Anda di halaman 1dari 133

P a g e | i

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru


PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar



























































Penulis:

Drs. Darmawang, M.Kes
Drs. Suardy, M.T
Drs. Syafiuddin P., M.Pd
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | ii

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
SAMBUTAN KETUA RAYON 1 24



Universitas Negeri Makassar (UNM) adalah salah satu Perguruan Tinggi yang diberi amanah oleh
pemerintah menyelenggarakan sertifikasi guru dalam jabatan yang bertugas memberikan sertifikat
pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Pelaksanaan sertifikasi guru pada tahun
2012 mengalami beberapa perubahan, antara lain perubahan yang mendasar yaitu pola penetapan
peserta dan pelaksanaan uji kompetensi awal sebelum PLPG. Selain itu, sertifikasi guru dalam jabatan
tahun 2012 dilaksanakan berbasis program studi sesuai dengan Permendikbud Nomor 5 tahun 2012.
Yang dimaksud dengan berbasis program studi adalah bahwa hanya rayon yang memiliki program
studi S1 kependidikan terakreditasi yang dapat melaksanakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru
pada mata pelajaran yang sesuai. PLPG merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk
memperoleh sertifikat pendidik.

Untuk menjamin standardisasi isi/materi PLPG, diperlukan keseragaman format penyajian materi
menurut bidang studi kepesertaan dengan memperhatikan empat kompetensi guru yang dalam
penyusunannya mengacu pada kisi-kisi Uji Kompetensi Awal (UKA). Oleh karena itu, tersusunnya
modul ini kami sambut dengan baik diiringi rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang
Maha Esa dengan pengharapan semoga modul ini dapat dijadikan sebagai acuan utama bagi
instruktur dan peserta dalam pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

Oleh sebab itu, Ketua Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang tinggi kepada penyusun modul yang telah bekerja keras dengan penuh dedikasi
dalam menyusun modul ini. Mudah-mudahan melalui modul ini proses penyelenggaraan PLPG dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien yang pada gilirannya dapat meningkatkan kompetensi dan
profesionalisme guru peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).




Ketua Rayon 1 24/Rektor UNM,





Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd





















P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | iii

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
KATA PENGANTAR



Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT oleh karena atas rahmat dan Inayah-
Nya sehingga Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
dapat tersusun sebagaimana yang diharapkan.

Modul ini disusun berdasarkan pada Kisi-Kisi Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Rambu-Rambu
Pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (Buku 4) yang dikeluarkan oleh Dirjen DIKTI
Kemdikbud Tahun 2012, dikembangkan sesuai dengan kisi-kisi yang telah disahkan oleh Konsorsium
Sertifikasi Guru (KSG) dan kurikulum PLPG PSG Rayon 1 24 UNM. Perubahan mendasar yang
membedakan pelaksanaan PLPG tahun 2012 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya antara lain:
(1) Pelaksanaan PLPG yang berbasis Program Studi; (2) Pemberian materi kebijakan pembinaan
profesionalisme guru berkelanjutan; dan (3) Penguatan materi bidang studi dengan penambahan
jumlah JP serta penyampaian materi yang menggunakan pendekatan pembelajaran aktif, inovatif,
kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

Tujuan penyusunan modul ini adalah untuk memantapkan pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi
Guru pada Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ini
antara lain memuat isi Pedagogik Umum dan Pedagogik Khusus.

Kepada tim penyusun serta pihak lain yang telah berpartisipasi dalam penyusunan Modul Pendidikan
dan Latihan Profesi Guru ini disampaikan banyak terima kasih. Semoga Allah SWT memberkahi segala
aktivitas kita.




Makassar, April 2012
Ketua PSG,



Prof. Dr. H. Eko Hadi Sujiono, M.Si.
NIP. 19691017 199303 1 003























P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | iv

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
DAFTAR ISI



Halaman Judul ............................................................................................................................ i
Sambutan Ketua Rayon 1 24 ....................................................................................................... ii
Kata Pengantar .......................................................................................................................... iii
Daftar Isi .................................................................................................................................. iv

- Media Pembelajaran Kejuruan .............................................................................................. 1
- Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .................................................................................... 13
- Strategi Pembelajaran Kejuruan............................................................................................ 24
- Evaluasi Hasil Pembelajaran Kejuruan .................................................................................. 35
- Pembacaan Gambar Bidang Otomotif ................................................................................... 46
- Alat Ukur dan Servis Otomotif ............................................................................................. 55
- Perbaikan Mesin Bensin ....................................................................................................... 65
- Perbaikan Mesin Diesel ....................................................................................................... 86
- Perbaikan Sistem Pemindah Tenaga .................................................................................... 93
- Perbaikan Sistem Kemudi, Rem dan Suspensi ....................................................................... 99
- Perbaikan Kelistrikan Otomotif ............................................................................................. 107
- Perbaikan Sistem Air Conditioner (AC) .................................................................................. 121




P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 1

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
MEDIA PEMBELAJARAN KEJURUAN



Standar Kompetensi : Media dalam pembelajaran otomotif
Sub Kompetensi : 1. Pentingnya media dalam pembelajaran otomotif
2. Menerapkan media dalam pembelajaran otomotif
Alokasi Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Menguraikan pengertian, peran, fungsi media dalam pembelajaran otomotif.
2. Menjelaskan pentingnya teori-teori belajar dalam kaitannya dengan pemilihan media.
3. Memilih media pembelajaran media visual
4. Menerapkan pembelajaran berbasis media komputer.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
1. Rasional Pengunaan Media Pendidikan
Pada hakekatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Dan kegiatan belajar-
mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasitersendiri dimana dosen dan siswa bertukar
pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Pengalaman menunjukkan bahwa dalam
komunikasi itu sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak
efektif dan tidak efisien yang antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme,
ketidaksiapan siswa, kurang minat dan kegairahan dan lain-lain.
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan di atas ialah penggunaan media di dalam proses
belajar mengajar, mengingat bahwa fungsi media di dalam proses ini kecuali sebagai penyaji
stimulus (informasi, sikap dan lain-lain), juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan
informasi. Dalam hal-hal tertentu media juga berfungsi untuk mengatur langkah-langkah
kemajuan serta untuk memberikan umpan balik.
Kecuali dari hal itu juga media mempunyai nilai-nilai praktis sebagai berikut :
1. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
Pengalaman siswa berbeda-beda, kehidupan keluarga dan masyarakat sangat menentukan
macam pengalaman siswa. Sebagai contoh dua anak yang hidup di dua lingkungan berbeda
aka mempunyai pengalaman yang berbeda tersebut.
2. Media dapat mengatasi ruang kelas
Banyak hal yang sukar untuk secara langsung oleh siswa di dalam kelas, seperti obyek yang
selalu besar atau terlalu kecil, gerakan-gerakan yang akan diamati terlalu cepat. Dengan
melalui kesukaran seperti di atas dapat di atasi.
3. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan. Gejala fisik
dan sosial dapat diajak berkomunikasi dengannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
Pengamatan yang dilakukan oleh siswa dapat secara bersama-sama diarahkan kepada hal-hal
yang dapat dianggap penting sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, kongkrit dan realitas.
Penggunaan media seperti gambar, film, modul, grafik dan lainnya dapat memberikan konsep
dasar yang benar.
6. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang mahassiwa untuk belajar.
Pemasangan gambar di papan buletin, pemutaran film, modul, grafik dan lainnya dapat
menimbulkan rangsangan-rangsangan tertentu kearah keinginan untuk belajar.


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 2

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
7. Minat dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
Dengan menggunakan media, horizon pengalaman anak makin luas, persepsi semakin tajam
dan konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap. Akibatnya keinginan dan minat baru
untuk belajar selalu timbul.
8. Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari yang kongkrit sampai yang abstrak.

2. Karakteristik Pemilihan Media Pendidikan
Media adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar.
Tetapi akan beraneka ragamnya serta masing-masing media mempunyai karakteristik sendiri,
maka kita harus berusaha memilihnya dengan cermat agar dapat digunakan secara tepat.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih media antara lain :
1. Tujuan yang ingin di capai
Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Masalah tujuan ini adalah kriteria yang paling pokok, sedangkan yang lainnya merupakan
kelengkapan dan kriteria yang utama tadi.
2. Ketepatgunaan materi media
Jika materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari suatu benda maka
gambar seperti bagan chart atau slide dapat digunakan, sedangkan kalau yang dipelajari
adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak, maka media film atau video lebih tepat.
3. Keadaan Siswa
Sebuah program media mungkin cocok untuk tujuan tertentu. Tetapi bila kerumitannya serta
kosakata yang dipakai jauh di atas kemampuan siswa kita, maka media tersebut tidak dapat
dipilih. Di samping kemampuan dan kesiapan siswa kita yang akan mempergunakan media,
besar kecilnya kelompok juga mempengaruhi media.
4. Ketersediaan Media
Seringkali media yang kita nilai sangat tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran kita,
umpamanya saja film, ternyata di perpustakaan kita tidak tersedia, sedangkan untuk
memproduksi sendiri adalah suatu hal yang jauh dari mungkin. Dalam hal ini kita harus
memilih alternatif yang lain, misalnya film strip, slide atau gambar mati, yang tersedia atau
yang dapat dibuat sendiri.
5. Mutu teknis dari media
Umpamanya kita akan menerangkan bagaimana cara kerjanya mesin turbin atau mesin ketam
penebal. Ternyata pengambilannya tidak begitu memenuhi syarat, sehingga ada bagian-
bagian yang penting tidak jelas. Karena mutu teknisnya tidak memenuhi persyaratan, maka
media slide tidak dapat digunakan.
6. Biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan dan penggunaan media.
Kriteria yang tidak kalah pentingnya adalah masalah biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan dan menggunakan media hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil yang
dicapai. Jika tujuan kita agar siswa dapat emnyebutkan bagian-bagian dari tubuh kita, gambar
mati atau foto sudah dapat dipergunakan. Tidak perlu kita melihat media video yang biayanya
jauh lebih mahal.

3. Fungsi Media Pembelajaran
Kalau seorang guru akan melakukan proses belajar-mengajar, maka pertama-tama guru
harus memiliki gagasan yang diwujudkan dalam desain instruksional. Hal ini guru akan
mengadakan proses komunikasi dengan siswanya, Oleh karena itu dalam proses komunikasi itu
selain ada gagasan dari guru, ada pula unsur-unsur yang dapat menunjang proses komunikasi
dan ada tujuan dari komunikasi itu. Proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut :




Sebagai contoh, bila seorang guru akan mengadakan persamaan pemahaman mengenai
suatu gagasan (ambil sebagai contoh tentang motor/engine, model pembelajaran kelilstrikan atau
yang lain) dengan siswa, maka ia pertama-tama harus membentuk gagasan itu kedalam suatu
code menjadi kata-kata yang sambung menyambung yang kita dapat sebut kalimat, sesudah
guru siap dengan kalimat-kalimat, tentang bagaimana ia harus mengatakan kepada siswa,
mulailah guru berbicara, kalau pembicaraan itu berlangsung dalam bentuk tatap muka, maka
SUMBER
(RESOURCE)
KOMUNIKATOR
(ENCODER)
KOMUNIKAN
(DECODER)
TUJUAN
(DESTINATION)
SIGNAL
(MESSAGE)
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 3

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
kalimat-kalimat itu sampai kepada siswa dalam bentuk gelombang-gelombang suara yang kita
kenal sebagai bahasa.
Kalau pembicaraan berlangsung dalam jarak yang jauh atau dalam ruang dan waktu yang
berbeda harus digunakan alat bantu misalnya radio, telepon, TV, atau bentuk karya tulis. Kalimat-
kalimat itu akhirnya diterima melalui indra telinga atau mata. Kalau melalui komunikasi itu siswa
dapat berhasil membentuk gambaran yang berarti dalam otaknya, maka dikatakan siswa itu
mengerti.
Dalam komunikasi belajar mengajar yang menjadi sumber dari pada massage itu dari
gagasan-gagasan yang terucapkan adalah juga otak guru. Dalam hal ini guru menjadi Sourse
dan sekaligus Encoder.
Kalimat-kalimat yang terucapkan, yang berupa gelombang suara, yang disampaikan guru
kepada siswa disebut signal. Siswa menerima signal dari guru dalam bentuk gelombang suara
atau tulisan dan selanjutnya membentuknya kembali menjadi gagasan, maka siswa dalam hal ini
disebut komunikan dan tujuan dan sekaligus, maka jelaslah sekarang bahwa sumber/source
adalah sumber dari massage/signal, misalnya Si guru dan komunikan/encoder pembentuk
gagasan menjadi kata-kata dan kalimat yang diekspressikan.
Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar semakin penting artinya karena dalam
proses komunikasi, tujuan utama harus tercapai, yaitu siswa menjadi mengerti/memahami. Media
pendidikan digunakan dengan maksud untuk meningkatkan atau mempertinggi mutu proses
kegiatan belajar-mengajar, untuk memungkinkan media pendidikan berfungsi secara maksimal
maka perlu memperhatikan ciri-ciri umum dari media tersebut sebagai berikut:
1. Media Pendidikan pada umumnya dapat dilihat atau dapat didengar (Media Pendidikan disebut
alat pandang dengar).
2. Media Pendidikan adalah alat bantu belajar mengajar di kelas atau luar kelas
3. Media Pendidikan adalah suatu medium atau perantara yang digunakan untuk pendidikan
4. Media pendidikan sebagai alat belajar, misalnya modul, program radio, program TV.

Media Pendidikan adalah satu bagian yang integral dalam proses pendidikan di sekolah.
Media pendidikan telah berkembang sedemikian rupa berkat kemajuan ilmu dan teknologi dan
perubahan sikap masyarakat untuk lebih maju sesuai dengan tujuan pendidikan dan ilmu jiwa
belajar.
Media dan teknologi banyak manfaatnya dalam pendidikan antara lain pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan pendidikan kejuruan. Dengan
menggunakan media guru dapat mengatasi hal-hal yang secara biasa tidak dapat disajikan karena
beberapa sebab.
Media Pendidikan mempunyai beberapa nilai praktis sebagai berikut :
1. Media pendidikan dapat mengatasi perbedaan pengalaman pribadi siswa, misalnya siswa yang
berasal dari golongan yang mampu tidak akan sama pengalamannya sehari-hari dengan siswa
dari golongan yang tidak/kurang mampu (yaitu dengan film, gambar, TV dan lainnya).
2. Media pendidikan dapat mengatasi batas-batas ruang kelas, misalnya : benda yang akan
diajarkan terlalu besar atau berat bila dibawa ke ruang kelas untuk diajarkan/diamati secara
langsung (yaitu dengan film, gambar, slide, film strip dan sebagainya).
3. Media pendidikan dapat mengatasi apabila suatu benda secara langsung tidak dapat diamati
karena terlalu kecil, seperti molekul, sel atau atom (yaitu dengan model, gambar, film dan
sebagainya).
4. Media pendidikan dapat mengatasi apabila secara langsung benda itu terlalu lambat
gerakannya atau terlalu cepat, sedangkan gerakan itu yang menjadi pusat perhatian siswa
(yaitu dengan film, film strip dan sebagainya).
5. Media pendidikan dapat mengatasi apabila hal-hal itu terlalu kompleks untuk dapat diamati,
seperti sistem listrik pada pesawat terbang atau isi tabung binatang (yaitu dengan slide, film,
gambar dan sebagainya).
6. Media pendidikan dapat mengatasi apabila suara terlalu halus untuk didengar secara biasa
(yaitu dengan radio, kaset, sistem pengeras suara dan sebagainya).
7. Media pendidikan dapat mengatasi hal-hal seperti peristiwa-peristiwa alam misalnya tiupan
angin, mekarnya bunga, terjadinya letusan gunung berapi (yaitu dengan film, film strip, slide
dan sebagainya).
8. Media pendidikan memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan masyarakat atau
dengan keadaan alamiah (yaitu dengan meninjau kebun binatang, taman nasional, museum
dan sebagainya).
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 4

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
9. Media pendidikan memberikan kesamaan dalam pengamatan terhadap sesuatu dimana pada
mulanya pengalaman-pengalaman siswa itu bermacam-macam atau berbeda-beda (yaitu
dengan film, slide dan sebagainya).
10. Media pendidikan membangkitkan minat belajar yang baru dan membangkitkan motivasi serta
merangsang kegaiatan belajar (yaitu dapat menggunakan hampir semua jenis media yang
telah disebutkan)

1. Metode Template
Template adalah suatu alat bantu untuk mengambbar di papan tulis terbuat dari
hardboard, sheet metal atau plastik yang dibuat menjadi sebuah pola tertentu sesuai
dengan bentuk gambar yang akan dibuat di papan tulis.
Dengan menggunakan template ini membuat gambar di papan tulis lebih cepat dan
kelemahannya adalah bahwa template hanya khusus untuk membuat gambar. Dalam
mempergunakan template ini sebaiknya dibuat desain gambar secara garis besarnya saja,
kemudian dilengkapi gambar tersebut sewaktu porses belajar-mengajar berlangsung.
2. Metode Pola Lubang
Pola lubang merupakan suatu alat bantu untuk menggambar di papan tulis. Pola lubang
terbuat dari plastik atau kertas tebal yang diberi lubang-lubang kecil sesuai dengan bentuk
gambar yang akan di gambar di papan tulis.
Kertas yang sudah mempunyai lubang kecil-kecil sesuai dengan bentuk gambar yang
dibuat tersebut di tempelkan di papan tulis kemudian dipukul-pukul dengan penghapus
papan, hasilnya merupakan titik-titik putih sesuai dengan bentuk gambar yang dibuat.
Keuntungan mempergunakan pola lubang ini adalah guru tidak menghabiskan waktu
terlalu lama untuk membuat gambar di papan tulis.
3. Papan Tulis Putih (White Board)
Papan tulis putih adalah suatu permukaan benda datar berwarna putih dipergunakan untuk
menulis di depan kelas dengan mempergunakan alat tulis khusus.
Papan tulis putih terbuat dari mika, sebagian ada yang dilapisi dengan metal, disebut
magnetic board.
Pemakaian white board tidak menggunakan kapur tulis melainkan spidol khusus (felt-
maker pen). Alat ini merupakan media pendidikan yang mewah dan biaya pemakaiannya
sehari jauh lebih tinggi bila kita bandingkan dengan papan tulis biasa. Di pasaran tersedia
dalam bermacam-macam ukuran, antara lain :

40 X 60 cm ; 80 x 120 cm ; 90 x 120 cm
90 X 180 cm ; 90 x 240 cm ; 120 x 240 cm

Keuntungan pemakaian white board terutama sekali adalah tidak berdebu dan bersih, juga
kelihatan lebih bagus dan spidol tersedia dari bermacam-macam warna sehingga penyajian
bahan akan lebih menarik.
Kelemahan pemakaian white board antara lain adalah: harganya sangat mahal bila
dibandingkan dengan papan tulis biasa, memerlukan spidol khusus dengan harga yang
cukup mahal, sehingga kecil sekali kemungkinan digunakan di daerah terpencil,
membutuhkan pangaturan cahaya yang baik karena lebih mengkilat dari papan tulis biasa.

4. Model
Model merupakan modifikasi dari benda asli, benda asli ini dimodifikasi atau ditiru, karena
beberapa hal. Misalnya, karena benda asli itu terletak jauh dari sekolah, atau terdapat di kota lain,
sehingga bila siswa di bawa kedaerah tersebut akan memakan biaya yang besar dan banyak waktu
yang hilang, dalam kasus seperti ini dosen atau guru dapat membuat model sebagai tiruan benda asli.
Hal lain adalah karena benda asli tersebut ukurannya terlalu besar dan perlu dibuat lebih kecil,
sehingga guru dapat menggunakannya di kelas.
Kadangkala bila benda asli terlalu kecil, seperti microchips atau IC, maka guru dapat
memperbesarnya menjadi sebuah model, sehingga model ini dapat diamati dengan baik oleh siswa.
Pada sekolah-sekolah kejuruan penggunaan model sebagai alat bantu pembelajaran sangat
bermanfaat sekali. Alat-alat seperti; mesin-mesin, motor-motor, konstruksi bangunan, dapat
ditampilkan dalam bentuk mini, lebih jauh lagi konstruksi bagian dalam dari suatu alat dapat pula
ditunjukkan dengan model dipotong, diharapkan dengan model ini pemahaman akan cara kerja
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 5

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
bagian-bagian penting alat, secara faktual dapat ditangkap oleh siswa dengan cepat dan tahan lama
dalam ingatannya.
Model dapat juga dapat berupa kit, seperti rangkaian instalasi listrik, turbin, bangunan-
bangunan, pesawat terbang dan lain-lain. Peranan guru dalam hal ini mendemostrasikan cara merakit
kit tersebut sehingga menjadi alat, benda jadi atau model yang diharapkan.
Kemudian dengan memberikan kesempatan pada siswa/siswa untuk merakit kit tersebut
menjadi model, akan sangat membantu penanaman siswa akan obyek yang dikerjakan.

1. Papan Magnit (Magnetic Board)
Papan magnit adalah papan putih yang dilapisi metal. Dengan mempergunakan magnit (berupa
magnit buah baju, magnit pita, dan lain-lain), bahan dapat disajikan bahan pada papan magnit itu.
Biasanya, bahan yang disajikan adalah bahan pelajaran yang penting berupa konsep-konsep, ide-
ide, atau gagasan yang dilengkapi dengan ikhtisar, ilustrasi, gambar, atau grafik. Bahan itu
disiapkan secara baik dan sempurna terlebih dahulu.
Keuntungan mempergunakan papan magnit :
a) Dapat dipersiapkan sebelumnya di luar kelas;
b) Bahan displaynya dapat dibuat dari bahan yang mudah diperoleh seperti karton dan kertas
tebal lainnya.
c) Dapat dipakai dengan mudah.
d) Dapat dikembangkan selangkah, dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks sesuai
dengan jalannya pelajaran.
e) Dapat dipergunakan sebagai bahan evaluasi, yaitu dengan jalan menyuruh siswa menyusunnya
atau memberi nama bagian-bagian gambar/ilustrasi itu.

Kelemahan mempergunakan papan magnit :
a) biaya papan putihnya mahal.
b) Mungkin sulit mendapatkan magnit pita dan magnit lempengan.

2. Papan Flanel (Flanelgraf).
Papan flannel adalah salah satu alat bantu pelajaran yang paling tua, paling sederhana, dan
barangkali merupakan yang paling efektif serta mudah dipergunakan di samping papan tulis. Alat ini
juga paling murah bahannya
Papan flannel pada umumnya dibuat dari kain flannel atau bahan-bahan selimut dengan
warna netral dan menarik. Kain itu ditutupkan pada selembar papan atau multipleks ukuran 40x80 cm
dengan mempergunakan paku gambar secukupnya. Papan flannel itu ditempatkan pada suatu standar
yang dapat diturun naikkan.
Seperti halnya pada papan magnit, bahan display untuk papan flannel juga dengan karton
manila. Pilihlah yang berwarna dan tulislah dengan warna spidol yang serasi. Di belakang bahan yang
telah disiapkan di tempelkan amplas kayu (kertas pasir) yang kasar. Karena permukaan flannel atau
kain selimut itu kasar, maka bahan display akan tergantung dengan baik pada flannel.
Ditinjau dari segi materi yang dapat disajikan pada papan flannel ini sama dengan papan
magnit.
a. Kegunaan Papan Flanel.
a) Dapat di pakai pada semua tingkat sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan
Tinggi.
b) Dapat dipakai pada berbagai situasi belajar
c) Dapat dipakai untuk menerangkan perbandingan perkembangan atau persamaan secara
sistematis sambil menambahkan butir yang satu pada yang lain.
b. Keuntungan mempergunakan papan planel
a) Bahan papannya mudah dibuat dan didapatkan.
b) Dapat dibuat sendiri oleh guru atau guru bersama siswa
c) Dapat dipersiapkan sebelumnya dengan teliti di luar kelas
d) Bahan displaynya dapat dari bahan yang mudah diperoleh seperti karton dan kertas tebal
lainnya.
e) Dapat dipakai dengan mudah
f) Dapat memusatkan perhatian siswa kepada masalah yang akan dibicarakan
g) Dapat disajikan dan dikembangkan selangkah demi selangkah sesuai dengan jalannya
pelajaran.
h) Bahan yang sudah dibuat dapat digunakan berkali-kali tanpa mengurangi kwalitasnya.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 6

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
i) Dapat menghemat waktu dan tenaga bagi guru dengan hanya tinggal menerangkan hal-hal
yang perlu saja, karena anak dapat melihat sendiri.
j) Dapat digunakan sebagai bahan evaluasi yaitu dengan jalan menyuruh siswa menyusun atau
memberi warna bagian-bagian gambar/ilustrasi.
c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian papan 6lannel
a) Letakkan papan plannel setinggi garis mata anak (siswa).
b) Butir harus cukup besar, jelas dan cukup diterangi.
c) Jangan terlalu banyak menempelkan butir pada suatu saat, agar jangan mengacaukan dan
membingungkan.
d) Letakkan butir yang penting saja dan letakkan secara sistematis
e) Adakan persiapan sebaiknya, agar pelajaran dapat berjalan lancar, persiapan butir meliputi:
pengaturan, pemberian nomor, penempelan dalam amplop dan sebagainya.
f) Adakan percobaan dan penelitian sebelum dipakai di muka kelas.
g) Perhatikan materi yang akan disampaikan siapa yang akan dihadapi.
d. Prosedur/langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai berikut :
a) Rencanakanlah komposisi dan lay out sebagai konsep sebelum dikerjakan pada kertas karton
yang sesungguhnya.
b) Buatlah secara sederhana
c) Jangan menuliskan informasi atau keterangan terlalu banyak
d) Pakai dan pilihlah warna yang serasi dan menarik
e) Ukuran gambar dan tulisan harus cukup besar sehingga jelas dan mudah dilihat/dibaca dari
belakang
f) Pemakaian kertas pasir harus seimbang dengan karton yang akan menjadi bebannya
g) Keterangan/informasi yang diperlukan sebagai pendukung, dapat disampaikan melalui media
lainnya.

3. Flip Chart dan Wall Chart
Flip Chart dan Wall Chart adalah media pendidikan (AVA) dua dimensi yang berbentuk gambar
tidak diproyeksikan. Cara penggunaan flip chart dan wall chart, cara yang baik dalam proses belajar
mengajar, karena sangat membantu kelancaran proses komunikasi antara guru dan siswa. Pesan
yang disampaikan akan lebih mudah dan lebih cepat dipahami siswa. Penyajian akan menggunakan
chart akan mempunyai arti tersendiri bagi siswa dalam usaha memahami materi pelajaran yang
sedang dibicarakan, karena mereka dapat melihat dengan jelas hubungan-hubungan isi materi yang
diterangkan. Di samping itu, penggunaan gambar atau ilustrasi yang telah dipersiapkan sebelum
proses belajar-mengajar berlangsung dapat pula menghemat waktu dalam penyajian materi pelajaran.

Pengertian
Untuk jelasnya berikut ini akan dicoba menjelaskan prinsip-prinsip penggunaan flip chart dan
wall chart tersebut.
1) Flip Chart
Flip chart adalah gambar atau ilustrasi yang cukup besar yang dibuat pada lembaran-
lembaran kertas ini merupakan satu kesatuan rangkaian informasi satu kesatuan. Setiap lembar
kertas mempunyai satu gambar yang merupakan satu bahagian atau satu tahap dari keseluruhan
informasi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Selesai menerangkan satu
tahap atau satu bahagian lembaran itu dibalikkan, dan lembaran berikutnya merupakan tahap
lanjutan dari lembaran pertama.
Demikian selanjutnya sampai pada lembaran terakhir pulalah disajikan satu kesatuan
materi atau satu kesatuan informasi yang lengkap. Satu materi pelajaran atau informasi mungkin
saja memerlukan 8 atau 10 lembar informasi ini disatukan agar tidak mudah terpisah antara satu
dengan yang lainnya. Dengan menyiapkan flip chart ini pada akhirnya akan dimiliki suatu koleksi
informasi yang lengkap dan dapat dipilih setiap akan mempergunakannya.
Cara mempergunakan flip chart adalah dengan jalan menggantungkannya pada suatu
standar gantungan atau dipasangkan pada papan agar dibalikkan dengan mudah.

2) Wall Chart
Wall Chart adalah suatu gambar atau illustrasi yang dibuat pada selembar kertas dan
biasa juga disebut gambar dinding. Gambar ini akan menampilkan suatu materi pelajaran atau
suatu informasi yang lengkap mengenai suatu atau sub topik pelajaran.

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 7

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Perencanaan dan Syarat-syarat Pembuatan
Flip Chart dan Wall Chart biasanya disediakan oleh guru yang bersangkutan.
Merencanakan suatu gambar harus sesuai dengan materi atau topik yang akan disajikan pada
waktu tertentu. Seperti telah disebutkan di atas bahwa flip chart dan wall chart adalah salah satu
alat bantu berkomunikasi dalam suatu proses belajar-mengajar dengan demikian di harapkan
dapat mencapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Untuk dapat mencapai efektivitas dan
efesiensi inilah maka gambar atau illustrasi sebaiknya direncanakan dan dibuat sendiri oleh guru
yang akan menerangkan materi tersebut. Dengan merencanakan dan membuat sendiri guru dapat
menyesuaikan dan menerapkan ide/gagasan dalam bentuk visual yang diikuti dengan kata-kata
sendiri yang merupakan suatu kesatuan informasi. Guru menghayati sekali apa saja yang harus
terkandung dalam gambar yang dibuatnya dan informasi yang bagaimana yang harus diberikan
untuk menjelaskan materi yang terkandung dalam gambar itu.
Syarat-syarat yang diperlukan untuk suatu flip chart dan wall chart yang baik adalah
sebagai berikut :
a. Gambar atau ilustrasi harus dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa/siswa dalam kelas.
b. Gambar atau ilustrasi harus sederhana tidak rumit sehingga mudah dimengerti oleh
siswa/siswa.
c. Gambar atau ilustrasi harus sesuai dengan materi pelajaran yang bersangkutan.
d. Pemberian warna akan lebih menarik minat siswa/siswa. Rencanakan paduan warna yang
serasi untuk memperjelas bagian-gaian yang ada.
e. Buatlah ukuran dan bentuk tulisan yang mudah dapat dibaca oleh seluruh peserta dalam
kelas.
f. Gambar yang disajikan adalah gambar yang betul sesuai dengan prinsip-prinsip teori yang
mendukungnya.

Selain syarat-syarat yang tersebut di atas, juga masih perlu diperhatikan ukuran kertas
yang dipergunakan untuk membuat flip chart dan wall chart ini biasanya adalah kertas A1 atau
A01, lebih kurang 60 x 84 cm atau 84 x 120 cm.
Dengan mempergunakan kertas ukuran A1 atau A01 ini masing-masing gambar atau
illustrasi pada setiap lembar kertas mempunyai ukuran yang cukup besar, sehingga akan jelas
terlihat oleh seluruh anggota kelas.

4. Over Head Projector (OHP)
Media transparansi sebagai media instruksional merupakan komunikasi yang sangat
potensial dalam kegiatan belajar-mengajar di Perguruan Tinggi. Dewasa ini seluruh Perguruanm
Tinggi di Indonesia sudah mempunyai Over Head Projector (OHP). Alat tersebut dapat digunakan
dengan mudah serta tidak memerlukan ruangan yang gelap.
Dalam kegiatan belajar mengajar dengan mempergunakan media transparansi seorang
dosen dapat :
1. Berkomunikasi dengan siswa tanpa kehilangan pandangan. Untuk mengarahkan perhatian dia
tidak perlu membelakangi kelas untuk menunjukkan saja pada bagain pesan pada transparansi
yang ada dihadapan anda.
2. Menutup transparansi yang berisi pesan dengan transparansi lain yang kosong agar dapat
digunakan untuk menambah catatan pada waktu memberikan kuliah tanpa merusak transparnasi
aslinya. Setelah selesai dipergunakan transparansi penutup tersebut dapat dibersihkan kembali
dengan alkohol.
3. Mempergunakan kertas penutup yang tidak tembus cahaya untuk mengatur kecepatan. Pada
penutup tersebut dapat pula dituliskan catatan penting dari pesan yang akan disampaikan. Pada
waktu dipergunakan untuk menutup transparansi hal tersebut tidak akan diproyeksikan kelayar
karena kertasnya tidak tembus cahaya.
4. Mempergunakan overlays, yaitu transparansi lain yang berisikan bagian dari pesan yang akan
disampaikan langkah demi langkah. Dengan demikian konsep yang sulit dapat diberikan tahap
demi setahap selama memberikan kuliah.
5. Mempergunakan benda 3 dimensi untuk memproyeksikan sivetnya. Dengan memanipulasi benda-
benda tersebut dapat terjadi animasi untuk menunjukkan gerak atau perubahan.

Pada dasarnya prinsip-prinsip pembuatan media transparansi ada empat prinsip umum yang
perlu diperhatikan seperti kesederhanaan, kesatuan, penekanan dan keseimbangan, serta lima unsur
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 8

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
tambahan seperti garis, bentuk, telestur warna dan ruang. Dengan demikian sedapat mungkin dalam
mendesain media transparansi prinsip dan unsur tambahan tersebut perlu diperhatikan.
Selain prinsip umum dan unsur tambahan yang disebutkan di atas, masih ada beberapa
prinsip yang perlu diperhatikan di dalam membuat overhead transparancy (OHT) sebagai berikut :
1. Mudah terlihat, huruf yang dibuat pada OHT jangan terlalu kecil karena akan sulit di baca peserta
atau siswa yang ada dibagian belakang. Huruf paling kecil pada transparansi adalah 6 mm atau
diproyeksikan pada layar paling kecil 2,5 cm, baru dapat terbaca pada jarak 10m.m kalau bisa
tulisan diatur secara horizontal agar lebih nyaman dilihat siswa.
2. Jelas, satu transparansi yang baik memuat satu ide, enam kata perbaris, enam baris per
transparansi.
Memberikan illustrasi dengan gambar mempermudah dan mempercepat orang mengerti. Gambar
harus jelas, tidak ruwet dan sistematis. Warna warni memperbagus penampilan.
3. Sederhana, informasi dalam transparansi hanyalah hal-hal yang penting saja.

Pembuatan media transparansi dapat dikerjakan dengan dua cara yaitu :
1. Proses langsung, yaitu orang dapat menulis langsung, menggambar, membuat grafik pada bahan
transparansi (write on transparancy atau write on film), atau plastik taplak meja, dengan
mempergunakan marking pen yang dapat dihapus atau yang permanen sesuai dengan
kebutuhan. Dalam membuat transparansi secara langsung ini disarankan agar anda menggunakan
pena transparansi yang permanen. Karena jenis lain yaitu yang non permanen mudah terhapus.
Tulisan yang menggunakan pena transparansi yang permanen tidak mudah dihapus sehingga
dapat dipakai berulang-ulang. Akan tetapi jika kita akan menghapusnya, hal tersebut dapat
dilaksanakan dengan menggunakan alkohol.
2. Proses tidak langsung, yaitu dengan menggunakan mesin heat termal atau infrared transparancy,
yaitu memindahkan pesan yang sudah ada atau telah dibuat terlebih dahulu pada sehelai kertas
dengan memakai thermofax.

Alat pengatur ketebalan dapat diatur apakah hasilnya diperlukan tebal atau tipis, tinggal
memutar atau menggeser jarumnya saja.
Caranya sebagai berikut :
1. Terlebih dahulu buatlah pesan visual diatas sehelai kertas HVS jika perlu bahan tersebut dapat di
foto copy dahulu.
2. Letakkan infrared transparancy diatas fotocopy atau bahan asli tadi. Perlu diperhatikan sudut yang
dipotong harus terletak pada sudut kanan atas.
3. Masukkanlah bahan yang sudah disiapkan pada langkah-langkah ke dalam themofax, dengan
bahan transparansi terletak di sebelah atas. Jangan lupa mengatur jarum penunjuk ketebalan
untuk mengatur tebal tipisnya hasil yang diinginkan.

Bahan-bahan untuk membuat transparansi
Transparansi overhead adalah suatu karya grafis yang dibuat di atas sehelai plastik yang
tembus pandang. Kemudian diproyeksikan ke sehelai layar dengan sebuah proyektor overhead (OHP)
untuk mengajarkan atau menjelaskan sesuatu.
Plastik yang dipakai untuk transparansi OHP adalah khusus. Ada yang disebut kertas acelate
kertas write on transparancy dan merek-merek lainnya. Tapi transparansi OHP dapat pula dibuat dari
sehelai plastik untuk taplak meja. Namun hasil hanya grafis yang dibuat di atas plastik biasa tidak
sebaik bila di buat di atas kertas acetate atau kertas write on transparancy. Hasil yang dibuat di atas
acetate atau kertas write on transparancy jernih bila diproyeksikan, sedangkan hasil di atas plastik
biasa agak suram.
Untuk membuat diperlukan bermacam-macam alat dan bahan terutama yang dianggap
penting, antara lain ;
1. Kertas write on transparanscy, kertas acetate atau plastik biasa (untuk taplak meja) untuk
transparan.
2. Kertas gambar putih
3. Kertas plastik beraneka warna yang khusus untuk keperluan ini(norma film ) dari mecanorma.
4. Pita plastik transparan khusus untuk keperluan ini dari mecanorma.
5. Letter press.
6. Visual marking pen (sigh pen) permanent dan non permanen macam-macam warna, merk 3M,
Stabilio, Steadler.
7. Marking tape /selotape.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 9

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
8. Bingkai khuaus untuk OHP transparansi dari karton.
9. Pena rapido.
10. Pisau /Gunting.
11. Peralatan menggambar.
12. Tinta cina, Retering, Steadler, dan sebagainya

Untuk pembuatan transpran telah disebut terlebih dahulu pada bagian bahan bahan. Untuk
membuat garis hitam dan bloking dapat dipergunakan visual market / sign pen dari 3M atau stabilo.
Ada yang permanen dan ada yang tidak permanen bila tertekan air atau keringat atau lentur dan
gambarnya akan hilang terhapus. Ada pula cat air yang khusus untuk dipakai diatas plastik. Cat plakat
dapat pula dipakai,hanya bila nanti gambar diproyeksikan semua gambar akan nampak berupa
bloking hitam saja, warnanya tidak nampak. Untuk mendapatkan warna bila transparansi
diproyeksikan selain dengan visual maker tadi juga dapat dengan menempelkan semacam kertas dan
pita yang disebut dengan Norma Filem atau transparan adhesive film dan transparan adhesive tape.
Dalam membuat gambar dan huruf usahakan sederhana saja, jangan terlalu ramai, jangan
pula mempergunakan bentuk-bentuk yang sulit. Buatlah gambar seperti pada karton, atau distilasi.
Pada bagian-bagian terpenting dari karya grafis, berilah tekanan, sehingga lebih nampak dan lebih
menonjol dari obyek lainnya. Penekanan itu dapat diberi dengan macam-macam cara. Umpamanya,
dengan memberikan garis pinggir (outline) yang jelas maupun tebal. Untuk membuat gambar lebih
menarik atau menonjol dapat digunakan texture, yaitu berupa bintik-bintik garis-garis dan lain
sebagainya. Untuk keperluan ini dapat dipergunakan kertas normatone.

