Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum ke : 8 Integrasi Proses Nutrisi

Hari / Tanggal : kamis, 2 mei 2013 Tempat Praktikum : Lab. IPN Nama Asisten : Aryani

TANIN
HIRAS F SINAGA D14110087

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

PENDAHULUAN

Latar Belakang Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin dibagi menjadi dua kelompok yaitu tanin yang mudah terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin dapat dijumpai pada hampir semua jenis tumbuhan hijau di seluruh dunia baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat rendah dengan kadar dan kualitas yang berbeda-beda (Jayanegara et al., 2008). Ikatan tanin dengan protein mempunyai efek negatif terhadap fermentasi rumen dalam nutrisi ternak ruminansia. Tanin dapat berikatan dengan dinding sel mikroorganisme rumen dan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas enzim. Keberadaan tanin di sisi positif adalah apabila tanin berikatan dengan protein yang berkualitas tinggi dapat terlindung oleh tanin dari degradasi mikroorganisme rumen sehingga lebih tersedia pada saluran pencernaan. Kompleks ikatan tanin dengan protein dapat dilepas pada pH rendah di abomasum dan protein dapat didegradasi oleh enzim pepsin sehingga asamasam amino yang dikandungnya tersedia bagi ternak (Jayanegara et al., 2008).

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mendeteksi keberadaan tanin di dalam hijauan pakan ternak, dan mengetahui senyawa yang mampu berikatan dengan tanin.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanin Tanin merupakan suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul. Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Kedua jenis tanin ini terdapat dalam tumbuhan, tetapi yang paling dominan terdapat dalam tanaman adalah tanin terkondensasi (Hayati et al., 2010). Tanin yang mudah terhidrolisis merupakan polimer gallic atau ellagic acid yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan tanin terhidrolisis merupakan polimer senyawa flavonoid dengan ikatan karbon-karbon (Jayanegara et al., 2008). Tanin umumnya ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam tumbuhan yangmengandung protein tinggi. Pada konsentrasi tinggi ini, tannin dapat mengikat protein atau karbohidrat membentuk suatu ikatan yang sulit dicerna atau dipecahsehingga menyebabkan protein menjadi tidak tersedia. Sedangkan pada konsentrasiyang rendah, tanin memberikan perlindungan kepada protein terhadap degradasi olehmikroba rumen sehingga mengakibatkan bypassing protein dan meningkatkanketersediaan protein di organ pasca rumen. Tanin memiliki beberapa sifat, yaitu mempunyai afinitas tinggi dengan protein, karbohidrat, dan mineral, memiliki rasa pahit (sepat) yang larut dalam air, bisa mengendapkan protein dari larutan, mengikat mineral sehingga dapat menurunkan ketersediaan mineral bagi tubuh sehingga dapat menghambat produksi hemoglobin. (Nadjeeb, 2009). Kemampuan tanin untuk membentuk kompleks dengan protein berpengaruh negatif terhadap fermentasi rumen. Tanin dapat berikatan dengan dinding sel mikroorganisme rumen dan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas enzim. Ketersediaan tanin di sisi lain berdampak positif jika ditambahkan pakan yang tinggi akan protein baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini disebabkan protein yang berkualitas tinggi dapat

terlindung oleh tanin dari degradasi mikroorganisme rumen sehingga lebih tersedia pada saluran pencernaan. Kompleks ikatan tanin dengan protein dapat dilepas pada pH rendah di abomasum dan protein dapat didegradasi oleh enzim pepsin sehingga asam-asam amino yang dikandungnya tersedia bagi ternak. Tanin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri dan virus). Tanin juga berkhasiat sebagai astringen yang dapat menciutkan selaput lendir sehingga mempercepat penyembuhan sariawan (Jayanegara et al., 2008).

