Anda di halaman 1dari 64

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sangat menghargai ilmu dan ulama (ilmuwan), sehingga
kedudukan ilmu dan ilmuwan sangat tinggi dan mulia dalam parameter
Islam. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman ;Niscaya Allah akan
meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan
diantara kamu beberapa derajat(Al-Mujadilah:11). Karena kedudukan
ilmu yang sangat tinggi, maka Islam mewajibkan ummatnya untuk
mempelajari ilmu, sehingga diharapkan bekerja berdasarkan ilmunya,
bukan mengikuti seseorang tanpa tujuan. Begitu pentingnya ilmu sehingga
pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dienyam dan dirasakan.
Dengan pendidikan, manusia bisa memilih mana yang baik dan mana yang
tidak baik, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak, dan
seterusnya, sehingga pantaslah Allah mengatakan dalam kalam-Nya akan
mengangkat derajat orang yang berilmu beberapa derajat.
Pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara terencana, sadar
dan terarah dengan tujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar siswa mampu menghadapi tantangan dimasa yang
akan datang. Pada hakekatnya proses belajar mengajar adalah proses
komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui
media/saluran tertentu ke penerima pesan.
2

Dalam hal ini yang sangat penting pendidikan memegang
peranan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Bangsa yang maju
selalu diawali dengan kesuksesan pendidikan, sebab lembaga
pendidikan sebagai tempat mencetak sumber daya manusia berkualitas
dan menjadi motor kemajuan dan kemakmuran bangsa. Namun
kenyataanya, beberapa orang menyebutkan bahwa problema yang dihadapi
pendidikan di Indonesia bagaikan penyakit kronis yang sudah menahun,
sehingga sangat sulit untuk menyembuhkannya. Komentar seperti itu
terkesan pesimistik, karena mengesankan bahwa problemanya begitu sulit
dan seperti tidak ada jalan untuk menyembuhkan. Barangkali yang lebih
bijak dikatakan bahwa problema pendidikan di Indonesia sangat serius,
sehingga diperlukan upaya sungguh sungguh, sistemik, dan konsisten
untuk memperbaikinya.
Dalam pendidikan dan pengajaran, matematika salah satu mata
pelajaran yang mendapat prioritas untuk dikembangkan, karena
matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari- hari.
Melihat hal ini guru matematika dituntut untuk lebih meningkatkan
kemampuannya serta kejeliannya dalam pelajaran matematika. Guru juga
harus mampu menjadi relasi serta mau menerima berbagai masukan dari
siswanya, agar para siswa lebih leluasa dalam mengembangkan
kemampuannya dan para siswa tidak merasa terkait dalam
mengembangkan kreatifitasnya. Seorang guru dalam membuat rencana
3

pengajaran yang akan diberikan dikelas harus mampu membangkitkan
semangat belajar dan motivasi belajar siswa, selain itu juga harus mampu
membuat siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada saat ini antusias siswa untuk belajar mata pelajaran matematika
masih rendah, selain itu kurang terampilnya guru dalam merngembangkan
pembelajaran sangat berpengaruh, fokus pembelajaran hanya terpusat pada
guru (Teacher centered) dan kurangnya keaktifan siswa dalam proses
belajar mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
pada mata pelajaran matematika adalah faktor penyampaian materi atau
metode pembelajaran matematika pada saat proses belajar mengajar belum
dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran serta tidak menarik dan
tidak memotivasi siswa untuk belajar. Selain itu juga faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar matematika adalah faktor guru yang belum cukup
terampil dalam pemilihan dan penerapan, strategi, model pembelajaran
yang cocok dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dalam proses
belajar mengajar bersifat pasif serta faktor lingkungan yang kurang
kondusif. Seperti terlihat pada kegiataan belajar mengajar yang
berlangsung di MTs NW kotaraja, setelah peneliti melakukan observasi,
terlihat siswa masih belum menyadari keadaan belajarnya, mereka tidak
serius dalam mengikuti pembelajaran, masih sering main-main ketika guru
menjelaskan terlebih lagi ketika tidak ada guru, siswa juga jarang yang
mencatat, sebagian besar mengerjakan yang lain atau tidak sesuai dengan
yang diinginkan guru. Kemudian dari segi guru yang masih menggunakan
4

metode klasik (ceramah) yang mengakibatkan proses belajar hanya terpaku
pada guru dan siswa mendengarkan penjelasan guru tanpa ada kritis dan
kreatifitas siswa dalam mengembangkan pemikirannya untuk memahami
materi yang diajarkan, seperti yang terlihat pada KBM di MTs NW
Kotaraja. Menurut hasil observasi dan wawancara dengan guru mata
pelajaran, nilai rata-rata untuk mata pelajaran matematika yang diambil
dari hasil ulangan siswa adalah 6,5 sedangkan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) untuk mata pelajaran matematika adalah 6,9. Ini berarti
belum tuntas karena belum mencapai KKM.
Sebagai tolak ukur dari permasalahn peneliti ingin menerapkan
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang dirancang dengan
pendekatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan atau disingkat PAIKEM. Disebut demikian karena
pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan anak, mengembangkan
kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan. Jadi kondisi-
kondisi tersebut harus segera dioptimalkan dengan cara menggunakan
sistem pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
(PAIKEM), dengan tujuan agar siswa dapat menyenangi dan lebih
semangat untuk belajar matematika dan dengan adanya alat peraga siswa
terlibat langsung dengan apa yang sedang dipelajari untuk membangkitkan
kreativitas. Merujuk dengan teori seorang ahli yaitu, Jerome Beruner yang
mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi
kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga).
5

Dengan ini penulis berfikir untuk mengangkat sebuah judul yaitu,
Efektivitas Penggunaan Alat Peraga Dengan Pendekatan
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
(PAI KEM) Terhadap Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan
Teorema Pytagoras Siswa Kelas VI I I MTs NW KotarajaTahun
Pelajaran 2013/2014.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat diidentifikasi masalah-
masalah yang berkaitan dengmmman pembelajaran matematika adalah
sebagai berikut:
1. Prestasi belajar matematika masih rendah.
2. Motivasi dan perhatian siswa dalam pembelajaran matematika kurang.
3. Metode pembelajaran yang diterapkan masih bersifat konvensional.
4. Guru sebagai satu-satunya sumber utama dalam pembelajaran.
5. Siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
6. Pemanfaatan alat peraga/media pembelajaran masih kurang.
C. Batasan Masalah
1. Pembatas Objek
Yang menjadi objek penelitian ini terbatas pada pengaruh penggunaan
alat peraga dengan pendekatan Pembelajran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) terhadap hasil belajar
matematika pokok bahasan Teorema Phytagoras siswa kelas VIII MTs.
NW Kotaraja.
6

2. Pembatas Subjek
Subjek penelitian ini terbatas pada siswa MTs. NW Kotaraja Tahun
Pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah
1. Apakah penggunaan alat peraga dengan pendekatan Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM)
efektif terhadap hasil belajar matematika pokok bahasan teorema
Phytagoras siswa kelas VIII MTs. NW Kotaraja Tahun Pelajaran
2013/2014?
2. Bagaimana tingkat keefektivan penggunaan alat peraga dengan
pendekatan Pembeajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan (PAIKEM) terhadap hasil belajar matematika
pokok bahasan teorema Phytagoras siswa kelas VIII MTs. NW
Kotaraja?
E. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui hasil belajar setelah diterapkan penggunaan alat
peraga dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) terhadap hasil belajar
matematika pokok bahasan teorema Phytagoras siswa kelas VIII
MTs. NW Kotaraja Tahun Pelajaran 2013/2014.
b. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keefektifan penggunaan
alat peraga dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif,
7

Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan PAIKEM dengan melihat
hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan teorema
Phytagoras siswa kelas VIII MTs NW Kotaraja Tahun Pelajaran
2013/2014.
F. Manfaat Penelitian
1. Memberikan Pengetahuan baru sebagai referensi untuk melakukan
proses belajar mengajar, perbaikan kualitas proses pembelajaran serta
diharapkan ada pengaruh yang positif terhadap materi teorema
Phytagoras melalui penggunaan alat peraga dengan pendekatan model
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAIKEM) sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar
siswa.
2. Bagi kepala sekolah, dapat dijadikan acuan untuk memberikan
pembinaan terhadap guru mata pelajaran.
3. Bagi peneliti sebagai latihan dalam usaha menyatukan serta menyusun
buah pikiran secara tertulis dan sistematis, sebagai bahan bandingan
bagi peneliti lain yang akan mengkaji masalah yang relevan.

