Jepang ingin merangkul para


ulama untuk memukul bangsa Indonesia sendiri. Itulah
sebabnya, maka dengan berbagai macam dalih dan alasan,
penjajah Jepang meminta kepada para ulama agar
memerintahkan kepada para pemuda untuk memasuki dinas
militer, seperti Peta, Heiho dan lain sebagainya.

Sedang Nahdlatoel Oelama sendiri mempunyai maksud


lain, yaitu bahwa untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dan
mempertahankan kemerdekaan, mutlak diperlukan pemuda-
pemuda yang terampil mempergunakan senjata dan berperang.
Untuk itu Nahdlatoel Oelama berusaha memasukkan pemuda-
pemuda Ansor dalam dinas Peta dan Hisbullah. Sedangkan
untuk kalangan kaum tua, Nahdlatoel Oelama tidak melupakan
untuk membentuk Barisan Sabilillah dengan KH. Masykur
sebagai panglimanya; meskipun sebenarnya selama penjajahan
Jepang NU telah dibubarkan. Jadi peran aktif NU selama
penjajahan Jepang adalah menggunakan wadah MIAI dan
kemudian MASYUMI.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Nahdlatoel


Oelama yang dibubarkan oleh penjajah Jepang bangkit kembali
dan mengajak kepada seluruh ummat Islam Indonesia untuk
membela dan mempertahankan tanah air yang baru saja merdeka
dari serangan kaum penjajah yang ingin merebut kembali dan
merampas kemerdekaan Indonesia.

Rais Akbar dari Pengurus Besar Nahdlatoel Oelama,


Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, mengeluarkana fatwa
bahwa mempertahankan dan membela kemerdekaan Indonesia
adalah wajib hukumnya. Seruan ini merupakan bukti bahwa NU
memiliki komitmen cukup kuat untuk mengembangkan
nasionalisme kebangsaan yang berpijak pada politik
kerakyatan5.

Seruan dan ajakan NU serta fatwa dari Rais Akbar ini


mendapat tanggapan yang positif dari ummat Islam; dan bahkan
berhasil menyentuh hati nurani arek-arek Surabaya, sehingga
mereka tidak mau ketinggalan untuk memberikan andil yang
tidak kecil artinya dalam peristiwa 10 November '45.

Pengurus Besar NU hampir sebulan lamanya mencari


jalan keluar untuk menanggulangi bahaya yang mengancam dari
pihak penjajah yang akan menyengkeramkan kembali kuku-
kuku penjajahannya di Indonesia.

Kelambanan NU dalam hal tersebut disebabkan karena


pada masa penjajahan Jepang NU hanya membatasi diri dalam
pekerjaan-pekerjaan yang bersifat agamis, sedang hal-hal yang
menyangkut perjuangan kemerdekaan atau berkaitan dengan
urusan pemerintahan selalu disalurkan dengan nama Masyumi.

Atas prakarsa Masyumi, di bawah pimpinan KH. Abdul


Wahid Hasyim, maka Masyumi yang pada masa penjajahan
Jepang merupakan federasi dari organisasi-organisasi Islam,
mengadakan konggresnya di Yogyakarta pada tanggal 7
November 1945. Pada konggres tersebut telah disetujui dengan
suara bulat untuk meningkatkan Masyumi dari Badan Federasi
menjadi satu-satunya Partai Politik Islam di Indonesia dengan
Jam'iyyah Nahdlatoel Oelama sebagai tulang punggungnya.
Adapun susunan Dewan Pimpinan Partai Masyumi secara
5 Abd A’la, Pembaruan Pesantren, Pustaka Pesantren, Yogyakarta, 2006, hal. 145
lengkap adalah sebagai berikut:

Majlis Syura (Dewan Partai)


Ketua Umum : Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
Ketua Muda I : Ki Bagus Hadikusuma
Ketua Muda II : KH. Abdul Wahid Hasyim
Ketua Muda III : Mr. Kasman Singodimejo
Anggota : 1. RHM. Adnan.
2. H. Agus Salim.
3. KH. Abdul Wahab Hasbullah.
4. KH. Abdul Halim.
5. KH. Sanusi.
6. Syekh Jamil Jambek
Pengurus Besar
Ketua : Dr. Sukirman
Ketua Muda I : Abi Kusno Tjokrosuyono
Ketua Muda II : Wali Al Fatah
Sekretaris I : Harsono Tjokreoaminoto
Sekretaris II : Prawoto Mangkusasmito
Bendahara : Mr. R.A. Kasmat
Perpecahan yang terjadi dalam tubuh Partai Masyumi
benar-benar di luar keinginan Nahdlatoel Oelama. Sebab
Nahdlatoel Oelama selalu menyadari betapa pentingnya arti
persatuan ummat Islam untuk mencapai cita-citanya. Itulah yang
mendorong Nahdlatoel Oelama yang dimotori oleh KH.Abdul
Wahid Hasyim untuk mendirikan MIAI, MASYUMI, dan
akhirnya mengorbitkannya menjadi Partai Politik. Bahkan
Nahdlatoel Oelama adalah modal pokok bagi eksistensi
Masyumi, telah dibuktikan oleh Nahdlatoel Oelama pada
konggresnya di Purwokerto yang memerintahkan semua warga
NU untuk beramai-ramai menjadi anggauta Masyumi. Bahkan
pemuda-pemuda Islam yang tergabung dalam Ansor Nahdlatoel
Oelama juga diperintahkan untuk terjun secara aktif dalam GPII
(Gabungan Pemuda Islam Indonesia). Selain itu, Masyumi juga
memiliki kesatuan tentara yang dinamakan Hizbullah. Pada
bulan Desember 1944 Hizbullah dibentuk dengan prakarsa dari
Masyumi dan Jepang sebagai barisan pertahanan Nasional6.

Akan tetapi apa yang hendak dikata, beberapa oknum


dalam Partai Masyumi berusaha dengan sekuat tenaga untuk
menendang NU keluar dari Masyumi. Mereka beranggapan
bahwa Majlis Syura yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam
Masyumi sangat menyulitkan gerak langkah mereka dalam
menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat politis.
Apalagi segala sesuatu persoalan harus diketahui dan disetujui
oleh Majlis Syura, mereka rasakan sangat menghambat
kecepatan untuk bertindak. Dan mereka tidak mempunyai
kebebasan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan politik. Akhirnya ketegangan hubungan antara
ulama/kyai dengan golongan intelek yang dianggap sebagai para
petualang yang berkedok agama semakin parah. Karena keadaan
semacam itu, maka para pemimpin PSII sudah tidak dapat
menahan diri lagi. Mereka mengundurkan diri dari Masyumi dan
aktif kembali pada organisasinya; sampai kemudian PSII
menjadi partai.

Pengunduran diri PSII tersebut oleh pemimpin-pemimpin


Masyumi masih dianggap biasa saja. Bahkan pada muktamar

6 MD. Sumarto, Tanah Airku, dari Zaman ke Zaman, Jilid II, Mahabarata, Jakarta, 1952,
hal. 312
Partai Masyumi ke-IV di Yogyakarta yang berlangsung pada
tanggal 15 - 19 Desember 1949, telah diputuskan perubahan
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Majlis Syura
yang semula menjadi dewan yang tertinggi diubah menjadi
Penasihat yang tidak mempunyai hak veto; dan nasihatnya
sendiri tidak harus dilaksanakan.

