Anda di halaman 1dari 56

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karate adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut Tote yang berarti seperti Tangan China. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi karate (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah Kara dan berarti kosong. Dan yang kedua, te berarti tangan. Yang dua kanji bersama artinya tangan kosong . Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat tanpa kontak langsung, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang kontak langsung. Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut: 1). Kihon, yaitu latihan tehnik-tehnik dasar karate seperti tehnik memukul menendang dan menangkis. 2). Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.

3). Kumite, yaitu latihan tanding atau sparing. Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olahraga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga. Keseimbangan adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot atau suatu kemampuan tubuh dapat melakukan gerakan dasar tumpuan yang kecil dan jauh dari letak titik berat badan dalam waktu tertentu tidak berubah atau goyang. Daya ledak otot tungkai adalah kemampuan otot tungkai yang dikerahkan dalam waktu yang singkat. Daya ledak merupakan gabungan unsur kondisi fisik, yaitu kekuatan dan kecepatan. Semakin kuat dan cepat otot tungkai bekerja maka semakain bagus daya ledak otot tungkai seseorang/atlet, dengan bagusnya daya ledak otot tungkai, maka apapun gerakan/kegiatan yang berhubungan dengan daya ladak otot tungkai dapat dilakukan dengan maksimal, tentunya hasilnya menjadi lebih baik. Dalam karate keseimbangan dan kekuatan otot sangatlah penting untuk melakukan berbagai teknik karate. Salah satu tehnik yang sangat membutuhkan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai adalah melakukan tehnik tendangan mawasih geri. Tehnik tendangan ini merupakan salah satu tehnik tendangan yang tersulit dalam olahraga karate ini. Karena tehnik ini sangat membutuhkan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai dari karateka itu sendiri. Sehingga karateka dapat melakukan tendangan mawasih geri berkali-kali.

Dalam pertandingan karate mawasih geri merupakan salah satu tehnik yang sering digunakan untuk mendapatkan poin. Ketika tendangan ini mengenai badan maka akan mendapatkan nihon (dua poin), dan apabila mengenai kepala akan mendapatkan sanbon (tiga poin). Banyak pelatih maupun karateka yang ketika pertandingan jarang menggunakan tehnik ini, padahal tehnik ini dapat menghasilkan poin yang tinggi. Para karateka lebih cenderung untuk menggunakan tehnik pukulan dari pada tendangan. Alasan peneliti mengambil judul ini adalah bahwasanya mawasih geri merupakan salah satu tehnik penting dari olahraga karate, apabila didalam suatu pertandingan mawasih geri sering digunakan untuk mendapatkan point. Begitu juga dengan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai berperan penting dalam keberhasilan mawasih geri dalam olahraga karate. Kenyataan yang terjadi di tempat latihan atau di pertandingan bahwa kemampuan karateka masih kurang baik karena keseimbangan dan kekuatan otot tungkai belum terlatih. Padahal unsur keseimbangan dan kekuatan otot tungkai sangat diperlukan dalam olahraga ini. Berangkat dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat judul Pengaruh Latihan Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap

Kemampuan Mawasih Geri dalam Olahraga Karate di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu.

1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis menguraikan

permasalahan sebagai berikut: 1. Ada pengaruh keseimbangan terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate ? 2. Ada pengaruh kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate ?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian adalah ingin mengetahui ada atau tidaknya pengaruh latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate di dojo guma kaliavo kota palu.

1.4 Kegunaan Penelitian 1). Untuk pelatih Agar menjadi masukan dalam penyusunan program latihan. Dan lebih memaksimalkan tehnik dasar tendangan mawasih geri dalam olahraga karate. 2). Untuk Atlit Agar memberikan gambaran kepada atlit tentang kemampuan dalam teknik dasar tendangan mawasih geri. 3). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya yang lebih luas dan mendalam.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Penelitian yang relevan Hasil penelitian Affandi S (2013:iii) Universitas Jambi, judul: Pengaruh Latihan Multibalance Terhadap Ketepatan Tendangan Ushiro Geri Pada Kenshi Kempo Pemula Provinsi Jambi. Terdapat beberapa latihan guna meningkatkan
ketepatan Tendangan. Diantaranya metode latihan multibalance. Dengan bentuk latihannya yaitu, Berdiri satu Kaki, posisi sikap pesawat piruet.dan seterusnya. Metode Latihan multibalance ini sangat membantu dalam peningkatan keberhasilan Ushiro Geri. Karena olahraga ini memerlukan kelenturan dan kekuatan,serta keseimbangan yang baik pada saat melakukan tendangan Lingkar Belakang tersebut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan eksperimen Yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada sampel yang akan diteliti. Di mana rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan dengan satu kelompok melalui tes awal tes akhir ( one group desaign ). Hasil nilai pada tes awal adalah sebesar 1,66 dengan rata-rata 0,111 sedangkan tes akhir adalah sebesar 2,6 dengan rata- rata1,52. berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa atlet yang melakukan latihan menggunakan metode multibalance, dapat meningkatkan nilai atau hasil tes, dibandingkan dengan atlet yang tidak menggunakan metode latihan multibalance. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hipotesis yang diajukan yaitu Ada peningkatan yang signifikan pada penggunaan metode latihan multibalance terhadap keberhasilan tendangan Ushiro geri kenshi kempo pemula Provinsi Jambi. diterima dengan taraf kepercayaan 95% atau =0,05 dk=(n-1) yang dapat dilihat dari hasil uji- t yaitu t
hitung

= 6,65

dibandingkan dengan ttabel = 1,761. Artinya Ha : adanya pengaruh latihan Multibalance terhadap keberhasilan tendangan ushiro Geri Maka dapat disimpulkan metode latihan multibalance dapat meningkatkan keberhasilan tendangan Lingkar Belakang kenshi kempo pemula Provinsi Jambi dengan peningkatan sebesar 0,19.

Hasil penelitian Sinalipon Sukel (2009:iii) Universitas Negeri Manado judul: Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Kemampuan Smash

dalam Permainan Sepak Takraw Mahasiswa FIK UNIMA. hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh latihan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan smash dalam permainan sepak takraw mahasiswa FIK UNIMA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan

rancanganRandomized Control Group Pre-Test Post-Test Design dengan sampel 20 orang mahasiswa FIK UNIMA di Tondano yang dibagi ke dalam grup eksperimen dan kontrol. Kedua kelompok ini diberikan tes awal dan tes akhir. Kelompok eksperimen diberikan latihan kekuatan otot tungkai dengan perlakuan squat jump, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Metode statistik yang digunakan dalam menganalisis data adalah statistik uji t dengan taraf nyata signifikan 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian ujithitung = 4.01 lebih besar dari ttabel = 2,021, sehingga kesimpulannya menolak hipotesis statistik (H0) dan menerima hipotesis (HA) bahwa kelompok eksperimen yang dilatih dengan latihan kekuatan otot tungkai memberikan pengaruh terhadap kemampuan smash pada permainan sepak takraw mahasiswa FIK UNIMA di Tondano. Maka hasil ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh latihan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan smash pada permainan sepak takraw.

