Anda di halaman 1dari 25

49

PENGARUH POLARITAS DAN KONSENTRASI EKSTRAK


ANDALIMAN TERHADAP PERTUMBUHAN Bacillus cereus


ABSTRAK

Ekstraksi andaliman secara bertingkat dengan heksana, etilasetat dan
metanol, dan masing-masing menghasilkan ekstrak nonpolar, semipolar dan polar.
Ekstrak etilasetat dan ekstrak metanol andaliman dapat menghambat pertumbuhan
Bacillus cereus, sedangkan ekstrak heksana tidak menunjukkan adanya aktivitas
penghambatan.
Secara umum ekstrak etilasetat menghasilkan penghambatan yang relatif
lebih tinggi dibandingkan ekstrak metanol. Fase pertumbuhan eksponensial
B. cereus adalah fase yang paling peka terhadap ekstrak etilasetat dibandingkan
fase adaptasi dan stasioner. Konsentrasi ekstrak etilasetat 10-50% (w/w) pada fase
eksponensial menunjukkan diameter penghambatan terhadap B. cereus berkisar
12.42-19.22 mm. Nilai MIC dan MBC ekstrak etilasetat terhadap B. cereus
sebesar 0.20 dan 1.20%. Aktivitas penghambatan ekstrak etilasetat lebih tinggi
baik terhadap spora maupun sel vegetatif. Bila dibandingkan dengan antibiotik
(penisilin G, streptomisin dan polimiksin) aktivitas antibakteri ekstrak andaliman
terhadap B. cereus hanya kali lebih rendah.

PENDAHULUAN

Pemilihan pelarut organik yang digunakan dalam ekstraksi komponen
bioaktif tanaman merupakan faktor penting dan menentukan untuk mencapai
tujuan dan sasaran ekstraksi komponen. Dengan mengetahui sifat senyawa yang
akan diekstraksi dapat dipilih pelarut yang sesuai berdasarkan polaritasnya.
Senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar lebih
mudah larut dalam pelarut nonpolar, sedangkan semipolar dapat larut diantara
pelarut polar dan nonpolar. Derajat polaritas tergantung pada ketetapan dielektrik,
semakin besar tetapan dielektrik, maka pelarut semakin polar (Houghton dan
Raman 1998).
Houghton dan Raman (1998) lebih lanjut mengemukakan bahwa secara
umum terdapat tiga metode ekstraksi, yaitu metode maserasi, refluks dan
perkolasi. Selain itu dapat dilakukan ekstraksi bertingkat dengan menggunakan
pelarut yang berbeda, secara berturut-turut mulai dengan pelarut nonpolar
(n-heksana, siklo heksana, toluena dan kloroform) lalu menggunakan pelarut yang
semipolar (etilasetat, diklorometan dan dietileter), kemudian dengan pelarut polar
(metanol, etanol dan air). Dari proses ekstraksi bertingkat seperti ini akan
50
dihasilkan ekstrak awal (ekstrak kasar) yang mengandung berturut-turut senyawa
nonpolar, semipolar dan polar (Hostettmann et al. 1997).
Hasil penelitian Ardiansyah (2001) yang menggunakan ekstraksi
bertingkat metode maserasi dan refluks dengan pelarut heksana, etilasetat, dan
metanol menunjukkan bahwa konsentrasi 5% ekstrak etilasetat andaliman mampu
menghambat B. cereus sebesar 7.1 mm. Selanjutnya Yasni (2001) menyatakan
bahwa ekstrak andaliman mengandung minyak atsiri yang dapat menyebabkan
penghambatan terhadap bakteri patogen. Hasil pengujian ekstrak yang diperoleh
dengan metode refluks menunjukkan aktivitas penghambatan lebih rendah
dibandingkan dengan metode maserasi (Ardiansyah 2001). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam pengaruh polaritas dan konsentrasi
ekstrak andaliman terhadap aktivitas antibakteri pada beberapa fase pertumbuhan
B. cereus dengan menggunakan metode difusi sumur.

METODOLOGI
Bahan dan alat
Bahan yang digunakan adalah buah andaliman Varietas Simanuk, yang
berasal dari Medan dan diperoleh dari Pusat Pasar Senen Jakarta. Kultur Bacillus
cereus FNCC 134 diperoleh dari koleksi kultur Pusat Antar Universitas Pangan
dan Gizi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Analisis Proksimat (Apriyantono et al. 1989)
Pengujian proksimat yang dilakukan adalah kadar air (metode oven), kadar
protein (metode Kjeldhal-mikro), kadar lemak (metode soxhlet), kadar abu total,
kadar karbohidrat (by difference).
Ekstraksi dengan Metode Maserasi (Harbone 1996)
Ekstraksi dilakukan dengan perbandingan bahan dan pelarut 1:4 (w/v).
Proses ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan metode maserasi,
menggunakan pelarut heksana untuk memperoleh ekstrak nonpolar; ampas
diekstraksi lebih lanjut dengan pelarut etilasetat untuk memperoleh ekstrak
semipolar; dan kemudian ampas yang diperoleh diekstraksi dengan pelarut
metanol untuk memperoleh ekstrak polar. Secara rinci dapat dilihat pada diagram
alir proses ekstraksi menggunakan metode maserasi (Gambar 4.1).
51
Buah Andaliman
(pencucian, sortasi, pengeringan beku)























Gambar 4.1 Diagram Alir Proses Ekstraksi Andaliman Dengan Metode Maserasi
Ekstraksi dengan pelarut nonpolar
(heksana)
Sonikasi (15 menit)

Ampas

Inkubasi bergoyang suhu 37
0
C, 24 jam

Filtrat

Ekstraksi dengan pelarut semipolar
(etilasetat)

Evaporasi (45
0
C), 45 menit

Sonikasi (15 menit)

Inkubasi bergoyang suhu 37
0
C, 24 jam
Ekstrak nonpolar

Filtrat

Evaporasi (45
0
C), 1.5 jam

Ekstraksi dengan pelarut polar
( metanol)
Sonikasi (15 menit)

Inkubasi bergoyang suhu 37
0
C, 24 jam

Ampas

Filtrat

Evaporasi (45
0
C), 2 jam

Ampas

Ekstrak polar

Ekstrak semipolar
di ulangi
di ulangi
di ulangi
52
Penentuan Fase Pertumbuhan B. cereus(Lin et al. 2000)
Sebanyak 10 l suspensi diinokulasikan ke dalam 10 ml NB (nutrient
broth) dan diinkubasi pada suhu 37
0
C selama 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, 12, 16, 20,
25 jam (Harrigan 1998); Lin et al. 2000). Pada setiap waktu inkubasi dilakukan
penghitungan jumlah sel dengan metode pour plate menggunakan media NA
(nutrient agar) (Harrigan 1998).

Pengujian Antibakteri Ekstrak Andaliman Menggunakan Metode Difusi
Sumur (Garriga et al. 1993)

Pengujian ini menggunakan ekstrak etilasetat dan metanol masing-masing
sebanyak 60 l ekstrak dengan konsentrasi 0, 10, 20, 30, 40, dan 50% (w/w). Cara
pembuatan konsentrasi masing-masing ekstrak andaliman dapat dilihat pada
Lampiran 2, sedangkan kontrol menggunakan pelarutnya masing-masing.
Penentuan aktivitas antibakteri berdasarkan zona penghambatan yang ditunjukkan
dengan diameter areal bening.

