Anda di halaman 1dari 40

Makalah Student Centered Learning Ilmu Material 2010

Gipsum

Kelompok 5 : Adi Nugroho (021011079) Laily Iman Sari (021011080) Diesta Dhania (021011083) Febtrias Mandrabuti P. (021011084) Ayesha Apriliana (021011085) Firman Fath (021011086) Raisa (021011089) Ismardiyanti W. P. (021011090) Fitransyah Indradi (021011091) Irham M. Adinugraha (021011092) Kristiara Sitaresmi (021011093) Sari Kemaladini (021011094) Notaricia Sartika F. S. P. N. (021011095) Aureola Mayantika (021011096) Konita Nasir (021011097) Mirna C. P. (021011098) Yohana Natalia (021011099) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 2010

PRAKATA

Kami ucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas berkat rahmat dan izinnya, kami dapat menyelesaikan makalah Ilmu Material Kedokteran Gigi yang berjudul Gipsum. Adapun makalah ini disusun oleh : 1. Irham M. Adinugraha (021011092) selaku ketua kelompok yang bertanggung jawab dalam memimpin jalannya diskusi serta yang mengatur dan membagi tugas setiap anggota kelompok. Koordinator juga bertugas mengingatkan serta membantu setiap anggota kelompok dalam melaksanakan tugasnya. 2. Ismardiyanti Windhia Putri (021011090) selaku sekretaris kelompok yang bertanggung jawab mencatat hasil diskusi secara keseluruhan serta membantu ketua kelompok dalam membagi dan mengatur tugas setiap anggota kelompok, dan sekretaris juga bertugas membantu setiap anggota kelompok dalam menjalankan tugasnya. 3. Diesta Dhania (021011083) selaku koordinator tim makalah yang bertanggung jawab dalam pembuatan makalah yang berupa softcopy maupun hardcopy, dan koordinator juga bertanggung jawab dalam mengatur dan membagi tugas pada tiap anggota tim makalah dalam merapikan dan menata makalah. 4. Aureola Mayantika (021011096) selaku koordinator tim power point yang bertanggung jawab dalam pembuatan power point untuk presentasi dan bertugas mengatur dan membagi tugas pada anggota tim power point dalam pengerjaannya. 5. Febtrias Mandrabuti (021011084) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 6. Ayesha Apriliana (021011085) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.

7. Yohana Natalia (021011099) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 8. Sari Kemaladini (021011094) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 9. Laily Iman Sari (021011080) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 10. Firman Fath (021011086) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 11. Adi Nugroho (021011079) selaku anggota tim makalah yang bertugas membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar. 12. Notaricia Sartika (021011095) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi lebih baik dan menarik. 13. Raisa (021011089) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi lebih baik dan menarik. 14. Konita Nasir (021011097) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi lebih baik dan menarik. 15. Mirna Cathryna Putri (021011098) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan

powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi lebih baik dan menarik. 16. Fitransyah Indradi (021011091) selaku distributor materi yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan materi mentah dari setiap anggota kelompok dan mengolah serta merapikan materi mentah tersebut dan memberikannya pada koordinator tim makalah dan koordinator tim powerpoint untuk diolah lebih lanjut. Distributor juga bertanggung jawab dalam mencetak makalah. 17. Kristiara Sitaresmi (021011093) dari setiap anggota kelompok dan mengolah serta merapikan materi mentah tersebut dan memberikannya pada koordinator tim makalah dan koordinator tim powerpoint untuk diolah lebih lanjut. Distributor juga bertanggung jawab dalam mencetak makalah. Kami berharap makalah ini dapat membantu kami dan semua orang yang berada di bidang ilmu kedokteran gigi. Dan kami juga berharap makalah yang telah kami buat dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswamahasiswa ilmu kedokteran gigi dalam memahami materi-materi yang perlu diketahui tentang gipsum. Kami juga mengucapkan terima kasih atas segenap bantuan dan bimbingan dosen pembimbing serta kerja keras tim penyusun sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Demikian pengantar yang dapat kami berikan, semoga makalah ini bias bermanfaat bagi semua.

Surabaya, 24 November 2010

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

I PENDAHULUAN
Gipsum merupakan produk samping dari beberapa reaksi kimia, umumnya digunakan sebagai konstruksi dalam industri atau material bahan bangunan, digunakan juga di bidang pendidikan, bidang seni, di bidang kedokteran umum maupun kedokteran gigi. Dalam bidang kedokteran gigi, penggunaan gipsum ini sangat meluas, dan juga salah satu bahan yang sering digunakan. Penggunaan bahan tersebut dapat digunakan dalam membuat model untuk gigi tiruan, yang terdapat campuran plaster didalam kandungannya, plaster jenis lain yang dikenal sebagai stone gigi, diaduk dengan air,dituang ke dalam cetakan, dan dibiarkan mengeras, cetakan plaster yang mengeras tersebut berfungsi sebagai mold untuk membentuk model positif, atau model plaster. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa diperlukan kehadiran pasien. Selain itu, ada juga produksi gipsum sintesis yang merupakan terobosan karena mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai wallboard, gipsum yang diproduksi secara benar ternyata memiliki kualitas lebih baik daripada gypsum yang diperoleh dari penambangan. FYI, AS merupakan Negara perintis dalam memproduksi gipsum sintesis. Seringnya pemakaian bahan gipsum ini dalam bidang kedokteran gigi dikarenakan terdapat banyak keuntungan yang dapat dirasakan, yaitu mudah penggunaannya, harganya terjangkau, ketepatan dan kestabilan dimensi baik, mamapu menghasilkan detail halus dari bahan cetak. Dan ada juga kerugiannya, gypsum memiliki bahan radioaktif yag tidak baik untuk kesehatan tubuh. Untuk kerugian tersebut, kita dapat menanggulanginya dengan cara penanggulangan yang dapat menghindarkan kita dari bahan radioaktif tersebut saat sedang proses menggunakan gypsum.

II PEMETAAN MATERI

Gipsum

Pengertian

Sifat

Jenis

Pembuatan

Manipulasi

Pengolahan

Inovasi

Secara Umum Kegunaan secara umum Dalam Kedokteran Gigi Kegunaan dalam kedokteran gigi Syarat-syarat

Kimia

Tipe I

Plaster

Pemilihan

Hindari terjebaknya udara Penyimpanan

Fisik

Tipe II

Hidrocal

Perbandingan w/p

Viskositas

Tipe III

Densite Temperatur

Kebersihan

Compressive Strength

Tipe IV Pencampuran Tipe V Waktu Pengerasan Awal

Hardness & Abrasion

Setting Expansion

Final Setting Time Control Setting Time Metode Faktor-Faktor Akselerator Retarder

III TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Pengertian Gypsum 3.1.1 Gypsum Secara Umum

Beberapa orang mengenal gypsum setelah menjadi suatu produk, seperti papan gypsum, list profil gipsum, maupun gypsum yang digunakan dibidang kesehatan untuk membantu pemulihan kesehatan orang yang mengalami patah tulang. Batu gypsum putih terbentuk secara alami dengan sendirinya pada era geologi 100 sampai 200 juta tahun yang lalu. Jika didefinisikan secara kimia, batu gypsum disebut dengan kalsium sulfat dihidrat dengan rumus kimia CaSO4.2H20. Terbentuk sebagai batu endapan oleh adanya penguapan air laut. Dalam sejarah bumi, lapisan gypsum tertutup oleh gumpalan lain dari batu yang semuanya terkena pengaruh kekuatan geologis. Karena naiknya tekanan, lapisan gypsum kehilangan air kristal dan kalsium sulfat anhidrit terbentuk. Jika kalsium sulfat anhidrit yang bebas air dihubungkan kembali dengan air, maka dengan perlahan akan mulai membentuk kembali menjadi gypsum. Jenis ini digali melalui pertambangan terbuka dan pertambangan bawah tanah. Tidak seperti pertambangan bahan baku lain, penggalian gypsum hanya memerlukan bidang permukaan yang relatif kecil. Oleh karena itu, gangguan terhadap alam dapat diminimalisasi dari segi ruang dan waktu. Selain gipsum alami, terdapat pula gipsum yang terbentuk dari limbah hasil produksi, sebagai contoh adalah limbah pembuatan pupuk dan proses Desulfurisasi Batubara yang juga dapat menghasilkan gipsum. Kedua bahan baku gipsum tersebut, baik alami maupun hasil proses (limbah) dapat dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan papan gipsum dan gipsum powder, tetapi apakah kualitasnya sama, hal inilah yang perlu diteliti lebih lanjut.

3.1.2 Kegunaan Gipsum Secara Umum

1.

Gipsum terutama digunakan untuk dinding dan langit-langit; dikenal di konstruksi sebagai Drywall .

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Bahan perekat Penyaring dan sebagai pupuk tanah. Plester dari Paris (splints bedah; cetakan pengecoran, pemodelan) Campuran bahan pembuatan lapangan tenis. Sebagai pengganti kayu pada zaman kerajaan-kerajaan. Sebagai pengental tofu karena memiliki kadar kalsium yang tinggi. Sebagai penambah kekerasan untuk bahan bangunan Untuk bahan baku kapur tulis Sebagai indikator pada tanah dan air Sebagai agen medis pada ramuan tradisional China. Menambahkan untuk air yang digunakan untuk homebrewing. Sebuah komponen dari semen Portland yang digunakan untuk mencegah flash pengaturan beton .

14. 15.

Tanah / potensi air pemantauan (tanah ketegangan kelembaban). Pada periode abad pertengahan digunakan untuk membuat Gesso yang digunakan untuk surat-surat diterangi dan disepuh dengan emas dalam manuskrip.

3.1.3 Gypsum dalam bidang Kedokteran Gigi

Gypsum adalah mineral yang ditambang dari berbagai belahan dunia, merupakan produk samping dari beerapa proses kimia. Secara kimiawi, gypsum yang dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat. Gypsum pada kedokteran gigi digunakan untuk membuat model studi dari rongga mulut serta struktur maksilo-fasial dan sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium kedokteran gigi yang melibatkan pembuatan protesa gigi. Gips adalah kalsium sulfat

dihidrat,CaSO4.2H2O. Saat

mengeras, dimana suhunya cukup tinggi untuk

menghilangkan kadar airnya, gips berubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat, (CaSO4)2.H2O,dan pada temperatur lebih tinggi. Gypsum sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis secara umum sebelum diklasifikasikan yaitu : Plaster dan stone gigi. Kandungan utama plaster dan stone gigi adalah kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2. H2O atau CaSO4. . H2O. bergantung pada metode pengapuran bentuk hemihidrat yang berbeda dapat diperoleh. Bentuk ini disebut -hemihidrat dan -hemihidrat. Adanya penulisan -hemihidrat dan -hemihidratini menurut kandungan mineral yang ada didalamnya. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 156). Produk gypsum telah digunakan secara meluas dalam kedokteran gigi untuk membuat model studi dari rongga mulut dan struktur maksilo-facial dan sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium kedokteran gigi yang melibatkan pembuatan protesa gigi. Berbagai jenis plaster digunakan untuk membuat cetakan dan model dimana protesa dan restorasi kedokteran gigi dibuat. Bila plaster diaduk dengan silica maka dikenal dengan bahan tanam gigi. Bahan tanam tersebut digunakan untuk membentuk mold guna mengecor restorasi gigi dengan logam yang dicairkan. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 155). Penggunaan gypsum dalam kedokteran gigi juga dapat diperlihatkan dalam membuat gigi tiruan. Misalnya, campuran plaster of Paris dan air ditempatkan dalam sendok cetak dan ditekan pada jaringan rahang. Plaster dibiarkan mengeras dan kemudian cetakan dikeluarkan. Dokter gigi sekarang memiliki bentuk negative dari jaringan yang dibentuk tersebut yang dibuat dalam rongga mulut. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 155). Bila jenis plaster lain yang dikenal dengan stone gigi, yang sekarang diaduk dengan air sekarang diaduk dengan air kemudian dituang kedalam cetakan model negative yang tadi lalu dibiarkan sampai mengeras. Lalu cetakan plaster yang mengeras tersebut menjadi mold untuk menjadi model positif atau model master. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa kehadiran pasien. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 155).