2.2 Kajian Pustaka 2.2.1 Pengertian Karate Karate adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut Tote yang berarti seperti Tangan China. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi karate (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah Kara dan berarti kosong, Dan yang kedua te berarti tangan. Yang dua kanji bersama artinya tangan kosong. Menurut Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu: Shotokan, Goju-Ryu, Shito-Ryu, Wado-Ryu. Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF. Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu dan Uechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam4 besar WKF. Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional.

Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat tanpa kontak langsung, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang kontak langsung. Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
1. Kihon, yaitu latihan tehnik-tehnik dasar karate seperti tehnik memukul,

menendang dan menangkis.


2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate. 3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparing.

Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan tehnik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan tehnik-tehnik untuk pertandingan olah raga.

2.2.2 Teknik Dasar Karate

1). Kihon
Kihon secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan dan bantingan. Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, Karateka dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik. 2). Kata Kata secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung.

Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata. Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda. 3). Kumite Kumite secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan. Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding. Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.

2.2.3 Aliran-aliran Dalam Olahraga Karate 1). Shotokan Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan, sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan

10

Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan. 2). Goju-ryu Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan tehnik keras dan tehnik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan. Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat. 3). Shito-ryu Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40

11

KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju. 4). Wado-ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri

Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan tehnik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. Didalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan tehnik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut. Sedangkan aliran Karate lain yang besar walaupun tidak termasuk dalam 4 besar JKF antara lain adalah: a. Kyokushin Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an.

12

Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisipraktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut. b. Shorin-ryu Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorinryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo. c. Uechi-ryu Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechiryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).

13

2.3 Latihan 2.3.1 Definisi Latihan Upaya pengembangan dan peningkatan prestasi olahraga salah satunya adalah latihan yang terprogram dengan baik dan benar. Latihan merupakan proses yang sistematis dalam mempersiapkan olahragawan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan beban yang semakin meningkat. Suharno (1993:5) menyimpulkan bahwa latihan adalah suatu proses penyempurnaan atlit secara sadar untuk mencapai mutu prestasi maksimal dengan diberi beban-beban fisik, teknik, dan mental yang teratur, terarah, meningkat, bertahap, dan berulang-ulang waktunya. Latihan menurut Bompa (1986:2) merupakan suatu kegiatan olahraga yang sistematis dalam waktu yang panjang, ditingkatkan secara bertahap dan perorangan, bertujuan untuk membentuk manusia yang berfungsi fisiologisnya dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan tugas. Hal ini sesuai dengan definisi oleh Kent (dalam Budiwanto, 2004:12l) yang mengatakan bahwa latihan adalah suatu program latihan fisik yang direncanakan untuk membantu mempelajari keterampilan, memperbaiki kesegaran jasmani dan terutama untuk

mempersiapkan atlit dalam suatu pertandingan penting. Sedangkan Bower dan Foss (dalam Budiwanto, 2004:12) mengemukakan bahwa latihan adalah suatu program yang direncanakan untuk pemberbaiki dan meningkatkan kapasitas energy seorang atlit untuk suatu pertandingan. Dalam latihan atlit harus memperhatikan peningkatan beban. Beban latihan harus ditingkatkan manakala sudah tiba saatnya untuk ditingkatkan.

14

Beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa latihan adalah suatu proses berlatih yang dlakukan secara sistematis, berulang-ulang yang kian hari jumlah beban latihan kian bertambah, bertujuan mencapai keterampilan yang lebih baik.

2.3.2

Prinsip-prinsip Latihan Melakukan latihan harus berpedoman pada teori serta prinsip latihan

yang benar dan yang sudah diterima secara universal (Suharno, 1993:5). Prinsipprinsip latihan yang akan dikemukakan adalah prinsip-prinsip dasar yang perlu diketahui serta diterapkan dalam setiap latihan olahraga. Budiwanto (2004:13) menyatakan untuk mencapai peningkatan kemampuan fisik maupun teknik dalam suatu cabang olahraga, diperlukan suatu proses dan waktu. Program latihan perlu disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar latihan melalui pentahapan, teratur dan berkesinambungan. Prestasi olahraga tidak akan meningkat jika dalam berlatih tidak berlandaskan prinsip-prinsip latihan. Banyak orang yang melakukan latihan tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan latihan dengan benar. Sebelum kita bahas latihan lebih lanjut ada baiknya kita ketahui pengertian latihan. Latihan adalah suatu proses yang sistematis dari kerja fisik yang dilakukan berulang-ulang dengan menerapkan prinsip-rinsip latihan. Adapun yang dimaksud sistematis bahwa latihan tersebut dilaksanakan secara berencana, teratur, berpola, dan berkesinambungan. Sedangkan berulang-ulang diartikan bahwa gerakan yang dipelajari dilakukan beberapa kali sehingga gerakan itu

15

menjadi otomatis dan refleksif dalam koordinasi gerak yang lebih mulus dan efisien. Prinsip-prinsip latihan yang akan dikemukakan disini adalah prinsipprinsip dasar dari latihan yang perlu diketahui dan diterapkan dalam setiap cabang olahraga. Dengan pengetahuan tentang prinsip-prinsip latihan tersebut diharapkan prestasi seorang atlet akan lebih cepat meningkat. Prinsip-prinsip latihan yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Frekwensi Latihan: Latihan dilaksanakan sesering mungkin dan

terencana dalam waktu yang panjang. Frekwensi latihan berbeda untuk setiap cabang olahraga, hal ini tergantung dari tingkat kesulitan gerak dan pencapaian prestasi. sebagai contoh untuk latihan dasar renang bagi pemula akan memerlukan frekwensi latihan yang lebih banyak dibandingan dengan frekwensi latihan cabang angkat besi. 2. Overload: Latihan harus diberikan dengan beban cukup berat mendekati batas kemampuan atau ambang rangsang agar dapat memberikan perubahan secara biologis didalam tubuh atlet serta mentalnya. Beban latihan selalu bertambah secara terencana dan teratur sehingga kemampuan otot-otot juga akan semakin meningkat. 3. Specifikasi Latihan: Latihan akan berpengaruh secara specifik terhadap tubuh kita terutama berpengaruh terhadap kelompok otot tertentu, ruang gerak persendian, dan sistem energi. Jadi sebelum latihan kita tentukan terlebih dahulu apa yang akan dilatih apakah teknik atau kemampuan

16

fisik dan yang terpenting adalah agar latihan yang diterapkan sesuai dengan cabang olahraga yang akan ditingkatkan prestasinya. 4. Individualisasi: Sekalipun sejumlah atlet memiliki prestasi yang hampir sama tetapi prinsip individualis harus menjadi perhatian utama untuk itu konsep latihan harus disusun sesuai dengan kemampuan serta kekhasan setiap individu. Latihan merupakan masalah pribadi artinya setiap atlet akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap beban latihan yang sama. 5. Kualitas Latihan: Latihan harus bermutu oleh sebab itu latihan intensif harus disertai koreksi yang tepat serta konstruktif agar tujuan dari latihan tercapai. 6. Variasi Latihan: Latihan yang berulang-ulang seringkali menimbulkan rasa jenuh untuk itu pelatih dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun program latihan. Banyak ragam latihan akan mengurangi kejenuhan itu misalnya latihan yang dikemas dalam suatu permainan baik individu maupun kelompok dapat mengurangi kejenuhan. 7. Model Latihan: Latihan sebaiknya berisikan unsur-unsur yang menyerupai situasi dan kondisi pertandingan yang sesungguhnya. Karena itu perlu diciptakan suatu model latihan yang hampir sama situasi dan kondisi yang kelak akan dialami dalam pertandingan sesungguhnya misalnya latihan dalam bentuk permainan sederhana dengan peraturan yang dimodifikasi.

