Anda di halaman 1dari 4

Winarsita Gilang S 1306369491 Teknik Elektro

RANGKUMAN BUKU Judul Buku : Buku Ajar 1 Kekuatan dan Keutamaan Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika Tebal Buku : 157 + 20 Halaman Pengarang : Bagus Takwin, Fristian Hadinata, dan Saraswati Putri Penerbit : Universitas Indonesia Kota Terbit : Depok Tahun Terbit : 2013 RANGKUMAN Pentingnya peran manusia dalam pendidikan yang berarti harusnya manusia dan pendidikan memiliki konsep yang memadai merupakan latar belakang dari penulisan buku ini. Penulis juga mendasarkan penulisan buku ini sebagai wadah yang menopang kerangka pikir dari penyelenggaraan MPKT-A di UI untuk menumbuhkan karakter mahasiswa. Di dalam pembukaan buku ini menjelaskan pentingnya pendidikan dalam memerdekakan dan meningkatkan kapabilitas manusia. Buku ini juga menjelaskan mengenai pengertian antara fungsi dan kapabilitas serta perbedaan keduanya. Selain itu, dalam buku ini juga dijelaskan pendekatan yang digunakan penyelenggara pendidikan di UI, bagaimana UI memperjuangkan kapabilitas dan kemerdekaan melalui pendidikan, dan menjelaskan penyelenggaraan MPKT sebagai usaha untuk mengembangkan kapabilitas mahasiswa di UI. Sesuai judul buku ini, penulis membagi buku ini menjadi 4 bab yaitu kekuatan dan keutamaan karakter, dasar-dasar filsafat, dasar-dasar logika, dan dasar-dasar etika. Pada bab satu, penulis membahas keutamaan dan kekuatan karakter dengan membaginya kedalam 8 subbab. Dijelaskan di bab ini bahwa kebahagiaan yang otentik adalah perpaduan perasaan positif dan penilaian terhadap hidup yang memuaskan berdasarkan kekuatan dan keutamaan karakter. Kebahagiaan otentik bersumber dari diri sendiri. Dan dijelaskan juga bahwa kekuatan karakter bersumber pada keberadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Pada subbab 2 di bab ini, kita dapat tahu bahwa karakter bukanlah kepribadian dan keduanya merupakan hal yang berbeda meskipun berkaitan dengan erat. Kepribadian adalah organisasi dinamis dari keseluruhan sistem psiko-fisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkunganya (dinamis). Karakter adalah kepribadian yang dievaluasi. Karakter diperoleh melalui pengasuhan dan pendidikan meskipun potensialitasnya ada pada setiap orang. Disini dijelaskan bahwa manusia memiliki otonomi dalam dirinya, tetapi di sisi lain juga menyesuaikan diri dengan lingkunganya secara unik. Pada subbab 3 di Bab 1 yang mencangkup kekuatan dan keutamaan karakter, disebutkan bahwa karakter yang kuat adalah karakter yang bercirikan keutamaankeutamaan yang merupakan keunggulan manusia. Penggalian, pengenalan, dan pengukuran keutamaan dapat dilakukan melalui teknik inventori, skala sikap, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan simulasi. Pada subbab berikutnya mengenai cara membedakan keutamaan, kekuatan karakter, dan tema situasional dijelaskan bahwa terdapat 3 level konseptual dari karakter, yaitu keutamaan, kekuatan, dan tema situasional dari karakter. Untuk mengenali masing-masing level diperlukan cara yang berbeda-beda dan ketiganya mempunyai hubungan yang hierarkis dimulai dari keutamaan, kekuatan, dan terakhir tema situasional. Oleh karena itu kita dapat sebutkan bahwa keutamaan merupakan ciri-ciri utama dari karakter. Terdapat 6 buah keutamaan disini, yaitu