Pengujian Kualitatif Komponen Fitokimia Ekstrak Andaliman (Harbone
1996)
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan penggolongan ekstrak
andaliman nonpolar, semipolar dan polar pada komponen alkaloid, fenol
hidrokuinon, terpenoid, steroid, flavonoid dan saponin.

Penentuan MIC dan MBC Ekstrak Andaliman (Kubo et al. 1995)
Ke dalam 14 tabung ekstrak andaliman dengan konsentrasi 0.0, 0.2, 0.4,
0.8, 1.2, 1.6, 2.0, 2.4, 2.8, 3.2, 3.6, 4.0, 5.0, dan 6.0% (w/w) diinokulasikan 30 l
suspensi B. cereus, lalu diinkubasi 37
0
C selama 24 dan 48 jam. Nilai MIC (%)
yaitu konsentrasi minimum ekstrak yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
uji sebanyak 90% selama 24 jam. Nilai MBC diperoleh dengan menentukan
konsentrasi terendah dari 14 seri tabung uji yang menunjukkan penurunan
pertumbuhan bakteri uji secara drastis (> 99.9%) setelah diinkubasi 48 jam
dibandingkan dengan jumlah bakteri uji awal (nol jam).

53
Pengaruh pH terhadap Aktivitas Ekstrak Andaliman (Carson dan Riley
1995)
Sebanyak 25 ml agar yang mengandung B. cereus pada fase eksponensial
(10
6
cfu/ml) dituangkan ke dalam cawan petri hingga ketebalan 4 mm. Setelah
agar membeku, dibuat sumur dengan diameter 6 mm dan dimasukkan 60 l
ekstrak yang telah diatur pHnya masing-masing pada pH 4, 5, 6 dan 7. Penentuan
pengaruh pH berdasarkan zona penghambatan yang efektif, ditunjukkan dengan
diameter areal bening.

Pembandingan Potensi Bakterisidal Ekstrak Andaliman dengan
Streptomisin, Polimiksin B dan Penisilin G (Lin et al. 2000)

Pengujian dilakukan dengan metode difusi sumur (Garriga et al. 1993)
pada konsentrasi antibiotik masing-masing sebesar 10, 100, 1000 g/l (Lewis
et al. 2004) untuk polimiksin B, streptomisin dan penisilin G, sedangkan
konsentrasi ekstrak andaliman 4000 g/l (Ardiansyah 2001). Penentuan potensi
bakterisidal dari ekstrak terhadap B. cereus didasarkan pada zona penghambatan
yang ditunjukkan dengan diameter areal bening untuk masing-masing antibiotik
dan ekstrak andaliman.

Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Andaliman terhadap Spora
(Nuraida et al. 1999)

Suspensi B. cereus mengandung 10
6
cfu/ml spora/sel vegetatif diuji
dengan metode difusi sumur (Garriga et al. 1993) dengan ekstrak uji sebanyak
60 l. Untuk mengetahui pembentukan spora pada B. cereus terlebih dahulu
bakteri ditumbuhkan pada suhu 37
O
C dan diamati pembentukan sporanya setelah
diinkubasi 24, 48, 72 dan 96 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen, Proksimat dan Sifat Fisiko Kimia Andaliman
Hasil analisis proksimat andaliman dan rendemen minyak atsiri yang
dihasilkan dapat disimak pada Tabel 4.1. Kadar lemak buah andaliman (2.58%)
lebih tinggi daripada kadar protein (1.93%) sehingga hasil ekstraksi yang
54
diperoleh dengan pelarut nonpolar juga leb ih tinggi dibandingkan dengan ekstrak
semipolar maupun polar. Rendemen ekstrak bubuk andaliman berdasarkan
polaritas pelarut dan hasil analisis kualitatif komponen aktif dari masing-masing
jenis ekstrak andaliman dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.1 Analisis Proksimat dan Kandungan Minyak Atsiri Andaliman
Variabel pengamatan Jumlah (%)
Kadar air 67.71
Kadar protein 1.93
Kadar lemak 2.58
Kadar abu total 1.80
Kadar karbohidrat 25.98
Kadar air andaliman setelah kering beku (dry basis) 6.23
Rendemen andaliman kering beku 32.29
Kadar minyak atsiri andaliman segar (wet basis) 8.01


Tabel 4.2 Rendemen dan Hasil Analisis Kualitatif Komponen Aktif
Ekstrak Andaliman
Komponen aktif Ekstrak
Heksana
Ekstrak
Metanol
Ekstrak
Etilasetat
Rendemen (%) 6.30 4.15 3.17
Alkaloid + + +
Tanin - + -
Fenol Hidrokuinon - + +
Flavonoid + + +
Triterpenoid + + +
Saponin - + +
Steroid + + +
Keterangan:
+ : mengandung komponen
- : tidak mengandung komponen