17

8. Metode Latihan: Dalam melatih ketrampilan olahraga seorang pelatih perlu mengetahui berbagai metode latihan dengan tujuan agar latihan tersebut lebih bervariasi dan produktif. Metode latihan yang dapat diterapkan antara lain; Whole and Part Method, Mental Practice, dan Mass and Distributed Ptractice. 9. Goal Setting/Target: Setiap pelatih dalam melaksanakan program latihan pasti mempunyai tujuan atau target. Target atau sasaran dapat dilakukan secara bertahap agar keberhasilan mencapai tujuan akhir dapat terkontrol, tahap pertahap diatur sedemikian rupa dari mulai tahap jangka pendek sampai tahap jangka panjang. 10. Monitoring: Hasil latihan harus selalu dimonitoring dan dievaluasi secara periodik dan secara kontinyu. Hal ini sangat perlu guna mengetahui apakah program latihan berjalan sebagaimana mestinya, dan pada akhirnya Program latihan yang disusun dan dilaksanakan akan mendapatkan hasil optimal sesuai yang diharapkan.

2.3.3 Faktor Latihan Faktor dasar latihan meliputi latihan fisik, teknik, taktik, dan mental. Faktor latihan adalah sebuah bagian dari beberapa latihan program yang ditentukan dari umur atlit, potensi individu, level, persiapan, atau fase dari latihan. Pembentukan fisik merupakan factor yang paling penting dalam program latihan yang bertujuan untuk mencapai kemampuan yang tinggi. Budiwanto 2004:31) menyatakan bahwa agar latihan pembentukan fisik dapat tercapai sesuai dengan

18

tujuan, maka latihan harus dilakukan secara teratur, terus menerus tanpa berselang dengan beban yang tepat sesuai rencana latihan. Budiwanto (2004:46) menarik kesimpulan sebagai berikut. Teknik dasar ada tiga kategori, yaitu teknik dasar, teknik menengah dan teknik tinggi. Teknik dasar adalah suatu teknik dimana proses melakukan gerakan merupakan fondamen dasar, gerakan dilakukan dalam kondisi sederhana dan mudah. Teknik menengah adalah suatu teknik dimana dalam melakukan gerakan menuntut penggunaan kecepatan, kekuatan, kelincahan koordinasi yang lebih tinggi daripada teknik dasar. Teknik tinggi adalah suatu teknik dimana dalam melakukan gerakan menuntut tempo yang tinggi, koordinasi, keseimbangan, ketepatanyang tinggi serta gerakan tersebut sulit, simultan dalam kondisi yang berat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa factor latihan meliputi teknik dasar, teknik menengah, dan teknik tinggi. Pada teknik tersebut sudah mencakup keseluruhan faktor dasar latihan di antaranya taktik, teknik, fisik dan mental.

2.3.4

Program Latihan Program perencanaan latihan menggambarkan prosedur dalam

mengorganisasi secara metodik dan ilmiah untuk membantu atlet mencapai tingkat latihan dan kemampuan yang tinggi (Bompa dalam Budiwanto. 2004:92). Untuk mencapai prestasi yang semaksimal mungkin memerlukan proses latihan dan waktu. Pembentukan fisik, teknik, taktik dan mental perlu disusun dalam suatu program latihan jangka panjang, teratur dan terus-menerus. Hasil latihan akan mengakibatkan adaptasi atlit, yaitu penyusaian fungsi dan struktur organisme akibat beban latihan. Adaptasi atlit bersifat labil dan sementara, akan menurun

19

atau menjadi hilang jika latihan menjadi ringa, tidak teratur atau tidak terusmenerus. Oleh karena itu, kegiatan latihan harus disusun perencanaan dan pelaksanaannya dalam suatu program latihan (Suharno dalam Budiwanto, 2004:93). Program latihan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Program latihan jangka panjang biasanya dilaksanakan antara 5 sampai dengan 12 tahun, yang dibagi dalam tahap-tahap latihan jangka menengah. Program latihan jangka menengah dilaksnakan antara 2 sampai dengan 4 tahun, yang dibagi dalam periode-periode latihan jangka pendek tersebut secara operasional dijabarkan dalam program latihan bulanan, mingguan dan harian. Program-program latihan tersebut tidak terpisah-pisah tetapi merupakan mata rantai program yang saling berkaitan. Pembagian waktu program latihan tersebut tergantung dari sasaran atau target pertandingan, waktu yang tersedia, jenis atau cabang olahraga, usia dan kemampuan atlit.

2.4 Pengertian Keseimbangan Seperti halnya kerangka bangunan rumah, kerangka tubuh manusia pun memiliki titik keseimbangan. Titik keseimbangan merupakan titik yang menjaga keseimbangan seluruh kerangka yang menopang bangunan tubuh manusia agar tetap berdiri kokoh. Bila ia bergeser, maka bangunan tubuh manusia menjadi tidak seimbang dan goyah. Oleh karena itu titik keseimbangan ini harus dijaga agar tetap berada pada kedudukannya. Persoalannya, berbeda dengan rumah, tubuh manusia tidak menetap, selalu bergerak dan berubah-ubah posisi. Dengan demikian titik keseimbangannya pun ikut berubah-ubah mengikuti pergerakan dan

20

perubahan posisi tubuh. Sehingga untuk menjaganya agar tidak bergeser dari kedudukannya tidaklah sederhana. Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan selama istirahat (berhenti) dan pada waktu melakukan satu seri gerakan tertentu. Faktor penentu baik tidaknya keseimbangan adalah : berat badan, gaya, sempit dan lebarnya bidang tumpu, letak titik berat badan, kestabilan pada bidang tumpu. Adapun Harsono (1988: 223), mengemukakan bahwa keseimbangan atau balance adalah. Kemampuan untuk mempertahankan sistem Neuromuscular kita dalam kondisi statis, atau mengontrol sistem-sistem Neuromuscular tersebut dalam suatu posisi atau sikap yang efisien selagi kita bergerak. Definisi menurut OSullivan, keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. Selain itu menurut Ann Thomson, keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi keseimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal. Keseimbangan adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot atau suatu kemampuan tubuh dapat melakukan gerakan dasar tumpuan yang kecil dan jauh dari letak titik berat badan dalam waktu tertentu tidak berubah atau goyang. Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support). Keseimbangan

melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh sistem muskuloskleletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan

21

massa tubuh dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan efisien. Keseimbangan terbagi atas dua kelompok, yaitu keseimbangan statis kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan pada posisi tetap (sewaktu berdiri dengan satu kaki, berdiri diatas papan keseimbangan); keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan ketika bergerak. Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari

integrasi/interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan jar lunak lain) yang dimodifikasi/diatur dalam otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal. Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu.

http://dhaenkpedro.wordpress.com/keseimbanganbalance/ Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan badan : a. Letak titik berat badan dan luas dasar penumpu. b. Jalannya garis berat, berat badan, kekuatan dari luar dan gaya geseran. c. Letak segmen badan.

Gambar 1: Latihan Keseimbangan Sumber: http://www.scribd.com/doc/108414765/4/latihan-keseimbangan.

22

2.5 Kekuatan Otot Tungkai. Daya Ledak Otot Tungkai. Daya ledak merupakan salah satu dari komponen biomotorik yang penting dalam kegiatan olahraga (Arsil, 1999:71). Daya otot (muscular power) kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M. Sajoto, 1995:8). Jadi daya ledak otot tungkai adalah kemampuan otot tungkai yang dikerahkan dalam waktu yang singkat. Daya ledak merupakan gabungan unsur kondisi fisik, yaitu kekuatan dan kecepatan. Semakin kuat dan cepat otot tungkai bekerja maka semakain bagus daya ledak otot tungkai seseorang/atlet, dengan bagusnya daya ledak otot tungkai, maka apapun gerakan atau kegiatan yang berhubungan dengan daya ladak otot tungkai dapat dilakukan dengan maksimal, tentunya hasilnya menjadi lebih baik. kekuatan otot adalah tenaga, gaya atau ketegangan yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi dengan beban maksimal. Jadi semakin besar gaya/tenaga yang dihasilkan otot saat kontraksi maka semakin besar daya ledak otot tersebut seperti halnya daya ledak otot tungkai. Seperti yang dikemukakan oleh Abdul Kadir Ateng (1992: 140) bahwa Tenaga otot adalah kemampuan untuk melepaskan kekuatan otot secara maksimal dalam waktu yang singkat. Proses terjadinya kontarksi pada otot dikarnakan adanya ransangan dari yang menyebabkan aktif nya filamen aktin dan filamen myosin. Semakin cepat ransangan yang diterima dan semakin cepat reaksi yang diberikan oleh kedua filamen tersebut maka kontrasi otot menjadi lebih cepat, sehingga daya ledak yang

23

dihasilkan kerena penggabungan kecepatan dan kekuatan tersebut menjadi bebih besar Panjangnya otot akan sangat berpengaruh terhadap kekuatan otot, dengan jauhnya jarak antara tendon dengan insersio otot, maka semakin banyak serabut otot yang berkontraksi sehingga kekuatan dan kecepatan otot menjadi lebih baik dibanding dengan orang yang memiliki otot yang pendek.

Gambar 2. Latihan naik turun bangku untuk meningkatkan Kekuatan otot tungkai. Sumber: http://www.docstoc.com/docs/156417664/htmll.

2.6 Mawasih Geri Di dalam karate, tehnik tendangan sama pentingnya dengan tehnik tangan, bahkan sebenarnya tendangan mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pukulan tangan. Menurut J.B Sujoto 1996: 98 hampir kira-kira 70% tehnik karate menggunakan tehnik tendangan, dan kekuatan tendangan kurang lebih lima kali lebih besar daripada kekuatan pukulan. Walaupun memiliki kekuatan yang besar, tendangan kurang lincah. Pada waktu menendang, keseimbangan yang baik sangat diutamakan, bukan saja karena berat badan hanya bertumpu pada satu kaki saja, Untuk mempertahankan keseimbangan, adalah mutlak bahwa seluruh permukaan telapak kaki penunjang ditancap kuat-kuat dan mantap ke lantai, sedangkan otot pergelangan kaki harus benar-benar dikencangkan. Ketika menendang harus

24

dirasakan bahwa seluruh kekuatan tubuh disalurkan ke tendangan.Pergunakan pinggul sepenuhnya, tetapi segera tariklah cepat-cepat kaki yang menendang dan persiapkan posisi untuk tehnik berikutnya. Bila tidak, maka lawan akan dapat menyodok atau menangkapnya. Panjang garis lengkung (seperti busur) yang dilalui kaki, kecepatan dan tenaga lentingan lutut, sangat menentukan kekuatan dari tendangan. Penggunaan kekuatan otot ketika meluruskan lutut adalah sangat penting. Untuk menguasai tehnik tendangan, maka harus dipahami faktor-faktor pokok berikut ini dan berlatilah terus secara sistematis: 1). Angkat lutut dari kaki yang menendang setinggi mungkin dan sedekat mungkin ke dada. Dalam keadaan ini lutut akan tertekuk penuh. Kemudian pindahkan berat kaki kepinggul. Penguasaan gerak ini harus dilakukan dengan cepat dan mulus, Agar menghasilkan tendangan yang kuat dan tajam. 2). Lentingan, tekukkan dan penglurusan lutut. Ada 2 cara menendang : a. Menggunakan daya pegas lutut yang dilentingkan sepenuhnya. b. Dengan meluruskan kuat-kuat lutut kaki yang tertekuk, menyerupai gerakan menyodok. Pada tendangan melenting (setelah lutut diangkat), tempurung lutut menjadi pusat gerakan setengah lingkaran. Kecepatan merupakan dasar pokok, tanpa itu tendangan tidak akan tajam, dan keseimbangan akan rusak. Mawashi geri dapat diterjemahkan sebagai "tendangan berputar", meskipun juga kadang-kadang disebut sebagai tendangan stengah bulan. Ini adalah tendangan yang digunakan dalam seni bela diri Jepang. Jika dianalisis