Winarsita Gilang S 1306369491 Teknik Elektro

kebijaksanaan, keksatriaan, kemanusiaan, keadilan, pengolahan diri, dan transendensi. Keutamaan-keutamaan ini membentuk unsur psikologis di dalam diri manusia yang nama lainya adalah kekuatan karakter. Keutamaan disini dapat dicapai melalui pencapaian kekuatan karakter. Orang yang mempunyai satu atau dua saja keutamaan sudah dapat kita katakan sebagai orang yang memiliki kekuatan karakter. Lalu dalam bab ini terdapat juga istilah tema sosial, yaitu kebiasaan khusus yang mengarahkan orang untuk mewujudkan kekuatan karakter dalam situasi tertentu. Dalam pendidikan karakter, perancangan lingkungan yang memfasilitasi tampilnya tema situasional menjadi faktor penting untuk pembentukan karakter yang baik. Subbab selanjutnya dalam bab ini menjelaskan 10 kriteria karakter yang kuat. Lalu diikuti oleh subban 6 mengenai kekuatan dan keutamaan karakter yang membentuknya. Salah satunya terdapat keutamaan kognitif yang meliputi kebijaksanaan dan pengetahuan dan membentuk kekuatan karakter kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, mencintai kegiatan belajar, dan perspektif. Terdapat juga keutamaan-keutamaan lainya seperti interpersonal, emosional, kewarganegaraan, spiritual, dan pengabdian diri yang masing masing keutamaan tersebut membentuk kekuatankekuatan karakter yang unik. Pada subbab 7 di bab ini, dibahas karakter dan spiritualitas. Tertulis bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memahami keterkaitan dirinya dengan seluruh alam semesta, juga keterkaitan semua hal yang ada di alam semesta. Daya yang memungkinkan manusia untuk melakukan itu semua disebut spiritualitas. Istilah spiritualitas mempunyai pengertian yang luas oleh karena itumenghasilkan penafsiran yang berbeda-beda. Dalam salah satu pengertianya, spiritualitas merujuk pada sesuatu yang sangat religius, sakral, atau suci. Spiritualitas dapat berarti pula kepekaan seseorang terhadap alam sekitranya dan melakukan penghargaan terhadap alam sekitrnya dan tidak terpisah dari kehidupan seharihari. Karena dengan menghayati kehidupan sehari-hari, seseorang dapat merasakan perjalanan spiritualitas yang mendalam. Jadi pada subbab ini pada intinya dimensi spiritual manusia selalu berusaha melakukan penyelarasan dengan alam semesta dan menjawab pertanyaan tentang yang tak terbatas dan ditekankan disini bahwa karakter seseorang selalu didasari oleh spiritualitas. Pada subbab trakhir di dalam bab ini tentang keutamaan karakter dan kebahagiaan, ditekankan bahwa pembentukan karakter erat sekali hubunganya dengan pencapaian kebahagiaan. Sesuai dari definisi kebahagiaan bahwa orang yang bahagia adalah orang yang 1. Memiliki makna dari semua tindakan yang dilakukan, 2. Mengetahui kekuatan tertinggi, dan 3. Menggunakan kekuatan tertinggi tersebut untuk melayani sesuatu yangl lebih besar dari diri sendiri, tidak ada jalan pintas untuk mempersingkat pencapaian kebahagiaan. Pendidikan merupakan salah satu proses yang tidak instan untuk membentuk karakter yang pada akhirnya dari karakter yang telah terbentuk tersebut dicapailah kebahagiaan.Oleh karena itu, pendidikan haruslah diarahkan dengan baik dan terorganisir sesuai dengan 3 aspek pengertian kebahagiaan. Jika kita telusuri lagi dan jika kita pahami bahwa inti dari pendidikan adalah pembentukan karakter, maka seharusnya dicamkan pula bahwa tidak perlu diadakan pembentukan karakter selain pendidikan formal itu sendiri, karena seharusnya pendidikan formal ikut turut serta membentuk karakter seseorang. Bab 2 di dalam buku ini berisi tentang dasar-dasar filsafat. Dijelaskan bahwa terdapat berbagai macam istilah, diantaranya:

Winarsita Gilang S 1306369491 Teknik Elektro

Ontologi, istilah ontologi berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu onta yang berarti ada dan logia yang berarti ilmu, kajian, prinsip atau aturan. Ontologi secaraumum didefinisikan sebagai studi filosofis tentang hakikat ada (being ), eksistensi, ataurealitas, serta kategori dasar keberadaan dan hubungan mereka. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji teori-teori tentang sumber-sumber,hakikat, dan batasbatas pengetahuan. Pertanyaan epistemologis yang hendak dijawab disini adalah bagaimana proses perolehan pengetahuan pada diri manusia dan sejauh manaia dapat mengetahui. Dalam epistemologi terdapat empat cabang yang lebih kecil (1)epistemologi dalam arti sempit; (2) filsafat ilmu; (3) metodologi; dan (4) logika.Epistemologi dalam arti sempit merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan yang ditelusuri melalui 4 pokok, yaitu 1) sumber pengetahuan, 2) struktur pengetahuan, 3) keabsahan pengetahuan, dan 4) batas-batas pengetahuan. Pengetahuandi sini adalah pengetahuan umum atau pengetahuan sehari-hari (knowledge) atau pengetahuan yang berguna bagi manusia secara praktis (eksistensial pragmatis). Axiologi adalah bidang filsafat yang mencoba menjawab pertanyaan Apa yangdilakukan manusia dan apa yang seharusnya dilakukan manusia? Axiologi mengkaji pengalaman dan penghayatan dari perilaku-perilaku manusia. Cabang filsafat yangtermasuk dalam axiologi adalah etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yangmengkaji nilai apa yang berkaitan dengan kebaikan dan apakah itu perilaku baik. Kata etika menunjuk dua hal. Pertama: disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya. Kedua: pokok permasalahan disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilaihidup manusia yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku manusia. Estetikamengkaji pengalaman dan penghayatan manusia dalam menanggapi apakah sesuatu ituindah atau tidak. Jadi estetika membahas soal-soal keindahan yang dipersepsi olehmanusia. Aliran Filsafat, hanya Immanuel Kant yang menjelajahi ketiga wilayah sistematikafilsafat secara lengkap lewat tiga bukunya: Critic of Pure Reason, Critic of Practical Reason, dan Critic of Judgement. F.W. Nietzsche, seorang filsuf Jerman, hanya menelaah wilayah epistemologi, metafisika, estetika dan etika. Filsuf-filsuf lain yangcukup terkenal dan berpengaruh di antaranya Rene Descartes, David Hume, F.G.W.Hegel, Edmund Husserl, Karl Marx dan Bertrand Russell. Dalam perkembangan filsafat, berbagai aliran, berbagai isme bermunculan. Berikut adalah beberapa aliran yang cukup berpengaruh dalam sejarah perkembanganfilsafat: a.Rasionalisme: aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber dari akal (rasio), ditegaskan di sini bahwa akal yang mampu mendapatkan pengetahuan secara jernih (clear ) dan lugas/terpilah (distinct ) tentang realitas. b.Empirisme: aliran dalam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. c.Kritisisme: aliran filsafat yang dibangun oleh filsuf besar: Imanuel Kant. Aliran ini pada dasarnya adalah kritik terhadap rasionalisme dan empirisme yang dianggapterlalu ekstrem dalam mengkaji pengetahuan manusia. Akal menerima bahan-bahan yang belum tertata dari pengalaman empirik, lalu mengatur dan menertibkannyadalam kategori-kategori.

