Anda di halaman 1dari 106

PERATURAN LINGKUNGAN HIDUP YANG TERKAIT DENGAN KEGIATAN MIGAS

HIRARKI PERATURAN DI INDONESIA


UUD 1945

Ketetapan MPR (TAP MPR)


Undang-Undang Peraturan Khusus Pengganti Undang-undang

Peraturan Pemerintah
Keputusan Presiden Peraturan Daerah - Provinsi
Kotamadya/Kabupaten

Emisi ke Udara:
PP 41/1999 Kepmen/Perda yang terkait dengan : BM Emisi, BM Kebisingan BM Getaran

Menghasilkan Limbah B3:


PP 18 Jo PP 85/1999 Kepmen/Perda atau aturan terkait dengan Transport LB3, Penyimpanan LB3 Pengolahan LB3 Pemusnahan LB3

Pembuangan ke
Air/Laut: PP 82/2001

KEGIATAN
Menggunakan bahan kimia/B3:
PP 74/2001
Kepmen/Perda atau aturan terkait dengan Pengankutan B3, Penyimpanan B3 Impor B3

PP 19/1999 Kepmen/Perda atau aturan yang terkait dengan BM efluen Ijin Pembuangan BM Air Laut/Sungai

KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI DAN PERSYARATAN LINGKUNGAN

UKL UPL

AMDAL

RKL-RPL VHSE-MS

QHSE-MS
Studi Lingkungan

Izin

Baku Mutu Lingkungan

CD

Perubahan dalam Rancangan dan Proses

REVISI AMDAL

Perubahan dalam Kapasitas Produksi Pengembangan Lapangan Baru

Monitoring dan Pelaporan Berkelanjutan

KEGIATAN MIGAS DAN PERATURAN TERKAIT


Aspek Lingkungan:
Pemakaian Bahan Kimia Exploration
PP74/2001: Permen LH 03/2008

UKL/UPL

Pembuangan Lumpur Bor

PP 19/1999 Permen ESDM 45/2006

Drilling
Development

Emisi Gas buang Mesin2

PP 41/1999 Kep 129/2003 Kep 13/2009

AMDAL

Limbah Cair Domestik

Permen 04/2007 Kepmen 112/2003

Pergub 122/2006

Limbah Padat Domestik

MARPOL 73/74 PP 19/1999

Limbah B3

PP 18 jo PP 85/1999

KepDal No 01-05/1995

KEGIATAN MIGAS DAN PERATURAN TERKAIT


Pemakaian Bahan Kimia
PP74/2001: Permen LH 03/2008

Air Terproduksi

Permen 04/2007 PP 41/1999 Kep 129/2003 Kep 13/1995

EKSPLOITASI DAN PRODUKSI

Emisi Gas buang Mesin2

Limbah Cair Domestik Wajib AMDAL bila: Produksi > 15.000 BOPD 90 MMSCFD Limbah Padat Domestik

Permen 04/2007
Kepmen 112/2003 Pergub 122/2006

Marpol 73/74 PP 19/1999

Pasang Pipa > 100 KM


Tekanan Pipa > 16 bar Limbah B3

PP 18 jo PP 85/1999 KepDal No 01-05/1995

Kebisingan

Kepmen 48/1996

PP 27/1999

Apa yang dimaksud dengan AMDAL?


Analisis yang dilakukan untuk memperkirakan dampak yang akan terjadi apabila suatu kegiatan dilakukan Siapa yang melakukan AMDAL?

Apa bedanya dengan ANDAL?


Terdiri dari apa saja AMDAL? Apakah RKL/RPL? Apa kewajiban perusahaan sehubungan dengan PP 27 ini?

PASAL-PASAL PENTING DALAM ATURAN AMDAL


Jenis usaha yang mempunyai dampak besar dan penting wajib dilengkapi dengan AMDAL Jenis-jenis kegiatan yang wajib AMDAL ada di Kepmen LH No. 11/2003 Jenis kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting wajib melakukan UKL/UPL AMDAL, UKL/UPL sebagai salah satu syarat dalam perijinan AMDAL dapat dikecualikan untuk kegiatan penanggulangan situasi darurat AMDAL kadaluarsa bila terhitung selama 3 tahun sejak dokumen disetujui proyek belum dilaksanakan Setelah AMDAL disetujui, permrakarsa wajib melaporkan pelaksanaan RKL/RPL

PASAL-PASAL PENTING DALAM ATURAN AMDAL


Rencana studi AMDAL maupun hasilnya disosialisasikan kepada masyarakat sekitar kegiatan
AMDAL dibatalkan apabila pemrakarsa merubah desain, proses, kapasitas, bahan baku, bahan penolong

Apabila terjadi perubahan tersebut diatas, maka perlu dilakukan AMDAL atau revisi AMDAL yang ada saat ini.

Usaha dan/atau Kegiatan Bebas AMDAL

Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan AMDAL (hanya wajib melakukan pengendalian dampak dan perlindungan fungsi lingkungan sesuai dengan RKL dan RPL kawasan)
Misalnya rencana pendirian pabrik di kawasan industri yang sudah melakukan AMDAL

Kriteria Usaha dan/atau Kegiatan Tidak Layak Lingkungan


Dampak penting dan besar negatif tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia
Biaya penanggulangan dampak penting dan besar negatif lebih besar dari manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan

usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan

Kadaluwarsa dan Batalnya Keputusan


Kadaluwarsa
bila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut.

Batal
Bila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya;
Bila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong; Bila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam dan atau karena akibat lain

Pelaporan Pelaksanaan RKL dan RPL


Pelaporan disampaikan kepada:
instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan

Gubernur
Bupati/Walikota

Ketentuan Lain Berkenaan dengan AMDAL

AMDAL dapat dilakukan secara:


(1) tunggal; (2) terpadu; (3) kegiatan dalam kawasan Penerbitan keputusan kelayakan paling lama 75 hari kerja sejak disampaikannya dokumen ANDAL, RKL, dan RPL.
Penyampaian dokumen ANDAL, RKL, dan RPL ke komisi penilai; penilaian secara teknis; konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan; penilaian oleh komisi penilai; penerbitan keputusan.
Bila melampaui 75 hari maka kegiatan dianggap layak lingkungan.

Usaha dan/atau kegiatan tidak wajib AMDAL wajib membuat UKL dan UPL (Kepmen LH 86/2002)

Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL (Kepmen LH 11/2006)

Onshore:
Produksi >= 5000 BOPD Gas >= 30 MMSCFD

Offshore:
Produksi >= 15.000 BOPD Gas >= 90 MMSCFD Transmisi Pipa >= 100 Km Pressure >= 16 bar

Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL


Ditetapkan dalam Lampiran PER MENLH Nomor 11 Tahun 2006, kecuali: 1. Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran Keputusan ini dapat ditetapkan Wajib AMDAL apabila atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi lingkungan setempat diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. Penetapan tersebut dilakukan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk DKI Jakarta.
2. Jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak termasuk dalam Lampiran Keputusan ini tetapi berbatasan dengan lokasi kawasan lindung wajib dilengkapi dengan AMDAL Jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya 5 tahun sekali

KAPAN AMDAL DIPERLUKAN??


Kegiatan/Proyek Baru

Dampak Penting
(based on MoE decree no. 11)

Menyusum YA STUDY ANDAL

Dokumen RKL/RPL

Dinilai Oleh KOMISI AMDAL

NO Menuiapkan UKL/UPL

Disosialisasikan kepada masyarakat

Disetujui Oleh Menteri KLH

IMPLEMENTASI RKL/RPL Disetujui Oleh DIR.JEN MIGAS


Dilaporkan Secara Berkala Kepada

LAPORAN
Pelaksanaan

(KLH, MIGAS, BPLHD,ETC.

KAPAN DIPERLUKAN REVISI AMDAL??


PROYEK BARU DI DALAM AREA YANG SUDAH ADA AMDAL

Perubahan

DESIGN/
Kapasitas/Proses/ Bahan Baku?

Konsultasi ke KLH YA

Perlu
AMDAL baru?

Revisi NO AMDAL

YES NO Konsultasi MIGAS MENYIAPKAN STUDI AMDAL INTERNAL CONTROL (SOP) Disetujui Oleh Menteri KLH IMPLEMENTASI RKL/RPL LAPORAN Disetujui Oleh Menteri KLH IMPLEMENTASI RKL/RPL LAPORAN BERKALA

Perlu UKL/UPL ?

NO

YES UKL/UPL STUDY Disetujui Oleh DIR.JEN MIGAS

BERKALA

PP 18/99 Jo PP 85/99 tentang B3

Apa yang dimaksud dengan Limbah B3? Bagaimana mengetahui suatu Limbah termasuk B3 atau bukan? Apa kewajiban perusahaan dalam mentaati Peraturan mengenai Limbah B3?

Pengertian Limbah B3
Sisa suatu usaha &/atau kegiatan

yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun


yang karena sifat &/atau konsentrasinya &/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung

dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,


dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Bagaimana Suatu Limbah Disebut B3?


Berdasarkan daftar Lampiran I Peraturan Pemerintah No. 85/1999
Tabel I: daftar limbah B3 dari sumber yang tidak spesifik Tabel II: daftar limbah B3 dari sumber yang spesifik

Tabel III: daftar limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, sisa kemasan, atau buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi

Berdasarkan karakteristik (uji karakteristik)

Berdasarkan sifat toksikologi (uji toksikologi)

Yang Diatur .

Kewajiban bagi setiap penghasil limbah B3 Kewajiban badan usaha/kegiatan penghasil dan pengelola limbah B3 Ketentuan mengenai pengawas dan pengawasan dalam kegiatan pengelolaan Limbah B3 Ketentuan teknis administratif dalam kegiatan pengelolaan LB3 Ketentuan dalam penentuan limbah B3

KETENTUAN PENGHASIL LIMBAH B3

Wajib mengolah limbah atau menyerahkan kepada pengolah

Tempat penyimpanan sesuai dengan ketentuan


Melaporkan kegiatannya Dapat menjadi pengumpul, pengangkut, pemanfaat atau pengolah bila memenuhi persyaratan

Memberi label pada kemasan


Mengisi dokumen LB3 Membantu pengawas Memiliki sistem tanggap darurat

KETENTUAN BAGI PENGANGKUT

Ada ijin dari Dephub dengan rekomendasi BAPEDAL Alat angkut memenuhi ketentuan Menyerahkan dokumen muatan dan dokumen limbah Menyerahkan dokumen kepada penghasil atau pengumpul Membantu pengawas Mempunyai sistem tanggap darurat

KETENTUAN BAGI PENGUMPUL

Lokasi pengumpulan sesuai dengan persyaratan

Membuat catatan kegiatan


Melapor kepada BAPEDAL Penyimpanan tidak boleh lebih dari 90 hari sebelum diserahkan ke pengolah Ijin operasi dari BAPEDAL Membantu pengawas Ada Sistem tanggap darurat

KETENTUAN PENGOLAH / PENIMBUN

Memiliki dokumen AMDAL Berbadan Hukum Ada ijin BAPEDAL

Memiliki Laboratorium
Luas lahan Min. 1 ha dan memenuhi syarat Permeabilitas tanah Min. 10-7 cm/dt Fasilitas pengolah atau penimbun sesuai ketentuan Teknis kegiatan dan pemantauan sesuai ketentuan Memiliki sistem tanggap darurat

Issue dan Permasalahan Bahan dan Limbah B3


hujan
limpasan permukaan drum B3 infiltrasi Limbah B3 PP18 & 85/99

kebocoran B3
inflow air tanah lindi/ leachate muka air tanah

PERATURAN TERKAIT
Kep 01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tatacara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan LB3 Kep-02/BAPEDAL/09/1995 tentang Dokumen Limbah B3 Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolah LB3 Kep-04/BAPEDAL/09/1995 tentang tatacara penimbunan hasil pengolahan, persyaratan lokasi bekas pengolahan dan penimbunan LB3 Kep-05/BAPEDAL/09/1995 tentang Simbol dan Label LB3 Kep-68/BAPEDAL/05/1994 tentang tatacara memperoleh ijin penyimpanan, pengumpulan, pengoperasian alat pengolah, pengolahan dan penimbunan akhir LB3

PP 74/2001 PENGELOLAAN BAHAN B3

Karakteristik B3 dan LB3


Karakteristik Mudah meledak (Explosive) Sangat Mudah Sekali Menyala (Extremely Flammable) Sangat Mudah Menyala (Highly Flammable) Mudah Menyala (Flammable) Amat Sangat Beracun (Extremely Toxic) Sangat Beracun (Highly Toxic) B3 LB3

Beracun (Moderately Toxic)


Infeksi (Infectious)

Karakteristik B3 dan LB3


Karakteristik Karsinogenik (Carsinogenic) Teratogenik (Teratogenic) Mutagenik (Mutagenic) Korosif (Corrosive) Bersifat Iritasi (Irritant) Pengoksidasi (Oxidizing) Reaktif (Reactive) B3 * LB3

Berbahaya (Harmful)
Berbahaya Bagi Lingkungan (Dangerous to the Environment)

Pengertian Bahan Berbahaya dan Beracun


bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,

dan atau dapat membahayakan


lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001

Pengklasifikasian B3
Berdasarkan daftar: Lampiran Peraturan Pemerintah No.

74/2001

Lampiran I Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang Dipergunakan Lampiran II Tabel 1 : Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang Dilarang Dipergunakan

Tabel 2 : Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang Terbatas Dipergunakan
Berdasarkan karakteristik (uji karakteristik)

B3 Yang Tidak termasuk Lingkup PP 74/2001


Bahan Radioaktif Bahan Peledak Hasil produksi tambang serta minyak dan gas bumi dan hasil olahannya Makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya Perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetik Bahan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika dan prekursornya serta zat adiktif lainnya Senjata kimia dan biologi

Registrasi
Setiap B3 wajib diregistrasikan oleh penghasil dan pengimpor. Berlaku 1 (satu) kali untuk setiap B3 yg dihasilkan dan atau diimpor

Registrasi diajukan kepada :


B3 yang termasuk dalam lingkup PP 74/2001 diajukan kepada Instansi yang bertanggung jawab

B3 yang tidak termasuk dalam lingkup PP 74/2001 diajukan kepada Instansi yang berwenang

Notifikasi
Kegiatan yang wajib notifikasi :
Ekspor B3 yang dipergunakan
Impor B3 yang terbatas dipergunakan dan atau yang pertama kali diimpor

Notifikasi untuk kegiatan ekspor B3 diajukan kepada :


Otoritas negara tujuan ekspor Otoritas negara transit Instansi yang bertanggung jawab

Notifikasi untuk kegiatan impor B3 wajib disampaikan oleh negara pengekspor ke instansi yang bertanggung jawab.

Material Safety Data Sheet (MSDS)


Lembar Data Keselamatan Bahan
Informasi tentang keselamatan bahan Wajib dibuat oleh produsen B3

Wajib disertakan dalam pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3.

Simbol dan Label


Diberikan pada setiap kemasan B3 Wajib ada di setiap tempat penyimpanan B3 Apabila rusak wajib diberikan simbol dan label yang baru Tanggung jawab pemberian simbol B3 apabila terjadi kerusakan :
Produksi produsen/penghasil Pengangkutan pengangkut Penyimpanan penyimpan

Kewajiban Pelaku Usaha/Kegiatan


Tempat penyimpanan B3 wajib dilengkapi dengan sistem tanggap darurat & prosedur penanganan B3. B3 kadaluarsa, B3 tidak memenuhi spesifikasi dan atau bekas kemasan wajib dikelola sesuai dengan peraturan LB3 Wajib menjaga keselamatan & kesehatan kerja dengan mengikutsertakan peranan tenaga kerja Wajib dilakukan uji kesehatan secara berkala Wajib menanggulangi terjadinya kecelakaan dan atau keadaan darurat akibat B3. Wajib meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak B3 yang dapat timbul

PP 74/2001 PENGELOLAAN BAHAN B3

Penyimpan Bahan B3 wajib menyertakan lembar keselamatan bahan (MSDS)


Pengangkut wajib menggunakan sarana pengangkut yang laik operasi

Bahan B3 wajib dikemas sesuai dengan klasifikasinya


Setiap kemasan wajib diberi symbol dan label serta dilengkapi dengan MSDS Apabila kemasan mengalami kerusakan maka:
Yang masih dapat dikemas ulang, pengemasannya wajib dilakukan oleh pengedar.
Tidak dapat dikemas ulang dan dapat menimbulkan pencemaran maka PENGEDAR Wajib melakukan penanggulangan.

PP 74/2001 PENGELOLAAN BAHAN B3


Setiap tempat penyimpanan B3 wajib diberi symbol dan label dan dilengkapi dengan system tanggap darurat Setiap tempat penyimpanan B3 wajib diberi symbol dan label dan dilengkapi dengan system tanggap darurat Wajib menjaga kesehatan dan keselamatan kerja serta wajib menanggulangi kecelakaan atau keadaan darurat Bila tejadi kecelakaan, dan atau keadaan darurat, maka wajib dilakukan : Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan. Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur. Melaporkan kecelakaan kepada Pemerintah Kabupaten/kota setempat Memberikan informasi, bantuan, dan melakukan evakuasi terhadap masyarakat sekitar kejadian

PP 74/2001 PENGELOLAAN BAHAN B3

Wajib mengganti kerugian akibat kecelakaan


Memulihkan kondisi lingkungan yang tercemar

PP 82 tahun 2001

Tujuan :
Menjamin kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi ilmiahnya

Isi :
Definisi : Air adalah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan

tanah, kecuali air laut dan air fosil


Kelas I : Air baku air minum

Pengkelasan air
Kelas II : rekreasi air, budidaya ikan, peternakan, pertamanan
Kelas III : budidaya ikan, peternakan, pertanaman Kelas IV : pertanaman

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

(1)

Setiap orang yang membuang air limbah ke prasarana dan atau sarana pengelolaan air limbah yang disediakan pemerintah kabupaten/kota dikenakan retribusi Badan usaha wajib membuat rencana penanggulangan pencemaran air pada keadaan darurat dan atau keadaan yang tidak terduga lainnya dan kalau terjadi pencemaran wajib melakukan penanggulangan dan pemulihan

Apabila penanggungjawab usaha tidak melakukan penanggulangan, maka Bupati/walikota/menteri menunjuk pihak ketiga untuk melakukan penanggulangan atas biaya penanggungjawab usaha
Pihak ketiga yang melakukan penanggulangan wajib menyampaikan laporan kepada Bupati/walikota/menteri.

KEWAJIBAN PENANGGUNG JAWAB USAHA/KEGIATAN -1


Memberikan informasi tentang pelaksanaan kewajiban pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air
Membuat rencana dan melakukan penanggulangan pencemaran air dalam keadaan darurat

Melaporkan penaatan izin aplikasi air limbah pada tanah


Melaporkan penaatan izin pembuangan air limbah ke air atau sumber air minimal 3 bulan sekali Melakukan pengelolaan limbah cair yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui baku mutu limbah cair yang ditetapkan Membuat saluran pembuangan air limbah yang kedap air

KEWAJIBAN PENANGGUNG JAWAB USAHA/KEGIATAN -2

Memasang alat ukur debit atau laju alir limbah cair dan melakukan pencatatan debit harian limbah cair tersebut
Memeriksakan kadar parameter Baku Mutu Limbah Cair secara periodik minimal 1 bulan sekali

Memisahkan saluran pembuangan limbah cair dengan saluran limpahan air hujan
Melakukan pencatatan produksi bulanan Menyampaikan laporan tentang catatan debit harian, kadar parameter baku mutu limbah cair minimal 3 bulan sekali

LARANGAN TERKAIT PEMBUANGAN AIR LIMBAH

Membuang limbah padat dan atau gas ke dalam air atau sumber air
Membuang air limbah ke tanah kecuali untuk aplikasi tanah. Membuang air limbah dalam jumlah besar sekaligus dalam satu saat ke dalam air dan atau sumber air Melakukan pengenceran termasuk mencampurkan buangan air bekas pendingin ke dalam aliran pembuangan limbah cair

BAKU MUTU & STATUS MUTU AIR


Baku mutu air ditetapkan berdasarkan kelas air dan kriteria mutu air Penetapan Baku Mutu Air:
Wilayah Kabupaten/Kota dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Berada dalam dua atau lebih wilayah Kabupaten/Kota dengan Peraturan Daerah Propinsi. Berada di dua atau lebih wilayah Propinsi atau lintas batas wilayah negara ditetapkan Keputusan Menteri.

Status Mutu Air ditetapkan untuk menyatakan :


Kondisi cemar : jika mutu air tidak memenuhi baku mutu air Kondisi baik : jika mutu air memenuhi baku mutu air

IZIN APLIKASI AIR LIMBAH PADA TANAH

Melakukan penelitian aplikasi air limbah pada tanah.


Izin aplikasi air dapat diberikan apabila hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi air limbah pada tanah tidak menyebabkan:
penurunan mutu air tanah kerusakan tanah penurunan mutu air pada sumber air.

PP No. 82/2001

IZIN PEMBUANGAN AIR LIMBAH

Industri yang membuang air limbah ke air/sumber air wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran air
Industri wajib mendapat izin tertulis dari Bupati yang didasarkan pada kajian AMDAL atau UKL & UPL

Industri wajib menaati persyaratan yang ditetapkan dalam izin


Dalam persyaratan izin pembuangan air limbah wajib dicantumkan kelengkapan izin Bupati menentukan baku mutu yang diizinkan didasarkan daya tampung beban pencemaran pada sumber air

PEMANTAUAN

Pemantauan kualitas air yang dilakukan oleh pemerintah


sekurangnya 6 bulan sekali dan dilaporkan ke menteri, Industri wajib melakukan pemantauan/pengukuran :
Nilai debit harian yang keluar dari outlet Kadar parameter baku mutu limbah cair sekurang-kurangnya sebulan sekali

PELAPORAN

Pihak Industri wajib melaporkan penaatan izin aplikasi air limbah pada tanah
Melaporkan penaatan izin pembuangan air limbah ke air atau sumber air minimal 3 bulan sekali

Menyampaikan laporan tentang catatan debit harian, kadar parameter baku mutu limbah cair sekurang-kurangnya 3 bulan sekali

Baku Mutu Air Limbah

Kep-51/MENLH/1995

Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri Kep-52/MENLH/1995 Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel Kep-58/MENLH/1995 Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit Kep-42/MENLH/1996 BERUBAH MENJADI Permen 04/2007 Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Migas dan Panas Bumi Kep-112/MENLH/2003 Baku Mutu Air Limbah Domestik Kep-113/MENLH/2003 Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara

KEPMEN YANG TERKAIT PENGENDALIAN PENC. AIR (3)

Kepmen LH No. 03/1998 Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri Kepmen LH No. 110/2003 Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Sumber Air Kepmen LH No. 111/2003 Pedoman mengenai Syarat dan Tata Cara Perijinan Serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air.

KEPMEN 112/2003
Berlaku untuk kegiata Perumahan, Perkantoran, restoran (1000m), hotel, penginapan (100 orang), IPAL Terpadu, tetapi TIDAK berlaku untuk rumah tinggal individu (psl 4 & 5). Apabila ada BMLC daerah yang berlaku lebih ketat dari peraturan ini, maka perusahaan mengacu kepada peraturan daerah tersebut. Dan apabila aturan lokal lebih longgar, maka perlu disesuaikan dengan aturan ini paling lambat 1 tahun (pasal 13)

Apabila hasil studi AMDAL, UKL/UPL mensyaratkan pembuangan yang lebih ketat, maka persyaratan tersebut harus diikuti (psl 7)
Wajib mengolah limbah domestik yang dihasilkan oleh perusahaan,Membangun saluran khusus yang kedap air, Memasang alat sampling pada outlet pembuangan (pasl 8) IPAL dapat dibuat secara terpadu untuk beberapa kegiatan yang berada pada satu areal yang menghasilkan limbah domestik dan IPAL ini harus memenuhi peraturan. Pemrakarsa IPAL terpadu ini wajib memenuhi peraturan ini.

