Anda di halaman 1dari 15

CIVIL ENGINEERING

PRESENTATION
UNTIRTA 2012

SUBJECT

ASPEK HUKUM TEKNIK SIPIL


(Legal Aspect of Civil Engineering)

TSP 308 2 SKS 6TH SEMESTER

MODULE 05
HUKUM PERBURUHAN (Arbeidsrecht)

ASPEK HUKUM TEKNIK SIPIL


(Legal Aspect of Civil Engineering)

Hukum Perburuhan dalam KUH Perdata


(Afrizal Nursin dlm Maddepungeng, 2011)

Hukum perburuhan (arbeidsrecht) adalah himpunan peraturan baik tertulis maupun tidak yang berkenaan dengan kejadian di mana seseorang bekerja pada orang lain dengan menerima upah

Hukum Perburuhan dalam KUH Perdata


Pasal 1601a perjanjian kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu, buruh, mengikatkan diri untuk bekerja pada pihak yang lain, majikan, selama suatu waktu tertentu dengan menerima upah Pasal 1601b perjanjian pemborongan suatu pekerjaan adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu, pemborong, mengikatkan diri untuk membuat suatu karya tertentu bagi pihak yang lain, yang memborongkan dengan menerima bayaran tertentu

Tenaga Kerja dalam Industri Konstruksi


Dalam koordinasi kontraktor sebagai pelaksana konstruksi secara garis besar terdiri dari 4 bagian: Tenaga kerja lapangan yang dipimpin oleh mandor Tenaga kerja kontraktor dilapangan Tenaga kerja kontraktor dikantor pusat Tenaga ahli

Tenaga Kerja dalam Industri Konstruksi


Tenaga kerja industri konstruksi tersebut juga dapat diuraikan lebih lanjut dalam bentuk: Tenaga kerja kontraktor Tenaga kerja sub kontraktor Tenaga kerja suplayer Tenaga kerja konsultan

Tenaga kerja dalam Industri Konstruksi


tenaga kerja industri konstruksi : tidak terampil (un-skill) terampil (skill) ahli (expert) Tenaga kerja tidak terampil dan terampil bekerja pada kontraktor melalui perantara mandor Mandor menentukan pekerjaan atas tingkatan: kepala tukang, tukang dan pembantu tukang atau laden

Hubungan Kerja dalam Industri Konstruksi (KUH Perdata)


bagian kedua (pasal 1601d sampai 1601y) menguraikan secara rinci: bagaimana persetujuan perburuhan dilakukan, pihak yang berhak melakukan perjanjian, perstujuan perburuhan dengan pihak-pihak tertentu, batalnya perjanjian perburuhan, masalah upah buruh dan kedudukan upah, hak-hak majikan dalam perjanjian perburuhan, resiko masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian

Hubungan Kerja dalam Industri Konstruksi (KUH Perdata)


bagian kelima (pasal 1603e sampai 1603w) menjelaskan tentang perjanjian kerja berakhir atau tidak hak dan kewajiban majikan dan buruh jika perjanjian kerja berakhir factor-faktor yang dapat dijadikan alasan sebuah perjanjian kerja berakhir

Resiko,
Keselamatan & Kesehatan Kerja Konstruksi (Nursin, 2000 dlm Maddepungeng. 2011) manajamen Risiko (risk managment), merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi,

Resiko akibat Kondisi Tidak Pasti


Keselamatan & Kesehatan Kerja Konstruksi kondisi yang tidak pasti timbul karena: jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan keterbatasan pengetahuan/keterampilan/teknik pengambilan keputusan

Unsur2 K3
Keselamatan & Kesehatan Kerja Konstruksi Penunjang dan pengarahan dari manajemen perusahaan Organisasi K3 Latihan tenaga kerja Pengawasan K3 Rencana kesehatan kerja dan P3K

Landasan Hukum, Keselamatan & Kesehatan Kerja Konstruksi


UU No. 1 tahun 1970 tenang Keselamatan Kerja UU No. 14 tahun 1969 tentang Tenaga Kerja dalam Mencegah, Pengobatan, Perwatan, Mempertinggi Derajat Kesehatan, Mengatur Hygiene dan Kesehatan Kerja UU No. 21 tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan UU No. 3 tahun 1969 tentang Perstujuan Konvensi ILO no 120 mengenai Hygiene dalam Perdagangan dan Kantor-kantor UU Kecelakaan tahun 1947-1957 yang memuat ketentuan mengenai ganti rugi kepada buruh yang mendapat kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja UU Kerja tahun 1948-1951 yang memuat ketentuan Jam kerja,cuti, anak-anak pekerja dan Persyaratan tempat kerja Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.2 tahun 1970 tentang Panitia Pembina K3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 01/men/1987 Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja No. 155/men/1987 Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Mentri PU No. kep/74/MEN/86 dan No. 104/KPTS/1986 UU RI No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja Keputusan Presiden RI No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor kep.196/men/1999 tentang Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi tenaga kerja harian lepas, borongan dan perjanjian waktu kerja tertentu pada sector jasa konstruksi

Thanks and see you next week, i.A.