Anda di halaman 1dari 103

BAB I PENDAHULUAN

1. Sejarah Perusahaan

Pada waktu pendudukann Hindia Belanda di Yogyakarta terdapat tujuh belas pabrik gula antara lain Pabrik Gula Padokan, Ganjuran, Kedaton, Mlati, Cebongan, Medari, dan sebagainya. Pada tahun 1942 seluruh pabrik gula tersebut dikuasai oleh Jepang. Dalam perkembangannya pemerintah Jepang tidak dapat mengoperasikan pabrik-pabrik tersebut secara penuh, meskipun masih ada 12 pabrik yang masih berjalan dan berproduksi, namun keadaan tersebut tidak dapat berjalan lama dan hanya berlangsung sampai saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 saja.

Setelah pemerintahan Indonesia berjalan stabil, pada tahun 1950 Sri Sultan Hamengkubuwono IX memprakarsai untuk membangun pabrik gula dengan tujuan:

1. Untuk menampung para buruh bekas pabrik gula yang kehilangan pekerjaan. 2. Menambah kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. 3. Menambah pendapatan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

maka sekitar tahun 1955 tepatnya tanggal 14 Juni 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dibangunlah Pabrik Gula Madukismo, di tempat yang
amilhasbala@gmail.com - 1 -

sebelumnya merupakan Pabrik Gula Padokan, dengan kontraktor utama Machinen Fabriek Sangerhausen, Jerman Timur.

Pada awal berdiri badan usaha bernama P2G Madubaru PT yang sahamnya 75% dimiliki oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan 25% dikuasakan kepada Depertemen Pertanian atas nama Pemerintah RI

Peletakan batu terakhir dilakukan pada 31 Maret 1958 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sendiri dan PG Madubaru diresmikan pada tanggal 29 Mei 1958 oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Pada tahun 1962 Pemerintah RI mengambil alih semua perusahaan yang ada di Indonesia, baik milik asing maupun semi swasta. Maka mulai tahun tersebut PG Madubaru berubah statusnya menjadi Perusahaan Negara (PN).

Dalam memimpin pabrik-pabrik gula, pemerintah membentuk suatu badan yang diberi nama Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (BPUPPN). Pada tahun 1966 BPU-PPN bubar, sehingga PG Madubaru memilih Perseroan Terbatas (PT) sebagai bentuk dari perusahaan dan disebut P2G Madubaru PT, yang membawahi PG Madukismo dan PS madukismo. Dengan susunan direksi yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai presiden direkturnya.

Pada tanggal 4 Maret 1984 dengan persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, PG Madubaru PT kembali dikelola oleh Departemen Pertanian Dan Keuangan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ditunjuk oleh

amilhasbala@gmail.com - 2 -

pemerintah

untuk

mengelolanya

berdasarkan

kontrak

manajemen

yang

ditandatangani pada tanggal 14 maret 1984 oleh direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia Mohammad Yusuf dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku pemegang sero terbesar. Pada tahun 2004 saham pemerintah diambil alih oleh PT. Rajawali Nusantara Indonesia sehingga kepemilikan saham menjadi 35% PT. Rajawali Nusantara Indonesia dan 65% milik Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sejak tahun 1975 berdasarkan impress No. 9/75 yang menyatakan bahwa pada akhir repelita II, pabrik pabrik gula tidak diperbolahkan menyewa tanah milik petani, sedangkan penyediaan tebu seluruhnya adalah dari Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), dan pabrik gula hanya membantu dalam penebangan dan pembibitan paket kredit dan penyuluhan saja. Sistem yang dipergunaan adalah bagi hasil sesuai dengan rendemen gula dari tebu milik petani.

2. Hasil Produksi

Kapasitas produksi Pabrik Spiritus Madukismo adalah sekitar 25.000 liter alkohol setiap hari, yang terdiri dari 22.500 liter alkohol prima dan 2.500 liter alkohol teknis. Kadar alkohol prima minimal adalah 95%, sedangkan alkohol teknis 94%. Hasil produksi lain adalah spiritus dan hasil samping berupa minyak fusel yang dapat dijual ke pabrik essence.

Hasil uji alkohol prima produksi PS Madukismo yang diperiksa oleh PT Sucofindo pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut :
amilhasbala@gmail.com - 3 -

PARAMETERS Appearance

UNITS -

RESULT Liquid ,clear and free of suspended matter

METHODS Visual

Ethanol content (15,56 0C) Acidity (Acetic Acid) Permanganate Time Test (15 0C) Non volatile matter Acetaldehyde

% vol ppm -

96.35 23 29 minutes 55 seconds

SNI.3565 2009 SNI.3565 2009 SNI.3565 2009

mg/100ml -

5.4 Not detected

SNI.3565 2009 Gas chromatography

Methanol

Not detected

Gas chromatography

Fusel oil 2-propanol Not detected Gas chromatography 1-Propanol Not detected Gas chromatography 2-Butanol ppm 15 Gas chromatography Iso-butanol Not detected Gas chromatography 1-Butanol Not detected Gas

amilhasbala@gmail.com - 4 -

chromatography Iso-Amylalkohol ppm 3 Gas chromatography Heavy metals Not detected Atomic absorption spectrometric

Pabrik spiritus madukismo tidak hanya menjual alkohol mentah berupa alkohol teknis maupun prima, namun juga menjual spiritus dan special denaturated alcohol (SDA-MET). Spiritus adalah alkohol teknis yang telah didenaturasi dengan mencampurkan metanol minyak tanah dan methylene blue, sedangkan SDA-MET adalah alkohol prima yang hanya di-denaturasi dengan metanol.

amilhasbala@gmail.com - 5 -

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Alkohol

Alkohol merupakan senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Alkohol dapat dipandang sebagai derivat senyawa hidrokarbon yang mempunya gugus hidroksil. Dalam perdagangan yang dimaksud dengan alkohol adalah etil akohol atau etanol. Sifat-sifat alkohol pada umumnya adalah:

1. Marupakan zat cair yang tidak berwarna 2. Mudah menguap dan terbakar, serta tidak berjelaga 3. Berat jenis lebih kecil dari air 4. Mudah larut dalam air 5. Mempunyai bau yang spesifik 6. Merupakan senyawa polar karena adanya ikatan hidrogen

sifat fisis alkohol yang lain adalah : : -11,4 oC : 78,32 oC : 1,3651 : 22,3 dyne/cm : 43 mmHg
amilhasbala@gmail.com - 6 -

1. Titik beku 2. Titik didih 3. Indeks bias (15 oC) 4. Renggangan permukaan (20oC) 5. Tekanan uap (20oC)

6. Panas spesifik (23oC) 7. Titik nyala 8. Spesifik gravity (15,56oC) 9. Viskositas (20oC)

: 0,618 kal/gr : 12,7oC : 0,816 : 0,0141 poise

Penggunaan alkohol yang paling penting adalah :

1. Sebagai bahan dasar pembuatan eter, etilen, asam asetat dan sebagainya 2. Sebagai pelarut 3. Sebagai bahan baku spiritus 4. Sebagai campuran minuman 5. Sebagai bahan campuran pada bahan bakar minyak alternatif

2.1. Cara pembuatan alkohol dalam industri

Pembuatan alkohol dalam industri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara sintesis dan fermentasi.

2.1.1. Cara sintesis

Pembuatan alkohol dengan menggunakan cara sintesis ini memakai etilen sebagai bahan dasar. Proses sintesisi ini ada dua macam, yaitu:

a. b.

Hidrasi tidak langsung Hidrasi langsung

amilhasbala@gmail.com - 7 -

2.1.1.1. Hidrasi Tidak Langsung

Di sini terjadi proses hidrasi etilen menjadi alkohol secara bertingkat. Etilen yang digunakan harus benar-benar bebas dari senyawa olefin, sebab bila terdapat senyawa olefin akan mengakibatkan terjadinya polimerisasi. Secara singkat reaksinya dapat diuraikan sebagai berikut: C2H4 + H2SO4 C2H5HSO4 C2H5HSO4 + C2H5 (C2H5)2SO4 C2H5HSO4 + H2O C2H5OH + H2SO4 Etilen dan asam sulfat dengan bantuan katalisator perak sulfat atau senyawa dari Cu, Fe dan Pt akan membentuk etil hidrogen sulfat pada tekanan operasi 40-70 atm dan suhu 250OC. Sebagian etil hirogen sulfat akan bereaksi lebih lanjut dengan etilen dan akan membentuk dietil sulfat.

Salah satu kekurangan dari proses diatas adalah adanya hasil samping berupa eter.

2.1.1.2. Hidrasi Langsung

Hidrasi langsung etilen menjadi etanol dengan katalisator H3PO3 pada suhu 400oC dan tekanan 1000psi.

Proses hidrasi langsung ini jarang dilakukan dalam industri karena memerlukan peralatan yang mahal dan kondisi oerasi yang sulit dicapai.
amilhasbala@gmail.com - 8 -

2.1.2. Cara Fermentasi

Kata fermentasi berasal dari bahasa latin ferverve yang berarti mendidih. Istilah fermentasi dulu dipakai untuk menyatakan perubahan/peruraian dari karbohidrat dengan pembuatan gas. Keterangan yang bersifat ilmiah, pertama kali deberikan oleh ahli kimia Perancis Louis Pateur, dimana fermentasi adalah proses peruraian gula menjadi alkohol dan karbon dioksida yang disebabkan oleh aktivitas sel-sel yeast yang hidup da berkembang biak dalam cairan fermentasi tanpa pemberian udara. Pasteur juga menjelaskan sel-sel yeast memperoleh energi dari hasil pemecahan molekul-molekul gula dalam keadaan tanpa udara. Dengan adanya udara pertumbuhan yeast akan lebih cepat, tetapi konsumsi gula menurun. Pasteur menunjukkan bahwa dengan adanya udara, 1 gram yeast dapat memproses 4-10 gram gula, sedangkan bila tidak ada udara yeast dapat memproses 60-80 gram gula.

Keterangan Pasteur tersebut disempurnakan oleh Buchner, yang memperlihatkan bahwa fermentasi dapat dijalankan dalam larutan gula yang mengandung ekstrak dari sel-sel yeast yang telah mati. Kemudian diketahui bahwa cairan ini mengandung suatu zat aktif yang mampu memecah gula dan diberi nama fermentasi adalah bukan sel-sel yang hidup, melainkan enzim yang dihasilkannya.

Sekarang fermentasi berarti desimilasi anaerobik dari senyawa-senyawa organik karena aktifitas mikroorganisme atau ekstrak dari sel-sel tersebut. Tetapi umumnya kata ini mencakup juga aksi mikrobial yang terkontrol. Dengan arti
amilhasbala@gmail.com - 9 -

yang lebih luas fermentasi tidak hanya melingkup proses-proses desimilasi seperti pembentukan alkohol, butanol-aseton, asam laktat dan lain-lain, tetapi juga industri produksi cuka, asam sitrat, enzim, penisilin dan antibiotika lainnya, serta riboflavin dengan vitamin-vitamin lainnya. Karena bahan-bahan ini hasil proses mikrobia maka disebut hasil fermentasi.

Pembuatan alkohol secara fermentasi dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1.

Proses fermentasi yang mengubah bahan dasar menjadi alkohol. Prosesnya merupakan proses batch.

2.

Proses

distilasi,

dimana pemisahan/pemurnian alkohol.

Prosesnya

merupakan proses kantinyu.

2.1.2.1. Proses Fermentasi

Umumnya kata fermentasi diartikan untuk semua kegiatan yang menunjukkan berbagai aksi mokrobial. Untuk memudahkan, kegiatan mikrobial dikelompokkan menjadi : pertumbuhan, asimilasi, biosintesis, dan disimilasi.

a.

