Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI KATA PENGANTARi DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 1 BAB I BAB II BAB III BAB IV SKENARIO ........................................................................................................

2 KATA KUNCI .................................................................................................... 3 PROBLEM ........................................................................................................ 10 PEMBAHASAN ............................................................................................... 11

A. Bahasan ................................................................................................................. 6 B. Anatomi /Histologi /Fisiologi /Patofisiologi /Patomekanisme.............................. 6 C. Jenis jenis Penyakit yang Berhubungan ........................................................... 13 D. Gejala Klinis ....................................................................................................... 13 E. Pemerikasaan Fisik Penyakit ............................................................................... 14 F. Pemeriksaan Penunjang Penyakit ........................................................................ 16 BAB V HIPOTESIS AWAL ( Differential Diagnosis ) .................................................... 18 BAB VI ANALISIS DARI DIFFFERENTIAL DIAGNOSIS ........................................... 19 A. Gejala Klinis ....................................................................................................... 19 B. Pemeriksaan Fisik ............................................................................................... 19 C. Pemeriksaan Penunjang....................................................................................... 19 BAB VII HIPOTESIS AKHIR (Diagnosis) ........................................................................ 20 BAB VIII MEKANISME DIAGNOSIS .............................................................................. 21 Mekanisme Berupa Bagan Sampai Tercapainya Diagnosis .................................... 21 BAB IX STRATEGI MENYELESAIKAN MASALAH ................................................... 23 A. Penatalaksanaan .................................................................................................. 23 B. Prinsip Tindakan Medis ...................................................................................... 23 BAB X PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI ..................................................................... 25 A. Cara Penyampain Prognosis Kepada Pasien / Keluarga Pasien .......................... 25 B. Tanda Untuk Merujuk Pasien .............................................................................. 25 C. Peran Pasien / Keluarga Untuk Penyembuhan .................................................... 25 D. Pencegahan Penyakit........................................................................................... 26

BAB I Skenario

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan bengkak di kaki sebelah kanan.

BAB II Kata kunci

1. Usia Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu dihitung. Oleh yang demikian, umur itu diukur dari tarikh ianya lahir sehingga tarikh semasa(masakini). Manakala usia pula diukur dari tarikh kejadian itu bermula sehinggalah tarikh semasa(masa kini). Jenis perhitungan usia

Usia kronologis Usia kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia.

Usia mental Usia mental adalah perhitungan usia yang didapatkan dari taraf kemampuan mental seseorang. Misalkan seorang anak secara kronologis berusia empat tahun akan tetapi masih merangkak dan belum dapat berbicara dengan kalimat lengkap dan menunjukkan kemampuan yang setara dengan anak berusia satu tahun, maka dinyatakan bahwa usia mental anak tersebut adalah satu tahun.

Usia biologis Usia biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang dimiliki oleh seseorang.

2. Puskesmas Definisi Puskesmas : Menurut Depkes 1991,Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat 3

disamping memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Fungsi Puskesmas: Fungsi puskesmas itu sendiri meliputi a. Fungsi Pokok 1) Pusat pengerak pembangunan berwawasan kesehatan Pusat pemberdayaan 2) masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan 3) Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama b. Peran Puskesmas

Sebagai lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat diwilayah terkecil dalam hal pengorganisasian masyarakat serta peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan kesehatan secara mandiri c. Cara-cara yang ditempuh 1) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri. 2) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif. 3) Memberikan bantuan teknis 4) Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat 5) Kerjasama lintas sektor

d. Program Pokok Puskesmas 1) KIA 2) KB 3) Usaha Kesehatan Gizi 4) Kesehatan Lingkungan 5) Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular 6) Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan 7) Penyuluhan kesehatan masyarakat 8) Kesehatan sekolah 9) Kesehatan olah raga 10) Perawatan Kesehatan 11) Masyarakat 4