Cara memberi teks
Pemberian teks pada transparansi OHP harus dipikirkan terlebih dahulu. Bila mempergunakan
visual maker atau sign pen ada warna-warna yang tipis sekali. Sehingga bisa terjadi huruf atau teks
tidak akan dapat di baca atau sukar di baca karena begitu tipisnya warna tersebut. Paling
mempergunakan warna hitam dan warna gelap lainnya. Huruf yang berupa tulisan tangan dapat
dibuat dengan visual maker atau dengan semacam pena, umpamanya Rapido. Mata pena rapido
mempunyai ketebalan yang bermacam-macam. Untuk teks pergunakan cara huruf yang sederhana
tidak banyak hiasan, dan tebal. Huruf lebih kecil dari `` (6 mm) akan sukar di baca. Bila
mempergunakan leter press jangan memakai lebih kecil dan
4
1
pt.
Untuk judul digunakan ukuran 24 pt atau 9 mm ke atas. Corak huruf yang baik dan tepat
untuk teks judul antara lain, ialah huruf Futura, Grotesque, Univers dan Helvetica. Ada pula yang
penting harus dipikirkan yaitu jarak antara huruf dengan huruf, kata dengan kata, dan baris yang satu
dengan yang lain terlalu jauh atau terlalu dekat atau menganggu waktu dibaca. Demikian pula halnya
jarak antara kata demi kata baris demi baris.
Bila lebar semua huruf 6 mm, maka jarak a antara huruf yang satu dengan yang lain cukup
sekitar 2-3 mm. Perlu diperhatikan bahwa jarak dari tiap bentuk huruf tidak dapat disamakan karena
bentuknya berbeda-beda. Jadi bila jarak antara huruf N dengan huruf H sejauh 3 mm maka jarak
antara A dan V lebih kecil lagi dari 3 mm. Hal ini supaya ruangan yang terjadi antara huruf -huruf
enak dipandang mata.
Jarak antara satu kata dengan kata yang lain kira-kira 1-1
2
1
kali lebar huruf N. Sedangkan
jarak antara baris dengan baris berikutnya sebaiknya ialah sekitar 1-11/2 huruf. Dalam satu lembar
transparan usahakan jangan sampai teks lebih 7 baris. Lebih dari itu akan terlalu penuh. Sebaiknya
teks itu hanya 5 baris saja, sehinga jarak antara baris dapat leluasa diatur dan huruf dapat dipilih
dengan tepat. Penyusunan teks huruf harus rapi, terletak pada satu garis lurus. Sebagai penolong
dapat dipergunakan kertas yang sudah diberi garis, kemudian taruh disebelah bawah transparansi.
Tapi teks yang tidak sam a nemberikan kesan kacan (semrawut ). Maka buatlah sebelah kiri teks rata
terletak pada pada satu garis lurus yang vertikal.
Penggunaan huruf yang bermacam-macam dalam satu bidang gambar akan membingungkan
yang membacanya.Kalau akan mempergunakan huruf yang berbeda-beda juga, pakailah 2 macam
saja. Umpamanya untuk judul satu macam lalu untuk teks satu macam lagi.Begitu pula tulisan tangan
yang banyak variasinya akan menyukarkan untuk dibaca.

a. Cara membuat overlays.
Salah satu sifat yang sangat efektif dalam penggunaan media transparansi sebagai media
instruksional ialah teknik overlays seperti telah dikemukakan di muka masalah, proses atau informasi
dapat dibagi atau diuraikan menjadi unsur-unsur yang logis dan disiapkan dalam transparansi yang
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 10

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
terpisah untuk setiap unsur, dan kemudian diprosentasikan secara berurutan agar supaya kokmunikasi
kita lebih efektif.
Untuk memperlihatkan satu demi satu bagian dari gambar, selain cara lipatan (overlays),
dapat dengan cara menutup sebahagian gambar dengan menarik kertas kemudian ditarik kertas
tersebut sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya seluruh gambar /transparansi kelihatan.
Dengan demikian langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat overlays adalah
sebagai berikut :
1. Buatlah sketsa yang menggambarkan keseluruhan materi.
2. Uraikanlah materi tersebut menjadi unsur-unsur yang logis.
3. Tentukanlah unsur-unsur yang akan dijadikan dasar dan unsur-unsur mana yang bagian-bagian
yang mengikutinya(overlays)
4. Buatlah dengan lembaran yang terpisah transparansi dasar dan untuk setiap overlays. Hal
tersebut dapat dibuat baik dengan proses langsung maupun tidak langsung
5. Tentukanlah transparansi dasar pada muka bagian bawah sedangkan lembaran overlays di
tempelkan pada bagian atas bingkai.

5. Media Laboratorium/Workshop
a. Pengertian dan Fungsi Laboratory Work
Dalam dunia pendidikan di sadari perlunya menghubungkan teori dan praktek. Prinsip-
prinsip akan dikaji dalam praktek. Yang terdapat dalam pengalaman praktek: di cari dasar-
dasarnya, dalam teori dan dalam prinsip-prinsip. Hubungan antara teori dan praktek seyogyanya
bersifat berlapis-lapis yang integratif dimana teori dan praktek secara bergantian dan bertahap
salaming isi mengisi, saling mencari dasar dan saling mengkaji (Raka Joni, 1980, Pengembangan
Kurikulum IKIP/FIP/FKG Suatu Kasus Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi, 19).
Sehubungan kaitan antara teori dan praktek inilah Laboratory Work dan fasilitas lain
dalam proses belajar mengajar patut mendapat perhatian. Laboratory Work atau kerja
laboratorium adalah kegiatan (kerja) yang berlangsung dalam laboratorium. Laboratorium yang
dimaksud tidak hanya berarti ruangan atau bangunan yang dipergunakan untuk percobaan ilmiah
misalnya dalam bidang Sain teknologi dan kejuruan dan sebagainya., melainkan juga termasuk
tempat aktivitas ilmiahnya sendiri baik itu berupa eksprimen, riset, observasi, demonstrasi yang
terkait dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain Laboratory Work adalah kegiatan kerja
ilmiah dalam suatu tempat yang dialkukan oleh dosen atau siswa atau pihak lain, baik berupa
praktikum, observasi, penelitian, demonstrasi dan pembuatan model-model yang dilakukan dalam
rangka kegiatan belajar-mengajar.
Jadi dalam pengertian laboratorium tidak hanya termasuk di dalamnya gedung atau ruang
dan peralatannya seperti misalnya Laboratorium kimia, Fisika, teknologi dan kejuruan atau
workshop. Dalam pengertian labortatorium termasuk juga sekolah, kelas dan bahkan bengkel dan
masyarakat sendiri. Lembaga kemasyarakatan, alam sekitar merupakan laboratorium pula. Ia
meruapakan sumber belajar dan media dalam proses belajar-mengajar yang tiada akan kering.
Darin uraian di atas maka yang disebut dengan laboratory work adalah kegiatan kerja
ilmiah yang dilakukan dalam sebuah laboratorium-laboratorium dapat diartikan dalam bermacam-
macam segi.
a. Laboratorium dapat merupakan wadah yaitu tempat, gedung, ruang dengan segala macam
peralatan yang diperlukan untuk kegaiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium dilihat sebagai
perangkat keras (hardware).
b. Laboratorium dapat merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar.
Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunaknya (software) dalam
kegiatan ilmiah.
c. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan kebenaran
ilmiah dan penerapannya.
d. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi.
Dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan
ilmiah; eksperimentasi sehingga terdapat penemuan-penemuan baru dalam bidang keilmuan
yang membawa pembaharuan baik itu berupa mesin-mesin, bahan-bahan baru, cara-cara
kerja dan sebagainya.
e. Dilihat dari segi chentele maka laboratorium merpuakan tempat dimana dosen, siswa, guru,
siswa dan orang lain melaksanakan kegiatan kerja ilmiah dalam rangka kegiatan belajar
mengajar.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 11

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
f. Dilihat dari segi kerjanya laboratorium merupakan tempat dimana dialkukan kegiatan kerja
untuk menghasilkan sesuatu. Dalam hal demikian ini dalam bidang teknik laboratorium di sini
dapat diartikan sebagai bengkel kerja (Workshop)
g. Dilihat dari hasil yang diperoleh maka laboratorium dengan segala sarana dan prasarana yang
dimiliki dapat merupakan dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar (PSB).
Pertanyaan yang lebih lanjut adalah apakah fungsi laboratory work itu ?
Secara garis besarnya fungsi laboratory work adalah sebagai berikut :
a. Memberikan kelengkapan bagai pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan
praktek bukan merupakan dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu mata uang.
Keduanya saling kaji mengkaji dan saling mencari pasar.
b. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagai siswa / siswa
c. Memberikanb dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu
objek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial.
d. Menambah ilmu keterampilan dalam mempergunakan alat media yang tersedia untuk mencari
dan menemukan kebenaran.
e. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seorang calon ilmuwan.
f. Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan yang diperoleh,
penemuan yang di dapat dalam proses kerja laboratorium.

Uraian manfaat kegiatan laboratorium tersebut dapat dikaitkan dengan beberapa contoh
manfaatnya dalam bidang studi tertentu. Dalam bidang teknologi misalnya dengan menggunakan
laboratorium atau workshop, siswa diajak mempelajari konsep-konsep teknologi dalam situasi
yang kongkrit dengan menggunakan objek-objek kongkrit misalnya membuat sesuatu benda kerja
dengan menggunakan fasilitas yang ada di laboratorium atau workshop dan sebagainya. Dengan
penggunaan alat peraga siswa aktif bekerja dan rasa keyakinannya menimbulkan rasa tertarik
untuk mempelajari atau mencobanya lebih lanjut.
Manfaat dari kegiatan dalam laboratorium antara lain adalah:
a. Menimbulkan gairah dan mendorong untuk belajar hal-hal keteknikan, karena kegiatan
laboratorium tekanan diberikan pada aktivitas siswa.
b. Lebih meragakan konsep-konsep dan proses pembelajaran teknologi
c. Mendorong penggunaan proses belajar-mengajar di bidang teknologi yang bersifat multimedia
d. Membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional calon guru teknik.

b. Macam Ragam Laboratory Work
Macam ragam laboratory work dapat dilihat dari beberapa segi. Dilihat dari segi
pendekatan ada beberapa macam, yaitu :
a. Computer Assisted Learning (CAL)
Istilah CAL sering dikalangan buruh dalam kerajaan Inggris sedang istilah lain dengan isi yang
sama adalah Computer Assisted Instruction (CAI) yang sering dipakai dikalangan guru-guru di
Amerika Serikat.
Komputer dalam pendekatan ini sebagai sarana atau media belajar. Seringkalai komputer
untuk membuat model atau simulasi suatu situasi atau proses yang tidak mungkin tersedia
untuk dipelajari, mungkin karena harganya mahal atau kelengkapannya sehingga tidak
mungkin memperoleh pengalaman langsung dari padanya. Peranan guru digantikan oleh
komputer, karena komputer dapat mengisi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada guru
(dosen).
b. Learning Aids Laboratory (LAL)
Learning Aids Laboratory dapat dirumuskan sebagai pusat dimana siswa terlibat dalam
individualized learning dengan memakai sarana/peralatan yang ada dalam laboratorium
misalnya Audio Visual Aids, Calculator, Computer, Pameran, percobaan sendiri atau Studi
Referensi.
Keberhasilan belajar dengan memakai pendekatan LAL ini amat tergantung pada motivasi
siswa sendiri karena peralatan dalam laboratorium baik yang perangkat keras (hardware)
maupun perangkap lunaknya (Software-nya) tergantung pada niat, kemampuan dan irama
kerja dari siswa sendiri. Jadi laboratorium di sini hanya berfungsi sebagai media belajar
mengajar.
c. Modular Laboratory (ML)
Hal ini dimaksudkan adalah laboratorium dimana yang bersangkutan siswa atau dosen atau
orang lain dapat bekerja dengan menggunakan modul-modul yang tersedia.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 12

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Penggunaan modul sebagai metode belajar mengajar, sebagaimana metode belajar mengajar
lain yang bersifat inovatif disebabkan antara lain untuk mengatasi jumlah kelas yang besar
yang tidak lagi memperhatikan perbedaan-perbedaan individual, apabila berbentuk kelas
dengan metode ceramah.
d. Integrated Laboratory
Laboratorium yang terintegrasi berusaha mengintegrasikan, menyatakan disiplin yang
terpisah-pisah atau sub-sub disiplin ke dalam satu paket belajar dengan media laboratorium
yang terintegrasikan.
Misalnya laboratorium/workshop teknik sipil teknik mesin, teknik otomotif, teknik elektro,
elektronika dan PKK. Oleh karena itu demi pemakaian laboratorium yang berdaya guna dan
berhasil guna, maka pendirian laboratorium terintegrasi untuk dua disiplin bidang studi
tersebut amat bermanfaat.
e. Project Work
Belajar dengan bekerja merupakan suatu pengalaman belajar tersendiri dimana siswa
dihadapkan kepada masalah-masalah yang kongkrit yang harus dipecahkan.
Dalam Laboratorium Project, siswa atas nasehat dosen pembimbing memilih satu project
topic. Atas dasar pilihan itu dia memilih kepustakaan untuk mendapatkan informasi. Informasi
ini merupakan dasar penyusunan rencana kerja untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan terlebih dahulu. Barulah kemudian menyusul fase kerja lapangan, eksperimen
dengan berbagai alat yang tersedia atau perlu dibuat terlebih dahulu. Langkah-langkah yang
dijalankan dan persoalan yang timbul serta hasil-hasil yang dicapai di catat dalam laporan
formal yang merupakan hasil kerja ilmiah. Selama proses berlangsung pembimbing project
memberikan kesempatan pada siswa untuk berkonsultasi mengenai masalah-masalah yang
dihadapi.
f. Partisipation in Research (PIR)
Di dalam macam atau model ini siswa ikut serta dalam real research yang sedang diadakan
oleh Fakultas atau lembaga lain.
Misalnya Lembaga Penelitian, Lembaga Pengabdian Masyarakat dan seterusnya. Riset yang
sedang dilaksanakan itu meruapakan laboratorium dimana siswa mendapatkan pengetahuan
langsung baik teori, maupun praktek dari pengalaman kerja dalam riset tersebut. Dalam riset
inilah siswa mempelajari konsep yang dipadukan dalam praktek dalam kenyataan hidup (real
life).

Di samping macam-macam laboratory work dapat didasarkan pada pendekatan bidang
studi atau kelompok bidang studi :
1) Laboraorium work untuk bidang sains (Science), misalnya laboratorium IPA.
2) Laboratory work untuk bidang studi tertentu. Misalnya dalam Lab. Kimia, Lab. Fisika, Lab.
Bahasa, Lab. IPS, Lab. PMP dan sebagainya.
3) Untuk bidang keguruan misalnya : PSB memberikan fasilitas yang ada. Untuk mempelajari
bidang ini, misalnya AVA untuk micro teaching. Sekolah latihan dapat pula merupakan
laboratorium kejuruan.
4) Untuk Ilmu Teknik : Laoratorium dapat diartikan dan berwujud bengkel kerja (Workshop).

















P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 13

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Standar Kompetensi : Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Sub Kompetensi : 1. Memiliki pengetahuan tentang RPP
2. Memiliki kemampuan menyusun RPP
Alokasi Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Memahami anatomi RPP
2. Menganalisis format RPP
3. menerapkan prinsip-prinsip perumusan format RPP

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar dalam Penyusunan Silabus
Pengidentifikasian indikator dari suatu kompetensi dasar (KD) perlu dilakukan secara
sistematis agar indikator-indikator yang diperoleh benar-benar merupakan representasi dari penanda
dan KD yang dimaksud. Dalam penyusunan silabus, jabaran KD yang berupa indikator-indikator
menentukan pemilihan bahan pelajaran, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, asesmen, dan sumber
dan media pembelajaran.
Bagian ini akan menyajikan serangkaian langkah latihan penyusunan silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Uraian setiap langkah diawali dengan rasional, tujuan, dan kegiatan
yang dilakukan. Kegiatan dalam setiap Iangkah disertai contoh untuk memudahkan penerapannya.
Pemikiran-pemikiran yang melandasi uraian ini adalah:
1. Pelaksanaan pembelajaran hanya akan berlangsung efektif apabila indikator-indikator dari suatu
KD telah dirumuskan di dalam silabus dengan baik.
2. Indikator-indikator dari suatu KD menunjukkan apa yang harus diajarkan (bahan pelajaran),
bagaimana diajarkannya (kegiatan pembelajaran), dan bagaimana diases.
3. RPP, sebagai suatu skenario pembelajaran, memandu kegiatan guru dan utamanya siswa
melaksanakan pembelajaran di kelas.
4. Silabus adalah acuan pengembangan RPP dan RPP adalah acuan pelaksanaan KBM


Penyusunan Silabus
Langkah 1 : Identifikasi keoperasionalan rumusan KD
Rasional : Tidak semua KD memiliki rumusan yang operasional,
Tujuan : Menentukan tingkat keoperasionalan rumusan KD
Kegiatan : 1. Tulis KD yang hendak dirinci ke dalam indikator-indikator pada rumusan KD
tersebut benar-benar operasional Contoh 1). Gunakan Format B apabila
rumusan KD tersebut tampaknya memuat dua kompetensi atau lebih (Contoh
2).
2. Kaji apakah KD tersebut menyuratkan satu atau lebih dari satu kompetensi :
a. Apabila hanya memiliki satu kompetensi (lihat Lampiran 1 dan 2), lakukan
analisis instruksional untuk mengidentifikasi indikator-indikatornya
(teruskan ke Langkah 4).
b. Apabila terdapat lebih dari satu kompetensi (lihat Lampiran 3 dan4),
identifikasi sub-kompetensi/sub-KD-nya (lakukan Langkah 2).


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 14

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Contoh 1 :

Kompetensi Dasar
(1)
Indikator
(2)
(KD dengan satu kompetensi)
1. Menjelaskan pengertian motor bakar
di depan kelas dengan benar tanpa
membuka buku catatan.
2. Menyebutkan prinsip kerja motor
secara benar tanpa dibantu oleh
temannya.


Contoh 2 :

Kompetensi : (KD dengan lebih dari satu kompetensi)
Dasar Menyebutkan komponen-komponen sistem penerangan pada mobil (baterai,
kunci kontak, sekering,kabel-kabel, dan bola lampu) serta prinsip kerja pada
lampu jarak pendek dan jarak jauh.
Sub-kompetensi :
Dasar
Sub-sub Kompetensi Dasar
(1)
Indikator
(2)




Langkah 2 : Identifikasi sub-tujuan/sub-KD
Rasional : KD yang tidak operasional memiliki lebih dari satu kompetensi.
Tujuan : mengidentifikasi sub-kompetensi/sub-KD
Kegiatan :
1. Buatlah diagram pohon berupa kotak-kotak.
1. Tuliskan rumusan KD di dalam kotak teratas
2. Kaji bagian-bagian yang menjadi sub-kompetensi dari KD tersebut.
3. Rumuskan sub-kompetensinya dan tuliskan di dalam kotak-kotak di bawahnya.
4. Apabila sudah operasional (hanya terdapat satu kompetensi), tuliskan rumusan sub-kompetensi ke
dalam kolom sub-kompetensi dasar (Silabus Format B) (lihat lampiran3 dan 4). Teruskan ke
langkah 4.
5. Apabila belum operasional (masih terdapat lebih dari satu kompetensi), lakukan langkah 3.












Langkah 3 : Identifikasi sub-sub kompetensi/sub-sub-KD
Rasional : Sub-Kompetensi dari KD dimungkinkan belum operasional
Tujuan : mengidentifikasi sub-sub-kompetensi/sub-sub-KD
Kegiatan : 1. Kaji apakah sub-kompetensi pada Langkah 2 masih bisa dijabarkan lagi ke dalam
sub-sub-kompetensi
2. Apabila sub-kompetensi tersebut masih memuat beberapa sub-sub-kompetensi,
buat kotak-kotak tambahan di bawah diagram
3. Rumuskan sub-sub-kompetensi ini dan tuliskan di dalam kotak-kotak di bawahnya
4. Pindahkan rumusan sub-sub-kompetensi tersebut kedalam kolom sub-sub-
kompetensi dasar (SIlabus Format B) (Lampiran 5).
Prinsip Kerja Motor

Motor 4 Tak

Motor 2 Tak
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 15

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Langkah 4 : Analisis Instruksional
Rasional : Indikator dari suatu KD perlu diidentifikasi secara logis, sistematis, dan pedagogis
Tujuan : Mengidentifikasi Indikator
Kegiatan : 1. Tuliskan KD yang rumusannya operasional atau sub-KD/sub-sub-KD yang
merupakan penjabaran dari KD yang rumusannya tidak operasional di bagian
atas diagram.
2. Buat beberapa kotak di bawahnya dan hubungkan dengan tanda panah. 1
3. Rumuskan indicator-indikator dan tuliskan secara berurutan mulai dari indicator
yang merupakan awal langkah kegiatan pembelajaran di dalam kotak-kotak
yang tersedia.2
4. Pindahkan rumusan indicator ke dalam kolom Indikator pada format silabus.

Langkah 5 : Analisis instruksional lanjut
Rasional : Kegiatan belajar dan mengajar tidak hanya menyangkut perumusan tujuan, tetapi
juga apa yang dipelajari, bagaimana dipelajari, dan bagaimana diases.
Tujuan : mengidentifikasi sub - indikator ( sub - keterampilan/ pengetahuan )
Kegiatan : 1. Setelah indikator dirumuskan, lakukan identifikasi sub-ketrampilan dan/atau
pengetahuan yang dibutuhkan siswa untuk mampu menguasai masing-masing
indikator.
2. Kembangkan hasil analisis indikator sebelumnya dengan menambahkan kotak-
kotak di bawah masing-masing indikator.1


Catatan:
1. Hanya indikator utama saja dipindahkan ke dalam silabus. Pengetahuan dan sub-ketrampilan
yang teridentifikasi tidak perlu dituliskan di dalam silabus.
2. Hasil analisis instruksional digunakan sebagai dasar pemilihan bahan pelajaran, penyusunan
kegiatan pembelajaran, pemilihan bentuk alat ukut asesmen, pemilihan indikator-indikator yang
perlu diases, dan pengembangan alat ukurnya.
3. Lampirkan hasil analisis instruksional ini di bagian akhir RPP untuk panduan pelaksanaan
pembelajaran.

Langkah 6: Identifikasi bahan pelajaran
Rasional : KD dicapai melalui sejumlah indikator dan sub indikator dapat dikuasai apabila
butir-butir bahan pelajaran dipilih berdasarkan indikator.
Tujuan : Mengidentifikasi butir-butir bahan pelajaran.
Kegiatan : 1. Mengidentifikasi butir-butir bahan pelajaran berdasarkan rumusan butir-butir
sub-indikator.
2. Menentukan butir-butir bahan pelajaran yang sesuai butir-butir sub-indikator.1
3. Tulis butir-butir bahan pelajaran di dalam kolom Bahan Pelajaran.




P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 16

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
B. Menyusun Silabus dan RPP

Indikator
(2)
Bahan Pelajaran
(3)
Indikator 1 :

Butir bahan pelajaran 1:

Indikator 2 :

Butir bahan pelajaran 2:

Indikator 3 :

Butir bahan pelajaran 3:

Indikator 4 :

Butir bahan pelajaran 4:


Catatan :
1. Silabus KTSP adalah silabus yang berbasis visi. Oleh karena itu, butir-butir bahan pelajaran perlu
diberi muatan yang mencerminkan pernyataan visi sekolah. Muatan ini bisa berupa tema, topic,
bahan bacaan, tugas, dan/atau contoh (lihat Lampiran 1-5).

Pernyataan Visi Sekolah Muatan bahan Pelajaran
Mencetak mekanik yang handal Terkait dengan perbengkelan
Membentuk pelopor kewirausahaan Terkait dengan semangat kewirausahaan
dalam segala bidang kehidupan
Mengutamakan sains dan teknologi Terkait dengan isu-isu perubahan dan
perkembangan sains dan teknologi
Keimanan dan ketaqwaan Terkait dengan masalah-masalah keimanan
dan ketaqwaan

Langkah 7: Identifikasi kegiatan pembelajaran
Rasional : Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh rumusan tujuan yang jelas
dan pemilihan bahan pelajaran, tetapi juga langkah-langkah pembelajaran yang
sistematis dan pedagogis.
Tujuan : Mengidentifikasi kegiatan/langkah-langkah pembelajaran
Kegiatan : 1. Memastikan bahwa hasil analisis instruksional telah menggambarkan dan
memetakan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang mengarah pada pencapaian
Sub-sub KD/Sub-KD/KD.
2. Memilih pokok-pokok kegiatan pembelajaran berdasarkan indikator dan sub-
indikator (pengetahuan dan sub-ketrampilan)1
3. Tulis butir-butir kegiatan pembelajaran di dalam kolom Kegiatan Pembelajaran.

Indikator (2) Bahan Pelajaran (3)
Indikator 1 : Butir bahan pelajaran 1:
Indikator 2 : Butir bahan pelajaran 2:
Indikator 3 : Butir bahan pelajaran 3:
Indikator 4 : Butir bahan pelajaran 4:

Catatan :
1. Kegiatan pembelajaran juga diupayakan berupa kegiatan yang sejalan dengan butir bahan
pelajaran-kegiatan pembelajaran berbasis visi.

Langkah 8 : Penetapan alokasi waktu
Rasional : Keberhasilan pencapaian kompetensi dipengaruhi oleh ketersediaan waktu belajar
yang cukup.
Tujuan : Menentukan alokasi waktu pembelajaran
Kegiatan : 1. Membuat estimasi waktu penyelesaian penyajian bahan yang memungkinkan
siswa mampu mencapai kompetensi
2. Menetapkan alokasi waktu pembelajaran
3. Tuliskan alokasi waktu pembelajaran di dalam kolom Alokasi Waktu

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 17

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Kegiatan Pembelajaran
(4)
Alokasi Waktu
(5)
Kegiatan Pembelajaran 1 : Estimasikan waktu untuk
menyelesaikan bahan pelajaran dan
melakukan kegiatan pembelajaran
terkait
Kegiatan Pembelajaran 2 :
Kegiatan Pembelajaran 3 :
Kegiatan Pembelajaran 4 :


Langkah 9 : Penetapan bentuk asesmen dan alat ukur asesmen
Rasional : Asesmen diperlukan untuk memperoleh simpulan/penjelasan apakah kompetensi
telah tercapai sesuai standar yang diharapkan dan ditetapkan
Tujuan : menentukan jenis asesmen dan alat ukur asesmen.1
Kegiatan : 1. Mengkaji indikator dan sub-indikator untuk menentukan jenis asesmen-hasil
(tes) dan/atau proses (non-tes).
2. Menentukan jenis dan alat ukur asesmen sesuai indikator dan sub-indikator
yang hendak diukur
3. Tuliskan jenis dan alat ukur asesmen di dalam kolom Asesmen. Sertai dengan
contoh alat ukur

Indikator (3) Asesmen (6)
Indikator 1 :


Asesmen hasil dan/atau
proses?
Alat ukur asesmen?
Contoh?
Indikator 2 :

Indikator 3 :

Indikator 4 :


Catatan :
Jenis asesmen dan alat ukur asesmen ditentukan berdasarkan indikator dan/atau sub-indikator.
Asesmen diarahkan hanya pada sampel indikator dan/atau sub-indikator (pengetahuan dan/atau sub-
ketrampilan) yang dianggap penting (lihat penjelasannya di bagian Pengembangan RPP di bawah).

Langkah 10 : Pemilihan sumber dan media pembelajaran
Rasional : Pembelajaran lebih efektif apabila, selain guru, terdapat sumber informasi lain dan
alat bantu pembelajaran.
Tujuan : Menentukan sumber dan media pembelajaran
Kegiatan : 1. Mengkaji bahan pelajaran untuk menentukan sumber dan media pembelajaran
1. Menentukan sumber dan media pembelajaran
2. Tuliskan sumber dan media pembelajaran di dalam kolom Sumber dan Media
Pembelajaran
3. Periksa keseluruhan silabus untuk memastikan kesatuan antar isi deskripsi
masing-masing kolom

Bahan Pelajaran
(3)
Sumber dan Media Pembelajaran
(7)
Bahan Pelajaran 1 :



Tentukan sumber dan media
pembelajaran berdasarkan bahan
pelajaran
Bahan Pelajaran 2 :


Bahan Pelajaran 3 :


Bahan Pelajaran 4 :



Dengan dirumuskannya sumber dan media pembelajaran, penyusunan silabus untuk satu KD
berakhir. Langkah selanjutnya adalah menyusun silabus untuk KD-KD yang lain atau mengembangkan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 18

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
RPP untuk KD yang telah diselesaikan. Yang amat penting dalam setiap pengembangan silabus adalah
tahapan analisis instruksional karena hasil dan analisis ini akan menentukan uraian yang diperlukan di
kolom-kolom lain. Seperti yang akan terlihat pada penjelasan pada bagian berikut, pengembangan
silabus amat mudah dilakukan apabila setiap kolom di dalam di silabus telah berisi uraian yang
lengkah dan sesuai dengan keperluan.

C. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Silabus adalah suatu rencana instruksional/pembelajaran yang dibuat untuk setiap mata
pelajaran yang terdapat di struktur kurikulum. Silabus disusun untuk dilaksanakan selama kurun
waktu tertentu (1 semester, 1 tahun, 2 tahun, atau 3 tahun). Satu silabus mata pelajaran memerlukan
penjabaran ke dalam beberapa RPP. RPP sesuai namanya, adalah rencana pembelajaran satu unit
pelajaran atau kompetensi dasar suatu mata pelajaran untuk dilaksanakan selama kurun waktu
pembelajaran tertentu (1, 2,3, atau 4 x jam pembelajaran). Format RPP bisa berbeda, tetapi pada
dasarnya memuat komponen-komponen sebagai berikut:













































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 19

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Format RPP :
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

1. Mata Pelajaran :
2. Kelas/Semester :
3. Pertemuan Ke :
4. Alokasi Waktu :
5. Kompetensi Dasar :
6. Sub-kompetensi Dasar :
7. Sub-sub-kompetensi Dasar : ..
8. Indikator :
9. Bahan Pelajaran :
10. Strategi pembelajaran :
11. Langkah-langkah Pembelajaran :

a. Pembukaan :

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa





b. Kegiatan Inti :

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa





c. Penutup :

12. Asesmen :
13. Sumber dan Media Pembelajaran :
14. Lampiran :

RPP dibuat berdasarkan silabus. Beberapa bagian dari RPP tidak memerlukan pengembangan,
namun beberapa yang lain perlu ditambah dengan rincian atau contoh-contoh sesuai keperluan
(Lampiran 6 - 10). Bagian-bagian yang pengenbangannya sama, maupun yang berbeda, adalah:
Kompetensi Dasar:
1. Sama dengan silabus.
2. Bagian Kompetensi Dasar diisi dengan rumusan KD seperti yang terdapat di dalam silabus.
Sub-kompetensi Dasar:
1. Sama dengan silabus.
2. Bagian Sub-kompetensi Dasar diisi apabila di dalam silabus terdapat rumusan sub-KD
(Lampiran 8 dan 9). Apabila tidak ada rumusan sub-KD, bagian ini dibiarkan kosong Lampiran
6 dan 7).
3. Hanya satu sub-KD dipilih untuk dibuatkan RPP-nya.
Indikator:
1. Sama dengan silabus.
2. Bagian ini diisi dengan rumusan-rumusan indikatordari KD, Sub-KD, atau Sub-sub-KD.
3. Tuliskan indikator utama saja.

Bahan Pelajaran:
1. Diperjelas.
2. Bagian ini diisi deskripsi dan contoh bahan pelajaran.
3. Apabila bahan pelajaran tersebut terdapat di dalam buku paket, tuliskan bab atau judul
pelajaran dan halaman butir-butir bahan pelajaran tersebut disajikan di buku paket.
4. Apabila bahan pelajaran tersebut diambilkan dan sumber lain, lampirkan bahan tersebut.


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 20

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Langkah-langkah Pembelajaran:
1. Deskripsikan bagian ini berdasarkan hasil analisis instruksional.
2. Kelompokkan bagian ini menjadi bagian pembukaan, bagian inti kegiatan, dan bagian penutup.
3. Pembukaan: Bagian pembukaan bisa diisi dengan salah satu atau gabungan dari hal-hal berikut:
a. Penciptaan suasana kelas yang produktif/kondusif.
b. Persiapan mental dan intelektual siswa mengikuti pelajaran.
c. Pemberian prates: Prates yang dimaksud disini berbeda dengan prates untuk mengases
pengetahuan terdahulu. Prates ini adalah sejumlah pertanyaan yang langsung terkait dengan
isi pembelajaran, diberikan dalam waktu singkat sehingga tidak menyita waktu kegiatan inti
pembelajaran, berbentuk terbuka (open-ended), dan dijawab siswa dalam angan-angan unituk
merangsang penemuan jawaban yang tepat sejalan dengan proses pembelajaran.
d. Pemaparan tujuan pembelajaran: siswa diberitahukan tujuan-tujuan pembelajaran (indikator-
indikator) yang diharapkan dapat dilakukan dan dikuasainya.
e. Overview: deskripsi singkat isi bahan pelajaran dalam bentuk paragraf atau diagram.
f. Advance organizer seperti overview, tetapi ditulis dalam bentuk abstraksi tingkat tinggi.
4. Kegiatan Inti: Kelompokkan bagian kegiatan inti menjadi dua bagian. Bagian pertama
mendeskripsikan kegiatan guru dan bagian kedua kegiatan siswa. Rumuskan masing-masing
bagian sedemikian rupa untuk menunjukkan waktu yang lebih lama digunakan siswa belajar
dibandingkan waktu yang digunakan guru memberikan penjelasan siswa aktif melakukan
kegiatan pembelajaran dan guru memfasilitasinya, bukan mendominasi.
5. Penutup: Isi bagian penutup dengan pemberian tugas-tugas di luar jam pelajaran yang
memungkinkan siswa mendalami bahan pelajaran yang baru dipelajari dan mempersiapkan
bahan pelajaran selanjutnya.
6. Asesmen:
Asesmen ditentukan berdasarkan sampling terhadap indikator.


































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 21

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Contoh : RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Mata pelajaran : Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kelas/Semester : I (Satu) / I
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Alokasi Waktu : 2 Jam Pelajaran (2 x 45 menit)
Bidang Keahlian : ..


A. Standar Kompetensi : Menggunakan ikon menggambar
B. Kompetensi Dasar : Menggunakan ikon-ikon untuk penampilan (viewer) dan pembuatan
gambar.
C. Indikator pencapaian kompetensi siswa :
1. Produk:
a. Mewarnai gambar yang tidak berwarna
b. Mengganti komposisis warna gambar yang sudah berwarna
c. Melakukan beberapa perubahan warna gambar.
2. Proses :
a. Mendemonstrasikan ikon untuk :
1) memilih gambar
2) memilih warna
3) mewarnai gambar
4) menghapus warna dan
5) mengganti warna
3. Keterampilan social :
a. Bekerja sama
b. Komunikasi lisan
c. Komunikasi tulisan, dan
d. Menaggapi pertanyaan/pendapat

D. Materi Pokok :
Perangkat lunak pengolah gambar sederhana
a. Ikon memilih gambar
b. Ikon memilih warna

E. Pendekatan dan metode pembelajaran :
1. Pendekatan pembelajaran :
Direct Instruction (Pembelajaran langsung)
Siswa diajak langsung berinteraksi kepada perangkat computer yang digunakan.
2. Metode pembelajaran :
a. kerja kelompok
b. Diskusi
c. Demonstrasi

F. Sumber dan media pembelajaran :
1. Buku paket
2. Lembar observasi (lembar kerja)
3. Laboratorium computer
4. Perangkat computer

G. Skenario Pembelajaran :
1. Pra-pembelajaran :
a. Memeriksa kelas
b. mengabsen siswa
c. Melakukan pre-test dengan cara :
1) Salah seorang siswa disuruh menceritakan pengalamannya dalam mewarnai, atau
2) Salah seorang siswa menyampaikan kelebihan mewarnai dengan computer. Jika tidak ada
siswa yang mampu, maka sambil dibantu guru atau jika tidak ada yang memungkinkan,
maka guru yang menyampaikan.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 22

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
2. Pembelajaran inti :
a. Guru mengajak siswa membuka lembar kerja dan mengikuti contoh yang diberikan guru :
1) menyalakan computer
2) membuka program mewarnai
3) memilih gambar
4) memilih warna
5) menghapus warna
6) mengganti warna
b. Siswa mengulangi kembali kegiatan (a) hanya dengan melihat lembar kerja, sementara guru
berkeliling mengawasi dan membantu jika diperlukan.
c. Siswa mengulangi kembali kegiatan (b) tanpa melihat lembar kerja, sementara guru
berkeliling mengawasi dan membantu jika diperlukan.
d. Siswa membentuk kelompok kecil dan mengerjakan tugas bersama memilih dan mewarnai
gambar, memberi judul gambar, dan komentarnya.
e. Perwakilan kelompok membacakan judul gambar dan komentarnya.