Sikap Masyumi yang telah merendahkan derajat para


ulama tersebut dapat ditolelir oleh warga Nahdlatoel Oelama.
Namun PBNU masih berusaha keras untuk memperhatikan
persatuan ummat Islam. Nahdlatoel Oelama meminta kepada
pimpinan-pimpinan Masyumi agar organisasi ini dikembalikan
menjadi Federasi Organisasi-Organisasi Islam, sehingga tidak
menyampuri urusan rumah tangga dari masing-masing
organisasi yang bergabung di dalamnya. Namun permintaan ini
tidak digubris, sehingga memaksa Nahdlatoel Oelama untuk
mengambil keputusan pada muktamar NU di Palembang,
tanggal: 28 April s/d 1 Mei 1952 untuk keluar dari Masyumi,
berdiri sendiri dan menjadi Partai.

Setelah Nahdlatoel Oelama keluar dari Masyumi,


Jam'iyyah NU yang sudah menjadi Partai Politik ternyata masih
gandrung pada persatuan ummat Islam Indonesia. Untuk itu
Nahdlatoel Oelama mengadakan kontak dengan PSII dan PERTI
membentuk sebuah badan yang berbentuk federasi dengan
tujuan untuk membentuk masyarakat Islamiyah yang sesuai
dengan hukum-hukum Allah dan sunnah Rasulullah saw.
Gagasan NU ini mendapat tanggapan yang positif dari PSII dan
PERTI, sehingga pada tanggal 30 Agustus 1952 diadakan
pertemuan yang mengambil tempat di gedung Parlemen RI di
Jakarta, lahirlah Liga Muslimin Indonesia yang anggautanya
terdiri dari Nahdlatoel Oelama, PSII, PERTI dan Darud Dakwah
Wal Irsyad.

Selama Nahdlatoel Oelama menjadi Partai Islam, dalam


gerak langkah nya mengalami pasang naik dan juga ada
surutnya. Saat kabut hitam melingkupi awan putih wilayah
nusantara pada tanggal 30 September 1965, kepeloporan
Nahdlatoel Oelama muncul dan mampu mengimbangi kekuatan
anti Tuhan yang menamakan dirinya PKI (Partai Komunis
Indonesia). Sikap Nahdlatoel Oelama pada saat itu betul-betul
sempat membuat kejutan pada organisasi-organisasi selain NU.

Keberhasilan Nahdlatoel Oelama dalam menumbangkan


PKI dapat diakui oleh semua pihak. Dan hal ini menambah
kepercayaan Pemerintah terhadap Nahdlatoel Oelama.
Nahdlatoel Oelama sebagai Partai Politik sudah membuat
kagum dan dikenal serta disegani oleh setiap orang di kawasan
Indonesia, bahkan oleh dunia internasional. Apalagi mampu
menumbangkan dan menumpas pemberontakan Partai Komunis
yang belum pernah dapat ditumpas oleh negara yang manapun
di seluruh dunia. Sehingga dengan demikian, Nahdlatoel
Oelama dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan yang
sangat komplek dengan berbagai tetek-bengeknya. Namun
Nahdlatoel Oelama sendiri dalam hal rencana perjuangannya
yang terperinci, mengalami pembauran kepentingan partai
dengan kepentingan pribadi dari para pimpinannya. Oleh sebab
itu, pada sekitar tahun 1967, Nahdlatoel Oelama yang sudah
berada di puncak mulai menurun. Hal ini disebabkan antara lain
oleh pergeseran tata-nilai, munculnya tokoh-tokoh baru,
ketiadaan generasi penerus dan lain sebagainya.
Pergeseran tata-nilai ini terjadi di saat Nahdlatoel Oelama
menghadapi Pemilihan Umum tahun 1955. Nahdlatoel Oelama
harus mempunyai anggauta secara realita, terdaftar dan bertanda
anggauta secara pasti. Demi pengumpulan suara, maka apa-apa
yang menjadi tujuan Nahdlatoel Oelama, kini dijadikan nomor
dua. Partai Nahdlatoel Oelama membutuhkan anggota sebanyak-
banyaknya, sekalipun mereka bukan penganut aliran Ahlus
Sunnah Wal Jama'ah. Akibat dari pergeseran nilai inilah yang
membuat kabur antara tujuan, alat dan sarana. Sebagai Partai
Politik yang militan, Nahdaltul Ulama harus berusaha agar
dapat merebut kursi Dewan Perwakilan Rakyat sebanyak
mungkin; demikian pula halnya jabatan-jabatan sebagai menteri.
Hal itu dimaksudkan sebagai alat untuk dapat melaksanakan
program dalam mencapai tujuan partai. Akan tetapi karena
pengaruh lingkungan dan juga karena pergeseran nilai, maka
jabatan-jabatan yang semula dimaksudkan sebagai alat yang
harus dicapai dan dimiliki, kemudian berubah menjadi tujuan.
Dan hal ini sangat berpengaruh bagi kemajuan dan kemunduran
partai dalam mencapai tujuan.

Pada sekitar tahun 1967/1968, Nahdlatoel Oelama


mencapai puncak keberhasilan. Akan tetapi sayang sekali,
justeru pada saat itu ciri khas Nahdlatoel Oelama menjadi kabur.
Pondok Pesantren yang semula menjadi benteng terakhir
Nahdlatoel Oelama sudah mulai terkena erosi, sebagai akibat
perhatian Nahdlatoel Oelama yang terlalu dicurahkan dalam
masalah-masalah politik.

Pada pemilu tahun 1971, Nahdlatoel Oelama keluar


sebagai pemenang nomor dua. Hal tersebut membawa anggapan
baru bagi masyarakat umum bahwa sebenarnya kepengurusan
Nahdlatoel Oelama adalah sebagai hal yang luar biasa;
sementara di pihak lain terdapat dua partai yang tidak
mendapatkan kursi sama sekali, yaitu Partai MURBA dan IPKI,
yang berarti aspirasi politiknya terwakili oleh kelompok lain.
Dari sinilah timbul gagasan untuk menyederhanakan partai-
partai politik.

Kehendak menyederhanakan partai-partai politik tersebut,


datangnya memang bukan dari Nahdlatul Ulama. Akan tetapi
Nahdlatul Ulama menyambut dengan gembira. Dan dalam
penyederhanaan tersebut Nahdlatul Ulama tidak membentuk
federasi, akan tetapi melakukan fusi. Namun demikian, ganjalan
pun terjadi, karena memang masing-masing pihak yang berfusi
mempunyai tata-nilai sendiri-sendiri.

