Anda di halaman 1dari 6

Manifestasi Klinik dan Gejala Nyeri Jantung koroner menimbulkan gejala dan komplikasi sebagai akibat penyempitan lumen

arteri dan penyumbatan aliran darah ke jantung. Sumbatan aliran darah berlangsung progresif, dan suplai darah yang tidak adekuat (iskemia) yang ditimbulkannya akan membuat sel-sel otot kekurangan komponen darah yang dibutuhkan untuk hidup. Kerusakan sel akibat iskemia terjadi dalam berbagai tingkat. Manifestasi utama iskemia miokardium adalah nyeri dada. Angina pektoris adalah nyeri dada yang hilang timbul, tidak disertai kerusakan irreversibel sel-sel jantung. Iskemia yang lebih berat, disertai kerusakan sel dinamakan infark miokardium. Jantung yang mengalami kerusakan irreversibel akan mengalami degenerasi dan kemudian diganti dengan jaringan parut. Bila kerusakan jantung sangat luas, jantung akan mengalami kegagalan. Artinya, ia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan tubuh akan darah dengan memberikan curah jantung yang adekuat. Untuk beberapa pasien dengan penyakit koroner yang signifikan, gejala yang muncul mungkin berbeda dari gejala klasik. Pola rasa nyeri yang timbul termasuk nyeri pada dada bagian depan (96%), nyeri di lengan kiri bagian atas (83,7%), nyeri di lengan kiri bagian bawah (29,3%), dan kadang kadang nyeri leher (22%). Nyeri pada area lain jarang terjadi. Iskemik dideteksi dengan elektrokardiogram (EKG). Penyakit ini akan lebih mudah terdeteksi pada pagi hari (6 pagi hingga 12 siang) daripada waktu lain (Dipiro, dkk. 2008) Manifestasi klinis lain penyakit jantung koroner dapat berupa perubahan pola EKG, aneurisma ventrikel, distritmia, dan kematian mendadak (Sudrat and Burner, 2002) Sedangkan menurut Margaton (1996) Manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner
ada berbagai macam, yaitu iskemia mycocard akut, gagal jantung disritmia atau gangguan irama jantung dan mati mendadak.

Diagnosis PJK Diagnosis penyakit jantung dimulai dengan mendapatkan riwayat potensi untuk timbulnya penyakit jantung koroner. Faktor risiko perlu dinilai, dan kemudian pemeriksaan laboratorium mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi adanya penyakit jantung (Widianto, 2011).

1. Elektrokardiogram (ECG atau EKG) Jantung adalah suatu pompa listrik, dan impuls listrik yang dihasilkannya dapat dideteksi pada permukaan kulit. Otot normal melakukan laktifitas istrik dalam satu mode reproduksi. Otot yang mengalami penurunan suplai darah, perilaku listriknya buruk. Otot yang telah kehilangan suplai darah dan telah diganti dengan jaringan parut tidak dapat menghantarkan listrik. Elektrokardiogram (EKG) adalah tes noninvasif yang digunakan untuk mencerminkan kondisi jantung yang mendasarinya dengan mengukur aktivitas listrik jantung. Beberapa orang telah memiliki EKG baseline normal pada awalnya tetapi ini mungkin normal untuk pengertian mereka. Adalah penting bahwa elektrokardiogram dibandingkan dengan rekaman sebelumnya. Jika seorang pasien memiliki EKG baseline normal, mereka harus membawa salinan untuk mereka sebagai referensi jika mereka membutuhkan EKG lain. EKG adalah salah satu alat diagnosi yang normal untuk pasien penderita angina namun tidak pernah mengalami serangan jantung akut. Perubahan gelombang ST-T yang signifikan disebabkan oleh depresi, inverse gelombang T, dan kenaikan segmen ST. bentuk iskemia selain angina eksersional mungkin memiliki manifestasi EKG yang berbeda. Angina dapat menyebabkan kenaikan segmen ST, sedangkan silent ischemia dapt meningkatkan atau bahkan menurunkan segmen ST. (Dipiro, dkk. 2008)

