Anda di halaman 1dari 36

1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. C DENGAN OMSK (OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK) DI POLI THT RSUD CIAWI

Untuk memenuhiTugasPKKD di RSUD KabupatenCiawi

Disusunoleh : KELOMPOK I AYU WULANDARI ERSA FAUJI MELANI ARFANA OKKY RIZKY RAMDANI SUMIATI P17320312012 P17320312024 P17320312039 P17320312054 P17320312073

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG PROGAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR


Jl. Dr. Semeru No. 116 Bogor Barat, Kota Bogor

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan lancar dan selesai tepat pada waktunya. Makalah PKKD yang berjudul dan membahas ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. C DENGAN OMSK (OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK)ditunjukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti PKKD di RSUD Ciawi Kabupaten Bogor.Dalam pembuatan makalah ini kami sudah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin dan penuh denga kesungguhan dan ketelitian.kami berharap makalah kami dapat bermanfaat umtuk semua mahasiswa khususnya untuk kelompok kami. Akhir kata Kami berharap semoga makalah in dapat berguna bagi Kami dan semua pihak yang memerlukannya khususnya untuk bahan pembelajaran.

Bogor, desember 2013

Penulis

Kelompok I

ii

DAFTAR ISI

Kata pengantar............................................................................................................................................... i Daftar Isi ........................................................................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 1 A. B. C. a. b. c. BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................................................................... 6 A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. BAB III TINJAUAN KASUS ........................................................................................................................................ 20 A. B. C. D. E. PENGKAJIAN ................................................................................................................................ 20 ANALISA DATA ............................................................................................................................. 23 DIAGNOSA KEPERAWATAN ......................................................................................................... 24 RENCANA KEPERAWATAN ........................................................................................................... 25 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN .................................................................................................. 28 Pengertian ..................................................................................................................................... 6 Klasifikasi ....................................................................................................................................... 7 Etiologi ........................................................................................................................................... 7 Tanda dan Gejala ........................................................................................................................... 8 TANDA KLINIS .............................................................................................................................. 10 Pemeriksaan Diagnostik .............................................................................................................. 11 Patofisiologi ................................................................................................................................. 13 Pathway ....................................................................................................................................... 15 Komplikasi.................................................................................................................................... 16 Penatalaksanaan Medis ............................................................................................................... 16 Latar Belakang ............................................................................................................................... 1 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 3 Tujuan ............................................................................................................................................ 3 TujuanUmum ................................................................................................................................. 3 TujuanKhusus ................................................................................................................................ 3 Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 4

iii BAB IV.......................................................................................................................................................... 30 PENUTUP ..................................................................................................................................................... 30 A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 30

Daftar pustaka............................................................................................................................................. 31

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan)molekul-molekul udara yang berselang seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan molekul tersebut. (Sherwood, 2001).

Sewaktu suatu gelombang suara mengenai jendela oval, tercipta suatu gelombang tekanan di telinga dalam.Gelombang tekanan menyebabkan perpindahan mirip-gelombang pada membrane basilaris terhadap membrane atektorium.Sewaktu menggesek membrane atektorium, sel-sel rambut tertekuk.Hal ini menyebabkan terbentuknya potensialaksi. Apabila deformitasnya cukup signifikan, maka saraf-saraf aferen yang bersinaps dengan sel-sel rambut akan terangsang untuk melepaskan potensi alaksi dan sinyal disalurkan keotak (Corwin, 2001).

Proses mendengar pada anak atau orang dewasa normal merupakan proses yang alami, timbul tanpa usaha tertentu dari individu dan sepertinya terjadi secara otomatis dan tanpa kita sadari, padahal untuk dapat mendengar bunyi atau suara percakapan harus melalui suatu tahapan atau proses.

Proses mendengar sebenarnya sudah terjadi segera setelah bayi dilahirkan normal ke dunia, bahkan organ pendengaran sudah berfungsi seperti layaknya orang dewasa tatkala janin berusia 20 minggu kehamilan. Janin sudah dapat memberikan reaksi ketika diberikan stimulus berupa nada murni berfrekwensi tinggi melalui microphone yang ditempatkan pada perut ibu seperti
1

yang dilaporkan pertama kali oleh seorang peneliti yang bernama Johansson et al pada tahun 1964.