Kuinon Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Untuk tujuan identifikasi kuinon dapat dibagi atas empat kelompok yaitu : benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama

biasanya terhidroksilasi dan bersifat fenol serta mungkin terdapat dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol. Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon dan keluarga tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae. Antrakuinon juga disebut 9,10-dioxo-dihydro-anthracen dengan rumus C14H8O2. Senyawa ini biasa berwarna merah, tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan basa dengan membentuk warna violet merah (Harborne, 1996). Kaliandra Kaliandra merupakan tanaman leguminosa yang tahan terhadap kekeringan dan mengandung protein sekitar 22% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Disamping itu kaliandra mengandung tanin sekitar 10% menyebabkan kecernaan kaliandra menjadi rendah yaitu 35 - 42% dan diperkirakan dapat melindungi protein dari pemecahan oleh mikroba rumen. Kandungan tanin dalarn pakan ternak mrnpunyai pengaruh yang rnenguntungkan dan merugikan. Kaliandra merupakan tanin terkondensasi yang dapat mengikat protein dan dapat digunakan sebagai pelindung protein dari degragasi mikroba rumen (Wiryawan et al., 1999).

Lamtoro Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan salah satu leguminosa pohon yang mengandung protein tinggi dan karotenoid yang sangat potensial sebagai pakan ternak non ruminansia seperti unggas di daerah tropis. Lamtoro mengandung senyawa fenolik mimosin dan tanin dengan konsentrasi tinggi. Mimosin (-N-(3-hydroxy-4-pyrodine) mengandung senyawa polifenol yang tinggi termasuk tanin akan mengikat protein, sehingga protein menjadi tidak tersedia untuk ternak dan menyebabkan efek negatif terhadap palatabilitas, kecernaan, dan pertumbuhan (Laconi et al., 2010). Menurut Helena (1992) yang dikutip oleh Susanti (2002), kandungan nutrisi daun lamtoro cukup tinggi yaitu 24.77% protein, 1.7% abu, 3.86% lemak, 14.26% SK, 39.53% BETN, 1.57% Ca, dan 0.285% P. Daun Singkong Daun singkong mempunyai kandungan protein yang tinggi berkisar antar 16.7%-39.9% bahan kering dan hampir 85% dari fraksi protein kasar merupakan protein murni. Dari 2.5-3 ton/ha hasil samping daun singkong dapat menghasilkan tepung daun singkong sebanyak 600-800 kg/ha. Pemakaian tepung daun singkong dalam formulasi ransum dapat dijadikan sebagai sumber protein dan konsentrat pada kambing dan sapi perah. Selain berfungsi sebagai sumber protein, daun singkong juga berperan sebagai anti cacing (anthelmintic) dan kandungan taninnya berpotensi meningkatkan daya tahan saluran pencernaan ternak terhadap mikroorganisme parasit. Ensilase merupakan salah satu cara pengawetan daun singkong sebagai pakan ternak dan efektif menurunkan kandungan sianida (HCN) pada ubi kayu setelah 3 bulan ensilase yaitu 289 mg/kg menjadi 20.1 mg/kg (Pakpahan et al., 1992). Teh Teh merupakan salah satu hasil olahan komoditi pertanian yang dibuat dari daun pucuk tanaman Camellia sinensis. Dengan proses yang berbeda akan dihasilkan jenis teh yang berbeda, diantaranya yaitu teh hijau (diproses tanpa fermentasi) dan teh hitam (diproses dengan fermentasi penuh) (Yudana et al., 1998).

Teh mengandung zat flavanoid atau tanin yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas yang mengacaukan keseimbangan tubuh dan menjadi salah satu pemicu kanker. Daun teh juga mengandung polifenol, theofilin, dan senyawa lainnya yang membantu menghambat perkembangan virus (Yudana et al., 1998). Jenis teh juga berpengaruh terhadap kadar tanin. Hal ini karena menurut (Sartika, 2006) terdapat perbedaan cara pengolahan pada teh hijau dan teh hitam dimana perbedaan cara pengolahan ini berpengaruh terhadap kadar tanin pada masing-masing jenis teh. Sartika (2006) juga mengatakan bahwa dalam daun teh terdapat enzim yang disebut enzim katekol oksidase dimana enzim ini dapat mengubah senyawa tanin menjadi senyawa turunan.