3. Penutup :
a. mengulas rangkuman materi kompetensi yang telah disajikan.
b. Memberi penghargaan kepada kelompok yang berhasil dengan baik.
c. Memberikan tugas-tugas kepada siswa untuk diselesaikan di rumah.

H. Penilaian :
1. Jenis tugas :
a. Test tulis
b. Unjuk kerja (penilaian praktik)
c. Proyek (tugas projek)
d. Portofolio (kumpulan tugas)
2. Bentuk instrument :
Menjodohkan dan lembar observasi
3. Soal/instrument :
a. Uji kompetensi tertulis
b. Uji kompetensi unjuk kerja :
Mendemonstrasikan ikon-ikon untuk :
1) memilih gambar
2) memilih warna
3) menghapus warna
4) mengganti warna
c. Tugas kelompok :
1) Memilih dan mewarnai gambar
2) memilih judul dan memberikan komentas
4. Contoh instrument penilaian :
No Aspek instrument Rentang nilai
Jumlah nilai
Psikomotorik Kuantitatif
1 Menunjukkan ikon memilih
gambar
0 - 3
.../12 x 10 =
2 Menunjukkan ikon memilih warna 0 3
3 Menunjukkan ikon menghapus
warna
0 3
4 Menunjukkan ikon mengganti
warna
0 - 3
Skor maksimal 12
Afektif Kuantitatif
A B C D Keterangan
1 Bekerja sama
2 Komunikasi lisan
3 Komunikasi tulisan
4 Tanggung jawab
5 Kedisiplinan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 23

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Keterangan :
Jumlah skor yang diperoleh
1. Nilai akhir = x 10
Skor maksimal
2. Untuk penilaian psikomotorik, bila siswa menjawab cepat diberi nilai 3, bila menjawab agak
lambat diberi nilai 2, jika membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab diberi nilai 1, dan
bila tidak dapat menjawab diberi nilai 0.
3. Untuk penilaian aspek afektif :
A = sangat baik
B = Baik
C = cukup
D = kurang















































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 24

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
STRATEGI PEMBELAJARAN KEJURUAN



Standar Kompetensi : Menerapkan Strategi Pembelajaran
Sub Kompetensi : 1. Membandingkan model-model pembelajaran
2. Menerapkan model-model pembelajaran
Alokasi Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Model-model pembelajaran
2. Penerapan model-model pembelajaran

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
1. Latar Belakang Strategi Pembelajaran
Guru memegang peranan yang cukup penting baik dalam perencanaan maupun
pelaksanaan pembelajaran kejuruan. Guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang
pembelajaran di kelasnya. Karena itu, guru merupakan barisan terdepan dalam penciptaan
pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Menyadari hal itu, betapa pentingnya untuk
meningkatkan aktivitas, kreativitas, kualitas dan profesiona-lisme guru kejuruan. Hal tersebut lebih
tampak lagi dalam pendidikan yang dikembangkan secara desentralisasi sejalan dengan
kebijaksanaan otonomi daerah, oleh karena itu guru disini diberi kebebasan untuk memilih dan
mengembangkan materi standar dan kompetensi untuk disajikan dalam proses pembelajaran.
Hasil penelitian di negara-negara berkembang menunjukkan adanya dua kunci penting
dari peran guru yang berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa, yaitu jumlah
waktu efektif yang digunakan guru untuk melakukan pembelajaran di kelas, dan kualitas
kemampuan guru. Dalam hal ini, guru hendaknya memiliki standar kemampuan profesional untuk
melakukan pembelajaran kejuruan yang berkualitas, kreatif dan menyenangkan.
Kualitas guru kejuruan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi proses dan dari segi hasil
pembelajaran. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar
peserta didik secara aktif, baik fisik, mental maupun social dalam proses pembelajaran. Disamping
itu, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri.
Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang dilaksanakan
mampu mengubah perilaku sebagian besar siswa ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih
baik. Untuk memenuhi tuntutan tersebut diperlukan berbagai kompetensi pembelajaran.
Pengembangan kualitas guru merupakan suatu proses yang kompleks, dan melibatkan
berbagai faktor yang saling terkait. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya tidak hanya menuntut
keterampilan teknis dari para ahli terhadap pengembangan kompetensi guru, tetapi juga harus
dipahami berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sehubungan dengan itu, perlu dilakukan
berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru dalam pengembangan berbagai aspek
pendidikan dan pembelajaran. Hal tersebut lebih terfokus lagi dalam implementasi kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang masih tetap menerapkan pola berbasis kompetensi dengan
manajemen berbasis sekolah, dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah.
Pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut secara benar dan transparan dapat meningkatkan mutu
pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Dalam penerapan berbagai kebijakan di atas, guru dituntut menjadi ahli penyebar
informasi yang baik, karena tugas utamanya antara lain menyampaikan informasi (materi
pelajaran) kepada siswa. Guru juga berperan sebagai perencana (planner), pelaksana
(implementer), dan penilai (evaluator) pembelajaran. Apabila pembelajaran diarahkan untuk
memenuhi kebutuhan pribadi para peserta didik dengan penyediaan ilmu yang tepat dan latihan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 25

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
keterampilan yang mereka perlukan, maka diperlukan ketergantungan terhadap materi standar
yang efektif dan terorganisasi. Untuk itu, diperlukan peran baru dari para guru, mereka dituntut
memiliki keterampilan-keterampilan teknis yang memungkinkan untuk mengorganisasi materi
standar serta mengelolanya dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi siswa.
Dalam implementasi KTSP yang berbasis kompetensi, guru terutama berperan dalam
mengembangkan materi standar dan membentuk kompetensi peserta didik. Sehubungan dengan
itu, guru harus kreatif, professional, dan menyenangkan dalam pengembangan materi
pembelajaran. Guru harus kreatif dalam memilih dan memilah, serta mengembangkan materi
standar sebagai bahan untuk membentuk kompetensi peserta didik. Guru harus professional dalam
membentuk kompetensi peserta didik sesuai dengan karakteristik individual masing-masing. Guru
juga harus menyenangkan, tidak saja bagi peserta didik, tetapi juga terhadap dirinya. Artinya,
belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru sehari-hari, harus dicintai agar
dapat membentuk dan membangkitkan rasa cinta dan gairah belajar peserta didik. Dalam kondisi
dan perubahan yang bagaimanapun dahsyatnya, guru harus tetap guru, jangan terpengaruh oleh
issu, dan jangan bertindak terburu-buru.

2. Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Keberhasilan dalam pembelajaran KBK sangat tergantung kepada guru. Sebab guru
merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun sempurnanya sebuah
kurikulum, tanpa didukung oleh kemampuan guru, maka kurikulum itu hanya sesuatu yang tertulis
dan tidak memiliki makna. Oleh karena itu, guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses
implementasi kurikulum. Selanjutnya, peran apa saja yang harus dilakukan oleh guru? Dalam
implementasi KBK, peran guru dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu: (1) peran guru sebagai
perencana, (2) peran guru sebagai pengelola, (3) peran guru sebagai fasilitator dan (4) peran guru
sebagai evaluator.
1. Guru sebagai perencana pembelajaran
Keberhasilan dalam implementasi KBK dapat dipengaruhi oleh perencanaan pembelajaran yang
disusun oleh guru. Oleh sebab itu, kepiawaian guru dalam menyusun rencana pembelajaran
(instructional design) dapat menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi.
KBK adalah kurikulum yang memberikan peluang kepada guru untuk melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik serta kondisi daerah masing-
masing. Oleh karena itu, dalam proses penyusunan perencanaan, guru dituntut agar memahami
kebutuhan dan kondisi daerah setempat, di samping memahami karakteristik peserta didik.
Melalui pemahaman itu, selanjutnya guru mendesain pembelajaran sesuai dengan kondisi
lapangan dan kebutuhan.
2. Guru sebagai pengelola pembelajaran
Tujuan dari pengelolaan pembelajaran adalah terciptanya kondisi lingkungan belajar yang
menyenangkan bagi peserta didik, sehingga dalam proses pembelajaran peserta didik tidak
merasa terpaksa apalagi tertekan. Oleh karena itulah, peran dan tanggung jawab guru sebagai
pengelola pembelajaran (manager of leraning) menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif,
baik iklim social maupun iklim psikologis. Iklim social yang baik ditunjukkan dengan terciptanya
hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dan peserta didik,
serta antara guru dan pengelola sekolah. Sedangkan iklim psikologis ditunjukkan dengan adanya
saling kepercayaan dan saling menghormati antara sesama unsur sekolah. Melalui iklim yang
demikian, memungkinkan peserta didik untuk berkembang secara optimal, terbuka, dan
demokratis.
3. Guru sebagai fasilitator
Sebagai seorang fasilitator, tugas guru adalah membantu untuk mempermudah peserta didik
belajar. Dengan demikian, guru perlu memahami karakteristik peserta didik, termasuk gaya
belajar, kebutuhan kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik. Melalui pemahaman itu, guru
dapat melayani dan memfasilitasi setiap peserta didik. Sebagai seorang fasilitator, guru harus
menempatkan diri sebagai orang yang memberi pengarahan dan petunjuk agar peserta didik
dapat belajar secara optimal. Dengan demikian, yang menjadi sentral kegiatan pembelajaran
adalah peserta didik, bukan guru. Guru tidak berperan sebagai sumber belajar yang dianggap
serba bisa dan serba tahu segala macam hal.
4. Peran guru sebagai evaluator
Guru sebagai seorang evaluator tidak kalah pentingnya dengan peran yang lain. Dilihat dari
fungsinya, evaluasi bisa berfungsi sebagai formatif dan sumatif. Evaluasi formatif berfungsi
untuk melihat berbagai kelemahan guru dalam mengajar. Artinya, hasil dari evaluasi itu
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 26

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
digunakan sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kinerja guru. Evaluasi sumatif digunakan
sebagai bahan untuk menentukan keberhasilan peserta didik dalam melakukan pembelajaran.
Dengan demikian, peran guru sebagai evaluator, menunjuk ke dua hal, yaitu untuk melihat
keberhasilan dalam melakukan proses pembelajaran dan peran untuk menentukan ketercapaian
peserta didik dalam menguasai kompetensi sesuai dengan kurikulum.

3. Kompetensi Guru dalam Implementasi Pembelajaran
Pekerjaan guru merupakan pekerjaan profesional. Sebagai pekerjaan profesional, seorang
guru harus memiliki sejumlah kompetensi tertentu yang tidak dimiliki oleh profesi lain. Kompetensi
merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi
yang diharapkan (Mc. Leod, 1999). Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam
melaksanakan perannya secara bertanggung jawab dan layak.
Kompetensi apa yang harus dimiliki guru dalam hubungannya dengan implementasi KBK?
Sesuai dengan perannya, kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam hubungannya dengan
implementasi KBK meliputi tiga hal, yaitu:
a. Kompetensi yang berhubungan dengan proses perencanaan pembelajaran,
b. Kompetensi yang berhubungan dengan proses implementasi pembelajaran, dan
c. Kompetensi yang berhubungan dengan proses evaluasi pembelajaran,

1) Kompetensi proses perencanaan pembelajaran
Kompetensi dalam hal penyusunan rencana pembelajaran, berhubungan dengan kemampuan guru
dalam menyusun program pembelajaran termasuk menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi
sekolah tempat melaksanakan tugas mengajar. KBK adalah kurikulum yang memberikan peluang
kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran sesuai dengan kondisi daerah. Oleh
sebab itu, guru dituntut untuk mampu menjabarkan kompetensi dasar ke dalam sejumlah kegiatan
pembelajaran yang dianggap sesuai dengan kemampuan peserta didik dan kondisi daerah. Dalam
hal inilah letak perbedaan KBK dengan kurikulum sebelumnya. Sesuai dengan semangat otonomi
daerah dan desentralisasi pendidikan, guru dapat merencanakan proses pembelajaran sesuai
dengan kondisi daerahnya dan kondisi peserta didik yang dihadapinya. KBK kemudian
dikembangkan menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
2) Kompetensi proses implementasi pembelajaran
Kompetensi dalam implementasi kurikulum berhubungan dengan kemampuan guru mengelola
proses pembelajaran. KBK adalah kurikulum yang menekankan kepada aktivitas peserta didik
secara optimal. Asumsi dasar proses pembelajaran dalam KBK adalah bahwa pengetahuan itu akan
bermakna manakala dicari, ditemukan, dan dikonstruksi oleh peserta didik sendiri. Oleh karena itu,
dalam proses pembelajaran, guru bukan satu-satunya sumber belajar seperti selama ini, akan
tetapi guru harus berperan sebagai pengelola atau pengatur lingkungan agar peserta didik belajar.
Guru harus mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia, di samping
menggunakan berbagai strategi pembelajaran.
3) Kompetensi proses evaluasi pembelajaran,
Kompetensi dalam melakukan evaluasi, berhubungan dengan kemampuan guru untuk melakukan
evaluasi sebagai fungsi formatif dan evaluasi sebagai fungsi sumatif. Evaluasi formatif adalah
evaluasi yang dirancang dan dilakukan guru untuk menilai dirinya sendiri dalam melakukan proses
pembelajaran. Artinya, hasil evaluasi ini digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang
berbagai kekurangan kekurangan guru dalam mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai umpan
balik untuk memperbaiki kinerjanya. Sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dirancang
dan dilakukan guru untuk menilai keberhasilan peserta didik dalam mencapai kompetensi yang
diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui evaluasi ini, guru dapat menilai sejauh
mana kompetensi yang telah dicapai peserta didik, di samping guru dapat melihat kemampuan
peserta didik dibanding dengan kelompok belajarnya.
Untuk menunjang ketiga kompetensi guru dalam implementasi pembelajaran tentu saja guru harus
memahami berbagai ilmu pengetahuan. Sebab, salah satu persyaratan sebagai profesi adalah
adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam sesuai
dengan bidang keahliannya (Moh. Ali, 1995). Bidang pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang
guru profesional untuk melaksanakan tugasnya diantaranya pengetahuan tentang: (1) psikologi
perkembangan anak, (2) berbagai pendekatan dalam pembelajaran, (3) pengetahuan tentang
media dan sumber belajar, (4) pengetahuan mengenai teknik penilaian, dan lain sebagainya.
Tanpa pengetahuan yang memadai tentang hal-hal tersebut, tidak mungkin kompetensi itu dapat
dimiliki setiap guru.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 27

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
4. Empat Kekeliruan Guru dalam Implementasi PBM
Untuk mempercepat pemahaman terhadap kekeliruan yang mungkin pernah dilakukan guru,
maka dikemukakan sebuah illustrasi pelaksanaan proses pembelajaran di suatu kelas sebagai berikut:
Telah hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan
materi pelajaran kepada anak didiknya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah materi pelajaran
yang ia pelajari pada malam harinya. Sebagian besar peserta didik sama sekali tidak merasa tertarik
dengan materi pelajaran yang disampaikannya, karena mereka merasa apa yang disampaikan sang
guru sama persis dengan apa yang ada dalam buku yang telah mereka pelajari di rumah. Oleh karena
itulah mereka merasa gelisah selama mendengarkan penjelasan guru. Di antara mereka ada yang
asyik membaca buku, mengobrol, dan ada juga yang mengantuk. Memperhatikan gejala yang tidak
mengenakkan itu, guru segera bereaksi. Sambil memukul-mukul mistar panjang ke papan tulis ia
berkata: Anak-anak tolong perhatikan ..! Materi yang bapak sampaikan ini adalah materi yang
sangat penting untuk kalian kuasai. Nanti soal-soal ulangan tidak akan jauh dari apa yang saya
sampaikan. Oleh karena itu, tolong perhatikan apa yang bapak sampaikan.
Anak-anak diam sebentar. Yang sedang mengobrol segera menghentikan obrolannya, yang
sedang membaca melipat buku bacaannya, demikian juga yang sedang mengantuk melepas
kantuknya. Sang guru segera melanjutkan mengajarnya, bertutur menyampaikan informasi. Suara
sedikit lemah, karena kehabisan energi, sehingga yang duduk di bangku bagian belakang semakin
membuat bosan peserta didik. Mereka kembali dengan aktivitasnya semula : mengobrol, membaca,
dan mengantuk. Membosankan..!Gerutu seorang peserta didik yang duduk di belakang.
Hari ini memang membosankan, baik bagi guru maupun bagi peserta didik. Guru
menganggap anak didiknya bandel-bandel. Ia merasa disepelekan oleh peserta didik yang tidak mau
mendengarkan penjelasannya. Demikian juga peserta didik, ia merasa guru tidak mampu mengajar,
karena ia hanya menyampaikan informasi yang sebetulnya sudah mereka kuasai.
Oleh sebab itu ketika bel berbunyi tanda pelajaran berakhir, baik bagi guru maupun peserta
didik seakan-akan keluar dari mimpi buruk yang menegangkan. Peserta didik pun bersorak kegirangan
menyambut bel; sementara guru keluar dari kelas dengan langkah gontai karena kecapaian.
Kita sering melihat bahkan mungkin merasakan peristiwa semacam itu. Bagi seorang guru,
peristiwa itu sering dianggap sebagai peristiwa yang menjengkelkan, sehingga ia menganggap kalau
kelas tersebut adalah kelas yang bandel, kelas yang tidak bisa diurus dan lain sebagainya. Bagaimana
menurut Anda, bijaksanakah tindakan guru yang demikian? Sebelum Anda menjawab pertanyaan
tersebut, marilah kita tinjau beberapa hal yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar di atas.
Pertama, ketika mengajar guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang
diajarkannya sudah dipahami peserta didik atau belum. Kurangnya perhatian peserta didik seperti
dalam peristiwa belajar mengajar di atas, jelas disebabkan oleh peserta didik, karena sudah
memahami informasi yang disampaikan guru, sehingga menganggap materi itu tidak penting lagi.
Kedua, dalam proses belajar mengajar guru tidak berusaha berpikir untuk peserta didik.
Komunikasi terjadi satu arah, yaitu dari guru ke peserta didik. Guru menganggap bahwa bagi peserta
didik menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan mengembangkan kemampuan
berpikir.
Ketiga, guru tidak berusaha mencari umpan balik, mengapa peserta didik tidak mau
mendengarkan penjelasannya.
Keempat, guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai
pelajaran dibandingkan dengan peserta didik. Peserta didik dianggap sebagai tong kosong yang
harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting.
Keempat hal tersebut di atas, merupakan kekeliruan guru dalam mengajar. Mengapa demikian?
Mari kita analisis ke empat hal di atas.

a. Guru tidak berusaha mengetahui kemampuan awal siswa.
Sebagai seorang Mekanik yang professional misalnya, sebelum ia melakukan perbaikan dan
pengerjaan serta tindakan kendaraan yang rusak, terlebih dahulu ia akan melakukan diagnosis,
misalnya ia akan bertanya kepada pemilik mobil, apa gejala mobil anda, apakah kendaraan anda
susah bunyi? sejak kapan mobil anda mengalami gangguan? dan sebagainya, sambil memeriksa
bagian kendaraan yang dikerjakan.
Begitu pula dokter yang professional, sebelum ia melakukan treatment atau tindakan kepada
pasien, terlebih dahulu ia akan melakukan diagnosis, misalnya ia akan bertanya, bagian mana yang
sakit, apakah anda sudah makan obat sebelumnya? dan sebagainya, sambil memeriksa bagian tubuh
pasien. Setelah dokter menemukan gejala-gejala sumber penyakit, baru ia menentukan apa yang
harus dilakukannya; Apakah pasien cukup berobat jalan, harus diopname, dan lain sebagainya.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 28

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Demikian juga seorang pengacara, sebelum melakukan tindakan hukum ia akan mempelajari
kasus yang dihadapi kliennya, termasuk perundang-undangan sesuai dengan kasus yang sedang
ditanganinya. Apakah seorang arsitek bangunan, sebelum ia membangun sebuah gedung bertingkat,
atau membangun sebuah jembatan, tidak didahului survei tentang struktur tanah serta aspek-aspek
pendukung lainnya? Tidak, bukan? Ya, seorang profesional, sebelum ia melakukan tindakan
selamanya akan didahului oleh langkah diagnosis, sehingga langkah ini merupakan bagian dari
pekerjaan profesionalnya. Kemudian bagaimana dengan guru dalam illustrasi di atas? Tampaknya ia
tidak melakukan diagnosis tentang keadaan peserta didik, sehingga ia tidak mengetahui apakah
peserta didik sudah faham tentang materi yang akan dijelaskannya; demikian juga ia tidak
mengetahui apakah peserta didik sudah membaca buku yang ia baca. Jangan-jangan peserta didik
lebih faham dari gurunya tentang materi pelajaran yang akan diajarkannya, karena selain peserta
didik membaca buku yang menjadi rujukan guru, peserta didik pun mambaca buku lain yang dianggap
relevan.

b. Guru tidak pernah mengajak siswa untuk berpikir
Pernahkah seorang yang sedang bermain catur mengantuk? Tidak bukan? Ya, tentu tidak,
sebab bermain catur membutuhkan konsentrasi dan motivasi, demikian juga halnya dengan seseorang
yang sedang bermain kartu. Kita tidak akan menemukan mereka yang mengantuk atau melakukan
aktivitas lain. Seorang yang sedang bermain catur akan memusatkan perhatiannya kepada bidak
caturnya; seorang yang bermain kartu akan mengonsentrasikan pikirannya pada kartu yang sedang
dimainkannya.
Demikian juga halnya dalam mengajar. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi
pelajaran akan tetapi melatih kemampuan peserta didik untuk berpikir, menggunakan struktur
kognitifnya secara penuh dan terarah. Materi pelajaran semestinya digunakan sebagai alat untuk
melatih kemampuan berpikir, bukan sebagai tujuan. Mengajar yang hanya menyampaikan informasi
akan membuat peserta didik kehilangan motivasi dan konsentrasinya. Mengajar adalah mengajak
peserta didik untuk berpikir, sehingga melalui kemampuan berpikir akan terbentuk peserta didik yang
cerdas dan mampu memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya.

3. Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik
Proses mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh sebab itu apa yang dilakukan oleh
seorang guru seharusnya mengarah pada pencapaian tujuan. Apa bedanya antara seorang guru
dengan seorang tukang obat? Ya, perbedaannya terletak pada tujuan yang ingin dicapai. Walau
keduanya sama-sama bicara, tapi bicaranya tukang obat tidak lebih dari keinginannya untuk menarik
perhatian orang; sedangkan apa yang keluar dari mulut guru selalu diarahkan untuk mencapai tujuan
belajar, yakni perubahan tingkah laku. Oleh karena itu dalam setiap proses mengajar, guru perlu
mendapatkan umpan balik, apakah tujuan yang ingin dicapai sudah dikuasai oleh peserta didik atau
belum, apakah proses atau gaya bicara guru dapat dimengerti atau tidak. Hal ini sangat diperlukan
untuk proses perbaikan mengajar yang telah dilakukannya.

4. Guru menganggap paling mampu dan menguasai pelajaran.
Dewasa ini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi
setiap orang bisa memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Anda ingin belajar bahasa Inggris?
Silahkan Anda belajar melalui kaset atau melalui video dan radio. Anda ingin belajar matematika atau
lainnya? Silahkan Anda belajar melalui VCD dan CD-nya sudah banyak dijual di pasaran. Apakah Anda
ingin mengetahui peristiwa-peristiwa aktual? Silahkan Anda berkomunikasi lewat internet. Dewasa ini
setiap orang bisa belajar dari berbagai sumber belajar. Dengan demikian, kalau sekarang ini ada guru
yang menganggap dirinya paling pintar, paling menguasai sesuatu, itu sangat keliru. Bila terjadi
dewasa ini peserta didik lebih menguasai materi pelajaran dibandingkan dengan gurunya merupakan
hal yang wajar. Hal ini bisa terjadi karena kemungkinan peserta didik yang di rumahnya banyak
membaca koran, majalan, buku-buku, banyak mempelajari berbagai pengetahuan lewat internet,
maka peserta didik yang demikian akan lebih hebat dibanding guru yang tidak pernah membaca
koran, tidak mengikuti perkembangan dunia, tidak pernah berkomunikasi dengan internet karena
tidak memiliki fasilitas untuk itu dan lain sebagainya.
Jadi dengan demikian dalam era informasi sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan
peranan guru. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar (learning resources),
akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran (manager of instruction). Dalam posisi
semacam ini bisa terjadi guru dan peserta didik saling membelajarkan. Salahkah kalau guru belajar
dari peserta didik?
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 29

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
5. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran mengacu pada model pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran, tahapan kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Pendekatan pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial untuk
menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer,
kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992: 4). Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap pendekatan
pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik
sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Seokamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari pendekatan
pembelajaran adalah: Kerangka konseptual yang melukiskann prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi
sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
aktivitas belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak
(1993) bahwa pendekatan pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
Istilah pendekatan pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi,
metode atau prosedur. Menurut (Kardi dan Nur, 2000: 9), pendekatan pengajaran mempunyai empat
ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
a. Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan
dicapai).
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar pendekatan tersebut dapat dilaksanakan dengan
berhasil.
d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

1) Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
Istilah pendekatan pembelajaran meliputi pendekatan yang luas dan menyeluruh.
Contohnya pada pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa
bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru
sedang menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggu-nakan
bernacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis.
Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar
konstruktivisme. Pada pendekatan ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan
nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerja sama antar siswa. Dalam pendekatan
pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-
tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang
dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang
fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan siswa.

2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran
yang akan dicapai)
Pendekatan-pendekatan pembelajaran dapat diklasifi-kasikan berdasarkan tujuan
pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh
pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu pendekatan
pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel
perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini
tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.

3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar pendekatan tersebut dapat dilaksanakan
dengan berhasil
Sintaks (pola urutan) dari suatu pendekatan pembel-ajaran adalah pola yang
menggambarakan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yamg pada umumnya disertai dengan
serangkaian kegiatan pemelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu pendekatan pembelajaran
menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa.
Sintaks dari macam-macam pendekatan pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama.
Contoh, setiap pendekatan pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan
memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap pendekatan pembelajaran
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 30

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
diakhiri dengan menutup pelajaran, di dalamnya meliputi kegiatan merangkum poko-pokok
pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.

4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
Tiap-tiap pendekatan pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan
belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, pendekatan pembelajaran kooperatif memerlukan
lingkungan belajara yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada
proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran diskusi para siswa duduk di
bangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan pada proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran langsung, siswa berhadap-hadapan
dengan guru. Pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran
kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada pendekatan pembelajaran
langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.
Johnson (dalam Samani, 2000), menyatakan bahwa untuk mengetahui kualitas
pendekatan pembelajaran harus dilihat dari dua aspek, yaitu aspek proses dan aspek hasil. Aspek
proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan
(joyful learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar. Sedangkan aspek hasil mengacu
kepada apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan, yaitu meningkatkan kemampuan siswa
sesuai dengan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum
melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik.
Tugas utama guru adalah mengajar dan karena itu setiap guru dituntut untuk memiliki
kompetensi mengajar. Kompetensi mengajar dimiliki jika guru paling tidak mampu memahami dan
menerapkan secara taktis berbagai metode belajar-mengajar di samping kemampuan-kemampuan
lain yang menunjang.
Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan
mengembangkan pendekatan dan memilih metode pembelajaran yang efektif. Hal ini penting
terutama untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Cara guru
melakukan suatu kegiatan pembelajaran mungkin memerlukan pendekatan dan metode yang
berbeda dengan pembelajaran lainnya.

6. Kriteria Pendekatan Pembelajaran
Selain ciri-ciri khusus, pendekatan pembelajaran dikatakan baik apabila memenuhi
kriteria/aspek sebagai berikut:
a. Aspek sahih (valid).
Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal yaitu: (1) apakah pendekatan yang digunakan didasarkan
pada rasionalitas teori yang kuat; dan (2) apakah terdapat konsistensi internal.
b. Aspek praktis.
Aspek kepraktisan hanya dapat dipenuhi jika: (1) para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa
yang dikembangkan dapat diterapkan; dan (2) kenyataan menunjukkan bahwa apa yang
dikembangkan tersebut dapat diterapkan.
c. Aspek efektif.
Aspek ini berkaitan dengan aspek efektifitas. Trianto (2007) menyatakan bahwa parameter
keefektifan pendekatan pembelajaran meliputi: (1) para ahli dan praktisi berdasarkan
pengalamannya menyatakan pendekatan tersebut efektif; dan (2) secara operasional pendekatan
tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Khabibah (2006), bahwa untuk melihat tingkat kelayakan suatu pendekatan pembelajaran
untuik aspek validitas dibutuhkan ahli dan praktisi untuk memvalidasi pendekatan pembelajaran yang
dikembangkan. Sedangkan untuk aspek kepraktisan dan efektifitas diperlukan suatu perangkat
pembelajaran untuk melaksanakan model pembelajaran yang dikembangkan. Sehingga untuk melihat
kedua aspek ini perlu dikaji suatu perangkat pembelajaran untuk suatu topik tertentu yang sesuai
dengan pendekatan pembelajaran. Sealin itu, perlu juga dikembangkan instrument penelitian yang
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

3. Jenis-Jenis Pendekatan pembelajaran
Sedikitnya terdapat lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk mengajar
dengan baik, yaitu pendekatan kompetensi, pendekatan keterampilan proses, pendekatan lingkungan,
pendekatan kontekstual, dan pendekatan tematik, kelima pendekatan tersebut dijelaskan sebagai
berikut.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 31

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
a. Pendekatan Kompetensi
Kompetensi menunjuk kepada kemampuan melaksana-kan sesuatu yang diperoleh
melalui pembelajaran dan latihan. Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, kompetensi
menunjuk kepada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi
tertentu dalam proses belajar. Dikatakan perbuatan karena merupakan perilaku yang dapat
diamati meskipun sebenarnya seringkali terlihat pula proses yang tidak tampak seperti
pengambilan keputusan/pilihan sebelum perbuatan dilakukan. Kompetensi selalu dilandasi oleh
rasionalitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran mengapa dan bagaimana perbuatan
tersebut dilakukan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan indikator
yang menunjuk kepada perbuatan yang diamati, dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.
Pembentukan kompetensi bersifat transaksional, bergantung pada kondisi-kondisi dan
pihak-pihak yang terlibat secara aktual. Paling tidak terdapat tiga landasan filosofi yang mendasari
pendidikan berdasarkan kompetensi.
Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran
individual. Melalui pembelajaran individual peserta didik diharapkan dapat belajar sendiri, tidak
bergantung pada orang lain. Setiap peserta didik dapat belajar dengan cara dan berdasarkan
kemampuannya masing-masing. Hal ini membutuhkan pengaturan kelas yang fleksibel, baik
sarana maupun waktu, karena memungkinkan peserta didik belajar dengan kecepatan yang
berbeda, penggunaan alat yang berbeda, serta mempelajari bahan ajar yang berbeda pula.
Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai
penguasaan (learning of mastery) adalah suatu falsafah tentang pembelajaran yang mengatakan
bahwa dengan system pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan
hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan. Bloom dalam Hall (1986) menyatakan bahwa
Sebagian besar peserta didik dapat menguasai apa yang diajarkan kepadanya, dan tugas
pembelajaran adalah mengkondisikan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik
menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Ketiga bagi perkembangan pendidikan
berdasarkan kompetensi adalah usaha penyusunan kembali definisi bakat. Dalam kaitan ini Carrol
dalam Hall (1986) menyatakan bahwa dengan waktu yang cukup, semua peserta didik dapat
mencapai penguasaan suatu tugas belajar. Jika asumsi tersebut diterima, perhatian harus
dicurahkan pada waktu yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas belajar.
Implikasi terhadap pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, pembelajaran perlu
lebih menekankan pada pembelajaran individual meskipun dilaksanakan secara klasikal, dengan
memperhatikan perbedaan peserta didik. Misalnya tugas diberikan secara individu, bukan secara
kelompok.
Kedua, perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif dengan metode dan media
yang bervariasi yang memungkinkan setiap peserta didik mengikuti kegiatan belajar dengan
tenang dan menyenangkan.
Ketiga, dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang cukup, terutama dalam
penyelesaian tugas/praktek pembelajaran agar setiap peserta didik dapat mengerjakan tugas
belajar dengan baik. Apabila waktu yang tersedia di sekolah tidak mencukupi, berilah kebebasan
kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan di luar kelas.
Dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran berdasarkan pendekatan
kompetensi, Ashan (1981) mengemukakan terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1)
menetapkan kompetensi yang ingin dicapai, (2) mengem-bangkan strategi untuk mencapai
kompetensi, dan (3) evaluasi proses pembelajaran. Kompetensi yang ingin dicapai merupakan
pernyataan tujuan (goal statement) yang hendak diperoleh peserta didik serta menggambarkan
hasil belajar (learning outcomes) pada aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap.
Strategi mencapai kompetensi (the enabling strategy), merupakan strategi untuk
membantu peserta didik dalam menguasai kompetensi yang ditetapkan. Untuk itu, dapat dibuat
sejumlah alternatif kegiatan, misalnya membaca, mendengarkan, berkreasi, berinteraksi,
observasi, dan sebagainya sampai terbentuk suatu kompetensi.
Evaluasi dilakukan untuk menggambarkan perilaku hasil belajar (behavioral outcomes)
dengan respon peserta didik yang dapat diberikan berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar.
Sejalan dengan uraian di atas Sukmadinata (1983) mengemukakan tiga tahap yang dilakukan
guru dalam proses pembelajaran, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 32

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
1) Tahap Perencanaan
Dalam tahap perencanaan pertama-tama perlu ditetapkan kompetensi-kompetensi yang akan
diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan kompetensi-kompetensi tersebut
selanjutnya dikembangkan tema, subtema, dan topik-topik mata pelajaran yang akan
diajarkan. Pendekatan kompetensi yang mendasari konsep kesepadanan teori dan pratik
sering menggunakan modul sebagai sistem pembelajaran. Modul merupakan suatu unit yang
berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu
peserta didik mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara jelas.
Mengingat kondisi guru-guru di Indonesia sangat beragam, baik berkaitan dengan
kemampuan maupun latar belakang pendidikannya, dalam pengembangan materi
pembelajaran, khususnya dalam persiapan pembelajaran, disarankan minimal meliputi tiga
hal, yakni (1) tujuan yang ingin dicapai, (2) materi yang perlu dipelajari, dan (3) sejumlah
pertanyaan untuk menilai kemampuan belajar peserta didik.
2). Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan langkah merealisasikan konsep pembelajaran dalam
bentuk perbuatan. Dalam pendidikan berdasarkan kompetensi pelaksanaan pembelajaran
merupakan suatu rangkaian pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan, yang
meliputi persiapan, penyajian, aplikasi, dan penilaian.
a) Tahap persiapan
Merupakan tahap guru mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan
pembelajaran. Hal-hal yang termasuk dalam tahap ini adalah mempersiapkan ruang
belajar, alat dan bahan, media, dan sumber belajar, serta mengkondisikan lingkungan
belajar sedemikian rupa sehingga peserta didik siap belajar.
b) Tahap penyajian
Merupakan tahap guru menyajikan informasi, menjelaskan cara kerja baik keseluruhan
proses maupun masing-masing gerakan yang dilakukan dengan cara demonstrasi.
c) Tahap aplikasi atau praktek
Merupakan tahap peserta didik diberi kesempatan melakukan sendiri kegiatan belajar yang
ditugaskan. Kegiatan guru lebih terkonsentrasi pada pengawasan dan pemberian bantuan
secara perseorangan maupun kelompok.
d) Tahap penilaian
Merupakan tahap guru memeriksa hasil kerja dengan menyertakan peserta didik untuk
menilai kualitas kerja serta waktu yang dipergunakan dalam menyelesaikan pekerjaan
tersebut.
3) Evaluasi dan Penyempurnaan
Evaluasi dan penyempurnaan perlu dilakukan sebagai proses yang kontinu untuk memperbaiki
pembelajaran dan membimbing pertumbuhan peserta didik. Dalam kaitannya dengan
pembelajaran berdasarkan pendekatan kompetensi, evaluasi dilakukan untuk menggambarkan
perilaku hasil belajar (behavioral outcomes) dengan respon peserta didik yang dapat diberikan
berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar. Evaluasi dan behavioral outcomes ini
mengandung nilai-nilai yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas atau derajat
pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

b. Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang
menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengertian tersebut, termasuk diantaranya keterlibatan fisik, mental, dan social peserta
didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan.
Indikator-indikator pendekatan keterampilan proses antara lain kemampuan
mengidentifikasi, mengklasifikasi, menghitung, mengukur, mengamati, mencari hubungan,
menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan, mengkomunikasikan, dan mengekspresikan diri dalam
suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.
Kemampuan-kemampuanyang menunjukkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran tersebut dapat dilihat melalui partisipasi dalam kegiatan pembelajaran berikut:
1) Kemampuan bertanya
2) Kemampuan melakukan pengamatan
3) Kemampuan mengidentifikasi dan mengklasifikasi hasil pengamatan
4) Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 33

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
5) Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh pengalaman secara langsung
6) Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian
7) Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah dikuasai dalam situasi baru
8) Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil penelitian

Pendekatan keterampilan proses bertolak dari suatu pandangan bahwa setiap peserta
didik memiliki potensi yang berbeda, dan dalam situasi yang normal, mereka dapat
mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh karena itu, tugas guru adalah memberikan
kemudahan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan yang kondusif agar semua
peserta didik dapat berkembang secara optimal.
Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-
hal sebagai berikut:
1) Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena adanya tujuan yang ingin
dicapai (azas motivasi).
2) Keaktifan peserta didik akan berkembang jika dilandasi dengan pendayagunaan potensi yang
dimilikinya.
3) Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktivitas peserta didik. Suasana kelas harus
dikelola agar dapat merangsang aktivitas dan kreativitas belajar peserta didik.
4) Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar melalui
bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk
mendorong aktivitas dan krativitas peserta didik dalam pembelajaran antara lain: diskusi,
pengamatan, penelitian, praktikum, tanya jawab, karyawisata, studi kasus, bermain peran, dan
kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran

c. Pendekatan Lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha
untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber
belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta
didik jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan
dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungannya.
Dalam pendekatan lingkungan, pelajaran disusun sekitar hubungan faedah lingkungan.
Isi dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan ada hubungannya antara peserta didik
dengan lingkungannya. Pengetahuan yang diberikan harus memberi jalan ke luar bagi peserta
didik dalam menanggapi lingkungannya. Pemilihan tema seyogyanya ditentukan oleh kebutuhan
lingkungan peserta didik. Misalnya di lingkungan petani, tema yang berkaitan dengan pertanian
akan memberikan makna yang lebih mendalam bagi peserta didik. Demikian halnya di lingkungan
pantai, tema tentang kehidupan pantai akan sangat menarik minat dan perhatian peserta didik.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapatkan pengetahuan
dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di
lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Dalam hal ini, peserta didik dapat menanyakan
sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang
masalah yang dihadapi. Berkaitan dengan pendekatan lingkungan, UNESCO (1980)
mengemukakan bahwa jenis-jenis lingkungan yang dapat didayagunakan oleh peserta didik untuk
kepentingan pembelajaran meliputi:
1) Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosio ekonomi, dan budaya yang
berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, dan berinteraksi dengan kehidupan
peserta didik.
2) Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada dalam suatu kelompok
masyarakat
3) Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan khusus
dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan dua cara:
1) Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini biasa dilakukan
dengan metode karyawisata, metode pemberian tugas, dan lain-lain.
2) Membawa sumber-sumber dari lingkungan sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran.
Sumber tersebut bisa sumber asli, seperti nara sumber, bisa juga sumber tiruan, seperti
pendekatan, dan gambar.