2. Stress testing (Exercise Tolerance Testing) Exercise tolerance (stress) testing (ETT) direkomendasikan sebagai salah satu alat pendiagnosis PJK untuk pasien yang memiliki factor resiko terkena PJK yang didasari pada umur, jenis kelamin, dan gejala. Meskipun ETT kurang sensitive untuk memprediksi anatomi arteri koroner, namun ETT dapat dikorelasikan dengan hasil pemeriksaan secara baik, seperti perkembangan angina, pengukuran MI akut, dan kematian jantung ( Dipiro, dkk. 2008). Jika EKG baseline relatif normal, maka pemantauan EKG sementara pasien melakukan berolah raga dapat menemukan perubahan listrik yang dapat menunjukkan adanya penyakit jantung koroner. Ada berbagai protokol pengujian digunakan untuk menentukan apakah intensitas latihan cukup tinggi untuk membuktikan bahwa jantung adalah normal. Beberapa pasien tidak dapat latihan pada tes treadmill, namun mereka masih bisa menjalani tes stress jantung dengan menggunakan obat intravena

yang menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Stress testing dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis karena adanya potensi memprovokasi timbulnya angina, sesak napas, irama jantung yang abnormal, dan serangan jantung.

3. Penggambaran Jantung Radionuklida angiokardiografi (dilakukan Tc99m, sebuah radioisotop) digunakan untuk mengukur mengukur fraksi pemompaan, kinerja ventrikel, curah jantung, volume ventrikel, katup regurgitasi, dan kelainan gerakan dinding jantung. Scan teknesium pirofosfat digunakan secara rutin untuk deteksi dan kuantifikasi infark miokard akut (Dipiro, dkk. 2008).

4. Echocardiography Ekokardiografi sangat bermanfaat jika pasien memiliki sejarah atau pemeriksaan fisik pada katup, penyakit pericardial, atau tidak berfungsinya ventrikel (Dipiro, dkk. 2008). Digunakan dengan atau tanpa olahraga, ekokardiografi dapat menilai bagaimana jantung bekerja. Menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar, Kardiolog dapat mengevaluasi banyak aspek dari jantung. Echocardiogram dapat memeriksa struktur jantung termasuk ketebalan otot jantung, septum (jaringan yang memisahkan bilik jantung, empat dari satu sama lain) dan kantung perikardial (lapisan luar jantung). Tes ini secara tidak langsung dapat menilai aliran darah ke bagianbagian dari otot jantung. Jika ada penurunan aliran darah, maka segmen dinding jantung tidak bisa berdenyut sekuat otot jantung yang berdekatan. kelainan sinyal gerak dinding ini potensi untuk penyakit jantung koroner.Echocardiogram juga dapat menilai efisiensi jantung dengan mengukur fraksi ejeksi.Biasanya, bila jantung berdenyut, mendorong lebih dari 60% darah di ventrikel keluar ke tubuh. Banyak penyakit jantung, termasuk penyakit jantung koroner, dapat mengurangi persentase ini (fraksi ejeksi).

5. Tes Perfusi Bahan kimia radioaktif seperti thallium atau teknesium dapat disuntikkan ke pembuluh darah dan serapannya dalam sel otot jantung diukur. serapan yang abnormal menurun dapat menandakan penurunan aliran darah ke bagian-bagian jantung karena penyempitan arteri koroner. Tes ini dapat digunakan jika EKG

baseline pasien tidak normal dan kurang dapat diandalkan ketika digunakan untuk memonitor tes stres.

6. Computerize Tomography Metode generasi terbaru menggunakan ultrarapid computerized tomography (spiral CT, ultrafast CT, electron-beam CT) meminimalisasi kesalahan yang disebabkan gerakan jantung pada saat kontraksi dan relaksasi, serta menyediakan taksiran semikuantitatif dari jumlah kalsium pada arteri koroner. Saat ini CT scan dapat mengambil gambar rinci pembuluh darah dan dapat digunakan sebagai tambahan untuk menentukan apakah ada penyakit arteri koroner. Di beberapa lembaga, CT jantung digunakan sebagai prediktor negatif.artinya bahwa tes ini dilakukan untuk membuktikan bahwa arteri koroner normal ketimbang untuk membuktikan bahwa penyakit ini ada. Jika dibandingkan dengan ETT, metode ini jauh lebih efektif dalam hal biaya. Hal ini disebabkan karena jika jumlah kalsium dalam darah mencapai atau lebih dari 150, maka sensitivitas dari alat ini sebesar 74%, dan spesifikasi mencapai 89% (Dipiro, dkk. 2008).