Daun Jambu Biji Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat. Sementara itu, zat warna tanin yang terkandung dalam daun jambu biji, dapat dianalogkan sebagai zat warna naftol (pewarna sintetis). Hasil analisis daun tua tanaman jambu biji biasa adalah sebagai berikut: kadar air 10,79%, dan kadar tanin 11,50%. Sedangkan hasil analisis daun tua tanaman jambu biji bangkok adalah sebagai berikut: kadar air 10,95%, dan kadar tanin 13,85%. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi optimum dari daun tua tanaman jambu biji biasa dengan berat bahan 50 gram, waktu ekstraksi 120 menit, volume pelarut 700 ml, didapat kadar tanin 17,50% dengan kadar air 21,67%. Sedangkan daun tua tanaman jambu biji bangkok dengan berat bahan 50 gram, waktu ekstraksi 150 menit, volume pelarut 800 ml, didapat kadar tanin 18,22% dengan kadar air 26,27%. Kemudian tanin dari daun tua tanaman jambu biji biasa 37,59% dan dari daun tua tanaman jambu biji bangkok 39,15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin dalam daun tua tanaman jambu biji bangkok lebih banyak daripada kadar tanin dalam daun tua tanaman jambu biji biasa (Hastutiningrum dkk, 2003).

Gamal Gamal (G. maculata) merupakan salah satu tanaman yang memiliki senyawa yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati. Tanaman ini banyak mengandung senyawa yang bersifat toksik seperti dicoumerol, asam sianida (HCN), tanin, dan nitrat (NO3) (Nismah, 2009). Daun gamal digunakan sebagai bahan makanan ternak ruminansia karena mempunyai protein kasar 25.2% dan energi yang lebih tinggi 5.3 Mkal/kg BK. Kadar ADF yang rendah (25.95%) juga menyebabkan koefisien cerna bahan kering ransum gamal lebih tinggi daripada ransum lamtoro dan kaliandra yang mengandung ADF sekitar 26.8% dan 36.5% (Rahmawati, 2001). Selain itu kandungan tanin sekitar 0,07% dapat memberikan efek melindungi protein pakan dari degradasi mikroba rumen. Daun gamal juga mempunyai palatabilitas yang rendah karena baunya yang spesifik (Mathius et al., 1981). Protein Putih Telur Telur merupakan sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam amino proteinnya sangat lengkap, sehingga protein telur (campuran putih dan kuning telur) seringkali dijadikan sebagai protein referensi. Kadar lipidanya terdiri dari trigliserida (lemak) dan fosfolipid (termasuk kolesterol). Kadar airnya menyamai kadar air daging, yaitu sekitar 73%. Telur kaya fosfor dan besi, tetapi kandungan kalsiumnya rendah. Keadaan sepeerti ini sama seperti yang dijumpai pada daging. Selain itu telur juga mengandung vitamin B kompleks, serta vitamin A dan D (dalam kuning telur). Telur sama sekali tidak mengandung vitaminC. Satu butir telur berukuran sedangakan memberikan energi sekitar 80 kilokalori. (Muchtadi, 2005). Protein Susu Protein dalam susu mencapai 3,25%. Beberapa protein spesifik menyusun protein susu. Kasein merupakan komponen protein yang terbesar dalam susu dan sisanya berupa whey protein. Kadar kasein pada protein susu mencapai 80%. Protein susu juga mengandung lysin dengan jumlah yang relatif sangat tinggi. Karena itu penggunaan susu dalam breakfast cereal sangat cocok dan

