Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH TAFIS

OLEH

TANIA AGUSTINI MAHARANI 1310211 124

FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas Pembangunan Nasional VETERAN JAKARTA 2014


[Type text] Page 1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Tafis. Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar saya yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca. Jakarta,Januari 2014 Penyusun

Tania Agustini Maharani

[Type text]

Page 2

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................i KATA PENGANTAR .............................................................................................................ii DAFTAR ISI ............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................1 A. Latar Belakang .................................................................................................................1 B. Tujuan ..............................................................................................................................1 C. Ruang lingkup materi........................................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................2 A. Definisi akhlak ............................................................................................................. 2 B. Syarat orang berakhlak...................................................................................................2 B. Sumber akhlak................................................................................................................3 C. pembagian akhlak..........................................................................................................4 D. Ruang lingkup akhlak........... ........................................................................................4 E. Ciri-ciri orang berakhlak................................................................................................5 F. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Dalam Kehidupan.............................................6 G. Motivasi hidup bahagia karena Allah...........................................................................8 F. Perbandingan orang ateis dan beragama islam............................................................12

BAB III PENUTUP .............................................................................................................16 A. Kesimpulan .....................................................................................................................16 B. Saran ...............................................................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................17 LAMPIRAN 7 FOTO di MESJID INDONESIA.................................................................18

[Type text]

Page 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebehagiaan yang ingin dicapai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagiaan tersebut. Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu. Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.

1.2. TUJUAN Dengan pembuatan makalah ini diharapan kita mampu meningkatkan akhlak kita kepada Allah, meningkatkan rasa toleransi sesama umat beragama. Sehingga timbul rasa bahagia karena Allah 1.3. RUANG LINGKUP MATERI Pada makalah ini hal-hal yang akan dibahas adalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Definisi akhlak Sumber akhlak Macam-macam akhlak Golongan akhlak Ciri-ciri orang berakhlak Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Dalam Kehidupan Motivasi hidup bahagia karena Allah Perbandingan orang ateis dan beragama islam

[Type text]

Page 4

BAB II PEMBAHASAN 2.1.1 Definisi akhlak Dalam kamus besar bahasa indonesia online kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti; kelakuan. Sebenarnya kata akhlak berasal dari bahasa Arab, dan jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti perangai, tabiat . Sedang arti akhlak secara istilah sebagai berikut; Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (10151111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku/perbuatan manusia. 2.1.2 Syarat orang berakhlak Tolong-menolong merupakan salah satu akhlak baik terhadap sesama Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.[2] 1. 2. 3. 4. Perbuatan yang baik atau buruk. Kemampuan melakukan perbuatan. Kesadaran akan perbuatan itu Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk

2.1.3 Sumber orang akhalak Sumber utama akhlak adalah agama. Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan peragai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.

[Type text]

Page 5

2.1.4 Pembagian Akhlak A. Akhlak Baik (Al-Hamidah) 1. Jujur (Ash-Shidqu) adalah suatu tingkah laku yang didorong oleh keinginan (niat) yang baik dengan tujuan tidak mendatangkan kerugian bagi dirinya maupun oranglain. 2. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi) 3. Malu (Al-Haya') 4. Rendah hati (At-Tawadlu') 5. Murah hati (Al-Hilmu) 6. Sabar (Ash-Shobr) Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru", "Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa keutamaan kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orangorang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/ Hal. 140) B. Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah) 1. Mencuri/mengambil bukan haknya 2. Iri hati 3. Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip) 4. Membunuh 5. Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain)

[Type text]

Page 6

2.1.5 Ruang Lingkup Akhlak 1. Akhlak pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.[1] 2. Akhlak berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.[1] Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.[1] Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat.[1] Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu.[1] Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.[1] 3. Akhlak bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.[1] Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendirisendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan normanorma kesusilaan yang berlaku.[1]
[Type text] Page 7

4. Akhlak bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.[1] 5. Akhlak beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan. Dan inti dari berkakhlak tersebut diatas intinya adalah berakhlak baik kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah menjadikan diri dan lingkungan sekitar dengan lengkap dan sempurna 2.1.6 Ciri-ciri Orang Berakhlak Baik Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun. Dendam itu menghilangkan semua kebaikan seperti kayu dimakan api (amalannya akan hilang). Tolak kejahatan dengan perbuatan baik, memaafkan itu yang terbaik. Carilah kemuliaan di sisi Allah dengan cara bersikap sopan santun Terhadap orang bersikap kasar kepadamu dan membalas kebaikan kepada orang yang menyakitimu. Hidup harus bermanfaat untuk orang lain. Hidup harus memberi ketenangan kepada lingkungan di mana kita berada. kata-kata sopan, lemah lembut, adalah suatu amal ibadah. Bergaulah dengan orang-orang miskin dan susah agar mencegah kita dari sifat sombong dan takabur. Hal ini akan memuliakanmu di sisi Allah SWT. Hamba-hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan merendahkan diri, sopan santun dan ramah tamah. Semua orang yang datang kepadamu sambutlah dengan senang hati, setidaknya lihatlah dengan senyum. Janganlah tidur sebelum perselisihan selesai. Janganlah melalaikan amal sekecil apapun walaupun hanya menuangkan air ke gelas orang lain (memberi minum yang kehauasan). Jika menolong saudaramu dalam kesusahan adalah lebih baik daripada bertafakur di mesjid. Senyum engkau dihadapan saudaramu adalah ibadah. Ajakan engkau berbuat baik dan tindakan engkau mencegah perbuatan buruk adalah ibadah. Kelakuan buruk adalah sifat jahat dari setan. Umur yang baik adalah umur yang panjang dan bermanfaat. Makanan yang bermanfaat ialah makanan yang orang lain ikut memakannya. Ketika seseorang mengunjungi rumahmu hormatilah ia. Adalah bagian dari budi pekerti yang baik menemani tamu yang pulang sampai ke pintu.
[Type text] Page 8

Orang yang terburuk aialah mereka yang tidak menghormati tamunya. Makanan yang diterima berkahnya di sisi Allah ialah makanan yang dimakan bersama orang banyak. Jauhi kebiasaan bergunjing (ghibat). Jangan bicara tentang apa yang Anda sendiri tidak mengetahui dengan pasti. Harus tabah dan sabar dalam menghadapi kesukaran.

2.1.7 Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Dalam Kehidupan Menerapkan metode metode Peningkatan Kualitas Akhlak dalam Kehidupan. 1) Metode syariat a. Membiasakan diri untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi yang di larang syara b. Menjauhi permusuhan c. Membiasakan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan 2) Metode pengembangan diri a. Berupaya meneladani perbuatan-perbuatan terpuji dari pribadi-pribadi yang di kagumi b. Membiasakan konsisten untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri c. Berusaha meningkatkan potensi-potensi baik yang ada pada diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 3) a. b. c. Metode kesufian Membiasakan bersifat zuhud Melakukan riyaadhah / mendekatkan diri pada tuhan Meningkatkan kualitas ibadah

Mencegah perbuatan- perbuatan tercela: TABZIR Kiat-kiat untuk menjauhi perilaku berlebihan diantaranya sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. hemat dan tepat dalam menggunakan harta menabung untuk masa depan bersedekah atau menunaikan zakat bila sudah sampai nisabnya memberikan bantuan kepada musafir mempererat tali persaudaraan, hubungan kasih saying, bersikap sopan dan membantu meringankan penderitaan kaum duafa 6. mengadakan kegiatan amal shaleh Pola hidup sederhana memilki banyak manfaat, yaitu : 1. 2. 3. 4. terhindar dari sifat-sifat buruk bersikap ekonomis dan membiasakan diri menabung terhindar dari kemiskinan dan terbiasa hidup saling berbagi disukai banyak orang.

