Anda di halaman 1dari 24

ABUSE OF POWER Penegak Hukum terhadap Kegiatan Penyaluran Jenis Bahan Bakar Minyak BBM!

"ertentu (Otokritik atas penggunaan Ketentuan Pidana Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi untuk menjerat Pelaku Penyaluran Jenis BBM Tertentu di Provinsi Maluku Utara ) Oleh# Edy Sameaputty$ SH%

&'

(atar Belakang Masalah

Bahan Bakar Minyak adalah salah satu unsur vital yang diperlukan dalam pelayanan kebutuhan masyarakat umumnya baik di negara-negara miskin, negara-negara berkembang bahkan di negara-negara yang telah berstatus negara maju sekalipun. Pemanfaatan Bahan Bakar Minyak dewasa ini tidak saja berimplikasi pada kebijakan-kebijakan luar negeri suatu negara yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara itu sendiri namun juga berdampak se ara global yang mengakibatkan penderitaan umat manusia, dalam hal ini kebijakan luar negeri suatu negara terkait pemanfaatan Bahan Bakar Minyak yang dimulai dengan upaya penguasaan terhadap sumber-sumber adangan utama minyak bumi di beberapa tempat, padahal tempat-tempat dimaksud telah berstatus sebagai negara merdeka dengan kewajiban hukum yang berlaku di negaranya untuk mengurus pengolahan dan penguasaan adangan minyak bumi di negara itu sendiri. !udah menjadi rahasia umum bahwa pe ahnya perang teluk pada awal "ahun #$$%-an adalah salah satu ontoh di antara sekian banyak ontoh kebijakan luar negeri dari negara-negara peserta perang pada saat itu yang berjuang mengatasnamakan kepentingan dan kedaulatan negara dengan tujuan untuk menguasai kepemilikan salah satu adangan minyak bumi terbesar di dunia. Berdasarkan ontoh kasus itulah maka diperlukan pengaturan terhadap kegiatan pengelolaan serta pemanfaatan sumber daya alam tersebut bagi kepentingan masyarakat internasional, se ara khusus bagi pemenuhan kehidupan masyarakat yang hidup dan bernaung di bawah suatu negara yang berdaulat& 'ndang-'ndang (asar )epublik *ndonesia menempatkan pengelolaan !umber (aya +lam pada ketentuan pasal ,,, sehingga berdasarkan ketentuan itulah maka dibentuklah 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi untuk menggantikan 'ndang-'ndang -omor 00 Prp. "ahun #$1% tentang Pertambangan Minyak dan /as Bumi, 'ndang-'ndang -omor #2 "ahun #$1. tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti 'ndang-'ndang -omor . "ahun #$1. tentang 3ewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi 3ebutuhan (alam -egeri, dan 'ndang-'ndang -omor 4 "ahun #$5# tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan /as Bumi -egara yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan usaha pertambangan minyak dan gas bumi saat itu. Pembentukan 'ndang'ndang -omor .. "ahun .%%# menjadi dasar perubahan signifikan dalam sistem pengaturan
1

Penulis adalah 6akim Pengadilan -egeri 7abuha

6alaman % dari )* halaman

tentang hal-hal dengan pelaksanaan kegiatan usaha Minyak dan /as Bumi, diantaranya pengelompokan 3egiatan 'saha 6ulu dan 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai 'saha Pertambangan dalam ketentuan P8)P' -o. 00 "ahun #$1% tentang Pertambangan Minyak dan /as Bumi. Pengelompokan 3egiatan 'saha 6ulu dan 'saha 6ilir diatur dan dijabarkan pada pasal 2 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi, yakni9 Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi terdiri atas: ! Kegiatan Usaha "ulu yang men#akup: a! $ksplorasi% &! $ksploitasi! '! Kegiatan Usaha "ilir yang men#akup: a! Pengolahan% &! Pengangkutan% #! Penyimpanan% d! (iaga! !elain pengelompokan tersebut di atas, 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# juga memberikan terobosan baru terhadap pengawasan pelaksanaan 3egiatan 'saha 6ulu maupun 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. P8)P' -o. 00 "ahun #$1% tentang Pertambangan Minyak dan /as Bumi, kegiatan usaha yang dikualifisir seluruhnya sebagai kegiatan pertambangan diawasi oleh (epartemen yang berkepentingan dan memiliki kewenangan meliputi pertambangan minyak dan gas bumi, sementara 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# mengatur pengawasan untuk masing-masing 3egiatan 'saha 6ulu dan 3egiatan 'saha 6ilir dilaksanakan oleh Badan Pengawas dan Badan Pengatur, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 0# ayat (.) dan ayat (,) 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%#, antara lain9 )'* Penga+asan atas pelaksanaan Kegiatan Usaha "ulu &erdasarkan Kontrak Kerja ,ama dilaksanakan oleh Badan Pelaksana! )-* Penga+asan atas pelaksanaan Kegiatan Usaha "ilir &erdasarkan l.in Usaha dilaksanakan oleh Badan Pengatur! selanjutnya pada Bab *: pasal 00 sampai dengan pasal 0$ diatur ketentuan-ketentuan menyangkut Badan Pelaksana) dan Badan Pengatur tersebut.

Berdasarkan ketentuan putusan Mahkamah 3onstitusi -omor9 ,1;P''-:;.%#. tertanggal #, -ovember .%#., M3 memutuskan pasal yang mengatur tugas dan fungsi BPM*/+! dalam '' nomor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi yaitu <rasa =dengan Badan Pelaksana= dalam Pasal ## ayat (#), frasa =melalui Badan Pelaksana= dalam Pasal .% ayat (,), frasa =berdasarkan pertimbangan dari Badan Pelaksana dan= dalam Pasal .# ayat (#), frasa =Badan Pelaksana dan= dalam Pasal 0$ '' Migas bertentangan dengan ''( #$02 dan tidak memiliki hukum mengikat. M3 juga menyatakan Pasal # angka .,, Pasal 0 ayat (,), Pasal 0# ayat (.), Pasal 00, Pasal 02, Pasal 04 ayat (#), Pasal 2$ huruf a, Pasal 1#, dan Pasal 1, '' Migas bertentangan dengan ''( #$02 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Menindaklanjuti Putusan Mahkamah 3onstitusi tersebut, Pemerintah memutuskan mengeluarkan Peraturan Presiden -omor $2 "ahun .%#. untuk membentuk !atuan 3erja !ementara Pelaksana 3egiatan 'saha 6ulu Minyak dan /as Bumi (!3 Migas) yang kemudian diubah menjadi !atuan 3erja 3husus Pelaksana 3egiatan 'saha 6ulu Minyak dan /as Bumi (!33 Migas) melalui Peraturan Presiden -omor $ "ahun .%#,.
2

6alaman ) dari )* halaman

!elain ketentuan-ketentuan tentang klasifikasi 3egiatan 'saha 6ulu dan 3egiatan 'saha 6ilir, 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi juga membatasi kewenangan Pertamina dan menempatkan Pertamina sejajar dengan Badan-badan 'saha yang berdasarkan ketentuan 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi dapat dii>inkan untuk melakukan 3egiatan 'saha 6ulu maupun 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. Pembatasan-pembatasan kewenangan Pertamina sebagaimana diatur dalam B+B :** Pasal 1% sampai dengan pasal 1, 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# meliputi tugas dan /ungsi pem&inaan dan penga+asan pengusahaan kontraktor $ksplorasi dan $ksploitasi termasuk Kontraktor Kontrak Bagi "asil serta hal-hal menyangkut dengan pelaksanaan Kontrak Bagi "asil )Produ#tion ,haring 0ontra#t* dialihkan menjadi kewenangan Badan Pelaksana 6ulu. !ebagai atatan, 'ndang-'ndang -omor 4 "ahun #$5# tentang 'ndang-'ndang P8)"+M*-+ menempatkan Pertamina sebagai ?Pemegang Kekuasaan "unggal@ kegiatan-kegiatan usaha pertambangan minyak dan gas bumi yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, pemurnian dan pengolahan, pengangkutan dan penjualan di wilayah -egara )epublik *ndonesia. Pembentukan 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi juga didukung dengan semangat penegakan hukum yang diimplementasikan melalui 3etentuan-3etentuan Pidana yang diatur dalam Bab :* pasal 2# sampai dengan pasal 24 'ndang-'ndang dimaksud. 3etentuan-ketentuan Pidana tersebut dibentuk oleh Pembuat 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi yang pada pokoknya untuk mengatur perbuatanperbuatan terkait dengan 3egiatan 'saha 6ulu maupun 3egiatan 'saha 6ilir yang dapat dikualifisir sebagai perbuatan pidana dengan an aman pidana jenis pidana kurungan, pidana penjara dan pidana denda. "erkait dengan ketentuan pidana dimaksud, *nstitusi penegak hukum khususnya dalam lingkungan !istem Peradilan Pidana sering diperhadapkan dengan perkara-perkara yang disangka, didakwa serta diadili berdasarkan ketentuan Pidana yang diatur dalam pasal 2, dan pasal 22 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# (ketentuan pasal 2, dan pasal 22 lebih khusus mengatur tentang perbuatan-perbuatan pidana yang dilakukan dalam hal pelaksanaan 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi). -amun yang menjadi masalah dalam penggunaan dan penerapan ketentuan pasal 2, dan pasal 22 tersebut ialah, ketentuan tersebut digunakan untuk menjerat para pelaku yang diduga melakukan tindak pidana berkaitan dengan usaha 6ilir padahal yang bersangkutan melakukan 3egiatan Penyaluran yang tidak se ara eksplisit diatur dalam 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi. &&' Permasalahan Menjadi pertanyaan untuk selanjutnya dibahas adalah apakah Ketentuan Pidana untuk Kegiatan Usaha "ilir yang diatur dalam pasal 1- dan pasal 11 Undang-Undang (omor '' Tahun '22 tentang Minyak dan Gas Bumi dapat dikenakan dan diterapkan terhadap kegiatan penyaluran Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu3 6alaman + dari )* halaman

