Anda di halaman 1dari 9

REFLEKSI KASUS

TATALAKSANA PUTING TERBENAM


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh: Muhammad Abid Ulil Absor 200903101228

Diajukan Kepada: dr. Handayani, M.Sc., Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD SETJONEGORO WONOSOBO FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2014

DAFTAR ISI
REFLEKSI KASUS ................................................................................................................................ 1 TATALAKSANA PUTING TERBENAM ............................................................................................ 3 A. B. C. D. E. Anatomi Payudara ....................................................................................................................... 3 Patofisiologi laktasi ..................................................................................................................... 4 Manfaat Asi ................................................................................................................................. 5 Kerugian Pasi ............................................................................................................................... 7 Tatalaksana Puting Terbenam..................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................. 9

TATALAKSANA PUTING TERBENAM A. Anatomi Payudara Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit, diatas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memprodiksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram. payudara terletak pada sisi sternummeluas setinggi antara costa ke dua dan keenam. Pada fasia superfisialis dinding rongga dada diatas muskulus pectoralis mayor dan dibuat stabil oleh ligamentum suspensorium. Payudara masing-masing berbentuk tonjolan setengah bola. Ukuran payudara berbeda setiap individu juga bergantung pada stadium perkembangan dan umur. Terkadang salah satu payudara ukurannya agak lebih besar dari pada payudara yang satunya. 1. Struktur makroskopis a. cauda axillaris : jaringan payudara yang meluas kearah payudara b. areola : daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar dan mengalami pigmentasi. Areola berwarna merah muda pada wanita yang berkulit cerah, lebih gelap pada wanita yang bekulit coklat dan warna tersebut lebih gelap pada waktu hamil. Didaerah areola terletak kira-kira 20 glandula sebacea. Dan pada kehamilan areola membesar (tuberkulum montgomery). c. Papila mamae : suatu tonjolan dengan panjang kira-kira 6mm. terletak dipusat areola mammae setinggi costa 4. Tersususn atas jaringan erektil berpigmen dan merupakan bangunan yang sangat peka. Permukaan papila berlubanglubang berupa ostium papilare kecil-kecil yang merupakan duktus lacifer. Bentuk puting ada empat macam yaitu bentuk normal, pendek atau datar, panjang dan terbenam. 2. Struktur mikroskopis a. Alveoli: mengandung sel-sel yang mensekresi susu. Setiap alveoli dilapisi oleh sel-selyang mensekresi air susu disebut acini yang mensekresikan faktorfaktor dari darah yang penting untuk pembentukan air susu. Dikelilingnya alveolus terdapat sel-sel mioepitel. Apabila sel ini dirangsang oleh oksitosin akan berkontraksi sehingga mengalirkan air susu kedalam duktus lacitifer.
3

Alveolus merupakan unit yang terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos, dan pembuluh darah. Lobulus merupakan kumpulan dari alveolus .sedangkan lobus kumpulan dari lobulus 15-20 lobus tiap payudara. Asi disalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). b. Tubulus lactifer: saluran kecil yang berhubungan dengan alveoli c. Ductus lactifer: saluran sentral yang merupakan muara bebebrapa tubulus lactifer. Meluas dari ampula sampai papilla mammae. d. Ampulla : bagian dari ductus lacitifer yang melebar, merupakan tempat menyimpan air susu dan terletak dibawah areola. e. Jaringan ikat dan lemak: jaringan penunjang dan pelindung. B. Patofisiologi laktasi Pembentukan air susu sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan kontrol laktasi serta penenkanan fungsi laktasi. Pada seorang ibu yang menyusui dikenal dengan 2 reflek yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu reflek prolaktin dan reflek let down. a. Reflek prolaktin Pada akhir kehamilan terutama hormon prolaktin memegang peranan untuk memegang untuk memebuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas, karena aktifitas prolaktin oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya tinggi. Setelah ibu melahirkan berhubungan lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progeteron berkurang,. Ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai respon mekanik. Rangsang ini dilanjutkan kehipotalamus melalui medula spinalis dan mesenphalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaiknya akan merangsang pengeluaran faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor yang memacu prolaktin akan merangsang adenohipofise (hipofise anterior) sehingga keluar prolaktin. Hormon ini akan merangsang sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu yang menyusui akan menjadi normal 3bulan setelah melahirkan sampai
4

penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak ada peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak meyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2-3. Pada ibu yang menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan-keadaan seperti: stres atau pengaruh psikis,rangsangan puting susu, coitus, obat-obatan tranquilizer hipotalamus seperti reserpin, klorpromazin, fenotiazid. Sedangkan keadaan yang menghambat pengeluaran prolaktin adalah gizi ibu yang jelek dan obat-obatan seperti ergot. b. Reflek let down Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofise, rangsangan yang berasal dari hisapan bayi ada yang dialnjutkan ke neurohipofise (hipofise anterior) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus, sehingga terjani involusi pada organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel mioepitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat dari alveoli dan masuk kesistem duktulus yang untuk selanjutnya mengalir melalui duktus laktiferus masuk kemulut bayi. Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi. Sedangkan faktor yang menghambat adalah stres seperti keadaan bingung, takut dan cemas. Bila ada stres dari ibu yang menyusui maka akan terjadi blokade dari reflek let down. Disebabkan karena adanya pelepasan dari adrenalin yang menyebaban vasokontriksi dari pembuluh dara alveoli. Sehingga oksitosin sedikit harapannya untuk dapat mencapai target organ mioepitelium. Akaibat dari tidak sempranya reflek let down makan akan terjadi penumpukan air susu didalam alveoli yang secra klinis tampak payudara membesar. Payudara yang membesar dapat berakibat menjadi abses, gagala untuk menyusui dan rasa sakit. Rasa sakit ini akan merupakan stres lagi bagi seorang ibu sehingga stres akan bertambah. C. Manfaat Asi Pemberian asi secara mutlak penting dilakukan mengingat manfaat yang akan diperoleh si bayi. Menurut badan kesehatan dunia (WHO) hal ini menghindari alergi dan menjamin kesehatan bayi secara optimal. Karena diusia ini bayi belum memeiliki

enzim pencernaan sempurna untuk mencerna makanan atau minuman lain. Meski begitu, kebutuhan si buah hati akan zat gizi akan terpenuhi jika mengonsumsi asi. Disamping itu manfaat asi dapat dilihat beberapa aspek diantaranya aspek gizi dan aspek imunologik. a. Aspek gizi Komposisi asi yang mudah dicerna selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencrnakan zat-zat gizi yang terdapat dalam asi. Asi mengandung zat-zat gizi yang berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi dan anak. Asi memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dan Casein merupakan salah satu keuntungan asi dibandingkan dengan susu sapi. Asi mengandung lebih banyak Whei yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein asi lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whei:Casein adalah 20:80 sehingga tidak mudah diserap. Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit terutama diare. Jumlah kolostrum yang diproduksi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuia dengan kebutuahan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Selain kolostrum zat yang terkandung didalam asi diantaranya taurin , DHA, dan AA. Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam asi yang berfungsi sebagai neurotransmitter dan berperan penting untuk proses maturasi otak. Sedangkan DHA dan AA adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam asi sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan. b. Aspek Imunologik Asi mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi. IgA dalam asi kadarnya cukup tinggi. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E.coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan. Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi disaluran pencernaan. Lysosim merupakan enzim yang melindungi bayi

terhadap bakteri (E.coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam asi 300 kali lebih banyak daipada susu sapi. Sel darah putih pada 2minggu pertama pada asi lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari tiga macam. Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan , dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu. Faktor bifidus sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri bayi yang merugikan.