25

tendangan mawasih geri, maka bentuk kuda-kuda yang digunakan pada tehnik tendangan mawasih geri yaitu, Zenkutsu dachi. Tehnik kuda-kuda ini yakni kudakuda berat di depan, jarak antara kaki dengan kaki belakang sekitar dua pundak. lutut kaki depan dibengkokkan, sehingga dari pergelangan kaki hingga lutut tegak lurus. Kaki depan ditegakkan lurus, berat badan ditunjang oleh kaki depan sekitar tujuh puluh persen. Mawashi geri dapat dilakukan dari berbagai sikap, dan ada beberapa metode pelaksanaan yang tepat. Bagian pelaksanaannya yang selalu konsisten adalah bahwa tendangan yang dilakukan ke dalam dan pada sudut yang mana saja dari sejajar dengan lantai ke 45 derajat ke atas. Secara umum, itu adalah tendangan lateral yang menyerang dengan kaki. Idealnya, kaki yang ada di tanah selama tendangan menunjuk langsung menjauh dari lawan, tetapi 90 sampai 45 derajat menjauh dari lawan juga dapat diterima. Jika Mawashi geri sedang dilemparkan, kaki yang berada ditanah, pindah ke posisi dengan lutut ditekuk ke belakang dan menunjuk pada area target yang diinginkan pada lawan. Tanpa berhenti, kaki bagian atas berputar ke sudut tendangan yang akan dilemparkan, dan akhirnya kaki yang satunya keluar untuk menyerang lawan, dan kemudian segera kembali masuk. Jika tendangan sedang dilemparkan dari kaki belakang, pilihan lain yang tersedia kaki belakang dengan lutut ditekuk dan menunjuk ke samping, dan seluruh tubuh berputar sebagai ayunan lutut memutar ke depan (seperti orang mengayun sepeda). Variasi akhir adalah di kaki, itu sendiri. Satu baik bisa menyerang dengan punggung kaki (dengan pergelangan kaki dan jari kaki diperpanjang), atau dengan

26

bola kaki (pergelangan kaki dan jari kaki ditekuk ke belakang). Bergantian, orang bisa melakukan dengan menggunakan kaki dan menyerang dengan kaki sebaliknya . Target umum untuk tendangan ini adalah tubuh bagian atas termasuk kepala (terutama dipertandingan), serta lutut dan tulang rusuk. Praktisi karate Kyokushinkai biasanya menggunakan serangan mawashi geri rendah untuk

menyerang paha lawan sedangkan langkah ini kurang umum dalam aliran lainnya. Karate memiliki metode sendiri dengan memberikan banyak variasi pada tendangan mawasi geri. Metode asli yang digunakan pada tendangan ini dengan mengangkat lutut setinggi mungkin, dan kemudian dengan cepat memutar

pinggul atas dan dengan cepat kaki di hentakan untuk memberikan sebuah serangan dengan ujung kaki. Seiring berkembangnya zaman, beberapa perguruan juga berlatih menendang tendangan mawasih geri dengan tulang kering, yang mirip dengan tehnik tendangan di Muay Thai (seni bela diri Thailand). Hal lain yang harus kita perhatikan jika menggunakan tehnik dasar dari mawasi geri yang menggunakan ujunk kaki untuk menendang akan sangat berbahaya. untuk alasan keamanan mawasih geri hanya mengunakan punggung kaki. Saat ini banyak karateka yang berlatih tendangan mawasih geri dengan mengangkat kaki mereka untuk menyerang lebih tinggi dari sasaran yang dituju, kemudian mereka akan menyerang dengan tendangan dengan gerakan sasaran

27

lebih rendah. Hal ini merupakan serangan yang sangat efektif terhadap tubuh lawan.

Gambar 3. Mawasih Geri tampak samping dan depan. Sumber:https://www.google.com/search?q=Gambar+mawashi+geri&newwindow=1


&es_sm=122&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=MFJPUs3TB82rrged1oD YAw&ved=0CAkQ_AUoAQ&biw=1366&bih=705&dpr=1.

2.7 Kerangka Pemikiran Berdasarkan uraian pada tinjauan pustaka yang telah dipaparkan di atas, maka disusunlah kerangka berpikir yang merupakan penjelasan sementara terhadap objek permasalahan dan merupakan argumentasi yang diajukan untuk dijadikan sebagai acuan dalam rumusan hipotesis. Adapun kerangka pemikiran yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Berdasarkan hasil observasi dilapangan sebelum penelitian, karateka Dojo Guma Kaliavo Kota Palu masih sangat kurang dalam menguasai teknik mawasih geri. Dari alas an tersebut, sehingga cukup relevan apabila peneliti ingin meneliti tentang Pengaruh Latihan Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Kemampuan Mawasih Geri di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu.

28

2) Variabel dalam penelitian meliputi variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas merupakan latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai dan variabel terikat mawasih geri. 3) Tujuan melakukan penelitian agar bisa mengetahui apakah ada pengaruh latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate. 4) Adapun cara memecahkan masalah dalam penelitian ini adalah melakukan latihan keseimbangan dengan latihan berdiri dengan tangan terentang dan kaki satu di angkat setinggi lutut dan kekuatan otot tungkai dengan latihan naik turun bangku. 5) Jika seorang karateka memiliki keseimbangan dan kekuatan otot tungkai yang baik dalam melakukan mawasih geri, makan akan memberikan pengaruh terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate. Dari kerangka pemikiran di atas dapat memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan mawasih geri dalam olahraga karate, sehingga peneliti dalam hal ini menganggap perlunya dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui dan membuktikanya.

2.8 Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai Mempengaruhi Kemampuan Mawasih Geri.

29

2.9 Dojo Guma Kaliavo Kata dojo adalah istilah bahasa Jepang yang secara harfiah berarti tempat jalan. Pada mulanya dojo sebagai tempat untuk belajar dan mengajarkan Buddha, dalam perkembangan dewasa ini istilah dojo adalah tempat latihan, belajar budo, tempat mencari pencerahan, atau place of the way. Istilah dojo juga digunakan untuk menggambarkan ruang meditasi tempat praktek meditasi Zen Buddhis zazen, sebagai pengganti dari zendo istilah yang lebih spesifik, dan lebih banyak digunakan untuk menyebut ruang meditasi mereka, seperti yang dilakukan master pendiri mereka, Taisen Deshimaru. Istilah dojo merujuk pada tempat pelatihan formal untuk orang Jepang melakukan seni, tetapi lebih spesifik dianggap tempat pertemuan formal bagi murid dan guru dari berbagai seni bela diri gaya Jepang untuk melakukan pelatihan, ujian dan pertemuan terkait lainnya. Asal mula terbentuk dan berdirinya Dojo Guma Kaliavo dikota palu provinsi Sulawesi tengah di sekitaran Tahun 2000-an beralamat di jalan Dewi Sartika di dirikan oleh Sensei Fredy Lumeno Pemegang sabuk Hitam dengan tingkatan Dan VII, beliau adalah salah satu majelis sabuk hitam tertinggi di Indonesia bagian timur, dan sekalian Pelatih karate di Dojo Guma Kaliavo, Dojo Guma Kaliavo sudah banyak menciptakan karateka yang mempunyai bakat dan prestasi yang sangat baik di daerah maupun di nasional dan bahkan salah satu murid Sensei Fredy Lumeno ada yang sampai saat ini masih bergabung dalam Tim Karate Nasional/Pelatnas Karate Yaitu Cristo Mondolu, itu semua tak luput dari tangan dingin pelatih yang tak lain Sensei Fredy Lumeno sendiri. Dojo Guma Kaliavo mempunyai sekitar 20 karateka yunior dan 10 karateka senior, dengan

30

tempat latihan atau Dojo dengan luas sekitar 10 x 10 meter, lantai beralaskan Matras dan beratapkan seng, sehingga membuat karateka yang sedang latihan merasa sangat nyaman. Diproyeksikan kedepanya nanti Dojo ini akan lebih berkembang dan terus menciptakan atlit-atlit yang berprestasi di tingkat Nasional.