Kadar air bubuk andaliman cukup rendah (6.23%) dan rendemen buah
setelah pengeringan beku relatif tinggi (32.29%). Demikian pula rendemen
minyak atsiri andaliman segar yang diperoleh cukup tinggi, (8.01% w/w)
dibandingkan dengan minyak atsiri biji atung sebanyak 1.79% (Murhadi 2002),
sereh segar sebanyak 0.25 -0.50% (Oyen dan Nguyen 1999) atau minyak atsiri
kunyit segar sebanyak 3 5% (Purseglove 1981). Rendemen yang relatif tinggi
dan tingginya kandungan minyak atsiri buah andaliman ini merupakan potensi
55
untuk pemanfaatannya sebagai pengawet pangan alami. Profil komponen aktif
minyak atsiri andaliman yang dilaporkan Yasni (2001) menyatakan terdapat 11
komponen dengan 5 komponen utama yaitu a-pinen, limonen, geraniol, sitronella
dan geranil asetat. Komponen minyak atsiri tersebut dapat menghambat
pertumbuhan bakteri patogen (E. coli, Pseudomonas, B. cereus, dan S. aureus)
dan kapang (Fusarium sp, Penicillium sp dan Aspergillus flavus).
Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa rendemen dengan pelarut heksana,
etilasetat dan metanol berturut-turut sebesar 6.30, 4.15 dan 3.17%. Menurut
Houghton dan Raman (1998), ekstrak heksana (nonpolar) mengandung
komponen yang bersifat nonpolar seperti lilin, lemak dan minyak atsiri,
sedangkan ekstrak etilasetat (semipolar) sebagian besar mengandung senyawa-
senyawa alkaloid, aglikon-aglikon, dan glikosida. Ekstrak metanol (polar)
terutama mengandung kelompok senyawa gula, asam-asam amino, glikosida dan
kelompok senyawa yang juga larut dalam petroleum eter, heksana, kloroform,
etilasetat, etanol dan air dalam jumlah dan proporsi berbeda-beda.
Tingginya rendemen ekstrak nonpolar andaliman menunjukkan bahwa
komponen yang dapat larut dalam heksana lebih banyak dibandingkan komponen
semipolar (etilasetat) maupun komponen polar (metanol). Selain itu rendemen
ekstrak nonpolar yang tinggi dapat juga disebabkan karena pelarut yang
digunakan pertama adalah heksana. Kemampuan pelarut heksana untuk
melarutkan banyak kelompok senyawa organik terutama dalam bentuk senyawa
nonpolar suatu campuran organik dapat menghasilkan rendemen lebih besar.
Pada penelitian ini penghilangan pelarut dilakukan dengan menggunakan
vakum rotavapor pada suhu 45
0
C dan dikeringbekukan hingga terbentuk
konsentrat pekat. Penghilangan pelarut pada suhu 45
0
C kemungkinan komponen
aktif andaliman masih belum mengalami perubahan, hal ini merupakan salah satu
penyebab tingginya rendemen ekstrak yang diperoleh.
Komponen-komponen alkaloid dalam jaringan tanaman dapat diekstrak
melalui beberapa metode, diantaranya dengan metode maserasi menggunakan
aseton (Ramsewak et al. 1999); metode homogenisasi menggunakan pelarut
etanol (polar) dalam etilasetat (Holstege et al. 1995); dan metode soxhlet
56
menggunakan metanol yang diakhiri dengan ekstraksi menggunakan diklorometan
(Brooke et al. 1996).
Pada Tabel 4.2 dapat dilihat pula bahwa komponen aktif yang terdapat
pada ekstrak etilasetat dan metanol adalah alkaloid, fenol hidrokuinon, flavonoid,
triterpenoid, saponin, steroid, sedangkan tanin hanya terdapat pada ekstrak
metanol. Puuponen-Pimia et al. (2001) melaporkan bahwa komponen fenolik
yang terkandung pada ekstrak berry mampu menghambat beberapa bakteri Gram
negatif, diantaranya adalah Salmonella enterica SH-5014 dan E. coli CM871.
Dari beberapa hasil penelitian dapat diketahui bahwa senyawa-senyawa
fenolik tanaman yang telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri diantaranya
adalah turunan dari p-benzekuinon sepert i: 2,3-dimetoksi-5-metil-p-benzokuinon,
2,6-difenil-p-benzekuinon, dan 2,6-dimetoksi-p-benzokuinon (Nishina et al.
1991). Ekstrak metanol dari tanaman Mitracarpus scaber yang mempunyai
komponen asam galat dan asam 3,4,5-trimetoksi asam benzoat, dapat
menghambat pertumbuhan S. aureus (MIC 3.90 dan 0.97 g/ml), sedangkan
senyawa 4-metoksiasetofenon dan 3,4,5-trimetoksiasetofenon sangat efektif
menghambat Candida albicans (MIC 1.95 g/ml), serta komponen kaemferol-3-
o-rutinosida, rutin dan psoralen mempunyai aktivitas rendah terhadap bakteri dan
kapang, hal ini ditunjukkan dengan nilai MIC 125-500 g/ml (Bisignano et al.
2000). Selain itu ekstrak nonpolar rosemary yang termasuk dalam komponen
fenolik mampu menghambat bakteri Gram positif seperti B. cereus, S. aureus dan
Streptococcus pyogenes (Campo et al. 2000).
Senyawa-senyawa tanin yang telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri
terutama yang berasal dari ekstrak teh hijau yang mempunyai kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Senyawa aktif dari tanin
tersebut adalah galokatekin, epigalokatekin, dan epigalokatekin galat. Diantara
ketiga senyawa aktif tersebut galokatekin mempunyai aktivitas antibakteri paling
tinggi dengan nilai MIC 250 g/ml. Penghambatan oleh ketiga senyawa aktif
tersebut diduga karena adanya gugus hidroksil (Sakanaka et al. 1989). Tanin
bersifat dapat menggumpalkan protein, dan membentuk kompleks dengan
beberapa polisakarida, asam nukleat dan alkaloid, dan juga dapat mempengaruhi
warna, serta berkontribusi terhadap rasa dan aroma (Shahidi dan Naczk 1995).
57
Steroid merupakan subklas dari triterpenoid dengan komponen C
30

(Banthorpe 1996). Ekstrak metilen diklorida tanaman R. apicula mengandung tiga
komponen steroid, yaitu kampesterol (4.61%), stigmaterol (18.47%) dan sitosterol
(76.92%). Keller et al. (1998) melaporkan bahwa kandungan steroid yang
mempunyai aktivitas antibakteri merupakan senyawa metabolit sekunder yang
dihasilkan oleh fungi Fomitopsis pinicola.
Daun kedaung mengandung saponin dan antosianin yang keduanya
berhubungan dengan antibakteri dan antiparasit (Zuhud et al. 2001). Senyawa
saponin dan flavonoid dilaporkan memiliki daya antibakteri terhadap beberapa
spesies bakteri, sedangkan senyawa terpen merupakan senyawa antibakteri utama
dalam rempah (Naidu dan Davidson 2000).
Senyawa antibakteri alkaloid tanaman, diantaranya dilaporkan oleh
Bhattacharyya et al. (1993) dari kulit kayu tanaman Clausena heptaphylla,
Chakraborty et al. (1995) dari daun tanaman Clausena heptaphylla, dan
Ramsewak et al. (1999) dari daun tanaman Murraya koenigii.

Pola Pertumbuhan B. cereus
Hasil pengamatan pola pertumbuhan bakteri B. cereus dapat dilihat pada
Gambar 4.2.

















Gambar 4.2 Kurva Pola Pertumbuhan B. cereus
4
6
8
10
0 1 2 3 4 5 6 8 10 12 16 20 25
Lama Inkubasi (jam)
J
u
m
l
a
h

B
a
k
t
e
r
i

(
l
o
g

c
f
u
/
m
l
)
58
Fase adaptasi B. cereus berlangsung pada interval waktu 1-3 jam,
sedangkan fase eksponensial berlangsung sekitar 9 jam mulai dari jam ke 3
sampai dengan jam ke 12, dan stasioner berlangsung mulai dari jam ke 16 sampai
dengan jam ke 25.
Berdasarkan data tersebut ditetapkan bahwa untuk mewakili fase adaptasi
dipilih 1 jam, sedangkan fase eksponensial dan fase stasioner masing-masing
8 jam dan 16 jam. Jumlah sel B. cereus selama fase adaptasi belum meningkat,
yaitu pada jam ke-3 sebesar 10
4
cfu/ml. Fase eksponensial mulai jam ke-3 sampai
jam ke-12 meningkat pesat sampai 10
6
cfu/ml dan setelah jam ke-16 sampai jam
ke-25 jumlahnya tetap (fase stasioner), yaitu 10
8
cfu/ml. Jumlah sel B. cereus
setelah 1 jam inkubasi sebanyak 5.6x10
4
cfu/ml, setelah 8 jam inkubasi meningkat
sampai 7.4x10
6
cfu/ml dan mencapai jumlah tetap yaitu 3.4x10
8
cfu/ml setelah
16 jam inkubasi. Data selengkapnya disajikan pada Lampiran 1. Fase adaptasi
B. cereus berlangsung selama 3 jam dan merupakan persiapan untuk fase
berikutnya. Menurut Madigan et al. (2003) fase eksponensial pertumbuhan bakteri
sangat cepat, teratur, dan semua bahan dalam sel berada dalam keadaan seimbang.
Ultee et al. (2000) melaporkan bahwa kisaran fase pertumbuhan B. cereus adalah
fase adaptasi 1-3 jam, fase eksponensial 8-10 jam sedangkan fase stasioner
berkisar 16-20 jam.

Pengaruh Polaritas dan Konsentrasi Ekstrak Andaliman terhadap B. cereus
Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak heksana (nonpolar), etilasetat
(semipolar) dan metanol (polar) terhadap B. cereus dengan metode difusi sumur
dapat dilihat pada Lampiran 2, 3 dan 4. Secara umum ekstrak etilasetat
(semipolar) memiliki daya penghambatan lebih tinggi dibandingkan ekstrak
metanol (polar) terhadap B. cereus pada masing-masing fase pertumbuhan.
Ekstrak heksana (nonpolar) andaliman tidak menunjukkan efek penghambatan
terhadap sel B. cereus.