&&&' Pem,ahasan &&&' %' Pen-elasan Ketentuan Pidana Pasal .+ dan Pasal .. Undang/Undang 01m1r )) "ahun )22% tentang Minyak dan 3as Bumi !ebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi pada pokoknya mengatur tentang hal-hal menyangkut 3egiatan 'saha 6ulu (meliputi 8ksplorasi dan 8ksploitasi) serta 3egiatan 'saha 6ilir (meliputi Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan dan -iaga). 'raian definisi jenis-jenis kegiatan baik 6ulu maupun 6ilir telah dijabarkan pada Bab * 3etentuan 'mum Pasal # 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi, antara lain9 $ksplorasi adalah kegiatan yang &ertujuan memperoleh in/ormasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan #adangan Minyak dan Gas Bumi di 4ilayah Kerja yang ditentukan! $ksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang &ertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas Bumi dan 4ilayah Kerja yang ditentukan5 yang terdiri atas penge&oran dan penyelesaian sumur5 pem&angunan sarana pengangkutan5 penyimpanan5 dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian minyak dan gas &umi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya! Pengolahan adalah kegiatan memurnikan5 memperoleh &agian-&agian5 mempertinggi mutu5 dan mempertinggi nilai tam&ah Minyak Bumi dan6atau Gas Bumi5 tetapi tidak termasuk pengolahan lapangan! Pengangkutan adalah kegiatan pemindahan Minyak Bumi5 Gas Bumi5 dan6atau hasil olahannya dari 4ilayah Kerja atau dari tempat penampungan dan Pengolahan5 termasuk pengangkutan Gas Bumi melalui pipa transmisi dan distri&usi! Penyimpanan adalah kegiatan penerimaan5 pengumpulan5 penampungan5 dan pengeluaran Minyak Bumi dan6atau Gas Bumi! (iaga adalah kegiatan pem&elian5 penjualan5 ekspor5 impor Minyak Bumi dan6atau hasil olahannya5 termasuk (iaga Gas Bumi melalui pipa! +dapun ketentuan pidana pasal 2, 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# yakni ,etiap orang yang melakukan: a! Pengolahan se&agaimana dimaksud dalam Pasal '- tanpa l.in Usaha Pengolahan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 )lima* Tahun dan denda paling tinggi 7p! 12!222!222!222522 )lima puluh miliar rupiah*% &! Pengangkutan se&agaimana dimaksud dalam Pasal '- tanpa 8.in Usaha Pengangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 )empat* Tahun dan denda paling tinggi 7p! 92!222!222!222522 )empat puluh miliar rupiah*% 6alaman * dari )* halaman

#! Penyimpanan se&agaimana dimaksud dalam Pasal '- tanpa l.in Usaha Penyimpanan dipidana dengan pidana penjara paling lama - )tiga* Tahun dan denda paling tinggi 7p! -2!222!222!222522 )tiga puluh miliar rupiah*% d! (iaga se&agaimana dimaksud dalam Pasal '- tanpa l.in Usaha (iaga dipidana dengan pidana penjara paling lama - )tiga* Tahun dan denda paling tinggi 7p! -2!222!222!222522 )tiga puluh miliar rupiah*! Berdasarkan ketentuan pidana tersebut di atas, khusus untuk pasal 2, huruf a, b, dan d terdapat persamaan unsur yang digunakan oleh pembuat 'ndang-'ndang untuk menunjuk pasal ., 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi sebagai parameter pelengkap unsur dari ketentuan pidana pasal 2, tersebut. !ebagaimana diketahui, ketentuan pasal ., 'ndang'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi mengatur hal-hal sebagai berikut9 ) * Kegiatan Usaha "ilir se&agaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka '5 dapat dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat 8.in Usaha dari Pemerintah! )'* l.in Usaha yang diperlukan untuk kegiatan usaha Minyak Bumi dan kegiatan usaha Gas Bumi se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * di&edakan atas: a! 8.in Usaha Pengolahan% &! 8.in Usaha Pengangkutan% #! 8.in Usaha Penyimpanan% d! l.in Usaha (iaga! )-* ,etiap Badan Usaha dapat di&eri le&ih dari )satu* l.in Usaha sepanjang tidak &ertentangan dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang &erlaku! "erhadap pasal dimaksud, khususnya ayat (#) dan ayat (.) pembuat 'ndang-'ndang menjelaskannya sebagai berikut9 :yat ) * 8.in Usaha merupakan i.in yang di&erikan kepada Badan Usaha oleh Pemerintah sesuai dengan ke+enangan masing-masing5 untuk melaksanakan kegiatan usaha Pengolahan5 Pengangkutan5 Penyimpanan dan6atau (iaga5 setelah memenuhi persyaratan yang diperlukan! ;alam hal-hal yang menyangkut kepentingan daerah5 Pemerintah mengeluarkan l.in Usaha5 setelah Badan Usaha dimaksud mendapat rekomendasi dari Pemerintah ;aerah! :yat )'* Ketentuan ini dimaksudkan untuk le&ih menge/ekti/kan penga+asan dan pengendalian terhadap Badan Usaha yang &erusaha di &idang Pengolahan5 Pengangkutan5 Penyimpanan5 dan6atau (iaga! Pemerintah +aji& mem&erikan atau menolak permohonan l.in Usaha yang diajukan Badan Usaha dalam jangka +aktu tertentu sesuai dengan Peraturan PerundangUndangan yang &erlaku! Berdasarkan uraian tersebut, apabila ketentuan pasal ., ini disimpulkan, dapat dinyatakan bahwa kegiatan usaha Hilir dapat dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat Izin Usaha untuk kegiatan usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan atau usaha Niaga. 6alaman . dari )* halaman

Dan untuk Badan Usaha dapat diberikan lebih dari 1 (satu Izin Usaha sepan!ang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang"Undangan yang berlaku& Berdasarkan data yang diperoleh dari laman Badan Pengatur 6ilir (BP6) Migas www.bphmigas.go.id Badan-badan 'saha yang terdaftar se ara resmi dan memiliki i>in usaha di bidang Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan;atau -iaga antara lain dirin ikan sebagai berikut9 REKAP&"U(AS& BA4A0 USAHA PEM&(&K &5&0 USAHA 01' #. .. ,. 0. 2. 1. 5. 4. $. #%. ##. #.. #,. #0. #2. 0ama Badan Usaha P". Petronas -iaga *ndonesia P". +3) Borporindo "bk 6aryanto +dikoesoemo P". 3opatria (ewata +bdul Muis 7atif P". )ede o Petrolin 'tama !imon 6arris "hany P". "iara 8nergy P". Petro +ndalan -usantara (aulay;)obby P" "itan Multi (aya P". "omindomas Bulk "ank "erminal P". "omindomas Bulk "ank "erminal P". !ynergy *nti Mitra P". "oyota "susho P". !igma )an ang Perdana -urhadi, M.! P". 8lnusa Petrofin )atiyan +bdurahman P". Petro +ndalan -usantara P". Petro +ndalan -usantara Jenis 0RU -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga "erbatas Penyimpanan -iaga 'mum -iaga "erbatas -iaga "erbatas -iaga 'mum Penyimpanan -iaga "erbatas -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum Penyimpanan Alamat 3awasan Mega 3uningan Aakarta 3ebon Aeruk, Aakarta Perkantoran Pondok /ede *ndah, Aakarta 3ebon !irih, Aakarta Cisma Pejaten, Aakarta !elatan Medan !umatera 'tara Aakarta !elatan Aakarta Aakarta Aakarta !elatan Aakarta (uta Mas <atmawati, Aakarta /raha 8lnusa 7t. #. Medan, !umatera 'tara Medan, !umatera 'tara 01m1r 0RU %%#;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%.;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%,;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%0;P--BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%2;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%1;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%5;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%4;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %%$;P--BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#%;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %##;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#.;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#,;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#0;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#2;P--BP6*';BP6 Migas;.%%1 "gl' 0RU ., Pebruari .%%1 #5 +pril .%%1 #5 +pril .%%1 #5 +pril .%%1 #4 Mei .%%1 #1 Dktober .%%1 #1 Dktober .%%1 0 Aanuari .%%5 0 Aanuari .%%5 0 Aanuari .%%5 0 Aanuari .%%5 $ Pebruari .%%5 $ Pebruari .%%5 $ Pebruari .%%5 $ Pebruari .%%5

6alaman 6 dari )* halaman

#1. #5. #4. #$. .%. .#. ... .,. .0. .2. .1. .5. .4. .$. ,%. ,#. ,.. ,,. ,0.

