Anda di halaman 1dari 3

PEMBERANTASAN KORUPSI DI JEPANG

Basrifan Arief Bakti


Kelas 7A Program Diploma IV Akuntansi BPKP, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Tangerang Selatan email: rivan.arief@gmail.com Abstrak Corruption Perception Index tahun 2013 yang dikeluarkan oleh Transparency International menempatkan Jepang sebagai Negara dengan urutan ke 18 dengan skor 74 dari nilai maksimal 100, berbeda jauh dari Indonesia yang menempati urutan ke 114 dengan skor 32. Jepang adalah contoh kasus yang unik karena meskipun Negara ini tidak memiliki lembaga independen pemberantas korupsi dan undang-undang anti korupsi, tapi tingkat korupsi sangat rendah. Kultur hukum, budaya yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan upaya pencegahan yang sistematis menjadi kunci sukses Jepang dalam memberantas korupsi. Kata Kunci: korupsi, kultur, Jepang 1. PENDAHULUAN negara; menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Jepang tidak memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur pemberantasan korupsi, hal tersebut dikarenakan korupsi digolongkan sebagai tindak kriminal biasa, bukan merupakan kejahatan yang luar biasa seperti di Indonesia. Undang-undang negara Jepang yang didalamnya mengatur delik tindakan kriminal terkait korupsi antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 3. The Unfair Competition Prevention Act (Act no 47 of 1993), The Penal Code (Act no 45 of 1907) National Public Service Ethics Act (Act No 129 of 1999) (Ethics Act) National Public Service Ethics Code (Gov. Ordinance No 101 of 2000) The Act on Prevention of Transfer of Criminal Proceeds (Act no 22of 2007) The Whistleblowing Legislation Act(Act no 122 of 2004) PEMBAHASAN

Berdasarkan Corruption Perception Index yang dikeluarkan oleh Transparency International Tahun 2013, Jepang menempati urutan ke 18 dengan skor 74 dari nilai maksimal 100. Uniknya Jepang tidak memiliki undang-undang yang khusus mengatur tentang pemberantasan korupsi. Tindak pidana korupsi di Jepang digolongkan sebagai salah satu tindak pidana umum, seperti penyuapan, penggelapan uang Negara dan penipuan. Hukuman maksimalnya pun hanya tujuh tahun penjara. Selain itu, Jepang juga tidak mempunyai lembaga independen pemberantas korupsi seperti KPK di Indonesia, CPIB di Singapura atau ICAC di Hongkong. Berkaca dari keunikan dan keberhasilan pemberantasan korupsi di Jepang, paper ini disusun untuk memaparkan mekanisme pemberantasan korupsi di Jepang, control hukum dan social, serta upaya pencegahan korupsi yang sistematis. 2. LANDASAN TEORI

2.1 Metodologi Metode penulisan yang dilakukan adalah pendekapatan deskriptif analitis yaitu dengan menggunakan data dan literature yang tersedia, kemudian dianalisis lebih lanjut, untuk selanjutnya disajikan dengan komprehensif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa literature terkait. 2.2 Tinjauan Pustaka Korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptio atau corruptus. Corruptio sendiri berasal dari kata corrumpere, suatu kata Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun ke bayak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Perancis yaitu corruption; dan Belanda yaitu cnorruptie. Dari bahasa Belanda inilah kata itu turun ke bahasa Indonesia yaitu korupsi. (Andi Hamzah, 2005:4). Dalam Kamus Hukum (2002), kata korupsi berarti buruk; rusak; suka menerima uang sogok; menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau

3.1 Kebijakan dan Peraturan Perundangundangan terkait Pemberantasan Korupsi di Jepang Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Jepang tidak memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur pemberantasan korupsi. Undang-undang dan peraturan di negara Jepang yang didalamnya mengatur delik tindakan kriminal terkait korupsi antara lain: 1. The Unfair Competition Prevention Act (Act no 47 of 1993) mengenai tindakan kriminal penyuapan pegawai negeri asing, 2. The Penal Code (Act no 45 of 1907) mengenai tindakan kriminal penyuapan pegawai negeri daerah. 3. National Public Service Ethics Act (Act No 129 of 1999) (Ethics Act) merupakan peraturan dasar pelayanan pegawai negeri Jepang. Salah satu isinya adalah kewajiban pegawai negeri untuk melaporkan setiap hadiah atau kompensasi yang diterimanya, salah satu larangannya adalah

pegawai pemerintah dilarang menerima suap dari petugas yang berada di wilayahnya. 4. National Public Service Ethics Code (Gov. Ordinance No 101 of 2000) merupakan peraturan turunan dari Ethics Act, peraturan ini mengatur pelarangan menerima hadiah atau hiburan dari partai yang berkaitan dengan tugas dari pegawai negeri. 5. The Act Prohibiting Acceptance of Profits for Intermediation by those Engaged in Public Service (Act No 130 of 2000) (Profits for Intermediation Act), mengatur penawaran yang dilakukan oleh Diet atau Kokkai atau Parlemen Jepang. 6. The Act on Prevention of Transfer of Criminal Proceeds (Act no 22 of 2007) mengenai tindak kriminal pencucian uang. 7. The Whistleblowing Legislation Act(Act no 122 of 2004) perlindungan kepada seseorang yang menjadi whistleblower. Perlindungan yang diberikan mencakup: Perlindungan atas pemecatan Perlindungan atas pembatalan kontrak kerja Perlindungan dari perlakuan tidak menyenangkan, misalnya penurunan jabatan, pemotongan gaji, dsb. Korupsi di sektor swasta tidak dikenai undangundang diatas, namun diatur melalui Companies Act dan diberlakukan hukuman dan tuntutan sesuai dengan undang-undang tersebut. Menurut undang-undang tersebut diatas, tindak pidana penyuapan dilakukan oleh orang yang memberi, menawarkan atau menjanjikan untuk memberikan suap baik kepada pemerintah atau pejabat publik atau kepada pihak ketiga yang terhubung ke pejabat publik sehubungan dengan kinerja dan tugas-tugasnya. Dengan demikian dapat diartikan bahwa hanya mencoba untuk memberikan hadiah atau keramahtamahan dapat diartikan sebagai penyuapan. Pelaku suap adalah pihak pemberi atau yang menawarkan dan aparat penerima suap, keduanya dapat dijatuhi hukuman Selain itu, jika seorang pengawas atau karyawan lainnya ditemukan telah bersekongkol dalam penyuapan tersebut maka dapat juga dikenakan hukuman pidana. Selain itu The Unfair Competition Prevention Act (UCPA) juga mengatur larangan bagi warga negara jepang untuk melakukan penyuapan pada pegawai negeri asing selain pemerintahan Jepang. Termasuk di dalamnya pejabat publik Jepang yang berada di luar negeri. 3.2 Peranan control social terhadap pemberantasan korupsi di Jepang Dalam konteks budaya, Jepang terkenal jiwa samurai.Hal yang paling mendasar dalam prinsip samurai adalah ajaran untuk senantiasa hidup dengan kejujuran terhadap diri sendiri; jika tidak, mereka dianggap belum benar-benar menjalani hidup secara utuh. Jika telah jujur pada diri sendiri,

maka secara spontan mereka pun akan jujur pada siapapun.Prinsip samurai juga berhubungan dengan budaya harakiri (bunuh diri) untuk menebus rasa malu atas kesalahan yang telah dilakukan. Beranjak dari jiwa samurai yang melekat dalam jiwa masyarakat, masyarakat Jepang terkenal dengan budaya malu sebagai cara mengangkat derajat bangsa menjadi bangsa yang unggul di atas bangsabangsa yang lain. Pendidikan melalui pembangunan karakter telah tanamkan sejak kecil melalui pelajaran seikatsuka atau pendidikan tentang kehidupan sehari-hari. Siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktikkannya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budha, tetapi menariknya agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib. Nilai-nilai agama diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Karenanya, pendidikan moral di sekolah Jepang tidak diajarkan sebagai mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Budaya malu pada masyarakat pun dicontohkan oleh para pemimpin Jepang sebagai upaya mendidik warganya mewujudkan kultur antikorupsi. Para pemimpin Jepang berani mundur dari jabatannya ketika tersandung kasus korupsi. , mereka memiliki tradisi pemimpin nasional dalam mempertanggungjawabkan kinerjanya, pejabat akan langsung mengundurkan diri apabila merasa gagal atau bersalah. Perilaku birokrat negeri sakura ini merupakan pembelajaran yang sungguh mulia dan elegan guna mendukung terwujudnya kultur antikorupsi secara jitu. Dari segi sanksi sosial, masyarakat Jepang terkenal dengan sanksi sosial yang kuat, dimana pelaku para pelaku korupsi akan lebih memilih mundur dari jabatan sebelum diminta bahkan melakukan bunuh diri karena malu dan takut akan sanksi sosial di masyarakat. Sanksi social yang tampak sederhana ini dipastikan akan mampu mengeliminir dan meminimalisir perilaku takut korupsi. Kultur hukum yang masih sangat bermoral di kalangan pengacara Jepang, menyebabkan hampir tidak ada kebiasaan pengacara Jepang untuk memutarbalikkan yang salah menjadi benar, dan yang benar menjadi salah. Konon, umumnya pengacara Jepang senantiasa berusaha membujuk "klien"-nya untuk mengakui kesalahannya, dan setelah itu mengembalikan hasil kejahatannya. 3.3 Pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh organized crime Kejahatan terorganisir adalah momok bagi penegakan hukum di seluruh dunia. Di Jepang, organized crime ini identik dengan Yakuza. Yakuza adalah sisa-sisa budaya feodalisme Jepang. Mereka berasal dari para ronin dan kabukimono, para

samurai yang kemudian bersatu dan membentuk kelompok tersendiri yang menjadi cikal bakal Yakuza. Praktik-praktik kejahatan yang terkait dengan korupsi yang dilakukan Yakuza adalah pemerasan, penyuapan (terutama kepada kepolisian dan pejabat pemerintah), pendirian perusahaan fiktif, penipuan asuransi, dan pencucian uang. Aparat penegak hukum Jepang sejak 20 tahun terakhir ini giat memberantas organized crime ini terutama sejak diberlakukannya Undang-undang Anti Yakuza tahun 1992 dan terakhir diamandemen pada tahun 2011. Undang-undang ini berisi antara lain pelarangan anggota Yakuza untuk memiliki rekening bank, pelarangan untuk memiliki atau menyewa property dan melarang interaksi dengan masyarakat di tempat umum. Selain itu, untuk APBN Jepang pada tahun 2013, sudah dikucurkan dana sekitar Rp69 milyar untuk pemberantasan Yakuza. Hal ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa Pemerintah Jepang tidak sungkan-sungkan untuk memberantas tindak korupsi terhadap salah satu kelompok masyarakat dengan menerbitkan satu aturan khusus, tanpa ragu akan dicap diskriminatif. 4. PENUTUP

bagi pelaku korupsi membuat Jepang tidak perlu membuat suatu aturan khusus mengenai pemberantasan korupsi. Selain penegakan hukum, upaya pencegahan yang efektif dan sistematis menjadi kunci dalam menekan praktik korupsi di Jepang. Dari aspek soft control kita mengenal adanya kontrol sosial dan budaya malu yang tinggi di masyarakat sebagai faktor penghambat korupsi. Sementara dari aspek hard control Pemerintah Jepang sangat konsisten dalam menegakkan hukum dan tidak segan-segan melakukan penindakan dan pemberlakukan peraturan anti korupsi kepada golongan masyarakat tertentu tanpa takut dicap diskriminatif. DAFTAR REFERENSI [1] Transparancy International, 2013 Corruption Perception Index [2] UU Anti Yakuza di Jepang Dianggap Langgar Hak Asasi Manusia, http://www.tribunnews.com/internasional/2013/0 2/14/uu-anti-yakuza-di-jepang-dianggap-langgarhak-asasi-manusia [3] Bercermin pada Penegakan Hukum Jepang ,http://f-

Sistem hukum yang mapan menempatkan korupsi di Jepang dalam ranah pidana umum. Penegakan hukum dan pemberian sanksi yang tegas

sharing.blogspot.com/2011/06/bercerminpada-penegakan-hukum -jepang.html