3.1.4 Kegunaan gypsum dalam bidang kedokteran gigi 1. 2. 3. Memperoleh cetakan yang akurat jaringan rongga mulut. Restorasi. Piranti orthodonti.

4.

Impression Plaster, digunakan dalam pengambilan cetakan untuk rahang yang edentulous (tidak ada gigi).

5.

Plaster of Paris a) Mounting atau pemasangan model pada artikulator atau okludator. b) c) d) Sebagai bahan study model. Sebagai bahan tanam pada proses flasking. Sebagai bahan impression (impression material) yang

dimodifikasi dengan bahan kimia. 6. Dental stone a) b) Sebagai bahan pembuatan model dan die. Sebagai binder bagi bahan investment yang sesuai untuk penuangan alloy pada suhu dibawah 1200 derajat celcius. 7. Investment Gips untuk Prosedur Inlay Casting, bahan ini digunakan untuk memperoleh mold dalam proses casting, pada pembuatan inlay, crown dan bridge.

8.

Investment Gips untuk Chrom Cobalt Base Alloy, bahan ini digunakan sebagai bahan tanam dalam prosedur casting pada pembuatan metal prothesa, partial prothesa dan bridge.

3.1.5 1.

Syarat-syarat Gypsum dalam bidang Kedokteran Gigi Sifat mekanis baik, artinya harus kuat sehingga tidak mudah rusak atau tergores selama proses pembuatan piranti restorasi atau saat ukir malam, dll.

2. 3.

Dapat mereproduksi detail yang halus dengan batas yang tajam. Memiliki stabilitas dimensional yang baik (menunjukkan perubahan dimensi yang sangat kecil saat setting dan hendaknya cukup stabil).

4.

Kompatibel dengan bahan cetak, tidak terjadi interaksi antara permukaan cetakan dengan permukaan model, die.

5.

Murah dan mudah dipergunakan.

3.2 Sifat-Sifat Gypsum

3.2.1 Sifat Kimia (komposisi) Gypsum

Bahan dasar gypsum adalah mineral gypsum kalsium sulfat dihidrat (CaSO4.2H2O). Apabila dipanaskan, CaSO4.2H2O akan kehilangan 1,5 grmmol H2O yang kemudian akan menjadi kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2.H2O, yakni produk gypsum yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi. Berikut dibawah ini adalah proses reaksi nya : 2CaSO4.2H2O + pemanasan Calcium Sulfate Dehydrate (CaSO4)2.H2O + 3H2O Calcium Sulfate Hemihydrate

Hasil yang diperoleh dari pemanasan merupakan bubuk (powder). Bila kalsium sulfat hemihidrat dicampur dengan air, maka akan terjadi reaksi kimia : (CaSO4)2.H2O + 3H2O 2CaSO4.2H2O + 3900 kal/gmol

Reaksi yang terjadi exothermic yang menghasilkan panas. Bila 1 gmol kalsium sulfat hemihidrat bereaksi dengan 1,5 gmol air (H2O), maka akah dihasilkan 1gmol kalsium sulfat dihidrat dan panas yang dikeluarkan sebesar 3900 kalori

3.2.2 Sifat Fisik Gypsum

Gipsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan, gipsit alabaster, satin spar dan selenit. Gipsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat terjadinya, yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk sekitar fumarol vulkanik, efflorescence pada tanah atau gua-gua kapur, tuduh kubah garam, penudung oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping.

Gipsum alami yang berwarna putih kekuningan

Butiran Gipsum

3.2.3 Viskositas

Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai "kekentalan", atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas berkisar 21.000-101.000 centipoises (cp) y Perbandingan dari dental stone dengan vacuum high strength diaduk dengan tangan dan

Viskositas dari dental stone high strength dan impression plaster Material Dental stone high strength A B C D E Impression Plaster 27.000 29.000 50.000 54.000 101.000 23.000 Viskositas (cp)

3.2.4 Compressive Strength Kekuatan kompresi atau biasa disebut compressive strength

merupakan kekuatan yang diperoleh bila kelebihan air yang dibutuhkan untuk hidrasi hemihidrat tertinggal dalam contoh bahan uji. B esarnya Kekuatan kompresi dari beberapa produk gipsum yang paling rendah ialah 12 MPa dan yang paling tinggi 38 MPa atau sekitar 7000psi. B erikut data kekuatan kompresi dari macam-macam gipsum : 1. Plaster cetak (type I) memiliki kekujatan kompresi 580 psi 2. Plaster model (type II) memiliki kekuatan kompresi 1300 psi 3. Stone type III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam 20,7 Mpa atau sekitar 3000 psi, tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa atau sekitar 5000psi 4. Type IV memiliki kekuatan kompresi 34,5 Mpa atau sekitar 5000 psi 5. Ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini, dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi type I V , kekuatan kompresi type V ini sekitar 7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W/P Compressive strength ini berhubungan dengan rasio W/P dan 290

pengadukan. Jika air yang digunakan lebih banyak, maka compressive strength nya turun. B erikut ialah compressive strength dari 3 tipe gypsum yang berbeda 1 jam setelah pengerasan : o Model Plaster 12,5 MPa o Dental Stone 31 MPa o Dental Stone High strength 45 MPa

3.2.5 Su r fa ce H a rd ne ss a n d A b rasio n Re sis t a nce

Surface Hardness (kekerasan permukaan) dan abrasion resistance (ketahanan abrasi) sangat penting diperhatikan agar tidak banyak atau bahkan tidak ada kehilangan bentuk pada model selama proses manipulasi untuk mempelajari oklusi atau membuat restorasi. Morfologi partikel gypsum menentukan sifat produk gypsum. Dua faktor yang berkontribusi terhadap kekuatan dan daya tahan abrasi produk akhir ialah : bentuk partikel dan porositas Untuk meningkatkan kekerasan pada permukaan gypsum yang telah mengeras, dapat ditambahkan epoxy atau monomer metal metakrilat

3.2.6 S ett i ng expa n sio n Semua produk gips mengalami setting expansion (perubahan dimensi/ekspansi selama proses pengerasan). Ekspansi pada dental plaster biasanya 0,00%-0,30%. Pada dental stone 0,00%-0,20%, dental stone high strength 0,00%-0,10%, dan pada dental stone high strength high expansion adalah 0,10%-0,30%. Setting expansion bisa dikontrol dengan memanipulasi variable. Campuran yang kental dan cara pengadukan yang cepat bisa meningkatkan jumlah setting expansion, sedangkan campuran yang lebih encer atau cair dan cara pengadukan yang lambat dapat mengurangi jumlah setting expansion.