8

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teoritis
1. Hakikat Matematika
Berbicara tentang matematika secara definisi, tidak bisa dijawab
dengan satu atau dua kalimat begitu saja. Berbagai pendapat muncul
tentang pegertian matematika tersebut, dipandang dari pengetahuan dan
pengalaman masing-masing yang berbeda.
Istilah mathematics (inggris), mathematik (jerman), mathematique
(prancis), matematico (itali), matematiceski (rusia), atau
matematick/wiskunde (belanda) berasal dari perkataan latin
mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan yunani
mathematike, yang berarti realiting to learning. Perkataan itu
mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu
(knowledge, science). Perkataan mathematike berhubungan sangat erat
dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang
mengandung arti belajar (berpikir).
Tentang matematika ini banyak para ahli yang mengungkapkan
pendapatnya masing-masing. Dari definisi-definisi yang telah
dikemukakan, ada sedikit gambaran pengertian tentang matematika itu,
dengan menggabungkan pengertian dari definisi-definisi tersebut.
Semua definisi itu dapat diterima, karena memang matematika dapat
ditinjau dari segala sudut, dan matematika itu sendiri bisa memasuki
9

seluruh segi kehidupan manusia, dari yang paling sederhana sampai
kepada yang paling kompleks. (Erman Suherman, 2003:18)
a. Matematika Sebagai Ilmu Deduktif
Ini berarti proses pengerjaan matematik harus bersifat
deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan
pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian
deduktif.
b. Matematika Sebagai Ilmu Terstruktur
Matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang
struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulaai dari unsur-unsur
yang tidak terdefinisikan (undefined terms, basic terms, primitive
terms), kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke
aksioma/postulat, dan akhirnya pada teorema. (Ruseffendi dalam
Erman Suherman, 2003:22). Konsep-konsep matematika tersusun
secara hierarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari
konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling
kompleks.
c. Matematika Sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu
Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan
bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain.
Dengar perkataan yang lain, banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan
pengembangannya bergantung dari matematika. Matematika
tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu,
10

juga untuk melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam
pengembangan dan operasionalnya. (Erman Suherman, 2003:22)
2. Efektivitas
MenurutKamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke II mendefinisikan
kata efektiv sebagai (1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya,
kesannya), (2) manjur atau mujarab, (3) dapat membawa hasil, (4)
berhasil guna, (5) mulai berlaku
Dari pendapat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa efektivitas
adalah ketepatan dalam menyelesaikan sesuatu dan ketepatan dalam
memberikan solusi pada sesuatu sehingga bisa memberikan
peningkatan yang lebih baik dari sebelumnya.
3. Alat Peraga
Alat merupakan media pengajaran yang mengandung atau
membawakan ciri-ciri dan konsep yang dipelajari.
(Elly Estiningsih dalam Pujiati, 2004 : 3)
Alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret yang
dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang
digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan
konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika.
(Djoko Iswandi dalam Pujiati, 2004:3)
Pada dasarnya anak belajar melalui benda atau objek konkrit.
Untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda
konkrit (rill) sebagai perantara atau visualisasi. Konsep abstrak itu
11

dicapai melalaui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Bahkan
orang dewasapun yang pada umumnya sudah dapat memahami konsep
abstrak, pada keadaan tertentu, sering memerlukan visualisasi.
Belajar anak akan meningkat bila ada motivasi. Karena itu, dalam
pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi anak
belajar, bahkan untuk pengajar.
Misalnya: pembelajaran supaya menarik, dapat menimbulkan minat,
sikap guru dan penilaian baik, suasana sekolah bagi guru
menyenangkan, ada imbalan bagi guru yang baik, dan lain-lain. (Erman
Suherman, 2003 : 242)
Selanjutnya konsep abstrak yang dipelajari akan melekat,
mengendap dan tahan lama bila siswa belajar melalui perbuatan dan
dapat dimengerti, bukan hanya melalui mengingat-ingat fakta, karena
anak dengan bebas dan aktif memanifulasi. Salah satunya dengan
penggunaan alat peraga, maka:
a. Proses belajar mengajar termotivasi. Baik siswa maupun guru dan
terutama siswa minatnya akan timbul.
b. Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkrit dan
karena itu lebih dipahami dan dimengerti.
c. Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda di alam
akan lebih dipahami. (Erman Suherman, 2003:243)
Secara umum fungsi alat peraga adalah:
1. Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika
12

2. Sebagai media dalam memantapkan pemahaman konsep
3. Sebagai media untuk menunjukkan hubungan antara konsep
dunia di sekitar kita serta aplikasi konsep dalam kehidupan
nyata.
(Pujiati, 2004:4)
4. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAIKEM)
PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif,
Kretif, Efektif, dan Menyenangkan, dimana:
Pembelajaran, menunjuk pada proses belajar yang menempatkan
siswa sebagai center stage performance. Pembelajaran lebih
menekankan bahwa siswa sbagai makhluk berkesadaran memahami arti
penting interaksi dirinya dengan lingkunganyang menghasilkan
pengalaman adalah kebutuhan. Kebutuhan baginya mengembangkan
seluruh potensi kemanusiaan yang dimilikinya.
Aktif, pembelajaran harus menumbuhkan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan
gagasan. Pembelajaran aktif adalah proses belajar yang menumbuhkan
dinamika belajar bagi siswa. Dinamika untuk mengartikulasikan dunia
idenya dan mengkronfortir ide itu dengan dunia realitas yang
dihadapinya.
Inovatif, pembelajaran merupakan proses pemaknaan atas realitas
kehidupan yang dipelajari. Makna itu hanya bisa dicapai jika
13

pembelajaran dapat memfasilitasi kegiatan belajar yang memberikan
kesempatan kepada siswa menemukan sesuatu memulai aktivitas
belajar yang dilakoninya.
Kreatif, pembelajaran harus menumbuhkan pemikiran ktitis, karena
dengan pemikiran seperti itulah kreativitas bisa dikembangkan.
Pemikiran kritis adalah pemikiran reflektif dan produktif yang
melibatkan evaluasi bukti. Kreatifitas adalah kemampuan berpikir
tentang sesuatu dengan cara baru dan tak biasa serta menghasilkan
solusi unik atas suatu problem.
Efektif, pembelajaran efektif adalah jantungnya sekolah efektif.
Efektivitas merujuk pada berdaya dan berhasil guna seluruh komponen
pembelajaran yang diorganisir untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran efektif mencakup keseluruhan tujuan pembelajaran baik
yang berdimensi mental, fisik, maupun sosial. Pembelajaran efektif
memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat.
Menyenangkan, pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran
dengan suasana socio emotional climate position. Siswa merasakan
bahwa proses belajar yang dialaminya bukan sebuah derita yang
mendera dirinya, melainkan berkah yang harus disyukurinya. Belajar
bukanlah tekanan jiwa pada dirinya, namun merupakan panggilan jiwa
yang harus ditunaikannya. Pembelajaran menyenangkan menjadikan
siswa ikhlas menjalaninya.
14