harmonis, karena dengan kelebihan lysin pada susu akan menutupi kekurangan lysin daam biji-bijian yang digunakan dalam breakfast cereal. Protein susu mewakili salah satu mutu protein yang nilainya sepadan dengan daging yang hanya diwakili oleh telur. Dibandingkan dengan protein standar, protein telur yang berdasarkan asam amino yang kurang adalah asam amino yang mengandung sulfur yaitu sistin, sistein, dan metionin. Sebaliknya protein lisin dengan jumlah yang reatif tinggi. Namun demikian dalam susu kental dan susu kering, sebagian asam amino lisin tersebut tidak dapat digunakan karena telah mengalami interaksi dengan susu laktosa dan senyawa lain. Breakfast cereal dengan menggabungkan susu pasteurisasi dengan sereal yang kekurangan lisin adalah kombinasi yang sangat baik (Winarno, 2007).

Karbohidrat Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau

polihidroksil-keton. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida). Beberapa molekul karbohidrat antara lain: CMC (Carboxymethylcellulose) CMC berwarna putih sampai putih kekuning-kuningan, higroskopik dan halus. Pada konsentrasi kritik misel terjadi penggumpalan atau agregasi dari

molekul-molekul surfaktan membentuk misel. Misel biasanya terdiri dari 50 sampai 100 molekul asam lemak dari sabun Sifat-sifat koloid dari larutan elektrolit sodium dedosil sulfat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai CMC, untuk deret homolog surfaktan rantai hidrokarbon, nilai CMC bertambah 2x dengan berkurangnya satu atom C dalam rantai. Gugus aromatik dalam rantai hidrokarbon akan memperbesar nilai CMC dan juga memperbesar kelarutan. Adanya garam menurunkan nilai CMC surfaktan ion. Penurunan CMC hanya bergantung pada konsentrasi ion lawan, yaitu makin besar konsentrasinya makin turun CMC-nya.Secara umum misel dibedakan menjadi dua, yaitu: struktur lamelar dan sterik (Martin, 1993).

Pati Pati merupakan polisakarida, polisakarida terdiri dari pati dan selulosa bedanya pati dengan selulosa, pati merupakan polimer dari alfa-D-glukosa, sedangkan selulosa unit 2-beta-glukosa. Hal ini menujukan bahwa pati lebih mudah dicerna dibandingkan dengan selulosa (McDonald, 1995). Pati merupakan homopolimer glukosa yang tersusun oleh paling sedikit tiga komponen utama yaitu amilosa, amilopektin, dan bahan antara seperti lipid dan protein. Umumnya pati mengandung 15-30 % amilosa, 70-85 % amilopektin, dan 5-10 % bahan antara. Pati juga merupakan salah satu jenis polisakarida terpenting dan tersebar luas di alam. Pati disimpan sebagai cadangan ranmakanan bagi tumbuh-tumbuhan, antara lain dalam biji buah (padi, jagung, gandum), di dalam umbi (ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong, kentang) dan pada batang (aren dan sagu) (Fennema, 1976). Fruktosa Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosda merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Fruktosa alami terdapat sekitar 5% -10% dari berat semua jenis buah. Penggunaannya dalam makanan olahan berasal dari sebuah penemuan pada 1971 yang disintesis dari

55% fruktosa dan 45% glukosa dari jagung, membuat bahan lebih murah dan enam kali lebih manis daripada gula tebu (McDonald, 1995). Glukosa Glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Proses respirasi memerlukan glukosa, sedangkan fotosintesis menghasilkan glukosa. Glukosa berwujud padatan berwarna putih dan meleleh pada suhu 146oC. Struktur glukosa umumnya berbentuk kursi siklik dan hanya 0,02% berbentuk rantai lurus. Hal ini dikarenakan karbohidrat memiliki gugus fungsi alkohol dan aldehida atau keton sehingga struktur rantai lurus mudah berkonversi menjadi bentuk kursi siklik atau struktur cincin hemiasetal (Ophardt, 2003).