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 34

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan menentukan cara-
cara yang tepat untuk mendayagunakannya dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan tema dan
lingkungan yang akan didayagunakan hendaknya didiskusikan dengan peserta didik.

d. Pendekatan kontekstual
Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering
disingkat CTL merupakan salah satu pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat
digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan implementasi Kurikulum 2004. Pendekatan CTL
merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran
dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu
menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui
proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya
belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. CTL
memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan
secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung apa-apa yang
dipelajarinya. Pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik memahami hakekat, makna, dan
manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar,
bahkan kecanduan belajar.
Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada
peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan
hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan
strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan belajar yang kondusif
sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran
secara keseluruhan. Nurhadi (2002: 4) mengemukakan pentingnya lingkungan belajar dalam
pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
1) Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di
depan kelas, siswa menonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
2) Pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru
mereka. Proses belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
3) Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang
benar.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh berbagai factor yang
sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam diri peserta didik (internal) dan
dari luar dirinya atau dari lingkungan di sekitarnya (eksternal). Sehubungan dengan itu, Zahorik
(1995) mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual,
sebagai berikut:
1) Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
2) Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari
umum ke khusus)
3) Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara:
a) Menyusun konsep sementara
b) Melakukan sharing untuk memperoleh masukan tanggapan dari orang lain
c) Merevisi dan mengembangkan konsep
4) Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari
5) Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.













P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 35

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN KEJURUAN



Standar Kompetensi : Menerapkan Evaluasi Hasil Pembelajaran
Sub Kompetensi : 1. Prinsip-Prinsip Evaluasi Hasil pembelajaran
2. Prinsip-Prinsip dan Kaidah penulisan dan penskoran tes.
Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Prinsip-Prinsip Evaluasi Hasil pembelajaran
2. Prinsip-Prinsip dan Kaidah penulisan dan penskoran tes.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Penilaian
Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka atau deskripsi
verbal), analisis, dan interpretasi untuk mengambil keputusan. Sedangkan penilaian pendidikan adalah
proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta
didik.
Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan
keputusan. Dalam hal ini, keputusan berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik
dalam mencapai suatu kompetensi. Jadi, penilaian merupakan salah satu pilar dalam pelaksanaan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi.
Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan,
penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan
pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar
peserta didik. Penilaian dilaksanakan melalui berbagai bentuk antara lain: penilaian unjuk kerja
(performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian
melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang
menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu
dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan
peserta didik lainnya, tetapi dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya. Dengan
demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang
diharapkan.

2. Prinsip Penilaian
Dalam melaksanakan penilaian mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a) Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu.
b) Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.
c) Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan
berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.
d) Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.
e) Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan
kegiatan belajar peserta didik.
f) Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian dapat dilakukan dengan cara
tertulis, lisan, produk portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laku.
g) Melakukan penilaian secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan
perbaikan hasil, dalam bentuk: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester, dan ulangan kenaikan kelas. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 36

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar (KD), ulangan tengah semester
dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa KD atau satu stndar kompetensi (SK), ulangan
akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua KD atau SK semester bersangkutan,
sedangkan ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua
SK semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada semester genap.
h) Penilaian kompetensi pada uji kompetensi melibatkan pihak sekolah dan Institusi
Pasangan/Asosiasi Profesi, dan pihak lain terutama DU/DI. Idealnya, lembaga yang
menyelenggarakan uji kompetensi ini independen; yakni lembaga yang tidak dapat diintervensi
oleh unsur atau lembaga lain.

3. Kegunaan Penilaian
Kegunaan penilaian antara lain sebagai berikut:
a) Memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya
dalam proses pencapaian kompetensi.
b) Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga
dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
c) Untuk umpan balik bagi pendidik/guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan
sumber belajar yang digunakan.
d) Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.
e) Memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan (Dinas Pendidikan Daerah) dalam meningkatkan
kualitas penilaian yang digunakan.

4. Fungsi Penilaian
Penilaian memiliki fungsi untuk:
a) Menggambarkan sejauhmana peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
b) Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu memahami dirinya, membuat
keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk perencanaan program belajar, pengembangan
kepribadian, maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).
c) Menemukan kesulitan belajar, kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik, dan
sebagai alat diagnosis yang membantu pendidik/guru menentukan apakah seseorang perlu
mengikuti remedial atau pengayaan.
d) Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna
perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
e) Pengendali bagi pendidik/guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

5. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal untuk setiap mata pelajaran yang ditentukan
oleh satuan pendidikan, berkisar antara 0-100%.
a. KKM Program Normatif dan Adaptif
Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator program normatif dan adaptif adalah
75%.
KKM program normatif dan adaptif ditentukan dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-
rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, dan kemampuan sumber daya pendukung dalam
penyelenggaraan pembelajaran dengan rincian sebagai berikut:
1) Tingkat kemampuan rata-rata peserta didik A
- Rata-rata nilai = 80 - 100, A diberi skor 3
- Rata-rata nilai = 60 - 79, A diberi skor 2
- Rata-rata nilai = < 60, A diberi skor 1
2) Tingkat kompleksitas/kesulitan kompetensi B
- Kompleksitas/kesulitan rendah, B diberi skor 3
- Kompleksitas/kesulitan sedang, B diberi skor 2
- Kompleksitas/kesulitan tinggi, B diberi skor 1
3) Sumber daya pendukung pembelajaran (SDM, alat dan bahan) C
- Dukungan tinggi, C diberi skor 3
- Dukungan sedang, C diberi skor 2
- Dukungan rendah, C diberi skor 1
Contoh penentuan KKM
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 37

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Jika dalam pembelajaran suatu kompetensi/mata pelajaran memiliki kondisi: kemampuan rata-
rata peserta didik 65, tingkat kesulitan/kompleksitas sedang, dan sumber daya pendukung
sedang, maka nilai KKM-nya adalah :

( )
100
9
X
C B A
KKM
+ +
=

( )
7 , 66 100
9
2 2 2
=
+ +
= X dibulatkan 67

b. KKM Program Produktif
KKM program produktif mengacu kepada standar minimal penguasaan kompetensi yang berlaku
di dunia kerja yang bersangkutan. Kriteria ketuntasan untuk masing-masing kompetensi dasar (KD)
adalah terpenuhinya indikator yang dipersyaratkan dunia kerja yaitu kompeten atau belum kompeten
dan diberi lambang/skor 7,00 bila memenuhi persyaratan minimal.

6. Kriteria Penilaian
a. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai
untuk mengukur kompetensi. Misal, dalam pelajaran bahasa Indonesia, pendidik/guru ingin
menilai kompetensi berbicara. Bentuk penilaian valid jika menggunakan tes lisan. Jika
menggunakan tes tertulis penilaian tidak valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable
(ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal, guru
menilai dengan proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama
bila proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian
yang reliabel petunjuk pelaksanaan proyek dan penskorannya harus jelas.
c. Berfokus pada kompetensi
Dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berbasis kompetensi, penilaian
harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya pada
penguasaan materi (pengetahuan).
d. Menyeluruh/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai
beragam kompetensi atau kemampuan peserta didik, sehingga tergambar profil kemampuan
peserta didik.
e. Objektivitas
Penilaian harus dilaksanakan secara objektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana,
berkesinambungan, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor.
f. Mendidik; Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi pendidik/guru
dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.

Penilaian Hasil Belajar Kelompok Mata Pelajaran adalah sebagai berikut:
1. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok
mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi
dan kepribadian peserta didik.
b. Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
2. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur
melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi
yang dinilai,
3. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan
terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi
psikomotorik peserta didik.
4. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dilakukan
melalui:
a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan
psikomotorik dan afeksi peserta didik, dan
b. Ulangan dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 38

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
7. Teknik Penilaian
Berbagai teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar
peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar, sesuai dengan
kompetensi yang harus dikuasai. Penilaian kompetensi dilakukan melalui pengukuran indikator-
indikator pada setiap kompetensi dasar. Dalam penilaian hasil belajar dapat digunakan berbagai teknik
penilaian diantaranya adalah: penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian
proyek, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

A. Penilaian Unjuk Kerja
1. Pengertian
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan
peserta didik dalam melakukan suatu pekerjaan/tugas. Penilaian ini cocok digunakan untuk
menilai ketercapaian penguasaan kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas
tertentu, seperti: praktik di bengkel/laboratorium, praktik sholat, praktik olah raga,
presentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, dan membaca
puisi/deklamasi. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis, karena apa
yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. langkah-langkah kerja yang diharapkan untuk dilakukan peserta didik dalam menunjukkan
kinerja dari suatu kompetensi.
b. kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.
c. kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
d. kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak (hanya yang esensial), sehingga semua
dapat diamati.
e. kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.
2. Teknik Penilaian Unjuk Kerja
Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat
pencapaian kemampuan tertentu. Misalnya, untuk menilai kemampuan berbicara peserta
didik perlu dilakukan pengamatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti: diskusi
dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan melakukan wawancara. Dengan demikian,
gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh.
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya/tidak),
terhadap indikator-indikator pada setiap KD. Peserta didik dinyatakan kompeten apabila
seluruh indikator terpenuhi (ya) dan tidak kompeten apabila ada indikator yang tidak
terpenuhi.

Contoh
Format Penilaian Pembuatan Telor Asin
Nama peserta didik: ___________ Kelas: ________
No. KD/Indikator Ya Tidak
A. Memilih telor:
1. Telor dipilih berdasarkan kesegarannya menurut candle system
2. Telor dipilih berdasarkan keutuhannya
B. Membuat adonan
1. Komposisi garam dan bahan pembungkus 1:3
2. Dst.
C. Dst.

3. Pengolahan Data Penilaian Unjuk Kerja
Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan terhadap unjuk kerja
peserta didik dari suatu kompetensi. Skor diperoleh dari format penilaian unjuk kerja, berupa
daftar ceklist.
Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu unjuk kerja adalah tingkat ketercapaian
indikator pada setiap KD. Nilai unjuk kerja suatu kompetensi ditetapkan berdasarkan skor KD
terendah.



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 39

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
B. Penilaian Sikap
1. Pengertian
Penilaian sikap merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati sikap peserta didik
dalam berperilaku di lingkungan tempat belajar.
Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan
bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau
pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk untuk terjadinya perilaku atau
tindakan yang diinginkan.
Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata
pelajaran adalah sebagai berikut:
a. Sikap terhadap materi pelajaran; Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi
pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik, akan tumbuh dan berkembang minat
belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang
diajarkan.
b. Sikap terhadap guru/pengajar; Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru.
Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru, akan cenderung mengabaikan hal-
hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru
akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.
c. Sikap terhadap proses pembelajaran; Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap
proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran di sini mencakup suasana
pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan.
Proses pembelajaran yang menarik, nyaman, dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi
belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
d. Sikap berkaitan dengan nilai-nilai atau norma-norma tertentu berhubungan dengan
suatu materi pelajaran;
Misalnya: kasus atau masalah lingkungan hidup, berkaitan dengan materi Biologi atau Kimia.
Peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap
kasus lingkungan tertentu (kegiatan pelestarian/kasus perusakan lingkungan hidup). Misalnya,
peserta didik memiliki sikap positif terhadap program perlindungan satwa liar. Dalam kasus yang
lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan ekspor kayu glondongan ke luar
negeri.
e. Sikap-sikap lain yang dimuat dalam tujuan pendidikan Misalnya: mandiri, kreatif,
bertanggung jawab, demokratis, dan lain-lain yang secara umum digunakan pada unjuk kerja.

2. Teknik Penilaian Sikap
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan melakukan observasi perilaku peserta didik.
Penggunaan skala penilaian (rating scale) memungkinkan penilai memberi skor/nilai terhadap
sikap/perilaku tertentu secara lebih cermat.

Berikut contoh penggunaan penilaian skala:

No
Jenis/Aspek
Sikap
Standar Pencapaian
Strategi Penilaian
Deskripsi Skor
1 Sikap percaya
diri





Mampu tampil secara wajar
dalam kegiatan di depan
massa
Observasi aktivitas
siswa dalam
berdiskusi, kegiatan
massa di
sekolah/ber-
masyarakat
selalu 5
sering 4
kadang-kadang 3
jarang 2
sangat jarang 1

Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku harian catatan khusus
tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Berikut contoh
format buku catatan harian.



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 40

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Contoh: Isi Buku Catatan Harian

No. Hari/tanggal
Nama
peserta didik
Kejadian Tanda tangan peserta didik








Catatan dalam lembaran buku tersebut untuk menilai perilaku peserta didik. Kejadian yang
ditulis mencakup sikap positif maupun negatif peserta didik. Contoh: Format Penilaian Sikap

No.
(n)
Aspek Sikap /ranah Non-
instruksional/ (Attitude)
Skor Perolehan
Believe (B)
(Preferensi oleh
Peserta didik ybs.)
Evaluation (E)
(Oleh Guru/ mentor)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1. Kedisiplinan
2. Kejujuran
3. Kerja sama
4.
Mengakses dan mengorganisasi
informasi

5 Tanggung jawab
6 Memecahkan masalah
Kemandirian
nmax Ketekunan

(Bn + En )
Nilai Attitude (NAt) = X Smax
(5 + 5) x nmax
Keterangan:
nmax = banyaknya aspek sikap (dalam contoh diatas nmax = 8);
Smax = Skor maksimum; 10,00; 100; atau sesuai ketetapan tertentu.
Bn dan En : skor B dan E pada aspek sikap ke n;
Pesrta didik dapat mengisi skor diri sendiri terlebih dahulu, kemudian diserahkan kepada
guru/mentor untuk diisi dan diolah nilai NAt

3. Pengolahan Data Penilaian Sikap
Penilaian sikap memiliki dua makna, yaitu: sikap minat mengikuti pembelajaran dan sikap
(attitude) di lingkungan pembelajaran (sekolah, masyarakat, dan DU/DI).
Nilai sikap mengikuti pembelajaran diperoleh dari data buku catatan harian peserta didik. Penilaian
sikap (attitude) idealnya dilakukan oleh dua penilai atau lebih. Skor hasil penilaian selanjutnya
dimasukkan dalam fishbean analysis.

C. Penilaian Projek (Project Work)
1. Pengertian
Penilaian proyek (project work) merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus
diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa kegiatan sejak dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pelaksanaan tugas, pengolahan, dan
penyajian produk (barang dan jasa). Teknik ini dimaksudkan untuk menilai kemampuan peserta
didik secara menyeluruh (comprehensive) dalam pengorganisasian dan pelaksanaan suatu
kompetensi.



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 41

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
2. Teknik Penilaian Projek
Komponen/kegiatan yang perlu dinilai: penyusunan disain atau proposal, unjuk kerja, produk
(barang/jasa), penyajian hasil/produk, dan laporan tertulis.
Dalam penilaian projek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a. Kemampuan melaksanakan projek
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik / mencari informasi, melaksanakan
tugas/projek, mengelola waktu, dan penulisan laporan.
b. Relevansi
Kesesuaian antara standar kompetensi yang dipelajari dengan jenis pekerjaan di masyarakat
(Du/Di).
c. Keaslian produk
Produk yang dihasilkan peserta didik harus merupakan hasil karyanya. Penilaian produk
biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada
tahap appraisal.
2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua
kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

3. Pengolahan Data Penilaian Projek
Data penilaian projek (project work) meliputi skor perolehan dari penilaian perencanaan,
pelaksanaan, kulminasi, produk, dan attitude. Dalam menilai setiap tahap, guru dapat
menggunakan 4 (empat) rentang skor,

Status Skor Predikat
tidak kompeten 0,00 - 6,90 kurang

kompeten
7,00 - 7,90 baik
8,00 - 8,90 sangat baik
9,00 - 10 istimewa

Berikut ini contoh deskripsi dan penskoran untuk empat tahapan pengerjaan projek.

Tahap Deskripsi Skor
Perencanaan/
persiapan
Memuat:
topik, tujuan, bahan/alat, langkah-langkah kerja,
jadwal, waktu, perkiraan data yang akan diperoleh,
tempat pelaksanaan proyek, daftar pertanyaan atau
format yang digunakan sesuai dengan tujuan.
7,00 - 10
Pengumpulan
data/informasi
a. Data/informasi tercatat dengan rapi,
jelas dan lengkap.
b. Ketepatan menggunakan alat/bahan
7,00 - 10
Pengolahan
data/Pelaksanaan
pekerjaan
a. Ada pengklasifikasian data, penafsiran
data sesuai dengan tujuan pelaksanaan
pekerjaan.
b. Ada uraian tentang pelaksanaan
pekerjaan.
7,00 - 10
Penyajian data/
laporan
Merumuskan topik, merumuskan tujuan, menuliskan
alat dan bahan, menguraikan cara kerja (langkah-
langkah kegiatan)
Penulisan laporan sistematis, menggunakan bahasa
yang komunikatif. Penyajian data lengkap, memuat
kesimpulan dan saran.
7,00 - 10
Total Skor

Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh.




P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 42

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
D. Penilaian Portofolio
1. Pengertian
Penilaian portofolio merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan dengan
menggunakan bukti-bukti hasil belajar (evidence) yang relevan dengan kompetensi keahlian yang
dipelajari. Evidence tersebut dapat berupa karya peserta didik (hasil pekerjaan) dari proses
pembelajaran yang dianggap terbaik, atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi
keahlian tertentu.
Portofolio adalah kumpulan hasil karya seorang peserta didik, sebagai hasil pelaksanaan
tugas kinerja, yang ditentukan oleh guru atau oleh peserta didik bersama guru, sebagai bagian
dari usaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum.
Jadi, tidak setiap kumpulan karya seorang peserta didik disebut portofolio. Portofolio digunakan
sebagai instrumen penilaian atau salah satu komponen dari instrumen penilaian, untuk menilai
kompetensi peserta didik, atau menilai hasil belajar peserta didik.
Sebagai instrumen penilaian, portofolio difokuskan pada dokumen tentang kerja siswa
yang produktif, yaitu bukti tentang apa yang dapat dilakukan oleh siswa, bukan apa yang tidak
dapat dikerjakan (dijawab atau dipecahkan) oleh siswa. Bagi guru, portofolio menyajikan
wawasan tentang banyak segi perkembangan siswa dalam belajarnya: cara berpikirnya,
pemahamannya atas pelajaran yang bersangkutan, kemampuannya mengungkapkan gagasan-
gagasannya, sikapnya terhadap mata pelajaran yang bersangkutan, dan sebagainya.
Portofolio penilaian bukan sekedar kumpulan hasil kerja siswa, melainkan kumpulan
hasil siswa dari kerja yang sengaja diperbuat siswa untuk menunjukkan bukti tentang
kompetensi, pemahaman, dan capaian siswa dalam mata pelajaran tertentu. Portofolio juga
merupakan kumpulan informasi yang perlu diketahui oleh guru sebagai bahan pertimbangan
dalam menentukan langkah-langkah perbaikan pembelajaran, atau peningkatan belajar siswa.
Portofolio peserta didik untuk penilaian merupakan kumpulan produk siswa, yang berisi
berbagai jenis karya seorang siswa, misalnya:
a. Hasil proyek, penyelidikan, atau praktik siswa, yang disajikan secara tertulis atau dengan
penjelasan tertulis.
b. Gambar atau laporan hasil pengamatan siswa, dalam rangka melaksanakan tugas untuk mata
pelajaran yang bersangkutan.
c. Analisis situasi yang berkaitan atau relevan dengan mata pelajaran yang bersangkutan.
d. Deskripsi dan diagram pemecahan suatu masalah, dalam mata pelajaran yang bersangkutan.
e. Laporan hasil penyelidikan tentang hubungan antara konsep-konsep dalam mata pelajaran
atau antarmata-pelajaran.
f. Penyelesaian soal-soal terbuka.
g. Hasil tugas pekerjaan rumah yang khas, misalnya dengan cara yang berbeda dengan cara
yang diajarkan di sekolah, atau dengan cara yang berbeda dari cara pilihan teman-teman
sekelasnya.
h. Laporan kerja kelompok.
i. Hasil kerja siswa yang diperoleh dengan menggunakan alat rekam video, alat rekam audio,
dan komputer.
j. Fotokopi surat piagam atau tanda penghargaan yang pernah diterima oleh siswa yang
bersangkutan.
k. Hasil karya dalam mata pelajaran yang bersangkutan, yang tidak ditugas-kan oleh guru (atas
pilihan siswa sendiri, tetapi relevan dengan mata pelajaran yang bersangkutan).
l. Cerita tentang kesenangan atau ketidaksenangan siswa terhadap mata pelajaran yang
bersangkutan.
m. Cerita tentang usaha siswa sendiri dalam mengatasi hambatan psikologis, atau usaha
peningkatan diri, dalam mempelajari mata pelajaran yang bersangkutan.

2. Teknik Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Jelaskan kepada peserta didik maksud penggunaan portofolio.
b. Jelaskan sampel-sampel portofolio yang dapat digunakan.
c. Peserta didik diharuskan mengumpulkan dan mengarsipkan portofolio.
d. Cantumkan tanggal pembuatan pada setiap evidence.
e. Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio.
f. Lakukan penilaian diri peserta didik.
g. Lakukan perbaikan terhadap portofolio yang belum sesuai dengan kriteria.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 43

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Contoh: Penilaian Portofolio

Kompetensi Keahlian : Teknik Gambar Bangunan
Mata Pelajaran/SK : Menggambar Teknik Bangunan Gedung
Alokasi Waktu : 1 (Satu) Semester
Nama Siswa : ..................................................
Kelas : X/1

No
Standar
Kompetensi/
Kompetensi Dasar
Periode
Kriteria
Ket
Keaslian Kesesuaian
Kualitas /
Kerapihan
Waktu
Pembuatan
1.
Menggambar
macam-macam
pondasi
30/7
10/8
dst.



2.
Membuat analisa
perencanaan
bangunan gedung
1/9
30/9
dst.
3. Dan seterusnya ...

Catatan:
Setiap karya peserta didik sesuai Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar
portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti
pekerjaannya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0,00 - 0,00 atau 0 - 100.
Semakin baik hasil penugasan/karya peserta didik, semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom
keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan/kelebihan bukti belajar
(evidence) yang dinilai.

3. Pengolahan Data Penilaian Portofolio
Data penilaian proyek meliputi skor yang diperoleh dari tahap-tahap: perencanaan/persiapan,
pengumpulan data, dan pengolahan data, pelaksanaan pekerjaan dan penyajian data/laporan. Dalam
menilai setiap tahap, pendidik dapat menggunakan skor yang terentang dari 1 sampai 4. Skor 1
merupakan skor terendah dan skor 4 adalah skor tertinggi untuk setiap tahap. Jadi total skor terendah
untuk keseluruhan tahap adalah 4 dan total skor tertinggi adalah 16. Berikut tabel yang memuat
contoh deskripsi dan penskoran

Tahap Deskripsi Skor
Perencanaan/ persiapan Memuat:
topik, tujuan, bahan/alat, langkah-langkah kerja,
jadwal, waktu, perkiraan data yang akan diperoleh,
tempat pelaksanaan proyek, daftar pertanyaan atau
format yang digunakan sesuai dengan tujuan.
7,00 - 10
Pengumpulan data/informasi a. Data/informasi tercatat dengan rapi, jelas dan
lengkap.
b. Ketepatan menggunakan alat/bahan
7,00 - 10
Pengolahan data/
Pelaksanaan pekerjaan
a. Ada pengklasifikasian data, penafsiran data sesuai
dengan tujuan pelaksanaan pekerjaan.
b. Ada uraian tentang pelaksanaan
pekerjaan.
7,00 - 10
Penyajian data/ laporan Merumuskan topik, merumuskan tujuan, menuliskan
alat dan bahan, menguraikan cara kerja (langkah-
langkah kegiatan)
Penulisan laporan sistematis, menggunakan bahasa
yang komunikatif. Penyajian data lengkap, memuat
kesimpulan dan saran.
7,00 - 10
Total Skor
Semakin lengkap dan sesuai informasi pada setiap tahap semakin tinggi skor yang diperoleh.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 44

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PELAPORAN HASIL PENILAIAN
Penilaian menghasilkan informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan
sebagai: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan, (2)
pengayaan bagi peserta didik yang sudah mencapai kriteria ketuntasan (KKM) lebih cepat dari waktu
yang disediakan, (3) perbaikan program dan proses pembelajaran, (4) pelaporan, dan (5) penentuan
kenaikan kelas.

A. Interpretasi Hasil Penilaian
Penilaian dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu
kompetensi mengacu ke indikator yang telah dikembangkan. Penilaian dilakukan pada waktu
pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. Sebuah indikator dapat dijaring dengan
beberapa soal/tugas.
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap indikator dalam suatu Kompetensi Dasar (KD) diberikan
skor 0% - 100%. Kriteria ideal pencapaian masing-masing indikator adalah lebih dari 70%, tetapi
sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator (misalnya: mulai dari 50%),
dengan rasional acuan: tingkat kemampuan akademis peserta didik, kompleksitas indikator, dan
ketersediaan daya dukung guru serta sarana dan prasarana. Kriteria ketuntasan untuk masing-
masing Kompetensi Dasar (KD) adalah terpenuhinya indikator yang dipersyaratkan dunia kerja
yaitu kompeten atau belum kompeten dan diberi lambang/skor 7,00 bila memenuhi persyaratan
minimal.
Kualitas sekolah akan dinilai oleh pihak luar/masyarakat secara berkala, antara lain melalui
keberhasilan sekolah dalam ujian nasional. Penilaian ini akan menunjukkan peringkat suatu
sekolah dibandingkan dengan sekolah lain (benchmarking). Dengan pemeringkatan ini diharapkan
sekolah terpacu untuk meningkatkan kualitasnya, dalam arti meningkatkan kriteria pencapaian
indikator.

Berikut ini beberapa contoh ilustrasi Interpretasi hasil penilaian
1. Apabila perolehan nilai peserta didik pada suatu indikator > KKM, artinya telah menuntaskan
indikator tersebut.
2. Apabila semua indikator telah tuntas, artinya peserta didik telah menguasai KD terkait.
Dengan demikian, peserta didik diinterpretasikan telah menguasai SK dan mata pelajaran.
3. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang telah tuntas > 50%, peserta didik dapat
mempelajari KD berikutnya dengan mengikuti remedial untuk indikator yang belum tuntas,
Sebaliknya, apabila nilai indikator dari suatu KD < KKM, artinya peserta didik belum
menuntaskan indikator. Apabila jumlah indikator dari suatu KD yang belum tuntas > 50%,
peserta didik belum dapat mempelajari KD berikutnya (artinya harus mengulang KD
tersebut).

Contoh: Penghitungan nilai KD dan ketuntasan belajar suatu mata pelajaran.

Kompetensi
Dasar
Hasil Belajar Indikator KKM
Perolehan
Nilai
Ketuntasan
Menyimpulkan
bahwa tiap
wujud benda
memiliki
sifatnya
masing-
masing dan
dapat
mengalami
perubahan
1. Mendeskripsikan
sifat-sifat benda
padat, cair, dan
gas

Mendeskripsikan
benda padat
berdasarkan
sifatnya.
Menunjukkan bukti
tentang sifat benda
cair.
Menunjukkan bukti
tentang sifat benda
gas
70%

70%

60%
70

69

69
Tuntas

Belum tuntas

Tuntas
2.
Mendemonstrasika
n bahwa beberapa
benda dapat
melarutkan benda
lainnya
Menunjukkan benda
padat yang dapat
dilarutkan pada
benda cair.
Mengidentifikasi
benda cair yang
60%

70%

60%
61

80

90
Tuntas

Tuntas

Tuntas
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 45

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Kompetensi
Dasar
Hasil Belajar Indikator KKM
Perolehan
Nilai
Ketuntasan
dapat melarutkan
benda padat.
Mengartikan larutan
dan pelarut

Nilai indikator pada hasil belajar No.1 cenderung 70, jadi nilai hasil belajar No.1 adalah 70 atau
7,00.
Nilai indikator pada hasil belajar No.2 bervariasi, dihitung nilai rata-rata indikator. Jadi nilai hasil
belajar No.2 :
7,70 atau 77
3
90 80 61
=
+ +
; Dengan demikian nilai KD = 73,5
2
77 70
=
+

Pada hasil belajar No.1, indikator No.2 belum tuntas. Jadi peserta didik perlu mengikuti remedial
untuk indikator No.2










































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 46

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PEMBACAAN GAMBAR BIDANG OTOMOTIF



Standar Kompetensi : Membuat dan Membaca Gambar
Sub Kompetensi : 1. Menerapkan konsep gambar teknik
2. Menerapkan konsep toleransi dalam gambar teknik.
Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Menerapkan konsep gambar teknik
2. Menerapkan konsep toleransi dalam gambar teknik.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Pengertian Gambar Teknik
Gambar teknik merupakan alat untuk menyatakan ide atau gagasan ahli teknik. Oleh karena
itu gambar teknik sering juga disebut sebagai bahasa teknik atau bahasa bagi kalangan ahli-ahli
teknik. Sebagai suatu bahasa, gambar teknik harus dapat meneruskan keterangan-keterangan secara
tepat dan obyektif. Gambar teknik dapat juga diartikan sebagai gambar yang dibuat dengan
menggunakan cara-cara, ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang telah disepakati bersama oleh ahli-
ahli teknik. Sebagai bahasa teknik, gambar teknik mencakup keterangan-keterangan dan pikiran yang
berlimpah.
Sebagai alat komunikasi di Industri, gambar mempunyai peran yang penting sebagai
bahasa diantara perancang dan pelaksana. Agar dapat terjadi komunikasi yang intensif tanpa
kesalahan interpretasi diantara mereka yang ada di Industri dalam pembuatan produk, maka
diperlukan penguasaan kemampuan dalam membaca dan membuat gambar teknik. Dengan
melihat penjelasan tentang Menggambar Teknik maka harus diketahui bahwa Menggambar Teknik
merupakan bagian dari suatu mekanisme kerja dalam industri yang tak terpisahkan. Kegiatan
Menggambar Teknik biasanya dilakukan dalam suatu tempat yang disebut studio gambar (engineering
drafting department). Orang yang biasanya bertugas membuat Gambar Teknik disebut perancang
(designer).
Dalam menggambar teknik terdapat aturan-aturan menggambar yang disebut juga standar
gambar. Standar gambar juga dapat disebut sebagai tata bahasa teknik, di mana akan mengatur cara
penyampaian keterangan-keterangan melalui gambar agar gambar dapat dijadikan sebagai alat
komunikasi seperti halnya bahasa lisan atau tulisan.

1. Gambar proyeksi
Untuk menyajikan sebuah benda tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi dipergunakan
cara proyeksi. Pada gambar 1 terdapat tiga buah titik A, B dan C, dan di antaranya terdapat sebuah
bidang datar P. Jika titik A dihubungkan dengan titik-titik B dan C oleh garis-garis lurus, maka bidang
P akan dipotong oleh garis AB di D dan AC di E. Tititk-titik D dan E pada bidang P disebut proyeksi
dari titik A. Garis lurus AB dan AC disebut garis proyeksi, bidang P disebut bidang proyeksi dan titik A
disebut titik penglihatan.






Gambar. 1 Proyeksi.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 47

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Jika sebuah benda dilihat dari sebuah titik penglihatan O, seperti pada gambar. 2(a), maka
proyeksi dari benda ini pada bidang proyeksi P disebut proyeksi perspektif dan gambarnya disebut
gambar perspektif. Jika titik penglihatannya berada di tak terhingga, maka garis-garis proyeksi atau
garis-garis penglihatan menjadi garis-garis sejajar, seperti pada gambar 2(b). Dalam hal ini cara
proyeksinya disebut proyeksi sejajar.
Bila pada proyeksi sejajar garis-garis proyeksi berdiri tegak lurus pada bidang proyeksi P, cara
proyeksinya disebut proyeksi ortogonal. Dan bila garis-garis proyeksi menbuat sudut dengan bidang
proyeksi P, cara proyeksi ini disebut proyeksi miring.

























Gambar. 2 Proyeksi dari sebuah benda.

a. Proyeksi ortogonal
Gambar proyeksi ortogonal dipergunakan untuk memberikan informasi yang lengkap dan
tepat dari suatu benda tiga dimensi. Untuk mendapatkan hasil demikian bendanya diletakkan dengan
bidang-bidangnya sejajar dengan bidang proyeksi, terutama sekali bidang yang penting diletakkan
sejajar dengan bidang proyeksi vertikal. Proyeksi ortogonal pada umumnya tidak memberikan
gambaran lengkap dari benda hanya dengan satu proyeksi saja. Oleh karena itu diambil beberapa
bidang proyeksi. Biasanya diambil tiga bidang tegak lurus, dan dapat ditambah dengan bidang bantu
di mana diperlukan. Bendanya diproyeksikan secara ortogonal pada tiap-tiap bidang proyeksi untuk
memperlihatkan benda tersebut pada bidang-bidang dua dimensi. Dengan menggabungkan gambar-
gambar proyeksi tersebut dapatlah diperoleh gambaran jelas dari benda yang dimaksud. Cara
penggambaran demikian disebut proyeksi ortogonal.
Cara menggambarkannya diperlihatkan pada gambar 3. Antara benda dan titik penglihatan di
tak terhingga diletakkan sebuah bidang tembus pandang sejajar dengan bidang yang akan digambar.
Pada gambar. 3 bidang tebus pandang diambil vertikal. Apa yang dilihat pada bidang tembus pandang
ini merupakan gambar proyeksi dari benda tersebut. Jika benda tersebut dilihat dari depan, maka
gambar pada bidang tembus pandang ini disebut pandangan depan. Dengan cara demikian benda tadi
dapat diproyeksikan pada bidang proyeksi horizontal, pada bidang proyeksi vertikal sebelah kiri atau
kanan, dan masing-masing gambar disebut pandangan atas, pandangan kiri atau kanan (gambar 4).






P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 48

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar














Gambar. 3 proyeksi orthogonal.

Tiga, empat atau lebih gambar demikian digabungkan dalam satu kertas gambar, dan
terdapatlah suatu susunan gambar yang memberikan gambaran jelas dari benda yang dimaksud.








Gambar 4. Proyeksi Ortogonal.
Susunan pandangan-pandangan dapat dilihat pada gambar. 5.











Gambar 5. Susunan pandangan Proyeksi Orthogonal.

Proyeksi Sistem Amerika
Pada proyeksi sistem Amerika (Third Angle Projection = Proyeksi Sudut Ketiga), bidang
proyeksi terletak diantara benda dengan penglihat yang berada di luar. Untuk memproyeksikan
benda pada bidang proyeksi, seolah-olah benda ditarik ke bidang proyeksi. Dengan demikian
kalau bidang-bidang proyeksi dibuka, maka pandangan depan akan terletak di depan, pandangan
atas terletak di atas, pandangan samping kanan terletak di samping kanan, pandangan
samping kiri terletak di samping kiri, pandangan bawah terletak di bawah, dan pandangan belakang
terletak di sebelah kanan samping kanan (lihat Gambar 6).










P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 49

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar




















Gambar 6. Proyeksi sistem Amerika

Proyeksi Sistem Eropa
Pada proyeksi sistem Eropa (Fist Angle Projection = Proyeksi Sudut Pertama), benda
terletak di dalam kubus diantara bidang proyeksi dan penglihat. Untuk memproyeksikan benda
seolah-olah benda tersebut di dorong menuju bidang proyeksi. Dengan demikian jika bidang
proyeksi di buka, maka pandangan depan tetap, pandangan samping kanan terletak di
sebelah kiri, pandangan samping kiri terletak di sebelah kanan, pandangan atas terletak di sebelah
bawah, pandangan bawah terletak di atas, dan pandangan belakang terletak di sebelah kanan
pandangan samping kiri (lihat Gambar 7).



