Pembelajaran PAIKEM adalah pembelajaran bermakna yang
dikembangkan dengan cara membantu siswa membangun keterkaitan
antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan
annya) yang telah dimiliki dan dikuasai siswa. Siswa dibelajarkan
bagaimana mereka mempelajari konsep dan bagaimana konsep tersebut
dapat dipergunakan diluar kelas. Siswa diperkenankan bekerja secra
kooperatif.
Praktif PAIKEM membutuhkan kemampuan teoretik dan praktik.
Kemampuan teoretik meliputi arti belajar, dukungan teoritis, model
pembelajaran, dan pembelajaran kontekstual. Kemampuan praktik
adalah memperaktikkan metode-metode PAIKEM. (Agus Suprijono,
2012).
Secara garis besar pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan (PAIKEM) menggambarkan kondisi sebagai berikut:
a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan (aktifitas) yang
mengembangkan keterampilan, kemampuan, dan pemahaman
dengan menekankan pada belajar dengan berbuat.
b. Guru menggunakan berbagai stimulus dan motivasi dan alat
peraga, termasuk lingkungan sebagai sumber belajar agar
pengajaran lebih menarik, menyenangkan dan relevan bagi siswa.
c. Guru mengatur kelas untuk memajang buku-buku dan materi-
materi yang menarik dan membuat pojok bacaan.
15

d. Guru menggunakan cara belajar yang lebih kooperatif dan
menyenangkan, termasuk belajar kelompok.
e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
menyelesaikan masalah, mengungkapkan gagasannya dan
melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya
sendiri.
f. Peran guru lebih sebagai fasilitator daripada penceramah, artinya
guru mendesain kegiatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif,
efektif dan menyenangkan.
Dalam pelaksanaannya pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan (PAIKEM) perlu memperhatikan beberapa hal:
a) Memahami sifat anak.
Pada dasarnya anak memiliki rasa ingin tahu dan suka
berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang
miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia, selama mereka
normal mereka terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat
tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya si-
kap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan
salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi
berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana
pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena
hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan
guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan.
16

b) Mengenal siswa secara individu/perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi
dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) per-
bedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam
kegiatan pembelajaran. Karena itu semua anak dalam kelas tidak
harus selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan bisa
berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu
temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal
kemampuan anak, kita dapat membantunya ketika dia mendapat
kesulitan sehingga anak tersebut bisa belajar secara optimal.
c) Memanfaatkan prilaku anak dalam mengorganisasikan belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami
cenderung melibatkan anak lain dalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan
tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau
dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan
menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok.
Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan
bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan
tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
17

d) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan
kemampuan memecahkan masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi masalah
sehingga pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah.
Keterampilan pemecahan masalah memerlukan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan
kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua
jenis berpikir tersebut, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi
yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu,
tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering
mungkin memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang ter-
buka.
e) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang
menarik
Ruang kelas yang menyenangkan merupakan unsur tayang
tidak terpisahkan dari PAIKEM. Dalam kelas yang menerapkan
PAiKEM, anak-anak banyak belajar melalui bekerja dan berbuat
sehingga banyak menghasilkan produk.
f) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber
yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat
berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian
(sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar
18

sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan
menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan
dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat
biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan
sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera),
mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis (membuat
dugaan), mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat
gambar/diagram.
g) Memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk
meningkatkan kegiatan belajar mengajar.
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi
dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa
merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa.
Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada
kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun
harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya
diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus
konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan
komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan
siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada
hanya sekedar angka (nilai).
h) Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.
19

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para
siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak, apalagi jika bangku
dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan.
Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM.
Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,
mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan
merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif
mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut. Oleh karena itu,
guru hendaknya menciptakan suasana kelas di mana guru tidak
marah kepada siswa dan siswa tidak menertawakan siswa lain jika
mereka memberi jawaban yang tidak benar. Siswa harus didorong
untuk mencoba, dan berbuat kesalahan adalah bagian penting dari
belajar. Pada dasarnya guru harus berusaha menghilangkan
penyebab rasa takut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun
dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan
dengan PAIKEM.
5. Hasil Belajar
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya. Ciriciri perubahan tingkah laku dalam
pengertian belajar :
a. Perubahan terjadi secara sadar
20

b. Perubahan dalam berlajar bersifat kontinu dan fungsional
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
d. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
e. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Faktor faktor yang mempengaruhi belajar :
1. Faktor Intern
a. Faktor jasmaniah : faktor kesehatan dan cacat tubuh
b. Faktor psikologis : inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan
c. Faktor kelelahan
2. Faktor Ekstern
a. Faktor keluarga : cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah : metode mengajar, kurikulum, relasi guru
dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat
pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran,
keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c. Masyarakat : kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media,
teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-
pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran
Gagne, hasil belajar berupa:
21

a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan
merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan
tersebut tidak memerlukan manipulasi symbol, pemecahan masalah
maupun penerapan aturan.
b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan
konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari
kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-
konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan
intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas
kognitif bersipat khas.
c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan
konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian
gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud
otomatisme gerak jasmani.
e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tesebut. Sikap berupa kemampuan
menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan
kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan :
22

1. Kognitif, meliputi ingatan, pemahaman, menerapkan,
menguraikan, mengorganisasikan dan menilai.
2. Afektif, meliputi receiving (sikap menerima), responding
(memberikan respons), valuing (nilai), organization (organisasi),
characterization (karakterisasi).
3. Psikomotor, meliputi initiatory, pre-routine, rountinized,
produktif, teknik, fisik, social, manajerial, dan intelektual.
Menurut lindgren hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi,
pengertian dan sikap.
Hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan
sebagaimana tersebut diatas tidak dilikat secara fragmentaris atau
terpisah, melainkan komperhensif.
6. Teorema Phytagoras
A. Teorema Phytagoras
a. Menunjukkan kebenaran dalil pytagoras dengan luasan, yaitu
luas persegi pada sisi miring sama dengan jumlah luas persegi
pada kedua sisi siku-sikunya.
1. Buat persegi yang panjang sisi-sisinya sama, misalnya 1 cm
dengan jumlah 50 buah.
- Warna abu-abu sebanyak 32 persegi
- Warna hitam sebanyak 18 persegi
2. Selanjutnya persegi yang warna abu-abu kita sebut persegi A
dan warna hitam persegi B
23

3. Susunlah persegi-persegi tersebut seperti gambar dibawah




Gambar 0.1 Dua persegi dengan ukuran berbeda
Dari gambar diatas dapat kita tentukan luas persegi A dan B
=
=
2

= 4
2
= 16
=
=
2

= 3
2
= 9

4. Gabungkan persegi-persegi kecil dari persegi A dan B
seperti gambar dibawah dan selanjutnya disebut persegi C




Gambar 0.2 Dua persegi digabungkan
= _ =
2

= 5
2
= 25
A
B
4 cm
4 cm
3 cm
3 cm
5 cm
5 cm
C
24

A
C
5. Pada persegi A, B dan C kemudian kita bentuk segitiga siku-
siku dengan sisi persegi A menjadi tinggi, persegi B menjadi
alas dan persegi C adalah sisi miring seperti gambar dibawah.

(i) (ii)




Gambar 0.3 Teorema Phytagoras
Pada gambar (i) dan (ii) jelas akan kita dapatkan persamaan
phytagoras
= +

2
=
2
+
2

Jika kita masukkan nilai luas A, B dan C maka akan didapat

2
=
2
+
2

2
= 4
2
+3
2

=

4
2
+3
2
= 16 + 9 = 25 = 5
, :
2
=
2
+
2

2
=
2

2
=
2

2

a
b
c
B
a
b
c
25

b. Menggunakan Teorema Phytagoras Untuk Menghitung Panjang
Salah Satu Sisi Segitiga Siku-Siku Jika Kedua Sisi Lain
Diketahui
Contoh soal :
Diketahui segitiga ABC siku-siku di B dengan AB = 6 cm dan
BC = 8 cm. hitunglah panjang AC !
Jawab :
Diketahui : segitiga siku-siku di B
AB = 6 cm
BC = 8 cm
Ditanyakan : panjang AC = .
Penyelesaian :Gambar



Gambar 0.4 segitiga siku-siku
dengan menggunakan teorema Phytagoras berlaku

2
=
2
+
2

2
= 6
2
+8
2

2
= 36 +64

2
= 100
= 100 = 10
Jadi, panjang AC = 10 cm
A
B
C
26

B. Penggunaan Teorema Phytagoras
a. Kebalikan Teorema Phytagoras Untuk Menentukan Jenis Suatu
Segitiga
Kebalikan teorema Phytagoras menyatakan bahwa
Untuk setiap segitiga jika jumlah kuadrat panjang dua sisi yang
saling tegak lurus sama dengan kuadrat panjang sisi miring
maka segitiga tersebut merupakan segitiga siku-siku.
Pada suatu segitiga berlaku
a. Jika kuadrat sisi miring = jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut siku-siku.
b. Jika kuadrat sisi miring < jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut lancip.
c. Jika kuadrat sisi miring > jumlah kuadrat sisi yang lain
maka segitiga tersebut tumpul.