Sukrosa Sukrosa merupakan pemanis yang banyak dikonsumsi dalam kehidupan manusia. Salah satu sumber sukrosa terpenting adalah tebu karena mengandung sukrosa hingga 20%. Sukrosa dikenal sebagai gula meja (table sugar), merupakan disakarida yang terbentuk dari satu molekul -D-glukosa dan satu molekul -DFruktosa yang dihubungkan ole ikatan -1, 2-glikosidik (Rahman et al., 2004). Sukrosa memiliki sifat mudah larut dalam air dan kelarutannya akan meningkat dengan adanya pemanasan. Titik leleh sukrosa adalah pada suhu 1600C dengan membentuk cairan yang jernih, namun pada pemanasan selanjutnya akan berwarna coklat atau dikenal dengan proses browning (Buckle, 1987). Mineral Mineral dapat didefinisikan sebagai suatu ikatan kimia padat yang terbentuk secara alamiah dan termasuk di dalamnya materi geologi padat yang menjadi penyusun terkecil dari batuan. Tanin dapat menghambat penyerapan mineral zat besi dan mengganggu kerja enzim akibat terbentuknya ikatan kompleks proteintanin. Leguminosa dan butir-butiran umumnya mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) lebih banyak dibanding tanaman lain. Banyak perubahan komposisi mineral terjadi dalam masa pertumbuhan tanaman. Perbedaan lingkungan juga sangat mempengaruhi kandungan mineral tanaman seperti jenis

dan kondisi tanah, pengaruh pemupukan, komposit tanaman yang di tanam, serta cuaca dan iklim. Kebutuhan mineral pada ternak sangat bervariasi tergantung pada umur ternak, ukuran ternak, jenis kelamin, tipe produksi dan fase produksinya (McDowell, 1992). KCl Kalium klorida senyawa kimia (KCl) adalah garam logam halida terdiri darikalium dan klor. Dalam keadaan murni itu tidak berbau. Memiliki vitreous kristal putih atau berwarna, dengan struktur kristal yang memotong mudah dalam tiga arah.Kalium klorida kristal adalah kubik berpusat muka. Kalium klorida kadang-kadangdisebut sebagai "muriate dari potasium," terutama ketika digunakan sebagai pupuk yang. Potash bervariasi dalam warna dari merah muda atau merah menjadi putihtergantung pada proses

pertambangan dan pemulihan digunakan. Potas Putih, kadang-kadang disebut sebagai potas larut, biasanya lebih tinggi pada analisis dandigunakan terutama untuk membuat pupuk starter cair. KCl yang digunakan

dalamkedokteran, aplikasi ilmiah, pengolahan makanan dan dalam pelaksanaan peradilan melalui suntikan mematikan. Hal ini terjadi secara alami sebagai silvit pertambanganmineral dan dalam kombinasi dengan natrium klorida sylvinite. (Gunadi, 2009) CuSO4 Tembaga(II) sulfat, juga dikenal dengan cupri sulfat, adalah sebuah senyawa kimia dengan rumus molekul CuSO4. S e n ya w a g a r a m i n i e k s i s di bumi dengan kederajatan bubuk hidrasi yang berbeda-beda.

Bentuk anhidratnya berbentuk

hijau pucat atau abu-abu putih,

sedangkan bentuk pentahidratnya (CuSO45H2O), berwarna biru terang. Tembaga sulfat juga digunakan dalamsintesis organik . Tembaga sulfatanhidrat ini akan mengkatalis transasetilasi pada sintesis organik. Tembaga sulfat terhidrasi yang direaksikan dengankalium permanganatakan menjadi oksidan untuk mengkonversi alkohol primer. (Maron, 1974)

MATERI DAN METODE Materi Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, mortar, corong, kapas, botol selai, kompor, spoit 1 ml, timbangan, label, dan sendok plastik. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun (gamal, lamtoro, kaliandra, singkong, jambu biji), teh, putih telur, susu, larutan FeCl3, larutan NaOH 1 N, mineral CuSO4 dan KCl, glukosa, fruktosa, sukrosa, CMC, selobiosa, dan aquadest.