Tabel perubahan dimensi yang terjadi selama proses pengerasan gypsum. (sumber : A.R. Docking)

3.3 Macam-macam Gypsum

3.3.1 Plaster cetak ( type I ) Dinamakan plaster of paris. Merupakan jenis bahan bangunan berdasarkan kalsium sulfat hemihidrat. Digunakan dari bahan bangunan mirip adukan semen dan didapat dari pemanasan 150C. Setelah pengeringan, plaster tetap sangat lembut dan mudah dimanipulasi dengan alat logam maupun ampelas. Cocok sebagai finishing, bukan bahan materi. Karena waktu setting cepat, dibutuhkan retardans untuk memperlambat. Gipsum tipe I saat ini jarang digunakan dalam kedokteran gigi, lebih banyak diganti dengan 17lginate atau bahan elastomer. Gipsum tipe I biasa nya digunakan untuk mencetak rahang tak bergigi dan memiliki kekuatan kompresi 580 + 290
psi.

Gambar 1. Bahan Plaster cetak

Gambar 2. Gypsum type I

3.3.2 Plaster model ( type II ) Dinamakan Plaster of model. Tipe ini umumnya digunakan di laboratorium sebagai model studi pembangunan mengartikulasikan batu gips. Pada dasarnya bahan gypsum tipe II sama dengan tipe I namun lebih kuat. Setting time 3 menit dan mudah dimanipulasi. Gipsum tipe II memliki harga paling murah diantara 17ypsum yang lain. Biasanya berwarna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang pada umumnya berwarna dan memiliki kekuatan kompresi 1300 psi.

Gambar 3. Bahan Plaster model Modelling

Gambar 4. Gypsum type II, Extra White,

Gambar 5. Gypsum type II for general use

3.3.3 Dental stone ( type III ) Dinamakan Dental stone. Gypsum tipe III memiliki kandungan utama kalsium sulfat hemihidrat dan merupakan hasil pengapuran gypsum. Gipsum tipe III lebih kuat dari tipe II karena memerlukan air lebih sedikit serta ideal untuk pembuatan model dari full atau partial denture, model ortodonsi dan lain lain. Secara tradisional, gypsum tipe III berwarana kuning atau putih dan memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000psi).

Gambar 6. Gypsum type III for orthodontic

Gambar 7. Gypsum type III for models

3.3.4 Dental stone, high strength low expansion (type IV) Dinamakan Dental stone high strength low expansion. Persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi pengerasan minimal. Digunakan sebagai die stone untuk pembuatan model restorasi. Gipsum tipe IV memiliki kekuatan kompresi 5000psi atau 19amper 2x lebih kuat dari tipe III.

Gambar 8. Gypsum type IV

Gambar 9. Extra-hard die stone

Gambar 10. Extra-hard gypsum Type IV for orthodontic models

3.3.5 Dental Stone, high strength high expansion (tipe V) Dinamakan Dental stone high strength high expansion. Gipsum tipe V merupakan produk gipsum yang paling tinggi daya kompresi dan kekuatannya. Biasanya digunakan sebagai casting atau pembentukan positif logam, juga digunakan untuk crown, brides, dies, maupun cetak parsial. Gipsum ini berwarna biru atau hijau

serta paling banyak membutuhkan biaya dibandingkan semua produk gips. Ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini dan memiliki kekuatan kolpresi yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi type IV, kekuatan kompresi type V ini sekisatar 7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W:P. Ekspansi pengerasan ditingkatkan dari maksimal 0,10% - 0,30%.

halaman kosong ini berisi table yang sudah di fotokopi fian

3.4 Pembuatan Gypsum Berbagai jenis produk gipsum digunakan dalam kedokteran gigi secara kimiawi identik, dalam arti, bahwa mereka terdiri dari kalsium sulfat hemihidrat, tetapi mereka mungkin berbeda dalam bentuk fisik tergantung pada metode yang digunakan untuk pembuatan mereka. Ada berbagai cara pemanasan untuk mendapatkan kalsium sulfat hemihidrat, yaitu : 3.4.1 Plaster Pemanasan gypsum pada suhu 110-130oC dan menggunakan ketel terbuka yang berhubungan langsung dengan udara, maka dihasilkan tipe hemihidrat yang merupakan bahan dasar gypsum tipe I dan II. Bentuk Kristal seperti spongy dan tidak beraturan (ireguler) dan partikel porous. Berikut ini adalah reaksi kimia nya : 110-130oC CaSO4,2H2O ketel terbuka CaSO4,1/2H2O hemihidrat

3.4.2 Hidrocal Merupakan cara pembuatan gypsum untuk mendapatkan -calcium sulfate hemihydrate yang merupakan bahan dasar gypsum III (dental stone). Langkah nya ialah Gipsum didehidrasikan di bawah udara lalu diuapkan pada suhu 125oC. Bentuk kristal beraturan dan tidak porous. Bentuk bubuk berupa partikel prismatic, lebih homogeny dan tidak padat

3.4.5 Densite Gypsum tipe IV dan V dihasilkan dari pemanasan gypsum dalam autoclaf dan ditambahkan bahan kimia, yaitu larutan 30% kalsium klorida. Setelah pemanasan, larutan klorida dicuci dengan air panas 100oC dan dihasilkan hemihidrat berbentuk bubuk padat yang sangat

halus dan kurang porus. Perbedaan tipe IV dan V yaitu pada tipe IV ditambah garam tambahan untuk mengurangi setting expansion 120-130oC CaSO4,2H2O Autoclaf + CL CaSO4,1/2H2O hemihidrat

3.5 Manipulasi

Plaster atau gips hendaknya dicampur dengan air atau larutan PE dengan perbandingan 100gr dengan 50 sampai 60ml. Harus dijaga agar tidak terbentuk gelembung udara sewaktu mengaduk karena gelembung ini dapat muncul di permukaan dan dapat menyebabkan ketidaktepatan hasil cetakan (Combe,1992) Untuk lebih detailnya, manipulasi dipengaruhi oleh hal hal sebagai berikut :

3.5.1 Pemilihan Untuk proses awal, harus dilakukan pemilihan gips berdasarkan aplikasi yang akan dibuat. Sebagai contoh dental plaster dipilih karena rendahnya kebutuhan fisik dan biaya yang digunakan dalam proses manipulasi. Namun ada kalanya kita memilih dental stone karena dibutuhkan kekuatan dan akurasi yang bagus dalam working castnya. Di beberapa instansi, sebuah kombinasi yang terdiri dari satu atau lebih produk gypsum sangat cocok karena dapat mengurangi pengeluaran biaya.