31

BAB III METODE PENILITIAN

3.1 Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan pretest dan posttest group. Arikunto (2006:85), seperti pada gambar 3.1 berikut ini. Tabel 3.1 Rancangan Penelitian Subjek Pretest R Sumber : Arikunto., 2006:85

Perlakuan X

Posttest

Keterangan: : Tes awal X : Perlakuan : Tes akhir

angkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut. a. Tes kemampuan mawasih geri dalam olahraga Karate sebelum diberi perlakuan yang disebut tes awal ( ).

b. Perlakuan berupa latihan keseimbangan dan latihan otot tungkai. c. Tes kemampuan mawasih geri dalam olahraga Karate setelah diberi perlakuan yang disebut tes akhir ( ).

32

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 1) Penelitian ini di laksanakan di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu. 2) Waktu Penelitian adalah tiga bulan dari 18 juli 2013 s/d 18 oktober 2013

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono 2006:89) Populasi dalam penelitian ini adalah karateka yang berada di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu. Yang berjumlah 20 atlit.

3.3.2

Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Pada umumnya kita

dapat mengadakan penelitian kepada seluruh anggota dari satu populasi. Menurut Sugiyono sampel adalah bagian dari jumlah populasi tersebut (2006:90) Sampel di ambil dari total populasi sebagai wakil dari total populasi yang merupakan karateka yang berlatih di Dojo Guma Kaliavo yang berada di Jln. Dewi Sartika, Palu selatan, Kota Palu. Mengingat jumlah populasi yang tidak terlalu banyak, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel total (total sampling). Semua obyek tersebut diambil sebagai responden, hal ini berpatokan berdasarkan pendapat Arikunto (1989: 07) yaitu untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100. Lebih baik diambil semua. Penulis mengunakan seluruh populasi untuk dijadikan sampel, sehingga sampel yang digunakan sebanyak 20 orang karateka.

33

3.4 Jenis dan Sumber Penelitian 3.4.1 Data Primer Jenis data penelitian yaitu data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Sumber data penelitian yaitu karateka di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu.

3.4.2

Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku.

3.5 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah gejala yang bervariasi dan menjadi obyek atau kajian penelitian. Konsep tentang variabel penelitian digunakan sebagai dasar dan pegangan dalam mengukur data. Adapun variabel yang menjadi kajian dalam penelitian ini meliputi 2 (dua) hal yaitu: a. Variabel bebas adalah latihan keseimbangan dan latihan kekuatan otot tungkai. b. Variabel terikat adalah kemampuan mawasih geri dalam olahraga Karate.

3.6

Instrumen Penelitian Instrumen merupakan alat-alat yang akan digunakan untuk mengukur

variabel yang diteliti. Adapun instrumen yang digunakan yakni: (1) stopwatch, (2) tempat latihan (dojo) (3) samsak (4) formulir tes, dan (5) alat tulis dan perlengkapan lainya.

34

3.7 Pengumpulan Data Pengumpulan data kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate dengan melakukan tes mawasih geri sebelum dan sesudah memperoleh latihan keseimbangan dan latihan kekuatan otot tungkai. Adapun tes mawasih geri dalam penelitian ini adalah: Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut : 1. Tes kemampuan pukulan Mawasih Geri

a. Tes yang dilakukan adalah kemampuan dalam melakukan Mawasih Geri. b. Melakukan percobaan tiap sampel secara bergilir berdasar barisan atau nomor presensi. c. Petugas : 1. Pemandu tes/ pemberi aba-aba 2. Pengamat sekaligus pencatat skor. d. Pengambilan data dilaksanakan di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu 2. Pelaksanaan tes kemampuan mawasih geri.

a. Testee bersiap-siap berdiri di depan sandsack dengan satu kaki tumpu berada di belakang garis. Apabila melakukan Teknik Mawasih Geri. b. Pada saat aba-aba siap ya bersamaan dengan stopwatch dijalankan maka testee melakukan Mawasih Geri sesuai batas kemampuan dengan sekerasnya dan secepatnya. Setelah itu, kembali keposisi awal dan melakukan gerakan Mawasih Geri sebanyak-banyaknya dalam waktu 1 menit.

35

c. Setelah mencapai 1 menit bersamaan dengan aba-aba berhenti stopwatch dihentikan, maka testee berhenti melakukan tendangan . Kemudian diambil hasil yang terbaik. d. Jadi, dalam hal ini testee dites sebanyak dua kali, pertama pada saat sebelum pretest dilakukan pengambilan data dan tes kedua setelah ada perlakuan Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai Program latihan Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai diberikan selama 6 minggu, dan dalam seminggu diberikan 3 kali latihan. Setelah latihan selama 6 minggu, maka berikutnya dilakukan istrahat latihan, sebelum atlit diberikan tes akhir yaitu tes kemampuan dalam melakukan Mawasih Geri.

Gambar 4. Proses terjadinya mawasih geri Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Karate Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa tendangan mawasih geri di awali dengan kamaite lalu mengangkat kaki setinggi lutut, kemudian putar pinggang, kaki tumpu berputar , pada posisi kaki masih di atas maka luruskan

tungkai dengan perkenaan bola-bola kaki. Adapun program latihan mawasih geri adalah sebagai berikut:

36

3.7.1

Jadwal Latihan

Tabel 3.2 Jadwal Latihan Hari Senin Rabu Jumat Waktu latihan 15.30-16.30 15.30-16.30 15.30-16.30 Dojo Guma Kaliavo Kota Palu Tempat

3.7.2

Program Latihan

Tabel 3.3 Program latihan Dalam 6minggu Pelaksanaan Latihan Tahap Minggu Keseimbangan, Kekuatan Otot Tungkai dan Mawasih Geri 1. Pemanasan 2. Latihan Keseimbangan I I dan Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan 1. Pemanasan 2. Latihan Keseimbangan 2 dan Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan II 3 1. Pemanasan 2. LatihanKeseimbangan 20 kali 3 kali 1 menit 15 kali 3 kali 1 menit 10 kali 3 kali 1 menit Jumlah pelaksana an Set (30 detik) Interval

37

dan Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan 1. Pemanasan 2. Keseimbangan dan 4 Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan 1. Pemanasan 2. Latihan Keseimbangan III 5 dan Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan 1. Pemanasan 2. Latihan Keseimbangan 6 dan Kekuatan Otot Tungkai 3. Mawasih Geri 4. Pendinginan 35 kali 3 kali 1 menit 30 kali 3 kali 1 menit 25 kali 3 kali 1 menit

3.8 Analisis Data Setelah pengumpulan data selesai. Maka data yang diperoleh kemudian di analisis dengan analisis statistik yang dipakai untuk mengolah data dalam penelitian ini adalah dengan rumus t-test. Perhitungan t-test dalam penelitian ini berpedoman pada teknik analisis t-test.