Pertumbuhan Istilah bagi individu tunggal yang membentuk koloni, mencakup peningkatan ukuran sel serta reproduksi sel secara langsung dengan pembelahan, pertunasan atau pembentukan spora dan konidia.

b. Asimilasi Proses pengubahan berbagai komponen substrat menjadi substansi sel, sehingga memberikan pertumbuhan dan aktivitas hidup yang diperlukan.
amilhasbala@gmail.com - 10 -

c. Biosintesis Pembentukan senyawa-senyawa kompleks sel dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan aktifitas normal sehari-hari. Senyawa biosintesis yang umumnya adalah substansi aktif biokimia esensial (enzim, vitamin, riboflavin, antitoksin, dan lain sebagainya) dapat tetap berada dalam sel tetapi lebih sering dikeluarkan dari sel dan masuk ke dalam substrat. Biosintesis tidak khas untuk satu spesies, tetapi khas untuk satu strain. Biosistesis asimilasi dan biosintesis bersama-sama disebut anabolisme dan merupakan proses yang memerlukan energi. Energi ini berasal dari proses disimilasi dan katabolisme. d. Disimilasi Proses pengubahan senyawa substrat (yang merupakan sumber energi bagi mikroorganisme) atau senyawa-seyawa di dalam sel seperti glikogen dan ATP ( yang merupakan cadangan energi) menjadi senyawa yang tingkat energinya lebih rendah, sehingga energi dibebaskan dalam proses ini. Disimilasi berlangsung di dalam sel dan produk-produknya dikeluarkan di media sekitar. Disimilasi terutama menghasilkan senyawa organik sedikit senyawa anorganik dan beberapa unsur. Contoh: karbohidrat, glikosida, alkohol mono dan poli basa, aldehid, asam amino dan amina, sejumlah garam Fe, Mn, dan As, unsur karbon, belerang dan lain-lain. Proses-proses disimilasi bersifat oksidatif dan dapat berlangsung dengan beberapa cara yaitu :

amilhasbala@gmail.com - 11 -

1. Penambahan oksigen 2. Pelepasan hidrogen 3. Pelepasan elektron

Bila oksigen dari udara masuk ke dalam reaksi disimilasi dan bertindak sebagai akseptor hidrogen, maka prosesnya adalah aerobik (oksibiotik). Bila disimilasi berlangsung tanpa partisipasi oksigen dari udara, proses ini disebut fermentasi sejati (disimilasi anaerobik). Substrat glukosa misalnya, dapat dioksidasi sempurna dan menghasilkan air serta karbon dioksida tetapi dapat pula dioksidasi sampai berbagai tingkat yang meghasilkan produk-produk oksidasi tidak sempurna seperti asam glukonat, asam sitrat dan oksalat.

Fermentasi adalah suatu proses perubahan secara biokimia yang terjadi dalam bahan-bahan organik, yang disebabkan oleh akitvitas enzim yang dihasilkan oleh suatu mikroorganise. Yang banyak dipakai pada industri fermentasi alkohol adalah yeast jenis sacharomyces cerevisiae. Bahan dasar yang dapat diolah dalam proses ini adalah:

1. 2. 3.

Bahan yang mengandung gula, seperti gula tebu, tetes, gula bit. Bahan yang kaya tepung, seperti umbi-umbian, ketang. Bahan yang berupa biji-bijian, seperti jagung, gandum, dan beras.

Proses fermentasi meliputi dua tahap yaitu tahap pengembangan yeast yang berlangsung aerob dan tahap fermentasi yang berlangsung secara anaerob.

amilhasbala@gmail.com - 12 -

Pada tahap pengembangan yeast perlu diketahui tentang kondisi yang baik untuk perkembangan yeast, antara lain :

a.

Konsentrasi gula Konsentrasi gula yang baik untuk pertumbuhan yeast adalah 12-18%.

Bila konsentrasi gula lebih besar dari 18% akan menghambat pertumbuhan yeast, akibatnya kadar alkohol yang didapat akan rendah. Bila konsentrasi gula kurang dari 12% maka pertumbuhan yeast akan lambat. b. pH larutan pH optimal untuk pertumbuhan yeast adalah 4,5 sampai 5,5. Hal ini memberikan suasana yang baik untuk pertubuhan yeast, tetapi tidak baik untuk pertumbuhan mikroorganisme lain. Pengaturan pH biasanya dilakukan dengan menggunakan asam sulfat. c. Aerasi Yeast bersifat aerob, untuk pertumbuhannya memerlukan oksigen dari udara. Selain untuk pertumbuhan, udara juga penting untuk pengadukan media/substrat, meningkatkan respirasi dari sel-sel yeast dan mencegah terjadinya fermentasi gula sebelum yeast cukup banyak dan kuat. d. Bahan tambahan makanan Bahan tambahan makanan yang digunakan biasanya adalah ammonium sulfat dan senyawa yang mengandung N dan P. e. Suhu Suhu optimal untuk pertumbuhan yeast adalah 32 0C sampai 34 0C, pada proses ini timbul panas sehingga perlu pendinginan
amilhasbala@gmail.com - 13 -

f.

Waktu Waktu pertumbuhan perlu diperhatikan agar hasil yeast dapat sesuai

perminataan proses fermentasi.

Pada tahap fermentasi, metabolisme yang terjadi adalah anaerob. Yeast yang digunakan harus memenuhi syarat:

Mampu tumbuh dalam jumlah yang sangat besar dalam substrat:

1.

Mampu mengeluarkan enzim untuk mengubah gula menjadi alkohol

2.

Tetap hidup dalam lingkungan alkohol kadar tinggi

Jenis yeast yang memenuhi syarat ini adalah saccharomyces cerevisiae, maka spesies yeast ini pula yang paling sering digunakan pada fermentasi.

Reaksi fermentasi gula menjadi alkohol disertai timbulnya panas. Oleh karena itu selama proses fermentasi perlu adanya pendingin, sehingga media tidak terlalu panas. Kenaikan suhu akan mengurangi keaktifan mikrobia dan tidak dikehendaki.

Mekanisme fermentasi dituliskan secara sederhana sebagai berikut: C12H22O11 + H2SO4 (invertase) C6H12O6(d. glukosa) + C6H12O6(d. fruktosa) C6H12O6 (symase) 2C2H5OH +2CO2

amilhasbala@gmail.com - 14 -

Proses fermentasi dianggap selesai apabila:

1.

Kadar gulanya sudah konstan, berarti sudah tidak ada lagi perubahan gula menjadi alkohol. Hal ini dapat diketahi pada penunjukan brix wager yang sudah konstan.

2.

Suhu konstan.

2.1.2.2. Proses distilasi

Proses distilasi ini dilakukan bertingkat, karena diinginkan hasil yang semurni mungkin. Di pabrik, pesawat distilasi biasanya merupakan suatu kolomkolom dengan plate-plate, dimana cairan mengalir dari atas sedangkan uapnya mengalir dari bawah ke atas, sehingga terjadi kontak yang baik antara uap dengan cairnya.

Pada setiap plate akan terjadi kesetimbangan antara uap dan zat yang volatil. Zat yang lebih volatil akan lebih banyak terdapat pada fase uap daripada cairannya. Kadar zat yang lebih volatil akan semakin berkurang dalam cairan dan akan semakin naik bersama uap, akhirnya keluar dari puncak kolom. Untuk mendapatkan pemisahan yang sempurna, distilasi dikerjakan pada beberapa kolom distilasi.

Dari distilasi bertingkat akan dihasilkan dua jenis alkohol, yaitu alkohol prima ( >95% berat) dan alkohol teknis (<95% berat).

amilhasbala@gmail.com - 15 -

2.2. Hasil samping produsi alkohol

2.2.1. Karbondioksida

Secara teoritis banyaknya karbondioksida yang diproduksi selama proses fermentasi sebesar 46,6 kg/100 kg gula yang difermentasikan. Dari jumlah tersebut sekitar 70-75% dapat diolah menjadi CO2 cair atau es kering (dry ice). Proses pembuatan es kering mencakup pemisahan CO2 dari uap-uap lain, pencucian, penghilangan bau, pemampatan CO2 pada tekanan 70 kg/cm2 agar menjadi cair, dan pendinginan. Es kering ini biasanya digunakan dalam industri minuman ringan, pengawetan makanan, serta pemadam kebakaran.

2.2.2. Minyak fusel Alkohol-alkohol tinggi yang mempunyai titik didih antara 90-100 0C, terutama amil alkohol dan iso amil alkohol merupakan kandungan utama dalam minyak fusel. Minyak fusel dapat disadap dalam kolom Nachlop. Alkohol-alkohol tinggi, ammonia dan CO2 merupakan hasil dekomposisi asam amonia oleh ragi. Ammonia yang terbentuk dimanfaatkan oleh ragi untuk memenuhi kebutuhan nitrogen. Media fermentasi yang kaya akan nutrisi dapat menghasilkan fusel lebih sedikit. Minyak fusel terutama digunakan sebagai bahan cat dan lacquer.

2.2.3. Vinasse atau stillage

amilhasbala@gmail.com - 16 -

Vinasse atau buangan still mengadung sekitar 7% bahan kering, terutama bahan mineral (29%), gula pereduksi (11%), gum (21%), serta lilin, fenol, lignin, dan lain-lain(17%). Sisanya terdiri dari protein, asam laktat, asam organik lain, gliserol dan asam-asam volatile.

Vinasse merupakan bahan yang terfermentasi dan berwarna coklat tua. Keasaman rendah dan dapat menyebabkan korosi logam. Vinasse dapat digunakan sebagai bahan penyusun makanan ternak dan humus.

2.4. Tetes atau molase

Tetes atau molase adalah sisa nira tebu yang tidak dapat dikristalkan lagi. Tetes rasanya manis, warnanya coklat tua, pekat, dan mengandung kira-kira 5060% gula total. Molase berasal dari sisa gula tebu, gula bit atau gula yang dibuat dari bahan lain.

Contoh komposisi tebu:

a. b. c. d. e. f. g. h.

Air Total solid Asam-asam kuat Asam-asam bebas Gula sakarosa Fruktosa Glukosa Soluble gums

: 20% : 8% : 3% : 2% : 32% : 16% : 14% : 2%


amilhasbala@gmail.com - 17 -

Bila ditinjau dari susunan nitrogennya :

a. b. c. d. e. f.

Albumin Amida Asam amino Asam nitrat Basa-basa xanthine Senyawa lain-lain

: 93% : 0,3% : 1,7% : 0,15% : 0,3% : 0,4%

Abu:

a. b. c. d. e. f. g.

Silica (SiO2) Kalium (K2O) Kalsium (CaO) Magnesium (MgO) Phospat (P2O5) Sulfit (SO3) Khlorida (Cl)

: 0,5% : 1,5% : 1,5% : 0,1% : 0,2% : 1,6% : 0,4%

(Standbury, 1984)

amilhasbala@gmail.com - 18 -

BAB III TATA LETAK PABRIK

3.1. Letak pabrik

Pabrik Spiritus Madukismo satu lokasi dengan Pabrik Gula Madukismo teretak di Dusun Padokan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan lokasi pabrik ini dengan pertimbangan sebagai berikut:

3.1.1. Bahan baku dan bahan pembantu

Bahan baku Pabrik Sprirtus Madukismo adalah tetes. Tetes diperoleh dari Pabrik Gula Madukismo yang letaknya berdekatan. Jika kebutuhan tetes dari Pabrik Gula Madukismo tidak mencukupi maka dengan mudah dapat dipenuhi dari pabrik lain yang letaknya di daerah Klaten. Sedangkan untuk bahan pembantu yang digunakan jumlahnya tidak terlalu banyak dan bahan-bahan tersebut dapat diperoleh di Kota Yogyakarta yang letaknya dekat dengan Pabrik Spiritus Madukismo.

3.1.2. Tenaga kerja

Untuk memperoleh tenaga kerja, Pabrik Spiritus Madukismo tidak mengalami kesulitan. Di desa-desa sekitar cukup tersedia tenaga buruh. Untuk

amilhasbala@gmail.com - 19 -

kebutuhan tenaga ahli dan setengah ahli mudah didapat di Yogyakarta baik dari perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah kejuruan.

3.1.3. Pengangkutan

Sebagai pengangkut dipakai truk dan mobil tangki yang disediakan oleh perusahaan maupun dibawa sendiri oleh pembeli. Sarana transportasi berupa jalan lingkar luar kota Yogyakarta mempermudah distribusi produk ke kota-kota lain.

3.1.4. Air, tenaga uap, dan bahan bakar

Sungai yang mengalir di sebelah barat dan timur pabrik dapat memenuhi kebutuhan air proses maupun pendingin. Selain itu terdapat juga sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air. Tenaga uap (steam) dihasilkan dari boiler batubara yang dimiliki sendiri oleh Pabrik Spiritus Madukismo. Sedagkan listrik didapatkan dari Pabrik Gula Madukismo.

3.1.5. Waste disposal

Waste disposal yang berupa schemple, yang terdiri dari cairan, setelah diolah terlebih dahulu dalam unit pengolahan limbah cair madukismo dapat dibuang langsung ke sungai. Sedangkan sisa buangan pendingin dimanfaatkan oleh petani.

amilhasbala@gmail.com - 20 -

3.2. Tata ruang

Penyusunan tata ruang pabrik memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

3.2.1. Keamanan

Hasil produksi Pabrik merupakan bahan yang mudah terbakar, maka gudang alkohol ditempatkan jauh tersendiri dan tangki penimbun alkohol terpendam di bawah tanah dan dilengkapi alat-alat pemadam.

3.2.2. Distribusi bahan-bahan proses

Kelancaran bahan-bahan proses tergantung dari penempatan alat-alat produksi. Dengan demikian alat-alat harus diatur dengan sebaik-baiknya.