P". Mineral -usa Persada P". 6utan -ilam Persada P". Bosmi *ndonesia P". Aaya Bersama 7estari 3imia P" !umatera !arana !ekar !akti P" "arana o 'tama P" Muji *nti 'tama P" +dovelin )aharja P" (over Bhemi al P" Pelayaran -asional +eromi P" Calinusa 8nergi P" 8lnusa Petropin P" Bendrawasih Budi Mulia P" Patra -iaga P" Patra -iaga P" Baraka "irta Pratama P". !entosa Permai Pratama P". CahanaPutra Margaswadaya P". 6anda "erminal

-iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga 'mum Pengangkutan Pengangkutan -iaga "erbatas -iaga "erbatas Pengangkutan Penyimpanan Pengangkutan -iaga "erbatas Penyimpanan Pengangkutan Penyimpanan -iaga 'mum Pengangkutan -iaga "erbatas -iaga "erbatas Penyimpanan

(uren !awit, Aakarta "imur Bandar 7ampung, 7ampung -agoya 7ubuk Baja, Batam Aakarta Medan, !umatera 'tara 3ebon !irih, Aakarta Aakarta !elatan Palembang, !umatera !elatan Aakarta -agoya 7ubuk Baja, Batam Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta Barat Aakarta !elatan Aakarta !elatan Medan, !umatera 'tara

%#1;-"-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#5;-'-BP6*';BP6 Migas;.%%1 %#4;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%%5 %#$;P/-BBM*'!;BP6 M*/+!;.%%5 %.,;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.0;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.2;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.1;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.5;P--BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.4;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.%;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %..;P--BBM*'!;BP6 Migas;.%%5 %.#;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %.$;P--BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,%;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,#;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,.;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,,;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,0;P--BBM*';BP6

$ Pebruari .%%5 $ Pebruari .%%5 .% +pril .%%5 .% +pril .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .$ Auni .%%5 .# +gustus .%%5 .# +gustus .%%5 .# +gustus .%%5 %4 Dktober .%%5 %4 Dktober .%%5

6alaman 7 dari )* halaman

,2. ,1. ,5. ,4. ,$. 0%. 0#. 0.. 0,. 00. 02. 01. 05. 04. 0$. 2%. 2#. 2.. 2,.

P". Premindo Mitra 3en ana P". !urya +rtha Bhanya P". 8mar 8lang Perkasa P". Premindo Mitra P". Mulya +dhi Paramita P". Bipta Mulia !arana P". (harma 3arya Perdana P" Patra -iaga P" !amudra 8tam 8nergi P" (wikarya -iaga +gung P" Aagad 8nergy P" Mahaputra +di -usa P". Med o !arana 3alibaru P". Bumi +sri Prima P". !uryamakmur +gung P". 3en ana -iaga P". 'saha /emilang P". !hell *ndonesia P". 6umpuss "rading

-iaga "erbatas Pengangkutan -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga "erbatas Penyimpanan -iaga "erbatas Pengangkutan -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum Pengangkutan -iaga "erbatas Pengangkutan -iaga 'mum -iaga 'mum

Aakarta Aakarta !elatan Aakarta !elatan Aakarta Aakarta Aakarta Bilin ing, Aakarta Aakarta 3ota Bontang, 3alimantan "imur Aakarta Barat Batam Bilandak, Aakarta Bilin ing, Aakarta Aakarta Bilin ing, Aakarta 'tara Aakarta Pusat Aakarta Aakarta Aakarta

Migas;.%%5 %,2;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %,1;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,5;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %,4;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %,$;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %0%;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%5 %0#;P--BBM*';BP6 Migas;.%%4 %0.;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %0,;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %00;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %02;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %01;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %05;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %0$ ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %2# ;P/BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %04 ;-"BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %2% ;P/BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %2. ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %2, ;-'-

%4 Dktober .%%5 %4 Dktober .%%5 %4 Dktober .%%5 %4 Dktober .%%5 %4 Dktober .%%5 $ Aanuari .%%4 $ Aanuari .%%4 $ Aanuari .%%4 $ Aanuari .%%4 .4 Aanuari .%%4 .4 Aanuari .%%4 .4 Aanuari .%%4 .4 Aanuari .%%4 #4 +pril .%%4 #4 +pril .%%4 #4 +pril .%%4 #4 +pril .%%4 .# Auli .%%4 .# Auli .%%4

6alaman 8 dari )* halaman

20. 22. 21. 25. 24. 2$. 1%. 1#. 1.. 1,. 10. 12. 11. 15. 14. 1$. 5%. 5#.

P". Petrobas *ndonesia P". 7ingga Perdana P". !uryamakmur +gung 7estari P". Pumas Petro 7ampung P" !amudra 8tam 8nergi P". -urindo "rade P". (elta +rtha Bahari P". )ashwa /etra -irwana P". "otal Dil *ndonesia P". Pro 8nergi P". Bipta 7entera +badi P". !umber +lam 'tama 3albar P". !olar Premium Bentral P". 7ingga Perdana P". Petrindo -usa Persada P". Pertamina (Persero) P". 7umako +badi !ejahtera P". 7umako +badi !ejahtera

-iaga 'mum Pengangkutan Penyimpanan -iaga 'mum -iaga "erbatas -iaga "erbatas Penyimpanan -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga "erbatas Pengangkutan Penyimpanan -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga "erbatas Pengangkutan

Aakarta Bilegon, Banten Bilin ing, Aakarta 'tara Aakarta 3ota Bontang, 3alimantan "imur Aakarta !urabaya, Aawa "imur !urabaya, Aawa "imur Aakarta Aakarta Aakarta 3ab. 3etapang, 3alimantan Barat Pluit, Aakarta 3ota Bilegon, Banten "ebet, Aakarta !elatan Aakarta Medan, !umatera 'tara Medan, !umatera 'tara

BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %20 ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %22 ;P/BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %21 ;P-BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %25 ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %24;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%4 %2$ ;-"BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %1% ;P-BBM-*';BP6 Migas;.%%4 %1# ;-"BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %1. ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %1, ;-"BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %10 ;P/BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %12 ;P-BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %11 ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %15;-'-BBM*';BP6 Migas;.%%$ %14 ;-"BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %1$ ;-'BBM-*';BP6 Migas;.%%$ %5%;-"-BBM*';BP6 Migas;.%%$ %5#;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%$

.# Auli .%%4 .# Auli .%%4 .# Auli .%%4 .. !eptember .%%4 .. !eptember .%%4 .. !eptember .%%4 .. !eptember .%%4 .% Aanuari .%%$ .% Aanuari .%%$ .% Aanuari .%%$ .% +pril .%%$ .% +pril .%%$ .$ Auni .%%$ .$ Auni .%%$ .$ Auni .%%$ .$ Auni .%%$ .$ Auni .%%$ .$ Auni .%%$

6alaman 9 dari )* halaman

5.. 5,. 50. 52. 51. 55. 54. 5$. 4%. 4#. 4.. 4,. 40. 42. 41. 45. 44. 4$. $%.