Ekstrak Nonpolar
Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak nonpolar andaliman terhadap
sel vegetatif B. cereus dapat dilihat pada Lampiran 2, 3, dan 4. Ekstrak nonpolar
59
andaliman tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri pada fase adaptasi, fase
eksponensial maupun fase stasioner. Hal ini dapat dijelaskan bahwa media NA
yang digunakan bersifat polar, sedangkan ekstrak nonpolar lebih dominan
mengandung komponen minyak atsiri, dimana ekstrak dalam media NA tidak
mampu berdifusi secara baik sehingga tidak menunjukkan aktivitas
penghambatan.
Polaritas yang rendah pada ekstrak heksana disebabkan karena
mengandung minyak atsiri, bahan non minyak seperti lilin, sterol dan sedikit
senyawa fenolik. Menurut Nychas (1995) komponen bioaktif yang berperan
sebagai antibakteri dalam ekstrak heksana adalah minyak atsiri dan fenolik.
Ekstrak heksana mengandung minyak atsiri yang relatif tinggi (Ozean dan
Erkmen 2001) dan minyak atsiri ini mempunyai aktivitas antibakteri, namun
keberadaan minyak atsiri dalam ekstrak tersebut tidak menunjukkan
penghambatan pada B. cereus. Hasil analisis identifikasi komponen aktif ekstrak
heksana pada Tabel 4.2 menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid,
triterpenoid dan steroid yang relatif rendah dibandingkan dengan ekstrak etilasetat
dan ekstrak metanol. Ekstrak heksana ini ternyata tidak mengandung tanin, fenol
hidrokuinon dan saponin. Kemungkinan komponen aktif yang terdapat pada
ekstrak heksana tersebut pada konsentrasi 10-50% masih belum dapat
menghambat pertumbuhan B. cereus, sedangkan pada ekstrak etilasetat dan
metanol pada konsentrasi tersebut sudah menunjukkan penghambatan.
Hasil penelitian Kanazawa et al. (1995) melaporkan bahwa ekstrak
heksana (senyawa minyak atsiri dan lipida lainnya) yang mempunyai ukuran
molekul besar tidak dapat masuk berpenetrasi dalam dinding sel. Ukuran molekul
besar tersebut akan menjadi penghalang masuknya komponen minyak atsiri
maupun senyawa fenolik ke dalam sel akibatnya sel tetap akan tumbuh.

Ekstrak Semipolar
Senyawa yang bertanggungjawab sebagai antibakteri dalam ekstrak
etilasetat adalah senyawa semipolar yang merupakan senyawa fenolik (Hiserodt,
1998), steroid, alkaloid, triterpenoid, flavonoid dan saponin (Tabel 4.2). Aktivitas
ekstrak etilasetat andaliman pada setiap fase pertumbuhan (fase adaptasi, fase
60
eksponensial dan fase stasioner) berpengaruh sangat nyata (p<0.01) dan
menunjukkan penghambatan tertinggi (Lampiran 11, 12 dan13). Gambar diameter
penghambatan masing-mas ing bakteri patogen dapat dilihat pada Lampiran 10.
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak etilasetat maka diameter penghambatan juga
semakin tinggi. Aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat terhadap B. cereus
(Lampiran.2, 3, 4) paling tinggi pada fase eksponensial dibandingkan fase
adaptasi dan stasioner. Konsentrasi ekstrak etilasetat 10-50% pada fase
eksponensial menghasilkan penghambatan sebesar 12.42-19.22 mm (Gambar 4.3).














Gambar 4.3 Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etilasetat Andaliman pada Fase
Pertumbuhan B. cereus


Tingginya aktivitas ekstrak etilasetat andaliman terhadap B. cereus dengan
metode maserasi bertingkat telah dilaporkan oleh Yasni et al. (2001) sebesar
10.62 mm, sedangkan dengan metode maserasi ekstrak metanol memiliki aktivitas
antimikroba paling tinggi, yaitu sebesar 15.72 mm terhadap A. flavus. Pada
Gambar 4.3 terlihat bahwa ekstrak etilasetat pada konsentrasi 10-50% memiliki
penghambatan yang berbeda pada setiap fase pertumbuhan B. cereus. Fase
pertumbuhan eksponensial B. cereus memiliki diameter penghambatan tertinggi
yaitu sebesar 19.22 mm pada konsentrasi 50%. Fase eksponensial merupakan fase
pertumbuhan dimana pembelahan sel terjadi sangat cepat, dan semua bahan dalam
sel berada dalam keadaan pertumbuhan seimbang (balanced growth). Maka
dengan adanya ekstrak andaliman dapat mengganggu aktivitas pertumbuhannya.
0
5
10
15
20
25
30
Fase adaptasi Fase eksponensial Fase stasioner
D
i
a
m
e
t
e
r

P
e
n
g
h
a
m
b
a
t
a
n

(
m
m
)
10% 20% 30% 40% 50%

61
Terutama dengan adanya ekstrak etilasetat yang banyak mengandung komponen
antibakteri seperti alkaloid, fenol hidrokuinon, steroid, flavonoid, triterpenoid dan
saponin akan dapat mengganggu proses pertumbuhan dan pembelahan sel,
menyebabkan terjadinya kerusakan sel.
Konsentrasi fenolik, alkaloid dan steroid dalam ekstrak etilasetat cukup
tinggi untuk berdifusi dan menghambat pertumbuhan bakteri. Kemampuan
senyawa semipolar untuk menghambat pertumbuhan bakteri berkaitan dengan
komponen dinding sel bakteri yang tidak bersifat absolut hidrofobik maupun
absolut hidrofilik. Kanazawa et al. (1995) menyatakan bahwa suatu senyawa
semipolar mempunyai aktivitas antibakteri yang maksimum, karena untuk
interaksi suatu senyawa antibakteri dengan bakteri diperlukan keseimbangan
hidrofilik-lipofilik (HLB: hydrophilic-lipophilic balance). Kemungkinan senyawa
semipolar mempunyai afinitas lebih tinggi untuk berinteraksi dengan dindin g sel,
sehingga ekstrak semipolar lebih efektif menghambat pertumbuhan B. cereus
daripada ekstrak metanol (polar) dan heksana (nonpolar).

Ekstrak Polar
Ekstrak polar andaliman memberikan pengaruh sangat nyata (p<0.01)
terhadap pertumbuhan B. cereus (Lampiran 14, 15 dan 16). Pola penghambatan
relatif sama dengan ekstrak etilasetat, tetapi ekstrak metanol memiliki diameter
penghambatan lebih rendah (14.05 mm). Aktivitas antibakteri ekstrak polar
menunjukkan diameter penghambatan yang berbeda dengan aktivitas ekstrak
semipolar (Lampiran 2, 3, 4). Perbedaan utama adalah pada konsentrasi yang
sama diameter penghambatan ekstrak etilasetat lebih tinggi daripada ekstrak
metanol pada setiap fase pertumbuhan B. cereus (Gambar 4.4). B. cereus
mempunyai ketahanan lebih tinggi terhadap ekstrak polar dibandingkan dengan
ekstrak semipolar.
Campo et al. (2000) melaporkan bahwa ekstrak etanol rosemary pada
konsentrasi 100 mg/ml dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif
E. coli, Salmonella enteritidis dan E. carotovora, sedangkan bakteri Gram positif
yaitu B. cereus CIP51.27, B. cereus Z4234, S. aureus, L. monocytogenes dan
Streptococcus mutans. Komponen polar ekstrak etanol rosemary mengandung
62
sifat antibakteri yaitu yang termasuk dalam 3 grup fenolik yaitu asam fenolik,
flavonoid dan diterpenoid fenolik.