3.5.2 Perbandingan W/P ( rasio air/bubuk) Banyaknya air dan hemihidrat harus diukur secara akurat dari beratnya. Rasio air terhadap bubuk hemihidrat biasanya tercermin dalam rasio W/P atau hasil bagi yang diperoleh bila berat (atau volume) dari air dibagi dengan berat bubuk. Perbandingan atau rasio biasanya disingkat sebagai W/P. Misalnya, perbandingan W/P adalah 0,6, bila 100gr stone gigi dicampur dengan 60 ml air. Perbandingan W/P adalah faktor penting dalam menentukan sifat fisik dan

kimia dari produk gypsum akhir. Misalnya, semakin tinggi perbandingan W/P, semakin lama waktu pengerasan dan semakin lemah produk gypsum. Meskipun perbandingan W/P bervariasi untuk untuk merek plaster atau stone tertentu, berikut ini adalah beberapa kisaran umum yang dianjurkan: Plaster tipe II 0,45-0,50. Stone tipe III 0,28-0,30 dan stone tipe IV 0,22-0,24

3.5.3 Temperatur Temperatur air yang ideal adalah sama dengan suhu ruangan (25oC). Karena apabila suhu air kurang 100 F akan mempercepat setting sedangkan bila suhu air lebih 100 F akan memperlambat setting, dan jika suhu air mencapai 212 F maka gips tidak akan setting. 3.5.4 Pencampuran (mixing) Begitu pengadukan dimulai, pembentukan kristal ini meningkat, pada saat yang sama, kristal-kristal diputuskan oleh spatula pengaduk dan didistribusikan merata dalam adukan dengan hasil pembentukan lebih banyak nukleus kristalisasi. Jadi, waktu pengadukan berkurang a) Secara manual : 1. Air dimasukkan terlebih dahulu ke dalam rubber atau plastic bowl kurang lebih hingga 130mm 2. Setelah itu, masukkan bubuk gypsum ke dalam nya secara perlahan 3. Diamkan selama 20 detik 4. Aduklah dengan spatula berbentuk round-edge yang lebarnya sekitar 20-25mm dan panjangnya 100mm 5. Aduklah selama 1 menit (2 putaran/detik) hingga halus, homogen, dan permukaan nya mengkilap 6. Jika hasil porus, dapat ditanggulangi dengan menggunakan vibrasi yang gunanya membantu mengalirkan adonan ke dalam cetakan dan mengeluarkan gelembung udara

b) Menggunakan Vacuum Mixer :

3.5.5 Waktu Pengerasan AwalWaktu Kerja Setelah dicampur selama 1 menit,working time dimulai. Selama viscositas dari campuran bertambah, bahan tidak lagi mengalir dan mulai megeruh. Saat mulai mengeruh berarti campuran telah mencapai initial setting. Atau bisa dilihat pada awal campuran dimana bahan menjadi kaku tetapi tidak keras dan tidak dapat dibentuk serta terjadi ekspansi termis atau adanya panas. Pada umumnya, initial setting terjadi selama 8 10 menit mulai dari awal pengadukan

3.5.6

Waktu Pengerasan Akhir (Finnal Setting Time) Finnal setting dicapai saat bahan dapat dengan aman dibentuk, tetapi

memiliki kekuatan dan resistensi yang minimal. Saat final setting reaksi kimia selesai dan model terasa dingin saat disentuh.Sebagian besar pabrik merekomendasikan 1 jam sampai akhirnya bahan bisa dengan aman dilepas dari cetakan. Final Setting Time harus: o o Aman untuk dimanipulasi Kekerasan dan ketahanan abrasi minimal

o o

Reaksi kimia sempurna Dingin bila dipegang permukaannya

3.5.7 Control Setting Time

3.5.7.1 Metode Control Setting Time Kelarutan hemihidrat dapat ditingkatkan atau dikurangi, misal bila kelarutannya ditingkatkan, maka kejenuhan dari kalsium sulfat akan lebih besar. Kecepatan deposisi kristalin juga ditingkatkan. Beberapa Metode untuk mengendalikan waktu pengerasan yaitu: 1. mengurangi atau meningkatkan kelarutan hemihidrat 2. mengurangi atau meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi 3. waktu pengerasan juga dapat dikurangi maupun ditingkatkan

3.5.7.2 Faktor-faktor Control Setting Time Faktor-faktor yang dapat memengaruhi pengendalian waktu pengerasan yaitu :

1. Ketidakmurnian Bila proses pengapuran tidak sempurna sehingga tetap terdapat partikel gypsum, atau bila pabrik menambahkan gypsum waktu pengerasan akan diperpendek karena peningkatan dalam potensi nucleus kristalisasi. Bila ortorombik anhidrat juga ada, periode induksi akan ditingkatkan; proses tersrbut dapat berkurang bila terdapat heksagonal anhidrat

2. Kehalusan Semakin halus ukuran partikel hemihidrat,semakin cepat adukan mengeras; khususnya bila produk tersebut telah digiling selama

proses pembuatan. Tidak hanya kecepatan kelarutan hemihidrat menjadi meningkat, tetapi juga nucleus gypsum lebih banyak, karena itu kecepatan kristalisasi terjadi lebih cepat. 3. Rasio w/p Perbandingan air dan bubuk yang tepat akan sangat menentukan proses setting reaksi. Semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan, semakin sedikit jumlah nukleus pada unit volume. Akibatnya, waktu pengerasan diperpanjang. y Penambahan air air y setting time lambat. Penambahan satu bagian

mengurangi kekuatan sebesar 50% mempercepat setting time, lebih sukar

Pengurangan air

pencampuran dan manipulasi, ada udara terjebak, model tidak akurat y Pengurangan rasio W/P tidak dianjurkan bila adonan akan dituangkan ke dalam hasil pencetakan. Pengurangan rasio w/p diperbolehkan bila adonan akan digunakan untuk maenanam model dalam articulator