Gambar 7. Proyeksi Sistem Eropa

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 50

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Dari kedua proyeksi yang telah dijelaskan di atas, nampak bahwa proyeksi
sistem Amerika (Third Angle Projection = Proyeksi Sudut Ketiga) penggunaannya lebih rasional
dan mudah dipahami. Atas dasar itulah proyeksi sistem Amerika pemakaiannya lebih luas
dibandingkan dengan sistem Eropah. Negara-negara pantai laut Pacifik, seperti USA dan Canada,
juga Jepang, Korea Selatan, Australia, dan juga Indonesia menggunakan proyeksi sistem
Amerika.

b. Gambar Sketsa (Proyeksi Piktorial)
Gambar sketsa bagi para pendesain gambar adalah sangat bernilai untuk dapat menyusun
pikiran dan gagasan mereka. Pensketsaan ini sangat efektif dan ekonomis untuk merumuskan
berbagai penyelesaian untuk suatu masalah yang dihadapi sehingga pilihan dapat diambil dari
berbagai penyelesaian tersebut. Oleh karena sketsa teknik dibuat untuk benda-benda tiga dimensi,
bentuk sketsa tersebut hambir bersesuaian dengan jenis proyeksi standar. Dalam sketsa benda dapat
ditunjukkan seperti potret dalam satu pandangan misalnya dengan sketsa perspektif, isometrik atau
miring.
1). Proyeksi perspektif
Jika antara benda dan titik penglihatan tetap diletakkan sebuah bidang vertikal atau bidang
gambar, maka pada bidang gambar ini akan terbentuk bayangan dari benda tadi (gambar 8).
bayangan ini disebut gambar perspektif. Gambar perspektif adalah gambar yang serupa dengan
gambar benda yang dilihat dengan mata biasa, dan banyak dipergunakan dalam bidang arsitektur. Ini
merupakan gambar pandangan tunggal yang terbaik, tetapi cara penggambarannya sangat sulit dan
rumit dari pada cara-cara gambar yang lain. Untuk gambar teknik dengan bagian-bagian yang rumit
dan kecil tidak menguntungkan, oleh karenanya jarang sekali dipakai dalam gambar teknik mesin.











Gambar 8. Proyeksi perspektif.










Gambar. 9 Gambar Perspektif.

Dalam gambar perspektif garis-garis sejajar pada benda bertemu di satu titik dalam ruang,
yang dinamakan titik hilang. Ada tiga macam gambar perspektif, seperti perspektif satu titik
(perspektif sejajar), perspektif dua titik (perspektif sudut) dan perspektif tiga titik (perspektif miring),
sesuai dengan jumlah titik hilang yang dipakai (gambar. 9).

2). Sketsa Isometrrik
Sketsa isometrik merupakan salah satu dari metode sederhana untuk persiapan sketsa
gambar yang sangat besar manfaatnya dalam mempelajari prinsip-prinsip proyeksi banyak
pandangan. Untuk membuat sketsa isometrik, miringkan benda (terhadap pendesain) dengan sudut
depan akan tampak tegak dan kedua tepi bawah dan tepi lain yang masing-masing sejajar dengannya
membentuk sudut kira-kira 300 dengan bidang datar (gambar 10).

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 51

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar












3). Sketsa Miring
Sketsa miring merupakan metode sederhana lain untuk mensketsa gambar denga pertama-
tama membuat sketsa muka depan benda seakan-akan membuat pandangan depan. Kemudian sketsa
garis-garis miring sejajar satu sama lain pada sudut 300 atau 450 dengan bidang datar. Jika panjang
garis-garis miring dibuat tiga perempat atau setengahnya dari panjang sebenarnya, akan nampak
lebih alami, sketsa yang demikian dinamai sketsa kabinet. Dan jika panjang garis miring dibuat sama
dengan panjang sebenarnya, sketsa ini dinamai sketsa cavalier.








Gambar 11. Sketsa Miring

3. Gambar Potongan
Penggunaan garis strip-strip (gores) untuk melukiskan bagian benda yang tidak terlihat
dalam jumlah yang sedikit memang bisa membantu para pembaca gambar, tetapi bila bagian
yang tidak terlihat banyak akan membingungkan. Untuk menghindari kebingungan dan
memperjelas bagian dalam suatu benda yang akan digambar dipergunakan gambar potongan
(sectional views).
Untuk memperlihatkan bagian dalam suatu benda dengan menggunakan gambar potongan
dapat dilakukan dengan potongan seluruhnya, potongan separoh dan potongan sebagian
disesuaikan dengan kadar kebutuhan dari bagian dalam yang akan diperlihatkan (lihat
Gambar 12). Memang penggunaan gambar potongan seluruhnya akan lebih memperlihatkan
bagian dalam, tetapi dalam hal- hal tertentu justru akan mubazir terutama dalam penggunaan waktu
menggambar, seperti benda kerja yang simetris, maka gambar potongannya cukup separoh atau
sebagian saja tidak perlu seluruhnya.













Potongan Seluruhnya Potongan Separoh Potongan Sebagian

Gambar 12. Macam-macam potongan

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 52

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Cara Menggambar Potongan
Bagian dalam yang mendapat potongan perlu dibedakan dengan bagian luar yang tidak
dipotong. Untuk itu seluruh bagian yang dipotong diarsir dengan sudut 45o terhadap garis sumbu
atau garis gambar (lihat Gambar 13). Jarak garis arsir yang dibuat disesuaikan dengan besarnya
gambar dan jaraknya sama antara satu sama lainnya. Gambar susunan benda kerja yang menjadi
satu, potongannya ditunjukkan dengan arsiran yang berbeda arah (lihat Gambar 14),
sedangkan potongan dari satu benda harus diarsir dengan arah yang sama.









Gambar 13. Arsir untuk penunjukkan potongan












Gambar 14. Arsir berbeda untuk gambar susunan

Untuk penampang yang tipis, seperti benda yang terbuat dari plat, baja profil, dan
paking dapat digambar dengan garis tebal (dihitamkan), sedangkan daerah yang dihitamkan
dari beberapa penampang yang berbeda dipisahkan (diberi jarak) sedikit (lihat Gambar 15).







Gambar 15. Arsir hitam untuk benda tipis

Gambar potongan memang dapat membantu untuk menjelaskan bentuk bagian dalam
yang tidak terlihat dan ukuran-ukurannya, namun demikian ternyata tidak semua benda dapat
dipotong. Bagian-bagian benda seperti baut, paku keling, pasak, poros, dan sirip tidak boleh dipotong
(lihat Gambar 16).











Gambar 16. Benda-benda yang tidak boleh dipotong
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 53

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pemotongan pada suatu pandangan dilakukan dengan menggunakan garis potong, yaitu
garis strip titik dengan ujung tebal dan diberi anak panah yang diberi huruf sama. Pada
penunjukkan bagian yang dipotong ditulis huruf yang sama dengan pemotongannya (lihat
Gambar 17).



















Gambar 17. Penunjukkan pemotongan

4. Toleransi dan Suaian
a. Toleransi
Toleransi adalah penyimpangan yang diijinkan. Adanya toleransi pada benda kerja
yang dibuat memungkinkan suatu produk yang dibuat oleh orang berbeda atau perusahaan
berbeda dapat dipasangkan atau diasembling. Dengan demikian toleransi ini memungkinkan
suatu benda kerja dapat diproduksi lebih banyak secara massal yang mempunyai
kemampuan tukar untuk banyak komponen yang sesuai satu sama lain dengan tepat.
Ada dua cara dalam menentukkan besarnya ukuran toleransi yang dikehendaki
yaitu dengan sistem basis lubang dan sistem basis poros. Pada sistem basis lubang, semua lubang
diseragamkan pembuatannya dengan toleransi H sebagai dasar, sedangkan ukuran poros
berubah-ubah menurut macam suaiannya. Pada sistem basis poros ukuran poros sebagai dasar
dengan toleransi h dan ukuran lubangnya berubah-ubah. Untuk menghindari kekeliruan dalam
membaca antara huruf dan angka, maka tidak semua huruf dipakai sebagai pembacaan
toleransi. Adapun huruf- huruf yang tidak dipakai adalah I, L, O, Q, dan W.

b. Suaian
Suaian yang menunjukkan keketatan atau kelonggaran pada suatu toleransi
dapat diakibatkan oleh penerapan kerenggangan komponen yang berpasangan. Ada tiga
jenis kemungkinan suaian pada toleransi, yaitu: (a) suaian longgar, suaian ini menghasilkan batas
ukuran yang menjamin ruangan bebas antara komponen yang berpasangan pada waktu dirakit, (b)
suaian transisi, suaian ini memungkinkan terjadinya kesesakan kecil atau kelonggaran yang kecil
pada komponen yang berpasangan pada waktu dirakit, dan (c) suaian sesak, suaian ini menghasilkan
kesesakan diantara dua komponen yang saling berpasangan pada waktu dirakit.
Untuk sistem basis lubang, suaian longgar dengan pasangan daerah toleransi lubang
H maka daerah toleransi poros dari a sampai h, suaian transisi dengan toleransi lubang
lubang H, toleransi porosnya dari j sampai n. Sedangkan untuk suaian sesak, toleransi lubang
H, toleransi porosnya dari p sampai z. Untuk sistem basis poros prinsipnya sama, cuma poros pakai
huruf kecil, sedangkan lubangnya huruf besar. Untuk memperoleh suaian yang tepat antara dua
komponen yang saling berpautan, maka perlu dihitung dahulu ukuran batas yang memodifikasi
ukuran nominal kedua komponen itu lalu baru ditentukan besarnya penyimpangan
(kelonggaran) yang diinginkan. Penyimpangan atas harus ditulis pada kedudukan atas, dan
penyimpangan bawah pada kedudukan bawah, ini berlaku untuk lubang maupun untuk poros.
Gambar 16 di bawah ini memperlihatkan pembatasan-pembatasan ukuran dalam toleransi lubang
dan poros.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 54

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Dari gambar 18, didapatkan notasi-notasi dan definisi sebagai berikut:
a. Ukuran nominal: adalah ukuran yang tertulis pada gambar tanpa memperhatikan toleransi.
b. Ukuran aktual: adalah ukuran dari hasil pengukuran.
c. Penyimpangan atas: adalah selisih antara ukuran nominal dan ukuran aktual terbesar yang
diijinkan.
d. Penyimpangan bawah: adalah selisih antara ukuran nominal dan ukuran aktual terkecil yang
diijinkan.
e. Toleransi: Harga absolut dari selisih penyimpangan atas dan penyimpangan bawah.
f. Kelonggaran: adalah selisih antara ukuran lubang dan ukuran poros pasangan suaiannya (disini
ukuran lubang lebih besar dari poros).
g. Kesesakan: adalah selisih antara ukuran lubang dan ukuran poros pasangan suaiannya
(disini ukuran poros lebih besar dari lubang).














Gambar 18. Pembatasan ukuran dalam toleransi lubang dan poros

D. Latihan
1. Gambarkan pandangan depan, pandangan atas, dan pandangan
samping gambar tersebut ini.





2. Gambarkan proyeksinya dengan sistem proyeksi Eropa gambar
tersebut ini.




3. Buatlah sketsa perspektif benda tersebut dibawah ini.





4. Bagaimana maksud dari suaian elemen mesin yang tersebut ini.







5. Pada gambar seperti soal no. 4 terdapat dua macam suaian dengan besar toleransinya.
Tunjukkan kedua macam suaian tersebut (dengan namanya) dan besar toleransinya

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 55

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
ALAT UKUR DAN SERVIS OTOMOTIF



Standar Kompetensi : Menggunakan alat ukur dan alat servis otomotif
Sub Kompetensi : 1. Menggunakan dan memelihara alat ukur mekanis
2. Menggunakan dan memelihara alat ukur analog dan digital
Waktu : 50 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Menggunakan dan memelihara alat ukur mekanis.
2. Menggunakan dan memelihara alat ukur listrik analog dan digital.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Perbaikan automotif memerlukan pengukuran yang presisi,sehingga diperlukan pemahaman yang
benar tentang alat ukur dan cara penggunaanya, baik alat ukur mekanis maupun alat ukur listrik
analog ataupun digital.
1. Alat Ukur Mekanis
Alat ukur mekanis presisi yang sering digunakan dalam kegiatan servis otomotif adalah
vernier caliper dan micrometer.
a. Vernier caliver
Vernier caliper biasa juga disebut mistar geser, jangka sorong atau sigmat. Sebagai alat ukur
presisi, vernier caliper mempunyai ketelitian 0.1, 0.05, 0,02 mm bahkan sampai ukuran micron.

Skala/Vernier pada Mistar Geser
Skala adalah alat pembanding yang pada umumnya terdapat pada semua jenis alat ukur
sehingga memungkinkan mendapat hasil pengukuran yang tepat. Skala pada mistar geser terbagi
menjadi 2 bagian, yaitu:
a. Skala utama
b. Skala nonius
Skala utama terdiri atas skala standar yang pembagiannya sama seperti pada mistar baja. Skala
nonius dibuat panjang tertentu sehingga dapat dibagi ke dalam beberapa bagian. Tiap bagiannya
menunjukkan panjang yang proporsional terhadap skala pada bagian skala utama.

Bagian-Bagian Mistar Geser
Secara umum bagian mistar geser terdiri dari:
a. Rahang tetap/fixed jaw, yang bingkainya terdapat pembagian skala yang sangat teliti.
b. Rahang gerak/sliding jaw, yang skala noniusnya dapat digerakkan sepanjang bingkai.
Bagian yang lainnya untuk jenis mistar geser tertentu, kadang-kadang dilengkapi dengan
pengatur gerakan yang halus sepanjang bingkainya dan juga dilengkapi dengan bagian untuk
mengukur kedalaman. Bagian-bagian mistar geser sebagaimana (Gambar 1) yaitu:
Beam (batang/rangka)
Fixed jaw (rahang tetap)
Sliding jaw (rahang gerak)
Main scale (skala tetap)
Vernier scale (skala nonius)
Fine adjustment (penggerak halus)
Clamping screws (baut pengencang)


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 56

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar














Gambar 1. Bagian dari mistar ingsut nonius

Fungsi Mistar Geser
Mistar geser dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pengukuran, di antaranya untuk
mengukur:
a. Ketebalan, jarak luar, atau diameter luar
b. Kedalaman
c. Tingkat/step
d. Jarak celah atau diameter dalam















Prinsip Skala Metric
Prinsip skala metric yang memiliki ketelitian 0,05 mm adalah pada rahang gerak, terbagi
menjadi 20 bagian/garis. Jarak dari 0 sampai 20 = 19 mm, jarak antara garis satu dengan yang
lainnya 19 : 20 = 0,95 mm. Jadi, selisih dari dua skala ini adalah 1 mm 0,95 mm = 0,05 mm.
Dengan demikian, mistar geser ini mampu mengukur sampai ukuran terkecil 0,05 mm (lihat
Gambar 3)












Gambar 3 Prinsip skala metrik


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 57

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pembacaan Mistar Geser Ketelitian 0,05 mm
Contoh pembacaan mistar geser ketelitian 0,05 mm pada pengukuran 9,5 mm sebagaimana
Gambar 4 ada pengukuran 9,5 mm, maka kedudukan garis-garis ukurnya sebagai berikut.
a. Garis 0 pada skala nonius terletak antara garis ke-9 dan 10 pada skala tetap.
b. Garis ke-10 skala nonius segaris dengan salah satu garis pada skala tetap.









Gambar 4. Contoh pengukuran 9,5 mm

Tata cara pengukuran dan pemeliharaan vernier caliper
1. sebelum diukur benda kerja dan vernier caliper di bersihkan terlebih dahulu.
2. sebelum digunakan pastikan skla vernier dapat bergeser dengan bebas, dan angka 0
pada kedua skala bertemu dengan tepat.
3. sewaktu mengukur, usahakan benda yang diukur sedekat mungki ke skala utama gigi
pengukur, menghasilkan pembacaan yang kurang akurat.
4. untuk mencegah salah baca, bacalah langsung dari atas strip yang tepat.
5. untuk mencegah karat vernier caliper dilap dengan kain yang dibasahi oli sedikit.

b. Mikrometer
Mikrometer merupakan alat ukur linier yang mempunyai ketelitian/kecermatan yang lebih
baik daripada mistar ingsut. Bagian-bagian mikrometer dapat dilihat pada Gambar 5














Gambar 5. Mikrometer luar dengan nama bagiannya

Fungsi Mikrometer
Mikrometer dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pengukuran, di antaranya untuk
mengukur:
a. Diameter luar/dalam
b. Ketebalan suatu benda kerja
c. Panjang dari suatu bagian

Pembacaan Mikrometer
Pada bagian tabung ukur dan tabung putar terdapat angka-angka dan garis-garis (Gambar
6). Angka-angka inilah yang menunjukkan ukuran benda yang diukur. Angka-angka yang
terdapat pada tabung ukur menunjukkan mm, misalnya 0 5 10 15 20 25. Dari 0 5
jaraknya 5 mm. Demikian pula 5 10 jaraknya 5 mm, dan seterusnya.
Dari angka ke angka ini dibagi dalam 5 bagian, sehingga 1 bagian jaraknya 1 mm. Pada
bagian garis bawah terdapat pula garis-garis ukur pembagi dua, yang artinya antara garis atas
dan garis bawah jaraknya 0,5 mm. Pada tabung putar terdapat garis-garis ukur yang banyaknya
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 58

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
50 buah (Gambar 7). Apabila tabung putar diputar satu kali (misalnya dari 0 sampai ke 0 lagi),
poros geser akan bergerak 0,5 mm. Jika diputar 2 kali, berarti 2 0,5 mm = 1 mm dan
seterusnya. Dengan demikian, tabung putar dibagi dalam 50 bagian maka 1 bagian jaraknya 0,5
mm : 50 = 0,01 mm (Gambar 8).












Gambar 6. Tabung ukur dan tabung garis








Gambar 7 Penunjukan garis ukur













Gambar 8. Penunjukan jarak ukur

Contoh Pembacaan Mikrometer
Contoh pembacaan mikrometer kapasitas 025 mm ketelitian/kecermatan 0,01, pada
pengukuran 5,62 mm (Gambar 9).














Gambar 9. Contoh pembacaan mikrometer
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 59

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pada pengukuran 5,62 mm, kedudukan garis-garis ukurannya sebagai berikut:
a. Pada tabung ukur terlihat dengan jelas garis ukur milimeter yang ke-5
b. Garis ukur 0,5 mm pada tabung ukur terletak antara garis ke-5 dan ke-6 serta terlihat posisi
tabung putarnya melebihi garis ukur 0,5 mm
c. Pada tabung putar posisi garis ke-12 segaris dengan garis tengah pada tabung ukur. Jadi cara
pembacaannya adalah 5 mm + 0,5 mm + 0,12 mm = 5,62 mm

Mikrometer Dalam
Inside micrometer kelihatannya seperti outside micrometer tanpa kerangka. Tingkat
pengukuran inside micrometer ialah 25 mm, dan prinsip pengukurannya sama dengan outside
micrmeter.








Gambar 10. Mikrometer dalam

Penggunaan inside micrometer lebih sukar daripada outside micrometer. Sebagai contoh
untuk mengukur diameter silinder, peganglah grip pada inside micrometer dan sentuhkan anvilnya
pada satu sisi. Putarkan thimblenya perlahan lahan sampai anvil menyentuh sisi yang lain.
Posisi micrometer harus benar, gerakan micrometer secara vertikal seperti gambar A sampai
didapat pembacaan yang paling kecil. Kemudian gerakkkan secara horisontal seperti gambar B
sampai didapat pembacaan yang paling besar.











Gambar 11. Pengukuran diameter lubang/silinder

Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan mikrometer
1. sebelum dipakai, periksa titik 0 jika perlu dilakukan kalibrasi
2. sebelum mengukur benda kerja dibersihkan dengan kain yang bersih
3. jepitlah micrometer dengan frame, putarlah thimble ke arah benda yang diukur, dan putarlah
ratchet stopper sampai menyentuh spindle. Putarlah kembali stopper 2 sampai 3 kali agar
penekanan lebih meyakinkan, kemudian baca.
4. ulangi pengukuran beberapa kali agar kesalahannya sekecil mungkin.

c. Alat Ukur Listrik
Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi, daya,
faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.
Awalnya dipakai alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum dan membaca
dari skala. Kini banyak dipakai alat ukur listrik digital yang praktis dan hasilnya tinggal membaca
pada layar display (Gambar 13).
Bahkan dalam satu alat ukur listrik dapat digunakan untuk mengukur beberapa besaran,
misalnya tegangan AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi kita menyebutnya Multimeter.
Untuk kebutuhan praktis tetap dipakai alat ukur tunggal, misalnya untuk mengukur tegangan
saja, atau daya listrik saja.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 60

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handal, ekonomis, dan praktis
(Gambar 12). Namun alat ukur digital makin luas dipakai, karena harganya makin terjangkau,
praktis dalam pemakaian, dan penunjukannya makin akurat dan presisi.
















Gambar 12. Meter listrik analog Gambar 13. Meter listrik digital

Ada beberapa istilah dan definisi pengukuran listrik yang harus dipahami, diantaranya alat
ukur, akurasi, presisi, kepekaan, resolusi, dan kesalahan.
a. Alat ukur, adalah perangkat untuk menentu kan nilai atau besaran dari kuantitas atau
variabel.
b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari variabel yang diukur.
c. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau derajat untuk
membedakan satu pengukuran dengan lainnya.
d. Kepekaan, ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan input atau variable
yang diukur.
e. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi oleh alat ukur.
f. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang diukur.

Besaran Listrik
Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm, henry, dan
sebagainya. Kini sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol di bidang kelistrikan
dan kemagnetan yang berlaku internasional.

Tabel Besaran dan Simbol Kelistrikan
Besaran dan simbol Nama dan simbol Persamaan
Arus listrik, I amper A -
Gaya gerak listrik, E volt, V V -
Tegangan, V volt, V V -
Resistansi, R ohm, R = V/I
Muatan listrik, Q coulomb C Q = It
Kapasitansi, C farad F C = Q/V
Kuat medan listrik, E V/m E = V/I
Kerapatan fluk listrik, D C/m2 D = Q/l2
Permittivity, F/m e= D/E
Kuat medan magnet, H A/m Hdl = nI
Fluk magnet, weber Wb E =d<5/dt
Kerapatan medan magnet, B tesla T B = O/l2
Induktansi, L, M henry H M = <5/l
Permeability, H/m M = B/H

Ukuran Standar Kelistrikan
Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan dalam peneraan
alat ukur yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam besaran yang berhubungan dengan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 61

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
kelistrikan yang dibuat sebagai standar, yaitu standar amper, resistansi, tegangan, kapasitansi,
induktansi, kemagnetan, dan temperatur.
1. Standar amper menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan yang
dialirkan pada dua konduktor dalam ruang hampa udara dengan jarak 1 meter, di antara
kedua penghantar menimbulkan gaya = 2 10-7 newton/m panjang.
2. Standar resistansi menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1 yang
memiliki tahanan listrik tinggi dan koefisien temperatur rendah, ditempatkan dalam tabung
terisolasi yang menjaga dari perubahan temperatur atmosfer.
3. Standar tegangan ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruh H memiliki dua
elektrode, tabung elektrode positip berisi elektrolit mercury dan tabung elektrode negatip diisi
elektrolit cadmium, ditempatkan dalam suhu ruangan. Tegangan elektrode Weston pada suhu
20C sebesar 1.01858 V.
4. Standar Kapasitansi menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart resistansi SI dan
standar tegangan SI, dengan menggunakan sistem jembatan Maxwell, dengan diketahui
resistansi dan frekuensi secara teliti akan diperoleh standar kapasitansi (farad).
5. Standar Induktansi menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar resistansi dan standar
kapasitansi, dengan metode geometris, standar induktor akan diperoleh.
6. Standart temperatur menurut ketentuan SI, diukur dengan Kelvin. Besaran Kelvin
didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi menjadi es, menjadi air dan saat air
mendidih. Air menjadi es sama dengan 0 celsius = 273,160 Kelvin, air mendidih 100C = 100
+ 273,160 = 373,160 K
7. Standar luminasi cahaya menurut ketentuan SI.

Sistem Pengukuran
Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog dan sistem digital. Sistem analog
berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog berbentuk fungsi kontinyu,
misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan oleh skala, penunjuk jarum pada skala meter,
atau penunjukan skala elektronik (Gambar 14.a).
Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan angka digital
berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu. Penunjukan display dari
tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa harus membaca dari skala meter.
Sakelar pemindah frekuensi pada pesawat HT juga merupakan angka digital dalam bentuk digital
(Gambar 14.b).
















Gambar 14. Penunjukan meter analog dan meter digital

Alat Ukur Listrik Analog
Alat ukur listrik analog merupakan alat ukur generasi awal dan sampai saat ini masih
digunakan. Bagiannya banyak komponen listrik dan mekanik yang saling berhubungan. Bagian
listrik yang penting adalah, magnet permanen, tahanan meter, dan kumparan putar. Bagian
mekanik meliputi jarum penunjuk, skala dan sekrup pengatur jarum penunjuk (Gambar 15).



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 62

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar











Gambar 15. Komponen alat ukur listrik analog

Mekanik pengatur jarum penunjuk merupakan dudukan poros kumparan putar yang diatur
kekencangannya (Gambar 16). Jika terlalu kencang jarum akan terhambat, jika terlalu kendor
jarum akan mudah goncang. Pengaturan jarum penunjuk sekaligus untuk memposisikan jarum
pada skala nol meter.








Gambar 16. Dudukan poros jarum penunjuk

Alat ukur analog memiliki komponen putar yang akan bereaksi begitu mendapat sinyal listrik.
Cara bereaksi jarum penunjuk ada yang menyimpang dulu baru menunjukkan angka pengukuran.
Atau jarum penunjuk bergerak ke angka penunjukan perlahan-lahan tanpa ada penyimpangan.
Untuk itu digunakan peredam mekanik berupa pegas yang terpasang pada poros jarum atau bilah
sebagai penahan gerakan jarum berupa bilah dalam ruang udara.

Multimeter Analog
Multimeter analog adalah salah satu meter analog yang banyak dipakai untuk pekerjaan
kelistrikan termasuk bidang otomotif (Gambar 17).
Multimeter memiliki tiga fungsi pengukuran, yaitu:
1. Voltmeter untuk tegangan AC dengan batas ukur 0-500 V, pengukuran tegangan DC dengan
batas ukur 0-0,5 V dan 0-500 V.
2. Ampermeter untuk arus listrik DC dengan batas ukur 0-50 A dan 0-15 A, pengukuran arus
listrik AC 0-15 A.
3. Ohmmeter dengan batas ukur dari 1-1M.














Gambar 17. Multimeter analog


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 63

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Alat Ukur Digital
Alat ukur digital saat sekarang banyak dipakai dengan berbagai kelebihannya, murah, mudah
dioperaikan, dan praktis.
Multimeter digital mampu menampilkan beberapa pengukuran untuk arus miliamper, temperatur
C, tegangan milivolt, resistansi ohm, frekuensi Hz, daya listrik mW sampai kapasitansi nF
(Gambar 18)













Gambar 18. Tampilan penunjukan digital

Pada dasarnya data /informasi yang akan diukur bersifat analog. Blok diagram alat ukur
digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal analog, analog to digital converter, mikroprosesor,
alat cetak, dan display digital (Gambar 19).
Sensor mengubah besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan, karena tegangan masih
dalam orde mV perlu diperkuat oleh penguat input










Gambar 19. Prinsip kerja alat ukur digital

Sinyal input analog yang sudah diperkuat, dari sinyal analog diubah menjadi sinyal digital
dengan (ADC) analog to digital akan diolah oleh perangkat PC atau mikroprosessor dengan
program tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital. Informasi digital
ditampilkan dalam display atau dihubungkan dicetak dengan mesin cetak.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga jenis, yaitu 7-
segmen, 14-segmen dan dot matrik 5 x 7 (Gambar 20.). Sinyal digital terdiri atas 0 dan 1, ketika
sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF, ketika sinyal 1 bertegangan atau ON.













Gambar 20. Multimeter digital AC dan DC
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 64

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Sebuah multimeter digital, terdiri dari tiga jenis alat ukur sekaligus, yaitu mengukur
tegangan, arus, dan tahanan. Mampu untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC.
Sakelar pemilih mode digunakan untuk pemilihan jenis pengukuran, mencakup tegangan
AC/DC, pengukuran arus AC/DC, pengukuran tahanan, pengukuran diode, dan pengukuran
kapasitor. Terminal kabel untuk tegangan dengan arus berbeda. Terminal untuk pengukuran arus
kecil 300 mA dengan arus sampai 10 A dibedakan.

Carman Scan
Scaner
Scaner adalah alat untuk membaca ECU mobil EFI dan sebagai alat komunikasi antara mekanik
dengan engine. Fungsi scaner adalah (1) membaca dan menghapus kesalahan sensor-sensor (trouble
code) di ECU, (2) membaca dan merekam data engine secara live (current data)
- Menguji kinerja komponen yang diatur oleh ECU (actuator test) dan (3) membaca data sensor
dengan osciloscope

Electronic Fuel Injection (EFI)
Pengaturan bahan bakar, pengapian berdasarkan data dari sensor yang diolah oleh ECU,
dengan tujuan pembakaran lebih efisien. Data yang diterima oleh ECU antara lain suhu udara masuk,
suhu mesin, beban mesin, pengapian, knoking, pembukaan throtle dll. Dari data yang diterima oleh
ECU, maka ECU memberikan perintah kepada sistem bahan bakar ( injeksi ) kapan, berapa banyak
bahan bakar yang akan diinjeksikan sesuai dengan kebutuhan engine
Dengan menggunakan beberapa sensor untuk memberikan input data ke ECU tentunya
perawatan yang dibutuhkan lebih extra. Saat ini mobil EFI merupakan kendala bagi mereka (bengkel)
yang tidak paham mengenai EFI jadi cenderung takut untuk menservice mobil mobil EFI. Untuk
membantu pekerjaan ini bengkel membutuhkan alat scanner.


D. Latihan
1. Suatu mistar geser pada skala metrik jumlah skala nonius ada 40 skala. Hitung ketelitian dari
mistar geser tersebut.
2. Jika pada skala british jumlah skala nonius ada 8 skala. Hitung ketelitian dari mistar geser
tersebut.
3. Pada suatu hasil pengukuran menggunakan mistar geser dengan ketelitian 0,05 mm, skala
batang menunjukkan 57 mm dan skala vernier yang segaris dengan skala batang pada angka
13. Hitung penunjukan ukuran tersebut.
4. Pada pengukuran dengan mikrometer, pembacaan skala diatas garis pada outer sleeve adalah
12, dibawah garis 0,5 dan skala thimble (tabung putar) 18. Hitung penunjukan ukuran
tersebut.
5. Suatu arus listrik akan dilakukan pengukuran tegangan listrik menggunakan multimeter
analog, jika belum diketahui batasan besarannya bagaimana langkah pelaksanaannya agar
tidak terjadi kesalahan yang dapat merusak multimeter tersebut.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 65

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN MESIN BENSIN



Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki Mesin Bensin
Sub Kompetensi : 1. Memelihara engine dan komponennya
2. Menyetel sistem bahan bakar
3. Mengovehaul sistem pelumasan
4. Mengoverhaul engine dan komponennya
5. Mendiagnosis dan mencari trouble pada engine
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Memelihara engine dan komponennya
2. menyetel sistem bahan bakar
3. Mengovehaul sistem pelumasan
4. Mengoverhaul engine dan komponennya
5. mendiagnosis dan mencari trouble pada engine

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar
berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
MESIN BENSIN

Komposisi Kendaraan
Sebuah kendaraan terdiri dari komponen-komponen yaitu (1) Mesin (mesin Bensin dan
Diesel) , (2) Pemindah Daya, .(3) Chassis (Suspensi, Kemudi dan Rem), (4) Kelistrikan Mesin, (5)
Kelistrikan Bodi dan (6) Bodi
Klasifikasi berdasarkan Tenaga Penggerak
Kendaraan dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe tenaga penggerak sebagai berikut:
1. Kendaraan mesin bensin
Kendaraan tipe ini menggunakan bahan bakar bensin. Karena mesin bensin menghasilkan tenaga
yang tinggi dan hadir dalam bentuk kendaraan penumpang kecil, maka kendaraan tersebut
banyak digunakan sebagai kendaraan penumpang. Mesin serupa juga digunakan pada mesin
CNG, mesin LPG dan mesin alkohol, yang menggunakan tipe bahan bakar yang berbeda.
CNG: Compressed Natural Gas
LPG: Liquefied Petroleum Gas
2. Kendaraan mesin diesel
Kendaraan tipe ini menggunakan mesin berbahan bakar diesel. Karena mesin diesel menghasilkan
momen yang besar dan menawarkan keekonomisan bahan bakar, maka mesin tersebut banyak
digunakan pada truk dan kendaraan SUV.
SUV: Sports Utility Vehicle
3. Kendaraan hybrid
Kendaraan tipe ini dilengkapi dengan tenaga penggerak yang memiliki tipe yang berbeda, seperti
mesin bensin dan motor listrik. Karena mesin bensin membangkitkan listrik, kendaraan tipe ini
tidak memerlukan sumber luar untuk mengisi ulang baterai. Sistem penggerak roda menggunakan
tegangan 270V, dan arus listrik 12V. Sebagai contoh: selama start, kendaraan tersebut
menggunakan motor listrik yang menghasilkan tenaga tinggi meskipun kecepatannya rendah.
Saat kecepatan kendaraan naik, maka akan mengoperasikan mesin bensin yang lebih efisien
sifatnya pada kecepatan yang lebih tinggi. Dengan cara menggunakan sebaik-baiknya ke dua tipe
tenaga penggerak ini, maka gas buang dapat dikurangi dan bahan bakar dapat lebih ekonomis.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 66

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
4. Kendaraan listrik
Kendaraan ini menggunakan tenaga baterai untuk mengoperasikan motor listrik. Tidak seperti
bahan bakar, baterai memerlukan pengisian ulang. Kendaraan tersebut menawarkan banyak
manfaat, termasuk tidak adanya gas buang dan suara yang rendah selama pengoperasian. Sistem
penggerak rodanya menggunakan tegangan 290V, sedangkan arus listrik 12V.
5. Kendaraan berbahan bakar cell hybrid (Fuel cell hybrid vehicle)
Kendaraan listrik ini menggunakan energi listrik yang diciptakan saat bahan bakar hidrogen
bereaksi dengan oksigen di udara untuk membentuk air. Karena hanya mengeluarkan air, maka
kendaraan ini dianggap sebagai kendaraan dengan tingkat polusi yang paling rendah, dan
diperkirakan akan menjadi tenaga penggerak bagi generasi di masa datang.

Gasolin Engine
Pada mesin bensin, percampuran udara-bahan bakar diledakkan di dalam mesin, dan daya ini
dirubah menjadi gerakan rotasi untuk menggerakkan kendaraan. Untuk mengoperasikan mesin,
berbagai macam sistem disediakan sebagai tambahan bagi mesin dasar. Sistem yang dimaksud (1)
Bagian-bagaian Mesin , (2) Sistem isap , (3) Sistem bahan bakar, (4) Sistem pelumasan, (5) Sistem
pendinginan dan (6) Sistem buang.
Hampir seluruh mesin bensin komersial adalah Recipro-engines, kecuali jenis rotary engine
yang mempunyai cara kerja yang berbeda. Kata Recipro berasal dari Reciprocating. Yaitu
perpindahan mekanis secara bolak balik sehingga Recipro-engine adalah suatu alat yang digunakan
untuk merubah gerakan reciprocal menjadi gerakan rotational dengan menggunakan crank pada alat
yang mempunyai bentuk prominence dan depression.



























Pada potongan gambar Recipro-engine terlihat bahwa piston reciprocal bergerak pada
cylinder di bagian atas dan terdapat crankshaft pada bagian bawah, piston dan crankshaft terhubung
menggunakan connecting rod. Mesin bensin menggunakan udara sebagai media pengubah untuk
mengubahkan energi panas menjadi energi mekanis. Udara akan bercampur dengan kabut bensin di
dalam cylinder. Ketika campuran ini terkompresi oleh piston dan terbakar, kemudian gas ledakannya
akan menekan piston. Ledakan ini menghasilkan daya dorong yang mandorong piston untuk
menjalankan mobil. Pada saat tersebut, selain ada gaya ekpansif juga terdapat gaya inertia yang perlu
dipertimbangkan. Gaya inertia ini agak aneh karena tidak dihasilkan dengan sengaja, tetapi mengikuti
gerakan bagian engine dengan sendirinya. Sehingga dapat berpengaruh terhadap performa engine
atau bisa sebagai sumber munculnya getaran dan noise.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 67

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


















Prinsip kerja pergerakan reciprocal pada piston, yaitu piston mulai bergerak dari posisi
berhentinya di posisi langkah paling atas (TMA), akan mencapai kecepatan maksimum pada saat
pertengahan langkah, Setelah itu, kecepatan akan berkurang dan berhenti pada titik langkah paling
bawah, dan kemudian kembali ke posisi paling atas lagi. Selama melakukan pergerakan ini, gaya
inertia akan terbentuk pada saat perubahan kecepatan terjadi. Sebagai contoh, pada saat piston
bergerak dari titik atas ke titik tengah, terdapat pertambahan gaya inertia. Setelah itu gaya inertia
berkurang saat piston bergerak dari langhak tengah ke titik langkah bawah. Ketika gaya inertia pada
piston ini dipantulkan dengan yang lainnya maka, kemungkinan akan terjadi getaran atau noise.

Reciprocal Engine
Recipro-Engines dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis 2-langkah (2 Tak) dan 4-langkah (4 tak).
Setelah dikembangkan oleh Daimler di Jerman pada tahun 1883, jenis mesin 4-langkah yang dipakai
sebagai standar untuk produknya, dan pada tahun 1900 digunakan pada hampir semua merek
kendaraan.













Prinsip kerja dari reciprocal engine adalah campuran udara dan gasoline diinjeksikan kedalam
cylinder, campuran ini akan dibakar menggunakan electric spark untuk meledakannya, gaya
pembakaran yang terjadi mendorong piston bergerak secara berulang ulang (reciprocal), dan
pergerakan ini diubah menjadi gerakan memutar oleh crankshaft.