Gambar 4.4 Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Metanol Andaliman pada Fase
Pertumbuhan B. cereus

Komponen yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan dan bersifat
polar antara lain senyawa dari golongan fenolik. Mekanisme komponen
antibakteri fenolik pada umumnya akan berinteraksi dengan protein yang ada pada
dinding sel atau sitoplasma melalui ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik
(Naidu dan Davidson 2000). Mekanisme lain dari ekstrak polar andaliman dalam
menghambat pertumbuhan bakteri kemungkinan adalah dengan mengganggu
aktivitas enzim dalam sel. Penelitian yang dilakukan oleh Wendaken dan
Sakaguchi (1995) menunjukkan bahwa ekstrak air dan ekstrak etanol dari
cengkeh, kayu manis dan saga yang bersifat polar akan menghambat enzim
dekarboksilase khususnya histidin, lisin dan ornitin dekarboksilase dari bakteri
E. aerogenes.
Selanjutnya Hiserodt et al. (1998) melaporkan bahwa polaritas suatu
senyawa mempengaruhi aktivitas antibakteri, seperti 6-gingerol yang mempunyai
rantai alkil lebih polar daripada 10-gingerol yang memberikan penghambatan
yang lebih rendah terhadap Mycobacterium avium. Fenomena ini menunjukkan
bahwa senyawa polar cenderung mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih
rendah. Pada pengujian tahap selanjutnya digunakan hanya ekstrak etilasetat dan
0
5
10
15
20
25
30
Fase adaptasi Fase eksponensial Fase stasioner
D
i
a
m
e
t
e
r

P
e
n
g
h
a
m
b
a
t
a
n

(
m
m
)
10% 20% 30% 40% 50%
`

63
ekstrak metanol, karena hasil pengamatan aktivitas ekstrak heksana terhadap
B. cereus dengan metode difusi sumur tidak menunjukkan adanya penghambatan.
Ekstrak metanol memiliki aktivit as lebih rendah daripada ekstrak
etilasetat. Moshi dan Mbwambo (2005) menyatakan bahwa ekstrak semipolar
(etilasetat) mampu menghambat bakteri E. coli dan B. anthracis dengan diamater
hambat lebih besar daripada ekstrak polar (etanol). Demikian juga penelitian
Springfield et al. (2003) ekstrak etilasetat tanaman Carpobrotus muirii dan C.
quadrifidus lebih berpotensi dalam menghambat S. aureus dan Mycobacterium
smegmatis daripada ekstrak air.

Potensi Aktivitas Ekstrak Andaliman Dibandingkan dengan Antibiotik
Hasil pengamatan diameter penghambatan ekstrak etilasetat, ekstrak
metanol dan beberapa jenis antibiotik pada beberapa konsentrasi terhadap bakteri
B. cereus dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Diameter Penghambatan Beberapa Antibiotik dan Ekstrak
Andaliman terhadap B. cereus

Antibiotik Konsentrasi Rataan (mm) Standar Deviasi
Streptomisin 10 g/ml 19.75 0.92
100 g/ml 27.55 1.77
1000 g/ml 33.65 0.78
Penisilin G 10 g/ml 16.00 0.71
100 g/ml 17.45 0.49
1000 g/ml 19.85 0.49
Polimiksin B 10 g/ml 14.75 0.21
100 g/ml 15.60 0.57
1000 g/ml 16.65 1.48
Etilasetat 4000 g/ml 18.81 0.21
Metanol 4000 g/ml 15.98 0.14

Antibiotik streptomisin menunjukkan penghambatan tertinggi (33.65 0.78
mm), selanjutnya diikuti oleh penisilin G (19.85 0.49 mm) dan polimiksin B
(16.65 1.48 mm) masing-masing pada konsentrasi 1000 g/ml. Konsentrasi
yang digunakan untuk melarutkan ekstrak etilasetat dan metanol adalah 4000
g/ml (Ardiansyah 2001). Pada konsentrasi 4000 g/ml pengaruh ekstrak
etilasetat dan ekstrak metanol terhadap B. cereus masing-masing sebesar
18.81 0.21 mm dan 15.98 0.14 mm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak
64
etilasetat memiliki potensi penghambatan yang setara dengan penisilin G, dan
ekstrak metanol pada konsentrasi 4000 g/ml memiliki potensi penghambatan
yang setara dengan polimiksin B pada konsentrasi 1000 g/ml. Potensi
penghambatan ekstrak etilasetat dan ekstrak metanol pada konsentrasi 4000 g/ml
sekitar 1/8 dari kekuatan penghambatan streptomisin, dan sekitar 1/4 dari
kekuatan penghambatan antibiotik penisilin G dan polimiksin B. Hal ini
menunjukkan bahwa kekuatan ekstrak etilasetat dan metanol juga efektif
menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif terutama S. aureus dan dapat
di duga mekanisme aktivitas antibakteri serupa dengan polimiksin B, yaitu
mengganggu keutuhan membran sel bakteri
Penisilin G merupakan antibiotik yang berspektrum luas dan biasanya
efektif terhadap kebanyakan bakteri Gram positif dan Gram negatif terutama
strain Staphylococcus aureus dan enterokokus yang biasanya menimbulkan
penyakit infeksi pencernaan, kardiovaskular, kulit, dan lain sebagainya.
Streptomisin dapat menghambat sintesis protein pada bakteri Gram positif dan
Gram negatif seperti enterokokus pada penyakit endokarditis, tuberkulosis
terutama pada sub unit ribosom 30S. Polimiksin bersifat bakterisidal terhadap
bakteri Gram negatif berbentuk basil biasanya digunakan untuk mengobati infeksi
pada permukaan kulit dan mata.
Penisilin G merupakan antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
bakteri. Dinding sel bakteri, terdiri dari polipeptidoglikan yaitu suatu kompleks
polimer mukopeptida (glikopeptida). Penisilin G menghambat reaksi yang paling
dini dalam proses sintesis dinding sel. Oleh karena tekanan osmotik dalam sel
bakteri lebih tinggi daripada di luar sel, maka kerusakan dinding sel bakteri akan
menyebabkan terjadinya lisis, yang merupakan dasar efek bakterisidal pada
bakteri yang peka.
Mekanisme penghambatan antibiotik penisilin G dengan cara
penggabungan gugus amino bebas asam penisilanat pada gugus-gugus karboksil
bebas dari berbagai jenis radikal. Berbagai radikal (R) yang terikat pada asam
amino penisilanat menentukan sifat-sifat farmakologik. Penisilin memiliki daya
kerja tertinggi terhadap bakteri Gram positif tetapi tidak aktif terhadap bakteri
Gram negatif (Jawetz et al. 1996).
65
Polimiksin B merupakan antibiotik yang mengganggu keutuhan membran
sel bakteri. Polimiksin B sebagai senyawa amonium kuaterner dapat merusak
membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel bakteri.
Polimiksin B dapat mengubah tegangan permukaan (surface active agents)
sehingga merusak permeabilitas selektif dari membran sel bakteri. Kerusakan
membran sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel
seperti protein, asam nukleat, nukleotida dan lain -lain (Setiabudy dan Gan 1999).