P". !egara 7anjutan (ibya P". D ean Petro 8nergy P". 'saha /emilang 'tama P". "oyota "susho *ndonesia P". Dil "anking Merak P". 6okari 7ineE Pratama P". Dil "anking Merak P". "rans-Pa ifi Petro hemi al *ndotama P". "rans-Pa ifi Petro hemi al *ndotama P". 7autan 7uas "bk P". 'saha Batur Mitra P". !amudra Pratama P". 3hatulistiwa )aya 8nergy P". Prayasa *ndomitra !arana P". )adinka +ria *nternational P". PetroBhina *nternational *ndonesia P". 3uo Dil P". 3utilang Paksi Mas Perusda Purin 7ewo 7embata

Pengangkutan -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum Penyimpanan -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum Pengolahan -iaga 'mum -iaga 'mum Pengangkutan -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga 'mum Penyimpanan

"anjung Priok, Aakarta 'tara Balikpapan, 3alimantan "imur Aakarta Aakarta Pusat Aakarta !elatan Bilegon, Banten Aakarta !elatan Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta Aakarta 'tara Batu +mpar, Batam Aakarta Pusat Aakarta !elatan Aakarta !elatan Aakarta !elatan -usa "enggara "imur

%5.;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%$ %5,;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %50;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %52;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %51;P--BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %55;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %54;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %5$;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %4%;P7-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %4#;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %4.;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %4,;P/-BBM*';BP6 Migas;.%%$ %40;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %42;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %41;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %45;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %44;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %4$;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%#% %$%;P--BBM*';BP6

.$ Auni .%%$ #. Maret .%#% #. Maret .%#% #. Maret .%#% #. Maret .%#% #. Maret .%#% #. Maret .%#% %0 Auni .%#% %0 Auni .%#% %0 Auni .%#% %0 Auni .%#% %0 Auni .%#% %0 Auni .%#% .0 +gustus .%#% .0 +gustus .%#% .0 +gustus .%#% .0 +gustus .%#% .0 +gustus .%#% .0 +gustus .%#%

6alaman %2 dari )* halaman

$#. $.. $,. $0. $2. $1. $5. $4. $$. #%%. #%#. #%.. #%,.

P". 6umpuss *ntermoda "ransportasi, "bk P". /resik (istribution "erminal P". Buma -iaga Perkasa P". (ove hem Maspion "erminal P". Mandiri Berkah 8nergy P". Ddessey !hipping 7ines P". Patra Buana Putra P". Permata Buana Putra P". +nugrah +ldhi Persada P". +dhimiE Pre ast *ndonesia P". !urya Parna -iaga P". Bosmi Pekanbaru P". /reen /old +lam *ndonesia

Pengangkutan Penyimpanan -iaga 'mum Penyimpanan -iaga "erbatas Pengangkutan -iaga "erbatas Pengangkutan -iaga "erbatas -iaga "erbatas -iaga 'mum -iaga 'mum -iaga "erbatas

Aakarta "imur Bilandak, Aakarta !elatan Balikpapan, 3alimantan "imur /resik, Aawa "imur Aakarta Barat Aakarta !elatan Bimahi, Aawa Barat Bimahi, Aawa Barat Aakarta Pusat Aakarta !elatan Aakarta !elatan Pekanbaru Aakarta Barat

M*/+!;.%#% %$#;P/-BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$.;P--BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$,;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$0;P--BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$2;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$1;P/-BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$5;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%## %$4;P/-BBM*';BP6 M*/+!;.%## $$;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%## #%%;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%## #%#;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%## #%.;-'-BBM*';BP6 M*/+!;.%## #%,;-"-BBM*';BP6 M*/+!;.%##

%0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## %0 <ebruari .%## .% Auli .%## .% Auli .%## %5 !eptember .%## %5 !eptember .%## %5 !eptember .%##

Berdasarkan data tersebut, ter atat sebanyak #%, (seratus tiga) *>in 'saha yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan untuk melaksanakan 3egiatan 6ilir Migas dengan klasifikasi jumlah *>in 'saha masing-masing sebagai berikut9 #. *>in 'saha untuk kegiatan Pengolahan .. *>in 'saha untuk kegiatan Pengangkutan ,. *>in 'saha untuk kegiatan Penyimpanan 0. *>in 'saha untuk kegiatan -iaga 'mum 9 # Perusahaan& 9 #4 Perusahaan& 9 #2 Perusahaan& 9 0# Perusahaan&

2. *>in 'saha untuk kegiatan -iaga "erbatas 9 .4 Perusahaan. !esuai data-data tersebut ditemukan pula perbedaan antara 3egiatan -iaga 'mum dan 3egiatan -iaga "erbatas, yang didefinisikan berdasarkan 3etentuan 'mum pasal # angka #1 dan angka #5 Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir 6alaman %% dari )* halaman

Minyak dan /as Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi sebagai berikut9 Kegiatan Usaha (iaga Umum )4holesale* adalah kegiatan usaha penjualan5 pem&elian5 ekspor dan impor Bahan Bakar Minyak5 Bahan Bakar Gas5 Bahan Bakar <ain dan6atau "asil Olahan dalam skala &esar yang menguasai atau mempunyai /asilitas dan sarana penyimpanan dan &erhak menyalurkannya kepada semua pengguna akhir dengan menggunakan merek dagang tertentu! Kegiatan Usaha (iaga Ter&atas )Trading* adalah kegiatan usaha penjualan5 pem&elian5 ekspor dan impor5 Bahan Bakar Minyak5 Bahan Bakar Gas5 Bahan Bakar <ain dan6atau "asil Olahan dalam skala &esar yang tidak menguasai atau mempunyai /asilitas dan sarana penyimpanan dan hanya dapat menyalurkannya kepada pengguna yang mempunyai6menguasai /asilitas dan sarana pela&uhan dan6atau terminal penerima )re#eiving terminal*! !ementara itu ketentuan pidana pasal 22 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi yaitu ,etiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan6atau (iaga Bahan Bakar Minyak yang disu&sidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama = )enam* Tahun dan denda paling tinggi 7p! =2!222!222!222522 )enam puluh miliar rupiah*! Pasal 22 tersebut kemudian dijelaskan oleh pembuat 'ndang-'ndang dalam penjelasan pasal antara lain ;alam ketentuan ini yang dimaksudkan dengan menyalahgunakan adalah kegiatan yang &ertujuan untuk memperoleh keuntungan perseorangan atau &adan usaha dengan #ara yang merugikan kepentingan masyarakat &anyak dan negara seperti antara lain kegiatan pengoplosan &ahan &akar minyak5 penyimpangan alokasi &ahan &akar minyak5 pengangkutan dan penjualan &ahan &akar minyak ke 8uar negeri! !e ara 3husus menyangkut ketentuan pasal 22, penulis berpendapat bahwa pada dasarnya pembentuk 'ndang-'ndang telah memberikan batasan pengertian untuk frasa menyalahgunakan hanya sebagai kegiatan yang bertu!uan untuk memperoleh keuntungan perseorangan atau badan usaha dengan #ara yang merugikan kepentingan masyarakat banyak dan Negara berdasarkan ontoh- ontoh kegiatan penyalahgunaan sebagaimana telah diuraikan dalam penjelasan tersebut. &&&' )' Regulasi Kegiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak Pembentukan 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi tidak serta merta mengatur dan menjabarkan se ara rin i mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan pokok yang ditentukan dalam 'ndang-'ndang dimaksud yakni tentang kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir migas. "erhadap kegiatan usaha hilir, pasal ,% 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi mengatur bahwa ? Ketentuan mengenai usaha 6alaman %) dari )* halaman

Pengolahan5 Pengangkutan5 Penyimpanan5 dan (iaga se&agaimana dimaksud dalam Pasal '-5 Pasal '95 Pasal '15 Pasal '=5 Pasal '>5 Pasal '?5 dan Pasal '@ diatur le&ih lanjut dengan Peraturan Pemerintah!A !ebagai perwujudan pelaksanaan amanat pasal ,% tersebut, Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 + tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. Peraturan Pemerintah tersebut dibagi menjadi #$ (sembilan belas) Bab dan terdiri dari #%% pasal yang se ara umum dijelaskan oleh Pembuat Peraturan Pemerintah, bahwa &ertitik tolak dari landasan hukum dalam pengusahaan Kegiatan Usaha "ilir5 maka diperlukan pengaturan dalam suatu Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan dampak yang dapat ditim&ulkannya! Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai Kegiatan Usaha "ilir Minyak dan Gas Bumi5 yang antara lain meliputi pengaturan mengenai pembinaan dan penga$asannya5 mekanisme pemberian Izin Usaha5 kegiatan Pengolahan5 Pengangkutan termasuk Pengangkutan %as Bumi &elalui Pipa5 Penyimpanan dan Niaga5 'adangan (trategis &inyak Bumi5 'adangan Bahan Bakar Nasional5 (tandar dan &utu5 ketersediaan dan pendistribusian !enis Bahan Bakar &inyak tertentu5 Harga Bahan Bakar &inyak dan Harga %as Bumi 5 Penyaluran Bahan Bakar &inyak pada Daerah )erpen#il 5 *eselamatan dan *esehatan *er!a dan Pengelolaan +ingkungan Hidup serta Pengembangan &asyarakat (etempat 5 Peman,aatan Barang5 -asa5 dan *emampuan .ekayasa dan .an#ang Bangun Dalam Negeri serta Penggunaan )enaga *er!a dan (anksi dalam *egiatan Usaha Hilir. 3husus menyangkut kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak, pasal 04 ayat (#), ayat (.), ayat (,) dan ayat (0) Peraturan Pemerintah dimaksud, mengatur9 ) * Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale* dalam menyalurkan Bahan Bakar Minyak5 Bahan Bakar Gas dan <PG untuk pengguna skala ke#il5 pelanggan ke#il5
3