12) Kesehatan kerja 13) Kesehatan Gigi dan Mulut 14) Kesehatan jiwa 15) Kesehatan mata 16) Laboratorium sederhana 17) Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK 18) Pembinaan pemgobatan tradisional 19) Kesehatan remaja 20) Dana sehat e. Satuan Penunjang 1) Puskesmas Pembantu Pengertian puskesmas pembantu yaitu Unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam rung lingkup wilayah yang lebih kecil 2) Puskesmas Keliling Pengertian puskesmas Keliling yaitu Unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasiserta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas.dengan funsi dan tugas yaitu Memberi pelayanan kesehatan daerah terpencil ,Melakukan penyelidikan KLB,Transport rujukan pasien, Penyuluhan kesehatan dengan audiovisual. 3) Bidan desa

Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan ditempatkan seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.Wilayah kerjanyadengan jumlah penduduk 3.000 orang. Adapun Tugas utama bidan desa yaitu : a) Membina PSM b) Memberikan pelayanan c) Menerima rujukan dari masyarakat

3. Tujuan Puskesmas Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal 5

diwilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesiam Sehat 2010.

4. Tugas Puskesmas Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunankesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmasw melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan. Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara mrnyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.Jenis pelayan kesehatan disesuaikandengan kemampuan puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada serta kemampuan puskesmas. Upaya-upaya kesehatan wajib tersebut adalah ( Basic Six): a. Upaya promosi kesehatan b. Upaya kesehatan lingkungan c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana d. Upaya perbaikan gizi masyarakat e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular f. Upaya pengobatan Berdasarkan pertimbangan diatas maka pada tahun 1994 dibangunlah Puskesmas Wangisagara yang beralamat di Jln Raya Wangisagara dengan nomor kode Puskesmas yaitu 2904. Status puskesmas Wangisagara saat ini yaitu TTP. Adapun status puskesmas dalam program TB Paru yaitu PRM. PRM ini dibentuk dengan harapan bisa menciptakan sebuah kecamatan yang sehat untuk menuju Indonesia Sehat 2010.

3. Jenis kelamin Jenis kelamin (bahasa Inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu. Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada manusia dikenal menjadi laki-laki dan perempuan. Pada kebanyakan hewan non-hermafrodit, tumbuhan berumah dua (dioecious), dan berbagai organisme rendah orang menyebutnya jantan dan betina. Jantan adalah kelompok yang menyediakan spermatozoid (sel gamet yang aktif bergerak), sedangkan betina adalah kelompok yang menyediakan sel gamet yang statik dan menunggu untuk dibuahi. Adanya alat kelamin yang khas untuk masing-masing seringkali dijadikan penciri bagi masing-masing jenis kelamin. Sebagi tambahan, sering kali tampak ciri-ciri sekunder yang terjadi seperti pada manusia (misalnya payudara dan sebaran rambut), banyak unggas (seperti pada ayam dan merak, serta sejumlah mamalia (contoh yang mudah terlihat adalah singa). Hermafrodit adalah individu yang dapat berperan sekaligus sebagai jantan dan betina pada saat yang relatif bersamaan. Pada hewan gejala ini relatif rendah frekuensinya, tetapi tinggi frekuensinya pada tumbuhan dan banyak organisme rendah (protista). Hewan hermafrodit yang paling dikenal adalah siput. Tumbuhan yang berumah tunggal, baik monoklin (berbunga lengkap, seperti padi) maupun diklin (berbunga tak lengkap, seperti jagung) Pada sejumlah protista dan bakteri dikenal organisme dengan jenis kelamin positif (+) dan negatif (-). Penamaan ini diberikan karena diketahui terjadi transfer material genetik dari satu individu ke individu yang lain (disebut konjugasi) namun tidak disertai dengan dimorfisme (tidak ada alat kelamin atau petunjuk seksual lainnya yang teramati). Hal ini berbeda dari hermafroditisme, karena pada yang terakhir ini diketahui ada alat kelamin (kedua alat kelamin dimiliki oleh satu individu) dan terjadi pertukaran material genetik satu sama lain.

Ada 5 jenis kelamin dimiliki manusia,hewan dan tumbuhan yaitu:

Laki-laki

Seorang memiliki kemaluan dan identitasnya laki-laki.

Perempuan

Seorang memiliki kemaluan dan identitasya perempuan.

Waria (Male to Female atau Transwoman)

Seorang memiliki kemaluan laki-laki tetapi identitasnya seperti perempuan.

Riawa (Female to Male atau Transman)

Seorang memiliki kemaluan perempuan tetapi identitasnya seperti laki-laki.