MIC dan MBC Ekstrak Andaliman
Hasil pengujian nilai MIC dan MBC ekstrak andaliman terhadap bakteri
B. cerus berbeda-beda. Ekstrak etilasetat dan metanol mengandung komponen
aktif yang dapat menghambat dan membunuh B. cereus. B. cereus lebih peka
terhadap ekstrak etilasetat dengan nilai MIC sebesar 0.20%, sedangkan ekstrak
metanol memiliki nilai MIC sebesar 0.80% (w/w). Nilai MBC ekstrak etilasetat
terhadap B. cereus adalah 1.20% dibandingkan ekstrak metanol sebesar 1.60%
(w/w) (Lampiran 29).
Tingkat kepolaran mempengaruhi penghambatan terhadap sel. Meurut
Davidson dan Branen (1993), semakin menurun polaritas (mendekati nonpolar)
akan semakin efektif menghambat bakteri Gram positif dibandingkan dengan
bakteri Gram negatif (). Hal ini sejalan pula dengan hasilhasil penelitian dari
Farag et al. (1989) dan Kim et al. (1995) yang membuktikan bahwa komponen
komponen minyak atsiri yang bersifat semipolar sampai nonpolar, lebih kuat daya
antibakterinya terhadap kelompok bakteri Gram positif dibandingkan kelompok
bakteri Gram negatif (Friedman et al. 2004a). Bakteri Gram positif mempunyai
kecenderungan lebih peka terhadap senyawa semipolar dibandingkan dengan
bakteri Gram negatif. Hal ini disebabkan karena perbedaan struktur dinding sel
bakteri. Pada bakteri Gram positif sebagian besar dinding selnya terdiri dari
lapisan peptidoglikan dan asam teikoat sehingga mudah dilewati komponen
ekstrak yang bersifat hidrofilik.
Ekstrak etilasetat memberi pengaruh peka B. cereus dibandingkan dengan
ekstrak metanol. Setiap zat yang dapat menghambat salah satu langkah dalam
biosintesis peptidoglikan akan menyebabkan dinding sel bakteri yang tumbuh
66
menjadi lemah dan sel akan mengalami lisis (Jawetz et al. 1996). Komponen-
komponen ekstrak etilasetat dan metanol diduga berikatan dengan a-karboksil
residu alanin ujung dari satu rantai peptidoglikan yang menghambat sintesis
dinding sel sehingga sel akan mengalami kerusakan dan lisis.

Pengaruh pH terhadap Aktivitas Antibakteri Ekstrak Andaliman
Ekstrak etilasetat dan ekstrak metanol memiliki daya hambat yang
berpengaruh tidak nyata (p>0.01) pada tingkat keasaman atau pH ekstrak. Kisaran
diameter penghambatan ekstrak etilasetat terhadap B. cereus secara berurutan
adalah (18.23-17.15 mm) (Lampiran 32). Diameter penghambatan ekstrak
etilasetat andaliman pada pH 4 paling tinggi terhadap sel B. cereus (sebesar
18.23 mm), sedangkan rataan diameter penghambatan ekstrak metanol pada
pH 4 - pH 7 adalah sebesar 11.75-10.55 mm (Lampiran 33). Hasil ini
menunjukkan bahwa pada kisaran pH 4 sampai dengan pH 7 ekstrak metanol
memiliki daya penghambatan relatif sama, sedangkan penghambatan ekstrak
metanol lebih rendah dibandingkan ekstrak etilasetat.
Perbedaan kemampuan penghambatan ekstrak etilasetat dibandingkan
ekstrak metanol diduga bahwa kandungan komponen senyawa antibakteri lebih
banyak terdapat pada ekstrak etilasetat dibandingkan dengan ekstrak metanol.
Pada ekstrak etilasetat komponen hidrofobik dan hidrofilik masing-masing
terdapat dalam ekstrak dan memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi. Akibatnya
daya hambat tertinggi diperoleh pada ekstrak etilasetat karena komponen yang
bersifat hidrofobik dan hidrofilik mampu masuk dalam membran sel dan
menghambat metabolisme sel.
Mekanisme penghambatan pada pH rendah disebabkan oleh kondisi asam
sel yang bereaksi untuk mempertahankan pH konstan dalam sel. Jika pH
diturunkan maka proton yang terdapat dalam jumlah tinggi dalam medium akan
masuk ke dalam sel. Proton (ion H
+
) dari asam masuk dalam sel melalui gradien
proton transmembran (Ray 2001), hal ini menyebabkan pH sitoplasma menurun.
Penurunan pH sitoplasma menyebabkan enzim-enzim bekerja untuk
mengembalikan pH intern al sel menjadi pH normal (Booth 1985). Proton ini harus
dikeluarkan untuk mencegah terjadinya pengasaman dan denaturasi komponen-
67
komponen sel. Aktivitas mengembalikan pH internal sel menjadi pH normal
memerlukan banyak energi. Bila energi yang dibutuhkan dalam jumlah tinggi,
maka metabolisme sel akan mengganggu sehingga lama kelamaan sel akan
mengalami kematian (Fardiaz 1992).

Aktivitas Antibakteri Ekstrak Andaliman terhadap Spora B. cereus
Pengujian aktivitas antibakteri spora bakteri B. cereus dilakukan untuk
mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak andaliman dibandingkan dengan sel
vegetatif. Pengujian ini dilakukan pada kultur cair yang berumur 24, 48, 72 dan 96
jam, karena pada interval umur tersebut hampir semua sel vegetatif telah
membentuk spora. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat dan ekstrak
metanol terhadap spora dan sel vegetatif B. cereus disajikan pada Gambar 4.5 dan
Gambar 4.6. Selanjutnya dapat dilihat perbedaan aktivitas antibakteri ekstrak
etilasetat dan ekstrak metanol terhadap spora bakteri, dan bila dibandingkan
dengan sel vegetatifnya. Pada Gambar 4.5 diameter penghambatan meningkat
dengan bertambahnya lama inkubasi hingga 96 jam sedangkan pada sel vegetatif
sebaliknya (Gambar 4.6). Diameter penghambatan terhadap sel vegetatif
umumnya lebih tinggi bila dibandingkan penghambatan terhadap spora B. cereus
(Lampiran 36 dan 37) dengan perbedaan sekitar 7.83 mm selama 24 jam.