Cara Kerja Mesin 4 Tak
Cara kerjanya sama seperti yang disebutkan diatas. Ketika piston berada pada posisi atas,
intake valve membuka. Seiring dengan piston bergerak turun, campuran bahan baker diinjeksikan
kedalam cylinder dan kemudian intake valve is closed [langkah isap] Selanjutnya, piston akan
bergerak keatas untuk mengkompresikan campuran gas tersebut [langkah kompresi]. Kemudian,
campuran bahan bakar dan udara yang terkompresi dibakar menggunakan sistim pengapian electrik
[langkah pembakaran]. Gas yang terbakar mempunyai tekanan dan temperatur tinggi sehingga akan
menekan piston bergerak turun. Pada saat ini, exhaust valve akan membuka untuk membuang gas
yang terbakar [Langkah buang]. Langkah tersebut diatas akan terus diulang.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 68

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Diantara keempat langkah tersebut, hanya pada saat langkah pembakaranlah mesin dapat
menghasilkan tenaga. Maka dari itu dibutuhkan tambahan gaya untuk memasukan dan mengeluarkan
gas pada langkah isap dan buang dengan memasang flywheel pada crankshaft dengan memanfaatkan
gaya inertia untuk menjaga terjadinya gerakan memutar terus menerus.










Jenis engine 2 tak mempunya dua langkah. Cara kerja engine ini menggunakan empat
komponen seperti yang ada pada engine 4-cycle yaitu Kompresi, pembakaran dan pembuangan.









Compression and Expansion Exhaust and Intake

Prinsipnya sebelum dan sesudah piston berada pada titik atas, terjadi langkah compresi dan
pembakaran, dan juga sebelum dan sesudah piston mencapai titik bawah ekhaust dan intake bekerja
secara bersamaan. Sehingga, dengan dua langkah engine telah selesai melakukan proses kerja
dengan sempurna. Jenis engine 4-cycle ( 4 tak ) melakukan langkah pembakaran sekali dalam dua
putaran crankshaft, tetapi, pada engine 2-cycle ( 2 tak ) engine melakukan langkah pembakaran pada
tiap putaran crankshaft. Maka dari itu, engine dengan jenis 2-cycle ( 2 tak ) mempunyai effisiensi
lebih tinggi. Pada engine jenis 2 tak ini tidak mempunyai intake dan exhaust valves sehingga
strukturnya simpel dan biayanya murah, sehingga menjadi satu keuntungan.










Exhaust gas dikeluarkan dengan cara memasukan campuran baru saat posisi piston pada titik
bawah. Karena itu, beberapa campuran baru yang masuk kedalam intake dan yang belum terbakar
akan ikut keluar. Hal ini menyebabkan polusi udara dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih banyak.
Mesin adalah bagian yang terpenting yang membuat kendaraan berjalan. Oleh karena itu,
setiap komponen dibuat dari part-part presisi. Bagian mesin yang penting adalah (1) Kepala, silinder,
(2). Blok silinder, (3.) Piston , (4). Poros engkol, (5). Flywheel, (6). Mekanis mekatup, 7. Drive belt,
dan (8). Oil pan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 69

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Kepala silinder
Part-part yang membentuk ruang pembakaran
dengan piston turun ke dasar kepala silinder

Blok silinder
Part-part yang membentuk bangunan kerangka
mesin. Untuk mengoperasikan mesin dengan lembut,
digunakan beberapa silinder
Kepala silinder
Gasket
Blok silinder
Piston
Piston bergerak secara vertikal di dalam silinder,
sebagai hasil dari tekanan yang dibangkitkan oleh
pembakaran percampuran udara-bahan bakar.

Poros engkol
Poros engkol merubah pergerakan linier piston
menjadi pergerakan rotasi melalui batang
persambungan (connecting rod).

Flywheel
Flywheel terbuat dari piringan baja berat, dan
mengubah pergerakan rotasi poros engkol menjadi
kelembaman. Oleh karenanya, ia dapat
menghasilkan daya rotasi yang stabil.



Piston
Pin piston
Batang persambungan (Connecting rod)
Poros engkol
Flywheel

Drive Belt
Drive belt mengirimkan tenaga rotasi poros engkol
ke alternator, power steering pump, A/C
compressor melalui puli. Biasanya, sebuah
kendaraan memiliki dua atau tiga belt. Drive belt
harus diperiksa apakah tegangannya tepat atau
apakah mengalami keausan, dan harus diganti pada
interval yang telah ditentukan



Puli poros engkol

Puli power steering pump

Puli alternator

Puli pompa air (Water pump)

Puli A/C compressor

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 70

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Oil Pan

Ini adalah wadah oli, yang terbuat dari baja atau
aluminum. Oil pan terdiri dari bagian cekungan yang
dalam dan partisi sehingga meskipun kendaraan
sedang pada posisi menurun, maka akan tersedia oli
yang cukup di dasar oil pan.



Oil pan No.1
Oil pan No.2

Oil pan tanpa dinding penyekat
Oil pan dengan dinding penyekat

Mekanisme Katup

Mekanisme katup adalah sekelompok kom-ponen
yang membuka dan menutup katup-katup isap dan
buang di dalam kepala silinder pada waktu yang
tepat.

Ket. Poros engkol
Timing sprocket
Rantai timing
Poros cam isap (Intake camshaft)
Katup isap
Poros cam buang (Exhaust camshaft)
Katup buang


Rantai timing
Rantai ini mengirimkan pergerakan rotasi poros
engkol ke poros-poros cam

Ket. Rantai timing
Sprocket poros cam
Sprocket poros engkol



Timing belt
Seperti roda gigi, belt memiliki gigi-gigi untuk
bertautan dengan gigi-gigi puli timing. Pada
kendaraan, belt ini terbuat dari material berbahan
dasar karet. Timing belt harus diperiksa apakah
tegangannya tepat atau apakah mengalami
keausan, dan gantilah pada interval yang telah
ditentukan.

Ket. Timing belt
Puli timing poros cam
Puli timing poros engkol


Sistem VVT-i (Variable Valve Timing-intelligent)
Sistem VVT-i menggunakan komputer untuk secara optimal mengontrol waktu pembukaan
dan penutupan katup isap sesuai dengan kondisi mesin. Sistem ini menggunakan tekanan hidrolik
untuk membedakan waktu pembukaan dan penutupan katup isap, sehingga menghasilkan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 71

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
peningkatan efisiensi isap, momen, power output, penghematan bahan bakar, dan gas buang yang
lebih bersih. Sebagai tambahan bagi sistem VVT-i ini, ada juga sistem VVTL-i (Variable Valve Timing
and Lift- Intelligent) yang meningkatkan volume pengangkat katup (langkah) dan meningkatkan
efisiensi isap selama putaran dengan kecepatan tinggi.














Sistem Isap
Sistem isap menyediakan udara bersih dengan
volume yang cukup bagi mesin

Ket. Pembersih udara
Throttle body
Intake manifold



Turbo charger
Turbo charger adalah alat untuk memampatkan
udara isap dengan menggunakan energi gas buang
dan mengirimkan percampuran dengan kepadatan
tinggi ke dalam ruang pembakaran untuk
meningkatkan pembangkitan tenaga. Saat roda-roda
turbin berputar dengan energi dari gas buang, roda
kompresor yang terhubung dengan poros pada posisi
yang berlawanan, mengirimkan udara isap yang
dimampatkan ke mesin. Terdapat juga alat yang
disebut "super charger", yang menggerakkan
kompresor melalui poros engkol ke drive belt secara
langsung, dan meningkatkan volume udara isap

Turbo charger
Super charger
Roda turbin Roda kompresor
Pembersih Udara
Pembersih udara mengandung elemen pembersih
udara untuk membuang debu dan partikel lain dari
udara saat memasukkan udara luar ke dalam mesin.
Elemen pembersih udara harus dibersihkan atau
diganti secara berkala



Elemen pembersih udara
Kotak pembersih udara
Pengontrol VVT-I
Sensor posisi poros cam
Sensor temperatur air
Katup kontrol oli timing poros cam
Sensor posisi poros engkol

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 72

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Throttle Body
Katup throttle menggunakan seutas kabel untuk
beroperasi bersama-sama dengan pedal akse-lerator
yang terletak di dalam interior kendaraan, guna
mengatur volume per-campuran udara-bahan bakar
yang ditarik ke dalam silinder. Saat pedal akselerator
ditekan, katup throttle membuka untuk menarik
udara dan bahan bakar dengan jumlah besar,
sehingga meningkatkan output mesin. ISCV (Idle
Speed Control Valve) juga tersedia, guna mengatur
volume udara selama idling atau saat mesin dingin

Pedal akselerator, Kabel throttle,
Katup throttle , ISCV

ISCV (Idle Speed Control Valve
ISCV mengatur volume udara yang mengalir melalui
saluran bypass yang disediakan di dalam katup
throttle, untuk terus mengontrol kecepatan idling
pada tingkat optimum.

Manifold Isap
Manifold isap terdiri dari beberapa pipa yang
menyalurkan udara ke setiap silinder




ISCV, Throttle body, Katup throttle,
Bypass

Melepas dan Memasang Distributor pada Mobil

Melepas distributor
- Melepas semua kabel dari distributor
- Memutar poros engkol sehingga torak pada silinder 1 pada posisi TMA langkah kompresi (posisi
saat pengapian )
- Memberi tanda pada rumah distributor sesuai dengan arah jari rotor
- Memberi tanda pada rumah distributor dan blok motor
- Melepas distributor dari dudukannya















Memasang kembali distributor
- Pastikan bahwa posisi torak silinder 1 pada TMA langkah kompresi / posisi saat pengapian
- Menyesuaikan tanda pada rumah distributor dengan arah jari rotor
- Memasang distributor pada blok motor
- Memasang baut pengikat tapi jangan dikeraskan
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 73

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
- Pasang sistem pengabelan
- Stel saat pengapian, dan keraskan baut pengikat
- Hidupkan motor

Menentukan letak silinder 1
Menurut normalisasi silinder 1 terletak paling jauh dari pemindah tenaga pada bentuk V atau
bentuk datar silinder 1 terletak sebelah kiri dan paling jauh dari pemindah tenaga















Menentukan urutan pengapian
Dengan melihat gerakan katup
- Perhatikan jumlah silinder, untuk menentukan besar sudut jarak pengapian
- Putar poros engkol sampai kedua katup silinder 1 dalam posisi menutup ( langkah kompresi )
- Putar poros engkol sesuai dengan besar sudut jarak pengapian periksa dan catat silinder mana
yang kedua katupnya menutup
- Ulangi langkah kerja diatas sampai silinder memperoleh urutan pengapian

Menutup lubang busi dengan gabus
- Membuka busi silinder 1 dan mengantinya dengan gabus
- Memutar motor sampai gabus pada silinder 1 lepas
- Membuka semua busi yang lain dan menggantinya dengan gabus
- Perhatikan dan catat, bila gabus lepas berarti pada silinder itu terjadi kompresi
- Ulangi sampai semua silinder sampai memperoleh urutan pengapian

Penyetelan Celah Katup, Motor Sebaris 4 Silinder

Alat Bahan
- Kotak alat
- Set kunci sok
- Motor/ mesin hidup dan paking tutup kepala silinder
- Kain lap

Langkah kerja
- Cari besar celah katup didalam buku data.
Besarnya celah katup pada mesin panas/dingin biasanya tidak sama

- Lepaskan tutup kepala silinder
- Putar motor searah dengan putarannya sampai tanda TMA Tanda TMA terletak pada puli motor (
gambar ) atau pada roda gaya.







Pemindah tenaga
Pemindah tenaga
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 74

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar












- Tentukan apakah silinder pertama atau terakhir, yang berada pada posisi saat akhir langkah
kompresi. Pada saat akhir langkah kompresi, kedua katup mempunyai celah.
- Stel katup. Setengah jumlah katup dapat distel. Penyetelan pertama : silinder yang berada pada
posisi saat akhir kompresi kedua katup dapat distel. Pada silinder berikut, katup masuk dapat
distel. Pada silinder berikutnya lagi, katup buang dapat distel dan seterusnya. Katup-katup pada
silinder terakhir tidak dapat distel. Lihat gambar berikut :

Contoh :
Motor 4 silinder, silinder pertama pada saat akhir langkah kompresi.
M1 M2 M3 M4 M Katup masuk
B Katup buang
X Katup yang dapat distel


B1 B2 B3 B4

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penyetelan katup :

- Fuler harus dapat didorong / tarik
- Fuler yang berombak harus diganti baru.
- Jangan mengencangkan mur-mur terlalu keras Gunakan kunci
ring rata dan obeng yang cocok.
- Putar motor satu putaran lagi sampai tanda TMA
- Stel celah katup-katup yang lain (setengah jumlah katup )
- Pasang tutup kepala silinder, lihat 60 45 10 20
- Hidupkan motor dan kontrol dudukan/kebocoran paking tutup
kepala silinder serta sambungan-sambungan ventilasi karter.



Sistem Bahan Bakar
Kegunaan sistem bahan bakar bensin :
- Mengalirkan bensin dari tangki ke motor agar motor dapat hidup dan mengasilkan tenaga
- Membentuk campuran bahan bakar/udara serta mengatur jumlah campuran yang diisap motor
agar campuran bensin + udara sesuai kebutuhan ( misalkan : untuk idle, beban rendah, beban
penuh, dsb ).











Karburator
Sistem Injeksi
Tanda TMA pada puli motor
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 75

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Karburator
Pada gasoline engine, karburator atau ECM dipakai untuk mencampur udara dan bahan bakar.
kebanyakan dari engine dengan 4-cylinder menggunkan sistim ECM, hanya beberapa mesin kecil yang
menggunakan karburator

















Sistim yang dipakai pada karburator adalah spraying principle untuk mencampur gasoline dan
udara. karena itu pada venturi dibuat lubang untuk menyemprotkan fuel dan aliran udara pada
venturi tinggi. Sehingga tekanan pada lubang penyemprotan ful meningkat. Sehingga bahan bakar
akan mengikuti aliran udara dalam bentuk kabut dan mencampurnya dengan udara.
Peristiwa ini disebut dengan Venturi effect sesuai dengan nama penemunya. Untuk meningkatkan
efek ini, venturi dibuat dengan bentuk menyerong mungkin. diameter dalam ini disebut main bore size
yang mengindikasikan ukuran karburator. dengan mendefinisikan diameter venturi yang merupakan
ukuran bore utama, jumlah bahan bakar dapat dikontrol berdasarkan pada udara yang mengalir,
sehingga perbandingan bahan bakar dan udara dapat dijaga. Pipa untuk mensuplai bahan bakar
disebut main jet (fuel spraying hole). dengan memilih jet yang tepat sesuai dengan kondisi
pengendaraan, hal ini sangat memungkinkan untuk dapat digunakan dengan rpm

Bagian-Bagian Karburator


Bagian-bagian :
1. Saluran masuk bensin
2. Ruang pelampung
3. Pelampung
4. Ventilasi ruang pelampung
5. Pipa pengabur ( nosel )
6. Venturi
7. Katup gas

Prinsip Kerja :
Saat piston langkah isap terjadi aliran udara yang cepat pada venturi. Bensin akan terisap oleh
turunnya tekanan ( vakum ) dan bercampur dengan udara masuk ke dalam silinder mesin.

Prinsip kerja sistem utama

Mengapa bensin dapat tersemprot ?
Karena pada udara yang mengalir dengan
cepat tekanannya turun

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 76

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Sistem utama
Bensin dapat diisap pada pipa pengabut sesuai kecepatan udara yang mengalir ke motor.













Venturi

Untuk apa memakai venturi ?
Untuk menurunkan tekanan lebih besar pada
waktu udara mengalir pada venturi

Sistem utama dengan venturi
Venturi pada pipa pengabut untuk menurunkan tekanan udara agar bensin juga terisap
pada keadaan katup gas tebuka sedikit.












Penyetelan Putaran Idle (Stationer)
Persyaratan penyetelan idle
Sebelum menyetel idle, kontrol saat pengapian, celah katup, sistem ventilasi karter dan saringan
udara. Sewaktu penyetelan, motor harus pada temperatur kerja, tetapi jangan terlalu panas.
Penyetelan campuran idle harus dilaksanakan saat saringan udara terpasang.

Langkah kerja
Pasang takhometer, hidupkan motor
Bandingkan rpm idle dengan spesifikasi (biasanya 750-850rpm). Jika salah, stel rpm pada sekrup
penyetel katup gas yang terpasang pada mekanisme katup gas. Perhatikan : Sekrup penyetel
katup gas jangan tertukar dengan sekrup penyetel putaran start dingin yang terletak pada
mekanisme cuk.
Venturi
Kabel gas
Pipa pengabut
Saringan Udara
Ruang Pelampung
Katup Gast
Venturi
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 77

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Stel campuran idle dengan sekrup penyetel yang terletak pada rumah katup gas.

Cara menyetel campuran idle tanpa pengetes gas buang
Perbandingan campuran mempengaruhi putaran idle. Berdasarkan pengaruh tersebut. Kita bisa
menyetel campuran yang sesuai.




Langkah penyetelan :
Sekrup penyetel diputar kearah luar, sampai putaran motor mulai turun. (Titik 1 pada diagram).
Kemudian, sekrup penyetel diputar kearah dalam, sampai putaran motor mulai turun. (Titik 2 pada
diagram) .
Untuk ini, putar sekrup penyetel tahap demi tahap dengan 1/2 putaran. Setiap 1/2 putaran,
tunggu sedikit dan perhatikan reaksi pada motor. Pada saat terdengar/ terasa * putaran mulai
turun, kendorkan sekrup pada penyetel 1/2 putaran untuk mendapat penyetelan campuran yang
benar.
Jika setelah penyetelan campuran, tinggi putaran tidak sesuai, penyetelan katup gas dan
penyetelan campuran perlu diulangi.

Petunjuk
Jangan menyetel idle pada saat motor sangat panas.
Karburator sering dilengkapi dengan katup termostatik, yang terbuka saat temperatur
karburator di atas ~ 500C. Pada saat terbuka, katup tersebut mengalirkan udara tambahan ke saluran
masuk, sehingga campuran menjadi lebih kurus. Oleh karena itu, penyetelan idle tidak boleh
dilakukan, jika motor terlalu panas.
Katup termostatik (Kijang) pada saat terbuka:







campuran
rpm
Sekrup diputar ke arah luar. Sekrup diputar ke arah dalam.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 78

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

















Penyetelan campuran idle yang terlalu kaya mengakibatkan pemakaian bahan bakar menjadi boros.
Penyetelan campuran idle yang terlalu kurus mengakibatkan motor hidup tersendat-sendat pada idle
dan pada beban rendah. (Beban rendah : katup gas hanya terbuka sedikit). Bila campuran idle distel
dengan baik, pada saat motor dingin perlu menggunakan cuk selama 1 menit. Jika penggunaan cuk
tidak perlu, berarti bahwa campuran idle terlalu kaya.

Penyetelan Idle dengan Pengetes Emisi Gas Buang
Persyaratan Penyetelan Idle
Sebelum penyetelan idle dilakukan beberapa hal/persyaratan harus dipenuhi, agar hasil
penyetelan idle menghasilkan data-data yang akurat.
Langkah-langkah yang dilaksanakan sebelum penyetelan idle adalah sebagai berikut :
- Kontrol kondisi busi dan kabel busi
- Kontrol sudut dwell dan saat pengapian
- Kontrol celah katup
- Kontrol tekanan kompresi ( bila perlu )
- Kontrol sistem ventilasi karter dan saringan udara
- Pada waktu penyetelan campuran idle, motor harus dalam kondisi temperatur kerja
- Kontrol kondisi saluran buang dan knalpot ( tidak boleh bocor )

Langkah Kerja
- Hidupkan pengetes emisi gas buang, dan biarkan alat beberapa saat untuk melaksanakan proses
pemanasan (kode pada display 01) dan proses kalibrasi (kode 21)
















- Proses pengujian dapat dilaksanakan bila parameter emisi gas buang pada monitor sudah
menyala semua
dari saringan udara
ke saluran masuk (manifold)
pegas bimetal
Keterangan

- Saklar ON OFF berada
dibagian belakang
1. Layar monitor
2. Saklar ON dari posisi stand by
3. Tombol printer
4. Tempat kertas printer
5. Tombol printer memasukkan
kertas
2
3
1 5
4
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 79

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
- Hidupkan motor pada posisi putaran idle
- Masukkan ujung probe paling sedikit 20 cm ke dalam ujung knalpot
- Lihat display layar monitor dan perhatikan kadar emisi gas buang
- Lakukan penyetelan jika hasil pengujian emisi gas buang diluar standar (pada posisi idle)
- Kemudian lakukan pengujian pada putaaran menengah ( 2000 2500 rpm dan putaran tinggi
3000 3500 rpm )
- Hasil pengujian bandingkan dengan data standar dibawah ini

Mobil tanpa Katalysator

Exhaust gas Sebelum tahun 1986 Sesudah tahun 1986
- CO
- HC
- CO2
- O2
- Lambda
- 4 % max
- 400 ppm max
- 12 %- 15 %
- 0,5 % - 2 %
- 0,95 1,05
- 3,5 % max
- 300 ppm max
- 12 % - 15 %
- 0,5 % - 2 %
- 0,95 1,05

Mobil dilengkapi Katalysator
Exhaust gas Nilai
- CO
- HC
- CO2
- O2
- Lambda
0 % ( 2 % max )
0 ppm ( 100 ppm max )
13 % - 16 %
0,3 % - 2 %
0,97 1,03

- Jika pengujian emisi gas buang telah selesai, lepas ujung probe dari knalpot
- Alat pengetes emisi gas buang tidak perlu dimatikan, biarkan ON terus, secara otomotis. Alat
pengetes emisi gas buang akan berada pada posisi 03 stand by / energi saving ( siap dipakai
setiap saat )
- Jika akan dipakai lagi, tinggal menekan ON-pump ( tombol paling kiri bagian atas / No.2 )

Informasi
- Emisi gas buang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan
- Emisi gas buang hasil pembakaran motor bersifat beracun yang terdiri atas ; Carbon Monoksid (
CO ), Hidro Carbon ( HC ), Nitrogen Monoksid ( Nox ), Senyawa timah hitam ( Pb ), Carbon
Dioksid ( CO2 ), dari beberapa kandungan gas beracun pada emisi gas buang, hanya beberapa
yang dapat diuji melalui alat ini yaitu ; HC, CO dan CO2, dengan menganalisa kondisi HC, CO,CO2
dan ditambah O2, maka kita dapat menganalisa pembakaran didalam ruang bakar, yang secara
otomatis kita juga dapat melihat performance motor.

Petunjuk praktis cara analisa
- HC tinggi.umumnya disebabkan oleh problem pada sistem pengapian ( karena bensin tidak
terbakar )
Misal :
- Kabel busi jelek, busi jelek, pengapian tidak tepat dan bisa juga
dipengaruhi oleh kompresi yang rendah
- CO besar disebabkan oleh campuran bahan bakar dan udara yang terlalu kaya, sehingga
kekurangan O2, untuk mengubah CO menjadi CO2
Problem yang terjadi adalah :
- Carburator salah penyetelan ( dari sistem idle sampai dengan sistem utama )
- Filter udara kotor
- Katup cuk tertutup
- Injektor kotor
- Sistem start dingin terganggu
- Dsb
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 80

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
- Lambda merupakan perbandingan jumlah udara yang dibutuhkan dibagi jumlah perbandingan
udara + bahan bakar yang ideal ( 1 kg bensin = 14,7 kg udara )
- Jika lambda ( ) kurang dari 1 campuran kaya / boros
- Lambda ( ) lebih besar dari 1 campuran kurus / irit
- O2 besar disebabkan knalpot bocor sehingga banyak O2 yang masuk ke knalpot yang akan juga
mempengaruhi hasil pengujian dari gas buang yang lain
- O2 besar bisa juga disebabkan oleh campuran yang kurus / irit
- CO2 rendah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
- Campuran bensin dan udara salah ( terlalu kaya )
- Kurangnya pengapian ( pengapian lemah )
- Kualitas bensin yang jelek.

Penyetelan Sistem Idle-Up
Sistem idle-up digunakan pada mobil yang dilengkapi AC. Saat AC dihidupkan, motor dibebani
oleh kompresor AC, maka rpm idle akan turun, motor dapat mati. Untuk mencegahnya, katup gas
akan dibuka sedikit oleh sistem idle-up.














Cara mengontrol/meyetel
- Suruh seseorang menghidupkan/mematikan AC dan perhatikan kerjanya membran sistem idle-up.
- Stel pada sekrup penyetel sehingga rpm motor dinaikkan sedikit selama AC hidup (900-1000
rpm).

Perhatikan : Jika penambahan oleh sistem idle-up terlalu banyak, fungsi penguat rem ( boster )
berkurang, karena vakum pada saluran masuk berkurang.

Sistem Bahan Bakar (EFI)
Sistem bahan bakar mengalirkan bahan bakar
ke mesin. Ia juga memiliki fungsi untuk
membuang sampah atau debu dan mengatur
volume pemberian bahan bakar

Ket. Tangki bahan bakar
Pompa bahan bakar
Saringan bahan bakar
Regulator tekanan
Injektor
Tutup tangki bahan bakar

Poros katup gas
Sekrup penyetel idle-up
Ke solenoid AC
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 81

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pompa Bahan Bakar
Memompa bahan bakar dari tangki bahan
bakar ke mesin, sehingga memungkinkan pipa
bahan bakar menjaga tekanan tertentu. Ada
tipe in-tank yang terletak di dalam tangki, dan
tipe segaris (inline) yang terletak di tengah
pipa bahan bakar. Terdapat cara-cara yang
berbeda dimana pompa digerakkan; sistem
EFI (Electronic Fuel Injection) meng-gunakan
pompa yang digerakkan secara listrik oleh
sebuah motor.

Motor
Pendorong
Injektor Bahan Bakar
Dalam merespon sinyal dari ECU (Electronic
Control Unit), koil mena-rik plunger dan
membuka katup untuk menginjeksikan bahan
bakar.


Injektor, Grommet, Nozzle, Ring-O
Katup, Koil, Plunger

Bahan bakar yang diinjeksikan dari injektor
bahan bakar bercampur dengan udara, dan
percampuran ter-sebut dikirim ke silinder.
Untuk mendapatkan rasio percampuran udara
bahan bakar yang optimal, ECU (Electronic
Control Unit) mengatur waktu dan volume
injeksi. Volume injeksi diatur oleh lamanya
injeksi.


Injektor, Intake port

Saringan Bahan Bakar
Buang zat-zat kontaminasi dari bahan bakar.
Untuk mencegah agar zat-zat tersebut tidak
terpompa masuk ke dalam injektor, sebuah
kertas saringan digunakan untuk menyaring
zat-zat kontaminasi. Rakitan saringan bahan
bakar harus diganti pada interval berkala


Saringan bahan bakar (tipe kotak tergabung)
Rakitan pompa bahan bakar

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 82

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Regulator Tekanan
Mengatur bahan bakar ke tekanan tertentu,
sehingga suplai bahan bakar akan selalu
stabil.



Pressure regulator
Rakitan pompa bahan bakar

Sistem Pelumasan

Sistem pelumasan menggunakan pompa oli
untuk secara terus-menerus menyuplai oli
mesin ke seluruh bagian dalam mesin. Sistem
ini mengurangi gesekan diantara part-part
dengan film oli. Bila mesin tidak bekerja
dengan oli, maka ia akan bekerja dengan
buruk, atau bahkan meleleh. Sebagai
tambahan pelumasan, oli mesin men-
dinginkan dan membersihkan mesin.




Oil pan, Oil strainer, Pompa oli,
Dipstick (Pengukur permukaan)
Switch tekanan oli, Saringan oli,


Pompa Oli
a. Pompa trochoid
Terdiri dari drive rotor dan driven rotor
dengan poros yang berbeda. Pergerakan
rotasi rotor-rotor ini menyebabkan celah
antara rotor-rotor tersebut berubah-ubah,
sehingga membentuk aksi pemompaan.
Drive rotor digerakkan oleh poros engkol.
Katup pembebas tersedia di dalam pompa
untuk mencegah agar tekanan oli tidak
melampaui nilai yang telah ditentukan.



Drive rotor, Driven rotor, Katup pembebas

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 83

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
b. Pompa roda gigi
Saat drive gear yang bergandengan dengan
poros engkol berputar, ukuran celah ntara
roda-roda gigi penggerak berubah, dan oli
yang berada diantara sisi gigi dan area
berbentuk bulan sabit (crescent) di-pompakan.


Drive gear, Driven gear
Area berbentuk bulan sabit (Crescent)
c. Saringan Oli
Saringan oli menyaring zat-zat yang
terkontaminasi dari oli mesin, seperti partikel-
partikel logam, dan menjaga oli mesin tetap
bersih.
Saringan oli memiliki katup pemeriksa (check
valve) untuk menyimpan oli di dalam saringan
saat mesin dimatikan. Sehingga saringan akan
tetap mengandung oli saat mesin dihidupkan.
Saringan oli juga memiliki katup pembebas
untuk memungkinkan oli dikirim ke mesin saat
saringan diisikan.
Saringan oli adalah part yang harus diganti
secara berkala, dan harus diganti sebagai satu
rakitan pada jarak yang telah ditentukan.


Katup pemeriksa (Check valve)
Elemen
Kotak
Katup pembebas
Sistem Pendingin
Sistem pendingin mengatur temperatur mesin
ke tingkat optimal (80 sampai 90C pada
temperatur air pendingin) dengan cara
mengedarkan air pendingin ke seluruh mesin.
Kipas pendingin mendinginkan air pendingin di
dalam radiator dan pompa air mengedarkan
air pendingin melalui kepala silinder dan blok
silinder.


Radiator, Tangki reservoir, Tutup radiator
Kipas pendingin, Pompa air, Thermostat

Aliran air pendingin
Daya dari pompa air menyebabkan air
pendingin bersirkulasi melalui sirkuit air
pendingin. Air pendingin menyerap panas dari
mesin dan menghilangkannya ke udara
melalui radiator. Air pendingin yang telah
didinginkan kemudian kembali ke mesin.

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 84

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Radiator
Radiator mendinginkan air pendingin yang
telah mencapai temperatur tinggi. Air
pendingin di dalam radiator menjadi dingin
saat tube dan sirip-sirip radiator mendapat
aliran udara yang diciptakan oleh kipas
pendingin, dan aliran udara yang diciptakan
oleh gerakan kendaraan.


Tutup radiator
Tutup radiator memiliki katup tekanan yang
menekan air pendingin. Temperatur air
pendingin dibawah tekanan naik diatas 100C,
sehingga menciptakan perbedaan yang lebih
besar antara temperatur air pendingin dan
temperatur udara. Hal ini menyebabkan
efisiensi pendingin meningkat.
Katup tekanan membuka dan mengirimkan
kembali air pendingin ke tangki reservoir saat
tekanan radiator dinaikkan. Katup vacuum
membuka untuk membuang air pendingin dari
tangki reservoir saat radiator dikurangi
tekanan udaranya.


Pressure valve, Vacuum valve
Tekanan naik saat temperatur tinggi
Tekanan menurun, saat tekanan udara diturunkan
Tangki Reservoir
Tangki reservoir disambungkan ke radiator
untuk menyimpan air pendingin yang mengalir
secara berlebihan dari radiator, dan
mencegahnya mengalir ke luar. Saat
temperatur air pendingin di dalam radiator
naik, temperatur tersebut kemudian menyebar
dan mengalir ke dalam tangki reservoir. Saat
radiator mendingin, maka radiator akan
menyedot air pendingin dari tangki reservoir.

Tangki reservoir, Slang tangki reservoir,
Rediator

Pompa Air
Pompa ini mengalirkan air pendingin ke dalam
sirkuit pendingin. Drive belt digunakan untuk
mengirim gerakan rotasi poros engkol guna
menggerakkan pompa air.


Water pump

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 85

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Thermostat
Thermostat adalah part yang berfungsi
memanaskan mesin dengan cepat dan
mengatur temperatur air pendingin.
Thermostat terletak di saluran antara radiator
dan mesin. Saat temperatur air pendingin
menjadi tinggi, katup yang menuju radiator
membuka untuk men-dinginkan mesin.
Terdapat dua tipe thermostat: Tipe 'Dengan
katup bypass' untuk tipe-tipe bypass dasar,
dan tipe 'Tanpa katup bypass' untuk tipe-tipe
bypass segaris.

Dengan katup bypass, Tanpa katup bypass

Katup, Silinder, Katup bypass, Wax
Katup jigle

D. Latihan
1. Jelaskan dengan benar proses bagaimana mobil dapat bergerak dengan sendirinya tanpa ditarik
atau didorong oleh tenaga dari luar.
2. Jelaskan dengan benar serta berurut cara mnyetel katup motor bensin 4 tak 4 silinder
3. Gambarkan sistem aliran bahan bakar mobil bensin jenis EFI dan jelaskan cara kerjanya sehingga
dapat menyemprotkan bensin pada manifold masuk (ruang bakar)
4. Jelaskan secara berurut dan benar langkah-langkah menyetel putaran idle mesin bensin jenis
karburator.
5. Jelaskan mengapa mesin perlu dilumasi dengan menggunakan oli tertentu dan kemukakan bagian
mana saja yang perlu mendapat pelumasan.
6. Jelaskan dengan benar serta berurut cara memasang distributor pada mobil bensin





























P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 86

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN MESIN DIESEL



Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki Mesin Diesel
Sub Kompetensi : 1. Memahami karakteristik komponen mesin diesel
2. Memperbaiki komponen sistem bahan bakar mesin diesel
3. Mengovehaul sistem bahan bakar mesin diesel
4. Memelihara sistem kontrol emisi
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Memahami karakteristik komponen mesin diesel
2. Memperbaiki komponen sistem bahan bakar mesin diesel
3. Mengovehaul sistem bahan bakar mesin diesel
4. Memelihara sistem kontrol emisi

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar berikut
ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Mesin Diesel
Mesin diesel mempunyai bentuk yang hampir sama dengan mesin bensin. Perbedaannya adalah
pada metode pengapiannya. Pada mesin gasoline pembakaran campuran bahan bakar dilakukan oleh
elektrik spark. Bedanya, pada mesin diesel, bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara yang
terkompresi dan mempunyai temperatur tinggi. Ketika udara dikompress maka udara tersebut akan
mengalami peningkatan suhu. Pada mesin bensin campuran bahan bakar yang dikompress adalah
1/10 dari volume.
















Pada mesin diesel udara yang dikompresi sekitar 1/20 dari volume untuk meningkatkan
temperatur hingga lebih dari 600 derajat celcius, dan menginjeksikan bahan bakar yang bertekanan
lebih dari 100 atm pada injection pump selama 1/10002/1000 detik. Untuk mesin bensin outputnya
dikontrol dengan jumlah campuran bahan bakar yang diinjeksikan. Di lain hal, output dari mesin diesel
dapat dikontrol dengan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan tanpa mengontrol udara (the fixed
amount of the air).
Untuk melakukan pembakaran dengan sempurna dilakukan dengan cara meningkatkan
temperartur udara, perbandingan kompresinya harus naik. Karena itu tenaga expansinya akan
meningkat juga. Mesin harus kuat untuk menahan gaya yang bertambah. Tambahannya, kualitas
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 87

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
penginjeksian bahan bakar yang baik sangat diperlukan. Kemudian mesin akan lebih berat dan
biayanya juga mahal. Dengan alasan seperti tersebut diatas maka mesin diesel kebanyakan digunakan
untuk kendaraan penumpang. Pada mesin diesel, dikarenakan volume udara yang diisap kedalam
cylinder jumlahnya tetap, beban yang diberikan ke mesin relatif lebih ringan. Saat bahan bakar yang
dibutuhkan saat kecepatan rendah sedikit, fuel harus terbakar dengan sempurna. Bagaimanapun juga,
dengan beban yang penuh, mesin diesel akan membutuhkan fuel lebih banyak sehingga jumlah udara
kecil, sehingga akan mengeluarkan asap hitam lebih banyak.
Pada mesin bensin, pengapian dihasilkan oleh elektrik spark untuk membakar campuran bahan
bakar sehingga waktu pembakarannya sangat pendek. Pada mesin diesel, bahan bakar disemprotkan
ke udara yang terkompresi, sehingga dibutuhkan beberapa waktu untuk menguap. Oleh karena itu,
kecepatan maksimum mesin relatif lebih rendah dan outputnya juga lebih rendah dari mesin bensin.
Dibandingkan dengan mesin bensin, expansion force dan inertia dari komponen penggerak lebih besar
sehingga suara yang ditimbulkannyapun lebih bising dan getarannya lebih besar. Keuntungannya
mudah dalam perawatan karena tidak mengandung part yang halus seperti yang ada pada sistim
pengapian dan juga mempunyai efisiensi bahan bakar yang baik maka dari itu lebih banyak dipakai
sebagai kendaraan commercial atau business daripada sebagai kendaraan penumpang.


Katup isap, Katup buang, Nozzle injeksi
Ruang pembakaran, Piston, Batang
persambungan
Untuk membangkitkan tenaga peng-gerak
bagi kendaraan, mesin 4-langkah biasa
mengulang ke empat langkah seperti yang
ditunjukkan pada diagram. Tidak seperti
mesin bensin, mesin diesel tidak memiliki
sistem pengapian. Akan tetapi, bahan bakar
bertekanan tinggi diinjeksikan ke dalam
udara ber-temperatur tinggi dan
bertekanan tinggi guna membuat bahan
bakar terbakar dengan sendirinya.
Ruang Pembakaran
Ruang pembakaran memiliki ruang yang
tercipta diantara piston, blok silinder, dan
kepala silinder.
Tipe ruang melingkar (Swirl chamber)
Tipe injeksi langsung
(Utama) Ruang pembakaran
Glow plug
Nozzle injeksi
Ruang melingkar (Swirl chamber)
Saluran pemindah (Transfer passage)


Sistem Bahan Bakar
Sistem bahan bakar mesin diesel
menginjeksikan bahan bakar bertekanan tinggi
ke dalam ruang pembakaran dimana udara
telah dimampatkan ke tekanan tinggi. Hal ini
memerlukan perlengkapan khusus yang tidak
digunakan di dalam mesin bensin.