Contoh soal:
Tentukan jenis segitiga dengan panjang sisi-sisi 3 cm, 5 cm, dan
4, cm.
Penyelesaian :
Misalkan a= panjang sisi miring, sedangkan b dan c panjang sisi
yang lain, maka diperoleh :
a =5 cm, b= 3 cm, c= 4 cm

2
= 5
2
= 25
27

2
+
2
= 3
2
+4
2
= 9 + 6 = 25
Karena 5
2
= 3
2
+4
2
, maka segitiga ini termasuk jenis segitiga
siku-siku.
b. Triple Phytagoras
Diketahui bilangan 6, 8, 10. Apakah tiga bilangan tersebut
termasuk triple Phytagoras?
Penyeleseaian : 10
2
= 100
8
2
+6
2
= 64 +36 = 100
Karena, 10
2
= 6
2
+8
2
, maka segitiga ini termasuk segitiga
siku-siku, dan kelompok tiga bilangan tersebut termasuk triple
Phytagoras.
c. Perbandingan Sisi-Sisi Pada Segitiga Siku-Siku
1) Sudut 30

60


Dengan perbandingan : : = 1: 3: 2
2) Sudut 45


Dengan perbandingan : : = 1: 12
Contoh soal:
tentukan nilai x pada segitiga siku-siku berikut





4
x
60


A
B
C
28

Penyelesaian: perbandingan
: : = 1: 3: 2
: 4 = 3: 2

4
=
3
2

2 = 43
=
43
2
= 23
Jadi nilai = 23
d. Penggunaan Teorema Phytagoras Pada Bangun Datar Dan
Bangun Ruang
Selain dimanfaatkan pada segitiga siku-siku, teorema
Phytagoras juga dapat digunakan pada bangun datar dan bangun
ruang matematika yang lain untuk mencari panjang sisi-sisi
yang belum diketahui.






Gambar 0.5 bangun ruang (kubus)
Perhatikan persegi ABCD. BD adalah salah satu diagonal sisi
bidang ABCD, kemudian perhatikan segitiga ABD. Karena segitiga
H
E
G
F
A B
C
D
a cm
a cm
29

ABD siku-siku di A, maka dengan menggunakan teorema
Phytagoras diperoleh

2
=

2
+

2

=
2
+
2

= 2
2

=

2
2

= 2
Begitu seterusnya jika mencari panjang sisi-sisi atau diagonal
lainnya.
C. Menyelesaikan Masalah Sehari-hari dengan Menggunakan
Teorema Phytagoras
Seorang anak menaikkan layang-layang dengan benang yang
panjangnya 100 meter. Jarak anak di tanah dengan titik yang tepat
berada di bawah layang-layang adalah 60 meter. Hitunglah
ketinggian layang-layang !
Penyelesaian




A B
C
60 m
100 m
30

Tinggi layang-layang = BC
=

2

2

=

100
2
60
2

= 10.000 3600
= 6400 = 80
Jadi, tinggi laying-layang adalah 80 meter.

G. Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh BQ.Siti Aminuriana yang berjudul
Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Nomograf Terhadap Pemahaman
Operasi Dasar Berhitung Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas VII SMPN 1
Labuhan Haji Tahun Pembelajaran 2010/2011. Penelitian yang dilakukan
dengan penelitian eksperimen dimana penggunaan alat peraga nomograf
mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pemahaman
operasi berhitung bilagan bulat. Dan penelitian yang dilakukan
Musabihatul Kudusiah yang berjudul Meningkatkan Motivasi Belajar
Matematika Dengan Penerapan PAKEM Pada Siswa Kelas IV MI NW
Tebaban Kecamatan Suralaga Tahun Pelajaran 2010/2011. Penelitian
yang dilakukan dengan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan
mendapatkan hasil bahwa dengan penerapan metode PAKEM dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa pada pokok bahasan konsep-konsep
operasi hitung pecahan kelas IV MI NW Tebaban tahun pembelajara
2010/2011.
31

H. Kerangka Berfikir
Berdasarkan kajian teoritis di atas, maka berikut ini akan
dikemukakan beberapa dasar pemikiran dalam perumusan hipotesis
penelitian ini, bahwa kegiatan belajar mengajar dalam penyampaian materi
teorema pytagoras dengan menggunakan alat peraga dengan pendekatan
PAIKEM maka pemahaman konsep teorema pytagoras akan lebih
dipahami dan mempengaruhi hasil belajar siswa dibandingkan dengan
tidak menggunakan alat peraga dengan pendekatan PAIKEM.
Skema Kerangka Berpikir








Gambar 04. Skema Kerangka Berpikir
I. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitan (Sugiyono, 2003: 5).
1. Penyampaian materi masih
bersifat monoton (ceramah,
tanpa menggunakan alat
peraga) dengan pendekatan
PAIKEM
2. Guru lebih dominan
dibandingkan siswa


1. Siswa cepat bosan dan
tidak termotivasi
2. Siswa menjadi pasif
3. Siswa sulit mengerti
materi yang disampaikan
gurunya
Pembelajaran menggunakan
alat peraga dengan
pendekatan PAIKEM
1. Siswa menjadi termotifasi
dan lebih aktif
2. Siswa mengerti materi yang
disampaikan gurunya
3. Hasil belajar lebih baik
32

Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara
terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah
sehingga harus diuji secara empiris (Iqbal Hasan, 2010: 31)
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka diperoleh
kesimpulan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian yang berupa dugaan sementara yang kebenarannya
masih perlu diuji secara empiris di lapangan.
Melihat kerangka berfikir di atas maka dapat diajukan hipotesis
penelitian sebagai berikut:
a. Penggunaan Alat Peraga Dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Efektif
Terhadap Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Teorema Pytagoras
Siswa Kelas VIII MTs NW Kotaraja Tahun Pelajaran 2013/2014.
b. Tingkat Keefektivan Penggunaan Alat Peraga Dengan Pendekatan
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan
(PAIKEM) paling sedikit 80%.
Hipotesis statistiknya adalah :
1. H
0
: = 0
H
a
: 0

2. H
0
: < 0,80
H
a
: 0,80



33

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode penelitian menyangkut alat dan teknik melaksanakan
penelitian. Hal yang demikian dapat dilihat dalam pemilihan metode yang
tepat untuk meneliti suatu masalah atau objek peneliti dieksperimenkan
atau mengkaji objek yang telah terjadi secara wajar. Adanya perbedaan
keadaan objek peneliti di lapangan memungkinkan untuk menggunakan
metode atau memilih metode yang berbeda pula. Sehubungan dengan hal
ini, jenis penelitian menurut metode yang digunakan dikemukakan oleh
Sugiyono (2003: 7) bahwa: jenis penelitian menurut metode yang
digunakan sebagian diantaranya yaitu metode ekspose facto, apabila suatu
penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi atau
gejala yang diteliti sudah ada secara wajar, dan metode eksperimen ialah
metode yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap
variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat, atau gejala
yang diteliti itu ditimbulkan dengan sengaja oleh peneliti.
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitia
eksperimen, karena gejala yang ditimbulkan sengaja oleh peneliti atau
memberikan perlakuan pada sampel.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2013 yang
bertempat di MTs NW Kotaraja Tahun Pelajaran 2013/2014
34

C. Desain Penelitian
Penelitan ini adalah penelitin eksperimen karena gejala yang diteliti
ditimbulkan dengan sengaja dengan desain penelitian dua kelas yaitu kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Dapat dideskripsikan desain penelitian
sebagai berikut:
1) Membagi objek penelitian ke dalam beberapa kelompok (cluster) yang
lebih kecil.
2) Memilih beberapa cluster (secara acak) sebagi sampel.
3) Menerapkan metode yang dijadikan sebagai variabel bebas kepada
kelompok eksperimen, sedangkan kepada kelompok kontrol
pemelajaran seperti biasa.
4) Melakukan evaluasi kepada kedua kelompok (kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol) melalui post test.
Tabel 01
Desain penelitian
Grup Variable terikat Postes
E X Y
K __ Y