!ebagai atatan terhadap pelaksanaannya pada tanggal .0 Maret .%%$ Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. Perubahan mana didasarkan atas pertimbangan &ah+a ketentuan Pasal '? ayat )'* dan ayat )-* Undang-Undang (omor '' Tahun '22 tentang Minyak dan Gas Bumi sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (omor Perkara 22'6PUU- 6'22- tentang Permohonan Uji Bormil dan Materiil terhadap UndangUndang (omor '' Tahun '22 tentang Minyak dan Gas Bumi dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat5 sehingga perlu mengu&ah Peraturan Pemerintah (omor -= Tahun '229 tentang Kegiatan Usaha "ilir Minyak dan Gas Bumi se&agai pelaksanaan Undang-Undang (omor '' Tahun '22 tentang Minyak dan Gas Bumi . Perubahan tersebut dilakukan hanya terhadap ketentuan pasal 5. Peraturan Pemerintah, yang pada awalnya menentukan9 Pasal >' ) * "arga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi5 ke#uali Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan ke#il5 diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang +ajar5 sehat dan transparan! )'* "arga Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan ke#il se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * diatur dan ditetapkan oleh Badan Pengatur dengan mempertim&angkan aspek teknis dan ekonomis atas penyediaan Gas Bumi serta sesuai dengan ke&ijakan harga yang ditetapkan Pemerintah! )-* Badan Pengatur melaksanakan penga+asan atas harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * dan ayat )'*! diubah menjadi9 Pasal >' "arga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi diatur dan6atau ditetapkan oleh Pemerintah

6alaman %+ dari )* halaman

transportasi dan rumah tangga +aji& menyalurkannya melalui penyalur yang ditunjuk Badan Usaha melalui seleksi! )'* Penunujukan penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * +aji& mengutamakan koperasi5 usaha ke#il dan6atau &adan usaha s+asta nasional yang terintegrasi dengan Badan Usaha &erdasarkan perjanjian kerjasama! )-* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * hanya dapat memasarkan Bahan Bakar Minyak5 Bahan Bakar Gas dan <PG dengan merek dagangg yang digunakan atau dimiliki Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale*! )9* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * +aji& memiliki peri.inan sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang &erlaku! !elain ketentuan pasal 04 di atas, selanjutnya dalam Bab :* tentang 3etersediaan dan (istribusi Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu, terdapat pula Peraturan kegiatan-kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak jenis tertentu antara lain sebagai berikut9 #. Pasal 1$ ayat (#) sampai dengan ayat (0) mengatur9 ) * Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale* yang melaksanakan kegiatan (iaga jenis Bahan Bakar Minyak tertentu kepada pengguna transportasi5 +aji& mem&er kesempatan kepada penyalur yang ditunjuk Badan Usaha melalui seleksi! )'* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * adalah koperasi5 usaha ke#il dan6atau &adan usaha s+asta nasional yang terintegrasi dengan Badan Usaha &erdasarkan perjanjian kerjasama! )-* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat )'* hanya dapat melaksanakan penyaluran jenis Bahan Bakar Minyak tertentu dengan merek dagang yang digunakan atau dimiliki Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale*! )9* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat )'* +aji& memperoleh peri.inan sesuai ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang &erlaku! .. Pasal 5% ayat (#) sampai dengan ayat (2), mengatur sebagai berikut9 ) * Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale* yang melaksanakan kegiatan (iaga Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah untuk rumah tangga dan6atau usaha ke#il +aji& melakukannya melalui penyalur yang ditunjuk Badan Usaha melalui seleksi! )'* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat ) * adalah koperasi5 usaha ke#il dan6atau &adan usaha s+asta nasional yang terintegrasi dengan Badan Usaha &erdasarkan perjanjian kerjasama! )-* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat )'* hanya dapat melaksanakan penyaluran Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah dengan merek dagang yang digunakan atau dimiliki Badan Usaha pemegang 8.in Usaha (iaga Umum )4holesale*!

6alaman %* dari )* halaman

)9* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat )'* +aji& memperoleh peri.inan sesuai ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang &erlaku! )1* Penyalur se&agaimana dimaksud dalam ayat )'* hanya dapat melaksanakan penyaluran kepada pengguna rumah tangga dan6atau usaha ke#il dan tidak dapat melaksanakan penyaluran kepada lingkup pengguna lain! !elanjutnya, untuk melaksanakan ketentuan Peraturan Pemerintah tersebut menyangkut penyediaan dan distribusi jenis Bahan Bakar Minyak tertentu, ditetapkanlah Peraturan Presiden -omor 5# "ahun .%%2 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden -omor 02 "ahun .%%$ tentang Perubahan atas Peraturan Presiden -omor 5# "ahun .%%2 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu0 Berdasarkan ketentuan inilah, masyarakat kemudian mengenal adanya Bahan Bakar Minyak yang disubsidi pemerintah. Meskipun tidak dijelaskan se ara eksplisit dalam ketentuan pasal-pasalnya namun subsidi jenis Bahan Bakar Minyak tertentu diartikan melalui ketentuan umum pasal # Peraturan Presiden dimaksud, yaitu ,u&sidi Jenis BBM Tertentu per liter adalah pengeluaran negara yang dihitung dari selisih kurang antara harga jual e#eran per liter Jenis BBM Tertentu setelah dikurangi pajak-pajak5 dengan harga patokan per liter Jenis BBM Tertentu! !elain itu pada saat Peraturan Presiden Pertama kali ditetapkan pada "ahun .%%2 P". Pertamina (Persero) selaku Badan 'saha yang ditugaskan untuk melaksanakan penyediaan dan pendistribusian Aenis BBM "ertentu di seluruh wilayah *ndonesia sebagaimana diatur dan ditentukan pada pasal #% Peraturan Presiden tersebut, sebagai berikut9 ) * ;alam hal Badan Usaha selain PT Pertamina )Persero* &elum ada yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan penugasan penyediaan dan pendistri&usian Jenis BBM Tertentu pada tanggal '- (ovem&er '2215 PT Pertamina )Persero* ditugaskan untuk melaksanakan penyediaan dan pendistri&usian Jenis BBM Tertentu di seluruh +ilayah 8ndonesia! )'* Pelaksanaan dan jangka +aktu penugasan PT Pertamina )Persero* se&agaimana dimaksud pada ayat ) * ditetapkan oleh Menteri5 setelah mendapat pertim&angan dari Badan Pengatur! !elanjutnya dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa Bahan Bakar Minyak sebagai komoditas strategis dan vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan sebagian besar
Perubahan mana dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain a). (alam rangka pemanfaatan Bahan Bakar -abati )Bio/uel* sebagai Bahan Bakar 7ain dalam penyediaan dan pendistribusian Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu, perlu pengaturan kebijakan pen ampuran Bahan Bakar -abati )Bio/uel* dalam Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu& serta b). (alam rangka ter iptanya pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu dalam negeri yang tepat sasaran, perlu dilakukan pengaturan kebijakan penyediaan dan pendistribusian Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu melalui penerapan sistem pendistribusian tertutup Aenis Bahan Bakar Minyak tertentu. Perubahan-perubahan tersebut antara lain dilakukan terhadap ketentuan pasal #, ketentuan pasal ., penambahan pasal yang disisipkan antara pasal 5 dan pasal 4 yakni masing-masing pasal 5+, pasal 5B dan pasal 5B, penambahan pasal yang disisipkan antara pasal #% dan pasal ## yakni pasal #%+.
4