Kehidupan politik yang ditentukan oleh golongan elit telah


menyeret para pemimpin dan tokoh-tokoh Jam'iyyah Nahdlatul
Ulama ke dalam kehidupan elit. Padahal kehidupan elit
semacam ini tidak terdapat dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
Sehingga kehidupan elit ini sebagai barang baru yang
berkembang biak dan hidup subur di kalangan Nahdlatul Ulama.
Maka timbullah pola pemikiran baru yang mengarah kepada
kehidupan individualis, agar tidak tergeser dari rel yang menuju
kepada kehidupan elit. Dari fusi inilah rupa-rupanya yang
membuat parah kondisi yang asli dari Jam'iyyah Nahdlatul
Ulama sejak mula pertama didirikan sebagai

Selama Nahdlatul Ulama berfusi dalam tubuh Partai


Persatuan Pembangunan (PPP), tata-nilai semakin berjurang
lebar; sementara dalam tubuh Nahdlatul Ulama sendiri terdapat
banyak ketimpangan dan kesimpang-siuran. Dalam kurun waktu
yang lama, secara tidak disadari, Nahdlatul Ulama telah menjadi
kurang peka dalam menanggapi dan mengantisipasi
perkembangan keadaan, khususnya yang menyangkuat
kepentingan ummat dan bangsa. Salah satu sebabnya adalah
ketelibatan Nahdlatul Ulama secara berlebihan dalam kegiatan
politik praktis; yang pada gilirannya telah menjadikan Nahdlatul
Ulama tidak lagi berjalan sesuai dengan maksud kelahirannya,
sebagai jam'iyyah yang ingin berkhidmat secara nyata kepada
agama, bangsa dan negara. Bahkan hal tersebut telah
mengaburkan hakekat Nahdlatul Ulama sebagai gerakan yang
dilakukan oleh para ulama. Tidak hanya sekedar itu saja yang
sangat menyulitkan Nahdlatul Ulama dalam kancah politik
selama berfusi dalam PPP; akan tetapi silang pendapat di
kalangan NU sendiri semakin tajam, sehingga sempat
bermunculan berbagai hipotesis tentang bagaimana dan siapa
sebenarnya Nahdlatul Ulama.

Dari kejadian demi kejadian dan bertolak dari keadaan


tersebut, maka sangat dirasakan agar Nahdlatul Ulama
secepatnya mengembalikan citranya yang sesuai dengan khittah
Nahdlatul Ulama tahun 1926. Hal ini berarti bahwa Nahdlatul
Ulama harus melepaskan diri dari kegiatan politik praktis secara
formal, seperti yang telah diputuskan dalam Musyawarah Alim
Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) di Pondok Pesantren
Salafiyah Syafi'iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur tahun
1982.

Pimpinan baru Nahdlatul Ulama di bawah pimpinan


Abdurrahman Wahid terpaksa membangun kembali organisasi
yang telah menderita dua gelombang eksodus anggotanya.
Eksodus pertama terjadi pada tahun 1971 lantaran khawatir
dicap sebagai oposan pemerintah, dan yang kedua dilakukan
oleh kelompok aktivis inti berhaluan keras yang menentang
reorientasi ke khittah 1926. “Kelompok inti”, demikian isitalh
yang digunakan oleh Ben Anderson, tetap bertahan namun
banyak juga yang pergi atau memilih bersikap pasif. Jadi,
masalah yang harus dihadapi oleh para pimpinan baru ini adalah
mengaktifkan kembali keikutsertaan para bekas anggota and
meyakinkan para simpatisan akan kebenaran dasar-dasar
reorientasi yang telah diputuskan di Situbondo7.

Pasca kepemimpinan Abdurrahman Wahid yang sangat


kontroversial dan berani mengambil sikap, dalam bahasa Andree
Felliard disebut sebagai, vis-à-vis terhadap pemerintahan
Soeharto. NU setidaknya telah menemukan kembali gagasan
besarnya sebagai benteng pertahanan Islam Ahlus Sunnah wal
Jama’ah serta organisasi yang lahir dari semangat perlawanan
terhadap dominasi ekonomi, politik, sosial yang dilancarkan
kaum imperialis8.

Hal yang paling penting untuk dicatat adalah, ketika dalam


NU dalam perjalanan dibawah kendali KH. Abdurrahman
Wahid, PBNU telah membidani lahirnya Partai Kebangkitan
Bangsa, satu partai yang bertujuan untuk mencegah
pemanfaatan suara warga NU oleh partai politik yang visi
misinya tidak sesuai dengan gerakan dasar NU. Partai ini
didirikan setelah membaca kondisi sosial politik setelah
lengsernya presiden Soeharto dan Indonesia berada pada masa
transisi menuju demokrasi. Ketika itu menyebabkan terjadinya

7 Andree Felliard, NU Vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, 2002, LKiS,
Jogjakarta, hal, 287
8 Nurul Mubin, Menangkal Bahaya Laten Gerakan Anti Aswaja NU, LKiS, Yogyakarta,
2008, hal. 124-125
evolusi politik dari rezim orde baru kepada rezim transisional
pasca Soeharto yang tentu saja diakibatkan oleh perpaduan dari
berbagai kondisi dan faktor historis ketika proses transisi itu
muncul9.

Pada muktamar ke-XXX di Kediri tahun 1999, NU


kembali meneguhkan sebagai organisasi sosial keagamaan
bukan sebagai organisasi sosial politik. Dalam rangka
menjalankan fungsi ini, pada muktamar ini juga telah dirancang
ulang mengenai visi dan misi gerakan sosial keagamaan NU
setelah melalui pembacaan panjang sosial, religius, antropologis
sampai politik. Adapun visi yang berhasil diputuskan adalah,
Terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan
berkeadilan atas dasar ajaran Islam ahl al-sunnah wa al-
jama’ah.

Dari visi tersebut, misi yang kemudian menjadi patokan


perjalanannya yakni, Mengupayakan sistem perundang-
undangan dan mempengaruhi kebijakan yang menjamin
terwujudnya visi tersebut. Di satu sisi, disisi lain misi NU adalah
melakukan pemberdayaan masyarakat10.

Juni 1999, PKB yang lahir dari bidan PBNU mengikuti


pesta demokrasi dan berhasil menempati urut-urutan puncak
kemenangan. Sementara itu, sayap NU yang lain yang
mengikuti pesta demokrasi selain PKB adalah Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) salah satu partai politik yang pernah
berfusi dengan NU pada era 1972-1984, partai ini adalah partai
yang juga berhaluan sama dengan NU, bahkan lebih tegas dalam
9 Ade Armando dkk (Suara Mahasiswa UI), Menyelamatkan Indonesia, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1999 hal. 56
10 Lilis Nurul Husna dkk, Forum Warga, Demokrasi Represetatif VS Deliberatif, PP.
Lakpesdam NU, Jakarta, 2004, hal. 13
menyatakan keIslamannya dibandingkan dengan PKB, pada
aspek dasarnya. Partai yang digawangi oleh Hamzah Haz ini
juga secara terbuka para simpatisannya, terutama kiyai, sering
menyerang ulama PKB secara terang-terangan sebagai warisan
Golkar.