Tangki bahan bakar
Saringan bahan bakar dengan sedimenter
Pompa injeksi
Nozzle injeksi

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 88

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Saringan Bahan Bakar
Alat ini menyaring debu dan air dari bahan
bakar untuk melindungi pompa injeksi dan
nozzle-nozzle injeksi yang mengandung part-
part kecil. Debu dan air harus dibuang dari
bahan bakar untuk mencegah agar pompa
injeksi tidak tersita atau berkarat karena pompa
injeksi dilumasi dengan bahan bakar diesel.


Pompa priming, Saringan Sedimenter

Pompa Injeksi
Terdapat dua tipe pompa injeksi yang digunakan pada mesin diesel: Pompa injeksi mekanikal
secara mekanik mengontrol volume dan waktu injeksi bahan bakar. Pompa injeksi elektronik
menggunakan ECU (Electronic Control Unit) pada sistem EFI-D (Electronic Fuel Injection-Diesel).



Pompa injeksi memberi tekanan bahan bakar dan
memompanya ke nozzle-nozzle injeksi. Volume dan
waktu injeksi bahan bakar secara mekanik dikontrol
sesuai dengan banyaknya usaha yang diberikan pada
pedal akselerator dan putaran mesin.



Diesel EFI tipe konvensional
Sistem ini menggunakan sensor-sensor untuk
mendeteksi pembukaan akselerator dan putaran
mesin, dan sebuah ECU untuk menentukan volume
dan waktu injeksi bahan bakar.
Mekanisme kontrol yang digunakan pada proses
pemompaan, pendistribusian, dan injeksi didasarkan
pada sistem diesel tipe mekanikal.



ECU (Electronic Control Unit)
Sensor-sensor, Tangki bahan bakar
Saringan bahan bakar, Pompa injeksi
Nozzle injeksi
Pompa injeksi mekanikal
Pompa injeksi elektronik
Pompa injeksi
Nozzle injeksi
Timing belt
ECU
Sensor-sensor

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 89

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Diesel EFI tipe Common-rail
Bahan bakar yang telah diberi tekanan oleh
pompa supply disimpan di dalam common-
rail sebelum didistribusikan ke injektor-
injektor. ECU (Electronic Control Unit) dan
EDU (Electronic Driving Unit) mengontrol
volume dan waktu injeksi bahan bakar ke
tingkat optimum dengan cara
mengoperasikan dan menutup injektor-
injektor sesuai dengan sinyal-sinyal dari
sensor-sensor. Proses ini serupa pada
proses di sistem EFI yang digunakan pada
mesin bensin.

Pompa supply, Common-rail, Sensor tekanan
bahan bakar, Pembatas tekanan, Injektor,
Sensor-sensor, ECU, EDU, Tangki bahan bakar,
Saringan bahan bakar, Katup pemeriksa

Nozzle Injeksi
Bagian ini menerima bahan bakar bertekanan tinggi dan
menginjeksikannya ke dalam ruang pembakaran.
Saat tekanan bahan bakar yang dipompakan oleh pompa
injeksi menjadi lebih besar daripada beban pegas
tekanan, maka tenaganya mendorong jarum nozzle ke
atas. Hal ini menyebabkan pegas tekanan menjadi
mampat dan bahan bakar diinjeksikan ke ruang
pembakaran. Tekanan injeksi dapat disetel dengan cara
membedakan ketebalan shim penyetel, yang secara
efektif mengubah beban pada pegas.


Pegas tekanan (Pressure spring)
Jarum nozzle, Bodi nozzle
Shim penyetel

Sistem Pemanasan Awal
Panas mampat yang cukup tidak dapat
diperoleh selama start mesin dingin atau pada
pengoperasian temperatur rendah. Sistem
pemanasan awal memanaskan udara isap
untuk meningkatkan kemampuan pengapian
bahan bakar. Sistem ini menggunakan baterai
untuk memanaskan udara isap.
Terdapat dua tipe sistem pemanasan awal:
Tipe Glow plug: Memanaskan ruang
pembakaran.
Tipe pemanas isap: Memanaskan udara
isap

Glow plug Koil panas (heat coil)

Mengetes Gas Buang Motor Diesel
Alat Bahan Waktu
- Pengetes asap
- Daftar evaluasi
- Tester evaluasi elektronik
- Mobil/motor hidup - Instruksi : 1 jam
- Latihan : 1 jam

Langkah Kerja
Sebelum pengetesan dilakukan perhatikanlah hal-hal sebagai berikut :
1. Motor harus dijalankan dengan beban sampai mencapai temperatur kerja mesin
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 90

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
2. Elemen saringan udara telah diservis
3. Gerakan maksimum pedal gas harus menghasilkan gerak maksimum pada rak kontrol pompa
injeksi
4. Sebelum tes, tekan 3 kali pedal gas sampai motor mencapai putaran maksimum

Pasangkan pengetes gas buang, ujung slang diklem pada ujung knalpot seperti gambar dibawah
- Hidupkan motor
- Tekan bola karet sampai tuas pompa bergerak ke atas sambil menekan pedal gas maksimum
(penekanan pedal gas dihentikan bila tuas pompa tidak naik lagi)















- Tekan tuas pompa kembali ke bawah sampai tuas tidak bergerak lagi
- Keluarkan kertas bekas penekanan gas buang dari pompa. Lakukan pengetesan dua kali lagi,
agar diperoleh hasil kekotoran gas buang yang rata-rata pada kertas
- Cocokkan hasil kekotoran gas buang pada kertas dengan daftar evaluasi kekotoran gas buang
- Supaya tingkat kekotoran gas buang pada kertas dapat dinyatakan dalam angka yang pasti,
gunakan tester evaluasi elektronik !

Langkah tes dengan tester evaluasi elektronik
- Kenalilah bagian-bagian tester sebagai berikut :

1. Pemegang tes
2. Lampu
3. Elemen foto sel
4. Kertas filter
5. Skala digital
6. Tombol penyetel angka nol (0)
7. Tomboltes
8. Tempat kertas filter
9. Tempat baterai (2 x 9V)






- Ambil minimal 5 kertas filter di atas meja kerja, tekan pemegang tes tegak lurus terhadap kertas
filter
- Tekan tombol penyetel angka nol sampai digital menunjukkan angka 0,0
- Elemen foto sel sekarang dipindahkan ke kertas hasil pengukuran kekotoran gas buang, posisikan
juga tegak lurus terhadap kertas itu sambil ditekan
- Tekan tombol ( c ) sampai keluar angka tingkat kekotoran gas buang pada digital

Petunjuk
- Tester evaluasi elektronik sebaiknya dipakai untuk membedakan tingkat kekotoran gas buang
antar 1 sampai 4
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 91

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
- Bila kekotoran gas buang mempunyuai nilai 5 sampai 9, maka untuk menentukan tingkat
kekotorannya cukup memakai kertas daftar evaluasi saja, karena tingkat kekotoran 5 sampai 9
sudah tidak diperbolehkan lagi
- Lakukan perbaikan bila tingkat kekotoran gas buang sudah menunjukkan angka 5 sampai 9
- Kemungkinan penyebab kekotoran gas buang adalah sebagai berikut :

Gas buang berwarna hitam
1. Saringan udara kotor
Meskipun volume penyemprotan pada pompa injeksi sudah sesuai, tapi karena saringan
udara kotor, maka udara yang masuk ke dalam silinder tidak sebanding dengan solar yang
disemprotkan (udara terlalu sedikit). Solar tidak terbakar dengan sempurna, akibatnya asap
hitam
Ganti atau bersihkan saringan udara !
2. Bentuk penyemprotan nosel injeksi tidak bagus/ada tetesan
Bentuk penyemprotan atau ada tetesan pada nosel injeksi akan menyebabkan solar tidak
bercampur dengan udara secara sempurna. Sebagian solar tidak terbakar, asap akan hitam
Periksa tahanan injeksi, bentuk penyemprotan dan tetesan pada injektor !
3. Saat penyemprotan terlambat
Solar juga tidak akan terbakar dengan sempurna
Stel saat penyemprotan !
4. Taken turbo carjer kurang
Pada motor-motor yang dilengkapi dengan sistem pengisian udara tekan pengisian silinder
akan berkurang bila tekanan pengisian kurang. Hal ini disebabkan kerusakan pada turbocarjer
itu sendiri atau kebocoran-kebocoran pada salurannya
Periksa tekanan pengisian !
5. Knalpot/saluran gas buang tersumbat
Pada motor dengan turbocarjer, knalpot yang tersumbat akan menyebabkan asap hitam.
Apabila gas buang tidak keluar silinder dengan lancar, maka udara bersih yang masuk
kesilinder berkurang, tetapi jumlah penyemprotan bahan bakar tetap sesuai untuk pengisian
udara yang normal
Periksa dan bersihkan knalpot atau ganti bila perlu !
6. Volume penyemprotan tidak sesuai (terlalu banyak)
Sampai batas tertentu, penambahan volume penyemprotan akan menambah daya motor, tapi
penambahan volume yang terlalu banyak tidak akan menaikkan lagi daya motor dan akan
mengakibatkan asap hitam karena solar tidak terbakar dengan sempurna
Stel volume penyemprotan pada pompa injeksi !

Gas buang berwarna putih
1. Takanan kompresi rendah
2. Suhu mesin rendah (motor belum panas)
3. Saat penyemprotan terlalu awal
4. Ada air pendingin yang masuk ke dalam silinder (melalui paking kepala silinder, atau retak)

Gas buang berwarna biru
Oli ikut terbakar (kebocoran oli pada cincin torak atau pada sil katup)

D. Latihan
1. Jelaskan mengapa mesin diesel dapat mengadakan pembakaran tanpa harus dinyalakan oleh
percikan bunga api?
2. Jelaskan mengapa mesin diesel lebih berasap dibanding dengan mesin bensin.
3. Jelaskan secara berurut langkah kerja mengetes gas buang mesin diesel
4. Jelaskan kemungkinan penyebab bilmana gas buang mesin diesel berwarna hitam
5. Beri nama komponen motor Diesel dibawah ini serta beri warna yang berbeda pada sistem
aliran bahan bakarnya.





P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 92

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

















Nama bagian:
1. ........................................... Bahan bakar- kotor
2. ........................................... Bahan bakar bersih
3. ........................................... Bahan bakar tekanan tinggi
4. ........................................... Bahan bakar kembali ke tangki

1. Karakteristik komponen mesin diesel
2. Perbaikan komponen sistem bahan bakar mesin diesel
3. Ovehaul sistem bahan bakar mesin diesel
4. Pemeliharaan sistem kontrol emisi
































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 93

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN SISTEM PEMINDAH TENAGA



Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki Sistem Pemindah Tenaga
Sub Kompetensi : 1. Merawat unit kopeling
2. Merawat unit transmisi
3. Memperbaiki dan memodifikasi transmisi otomatis
4. Memperbaiki dan memodifikasi differensial dan poros roda
5. Mendiagnosis dan mencari trouble pada sistem pemindah tenaga.
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat melakukan:
1. Perawatan kopeling
2. Perawatan unit transmisi
3. Perbaikan transmisi otomatis
4. Perbaikan differensial dan poros roda
5. Diagnosis dan trouble pada sistem pemindah tenaga.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar berikut
ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Pemindah Daya (Power Train)

Kendaraan dapat berjalan/ bergerak karena ada sistem yang memindahkan tenaga/ momen/
putaran dari mesin ke roda-roda. Kendaraan ditinjau dari sistem pemindah tenaganya dikelompokkan
menjadi beberapa tipe/ jenis, yaitu :
- Front Engine Rear Drive (FR) yaitu kendaraan bermesin depan dan berpenggerak roda
belakang
- Front Drive (FF) yaitu (kendaraan bermesin depan dan berpenggerak roda depan)
- Transmisi manual
- Transmisi otomatik

Selain FF dan FR ada juga kendaraan 4 WD (4-Wheel Drive) atau (Berpenggerak 4-Roda) dan
MR (Midship engine Rear-wheel drive) atau (Mesin sedang dan berpenggerak roda belakang).













FF FR
Mesin, Transaxle, Transmisi, Poros penggerak , Poros propeller,
Diferensial, Poros axle, Axle , Ban & roda
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 94

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Kopling
Kopling kendaraan bertransmisi manual
memungkinkan tenaga mesin disalurkan atau
diputus oleh pengoperasian pedal kopling
Pedal kopling
Batang pendorong (Push rod)
Silinder master
Slang hidrolik
Silinder pembebas
Garpu pembebas
Penutup kopling



Part-part kopling
Karet penutup, Garpu pembebas
Klip, Bantalan pembebas
Penutup kopling, Piringan kopling,
Fly wheel, Pegas diapragma,
Plat tekanan (pressure plate)

Alur pengoperasian kopling
Kopling terdiri dari bagian yang bekerja
secara mekanik untuk mengirim
tenaga, dan bagian yang
memanfaatkan tekanan hidrolik untuk
mengirim tenaga.

Pengoperasian mekanikal
Pengoperasian hidrolik


Pedal kopling, Batang pendorong,
Silinder master, Slang hidrolik, Silinder
pembebas , Garpu pembebas, Bantalan
pembebas , Pegas diapragma, Plat tekanan
(Pressure plate) , Piringan kopling

Transaxle
Transaxle, dimana transmisi dan
diferensial tergabung, digunakan
pada kendaraan-kendaraan
berpenggerak empat roda dan
kendaraan-kendaraan bermesin
menengah

Transmisi
Diferensial


Poros input Poros output
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 95

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Mesin Kopling Poros input,
Lengan-lengan hub Tuas pemindah
Poros output Diferensial
Poros-poros penggerak Ban-ban
Transaxle manual
Transaxle manual mengirim dan memutus
tenaga dan merubah kombinasi roda-roda
gigi yang bertautan. Akibatnya, ia dapat
mengubah kekuatan tenaga, kecepatan
putaran, dan arah putaran.


Transaxle Otomatik
Transaxle otomatik terdiri dari sebuah torque converter, planetary gear unit, dan sistem
kontrol hidrolik. Transaxle otomatik menggunakan tekanan hidrolik untuk secara otomatis memindah
roda gigi sesuai dengan kecepatan kendaraan, pembukaan akselerator, dan posisi tuas pemindah.
Oleh karena itu, tidaklah perlu memindah roda gigi seperti pada transaxle manual; bahkan ia tidak
dilengkapi dengan kopling. Ia juga menggunakan komputer untuk mengatur pemindahan sesuai
dengan kondisi pengendaraan yang terdeteksi oleh sensor-sensor. Sistem ini disebut ECT
(Electronically Controlled Transmission)


1. Torque Converter
2. Pompa Oli
3. Planetary Gear Unit
4. Vehicle speed sensor
5. Counter gear speed sensor
6. Input turbine speed sensor
7. Sensor-sensor
8. Mesin & ECT ECU (Electronic Control Unit)
9. Katup solenoid
10. Hydraulic Control Unit
11. Tuas Pemindah

Torque Converter
Torque converter kendaraan bertransaxle
otomatik mengirimkan tenaga mesin ke
transaxle dengan memanfaatkan daya
dorong fluida. Prinsipnya sama dengan
sepasang kipas yang saling berhadapan. Satu
kipas meniup udara untuk memutar kipas
lainnya. Putaran pendorong pompa (pump
impeller) memberikan gaya sentrifugal
kepada fluida, yang mengirimkan tenaga ke
turbine runner.


Pendorong pompa (Pump impeller) (dari
mesin)
Turbine runner (ke transaxle)
Stator
Penutup depan
Kopling pengunci (Lockup clutch)
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 96

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pompa Oli
Pompa oli digerakkan oleh torque
converter untuk menyuplai tekanan hidrolik
yang diperlukan bagi pengoperasian
transmisi otomatik.



Bodi depan Driven gear Drive gear

Planetary Gear Unit
Unit ini memindahkan roda-roda gigi
pada transmisi otomatik. Ia meng-
gunakan tekanan hidrolik untuk
menahan salah satu dari tiga tipe
roda gigi (pinion gear, sun gear atau
ring gear) guna menciptakan kondisi
berikut seperti yang diinginkan
deselerasi, rangkaian langsung
(direct coupling) dan putaran balik.

Intermediate shaft Planetary carrier Sun gear
depan Sun gear belakang Ring gear Pinion
gear (pendek) Pinion gear (pendek)

Hydraulic Control Unit
Komponen ini mengontrol tekanan (garis)
hidrolik yang mengoperasikan planetary
gear unit.
Katup-katup yang mewakili
Katup pengatur utama: Mengatur
tekanan hidrolik dari pompa oli untuk
menciptakan tekanan garis.
Katup pemindah: Roda-roda gigi
pemindah.
Katup manual : Mengganti alur-alur
tekanan garis sesuai dengan
pergerakan tuas pemindah.
Katup solenoid : Mengganti alur-alur
hidrolik untuk memin-dahkan roda-
roda gigi dengan cara menerima
sinyal-sinyal dari ECU (Electronic
Control Unit).


Pompa oli, Mesin & ECT ECU (Electronic
Control Unit), Tuas pemindah

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 97

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Diferensial
Diferensial memiliki tiga fungsi sebagai
berikut:
Fungsi deselerasi mengurangi
kecepatan putaran yang telah diubah
oleh ransmisi guna meningkatkan torsi.
Fungsi diferensial menyetel diferensial
putaran antara roda kanan dan roda
kiri saat kendaraan membelok. Tanpa
fungsi diferensial, ban-ban akan
mengalami slip dan kendaraan tidak
akan dapat menyelesaikan belokan
dengan lembut.
Fungsi perubahan arah gaya penggerak (FR)
Fungsi ini merubah gaya putar dari transmisi di
sudut kanan dan mengirimkannya ke roda-roda
penggerak .


Poros propeller
Roda gigi penggerak/Pinion penggerak
Ring gear
Roda gigi pinion
Roda gigi sisi
Poros penggerak
Cara Kerja
Roda-roda gigi diferensial terdiri dari roda-
roda gigi sisi dan roda gigi pinion. Roda-roda
gigi ini secara otomatis mengatur perbedaan
putaran antara roda kanan dan roda kiri saat
kendaraan membelok.
FF (Kendaraan bermesin depan dan
berpenggerak roda depan)
FR (Kendaraan bermesin depan dan
berpenggerak roda belakang)


Poros Propeller (Untuk Kendaraan FR)
Poros propeller mengirimkan tenaga dari
transmisi ke diferensial kendaraan FR
(Bermesin depan dan berpenggerak roda
depan). Universal joint digunakan pada area
dimana poros bergabung guna mengirimkan
tenaga dengan lembut meskipun sudut poros
propeller berubah karena pergerakan vertikal
diferensial.
Poros propeller tersedia dengan dua atau tiga
persambungan. Kopling fleksibel (Flexible
coupling) dapat digunakan pada
persambungan-persambungan tersebut.

Tipe 3-persambungan
Tipe 2-persambungan
Universal joint Bantalan tengah
Sleeve yoke Flexible coupling

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 98

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Universal Joint
Persambungan ini dengan lembut
mengirimkan tenaga dengan cara
menyesuaikan ke sudut
persambungan poros propeller.
Yoke
Bantalan laba-laba (spider
bearing)
Spider

Poros Penggerak
Poros penggerak mengirimkan putaran
mesin ke roda-roda melalui transmisi
dan diferensial. Mereka digunakan
pada kendaraan-kendaraan dengan
roda-roda penggerak yang ditopang
oleh sistem suspensi independen.
Poros axle digunakan pada kendaraan
dengan suspensi tipe rigid.


Diferensial Poros-poros penggerak
Poros-poros axle Rumah axle
D. Latihan

1. Jelaskan mengapa mobil memerlukan sistem pemindah tenaga
2. Gambarkan secara berkaitan dan berurut komponen-komponen sistem pemindah tenaga pada
mobil serta jelaskan fungsi masing-masing komponen tersebut
3. Tuliskan susunan kopling plat tunggal mulai dari Fly wheel sampai garpu pembebas
4. Jelaskan mengapa mobil bilamana berbelok tidak terjadi slip pada roda ?
5. Tuliskan nama bagian transmisi otomatis pada gambar di bawah ini sesuai dengan nomornya
serta jelaskan masing-masing fungsinya





















P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 99

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN SISTEM KEMUDI, REM DAN SUSPENSI




Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki Sistem Kemudi, Rem dan Suspensi
Sub Kompetensi : 1. Memperbaiki sistem kemudi
2. Merawat sistem rem
3. Memelihara dan merawat sistem suspensi
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat melakukan:
1. Perawatan sistem kemudi
2. Perawatan sistem rem
3. Memelihara dan merawat sistem suspensi

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar berikut
ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Chasis Otomotif

Bersama-sama dengan eksterior, interior, dan mesin, chasis merupakan bagian dari sebuah
kendaraan. Ia memungkinkan fungsi pengendaraan, membelok, dan berhenti. Chasis terdiri dari:
a. Sistem Suspensi
b. Sistem kemudi
c. Sistem rem
d. ban-ban & roda-roda piringan

Suspensi
Sistem suspensi menggabungkan roda-roda
pada bodi atau rangka guna secara fisik
menopang kendaraan.
- Meningkatkan pengendaraan dengan cara
meredam benturan yang diterima ban-ban
dari permukaan jalan.
- Memastikan stabilitas pengendaraan.



Suspensi depan Suspensi belakang
Pegas, Peredam kejut
Batang stabilisator (Stabilizer bar)
Ball joint
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 100

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Tipe-tipe pegas
Fungsi pegas-pegas adalah untuk menyerap
benturan dari permukaan jalan dan
mengurangi getaran yang dikirimkan ke
bodi.
Pegas koil
Pegas daun
Pegas batang puntiran (Torsion bar
spring)
Peredam Kejut
Peredam kejut menahan pergerakan pegas-pegas
dengan oli yang mengalir melalui alur di piston. Peredam
kejut juga menyerap getaran bodi kendaraan, dan
memberikan pengen-daraan yang baik.
Piston Katup Lubang/mulut (Orifice)
Pegas Peredam kejut


Tanam (Stud) Karet penutup (Boot)
Tempat duduk Rumah
Bantalan karet (Rubber cushion)
Ball Joint
Ball joints membawa beban vertikal dan juga
horisontal, dan juga berperan sebagai poros
bagi steering knuckle saat roda kemudi
diputar.





Stabilizer Bar
Saat kendaraan membelok, bodi kendaraan
bergerak ke luar karena adanya gaya sentrifugal.
Disini stabilizer bar mengontrol kendaraan dengan
tenaga pegas yang berputar, dan menjaga ban-ban
agar tetap dekat dengan tanah. Ia juga bekerja bila
ban-ban pada satu sisi berjalan pada permukaan
yang berbeda. Saat bodi kendaraan bergerak ke
luar dan ban-ban masuk ke salah satu sisi, maka
stabilizer bar diputar dan berfungsi sebagai pegas,
yang mengangkat ban-ban bodi kendaraan yang
miring ke samping.

Pada kasus dimana ban-ban pada kedua sisi masuk
secara merata, stabilizer bar tidak berfungsi
sebagai pegas karena tidak diputar
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 101

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Type Suspensi
Terdapat dua tipe suspensi, tergantung pada
bagaimana suspensi-suspensi tersebut menopang
roda-roda.
Suspensi rigid axle Suspensi independen

Penyetelan Roda (Wheel Alignment)
Kendaraan harus memiliki performa garis lurus
yang tepat untuk pengendaraan yang stabil, dan
performa membelok untuk pengendaraan mengitari
tikungan. Oleh karena itu, roda-roda kendaraan
dipasang pada sudut tertentu pada jalan dan
suspensi tertentu untuk setiap tujuan. Hal ini
disebut penyetelan roda.



Camber Kingpin Caster
Radius Putaran Toe-in dan Toe-out
Kemudi
Pada sistem kemudi, roda-roda depan kendaraan digerakkan dengan cara memutar roda
kemudi. Ada dua tipe kemudi; tipe rack-dan-pinion dan tipe recirculating-ball.

Tipe rack-dan-pinion
Merubah gerakan rotasi roda kemudi
menjadi gerakan ke kanan dan ke kiri
steering rack. Konstruksinya sederhana
dan ringan. Kemudi solid, dan respon roda
kemudi sangat cepat.



Roda kemudi Poros utama kemudi & column
tube Roda gigi kemudi Rumah steering rack
Pinion Rack

Power Steering
Alat untuk usaha pengemudian dipasang di mekanisme kemudi untuk mengurangi banyaknya
usaha pengemudian yang dikeluarkan oleh pengemudi.
Terdapat dua tipe alat untuk usaha pengemudian: Tipe hidrolik dan tipe motor listrik.

Power steering hidrolik
Sistem power steering menggunakan tenaga mesin untuk menggerakkan vane pump yang
membangkitkan tekanan hidrolik. Saat roda kemudi diputar, sirkuit oli diubah pada control valve. Saat
tekanan oli diberikan pada power piston di power cylinder, maka tenaga yang dibutuhkan untuk
mengoperasikan roda kemudi dikurangi. Pemeriksaan kebocoran fluida power steering perlu dilakukan
secara berkala.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 102

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Tangki reservoir Vane pump Control valve Power cylinde
Power piston Roda kemudi Mesin

EHPS (Electric Hydraulic Power Steering)
Pada umumnya, sistem power steering menggunakan tenaga mesin untuk menggerakkan vane
pump yang membangkitkan tekanan hidrolik. Akan tetapi EHPS menggunakan motor, dan mengurangi
tenaga yang diperlukan untuk mengoperasikan roda kemudi.









Tangki reservoir

Vane pump dengan motor

EMPS ECU (Electronic Control Unit)

Motor DC

EMPS (Electric Motor-assist Power Steering)
EMPS membantu pengoperasian kemudi secara langsung dengan tenaga gerak motor DC, dan
bukan tekanan hidrolik.

Rem-rem
Rem-rem mengurangi kecepatan atau menghentikan
kendaraan yang sedang bergerak, atau mencegah agar
kendaraan yang diparkir tidak bergerak.



Remkaki Rem parkir


A Pedal rem
B Booster rem
C Master cylinder
1 Reservoir
2 Silinder
3 Ke rem-rem depan
4 Ke rem-rem belakang
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 103

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Pedal rem
Part-part yang dikontrol oleh daya kaki pengemudi. Daya ini berubah menjadi tekanan
hidrolik, yang bekerja pada sistem rem. Kekuatan daya pengereman ditentukan oleh banyaknya
penekanan pedal yang dilakukan oleh pengemudi. Adalah perlu untuk memeriksa gerak bebas pedal
rem, tinggi, dan jarak cadangan pedal sebagai bagian dari pemeliharaan.

Booster rem
Alat untuk meningkatkan daya yang bekerja pada master cylinder sesuai dengan banyaknya
usaha yang diberikan oleh pengemudi. Kevakuman dari engine intake digunakan sebagai sumber
peningkatan tenaga.

Master cylinder
Part-part untuk mengubah tekanan pedal pengemudi menjadi tekanan hidrolik. Terdiri dari
reservoir yang menyimpan fluida rem dan sebuah silinder yang membangkitkan tekanan hidrolik.
Master cylinder mengubah tekanan pedal pengemudi menjadi tekanan hidrolik. Kemudian tekanan
hidrolik diberikan pada disc brake caliper rem-rem depan dan belakang, dan ke silinder-silinder roda
rem-rem tromol. Penggantian fluida rem termasuk di dalam item-item perawatan.

Rem Piringan
Menekan pad rem piringan melawan rotasi
rotor rem piringan dengan roda-roda, dan
menciptakan gesekan. Mengontrol rotasi
roda-roda dengan gesekan.

Caliper rem piringan
Piston piston mendorong pad rem piringan
melawan rotor rem piringan dengan
tekanan hidrolik dari silinder master.
Caliper rem piringan
Pad rem piringan
Rotor rem piringan
Piston
Fluida

Sebelum pengoperasian Selama
pengoperasian


Rem tromol
Tromol rem berotasi bersama-sama
dengan roda. Sepatu rem ditekan melawan
tromol dari dalam. Gesekan ini mengontrol
rotasi roda. Adalah perlu untuk memeriksa
tromol rem dan pelapis sepatu rem.
Sepatu-sepatu rem ditekan melawan
tromol yang berotasi dari dalam untuk
mendapatkan tenaga pengereman. Saat
ditekan ke arah yang sama saat tromol
berputar, sepatu rem masuk ke arah rotasi
oleh gesekan dengan tromol. Akibatnya,
tenaga gesekan naik, yang disebut "self-
energizing action".

Silinder roda
Sepatu rem
Pelapis sepatu rem
Tromol rem
Piston
Tutup piston
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 104

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Katup Proportioning (Katup P)
Katup ini diletakkan diantara silinder
master dan rem-rem belakang. Ia
mendistribusikan tekanan hidrolik dengan
tepat ke roda-roda depan dan belakang
guna memberikan daya pengereman yang
stabil. Tekanan hidrolik yang meningkat
yang diberikan pada rem-rem belakang
(yang dapat dengan mudah mengunci
selama deselerasi) dibuat lebih rendah
daripada rem-rem depan.


Booster rem, Silinder master rem
Katup proportioning, Rem depan kiri
Rem belakang kiri
P & BV, LSPV dan LSPV & BV



1. Katup P (Proportioning) 2. Katup B (Bypass) 3. Dari depan master cylinder 4. Ke silinder roda
depan 5. Dari master cylinder belakang 6. Ke silinder roda belakang 7. Load sensing spring

P & BV (Katup Proportioning dan Bypass)
P & BV mengandung katup bypass untuk mencegah agar fluida rem tidak mengalir melalui
katup P saat terjadi malafungsi pada rem depan.
LSPV (Katup Load Sensing Proportioning)
Katup ini merasakan adanya beban dan menaikkan tekanan hidrolik pada rem-rem belakang
bila beban berat.
LSPV & BV (Katup Load Sensing Proportioning dan Katup Bypass)
LSPV & BV adalah gabungan dari LSPV dan BV.

Rem-rem Parkir
Rem parkir digunakan terutama saat
kendaraan diparkir. Secara mekanik
mengunci roda-roda belakang. Item-
item perawatan termasuk penyetelan
tuas rem parkir.



Tuas rem parkir Kabel rem parkir
Rem belakang
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 105

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
ABS (Anti-lock Brake System)
Bila roda menjadi terkunci saat rem difungsikan, ABS menggunakan komputer untuk
mengontrol tekanan hidrolik yang diberikan pada silinder-silinder roda dan piston rem piringan.
Dengan cara mencegah roda-roda agar tidak terkunci, sistem ini mencegah kendaraan agar tidak slip
atau menjadi tidak stabil.
Pengoperasian ABS
1. Sistem ini memonitor kecepatan putaran ke empat roda. Saat roda hendak mengunci, sistem ini
dengan cepat membebaskan rem pada
roda tesebut agar roda dapat
mengembalikan putarannya.
Setelah kendaraan yang hendak
mengunci kembali ke putarannya,
penerapan rem pada roda tersebut
dilanjutkan kembali.
2. Bila roda hendak mengunci kembali,
sistem ini membebaskan rem dari roda
tersebut.
3. Sistem ini mengulang proses-proses di
atas lebih dari belasan kali setiap
detiknya untuk memaksimalkan
kemampuan rem, dan untuk
memastikan stabilitas dan kemampuan bermanuver kendaraan.

Ban
Diantara berbagai macam part yang
digunakan di kendaraan, ban adalah satu-
satunya part yang mengalami kontak dengan
permukaan jalan, dan menopang tiga efisiensi
dasar: pengendaraan, membelok dan
penghentian. Item-item perawatan termasuk
pemeriksaan (kerusakan eksterior, kedalaman
tapak, dan kondisi keausan), penyetelan
tekanan udara, dan rotasi ban.



Ban radial Ban Bias (Bias Tire)
Tapak Belt (rigid breaker) Carcass
Garis dalam Bead wire

Spesifikasi Sistem Pengkodean
Ukuran, performa, dan konstruksi ban
ditunjukkan pada dinding samping ban.
Diagram di sebelah kiri menunjukkan nama
ukuran berbagai macam area pada ban.
Rasio tinggi bagian menyilang ban ke bagian
yang lebar (dalam rentang 100) ditunjukkan
dalam prosentasi (%).
Rasio aspek = / x 100(%)

Tinggi ban Lebar ban
Diameter tepi roda Diameter luar ban

Ban dengan rasio aspek tinggi : Performa membelok sedikit buruk. Memberikan pengendaran
yang lebih baik, dan sesuai untuk mobil keluarga. Ban dengan rasio aspek rendah : Memberikan
pengendaraan yang sedikit buruk. Namun sesuai untuk mobil-mobil sport karena performa
membeloknya lebih baik.

ECU
Aktuator
Sensor

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 106

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Bagaimana membaca ukuran ban























Pelek
Ukuran roda ditunjukkan pada tepi roda
piringan.
Roda piringan baja tempa
Roda piringan logam tuang campuran

Lebar tepi roda
Bentuk flange tepi roda
Offset
Diameter tepi roda
Pusat tepi roda
P.C.D (Pitch Circle Diameter)
Permukaan dudukan hub





















P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 107

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN KELISTRIKAN OTOMOTIF




Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki Kelistrikan Otomotif
Sub Kompetensi : 1. Mengaplikasikan hukum ohm dan kirchoff
2. Membandingkan proses pembangkitan listrik generator AC dan DC.
3. Memasang, memelihara, menguji dan memperbaiki sistem kelistrikan
engine.
4. Menganalisis sistem pengisian.
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat:
1. Menerapkan hukum ohm dan kirchoff
2. Menerapkan proses pembangkitan listrik generator AC dan DC.
3. Memasang, memelihara, menguji dan memperbaiki sistem kelistrikan engine.
4. Menganalisis sistem pengisian.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar berikut
ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran

Kelistrikan Mesin

Berbagai macam perlengkapan diperlukan untuk
menghidupkan mesin dan mengoperasikannya
dengan cara yang stabil.
1. Baterai
2. Starter (Sistem start)
3. Starter (Sistem start)
4. Alternator (Sistem pengisian)
5. Switch pengapian
6. Meter kombinasi (Lampu peringatan
pengosongan baterai)
7. Sensor-sensor


Sistem Start
Sistem start memaksa mesin untuk berputar
dengan menggunakan motor listrik, dan
menghidupkan mesin.


Baterai Switch pengapian Starter
Pengoperasian starter
Starter menghidupkan mesin dengan cara menautkan pinion gear ke dalam ring gear.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 108

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Cara Kerja
A. Start mesin
Saat switch pengapian diputar ke posisi START, arus mengalir ke pull-in coil dan hold-in coil.
Lalu pinion gear bergeser dan bertautan dengan ring gear. Pada saat yang sama, arus mengalir ke
field coil, menyebabkan rotor berotasi. Gerakan rotasi ini dikirimkan ke pinion gear, ring gear dan
poros engkol untuk menghidupkan mesin.

B. Setelah start mesin
Saat switch pengapian diputar ke posisi START, arah arus yang mengalir ke pull- in coil berubah
dan pinion gear kembali ke posisi semula. Saat arus berhenti mengalir ke field coil, rotasi starter
berhenti.

Sistem Pengisian
Sistem pengisian menghasilkan arus listrik untuk mensuplai komponen-komponen kelistrikan
dengan jumlah arus listrik yang diperlukan, dan untuk mengisi baterai saat mesin kendaraan sedang
bekerja. Sesaat setelah mesin hidup, drive belt menyebabkan alternator bekerja.



Cara Kerja
Pembangkitan Arus
Saat mesin hidup, drive belt mengirim roatsi mesin ke puli alternator yang menyebabkan rotor
berotasi. Akibatnya, stator coil membangkitkan alternating current.

Switch pengapian
Pull-in coil
Hold-in coil
Field coil
Armature
Kopling
Pinion gear
Ring gear

Alternator
Baterai
Lampu peringatan
pengosongan baterai
Switch pengapian

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 109

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Rektifikasi (Pembetulan)
Sistem kelistrikan kendaraan mengguna-kan
arus langsung. Oleh karena itu, rectifier
mengubah alternating current yang
dibangkitkan oleh stator coil menjadi arus
langsung.

Pengaturan tegangan
Tegangan sistem kelistrikan kendaraan diset
sebesar 12V. IC regulator digunakan untuk
mengatur arus ke tegangan konstan tanpa
mengindahkan perubahan kecepatan
alternator.

Rotor coil Stator coil

Sistem Pengapian
A. Sistem Pengapian Konvensional
Sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian yang menggunakan platina dan
kondensator untuk pemutusan arus primer dan banyak digunakan pada mobil. Sistem pengapian ini
mempunyai beberapa komponen diantaranya adalah kunci kontak, koil, platina, kondensor, busi, kabel
tegangan tinggi. Pada kendaraan bermotor yang bersilinder lebih dari satu menggunakan distributor
untuk membagi tegangan ke busi sesuai dengan firing order (FO.
Prinsip Kerja
Apa bila kunci kontak dihubungkan ON dan posisi platina menutup, maka arus primer dari baterai
akan mengalir ke koil pengapian terus ke platina dan massa (terjadi kemagnetan pada kumparan
primer). Pada saat platina mulai membuka, maka :

1) Pada kumparan sekunder timbul arus induksi
dengan tegangan 10 kv 20 kv. Pada motor
bersilinder satu, arus terus mengalir ke busi.
Sedangkan pada motor bersilinder banyak,
arus mengalir kebusi lewat pembagi arus
sesuai dengan firing order (FO).



2) Pada kumparan primer timbul induksi sendiri dengan tegangan 300 400 volt. Arus ini kemudian
mengalir dan di simpan untuk sementara dalam kondensator. Dan apabila platina menutup
kembali maka muatan listrik yang ada dalam kondensator tersebut di atas akan mengalir ke
rangkaian, arus primer segera menjadi penuh.

B. Sistem Pengapian CDI
Sistem pengapian CDI merupakan pengembangan dari sistem pengapian konvensional,
dengan menambahkan komponen elektronik pada sistem ini, membuat kerja sistem pengapian
menjadi lebih baik. Sistem pengapian CDI adalah sistem pengapian yang memanfaatkan pengisian
dan pengosongan muatan kapasitor untuk menimbulkan induksi tegangan tinggi pada koil pengapian.











P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 110

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Prinsip Kerja Sistem Pengapian CDI


Apabila kunci kontak ON maka arus dari baterai mengalir menuju transformator yang berada dalam
unit CDI, kemudian transformator menaikkan tegangan baterai 12 volt menjadi 400 volt, yang
kemudian mengisi kapasitor. Jika pada SCR diberikan sinyal dari pulsa triger maka SCR akan ON,
sehingga arus listrik muatan kapasitor akan mengalir menuju primer koil. Karena arus kapasitor
mengalir hanya sesaat maka primer koil menjadi kehilangan kemagnetan dengan cepat, hal ini yang
menyebabkan terbangkitnya tegangan tinggi (Induksi) pada koil pengapian yang selanjutnya dialirkan
ke busi.

C. Sistem Pengapian dgn Koil Igniter
Sistem pengapian membangkitkan loncatan bunga api pada tegangan tinggi, dan menyalakan
percampuran udara-bahan bakar yang dimampatkan di dalam silinder, pada waktu yang optimal.
Berdasarkan sinyal-sinyal yang diterima dari sensor-sensor, engine ECU (Electronic Control Unit)
mempengaruhi kontrol untuk mendapatkan waktu pengapian yang optimal



Switch pengapian Baterai
Koil pengapian dengan igniter
Busi Engine ECU Sensor posisi
poros cam Sensor






Sistem Pengapian Langsung
Sistem pengapian langsung menyuplai tegangan tinggi langsung dari koil pengapian ke busi.
Tipe A
Menyediakan koil pengapian dengan igniter
untuk setiap silinder.
Tipe B
Menyediakan koil pengapian dengan igniter
untuk setiap dua silinder. Menggunakan kawat
bertegangan tinggi untuk menyuplai arus ke
silinder-silinder.


Koil pengapian (dengan igniter)
Busi
Kawat bertegangan tinggi

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 111

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Distributor
Tipe konvensional
Mendistribusikan listrik dengan koil peng-
apian dan sebuah igniter, melalui kawat
bertegangan tinggi dari distributor.
Tipe IIA (Integrated Ignition
Assembly)
Mengandung koil pengapian dan igniter di
dalam distributor.

Distributor Tutup distributor Rotor Koil
pengapian Igniter Engine ECU (Electronic Control
Unit) Signal rotor Pick-up coil

Koil Pengapian
Komponen ini meningkatkan tegangan
baterai (12V) untuk membangkitkan
tegangan tinggi di atas 10kV, yang perlu
untuk pengapian.
Primary dan secondary coil diletakkan saling
berdekatan. Saat arus diberikan secara
intermittent ke primary coil, terciptalah
saling induktansi. Meka-nisme ini
dimanfaatkan untuk membangkitkan
tegangan tinggi pada secondary coil. Koil
pengapian dapat membangkitkan tegangan
tinggi yang berbeda-beda sesuai dengan
jumlah dan ukuran gulungan koil.

Tipe konvensional Tipe DIS (Direct Ignition
System) Tipe IIA (Integrated Ignition Assembly)
Primary terminal (+) Primary terminal (-)
Primary coil Pusat besi (Iron core)
Secondary coil Secondary terminal Igniter
Busi

Melepas dan Memasang Distributor pada Mobil
Melepas distributor
- Melepas semua kabel dari distributor
- Memutar poros engkol sehingga torak pada silinder 1 pada posisi TMA langkah kompresi (posisi
saat pengapian )
- Memberi tanda pada rumah distributor sesuai dengan arah jari rotor
- Memberi tanda pada rumah distributor dan blok motor
- Melepas distributor dari dudukannya















P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 112

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Memasang kembali distributor
- Pastikan bahwa posisi torak silinder 1 pada TMA langkah kompresi / posisi saat pengapian
- Menyesuaikan tanda pada rumah distributor dengan arah jari rotor
- Memasang distributor pada blok motor
- Memasang baut pengikat tapi jangan dikeraskan
- Pasang sistem pengabelan
- Stel saat pengapian, dan keraskan baut pengikat
- Hidupkan motor

Menentukan letak silinder 1
Menurut normalisasi silinder 1 terletak paling jauh dari pemindah tenaga pada bentuk V atau
bentuk datar silinder 1 terletak sebelah kiri dan paling jauh dari pemindah tenaga














Menentukan urutan pengapian
Dengan melihat gerakan katup
- Perhatikan jumlah silinder, untuk menentukan besar sudut jarak pengapian
- Putar poros engkol sampai kedua katup silinder 1 dalam posisi menutup ( langkah kompresi )
- Putar poros engkol sesuai dengan besar sudut jarak pengapian periksa dan catat silinder mana
yang kedua katupnya menutup
- Ulangi langkah kerja diatas sampai silinder memperoleh urutan pengapian

Menutup lubang busi dengan gabus
- Membuka busi silinder 1 dan mengantinya dengan gabus
- Memutar motor sampai gabus pada silinder 1 lepas
- Membuka semua busi yang lain dan menggantinya dengan gabus
- Perhatikan dan catat, bila gabus lepas berarti pada silinder itu terjadi kompresi
- Ulangi sampai semua silinder sampai memperoleh urutan pengapian

Penyetelan Kontak Pemutus dengan Dwell Tester
Langkah kerja
- Lepas tutup distributor, rotor dan piringan tutup.
- Periksa celah kontak secara visual. Untuk mobil biasanya 0,4 0,5 mm. Jika celah kontak lebih
besar atau lebih kecil, stel menurut metode yang sudah dijelaskan pada penyetelan dengan fuller.
- Pasang pengetes dwel
- Start motor dan periksa sudut dwel. Jika salah, stel celah kontak sampai mendapatkan hasil yang
baik dan keraskan sekrup-sekrup pada kontak tetap.
- Pasang kembali, kontrol sudut dwel sekali lagi selama motor ( putaran idle )

Petunjuk



Pemindah tenaga
Pemindah tenaga
Besar sudut dwel untuk motor 4 silinder biasanya 52 - 56
0
, untuk motor 6 silinder 36 - 38
0

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 113

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Kadang-kadang ada perubahan pada sudut dwel, yang tergantung pada jumlah putaran motor.
Itu diakibatkan oleh kebebasan plat dudukan kontak dan kebebasan poros governor. Kalau
jumlah perubahan lebih dari 5 derajat, distributor harus dioverhoul. Kecuali : distributor buatan
delco ( GM ) dan Ducellier ( Renault ). Distributor tersebut mengalami perubahan sudut dwel
pada saat advans vakum bekerja. Perubahan itu dikarenakan oleh konstruksinya.

Penyetelan Saat Pengapian
Cara Menyetel Dengan Lampu Timing
- Pasang lampu timing dan tachometer
- Kontrol / stel putaran idle
- Lihat saat pengapian pada putaran idle. Tanda pengapian terletak pada puli atau roda gaya. Jika
tanda kotor, bersihkan terlebih dahulu











- Apabila saat pengapian tidak tepat, kendorkan sekrup pengikat distributor sampai distributor
dapat digerakkan
- Putar distributor sampai didapatkan saat pengapian tepat, kemudian keraskan sekrup kembali

Busi
Komponen ini menerima tegangan tinggi yang
dibuat di koil pengapian, dan membangkitkan
bunga api guna mengapikan percampuran
udara-bahan bakar di dalam silinder. Tegangan
tinggi membangkitkan bunga api listrik di celah
antara elektroda tengah dan elektroda massa.




Busi dengan banyak elektroda
Busi beralur
Busi dengan elektroda menonjol

Elektroda tengah Elektroda massa Alur-V
Alur-U Perbedaan pada volume tonjolan
1. Kelistrikan Bodi
Komponen-komponen kelistrikan bodi terdiri dari part-part kelistrikan yang dipasang pada bodi
kendaraan yaitu wire harness, switch dan relay , sistem penerangan, meter kombinasi dan pengukur,
penghapus dan pembasuh kaca, air conditioning

A. Wire Harness
Wire harness dibagi menjadi kelompok-kelompok berikut untuk memudahkan persambungan
antara komponen-komponen kelistrikan sebuah kendaraan: wire dan kabel, part-part per-
sambungan, part-part pelindung sirkuit, dll.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 114

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Wire dan Kabel
Tipe tipe utama wire dan kabel digunakan
pada kendaraan. Untuk melindungi,
digunakan part-part pelindung wiring:

1. Wire bertegangan rendah
Tipe wire yang digunakan secara luas pada
kendaraan, terdiri dari elemen wire element
dan penyekatan.

2. Kabel-kabel berpelindung
Tipe kabel yang dirancang untuk melindungi dirinya sendiri dari gangguan-gangguan luar, dan
digunakan pada area-area sebagai berikut: Kabel radio antenna feeder, Garis-garis sinyal pengapian,
Garis-garis sinyal oxygen sensor, dll.

3. Kawat bertegangan tinggi (High-tension cords)
Tipe kawat yang digunakan sebagai part dari sistem pengapian mesin bensin. Kawat ini terdiri dari
sebuah konduktor (core wire) yang ditutup oleh penyekat karet tebal yang mencegah agar tegangan
tinggi tidak bocor keluar.

4. Part-part pelindung wiring
Part-part pelindung menutup atau membalut wire dan kabel, atau mengamankannya dari part-part
lain guna melindungi wiring harness
Untuk memudahkan persambungan, wire harness dipusatkan di beberapa tempat pada
kendaraan:

Junction block (J/B)
Junction block adalah part dimana konektor-
konektor untuk sirkuit listrik dikelompokkan
bersama-sama. Pada umumnya, terdiri dari:
Papan-papan sirkuit tercetak, fuse, relay, pemutus
sirkuit, dan alat-alat lain.

Relay block (R/B)
Meskipun sangat serupa dengan junction block,
relay block tidak memiliki papan-papan sirkuit
tercetak atau fungsi-fungsi per-sambungan
terpusat lainnya


Ruang mesin J/B atau R/B Relay
Fuse dan fusible link

Konektor-Konektor
Fungsi konektor-konektor, yang digunakan diantara wire harness atau diantara wire harness
dan komponen kelistrikan, adalah untuk memberikan persambungan listrik. Terdapat dua tipe
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 115

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
konektor: Konektor wire-ke-wire, Konektor wire-ke-komponen. Konektor-konektor dibagi menjadi tipe
laki-laki dan perempuan, tergantung pada bentuk terminalnya. Konektor-konektor tersebut tersedia
dalam bermacam warna.

Junction connector
Fungsi junction connector adalah untuk menghubungkan terminal-terminal dari kelompok yang
sama.

Konektor persambungan (Junction connector)
Fungsi konektor persambungan (Junction connector) adalah untuk menghubungkan terminal
terminal pada kelompok yang sama.



Baut-baut massa digunakan untuk memassakan wire harness dan komponen komponen listrik
ke bodi kendaraan. Tidak seperti baut-baut biasa, permukaan permukaan baut ini dicat hijau untuk
mencegah oksidasi.
Part-part Pelindung Sirkuit
Part-part pelindung sirkuit melindungi sirkuit dari arus yang berlebihan yang mengalir saat
kawat atau komponen listrik/elektronik mengalami konsleting.
Fuse
Sebuah fuse dipasang diantara fusible link dan
alat kelistrikan. Saat arus yang melebihi nilai
amper yang ditentukan mengalir melalui sirkuit
alat kelistrikan individu, fuse meleleh untuk
melindungti sirkuit. Digunakan dua tipe fuse:
tipe mata pisau, dan tipe cartridge.


Fusible Link
Sebuah fusible link dipasang segaris diantara sumber tenaga dan alat kelistrikan tempat dimana arus
dengan amper tinggi mengalir. Bila arus yang berlebihan mengalir sebagai akibat dari konsletingnya
wire harness dengan bodi, fusible link mencair untuk melindungi wire harness. Digunakan dua tipe
fusible link: Tipe cartridge dan tipe link.

Pemutus sirkuit
Pemutus sirkuit digunakan untuk melindungi sirkuit dengan beban amper yang tinggi yang
tidak dapat dilindungi oleh sebuah fuse, seperti power window, defogger, blower motor, dll. Saat arus
yang melebihi nilai amper yang ditentukan mengalir, elemen bimetal di pemutus membangkitkan
panas dan menyebarkannya guna memutus arus.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 116

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar


Tidak seperti fuse, sebuah pemutus sirkuit dapat digunakan kembali saat bimetalnya diset kembali.
Pemutus arus memiliki dua tipe seperti yang ditunjukkan oleh gambar di sebelah kiri: tipe reset
otomatik yang secara otomatis mengeset kembali, dan tipe reset manual yang secara manual
mengeset kembali.

B. Switch dan Relay
Switch dan relay membuka dan menutup sirkuit listrik guna menghidupkan dan mematikan lampu-
lampu, dan juga untuk mengoperasikan sistem-sistem kontrol.

Switch
Beberapa switch dioperasikan secara manual, sementara yang lainnya beroperasi secara otomatis
dengan merasakan adanya tekanan, tekanan oli, atau temperatur.

Relay
Relay memungkinkan fungsi ON/OFF dengan arus
kecil sirkuit listrik yang mem-butuhkan arus besar.
Saat relay digunakan, sirkuit-sirkuit yang
membutuhkan arus yang besar dapat
disederhanakan.

Switch Relay Baterai
Tipe-tipe switch dan relay

Meskipun bila arus di bawah
nilai amper yang ditentukan,
bila arus mengalir berulang kali
dalam waktu pendek atau
panjang, tempe-ratur bimetal
akan naik untuk memutus arus
tersebut.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 117

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Switch yang langsung
dioperasikan dengan tangan

a. Switch rotary
b. Switch tekan
c. Switch gergaji
d. Switch tuas

Switch yang bekerja karena perubahan
temperatur atau arus listrik
e. Switch deteksi temperatur
f. Switch deteksi arus
Switch yang dioperasikan oleh perubahan
permukaan fluida
Relay
g. Relay elektromagnetik
h. Switching relay tipe bergantung

C. Sistem Penerangan
Lampu besar
Lampu besar mengarahkan sinarnya ke depan untuk memastikan jarak pandang pengemudi
selama pengendaraan malam hari. Lampu-lampu tersebut dapat diganti untuk memberikan
menyinaran jarak jauh (diarahkan ke atas) dan jarak dekat (diarahkan ke bawah).
Lampu-lampu tersebut juga memberitahukan pengemudi kendaraan lain atau pejalan kaki akan
kehadiran kendaraan Anda. Beberapa model dilengkapi dengan lampu pengendaraan siang hari yang
tetap menyala setiap saat untuk memberikan peringatan kepada kendaraan lain akan kehadiran
kendaraan Anda. Pembersih lampu besar untuk membersihkan lensa-lensa lampu besar juga tersedia
pada beberapa model.














Lampu-Lampu Lain
1. Lampu belakang/kecil
Pada malam hari atau di dalam terowongan, lampu belakang/kecil memberitahukan kendaraan di
belakang akan keberadaan kendaraan ini.
2. Lampu berhenti (lampu rem)
Lampu-lampu tanda ini memberitahukan kendaraan yang berada di belakang bahwa sedang
dilakukan pengereman. Biasanya, lampu rem berbagi rumah lampu yang sama dengan lampu
belakang/kecil, dan menyala lebih terang.
3. Lampu-lampu tanda belok
Lampu-lampu tanda ini memberitahukan kendaraan lain bahwa kendaraan anda sedang
membelok ke kanan atau ke kiri, atau arah perjalanannya berubah.
4. Lampu-lampu peringatan tanda bahaya
Lampu-lampu tanda ini memberitahukan kendaraan lain bahwa kendaraan anda sedang
melakukan penghentian darurat atau diparkir.
5. Lampu-lampu mundur
Lampu-lampu tanda ini menyala saat kendaraan mundur. Lampu-lampu ini juga menyala pada
malam hari.
6. Lampu clearance (lampu-lmapu posisi)
Pada malam hari, lampu-lampu ini memberitahukan kendaraan lain akan posisi dan lebar
kendaraan anda.
7. Lampu plat nomor
Lampu-lampu ini membuat nomor-nomor pada plat nomor terlihat saat malam hari.


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 118

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
8. Lampu-lampu kabut depan & belakang
Lampu-lampu indikator tambahan ini digunakan di bawah kondisi cuaca yang buruk, seperti kabut
atau hujan.
9. Lampu panel instrumen
Menyala agar meter dan pengukur terlihat pada malam hari. Menyala saat switch dimmer lampu
besar di putar satu langkah
10. Lampu interior (lampu dome/ruang)
Pada umumnya, lampu ini terletak di tengah atap, atau bagian atas dalam kaca spion. Switch
untuk lampu ini biasanya memiliki 3 pengesetan sebagai berikut:
"ON" : tetap dalam keadaan menyala.
"OFF" : tetap dalam keadaan mati.
"DOOR" : menyala hanya bila pintu dibuka.

D. Meter Kombinasi dan Pengukur
Meter kombinasi dan pengukur terdiri dari meter, pengukur, lampu peringatan, dam lampu
indikator untuk menunjukkan informasi yang dibutuhkan oleh pengemudi guna pengendaraan yang
aman.

Meter dan Pengukur

Meter dan pengukur berikut menunjukkan,
melalui gerakan jarum-jarumnya, informasi
yang sering berubah.
Tachometer Speedometer
Pengukur temperatur air
Pengukur bahan bakar (dengan lampu
peringatan permukaan bahan bakar)
Pengukur tekanan oli
Voltmeter

Lampu-lampu Peringatan
Lampu-lampu peringatan ini menyala pada situasi berikut:
- Untuk memberi peringatan kepada pengemudi bahwa ada malafungsi atau membutuhkan
pengisian kembali atau penggantian.
- Untuk memastikan keamanan pengendaraan.
- Digunakan bohlam berwarna merah dan jingga, tergantung pada kegentingan atau prioritas
informasi.




Lampu peringatan ABS (hanya kendaraan yang dilengkapi dengan ABS saja)

Lampu peringatan permukaan fluida rem

Lampu indikator malafungsi

Lampu peringatan pengosongan baterai
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 119

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Lampu peringatan sabuk pengaman

Lampu peringatan pintu terbuka

Lampu peringatan airbag (hanya kendaraan yang dilengkapi dengan airbag saja)

Lampu peringatan permukaan bahan bakar rendah

Lampu peringatan tekanan oli rendah

Lampu peringatan sedimenter bahan bakar (hanya untuk kendaraan bermesin diesel)

Lampu peringatan glowplug (hanya untuk kendaraan bermesin diesel

Lampu-lampu Indikator
Lampu-lampu ini menyala untuk memberitahukan pengemudi bahwa masing-masing alat
berfungsi, setelah pengemudi mengoperasikan switch atau tuas. Bohlam berwarna biru, hijau dan
jingga digunakan, tergantung pada tujuannya.



Indikator peringatan tanda bahaya dan tanda belok

Lampu indikator tuas pemindah A/T (hanya kendaraan dengan transmisi otomatik
saja)

Indikator lampu jauh

Lampu indikator overdrive off

Lain-lain

Penghapus dan Pembasuh Kaca


1. Wiper motor dan linkage
2. Reservoir fluida pembasuh
3. Wiper arm dan blade belakang
4. Wiper motor belakang
5. Wiper arm dan blade
6. Nozzle pembasuh depan
7. Nozzle pembasuh belakang



Fungsi-fungsi penghapus kaca
- Fungsi kecepatan: mengganti kecepatan penghapus kaca antara HI dan LO.
- Fungsi intermittent : mengoperasikan penghapus kaca pada kecepatan LO. Terdapat pula tipe
dimana interval dapat disetel dalam beberapa tahap.
- Fungsi kabut : mengoperasikan penghapus kaca sekali saat switch sedang bekerja.
- Fungsi parkir otomatis : meskipun penghapus kaca sedang beroperasi, akan tetapi bila memutar
switch ke posisi OFF, maka penghapus kaca akan kembali ke posisi asalnya.
- Fungsi persambungan pembasuh : secara otomatis mengoperasikan penghapus kaca saat switch
pembasuh diputar ke posisi ON untuk beberapa detik.
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 120

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
D. Latihan
1. Jelaskan kemungkinan penyebabnya bilamana motor starter tidak dapat berputar untuk
memutar roda gila (Fly wheel)
2. Jelaskan kemungkinan penyebabnya bilamana tidak terjadi pengisian pada aki.
3. Gambarkan rangkaian sistem pengapian konvensional (Platina) serta jelaskan bagaimana
prinsip kerjanya sehingga dapat meloncatkan bunga api pada busi.
4. Jelaskan cara memasang distributor pada mobil bensin
5. Jelaskan bagaimana cara menyetel kontak pemutus (platina) dengan menggunakan Dwell
Tester
6. Jelaskan kemungkinan penyebabnya bila mana lampu kepala tidak mau menyala
7. Jelaskan bagaimana cara menyetel lampu kepala
















































P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 121

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
PERBAIKAN SISTEM AIR CONDITIONER (AC)




Standar Kompetensi : Mendiagnosis dan Memperbaiki sistem AC Otomotif
Sub Kompetensi : 1. Mendiagnosis sistem AC pada kendaraan ringan
2. Mengoverhaul sistem AC pada kendaraan ringan.
Waktu : 100 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat melakukan:
1. Mendiagnosis sistem AC pada kendaraan ringan
2. Mengoverhaul sistem AC pada kendaraan ringan.

B. Kegiatan Belajar
Agar peserta pelatihan dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikuti petunjuk belajar berikut
ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul hingga dapat memahami setiap komponen yang
disajikan.
2. Setelah mempelajari materi modul ini, diharapkan peserta menjawab soal-soal latihan yang
disediakan.

C. Materi Pembelajaran
Air Conditioners (AC)

AC atau Air Conditioners, adalah suatu rangkaian peralatan (komponen) yang berfungsi untuk
mendinginkan udara di dalam kabin agar penumpang dapat merasa segar dan nyaman.


Heater Cooler Dehumidifier

Rangkaian peralatan (komponen) tersebut adalah:
Compressor
Berfungsi untuk memompakan Refrigrant yang berbentuk gas agar tekanannya
meningkat sehingga juga akan mengakibat-kan temperaturnya meningkat.

Condenser
Berfungsi untuk menyerap panas pada Refrigerant yang telah dikompresikan
oleh kompresor dan mengubah refrigrant yang berbentuk gas menjadi cair
(dingin).


Dryer/Receifer
Berfungsi untuk menampung Refrigerant cair untuk sementara, yang untuk
selanjutnya mengalirkan ke Evaporator melalui Expansion Valve, sesuai dengan
beban pendinginan yang dibutuhkan. Selain itu Dryer/Receifer juga berfungsi
sebagai Filter untuk menyaring uap air dan kotoran yang dapat merugikan bagi
siklus Refrigerant

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 122

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Expansion Valve
Berfungsi Mengabutkan Refrigrant kedalam Evaporator, agar
Refrigerant cair dapat segera berubah menjadi gas.





Evaporator
Merupakan kebalikan dari Condenser Berfungsi untuk menyerap
panas dari udara yang melalui sirip-sirip pendingin Evaporator,
sehingga udara tersebut menjadi dingin



Cara Kerja Komponen AC
1. Compressor
Kompresor di gerakkan oleh tali kipas dari puli engine. Perputaran kompresor ini akan
menggerakkan Piston/Vane dan gerakan piston/vane ini akan menimbulkan tekanan bagi Refrigerant
yang berbentuk gas sehingga tekanannya meningkat yang dengan sendirinya juga akan meningkatkan
temperaturnya.
Jenis kompresor dapat dipisahkan seperti dibawah ini:

Tipe Crank
Tipe Reciprocating

Tipe Swash Plate
Tipe Rotary Tipe Through Vane

Tipe Reciprocating mengubah putaran Crankshaft menjadi gerakan bolak-balik pada piston.
Tipe Crank
Pada tipe ini sisi piston yang berfungsi hanya satu sisi saja, yaitu
bagian atas. Oleh sebab itu pada kepala silinder (Valve Plate)
terdapat dua katup yaitu katup isap (Suction) dan katup penyalur
(Discharge). Lihat gambar mekanis kompresi.















Pada langkah turun, Refrigerant masuk kedalam ruang silinder dari Evaporator, dan pada langkah naik
Refrigerant keluar dari ruang silinder menuju ke Condenser dengan tekanan meningkat dari 2,1
kg/cm2 menjadi 15 kg/cm2 yang mengubah temperatur dari 0oC menjadi 70oC.

Tipe Swash Plate
Terdiri dari sejumlah piston dengan interval 72o untuk kompresor 10 silinder dan interval 120o untuk
kompresor 6 silinder. Kedua sisi ujung piston pada tipe ini berfungsi, yaitu apabila salah satu sisi
melakukan langkah kompresi maka sisi lainnya melakukan langkah isap (lihat bagan gambar mekanis
kompresi)


P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 123

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar























Tipe Through Vane
Tipe Through Vane ini terdiri atas dua vane yang integral dan saling tegak lurus. Dan bila rotor
berputar vane akan bergeser pada arah radial sehingga ujung-ujung vane akan selalu bersinggungan
dengan permukaan dalam silinder. (lihat bagan gambar mekanis kompresi).











Kopling Magnet (Magnetic Clutch)
Kopling magnet adalah perlengkapan kompresor yaitu suatu alat yang dipergunakan untuk
melepas dan menghubungkan kompresor dengan putaran mesin. Peralatan intinya adalah: Stator,
Rotor dan Pressure Plate. Sistem kerja dari alat ini adalah Elektro Magnetic.










Konstruksi
Puli terpasang pada poros kompressor dengan bantalan di antaranya menyebabkan puli dapat
bergerak dengan bebas. Sedang stator terikat dengan kompressor housing, pressure plate terpasang
mati pada poros compressor.



P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 124

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

2. Condenser
Refrigerant yang masuk kedalam Condenser oleh karena
tekanan kompresor masih dalam bentuk gas dengan
temperatur yang cukup tinggi (80oC). Temperatur yang tinggi
dari Refrigerant yang berada dalam Condenser yang
bentuknya berliku-liku akan mengakibatkan terjadinya
pelepasan panas oleh Refrigerant. Proses pelepasan panas ini
di permudah dengan adanya aliran udara baik dari gerakan
mobil maupun isapan Fan yang terpasang dibelakang
Condenser. Semakin baik pelepasan panas yang di hasilkan
oleh Condenser makin baik pula pendinginan yang akan
dilakukan oleh Evaporator.

Pada ujung pipa keluar Condenser Refrigerant sudah tidak
berbentuk gas lagi akan tetapi sudah berubah menjadi
Refrigerant cair dengan temperatur 57oC (cooled liquid).

3. Receifer/Dryer
Refrigerant dari Condenser masuk ke tabung Receifer
melalui lubang masuk (inlet port), kemudian melalui Dryer,
Desiccant dan Filter Refrigerant cair naik dan keluar melalui
lubang keluar (Outlet Port) menuju ke Expansion Valve.
Dryer, Desiccant maupun Filter berfungsi untuk mencegah
kotoran yang dapat menimbulkan karat maupun pembekuan
Refrigerant terutama pada Expansion Valve yang mana akan
mengganggu siklus dari Refrigerant. Bagian atas dari
Receifer/Dryer disediakan gelas kaca (Sight Glass) yang
berfungsi untuk melihat sirkulasi Refrigerant.


4. Expansion Valve
Oleh karena fungsi dari Expansion Valve ini untuk mengabutkan Refrigerant kedalam
Evaporator, maka lubang keluar pada alat ini berbentuk lubang kecil (Orifice) konstan atau dapat
diatur melalui katup (Valve) yang pengaturannya menggunakan perubahan temperatur yang dideteksi
oleh sebuah sensor panas. Berdasarkan pengaturan pengabutan ini expansion valve dibedakan
menjadi:

Expansion Valve tekanan konstan
Expansion Valve tipe thermal
Pada gambar disamping adalah cara kerja Expansion Valve tipe
thermal.








Pembukaan Valve sangat bergantung dari besar kecilnya tekanan Pf dari Heat Sensitizing Tube.
Bila temperatur lubang keluar (Out Let) Evaporator dimana alat ini ditempelkan meningkat, maka
tekanan Pf > dari tekanan Ps + Pe, maka Refrigerant yang disemprotkan akan lebih banyak.
Sebaliknya bila temperatur lubang keluar (Out Let) Evaporator menurun maka tekanan Pf < Ps + Pe,
maka Refrigerant yang disemprotkan akan lebih sedikit.
- Ps: tekanan pegas
- Ps: tekanan uap didalam evaporator

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 125

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
5. Evaporator
Perubahan zat cair dari refrigerant menjadi gas
yang terjadi pada evaporator akan berakibat terjadi
penyerapan panas pada daerah sekelilingnya, udara yang
melewati kisi-kisi evaporator panasnya akan terserap
sehingga dengan hembusan Blower udara yang ke luar
keruang kabin mobil akan menjadi dingin.


AC Otomatis



Sistem AC otomatis mengatur temperatur interior secara otomatis pada temperatur yang telah
ditentukan. Saat mode pengoperasian diset ke posisi AUTO dan temperatur diset, maka sensor-sensor
mendeteksi temperatur udara ambient, temperatur interior, dan temperatur yang telah ditentukan.
Kemudian, komputer secara otomatis mengontrol temperatur outlet, kecepatan blower, dan posisi
outlet untuk mendapatkan temperatur yang telah ditentukan.

Pengetesan Sistem AC
Bermacam cara dapat dilaksanakan untuk
pengetesan sistem AC, antara lain (1) Tes
tekanan (2) Tes temperatur (3) Tes kebocoran










1. Tes tekanan

A. Bagian tekanan rendah B. Bagian tekanan
tinggi

Putaran mesin > 2000 rpm
Sistem AC yang bekerja normal saluran isap kompresor,
zat pendingin harus berupa gas dengan tekanan 1,5 2
bar (21 29 psi). Pada saluran tekan kompresor zat
pendingin masih berbentuk gas dengan tekanan 14,5 2
bar (200 213 psi). Besar tekanan ini juga berlaku sampai
zat pendingin masuk ke katup ekspansi.
Zat pendingin berubah bentuk dari gas menjadi cair
karena didinginkan oleh kondensor.
Keterangan :
TR = Tekanan rendah.
TT = Tekanan tinggi.

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 126

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Tekanan zat pendingin diturunkan oleh katub ekspansi, dalam evaporator zat pendingin
mengambil panas di sekelilingnya, berubah bentuk menjadi gas dan kembali ke saluran isap
Kompresor. Proses berulang terus seperti semula.

- Sistem AC tidak bekerja normal
Kedua manometer menunjukkan tekanan yang rendah dari semestinya.
Tekanan yang kurang pada saluran tekan dan saluran
hisap kompresor menunjukkan zat pendingin yang
beredar dalam sistem volumenya sudah berkurang.
Kekurangan zat pendingin yang sudah diisi penuh
disebabkan kebocoran pada sistem, akibatnya sistem
AC bekerja tidak efisien (AC kurang dingin).
Bila tekanan tinggi diukur setelah saringan, hal ini
bisa menunjukkan saringan sudah kotor.




Kedua manometer menunjukkan tekanan yang lebih besar

Pengisian zat pendingin terlalu banyak.Tekanan pada
bagian tekanan tinggi akan na-ik, volume zat pendingin
yang disemprotkan katup ekspansi akan lebih besar,
menyebabkan saluran tekanan rendah naik pula
tekanannya.
Pendingin kondensor yang kurang baik, menyebabkan
temperatur evaporator menjadi naik, dan tekanan pipa
kontrol katup ekspansi akan naik juga mengakibatkan
katup ekspansi akan selalu membuka. Tekanan kedua
bagian saluran tekanan tinggi & rendah akan naik
Bila manometer menunjukkan tekanan yang lebih besar lagi pada kedua saluran, hal ini berarti
ada uap air yang beredar dalam sistem.
Pengisian zat pendingin yang terlalu banyak harus dihindari, karena sistem AC bekerja lebih
berat dan terasa kurang dingin
Manomater tekanan rendah lebih tinggi dan manometer tekanan tinggi lebih rendah
- Kebocoran pada bagian bagian yang berge-sekan
dari kompresor seperti katup katup cincin torak,
menyebabkan kompresor tidak bekerja dengan baik.
- Langkah tekan kompresor tidak menghasilkan tekanan
yang lebih tinggi dan temperatur eva-porator naik,
katup expansi akan selalu terbuka.
- Katup katup kompresor yang rusak akan
menyebabkan zat pendinginan yang ditekan akan
mengalami kebocoran kebagian saluran hisap,
akibatnya saluran hisap tekanannya akan lebih
naik/tinggi dan bagian saluran tekanan, tekanannya
akan turun/rendah



2. Tes temperatur
a. Mengukur temperatur udara dalam saluran evaporator
Pengetesan kemampuan sistem AC dengan cara ini masih pada putaran mesin > 2000 rpm, AC
bekerja dengan beban penuh dan pengetesan dengan manometer menunjukkan sistem tidak ada
kesalahan. Tabel perbandingan temperatur udara luar dan temperatur udara dalam saluran
evaporator di bawah ini, dapat dijadikan pedoman untuk tes temperatur.

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 127

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar



Temperatur udara luar (C) Temperatur udara dalam saluran evaporator (C)
15
20
26
32
37
4 6
4 6
4 7
5 8
7 10

Bila temperatur udara pada saluran evaporator : 4 - 6C hal ini berarti pada waktu kopling
magnet menghubung adalah : 6C dan waktu melepas 4C.

b. Mengukur temperatur ruangan AC & kelembaban udara



Prosentase kelembaban udara relatif yang lebih besar dapat diturunkan oleh sistem AC, karena
udara yang basah/lembab akan dikeringkan oleh evaporator, hal ini terlihat adanya tetesan air
(kondensasi) di sekitar pipa pipa evaporator. Dengan Higrometer kita dapat mengukur kelembaban
udara dalam ruangan AC, kelembaban udara yang ideal adalah 45 50% dengan temperatur ruangan
20 - 22C. Bila kelembaban udara luar tidak jauh berbeda dengan kelembaban udara dalam ruangan
AC, hal ini berarti evaporator terlalu basah & kotor. Gejala ini juga terasa AC kurang dingin

3. Mengetes kebocoran


Mengetes kebocoran zat pendingin pada sistem dapat
dilakukan dengan macam macam cara, secara
sederhana dapat dilakukan dengan memeriksa
sambungan sambungan instalasi pipa memakai busa
sabun, atau dengan kompor nyala api sipiritus.
Gambar di sebelah memperlihatkan alat detektor
elektronik yang dapat mencari kebocoran freon dari sistem
P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 128

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
Melepas dan Memasang Kompresor, Mengganti Kopling Magnet

Alat Bahan
- Kotak alat
- Special service tool/SST)
- Manometer dan perleng-
kapannya
- Stetoskop
- Mobil dengan AC
- Kompresor dan kopling magnet
- Oli khusus kompresor AC
- Freon
- Kain lap


A. Pemeriksaan pada ruang mesin
Langkah Kerja
- Hidupkan sistem AC dengan putaran mesin > 2000 rpm, lakukan pemeriksaan kemampuan kerja
kompresor dengan manometer
- Pemeriksa dudukan kompresor pada blok mesin. Kompresor harus duduk dan dibautkan dengan
baik. Hubungan roda puli kompresor dengan poros mesin harus lurus bila dilihat dari samping
mesin. Hubungan yang tidak lurus akan mengakibatkan sabuk (belt) cepat rusak dan bantalan
magnet cepat aus.
















- Periksa kerja kopling magnet
Kopling magnet dapat menghubung dan memutus dengan poros kompresor secara baik, tanpa
menimbulkan suara yang kasar setelah kopling magnet bekerja. (Tapi sesaat kopling magnet
menghubung memang menimbulkan bunyi karena sabuk penggerak mengalami slip untuk
menyesuaikan putaran, hal itu adalah wajar !)
- Suara yang kasar juga dapat didengar pada kompresor saat bekerja, bunyi tersebut disebabkan
oleh kerusakan mekanis yang terjadi dalam kompresor (kerusakan bantalan poros torak, dll)
Pastikan bunyi terjadi dengan menggunakan steteskop !


- Pada waktu mesin & sistem AC tidak bekerja,
periksa tahanan gulungan kopling magnet

Besaran tahanan 3 4 Ohm

- Periksa juga dari kemungkinan ada hubungan
singkat dengan massa (bodi)

P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r
P a g e | 129

Modul Pendidikan & Latihan Profesi Guru
PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar
B. Pemeriksaan setelah kompresor dilepas dari sistem


- Periksa kebocoran pada kompresor tutup
sambungan TR & TT. Isikan freon dengan tekanan
~ 3 bar (~ 43 psi) ke dalam kompresor melalui
katup pelayanan TT
- Periksa kemungkinan kebocoran freon dengan
detektor !

- Periksa pegas penekan kopling magnet dari
kemungkinan patah atau korosi
- Periksa besar celah plat penekan dengan roda puli.
Besar celah 0,3 0,6 mm
Celah yang lebih besar disebabkan keausan yang
terjadi akibat gesekan antara plat penekan dengan
roda puli




- Lepas kopling magnet seperti urutan langkah pada
gambar




- Ukur besar tahanan gulungan kopling magnet

Tahanan gulungan 3 4 Ohm
- Bila pada kompresor terdapat kebocoran sil poros atau bantalan poros sudah rusak sehingga
menimbulkan suara waktu kompresor bekerja, bongkar kompresor!

D. Latihan
AC atau Air Conditioners, adalah suatu rangkaian peralatan (komponen) yang berfungsi untuk
mendinginkan udara di dalam kabin agar penumpang dapat merasa segar dan nyaman.
1. Gambarkan rangkaian komponen AC mobil dan jelaskan bagaimana caranya sehingga dapat
memberikan penumpang rasa segar dan nyaman.
2. Jelaskan masing-masing fungsi setiap komponen pada sistem AC mobil
3. Jelaskan kemungkinan penyebab bilamana AC mobil tidak dapat mengeluarkan hawa dingin.
4. Jelaskan bagaimana cara pengetesan sistem AC dengan Tes Tekanan
5. Jelaskan cara melepas dan memasang kompresor dan mengganti kopling magnet









P
S
G

R
a
y
o
n

1

2
4

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

N
e
g
e
r
i

M
a
k
a
s
s
a
r

Anda mungkin juga menyukai