Keterangan:
E = Kelompok Eksperimen
K = Kelompok Kontrol
Y= Post Test
35

X = Perlakuan (Trutment)
(Sukardi, 2003:185)
D. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel
1. Identifikasi Variabel
Variabel dapat diartikan sebagai : segala sesuatu yang berbentuk
apa saja yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya.
(Sugiyono, 2003: 38).
Ada dua jenis variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas
(Independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).
Berdasarkan hal ini seorang ahli berpendapat bahwa : variabel bebas
adalah variabel yang mempengaruhi (x), sedangkan variabel terikat
adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat (Sugiyono,
2003: 39).
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas atau ubahan bebas adalah ciri-ciri tertentu yang
menjadi penyebab yang pada umumnya terjadi pada waktu urutan
terlebih dahulu.
Berdasarkan pengertian ini, maka variabel bebas dalam
penelitian ini adalah penggunaan alat peraga dengan pendekatan
PAIKEM.
b. Variabel Terikat (Dependent Variable)
36

Variabel terikat atau ubahan terikat adalah sifat-sifat atau ciri-
ciri tertentu yang menjadi akibat yang pada umumnya terjadi pada
urutan waktu kemudian.
Berdasarkan pengertian di atas, maka yang menjadi variabel
terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa
pada bahasan teorema Phytagors.
2. Definisi Operasional Variabel
a. Alat peraga dengan pendekatan PAIKEM
Alat peraga adalah media yang digunakan sebagai alat bantu
dalam pembelajaran matematika yang dirancang sesuai dengan
konsep matematika untuk membantu pemahaman siswa terhadap
materi yang dipelajari.
Metode PAIKEM adalah metode pembelajaran yang
berorientasi pada siswa untuk belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif
dan menyenangkan dengan guru sebagai fasilitator.
Alat peraga dengan pendekatan PAIKEM merupakan pembelajaran
menggunakan alat peraga dengan penyampaian materi
mengkolaborasikan metode PAIKEM dimana siswa dituntut untuk
aktif, inovatif, kreatif, efektif untuk menciptakan pembelajaran
yang menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran tercapai sesuai
yang diinginkan.


37

b. Hasil belajar matematika
Hasil belajar merupaka segala pencapaian yang didapatkan
setelah menempuh pembelajaran. Hasil belajar bervariasi sesuai
masing-masing individu dengan tingkat keberhasilan yang berbeda
pula. Adapun pencapaian hsil belajar tentunya banyak faktor yang
mempengaruhi, tergantung pada setiap individu itu sendiri.
Sedangkan hasil belajar matematika merupakan pencapaian hasil
setelah mengikuti pembelajaran matematika, tentunya dengan
masing-masing individu mendapatkan hasil yang beragam.
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kuantitas dan karaktristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. (sugiyono, 2010:61).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka yang menjadi populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs NW Kotaraja
Tahun Pelajaran 2013/2014.
Adapun keadaan populasi ini dapat dilihat pada tabel berikut :




38

Tabel 02
Keadaan Populasi Penelitian di MTs NW Kotaraja
Tahun Pelajaran 2013/2014.
No. Kelas Jumlah Siswa
1. VIII A 30
2. VIII B 30
3. VIII C 29
4. VIII D 29
5. VIII E 30
6. VIII F 29
Jumlah 177

2. Sampel penelitian
Sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data
disebut sampel. (Sukardi, 2003:54)
Smpel adalah bgian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi. (sugiyono, 2010:62).
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan
teknik random sampling yaitu pengambilan yang dilakukan secara
undian atau acak. Jika subjeknya kurang dari 100, maka sebaiknya
diambil semuanya menjadi sampel sehingga merupakan penelitian
populasi. Tetapi, jika jumlahnya besar dapat diambil sampel antara 10%
- 15% atau 20% - 25% atau lebih.
39

Yang menjadi sampel pada penelitian kelompok eksperimen adalah
kelas VIII D dengan jumlah siswa 29 orang dan kelompok control
adalah kelas VIII C dengan jumlah siswa 29 orang.
Tabel.03
Keadaan sampel kelas VIII MTs NW Kotaraja tahun pembelajaran
2013 / 2014





F. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1. Teknik pengumpulan data
Dalam suatu penelitian, pengertian instrumen dan metode sering
dikacaukan atau disamakan padahal instrumen dan metode adalah
berbeda. Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan
data yang valid. (Sugiyono, 2003: 119).
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam
penelitian ini adalah berupa tes hasil belajar siswa materi teorema
Phytagoras yang terdiri dari 5 butir soal essay. Adapun penskoran dan
butir soal tersebut dijabarkan sebagai berikut :
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah Siswa
L P
Eksperimen 13 16 29
Kontrol 12 17 29
40

- Menunjukkan Teorema Phytagoras, terdiri dari 2 butir soal yakni
soal no 1. a dan 1.b.
- Menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain
diketahui, terdiri dari 2 butir soal yakni soal nomor 2.a dan 2.b.
- Mententukan trypel phytagoras dan jenis segitiga, terdiri dari 2
butir soal yakni soal nomor 3.a dan 3.b.
- Menghitung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa,
terdiri dari 2 butir soal yakni pada soal nomor 4.a dan4.b.
- Menghitung panjang diagonal pada bangun datar, terdiri dari 1
butir soal yakni padasoal nomor 5.a.
- Menyelesaikan masalah sehari-hari dengan teorema Phytagoras
terdiri dari 1 soal yakni pada soal nomor 5.b.
penilaian masing-masing item soal mempunyai skor 4, dengan
demikian skor maksimal idealnya 20 dan skor minimal idealnya adalah
nol.
2. Instrument penelitian
Pada dasarnya penelitian adalah melakukan pengukuran terhadap
suatu fenomena, oleh karena itu dalam melakukan penelitian harus ada
alat yang baik untuk mengukur. Didalam penelitian, alat yang
digunakan untuk meneliti disebut instrument. Instrument penelitian
merupakan suatu yang amat penting dan strategis kedudukannnya
didalam seluruh kegiatan penellitian.
Dalam kegiatan penelitian untuk memperoleh data yang berasal
41

dari lapangan, seorang peneliti bisanya menggunakan instrumen yang
baik dan mampu mengambil informasi dari objek atau subjek yang
diteliti. Untuk mencapai tujuan tersebut seorang peneliti dapat membuat
instrumen tersebut. Disamping itu juga dapat menggunakan instumen
yang telah ada yang telah dimodifikasi agar memenuhi persyaratan
yang baik bagi suatu instumen. Instrumen penelitian pada umumnya
perlu mempunyai dua syarat penting, yaitu valid dan reliabel. (Sukardi,
2003:121)
G. Validits dan Reliabilitas
a. Validitas
Berkenaan dengan validitas, seorang ahli mengemukakan
bahwa, suatu alat pengukuran dikatakan alat pengukur yang valid
apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak
diukur secara tepat (Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, 1986:
127). Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
validitas adalah kesahihan dan ketepatan suatu instrumen untuk
mengukur apa yang hendak diukur.
Uji validitas butir dilakukan dengan cara mengorelasikan skor butir
dengan skor total menggunakan korelasi product moment dalam angka
kasar uji. Validitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
( )( )
( ) { } ( ) { }


=
2
2
2 2
y x
y x xy n
y
x
rxy


42

Keterangan:
r xy
= koefesien antara x dan y (koefesien validitas soal)
x = skor yang diperoleh dalam tiap skor
y = skor total
n = banyak soal
Selanjutnya menggunakan uji- t:
t =
r
n r
2
1
2


keterangan:
r = koefesien korelasi
r
2
= koefesien determinasi
n = jumlah siswa
Kriteria:
Jika t- hitung > t- tabel, maka soal valid pada taraf 5%, dk = n 2
Jika t- hitung < t- tabel, maka soal tidak valid.
b. Reliabilitas
Suatu tes baru dikatakan tes yang reliabel apabila tes tersebut
menunjukkan hasil-hasil yang mantap. (Wayan Nurkancana dan
P.P.N. Sumartana, 1986: 127)
Dalam penelitian ini, rumus yang digunakan untuk mencari reliabel
tes adalah rumus alfa cronbach.