Selain PKB dan PPP, muncul pula nama Abu Hasan, rival
KH. Abdurrahman Wahid pada muktamar 1994 yang menjadi
pendiri sekaligus motor penggerak Partai Solidaritas Uni
Nasional Indonesia (SUNI). Tercatat pula paman KH.
Abdurrahman Wahid, Yusuf Hasyim yang mengakumulasi
kekuatan politiknya dalam wadah Partai Kebangkitan Umat
(PKU). Terakhir, Syukron Ma’mun, da’i bereputasi tinggi yang
sering mengkritik sayap progresif NU, mendirikan Partai
Nahdlatul Ummah (PNU).

Para tokoh NU tersebut yang berdiri di barisan depan


partai-partai berhaluan Islam diatas, secara jelas dapat dilihat
bahwa keberadaan mereka merupakan perwujudan
ketidaksepakatan mereka terhadap gerakan politik yang
dilancarkan KH. Abdurrahma Wahid. Bahkan secara terbuka,
pamannya sendiri, Yusuf Hasyim menyatakan posisinya tidak
hanya sebagai rival politik tetapi juga musuh lama yang terus
akan mengadakan perlawanan terhadap gerakan Gus Dur
(sapaan KH. Abdurrahman Wahid). Hal ini disebabka karena
sifat Gus Dur yang terlalu kritis bahkan sinis ketika melihat
keadaan dimana tidak sesuai dengan mainstream besar yang dia
anut11.

Disamping itu, warga NU yang berada pada lapisan


11 Nor Huda, Islam Nusantara, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, Ar-Ruzz
Media, Yogyakarta, 2007, hal 446
grassroot terkotak selain dalam partai tersebut diatas, sebagai
partai yang dibidani oleh tokoh-tokoh besar NU, juga banyak
diantaranya yang masuk dalam ruang berbeda. Kebanyakan
diantaranya berada di Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan serta
beberapa partai-partai lainnya. Dua nama terakhir, merupakan
partai-partai yang sama sekali tidak diharapkan oleh para tokoh
NU, Ulama-ulama NU serta Pengurus NU dari PB hingga
Ranting untuk dipilih oleh warga NU karena secara ideologis
bertentangan keras. Sederhananya, NU adalah penganut Islam
yang Ahlus Sunnah wal Jama’ah sementara PAN adalah
representasi dari warga Muhammadiyah dan PK adalah salah
satu sayap gerakan politik kelompok Ichwanul Muslimin yang
berkembang di Timur Tengah.

Banyaknya partai politik yang muncul disebabkan karena


ketika menjelang pemilihan umum, pemerintahan BJ. Habibie
pada umumnya berani mengizinkan propinsi-propinsi, partai
politik dan kelompok-kelompok yang berkepentingan agar
memutuskan masa depan mereka sendiri dan menempatkan diri
mereka dalam Indonesia yang menuju alam demokrasi ini.
Semua orang merasa antusias untuk ikut berpartisipasi dalam
demokrasi yang baru berjalan ini. Di seluruh Indonesia
kemudian berkibarlah bendera lusinan partai politik12.

Kegemilangan gerakan NU semakin terbukti secara


politis, kemenangan PKB dan PPP sebagai representasi gerakan
politik NU semakin digemilangkan dengan terpilihnya KH.
Abdurrahman Wahid sebagai presiden Republik Indonesia

12 Richard Mann, Memperjuangkan Demokrasi di Indonesia, Handal Niaga Pustaka,


Jakarta, 1999, hal. 318
keempat menggantikan BJ. Habibie berpasangan dengan
Megawati Soekarno Putri. Meskipun pemerintahan KH.
Abdurrahman Wahid dengan Megawati tidak berlangsung lama,
setidaknya warna baru telah tercipta, membawa semangat baru
gerakan politik NU dalam kancah perpolitikan nasioal.
Pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid hanya sekitar setahun
memimpin bangsa ini, dia sudah dipanggil untuk
mempertanggungjawabkan tindakannya di depan DPR beberapa
kali dan di depan MPR pada bulan Agustus 200013.

Pada pemilu tahun 2004, NU berhasil mendapatkan posisi


yang cukup menggiurkan melalui partai yang pernah
digelutinya, PKB dan PPP. Keduanya masuk dalam urutan 5
besar. Namun beberapa tahun pasca kemenangan ini, konflik
internal menjadi pemicu utama pecahnya partai-partai ini. PPP
yang sebelumnya telah terpecah menjadi Partai Bintang
Reformasi (PBR) semakin terpecah kembali dengan kekuatan-
kekuatan banding yang menyebabkan banyak tokoh-tokoh besar
partai ini melakukan hijrah ke partai lain. Sementara di kubu
PKB, spekulasi Gus Dur memecat Abdul Kadir Karding dari
jabatannya sebagai Ketua Dewan Tanfidziyah PW PKB Jawa
Tengah dan menggantinya dengan KH. Yusuf Chudzori serta
pemecatan Muhaimin Iskandar dan beberapa tokoh PKB lainnya
seperti Idham Cholied, Eman Hermawan, Hanif Dhakirie,
Lukman Edi dan sebagainya akhirnya membuat PKB semakin
terpecahkan. Kelompok pertama yang dimotori oleh Idham
Cholied14 kemudian menggandeng Kyai Langitan untuk
mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan
13 Chris Manning dkk (Eds), Indonesia di Tengah Transisi, Aspek-Aspek Sosial Reformasi
dan Krisis, LKiS, Yogyakarta, 2000, hal. 6
14 Mantan ketua DPRD Kabupaten Wonosobo dari Partai Kebangkitan Bangsa, saat ini
menjabat sebagai Sekjen DPP PKNU
kelompok terakhir, Muhaimin Iskandar15 sebagai tokoh
utamanya akhirnya berhasil mematahkan gerakan KH.
Abdurrahman Wahid sebagai ketua dewan suro DPP PKB.

Fakta yang hendak penulis ungkapkan disini adalah,


bahwa NU saat ini telah jauh dari kerangka dasarnya sebagai
organisasi sosial keagamaan. Justru cenderung menjadi
underbow dari gerakan sosial politik melalui partai-partai politik
yang ada. NU telah dibawa jauh dari kerangka dasar yang
disusun oleh para founding fathers-nya. Bahkan upaya NU di
tahun 1984 pada muktamar Situbondo, khittah 1926 sama sekali
tidak membekas dalam gerakannya.

Berdirinya PKB pada tahun 1998 yang dibidani oleh


PBNU merupakan penyelewengan pertama pasca orde baru,
dimana apapun bentuknya, fungsionaris NU tidak
diperkenankan aktif di partai politik. Selain itu, fakta tampilnya
KH. Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU sebagai calon wakil
presiden berpasangan dengan Megawati Soekarno Putri yang
berujung kekalahan merupakan bukti riil bahwa NU hari ini
hanya digunakan sebagai kendaraan politik oleh para
fugsionarisnya.