3.3. Material handling

Karena sebagian besar bahan dasar dan bahan antaranya berada dalam fase cair maka Pabrik Spiritus Madukismo hanya menggunakan pompa atau secara gravitasi dalam hal pemindahan bahan-bahannya. Sedangkan untuk bahan-bahan pembantu seperti urea, NPK, dan lain-lain karena ditambahkan dalam jumlah kecil dan tidak terus menerus, maka cukup menggunakan tenaga manusia.

amilhasbala@gmail.com - 21 -

BAB IV PROSES PRODUKSI


4.1. Bahan

4.1.1. Bahan dasar

4.1.1.1. Tetes (molase)

Tetes mempunyai komposisi dan kualitas yang berbeda-beda tergantung pada jenis tebu, sifat tebu, sifat tanah dan cara proses pabrik gulanya.

Warna dari tetes biasanya coklat gelap kemerah-merahan, ini disebabkan karena terjadinya karamelisasi gula dan juga degradasi kimia dan termal dari komponen-komponen bukan gula. Tetes tebu mempunyai pH antara 5,5 6,5. Jadi sifatnya agak asam, ini disebabakan oleh adanya asam-asam organik bebas serta kondisi operasi pemrosesan gula. Tetes banyak mengandung gula invert dan kadar abunya cukup tinggi, terutama terdiri dari K2O.

Tetes di Pabrik Spiritus Madukismo ditampung dalam tangki-tangki penimbun tetes. Sebelum dimasak, tetes diperiksa terlebih dahulu di laboratorium mengenai:

1. 2. 3.

Derajat brix-nya Polarisasi Berat jenis


amilhasbala@gmail.com - 22 -

4.

Kadar sakarosa dan glukosanya

Tangki penampung tetes terletak di bagian depan pabrik, selain itu terdapat pula di bagian belakang pabrik. Untuk menjaga kemungkinan adanya pemuaian dari tetes oleh panas matahari, dan untuk mengontrol permukaannya dipasang level indicator dengan sistem pengapungan.

4.1.1.2. Yeast atau ragi

Yeast termasuk tumbuh-tumbuhan jamur bersel satu. Tak berklorofil dan termasuk golongan eumycetes.

Jenis-jenis dari golongan ini antara lain:

1. 2. 3.

Saccharomyces anamensis Schizo saccharomyces pombe Saccharomyces cerevisiae

Tiap-tiap yeast ini mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menfermentasi glukosa menjadi alkohol, demikian pula bentuk sel-selnya berlainan, ada yang bulat, bulat telur (oval) dan pipih. Tetapi dalam keadaan aktif atau berkembang biak tidak mempunyai bentuk tertentu.

Sel yeast terdiri dari dinding sel, inti sel, protoplasma dan vakuola. Yeast berkembang biak secara vegetatif. Yeast yang dapat digunakan dalam proses fermentasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

amilhasbala@gmail.com - 23 -

1. 2. 3.

Cepat berkembang biak Tahan pada kadar alkohol tinggi Mempunyai sifat yang stabil

Jenis yeast yang sesuai untuk bahan dasar tetes adalah saccharomyces cerevisiae. Pabrik Spiritus Madukismo juga menggunakan yeast jenis ini yang mula-mula didatangkan dari Jerman Timur dan sekarang terus dipelihara di laboratorium pabrik ini. Menurut penelitian yeast saccharomyces cerevisiae akan hidup sempurna pada pH 4,8 dan suhu 30 0C.

4.1.2. Bahan pembantu

Meskipun tetes telah banyak mengandung bahan makanan, untuk mempercepat pertumbuhan yeast perlu ditambahkan bahan-bahan lainnya seperti:

4.1.2.1. Urea

Ditambahkan urea untuk mencukupi kebutuhan akan nitrogen

Jumlahnya:

1. 2.

Untuk tangki 3A dan 3B masing-masing 6 kg sekali masak Untuk tangki 8/1. 8/2, 8/3 masing masing 6 kg sekali masak

4.1.2.2. NPK

Ditambahkan untuk mencukupi kebutuhan akan fosfor. Jumlahnya untuk tangki 3A dan 3B masing-masing 5 kg sekali masak
amilhasbala@gmail.com - 24 -

4.1.2.3. Asam sulfat

Asam sulfat ditambahkan dengan maksud antra lain:

1. 2.

Untuk mengatur pH tetes 4,8 Untuk membantu hidrolisa sakarosa menjadi glukosa dan fruktosa sehingga dapat difermentasi oleh yeast

3.

Untuk mencegah kontaminasi oleh bakteri yang ada di udara

Asam sulfat hanya ditambahkan pada tangki 3A dan 3B masing 4 liter sekali masak karena tetes dari tangki ini akan digunakan untuk membuat media pembibitan.

4.1.2.4. Superfloc

Superfloc diperlukan pada tangki tangki fermentasi untuk membantu pengendapan kotoran, sehingga tidak timbul kerak dalam kolom distilasi. Biasanya ditambahkan sebanyak 300 gram per tangki.

4.1.2.5. Turkey Red Oil (TRO)

TRO ditambahkan untuk mencegah terjadinya buih pada tangki akibat aktivitas yeast. Ditambahkan sebanyak 3 liter TRO tiap tangki.

amilhasbala@gmail.com - 25 -

4.2. Proses pembuatan alkohol

Proses pembuatan alkohol di Pabrik Spiritus Madukismo Yogyakarta terdiri dari beberapa tahap proses, yaitu:

1. 2. 3. 4. 5.

Pemasakan Pembibitan Fermentasi atau peragian Penyulingan Methylasi

4.2.1. Pemasakan

Proses pemasakan meliputi proses pengenceran, penambahan asam dan zat-zat makanan. Tetes yang berasal dari Pabrik Gula Madukismo masih sangat pekat (900 brix) sehingga perlu diencerkan untuk memperoleh kadar gula yang optimum. Kadar gula yang tinggi akan menghambat pertumbuhan yeast sehingga tidak semua gula dapat terfermentasi. Sedangkan kadar gula yang rendah menyebabkan hasil yang diperoleh sedikit.

Tetes dari tangki penimbun dipompa menggunakan screw pump disaluran untuk mengisi tangki pemasakan tetes 3A, 3B, 8/1, 8/2 dan 8/3 secara bergantian.

Mula mula tangki masakan 3A yang sudah disterilkan diisi air sebanyak 7700 liter kemudian sambil diaduk ditambahkan tetes serta bahan tambahan dan asam sulfat hingga 9000 liter. Kemudian diambil contoh sedikit untuk diperiksa

amilhasbala@gmail.com - 26 -

derajat brix-nya. Derajat brix yang dikehendaki disini adalah 14 karena pada derajat brix ini yeast akan berkembang biak dengan baik. Jika derajat brix-nya lebih besar dari 14 ditambah dengan air, sebaliknya bila lebih kecil dari 14 ditambah tetes. Disamping itu juga diatur pH nya supaya berada di kisaran 4,8 karena pada pH ini pertumbuhan yeast akan optimal.

Pada tangki pemasakan 3B dilakukan pengenceran yang hampir sama dengan tangki 3A, tetapi derajat brix yang dikehendaki adalah 18. Jadi perbedaanya hanya pada jumlah tetes yang digunakan.

Pada tangki 8/1. 8/2, dan 8/3 dilakukan pengenceran yang hampir sama dengan tangki 3A, namun derajat brix yang dikehendaki adah 55, selain itu sebagai bahan pembantu disini ditambahkan urea sebanyak 6 kg dan tidak ditambahkan H2SO4.

Pada tangki masakan 3A dan 3B, setelah molasenya dipindahkan ke tangki pembibitan, maka sebelum pengisian selajutnya harus dikuras terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi dengan bahan bahan sebelumnya.

4.2.2. Pembibitan

Proses pembibitan ini merupakan pembibitan yeast saccharomyces cerevisiae. Proses pembibitan meliputi:

amilhasbala@gmail.com - 27 -

1. 2.

Pemubatan starter dalam laboratorium Pembuatan bibit dalam tangki-tangki bibit

4.2.2.1. Pembuatan starter dalam laboratorium

Pembuatan starter bertujuan untuk memperbanyak yeast dan melatih yeast dalam suasana media setempat. Yeast yang dipakai adalah saccharomyces cerevisiae. Cara pembuatannya sebagai berikut:

Mula-mula menyiapkan 4 buat Erlenmeyer 50 ml, lalu diisi dengan 30 cc larutan tetes 60 brix yang sudah diasamkan dengan asam sulfat hingga pH 4,8 lalu diberi nutrisi. Standar nutrisi yang dipakai yaitu untuk tetes satu liter ditambahkan 1 gram urea, 0,3 gram NPK dan 1 cc H2SO4. Campuran tadi di sterilkan dalam waterbath kurang lebih 3 jam sampai mendidih lalu dibiarkan pada suhu kamar. Kedalam tiap-tiap Erlenmeyer tersebut dilarutkan yeast murni dari persediaan kemudian disimpan 24 jam pada suhu 300C. bila terjadi gelembung-gelembung berarti yeast hidup. Bibit ragi dalam Erlenmeyer tersebut dipindahkan ke dalam 2 buah Erlenmeyer 250 cc yang didalamnya sudah berisi 180 ml tetes brix 14, pH 48 sehingga volume larutan dalam Erlenmeyer masing-masing 240 cc, disimpan dalam suhu kamar 300C selama 24 jam. Bibit dalam masing-masing Erlenmeyer tersebut lalu dipindahan kedalam labu 2 liter yang telah berisi 1 liter tetes brix 14, pH 4,8 dan sudah diberi nutrisi standar. Volume larutan di dalam masing-masing labu 1.240 cc. larutan tersebut disampan 24 jam pada suhu 300C. Selanjutnya bibit ini akan di pindahkan ke tangki pembibitan karlberger.

amilhasbala@gmail.com - 28 -

4.2.2.2. Pembuatan bibit pada tangki-tangki bibit

Untuk pembuatan bibit ini diperlukan 4 buah tangki. Yaitu:

a. b. c. d. e.

Tangki karlsberger (tangki 19) Tangki pembibitan tingkat I (tangki 20) Tangki pembibitan tingkat II (tangki 21) Tangki pembibitan tingkat III (tangki 22) Tagki pembibitan utama (tangki 25)

Pembuatan bibit pada tangki 19, 20, dan 21 hanya dilakukan sekali saja yaitu pada saat awal musim suling, sedangkan pembuatan bibit pada tangki 22 dan 25 merupakan siklus yang terus menerus selama masa suling.

4.2.2.2.1. Tangki karlsberger (tangki 19)

Tangki ini sebelum dipakai disterilkan terlebih dahulu, setelah dimasukkan 10 liter tetes brix 14 yang mengandung nutrisi dan keasaman yang sama dengan starter dalam laboratorium. Sebanyak 2.480 cc dari laboratorium dimasukkan ke dalam tangki ini bibit didiamkan selam 24 jam pada suhu 28-300C, sambil dialirkan udara secara perlahan-lahan selama 4 jam.

Pada pembibitan ini terjadi panas, oleh karena itu untuk menjaga suhu tetap 28-300C, tangki ini disiram atau dialirkan air pada bagian atasnya. Selanjutnya dapat dilihat apakah terjadi gas CO2 atau tidak. Jika ada berarti
amilhasbala@gmail.com - 29 -

pertumbuhan yeast berjalan dengan baik. Setelah 24 jam isi tangki karlberger ini dipindahkan ke tangki pembibitan tingkat I.

4.2.2.2.2. Tangki pembibitan tingkat I (tangki 20)

Ke dalam tangki 20 yang telah steril, dimasukkan 36 liter tetes brix 14 yang mengandung nutrisi dan keasaman yang sama dengan bibit tangki 19. Selanjutnya bibit dari tangki 19 ditambahkan sehingga volume larutan kurang lebih 48 liter, larutan ini dibiarkan selama 24 jam pada suhu 28-300C sambil dialiri udara perlahan-lahan selama 4 jam.

Tangki 20 ini juga dilengkapi dengan pendingin dalam tangki, tetapi jika pendingin ini kurang memenuhi, dilakukan pendinginan dengan jalan mengalirkan air dari atas tangki.

Setelah berumur 24 jam isi tangki ini dipindahkan ke tangki pembibitan tingkat II

4.2.2.2.3. Tangki pembibitan tingkat II (tangki 21)

Kedalam tangki 21 yang telah steril, bibit dari tangki 20 sebanyak 48 liter dipindahkan ke tangki 21 yang sebelumnya telah disiisi 432 liter tetes brik 14, sehingga volume total 480 liter. Bibit ini kemudian dibiarkan selama 24 jam sambil dialiri udara secara perlahan-lahan selama 4 jam. Setelah 24 jam bibit di tangki ini dipindahkan ke tangki pembibitan tingkat III.

amilhasbala@gmail.com - 30 -

4.2.2.2.4. Tangki pembibitan tingkat III (tangki 22)

Tangki pembibitan tingkat III terdiri dari 3 buah tangki, yaitu 22/1, 22/2 dan 22/3. Sebelum dipakai terlebih dahulu tangki harus dikuras terlebih dahulu agar tidak ada zat-zat dari proses sebelumnya yang tertinggal. Tangki 22 dilengkapi dengan pipa-pipa pendingin di dalam tangki dan diluar tangki diberi penangkap CO2 serta thermometer.

