Anda di halaman 1dari 13

HEMATOLOGI II

Oleh Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten

: : Ummu Halimah : B1J012140 :I :2 : Bunga Khalida Puri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Darah merupakan jaringan yang tersusun atas kumpulan sel serupa yang terspesialisasi untuk melakukan fungsi tertentu dalam tubuh. Namun, tidak seperti jaringan lainnya, darah adalah sejenis jaringan ikat khusus dengan cairan matriks yang disebut plasma yang memiliki korpuskula yang tersuspensi didalamnya. Untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya darah pada berbagai hewan vertebrata memerlukan sistem sirkulasi yang terdiri atas kapiler, jantung sebagai pemompa darah dan darah yang akan disirkulasikan. Darah terdiri atas dua komponen yaitu plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah merupakan cairan di dalam darah, sedangkan sel-sel darah adalah darah dalam bentuk padat yang terdiri dari trombosit (keping darah), eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Darah mempunyai banyak peranan di dalam tubuh antara lain sebagai alat pengangkut bermacam-macam substansi seperti nutrisi dan gas gas yang terlibat dalam respirasi, ekskresi dan hormone, mengatur keseimbangan keseimbangan cairan antara darah dengan cairan jaringan, mengatur alat

asam-basa

(pH),

mencegah

pendarahan,

sebagai

pertahanan dan pengatur suhu tubuh (Evelyn, 1989). Evelyn, Franklin. 1989. Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Sinar Wijaya, Surabaya Darah merupakan jaringan yang sel-sel darahnya tidak saling berlekatan dalam sistem aliran darah.Seperti halnya sel tubuh umumnya, sel darah merah mempunyai konsentrasi internal yang dijaga agar sel darah merah dapat berfungsi optimal. Pada kondisi lingkungan eksternal berbeda sel darah akan menunjukkan respon sel berupa pengerutan atau pembengkakan. Untuk itulah respon sel darah merah dapat dipelajari dengan menempatkan darah di dalam medium hipotonik, isotonik, atau hipertonik (Evelyn, 1989). Jumlah sel darah merah lebih banyak di dalam tubuh. Pada orang dewasa sel darahdibentuk dalam sum-sum tulang belakang (bonemarrow). Pada waktu mula- mula dibentuksel darah merah mempunyai nucleus dan hemoglobin tidak begitu banyak. Jangka hidup seldarah adalah 120 hari, apabila terjadi pendarahan sum-sum tulang belakang secara cepatmengembalikan jumlah sel darah merah secara cepat. (Berelander dan Ramaley, 1979). Kegiatan praktikum hematologi II ini akan mengamati konsentrasi darah, struktur sel darah dan waktu beku darah. Pengamatan konsentrasi sel darah

dapat digunakan untuk memahami respon fisiologis sel darah merah pada hewan yang hidup dalam berbagai macam media yang mempunyai konsentrasi osmotis berbeda. Pengamatan struktur sel darah merah dapat digunakan untuk memahami bentuk dan struktur sel darah pada berbagai jenis hewan. Sementara waktu beku darah dapat diamati untuk memonitor proses pembekuan darah dan lamanya waktu beku darh pada hewan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jauh mengenai darah, maka diperlukan sebuah kegiatan yang representatif, yang tidak hanya memberikan pengetahuan teori, melainkan aplikasi teori yang telah dipelajari dalam kegiatan tersebut.

1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk memahami respon sel darah merah terhadap berbagai macam media yang mempunyai konsentrasi osmotis berbeda dan mengetahui konsentrasi internal sel darah merah, memahami bentuk dan struktur sel dan membandingkan bentuk dan struktur sel darah katak dan manusia serta untuk memahami proses pembekuan darah dan menentukan lamanya waktu pembekuan darah pada manusia.

II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah darah segar manusia dan katak sawah (Fejervarya cancrivora), larutan NaCl (0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,9%, 1,0%), alkohol 70%, dan EDTA. Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah lancet, pipet isap, komparator, gunting, pembuluh kaca kapiler, mikroskop, gelas objek, kaca penutup, kapas, dan syring.