Kemudian dalam perjalanan hidupnya sejak dilahirkan, bayi akan mendapat input suarasuara yang ada dilingkungan sekitarnya sehari-hari secara terus menerus. Dalam keadaan pendengaran normal, rangsangan suara tadi akan direkam dan dipersepsikan dipusat sensorik diotak sehingga anak dapat mengenal suara yang pernah didengarnya.

Pendengaran sebagai salah satu indera, memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan bicara sebagai komponen utama komunikasi pada manusia sangat tergantung pada fungsi pendengaran.Dari uraian diatas sangatlah jelas hubungan antara kemampuan anak untuk mendengar dan kemampuan untuk berbicara. Apabila terjadi gangguan pendengaran sejak dini maka akan terjadi pula gangguan perkembangan bicara.

Otitis Media kronik adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001). Otits media akut (OMA) dapat terjadi kare beberapa faktorpenyebab, seperti sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab utama darikejadian otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tubaeustachius terganggu), ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), dan bakteri( Streptococcus peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis,dan bakteri piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris).

Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa sekitar 9,3 juta anak-anak mengalami serangan OMSK pada 2 tahun pertama kehidupannya (Berman, 1995).Menurut Teele (1991) dalam Commissoet al. (2000), 33% anak akan mengalamisekurang-kurangnya satu episode OMSK pada usia 3 tahun pertama. Terdapat 70%anak usia kurang dari 15 tahun pernah mengalami satu episode OMSK (Bluestone,1996). Faktanya, ditemukan bahwa otitis media menjadi penyebab 22,7% anak-anak pada usia dibawah 1 tahun dan 40% anak-anak pada usia 4 sampai dengan 5tahun yang datang berkunjung ke dokter anak. Selain itu, sekitarsepertigakunjungan ke dokter didiagnosa sebagai OMSK dan sekitar 75% kunjungan balik ke dokter adalah untuk followuppenyakit otitis media tersebut (Teeleet al.,1989).

Menurut Casselbrant (1999) dalam Titisari (2005), menunjukkan bahwa19% hingga 62% anak-anak mengalami sekurang-kurangnya satu episode OMSK dalam tahun pertama kehidupannya dan sekitar 50-84% anak-anak mengalamipaling sedikit satu episode OMSK ketika ia mencapai usia 3 tahun. Di AmerikaSerikat, insidens OMSK tertinggi dicapai pada usia 0 sampai dengan 2 tahun,diikuti dengan anak-anak pada usia 5 tahun.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksudOMSK ? 2. Bagaimana pendokumentasian pada klien OMSK ?

C. Tujuan a. TujuanUmum Untuk mengetahuan asuhan keperawatan pada pasien dengan OMSK (Otitis Media Supuratip Kronik).

b. TujuanKhusus a. Mampu memahami definisi pada penyakit OMSK b. Mampu memahami etiologi OMSK c. Mampu menjelaskan tanda dan gejala OMSK d. Mampu menjelaskan patofisiologi pada penyakit OMSK e. Mampu menjelaskan pathways keperawatan pada penyakit OMSK f. Mampu melakukan pengkajian untuk mengetahui keluhan pasien dan fokus untuk menentukan masalah yang terjadi pada pasien OMSK g. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien OMSK h. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan yang diberikan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada pasien OMSK

i. Mampu mengimplementasikan tindakan keperawatan yang telah disusun untuk mengatasi masalah pada pasien OMSK j. Mampu mengevaluasi hasil akhir dari implementasi.

c. Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data Metode yang dipakai dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah dengan menggunakan penulisan diskriptif yaitu menggambarkan bagaimana suatu proses

keperawatan pada klien dengan OMSK. Pendekatan proses keperawatan terdiri dari pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Adapun teknik penulisan yaitu pengumpulan data dengan melakukan observasi kemudian menggambarkannya dengan memaparkan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah, sedangkan untuk mengumpulkan data sebagai berikut : 1. Observasi Partisipatif Dengan menggunakan pengamatan langsung dan berperan serta selama perawatan yakni dengan mengamati keadaan umum perkembangan penyakit pasien, penatalaksanaan dan pengobatan berperan serta aktif memberikan asuhan keperawatan. 2. Wawancara Melakukan kegiatan untuk mendapatkan keterangan langsung dengan menggunakan tanya jawab kepada pasien, keluarga pasien, perawat ruangan, dokter, atau kesehatan lainnya. 3. Pemeriksaan Data Fokus Pemeriksaan adalah ketrampilan dasar yang digunakan selama pemeriksaan antara lain inspeksi, palpasi, yang memungkinkan perawat memperoleh data fokus dari klien. 4. Studi Dokumenter Pengumpulan data tentang keadaan pesien dari catatan medik, catatan perawatan, hasil laboratorium, serta pemeriksaan lain.