Ditingkatan lokal, tampilnya Ketua PWNU Jawa Tengah,


DR. HM. Adnan sebagai calon wakil gubernur yang
berpasangan dengan Bambang Sadono menjadi kenyataan yang
terbantahkan. Di Jawa Timur hal serupa juga terjadi DR. Ali
Maschan Moesa yang menjabat sebagai ketua PWNU Jawa
Timur juga mengkandidatkan diri dalam bursa pemilihan

15 Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada masa Orde Baru,
merupakan Kemenakan dari KH. Abdurrahman Wahid. Menjabat sebagai Ketua Dewan
Tanfidziyah DPP PKB.
gubernur16. Ada pula Saifullah Yusuf (Ketua PB GP Ansor)
yang mengikuti pesta demokrasi di tempat yang sama. Bahkan
kasus di Jawa Timur itu sendiri, benturan para pembesar NU
justru semakin kuat. Persaingan antara Saifullah Yusuf yang
diusung oleh PAN, DR. Ali Maschan Moesa dan Khofifah Indar
P dari PPP menjadi bukti bahwa NU hanya dijadikan kendaraan
politik untuk mencapai popularitas, sementara mengabaikan
kepentingan dasar NU dalam AD/ART 1926 sebagai organisasi
yang memberdayakan kepentingan sosial keagamaan.

Kasus lainnya juga terjadi dengan tampilnya ketua PWNU


Kalimantan Timur dalam bursa Pemilihan Gubernur Kalimantan
Timur serta tampilnya banyak ketua tanfidziyah dan
fungsionaris PCNU di berbagai tempat sebagai calon
Bupati/Wakil Bupati dan atau Walikota/wakil walikota.

Fenomena semacam inilah yang dimaksud dengan nalar


kekuasaan NU. Yakni nalar yang dibangun untuk menguasai
semua aspek sosial yang ada, kemudian menafsirkan kondisi
tersebut dalam gerakan penguasaan. Kekuasaan adalah wilayah
dimana pergerakan berjalan secara terus menerus untuk
mengembangkan diri guna membangun kondisi-kondisi
kemungkionan (condition of possibilities), basis-basis
pertahanan, dan pangkalan-pangkalan pendararatan yang
memungkinkan kita bisa mengartikulasikan dan
mengimplementasikan kerangka dasar kesejahteraan masyarakat
(mabadi khairi ummah).

Kekuasaan selalu ditopang oleh dua hal penting yaitu,


Pertama, nalar atau struktur pengetahuan yang

16 PW IPNU Jawa Tengah, Majalah Risalah Nusa, Edisi II, Januari 2008, hal. 1
mengkonseptualisasi sekaligus merasionalisasikan hubungan
diantara unsur-unsur politik, dan juga kedua, pergerakan
individu atau kelompok yang bermain untuk merebut atau
mempertahankannya17.

Dalam menganalisis persoalan ini, persoalan nalar


kekuasaan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, penulis menggunakan
metodologi yang ditemukan Michel Foucault (1926-1984)
dalam setiap analisis filsafat postmodernismenya, yakni
arkeologi dan genealogi. Sengaja penulis mengambil teorinya
karena dalam karya-karya Foucault selalu menggunakan metode
yang sama untuk menganalisis serta mengkritik modernisme,
termasuk diantaranya nalar kekuasaan.

Secara global, bahwa sebagai pisau analisis, arkeologi dan


genealogi hanya digunakan sebagai media pendekatan, bukan
berarti metode ini kemudian harus menjadi sesuatu yang taken
for granted dari apa yang diungkapkan oleh Foucault, tetapi
dengan penafsiran sesuai konteks yang dibahas, dalam hal ini
mengenai nalar dakwah NU terkait dengan model kuasa.

Arkeologi akan menjadi metodologi yang tepat dari


analisis diskusivitas lokal dan genealogi akan menjadi taktik
yang berdasarkan pada deskripsi dikursivitas-diskursivitas lokal
ini, yaitu suatu pengetahuan arahan yang kemudian dilepaskan
yang akan dibawa kedalam pembahasan.

Ketika disatu sisi arkeologi berusaha menunjukkan bahwa


subyek merupakan sebuah bentukan imajiner, maka genealogi
disisi lain akan berusaha menghubungkan konteks material

17 Eman Hermawan, Nalar Kekuasaan Kaum Pergerakan, KLIK R, Yogyakarta, 2008, hal.
12
bentukan subyek untuk menarik konsekuensi-konsekuensi
politik dari subyektifikasi dan membantu membentuk
perlawanan dalam praktek-praktek subyektifikasi. Ketika disatu
sisi arkeologi mengkritik sains manusia sebagai suatu
keberadaan dalam asumsi-asumsi humanis, maka genalogi akan
menghubungkan teori-teori ini dalam operasi kekuasaan dan
mencoba meletakkan pengetahuan historis dalam perjuangan-
perjuangan lokal. Ketika disatu sisi arkeologi menteorisasi
kelahiran sains manusia dalam konteks episteme modern dan
memfigurkan manusia, maka genealogi pada sisi tersendiri akan
menunjukkan hubungan kekuasaan dan efek yang dimunculkan.

Uraian Foucault tentang arkeolgi perlu kita beri perhatian


khusus. Tentu saja, kata ‘arkeologi’ ini bagi Foucault
mempunyai arti lain daripada arti yang biasa, yaitu ilmu
purbakala. Kita lihat bahwa setiap diskursus ditentukan oleh
suatu apriori historis. Lebih konkret, itu berarti bahwa setiap
zaman mempunyai suatu ‘sistem pemikiran’ yang menjuruskan
cara mempraktekkan ilmu pengetahuan pada zaman tersebut.
Sistem pemikiran ini oleh Foucault disebut sebagai episteme.
Episteme itu biasanya tinggal implisit dan tidak perlu sama
dengan teori ilmu pengetahuan eksplisit yang terdapat pada
zaman itu. Karena jarak kita sekarang ini terhadap zaman itu
sudah cukup jauh, maka bagi kita menjadi mungkin untuk
mempelajari dan memperlihatkan episteme itu. Usaha
eksplisitkan atau ‘menggali’ episteme yang menentukan suatu
periode tertentu oleh Foucault disebut sebagai arkeologi atau
analisa arkeolgis18.

18 K. Bertens, Filsafat Kontemporer Prancis, Jilid II, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2006, hal 348-349
Jadi, arkeologi atau pendekatan arkeologi adalah
eksplorasi sejumlah kondisi historis nyata dan spesifik dimana
berbagai pernyataan dikombinasikan dan diatur untuk
membentuk atau mendefinisikan suatu biang pengetahuan/obyek
yang terpisah serta mensyaratkan adanya seperangkat konsep
tertentu dan menghapus batas rezim kedalaman tertentu.

Pendekatan arkeologis Foucault berbeda dengan para


pakar seperti Baudriallard, Lyotard atau Derrida. Hal yang
membedakannya ada dua macam, yakni, pertama, Foucault
tidak membongkar semua bentuk, struktur, koherensi dan daya
pikir ke dalam sebuah aliran signifikansi tanpa akhir. Setelah
membersihkan bagian dasarnya, dia berusaha menangkap
bentuk-bentuk keteraturan, hubungan, kontinuitas dan totalitas
apa yang benar-benar ada. Tugas arkeologi tidak hanya
mendapatkan sebuah pluralitas sejarah yang saling bedekata dan
independen satu sama lain, tetapi juga menenutkan bentuk
hubungan apa yang dapat dideskripsikan secara sah antara
rangkaian-rangkaian sesuatu yang berbeda.

Kedua, tidak seperti apokaliptik Baudrillard yag menyebut


posmoderinitas sebagai sebuah kehancuran utuh dari modernitas
industrial, ekonomi politik dan rasio referensial, Foucault
menggunakan sebuah peringatan dan guna berkualitas dari
wacana diskontinuitas. Sebaliknya, dia menyatakan bahwa ia
terkadang melebih-lebihkan tingkat kehancuran historis untuk
tujuan pedagogis, yaitu, menyerang hegemoni teori-teori
tradisional perkembangan historis dan kontinuitas.

Genealogi mengambil bentuk berupa pencarian


kontinuitas dan diskontinuitas dari diskursus. Genealogi tidak
mencari asal-usul, melainkan menelusurui awal dari
pembentukan diskursus yang apat terjadi kapan saja. Dalam
genalogi tidak menggunakan verstehen (pemahaman) melainkan
destruksi dan pembongkaran hubungan-hubungan historis yang
disangka ada antara sejarawan dan obyeknya. Genealogi
diarahkan untuk mengeanalisis strategi kuasa yang berbelit-belit,
yang harus dipahami dari dalam lewat aturan, nilai yang berlaku
bahkan juga tutur kata dan kebiasaan.

Pada tahun 1970, Foucault mulai membuat suatu transisi


dari arkeologi menuju genealogi, sehingga bisa dikatakan ini
merupakan perubahan atau transisi menuju teorisasi yang lebih
tepat dari institusi dan bentuk-bentuk kekuasaan material.
Meskipun genealogi menunjukkan sebuah perubahan baru
dalam fokus dalam karyanya hal ini bukan merupakan sebuah
dobrakan atau penghancuran, tetapi sebuah pengembangan
ruang lingkup analisis. Seperti arkeologi, Foucault
mengkarakterisasi genealogi sebagai sebuah model tulisan
historis baru yang menyebut genealogis sebagai ‘sejarawan
baru’19. Kedua metodologi berusaha meneliti kembali bidang
sosial dari sudut pandang mikrologis yang mampu membuat
orang dapat mengidentifikasi kontinuitas dan penyebaran
diskursif, bukan kontinuitas dan identitas, dan menangkap
peristiwa-peristiwa historis dalam kompleksitas nyatanya. Jadi,
kedua metodologi tersebut berusaha membongkar rantai-rantai
kontinuitas historis besar dan tujuan teologisnya, serta
menghistorisasi pemikiran apa yang tidak dapat berubah.

Namun dalam transisi tahap genalogisnya, Foucault

19 Steven Best dkk, Teori Posmodern, Interogasi Kritis, Boyan Publishing, Malang, 2003,
hal.49-50
memberikan tekanan yang lebih berat pada kondisi material
wacana, yang dia definisikan term ‘institusi peristiwa-peristiwa
politik, praktek dan proses-proses ekonomis’, dan pada analisis
hubungan antara domain dikursif dengan non-diskursif. Intinya
bahwa, Foucault arkeologis idealis dengan Foucault Genealogis
materialis tidak dipisahkan dan bukan merupakan upaya
pemisahan, tapi lebih menandakan tematisasi memadai dari
hubungan praktek sosial dan kekuasaan yang dinyatakan secara
implisit dalam karyanya.

Sekali lagi penulis tegaskan, bahwa penggunaan


pendekatan metodologis arkeologis dan genealogis
posmodernisme Michel Foucault adalah hanya sebagai pisau
analisis untuk membedah baik pada sisi kontinuitas dan
diskontinuitas sejarah (history), kekuasaan, dakwah Islamiyyah,
konstruksi antropologi dan sosiologi hingga pembahasan
mengenai konstruksi ideal Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Sehingga penulis memberikan judul yang sedikit menutup dan
membatasi lingkup persoalan, yakni, KRITIK NALAR
DAKWAH JAM’IYYAH NAHDLATUL ULAMA, Telaah
Sosio Politik NU dengan Pendekatan Arkeologi dan Genealogi
Postmodernisme Michel Foucault.

III. Alasan Pemilihan Judul

Adapun alasan penulis judul skripsi KRITIK NALAR


DAKWAH JAM’IYYAH NAHDLATUL ULAMA, Telaah
Sosio Politik NU dengan Pendekatan Arkeologi dan Genealogi
Postmodernisme Michel Foucault adalah sebagai berikut:
1. Penyalahgunaan posisi struktural
NU untuk dijadikan kendaraan
politik praktis semakin lama akan
membuat NU kehilangan kekuatan
kulturalnya, sehingga
dikhawatirkan dalam beberapa
dekade kedepan NU tidak lagi
memiliki kekuatan politik.

2. Para korban dari penyalahgunaan


posisi struktural adalah masyarakat
kelas menengah kebawah. Dimana
posisinya selalu dimainkan untuk
mendapatkan suara yang banyak.
Hal ini berpengaruh negatif
terhadap keberlangsungan nalar dan
mainstream publik yang telah
mengetahui bahwa NU merupakan
lembaga sosial keagamaan bukan
lembaga sosial politik.

3. Bahwa dalam konstelasi semacam


ini, nilai dakwah dan kekuatan
sosial keagamaan NU justru
semakin melemah, sehingga untuk
mengantisipasinya juga
membutuhkan langkah politik yang
tegas dengan konsekuensi yang
tegas pula.
IV. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

Mengkaji mengenai problematika seputar Jam’iyyah


Nahdlatul Ulama, prasyarat yang paling penting adalah
membaca hubungan sosiologis, merangkai ulang diskontinuitas
sejarah, menangkap pluralisme sejarah, sosiohistoris,
antropohistoris, sampai dengan relasi kuasa. Penjabaran ini
mengingat ada beberapa batasan yang harus diambil maka
wilayah pembahasannyapun harus dipersempit, kalaupun
membutuhkan referensi dari luar batasan, maka akan
dicantumkan hanya sebatas gambaran global, tidak merupakan
penjelasan yang panjang dan mendalam. Rumusan dan batasan
yang penulis gunakan adalah:

1. Konstuksi sosiologis
dan antropologis
terbentuknya Islam
Indonesia sebagai
citra dasar NU.

2. Pandangan NU
terhadap politik
praktis pada era,1972-
1984 dan 1984-
sekarang.

3. Ketentuan dakwah
Islamiyyah menurut
paham Ahlus Sunnah
wal Jama’ah.

4. Pelanggaran-
pelanggaran elite NU
terhadap AD/ART
NU 1926 dan Khittah
1926.

V. TUJUAN PENELITIAN

Adapun yang menjadi alasan mendasar yang kemudian


menjadi tujuan utama penulis melakukan riset ini adalah:

1. Penulis mengharapkan NU kembali ke khittah 1926


yang berkonsentrasi pada organisasi sosial keagamaan.