12.43
13.73
14.63
16.05
11.43
12.05 12.15
12.60
0
5
10
15
20
25
24 48 72 96
Lama Inkubasi (jam)
D
i
a
m
e
t
e
r

P
e
n
g
h
a
m
b
a
t
a
n

(
m
m
)
Etilasetat
Metanol

Gambar 4.5 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Andaliman terhadap Spora B. cereus

Hal ini menunjukkan bahwa spora mempunyai ketahanan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sel vegetatifnya. Lama inkubasi B. cereus hingga 24-96 jam
68
akan menyebabkan terbentuknya spora yang semakin banyak untuk
mempertahankan diri, sehingga dengan adanya ekstrak andaliman pertumbuhan
spora akan terhambat.
19.25
16.03 15.80
16.33
18.03
14.20
15.05
16.98
0
5
10
15
20
25
24 48 72 96
Lama Inkubasi (jam)
D
i
a
m
e
t
e
r

P
e
n
g
h
a
m
b
a
t
a
n

(
m
m
)
Etilasetat
Metanol

Gambar 4.6 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Andaliman terhadap Sel Vegetatif B. cereus
Pengaruh ekstrak etilasetat pada spora B. cereus yang diinkubasi 96 jam
dapat menghambat sebesar 16.05 mm, sedangkan diameter penghambatan ekstrak
metanol lebih rendah, yaitu sebesar 12.60 mm. Berbeda dengan diameter
penghambatan pada sel vegetatif B. cereus, lama inkubasi 24 jam pertama sudah
menunjukkan penghambatan tertinggi dibandingkan dengan lama inkubasi
96 jam. Diameter penghambatan ekstrak etilasetat andaliman pada sel vegetatif
dengan lama inkubasi 24 jam menunjukkan penghambatan lebih tinggi
(19.25 mm), sedangkan pada ekstrak metanol diameter penghambatannya lebih
rendah (18.03 mm).
Ultee et al. (1998) melaporkan bahwa spora bakteri lebih tahan terhadap
aktivitas senyawa antibakteri alami dibandingkan dengan sel vegetatif. Hal ini
ditunjukkan pada karvakrol yang mempunyai aktivitas sporosidal terhadap spora
B. cereus, baik pada konsentrasi 1.75 maupun 2.0 mmol/l. Spora lebih tahan
terhadap ekstrak metanol andaliman dibandingkan dengan sel vegetatif. Pada
konsentrasi 2 mmol/l diperlukan waktu inkubasi 37 menit untuk membentuk spora
sebanyak 2 log (cfu/ml), sedangkan untuk sel vegetatif diperlukan waktu inkubasi
selama 20 menit. Nuraida et al. (1999) melaporkan bahwa ekstrak biji picung
mampu menghambat spora B. cereus dengan areal penghambatan sebesar 1.0 mm,
sedangkan terhadap sel vegetatif ekstrak tersebut mampu menghasilkan areal
69
penghambatan yang lebih besar (4.2 mm). Perbedaan ketahanan ini diduga karena
perbedaan struktur fisik dan kimia antara spora dengan sel vegetatifnya (Cano dan
Calome 1986; Friedman et al. 2004b).
Pada spora terdapat lapisan terluar yang tipis dan lembut yang disebut
eksosporium. Di bawah lapisan eksosporium terdapat suatu lapisan lagi yang
disebut dengan bungkus spora (coat spore) yang terdiri dari satu lapisan atau
berlapis-lapis yang membentuk struktur yang mirip dengan dinding sel. Adanya
struktur yang berlapis-lapis pada spora akan mengakibatkan terhambatnya
penetrasi ekstrak etilasetat maupun ekstrak metanol andaliman, disamping
kandungan air yang lebih rendah (15%) bila dibandingkan dengan sel vegetatif
(75%) juga akan menyebabkan spora lebih tahan dibandingkan dengan sel
vegetatifnya (Cano dan Colome 1986). Selain itu kandungan asam dipikolinat dan
tingginya kandungan ion kalsium yang hanya dimiliki oleh spora ju ga merupakan
faktor yang dapat menyebabkan spora tahan terhadap perlakuan kimia (Fardiaz
1992).

SIMPULAN

Konsentrasi dan polaritas ekstrak andaliman mempengaruhi aktivitas
antibakteri. Ekstrak etilasetat (semipolar) menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi
daripada ekstrak metanol (polar) terhadap B. cereus. Aktivitas antibakteri ekstrak
andaliman dipengaruhi oleh fase pertumbuhan B. cereus. Ekstrak etilasetat lebih
menghambat pada fase eksponensial (19.22 mm), sedangkan ekstrak metanol
lebih efektif pada fase adaptasi (14.15 mm). Nilai MIC ekstrak etilasetat terhadap
B. cereus adalah 0.2% dan nilai MBC 1.20%.
Ekstrak etilasetat dan metanol berpotensi sebagai antibiotik, yaitu pada
konsentrasi 4000 g/ml sekitar 1/8 dari streptomisin, dan sekitar 1/4 dari penisilin
G dan polimiksin B masing-masing pada konsentrasi 1000 g/ml. Dengan
demikian ekstrak andaliman dapat menghambat spora dan sel vegetatif B. cereus.
Ekstrak etilasetat dan metanol pada pH 4-7 menunjukkan tidak berpengaruh
nyata (p>0.01) terhadap B. cereus. Kemampuan ekstrak etilasetat dalam
menghambat spora B. cereus cukup baik, dimana diameter penghambatannya
70
setelah 96 jam lebih besar (16.05 mm) dibandingkan ekstrak metanol (12.60
mm). Demikian pula pada sel vegetatif, penghambatan ekstrak etilasetat
andaliman dengan lama inkubasi 24 jam menunjukkan penghambatan lebih tinggi
(19.25 mm) dibandingkan ekstrak metanol (18.03 mm).
DAFTAR PUSTAKA

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Yasni S, dan Budiyanto S. 1989.
Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB.
Bogor.

Ardiansyah. 2001. Teknik ekstraksi komponen antimikroba buah andaliman
(Zanthoxylum acanthopodium DC) dan antarasa (Litsea cubeba). [skripsi].
Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Banthorpe DV. 1996. Terpenoids. Di dalam: Mann J, Davidson RS, Hobbs JB,
Banthorpe DV, Harbone JB, editor. Natural Product Their Chemistry and
Biological Significance. Harlow: Longman. Hlm 289-359.

Bhattaacharyya P, Biswas GK, Barua AK, Saha C, Poy IB, dan Chowdhury BK.
1993. Clausenalene, a carbazole alkaloid from Clausena heptaphylla.
Phytochemistry. 33(1):248-250.

Bisignano G, Sanogo R, Marino A, Aquino R, DAngelo V, Germano MP, De
Pasquale R dan Pizza C. 2000. Antimicrobial activityof Mitracarpus
scaber extract and isolated constituents. Letter Appl Microb 30: 105-108.

Brooke P, Harris DJ dan Longmore RB. 1996. Isolation of minor lupin alkaloids.
A simple procedure for the isolation of angustifoline from lupinus
angustifollius (Cv. Fest) seeds, with application to other lupin alkaloids. J
Agric Food Chem 44(8):2129-2133.

Chakraborty A, Saha C, Podder G, Chowdhury BK, dan Bhattacharyya. 1995.
Carbazole alkaloid with antimicrobial activity from Clausena heptaphylla.
Phytochemistry 38(3): 787-789.

Campo JD, Amiot MJ dan Christophe NT. 2000. Antimicrobial effect of rosemary
extracts. J Food Prot 10: 1359-1368

Cano RJ dan Colome JS. 1986. Microbiology. West Publishing Company. New
York.

Carson CF dan Riley TV. 1995. Antimicrobial activity of the major components
of the essential oil of Melaleuca alternifolia . J Appl Bacteriol 78: 264-269.

71
Davidson PM dan Brannen AL. 1993. Antimicrobials in Food. Marcel Dekker.
New York.

Farag RS, Daw ZY, Hewedl FM dan El-Baroty GSA. 1989. Antimicrobial activity
of some Egyption spice essential oils. J Food Prot 52(9):665-667.

Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pengolahan Pangan Lanjut. Bogor: PAU Pangan
dan Gizi Institut Pertanian Bogor.