2.2 Cara Kerja 1. Alat yang akan digunakan disiapkan terlebih dahulu dan dipastikan dalam keadaan yang bersih 2. Katak yang akan akan diambil darahnya dilemahkan terlebih dahulu dengan cara ditusuk bagian kepalanya, sedangkan pada manusia jari telunjuk di oleskan dengan alkohol 70% 3. Mengamati konsentrasi sel darah, katak yang sudah lemah pada bagian ventral kanan atau kiri dibuat insisi dengan gunting, selanjutnya melintang dibagian posterior jantung. Kulit dan otot ventral diangkat agar tampak jantung. Insisi diteruskan hingga rongga dada terbuka kemudian syring yang sudah dibilas dengan EDTA ditusuk ke jantung katak bagian ventral, sedangkan pada manusia jari yang sudah di oleskan dengan alkohol dikeringkan kemudian di tusuk menggunakan lancet steril 4. Darah katak yang sudah didapatkan diteteskan pada objek gelas, kemudian ditambahkan larutan NaCl 0,4%, kemudian dicampurkan dan campuran tersebut segera ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop. Begitu juga dengan manusia, darah yang telah didapat ditetesi pada objek gelas kemudian ditambahkan larutan NaCl 0,4%, dicampurkan dan segera ditutup dan diamati dibawah mikroskop 5. Mengamati struktur sel darah merah, sediaan darah katak dan manusia diperoleh dengan cara yang sama seperti pada percobaan sebelumnya. 6. Pada objek gelas yang sudah ditetesi darah katak kemudian

ditambahakan larutan NaCl 0,6%, sedangkan pada objek gelas yang

ditetesi darah manusia ditambahkan larutan NaCl 0,9%. Diamati dibawah mikroskop 7. Menghitung waktu beku darah, jari yang sudah dibersihkan dengan alkohol 70% dan dikeringkan, kemudian ditusuk dengan lancet steril 8. Pipa kapiler ditempelkan ke tetesan darah yang keluar dari jari probandus 9. Dengan interval 1 menit, sedikit demi sedikit pembuluh kapiler tersebut dipotong sampai terlihat fibrin yang terbentuk ditandai dengan potongan kapiler yang tetap menempel atau menggantug setelah dipatahkan 10. Waktu pada saat darah membeku dicatat

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Konsentrasi Sel Darah Kelompok 1 2 3 4 5 Konsentrasi NaCl 0,2% 0,4% 0,6% 0,9% 1,0% Diameter sel darah merah katak 11,25 17,5 39,2 25 17,5 Diameter sel darah merah manusia 7,5 10 10 7,5 5

Dari perhitungan yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut : Katak: Hasil kalibrasi = 2,5 Panjang (d1) = 6 Lebar (d2) = 8 Diameter = d1 + d2 = 6 + 8 = 7 2 2 M = 7 x 2,5 = 17,5 Manusia : Diameter = 4 x 2,5 = 10 Tabel 3.2 Hasil Pengamatan Waktu Beku Darah Kelompok 1 2 3 4 5 Waktu beku darah 3 menit 6 menit 2 menit 7 menit 5 menit 5 detik

Gambar sel darah merah katak sawah (Fejervarya cancrivora) dan manusia Gambar 3.1 NaCl 0,2 % dengan perbesaran 40 x 10

Sel darah katak

Sel darah manusia

Gambar 3.2 NaCl 0,4% dengan perbesaran 40 x 10

Sel darah katak

Sel darah manusia

Gambar 3.3 NaCl 0,6% dengan perbesaran 40 x 10

Sel darah katak

Sel darah manusia

Gambar 3.4 NaCl 0,9% dengan perbesaran 10 x 10

Sel darah katak Gambar 3.5 NaCl 1,0%, dengan perbesaran

Sel darah manusia

Sel darah katak

Sel darah manusia

3.2 Pembahasan Sel darah merah memiliki konsentrasi internal yang dijaga agar sel darah merah dapat berfungsi optimal. Hal ini berkaitan dengan fungsi darah untuk menjaga homeostasis dalam tubuh. Berdasarkan hasil pengamatan pada sel darah merah katak sawah (Fejervarya cancrivora) didapatkan bahwa konsentrasi darah merah pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) adalah 0,4%. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengukuran diameter sel darah merah katak sawah (Fejervarya cancrivora) yang diberi larutan NaCl 0,4% menunjukkan perubahan diameter yang terjadi tidak terlalu besar yaitu 17,5 m. Sel darah merah katak sawah (Fejervarya cancrivora) yang diberi NaCl 0,2% berukuran 11,25 m dan pemberian NaCl 0,6% akan merubah ukuran diameter sel darah merah katak sawah (Fejervarya cancrivora) menjadi 39,2 m. hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Kimball (1988) yang menyebutkan bahwa konsentrasi internal pada sel darah katak sawah (Fejervarya cancrivora) adalah 0,6%. Hasil pengamatan sel darah merah manusia pada konsentrasi 0,2% didapatkan diameter 7,5 m, konsentrasi 0,4% didapatkan diameter 10 m, konsentrasi 0,6% didapatkan diameter 10 m, konsentrasi 0,9% didapatkan 7,5 m, dan konsentrasi 1% didapatkan 5 m. Menurut Warni (2009) eritrosit normal kelihatan bundar dengan diameter 7,5 m dengan ketebalan tepi 2 m . Dari samping eritrosit kelihatan berbentuk seperti cakram dengan kedua

permukaannya cekung (biconcav disk). Hal ini menunjukkan bahwa sel darah normal manusia adalah pada konsentrasi 0,9%. Konsentrasi sel darah merah berkaitan dengan struktur selnya yang beragam dan bervariasi pada masing-masing individu (Soewolo, 1999). Dilihat dari gambar hasil pengamatan diatas, struktur sel darah manusia sangat berbeda dengan sel darah pada katak sawah (Fejervarya cancrivora). Sel darah pada manusia berbentuk pipih pada kedua sisinya tanpa adanya inti sel, sedangkan sel darah pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) bentuknya bulat dengan inti sel yang besar dibagian tengah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Watson (1997) yang menyatakan bahwa Eritrosit pada manusia berbentuk kepingan bikonkaf yang diratakan dan diberikan tekanan di bagian tengahnya, dengan bentuk seperti barbell jika dilihat secara melintang. Bentuk ini (setelah nuklei dan organelnya dihilangkan) akan mengoptimisasi sel dalam proses pertukaran oksigen dengan jaringan tubuh disekitarnya. Bentuk sel sangat fleksibel sehingga

dapat dengan mudah untuk memasuki pembuluh kapiler yang sangat kecil. Eritrosit biasanya berbentuk bundar. Struktur sel darah merah dapat berubah jika konsentrasi internal darah berbeda dengan konsentrasi eksternal di lingkungan. Hal ini terjadi karena adanya aliran materi dari atau ke lingkungan ke dalam atau keluar sel. Perpindahan materi ini biasanya terjadi melalui osmosis. Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel. Keadaan dimana konsentrasi larutan didalam sel lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi larutan di luar sel dikatakan sebagai larutan hipotonis, sedangkan jika larutan diluar sel konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis. Jika konsentrasi larutan yang terdapat di luar lebih tinggi daripada di dalam sel maka dikatakan sebagai larutan hipertonis (Yuwono, 2001). Berdasarkan pengamatan pada kondisi hipotonis sel darah manusia akan mengkerut atau krenasi sedangkan pada kondisi hipertonis akan mnggembung dan akhirnya lisis. Sedangkan pada sel darah katak pada kondisi hipotonis akan mengkerut dan pada kondisi hipertonis sel akan membesar dan terjadi lisis. Kondisi hipotonis dan hipertonis umumnya akan menyebabkan sel mengalami kerusakan. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) maka medium tersebut akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit.Sedangkan dalam larutan isotonis sel-sel darah tidak mengalami perubahan apapun (Soedjono, 1988). Menurut Evelyn (1989), perbedaan larutan hipotonis, isotonis dan hipertonis antara lain sebagai berikut:

Larutan Hipotonis Larutan hipotonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih rendah dibandingkan dengan larutan yang lain. Larutan Isotonis Suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah, sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonis (ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl). Larutan isotonis mempunyai komposisi yang sama dengan cairan tubuh, dan mempunyai tekanan osmotik yang sama. Larutan Hipertonis Larutan hipertonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih tinggi dari larutan yang lainnya. Pembekuan darah disebut juga koagulasi darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggumpalan darah adalah garam kalsium sel yang luka yang membebaskan trombokinase, trombin dari protrombin dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen. Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut; setelah meninggalkan pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akan mengeluarkan tromboplastin. Bersama-sama dengan ion Ca, tromboplastin mengaktifkan protrombin menjadi trombin (Evelyn, 1989). Trombin adalah enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin.Fibrin inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal (Soewolo, 1999).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Konsentrasi internal sel darah katak 0,6% dan sel darah manusia 0,9%. 2. Pada kondisi hipotonis sel darah merah katak dan manusia akan mengalami krenasi atau mengkerut, sedangkan pada kondisi hipertonis sel akan membesar dan menybabkan terjadinya lisis. 3. Bentuk sel darah merah pada manusia berbentuk bulat, sedangkan pada katak berbentuk oval. 4. Pembekuan darah dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu garam kalsium sel yang luka yang membebaskan trombokinase, thrombin dari protrombin dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen.

DAFTAR REFERENSI

Evelyn, Franklin. 1989. Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Sinar Wijaya. Surabaya. Kimball, J.W. 1988. Biologi. Erlangga, Jakarta. Soedjono, Basuki M.Pd. 1988. Anatomi dan Fisioplogi Manusia. Depdikbu., Jakarta. Soewolo, M. Pd., dkk. 1999. Fisiologi Manusia. FMIPA UNM. Malang. Warni, Elly. 2009. Penentuan Morfologi Sel Darah Merah (Eritrosit) Berbasis Pengolahan Citra dan Jaringan Syaraf Tiruan. Jurnal Ilmiah Elektrikal Enjiniring Unhas 7 (3) Watson, Roger. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. EGC Buku Kedokteran. Jakarta Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED. Purwokerto.