5.

Studi Kepustakaan Metode pengumpulan data dengan mempelajari sumber tertulis berupa buku yang ada hubungannya dengan materi yang bersifat dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah dan melalui akses internet.

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Pengertian Otitis media supuratif kronis (OMSK), dahulu disebut otitis media perforata (OMP) atau dalam bahasa awam disebut sebagai congek, ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah, baik terus-menerus atau hilang timbul. Penyakit ini muncul sebagai kelanjutan dari OMA yang rekuren, namun dapat pula muncul sebagai kelanjutan dari penyakit lain dan trauma. OMA dengan perforasi membran timpani akan menjadi OMSK apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, maka disebut OMS subakut. Perbedaan OMSK dengan otitis media serosa kronis adalah bahwa pada otitis media serosa kronis tidak disertai adanya perforasi membran timpani.

Penyakit ini sudah dikenal sejak jaman dahulu di berbagai belahan dunia. Orang Mesir kuno mengenal OMSK sebagai penyakit telinga dan mengobatinya dengan lemak bebek, boraks, dan susu sapi. Sementara ahli pengobatan tradisional India mengobati penyakit ini melalui pendekatan medis dan perilaku. Mereka menganggap bahwa mengkonsumsi mentega, bersikap diam, dan mencegah kelelahan, dapat mengobati OMSK. Hippocrates memahami bahwa OMSK dapat bersifat rekuren dan menempatkan pasien pada terapi medis dan perilaku yang berbeda tergantung dari supurasi yang terjadi. Dia akan meresepkan air hangat, air susu ibu, dan minuman anggur manis, serta menyarankan kepada pasiennya untuk menghindari sinar matahari, angin kencang, dan ruangan berasap. Untuk kasus rekuren, Hippocrates akan menambahkan serbuk topikal berisi timbal oksida dan timbal karbonat.

McKenzie dan Brothwell (1967) menyatakan tentang dokumentasi OMSK pada jaman prasejarah dan penemuan kolesteatoma pada tulang tengkorak di Norfolk, Inggris, yang diduga berasal dari periode Anglo-Saxon. Perubahan radiologi pada mastoid akibat infeksi ditemukan pada 417 tulang temporal dari pemakaman orang Indian Dakota Selatan (Gregg, 1965) dan pada 15 tulang temporal orang Iran jaman prasejarah (Rathbun, 1977).

B. Klasifikasi OMSK dibagimenjadi 2 jenis yaitu : 1. OMSK tipebenigna (tipemukosa = tipeaman) Proses peradangan terbatas pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang.Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang

menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatom.

2. OMSK tipemaligna (tipetulang = tipebahaya) OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi terletak pada margina atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma dengan perforasi subtotal. Sebagian komplikasi yang berbahaya atau total timbul pada atau fatal, timbul pada OMSK tipe maligna.

C. Etiologi Mekanisme infeksi saluran telinga tengah terjadi akibat translokasi bakteri dari saluran telinga luar melalui perforasi membran timpani kemudian masuk ke telinga tengah. Beberapa ahli menduga bahwa organisme patogen masuk melalui refluks tuba Eustachius, namun datadata yang mendukung teori ini kurang memuaskan. Sebagian besar bakteri patogen yang masuk adalah bakteri yang terdapat pada saluran telinga luar.

Beberapa penelitian yang berupaya menunjukkan hubungan antara frekuensi penyakit dengan pendidikan orang tua, perokok pasif, pola menyusui, status sosioekonomi, dan jumlah infeksi saluran pernafasan atas dalam setahun, tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Pasien dengan anomali kraniofasial merupakan populasi khusus yang berisiko untuk menderita OMSK. Celah palatum, sindrom Down, sindrom Cri du Chat, atresia khoana, celah bibir, dan mikrosefal adalah berbagai kelainan yang dapat meningkatkan risiko OMSK. Hal ini diduga karena adanya perubahan anatomi dan fungsi tuba Eustachius pada berbagai kelainan tersebut.