Hermafrodit

Seorang memiliki kemaluan ganda tetapi identitasnya belum tentu disebut laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin dan gender Jenis kelamin dikaitkan pula dengan aspek gender, karena terjadi diferensiasi peran sosial yang dilekatkan pada masing-masing jenis kelamin. Pada masyarakat yang mengenal "machoisme", umpamanya, seorang laki-laki diharuskan berperan secara maskulin ("jantan" dalam bahasa sehari-hari) dan perempuan berperan secara feminin. Sebagai contoh, tidak ada tempat bagi seorang laki-laki yang sehari-harinya mencuci piring/pakaian karena peran ini dianggap dalam masyarakat itu sebagai peran yang harus dilakukan perempuan (peran feminin). 4. Bengkak Bengkak adalah pembesaran atau protuberansi pada tubuh, termasuk tumor. Bengkak merupakan salah satu dari lima ciri utama pada peradangan, bersama dengan rasa sakit, panas, warna kemerahan, dan disfungsi.Menurut penyebabnya, bengkak dapat 8

bersifat kongenital, traumatik, radang, neoplastik, dan lain-lain. Akhiran "-megali" digunakan dalam bidang medis untuk menjelaskan pembengkakan, seperti hepatomegali, akromegali, dan splenomegali. Bagian tubuh membengkak disebabkan oleh adanya luka, infeksi, atau suatu penyakit.

BAB III Problem

1. Apakah penyebab bengkak dikaki sebelah kanan ? 2. Faktor apakah yang dapat memicu timbulnya bengkak ? 3. Bagaimana penatalaksanaannya ?

10

BAB IV Pembahasan

Batasan Filariasis

Anatomi CACING FILARIA DAN PENYAKIT KAKI GAJAH -

Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah (filariasis), ukurannya supermini, berwujud mirip benang. Begitu cacing filarial bersarang di tubuh manusia, berbagai perubahan mengerikan bakal terjadi. Kegiatan cacing mini dalam tubuh itu mampu membuat kaki, tangan, payudara, bahkan buah zakar penderitanya berubah menjadi berukuran raksasa. Inilah yang sering disebut penyakit kaki gajah.

Melihat betapa mengerikan penyakit itu, masih banyak orang di pedesaan meyakini, penyakit itu adalah penyakit keturunan, bahkan dianggap sebagai gangguan setan atau roh halus. Walau sangat jarang menyebabkan kematian, penyakit itu membuat penderita menjadi cacat dan tak produktif.

11

Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah itu berasal dari genus wuchereria dan brugia. Di Indonesia cacing yang dikenal sebagai penyebab penyakit tersebut adalah wuchereria bancrofti, brugia malayi, dan brugia timori. -

Cacing dewasa berbentuk silindris, halus seperti benang putih serta berukuran panjang 55 100 mm dan tebal 0,16 mm. Cacing jantan lebih kecil, 55 mm 0,09 mm. Larva mikrofilaria sekali keluar jumlahnya bisa puluhan ribu larva bersarung berukuran 200-600 mikron x 8 mikron.

Ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Saleha Sungkar, menjelaskan, mikrofilaria masuk ke tubuh manusia lewat nyamuk. Lebih dari 20 species nyamuk menjadi vektor (penyebar penyakit) filiriasis. Nyamuk Culex quinquefasciatus sebagai vektor (penyebar penyakit) untuk wuchereria bancrofti di daerah perkotaan. Di pedesaan vektor umumnya Anopheles, Culez, Aedes, dan Mansonia. Spesies nyamuk vektor bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lain.

Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi sebelumnya tumbuh di dalam tubuh nyamuk. Makhluk mini itu berkembang dalam otot nyamuk. Sekitar 3 minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif dan berpindah ke alat tusuk nyamuk. Nyamuk pembawa mikrofilaria itu lalu gentayangan menggigit manusia dan memindahkan larva infektif tersebut.

12

Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari, selebihnya bersembunyi di organ dalam tubuh. Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam hari. Selain manusia, untuk brugia malayi, sumber penularan penyakit juga bisa binatang liar, seperti kera dan kucing (hospes reservoir).

