Anda di halaman 1dari 3

DESSY AYU LESTARI 1106001334 Kelompok 8 Effects of thermo-mechanical treatment on microstructure and properties of Cu-Cr-Zr alloys

Experimental Procedure As-cast CuCr Zr dengan nominal komposisi 0.6% Cr, 0.13% Zr dan sisanya Cu dengan alloy lain. Dilakukan solution-annealed sampai suhu 920 oC selama 1 jam, lalu di quench. Deformasi thermo-mechanical dilakukan pada mesin uji universal INSTRON yang dilengkapi dengan chamber siklus termal untuk mengontrol suhu yang akurat . Batang spesimen dengan ukuran gauge length 40 mm di deformasi pada suhu 100 C dan 300 C. Sebelum melakukan tensile deformation, spesimen dipanaskan 30 menit untuk menjamin suhu homogenisasi pada siklus termal. Kecepatan deformasi yaitu 5 x 10-3 mm/menit. Pengaturan elongasi tensile diterapkan yaitu 1 jam thermal insulation akan memastikan pemisahan fase kekuatan dari matriks. Mikrostruktur sampel akan diamati dengan XRD. Sedangkan untuk pengamatan metalografi dengan mikroskop Leica. Larutan etsa yang digunakan adalah dengan mencampur 100 ml H2O, 10 gr FeCl3 dan 10 ml HCl. Konduktivitas listrik ditentukan dari ketahanan sampel dengan panjang 31 mm dari tipe standar QJ36S dengan sistem direct-current four-probe. Sedangkan untuk micro-hardness diukur dengan HVS-1000-type hardness tester dibawa 50 gr dan holding selama 15 detik.

Result and Discussion Uji kekerasan dan konduktivitas listrik dilakukan untuk menilai gabungan sifat mekanik dan listrik pada sampel. Untuk hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 1. Sampel solid solution memiliki kekerasan HV = 181,8 dan konduktivitas listrik 70,8 % dari IACS . Sebaliknya, sampel yang dlakukan perlakuan tersebut menunjukkan konduktivitas listrik berkurang akan tetapi meningkatkan

kekerasan, dimana menunjukkan perbedaan antara sifat mekanik dan sifat listrik. Untuk sampel yang di treatment pada 300 C memiliki kekerasan yang hampir sama dan konduktivitas listrik lebih tinggi dibanding sampel yang di treatment

DESSY AYU LESTARI 1106001334 Kelompok 8


pada 100 C. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu aging maka dapat mengoptimalkan kombinasi properties CuCrZr alloy. Selain itu , peningkatan nilai tensile elongation pada sampel dapat membuktikan nilai kekerasan meningkat sedangkan konduktivitas menunjukkan adanya variasi Dilihat dari hasil XRD gambar 1, menunjukkan peak Cu (220) menghilang saat treatment dimana hal ini menunjukkan tension deformation dapat mengakibatkan orientasi pada bidang itu . Selain itu, untuk peak Cu ( 111 ) dan ( 200 ) pada gambar 1 (b) dan (c) menunjukkan pergeseran kecil sudut , menunjukkan bahwa pemisahan atomik solid solution dari matriks , yang mengarah pada pengurangan distorsi kisi. Namun, dari pola XRD , ukuran butir tidak menunjukkan variasi yang jelas . Dari mikrograf optikal CuCrZr alloy ditunjukkan pada Gambar 2 (a) . Ketika alloy diberi treatment pada 920 C selama 1 jam , distribusi komposisi menjadi lebih homogen dan equiaxed dengan grain rata-rata 40-100 m saat rekristalisasi . Beberapa precipitate primer didistribusikan di matriks Cu dan ada pemisahan tertentu Cr yang terlarut di dendrite Cu. Gambar 2 (b) dan (c) menunjukkan mikrograf sampel di treatment pada 100 C dan 300 C dengan tension elongation sampel. Secondary phase terjadi saat precipitate di daerah interdendritic pada supersaturated matriks Cu. Hasil dari XRD, spherical secondary particle muncul pada sampel 300 C, yang dikombinasikan antara temperature tinggi dan deformasi. Selain itu transformasi martensit dapat dipercepat dengan deformasi yang besar selama proses pemanasan. Dispersi secondary phase dari matriks memberikan efek yang sama yaitu menghasilkan peningkatan kerapatan dislokasi dan energi yang tersimpan , dan akhirnya berkontribusi pada peningkatan sifat mekanik dan elektrik. Hal ini juga diharapkan treatment yang baru akan mengurangi waktu dan suhu aging. Namun, sifat mekanik dan elektrik akan berlawanan sesuai dengan tabel 1 . Suhu aging yang tinggi menunjukkan efek yang memperkecil sifat konduktivitas listrik dari CuCrZr alloy. Proses precipitate dari secondary phase akan membuat kisi distorsi berukuran sedang. Pada saat yang sama, proses

DESSY AYU LESTARI 1106001334 Kelompok 8


precipitate akan membuat kekuatan hamburan menjadi lebih kecil dari fase solution di matriks atas dasar teori Mathiessen. Presipitate membuat dislokasi membutuhkan lebih banyak energi daripada transect itu, sesuai dengan mekanisme Orowan. Hal ini akan berpengaruh pada peningkatan kekuatan material sementara penurunan konduktivitas listrik .

Conclusion 1. Kombinasi antara aging treatment dan tension deformation dapat meningkatkan hardness dari sampel tetapi menurunkan konduktivitas elektrik. Pada temperature tinggi 300 oC dihasilkan bahwa pengurangan nilai konduktivitas elektrik lebih rendah dibanding pada temperature rendah 100 oC 2. Pembubaran precipitate pada fase sekunder dapat diamati dari XRD dan pengamatan optikal. Sedangkan untuk tension deformation dapat diamati dari arah orientasi sampel. 3. Kombinasi aging treatment dan tension deformation dapat mengurangi temperatur aging dari CuCrZr alloy