D. Kerugian Pasi
Asi lebih sempuran dibandingkan susu formula mana pun yang biasanya berbahan susu sapi. Kandungan protein dan laktosa pada susu manusia dan susu sapi itu berbeda. Susu sapi kadar proteinnya lebih tinggi yakni 3,4% sedangkan susu manusia hanya 0.9%. kadar laktosa susu manusia lebih tinggi yakni 7% sedangkan susu sapi 3,8%. Fungsi dari kedua zat gizi ini bertolak belakang. Laktosa sangat penting dalam proses pembentukan myelin otak. Myelin atau pembungkus saraf ini bertugas mengantarkan rangsangan yang diterima sibayi seperti mencium bau ibunya serta mendengar dan merasakan nafas sang bunda.Sementara susu sapi kandungan protein yang tinggi diperlukan untuk membantu pembentukan otot. Sapi memang butuh otot kuat untuk melakukan pekerjaan berat untuk menarik gerobag. 4 Hasil penelitian dari oxford university dan institute for social and economic research sebagaimana dilansir daily mail, menyebutkan bahwa anak bayi yang mendapat asi eklusif akan tumbuh menjadi anak yang pintar dalam membaca, menulis, dan matematika. Salah satu peneliti maria lacovou mengemukakan asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids) yang terkandung didalam asi membuat otak bayi berkembang. 4

E. Tatalaksana Puting Terbenam


Puting susu terbenam adalah puting susu yang tidak dapat menonjol dan cenderung msuk kedalam, sehingga asi tidak dapat keluar dengan lancar. Penyebab puting susu terbenam biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan payudara dan kurangnya perawatan payudara sejak dini.5

Penyebab tersering ada dua faktor yaitu faktor menyusui dan faktor psikologis ibu. Faktor menyusui diantaranya penyusuan tertunda , perlekatan yang tidak baik, penyusuan yang jarang atau dilakukan dalam waktu singkat, tidak menyusui pada malam hari, pemberian botol dan empeng dan pemberian minuman lainselain asi. Sedangkan faktor psikologis ibu seperti kurangnya percaya diri, ibu stres, ibu terlalu lelah, ibu tidak suka menyusui, ibu mengalami baby blues.5 Penyebab yang jarang terjadi biasanya disebabkan oleh karena ibu menggunakan pil kontrasepsi, obat dieuretik, kekuragan gizi yang cukup berat, ibu minum-minuman beralkohol, merokok, tersisanya jaringan plasenta dalam rahim, dan payudara yang kurang berkembang.5 Puting terbenam dapat dikoreksi dengan gerakan Hoffman dan penggunaan pompa puting. Cara yang paling sering digunakan adalah dengan gerakan Hoffan, yang dilakukan dua kali sehari. Gerakan Hoffamn yaitu letakan jari telunjuk dan ibu jari pada tepi areola.gerakan ini akan mereganggakn kulit kalang payudara dan jaringan dibawahnya. Gerakan ini diulang beberapa kali. Gerakan tersebut diulang dengan letak jari telunjuk dan ibu jari berputar sekeliling puting.5 Bila pompa puting susu tidak tersedia, dapat dibuat dari modifikasi spuit injeksi 10ml. Bagian ujung dekat jarum dipotong dan kemudian pendorong dimasukkan dari arah potongan tersebut. Cara penggunaan pompa puting susu yaitu dengan menempelkan ujung pompa (spuit injeksi) pada payudara, sehingga puting berrada didalam pompa. Kemudian tarik perlahan sehingga terasa ada tahanan dan dipertahankan selama 30detik sampai 1menit. Bila terasa sakit , tarikan dikendorkan. Prosedur ini diulangi terus hingga beberapa kali dalam sehari. 5

DAFTAR PUSTAKA 1. Verralls, Sylvia. 1997. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam kebidanan. Jakarta, EGC. 2. Machfuddin, Emfud. 2004. Patofisiologi Pembentukan Asi. Palembang. 3. Buku panduan manajemen Laktasi: Dit. Gizi Masyarakat-Depkes-RI, 2001 4. Kementrian kesehatan republik indonesia. Asi eklusif, bayi sehat ibu pun sehat. 5. Soetjiningsih. (1997). ASI Panduan Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai