Anda di halaman 1dari 22

Catatan Kuliah

Hukum Internasional
Oleh Ande Akhmad S. (A 1O99010 FH UNPA D) Dosen: Atip Latipulhayat, S.H., MH.
PENDAHULUAN Sejarah Hukum Internasional sudah dikenal sejak kerajaan-kerajaan India kuno (dalam buku Arta Sastra Gautamasutra abad VI SM, buku UU Manu pada abad V SM), juga dikenal dalam mas arakat !ahudi ("itab #erjanjian $ama), dan di !unani (dengan konsep Hukum Alamn a abad III SM)% &iplomasi merupakan sumbangan kekaisaran ' (antium, sedangkan Hukum #erang merupakan sumbangan dari dunia Islam% #erdamaian )est #halia* peristi+a terpenting dalam sejarah Hukum Internasional modern, dimana bentuk daripada mas arakat internasional ang didasarkan atas negaranegara nasional bukan atas kerajaan% !tilah Hukum 'angsa-bangsa Hukum Antar ,egara Hukum Antar 'angsa% Istilah ang digunakan untuk Hukum Internasional sebelumn a adalah Hukum 'angsa-bangsa (ius gentium)* hubungan orang -oma+i dan bukan -oma+i, dan juga bukan orang -oma+i satu sama lain, kemudian menjadi Hukum Antar 'angsa (ius inter genter) dan inilah ang selanjutn a melahirkan Hukum Internasional% &ikenal pula Hukum Internasional -egional* ini tumbuh melalui proses Hukum "ebiasaan% .uga dikenal Hukum Internasional "husus* diatur dalam kon/ensi multilateral (tidak terbatas region tertentu)%

Definisi Hukum #erdata Internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum ang mengatur hubungan perdata melintasi batas-batas negara% Hukum #ublik Intenasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum ang mengatur hubungan atas persoalan ang melintasi batas-batas negara (hubungan internasional) ang bukan bersi0at perdata% Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas ang mengatur hubungan atau persoalan ang melintasi batasbatas negara-negara antara* (1) negara dengan negara, (2) negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan negara satu sama lain% Pen"ertian Mo3htar "usumaatmadja membedakan Hukum #ublik Internasional dengan Hukum #erdata Internasional% Hukum Internasional mengurus indi/idu ang melibatkan subjek, objek hukum ang melintasi batas negara% Hukum #erdata Internasional pada dasarn a merupakan Hukum ,asional masing-masing negara* Hukum Antara 4ata Hukum% Hukum #ublik Internasional pada dasarn a tak bisa dipisahkan dari negara sebagai subjek hukum utama* kesamaann a adalah dari lintas batas negaran a, sedang perbedaann a adalah dari substansi ang diaturn a% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 !

Mo3htar "usumaatmadja menggarisba+ahi Hukum #ublik Internasional inilah ang dimaksud Hukum Internasional% "arakterisitik Hukum ,asional5 1% $a+ making (parlemen), 2% &etermination (eksekuti0), 6% $a+ en0or3ement ( udikati0)% Merupakan vertical system% Sedangkan Hukum Internasional merupakan horizontal system karena subjekn a adalah negara berdaulat ang sama-sama memiliki kekuatan berdaulat melalui kontrak sosial sehingga tidak ada apa ang dinamakan udikati0 (enforcement) atau dengan kata lain tidak ada apa ang dinamakan polisi dunia% "esejajaran itu oleh Mo3htar "usumaatmadja disebut sistem hukum ang koordinati0 (dalam kesetaraan)% ("alau /ertikal disebut subordinati0)% Menurut Mo3htar "usumaatmadja5 Hukum &unia (World Law) bersi0at sub koordinati0% Hukum Internasional bersi0at koordinati0, artin a tidak memiliki supra national body, dan apabila ada ang melanggar maka tindakan ang dilakukan han a bersi0at tindakan kolekti0 saja% Hukum Internasional sebagai tertib hukum koordinasi% Menurut Austin5 Law is a command, mengandung konsekuensi terhadap Hukum Internasional, bah+a Hukum Internasional itu sendiri bukan suatu hukum karena tidak ada supranational body, sedangkan sebagaimana diketahui bah+a Hukum Internasional han a ke+ajiban moral% &alam ken ataan, bah+a Hukum Internasional dapat menjadi tekanan internasional (international pressure), sehingga lebih e0ekti0 daripada Hukum ,asional% Menurut Mo3htar "usumaatmadja5 Hukum Internasional -egional tumbuh dari kebiasaan, 3ontoh* hak suaka manjadi Hukum Internasional apabila telah mele+ati suatu treaty%

Adapun Hukum Internasional diantaran a HAM dan diplomatik%

khusus,

Subjek Hukum Internasional Subjek Hukum Internasional antara lain5 ,egara, 7rganisasi internasional, #emberontak ( ang telah mendapat dukungan internasional), Vatikan, #alang Merah Internasional (lebih pada histori3al saja* kemanusiaan), Indi/idu (pertanggungja+aban terhadap (1) crime against peace dan (2) crime against humanities)% MAS"A#A$A% IN%E#NASI&NAL Hukum Internasional ada karena terlebih dahulu ada mas arakat internasional* ini merupakan landasan sosiologisn a% 'ukti adan a mas arakat internasional, antara lain5 1% Adan a sejumlah negara, 2% Adan a hubungan tetap antara anggotaanggota mas arakat internasional, 6% Adan a suatu kepentingan bersama, 8% Adan a hukum ang menjamin kepastian hukum, 9% Adan a 0aktor pengikut ang non materiil* kesamaan asas-asas hukum (kedaulatan, kemerdekaan, persamaan derajat, dll%), Mas arakat internasional pada hakikatn a adalah hubungan kehidupan antar manusia% S arat mas arakat internasional5 1% Adan a negara, 2% Adan a hubungan tetap (langsung:tidak langsung)% Hubungan langsung aitu hubungan langsung indi/idu negara, sedangkan hubungan tidak langsung aitu melalui pejabat-pejabat negara% Mas arakat internasional mengadakan hubungan tetap ang continue% $andasan sosiologis* harus diterapkan dalam mas arakat% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 '

$andasan materiil* adan a asas-asas hukum dan juga isi:substansin a, misal* asas-asas pacta sunt servanda, good faith% ;<ualit merupakan s arat per+ujudan mas arakat internasional% #erubahan mas arakat internasional oleh5 1% Mun3uln a negara kebangsaan sebagai akibat emansipasi politik:rehabilitasi% 2% 4eknologi, terutama dalam perenjataan ang melahirkan perjanjian-perjanjian perang% 6% Mun3ul organisasi-organisasi internasional (seperti #'', dsb%)% 8% #erang dingin* Hukum Internasional 3enderung bersi0at bipolar (men3erminkan kompromi dua pihak:blok), ini merupakan re0leksi Hukum Internasional selama perang dingin (han a men3erminkan kepentingan AS dan -usia)% 9% Masa sesudah perang dingin lebih bersi0at unipolar% Hukum Internasional dibuat oleh subjek Hukum Internasional:anggota mas arakat internasional% $E$UA%AN MEN(I$A% HU$UM IN%E#NASI&NAL "ekuatan mengikat Hukum Internasional dapat dilihat berdasarkan teori-teori sbb%5 1% 4eori Hukum Alam, Hukum Alam ialah hukum ang diasumsikan berlaku bagi seluruh umat manusia (pada a+aln a bersumber pada 4uhan)% 4eori Hukum Alam men atakan bah+a Hukum Internasional mengikat karena Hukum Internasional itu tidak lain daripada Hukum Alam, ang diterapkan pada kehidupan mas arakat bangsabangsa dikarenakan Hukum Alam merupakan hukum ang lebih tinggi% Hukum Alam merupakan hukum ideal ang didasarkan atas kehendak manusia sebagai makhluk berakal:kesatuan kaidah-kaidah ang dilhamkan alam pada akal manusia%

2%

6%

&alam perkembangann a maka Hukum Alam tersebut mengalami sekularisasi (sekularisme)* apa ang kita lakukan adalah untuk sekarang:saat kini (memisahkan dunia dengan agama), ini merupakan reaksi dari pen alahgunaan +e+enang kaisar aitu jabatan pastur sebagai pemimpin agama "risten% Adan a sistem hukum uni/ersal oleh Grotius (disekularisasi)* Hukum Alam bersumber dari akal (akal memuat nilainilai uni/ersal)% Hukum Internasional bersumber pada nilai-nilai uni/ersal (Hukum Alam)% Mengandung beberapa kelemahan, aitu* 1% pengertiann a abstrak, 2% subjekti0% (Ini lebih mendalam dipelajari dalam Ilmu =ilsa0at)% 4eori kehendak negara (0alsa0ah Heggel* aliran positi/ism), 4eori kehendak negara men atakan bah+a Hukum Internasional mengikat karena kehendak dari negara untuk tunduk pada Hukum Internasional% Hukum ,asional lebih tinggi% &i Indonesia perlu dirati0ikasi (misal* )47), dimana Indonesia pernah keluar sebagai re0leksi teori kehendak negara% "elemahann a adalah bah+a teori ini tidak dapat menerangkan dengan memuaskan bagaimana 3aran a hukum dapat mengikat negara-negara itu% 4eori kehendak bersama (the individualism pluralism theory5 4riepel (.erman) dan An(iloti (Italia)% 4eori kehendak bersama men atakan bah+a Hukum Internasional mempun ai kekuatan mengikat bukan karena kehendak satu per satu negara melainkan karena adan a kehendak bersama ang lebih tinggi dari kehendak masing-masing negara% 4erhadap teori ini maka ada pertan aan ang sangat penting aitu bagaimana ada Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 )

8%

9%

negara ang melepaskan diri apakah Hukum Internasional masih mengikat% Mah(ah )iena (Hans "elsen) > !eneral "heory of Law* dijelaskan oleh teori "elsen, diantaran a5 #acta sunt servanda, 4eori stuvenbau (piramida terbalik), dimana paling atas ditempati oleh (grundnorm), misal* pa3ta sunt ser/anda tidak dilahirkan oleh pembuat hukum (metalegal)% 4eori perjanjian men atakan bah+a kekuatan mengikat Hukum Internasional bukan karena kehendak negara melainkan suatu norma hukum% 4eori ken ataan sosial (mah(ab =ran3is), 4eori "en ataan sosial:kemas arakatan men atakan bah+a kekuatan mengikat Hukum Internasional terdapat dalam ken ataan bah+a mengikatn a hukum itu perlu mutlak bagi dapat terpenuhin a kebutuhan manusia (bangsa) untuk hidup bermas arakat% Hukum lahir karena kebutuhan, hubungan interdependensi% Indonesia masuk )47 karena Indonesia butuh sehingga Indonesia merati0ikasi 4-I#S% "en ataan sosial melahirkan norma hukum ang dibuat oleh kehendak mas arakat internasional%

#andangan /oluntarisme, Mendasarkan berlakun a Hukum Internasional pada kemauan negara% Hukum Internasional dan Hukum ,asional merupakan dua perangkat terpisah ang berdampingan% 2% #andangan objekti/isme, Mendasarkan berlakun a Hukum Internasional lepas dari kemauan negara% Hukum Internasional dan Hukum ,asional merupakan satu kesatuan% &ua aliran ang memberikan pandangan terhadap hubungan Hukum Internasional dengan Hukum ,asional5 1% =aham dualisme, 2% =aham monisme% Faham Duali!me &a a ikat Hukum Internasional bersumber pada kemauan negara% Hukum Internasional dan Hukum ,asional merupakan dua sistem:perangkat hukum ang terpisah satu dari lainn a% "onsekuensin a5 International Law and $unicipal Law are two separate legal system which e&ist independently of each other% Hukum Internasional dan Hukum ,asional terpisah% "he ideological background (latar belakang) to dualist doctriner is strongly coloured by an adherence (ketaatan pengikut) to positivism and emphasis on theory of sovereignity' 4ak ada hubungan hierarki, Hukum Internasional dapat berlaku apabila sudah ditrans0ormasi, "elemahann a* tidak dapat menjelaskan dalam ken ataan bah+a Hukum ,asional tunduk pada Hukum Internasional% Hukum Internasional dan Hukum ,asional 'erbeda karena5 a% "eduan a memiliki sumber-sumber ang berlainan, Hukum ,asional bersumber kepada kemauan negara, sedangkan Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

1%

HU$UM IN%E#NASI&NAL DAN HU$UM NASI&NAL Hukum ,asional ($unicipal Law% ialah ketentuan-ketentuan hukum ang mengatur kehidupan manusia dalam masing-masing lingkungan kebangsaann a% Hu$un"an Antara Hukum nterna!i%nal Den"an Hukum Na!i%nal &ua teori ang memberikan pandangan terhadap hubungan Hukum Internasional dengan Hukum ,asional5

2 *

Hukum Internasional bersumber pada kemauan bersama dari mas arakat negara% b% "eduan a berlainan subjek hukumn a* subjek Hukum ,asional adalah orang perorang (sekarang tidak berlaku), sedangkan Hukum Internasional adalah negara% 3% "eduan a memiliki perbedaan dalam struktur kelembagaan* Hukum ,asional memiliki lembaga-lembaga ang diperlukan bagi pelaksanaan hukum (law enforcement) seperti eksekuti0, dsb%, sedangkan dalam Hukum Internasional tidak ada (han a collective actions)% =aham &ualisme ini tidak masuk akal karena pada hakikatn a merupakan pen angkalan daripada Hukum Internasional sebagai suatu perangkat ang mengatur hubungan antar negara:internasional (tidak mungkin dipisahkan)% Faham &%ni!me &idasarkan atas pemikiran kesatuan dari pada seluruh hukum ang mengatur hidup manusia% 4erdiri dari5 1% Monisme dengan primat Hukum ,asional, 2% Monisme dengan primat Hukum Internasional% =aham monisme menekankan adan a subkoordinasi dalam arti struktural organisasi, sedangkan dalam ken ataann a bersi0at koordinati0% 4undukn a negara pada Hukum Internasional tidak harus berarti bah+a suatu negara tidak dapat menjamin kepentingan-kepentingann a melalui Hukum ,asionaln a% (d )%* $onisme dengan primat Hukum +asional Hukum ,asional lebih utama% (ll rules of International Law were supreme over $unicipal Law' ( $unicipal Law inconsistent with International Law is automatically null dan void and that rules of Internastional Law are

directly applicable in the domestic sphere of state' "onsekuensi5 1% Hukum Internasional adalah kelanjutan dari Hukum ,asional% 2% Hukum ,asional untuk urusan luar negeri (auszeter staatsrecht% > Mad(hab 'onn > Ma? )en(el% 6% Hukum Internasional bersumber pada Hukum ,asional% Alasan penganut monisme5 1% 4idak ada satu supra,national body ang mengatur kehidupan negara-negara% "erangka berpikir monisme berdasar pada pemikiran Austin (law is a command), dengan demikian harus ada supra, national body, dan karena Hukum Internasional tidak memilikin a maka Hukum Internasional itu bukan hukum% 2% Adan a ke+enagan konstitusional bagi negara-negara untuk terikat pada Hukum Internasional% Sekarang perjanjian internasional merupakan re0leksi paling jelas bagi kekuatan Hukum Internasional% "elemahan monisme, antara lain5 1% 4erlalu mengedepankan hukum tertulis, Mengenai Hukum #erjanjian* Martens @lause > Siomnes @lause% Marten @lause* "on/ensi .ene+a dijadikan standar karena kon/ensi &en Haag > Siomnes @lause dianggap tidak menguntungkan karena han a berlaku bagi negara ang merati0ikasi saja% 2% #en angkalan terhadap Hukum Internasional% (d -%* $onisme dengan primat Internasional Hukum Internasional lebih utama% Hukum ,asional bersumber pada Internasional% #endelegasian +e+enang dari Internasional kepada Hukum Hukum

Hukum Hukum ,asional

Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 +

(mad(hab )iena > "elsen, mad(hab =ran3is > &uguit, S3elle 'our<uin)% "elemahann a5 Hukum Internasional lebih dulu dari Hukum ,asional (bertentangan dengan sejarah)% Hukum ,asional bukan deri/asi (turunan) dari Hukum Internasional (sedangkan realitan a tidak demikian)% "e3enderungan sekarang adalah primat Hukum Internasional, salah satu 3ontoh dapat kita lihat pada regionalisme uni ;ropa% Kelemahan Duali!me dan &%ni!me "he entire monist . dualist controverry it unreal artificial and strictly beside the point/ because it assumer something that has to e&ist for there to be any controverry it all . and which in fact does not e&ist namely a comman field in which the two legal orders underdiscussion both simultaneously have their sphere of activity (=it( > Mauri3e)% 4ergantung situasi:tempat:le/el% &ualisme men angkal adan a Hukum Internasional, sedangkan monisme tidak sesuai dengan ken ataan% +ational Law in the international system generaly +ational Law has no effect on the duties or obligations of state on the international level/ thus/ a state may not plead its own $unicipal Law as an e&ecute or justification for violating International Law% #rimat Hukum Internasional dalam praktek internasional, diterapkan misal5 #enghormatan terhadap tapal batas negara, 4apal batas harus berdasarkan Hukum Internasional% #enghormatan terhadap perjanjian Internasional% Hubungan diplomatik dan konsuler, #erlakuan terhadap orang asing dan hak milik orang asing (3ontoh* dalam kasus tembakau 'remen)%

'erkenaan dengan kasus tembakau 'remen* Menurut Hukum Internasional, maka harus ada konpensasi:ganti rugi dengan tiga prinsip, aitu* 1% prompt, 2% effective, 6% ade0uate% Menurut Mo3htar "usumaatmadja, nasionalisasi untuk memperbaiki ekonomi dengan menerapkan prinsip effective, aitu dengan di3i3il% Mengenai berlakun a ketentuan-ketentuan Hukum Internasional, terdapat dua doktrin, aitu5 1% &oktrin inkorporasi, 'ah+a suatu ketentuan Hukum Internasional dapat diberlakukan sebagai Hukum ,asional tanpa melalui pengesahan atau rati0ikasi daripada lembaga ang diberikan +e+enang untuk melakukan rati0ikasi ini, dengan kata lain suatu ketentuan Hukum Internasional dapat diberlakukan sebagai Hukum ,asional tanpa melalui undang-undang terlebih dahulu% 2% &oktrin trans0ormasi, 'ah+a suatu ketentuan Hukum Internasional dapat diberlakukan sebagai Hukum ,asional apabila telah dirati0ikasi terlebih dahulu atau dengan kata lain suatu ketentuan Hukum Internasional dapat diberlakukan sebagai Hukum ,asional dengan terlebih dahulu harus melalui undang-undang% #emberlakuan kedua doktrin tersebut (dalam praktek) keban akan di beberapa negara tidak bersi0at mutlak% Indonesia tidak menganut doktrin inkorporasi ataupun trans0ormasi se3ara penuh, melainkan tergantung pada masalahn a% #raktek di beberapa negara5 &i Inggeris5 Hukum Internasional adalah hukum negara (International Law is the law of the land% > In3orporation do3trine% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 ,

"he law of nations/ wherever any 0uestions arises which is properly the object of the jurisdiction is here adopted in its full e&tent by the common law and it is held to be apart of the law of the land ('la3kstones)% &alam cutomay international law5 Suatu ketentuan internasional berlaku asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang, apabila suatu cutomay international law ditetapkan oleh Mahkamah 4inggi maka semua pengadilan di ba+ahn a terikat, dalam hal ini maka ang supreme bukan Hukum Internasionaln a melainkan Mahkamah 4inggin a% &alil konstruksi hukum (rule of construction), bah+a undang-undang ang dibuat oleh parlemen dianggap tidak bertentangan dengan Hukum Internasional% &alil tentang pembuktian dalam pemeriksaan terhadap pelanggaran terhadap suatu ketentuan Hukum Internasional (rule of evidence), bah+a dalam pembuktiann a tidak perlu mendatangkan saksi-saksi% &alam international treaty5 #ersetujuan parlemen (hea/ parliament), bah+a suatu ketentuan internasional berlaku mengikat tanpa persetujuan parlemen aitu selain men angkut5 1% #erubahan dalam undang-undang nasional, 2% #erubahan dalam status garis batas, 6% Mempengaruhi hak-hak sipil, 8% Menambah beban keuangan ngara% &i Amerika Serikat5 &alam customary international law5 Sama dengan Inggeris% 'ila bertentangan dengan undang-undang, ang berlaku adalah undang-undang% &alam international treaty5 "onstitusi sebagai dasar utama% #embedaan antara self,e&ecuting dan non self,e&ecuting treaties% -

.ika tidak bertentangan dengan konstitusi maka langsung berlaku (self,e&ecuting)% &apat dilakukan dengan undang-undang pemberlakuan (non,e&ecuting)% Self e&ecuting* ada persetujuan dari Senat, sehingga mengikat% 1&ecuting agreement, dalam ini langsung berlaku tanpa memerlukan persetujuan badan legislati0% SUM-E# HU$UM Pen"ertian Sumber Hukum Internasional dalam arti 0ormil5 &imana terdapat terdapat ketentuan Hukum Internasional ang dapat diterapkan sebagai kaidah dalam satu masalah ang konkrit% Apa +ujud tempat ketentuan Hukum Internasional tersebut% Sumber hukum 0ormil merupakan ja+aban atas pertan aan dimana kita dapat menemukan hukum% Sumber Hukum Internasional dalam arti materiil5 Sumber kekuatan mengikatn a Hukum Internasional, &asar berlakun a Hukum Internasional% Sumber hukum materiil merupakan sumber ang lebih 0iloso0is% Sumber Hukum Internasional dalam arti 0aktor-0aktor kausal5 1% =aktor ang membantu terbentukn a kaidah Hukum Internasional, Misal* urisdiksi (ke+enangan negara dalam menjalankan hukum) terhadap ruang tanpa batas (cyberspace), dsb% 2% =aktor ekstra uridis, Misal* ban akn a permasalahan dalam perdagangan internasional men ebabkan negara-negara perlu untuk membuat hukumn a, dsb% 4empat sumber Hukum Internasional 0ormil, antara lain5 Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2 .

#asal A kon/ensi ke-BII &en Haag tahun 1CDA tentang pendirian Mahkamah Internasional > perampasan kapal di laut (international pri(e 3ourt)* "o/ensi perdamaian &en Haag, #asal ini tidak pernah berlaku karena tidak memenuhi jumlah rati0ikasi% #asal 6E a at (1) #iagam Mahkamah Internasional (International @ourt o0 .usti3e), Ma3am-ma3am sumber Hukum Internasional dalam arti 0ormil5 #erjanjian-perjanjian internasional, baik ang bersi0at umum maupun khusus, ang mengandung ketentuan hukum ang diakui se3ara tegas oleh negara-negara ang bersangkutan% "ebiasaan-kebiasaan internasional sebagai bukti dari suatu kebiasaan umum ang telah diterima sebagai hukum% #rinsip-prinsip hukum umum ang diakui oleh bangsa-bangsa ang beradab, misal* pacta sun servanda, asas legalitas, dsb% "eputusan pengadilan dan ajaran-ajaran sarjana terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber hukum tambahan dalam menetapkan kaidah-kaidah Hukum Internasional% #asal 6E a at (1) Mahkamah Internasional merupakan hard law% -esolusi dan deklarasi merupakan soft law% -esolusi merupakan soft law, sedangkan treatment merupakan hard law, suatu treatment tidak mengikat suatu negara jika negara tersebut tidak ikut kepadan a% &itente* pendinginan hubungan dengan saling mengunjungi diantara negara ang sedang memanas% #erjanjian internasional memiliki istilah lain, diantaran a* 0a3t, 3arter:de3laration (piagam), proto3ol (perjanjian internasional tambahan), kon/ensi, -

treat , dll% Untuk bilateral treat tidak perlu dirati0ikasi karena tidak ada hal ang sigini0ikan% 4reat 3ontra3t* perjanjian internasional ang han a mengikut ang mengikat saja% $a+ making treat * mengikat selain pihakpihak ang terikat juga pihak-pihak ang ingin terikat% Menurut Mo3htar "usumaatmadja5 Sebetuln a, se3ara hakikat tidak ada perbedaan antara treat 3ontra3t dengan la+ making treat , karena treat 3ontra3t pada akhirn a akan menjadi la+ making treat melalui suatu kebiasaan (karena keduan a men ebabkan hukum)% #erjanjian internasional terbentuk melalui5 1% ,egosiasi (politi3al dis3usion), 2% Adoption the te?t (menjadi naskah melalui pemungutan suara), 6% Autenti3 o0 the te?t (disempurnakan), 8% Signator (penandatanganan dari setiap delegasi), 9% -ati0ikasi% Apabila setelah penandatanganan ini berlaku, maka tahap kelima tidak perlu% Apabila harus memenuhi rati0ikasi maka menunggu jumlah rati0ikasi terpenuhi% $adzhab 2atifikasi Antara lain5 1% Hi0i e?e3uti/e, 2% Hi0i parliament, 6% @ampuran, #arlemen dan eksekuti0, kalau mengenai hal ang /ital bagi negara maka parlemen 3ampur tangan% #ada tahap rati0ikasi ada ang disebut tahap reser/asi5 #ens aratan, mengenai pasal ang tidak disetujui atau dita0sirkan lain% -eser/asi bisa dilakukan apabila perjanjian itu men atakan diperbolehkan adann a reser/asi, apabila tidak boleh maka tidak dirati0ikasi sekalian% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/

-eser/asi boleh dilakukan apabila negara lain men etujui% Ada 2 teori5 1% 4eori unanimit prin3iple, 4idak membolehkan reser/asi% 2% 4eori #an Ameri3an s stem, -eser/asi dibolehkan tetapi bagi negaranegara ang mengetujui% NE(A#A ,egara dikatakan sebagai subjek Hukum Internasional ang paling signi0ikan, karena5 1% Se3ara historis, memang bah+a pada mulan a Hukum Internasional itu mengatur hubungan antar negara% 2% Se3ara 0aktual, memang dalam ken ataan bah+a suatu negara tetap diakui sebagai subjek utama dalam mengadakan perjanjian% ,egara dalam persepsi Hukum Internasional adalah sebagai subjek Hukum Internasional% #eran negara5 1% Iure gestionis, ,egara bertindak sebagai kapasitas institusi publik (sehingga memiliki imunitas (state immunity)% 2% Iure imperii, ,egara bertindak sebagai kapasitas institusional publik (sehingga melepas imunitas* dalam perdangan)% De'ini!i Menurut .%$% 'rierl 5 ,egara sebagai suatu lembaga, sebagai suatu +adah dimana manusia men3apai tujuann a dan dapat melaksanakan kegiatan-kegiatann a% Menurut =en+i3k5 ,egara sebagai suatu mas arakat politik ang diorganisasi se3ara tetap, menduduki suatu daerah tertentu, dan hidup dalam batas-batas daerah tersebut, bebas dari penga+san negara lain, sehingga dapat bertindak sebagai badan ang merdeka di muka bumi% Un!ur(Un!ur Ne"ara

S arat negara berdasarkan Hukum Internasional, antara lain* le& celebrationis, le& domisili, le& situ, le& nasionalis% Untuk menjadi subjek Hukum Internasional maka negara harus memiliki kuali0ikasi (unsurunsur) sbb%5 1% ( permanent population, 2% Defined territory, 6% ( government, 8% ( capacity to enter into international relations with other state, 3' International capacity/ F% Independence% (d )%* ( permanent population, #enduduk tetap* #engungsi bukan penduduk tetap% .umlahn a tidak tertentu% #enduduk ang terorganisasi (mens aratkan adan a pemimpin)% (d -%* Defined territory, 'atas +ila ah ang jelas* bukan luasn a, 3ontoh* negara ,auru luasn a han a E mil persegi dengan jumlah penduduk sekitar 1D%DDD, negara seperti ini disebut dengan nama negara mili (micro state), negara liliput (dwart diminutive state)% (d 4%* ( government, Menurut 4erpa3h5 S arat adan a pemerintah daripada s arat ang lainn a%

lebih

penting

(d 5%* ( capacity to enter into international relations with other state/ Ini merupakan s arat terpenting dalam perspekti0 Hukum Internasional karena mens aratkan adan a mas arakat internasional:ada hubungan tetap sebagai landasan sosiologis bagi Hukum Internasional% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2//

(d 3%* International capacity/ &apat mempertanggungja+abkan tindakantindakan pejabat-pejabatn a terhadap pihak atau negara lain% )entuk($entuk Ne"ara 'entuk-bentuk negara, meliputi5 1% "esatuan, 2% &ependent states, a% ,egara prote3torat, b% ,egara mandat:per+alian% 6% =ederal state 8% Members o0 3ommon+ealth (negara persemakmuran), ,egara-negara tersebut berdiri sendir ( sui generis)% 9% ,egara netral, Menurut Starke5 ,egara netral adalah suatu negara kemerdekaan, politik, +ila ahn a dengan kokoh dijamin oleh suatu perjanjian bersama negara-negara besar, dan negaranegar ini tidak akan pernah berperang mela+an negara lain, ke3uali untuk pertahanan diri dan tidak akan pernah mengadakan perjanjian aliansi ang dapat menimbulkan peperangan% $icro state memiliki pengertian aitu negara ke3il dalam hal jumlah penduduk, luas +ila ah, dan perekonomiann a, dengan demikian maka negara seperti Singapura tidak termasuk dalam kategori negara ini% Dependence state memiliki pengertian aitu negara ang bergantung kepada negara lain% #rotectorat state memiliki pengertian negara ang dilindungi oleh negara-negara besar, misal* negara Mona3o di ba+ah =ran3is% nter*en!i Menurut $auterpa3ht5 Inter/ensi adalah 3ampur tangan se3ara diktator oleh suatu negara terhadap urusan dalam negeri lainn a dengan maksud baik untuk memelihara atau mengubah keadaan, situasi, atau barang di negeri tersebut%

'entuk-bentuk inter/ensi (menurut .%G% Starke)5 1% Inter/ensi internal, 2% Inter/ensi ekternal, 6% Inter/ensi puniti/ie% #enge3ualian prinsip inter/ensi5 1% ,egara pelindung diberi hak istime+a oleh negara ang meminta perlindungan% 2% Suatu negara melanggar perjanjian untuk mengadakan inter/ensi, maka negara lain ang terikat pada perjanjian tersebut juga berhak melakukan inter/ensi% 6% Suatu negara melanggar ketentuanketentuan umum:hukum kebiasaan ang diterima se3ara umum maka negara lain berhak menginter/ensi% 8% ,egara ang +arga negaran a ang berada di luar negeri diperlakukan semena-mena, maka boleh menginter/ensi% 9% Atas kesepakatan bersama% F% Atas permintaan tegas dari suatu negara% &oktrin Monrue (prinsip non kolonialisasi)* di Amerika tidak ada +ila ah tak bertuan ( terra nullius), digunakan prinsip inter/ensi* setiap kekuatan asing ang masuk ke AS harus di la+an% PEN(A$UAN 2ecognition of new state or government of an e&isting state is an unilateral act (tindakan sepihak) which the recognizing government can grant or withheld (memberi:menarik kembali)G the practise of state show that the act of recognition is still regarded or a political decision which each state decides in accordance with its own appreciation (penilaian sendiri) of the situation% (#'', 1C9D) #engakuan didasarkan alasan-alasan politis bukan hukum% "onsekuensi politis* kedua negara kemudian dapat dengan leluasa mengadakan hubungan diplomatik% "osekuensi uridis* Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/2

1% 2% 6%

#embuktian atas keadaan sebenarn a, Mengakibatkan akibat-akibat hukum dalam mengembalikan tingkat hubungan diplomatik, Memperkukuh status hukum negara dihadapan pengadilan negara ang mengakui%

Menurut .%'% Moore5 Makna pengakuan adalah sebagai suatu jaminan ang diberikan kepada suatu negara baru, bah+a negara tersebut diterima sebagai anggota mas arakat internasional% =ungsi pengakuan adalah untuk memberikan tempat ang sepantasn a kepada suatu negara:pemerintah baru sebagai anggota mas arakat% 'entuk-bentuk pengakuan5 1% #engakuan negara baru, 2% #engakuan pemerintah baru, (d )%* #engakuan negara baru 4erdapat dua teori5 1% 4eori konstituti0, ( state is and become on an international person through recognition only and e&clusively (7ppenheim)% #engakuan merupakan s arat mutlak% 4idak ada: bukan politi3al de3ision karena ada keharusan dimana keharusan han a ada dalam legal re<uirement% Suatu negara menjadi subjek Hukum Internasional han a melalui pengakuan% Alasann a5 a% .ika kata sepakat ang menjadi dasar berlakun a Hukum Internasional, maka tak ada negara sebagai subjek Hukum Internasional tanpa suatu kesepakatan% b% ,egara:pemerintah ang tidak diakui tidak mempun ai status hukum sepanjang berhubungan dengan negara ang tak mengakui tersebut%

Merupakan justi0ikasi, misal* insurgensi (belum masi0) menjadi beligerensi% 2% 4eori deklarati0, 1&istence of the new state with all the legal effect connected with that e&istence is not effected by the refusal of one ore more state to recognize (institut de droit International)% ;ksistensi suatu negara tidak ditentukan dengan adan a pengakuan% 4idak ada konsekuensi hukumn a% #engakuan han alah merupakan penerimaan suatu negara baru oleh negara-negara lainn a% Suatu negara:pemerintah tidak akan mendapatkan status hukum di negara lain ke3uali negara tersebut diakui oleh negara ang bersangkutan (teori konstituti0), namun hal ini tak berati bah+a negara:pemerintah itu tidak ada sama sekali (teori deklarati0)% #engakuan merupakan tindakan politis ang berimplikasi pada hukum (sehingga dikatakan sebagai konsep ang unik)% Ma3am-ma3am pengakuan5 1% #engakuan kolekti0* a% deklarasi bersama oleh sekelompok negara, b% negara baru masuk pada perjanjian multilateral% 2% #engakuan terpisah, Mengakui negara baru tapi tidak kepada pemerintahn a% 6% #engakuan mutlak, #engakuan ang diberikan tidak dapat ditarik kembali% 8% #engakuan bers arat, #engakuan dengan s arat-s arat tertentu sebagai imbalan pengakuan% Umumn a ang terjadi adalah pengakuan mutlak% Status internasional bagi negara-negara ang tidak mendapat pengakuan5 1% &apat mengadakan hubungan diplomatik, Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/!

2%

#eraturan perundang-undangan pemerintah ang tidak diakui tidak selaman a dianggap tidak sah%

(d -%* #engakuan pemerintah baru Men angkut kriteria5 1% #emerintahan ang permanen, 2% #emerintahan ang ditaati rak at, 6% #enguasaan +ila ah ang e0ekti0% Antara lain5 1% &oktrin legitimasi, #engakuan terhadap pemerintah baru berdasarkan legitimasi pemerintah baru tersebut (mengenai proses naikn a pemerintah se3ara legitimate), kalau tidak legitimate maka tidak dapat pengakuan% #engakuan ini didasarkan pada proses ang legitimate atau tidak% Mengakui keabsahan menurut konstitusi negara ang bersangkutan% 2% &oktrin de 0a3to-ism, Atas pertimbangan pemerintah baru itu e0ekti0, aitu stabilitas ekonomi, aman > menumpas pmberontak, dsb%)% Melihat pada 0akta pemerintahan baru tersebut% Indonesia menganut doktrin de 0a3to-ism% Ma3am-ma3am pengakuan pemerintahan baru5 1% #engakuan de 0a3to, Semata-mata didasarkan pada bah+a pemerintahan tersebut se3ara n ata berkuasa di dalam +ila ahn a% 2% #engakuan de jure, 'erdasarkan penilaian 0aktor-0aktor 0aktual dan 0aktor hukum% @ara-3ara memberikan pengakuan5 1% #engakuan ang tegas5 de3laration, pengakuan melalui perjanjian% 2% #engakuan diam-diam, 4idak ada pern ataan 0ormal% #engalahgunaan pengakuan pemerintah baru5 1% &oktrin 4obar, ,egara-negara Amerika $atin tidak boleh memberikan pengakuan pada suatu

pemerintah baru ang naik se3ara tidak legitimate% 2% &oktrin ;strada, ,egara harus terus melakukan hubungan politik meskipun di negara tersebut sedang terjadi perebutan kekuasaan% #engakuan sebagai pemberontak5 insurgensi, beligerensi% Pen"akuan +erhada# ,ila-ah -an" Di#er%leh Se.ara +idak Sah @ara-3ara pemberian pengakuan5 1% #engakuan se3ara tegas (e&press recognition), Ada instrumen hukumn a% 2% #engakuan se/ara diam-diam (implied recognition), Han a simbol-simbol saja% $EDAULA%AN "edaulatan (soverignity) adalah kekuasaan tertinggi ang dimiliki suatu negara atas +ila ah dan pendudukn a:+arga negaran a% "edaulatan adalah suatu konsep dimana negara memiliki kekuasaan tertinggi atas dasar, laut, udara ( urisdiksi territorial) dan +arga negara ( urisdiksi personal)% 4idak men3akup ruang angkasa karena ruang angkasa merupakan kepentingan bersama% )ila ah (territory) suatu negara terbagi menjadi empat dimensi, aitu5 1% &arat, 2% $aut, 6% Udara, 8% -uang angkasa% "alau di ruang udara negara memiliki kedaulatan maka di ruang angkasa tidak% &alam spa3e treat tahun 1CFA* ada satu prinsip ang men atakan bah+a kepemilikan negara tidak ada dalam ruang angkasa, melainkan harus diman0aatkan untuk kepentingan manusia bersama:+arisan bersama umat manusia (common heritage of mankind)% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/'

,egara berdaulat, artin a negara mempun ai kekuasaan tertinggi, kedaulatan ini terbatas oleh5 1% "ekuasaan itu terbatas pada batas-batas +ila ah ang memiliki kekuasaan, 2% "ekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu negara lain dimulai% -elasi antara kedaulatan dengan Hukum Internasional supranasional% &alam Hukum ,asional* konteks kedaulatan itu bersi0at absolut, sedangkan dalam Hukum Internasional maka konteks kedaulatan itu bersi0at limitated% 6edaulatan "eritorial "edaulatan teritorial adalah kedaulatan ang dimiliki suatu negara dalam melaksanakan urisdiksi eksekuti0 di +ila ahn a% "aitann a dengan +ila ah, kedaulatan mempun ai dua 3iri, aitu5 (menurut Hakim Huber) 1% "edaulatan merupakan suatu pras arat hukum untuk adan a suatu negara% 2% "edaulatan menunjukkan negara tersebut merdeka ang sekaligus juga merupakan 0ungsi dari suatu negara% "edaulatan mempun ai dua aspek5 1% Aspek positi0, Adalah aspek ang berkaitan dengan si0at hak eksklusi0 kompetensi suatu negara terhadap +ila ahn a% 2% Aspek negati0, Adalah adan a ke+ajiban untuk tidak mengganggu hak negara-negara lain% "edaulatan teritorial men3akup tiga dimensi, aitu5 1% 4anah (daratan), 2% $aut, 6% Udara% (d )%* "anah (daratan% Men3akup ang ada di ba+ah dan di atas% "edaulatan negara berlaku sepenuhn a di +ila ah ini (kekuatannn a penuh)%

(d -%* Laut &i laut, suatu negara memiliki kedaulatan ang penuh% Antara lain5 1% 4erritorial sea (laut territorial), Adalah laut ang terletak di sisi luar garis pangkal (base line) ang tidak melebihi lebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal% ,egara memiliki kedaulatan penuh, tetapi negara lain masih dimungkinkan untuk menikmati hak lintas damai, aitu hak untuk mele+ati laut itu% "onsikuensin a* setiap kapal asing ang akan le+at di laut territorial harus dapat i(in dari negara ang bersangkutan% 2% Internal:national:interior +aters (laut pedalaman), Adalah perairan ang berada pada sisi darat (dalam) garis pangkal% @ontoh* teluk, sungai, danau, dsb% ,egara memiliki kedaulatan penuh (kedaulatan negara atas daratan)% &i perairan ini, negara lain tidak dapat mengadakan atau menikmati hak lintas damai% 6% Selat, Adalah selat ang dipergunakan untuk pela aran internasional% Ada dua kategori selat5 a% Selat-selat ang dipergunakan bagi pela aran internasional ang menghubungkan suatu laut lepas:H;; dengan laut lepas:H;; lainn a% b% Selat-selat ang menghubungkan laut lepas:H;; dengan perairan ang termasuk dalam urisdiksi nasional (laut territorial) suatu negara asing% #ada selat kategori pertama berlaku hak lintas transit kapal-kapal asing% Hak transit adalah hak untuk mele+ati suatu selat ang dipergunakan se3ara terus menerus, langsung dan se3epat mungkin antara suatu bagian laut lepas:H;; dan bagian laut lepas:H;; lainn a% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/)