Bibit dari tangki 21 sebanyak 480 liter dimasukkan ke dalam tangki 22/1 lalu ditambah dengan tetes steril dari tangki 3A (brix 14) sehingga volume larutan menjadi 3010 liter. Selanjutnya dialirkan udara selama 6 jam dan dibiarkan selama 14 jam. Dengan adanya aktivitas bakteri maka larutan lama kelamaan akan encer, sehingga derajat brix akan turun. Panas juga akan timbul karena reaksi yang terjadi, maka pendingin juga harus menjaga suhu agar tetap 28-300C. pada tangki 22 ini tidak diperlukan pengaduk karena adanya CO2 sudah dapat membantu pengadukan.

Setelah waktu pembibitan berlangsung selama 14 jam isi tangki 22/1 ini lalu diambil 350 liter untuk dipindahkan ke tangki 22/2. Di tangki 22/2 larutan kemudian dijadikan 3010 liter dengan menambahkan tetes dari tangki 3A, dialirkan udara selam 6 jam dan didiamkan selama 14 jam. Bibit tangki 22/2 ini diambil 350 liter untuk dipindahkan ke tangki 22/3, demikian seterusnya, sehingga tangki 22 menjadi siklus yang tidak terhenti. Sedangkan sisa dari tangki 22 sebanyak 2.660 liter dimasukkan ke tangki 25/1 atau 25/2 atau 25/3 sesuai kebutuhan.
amilhasbala@gmail.com - 31 -

4.2.2.2.5. Proses pembibitan utama

Ada 3 tangki pembibitan utama yaitu tangki 25/1. 25/2 dan 25/3. Sebelum dipakai tangki tangki ini juga harus kuras. Bibit diperoleh dari tangki 22 sebanyak 2660 liter dikembangkan menjadi 18.000 liter dengan menambah tetes dari tangki 3A, sisa dari pemindahan ke tangki 22, sebanyak 6.340 liter dan 9.000 liter dari tangki 3B (brix 16). Suhu dijaga 28-300C dengan pendingin. Setelah 14 jam seluruh larutan dimasukkan ke tangki peragian utama (tangki 26).

4.2.3. Peragian

Tangki peragian utama terdiri dari 9 buah tangki vertikal dengan kapasitas masing-masing 75.000 liter. Tangki peragian ini disebut tangki 26.

Bibit yang sudah dikembangkan dari tangki 25 selama 14 jam dialirkan seluruhnya ke tangki peragian utama dan ditambah tetes brix 55 dari tangki masakan 8/1, 8/2, dan 8/3 yang masing masing ditambah air 9.000 liter kemudian ditambahkan air lagi hingga volume manjadi 75.000 liter. Disini tidak diberi udara lagi seperti tangki-tangki sebelumnya, karena yeast tidak lagi dikembangkan tetapi hanya melakukan peragian.

Untuk mempercepat pengendapan kotoran yang ada dalam adonan biasanya ditambahkan 0,3 kg superflox yang telah dilarutkan terlebih dahulu dalam 1 liter alkohol dan air sebanyak 20 liter. Maksud dari penambahan ini untuk mencegah terjadinya kerak pada kolom distilasi, dan fermentasi terlalu kuat. Untuk mengatasi buih yang terjadi, ke dalam larutan ditambahkan TRO sebanyak
amilhasbala@gmail.com - 32 -

3 liter. Pemberian TRO dilakukan pada awal masa fermentasi, sedangkan penambahan superfloc pada akhir masa fermentasi, sekita sepuluh jam sebelum di distilasi.

Proses peragian ini berlangsung selama 48 jam. Hal ini ditandai dengan tidak berubahnya derajat brix. Proses peragian ini berjalan baik pada suhu 300C. karena pada proses peragian timbul panas, maka tangki-tangki 26 dilengkapi pula dengan pendingin. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: C6H12O6 (ragi) 2C2H5OH + 2CO2 + 311,2 kkal

Gas CO2 yang terbentuk selanjutnya dibuang ke udara.

4.2.4. Proses penyulingan

Proses penyulingan atau distilasi adalah salah satu cara untuk memisahkan campuran melalui beda titik didihnya, dengan pemanasan untuk mendapatkan kadar kompoen yang lebih murni. Alat distilasi yang dipergunakan adalah:

1. 2. 3. 4.

Dua kolom kasar (Maische kolom) 16 plate Satu kolom teknis (Voorlop kolom) 45 plate Satu Kolom pemurnian (Rektifiser kolom) 63 plate Satu kolom terakhir (Nachlop kolom) 63 plate

amilhasbala@gmail.com - 33 -

Untuk pemanasan digunakan uap bersuhu 120-1400C dan bertekanan 3 bar. Uap dimasukkan langsung (open steam) melalui bagian bawah kolom. Steam ini merupakan uap yang dibangkitkan dari boiler batubara Pabrik Spiritus Madukismo.

Proses yang terjadi pada unit penyulingan adalah sebagai berikut:

1. Maische kolom

Beslag (hasil fermentasi) dari tangki 26 dengan kadar alkohol 9-10% sebelum masuk ke kolom kasar terlebih dahulu dialirkan melalui voorwarmer yang berfungsi sebagai preheater. Melalui voorwarmer, beslag dipanaskan dengan memanfaatkan panas dari hasil atas kolom Maische, sebaliknya larutan beslag juga berfungsi untuk mendinginkan hasil atas sehingga dapat mengembunkan sebagian alkohol. Umpan masuk pada maische kolom pada bagian paling atas, bersuhu sekitas 70-800C. pada maische kolom terjadi pemisahan alkohol dalam beslag, dimana diperolah hasil bawah berupa vinasse yang kemudian dikirim ke unit pengolahan limbah, serta hasil atas berupa alkohol muda dengan kadar sekitar 45% yang keluar pada suhu 900C, kemudian alkohol muda ini dilewatkan saringan busa. Selanjutnya diembunkan melalui voorwamer dan kondenser kemudian dimasukkan kedalam Voorlop kolom.

2. Voorlop kolom

Pada voorlop kolom umpan masuk pada plate ke 20 dari voorlop kolom ini diperoleh hasil atas berupa alkohol teknis kurang lebih 94% dengan kadar aldehid
amilhasbala@gmail.com - 34 -

yang cukup tinggi sehingga tidak cocok untuk alkohol prima. Selanjutnya didinginkan dengan kondensor dan pendingin kemudian ditampung dalam tangki penimbunan sementara. Sedangkan hasil bawah berupa alkohol dengan kadar kurang lebih 30% bebas aldehid dimasukkan ke dalam rektifiser kolom.

3. Rektifiser kolom

Umpan dari Voorlop kolom masuk rektifiser kolom pada segmen ke-3 plate ke 14. Rectifiser kolom ini berjenis bubble cup, diperoleh hasil atas berupa alkohol prima >95% yang kemudian dilewatkan kondensor dan didinginkan

untuk ditapung dalam tangki penimbun. Hasil bawah berupa luther wasser kemudian dikirim ke unit pengolahan limbah. Terdapat pula samping tengah berupa alkohol dengan kadar 55% yang mengandung minyak fusel, hasil ini kemudian dikirim ke Nachlop kolom.

4. Nachlop kolom

Umpan masuk nachlop kolom pada plate ke 20. Nacloop kolom ini berjenis bubble cup dengan hasil atas berupa alkohol prima dengan kadar sekitar 95% yang kemudian diembunkan dalam kondensor dan didinginkan untuk kemudian ditampung dalam tangki penimbun sementara. Hasil bawah berupa luther wasser, dan hasil samping berupa minyak fusel. Minyak fusel dikeluarkan dari segmen ke-5 plate nomor 1,2 dan 3 serta segmen ke-4 karena minyak fusel ini masih bercampur dengan alkohol maka perlu dimurnikan dahulu dengan alat pencuci minyak fusel sebelum dikirim ke tangki penimbun minyak fusel.

amilhasbala@gmail.com - 35 -

Alat pencuci minyak fusel

Minyak fusel dari alat pengeluaran dicuci dalam alat pencuci yang berisi air pencuci. Pencucian dilakukan secara bertingkat. Mula-mula munyak fusel dicuci dalam alat pencuci pertama, dalam alat ini minyak fusel dan air bisa dilihat seperti bola-bola kecil. Setelah melalui pencuci pertama, dicuci lagi dalam pencuci kedua. Dalam alat pencuci kedua dapat dilihat dua lapisan, lapisan atas adalah minyak fusel sedangkan lapisan bawah adalah airnya. Selanjutnya dicuci dalam alat pencuci ke tiga ditambahkan NaCl agar pemisahan air dan kotoran manjadi sempurna. Silinder pencuci harus selalu diisi air, minyak fusel akan memercik keatas, didesak keluar dan ditampung dalam alat pengumpul. Penambahan air harus hati-hati agar jangan sampai ikut keluar. Air yang dipakai untuk mencuci minyak fusel dikembalikan lagi ke Nachlop kolom agar alkohol yang ikut bisa diambil kembali, pengembalian air juga dilakukan sedikit demi sedikit agar tidak menurunkan suhu di dalam kolom tersebut.

4.2.5. Gudang Penyimpanan

Alkohol teknis dan alkohol prima yang tertampung dari hasil distilasi ditampung pada tangki-tangki penimbunan sebagai berikut :

4.2.5.1. Gudang penimbunan sementara

Gudang penimbunan sementara ini terletak di sebelah selatan stasiun penyulingan. Disini terdapat 7 buah tangki untuk menyimpan baik alkohol teknis maupun alkohol prima. Dua buah tangki berkapasitas 2.000 liter, sebuah tangki
amilhasbala@gmail.com - 36 -

berkapasitas 3.500 liter, sebuah tangki berkapasitas 4.000 liter, dua buah tangki berkapasitas 8.400 liter, dan sebuah tangki berkapasitas 10.000 liter.

4.2.5.2. Gudang penimbunan alkohol

Gudang penimbun alkohol berada satu area dengan tempat metilasi, disinilah alkohol teknis maupun prima disimpan sebelum dijual ke pasaran atau di proses lebih lanjut menjadi spiritus maupun special denaturated alcohol (SDAMET).

Jumlah tangki penimbun alkohol ada 26 buah:

1. 2. 3. 4. 5.

Tangki nomor 1 s/d 14 dengan kapasitas masing-masing 50.000 liter Tangki nomor 15 s/d 22 dengan kapasitas masing-masing 63.500 liter Tangki nomor 23 dengan kapsitas 270.000 liter Tangki nomor 24 dengan kapasitas 200.000 liter Tangki nomor 25 dan 26 dengan kapasitas 1.000.000 liter

Sehingga kapasitas total adalah 3.678.000 liter

Alkohol yang masuk ke tangki penimbunan ini berasal dari alkohol yang kadarnya belum tentu sama, sehingga perlu adanya pengadukan agar homogen. Pengadukan dilakukan dengan cara mensirkulasikan dengan pompa. Setelah homogen kadarnya ditentukan oleh bagian bea dan cukai. Alkohol prima harus mempunyai kadar diatas 95%, sedangkan alkohol teknis minimal kadarnya 94%

amilhasbala@gmail.com - 37 -

Pabrik Spiritus Madukismo menjual hasil sesuai permintaan, dapat berupa alkohol pirma, alkhohol teknis dan spiritus. Spiritus dibuat dari alkohol teknis yang ditambahkan denaturant dan zat warna.

Pencampuran ini dengan perbandingan sebagai berikut:

a. b. c. d.

50.000 liter alkohol teknis 94% 340,92 gram methylen blue 1420,5 liter methanol 568,2 liter minyak tanah

4.2.6. Proses pembuatan spiritus

Alkohol teknis dimasukkan kedalam tangki berpengaduk yang sebelumnya sudah ditentukan kadarnya (94%). 50.000 liter alkohol 94% ditambah minyak tanah sebanyak 586,2 iter kemudian ditambah 1420,5 liter methanol dan 340,92 gram methylen blue. Diaduk dengan jalan mensirkulasikan campuran tersebut dengan pompa. Pengadukan dilakukan terus sampai homogen dalam waktu kurang lebih 2 jam. Setelah homogen dikeluarkan dan selanjutnya dimasukkan ke tangki ukur dan akhirnya disimpan dalam drum untuk dipasarkan.