38

Oleh Arikunto (2006:86) dengan rumus, sebagai berikut.

Keterangan: t = Harga t MD = Mean deviasi = Deviasi individu dari MD N = Jumlah subjek/sampel Untuk dapat dikatakan signifikan pada tingkat kesamaan 95%, maka nilai t hitung haruslah sama atau lebih besar dari t-tabel. Derajat kebebasan (db) dari ttest ini adalah N-1.

39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 1. Deskriptif Data Tes Awal Kemampuan Mawasih Geri pada Atlit Karate di Dojo Guma Kalivo Kota Palu. Tabel 4.1 : Tes Awal Kemampuan Mawasih Geri pada Atlit Karate di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu No Nama Atlit L/P Hasil Tes Mawasih Geri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Putra Ishak Lutfi Fauzan Fadli Iksan Rahmat Valen Ochan Wahyudin Donal Wengs Billy Oscar Adi Willy Erik Ridho Angga Enal L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L 270 315 315 330 315 290 315 315 320 350 300 330 310 300 350 315 300 320 260 315

Berdasarkan tabel 4.1 (tes awal) di atas kemampuan mawasih geri pada karateka di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu sebelum diberikan latihan keseimbangan dan latihan kekuatan otot tungkai dari 20 karateka diperoleh hasil

40

kemampuan mawasih geri terbanyak dan terbaik adalah 350 sedangkan hasil mawasih geri terendah adalah 260. 2. Deskriptif Data Tes Akhir Kemampuan Mawasih Geri pada Karateka Dojo Guma Kaliavo Kota Palu. Tabel 4.2: Tes Akhir Kemampuan Mawasih Geri pada Karateka Dojo Guma Kaliavo Kota Palu. No Nama Siswa L/P Hasil Tes Mawasih Geri 1 Putra L 450 L 2 Ishak 415 L 3 Lutfi 435 L 4 Fauzan 500 L 5 Fadli 430 L 6 Iksan 420 L 7 Rahmat 400 L 8 Valen 465 L 9 Ochan 400 L 10 Wahyudin 415 L 11 Donal 450 L 12 Wengs 455 L 13 Billy 380 L 14 Oscar 410 L 15 Adi 400 L 16 Willy 410 L 17 Erik 440 L 18 Ridho 465 L 19 Angga 350 L 20 Enal 330

Berdasarkan tabel 4.2 (tes akhir) di atas hasil kemampuan mawasih geri pada karateka di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu sebelum diberikan latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai dari 20 Karateka diperoleh hasil mawasih geri terbanyak dan terbaik adalah 465 sedangkan hasil mawasih geri terendah adalah 330.

41

Selanjutnya data hasil kemampuan mawasih geri sebelum dan sesudah diberikan laihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai dikelompokkan dalam satu tabel dan akan dihitung selisihnya. Lebih jelasnya tercantum pada tabel 4.3 sebagai berikut. Tabel 4.3: Selisih kemampuan Mawasih Geri Sebelum dan Sesudah Diberikan Latihan Keseimbangan dan Kekuatan Otot Tungkai pada Karateka di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Mean 270 315 315 330 315 290 315 315 320 350 300 330 310 300 350 315 300 320 260 315 6235 311.75 450 415 435 500 430 420 400 465 400 415 450 455 380 410 400 410 440 465 350 330 8420 421 D (X2-X1) 180 100 120 170 115 130 85 150 80 65 150 125 70 110 50 95 140 145 90 15 2185 d (D-MD) 70.75 -9.25 10.75 60.75 5.75 20.75 -24.25 40.75 -29.25 -44.25 40.75 15.75 -39.25 0.75 -59.25 -14.25 30.75 35.75 -19.25 -94.25 0

5005.563 85.5625 115.5625 3690.563 33.0625 430.5625 588.0625 1660.563 855.5625 1958.063 1660.563 248.0625 1540.563 0.5625 3510.563 203.0625 945.5625 1278.063 370.5625 8883.063 33063.75

42

Untuk mencari nilai mean deviasi (MD) adalah sebagai berikut:

MD = MD = 109,25 Berdasarkan tabel 4.3 di atas diperoleh hasil keseluruhan tes awal adalah ( ), sedangkan jumlah keseluruhan hasil akhir ( ) dan tes akhir ( ) sebesar , nilai

beda dari tes awal(

0 dan nilai varians dari tes

awal dan tes akhir adalah perhitungan uji-t dengan rumus sebagai berikut: t=

. Selanjutnya dilanjutkan pada

t=

t =

t= t = 11.72 Dari penghitungan statistic diperoleh t hitung = 11.72 dengan

menggunakan taraf signifikasi 5 % data d.b = (20-1) = 19, diperoleh nilai t tabel = 2.093 hal ini berarti bahwa nilai t hitung lebih besar dari t tabel atau 11.72 > 2.093. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis menyatakan Ada pengaruh latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu.

43

4.2 Pembahasan Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa rata-rata selisih

kemampuan mawasih geri sebelum diberikan latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai 311.75, sedangkan setelah diberikan latihan keseimbangan dan kekuatan otot kemampuan mawasih geri rata-rata menjadi 421 sehingga terjadi peningkatan sebesar 109.25. Hasil perhitungan uji t dimana t hitung = 11.72 diperoleh t tabel = 2.093, karena t hitung lebih besar dari t tabel atau 11.72>2.093 pada taraf signifikansi 5% dengan derajat perbedaan (d.b) = (N-1) = 20-1= 19, maka hipotesis nol (H0) yang menyatakan tidak ada pengaruh ditolak sehingga (hipotesis alternatif) diterima. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan Ada pengaruh yang signifikan antara latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu diterima. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh latihan

keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri. Adanya pengaruh tersebut menunjukan bahwa latihan keseimbangan dan

kekuatan otot tungkai dapat digunakan sebagai latihan untuk meningkatkan kemampuan mawasih geri. Materi latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai dapat berpengaruh terhadap kemampuan mawasih geri, karena materi latihan yang diberikan pada pelaksanaan penelitian memenuhi atau sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Prinsip latihan yang harus diperhatikan dalam melakukan latihan olahraga adalah sebagai berikut:

44

1) Kontinyu (berkesinambungan) 2) Lama latihan 30 s/d 120 menit 3) Dosis latihan harus sesuai kemampuan atlit 4) Beban makin lama makin bertambah 5) Variasi latihan 6) Pemanasan 7) Pendinginan Di samping sesuai dengan prinsip-prinsip latihan materi latihan yang diberikan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan, sehingga latihan dapat dilakukan dengan maksimal.