BAKU MUTU LIMBAH CAIR MENURUT KEPMEN 112/2003


PARAMETER pH BOD TSS Minyak dan Lemak SATUAN mg/l mg/l mg/l KADAR MAKSIMUM 6-9 100 100 10

KEPMEN 04/2007
Dalam Kondisi Normal :
Baku Mutu limbah tidak boleh dilampaui Wajib melakukan pengolahan limbah cair sehingga mutunya tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan Wajib memasang alat ukur debit atau laju alir limbah cair dan melakukan pencatatan debit harian limbah cair tersebut khusus untuk kegiatan pengilangan Migas Wajib memeriksa kadar Baku Mutu Limbah Cair sekurangkurangnya 1 kali sebulan Wajib menyampaikan laporan pemantauan sekurang2nya 3 bulan sekali kepada Gubernur, Menteri dan instansi teknis lainnya. Yang dipandang perlu Menyusun Prosedur Penanganan Kondisi Darurat

KEPMEN 04/2007

Dalam Kondisi Abnormal :


Melaporkan terjadinya kondisi darurat 2 X 24 Jam dan kondisi darurat 1X 20 jam kepada Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri dan instansi teknis lainnya. Menangani kondisi abnormal atau darurat dengan menjalankan prosedur yang ditetapkan

KEPMEN 04/2007
PARAMETER COD MINYAK DAN LEMAK H2S AMONIA Phenol Temperatur pH TDS Drainase ONSHORE 200 25 0,5 5 2 40oC 6-9 4000 Mg/L Minyak dan Lemak = 25 mg/L OFFSHORE 50 Deck = Tidak ada minyak bebas

Karbon Organik Total= 110 mg/L


Air Limbah Domestik Tidak ada benda mengapung/busa

Air Limbah Saniter

Chlorine = 1-2 mg/L

PP 19 TAHUN 1999
Tujuan : Mencegah atau mengurangi turunnya mutu laut dan/atau rusaknya sumber daya laut Isi : Definisi : laut adalah ruang wilayah lautan yang merupakan kesatuan

geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional

Perlindungan mutu laut didasarkan pada BM air laut, kriteria baku kerusakan dan status mutu laut

KEWAJIBAN DALAM PPKL

Setiap orang dilarang menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan laut


Kegiatan usaha yang membuang limbahnya ke laut, wajib memenuhi BM air laut, BM limbah cair, BM emisi dan ketentuan lainnya yang sesuai Setiap orang yang menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan laut wajib melakukan pemulihan mutu laut Setiap orang yang melakukan dumping ke laut wajib mendapat ijin dari menteri LH Setiap orang yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan laut wajib menanggung biaya penanggulangan dan pemulihan

KEPMEN 51/2004 Baku Mutu Air Laut


LAMPIRAN I BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK PERAIRAN PELABUHAN

LAMPIRAN II BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK WISATA BAHARI


LAMPIRAN III BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK BIOTA LAUT

Pengendalian Pencemaran Udara PP 41/1999 (lingkup)

Sumber bergerak Sumber bergerak spesifik

Sumber tidak bergerak


Sumber tidak bergerak spesifik Sumber gangguan Mutu udara ambien

Issue dan Permasalahan Pencemaran udara


stratosfer troposfer
oksidan fotokimia

penipisan lapisan ozon (protokol montreal) baku mutu udara ambien PP 41/1999

hujan asam

baku mutu emisi Kepmen LH 13/95 CFCs

gas rumah kaca (protokol kyoto)

emisi sumber bergerak Kepmen LH 35/93

partikulat gas CH4 rawa

Pengertian Pencemaran Udara


masuknya atau dimasukkannya

zat, energi, dan/atau komponen lain


ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia,

sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu


yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999

Sistem Pencemaran Udara


Antropogenik Biogenik Sumber Emisi Pencampuran & transformasi kimia Atmosfer Pengenceran Reaksi dan lain-lain Pengendalian Partikulat Gas Dampak Kesehatan Korosi Kerusakan Reseptor Manusia Tumbuhan Hewan Material

Pencemar

Kewajiban Industri dalam Pencegahan Pencemaran Udara


Menaati baku mutu udara ambien, baku mutu emisi dan baku tingkat gangguan. Melakukan upaya pencegahan dan atau penanggulangan pencemaran udara Memberikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat Penimbul emisi sumber tidak bergerak dan/atau gangguan wajib memenuhi persyaratan mutu emisi dan/atau gangguan yang ditetapkan dalam ijin melakukan usaha dan/atau kegiatan

Usaha/atau kegiatan yang wajib AMDAL harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam dokumen AMDAL

Pengendalian Pencemaran Sumber Tidak Bergerak


Penanggulangan pencemaran udara sumber tidak bergerak meliputi :
Pengawasan pada penaatan baku mutu emisi Pemantauan emisi dan mutu udara ambien di sekitar lokasi kegiatan

Industri wajib menaati BMU ambien, emisi dan baku tingkat gangguan serta menaati persyaratan teknis (Kepka Bapedal 205/1996) Baku Mutu Udara diatur dalam :
Kepmen LH no 13/1995 BME Sumber Tidak Bergerak Kepmen LH no 129/2003 BME Kegiatan Minyak dan Gas Bumi

Permen LH no 13/2008 -- Pengganti Kepmen LH 129


Kepmen LH no 133/2004 BME Kegiatan Industri Pupuk

Kewajiban Penimbul Emisi Sumber Tidak Bergerak


Khusus untuk 4 jenis kegiatan spesifik :

membuat cerobong emisi


memasang alat ukur pemantauan (kadar dan laju alir volume; arah dan kecepatan angin) melakukan pencatatan harian emisi yang dikeluarkan menyampaikan laporan hasil pemeriksaan ke Gubernur dengan tembusan ke Kepala BAPEDAL minimal 3 bulan sekali melaporkan kepada Gubernur dan Kepala BAPEDAL bila ada kejadian tidak normal atau darurat Persyaratan di atas dicantumkan dalam izin Ordonansi Gangguan

Periode Pemantauan - Industri


Pemantauan rutin berupa:
pemantauan secara terus-menerus dengan menggunakan peralatan otomatis setiap periode 6 bulan dengan menggunakan peralatan manual.

