Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai organisme multiseluler tersusun atas berbagai sistem organ dan jaringan.

Jaringan-jaringan tersebut memerlukan pasokan Oksigen yang terus-menerus untuk menunjang reaksi kimia penghasil energi. Energi tersebut sangat penting untuk mempertahankan berbagai aktivitas sel yang menunjang kehidupan (Sherwood, 2012). Sistem pernapasan merupakan salah satu sistem organ yang ada di tubuh manusia dan bertanggungjawab untuk menjaga homeostatis tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan oksigen tubuh dan mengeluarkan karbondioksida hasil metabolisme tubuh ke lingkungan. Sistem ini tersusun atas rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveolus. Secara alamiyah organ dan jalan napas pada sistem respirasi ini saling bekerjasama dalam melancarkan pertukaran gas O2 dan CO2 dalam paru-paru. Namun, tidak selamanya organ dan jalan napas tersebut bisa melakukan fungsinya dengan baik. Banyak faktor yang memengaruhi jalannya sistem respirasi ini, seperti kondisi kesehatan pasien atau adanya penyakit yang berhubungan dengan sistem respirasi itu sendiri. Gangguan pada salah satu organ atau jalan napas akan memengaruhi organ lainnya. Seperti salah satu gangguan sistem respirasi yang telah kita bahas dalam Problem Based Learning (PBL) 2 ini. B. Rumusan Masalah 1. Sebutkan perbandinugan antara rasio inprasi dan ekspirasi! 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan surfaktan! 3. Jelaskan mekanisme mengembang dan mengempis alveolus! 4. Jelaskan bagaimana mucus diproduksi! 5. Jelaskan pathway yang sesuai dengan kasus! 6. Tentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kasus! 7. Buatlah asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa tersebut! C. Tujuan Setelah dilaksanakannya diskusi ini, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Mengetahui perbandinugan antara rasio insprasi dan ekspirasi. 2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan surfaktan. 3. Mengetahui mekanisme mengembang dan mengempis alveolus.

4. Mengetahui bagaimana mucus diproduksi. 5. Mengetahui pathway yang sesuai dengan kasus. 6. Membuat diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kasus. 7. Membuat asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa tersebut.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian COPD Penyakit paru obstruksi kronik atau COPD merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resisten terhadap aliran udara sebagai gambaran pafofisiologi utamanya (Sylvia, 2005). Sedangkan menurut Mark A (2006) COPD adalah peningkatan resistensi aliran udara menyeluruh selama ekspirasi dan mencakup bronkitis kronik, emfisema, asma kronik, dan bronkiolitis. B. Pathway

C.

Patofisiologi Bagan di atas memperlihatkan bahwa patogenesis COPD disebabkan oleh asap rokok,

polusi udara, predisposisi genetik (defisiensi alfa, -antiprotease), dan faktor-faktor lainya yang tidak diketahui. Genetik merupakan suatu faktor predisposisi emfisema paru. Sedangkan merokok dan polusi udara merupakan faktor utama pada patogenesis emfisema jenis bronkitis, tetapi sebenarnya ada interaksi antara kedua faktor tersebut. Merokok dan polusi udara yang terus menerus merupakan predisposisi infeksi rekuren, karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan pertahanan melemah. Pembentukan mukus yang meningkat mengakibatkan gejala khas yang batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronkiolus kecil sehingga bronkiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar sehingga terjadi obstruksi jalan napas. Selain itu, merokok juga dapat mengakibatkan respon peradangan sehingga menyebabkan pelepasan enzim proteolitik (protease), sementara bersama dengan itu oksidan pada asap menghambat alfa1 antiprotease. Emfisema dibagi menurut bentuk asinus yang terserang. Emfisema sentrilobular (CLE), secara selektif hanya menyerang bagian brokiolus respiratorius dan duktus alveolaris. Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, dan bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang sewaktu dinding-dinding mengalami integrasi. Sedangkan emfisema panlobular (PLE) merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, alveolus yang terletak distal dari bronkiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. Bersamaan dengan penyakit yang makin parah, semua komponen asinus sedikit demi sedikit menghilang sehingga akhirnya hanya tertinggal beberapa lembar jaringan, yang biasanya berupa pembuluh-pembuluh darah. PLE, walaupun merupakan ciri khas emfisema primer, tetapi dapat juga dikaitkan dengan emfisema akibat usia tua dan bronkitis kronik (Sylvia, 2005).

BAB III PEMBAHASAN

A. Kasus Ny. T (65 th) datang dengan keluhan sesak nafas. Dari hasil px. fisik TD 130/80 mmHg, RR 30 x/menit, HR 76 x/menit, whezing (+), ekspirasi memanjang, ronkhi (+), perkusi paru hiperresonan. Pemeriksaan laboratorium LED meningkat, pH darah 7,12, P CO2 55 mmHg, P O2 80 mmHg, HCO 22 mEq/L. Hasil rontgen menunjukkan hiperinflasi paru, peningkatan ruang udara retrosternal, diafragma tampak datar. Suami Ny. T memiliki riwayat merokok. Perawat belum memutuskan rencana asuhan keperawatan yang akan diberikan kepada Ny. T. B. Hasil Diskusi Dari data diatas dapat kita simpulkan bahwa klien menderita penyakit paru obstruktif kronik (COPD) yang dapat dilihat dari keluhan klien, hasil pemeriksaan fisik klien serta pemeriksaan laboratorium dan rontgen klien. COPD sendiri merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Bronkitis kronik, emfisema paru, serta asma bronkial membentuk kesatuan yang disebut COPD, sepertinya ada hubungan etiologik dan sekuensial antara bronkitis kronik dan emfisema, namun tampaknya tak ada hubungan antara kedua penyakit itu dengan asma. Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai dengan pembentukkan mukus yang berlebihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk kronik serta pembentukan sputum selama sedikitnya tiga bulan dalam setahun atau sekurangkurangnya dalam dua tahun berturut-turut. Berbeda dengan bronkitis kronik, emfisema paru merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai oleh pembesaran alveolus serta duktus alveolaris yang tidak normal dan destruksi dinding alveolar. Sedangkan asma merupakan penyakit yang ditandai dengan hipersensitivitas cabang trakeobronkial terhadap berbagai jenis rangsangan dan keadaan ini bermanifestasi sebagai penyempitan jalan nafas secara periodic dan reversibel akibat bronkospasme. Meskipun setiap penyakit tersebut dapat muncul dalam bentuk yang murni atau sendiri-sendiri, tetapi biasanya bronkitis kronik timbul bersama-sama dengan emfisema paru pada pasien yang sama. Sebenarnya asma lebih mudah untuk dibedakan dari kedua penyakit tersebut berdasarkan riwayat serangan mengi paroksimal yang dimulai pada masa kanak-

kanak dan berhubungan dengan alergi. Namun, kadang-kadang pasien bronkitis kronik dapat mempunyai gambaran asmatik dari penyakitnya itu.

Gambar diatas dapat menggambarkan hubungan antara bronkitis kronik, emfisema paru serta asma. Daerah yang diliputi bayangan menggambarkan pasien dengan lebih dari satu penyakit, sedangkan daerah yang tak berbayang menggambarkan penyakit yang menonjol dalam bentuknya yang murni.

Patofisiologi terjadinya COPD adalah sbb

Dari

pathway

tersebut

kelompok

kami

mengambil

diagnosa

keperawatan

ketidakefektifan bersihan jalan nafas serta gangguan pertukaran gas. Kedua diagnosa tersebut merupakan diagnosa utama yang sesuai dengan keluhan klien dalam kasus tersebut. Dengan kedua diagnosa tersebut serta intervensi keperawatannya, diharapkan masalah klien dapat teratasi C. Asuhan Keperawatan

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan PPOK atau COPD merupakan sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai dengan peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran dari patofisiologinya. PPOK ( Penyakit Paru Obstruksi Kronis) atau COPD adalah klasifikasi luas dari gangguan, yang mencakup bronkitis kronis, bronkiolitis, emfisema, dan asma kronis. Bronkhitis kronis dapat diartikan dengan radang pada bagian bronkus yang biasanya akan mengenai trakea dan laring. Sedangkan pada emfisema paru-paru merupakan gangguan untuk mengembangkan paru-paru ditandai dengan pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai oleh destruksi jaringan. Saat melakuka diagnosis mengenai PPOK ini terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahuinya, diantaranya ada Chest XRay, pemeriksaan funsi paru-paru, kapasitas inspirasi, FEV I/FVC, sputum kultur, Elektro Cardio Graph (ECG), darah komplit, CT Scan. Manifestasi klinik yang dapat diketahui ketika seseorang mengalami PPOK diantaranya ialah pada penderita bronkhitis kronis yaitu penampilan cenderung overweight, terjadi pada usia 45-65 tahun, memiliki riwayat merokok, sianosis akibat pengaruh sekunder polisitemia, gejala biasanya timbul pada waktu yang lama, hematokrit > 60%. Sedangkan manifestasi klinis yang diketahui pada penderita emfisema paru-paru adalah penampilan terlihat kurus, pucat, napas pendek dengan peningkatan dispnea, hematokrit < 60% dan biasanya terdapat riwayat merokok, tetapi tidak selalu ada. Walaupun penderita PPOK ini tidak dapat disembuhkan (incurable) dan sering menjadi ireversibel, dapat dilakukan dengan belajar menghentikan asupan rokok, imunisasi terhadap influenza, vaksin pneumokokus, pemberian antibiotik, bronkodilator, dan kortikosteroid, serta terapi oksigen, pengontrolan sekresi, serta latihan dan rehabilitasi yang berupa latihan fisik, latihan napas khusus, dan bantuan psikis B. Saran Di dalam masalah PPOK, sebaiknya terlebih dahulu mencegah faktor pencetus seperti asap rokok, polusi udara dan lain-lain agar tidak terkena PPOK. Karena mengingat penderita akan mengalami sakit yang berkepanjangan dan hal ini sangat merugikan penderita.

Daftar Pustaka

Graber, Mark A. (2006). Buku saku dokter keluarga. Jakarta: EGC Price, S. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC