Anda di halaman 1dari 5

Shalat Witir

A. Pengertian Shalat Witir secara bahsa al-witru (( adalah lawan dari genap. Ganjil. seperti yag dalam ungkapan sebuah hadits :

Sesungguhnya Allah SWT itu ganjil dan menyukai bilangan ganjil. (HR. Bukhari Muslim) Sedang secara istlah ia adalah

Shalat yang dikerjakan di antara shalat Isya dan terbitnya fajar dan menjadi penutup dari shalat malam. Dinamakan witir hanya karena ganjilnya bukan karena sebagai penutup sholat malam.

B. Dalil dan Hukum Witir Mayoritas ulama menyatakan bahwa sholat witir adalah bagian dari sholat sunnah, bukan sholat wajib. Karena kewajiban sholat itu hanya terbatas pada sholat lima waktu yang Rosul SAW terima pada waktu isro dan miroj. Dalil adanya witir itu adalah :

Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Maka kerjakanlah shalat witir wahai ahli quran. (HR. Bukhari Muslim) juga hadits :

Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bertsbih di atas untanya kemana pun untanya menghadap, dan beliau SAW melakukan shalat witir di atasnya. Namun beliau tidak shalat fardhu di atas unta. (HR. Bukhari Muslim) Di dalam hadits itu dijelaskan bahwa Rosul SAW tidak mengerjakan sholat wajib di ats onta, maka jelaslah bahwa witir itu bukn bagian dari kewajiban tapi ia hanya dihukumi sebagai sunnah muakkadah. Hanya Imam Abu Hanifah yang mewajibkan sholat witir, maka bagi penganut madzhab Abu Hanifah kewajiban sholat mereka ada enam. Lima sholat ditambah satu sholat witir. Akan tetapi ternyata Imam Abu Hanifah membedakan antara kata fardhu dengan kata wajib, sesuatu yang wajb bagi Imam Abu Hanifah tidk setara dengan fardhu. Karena siapa yang

meninggalkan yang fardhiu maka dia dihukumi kafir dan tidak bagi yang meninggalkan yang wajib. adapun dasar pendapat beliau tentang kewajiban sholat witir adalah :

Witir itu kewajiban, siapa yang tidak melakukan shalat witir maka dia bukan bagian dari kami. (HR. Abu Daud)

Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan sebuah shalat yang lebih baik bagi kalian dari unta yang merah. Shalat itu adalah shalat witir. Lakukanlah shalat witir itu di antara shalat Isya dan shalat shubuh. (HR. Tirmizy) Namun kewajiban itu terbantahkan dengan hadits lainnya yang mejelaskan bahwa kewajiban witir itu hanya bagi Rosul SAW saja. Dalilnya : Ada tiga hal yang bagiku hukumnya fardhu namun bagi kalian hukumnya tathawwu (sunnah), yaitu : shalat witir, menyembelih dan shalat dhuha. (HR. Ahmad) C. Waktu Pelaksanaan Dari definisi diatas sebenarnya sudah jelas bahwa waktu sholat witir itu adalah waktu diantara selesainya seseorang dari mengerjakan isya samapai sebelum datangnya shubuh. ini juga dikuatkan oleh sebuah hadits :

kerjakanlah shalat witir itu di antara shalat Isya dan shalat shubuh. (HR. Tirmizy) Juga ada dalil lainnya yang menjelaskan bahwa Rosul pernah mengerjaan witir dalam rentang waktu setelah isya sampai sebelum datangnya subuh : -

Tiap malam Rasulullah SAW melakukan shalat witir, terkadang di awal, di tengah dan di akhirnya. Shalat witirnya berakhir dengan di waktu sahar. (HR. Muslim) Hanya saja para ulama menyatakan bahwa sholat witit diakhir malam itu lebih uatama ketimbang sholat diawal waktunya. Dasarnya adalah :

Dari Jabir radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah dia melakukan shalat witir di awal malam. Namun siapa

yang mampu bangun di akhir malam, lebih baik dia mengerjakan shalat witir di akhir malam. Karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan lebih utama.(HR. Muslim)

D. Sholat witir tanpa sholat tahajjud dari pejelasan diatas dapatlah kita ambil kesimpulan sebenarnya sholat witir itu terpisah, ia bukan bagian dari sholat tahujjud. Hanya saja ketika kita mau mengumpulkan antara dua sholat tersebut maka hendaklah kita mendahulukan sholat tahajjudnya kemudian baru ditutup dengan sholat witir. Sehingga sangat dianjurkan untuk sholat witir sebelum tidur malam jika kita tidak berniat untuk sholat tahajjud pada akhir malamnya. Hal ini pernah diwasiatkan Rosul SAW kepada para sahabatnya dalam sabdanya :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Beliau berwasiat kepadaku untuk mengerjakan 3 hal : puasa 3 hari tiap bulan, 2 rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur. (HR. Muttaqun 'alaihi) Tetapi jika berniat dan yakin bahwa kita akan sholat tahajjud maka sholat witirnya diakhirkan menjadi penutup sholat tahajjud. dan ini yang dmaksud dengan penutup sholat malam.

Para ulama berbeda pendapat disini. Bagi mereka yang mengatakan bahwa witir adalah penutup sholat malam, maka tidak ada sholat malam lain setelah itu. Aan tetapi sebagian yang lainnya tetap membolehkan untuk sholat tahujjud walau witir sudah dikerjakan, dengan syarat sholat tahujjudnya tidak itutup dengan sholat witir lagi, karena adanay laragan untuk witir dua kali dala satu malam. Rosul SAW bersabda :

"Tidak ada dua witir dalam satu malam.'' (HR Ahmad)

F J

Ro

Dari definisi tentang witir teranglah bahwa witir itu boleh dikerjakan walau hanya dengan satu rokaat. karena satu juga masuk dalam hintungan ganjil. Ini juga dikutkan lagi oleh hadits Rosul SAW :

Shalat malam itu dikerjakan dengan dua rakaat dua rakaat, apabila kamu takut datangnya waku shubuh silahkan shalat witir satu rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun yang jadi perbedaan adalah jumlah maximal dalam mengerjakan sholat witir. Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa jumlah rokaat maximal dari sholat witir adalah sebelas rokaat, hal itu didasarkan atas hadits :

Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan lima rakaat, silahkan kerjakan. Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan tiga rakaat, silahkan kerjakan. Siapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan satu rakaat, silahkan kerjakan.(HR. Abu Daud)

Lakukanlah shalat witir dengan lima, tujuh, sembilan atau sebelas rakaat.(HR. Abu Daud) Namun ada pendapat lain yang membolehan untuk berwitir dengan tiga belas rokaat, dasarnya dalah : -

Ummu Salamah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat witir dengan tiga belas rakaat.(HR. Ahmad dan Tirimizy) akan tetapi ada anggapan bahwa Ummu Salah menghitung sholat badiyah isyak ke dalam hitungan witir sehingga ia menjadi tiga belas.

G. Tata cara pelaksanaan witir Jika witir yang dikerjakan hanya satu rokaat, maka tidak ada perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya. Namun yang menjadi perbedaan jika dikerjakan lebih dari satu rokaat. Dikerjakan tiga, dan seterusnya. 1. Sholat witir dikerjakan dengan dua salam, artinya witir dikerjakan dua rokaat dulu, lalu kemudian salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rokaat lagi diakhiri dengan salam lagi. cara seperti sudah akrab bagi hamper semua ulama mazhab kecuali Imam Abu Hanifah. Cara seperti ini dikenal dengan istilah fashl (dipisah). Adapun dasar dari tatacara tersebuat adalah hadit Rosul SAW :

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi SAW memisahkan antara rakaat yang genap dengan rakaat yang ganjil dengan salam. (HR. Ahmad)

Bahwa Ibnu Umar radhiyallahuanhu mengucapkan salam di antara dua rakaat, sehingga beliau memerintahkan beberapa kebutuhannya.

2. Cara kedua adalah mengerjakan dengan satu salam. Dasarnya adalah hadits Rosul SAW :

Rasulullah SAW pernah shalat witir dengan lima rakaat tanpa duduk tahiyat kecuali di bagian akhir. (HR. Muslim) 3. cara ketiga dikerjakan dengan satu salam, hanya saja ada duduk tahiyyat awalnya, cara ini mirip dengan cara sholat maghrib. Ini tata cara yang dimotori oleh mazhab Abu Hanifah, landasannya adalah perkataan Abu Al-Aliyah :

Para shahabat Nabi SAW mengajari kami bahwa shalat witir itu serupa dengan shalat Maghrib. Yang ini (shalat witir) adalah shalat witir malam dan yang itu (shalat Maghrib) adalah shalat witir siang. Namun pendapat ini tidak terlalu kuat, jika dibandingkan dengan dua pendapat diatas lainnyaa. Bahkan sebagian ulama memakruhkan cara witir seperti ini.

H. Qunut dalam witir 1. Pendapat yang mewajibkan pendapat ini didukung Imam Abu Hanifah, wajibnya qunut pada waktu witir dalam setiap waktu, baik di bulan Ramadhan atau bukan. Hanya tidak ada lafazh doa qunut khusus disini, semua doa bisa dipakai sesuai degan keiginan mereka yang mengerjakannya. dalilnya adalah hadits Rosul SAW :

Bahwa Nabi SAW melakukan qunut di akhir dari shalat witir sebelum ruku (HR. Tizmizy) 2. Pendapat yang membolehkan (sunnah) Pendapat ini menyamakan antara qunut witir dengan qunut subuh. baik waktu dan tata caranya, begitu juga lafazhnya. Juga keharusan sujud sahwi saat lupa membacanya. hal ini di pegang oleh kalangan mazhab syafiiyyah, hanya saja mereka menjekasan bahwa kesunah qunut pada waktu witir hanya berlaku pada tengah terakhir bulan Ramadhan .