4. Pengadukan (spatulation) y y Lebih panjang pengadukan akan mempercepat setting time Lebih cepat pengadukan akan menambah setting expansion Efek Rasio W/P dan Waktu Pengadukan terhadap Waktu Pengerasan Plaster of Paris Rasio W/P 0.45 0,45 0,60 Waktu Pengadukan (menit) 0,5 1,0 1,0 Waktu Pengerasan (menit) 5,25 3,25 7,25

0,60 0,80 0,80 0,80

2,0 1,0 2,0 3,0

4,50 10,50 7,75 5,75

Dari Gibson CS, dan Johnson RN: J Soc Chem Ind 51:25T, 1932

5. Temperatur Meski pun efek temperature pada waktu pengerasan cenderung menyesatkan dan mungkin bervariasi dari satu plester (atau stone) dengan yang lainnya, sedikit perubahan terjadi antara 0oC (32oF) dan 50oC (120oF) tetapi bila temperature adukan plester-air meningkat kurang lebih 50oC (120oF), peningkatan perlambatan terjadi bertahap. Begitu temperatur mencapai 100oC (212oF), tidak ada reaksi yang terjadi. Pada temperatur yang lebih tinggi, reaksi 2 terjadi kebalikan dengan kecenderungan Kristal-kristal gypsum apapun yang terbentuh diubah menjadi hemihidrat.

6. Perlambatan atau percepatan Metode yang paling praktis adalah dengan menambahkan

bahan kimia. Bahan kimia yang berfungsi untuk mempercepat waktu pengerasan disebut aselerator, sedangkan bahan kimia yang berfungsi untuk memperlambat waktu pengerasan disebut retarder.

3.5.7.3 Aselerator dan Retarder

Pabrik menambahkan accelerator dan retarder dalam bubuk untuk mengubah kelarutan hemihidrat dalam air.

Aselerator Aselerator yang sering digunakan adalah kalium sulfat. Larutan 2% kalium sulfat mempersingkat setting time dari 10 menit menjadi 4 menit daripada menggunakan air biasa (Craig, 1993). Ball mill accelerator (BMA) adalah bubuk kristal gypsum yang sangat halus. BMA mempercepat pembentukan kristal dengan cara pembentukan nucleation sites di mana kristal-kristal dapat terbentuk secepatnya. Penambahan ini dapat menyebabkan peningkatan densitas gypsum yang terbentuk dan penurunan makroporositas. (Gmouh in Austin, 2007). Sulfat yang larut bertindak sebagai aselerator, sementara bubuk gypsum (kalsium sulfat dihidrat) mempercepat proses reaksi. Jadi bila ditambahkan aselerator, kelarutan hemihidrat naik, setting time pendek gunakan larutan garam potassium sulfat (K2SO4) 2% yang

ditambahkan dalam air, terra alba, Na2B4O7 Retarders Sitrat, asetat, dan borat umumnya memperlambat reaksi. Retarder umumnya bekerja dengan membentuk lapisan penyerap hemihidrat untuk mengurangi kelarutan dan menghambat pertumbuhan Kristal-kristal gypsum yang ada. Jenis retarder lain terdiri dari garam yang membentuk suatu lapisan garam kalsium yang kurang larut dibandingkan dengan sulfat. Aksi bahan kimia tambahan ini juga mempengaruhi sifat lain seperti ekspansi pengerasan. (Anusavice, 2003). Borax (Na2B4O7.10H2O) adalah retarder yang baik Penggunaan larutan borax 2% pada bubuk gypsum dapat memperpanjang setting time menjadi beberapa jam. (Craig, 1993). Bila ditambahkan retarder, kelarutan hemihidrat berkurang, setting time panjang sodium sitrat, asetat. Kombinasi aselerator dan retarder dapat memperpanjang waktu pengerjaan pada gypsum sekaligus membuat gypsum mengeras (set) dalam jangka waktu yang masuk akal. (Austin, 2007). Accelerator dan retarder gunakan boraks,

dikatakan sebagai antiexpansion agent expansion. Contoh akselerator :

dapat mengurangi terjadinya setting

Kalsium asetat1% setting expansio n

linier untuk kompensasi pengkerutan logam saat dingin. Sedangkan contoh retarder yaitu Natrium sulfatmengurangi setting expantion 0,05%.

kekuatan kompresi suatu model plaster yang digambarkan terhadap waktu ketika aselerator dan retarder ditambahkan pada plaster, Peningkatan kekuatan merupakan ukuran kecepatan pengerasan atau kesempurnaan proses

3.6 Pengolahan Gypsum

3.6.1 Hindari terjebaknya udara Adanya kandungan udara dalam pencampuran gips akan dapat menyebabkan porositas pada hasil akhir dari gips. Sehingga terlebih dulu menuangkan air ke dalam wadah setelah itu memasukkan powder.

3.6.2 Penyimpanan Gips dapat menyerap air dari lingkungan. Kelembaban dan tempat yang delat dengan sumber air akan berpengaruh buruk pada powdernya. Hal ini akan mempengruhi waktu setting, sehingga gips sebaiknya disimpan dalam kontainer tertutup.

3.6.3 Kebersihan Peralatan manipulasi gips harus dijaga kebersihannya. Seperti yang disebut diatas waktu setting gips akan lebih cepat karena pengadukan. Bowl, spatula, dan vibrator harus segera dibersihkan segera sebelum setelah menipulasi, sehingga tidak terkontaminasi bahan lain (Hatrich dkk,2003).