Setelah dewasa, cacing menyumbat pembuluh limfe dan menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki, pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar. Di tubuh manusia cacing itu menumpang makan dan hidup, ujar Saleha.

Ketika menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.

Diagnosis dini orang yang mengandung mikrofilaria baru dapat ditegakkan jika ditemukan gejala dan tanda akut filariasis. Gejalanya, antara lain, demam berulang dan pembengkakan kelenjar getah bening. Dapat terjadi ketiak tampak kemerahan, panas, dan sakit, selain juga pembesaran organ tubuh.

Gejala klinik kronis berupa pembesaran menetap pada tungkai, lengan, payudara, atau buah zakar. Namun, umumnya, diagnosis baru ditegakkan setelah penyakit berkembang 5-6 bulan setelah dapat ditemukan mikrofilaria dalam darah tepi. Ada kalanya, tidak muncul gejala klinis, baik akut maupun kronis, sehingga orang itu tidak merasakan terserang filariasis.

Pakar filariasis lainnya, dr Agnes Kurniawan Phd dari Fakultas Kedokteran UI, mengatakan, jika tak diobati, pembesaran terus terjadi sehingga membentuk jaringan ikat dan kulit menebal. Akibatnya, timbul cacat menetap.

Diagnosis filariasis sedini mungkin membantu penyembuhan penderita. Deteksi dilakukan dengan mengenali gejala akut dan kronis yang dipastikan lewat pemeriksaan darah pada jari penderita pada malam hari.

Dr Agnes mengatakan, penanganan kasus berat filariasis dapat melalui operasi. Limfe yang tersumbat alirannya dialihkan ke pembuluh vena sehingga penderita sembuh. Namun, jika 13

kulit sudah telanjur menebal, cacat akan menetap. Operasi yang dilakukan berupa operasi estetika dan sulit bisa kembali seperti semula, ujar dr Agnes.

Prof Soleha mengatakan, penderita dengan pembesaran menetap justru tubuhnya sudah tidak mengandung cacing lagi sehingga tidak menularkan. Cacing filarial dalam tubuh orang itu sudah mati.

Penanggulangan filariasis dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu pengurangan reservoir penular, penanggulangan vektor (nyamuk), dan pengurangan kontak vektor dan manusia.

Khusus pengobatan massal, prosedur sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pengobatan massal sejak lama menggunakan diethylcarbamazine citrate (DEC) yang sudah dipraktikkan di 50 negara mencakup 496 juta orang.

Di Indonesia sebanyak 11.699 kasus kronis filariasis ditemukan di 378 kabupaten/kota. Berdasarkan pemetaan didapatkan, prevalensi mikrofilaria di Indonesia sebesar 19 persen, yang berarti 40 juta orang di Indonesia tubuhnya membawa mikrofilaria.

Indonesia pun berusaha memberantas penyakit tersebut dengan belakangan mengguyur DEC, albendazole, dan paracetamol ke jutaan warga, berharap si cacing mini tak lolos dari kepungan pembasmian. -

14

Jenis-jenis penyakit yang bersangkutan 1. Lymphedema 2. Ibu hamil 3. Diabetes mielitus

Gejala klinis
Identitas Pasien
Nama Umur : : Tn. Supriana 30 tahun

Alamat Jenis Kelamin Pekerjaan

: : :

Jl. Parung panjang, bogor Laki - laki Petani

15

Riwayat Penyakit Sekarang ( RPS )


Penderita kadang mengalami panas yang tidak tentu, kaki bengkak sejak 1 bulan yang lalu dan nyeri dibagian kaki yang bengkak secara keseluruhan.

Riwayat Penyakit Dahulu ( RPD ) Sebelumnya penderita tidak pernah mengalami bengkak dikaki tetapi ada tetangga 5 orang yang terkena bengkak pada kakinya. Dilingkungan penderita banyak genangan air.