Winarsita Gilang S 1306369491 Teknik Elektro

d.Idealisme: aliran filsafat yang berpendirian bahwa pengetahuan adalah prosesprosesmental ataupun proses-proses psikologis yang sifatnya subyektif. Materi tidak memikikedudukan yang independen melainkan hanya merupakan materialisasi dari pikiranmanusia.e.Vitalisme: aliran filsafat yang memandang hidup tidak dapat sepenuhnya dijelaskansecara mekanis karena pada hakikatnya manusia berbeda dengan benda mati. Manusia memiliki kehendak yang mampu mengubah keadaannya yang statis menjadi lebihdinamis. f.Fenomenologi: aliran filsafat yang mengkaji penampakan (gejala-gejala) dan memandang gejala dan kesadaran selalu saling terkait. Analisis terhadap istilah merupakan langkah penting yang harus dilakukan untuk mendapatkan makna yang tepat dan memadai. Pada bab 4 yang merupakan bab terakhir, dijelaskan bahwa etika adalah refleksi filosofis atas moral seseorang. Sedangkan moralitas adalah kepercayaan atau perilaku tentang baik dan buruk. Etika disini secara spesifik mengacu pada studi sistematis dan filosofis mengenai bagaimana kita seharusnya bertindak. Etika mempunyai fokus tentng bagaimana kita mendefinisikan sesuatu itu baik atau tidak. Moralitas lebih dipahami sebagai suatu keyakinan untuk menjalani hidup yang baik. Ini berarti moralitas bersifat subjektif sedangkan etika bersifat objektif. Etika dalam bab ini dibagi menjadi 4 bidang utama, yaitu etika terapan, etika normatif, etika deskriptif, dan metaetika. Etika terapan adalah penerapan teori-teori etika secara lebih spesifik baik pada domain, privat, maupun publik. Etika normatif adalah cabang etika yang berfokus pada prinsip-prinsip yang seharusnya dari tindakan yang baik. Etika deskriptif adalah cabang etika yang hanya melakukan observasi terhadap apa yang dianggap baik oleh individu atau masyarakat. Metaetika berfokus pada arti dari pernyataan-pernyataan etika. Dalam bab 4 terdapat juga istilah nonrealisme etis, yaitu istilah yang menyatakan bahwa manusia-lah yang menciptakan keberadaan etika dan hal-hal yang dianggap etis. Dijelaskan di bab ini bahwa etika sebenarnya tidak secara langsung mengharuskan orang mengikuti hasil analisisnya. Etika memberikan sebuah peta moral atau kerangka berfikir yang dapat digunakan untuk menemukan jalan keluar dari masalah-masalah moral yang sulit. Terdapat juga pengertian-pengertian moral menurut beberapa pakar. Menurut pendapat kant, moral tidak lagi menjadi argumen etis, tetapi menjadi keharusan yang bersifat mengikat, karena itulah dinyatakan sebagai imperatif kolegoris. Menurut mill, moral adalah dorongan utama bagi seseorang bersikap. Etis menurutnya adalah syarat mencapai kebahagiaan. Sedangkan menurut Ross, moral lahir sebagaisesuatu yang bersifat kondisional dan bersifat intuitif.