8%

9%

F%

A%

@ontinental shel0 (landas kontinental), $andas kontinen suatu negara pantai meliputi dasar laut dari tanah di ba+ahn a dari daerah dipermukaan ang terletak di luar laut territorialn a sepanjang kelanjutan alamiah +ila ah daratan n a hingga pinggiran luar tepi kontinen, atau hingga jarak 2DD mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut tepi kontinen tidak men3apai jarak tersebut% ,egara tidak memiliki kedaulatan di sini, melainkan memiliki hak berdaulat (soverignity right), aitu hak untuk meman0aatkan% Hona ekonomi eksklusi0 (H;;), Hona terlebar tidak lebih dari 2DD mil dari garis pangkal% !urisdiksi ang dimiliki negara pantai atas H;;-n a akni5 a% #embuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan, b% -iset ilmiah kelautan, 3% #erlindungan dan pelestarian lingkungan laut% ,egara memiliki hak berdaulat, aitu hak untuk perikanan, maka kalau ada kapal asing ang le+at tidak apa-apa, tapi kalau kapal-kapal asing tersebut mengambil ikan, tidak boleh% @ontinous (one (jalur tambahan), Adalah suatu (ona tambahan dan berada di laut territorial dimana suatu negara memiliki kekuasaan terbatas untuk men3egah pelanggaran terhadap peraturan bea 3ukai, 0iskal, imigrasi, dan kesehatan (han a terbatas pada empat kategori tersebut di atas)% $ebar jalur tambahan tidaklebih dari 28 mil diukur dari garis pangkal% High seas (laut lepas), !aitu laut ang terbuka dan bebas bagi semua negara (res communis)% 4idak ada so/erignit maupun so/erignit rights, hukum ang berlaku adalah hukum kapal% ,egara memiliki hak pengejaran seketika%

E%

"a+asan, Adalah dasar laut dan dasar samudera serta tanah di ba+ahn a di luar batasbatas urisdiksi nasional suatu negara%

(d 4%* 7dara Menurut kon/ensi @hi3ago 1C88 tentang pengaturan mengenai +ila ah udara, pasal 1n a men atakan bah+a setiap negara memiliki kedaulatan ang komplit dan eksklusi0 (complete and e&clusive) terhadap ruang udara ang ada di atasn a* jadi kalau misaln a daratan seluas 1 juta "m persegi, maka +ila ah udaran a pun seluas itu% !ang dimaksud dengan complete and e&clusive adalah sbb%5 8omplete, artin a negara itu memiliki kekuasaan tidak terbatas terhadap ruang udara (air space-n a)% 1&clusive, artin a han a negara tersebut ang berhak melakukan tindakan-tindakan di atas ruang udara tersebut% "onsekuensin a* tanpa sei(in suatu negara maka pihak lain tidak boleh melakukan akti/itas-akti/itas di ruang udara tersebut sehingga apabila suatu pesa+at udara negara lain akan melintas di suatu ruang udara, maka harus meminta i(in dari negara ang memiliki ruang udara tersebut% "ekuasaann a tidak terbatas ( unlimited) ke atas dan ke ba+ah% Se3ara prinsip ang disebut ruang udara itu sampai dengan ruang ang masih ada udaran a untuk se3ara teknis sampai dengan pesa+at bisa terbang di sana% 4erdapat empat tipe re(im5 1% "edaulatan teritorial, 2% )ila ah ang tidak berada di ba+ah kedaulatan negara lain dan ang memiliki status tersendiri, misal* +ila ah mandat atau trust, 6% -es nullius, aitu +ila ah ang tidak dimiliki:berada dalam kedaulatan suatu negara, Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/*

8%

-es 3ommunis, aitu +ila ah ang se3ara umum tidak dapat berada di ba+ah suatu kedaulatan tertentu (+ila ah bersama* laut lepas, ruang angkasa, dasar laut samudera dalam, dll%)% 2%

Cara &em#er%leh ,ila-ah @ara suatu kesatuan mas arakat mendapatkan kemerdekaan5 1% @ara-3ara konstitusional, Misal* perjanjian dengan negara ang mendudukin a, dsb% 2% @ara-3ara non kostitusional, Misal* penggunaan senjata, dsb% @ara negara memperoleh +ila ahn a (3ara3ara tradisional:orthodo?)5 1% 733upation (okupasi > pendudukan), Adalah pendudukan terhadap terra nullius, aitu +ila ah ang bukan dan sebelumn a pun belum pernah dimiliki oleh suatu negara ketika pendudukan terjadi% 7kupasi mengandung dua unsur pokok5 a% #enemuan (discovery) > the taking o0 possesion, b% #enga+asan ang e0ekti0 > administration% #enemuan saja tanpa tindak lanjut daripadan a berupa suatu perbuatan (pengaturan), tidak 3ukup untuk membuktikan telah melaksanakan kedaulatan di dalam +ila ahn a ang ditemukan% #engaturan* harus ada niat dan perbuatan untuk memiliki, tanpa niat maka tindakan tersebut tidak murni (unauthori(ed a3ts)% Sehubungan dengan tidak diakuin a klaim-klaim di Antartika, ada dua teori5 a% 4eori kontinuitas (continuity), !aitu suatu tindakan pendudukan di suatu +ila ah tertentu ang memperluas kedaulatan negara ang mendudukin a sepanjang diperlukan untuk keamanan dan pengembangan alamn a% b% 4eori kontiguitas (contiguity),

6%

8%

9%

!aitu suatu kedaulatan negara ang menduduki men3apai +ila ah+ila ah ang berdekatan ang se3ara geogra0is berhubungan dengan +ila ah ang diklaimn a itu% Anne?ation (aneksasi > penaklukan), Adalah suatu 3ara pemilikan suatu +ila ah berdasarkan kekerasan (penaklukan)% A33retion (akresi), Adalah suatu 3ara perolehan suatu +ila ah baru melalui proses alam (geogra0is)% #res3ription (preskripsi), Adalah pemilikan suatu +ila ah oleh suatu negara ang telah didudukin a dalam jangka +aktu ang lama dan dengan sepengetahuan pemilikn a (tak ada protes dari pemilikn a)% S arat-s arat sahn a preskripsi (menurut =au3hille dan .ohnson)5 a% #emilikan harus dilaksanakan se3ara a titre de souverin* pemilikan tersebut harus memperhatikan ke+enangan negara dan di +ila ah tersebut tidak ada ang mengklaimn a% b% #emilikan tersebut harus berlangsung se3ara damai dan tidak ada gangguan (protes) dari pihak lain% 3% #emilikan tersebut harus bersi0at publik (diumumkan dan diketahui oleh pihak lain)% d% #emilikan tersebut harus berlangsung terus, juga harus memuat s arat adan a penga+asan ang e0ekti0% @ession (3essi), Adalah pengalihan +ila ah se3ara damai dari suatu negara ke negara lain dan kerapkali berlangsung dalam rangka suatu perjanjian perdamaian sesudah usain a perang% Suatu prinsip ang penting dalam 3essi ini, aitu bah+a dalam pengalihan, hak ang diserahkan tidak boleh melebihi hak ang dimiliki oleh si pengalih (pemilik)% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/+

F%

@essi dapat berlangsung juga dengan melalui tukar menukar, atau pemberian +ila ah tanpa adan a pemba aran ganti rugi (compensation)% #lebi3ite (plebisit), Adalah pengalihan suatu +ila ah melalui pilihan pendudukn a, men usul dilaksanakann a pemilihan umum, re0erendum, atau 3ara-3ara lainn a ang dipilih oleh penduduk%

!urisdiksi merupakan re0leksi prinsip dasar kedaulatan negara% !urisdiksi meliputi5 1% 4erritorial jurisdi3tion, 2% #ersonal jurisdi3tion, 6% $egal jurisdi3tion, 8% @ berspa3e jurisdi3tion% !urisdiksi dapat lahir karena adan a tindakan5 1% $egislati0, !aitu kekuasaan pengadilan untuk menetapkan, membuat peraturan atau keputusan-keputusan% ;ksekuti0, !aitu kekuasaan untuk memaksakan agar orang (benda atau peristi+a) mentaati peraturan (hukum) ang berlaku% 6% !udikati0, !aitu kekuasaan untuk mengadili orang berdasarkan atas suatu peristi+a% &alam praktek maka urisdiksi dibedakan atas5 1% !urisdiksi perdata, !aitu ke+enangan hukum pengadilan suatu negara terhadap perkara-perkara ang men angkut keperdataan baik ang si0atn a nasional ( aitu bila para pihak dan:atau objek perkara melulu men angkut nasional) maupun ang bersi0at internasional ( aitu bila para pihak atau perkaran a men angkut unsur asing)% 2% !urisdiksi pidana, Adalah ke+enangan (hukum) pengadilan suatu negara terhadap perkara-perkara ang men angkut kepidanaan, baik ang tersangkut di dalamn a unsur asing maupun nasional% Sepanjang men angkut perkara-perkara pidana, urisdiksi ang dimiliki oleh suatu negara dapat berupa bentuk-bentuk5 1% !urisdiksi dengan prinsip territorial, 2% !urisdiksi dengan prinsip personal (nasionalitas), 6% !urisdiksi dengan prinsip kedaulatan, 8% !urisdiksi dengan prinsip uni/ersal, Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i 2%