Pemeriksaan Fisik Penyakit


Keadaan Umum Vital Sign : : composmetis Tekanan darah Nadi Respiratory Rate Suhu Inspeksi : : - Anemia - Ikterus - Dipsnea - Sianosis 2. Thorax : : : : : : : : 120 / 80 mmHg 80 x /menit 14 x / menit 38 C (axiler)

1. Kepala dan Leher

: - S1 & S2 Tunggal - Murmur : -

3. Abdomen

: - Supe - Ren - Bising Usus - Hepar

: : : :

Normal Tak teraba 15x/menit 1 jari dibawah arcus costa

- Tepi tajam permukaan halus - Lien 4. Ekstremitas : Tak teraba

: Nampak dijumpai clubbing finger

16

Pemeriksaan Lab
1. Pemeriksaan Darah : ditemukan mikrofilaria berselubung, inti tidak mencapai ujung ekor. 2. Eosinofilia : ditemukan parasit

17

BAB V Hipotesis awal ( defferential diagnosis ) Penyakit yang ciri ciri nya sesuai dengan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien dalam skenario di atas adalah Filariasis.

18

BAB VI ANALISIS DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

Filariasis Pengertian Filariasis atau yang lebih dikenal juga dengan penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat seumur hidup berupa pembesaran tangan, kaki, payudara, dan buah zakar. Cacing filaria hidup di saluran dan kelenjar getah bening. Infeksi cacing filaria dapat menyebabkan gejala klinis akut dan atau kronik (Depkes RI, 2005). Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah. Mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu: 1. Wuchereria bancrofti 2. Brugia malayi 3. Brugia timori (Gandahusada, 1998).

Gejala klinis Gejala-gejala yang terdapat pada penderita Filariasis meliputi gejala awal (akut) dan gejala lanjut (kronik). Gejala awal (akut) ditandai dengan demam berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari apabila bekerja berat, timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka di badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang bewarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau tangan. Gejala lanjut (kronis) ditandai dengan pembesaran pada kaki, tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita sehingga menimbulkan cacat yang menetap. 1. Filariasis tanpa Gejala Umumnya di daerah endemik, pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah inguinal. Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar dan eosinofilia. 2. Filariasis dengan Peradangan Demam, menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah yang dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Organ yang terkena terutama saluran limfe tungkai dan 19

alat kelamin. Pada laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai penebalan dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan skrotum. Serangan akut dapat berlangsung satu bulan atau lebih. Bila keadaannya berat dapat menyebabkan abses ginjal, pembengkakan epididimis, jaringan retroperitoneal, kelenjar inguinal dan otot ileopsoas. 3. Filariasis dengan Penyumbatan Pada stadium menahun terjadi jaringan granulasi yang proliferatif serta pelebaran saluran limfe yang luas lalu timbul elefantiasis. Penyumbatan duktus torasikus atau saluran limfe perut bagian tengah mempengaruhi skrotum dan penis pada laki-laki dan bagian luar alat kelamin pada perempuan. Infeksi kelenjar inguinal dapat mempengaruhi tungkai dan bagian luar alat kelamin. Elefantiasis umumnya mengenai tungkai serta alat kelamin dan menyebabkan perubahan yang luas. Bila saluran limfe kandung kencing dan ginjal pecah akan timbul kiluria (keluarnya cairan limfe dalam urin), sedangkan bila yang pecah tunika vaginalis akan terjadi hidrokel atau kilokel, dan bila yang pecah saluran limfe peritoneum terjadi asites yang mengandung kilus. Gambaran yang sering tampak ialah hidrokel dan limfangitis alat kelamin. Limfangitis dan elefantiasis dapat diperberat oleh infeksi sekunder Streptococcus.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi saluran getah bening dapat dilakukan dengan :

pemeriksaan nuklir berupa limfoskintigrafi pemeriksaan USG biopsy pemeriksaan LAB :

Pemeriksaan Darah : ditemukan mikrofilaria berselubung, inti tidak mencapai ujung ekor.

Eosinofilia : ditemukan parasit

20

BAB VII Hipotesis akhir ( Diagnosis ) Penyakit yang ciri ciri nya sesuai dengan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien dalam skenario di atas adalah Filariasis.

21

BAB VIII Mekanisme Diagnosis

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan bengkak di kaki sebelah kanan.