Pemantauan dalam rangka penataan/pengawasan ketentuan baku mutu emisi oleh Pemerintah Daerah/BAPEDAL minimal 6 bulan sekali Pemantauan tidak rutin yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah/BAPEDAL untuk tujuan:
pengendalian karena kasus pencemaran atau karena hasil pemantauan rutin menghasilkan data kualitas udara melampaui baku mutu yang berlaku pemeriksaan gangguan/kerusakan peralatan pengendalian, atau gangguan/kerusakan bagian peralatan/proses yang menyebabkan baku mutu emisi udara terlampaui

Lokasi Pemantauan Emisi dan Ambien


Penetapan lokasi pemantauan emisi

berdasarkan lokasi proses seperti tercantum dalam baku mutu emisi berdasarkan situasi lapangan sebagai hasil modifikasi proses produksi
Pertimbangan: arah angin, tata guna lahan, tingi cerobong, luas sebaran bahan pencemaran. Titik lokasi pemantauan pada: titik ekstrim (model dispersi atau pengamatan lapangan), pemukiman, kawasan makhluk hidup lainnya atau tempat-tempat spesifik seperti rumah sakit, purbakala benda. pada arah angin dominan lokasi pemantauan minimal dua titik dan minimal satu titik pada arah lainnya

Penetapan lokasi pemantauan ambien

Penetapan jarak titik pengambilan contohan ambien ditetapkan oleh pemerintah, pelaksanaannya tanggung jawab industri

Pemasangan Peralatan Pemantauan Emisi


Persyaratan untuk pemantauan yang terus-menerus: memantau minimal semua parameter yang ada di baku mutu emisi memantau laju alir volume emisi yang dikeluarkan Berada pada lokasi 8 diameter cerobong dari belokan, bagian bawah, atau 2 diameter dari ujung atas derobong berada pada tempat yang mudah untuk mengambil contohan; mudah terlihat lantai kerja lokasi pengambilan contohan cukup kuat untuk menjaga keamanan pengambil contohan
Kepka Bapedal 205/1996

Pelaporan Hasil Pemantauan Emisi


Laporan diserahkan kepada Gubernur dengan tembusan kepada Kepala Bapedal.

Untuk yang memiliki alat otomatis/kontiniu: 3 bulan sekali.


Untuk yang menggunakan peralatan manual: 6 bulan sekali. Insidental
kasus pencemaran kualitas udara melampaui baku mutu kerusakan gangguan alat yang menyebabkan baku mutu emisi terlampaui

Melaporkan pelanggaran atau keadaan darurat yang menyebabkan baku mutu emisi terlampaui ke Bapedal
Kepka Bapedal 205/1996

Laporan Hasil Pemantauan Emisi

Produksi perbulan
Data pemantauan kualitas udara emisi secara tidak kontinyu. Data pemantauan kualitas udara emisi secara kontinyu. Pemeriksaan terhadap peralatan pemantau serta penjelasan jika ada kerusakan. Data pemantauan kualitas udara ambien dan data meteorologi. Hasil pemantauan peralatan pengendalian pencemaran udara.

Pengendalian Sumber Bergerak


Penetapan ambang batas emisi untuk kendaraan lama berbahan bakar solar dan bensin dan sepeda motor dua langkah dan 4 langkah KepMenLH 35/1993:
Karbon Monoksida Hidrokarbon

Opasitas

Emisi dipantau pada kondisi percepatan bebas Penetapan ambang batas emisi untuk kendaraan baru dan sedang diproduksi KepMenLH 141/2003

PERATURAN YANG TERKAIT

Kepmen LH No. 35 tahun 1993 tentang Ambang Batas emisi gas buang kendaraan bermotor Kepmen LH. No 13 Tahun 1995 tentang BM Emisi sumber tidak bergerak Kepmen LH No. 48 tahun 1996 tentang BM kebisingan

Kepmen LH No. 49 tahun 1996 tentang BM getaran


Kepmen LH No. 50 tahun 1996 tentang BM kebauan Kepmen LH No. 45 tahun 1997 tentang ISPU

Kepmen LH No. 129 tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi dan atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi
Kep Ka. BAPEDAL No. 107 tahun 1997 tentang pedoman teknis pengitungan dan pelaporan serta informasi ISPU

BAKU MUTU KEBISINGAN KEPMEN 48/1996


PERUNTUKKAN KAWASAN/LINGKUNGAN KEGIATAN A. PERUNTUKAN KAWASAN 1. PERUMAHAN 2. PERDAGANGAN DAN JASA 3. PERKANTORAN DAN PERDAGANGAN 4. RUANG TERBUKA HIJAU 5. INDUSTRI 6. PEMERINTAH DAN FASILITAS UMUM 7. REKREASI 8. KHUSUS
PELABUHAN LAUT
CAGAR BUDAYA

TINGKAT KEBISINGAN dB (A) 55 70 65 50 70 60 70

70
60 55 55 55

B. LINGKUNGAN KEGIATAN 1. RUMAH SAKIT ATAU SEJENISNYA 2. SEKOLAH ATAU SEJENISNYA 3. TEMPAT IBADAH

BAKU MUTU EMISI KEGIATAN MIGAS KEPMEN 129/2003


SUMBER FLARE STACK
BOILER DAN STEAM GENERATOR

BHN BAKAR

PARAMETER OPASITAS

BME (mg/NM3) 40%

MINYAK

PARTIKULAT
SO2 NO2

300
1200 1400

Opasitas
GAS GAS TURBIN Gathering station Gas Vents GAS NO2 Opasitas NO2

40%
1000 40% 400

MINYAK

NO2
TRS (H2S) HC

600
100 5000

PermenLH 13/2009 Baku Mutu Emisi Migas


Effective : 24 April 2010
Proses Pembakaran
Proses Produksi Fugitive

Wajib Emisi

Inventarisasi
Pengelolaan Pemantauan

Pelaporan
Penanganan kondisi darurat

Inventarisasi Emisi
Sumber emisi (proses, nama/code ID, coordinat, parameter emisi)

Penghitungan Beban Emisi parameter utama & CO2.