Kedaulatan Ne"ara Ata! /uan" An"ka!a Suatu dalil hukum -oma+i5 cujus est solum/ ejus est ur0ue ad coelum* bah+a barang siapa ang memiliki sebidang tanah dengan demikian juga memiliki segala-galan a ang berada di atas permukaan tanah tersebut sampai ke langit, dan segala apa ang berada di dalam tanah% &alam hal masukn a kapal asing maka hal dapat dilakukan terhadapn a adalah peringatan, jika menolak maka dilakukan pengejaran dan jika masih menolak sebagai tindakan akhir adalah penembakan% #engejaran dan penembakan pesa+at asing ang telah melanggar kedaulatan +ila ah suatu negara (intercepstions)% Kedaulatan Ne"ara Ata! Per$ata!an #erbatasan merupakan pemisah antara berlakun a suatu kedaulatan negara dengan kedaulatan negara lain% Ser*itude! Merupakan pembatasan terhadap kedaulatan (territorial) negara% Mun3ul manakala di suatu +ila ah negara terdapat hak-hak negara lain% "U#ISDI$SI !urisdiksi adalah kekuasaan atau kompetensi hukum negara terhadap orang, benda atau peristi+a (hukum)%

2/,

9%

!urisdiksi berkenaan dengan pesa+at udara%

(d )%* 9urisdiksi dengan prinsip territorial 'ah+a setiap negara mempun ai urisdiksi terhadap kejahatan ang dilakukan di +ila ahn a% #rinsip territorial, dibagi menjadi dua5 1% !urisdiksi menurut prinsip territorial subjekti0, !urisdiksi negara, dimana perbuatan:tindakan tersebut dimulai% 2% !urisdiksi menurut prinsip territorial objekti0, !urisdiksi negara, dimana perbuatan:tindakan itu diselesaikan% #rinsip territorial ini berlaku pada hal-hal5 1% Hak lintas di laut territorial, Hasil "on0erensi "odi0ikasi Hukum $aut &en Haag 4ahun 1C6D* dipertegas oleh "on0erensi Hukum $aut .ene+a 1C9E dan 1CE2% !urisdiksi kriminal tidak dapat dilaksanakan atas kapal asing ang sedang melintasi laut territorial ke3uali dalam hal apabila5 a% "ejahatan itu dirasakan oleh negara pantai, b% Mengganggu perdamaian dan ketertiban laut territorial, 3% 4elah diminta bantuan oleh negara bendera, d% &iperlukan untuk menumpas perdagangan gelap narkotika% 2% #rinsip urisdiksi terhadap kapal bendera asing (floating island) di laut territorial, ,egara pantai memiliki urisdiksi penuh atas setiap kapal ang melakukan lintasan di laut trritorialn a, ke3uali kapal perang dan kapal pemerintah asing ang memiliki kekebalan terhadap kedaulatan negara lain (tetapi tunduk pada urisdiksi legislati0)% Ada dua teori5 a% 4eori pulau terapung (floating island theory%,

6%

8%

9% F%

"apal tersebut harus diperlakukan oleh negara lain sebagai bagian dari +ila ah suatu negara% !urisdiksi pengadilan tidak berlaku% b% 4eori ang men atakan bah+a pengadilan negara pantai memberi kekebalan (imunitas) tertentu kepada kapal-kapal asing dan +akiln a% 'erdasarkan teori objekti0, kekebalan dapat ditarik kembali oleh negara pantai% #elabuhan, 'erada dalam kedaulatan territorial negara pantai, sehingga negara pantai memiliki urisdiksi territorial ke3uali dalam:terhadap kapal-kapal men angkut masalah-masalah ekonomi intern (internal economy), ke+enangan tetap berada pada pejabat-pejabat negara bendera kapal% 4erhadap orang asing, Sama dengan terhadap +arga negaran a, tetapi +arga negara asing dapat menuntut untuk lepas dari urisdiksi territorial dalam hal* a% dengan alasan adan a imunitas tertentu* negara tidak ber+enang, b% bah+a hukum negara tersebut tidak sejalan dengan Hukum Internasional% !urisdiksi territorial terhadap pelaku tindakan pidana, #enge3ualian terhadap urisdiksi territorial, Antara lain5 a% ,egara dan kepala negara asing, "ekebalan penuh% #rinsip-prinsip lain sebagai dasar kedaulatan tersebut5 1% Adan a phrase hukum* par in parem non habet inperium* suatu negara berdaulat tidak dapat menjalankan urisdiksin a terhadap negara berdaulat lainn a% 2% #rinsip resiprositas dan komisitas* timbal balik dalam Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

2/.

b%

3% d% e%

memberikan kekebalan ang serupa% 6% =akta bah+a putusan pengadilan tidak dapat dilaksanakan terhadap negara lain% 8% =akta bah+a negara ang mengi(inkan negara lain masuk telah memberikan kekebalan% 9% =akta bah+a kebijaksanaan suatu pemerintah tidak dapat diselidiki oleh pengadilanpengadilan negara lain% &alam hal iure imperii* kekebalan berlaku% &alam hal iure gestionis* kekebalan tidak berlaku% #er+akilan diplomatik dan konsuler, "ekebalan berlaku ke3uali dalam hal5 1% #erbuatan ang berhubungan dengan barang bergerak dalam +ila ah negara penerima, ke3uali atas nama negara penerima untuk misi diplomatik% 2% #erbuatan ang berhubungan dengan suksesi* terlibat sebagai perseorangan% 6% "egiatan pro0esi dan komersil di luar 0ungsi resmin a% ,egara tuan rumah dapat men atakan tidak per3a a kepada seorang diplomat (persona non grata)% "apal pemerintah negara asing, Angkatan bersenjata asing, 7rganisasi internasional%

,egara-negara Anglo Sa?on membatasi urisdiksin a terhadap kejahatan ang sangat serius, seperti* penghianatan, pembunuhan, bigami% !urisdiksi dengan prinsip nasionalitas ini dibagi dua, aitu5 1% !urisdiksi dengan prinsip nasionalitas akti0, 'ah+a suatu negara memiliki urisdiksi terhadap +arga negaran a ang melakukan tindak pidana di luar negeri (harus diekstradisi dahulu)% 2% !urisdiksi dengan prinsip nasionalitas pasi0, 'ah+a suatu negara memiliki urisdiksi untuk mengadili orang asing ang melakukan tindak pidana terhadap +arga negaran a di luar negeri% (d 4%* 9urisdiksi dengan prinsip kedaulatan/ Suatu negara dapat melaksanakan urisdiksin a terhadap +arga negara asing ang melakukan kejahatan di luar negeri ang diduga dapat mengan3am kepentingan keamanan, integritas dan kemerdekaan a% (d 5%* 9urisdiksi dengan prinsip universal/ Setiap negara mempun ai urisdiksi untuk mengadili tindak kejahatan tertentu (seperti pembajakan di laut dan kejahatan perang) tanpa melihat bendera, dsb% (d 3%*9urisdiksi berkenaan dengan pesawat udara' !ang menjadi pertimbangan bah+a masalah ini dianggap penting dalam Hukum Internasional adalah antara lain5 1% #erkembangan teknologi dan telekomunikasi, lebih memungkinkan terjadin a tindak pidana dalam pesa+at udara, men angkut kebangsaan maka urisdiksi mana ang berlaku% 2% =akta bah+a ruang gerak pesa+at udara adalah transnasional (ke3uali bagi pesa+at domestik)% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

(d -%* 9urisdiksi dengan prinsip personal :nasionalitas% 'ah+a suatu negara dapat mengadili +arga negaran a terhadap kejahatan-kejahatan ang dilakukan di manapun juga% ,egara-negara ;ropa "ontinental menggunakan prinsip nasionalitas%