=

o
o
tot
i
r
n
n
2
11
1
1

43

Keterangan:
r11
= reliabelitas tes
n = banyak soal
i
2
o = varian masing-masing soal
o tot
= varian total
Kriteria, jika menunjukkan bahwa t- hitung > t- tabel, berarti soal
tersebut reliabel.
H. Teknik Analisis Data
1. Teknik Deskripsi
Data yang diperoleh dideskripsikan dengan menggunakan statistik
deskriptif. Statistik deskriptif ini meliputi penentuan skor rata-rata atau
mean (M) dan standar deviasi (SD). Untuk keperluan menyusun tabel
konversi terlebih dahulu dicari mean ideal (Mi) dan standar deviasi ideal
(SDi) dengan rumus sebagai berikut :
Mi =
2
1
x SMi
SDi =
3
1
x Mi
(Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, 1983: 86).
Berdasarkan perolehan Mi dan SDi di atas, maka dibuat tabel
konversi untuk pengkategorian masing-masing variabel yang akan diteliti
adalah sebagai berikut:

44

Tabel. 04
Pedoman Konversi Norma Relatif Skala Tiga
Interval Kategori
Mi + 1 SDi A Mi + 3 Sdi
Mi - 1 SDi A < Mi + 1 SDi
Mi 3 SDi A < Mi 1 Sdi
Tinggi
Sedang
Rendah

2. Teknik Uji Persyaratan Analisis
Dengan demikian persyaratan analisis yang perlu dibuktikan untuk
data hasil penelitian adalah persyaratan normalitas dan homogenitas data.
a. Uji Normalitas Data
Normalitas data adalah normal atau tidaknya data yang berupa
skor tes. Untuk menguji normalitas data, peneliti menggunakan Chi-
Kuadrat sedangkan rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
( )
fh
fh fo
X


=
2
2

Dimana : X
2
= Chi-Kuadrat
Fo = Frekuensi observasi
Fh = Frekuensi harapan (Suharsimi Arikunto,2002: 287).
Kriteria : Jika X
2
hitung< X
2
tabel, maka berdistribusi normal, dan
jika X
2
hitung> X
2
tabel, maka data tidak berdistribusi normal, pada taraf
signifikansi 5%.

45

b. Uji Linearitas
1) Model persamaan regresi yang digunakan
Y= a+Bx dengan
( )
2 2
2
x x N
xy x x y
a
E E
E E E E
=
( )
2 2
x x N
y x xy N
b
E E
E E E
=
2) Uji Kelinearan Regresi
Uji kelinearan regresi digunakan untuk menentukan apakah
regresi linear yang diperoleh dari penelitian ada artinya atau tidak
jika digunakan untuk memebuat simpulan tentang hubungan antara
variabel bebas X dengan variabel terikat Y.
Untuk menguji kelinearan regresi digunakan rumus:
() = {

)
2

1
}



46

Tabel. 05
Analisis Varian Untuk Uji Kelinearan Regresi
Sumber
Variasi
Dk JK KT F
Total N

2

-
Regresi (a) 1 (

)
2

)
2



Regresi
(b|a)
1
reg
= (|)
2
reg
= (|)
Residu n-2

= (

)
2

=
(

)
2
2


Tuna Cocok k-2 ()

=
()
2


kekeliruan n-k ()

=
()


Dari daftar di atas sekaligus didapatkan dua hasil yaitu:
1. =

2

untuk uji keberartian arah regresi linear sederhana


Hipotesis statistik yangdigunakan :
Ho :koefisien arah regresi tidak berarti
H1 :koefisien arah regresi berarti
Setelah diperoleh nilai F, maka akan dibandingkan dengan Ftabel,
dengan taraf signifikansi 5% dan dk pembilang = 1 dan dk
penyebut = n-2.
2. =

2

untuk menguji truna cocok regresi linear


47

Hipotesis yang digunakan :
Ho :regresi linear
H1 :regresi tak linear
Setetelah diperoleh nilai F, maka akan dibandingkan dengan Ftabel
dan kriteria pengujiannya adalah tolak Ho jika Fhitung Ftabel
dengan taraf signifika 5% dan dk pembilang = k-2 dan dk penyebut
= n-2. Jika didapat bahwa koefisien regresi berarti dan persamaan
regresi benar-benar linear maka persamaan regresi dapat digunakan
untuk mengukur.
c. Uji Homogenitas Data
Untuk menguji homogenitas data, peneliti menggunakan teknik
uji Bartlet. Adapun rumus Bartlet adalah sebagai berikut:
( ) ( ) { }
2
1
2
log 1 10 ln S Ni B X

=
(Sudjana, 2002: 263)
Keterangan :
ln 10 = 2,3026
B = Satuan Bartlet
S = Standar deviasi total
Ni = Besaran ukuran sampel
Untuk dengan taraf signifikansi 5% dengan dk = n 1 maka data yang
diperoleh homogen.harga ( ) ( )

= 1 log
2
Ni S B dan
( )
1
1
2
2

=

Ni
Si Ni
S
48

Kriteria : Jika X
2
hitung< X
2
tabel dengan taraf signifikansi 5 %
dengan dk = n - 1, maka data yang diperoleh homogen dan jika
X
2
hitung> X
2
tabel, data yang diperoleh tidak homogen.
1. Teknik Uji Hipotesis
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan sementara mengenai
sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut
untuk melakukan pengecekannya (Sudjana, 2002: 219). Ahli lain
berpendapat bahwa : Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara
terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji
secara empiris (Sumadi Suryabrata, 2000: 69).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini adalah masih perlu diuji kebenarannya.
Untuk tandingan Ha yang mempunyai perumusan lebih besar, maka
dalam distribusi yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang
letaknya di ujung sebelah kanan. Pengertian ini dinamakan uji satu
pihak, tepatnya pihak kanan.
Rumus t-test one sampel adalah sebagai berikut :
t =


Keterangan : t = Nilai t yang dihitung yang disebut t-hitung

= rata-rata

0
= Nilai yang dihipotesiskan
S = Simpangan baku
n = jumlah anggota sampel (Riduwan : 2010 : 157)
49

Dengan kriteria :
Apabila t-hitung < t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak dengan dk
= n-1 pada taraf signifikasi 5%.
Apabila t-hitung > t-tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan dk
= n-1 padatarafsignifikasi 5%.

Untuk menguji tingkat keefektivan menggunakan rumus t-test:
t =
X
1

X
2

S
1
2
n
1
+
S
2
2
n
2
2r (
S
1

n
1
) +(
S
2

n
2
)

Keterangan :

= Rata-rata sampel 1

= Rata-rata sampel 2

1
= Simpangan Baku sampel 1

2
= Simpangan Baku sampel 2

1
2
= Varian sampel 1

2
2
= Varian sampel 2
= Korelasi antara dua sampel
(Sugiyono, 2010: 122).
Kriteria : Terima Ho jika thitung>ttabel dan sebaliknya, tolak Ho jika
thitung< ttabel. Untuk ttabel adalah ( )( ) 2 1
2 1
+ = n n dk o untuk o =
5%.
50

BAB IV
HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Berdasarkan data hasil tes pemahaman Teorema Phytagoras
diperoleh rata-rata (mean) dan standar deviasi sebagai keperluan untuk
pengkategorian dan penghitungan data. Untuk memperoleh besarnya rata-
rata ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (SDi) digunakan rumus yang telah
ditentukan pada bab III. Karena skor maksimal idealnya 100 dan skor
minimal idealnya 0 (nol), maka diperoleh:
Mi =
2
1
x (100 + 0) =
2
1
x 100 = 50
SDi =
3
1
x 50 = 16.67
Maka dapat dibuat pengkategorian skornya sebagai berikut:
Mi + 1 SDi A Mi + 3 SDi = katagori tinggi
50 + 16.67 A 50 + (3 x 16.67)
66.67 A 50 + 50
66.67 A 100
Mi 1 SDi A < Mi + 1 SDi = katagori sedang
50 16.67 A < 50 + 16.67
33.33 A < 66.67
Mi- 3 SDi A <Mi-1 SDi = katagori rendah
50 (3 x 16.67) A < 50 16.67
50 - 50 A < 33.33
51

0 A < 33.33
Untuk lebih jelas, hasil pengkategorian tersebut dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel. 06
Hasil Pengkategorian