Jenis bakteri penyebab OMSK berbeda dengan jenis bakteri penyebab OMA. Organisme yang biasa ditemukan pada OMSK meliputi Pseudomonas aeruginosa, spesies Proteus, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, difteroid, dan infeki anaerobik campuran. Bakteri anaerob dan jamur dapat pula berkembang bersama dengan bakteri aerob secara simbiotik.2,5

Pseudomonas aeruginosa merupakan penyebab tersering yang ditemukan pada OMSK. Berbagai ahli selama beberapa dekade terakhir menemukan bakteri ini pada 48 98 % pasien dengan OMSK. Stafilokokus aureus merupakan organisme tersering kedua; data menunjukkan bahwa bakteri ini ditemukan pada 15 30 % pasien dengan OMSK. OMSK juga disebabkan oleh berbagai jenis bakteri gram negatif. Bakteri spesies Klebsiella (10 21 %) dan Proteus (10 15 %) sedikit lebih sering ditemukan pada OMSK dibandingkan dengan bakteri gram negatif lainnya.

Selain faktor bakteri, status sosioekonomi yang rendah, kepadatan penduduk yang tinggi, gizi buruk, dan penyakit infeksi (seperti campak), turut berperan dalam perkembangan OMSK. OMSK dapat pula merupakan hasil dari predisposisi genetik, terutama berkaitan dengan disfungsi tuba Eustachius. Disfungsi ini dapat dilihat pada berbagai populasi, seperti pada orang Eskimo dan Indian Amerika, dan juga pada orang dengan celah palatum. Hipertrofi adenoid dan sinustis kronis juga berperan pada perkembangan OMSK.

D. Tanda dan Gejala Pasien mengeluh otore, vertigo, tinitus, rasa penuh ditelinga atau gangguan pendengaran. (Arif Mansjoer, 2001 : 82). Nyeri telinga atau tidak nyaman biasanya ringan dan seperti merasakan adanya tekanan ditelinga. Gejala-gejala tersebut dapat terjadi secara terus menerus atau intermiten dan dapat terjadi pada salah satu atau pada kedua telinga. (www.health central.com, 2004).

1. Telinga berair (otorrhoe) Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh

perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekretbiasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.

2. Gangguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanyadijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. 3. Otalgia ( nyeritelinga) Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat

10

berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.

4. Vertigo Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhanvertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah.

E. TANDA KLINIS Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna : a. b. c. d. Adanya Abses atau fistelretroaurikular Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk( aromakolesteatom) Fotorontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

11

F. Pemeriksaan Diagnostik Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagaiberikut :

1.

Pemeriksaan Audiometri

Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah. Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea. Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang berat, dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan ( audiometri atau test berbisik). Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekivalen dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut ISO 1964 dan ANSI 1969.

Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran Normal Tuliringan Tulisedang Tulisedangberat Tuliberat Tuli total : -10 dB sampai 26 dB : 27 dB sampai 40 dB : 41 dB sampai 55 dB : 56 dB sampai 70 dB : 71 dB sampai 90 dB : lebihdari 90 dB.

Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bias membantu :

12

a. b.

Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif30-50 dB apabila disertai perforasi.

c.

Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.

d.

Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.

Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengarandengan menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan maskingadalah dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur.

2.

Pemeriksaan Radiologi.

Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilaidiagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri. Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberi kesan kolesteatom. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah : a. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dariarah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang skleritik, sinus

gambaranradiografiinisangatmembantuahlibedahuntukmenghindariduraatau lateral.

b. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. c. ProyeksiStenver, memperlihatkan gambaran sepanjang pyramid petrosu sdan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semi sirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat kolesteatom. d. Proyeksi Chause III, member gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan

13

dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semi sirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya penyakit mastoid. G. Patofisiologi OMSK timbul sebagai kelanjutan dari infeksi akut yang berulang. Patofisiologi OMSK diawali dengan iritasi dan inflamasi subsekuen pada mukosa telinga tengah. Respon inflamasi menyebabkan edema mukosa. Proses peradangan yang berlangsung pada akhirnya menyebabkan ulserasi mukosa dan kerusakan epitel. Upaya tubuh untuk menanggulangi infeksi atau peradangan menghasilkan jaringan granulasi yang dapat berkembang menjadi polip dalam rongga telinga tengah.Siklus inflamasi ulserasi infeksi dan pembentukan jaringan granulasi dapat terus berlanjut sehinggamenyebabkan kerusakan tulang di sekitarnya dan akhirnya menyebabkan berbagai komplikasi dari OMSK. Walaupun belum terbukti, kepentingan hubungan antara bakteri anaerob dengan bakteri aerob pada OMSK diduga meningkatkan virulensi infeksi ketika kedua jenis bakteri tersebut berkembang di telinga tengah. Dengan memahami mikrobiologi penyakit ini, ahli kesehatan dapat mengembangkan suatu rencana penatalaksanaan dengan efikasi terbaik dan morbiditas terendah

1.

Jenis

OMSK dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu OMSK tipe benigna (tipe mukosa = tipe aman) dan OMSK tipe maligna (tipe tulang = tipe bahaya). Berdasarkan aktifitas sekret yang keluar, dikenal juga OMSK aktif dan OMSK tenang. OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif, sedangkan OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering.

roses peradangan pada OMSK tipe benigna terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatoma.

14

Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang. Perforasi pada OMSK tipe maligna letaknya marginal atau di atik, terkadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya timbul pada OMSK tipe maligna.

15

H. Pathway

Invasi bakteri

Infeksi telinga tengah

Proses peradangan

Peningkatanproduk si cairan serosa

Tekanan udara telinga tengah (-)

Terdapatkolesteatompad atelingatengah

Nyeri Akumulasi cairan mukus dan serosa Retraksi membran timpani Ketidaktauan klien mengenai pentingnya kebersihan telinga

Hantaran udara/suara yang diterima menurun

Sekret berbentuk nanah dan bau khas

Gangguan persepsi sensori

Otore=PUS pada MAE (Kental/Busuk)

Gangguan citra tubuh

cemas

16

I. Komplikasi Kerusakan yang permanen dari telinga dengan berkurangnya pandangan atau ketulian. Mastuiditis Cholesteatoma Absesapidural (peradangandisekitarotak) Paralisiswajah Labirintitis.

Menurut Arief Mansjoer, dkk. 2001 halaman 82 : Paralisis nervus fasialis, fistula labirin, labirinitis, labirinitis supuratif, petrositis, tromboflebitis sinus lateral, abses ekstra dural, abses subdural, meningitis, abses otak, dan hidrosefalus otitis.

J.

Penatalaksanaan Medis Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret

yang keluar tidak cepat mengering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh beberapa keadaan, yaitu: 1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar. 2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal. 3. Sudah terbentuk jaringan patologis yang ireversibel dalam rongga mastoid. 4. Gizi dan higienis yang kurang.

a.

Medikamentosa Prinsip terapi OMSK tipe benigna ialah konservatif atau dengan

medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus-menerus, maka diberikan obat pencuci telinga berupa larutan H2O2 3 % selama 3 5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu, Djaafar (2004) menganjurkan agar obat tetes telinga tidak diberikan terus-menerus

17

lebih dari 1 atau 2 minggu, atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin, atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap penisilin), sebelum tes hasil resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin, dapat diberikan ampisilin asam klavulanat. b. Pembedahan

Indikasi pembedahan pada OMSK adalah sebagai berikut: Perforasi yang bertahan lebih dari 6 minggu. Otore yang berlangsung lebih dari 6 minggu setelah menggunakan antibiotik. Pembentukan kolesteatoma. Bukti radiografi adanya mastoiditis kronis. Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatoma, sarana yang tersedia, serta pengalaman operator. Beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain:

1.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy). Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan

konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini, dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologis. Tujuannya ialah agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini, fungsi pendengaran tidak diperbaiki. 2. Mastoidektomi radikal. Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatoma yang sudah meluas, Pada operasi ini, rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologis. Dinding batas antara lubang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologis dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol agar tidak terjadi infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali sehingga dapat menghambat pendidikan atau karir pasien.

18

Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatal plasty yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus luar lubang telinga menjadi lebar.

3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi. (Operasi Bondy). Opeasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior lubang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologis dari rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

4. Miringoplasti. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membrana timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Opearasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani.