4.2.7. Proses pembuatan SDA-MET

Metanol sebanyak 1150 liter dimasukkan ke dalam tangki berengaduk, kemudian tangki di isi dengan alkohol prima hingga 23.000 liter. Larutan di dalam tangki kemudian di sirkulasikan selama kurang lebih dua jam agar homogen.

amilhasbala@gmail.com - 38 -

BAB V UTILITAS DAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH

5.1. Utilitas

Utilitas yang diperlukan untuk menjalankan proses produksi di Pabrik Spiritus Madukismo meliputi air, listrik dan steam.

5.1.1. Air

Kebutuhan air di Pabrik Spiritus Madukismo diperoleh dari sungai winongo yang terletak disebelah timur pabrik. Air yang dipakai dapat dikategorikan 3 jenis yaitu air kali, air bersih dan air sumur bor. Air kali merupakan air sungai yang pengolahannya hanya dilakukan penyaringan saja. Sedangkan air bersih merupakan air sungai yang diolah dalam unit pembersih air.

Untuk pembersih air terdiri dari dua unit yang digunakan secara bergantian dengan kapasitas 80-90 m3/jam. Setiap unot terdiri dari: Dua buah tangki saringan pasir yang masing masing volumenya 21,226 m3 yang berfungsi untuk menyaring kotoran kotoran yang terdapat dala air sungai. 2. Tangki saringan arang aktif (volume 21,226 m3) yang berfungsi untuk mengikat kelebihan khlor dan menghilangkan bau.

1.

amilhasbala@gmail.com - 39 -

3.

Tangki hydrophor (volume 11,775 m3) yang berfungsi untuk membuat tekanan dan kecepatan aliran keluar konstan, dengan tekanan maksimum yang dihasilkan sebesar 4 kg/cm2

Unit pembersih air juga dilengkapi dengan bak penampung porselin yang memiliki volume 22,5 m3. Bak penampung porselin ini berfungsi sebagai penyedia air proses, MCK dan sebagainya. Selain itu terdapat tangki penguras dengan volume 24,915 m3 yang selalu terisi penuh dengan air bersih. Tangki penguras ini berfungsi sebagai penyedia air pencuci untuk tangki-tangki unit pembersih air. Pencucian dilakukan jika tekanan dalam tangki pembersih mencapai 10 mWs, menandakan tangki telah kotor.

Air umpan boiler

Pabrik Spiritus Madukismo menggunakan pembangkit steam sendiri, sehingga air umpan boiler juga harus dapat dibuat sendiri. Air untuk umpan boiler ini di dapat dari bak penampung porselin yang kemudian diturunkan kesadahannya dengan disaring pada tangki softener yang berisi pasir resin.

Tangki softener terdiri dari dua buah tangki yang dipakai secara bergantian. tangki ini perlu di kuras secara berkala denga menggunakan air garam. Setelah kesadahan menunjukkan angka yang meningkat, maka tangki perlu dikuras. Setelah disaring melalui tangki softener ini kemudian air umpan boiler ditambahi dengan zat tambahan sebelum dimasukkan dalam unit pembangkit steam.

amilhasbala@gmail.com - 40 -

5.1.2. Listrik

Teanaga listrik yang digunakan oleh Pabrik Spiritus Madukismo dipenuhi oleh Pabrik Gula Maduksimo yang mempunyai 3 generator uap dan 4 generator diesel. Generator uap digunakan apabila musim giling, sedangkan generator diesel digunakan pada masa tidak giling. Kebutuhan listrik PS kira kira 350 KW//jam dengan tegangan 380 V, 220 V, 110 V dan 24V

5.1.3. Udara

Udara diperlukan untuk aerasi pada tahap pembiakan ragi pada tangki pembibitan. Udara tersebut dibutuhkan untuk mengakomodasi pembiakan sel secara aerobik.

Kebutuhan udara ini dipenuhi dengan sebuah kompresor tenaga listrik yang mempunyai tekanan maksimum 4 kg/cm2. Sebelum dialirkan udara ditampung dalam tangki kompresor udara dan dilewatkan tangki penyaring udara yang berisi silika gel. Kebutuhan udara untuk aerase sebesar 12 m2/jam.

5.1.4. Steam

Kebutuhan steam Pabrik Spiritus Madukismo berasal dari unit pembangkit steam dengan bahan bakar batubara, yang bernama Basuki. Spesifikasi uap yang dihasilkan memiliki temperatur 120-1300C dengan tekanan sekitar 0,5 kg/cm2. Kapasitas pemakaian steam Pabrik Spiritus Madukismo adalah 60-70 ton/hari.

amilhasbala@gmail.com - 41 -

5.2. Pengolahan Limbah

Limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik spirtus, pengolahan limbah diolah dalam Unit Pengolahan Limbah Cair Waste Water Treatment atau Sewage Treatment Plant (STP) Pabrik Madukismo.

Jumlah limbah cair dari pabrik spirtus yang berupa vinase lebih kurang 480 m3/hari, sedangkan jumlah limbah cair dari pabrik gula 50 m3/hari.

5.2.1. Jenis limbah cair Pabrik Spiritus Madukismo

Limbah cair yang dihasilkan Pabrik Spiritus Madukismo adalah sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5.

Vinasse, merupakan hasil bawah dari kolom kasar (maische kolom) Luther wasser, merupakan hasil bawah dari rektifiser dan nachloop kolom Air bekas pencucian tangki dan drum serta alat alat lainnya Gas CO2 yang dihasilkan dari tangki pembibitan dan peragian Limbah cair yang berasala dari kamar mandi, wastafel, WC, urinoir, sarana cuci tangan, pencucian bahan makanan dan lain-lain.

5.2.2. Karakteristik limbah pabrik spiritus

Karakteristik limbah pabrik spiritus adalah sebagia berikut:

amilhasbala@gmail.com - 42 -

1.

Fisik

: warna keruh pekat, suhu relative tinggi. Konsisten kental (lemak protein), berat jens relative tinggi (zat organik terlarut), zat padat tersuspensi dan terdapat buih.

2.

Kimia

: pH cenderung rendah, organik, lemak, protein dan karbohidrat

3.

Biologi

: bakteri pathogen/apatogen, fungi, virus dan algae

5.2.3. Sistem pengolahan

Sistem pengolahan yang dipakai dalam menangani limbah cair Pabrik Spiritus Madukismo adalah dengan perpaduan antara pengolahan fisik, mekanik, biologis, dan kimia fisika.

5.2.4. Tahap pengolahan

Terdiri dari:

1.

Pemipaan, merupakan jarignan penghubung sumber-sumber penghasil limbah cair ke instalasi sewage treatment plant.

2.

Bangunan pengolahan, yang terdiri atas: a. b. Assenering Bak-bak pengolahan dari unit-unit sewage treatment plant

amilhasbala@gmail.com - 43 -

5.3. Proses pengolahan limbah

5.3.1. Perlakuan pendahuluan

Tahapan perlakuan ini terdiri dari penyaringan dan pembersihan limbah dengan penyaringan menggunakan cartridge system untuk membersihkan limbah dari benda-benda yang mengapung. Tahap pertama ini dilakukan untuk memperlancar proses dan meindungi kerusakan peralatan yang dipakai pada tahap perlakuan berikutnya.

Pada perlakuan pendahuluan ini bertujuan untuk menghilangkan zat padatan tercampur melalui pengendapan atau pengapungan. Kegiatan utama pada tahap ini adalah pengendapan. Beberapa alat yang berkaitan dengan perlakuan tersebut adalah:

1. 2.

Grit chamber, digunakan untuk menangkap pasir dan kerikil kasar. Cooling tray system, digunakan untuk menurunkan kandungan zat terlarut dalam air.

3.

Flash mix, digunakan untuk membuat campuran limbah homogen dengan menggunakan pengaduk.

4.

Microstaining, merupakan saringan yang terdiri dari bahan drum yang diputar, sedangkan drum itu dibungkus ayakan dari bahan stainless steel. Pada penggunaan drum berputar dengan 2/3 bagian dari drum terendam di dalam air limbah. Dengan demikian air yang cukup jernih dapat masuk ke dalam drum sedangkan lumpurnya tertahan pada ayakan pembungkusnya

amilhasbala@gmail.com - 44 -

dan melekat sehingga ikut terangkat pada saat drum diputar. Pada saat lumpur berada pada daerah yang tidajk terendam air maka lumpur tersebut disemprot dengan air sehingga terbawa keluar.

5.3.2. Secondary treatment

Pada tahapan ini digunakan proses khemis dan biologis. Untuk tujuan proses perlakuan khemis mendahului proses biologis. Proses biologis

menggunakan artificial activated sludge untuk proses-proses aerob dan anaerob.

5.3.2.1. Perlakuan kimia

1.

Sedimentasi I (koagulasi), digunakan untuk mengendapkan partiket diskrit serta menurunkan kadar BOD dan suspended solid.

2.

Koagulasi dan flokulasi lanjutan, dimaksudkan untuk mengendapkan partiket mikro yang lolos pada koagulasi sebelunya.

5.3.2.2. Perlakuan biologis

Perlakuan limbah secara biologis dilakukan setelah perlakuan secara khemis, hal ini dengan pertimbangan bakteri dalam bioreaktor akan terhambat perkembangannya menerima limbah cair yang konsentrasinya tinggi berkaitan dengan tekanan osmosis media serta karena dalam pengolahan gula terdapat banyak kandungan senyawa organik majemuk yang relatif sukar terdegradasi, juga untuk menurunkan suhu menjadi 35-450C. pada proses koagulasi akan mengendapkan beberapa bakteri yang tidak terendapkan oleh gravitasi. Setelah

amilhasbala@gmail.com - 45 -

keluar dari proses koagulasi perlu penetralisir pH, dimana pH diharapkan dalam suasana netral. Hal ini untuk menjaga agar mikrobia dapat bekerja secara optimal, disisi lain tidak terjadi H2S pada proses biodegradasi, sehingga bau busuk dapat dihindari. Pada proses biologis dilakukan:

a. Proses anaerobic

Proses anaerobic yang digunakan dimaksudkan untuk dapat mendegradasi senyawa organik yang ada, proses pengasaman dan proses metanogenasi, dengan reaksi sebagai berikut : Bakteri + bakteri anaerob organik asam organik + CO2 + H2O +energi + bakteri anaerob penghasil metan + CH4 + CO2 + energi metan

Energi metan dapat dihasilkan, sedangkan sludge yang terkumpul dikeringkan di drying bed. Lemak terutama yang tahan terhadap perombakan anaerob, akan menyebabkan buih atau lapisan film, dan penyumbatan saluran, untuk itu perlu dilakukan pengolahan secara aerobik dengan memasukkan limbah cair ke dalam aerobik bioreaktor.

Proses aerobik

Pada aerobik bioreaktor ini dimasukkan bakteri-bakteri aerob (mixed culture) yang spesifik dan mampu merombak polutan sisa-sisa limbah cair tersebut. Begitu pula dalam proses aerobic ini akan dihasilkan sejumlah sludge,

amilhasbala@gmail.com - 46 -

yang akan mengendap, dan akhirnya dimasukkan ke drying bed sedang limbah cair yang keluar akan dimasukkan ke cartridge yang pada pengeluarannya dilengkapi biokontrol.

amilhasbala@gmail.com - 47 -

BAB VI LABORATORIUM

Pabrik Spiritus Madukismo mempunyai laboratorium untuk melakukan pengawasan dan analisis-anaisis demi kelangsungan jalannya pabrik. Yang perlu dianalisis dalam laboratorium adalah:

1. 2. 3. 4.

Pemeriksaan terhadap bahan mentah Pemeriksaan terhadap bahan setengah jadi Pengontrolan kualitas terhadap alkohol Pemeliharaan yeast

6.1. Pemeriksaan bahan mentah

Pemeriksaan bahan mentah dilaksanakan tiap hari, dan setengah bulan dilakukan pemeriksaan keseluruhan. Setiap hari diambil contoh tetes untuk diperiksa berat jenis, brix, polarisasi dan RQ-nya. Dari contoh harian ini diambil sejumlah tertentu dan dikumpulkan dalam botol pengumpul. Setelah 15 hari kumpulan contoh ini dianalisa berat jenis, brix, polarisasi, sakarosa, gula reduksi dan RQ-nya.

6.1.1. Cara analisis brix dan berat jenis

a.

Timbang 15 gram tetes dan tambahkan 135 ml aquadest, diaduk pelanpelan dengan pengaduk gelas sehingga tetes larut sempurna.
amilhasbala@gmail.com - 48 -

b.

Larutan tersebut dimasukkan dalam piknometer yang bersih dan kering dan telah diketahui nilai airnya, setelah penuh tutupnya dipasang.

c. d.

Bagian luar dari piknometer beserta isinya ditimbang denga teliti. Berat larutan dibagi nilai airnya memberikan berat jenis larutan, lalu dengan pertolongan tabel, didapat brix tak terkoreksi.

e.