3.7 Inovasi

1. Penggunaan Aditif untuk Meningkatkan Sifat Mekanik Produk Gypsum Untuk kebanyakan aplikasi dental, hal ini akan sangat bermanfaat untuk

mengembangkan produk gipsum yang memiliki perubahan sifat mekanik. Kekuatan, kekerasan permukaan, dan ketahanan yang baik terhadap abrasi merupakan pertimbangan penting. Saat ini bahan gips yang tersedia adalah plester gigi dan dental stone yang rapuh, dengan sedikit lekukan dan ketahanan abrasi. Telah ditemukan bahwa untuk menghasilkan batu gigi dengan sifat mekanik unggul, yaitu dengan penggabungan aditif. Combe dan Smith1 digunakan sebagai aditif lingnosulfonate untuk mengurangi kebutuhan air pada dental stone. Aditif ini meningkatkan kekuatan dan kekerasan batu. Kompensasi untuk peningkatan hasil dalam setting perluasan dan setting time dicapai dengan penambahan kalium sulfat. Alternatif aditif dapat mengurangi kebutuhan air pada produk gipsum, tapi sistem aplikasi dental potensial seperti itu tampaknya tidak pernah diselidiki sampai sekarang. Misalnya, Ridge dan Boell2 melaporkan bahwa pengaruh arabic gum dan kalsium oksida. Dalam kombinasi, aditif ini mengurangi kebutuhan air, peningkatan

modulus pecah, dan mengurangi perluasan pengaturan dari plester. Pekerjaan ini dilakukan untuk mempelajari efek dari aditif di atas pada sifat dari plester gigi dan dental stone. 2. Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave Tersedianya material baru yang lebih murah tentu akan menguntungkan bagi industri konstruksi, apalagi jika memiliki kualitas lebih baik dan menggunakan bahanbahan alam. PERSPEKTIF Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) telah lama digunakan sebagai bahan baku pembuat karung goni dan kertas. Dengan inovasi teknologi, serat Kenaf dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan semen-gypsum yang banyak digunakan sebagai material bahan bangunan. Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya menggunakan teknologi autoclave. Dengan pengerasan autoclave, papan semen-gypsum dapat mencapai kekerasan dan kekuatan optimum dalam waktu maksimum 24 jam dari yang biasanya membutuhkan waktu selama satu bulan. Hasilnya adalah papan yang lebih ringan namun lebih kuat dan tahan rayap. Faktor yang mendukung pemilihan :
y

Sifat fisis dan mekanis lebih baik, terutama sifat mekanis dengan nilai keteguhan rekat, keteguhan lentur, keteguhan patah lebih baik

Kekuatan pegang sekrup lebih tinggi dibanding papan semen-gypsum biasa

Ketahanan terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah

Potensi Aplikasi: Dapat dikembangkan di industri bahan bangunan. Inovator: Nama : Dr.lr. Dede Hermawan, MSc Institusi : IPB Alamat : Kantor Direktorat Riset dan Kajian Strategis, Ged. Rektorat IPS Lt. 5, Kampus IPS Darmaga Bogor, 16680 Status Paten: TELAH DIPATENKAN 3. Dempul Tulang dengan Gipsum Bahan pengganti tulang yang lebih murah dan mudah didapat, menjadi pemikiran drg. Ika Dewi Ana, PhD. Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu memulai penelitiannya tentang bahan pengganti tulang pada 1999. Sebenarnya, para ahli telah menggunakan koral sebagai bahan pengisi tulang (bone filler) dan bahan perancah (scaffold). Tapi koral sulit diolah sesuai kebutuhan individu yang memerlukan. Selain itu, prosesnya perlu jumlah koral yang besar karena sedikit yang bisa dipakai sebagai bahan pengganti tulang. Para pencinta lingkungan akan protes keras. Ika berusaha menjawab tantangan itu dengan gipsum (CaSO4.2H2O). Betul, itu bahan yang dipakai tukang bangunan untuk plester dinding hingga digunakan dokter untuk balutan gips tulang yang patah. Gipsum sangat unik karena mudah dibentuk sesuai kebutuhan. Selain itu, gipsum mudah diperoleh. Ika mengaku pernah

menemukan sedimen alami gipsum di Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Yogyakarta. Gipsum juga bisa diambil dari produk sampingan alias limbah pabrik. Misalnya pada industri keramik dan industri kimia. Produk yang dihasilkan berupa gipsum sintetis.

4. Pembuatan Telinga Palsu

Dalam bidang kedokteran umum, produk gypsum tipe IV digunakan untuk pembuatan telinga palsu sedangkan produk gypsum tipe II digunakan untuk tangan yang patah.

Gambar cetakan telinga yang terbuat dari gypsum

5. Resume Inovasi Gipsum Antibacterial gypsum composition

Inovasi ini merupakan inovasi pada gipsum kedokteran gigi yang telah dipatenkan oleh Doo Suek Nam pada tahun 2007. Inovasi ini dibuat agar para dokter gigi dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih mengantisipasi infeksi bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi. Secara umum, gipsum plaster adalah gipsum yang sangat baik untuk membuat gigi tiruan dengan berbagai model, baik gigi tiruan total, gigi tiruan parsial, mahkota, jembatan gigi, dan lain lain. Dalam pembuatan gigi tiruan, diperlukan material cetak seperti agar dan alginat.

Material yang digunakan dalam pembuatan gigi tiruan harus memiliki dimensi yang tepat, tahan terhadap reaksi kimiawi, permukaannya lembut dan bisa kontak dengan bermacam-macam material cetak, mudah dibentuk, dan setting time baik. Untuk meningkatkan ketepatan dimensi, diperlukan penambahan zat yang dapat mencegah ekspansi seperti tartrat, sulfat, atau oksalat. Agar diperoleh gipsum dengan kekuatan yang baik, kekerasan yang baik, dan permukaan yang lembut diperlukan penambahan metal sulfat dan melaminformaldehid resin pada gipsum plaster. Material cetak hidrokoloid seperti agar dan alginat memiliki kekurangan yakni tidak memiliki permukaan yang lembut, akan tetapi material komposit yang terbentuk dari agar dan alginat yang telah dikembangkan akhir-akhir ini memberi kelebihan mudah dibentuk yang merupakan sifat dari agar dan efisiensi harga dari alginate dan akhirnya banyak digunakan pada aplikasi klinik. Akan tetapi, komposisi material gipsum yang telah disebutkan sebelumnya tidak memiliki fungsi antibakteri maupun sterilisasi. Hal ini tidak menutup kemungkinan pada saat model gigi dibentuk di rongga mulut pasien, bermacammacam bakteri pathogen yang ada di rongga mulut hinggap di gipsum dan menyebabkan infeksi pada model gipsum. Inovasi yang dibuat oleh Doo Suek Nam ini dibuat untuk menyelesaikan masalah yang disebutkan diatas dan inovasi nyata yang dihasilkan ialah komposisi gipsum yang bersifat antibakteri agar dapat mencegah infeksi dari bakteri patogen. Inovasi ini juga dibuat agar dapat menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut pasien. Untuk menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan komposisi material gipsum yang terdiri dari model gigi -plaster dan kumpulan zat antibakteri organic yang tediri atas nitrogen. Biasanya zat antibakteri yang digunakan itu poliheksametilen guanidine fosfat. -plaster dan zat antibakteri dicampur dengan rasio 1000:1.