22

#embajakan* dimulai sejak pesa+at terbang dengan ke3epatan penuh (in fly) sampai mendarat (landing), de0inisi ini diperluas oleh "on0erensi Montreal 1CA1 ang men atakan bukan saja in fly tapi in service (sejak pintu pesa+at tertutup) sampai pintu terbuka dengan asumsi pintu terbuka maka pesa+at tidak akan bisa terbang% ,egara ber+enang5 1% &i udara* hukum negara pesa+at ang dida0tarkan (di negaran a)% 2% &i darat* juga ditambah hukum negara dimana pesa+at itu mendarat% %AN((UN( 0A1A- NE(A#A $atar belakang timbuln a tanggung ja+ab negara dalam Hukum Internasional adalah bah+a tidak ada satu negara pun ang dapat menikmati hak-hakn a tanpa menghormati hak-hak negara lain% 2esponsibility selanjutn a menjadi liability% "arakteristik penting adan a tanggung ja+ab negara ini tergantung kepada 0aktor-0akor dasar, aitu (menurut Sha+)5 1% Adan a suatu ke+ajiban Hukum Internasional ang berlaku antara dua negara tertentu% 2% Adan a suatu perbuatan atau kelalaian ang melanggar ke+ajiban Hukum Internasional% 6% Adan a kerusakan atau kerugian sebagai akibat adan a tindakan ang melanggar hukum atau kelalaian% "ejahatan internasional adalah semua perbuatan mela+an hukum se3ara internasional ang berasal dari pelanggaran suatu ke+ajiban internasional ang esensial guna perlindungan terhadap kepentingan ang mana pelanggaran tersebut diakui sebagai suatu kejahatan oleh mas arakat, 3ontoh* agresi, penjajahan, perbudakan, genocide, apartheid, polusi udara:laut, dsb%

Selain dari kejahatan internasional, maka semua perbuatan mela+an hukum se3ara internasional adalah delik internasional% +an""un" 0a1a$ Perdata dan +an""un" 0a1a$ Pidana Hukum Internasional tidak mengenal perbedaan antara tanggung ja+ab perdata dan tanggung ja+ab pidana% Sha+ berpendapat bah+a pertanggungja+aban suatu negara terbatas untuk memba ar ganti kerugian% Ma3am-ma3am tanggung ja+ab5 1% 4anggung ja+ab atas perbuatan mela+an hukum (delictual liability), $ahir dari setiap kesalahan atau kelalaian suatu negara terhadap orang asing di dalam +ila ahn a atau +ila ah negara lain% Hal tersebut timbul karena5 a% ;ksplorasi ruang angkasa, Sistem tanggung ja+ab absolut% b% ;ksplorasi nulir, Sistem tanggung ja+ab absolut% 3% "egiatan-kegiatan lintas batas nasional% 2% 4anggung ja+ab atas pelanggaran perjanjian (contractual liability), Meliputi5 a% #elanggaran suatu perjanjian, Melanggar dan merugikan negara lain% Melahirkan ganti rugi% #enge3ualian tanggung ja+ab negara atas pelanggaran perjanjian5 1% &ilakukan dengan persetujuan negara ang dirugikan, 2% &iterapkann a sanksi-sanksi ang sah menurut pasal-pasal tentang tanggung ja+ab negara ang dibuat oleh komisi Hukum Internasional, 6% "eadaan memaksa (force majeur), 8% 4indakan ang sangat diperlukan (state of necessity), Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

22/

4indakan bela diri (self, defense)% b% #elanggaran suatu kontrak, 'iasan a karena tindakan-tindakan pejabat negara melebihi kapasitasn a (ulra vires%% Ada 6 teori menurut Starke tentang bagaimana negara kreditor menghadapi negara debitor ang tidak memenuhi ke+ajiban memba ar utangn a, aitu5 a% 4eori $ord #almerston (1E8E), ,egara kreditor berhak 3ampur tangan se3ara diplomatik atau bahkan militer ke dalam negara tersebut% b% 4eori &rago (1CD2), ,egara kreditor dilarang untuk menggunakan tindakan-tindakan kekerasan seperti inter/ensi militer untuk menuntut pemba aran utangn a% 4eori ang men atakan bah+a tidak ada ketentuan atau metode khusus bagaimana suatu negara debitor melunasi utangn a%

9%

3%

+e%ri Ke!alahan Antara lain5 1% 4eori objekti0 (teori risiko), 4anggung ja+ab negara adalah mutlak (strict%% Manakal suatu pejabat:agen negara telah melakukan tindakan ang mengakibatkan kerugian terhadap orang lain, maka negara bertanggung ja+ab menurut Hukum Internaional tanpa dibuktikan apakah tindakan tersebut dilaksanakan dengan baik atau jahat% 2% 4eori subjekti0 (teori kesalahan), 4anggung ja+ab negara ditentukan oleh adan a unsur kesalahan (dolus) atau kelalaian (cupla) pada pejabat atau agen ngara ang bersangkutan% "e3ederungan pada teori objekti0%

23hau!ti%n %' 4%.al /emedie! Merupakan bentuk pernghormatan atas suatu negara% Sebelum diajukan klaim:tuntutan ke pengadilan internasional, langkah-langkah pen elesaian sengketa (local remedies) ang tersedia atau ang diberikan oleh negara tersebut harus terlebih dahulu ditempuh (e&hausted)% &iberikan untuk memberi kesempatan guna memperbaiki kesalahan dan mengurangi tuntutann a% $o3al remedies tidak berlaku manakala suatu negara telah bersalah terhadap pelanggaran langsung Hukum Internasional ang men ebabkan kerugian terhadap negara lainn a, misal5 pen erangan terhadap diplomat% #rinsip-prinsip diterapkann a e?hausted o0 lo3al remedies (menurut Starke), antara lain5 1% Suatu upa a pen elesaian setempat (local remedies) dianggap tidak 3ukup dan tidak perlu digunakan manakala pengadilan setempat tampakn a tidak menunjukkan akan memberikan ganti kerugian% 2% Seorang penuntut tidak perlu menggunakan upa a pen elesaian setempat manakala upa a tersebut tidak ada% 6% Apabila kerugian tersebut disebabkan oleh tindakan-tindakan eksekuti0 pemerintah setempat ang tidak tunduk kepada urisdiksi pengadilan setempat% 8% ,egara-negara dapat men atakan bah+a local remedies dapat diindahkan, meskipun melalui arbitrase merupakan pengindahan local remedies se3ara diamdiam% D%kttrin m#uta$ilita! $atar belakang doktrin ini aitu bah+a negara sebagai suatu kesatuan hukum ang abstrak tidak dapat melakukan tindakan,tindakan ang n ata% Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

222

&oktrin ini mengasimilasikan tindakantindakan pejabat-pejabat negara dengan negaran a ang men ebabkan negara tersebut bertanggung ja+ab atas semua kerugian atau kerusakan terhadap harta benda atau orang asing% &oktrin imputabilitas (kebal), dianggap tidak berlaku dalam kasus HAM karena HAM merupakan proteksi terhadap indi/idual right% HAM terdiri dari 6 generasi5 1% Generasi I* perlindungan hak-hak sipil dan politik% 2% Generasi II* perlindungan hak-hak ekonomi dan sosial% 6% Generasi II* perlindungan terhadap kebuda aan, orang terhadap orang% 2k!#r%#ria!i ;kspropriasi atau pengambilalihan suatu perusahaan asing adalah suatu pelanggaran hukum ke3uali apabila dipenuhi s arat-s arat sbb%5 1% 4idak dilaksanakan hak-hak pemilikan perusahaan oleh negara ang bersangkutan, 2% Untuk kepentingan umum (public purpose), 6% Ganti rugi ang pantas (appropriate compensation), @epat (prompt), memadai (ade0uate), dan man0aat (effective)% 8% ,on diskriminasi (non discrimination), Merupakan suatu pras arat agar ekspropriasi sah%

4anggung ja+ab terhadap kejahatan Internasional selain daripada pelanggaran ke+ajiban perjanjian, misaln a* perlakuan terhadap orang asing, internasional minimun standard (standar minimum internasional)* la+an dari national treatment standard% #ada negara maju, international minimum standard bagi +arga negara asing harus dipenuhi terlepas dari bagaimana negara tersebut memperlakukan +arga negaran a% #ada negara berkembang, dalam memperlakukan orang asing tidak berbeda:sama saja sebagaimana haln a memperlakukan +arga negaran a (national treatment standard)% +an""un" 0a1a$ Ne"ara dan 4in"kun"an Suatu negara tidak berhak menggunakan +ila ahn a untuk digunakan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan kerugian terhadap +ila ah negara lain maupun harta benda atau orang ang berdiam di +ila ah tersebut% #E2E#ENSI &iantaran a5 (spek,aspek +egara Dalam Hukum Internasional, oleh Huala Adol0, S%H%, #engantar Hukum Internasional, oleh #ro0% Mo3htar "usumaatmadja, S%H%, $$M%, #engantar Hukum Internasional, oleh .%G% Starke, &ll%

Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

22!

Kum#ulan Catatan Kuliah Oleh Ande Akhmad Sanu!i

22'