Metode pernghitungan beban emisi. Pencatatan dan data aktifitas, emission factor, oxidation factor dan konversi.

Dokumentasi
Sampling adjustment

Inventarisasi Emisi

1. 2.

Penghitungan Beban Emisi :


Metode Perhitungan Metode Pengukuran

Pengelolaan Emisi
Penetapan penanggung jawab wajib emisi Penyediaan, operasi, pemeliharaan dan perbaikan sarana & prasarana (pencegahan & Pengolahan) sehingga emisi tidak melebimi BML (normal condition). Pencatatan kegiatan operasional (operasi, pemeliharaan dan perbaikan). Pengelolaan sumber emisi fugitive (inventarisasi, beban emisi, checking, pemeliharaan, perbaikan peralatan rutin)

Pengelolaan Emisi

Dilarang open burning


Dilarang membuang associated gas secara venting (kecuali ijin menteri) Kegiatan Venting harus di Risk Analysis dan review integrity system.

Pemantauan Emisi

CEMS
Manual

Pemantauan Emisi - CEMS

Wajib satu CEMS di sumber emisi pembakaran dengan kapasitas > 25 MW atau < 25 MW jika sulfur content > 2 %
Parameter CEMS dari sumber pembakaran : SO2, NOx, Opacity, O2, CO dan laju alir.

Menyusun QC & QA
Memenuhi BML = > 95% rata-rata harian selama 3 bulan memenuhi BML.

Pemantauan Emisi - Manual

Wajib pantau manual sumber emisi:


1. 2. 3. < 570 KW per-3 bulan 570 3 MW per tahun > 3 MW per semester

Record & documentation : Jumlah fuel, jumlah listrik yg dihasilkan, % sulfur di fuel, caloric net value, operation time, heat input.
Analysis per semester % sulfur content di fuel.

SUMBER EMISI PEMBAKARAN DAN PARAMETER PEMANTAUAN


Mesin pembakaran dalam Turbin gas Boiler, Steam Generator, Process Heater, Heater Treater Flaring

Kapasitas < 100 hp Running hour < 1,000 hour/year Utilitas untuk : Emergency, Maintenance atau peralatan dengan hour service < 200 hour/ year Perlatan untuk crane, welding dan drilling operation.

Tidak Perlu di Pantau (monitoring)

Kapasitas > 25 MW

Kapasitas < 25 MW

Bahan Bakar Minyak

Bahan Bakar Gas (note: Tanpa pengukuran partikulat)

Wajib CEMS

Yes

Yes Sulfur content > 2 % Sulfur content > 2 %

No No Sulfur content <= 0.5 % No

Pengukuran Parameter lengkap (dengan parameter SO2)

Yes Mesin pembakaran dalam <= 570 KWht NO2 CO > 570 KWht Total Partikulat NO2 CO SO2 <= 570 KWht NO2 CO > 570 KWht NO2 CO

Turbin gas

Total Partikulat NO2 SO2 Opacity Total Partikulat NO2 SO2 Opacity

NO2

Boiler, Steam Generator, Process Heater, Heater Treater

NO2 Opacity

Flaring

Opacity

Opacity

Periode Pemantauan
A.

Proses pembakaran dengan kapasitas desain:

Kapasitas <= 570 KW

Periode Pemantauan Per- 3 (tiga) Tahun

Keterangan Paling sedikit

570 KW 3 MW > 3 MW

Pertahun Per-semester

Paling sedikit Paling sedikit

B. Pengukuran Kandungan Sulfur dalam bahan bakar (Gas dan Minyak) per-semester. C. proses produksi, dilakukan paling sedikit per-semester.

Record
PENCATATAN OPERASIONAL SUMBER EMISI CNOOC SES Periode :
Fuel Unit Name Capacity Fuel Type Consumption (MSCF or KL) Sulfur Content (% mass) Net Calorie Value Heat input Running hour KWH

Pelaporan
A.

Pelaporan :

Activitas Inventarisasi Emisi

Periode Pelaporan Per Tahun

Keterangan Paling sedikit

Pemantauan CEMS Pemantauan Manual & ringkasan kondisi tidak normal


Kondisi Tidak Normal Kondisi Darurat

Per 3 bulan Per-semester


3 x 24 Jam 1 x 24 Jam 7 x 24 Jam

Paling sedikit Paling sedikit


Tertulis Verbal Tertulis

Penanganan Kondisi Darurat

Emergency procedure

Implikasi Thd CNOOC


Inventarisasi ulang (re-inventory) sumber dan besaran emisi.
Pemantauan : 1. Sulfur content on fuel (gas & diesel) 2. Frekuensi pemantauan & Parameter

3. Data operational (kapasitas & durasi)


Pelaporan : Frekuensi pelaporan Tanggap Darurat : SOP & Pelaporan

Baku Mutu Emisi Proses Pembakaran dari Mesin Pembakaran Dalam

NO

KAPASITAS

BAHAN BAKAR

PARAMETER

KADAR MAKSIMU M (mg/Nm3) 1000

METODE

570 KWth

Minyak

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Karbon Monoksida (CO)

SNI 19-7117.52005

600 400

SNI 19-7117.102005 SNI 19-7117.52005

Gas

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Karbon Monoksida (CO)

500

SNI 19-7117.102005

Baku Mutu Emisi Proses Pembakaran dari Mesin Pembakaran Dalam

NO

KAPASITAS

BAHAN BAKAR

PARAMETER

KADAR MAKSIMUM (mg/Nm3)