2. Fungsionalis NU tidak melakukan politik praktis dan


atau menjadi fungsionalis di partai politik manapun.

3. Mengembalikan konsentrasi perpolitikan NU pada


ranah politik yang berdasarkan pada prinsip dasar
Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

4. Berupaya menemukan alat dan metode perjuangan


politik yang tepat untuk NU.

5. Mencari pola relasi kuasa dengan sistem komunikasi


agama dan negara yang berdasarkan pada prinsip
Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

VI. SIGNIFIKANSI PENELITIAN

1. Secara teoritis penelitian ini dilakukan sebagai titik


terang menuju tujuan yang diharapkan dan sebagai
sumbangsih literatur dakwah islamiyah NU yang
seharusnya kembali ke Khittah 1926.
2. Secara praktisi penelitian ini dapat menjembatani dan
sebagai alternatif untuk menyelesaikan permasalahan
yang timbul dan dapat mengembangkan metodologi
dakwah dalam ruang politik, sosial, ekonomi dan
pengembangan pengetahuan sosial.

VII. Penegasan Istilah

Untuk memperjelas istilah yang ada dan mengantisipasi


terjadinya kesalahan dalam penafsiran terhadap maksud istilah,
maka penulis mencantumkan beberapa istilah yang menjadi titik
tekan utama pembahasan.

Arkeologis : Yakni metodologi analisis obyek yang


dikembangkan oleh Michel Foucault.
Penjelasan ringkasnya, eksplorasi sejumlah
kondisi historis nyata dan spesifik dimana
berbagai pernyataan dikombinasikan dan
diatur untuk membentuk atau mendefinisikan
suatu bidang pengetahuan/obyek yang
terpisah serta mensyaratkan adanya
seperangkat konsep tertentu dan menghapus
batas rezim kedalaman tertentu.

Genealogis : merupakan pengembangan metodologi yang


dilakukan oleh Michel Foucault dalam
analisisnya. Titik tekan utama dalam
metodologi ini yang membedakan dengan
antropologi yakni tekanan yang lebih berat
pada kondisi material wacana, yang dia
definisikan term ‘institusi peristiwa-peristiwa
politik, praktek dan proses-proses ekonomis’,
dan pada analisis hubungan antara domain
dikursif dengan non-diskursif.

Postmoderinisme : merupakan pembabakan sejarah, baik


berdasarkan waktu, nalar pemikiran,
peradaban manusia ataupun bentuk lain yang
dapat menandai adanya pergeseran secara
sosiologis, antropologis dan atau
pengetahuan. Ringkasnya, postmodernisme
merupakan bentuk baru yang mengkritik
modernisme dan menganggap bahwa
modernisme telah mengalami kegagalan
sehingga postmodernisme muncul sebagai
antitesis.

Jam’iyyah : adalah berasal dari bahasa Arab. Penafsiran


disini lebih diartikan sebagai tatanan
organisasi (bukan perguruan tinggi atau
lembaga pendidikan lainnya), organisasi atau
bentuk komunal dari sekelompok komunitas
tertentu.

Kontinuitas : artinya berlangsung secara terus menerus,


berkelanjutan.

Diskontinuitas : adalah antonim dari kontinuitas, dapat


diartikan dengan keadaan yang terputus-
putus.
Episteme : merujuk pada pengandaian, prinsip,
kemungkinan dan cara pendekatan tertentu
yang dimiliki setiap zaman dan membentuk
suatu sistem yang kokoh.

Pluralitas : Foucault menafsirkan pluralitas sebagai


upaya penangkapan realitas dengan banyak
cara dan sistem.

VIII. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam riset ini, penulis menggunakan beberapa


pendekatan metodologis dalam upaya mengumpulkan data dan
mengukur tingkat validitas data. Berdasarkan modelnya, penulis
menggunakan metode:

1. Metode Literasi

a. Literatur yang digunakan sebagai media


pengumpulan data diambil dari buku-buku,
majalah, surat kabar, dokumen-dokumen, serta
bentuk media cetak lainnya yang terkait dengan
tema pembahasan.

b. Mengumpulkan data melalui perpustakaan


electronic book (e-book), yakni buku-buku, artikel,
karangan ilmiah dan bentuk lainnya dari koleksi
perpustakaan nonprinted.

c. Menggali data dan bahan lain yang diperlukan


melalui browsing, searching dan downloading di
Internet yang terkait dengan tema yang dimaksud.
2. Metode Interview

a. Melakukan penggalian data melalui wawancara


langsung dengan narasumber terkait dengan tema
yang dibahas. Narasumber yang dimaksud adalah
orang yang berkompeten di bidangnya.

b. Melakukan penggalian data melalui wawancara via


telepon, SMS, chatting, electronic mail (email)
dengan narasumber yang kompeten dibidang
terkait dengan pembahasan dalam riset ini.

3. Metode Observasi

Yakni dengan melakukan kajian penelitian lapangan,


kunjungan ketempat yang terkait dengan tema serta
mengadakan survey, pola ini menggunakan metode
pengumpulan data dengan model proportional random
sampling, namun, metode ini digunakan apabila
diperlukan dan diharuskan untuk dilakukan.

IX. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam riset ini, penulis memberikan gambaran sistematika


penulisan yang menjadi bahan acuan pada tingkatan lebih lanjut
setelah dilakukan pengumpulan data. Adapun mengenai
sistematika yang dimaksud sebagai berikut:

1. Bagian muka
Terdapat halaman judul, halaman nota pembimbing,
halaman pengesahan skripsi, halaman motto, halaman
persembahan, kata pengantar dan daftar isi.

2. Bagian isi

Bagian ini terbagi dalam bab-bab:


BAB I : Pendahuluan yang memuat tentang
pembahasan yang terdiri dari abstraksi,
penegasan istilah, rumusan permasalahan,
tujuan penelitian, metode penelitian dan
sistematika penulisan skripsi.
BAB II : Membahas mengenai tema-tema
mendasar mengenai dakwah, baik sebagai
ilmu sosial ataupun sebagai sebuah
system. Selain itu, pada bab ini juga
dijelaskan mengenai pisau analisis yang
digunakan, yakni teori postmodernisme.
BAB III : Konstruksi Sosioantropologis Islam
Indonesia, membahas mengenai konstruk
terbentuknya Islam Indonesia, Sejarah
perjalanan NU, etika politik dan dakwah
Islamiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
BAB IV : Analisis Dakwah Islam NU terkait
dengan politik, pada bab ini ditekankan
pada pendalaman mengenai upaya khittah
1926 yang mengembalikan NU sebagai
lembaga sosial keagamaan dan
merumuskan model perjuangan politik
NU. Pembahasan ini dibahas
menggunakan pendekatan metode
arkeologi dan genealogi.
BAB V : Bab ini merupakan bab penutup
yang terdiri dari kesimpulan tentang
uraian skripsi disertai dengan saran-saran
dari penulis dan kata penutup

3. Bagian akhir

Pada bagian akhir penulisan skripsi ini penulis


menyertakan daftar pustaka, lampiran-lampiran dan
daftar riwayat pendidikan penulis.