Metode Persiapan sampel Semua daun (daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro) digerus menggunakan mortar dan pestel. Sebanyak 6 gram sampel gerusan dimasukkan ke dalam botol selai, ditambahkan 100 ml air panas kemudian diaduk sampai dingin. Sampel disaring menggunakan corong dan kapas. Filtrat diambil dan ampasnya dibuang. Uji Tanin Filtrat dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml, ditambahkan larutan FeCl3, dan diamati timbulnya warna kehijauan sebagai tanda keberadaan tanin. Prosedur yang sama dilakukan untuk semua filtrat hijauan lainnya. Bandingkan hasil antar filtrat baik daun maupun teh. Uji Kuinon Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditetesi larutan NaOH 1 N dan diamati adanya warna merah sebagai tanda adanya senyawa kuinon. Uji ikatan tanin dengan dengan protein telur dan susu Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan sampel susu (susu skim, susu murni, sari kedelai) dan putih telur, kemudian diamati apa yang terjadi. Amati perbedaan antar tanin hijauan dan sumber hiajuan.

Uji ikatan tanin dengan karbohidrat Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan larutan glukosa 1% sebanyak 1 ml, dan diamati apa yang terjadi. Prosedur yang sama dilakukan untuk sumber karbohidrat lainnya. Amati perbedaan antar tanin hijauan dan sumber karbohidrat. Uji ikatan tanin dengan mineral Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, larutan CuSO4 1%, dan diamati perubahan yang terjadi. Prosedur yang sama dilakukan menggunakan larutan KCl 1%.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil praktikum tannin yang dilakukan memperoleh data yang kemudian dimuat ke dalam beberapa tabel menurut percobaan yang dilakukan.

Tabel 1. Pengujian Keberadaan Tanin dalam Sampel (+FeCl3) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Teh Daun Gamal Daun Kaliandra Daun Lamtoro Daun Jambu Biji Daun Singkong Keterangan: 1. 2. + 3. ++ 4. +++ 5. ++++ : jernih : keruh : agak keruh : agak pekat : sangat pekat Sampel Warna Asal Coklat Hijaun Bening Hijau Sangat Keruh Hijaun Sedikit Keruh Coklat Muda Keruh Hijau Keruh Warna Akhir +++ + ++ ++++ ++ ++

Tabel 2. Pengujian Keberadaan Tanin dalam Sampel (+NaOH 1 N) No. 1. 2. 3. 4. Teh Daun Gamal Daun Kaliandra Daun Lamtoro Sampel Warna Asal Coklat Hijaun Bening Hijau Sangat Keruh Hijaun Sedikit Keruh Warna Akhir ++++ + ++ ++

5. 6.

Daun Jambu Biji Daun Singkong Keterangan: 1. 2. + 3. ++ 4. +++ 5. ++++ : jernih : keruh

Coklat Muda Keruh Hijau Keruh

+++ ++

: agak keruh : agak pekat : sangat pekat

Tabel 3. Pengujian Pengikatan atau Pengendapan Senyawa Protein oleh Tanin No. Sampel Endapan yang Terbentuk Susu Sapi 1. 2. 3. 4. 5. 6. Teh Daun Gamal Daun Kaliandra Daun Lamtoro Daun Jambu Biji Daun Singkong ++++ ++ +++ +++ ++++ ++ Putih Telur ++++ + +++ +++ ++++ ++

Keterangan banyaknya endapan : 1. 2. + 3. ++ 4. +++ 5. ++++ : tidak ada : sedikit : agak banyak : banyak : sangat banyak

Tabel 4. Pengujian Pengikatan Senyawa Karbohidrat oleh Tanin No. Sampel Urutan Kelarutan Glukosa Fruktosa Sukrosa Selobiosa 1. 2. 3. Teh Daun Gamal Daun Kaliandra 4. Daun Lamtoro 5. Daun Jambu Biji 6. Daun Singkong Keterangan Kelarutan 1. 1 2. 2 3. 3 4. 4 5. 5 6. 6 : sangat larut : larut : agak larut : sedikit larut : tidak larut : sangat tidak larut 3 4 3 4 4 4 6 6 6 6 6 6 4 3 4 3 3 3 1 2 5 1 2 5 1 2 5 1 2 5 CMC 1 2 5 Pati 1 2 5