5. Timpanoplasti. Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta

memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini, dilakukan rekonstruksi membran timpani dan rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan, maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V. Sebelum rekonstruksi dikerjakan, dilakukan terlebih dahulu eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang operasi ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 12 bulan.

6. Pendekatan kombinasi timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty). Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe maligna atau OMSK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas.

19

Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior lubang telinga). Pembersihan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan melalui dua jalan (combined approach), yaitu melalui lubang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli, karena sering terjadi kolesteatoma kambuh kembali.

BAB III TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN Hari/ Tanggal Pengkaji Ruang : 19 November 2013 : Melani Arfana : Poliklimik THT

A. 1.

Identitas Klien Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat Status perkawinan Pekerjaan No RM Diagnosis medis : Ny. C : 51 tahun : Perempuan : Islam : Kp. Sirna Galih Rt.02/02 : Kawin :: 451416 : OMSK

B.

Keluhan Utama : Klien mengatakan telinga kanannya keluar cairan dan mempengaruhi pendengaran

klien.

C.

Riwayat Kesehatan Sekarang : Klien mengatakan sudah enam bulan pendengarannya berkurang dan ditelinga

kanannya keluar cairan klien merasa malu atas penyakitnya karena seringnya mengeluarkan bau yang tidak enak.

D.

Riwayat Kesehatan yang Lalu Klien mengatakan sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama dan dia berobat

tetapi tidak ditindaklanjuti pengobatannya.


20

21

E.

Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang memiliki penyakit yang sama seperti

klien

F.

Pemeriksaan Fisik : 1. Tingkat Kesadaran :

a. Kualitas : ComposMentis b. Kuantitas : Respon Motorik Respon Verbal :6 :5 +

Respon Membuka Mata : 4 Jumlah : 15

2.

Tanda-tanda vital : : 38C :78 x/menit :20 x/menit : 110/70 mmHg

Suhu Nadi Pernafasan Tekanan Darah

G.

Data Fokus Telinga kanan bentuk telinga simetris , setelah dilihat dengan menggunakan otoskop terdapat cairan berupa nanah dan terdapat perforasi adanya nyeri tekan. Telinga kiri Bentuk telinga simetris setelah dilihat menggunakan otoskop terdapat penumpukan pada membran timpani , adanya lesi

serumen tidak ada perforasi pada membran timpani tidak ada lesi tidak ada nyeri tekan.

22

H. Data Psikologi Klien mengatakan malu dengan keadaanya sekarang

I.

Data Sosial Klien tampak bersikap kooperatif dengan dokter dan perawat saat dilakukan tindakan.

J.

Data Spiritual Klien selalu berdoa agar cepat sembuh

K.

Therapy -Pertelinga - Forumen Ear Drops 10cc - Otopain 3tetes/hari 4x1 (3-5tetes)

-Peroral - Volinol Kaplet 500mg 2x1kaplet

23

B. ANALISA DATA No 1 Data Senjang Ds : Klien mengatakan pendengarannya berkurang sejak dua bulan yang lalu. Do :Telinga kanan klien tampak ada penumpukan cairan dan klien tampak kebingungan apa yang dibicarakan oleh dokter dan perawat. Peningkatan produksi cairan serosa Infeksi telinga tengah Etiologi Invasi kuman/bakteri Masalah Keperawatan Gangguan persepsi sensori

Akumulasi cairan mukus dan serosa Hantaran udara/suara yang diterima menurun Gangguan persepsi sensori 2 Ds : Klien mengatakan malu dengan penyakitnya karena menimbulkan bau yang tidak enak Do : Klien tampak malu ketika diperiksa telingan kanannya Infeksi telinga tengah Ketidaktauan klien mengenai pentingnya kebersihan telinga Sekret berbentuk nanah dan bau khas Otore=PUS pada MAE (Kental/Busuk) Gangguan citra tubuh Gangguan citra tubuh .

24

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan hantaran udara/suara yang diterima menurun 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dengan bau yang keluar dari telinga kanannya.

25

D. RENCANA KEPERAWATAN Tanggal 19-1113 No Dx 1. Diagnosa Keperawatan Gangguan Tujuan Tupan : Kriteria Hasil Intervensi 1. Kajitingkatkemampuankomunikasiklien 2. Observasitandatandaawalkehilanganpendengaranlebihlanjut

Setelahdilakukanintervensidiharapkan : - Klienberpartisipasidalam program thrapy persepsi sensori Gang.persepsi - Nanah yang keluardaritelingateratasi berhubungan kembali - Mempertahankankemampuanpendengaran. dengan hantaran udara/suara yang normal Tupen : Klien

1.