METODE

> 570 KWth

Minyak

Total Partikulat
Sulfur Dioksida (SO2)

150
800

SNI 19-7117.12-2005
SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA SNI 19-7117.10-2005 atau Method 3, 3A dan 3B USEPA SNI 19-7117.12-2005 SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA SNI 19-7117.10-2005 atau Method 3, 3A dan 3B USEPA

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Karbon Monoksida (CO) Gas Total Partikulat Sulfur Dioksida (SO2)

1000

600

50 150

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Karbon Monoksida (CO)

400

500

Baku Mutu Emisi Proses Pembakaran dari Turbin Gas

NO

BAHAN BAKAR

PARAMETER

KADAR MAKSIMUM (mg/Nm3) 100 650

METODE

Minyak

Total Partikulat Sulfur Dioksida (SO2)

SNI 19-7117.12-2005 SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA SNI 19-7117.11-2005 SNI 19-7117.12-2005 SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Opasitas 2 Gas Total Partikulat Sulfur Dioksida (SO2)

450

20 % 50 150

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2

450

BME Proses Pembakaran dari Ketel Uap (Boiler), Pembangkit Uap (Steam Generator), Pemanas proses (Proses Heater), Pengolahan Panas (Heater Treater)
NO BAHAN BAKAR PARAMETER KADAR MAKSIMUM (mg/Nm3) 150 1200 METODE

1.

Minyak

Total Partikulat Sulfur Dioksida (SO2)

SNI 19-7117.12-2005 SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA SNI 19-7117.11-2005 SNI 19-7117.12-2005 SNI 19-7117.3.1-2005 atau Method 6, 6C USEPA SNI 19-7117.5-2005 atau Method 7, 7E USEPA SNI 19-7117.11-2005

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Opasitas 2. Gas Total Partikulat Sulfur Dioksida (SO2)

800

20 % 50 150

Nitrogen Oksida (NOx) dinyatakan sebagai NO2 Opasitas

400

20 %

Baku Mutu Emisi Proses Pembakaran dari Unit Suar Bakar (Flaring)

NO

PARAMETER

KADAR MAKSIMUM (%) 40

METODE

Opasitas

SNI 19-7117.11-2005

Peraturan Tentang Gangguan


Kebisingan Lingkungan Kepmen LH 48/1996 - Leq industri: 70 dB(A) - Leq pemukiman: 55 dB(A) Getaran Kepmen LH 49/1996 - simpangan - frekuensi Kebauan Kepmen LH 50/1996 - obyektif - Subyektif Kebisingan Ruang Kerja Permennaker 51/1999 85 dB(A) 8 jam

PERMEN ESDM 045/2006 ONSHORE


Lumpur bekas + serbuk bor

Pemisahan serbuk bor dengan alat pemisah padatan (screening)

Lumpur bekas

Serbuk bor

Beracun 96 Hrs LC 50 < 30.000 ppm

Tidak beracun 96 Hrs LC 50 > 30.000 ppm, max oil <10%

Tidak Beracun 96 Hrs LC 50 > 30.000 ppm, dan max oil <10%

Beracun 96 Hrs LC 50 < 30.000 ppm, dan max oil > 10%

Dibuang ke laut

Dibuang ke laut

Dilakukan Pengelolaan Lebih Lanjut sesuai ketentuan yang berlaku (bio remediasi, landfill, etc.)

PERMEN ESDM 045/2006 OFFSHORE


Lumpur bekas + serbuk bor

Pemisahan serbuk bor dengan alat pemisah padatan (screening)

Lumpur bekas

Serbuk bor

Beracun 96 Hrs LC 50 < 30.000 ppm, TCLP> standard

Tidak beracun 96 Hrs LC 50 > 30.000 ppm, TCLP, max oil <1%

Tidak Beracun 96 Hrs LC 50 > 30.000 ppm, TCLP dan max oil <1%

Beracun 96 Hrs LC 50 < 30.000 ppm, TCLP>standar dan max oil > 1%

Dibuang dekat lokasi pengeboran, tidak boleh di daerah sensitif

Dibuang dekat lokasi pengeboran, tidak boleh di daerah sensitif

Dilakukan Pengelolaan Lebih Lanjut sesuai ketentuan yang berlaku (bio remediasi, landfill, etc.)

OSCP

Lokal
Area Nasional

Tumpahan minyak di salah satu KKKS area IV OSC masing2 KKKS

Notifikasi ke ADPEL terdekat (Kep. Seribu dan Cirebon)

Tumpahan ditangani di masing2 KKKS Tim PTMP masing2 KKKS

AREA OSCP
YA
Pelaporan di masing masing KKKS dan ke instansi terkait KKP 2/3

TIDAK

Dapat ditangani KKKS masing2

Meminta bantuan KKKS Lain

Notifikasi BPMIGAS/MIGAS

Mobilisasi Peralatan

Penanggulangan bersama
Tim PTMP Area IV

Dapat ditangani Tim PTMP area IV TIDAK Meminta Bantuan Tim Nasional

YA

Pelaporan ke instansi terkait KKP 2

Koordinasi dengan PUSKODALNAS

Berlaku PTMP Nasional

PERPRES 109/2007
Hal-Hal penting dari Perpress 109/2007: Apabila terjadi Tumpahan maka Siapa yang melihat harus melaporkan kepada instansi berikut:
PUSKODALNAS (Pusat Komando Pengendalian Nasional) ADPEL Dir Jen MIGAS Pemerintah Daerah (PEMDA) Lembaga Pemerintah lainnya yang dekat dengan lokasi kejadian (Article 8)

PERPRES 109/2007

Apabila Tumpahan Minyak Tidak dapat ditangani oleh Tim Nasional, maka Ketua Tim Nasional dapat meminta bantuan dari Lembaga Internasional (9)
Apabila terjadi tumpahan minya maka kewajiban KKKS adalah (Article 11):
Menangani Tumpahan Menangani dampak Lingkungan yang diakibatkan oleh tumpahan

Memberikan ganti rugi kepada masyarakat yang terkena dampak


Memulihkan kerusakan Lingkungan akibat tumpahan