Tabel 5. Pengujian Pengikatan Senyawa Mineral oleh Tanin No. Sampel Urutan Kelarutan CuSO4 1. 2. 3. 4. 5. 6. Teh Daun Gamal Daun Kaliandra Daun Lamtoro Daun Jambu Biji Daun Singkong KCl -

Keterangan Kelarutan : : tidak larut

Pembahasan Tanin merupakan suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul. Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Kedua jenis tanin ini terdapat dalam tumbuhan, tetapi yang paling dominan terdapat dalam tanaman adalah tanin terkondensasi (Hayati et al., 2010). Percobaan yang dilakukan dalam mengidentifikasi keberadaan tannin dalam beberapa hijauan makanan ternak ditambah dengan larutan FeCl3 dimana konsentrasi tannin dalam hijauan ternak tersebut berbanding lurus dengan warna pekat yang dihasilkan. Dalam praktikum yang dilakukan diperoleh hasil bahwa lamtoro memiliki kadar tannin lebih besar dibanding keseluruhan dan daun gamal memiliki kadar tannin yang paling sedikit. Hal ini didukung dengan pendapat Laconi ( 2010 ) dimana lamtoro memiliki kadar tannin yang tinggi. Dan pendapat

Rahmawati (2001) yang menyatakan bahwa gamal memiliki kadar tannin yang rendah yaitu sekitar 0,07%. Perbedaan penambahan larutan yaitu antara FeCl3 dan NaOH memberikan perbedaan hasil juga dimana pada penambahan NaOH diperoleh hasil kekeruhan yang berbeda dengan FeCl3. Pada penambahan NaOH diperoleh hasil bahwa teh memiliki tingkat kekeruhan paling tinggi dibanding keseluruhan sampel daun hijauan makanan ternak. Perbedaan kekeruhan ini terjadi karena perbedaan reaksi yang terjadi antara NaOH dan hijauan makanan ternak, dengan FeCL3 dan hijauan makanan ternak. Percobaan pengujian pengikatan atau pengendapan protein oleh tannin menunjukkan bahwa teh dan daun jambu biji mengikat protein lebih banyak daripada yang lainnya. Sementara gamal mengikat protein paling sedikit. Hal ini terjadi karena kadar tannin yang terdapat pada sampel akan menunjukkan seberapa banyak sampel mengikat protein. Semakin tinggi kadar tannin maka semakin banyak protein yang dapat diikat oleh sampel tersebut, dan sebaliknya. Berdasarkan hasil uji ikatan tanin dengan mineral menunjukkan bahwa senyawa tanin tidak berikatan dengan mineral. Hasil praktikum berbeda dengan literature yang menyatakan bahwa tanin memiliki beberapa sifat, yaitu mempunyai afinitas tinggi dengan protein, karbohidrat, dan mineral, memiliki rasa pahit (sepat) yang larut dalam air, bisa mengendapkan protein dari larutan, mengikat mineral sehingga dapat menurunkan ketersediaan mineral bagi tubuh sehingga dapat menghambat produksi hemoglobin. (Nadjeeb, 2009). Tannin dapat berikatan pada karbohidrat. Dalam percobaan pengujian pengikatan senyawa karbohidrat oleh tannin menunjukkan bahwa senyawa karbohidrat baik monosakarida, disakarida, atau polisakarida sangat larut pada the dan sangat tidak larut dalam daun jambu biji. Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Untuk tujuan identifikasi kuinon dapat dibagi atas empat kelompok yaitu : benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama

biasanya terhidroksilasi dan bersifat fenol serta mungkin terdapat dalam bentuk

gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol. Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon dan keluarga tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae. Antrakuinon juga disebut 9,10-dioxo-dihydro-anthracen dengan rumus C14H8O2. Senyawa ini biasa berwarna merah, tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan basa dengan membentuk warna violet merah (Harborne, 1996).