Friedman M, Henika PR, Levin CE dan Mandreil RE. 2004a. Antibacterial
activities of plant essential oils and their components against Escherichia
coli O157:H7 and Salmonella enteritica in apple juice. J Agric Food Chem
52: 6042-6048.

Friedman M, Buick R dan Elliott CT. 2004b. Antibacterial activities of naturally
occuring coumpounds against antibiotic -resistant Bacillus cereus
vegetative cells and spora, Escherichia coli, and Staphylococcus aureus. J
Food Prot 67:1774-1778

Garriga M, Hugas M, Aymerich T dan Monfort JM. 1993. Bacteriocinogenic
activity of Lactobacilli from fermentor sausages. J Appl Bacterio 75: 142-
148.

Harbone JB. 1996. Metode Fitokimia. Penuntun cara modern menganalisis
tumbuhan. Padmawinata K, Sudiro I, Penerjemah. Bandung: Penerbit ITB.

Harrigan WF. 1998. Laboratory Methods in Food Microbiology. 3
rd
edition. San
Diego.

Hiserodt RD, Franzblau SG dan Rosen RT. 1998. Isolation of 6-,8- and 10-
Gingerol from ginger rhizome by HPLC and preliminary evaluation of
inhibition of Mycobacterium avium and ycobacterium tuberculosis. J
Agric Food Chem 3: 477-480.

Holstege DM, Seiber JN, dan Galey FD. 1995. Rapid multiresidue screen for
alkaloids in plant material and biological samples. J Agric Food Chem
43(3): 691-699.

Hostetmann K, Wolfender JL dan Rodrigue ZS. 1997. Rapid detection and
subsequent isolation of bioactive constituents of crude plant extracts.
Planta Med 63:2-10

Houghton PJ dan Raman A. 1998. Laboratory Handbook for the Fractination of
Natural Extracts. Thomson Science, London.

Jawetz E, Melnick J dan Adelberg E. 1996. Medical Microbiology. Appleton &
Lange. San Fransisco.

72
Kanazawa A, Ikeda T dan Endo T.1995. A novel approach to mode of action of
cationic biocides morphological effect on antibacterial activity. J Appl
Bacteriol 78: 55-60.

Kim JM, Marshal MR, Cornell JA, Boston JF dan Wei CI. 1995. Antibacterial
activity of carcacrol, citral and geraniols againts Salmonella typhimurium
in culture medium and fish cubes. J Food Sci 60 (6): 1365-1368.

Kubo A, Lunde CS, Kubo I. 1995. Antimicrobial activity of the olive oil flavor
compounds. J Agric Food Chem. 40(6):999-1003.

Lewis K, Salyers AA, Taber HW, Wax RG. 2004. Bacterial Resistance to
Antimicrobials. Marcel Dekker, Inc.

Lin CM, Preston JF III dan Wei CI. 2000. Antibacterial mechanism of allyl
isothiocyanate. J Food Prot Vol 63 (6): 727-734.

Madigan MT, Martinko JM, Parker J. 2003. Brock Biology of Microorganisms.
Tenth Edition. Southern Illinois University Carbondale.

Murhadi. 2002. Isolasi dan karakterisasi komponen-komponen antibakteri dari biji
Atung (Parinarium glaberimum Hassk). [disertasi]. Bogor. Program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Naidu AS dan Davidson PM. 2000. Phyto-phenols. Di dalam Naidu AS, editor.
Natural Food Antimicrobial Systems. New York: CRC Press.

Nishina AK, KinaichiH, Uchibori T, Seino H dan Osawa T. 1991. 2,6-dimethoxy-
p-benzequinone as an antimicrobial substance in the bark of Phyllostachys
heterocyclavar. Pubscens a species of thick-stemmed bamboo. J Agric
Food Chem 39:266-269.

Nuraida L, Andarwulan N dan Kristikasari E. 1999. Aktivitas antimikroba biji
picung (Pangium edule Reinw.) segar dan terfermentasi terhadap bakteri
patogen dan perusak makanan. J Ilmu dan Tek Pangan 4 (2): 18-26.

Nychas GJE.1995. Natural antimicrobials from plants. Di Dalam: Gould GW.
(Eds). New Methods of Food Preservation. Blackie Academic and
Profesional. London.

Nychas GJE dan Tassou CC. 2000. Traditional preservatives-oils and spices. Di
dalam: Robinson RK, Batt CA, Patel PD, editor. Encyclopedia of Food
Microbiology. Volume 1. :ondon: Academic Press.

Oyen LPA dan Nguyen XD. 1999. Plant resources of South-East Asia No. 19.
Essential oil plants. Bogor: Prosea Bogor Indonesia.

73
Ozean M, dan Erkmen O. 2001. Antimicrobial activityof the essential oils of
Turkish plant spices. Eur Food Res Technol 212: 658-660.

Purseglove JW.1981. Spices. Volume II. New York: Longman Inc.
Puupponen-Pimia R, Nohyyenk L. Meier C, Kahkonen M, Heihonen M. 2001.
Antimicrobials properties of phenolic compound from berries. J Appl
Microbiol 90:494-507.

Ramsewak RS, Nair MG, Strasburg GM, Dewit DL dan Nitiss JL. 1999.
Biologically active carbazole alkaloids from Murraya koeniglii. J. Agric
Food Chem 47 (2) 444-447.

Sakanaka S, Kim M, Taniguchi M, Yamamoto T. 1989. Antibacterial substances
in Japanese green tea extract against Streptococcus mutan, a cariogenic
bacterium. Agric Biol Chem 53(9):2307-2311.

Setiabudy R. dan Gan VHS. 1995. Antimikroba. Di Dalam: Ganiswarna SG,
Setiabudy R, Suyatna FD, Purwantyastuti dan Nafrialdi. Farmakologi dan
Terapi. Edisi 4. Gaya Baru. Jakarta.

Shahidi F dan Naczk M. 1995. Foods Phenolics. Technomic Co., Inc. Lancaster.

Ultee A, Gorris LGM dan Smid EJ. 1998. Bacterial activity of carvacrol towards
the food-borne pathogen Bacillus cereus. J App Microbiol 85: 213-218.

Ultee A, Slump RA, Steging G dan Smid EJ. 2000. Antimicrobial activity of
carvacrol toward Bacillus cereus on rice. J Food Prot Vol 63. No.5:620-
624.

Ultee A, Slump RA, Steging G dan Smid EJ. 2000. Antimicrobial activity of
carvacrol toward Bacillus cereus on rice. J Food Prot Vol 63. No.5:620-
624.Wendaken CN dan Sakaguchi M. 1995. Inhibition of amino acid
decarboxylase activity of Enterobacter aerogenes by active components in
spices. J Food Prot 58(3): 280.

Yasni S. 2001. Aktivitas antimikroba minyak atsiri buah andaliman
(Zanthoxyllum acanthopodium DC) dan antarasa (Litsea cubeba) terhadap
bakteri dan kapang serta profil deskriptif komponen aktif penyusunnya.Di
dalam: Nuraida L, Dewanti-Hariyadi R, editor. Pangan Tradisional: Basis
Bagi Industri Pangan Fungsional dan Suplemen. Pusat Kajian Makanan
Tradisional IPB. Bogor. Hal 130-138.
Zuhud EAM, Rahayu WP, Wijaya CH dan Sari PP. 2001. Aktivitas antimikroba
ekstrak kedawung (Parkia roxburghii G. Don) terhadap bakteri patogen.
Jurnal Teknologi & Industri Pangan XII (1): 6-12.