Pada komposisi material gipsum, zat antibakteri yang digunakan haruslah zat yang aman dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia, tidak menyebabkan iritasi dan cocok untuk pengobatan yang higienis baik. Terlebih lagi, poliheksametilen guanidine fosfat yang berbentuk bubuk putih dengan pH 6.5-7 ini sangat efektif dalam membasmi berbagai macam bakteri. Metode pembuatan komposisi material gypsum antibakteri : 1. Gipsum alami dilumat hingga berukuran seperti buah apricot (30-50mm), lalu dibagi-bagi hingga berukuran gula(0.3-0.5mm) 2. Material yang sudah dibagiibagi tersebut dikeringkan dengan suhu 180C dalam 2-3 jam, lalu material kering tersebut dimasukkan ke perapian dan dipanaskan dengan temperature 700-800C selama 2,5 jam 3. -plaster yang dihasilkan dibagi dengan tahap sebelumnya dibagi dengan cara disaring hingga berbentuk seperti tepung gandum(50m) 4. Tambahkan poliheksametilen guanidine fosfat sebagai zat antibakteri ke plaster yang didapat dari tahap sebelumnya agar menghasilkan komposisi material gypsum antibakteri.

IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dalam serangkaian pembahasan yang ada, tim penulis menyimpulkan bahwa: 1. Gipsum adalah hasil tambang mineral yang didapat dari berbagai belahan dunia. Bahan ini merupakan produk samping dari beberapa proses kimia. Ditinjau dari sifat kimianya, gipsum yang dihasilkan untuk penggunaan dalam bidang kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO4 . 2H2O) murni. 2. Gipsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gipsum berbentuk lapisan di antara batuan-batuan sedimen seperti batu gamping, serpih merah, batu pasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk endapan dalam satuan batuan sedimen. 3. Dalam manipulasi gipsum, terdapat beberapa proses yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan tipe gipsum, suhu, pencampuran (mixing), waktu pengerasan (initial- final setting time), serta penyimpanan dan kebersihannya. Pada proses pengolahan gypsum itu sendiri harus tepat dalam memperhitungkan takaran air/bubuk (rasio w/p), bahan separasi, waktu pengadukan, proses pengadukan, dan kontaminasi. 4. Tahap setting time mempunyai metode khusus, yang dimulai dari penambahan maupun pengurangan kelarutan hemihidrat, kemudian jumlah nucleus kristalisasi sehingga sampai pada mengurangi maupun lapisan

mempercepat waktu pengerasan. Sedangkan beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi pengerasan gipsum yaitu kehalusan: semakin halus

ukuran partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras, rasio w/p: semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan, semakin sedikit jumlah nucleus pada unit volume. Lalu perlambatan dan percepatan: metode yang paling efektif dan praktis untuk mengendalikan waktu pengerasan adalah dengan cara menambahkan bahan kimia (aselerator) tertentu pada adukan plaster atau stone gigi.

4.2 Rekomendasi (berupa Inovasi) Berdasarkan keseluruhan pembahasan dalam makalah ini, tim penulis mengajukan rekomendasi yang berisi beberapa inovasi yaitu: 2. Penggunaan Aditif untuk Meningkatkan Sifat Mekanik Produk Gypsum Combe dan Smith1 digunakan sebagai aditif lingnosulfonate untuk

mengurangi kebutuhan air pada dental stone dengan cara meningkatkan kekuatan dan kekerasan batu dan dapat mengurangi kebutuhan air pada produk gipsum. 3. Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave Serat Kenaf dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan semen-gypsum yang banyak digunakan sebagai material bahan bangunan. Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya

menggunakan teknologi autoclave. 4. Dempul Tulang dengan Gipsum Bahan pengganti tulang yang lebih murah dan mudah didapat dengan memakai gipsum (CaSO4.2H2O). Gipsum mudah dapat dari limbah industri keramik dan industri kimia dengan produk yang dihasilkan berupa gipsum sintetis. 5. Pembuatan Telinga Palsu

Dalam bidang kedokteran umum, produk gypsum tipe IV digunakan untuk pembuatan telinga palsu sedangkan produk gypsum tipe II digunakan untuk tangan yang patah. 6. Antibacterial gypsum composition Inovasi ini dibuat agar para dokter gigi dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih mengantisipasi infeksi bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi dengan cara menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut pasien.

DAFTAR PUSTAKA McCabe, John F. 1990. Applied dental Materials seventh edition Ralph W. Phillips, M.S., D.Sc. Elements of Dental Materials Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC Craig, Robert G, and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material: 11th edition. United State of America : Mosby Van Noorth, Richard. 2002. Dental Material second edition. London : Mosby Zwemer, Thomas J. 2008. Mosbys Dental Dictionary 2nd Edition. Elsevier McCabe, John F. .2008. Applied Dental Materials ninth edition. Oxford: Blackwell Publishing Anusavice, Kenneth J. .1996. Phillips Science of Dental Materials tenth edition. Pennsylvania: W.B. Saunders Company www.scribd.com/doc/39029910/Lap-Tut-Gypsum Wahyu Winda, Skripsi Beberapa Sifat dan Kegunaan dari Bahan Gypsum, 2001, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara find-docs.com www.tukanggypsum.com