X. PENUTUP

Demikian proposal penelitian ini disusun sebagai kerangka


acuan penelitian, bahan pertimbangan serta konsepsi hipotesis
yang hendak diujikan melalui library research. Terima kasih
atas kerja sama semua pihak dan apabila dalam proposal ini
masih banyak dijumpai kesalahan dan ketidaktepatan
penggunaan dan akumulasi data, penulis mohon maaf dan
dikemudian hari akan dilakukan pembenahan.
RANCANGAN DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN NOTA PEMBIMBING

HALAMAN MOTTO

HALAMAN PERSEMBAHAN

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Alasan Pemilihan Judul

C. Rumusan dan Pembatasan Masalah

D. Tujuan Penulisan

E. Metodologi Penelitian

F. Sistematika Penulisan

BAB II DAKWAH DI ERA POSTMODERNISME

A. Ilmu Dakwah dan Lingkupnya

1. Pengertian Dakwah

2. Unsur-Unsur Dakwah
a. Subjek Dakwah

b. Metode Dakwah

c. Media Dakwah

d. Objek Dakwah

3. Manusia dan Kewajiban Dakwah

B. Postmodernisme sebagai Aliran Filsafat dan Pembabakan


Sejarah

1. Postmodernisme sebagai Aliran Filsafat

a. Antropologis

b. Genealogis

2. Postmodernisme sebagai Pembabakan Sejarah

BAB III KONSTRUKSI SOSIOANTROPOLOGIS ISLAM


INDONESIA

A. Sejarah Sosial dan Antropologis Manusia Indonesia

B. Konstruksi Sosiologis Islam Indonesia, Kesalehan Normatif dan


Mistisisme Religius.

C. Dakwah Islamiyyah Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

D. NU Kultural, Struktural dan Benturan Peradaban

E. NU dan Perjalanan Politiknya

1. NU tahun 1974-1984
2. NU tahun 1984-1998 dan Rekonsiliasi Khittah 1926

3. NU tahun 1998-2004 dan Perjalanan PKB

4. NU tahun 2004-2009 dan Politik PKB, PKNU dan Partai


lainnya

5. Prospek NU dan rencana strategis ke depan

BAB IV GERAKAN POLITIK NU

A. Khittah 1926 dengan pendekatan Genealogis dan Arkeologis

1. Khittah 1926 dan Aspek Sosial Keagamaan

a. Khittah 1926 sebagai Resolusi Gerakan

b. Memaknai Kembali Resolusi Jihad

c. Menentukan Kawan dan Lawan

d. Pergolakan Internal NU Seputar Khittah 1926

2. Dinamika Pemikiran dan Gerakan Muda NU

a. Perkembangan Pemikiran

b. Revitalisasi Gerakan NU

B. Problematika Pengkaderan

1. Analisis Problem Pengkaderan

2. Solving Problem Problematika Pengkaderan

C. Revitalisasi NU Kultural
1. Referensi Pengembangan NU

2. Penguatan KAR di tiap ranting

3. Kyai Kampung dan Kyai Langgar

4. Tradisi Sosial NU

D. Etika Politik NU sebagai Alat Perjuangan Politik

1. Analisis Sosial Warga NU

2. Nalar Dasar Kader NU

3. Pola Distribusi Kader

4. Membangun Kesepahaman Gerakan Antar Kader

5. Menumbuhkan Militansi Kader

6. Pola Komunikasi Top Bottom dan Bottom Up

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

C. Penutup
DAFTAR PUSTAKA

Ridwan,Nur Khaliq, NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan


Menjelang satu Abad, LKiS, Yogyakarta, 2008

Rinkes, DA, dalam H. 1083, 35 KITLV (Arsip ) sebagaimana dikutip oleh


Kutowijoyo, Raja, Priyayi dan Kawula, Ombak, Yogyakarta, 2006

Woodward, Mark R. Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus kebatinan,


LKiS, Yogyakarta, 2006

Salim, Hairus, HS dkk, Kultur Hibrida, Anak Muda NU di Jalur Kultural,


LKiS, Yogyakarta, 1999

A’la, Abd, Pembaruan Pesantren, Pustaka Pesantren, Yogyakarta, 2006

Sumarto, MD. Tanah Airku, dari Zaman ke Zaman, Jilid II, Mahabarata,
Jakarta, 1952

Felliard, Andree, NU Vis-à-vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna,


LKiS, Jogjakarta, 2002

Mubin, Nurul, Menangkal Bahaya Laten Gerakan Anti Aswaja NU,


LKiS, Yogyakarta, 2008

Armando, Ade, dkk (Suara Mahasiswa UI), Menyelamatkan Indonesia,


Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999

Husna, Lilis Nurul dkk, Forum Warga, Demokrasi Represetatif VS


Deliberatif, PP. Lakpesdam NU, Jakarta, 2004

Huda,Nor, Islam Nusantara, Sejarah Sosial Intelektual Islam di


Indonesia, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2007

Mann, Richard, Memperjuangkan Demokrasi di Indonesia, Handal Niaga


Pustaka, Jakarta, 1999

Manning, Chris, dkk (Eds), Indonesia di Tengah Transisi, Aspek-Aspek


Sosial Reformasi dan Krisis, LKiS, Yogyakarta, 2000

PW IPNU Jawa Tengah, Majalah Risalah Nusa, Edisi II, Januari 2008
Hermawan, Eman, Nalar Kekuasaan Kaum Pergerakan, KLIK R,
Yogyakarta, 2008

K. Bertens, Filsafat Kontemporer Prancis, Jilid II, Gramedia Pustaka


Utama, Jakarta, 2006

Steven Best dkk, Teori Posmodern, Interogasi Kritis, Boyan Publishing,


Malang, 2003
RESEARCH PROPOSAL

KRITIK NALAR DAKWAH JAM’IYYAH NAHDLATUL ULAMA

(Telaah Sosio Politik NU dengan Pendekatan Arkeologi dan Genealogi


Postmodernisme Michel Foucault)

Diajukan untuk menyusun Skripsi guna Memperoleh Gelar Sarjana S1


dalam Dakwah dan Komunikasi

Oleh:

ABAZ ZAHROTIEN
2105020

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI


UNIVERSITAS SAINS ALQURAN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2009NOTA PENGESAHAN

Proposal Saudara : Abaz Zahrotien


NIM : 2105020
Judul : KRITIK NALAR DAKWAH JAM’IYYAH
NAHDLATUL ULAMA
(Telaah Sosio Politik NU dengan Pendekatan
Arkeologi dan Genealogi Postmodernisme Michel
Foucault)

Telah diujikan oleh Dewan Penguji Fakultas Dakwah dan Komunikasi,


Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, pada tanggal :

22 April 2009

Dan dapat diterima sebagai kelengkapan menulis skripsi pada jurusan Komunikasi
dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UNSIQ Jawa
Tengah di Wonosobo.

Wonosobo, 22 April 2009

Penguji I Penguji II

Drs. Z. Sukawi, MA Drs. M. Abdul Kholiq, MA

Mengetahui,
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi,

Drs. Samsul Munir, MA