Anamnesa: - Keluhan utama : bengkak di kaki sebelah kanan - RPS : Penderita kadang mengalami panas yang tidak tentu, kaki bengkak sejak 1 bulan yang lalu dan nyeri dibagian kaki yang bengkak secara keseluruhan. - RPD : Sebelumnya penderita tidak pernah mengalami bengkak dikaki tetapi ada tetangga 5 orang yang terkena bengkak pada kakinya. Dilingkungan penderita banyak genangan air

Pemeriksaan fisik : Vital sign : - Tekanan darah: 120/80mmHg - Nadi : 80 x /menit - Respiratory Rate:14x/menit - Suhu :38 C (axiler) Pemeriksaan fisik: Inspeksi : - Kepala leher : a/i/c/d :- Thoraks : S1 S2 tunggal, murmur :- Abdomen : Supe Normal , Ren Tak teraba, Bising Usus :15x/menit, Hepar:1 jari dibawah arcus costa Tepi tajam permukaan halus, Lien : Tak teraba - Ekstremitas : Nampak dijumpai clubbing finger

Diagnose :

Fillariasis

22

Bab IX Strategi penyelesaian masalah

Penatalaksanaan

A. Terapi umum a. Istirahat b. Diet c. Medikamentosa Bed rest dalam keadaan akut Perban elastis untuk menahan edema, elefantiasis Kain penahan untuk orkitis dan epedidimitis

B. Pengobatan infeksi Obat utama yang digunakan adalah dietilkarbamazin sitrat ( DEC ). DEC bersifat membunuh mikrofilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC merupakan satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis bankrofti, dosis yang dianjurkan adalah 6mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filaria brugia, dosis yang dianjurkan adalah 5mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, artralgia, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis brugia, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi waktu pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematode dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Pengobatan kombinasi dapat juga dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC. Yang dapat diobati adalah stadium mikrofilaremia, stadium akut, limfedema, kiluria, dan stadium dini elefantiasis. 23

Terapi suportif berupa pemijatan dan pembebatan juga dilakukan di samping pemberian antibiotika dan corticosteroid, khususnya pada kasus elefantiasis kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.

Prinsip tindakan medis

Pengobatan bertujuan untuk membunuh mikrofilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang.

24

Bab X prognosis dan komplikasi

Prognosis

Bila segera di terapi maka prognosis baik, bila terlambat maka prognosis penyembuhan buruk

komplikasi a. Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena. b. Elephantiasis tungkai c. Limfedema: infeksi wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis, vulva vagina dan payudarah. d. Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pada saluran limfe testis berulang. Pecahnya tunika vaginalis hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan viseralis tunika vagina. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang ada dan dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. e. Kiluria: kencing seperti susu, karena pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih. Cara penyampaian prognosis kepada pasien atau keluarga pasien

1. Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganan penyakit filariasis. 2. Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa penyakit filariasis kronis dapat menimbulkan efek yang buruk. 3. Menjelaskan kepada pasien atau keluarga pasien tentang obat yang akan di berikan dan aturan minum obat tersebut jika pasien ingin sembuh. Tanda-tanda untuk merujuk pasien

Kita dapat merujuk pasien jika pembekakan sudah membesar karena tidak terdeteksi sejak dini.

Peran pasien atau keluarga untuk penyembuhan 25

Peran pasien: 1. Minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter. 2. Selalu melakukan kontrol rutin ke dokter. Peran keluarga: 1. Beri semangat kepada pasien dalam menghadapi pengakit yang di derita. 2. Ingatkan pasien untuk selalu melaksanakan perintah dokter. 3. Selalu memberikan perhatian kepada pasien. 4. Temani pasien selama melakukan pengobatan. 5. Lakukan pendekatan dan komunikasi. Pencegahan penyakit

Pencegahan agar terhindar atau tidak tertular dari infeksi penyakit filariasisa antara lain dengan : Berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector (mengurangi kontak dengan vektor): 1. Menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk atau kawat nyamuk. 2. Menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk bakar. 3. Mengoles kulit dengan anti nyamuk. 4. Menggunakan kelambu bula sewaktu akan tidur Dengan cara memberantas nyamuk,misalnya dengan: 1. Membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk. 2. Menimbun . 3. Mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk. 4. Membersihkan semak-semak, got di sekitar rumah. 5. Mempelihara ikan pemakan nyamuk di dalam kolam atau bak mandi.

26