6alaman %. dari )* halaman

merupakan Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu yang masih mendapatkan subsidi dari Pemerintah yang pendistribusiannya perlu dilaksanakan sebagaimana mestinya, tepat sasaran dan tidak disalahgunakan serta untuk memberikan kepastian hukum bagi kegiatan pendistribusian Bahan Bakar Minyak, maka ditetapkanlah Peraturan Menteri 8!(M -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri 8!(M -omor .5 "ahun .%#. tentang Perubahan atas Peraturan Menteri 8!(M -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak 2& Peraturan Menteri 8!(M pada prinsipnya mengatur tentang hal-hal pokok tentang penyaluran Bahan Bakar Minyak sebagai penegasan terhadap kegiatan Penyaluran yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang 3egiatan 'saha 6ilir sesuai pembahasan sebelumnya. 6al-hal yang diatur antara lain tentang penyalur dan penyaluran -enis BBM tertentu yang masing-masing diatur dalam Bab ** dan Bab *** Peraturan Menteri 8!(M. +turanaturan mana dapat dijabarkan berdasarkan ketentuan pasal-pasal sebagai berikut9 Pasal ' (#) BU-P8U(U dapat melakukan pendistri&usian melalui Penyalur! (.) BU-P8U(U dalam menyalurkan Bahan Bakar Minyak untuk pengguna skala ke#il5 pelanggan ke#il5 transportasi dan rumah tangga +aji& menyalurkannya melalui Penyalur yang ditunjuk BU-P8U(U melalui seleksi! (,) Pengguna skala ke#il dan pelanggan ke#il se&agaimana dimaksud pada ayat ) * merupakan konsumen yang menggunakan Bahan Bakar Minyak se&agai &ahan &akar dan yang tidak menguasai atau mempunyai /asilitas dan sarana pela&uhan dan6atau tidak menguasai re#eiving terminal! (0) 7e#eiving terminal se&agaimana dimaksud pada ayat )-* merupakan instalasi penerimaan yang terdiri dari tempat penyimpanan )storage*5 dermaga Uetty5 &eserta sarana lainnya yang paling sedikit meliputi peralatan &ongkar muat dan pompa! (2) Pengguna Transportasi se&agaimana dimaksud pada ayat )'* merupakan konsumen yang menggunakan Bahan Bakar Minyak se&agai &ahan &akar untuk segala &entuk sarana transportasi! (1) Pengguna 7umah Tangga se&agaimana dimaksud pada ayat )'* merupakan konsumen yang menggunakan Bahan Bakar Minyak se&agai &ahan &akar untuk memasak dan penerangan dalam lingkup rumah tangga! (5) Penunjukan Penyalur se&agaimana dimaksud pada ayat ) * dan ayat )'* +aji& dilengkapi dengan surat rekomendasi dari Pemerintah Ka&upaten6Kota terkait dengan lokasi sarana dan /asilitas! PasalPerubahan Peraturan Menteri dilakukan dengan pertimbangan bahwa ketentuan mengenai jangka waktu penyesuaian penentuan pilihan Badan 'saha sebagai Pemegang *>in 'saha Penyimpanan, -iaga atau sebagai Penyalur dan kewajiban Badan 'saha pemegang *>in 'saha -iaga untuk melaporkan penunjukan Penyalurnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal .0 dan Pasal .1 Peraturan Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak belum ukup memberikan waktu bagi Badan 'saha untuk melakukan penyesuaian tersebut, sehingga jangka waktunya perlu diperpanjang&
5

6alaman %6 dari )* halaman

) * Penyalur se&agaimana dimaksud dalam Pasal ' dapat &er&entuk Mo&ile Bunker :gent )MB:*5 :gen Premium dan Minyak ,olar ):PM,*5 ,tasiun Pengisian Bahan Bakar (elayan ),PB(*5 ,tasiun Pengisian Bahan Bakar Umum ),PBU*5 Premium ,olar Pa#kage ;ealer )P,P;*5 :gen Minyak Tanah ):MT* 5 Pool Konsumen atau &entuk penyalur lainnya! )'* Penyalur se&agaimana dimaksud pada ayat ) * mendapatkan jasa penyaluran )margin /ee* yang ditetapkan oleh BU-P8U(U! )-* Penyalur se&agaimana dimaksud pada ayat )'* hanya dapat menyalurkan Bahan Bakar Minyak yang &erasal dari Pasal 9 ) * Penyalur +aji& memiliki sarana dan /asilitas! )'* ;alam hal Penyalur melakukan kegiatan penyaluran untuk transportasi laut5 Penyalur dapat menguasai sarana dan /asilitas! B:B 888 P$(C:<U7:( J$(8, BBM T$7T$(TU Pasal ' BU-P8U(U yang mendapatkan penugasan dari Badan Pengatur dan Penyalurnya +aji& menyalurkan Jenis BBM Tertentu kepada konsumen tertentu se#ara tepat sasaran dan tepat volume5 dengan harga sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan! Pasal ) * BU-P8U(U yang ditetapkan oleh Badan Pengatur untuk melaksanakan !penugasan +aji& menunjuk Penyalur yang menyediakan sarana dan /asilitas di +ilayah penugasan! )'* ;alam rangka penyaluran se&agaimana dimaksud pada ayat ) *5 Badan Usaha +aji& mengutamakan penggunaan sarana dan /asilitas Penyalur yang tersedia di +ilayah penugasan se#ara kela.iman &isnis dan terpenuhinya syarat-syarat penugasan! )-* Penggunaan sarana dan /asilitas Penyalur se&agaimana dimaksud pada ayat ) * dan ayat )'* dilaksanakan dalam rangka menjamin penyediaan dan pendistri&usian Jenis BBM Tertentu di +ilayah penugasan dan dalam rangka su&sidi yang tepat volume dan tepat sasaran! )9* Penyalur se&agaimana dimaksud pada ayat ) * dan ayat )'* +aji& melakukan penyaluran kepada konsumen pengguna Jenis BBM Tertentu5 sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan! )1* ;alam menyalurkan Jenis BBM Tertentu kepada konsumen pengguna5 Penyalur +aji& mem&erikan /aktur atau &ukti transaksi lainnya yang men#antumkan antara lain nilai su&sidi yang diterima konsumen pengguna! )satu* BU-P8U(U yang menunjuknya!

&&&' +' Kegiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak serta Permasalahan yang dihadapi 6alaman %7 dari )* halaman

!e ara geografis, Provinsi Maluku 'tara adalah provinsi kepulauan yang terdiri atas . (dua) 3ota dan 4 (delapan) 3abupaten yang tersebar dari Pulau Morotai di sebelah 'tara hingga Pulau "aliabu di sebelah Barat (aya yang baru saja dimekarkan sebagai (aerah Dtonom Baru. Berdasarkan data yang diperoleh dari laman resmi Badan Pengatur 6ilir (BP6) Migas www.bphmigas.go.id, P". Pertamina (Persero) sebagai Badan 'saha Pemegang *>in 'saha -iaga 'mum yang ditugaskan untuk melaksanakan penyediaan dan pendistribusian jenis Bahan Bakar Minyak tertentu di wilayah Maluku 'tara, hanya memiliki 0 (empat) (epot yang masing-masing berkedudukan di "obelo, "ernate, 7abuha dan !anana. +dapun wilayah pembagian tugas penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dari depot-depot tersebut antara lain9 #. (epot "obelo, yang melaksanakan kebutuhan penyediaan Bahan Bakar Minyak untuk wilayah Pulau Morotai dan Pulau 6almahera& .. (epot "ernate, yang melaksanakan kebutuhan penyediaan Bahan Bakar Minyak untuk wilayah 3ota "ernate dan 3ota "idore 3epulauan& ,. (epot 7abuha, yang melaksanakan kebutuhan penyediaan Bahan Bakar Minyak untuk wilayah 3abupaten 6almahera !elatan yang tersebar dari 3epulauan Makian dan 3ayoa hingga ke wilayah paling !elatan di Pulau Dbi dan sekitarnya& serta 0. (epot !anana, yang untuk melaksanakan kebutuhan penyediaan Bahan Bakar Minyak untuk wilayah 3abupaten 3epulauan !ula dan "aliabu. Penyebaran (epot milik P". Pertamina (Persero) yang se ara geografis berada di 0 (empat) lokasi tersebut mengakibatkan penyalur Bahan Bakar Minyak antara lain seperti +gen Premium dan Minyak !olar (+PM!), +gen Minyak "anah (+M") dan jenis penyalur lainnya sangat berperan penting untuk menyalurkan Bahan Bakar Minyak (khususnya Bahan Bakar Minyak bersubsidi) kepada para konsumen yang terletak di daerah-daerah yang tersebar di pulau-pulau yang berada di wilayah Provinsi Maluku 'tara. Berdasarkan keadaan tersebut itulah, maka satu-satunya alat transportasi yang dapat digunakan dalam hal penyaluran Bahan Bakar Minyak oleh penyalur setelah Bahan Bakar Minyak tersebut diperoleh dari (epot Pertamina adalah melalui 3apal 7aut. !ehubungan dengan sarana angkutan khusus untuk kegiatan penyaluran jenis Bahan Bakar Minyak tertentu (BBM bersubsidi), P". Pertamina (Persero) wajib mengutamakan penggunaan usaha pengangkutan milik koperasi, usaha ke il dan;atau badan usaha swasta nasional melalui seleksi. !elain itu usaha pengangkutan dimaksud wajib dilakukan se ara terintergrasi dengan Badan 'saha melalui perjanjian kerjasama, serta usaha pengangkutan tersebut wajib memperoleh peri>inan sesuai dengan ketentuan Peraturan Per'ndang'ndangan yang berlaku. 6al mana ditegaskan dalam pasal 5# ayat (#), (.) dan (,) Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir 6alaman %8 dari )* halaman