KESIMPULAN Tanin merupakan senyawa polifenol yang banyak terdapat di dalam hijauan pakan ternak khususnya tanaman leguminosa yang mengandung protein tinggi karena tanin melindungi protein pakan dari degradasi mikroba rumen. Pada percobaan ini, semua bahan yang diuji mengandung senyawa tanin yaitu gamal, lamtoro, kaliandra, daun singkong, daun jambu biji, dan teh hitam. Selain itu, tanin berikatan dengan protein, karbohidrat, dan mineral.

DAFTAR PUSTAKA Buckle, K. A., R. A. Edwards, G. H. Fleet dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press: Jakarta. Fennema, O.R. 1996. Food Chemistry. 2 nd. Ed. Marcel Dekker Inc: New York. Hastutiningrum, Sri dan Sri Luwihana, Arinta. 2003. Pengambilan tanin dari daun jambu biji dengan pelarut aquadest dalam jurnal iptek material Vol:2 No:1(40-51). Pusat Teknologi Dirgantara Terapan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional: TangerangHarborne JB. 1996. Metode Fitokimia: Cara Menganalisis Tanaman. Terjemahan K. Padmawinata & I Sudiro. Bandung: ITB Pr. Hayati, Elok Kamilah, A. Ghanaim Fasyah, dan Lailis Saadah. 2010. Fraksinasi dan identifikasi senyawa tanin pada daun belimbing wuluh (Averrohoa bilimbi L.). Jurnal Kimia. 4 (2) : 193-200. Jayanegara A., A. Sofyan. 2008. Penentuan aktivitas biologis tanin beberapa hijauan secara in vitro menggunakan Hohenheim Gas Test dengan polietilen glikol sebagai determinan. Media Peternakan. 31 (1) : 44-52. Laconi, E. B., dan T. Widiyastuti. 2010. Kandungan xantofil daun lamtoro (Leucaena leucocephala) hasil detoksikasi mimosin secara fisik dan kimia. Media Peternakan. Martin, Alfred.1993. Farmasi Fisik:Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik Edisi 3. UI Press: Jakarta McDonald, P., R. A. Edwards, and J. F. D. Greenhalgh. 1995. Animal Nutrition. 5thE d , Longman. Scientific and technical John willey and Sons. Inc, N e w York.Nadjeeb. 2009. Tanin [terhubungberkala].http://nadjeeb.wordpress.com. (27 April2013) McDowell, LR. 1992. Minerals in Animal and Human Nutrition. Academic Press, Inc: New YorkOphardt, C. E. 2003. Virtual chembook. (terhubung berkala)http://www.elmhurst.edu. (22 April 2011).

Nismah. 2009. Uji toksisitas ekstrak daun gamal (Gliricidia maculata) terhadap imago hama bisul dadap (Quadrastichus erythrinae KIM.). Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Pakpahan, A., M. Gunawan, A. Djauhari., S.M. Pasaribu, A. Nasution dan S. Friyatno. 1992. Cassava Marketing in Indonesia. Center for Agro Socioeconomic Research and Development. Caser Publishing. Bogor. Winarno F.G., dan Ivone E. F. 2007. Susu dan Produk Fernmentasinya. Bogor. E-Mbrio Pres Wiryawan, Wina, K.G.E., Ernawati, R. 1999. Pemanfaatan tanin kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebagai agen pelindung beberapa sumber protein pakan (In Vitro). Bogor. Institut Pertanian Bogor. Yudana dan Luize. 1998. Mengenal Ragam Dan Manfaat Teh (http://www.indomedia.com/intisari/1998/mei/teh.htm ). Diakses tanggal [1 Mei 2012].