2.

diterima mengalami peningkatan persepsi

menurun. Ds : Klien mengatakan pendengarannya berkurang sejak dua bulan yang lalu.

3. Anjurkanklienuntukmenggunakanteknikteknik yang amansehinggadaapatmencegahketulian yang lebihjauh

3.

pendengaran 4. Anjurkankeluarga agar berbicarpelanketikaberkomunikasidengankli en 5. Kolaborasidengandokterpemberian therapy

4.

5.

Do :Telinga kanan klien

26

tampak ada penumpukan cairan dan klien tampak kebingungan apa yang dibicarakan oleh dokter dan perawat.

19-1113

2 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dengan bau

Tupan : Gangguan citra tubuh

Setelahdilakukanintervensidiharapkan : -klien tidak malu dengan keadaan penyakitnya -tidak tercium bau lagi

1. beritahu klien bahwa penyakitnya dapat diatasi. 2. Anjurkan klien untuk menggunakan antibiotik secara teratur. 3. Anjurkan klien untuk membersihkan

tidak terjadi Tupen : Cairan keluar yang pada

telinganya

yang keluar dari

27

telinga kanannya.

telinga dapat teratasi.

Ds

Klien

mengatakan malu dengan

penyakitnya karena menimbulkan bau yang tidak enak Do : Klien malu

tampak

ketika diperiksa telingan kanannya

28

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Tanggal 19-11-13 Jam No Dx 1 Implementasi 1. Kaji tingkat kemampuan komunikasi klien Evaluasi S :Klien mengatakan masih kurang Paraf

mendengar 2. Mengobservasitandatandaawalkehilanganpendengaranlebihlanj : O :Telinga kanan klien tampak ada ut penumpukan cairan dan klien tampak kebingungan apa yang 3. Menganjurkan klienuntuk menggunakanteknik-teknik yang amansehinggadaapatmencegahketulian yang lebihjauh. 4. Menganjurkankeluarga agar berbicarpelanketikaberkomunikasidengank lien 5. Berkolaborasidengandokterpemberian therapy 1. Memberitahu klien bahwa penyakitnya dapat diatasi. 2. Menganjurkan klien untuk menggunakan antibiotik secara teratur. 3. Meganjurkan klien untuk membersihkan telinganya dibicarakan perawat A : Masalah belum teratasi. P : Intervensi dihentikan oleh dokter dan

19-11-13

S :Klien mengatakan malu dengan penyakitnya karena menimbulkan bau yang tidak enak. O :Klien tampak malu ketika diperiksa telingan kanannya. A : Masalah belum teratasi

29

P :Intervensi dihentikan

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan

Dengan memperhatikan pembahasan pada bab sebelumnya, kita menjadi sadar bahwa OMSK merupakan salah satu penyakit pada telinga yang dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada berbagai organ lain apabila tidak ditangani sejak dini secara tepat. Oleh karena itu, setelah memperhatikan pembahasan pada makalah ini, kita diharapkan mampu untuk mengenali penyakit tersebut agar dapat melakukan pencegahan penatalaksaan sedini dan seoptimal mungkin. serta melakukan

30

31

DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, Z.A. 2004. Kelainan Telinga Tengah. Dalam E.A. Soepardi dan N. Iskandar, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher. Edisi V Cetakan IV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Jackler, R.K.; Kaplan, M.J. 2002. Ear, Nose, & Throat. Dalam L.M. Tierney, Jr., S.J. McPhee, dan M.A. Papadakis; Current Medical Diagnosis & Treatment 2002. San Fransisco: Lange Medical Books / McGraw-Hill. Jain, A.; Knight, J.R. 2003. Middle Ear, Chronic Suppurative Otitis, Surgical Treatment. www.emedicine.com: situs internet. Jones, M.; Wilson, L. 2004. Otitis Media. www.emedicine.com: situs internet. Parry, D.; Roland, P.S. 2005. Middle Ear, Chronic Suppurative Otitis, Medical Treatment. www.emedicine.com: situs internet.

32 Catatan konsul Tanggal Revisi Paraf