GIBAH
[Type text] Page 9

Kiat-kiat menjauhi sifat gibah yaitu : 1. menyelenggarakan kegiatan sosial agar terhindar dari permusuhan. 2. memupuk kerja sama atas dasar kebajikan dan takwa sehingga dapat tercipta ketahanan sosial. 3. memelihara hubungan persaudaraan, persatuan, dan kesatuan sesame umat manusia dan bangsa. 4. persoalan yang timbul diselesaikan dengan cara musyawarah. 5. memberikan maaf atas kesalahan orang lain tanpa harus menunggu lebih dulu dan mampu menahan amarah sebagai latihan untuk meningkatkan kualitas ktakwaan. FITNAH Oleh Karena itu, upaya untuk mencegah terjadinya penyebaran fitnah atau menangkal fitnah yaitu : 1. 2. 3. 4. gemar mengadakan aksi sosial jangan kikir (pelit), artinya harus memiliki hati pemurah, dan bersedekah. memupuk silaturahmi dan membina persaudaraan. ikut aktif melaksanakan amar makruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran 5. amanah 6. ADU DOMBA Mencegah perbuatan adu domba yaitu : 1. 2. 3. 4. mempertebal iman meningkatkan ketakwaan menyadari bahwa hamba Allah mempunyai kedudukan yang sama satu sama lain. beramal shaleh.

[Type text]

Page 10

2. 2.1 Motivasi hidup bahagia karena Allah Setiap orang pasti mencari kebahagiaan. Banyak cara seseorng mencari kebahagian, setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh. Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan. Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata, rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah. Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan? Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada
[Type text] Page 11

100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja. Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan.

Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan. Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf pusat kesenangan atau pleasure center. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri. Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan faktafakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obatobat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara. Allah SWT berfirman pada Al-Quran surat Thaahaa ayat 124; dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Q.S.Thaahaa (20) : 124) Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan
[Type text] Page 12

kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar. Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh. Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik. Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S.An-Nahl (16) : 97). Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satusatunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya. Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja mendapatkan ridho Allah SWT. Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata. Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak siasia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan
[Type text] Page 13

ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Quran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki. Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; Kitab Al-Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia!

[Type text]

Page 14

2. 3. perbandingan orang ateis dan orang beragama islam Sebelum kita mengetahui apa perbandingan orang ateis dan orang beragama islam, sebaiknya kita mengatahui apa itu ateis dan islam lebih dahulu. 2. 3.1 Definisi ateis dan islam Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani (theos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis. Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia). Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah. Pada kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius). Beberapa aliran Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah 'Tuhan' dalam berbagai upacara ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis. Sedangkan Islam (Arab: al-islm, dengarkan (bantuaninfo): "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: , Allh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

[Type text]