45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian ini menunjukan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel. Adapun t hitungnya adalah 11.72. Sedangkan t tabel pada taraf sifnifikan 5%, db (N-1) = (20-1) = 19 adalah 2.093. Sehingga Ho dalam penelitian ini ditolak dan Ha diterima artinya terdapat pengaruh yang berarti latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan mawasih geri pada karateka di Dojo Guma Kaliavo Kota Palu.

5.2 Saran 1. Karena penerapan latihan kesimbangan dan kekuatan otot tungkai mempunyai pengaruh yang bermanfaat terhadap kemampuan mawasih geri dalam olahraga karate, maka disarankan kepada pelatih ataupun karateka memberikan latihan tersebut pada program latihannya. 2. Diharapkan sampel atau populasi dalam jumlah yang besar dan dapat variasi dengan penelitian serupa. 3. Untuk memperoleh bukti-bukti lebih lanjut tentang pengaruh latihan tersebut, diharapkan penelitian dengan sampel lain, kriteria yang bervariasi, atau variabel terikat yang berbeda. 4. Kiranya para pemerhati/peneliti/dosen mata kuliah karate di Sulawesi Tengah menyebarluaskan hasil temuannya dalam olahraga karate khususnya teknik

46

mawasih geri kepada pelatih-pelatih dan karateka minimal sebagai bahan ajar dan referensi.

47

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, S. (2013). Pengaruh Latihan Multibalance Terhadap Ketepatan Tendangan Ketepatan Tendangan (Ushiro Geri) Pada Kenshi Kempo Pemula Provinsi Jambi. Skripsi Sarjana pada FKIP Universitas Jambi: tidak diterbitkan Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Arsil. (1999). Pedoman Pembinaan Kondisi Fisik. Padang : FIK UNP. Ateng,. Abd. Kadir. (1992). Asas dan landasan pendidikan jasmani, Dirjen Dikti, Jakarta, Halaman 140. Bompa, T.O. (1986). Theory and Methodology of Training. Dubuge: Kendall/Hunt Publishing Company. Budiwanto, S. (2004). Pengetahuan Dasar Melatih Olahraga. Malang: Depdiknas UNM. Budiman. (2012). Info Karate. (Online) Tersedia:https://www.google.com/search?q=Gambar+mawashi+geri&new window=1&es_sm=122&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=MFJPUs3TB 82rrged1oDYAw&ved=0CAkQ_AUoAQ&biw=1366&bih=705&dpr=1. (5oktober 2013) Pomo warih adi. (2010). Tangkas. (online) Tersedia: http://www.scribd.com/doc/108414765/4/latihan-keseimbangan Emasterymw. (2013). Kebugaran kebugaran: Quiken [online]. Tersedia: http://www.docstoc.com/docs/156417664/Meningkatkan-KebugaranJasmani. (4 oktober 2013). Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-aspek Psikologi Dalam Coaching. Jakarta: Depdikbud. Kurnia. (2009). Physio Notes/Keseimbangan (Balance). (Online) Tersedia: http://dhaenkpedro.wordpress.com/keseimbangan-balance/htmll. (4 agustus 2013) Mukhsin, Sabeth. (2003), Karate tradisional, Jakarta: Gramedia.

48

Nakayama, Masatoshi. (1995). Yestedy and Today. Kodansa Internasional. Tokyo, New York, San Fransisco: Japan Karate Association, Translated by, Herman kaus. Nurochman. (2012). Karate Kick. (Online) Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Karate. (6 Oktober 2013). Sajoto, M. (1995). Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize. Sugiyono. (2006). Metodologi Penelitian, Bandung: Alpabeta. Suharno. (1993). Metodologi Pelatihan. Jakarta: KONI Pusat. Sujoto, J.B. (1996). Tehnik Oyama Karate Seri Kihon. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia. Sukel, Sinalipon. (2009). Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Kemampuan Smash Dalam Permainan Sepak Takraw Mahasiswa FIK UNIMA. Skripsi Sarjana pada FIK Universitas Manado: tidak diterbitkan Susnadi. (2012). Metodolgi penelitian.(online). Tersedia: http://materipenjasorkes.blogspot.com/2012/08/prinsip-prinsiplatihan.html (5-oktober-2013).

49

50

Lampiran 1

TES AWAL KEMAMPUAN MAWASIH GERI PADA ATLIT KARATE DI DOJO GUMA KALIAVO KOTA PALU No Hasil Tes Mawasih Geri 1 L 260 Putra 270 270 2 L 300 Ishak 315 315 3 L 295 Lutfi 315 315 4 L 325 Fauzan 330 330 5 L 300 Fadli 315 315 6 L 290 Iksan 280 290 7 L 315 Rahmat 300 315 8 L 315 Valen 305 315 9 L 315 Ochan 320 320 10 Wahyudin L 330 350 350 11 Donal L 300 290 300 12 Wengs L 300 330 330 13 Billy L 290 310 310 14 Oscar L 280 300 300 15 Adi L 325 350 350 16 Willy L 300 315 315 17 Erik L 290 300 300 18 Ridho L 290 320 320 19 Angga L 250 260 260 20 Enal L 310 315 315 Keterangan: Dari hasil tes awal diatas jumlah yang di ambil adalah hasil yang terbaik dari point yang ditetapkan dengan kemampuan mawasih geri rata-rata 30-44 kali mawasih geri dari setiap atlit/karateka. Nama Atlit L/P Tes I Tes II

51

Lampiran 2

TES AKHIR KEMAMPUAN MAWASIH GERI PADA ATLIT KARATE DI DOJO GUMA KALIAVO KOTA PALU No Hasil Tes Mawasih Geri 1 L 440 Putra 450 450 2 L 400 Ishak 415 415 3 L 400 Lutfi 435 435 4 L 480 Fauzan 500 500 5 L 415 Fadli 430 430 6 L 400 Iksan 420 420 7 L 390 Rahmat 400 400 8 L 460 Valen 465 465 9 L 390 Ochan 400 400 10 Wahyudin L 400 415 415 11 Donal L 430 450 450 12 Wengs L 430 455 455 13 Billy L 370 380 380 14 Oscar L 390 410 410 15 Adi L 390 400 400 16 Willy L 400 410 410 17 Erik L 415 440 440 18 Ridho L 450 465 465 19 Angga L 325 350 350 20 Enal L 300 330 330 Keterangan: Dari hasil tes akhir diatas jumlah yang di ambil adalah hasil yang terbaik dari point yang ditetapkan dengan kemampuan mawasih geri rata-rata 32-52 kali mawasih geri dari setiap atlit/karateka. Nama Atlit L/P Tes I Tes II

52

Lampiran 3

DOKUMENTASI PENELITIAN

GAMBAR 1. LATIHAN KESEIMBANGAN

53

GAMBAR 2. LATIHAN OTOT TUNGKAI

54

GAMBAR 3. TES MAWASIH GERI

GAMBAR 4. TES MAWASIH GERI

55

GAMBAR 5. TES MAWASIH GERI

56