Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDHULUAN 1.

1 Latar Belakang Batubara (coal) dengan komposisi utama karbon, hidrogen merupakan sedimen batuan organik yang mudah terbakar. Dewasa ini batubara merupakan salah bahan bakar fosil yang banyak digunakan setelah minyak dan gas. Hal ini sangat beralasan karena disamping harganya relatif sangat murah menurut perkiraan asosiasi batubara kanada bahwa cadangan batubara sebagai bahan bakar fosil menempati peringkat pertama didunia yaitu mencapai 91 % sementara gas hanya 5 % dan sisanya minyak sekitar 4 %. Sumber lain menunjukan bahwa jumlah cadangan didunia diperkirakan mencapai 1062 miliar ton, cukup untuk konsumsi dunia selama 230 tahun berdasarkan tingkat produksi tahun 1999. Sebagai perbandingan cadangan minyak dunia hanya cukup untuk konsumsi 45 tahun sedangakan gas akan habis dalam waktu 70 tahun (http://www.coal.ca; Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 1999) Di indonesia cadangan batubara sekitar 38,8 miliar ton, tersebar di beberapa pulau termasuk sulawesi, batubara terkonsentrasi di provinsi sulawesi selatan, tergolong 3 besar daerah yang mengandung cadangan batubara di indonesia setelah kalimantan dan sumatera (suyartono dan indria B., 2000). Namun sayangnya kualitas asal sulawesi relatif rendah hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di industri sebab kandungan sulfur relatif tinggi, yaitu 2-4%. Kadar sulfur diatas 1 % dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan alat, serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Demikian pula kadar abunya relatif tinggi (10-17%), dimana jika kadar abu tersebut dapat direduksi maka nilai kalor batubara dapat ditingkatkan (Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Selatan, 2001). Dalam usaha meningkatkan kualitas batubara termasuk menurunkan kadar sulfurnya untuk menuju Teknologi Batubara Bersih (TBB), maka berbagai teknologi desulfurisasi telah/sedang dikembangkan, diantaranya dengan metode flotasi. Metode flotasi terbukti efektif menurunkan kandungan sulfur batubara Turki yang memiliki problem kandungan sulfur tinggi (berkisar 3-12%) (Demirbas, A.2002). Desulfurisasi dengan metode flotasi sekaligus dapat mereduksi kandungan abu batubara (mandasini dkk, 2003). Dalam penelitian ini bertujuan untuk desulfurisasi ( dan deashing) batubara pattuku sebagai salah satu daerah ex tambang batubara di sulawesi selatan dengan metode flotasi. Akan dipelajari efek waktu flotasi dan dimensi kolom flotasi. Manfaat penelitian ini bagi ilmu pengetahuan, berupa pemahaman, fenomena dan mekanisme desulfurisasi dan deashing batubara secara flotasi. Melengkapi data pustaka tentang kondisi operasi flotasi optimum ( waktu flotasi dan dimensi kolom flotasi ). Bagi masyarakat, bangsa dan negara penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dalam hal meningkatkan nilai ekonomis hasil tambang batubara, megatasi ancaman krisis sumber energi dan bahan bakar minyak dan gas alam, mengatasi ancaman pencemaran sulfur pada lingkungan. 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Ruang Lingkup Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi Desulfurisasi Batubara Pada prinsipnya proses desulfurisasi batubara dalam peruntukannya sebagai bahan bakar dapat dilakukan berdasarkan fasenya yaitu, fase sebelum fase sebelum pembakaran (pre-combustion treatment), fase pada saat proses pembakaran (combustion treatment) atau fase setelah proses pembakaran (past-combustion treatment). Ketiga fase desulfurisasi ini dilakukan secara keseluruhan jika memang dianggap perlu. Beberapa teknologi desulfurisasi batubara secara fisika yang saat ini telah diterapkan dan sedang dikembangkan antara lain desulfurisasi dengan metode flotasi, desulfurisasi batubara dengan selektif flokulasi dan magnetic separation. Sedangkan desulfurisasi batubara secara kimia antara lain desulfurisasi dengan menggunakan : etanol, oksidasi selektif, asam sulfonat triflorometan (TFMS), larutan barium klorida, dan menggunakan larutan besi sulfat (Demirbas, A, 2002). Desulfurisasi secara kimia menggunakan pereaksi besi sulfat cukup efektif untuk mengurangi kadar sulfur khususnya sulfur anorganik (pirit) dalam batubara. Keuntungan proses ini adalah larutan Fe2(SO4)3 memungkinkan direcovery untuk didaur ulang sehingga bisa menghemat biaya produksi, tetapi laju reaksinya relatif lambat pada suhu kamar (Aladin, dkk 2002). 2.2 Desulfurisasi secara flotasi Pada penelitian ini disamping penurunan sufir (desulfurisasi) sebagai tujuan utama penelitaian, penurunan kadar abu (deashing) dalam batubara perlu pula mendapat perhatian, sebab kandungan abu ini berpengaruh terhadap nilai kalor betbuara yang bersangkutan, makin rendah kandungan abu dalam batubara maka makin tinggi nilai kalorinya (Peele and Chrush, 1941). Flotasi merupakan metode fisika yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini sebab disamping cukup efektif dalam pemisahan sulfur dari batubara (demirbas A,2002). metode flotasi sekaligus dapat menurunkan kadar abu batubara tersebut (mandasini dan aladin, 2003). Flotasi berlangsung pada suatu sistem yang terdiri dari partikel berukuran halus, air, udara dan beberapa pereaksi kimia (kolektor). Keempat komponen tersebut saling berinteraksi baik secara fisik maupun secara kimia sedemikian rupa sehingga terjadi pemisahan antara komponen hidrofobik (anti air) dan komponen hidrofilik (suka air). Biasanya komponen hidrofobik densitasnya lebih rendah dari komponen hidrofilik sehingga komponen ini cenderung terapung, sementara komponen hidrofilik akan berada di bagian bawah. Dalam sistem flotasi, partikel berukuran halus yang bersifat hidrofobik atau dibuat hidrofobik oleh kolektor dapat menempel dipermukaan gelembunggelembung udara yang sengaja diciptakan, sehingga dengan demikian partikel halus tersebut akan lebih mudah mengapung bersama media gelembung udara (Mandasini dan Aladin, 2003).