7. Kateterisasi Jantung dan Arteriografi Koroner Kateterisasi jantung dan angiografi pada pasien yang diduga menderita penyakit jantung koroner digunakan untuk mendokumentasikan diagnosa dari keberadaan dan tingkat keparahan penyakit, serta untuk tujuan prognostic (Dipiro, dkk. 2008) Tes ini adalah gold standar untuk diagnosis penyakit jantung koroner. Seorang ahli jantung menyisipkan benang tabung kecil melalui pangkal paha atau lengan dan kemudian ke arteri koroner, dimana zat warna disuntikkan langsung untuk memvisualisasikan arteri pada sinar-x. Tes ini mendefinisikan anatomi arteri koroner. angiogram CT koroner adalah tes yang cukup baru untuk mendiagnosa penyakit arteri koroner. Selama prosedur ini, pewarna yang mengandung yodium disuntikkan intravena ke pasien dan CT scan dilakukan untuk memperoleh gambar arteri koroner (Widianto, 2011).

Hasil Terapi yang diinginkan Sasaran jangka pendek dari terapi penyakit jantung iskemik adalah untuk mengurangi atau menghindari gejala dari angina yang membatasi kemampuan berolah raga, dan kualitas hidup yang menurun. Sasaran jangka panjang dari terapi adalah untuk mencegah PJK seperti aritmia, dan gagal jantung, serta untuk memperpanjang umur pasien. Selain itu, terapi

diharapkan dapat memperbaiki prognosis dengan cara mencegah infark miokard dan kematian. Upaya yang dilakukan adalah bagaimana mengurangi terjadinya trombotik akut dan disfungsi ventrikel kiri. Hal ini dapat dicapai dengan modifikasi gaya hidup atau intervensi farmakologik yang dapat : 1. Mengurangi progresif plek 2. Menstabilkan plek, dengan mengurangi inflamasi dna memperbaiki fungsi endotel, dan 3. Mencegah thrombosis bila terjadi disfungsi endotel atau pecahnya plak. Hasil terapi penyakit jantung koroner yang diinginkan (jangka pendek): 1. Pemulihan aliran darah ke arteri yang mengalami infark sehingga infark ridak meluas 2. Pencegahan penyakit komplikasi dan kematian 3. Meredakan nyeri dada karena iskemia 4. Pemeliharaan normoglikemia 5. Pencagahan reoklusi arteri koroner

Hasil yang diinginkan dari terapi pengobatan aritmia biasanya berdasarkan penyebab terjadinya aritmia/jenis aritmia. Misalnya yang menderita AF (arterial flutter) diharapkan mendapatkan perbaikan ritme sinud, pencegahan komplikasi tromboembolik, dan mencegah terjadinya aritmia kembali (Wells, 2007). Hasil yang diinginkan dari terapi pengobatan cardiopulmonary arrest dengan menggunakan CPR (Cardiopulmonary resuscitation) adalah untuk memulihkan aliran darah spontan dengan ventilasi dan perfusi secepat mungkin untuk mencegah hipoxia pada jaringan lain. Setelah pemulihan, hasil lanjutan yang diinginkan adalah oksigenasi jaringan dan identifikasi penyebab untuk mencegah kejadian lebih lanjut (Majid, 2007).

Daftar Pustaka Dipiro, T. Dipiro, Robert L. Talbert, Gary C. Yee, Gary R. Matzke, Barbara G. Wells, L. Michael Posey. 2008. Pharmacotherapy A Phatophysiologic Approach 7th Edition. United States : McGraw-Hill Companies-Inc. Majid, Abdul. 2007. Penyakit Jantung Koroner : Patofisiologi, Pencegahan dan Pengobatan Terkini. Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatra Utara. Suddrath dan Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta. Kedokteran EGC. Wells, G. Barbara, Joseph T. Dipiro, Terry L.Schwinghammer, Cecily V. Dipiro. 2009. Pharmacotherapy Handbook 7th Edition. United States : McGraw-Hill Companies-Inc. Widianto, 2011. Penyakit Jantung Koroner. http://widiantopanca.blogdetik.com/infopenyakit/penyakit-jantung-koroner/