Page 15

2.3.2 Ateis dan islam Tak dapat dipungkiri, Islam dalam sejarah panjangnya telah bersinggungan dengan banyak agama dan aliran. Awal kemunculan Islam, misalnya, Islam telah bersinggungan dengan dua kerajaan besar, yaitu Romawi yang mayoritas Nasrani dan Persia yang mayoritas Zoroaster, dan dua keyakinan, yaitu Yahudi dan Paganisme. Tak hanya di sana, di Indonesia-pun Islam telah mengalami sejarah panjang bersinggungan dengan berbagai kepercayaan dan aliran setempat, yang sudah terlebih dahulu menghuni bumi khatulistiwa. Tercatat dalam sejarah bahwa tak ada satu pun darah yang tertumpah dan tak ada satupun rumah ibadah yang dihancurkan. Hal demikian terjadi tak lain karena pada dasarnya Islam sangat menghargai kebebasan berkeyakinan dan berpendapat. Namun, bagaimana dengan Atheisme?. Apakah Atheisme dapat ditoleransi dan tolerankah sikap Islam terhadap Atheisme ini?. Sebelumnya, kita perlu mengetahui, Atheisme merupakan isu yang hangat diperbincangkan dalam wacana toleransi, baik di dunia Barat maupun di dunia Islam. Dalam bukunya, A Letter Concerning Tolerance, John Locke menolak menoleransi orang-orang Atheis. Alasannya, karena mereka tidak bisa dipercaya. Mereka tidak bisa dipercaya karena tidak memiliki komitmen di dalam masyarakat. Artinya, masyarakat Barat cenderung mencurigai orang2 Atheis sebagai kelompok yang tidak memiliki ketulusan hati. Suatu hal yang merupakan asas toleransi. Dalam sejarah kebudayaan Islam, Atheisme (Zindiq) merupakan salah satu dari sekian banyak isu yang kontoversial dan mengundang banyak perhatian. Abdurrahman AlBadawi (w. 2012), misalnya, berpendapat bahwa ada perbedaan antara Atheisme Barat dengan Atheisme Islam. Jika Atheisme Barat diekspresikan oleh ungkapan Nietzche Tuhan telah mati, maka Atheisme Islam menambahkan para Nabi telah mati sebagai bagian dari Atheisme. (lihat Min Tarikh Al-Ilhad Fi Al-Islam hal:8, karya Abdrrahman Al-Badawi). Pada awalnya, Atheisme Islam ini hanya mengambil bentuk gerakan ilmiah dan kemudian ditanggapi secara dialogis dan toleran oleh ulama2 Muktazilah sperti Wasil Bin Atha, misalnya. Jadi langgkah pertama negara dalam menyikapi masalah Atheisme bukan memberantasnya hingga ke akar2-nya, melainkan memberi peluang debat publik melalui terbentuknya lembaga ilmiah yang bertugas mengajak mereka berdialog. Ini membuktikan bahwa betapa seorang Atheis-pun sangat ditoleransi oleh Islam. Baru pada fase berikutnya, kelompok Atheis ini dibantai habis oleh pemerintahan Abassiyyah. Pembantaian ini sama sekali tidak berkaitan dengan paham mereka yang mengingkari adanya kenabian, tetapi lebih disebabkan karena generasi Atheis berevolusi menjadi gerakan separatis yang menentang pemerintah. Jika kita mencermati, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah Abasiyyah untuk menumpas Atheisme Islam bukanlah semata-mata karena faktor pemikiran Atheis-nya. Melainkan lebih disebabkan oleh faktor politis berupa separatisme terhadap negara. Dengan demikian, kita dapat menarik suatu pendapat bahwa kebebasan berpikir benar2 dijunjung tinggi dalam agam Islam, dan sangat ditoleransi. Bahkan negara
[Type text] Page 16

menyediakan serta melindungi debat terbuka antara berbagai aliran dan keyakinan. Sikap dialog seperti inilah yang harus dikembangkan oleh setiap umat, baik seagama maupun tidak. Sebab, jika dialog telah menemui jalur buntu dan seluruh pintunya ditutup rapat2, maka kesalahpahaman, sikap saling mencurigai dan sikap intoleran akan muncul, yang ujung2-nya akan bermuara kepada anarkisme dan penindasan oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lainnya. Sudah seharusnya sebagai umat islam yang beriman kita harus bersikap toleransi dan membantu umat ateis untuk kembali kejalan yang benar. Seperti yang yang dilakukan Rasulullah. Rasulullah (saw): Apa yang menjadi alasan kalian. Mengapa kalian percaya bahwa alam semesta ini tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir; dan semua yang ada di alam semesta ini sudah tercipta dari dulu dan akan senantiasa ada selamanya? Orang-orang Atheis: Kami hanya mempercayai apa-apa yang bisa kami lihat. Karena kami tidak pernah melihat awal dari alam semesta ini, maka kami berkesimpulan bahwa alam semesta ini selalu ada sejak dahulu dan karena kami tidak pernah melihat kemusnahannya, maka kami berkesimpulan bahwa alam semesta ini senantiasa ada dan selamanya ada. Rasulullah (saaw): Kalau begitu.apakah kalian pernah melihat alam semesta ini tanpa awal dan tanpa akhir? Orang-orang Atheis: Tidak, kami tidak pernah melihat alam semesta ini tanpa awal dan tanpa akhir. Rasulullah (saaw): Lalu bagaimana mungkin kalian mempercayai kekekalan dari alam semesta ini? Dan mengapa kalian tidak memilih pendapat orang yang percaya bahwa alam semesta ini tidak kekal karena ia tidak pernah melihat awal dan akhir dari alam semesta ini? Rasulullah (saaw) telah mematahkan keyakinan orang-orang Atheis itu dengan cara yang sangat meyakinkan dan sangat cerdas sekali. Rasulullah (saaw) mematahkan pendapat orang-orang Atheis itu dengan membenturkan keyakinan mereka dengan keyakinan orang-orang lain yang memiliki dasar yang kurang lebih sama dengan kesimpulan yang berbeda. Semua pendapat yang dinyatakan oleh orang-orang Atheis itu dan pendapat yang dimiliki oleh orang-orang lain sama-sama didasarkan atas dasar kesaksian penglihatan. Mereka percaya karena mereka telah melihat. Mereka berkata: SEEING IS BELIEVING; dengan motto ini jelas kesaksian keduanya sama; akan tetapi kesimpulan mereka berbeda. Kemudian Rasulullah setelah itu masih larut dalam perbincangan dengan 5 orang atheis itu. Rasullah bertanya kepada mereka. Rasulullah (saaw): Sekarang, katakanlah kepadaku. Apakah waktu (hari) yang telah lewat itu terbatas atau tidak terbatas? Seandainya kalian jawab bahwa waktu yang telah lewat itu tidak terbatas, lalu bagaimana waktu yang baru bisa datang jka waktu yang lewat itu belum
[Type text] Page 17