Minyak dan /as Bumi. *>in yang dimaksud menurut ketentuan pasal 5# Peraturan Pemerintah tersebut dikenal sebagai i>in transportir, dan penggunaan alat transportasi yang memiliki i>in transportir hanya dikhususkan untuk pengangkutan Bahan Bakar Minyak. Berdasarkan data yang diperoleh penulis, penyedia jasa angkutan Bahan Bakar Minyak yang telah dilengkapi dengan i>in transporter pada umumnya adalah alat transportasi darat yang terdiri atas mobilmobil tanki dengan kapasitas tertentu yang se ara khusus diperuntukan untuk mengangkut Bahan Bakar Minyak. !ementara itu terhadap penyedia jasa angkutan laut yang sangat dibutuhkan dalam rangka penyaluran Bahan Bakar Minyak di wilayah kepulauan seperti Provinsi Maluku 'tara, pada umumnya tidak memiliki i>in transportir. +lasan tidak dimilikinya i>in transportir oleh para penyedia jasa alat transportasi laut tersebut antara lain karena Peri>inan yang diperlukan untuk alat transportasi dalam hal kegiatan penyaluran melalui jalur laut tidak tersosialisasi dengan baik oleh para pemangku kepentingan; stakeholders usaha Bahan Bakar Minyak kepada penyedia jasa transportasi, mengakibatkan sebagian besar penyedia jasa angkutan laut hanya mengandalkan perjanjian kerjasama dengan pihak penyalur untuk melakukan pengangkutan melalui wilayah laut, dan pada umumnya kerjasama dimaksud telah dilakukan selama bertahun-tahun. +lasan-alasan tentang ketidaktahuan mengenai peri>inan usaha pengangkutan serta sulitnya pengurusan i>in pengangkutan yang harus dihadapi oleh para pengusaha penyedia jasa angkutan laut dalam rangka penyaluran Bahan Bakar Minyak lalu digunakan oleh oknumoknum aparat penegak hukum yang tidak bertanggung jawab untuk memberlakukan pungutan liar ?jatah preman )japre*@ kepada penyedia jasa angkutan laut dengan ketentuan-ketentuan apabila japre dimaksud tidak dibayarkan atau tidak dipenuhi sesuai dengan permintaan atau yang ditentukan maka pemilik kapal pengangkut Bahan Bakar Minyak ditangkap dan kemudian akan diproses dengan menggunakan ketentuan pidana dalam 'ndang-'ndang nomor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi khususnya ketentuan pasal 2, dan pasal 22. !elain itu, minimnya pengawasan dari Badan Pengatur 6ilir (BP6) Migas sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah maupun pengawasan pihak Pemerintah (aerah 3abupaten;3ota setempat dalam hal kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak khususnya terhadap penggunaan jasa angkutan laut, serta tidak tersedianya organisasi sebagai wadah berhimpun para pelaku usaha angkutan minyak di tingkat lokal;daerah mengakibatkan persaingan-persaingan usaha yang dilakukan oleh para penyedia jasa enderung mengarah pada persaingan usaha yang tidak sehat menggunakan ara- ara tidak bertanggungjawab dan tidak terpuji untuk menyingkirkan pesaing-pesaing bisnis yang memiliki prospek usaha lebih baik antara lain dengan ?menggunakan -asa@ oknum aparat penegak hukum untuk melakukan proses hukum terhadap pesaing bisnisnya dengan alasan ketiadaan i>in transportir yang dimiliki, sehingga usaha pengangkutan pesaingnya menjadi terhenti akibat proses hukum yang dihadapi. Proses mana se ara psikologi akan menimbulkan rasa takut kepada pengusaha tersebut untuk memulai

6alaman %9 dari )* halaman

kembali usaha pengangkutan demi pelaksanaan kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak dimaksud. "indakan-tindakan yang dilakukan oleh oknum aparat penegak hukum sebagaimana uraian di atas dapat dikualifisir sebagai tindakan penyalahgunaan kewenangan atau penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan tidak berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. +pabila ditinjau dari aspek 6ukumnya, i.in transportir yang wajib dimiliki oleh penyedia jasa angkutan untuk kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak adalah i>in yang berbeda dengan *>in 'saha Pengangkutan yang dimaksud oleh pasal ., 'ndang-'ndang tentang Minyak dan /as Bumi. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain dapat penulis uraikan sebagai berikut9 #. *>in 3egiatan 'saha 6ilir dan *>in "ransportir diatur berdasarkan . peraturan berbeda yang tidak setingkat berdasarkan hierarkinya. *>in 3egiatan 'saha 6ilir diatur berdasarkan ketentuan 'ndang-'ndang, sedangkan *>in "ransportir diatur berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah. .. Berdasarkan ketentuan pasal ., 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi, &:in Usaha yang diperlukan untuk 3egiatan 'saha 6ilir masing-masing adalah *>in 'saha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan dan *>in 'saha -iaga (-iaga 'mum dan -iaga "erbatas). !ementara itu berdasarkan ketentuan pasal 5# Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi &:in "ransp1rtir adalah kewajiban penyedia jasa angkutan dan digunakan untuk kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak. (an penyaluran BBM merupakan bagian dari kegiatan Usaha (iaga Umum yang dilakukan oleh penyalur yang ditunjuk oleh Badan 'saha Pemilik *>in 'saha -iaga 'mum. ,. *>in 'saha yang diatur dalam 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi dikeluarkan oleh Pemerintah, dalam hal ini Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral (lihat Pasal ., ayat # '' -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi jun to Pasal . 1 Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi). !edangkan *>in "ransportir yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi dikeluarkan oleh Badan 'saha Pemilik *>in 'saha -iaga 'mum setelah melakukan perjanjian kerjasama dengan Badan 'saha tersebut untuk pengusahaan angkutan yang terintegrasi. 0. 3etentuan pidana terhadap pelanggaran pasal ., 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi diatur dalam ketentuaan pasal 2, 'ndang-'ndang yang sama. !ementara untuk pelanggaran terhadap pasal 5# Peraturan Pemerintah -omor ,1
3etentuan Pasal . Peraturan Pemerintah dimaksud9 Kegiatan Usaha "ilir dilaksanakan oleh Badan Usaha yang telah memiliki 8.in Usaha yang dikeluarkan oleh Menteri dan diselenggarakan melalui mekanisme persaingan usaha yang +ajar5 sehat dan transparan
6

6alaman )2 dari )* halaman

"ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi kepemilikan i>in transportir tidak ditentukan ketentuan pidana maupun sanksi pada pasal-pasal selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah tersebut5. !elain uraian perbedaan-perbedaan yang dipaparkan penulis tersebut, pasal #$ ayat (#) Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi mengatur bahwa dalam hal Badan Usaha melakukan kegiatan Usaha (iaga dengan kegiatan penyimpanan5 dan6atau pengangkutan se&agai penunjang kegiatan usaha (iaganya5 maka kepada Badan Usaha di&erikan 8.in Usaha (iaga dan tidak diperlukan 8.in Usaha Penyimpanan dan6atau 8.in Usaha Pengangkutan! +pabila dihubungkan antara ketentuan-ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa jika satu kegiatan usaha yang termasuk dalam 3egiatan 'saha 6ilir menjadi penunjang bagi kegiatan usaha yang lain dalam 3egiatan 'saha 6ilir, maka tidak diperlukan lagi i>in setingkat menteri sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah dimaksud. !e ara khusus untuk usaha pengangkutan yang diperlukan dalam rangka pendistribusian atau penyaluran Bahan Bakar Minyak maka i>in transportir yang dimaksud ukup dikeluarkan oleh Badan 'saha Pemegang *>in 'saha -iaga berdasarkan kerjasama yang terintegrasi antara Badan 'saha dan pemilik alat angkutan, dengan ketentuan bahwa alat angkut pemegang i>in transportir hanya dapat melakukan pengangkutan terhadap Bahan Bakar Minyak yang menggunakan merek dagang Badan 'saha Pemegang *>in 'saha -iaga dimaksud. Berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata *>in "ransportir yang dimiliki oleh para pengusaha angkutan Bahan Bakar Minyak di Provinsi Maluku 'tara masih terbatas pada pemilik mobil-mobil tanki, sedangkan sebagian besar kapal-kapal yang digunakan oleh para penyalur seperti +PM! dan +M" selama ini tidak dilengkapi dengan *>in "ransportir dari P". Pertamina (Persero) sebagai pemegang *>in 'saha -iaga 'mum. Padahal sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, kondisi geografis Provinsi Maluku 'tara dengan wilayah kepulauan yang terdiri dari . (dua) 3ota dan 4 (delapan) 3abupaten dan dilayani oleh ;hanya< 0 (empat) depot milik P". Pertamina (Persero), sangat membutuhkan sarana transportasi laut yang wilayah kepulauannya. +lasan terbatasnya alat transportasi dalam rangka penyaluran Bahan Bakar Minyak kepada para pengguna;konsumen, dihubungkan dengan 3etentuan 'mum Pasal # butir #$
!ebagai atatan, pasal #2 ayat (#) 'ndang-'ndang -omor #. "ahun .%## tentang Pembentukan Peraturan Per'ndang-'ndangan mengatur bahwa ) * Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam: a! Undang-Undang% &! Peraturan ;aerah Provinsi% atau #! Peraturan ;aerah Ka&upaten6Kota!
7