Interval Kategori
66.67 A 100
33.33 A < 66.67
0 A < 33.33
Tinggi
Sedang
Rendah

Dari hasil penelitin yang telah dilakukan di MTs. NW Kotaraja,
mengenai efektivitas penggunaan alat peraga dengan pendekatan
pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM)
pokok bahasan Teorema Phytagoras pada siswa, setelah dilakukan
pengumpulan data didapatkan skor tertinggi untuk kelas kontrol = 80 dan
skor terendah = 40, sedangkan kelas eksperimen skor tertinggi = 95 dan
skor terendah = 65,dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata (mean) untuk
kelas kontrol = 66,55 dengan standar deviasi (SD) = 9,47, sedangkan
untuk kelas eksperimen diperoleh rata-rata (mean) = 83.28 dengan standar
deviasi(SD) = 9.38.
Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel berikut:




52

Tabel. 07
Deskripsi Data Hasil Penelitian

Kelompok
Skor
Maksimal
Skor
Minimal
Mean
Standar
Deviasi
kategori
Eksperimen 95 65 83.28 9.38 Tinggi
Kontrol 80 45 66,55 9,47 Sedang
(Sumber: Lampiran)
Jadi didapatkan rata-rata untuk kelas eksperimen yaitu 83,28 yang
tergolong berkategori tinggi, sedangkan rata-rata untuk kelas eksperimen
yaitu 66,55 yang tergolong berkategori sedang.
B. Uji Persyaratan Analisis Data Hasil Penelitian
1. Uji Normalitas Data
Dari uji normalitas data yang dilakukan terhadap hasil pre-test dan
post-test kelas kontrol maupun eksperimen, maka dapat diperoleh hasil
ringkas perhitungan tersebut seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 08
Ringkas Uji Normalitas Data

Kelompok X
2
hitung X
2
tabel
Eksperimen 1,6821 11,07
Kontrol 1,9811 11,07
- Untuk kelas kontrol

2
=
( )
2

2
= 1,9811
Dengan
2
= 11,07
53

2
<
2
maka data berdistribusi normal.
- Untuk kelas eksperimen

2
=
( )
2

2
= 1,6821 dengan
2
= 11,07
Jika
2
<
2
maka data berdistribusi normal.
Dengan kriteria
2
<
2
, dari data di atas
didapatkan 1,9811< 11,07 untuk kelas kontrol, maka data tersebut
berdistribusi normal dan untuk kelas eksperimen dengan kriteria

2
<
2
didapatkan 1,6821 < 11,07, maka data
tersebut berdistribusi normal. Maka dapat disimpulkan bahwa data
hasil penelitian kelas kontrol maupun kelas eksperimen adalah
berdistribusi normal.
2. Uji Linearitas Data
Untuk mengetahui efektivitas penggunaan alat peraga dengan
pendekatan PAIKEM terhadap hasil belajar Siswa perlu dilakukan
uji analisis data. Pernyataan tersebut dapat diuji sebagai berikut :
Ho : = 0,

penggunaan alat peraga dengan pendekatan PAIKEM
tidak linier terhadap hasil belajar Siswa (tidak efektif)
Ha : 0,

penggunaan alat peraga dengan pendekatan PAIKEM
linier terhadp hasil belajar Siswa (efektif)
54

Untuk menguji pernyataan tersebut, terlebih dahulu dilihat persamaan
regresinya. Berdasarkan lampiran dapat dibaca persamaan regresinya

= , +, , dengan nilai = 1,232 dan = 0,7649


Tabel. 09
Tabel Anava
Sumber
Variasi
Dk JK KT F
Total 29 115600

Koefisien (a) 1 111724,14
9,1684 Regresi (b|a) 1 982,5 982,5
Sisa 27 2893,36 102,1615
Tuna Cocok 5 610,03 122,006
1,283
Galat 24 2283,33 95,1388

Berdasarkan tabel anava di atas uji hipotesis regresi didapatkan
F tabel dengan dk pembilang = 1 dan dk penyebut = n 2 = 29 2 =
27 diperoleh F tabel pada taraf signifikan 5% = 4,21 dan pada taraf
signifikan 1% = 7,68. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa
hitung
>
tabel
atau 9,1684 > 4,21 pada taraf signifikasi 1%
dan 5%, ini berarti Ha diterima atau penggunaan alat peraga dengan
pendekatan PAIKEM efektif terhadap hasil belajar Siswa.
Sedangkan pada uji hipotesis linier didapatkan bahwa F tabel
dengan
pembilang
= 2 = 7 2 = 5 dengan
penyebut
=
= 29 5 = 24 diperoleh F tabel pada taraf signifikan 5% = 2,62
dan taraf signifikan 1% = 3,90. Dengan demikian dapat disimpulkan
55

No Kelas
1 Eksperimen 28 8,96 80,29 1,904677 53,33096105
2 Kontrol 28 10,82 117,14 2,068716 57,92404275
56 197,44 111,2550038 E

2
1
bahwa
hitung
<
tabel
atau 1,283 > 2,61 ini berarti penggunaan
alat peraga dengan pendekatan PAIKEM linier terhadap hasil belajar
Siswa.
3. Uji Homogenitas Data
Uji homogenitas data dimaksudkan untuk mengetahui seragam
tidaknya sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama.
Pengujian homogenitas sangat penting apabila peneliti bermaksud
untuk melakukan generalisasi untuk hasil penelitiannya. Untuk
menguji homogenitas data peneliti menggunakan uji Barlet, dengan
kriteria jika
2
_ hitung lebih besar dari
2
_ tabel berarti data yang
diperoleh tidak homogen, dan apabila
2
_ hitung lebih kecil dari
2
_
tabel maka data yang diperoleh homogen.
Tabel.10
Kerja Uji Homogenitas Data Dengan Uji Bartlet










Untuk harga varian total

2
=
(
1
1)

2
+(
2
1)

2
( 1)

56

Kelas Standar Deviasi Varian Rata-rata r
Eksperimen 8,96 80,29 83,07
Kontrol 10,82 117,14 62,069
0,5035

2
=
28 80,29 +28 117,14
56
=
2248,12 +3279,92
56
=
5528,04
56
= 98,715
Dengan demikian akan didapatkan
2
=1,9944 dimana
= ( 1)
2

= 56 1,9944 = 111,6864
Dengan
2
hitung adalah :

2
= n10 {

2
}
= 2,3026 (111,6864 111,2550)
= 2,3026 0,4314 = 0,99
Dengan harga
2
tabel
adalah = 1 = 2 1 = 1 pada taraf
signifikasi 5% adalah 3,84 dapat disimpulkan bahwa
2
hitung
<

2
tabel
atau 0,99 < 3,84 ini berarti data hasil belajar siswa
homogen.
C. Uji Hipotesis Data Hasil Penelitian
Untuk menguji hipotesis penelitian menggunakan t-test dan t-one
dengan dibantu tabel berikut:
Tabel.11
Hasil uji kelas eksperimen dan kelas kontrol




57

Pengujian hipotesis yang pertama dengan perumusan hipotesis:
Ho : Penggunaan alat peraga dengan pendekatan Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) tidak
efektif terhadap hasil belajar matematika pokok bahasan
Teorema Phytagoras siswa kelas VIII MTs NW Kotaraja Tahun
Pelajaran 2013/2014
Ha : Penggunaan alat peraga dengan pendekatan Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) efektif
terhadap hasil belajar matematika pokok bahasan Teorema
Phytagoras siswa kelas VIII MTs NW Kotaraja Tahun Pelajaran
2013/2014
Dari tabel di atas diperoleh :

=

1

2

1
2

1
+

2
2

2
2 (

1

1
+

2

2
)

hitung=
83,0762,069

80,29
29
+
117,14
29
2(0,5035)[
8,96
29
+
10,82
29
]

hitung=
21,008
2,7687+4,03941,007[1,6639+2,0098]

=
21,008
6,8081 1,007(3,6738)
=
21,008

6,8081 3,6993

=
21,008

3,1088
=
21,008
1,7632
= 11,9147
Berdasarkan perhitungan di atas untuk n = 58 dan = 2 = 58 2 =
56 pada taraf signifikasi 5% sehingga diperoleh t tabel = 1,6703 berarti
58

hitung
>
tabel
atau 11,9147 > 1,6703 maka Ha diterima atau Penggunaan
alat peraga dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) efektif terhadap hasil belajar
matematika pokok bahasan Teorema Phytagoras siswa kelas VIII MTs
NW Kotaraja Tahun Pelajaran 2013/2014.
Pengujian hipotesis yang kedua dengan perumusan hipotesis:
Ho : Tingkat Keefektivan Penggunaan Alat Peraga Dengan
Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Dan
Menyenangkan (PAIKEM) kurang dari 80%
Ha : Tingkat Keefektivan Penggunaan Alat Peraga Dengan
Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Dan
Menyenangkan (PAIKEM) paling sedikit 80%.
Untuk menguji hipotesis kedua ini menggunakan rumus t-one sampel (uji
satu pihak) :
=

0


Dengan nilai rata-rata ( ) = 82,7586 dan Simpangan Baku () = 8,96
dengan asumsi
0
= 80 maka akan diperoleh
=
83,07 80
8,96
29

=
3,07
1,6639
= 1,8451
Berdasarkan perhitungan diatas untuk = 1 = 29 1 = 28 pada
taraf signifikasi 5% akan diperoleh t-tabel = 1,70113 dengan demikian
59

simpulan bahwa
hitung
>
tabel
atau 1,8443 > 1,70113maka Ho ditolak
atau dapat berarti bahwa Tingkat Keefektivan Penggunaan Alat Peraga
Dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Dan
Menyenangkan (PAIKEM) paling sedikit 80%.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui penggunaan alat peraga
dengan pendekatan PAIKEM efektif terhadap hasil belajar siswa. Siswa
yang belajar menggunakan alat peraga tidak sekedar mendapatkan teori
tetapi pemahaman mendalam akan lebih mudah untuk diingat oleh siswa
karena selain mudah, pembelajaran akan lebih aktif yang menuntut siswa
untuk inovatif dan lebih kreatif. Sedangkan pada siswa yang belajar
dengan metode konvensional (kontrol) cenderung tidak mengalami
perubahan yang signifikan, hasil belajar siswa yang menggunakan alat
peraga dengan pendekatan PAIKEM dan Pembelajaran konvensional bisa
kita bandingkan pada tabel dibawah :
Tabel. 12
Daftar hasil belajar siswa
No Kelas Batas Tuntas Rata rata Ketuntasan
1 Eksperimen 69 83,07 Tuntas
2 Kontrol 69 62,07 Tidak Tuntas

Untuk hasil belajar dapat mencapai target skor 69 ditandai dengan
ketuntasan. Ini berarti penggunaan alat peraga dengan pendekatan
PAIKEM berhasil dapat membantu siswa mencapai ketuntasan belajar.
60

Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dapat
membantu peserta didik dalam memahami materi teorema Phytagoras.
Dengan demikian, siswa yang belajar menggunakan alat peraga dengan
pendekatan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efekif dan menyenangkan,
hasil belajarnya lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar tidak
menggunakan alat peraga dengan pendekatan pembelajaran aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangka, dimana dapat terlihat dari perbedaan
hasil yang didapatka, untuk kelas eksperimen pada post-test, nilai terendah
65 dan tertinggi 95 dengan mean 83,07 tergolong pada kategori tinggi,
sedangkan untuk kelas kontrol pada post-test nilai terendah 40 dan
tertinggi 80 dngan mean 63,36, tergolong pada kategori sedang.
Hasil penelitian yang relevan dengan hasil penelitian yang
didapatkan oleh BQ.Siti Aminuriana yang berjudul Pengaruh Penggunaan
Alat Peraga Nomograf Terhadap Pemahaman Operasi Dasar Berhitung
Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Labuhan Haji Tahun
Pembelajaran 2010/2011. Penelitian yang dilakukan dengan penelitian
eksperimen dimana penggunaan alat peraga nomograf mempunyai
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pemahaman operasi
berhitung bilagan bulat, karena thitung > ttabel yaitu 6.917 > 1.669, maka
hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nihil (Ho) ditolak, sehingga
dapat disimpulkan bahwa Ada pengaruh yang positif dan signifikan
penggunaan alat peraga nomograf terhadap pemahaman operasi dasar
berhitung bilangan bulat pada siswa kelas VII SMPN 1 Labuhan Haji
61

tahun pembelajaran 2010/2011. Selanjutnya hasil penelitian yang
didapatkan oleh Musabihatul Kudusiah yang berjudul Meningkatkan
Motivasi Belajar Matematika Dengan Penerapan PAKEM Pada Siswa
Kelas IV MI NW Tebaban Kecamatan Suralaga Tahun Pelajaran
2010/2011. Penelitian yang dilakukan dengan PTK (Penelitian Tindakan
Kelas) dengan mendapatkan hasil bahwa dengan penerapan metode
PAKEM dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pokok bahasan
konsep-konsep operasi hitung pecahan kelas IV MI NW Tebaban tahun
pembelajara 2010/2011, dimana dari 91 terjadi peningkatan sebesar 109.
Hasil observasi keaktifan siswa dari nilai rata-rata 62,75 meningkat
menjadi 74. Sedangkat nilai rata-rata motivasi siswa berdasarkan angket
adalah 39,2 terjadi peningkatan menjadi 43,3. Hal tersebut menunjukkan
peningkatan yang cukup berarti dalam setiap siklus. Data hasil belajar
siswa pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh 60,0 dengan ketuntasan
belajar 45,8% dan terjadi peningkatan pada siklus II dengan rata-rata 72,7
dengan ketuntasan belajar 87,5%.
Belajar dengan alat peraga, melatih siswa untuk mengkreasikann
pemikirannya yang dengan mudah untuk dituangkan dengan memanipulasi
alat peraga. Pada dasarnya anak belajar melalui benda atau objek konkrit.
Untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda konkrit
(rill) sebagai perantara atau visualisasi. Konsep abstrak itu dicapai
melalaui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda.
62

Selanjutnya konsep abstrak yang dipelajari akan melekat,
mengendap dan tahan lama bila siswa belajar melalui perbuatan dan dapat
dimengerti, bukan hanya melalui mengingat-ingat fakta, karena anak
dengan bebas dan aktif memanifulasi, salah satunya dengan menggunakan
alat peraga.
Belajar anak akan meningkat bila ada motivasi. Karena itu, dalam
pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi anak belajar,
bahkan untuk pengajar. Misalnya: pembelajaran supaya menarik, dapat
menimbulkan minat, sikap guru dan penilaian baik, suasana sekolah bagi
guru menyenangkan, ada imbalan bagi guru yang baik, dan lain-lain.
Salah satunya dengan menerapkan mpembelajaran aktif, inovatif, kreatif,
efektif dan menyenangkan.Pembelajaran ini lebih menekankan bahwa
siswa sbagai makhluk berkesadaran memahami arti penting interaksi
dirinya dengan lingkungan yang menghasilkan pengalaman.





63

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dengan pendekatan
PAIKEM efektif terhadaphasil belajar siswa kelasVIII MTs. NW Kotaraja,
ini menunjukkan bahwa alat peraga dengan pendekatan PAIKEM
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar. Hal ini dapat
dilihat dari hasil perhitungan pada hasil belajar siswa bahwa
hitung
>

tabel
atau 11,9147 > 1,6703, dan untuk perhitungan tingkat keefektivan
alat peraga dengan pendekatan PAIKEM yang diuji dengan rumus t-one
sampel didapatkan
hitung
>
tabel
atau 1,8451 > 1,70113, dalam tingkat
ketuntasan mencapai minimal 80%. Selain itu peningkatan hasil belajar
dilihat dari peningkatan hasil dari pre-test kemudian setelah post-test,
dengan mean pre-test 24,48 dan mean post-test 82,7586, disimpulkan
bahwa efektivitas penggunaan alat peraga dengan pendekatan PAIKEM
tergolong dalam kategori tinggi terhadap hasil belajar.

B. SARAN
Dari proses penelitiandan hasil penelitian yang telah dapatkan,
maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
1. Hendaknya guru kelas VIII MTs. NW Kotaraja dalam mengajar
menerapkan strategi pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu
64

alternatif dalam pembelajaran yang menarik dan menyenangkan
adalah dengan menerapkan pembelajaran menggunakan alat peraga
yang dengan kolaborasi model pembelajaran aktif, inovatif, kreatif,
efektif dan menyenangkan (PAIKEM).
2. Sistem pembelajaran hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada
kemampuan kognitif saja akan tetapi juga diperhatikan keterampilan
prosesnya agar tercapai keseimbangan dalam belajar.
3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran matematika
menggunakan alat peraga dengan pendektan pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM)pada aspek-
aspek matematika lainnya.