lewat, atau tidak pernah lewat, karena tidak terbatas? Dan seandainya kalian jawab bahwa waktu itu terbatas maka kalian harus mengatakan bahwa waktu itu tidak kekal atau akan ada akhirnya. Orang-orang Atheis: Kami mengakui bahwa waktu itu terbatas Rasulullah (saaw): Lalu, kalian bersikeras mengatakan bahwa alam semesta itu abadi, tidak diciptakan dan tidak terbatas. Apakah kalian menyadari akan akibat dari keyakinan yang kalian anut itu. Padahal kalian sebelumnya sepakat menyatakan bahwa waktu itu terbatas. Lalu apalagi yang bisa kalian sangkal dan apalagi yang kalian akui? Orang-orang Atheis itu kemudian bisa menerima apa yang dikatakan oleh Rasulullah (saaw) dan mereka mengakui kesalahan yang telah mereka ikuti. Sebenarnya secara tidak sengaja (atau memang sengaja!) pernyataan Rasulullah ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara WAKTU dan MATERI (pembentuk alam semesta)I. Karena kalau tidak, maka Rasulullah (saaw) tidak akan memperbincangkan masalah WAKTU ketika sedang membicarakan MATERI

[Type text]

Page 18

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam AlGhazali (1015-1111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku/perbuatan manusia. Dari akhlak yang baik dapat menimbulkan rasa syukur dalam diri seseorang sehingga menimbulkan rasa bahagia karena Allah. Dimana akhllak dapat menjadikan seseorng terlindung dari pengaruh buruk, dan dapat membangun rasa toleransi agama lain maupun seseorng yang ateis. B. Saran Sudah seharusnya sebagai umat beragama kita harus bersikap toleransi dan membantu saudara-saudara kita yang ateis(tidak memiliki kepercayaan) ke jalan yang benar.

[Type text]

Page 19

DAFTAR PUSTAKA http://www.motivasi-islami.com/cara-bahagia-menurut-islam/ http://www.dakwatuna.com/2011/06/24/12845/kunci-kebahagiaan-hakiki/#ixzz2owFO3OSC http://id.wikipedia.org/wiki/Akhlak http://definisiarti.blogspot.com/2012/03/pengertian-definisi-akhlak.html

[Type text]

Page 20

FOTO 7 MESJID di INDONESIA

MESJID AL-AZHAR

MESJID JAMI BIRUGO

[Type text]

Page 21

MESJID JIHAADU WAALIDAINA

MESJID AGUNGAL-MUTAQIN

[Type text]

Page 22

MESJID AL-FALAH

MESJID NURUL IMAN

[Type text]

Page 23

MESJID BAITULRAHMAN

[Type text]

Page 24