ukup untuk

mendistribusikan Bahan Bakar Minyak khususnya jenis BBM tertentu;bersubsidi ke wilayah-

6alaman )% dari )* halaman

(!embilan belas)4 Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi penulis menilai bahwa beberapa wilayah di Provinsi Maluku 'tara dapat dikategorikan sebagai (aerah "erpen il yang sedapat mungkin harus diperhatikan dan diawasi oleh *nstitusi terkait untuk men egah terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak seperti ketentuan yang se ara eksplisit diatur dalam Peraturan Pemerintah dimaksud. Berdasarkan uraian tersebut, penulis berpendapat terhadap pelanggaran tentang kepemilikan 8.in Transportir tidak dapat diterapkan ketentuan pasal 2, dan pasal 22 'ndang'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi, sehingga penerapan pasal-pasal tersebut untuk menjerat para pelaku penyalur Bahan Bakar Minyak khususnya jenis BBM tertentu;yang disubsidi adalah kekeliruan hukum yang digunakan sebagai alat untuk menyalahgunakan jabatan dan kewenangan oknum aparat penegak hukum. -amun berdasarkan pendapat tersebut tidak serta merta pelanggaran terhadap kegiatan penyaluran jenis Bahan Bakar Minyak tertentu;BBM bersubsidi tidak dapat dipidana, karena pasal yang dianggap dapat diterapkan se ara khusus dalam rangka menjerat para pelaku penyaluran jenis Bahan Bakar Minyak tertentu;BBM bersubsidi adalah pasal 22 '' a Duo dengan tentunya memperhatikan sifat materil dari perbuatan yang dapat dikualifikasikan sebagai tindakan menyalahgunakan kegiatan pengangkutan dan;atau -iaga BBM yang disubsidi oleh Pemerintah sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pembahasan sebelumnya. &=' PE0U"UP &=' %' Kesimpulan Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan dan dibahas di atas, dapat penulis simpulkan hal-hal sebagai berikut9 #. 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi adalah Peraturan Pokok yang mengatur tentang hal-hal pokok menyangkut 3egiatan 'saha 6ulu dan 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. (an sebagai Peraturan Pelaksana (khusus untuk kegiatan usaha hilir), telah dibentuk dan diatur Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. !elain itu, sebagai petunjuk pelaksanaan kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak yang merupakan bagian dari 3egiatan 'saha -iaga yang dilaksanakan oleh Badan 'saha Pemegang *>in 'saha -iaga 'mum, Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral telah menerbitkan Peraturan Menteri 8!(M -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak sebagaimana telah diubah dengan
Pasal # Butir #$ PP -o. ,1;.%%0 mendefinisikan (aerah "erpen il sebagai suatu +ilayah yang sulit dijangkau5 dan sarana 6in/rastruktur transportasi ter&atas serta +ilayah yang ekonomi masyarakatnya &elum &erkem&ang sehingga diperlukan &iaya yang tinggi dalam penyaluran &ahan &akar minyak
8

6alaman )) dari )* halaman

Peraturan Menteri 8!(M -omor .5 "ahun .%#. tentang Perubahan atas Peraturan Menteri 8!(M -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak. .. +paratur Penegak 6ukum sebagai pelaksana ketentuan 'ndang-'ndang dalam menjerat dan menerapkan ketentuan-ketentuan pidana terhadap perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum yang disangka melakukan tindak pidana dalam 'saha Minyak dan /as Bumi harus lebih teliti dan memba a pula Peraturan-Peraturan Pelaksana 'ndang-'ndang se ara hierarkis, sehingga tidak terjebak dalam terminologi ketentuan-ketentuan pidana yang bersifat pokok dalam 'ndang-'ndang tentang Minyak dan /as Bumi. ,. "erjadi kekosongan hukum terkait dengan sanksi se ara administratif maupun ketiadaan ketentuan pidana yang dapat dikenakan dan diterapkan bagi subjek hukum pemilik alat angkutan yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyaluran Bahan Bakar Minyak dengan tanpa dilengkapi oleh *>in "ransportir sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. 0. 3ekosongan 6ukum yang ditimbulkan sesuai kesimpulan butir ke-, kemudian digunakan oleh oknum +parat Penegak 6ukum sebagai alasan untuk menerapkan ketentuan pidana pasal 2, dan pasal 22 'ndang-'ndang Minyak dan /as Bumi se ara melawan hukum terhadap para pemilik alat angkut yang dapat dikategorikan sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan (/buse o, Po$er). &=' )' Saran Berdasarkan kesimpulan dari penulisan ini, maka penulis hanya dapat memberikan beberapa saran yang diharapkan menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi oleh segenap stakeholder yang berkepentingan dalam usaha penyaluran Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu di Provinsi Maluku 'tara, antara lain9 #. Mengefektifkan pelaksanaan seminar, workshop atau pelatihan terpadu aparatur Penegak 6ukum yang diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan terhadap Peraturan Perundang-'ndangan yang mengatur tentang Minyak dan /as Bumi termasuk ketentuanketentuan teknis yang menyangkut Minyak dan /as Bumi dalam rangka mendapatkan persamaan persepsi antara para penegak hukum demi kepentingan penegakan hukum yang sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. .. Pengawasan terhadap penyaluran Bahan Bakar Minyak sebaiknya dilakukan pula oleh Pemerintah (aerah setempat yang mengetahui kondisi riil kebutuhan pemenuhan Bahan Bakar Minyak masyarakat dengan tentunya melibatkan para pemangku kepentingan di daerah tersebut. ,. (iperlukan pembentukan Peraturan (aerah untuk masing-masing daerah 3abupaten 3ota di Maluku 'tara untuk mengatur lebih khusus menyangkut teknis dan mekanisme 6alaman )+ dari )* halaman

penyaluran Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu di daerah setempat, serta mengatur juga 3etentuan Pidana terhadap perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam hal penyaluran Aenis Bahan Bakar Minyak "ertentu dalam Peraturan (aerah nantinya, untuk mengisi kekosongan hukum terhadap sanksi dan ketentuan pidana yang tidak diatur di dalam Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi. (iharapkan Peraturan (aerah akan menjadi salah satu instrumen hukum sebagai a uan aparatur penegak hukum untuk menindak para pelaku penyaluran BBM bersubsidi yang menyimpang dari Peraturan Perundang-'ndangan. SUMBER BA>AA0 'ndang-'ndang -omor 00 Prp. "ahun #$1% tentang Pertambangan Minyak dan /as Bumi. 'ndang-'ndang -omor #2 "ahun #$1. tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti 'ndang-'ndang -omor . "ahun #$1. tentang 3ewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi 3ebutuhan (alam -egeri. 'ndang-'ndang -omor 4 "ahun #$5# tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan /as Bumi -egara. 'ndang-'ndang -omor .. "ahun .%%# tentang Minyak dan /as Bumi. 'ndang-'ndang -omor #. "ahun .%## tentang Pembentukan Peraturan Per'ndang-'ndangan. Peraturan Pemerintah -omor Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah -omor ,% "ahun .%%$ tentang Perubahan +tas Peraturan Pemerintah -omor ,1 "ahun .%%0 tentang 3egiatan 'saha 6ilir Minyak dan /as Bumi Peraturan Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral -omor .5 "ahun .%#. tentang Perubahan atas Peraturan Menteri 8nergi dan !umber (aya Mineral -omor #1 "ahun .%## tentang 3egiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak 7aman )esmi Badan Pengatur 6ilir (BP6) Migas www.bphmigas.go.id

6alaman )* dari )* halaman