Suhu larutan dibaca, kemudian dengan pertolongan tabel diperoleh brix yang telah terkoreksi.

6.1.2. Cara analisis polarisasi dalam tetes

a.

Untuk menentulakn polarisasi, larutan dimasukkan ke dalam labu takar 100/110 sampai tanda 100.

b.

Larutan ditambah Pb asetat basa sampai tanda 110 dan digojog bolakbalik, lalu disaring dan beberapa mL larutan pertama dibuang.

c. d.

Filtrate yang jernih diisikan kedalam tabung polarisasi lalu diamati. Dari brix tak terkoreksi dan pembacaan angka polarisasi dapat diketahui polarisasiny.

6.1.3. Cara analisis sakarosa dalam tetes

a.

Ditimbang 37,75 gram tetes, lalu ditambahkan sedikit air kemudian dituang ke dalam labu takar 250 mL.

b.

Sambil dikocok ditambahkan 30 mL larutan timbal nitrat 50% dan larutan NaOH 8%.

c.

Ditambahkan aquadest sampai batas leher labu.

amilhasbala@gmail.com - 49 -

d.

Leher labu dipegang antara kedua telapak tangan dan diputar-putar beberapa kali sekeliling poros memanjang supaya udara diantara endapan naik dan keluar. Bila terjadi buih, hilangkan dengan beberapa tetes eter.

e.

Ditambahkan aquadest sampai garis dan ditambahkan sedikit tanah infusoria, dikocok lalu disaring (beberapa tetes pertama tidak ditampung).

f.

Filtrat yang jernih dimasukkan ke dalam labu takar 100/110 sampai tanda 100, kemudian ditambahkan larutan alumunium sulfat 30% sampai garis hampir garis 110, lalu ditambahkan air hingga garis 110.

g.

Ditambahkan sedikit lagi tanah infusoria, dikocok dan disaring (beberapa tetes pertama tidak ditampung).

h.

Polarisasinya diamati dengan tabung polarisasi 4 dm, pembacaan ini adalah polarisasi sebelum inversi.

i.

Memasukkan 50 mL tapisan polarisasi kedalam labu takar 100 ml, tambahkan 30 ml HCl (1:1) lalu diamkan 2 sampai 3 jam.

j.

Ditambahkan air sampai garis, 2 gram arang aktif, dikocok, disaring dan diamati polarisasinya dalam tabung polarisasi 2 dm.

k. l.

Suhu zat cair dalam tabung dan suhu ruang polarisasi dicatat. Kadar sakarosa dihitung dengan rumus : Z = 100.S/(C-0,5t) Dengan : S : jumlah polarisasi sebelum dan sesudah inversi, yang terakhir dengan tanda sebaliknya dan dikalikan 4 C : tetapan inversi menurut steuerwald (tabel)

amilhasbala@gmail.com - 50 -

: suhu zat cair

6.1.4. Cara analisis gula reduksi

Analisis gula reduksi menggunakan cara iodometri dengan larutan fehling sebagai berikut:

a.

Enam gram tetes ditambahkan air sedikit, dituangkan ke dalam labu 250 mL dan diberi 15 mL timbal asestat netral 10% kemudian digojog.

b.

Sesudah tercampur ditambah aquadest sampai garis tanda kemudian digojog dan disaring (beberapa tetes pertama tidak ditampung)

c.

Dari filtrat yang ditampung diambil 50 mL dan dimasukkan ke dalam labu 100 mL, kemudian ditambahkan dengan campuran natrium natrium fosfat kalium oksalat (7 gram Na3HPO4.12H2O + 3 gram K2C2O4 + H2O sampai 100 mL), 5 mL untuk menyisihkan kelebihan garam timbal dan kapur.

d. e.

Ditambah aquadest sampai garis kemudian digojog dan disaring. Diambil 50 mL tapisan dan dituang ke dalam erlenmeyer 300 mL, ditambah 50 mL larutan fehling ( 25 mL fehling I dipipet + 25 mL fehling II dengan pipet ukur), 2 atau 3 butir batu kambang yang sudah dicuci dan dipijarkan.

f.

Dipanaskan diatas kompor listrik yang diberi kasa sampai mendidih selama 5 menit.

g.

Selanjutnya cepat-cepat didinginkan dalam air yang mengalir sedemikian rupa sehingga Cu2O tidak terkena udara.

amilhasbala@gmail.com - 51 -

h.

Ke dalam larutan yang sudah dingin ditambah 25 mL larutan KI 20% dan 30 mL asam sulfat ( satu bagian asam sulfat + 5 bagian air).

i.

Iodium yang terjadi dititrasi engan larutan Na2S2O3 0,1N. agar perubahan warna lebih terlihat jelas, pada akhir titrasi ditambahkan 3 sampai 4 mL larutan kanji 1%. Dengan demikian terjadi perubahan warna dari ungu tua menjadi ungu biru muda, kemudian menjadi kuning mentega.

j.

Dilakukan percobaan blangko dengan larutan fehling dan 50 mL aquadest untuk mengetahui angka fehlingnya.

k.

Angka tersebut dikurangi dengan angka yang didapatkan pada analisis x 63,37 x titer Na2S2O3 = mg tembaga yang diendapkan oleh gula invert sebagai Cu2O.

l.

Dari angka tersebut diatas dan angka polarisasi tetes serta dengan pertolongan tabel dapat diketahui kadar gula invert-nya.

6.2. Pemeriksaan bahan setengah jadi

Pemeriksaan bahan setengah jadi meliputi:

1. 2. 3.

Pemeriksaan masakan tetes Pemeriksaan hasil pembibitan Pemeriksaan hasil fermentasi

amilhasbala@gmail.com - 52 -

6.1.2. Pemeriksaan masakan tetes

Terhadap masakan tetes dilakukan uji brix. Pengambilan contoh pada tangki-tangki masakan 3A, 3B dan tangki-tangki 8 dilakukan tiap kali masuk dengan menggunakan ember-ember plastik.

6.2.2. Pemeriksaan hasil pembibitan

Terhadap hasil pembibitan dilakukan analisis yang sama dengan tangki masakan tetes, hanya saja disini dilakukan tiap 2 jam untuk tangki 22 dan 25.

6.2.3. Pemeriksaan hasil fermentasi

Terhadap hasil fermentasi dilakukan analisa brix seperti diatas dan contohnya diambil dari tangki-tangki 26 tiap 2 jam sekali. Saat contoh akan disuling, dianalisis kadar alkoholnya dengan cara sebagai berikut:

a.

Diambil contoh sebanyak 500 mL dimsukkan kedalam labu distilasi kemudian ditambahkan aquadest hingga 1 liter.

b.

Selanjutnya didistilasi dan distilatnya ditampung dalam labu takar 500 mL serta dijaga supaya distilat tertampung tepat 500 mL.

c. d.

Distilat didinginkan dalam lemari es sampai suhu sedikitnya 15 0C. Dengan menggunakan alkohol meter kemudian dengan pertolongan tabel dapat diketahui kadar alkkoholnya.

amilhasbala@gmail.com - 53 -

6.3. Pengontrolan kualitas alkohol

Pemeriksaan kualitas terhadap alkohol hasil, seperti halnya pada pemeriksaan bahan mentah, setiap hari diambil contoh alkoholnya untuk dianalisis. Sejumlah tertentu dari contoh-contoh tersebut dikumpulkan dalam botol-botol pengumpul selama 15 hari untuk dianalisis secara setengah bulan. Pengambilan contoh untuk keperluan analisis dilakukan baik terhadap alkohol prima maupun alkohol teknis. Macam dan cara analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:

6.3.1. Reaksi barbet Contoh sebanyak 50 mL (suhu dijaga tetap 150C) ditambah larutan KMnO4 0,02% sebanyak 2 mL, dikocok sampai homogen dan dicatat waktu mulai dari pengambilan KMnO4 sampai warnanya sama dengan warna standar yang ada. Percobaan ini sebaiknya dilakukan dalam kolf tertutup rapat, karena sangan dipengaruhi oleh oksigen dari udara luar.

6.3.2. Analisis minyak fusel

Pereaksi :

1. P-dimethylminobenzaldehide (60719) dalam labu ukur 100 ml, larutkan 1 gr p-dab, 5 ml H2SO4 pa + aquadest sampai tanda. 2. Isobutil-alkohol, isoamyl-alkohol, alkohol absolut (100%)

amilhasbala@gmail.com - 54 -

Standarisasi minyak fusel sintesis :

1. Timbang 2 gr isobutyl-alkohol, 8 gr isoamyl-alkohol dilarutkan dengan aqudest sampai volume 100 ml, Gojog hingga benar-benar larut. 2. Ambil 1 ml larutan a, dimasukkan labu takar 100 ml, encerkn dengan alkohol absolut sampai tanda. 3. Ambil larutan b masing-masing 0,5 ml, 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, dan 5ml, masukkan dalam labu takar 10 ml (6 labu takar). Encerkan dengan alkohol absolut sampai tanda (Larutan standar) Larutan ini mengandung minyak fusel 5-50 mgr/l.

Cara uji : Ambil 2 ml larutan standar, 2 ml contoh (alkohol murni dan teknis) bila perlu diencerkan, 2 ml aquadest (sebagai blanko), masukkan masing-masing kedalam tabung reaksi kemudian taruh dalam esbath. Pipet 1 ml p-dab kedalam masing-masing tabung reaksi, gojog dan kembalikan ke esbath selama tiga menit. Dengan tetap pada esbath, tambahkan 10 ml H2SO4 pa kedalam masing-masing tabung, gojog dan kembalikan ke esbath lagi. Didihkan pada waterbath selama 30 menit. Kembalikan ke esbath selama 3-5 menit, biarkan sampai suhu kamar. Dibaca % tansmitansi ( %T ) dari contoh standar dengan blanko sebagai referensi pada panjang gelombang 495 nm.

Perhitungan : Dengan menggunakan analisa regresi dan hasilnya dikalikan 10. Diperoleh kadar fusel dalam ppm.
amilhasbala@gmail.com - 55 -

6.3.10. Sisa penguapan

Pinggan penguap yang bersih dan kering ditimbang dengan teliti, diisi 100 mL contoh, lalu diuapkan diatas waterbath sampai kering, kemudian dikeringkan pada suhu 1050C selama 30 menit, didinginkan dalam eksikator dan selanjutnya ditimbang.

6.3.12. Uji terhadap keasaman

20 mL contoh dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N dan indikatornya PP, biasanya keasaman akan ditulis dengan jumlah mL larutan NaOH 0,1 N per 20 mL contoh.

6.3.13. Uji terhadap kebasaan

20 mL contoh dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N dan indikatornya MM, biasanya kebasaan akan ditulis dengan jumlah mL larutan HCl 0,1 N per 20 mL contoh.

6.3.14. Kadar aldehid

Ditimbang 50 gram contoh dalam erlenmeyer 300 mL, ditambah 10 mL hydroxylamine 70% dalam aquadest, lalu ditambahkan 150 mL aquadest dan didiamkan selama 30 menit, selanjutnya dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan indikator Methyl Orange. Kadar aldehid = (titer x normalitas x S)/0,1

amilhasbala@gmail.com - 56 -

6.4. Pemeliharaan yeast

Yeast dipelihara dalam media agar-agar dan setiap dua minggu sekali dipindahkan ke media agar-agar yang baru.

Bahan-bahan yang digunakan adalah:

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Tetes brix 6 Tauge Pisang Pepton Urea Pupuk H2SO4 Agar-agar Glukosa

: 1 liter : 100 gram : 2 biji : 10 gram : 1 gram : 0,3 gram : 1 mL : 2 batang : 20 gram

Tauge direbus dengan tetes lalu disaring, filtratnya ditambah pisang ambon, lalu direbus dan disaring lagi, kemudian ditambah urea, pupuk, Pepton, H2SO4, glukosa dan agar-agar. Larutan ini dituangkan ke dalam tabung reaksi 10 mL, di sterilkan, dimiringkan dan setelah dingin ditanam.

amilhasbala@gmail.com - 57 -

6.4.1. Cara penanaman

Yeast diambil dengan ose yang telah disterilkan, lalu digoreskan pada permukaan media agar-agar miring. Pekerjaan ini dilakukan secara aseptis, setelah diinkubasi selama 3 hari pada suhu kamar. Bila tidak terjadi kontaminasi disimpan dalam lemari es.

amilhasbala@gmail.com - 58 -

BAB VII STRUKTUR ORGNISASI

Sturktur organisasi PG dan PS madukismo tergabung menjadi satu, karena kedua pabrik tersebut berada dibawah satu perusahaan PT Madubaru.

7.1. Status karyawan

Berdasarkan sifat hubungan kerja dengan perusahaan, maka karyawan PT Madubaru terdiri dari dua bagian, yaitu:

1.

Karyawan tetap, yaitu yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan untuk jangka waktu yang tidak tentu. Karyawan tetap terdiri dari : a. b. Karyawan Pimpinan Karyawan pelaksana

2.

Karyawan kontrak waktu tertentu (KKWT), yaitu karyawan yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan untuk jangka waktu tertentu. Karyawan KKWT terdiri dari : a. Karyawan KKWT dalam pabrik, yaitu yang karyawan ada yang

melaksanakan

pekerjaan-pekerjaan

hubungannya

langsung dengan produksi alkohol. Jangka waktu hubungan kerjanya adalah satu musim pengoperasian pabrik spiritus. b. Karyawan KKWT luar pabrik, yaitu karyawan yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan disekitar pabrik namun tidak ada hubungan
amilhasbala@gmail.com - 59 -

langsung dengan proses produksi alkohol. Jangka waktu hubungan kerja adalah satu musim pengoperasian pabrik spiritus. c. Karyawan borong yaitu karyawan yang bekerja di perusahaan secara insedentil. Hubungan kerjanya diadakan dari hari kehari, serta diupah secara borongan.

7.2. Sistem pembayaran gaji

Karyawan tetap, KKWT dalam pabrik dan KKWT luar pabrik pembayaran gajinya dilaksanakan secara bulanan (setiap bulan sekali). Untuk karyawan borong, pembayaran upahnya dilakukan secara borongan.

7.3. Jam kerja

Pabrik bekerja selama 24 jam sehari dan dibagi menjadi 3 shift, yaitu: Shift I, jam 06.00 14.00 Shift II, jam 14.00 22.00 Shift III, jam 22.00 06.00

a. b. c.

Pergantian shift dilakukan seminggu sekali. Sedangkan untuk karyawan jam kerjanya adalah hari Senin s/d Kamis jam 06.30 15.00, hari Jumat dan Sabtu jam 06.30 11.30, dengan waktu istirahat satu jam (11.30 12.30). karyawan yang bekerja di luar harian kerja (hari minggu) diperhitungkan sebagai jam lembur.

amilhasbala@gmail.com - 60 -

7.4. Jaminan sosial

Karyawan-karyawan di PG/PS Madukismo selain mendapat gaji juga mendapat jaminan sosial seperti:

1.

Penggantian biaya pengobatan Biaya perawatan di rumah sakit (yang ditunjuk perusahaan) untuk karyawan tetap dan perusahaan. keluarganya diganti seluruhnya oleh

2.

Penggantian kacamata, berlaku bagi karyawan dan tidak untuk keluarganya.

3.

Pakaian dinas Setiap tahun diberikan dua stel pakaian dinas/kerja yang terdiri dari celana dan kemeja.

4.

Gula hadiah Diberikan 2 minggu sebelum hari raya Idul Fitri atau hari natal.

5.

Rumah dinas Untuk karyawan yang tidak menggunakannya, digantikan dengan tunjangan kompensasi penggantian sewa rumah.

6. 7. 8.

Tunjangan kematian Sarana ibadah, sarana olahraga dan sarana kesenian Tunjangan hari tua/ hak pensiun dan lain-lain.

amilhasbala@gmail.com - 61 -

BAB VIII SPESIFIKASI ALAT

A. Alat-alat Proses
1. Stasiun Penimbunan Tetes a. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi Jumlah : TANGKI PENIMBUNAN TETES : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 12 m : 8,8 m : 984,84 m3 : Menimbun tetes dari PG. Madukismo : 4 unit

b. Nama Alat Jenis Kapasitas Penggerak Fungsi Jumlah

: POMPA TETES LUAR : Screw Pump : 5 m3/jam : Motor listrik 5,6 KW, 965 rpm, 380 volt, 50 hz : Memindahkan tetes ke tangki adonan : 1 unit

c. Nama Alat

: PENIMBUNAN TETES (MOLASSES PIT)

amilhasbala@gmail.com - 62 -

Bentuk Bahan panjang Tinggi Kapasitas Fungsi Jumlah

: Kantong penimbun : HDPE plastik : 20 m :5m : 10.000 ton : Menimbun tetes dari PG. Madukismo : 1 unit

2. Stasiun Masakan a. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi Jumlah : TANGKI ADONAN : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm :2m : 3,46 m : 9000 liter : Membuat adonan untuk proses peragian : 5 unit

b. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak

: POMPA BIBIT : Sihi : 2 unit : Motor listrik 5,5 KW, 1.450 rpm, 380 volt, 50 hz Motor listrik 5 KW, 1.440 rpm, 380 volt, 50 hz

amilhasbala@gmail.com - 63 -

Fungsi

: Memindahkan adonan dari tangki 3A dan 3B ke tangki 22 dan 25 pada proses peragian

c. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak

: POMPA ADONAN : Sihi : 2 unit : Motor listrik 5,5 KW, 1450 rpm, 380 volt, 50 hz Motor listrik 5 KW, 1440 rpm, 380 volt, 50 hz

Fungsi

: Memindahkan adonan dari tangki 8/1, 8/2 dan 8/3 ke tangki 26 pada proses peragian

3. Stasiun pembibitan dan Peragian a. Nama Alat Bentuk Bahan : TANGKI PEMBIBITAN I : Silinder Vertikal : a. Tembaga b. stainless steel Diameter Tinggi Fungsi Jumlah Perlengkapan : a. 0,33 m : a. 0,25 m b. 0,34 m b. 0,275 m

: Membangkitkan bibit : 2 unit : Pipa pendingin diameter 20 mm

b. Nama Alat

: TANGKI PEMBIBITAN II

amilhasbala@gmail.com - 64 -

Bentuk Bahan

: Silinder Vertikal : a. Tembaga

b. stainless steel

Diameter Tinggi Fungsi Jumlah Perlengkapan

: a. 0,42 m : a. 0,57 m

b. 0,40 m b. 0, 58 m

: Pengembangbiakan bibit : 2 unit : Thermometer, cooler dan pipa untuk aerasi

c. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi Jumlah

: TANGKI PEMBIBITAN III (tangki 22) : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 8 mm : 11,75 m : 1,75 m : 4.086 liter : Memperbanyak bibit : 3 unit

d. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter

: TANGKI CO2 PADA TANGKI 22 : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 8 mm : 0,5m

amilhasbala@gmail.com - 65 -

Tinggi Volume Fungsi

: 0,65m : 127,5 liter : Menampung CO2 yang dihasilkan dari tangki 22 kemudian dibuang ke udara

Jumlah

: 3 unit

e. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi Jumlah

: TANGKI PEMBIBITAN UTAMA (tangki 25) : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm :3m :3m : 18.000 liter : Mengembangbiakkan bibit : 3 unit

f. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi Jumlah

: TANGKI PERAGIAN UTAMA : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 4,5 m : 5,5 m : 87.429 liter : Untuk proses peragian utama : 9 unit

amilhasbala@gmail.com - 66 -

g. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Fungsi

: TANGKI CO2 PADA TANGKI 25 : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 0,8 m : 1,1 m : 502 liter : Menampung CO2 yang dihasilkan dari tangki 25 kemudian dibuang ke udara

Jumlah

: 3 unit

h. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Fungsi

: TANGKI SARINGAN AIR : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 750 mm : 1650 mm : Untuk menyaring air dari sungai Winongo sebelum digunakan sebagai pendingin.

Jumlah

: 2 unit

i. Nama Alat Perlengkapan Power

: KOMPRESOR UDARA : Motor listrik : 11KW, 500 rpm

amilhasbala@gmail.com - 67 -

Kapasitas Fungsi Jumlah

: 240 m3/jam : Menyuplai udara untuk aerasi pada pembibitan : 2 unit

j. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak Fungsi

: POMPA PENGEMBALIAN BESLAG : ITUR : 1 unit : Motor listrik 7,5 KW, 2920 rpm, 380 volt, 50 hz : Memindahkan sisa beslag yang tidak ditarik ke stasiun penyulingan ke tangki yang akan disuling berikutnya.

k. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak

: POMPA MAISCHE KOLOM : Sihi : 3 unit : Motor listrik 6 KW, 1410 rpm, 380 volt, 50 hz Motor listrik 10 KW, 1450 rpm, 380 volt, 50 hz

Fungsi

: Memindahkan beslag dari tangki 26 ke maishe kolom

l. Nama Alat Jumlah Penggerak

: POMPA AIR SUNGAI : 2 unit : Motor listrik 8 KW, 2880 rpm, 220/380 volt, 50 hz

amilhasbala@gmail.com - 68 -

Fungsi

: Memindahkan air sungai untuk keperluan pendigin dan kondensor

4. Stasiun Penyulingan a. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Plate Segmen Perlengkapan Jumlah Fungsi : MAISHE KOLOM (pemisahan kasar) : Silinder Vertikal : Tembaga : 1,2 m : 5,4 m : 16 buah : 5 buah : 2 termometer, 1 manometer dan saringan busa : 3 unit (1 cadangan) : Memisahkan alkohol dan beslag dari tangki 26 sehingga menjadi alkohol muda

b. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Plate

: VOORLOOP KOLOM : Silinder Vertikal : Stainless steel : Bubble Cup : 0,8 m : 8,8 m : 45 buah

amilhasbala@gmail.com - 69 -

Segmen Jumlah Fungsi

: 10 buah : 1 unit : Memisahkan aldehid dari alkohol muda menjadi alkohol teknis dan alkohol muda bebas aldehid

c. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Plate Segmen Perlengkapan Jumlah Fungsi

: REKTIFISER KOLOM : Silinder Vertikal : Tembaga : 1,25 m : 12,12 m : 63 buah : 11 buah : 4 termometer dan 1 manometer : 1 unit : Menghasilkan alkohol prima >95%

d. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Plate Segmen

: NACHLOOP KOLOM : Silinder Vertikal : Tembaga : 0,65 m : 12,85 m : 63 buah : 12 buah

amilhasbala@gmail.com - 70 -

Jumlah Fungsi

: 1 unit : Memisahkan alkohol dengan kadar kurang dari 55% menjadi alkohol prima

e. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: VOORWARMER : Silinder Vertikal : Stainless Steel : Shell and Tube : 0,79 m : 2,6 m :2m : 0,03 m : 164 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 25 m2 Perlengkapan Jumlah Fungsi : Pell Glass : 1 unit : Memanaskan feed maishe kolom dan mengkondensasikan uap alkohol yang dihasilkan maishe kolom (alat penukar panas)

f. Nama Alat

: KONDENSOR MAISHE KOLOM I

amilhasbala@gmail.com - 71 -

Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube Jumlah

: Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,4 m :2m : 1,5 m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch : 2 unit

g. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube Jumlah

: KONDENSOR MAISHE KOLOM II : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,4 m :2m : 1,5 m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch : 3 unit (1 cadangan)

amilhasbala@gmail.com - 72 -

h. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: KONDENSOR VOORLOOP KOLOM I : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,4 m :2m : 1,5 m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 5 m2 Jumlah : 1 unit

i. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: KONDENSOR VOORLOOP KOLOM II : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,4 m :2m : 1,5 m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

amilhasbala@gmail.com - 73 -

Luas permukaan : 5 m2 Jumlah : 1 unit

j. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: KONDENSOR REKTIFISER KOLOM I : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 1,2 m : 2,7 m :2m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 70 m2 Jumlah : 1 unit

k. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube

: KONDENSOR REKTIFISER KOLOM II : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 1,2 m : 2,7 m :2m

amilhasbala@gmail.com - 74 -

Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 10 m2 Jumlah : 1 unit

l. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: KONDENSOR NACHLOOP KOLOM I : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 1,2 m : 2,7 m :2m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 20 m2 Jumlah : 1 unit

m. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis

: KONDENSOR NACHLOOP KOLOM II : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube

amilhasbala@gmail.com - 75 -

Diameter Tinggi Panjang tube Diameter tube Jumlah tube Susunan tube

: 0,4 m :2m : 1,5 m : 0,03 m : 40 buah : Triangular Pitch

Luas permukaan : 5 m2 Jumlah : 1 unit

n. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Jumlah

: KONDENSOR CO2 KASAR : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,64 m : 1,6 m : 1 unit

o. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi

: KONDENSOR CO2 PRIMA : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,41 m : 1,98 m

amilhasbala@gmail.com - 76 -

Jumlah

: 1 unit

p. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi Jumlah

: PENDINGIN HASIL VOORLOOP : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,41 m : 1,98 m : 1 unit

q. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis Diameter Tinggi

: PENDINGIN HASIL PRIMA : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube : 0,7 m : 2,7 m

Luas permukaan : 25 m2 Jumlah : 1 unit

r. Nama Alat Bentuk Bahan Jenis

: PENDINGIN HASIL NACHLOOP : Silinder Vertikal : Tembaga : Shell and Tube

amilhasbala@gmail.com - 77 -

Diameter Tinggi

: 0,6 m : 1,3 m

Luas permukaan : 9,5 m2 Jumlah : 1 unit

s. Nama Alat Bentuk Fungsi Diameter Tinggi Luas Perlengkapan Jumlah

: SARINGAN BUSA : Silinder Vertikal dan tertutup : Mencegah buih yang terlihat dalam alkohol : 0,85 m :2m : Porselen kece sekitar 500 buah : Pipa tembaga berdiameter 10 in : 2 unit :

t. Nama Alat Bentuk

: REGULATOR UAP : terdiri dari 2 tangki a. Diameter 0,50 m, tinggi 0,4 m b. Diameter 0,75 m, tinggi 0,5 m

Jumlah Fungsi

: 5 unit : Mengatur pemasukan uap ke dalam masingmasing kolom dan mengatur tekanan uapnya

u. Nama Alat

: TANGKI PENCUCI MINYAK FUSEL

amilhasbala@gmail.com - 78 -

Bentuk Fungsi Bahan Jumlah

: Silinder Vertikal dan tertutup : Memisahkan fusel dari larutan fusel-air : Kaca : 1 unit

v. Nama Alat Bentuk fungsi

: TANGKI LUTHER WASSER : Silinder horizontal : Menampung luther wasser yang dihasilkan oleh kolom prima

Diameter Tinggi Bahan Jumlah

: 0,9 m :2m : Besi plat tebal 10 mm : 1 unit

5. Stasiun Penimbunan Alkohol Sementara a. Nama Alat Bentuk Bahan Volume : TANGKI ALKOHOL PRIMA I SEMENTARA : Silinder vertikal dan tertutup : Besi plat tebal 10 mm : a. 2000 lt e. 10.000 Jumlah Fungsi : a. 2 unit b. 1 unit c. 1 unit d. 2 unit e. 1 unit : Menampung alkohol hasil penyulingan untuk sementara b. 3.500 lt c. 4.000 lt d. 8.400 lt

amilhasbala@gmail.com - 79 -

b. Nama Alat Bentuk Bahan Volume Jumlah Fungsi

: TANGKI MINYAK FUSEL : Silinder vertikal dan tertutup : Besi plat tebal 10 mm : 200 liter : 1 unit : Menampung minyak fusel

1. Gudang penimbunan Alkohol a. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Panjang Volume Jumlah Fungsi : TANGKI PENIMBUN ALKOHOL (tangki 1-14) : Silinder horizontal : Besi plat tebal 10 mm :3m :9m : 50 m3 : 14 unit : Menyimpan alkohol prima I

b. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Panjang

: TANGKI PENIMBUN ALKOHOL (tangki 15-22) : Silinder horizontal : Besi plat tebal 10 mm :3m :9m

amilhasbala@gmail.com - 80 -

Volume Jumlah Fungsi

: 65 m3 : 8 unit : Menyimpan alkohol teknis

c. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Panjang Volume Jumlah Fungsi

: TANGKI PENIMBUN ALKOHOL (tangki 23) : Silinder vertikal : Besi plat tebal 10 mm : 9,7 m : 3,7 m : 273 m3 : 1 unit : Menyimpan alkohol prima

d. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Panjang Volume Jumlah Fungsi

: TANGKI PENIMBUN ALKOHOL (tangki 24) : Silinder vertikal : Besi plat tebal 10 mm : 9,7 m : 3,4 m : 200 m3 : 1 unit : Menyimpan alkohol prima

amilhasbala@gmail.com - 81 -

e. Nama Alat

: TANGKI PENIMBUN ALKOHOL (tangki 25 & 26)

Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Jumlah Fungsi

: Silinder vertikal : Besi plat tebal 10 mm : 12 m : 10 m : 1000 m3 : 1 unit : Menyimpan alkohol prima

f. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Panjang Volume Jumlah Fungsi

: TANGKI METHYLASI : Silinder vertikal : Besi plat tebal 10 m : 2,5 m dan 4 m : 2,5 m : 44 m3 : 3 unit : Membuat spiritus

g. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak

: POMPA ALKOHOL UNIT PENYULINGAN : sentrifugal : 3 unit : Motor listrik 2,2 KW, 2860 rpm, 380 volt, 50 hz

amilhasbala@gmail.com - 82 -

Fungsi

: Memindahkan alkohol dari tangki penyimpanan yang terdapat di gudang

h. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak Fungsi

: POMPA ALKOHOL UNIT METHYLASI : Sihi : 4 unit : Motor listrik 5,5 KW, 1440 rpm, 380 volt, 50 hz : Memindahkan alkohol yang akan dimethylasi

Alat-alat Utilitas
1. Stasiun Pembangkit Air a. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Jumlah Fungsi : TANGKI SARINGAN PASIR : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 2,6 m :4m : 21 m3 : 2 unit : Menyimpan air sungai dengan pasir

b. Nama Alat Bentuk

: TANGKI SARINGAN KARBON AKTIF : Silinder Vertikal


amilhasbala@gmail.com - 83 -

Bahan Diameter Tinggi Volume Jumlah Fungsi

: Besi Plat Tebal 10 mm : 2,6 m :4m : 21m3 : 2 unit : Menyimpan air sungai dengan karbon aktif

c. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume Jumlah Isi Fungsi

: TANGKI HIDROPHOR : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 2,6 m : 3,75 m : 20 m3 : 2 unit : Pasir : Menaikkan tekanan air bersih yang dihasilkan

d. Nama Alat Bentuk Bahan Diameter Tinggi Volume

: TANGKI PENYIMPAN AIR : Silinder Vertikal : Besi Plat Tebal 10 mm : 2,3 m :6m : 25 m3

amilhasbala@gmail.com - 84 -

Jumlah Isi Fungsi

: 1 unit : Pasir : Menguras tangki saringan pasir dan tangki saringan arang aktif

e. Nama Alat Bentuk Panjang Lebar Tinggi Volume Jumlah Fungsi

: BAK AIR BERSIH : Empat persegi panjang :8m :2m : 0,25 m : 4 m3 : 1 unit : Menampung air bersih sementara sebelum digunakan

f. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak Kapasitas Fungsi

: POMPA PEMBANGKIT AIR : Sentrifugal : 2 unit : Motor listrik 25 KW, 1450 rpm : 20 m3/jam : Mengalirkan air sungai dari tangki saringan air ke tangki saringan pasir

g. Nama Alat

: POMPA PEMBANGKIT AIR

amilhasbala@gmail.com - 85 -

Jenis/Merk Jumlah Penggerak Kapasitas Head Fungsi

: Sentrifugal : 2 unit : Motor listrik 5 KW, 2850 rpm : 35 m3/jam : 30 mm : Mengalirkan air bersih dari stasiun pembersih ke stasiun penyulingan

h. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak Kapasitas Head Fungsi

: POMPA PENGURAS : Sentrifugal : 2 unit : Motor listrik 3 KW, 1415 rpm : 65 m3/jam : 10 mm : Menguras tangki saringan pasir dan saringan arang aktif

i. Nama Alat Jenis/Merk Jumlah Penggerak Kapasitas

: KOMPRESOR : Sentrifugal : 2 unit : Motor listrik 1,34 Hp, 1415 rpm : 22 m3/jam

amilhasbala@gmail.com - 86 -

Fungsi

: Menguras tangki saringanpasir dan saringan arang aktif

j. Nama Alat Jumlah Bahan bakar Kapasitas Fungsi

: BOILER : 1 unit : Batubara : 7620 kg/jam : Membangkitkan steam dengan tekanan 0,4 kg/cm2

k. Nama Alat Fungsi

: SOFTENER : Menghilangkan garam-garam yang dapat menyebabkan meningkatnya kesadahan air dan mengolah air industri menjadi lunak

amilhasbala@gmail.com - 87 -

BAB IX TUGAS KHUSUS EVALUASI FERMENTOR

8.1. Latar Belakang Pabrik spiritus madukismo merupakan perusahaan yang produk utamanya adalah alkohol dan spiritus dengan kapasitas + 24.000 liter alkohol setiap hari, yang terdiri dari: 1. Alkohol prima Etanol yang memiliki kadar diatas 95% 2. Alkholol teknis Etanol yang memiliki kadar kurang dari 95% , dan alkohol ini selanjutnya akan diolah menjadi spiritus atau SDA-MET. Dengan penambahan bahan denaturan seperti pewarna methylene blue dan atau metanol. Pabrik spiritus madukismo mulai beroperasi penuh jika persediaan tetes pada tangki penimbunan telah cukup banyak untuk diolah, dimana dalam satu tahun pabrik spiritus madukismo bekerja sekitar 8 bulam. Dalam proses pembuatan etanol di pabrik spiritus madukismo digunakan proses fermentasi dengan menggunakan bakteri saccharomyces cerevisiae. Proses fermentasi ini akan mengubah tetes yang merupakan hasil samping dari pabrik gula madukismo menjadi alkohol. Proses fermentasi glukosa dari tetes menjadi

amilhasbala@gmail.com - 88 -

etanol terjadi dalam reaktor fermenter. Reaktor fermentasi termasuk dalam jenis bioreaktor yang dirancang agar dapat memaksimalkan siklus hidup dari bakteri sehingga dapat menghasilkan produk yang maksimal. Bireaktor yang dipakai dalam proses fermentasi di pabrik spiritus madukismo ini termasuk golongan reaktor batch. Dimana siklus proses sangat berpengaruh dalam jumlah produksi yang dihasilkan oleh pabrik. Untuk dapat memaksimalkan siklus produksi perlu dirancang komposisi yang opyimal dalam menjalankan reaktor fermentasi. Parameter optimalisasi dari reaktor fermentasi mencakup waktu siklus, jumlah nutrisi, konsentrasi bakteri sebagai fungsi waktu, dan juga kecepatan pembentukan produk. Untuk memperoleh produksi etanol yang optimum diperlukan rancangan desain fermenter dan kondisi operasi yang optimum. Oleh karena itu sangat penting untuk mengevaluasi reaktor fermentasi yang sedang digunakan saat ini dengan tujuan dapat menemukan kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi sehingga pada akhirnya dapat dicari usaha-usaha yang diperlukan untuk meningkatkan perorma reaktor fermentor.

8.2. Tujuan Mengevaluasi performa fermentasi pada bioreaktor (fermenter) tangki T26. Metode yang digunakan adalah mengevaluasi waktu fermentasi, konsentrasi
amilhasbala@gmail.com - 89 -

substrat, sel dan produk sebagai fungsi waktu. Selain itu juga di observasi kecepatan pembentukan dan kematian sel.

8.3. Evaluasi Dari uraian proses produksi Pabrik Spiritus Madukismo, inti proses produksi etanol adalah bioreaktor pada T-26. Untuk mengevaluasi performa dari bioreaktor ini diperlukan simulasi perhitungan agar didapatkan data perubahan konsentrasi produk, substrat dan yeast sebagai fungsi waktu. Fase-fase pertumbuhan sel dapat dilihat pada gambar sebagai berikut : (Fogler,1994)

III

Log konsentrasi sel

IV
II

Waktu, jam

Fase-Fase Pertumbuhan Sel Keterangan :

amilhasbala@gmail.com - 90 -

Fase I

: lag phase : ada sedikit pertumbuhan sel. Pada fase ini sel menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mensintesis enzim dan siap untuk memperbanyak diri.

Fase II

: exponential growth phase : Pertumbuhan sel sebanding dengan konsentrasi sel. Pertumbuhan sel pada kecepatan maksimum karena seluruh enzim untuk memproduksi produk sudah terbentuk dan sel bisa menggunakan substrat dan nutrisi dengan efisien.

Fase III

: stationary phase : kecepatan pertumbuhan sel minimum karena nutrisi dan substrat mulai terbatas.

Fase IV

: death phase : terjadi penurunan konsentrasi sel karena substrat dan nutrisi telah habis dan banyak sel yang mati akibat produk yang bersifat toksik.

Neraca massa keseluruhan

Persamaan-persamaan untuk Bioreaktor 1. Neraca Massa Sel


amilhasbala@gmail.com - 91 -

( Untuk V konstan

dengan : V x kd = Volume larutan = Konsentrasi sel (yeast) = tetapan kematian = kecepatan pertumbuhan sel

2. Neraca Massa Substrat

amilhasbala@gmail.com - 92 -

{ { (

} } (

))

Untuk V konstan ( )

dengan : rs = kecepatan volumetrik penggunaan substrat

Penggunaan substrat adalah untuk pertumbuhan sel, menghasilkan produk dan pemeliharaan sel.

dengan: = Yield biomassa sel yeast dari substrat = Yield produk dari substrat x = Konsentrasi sel (yeast)
amilhasbala@gmail.com - 93 -

qp ms

= kecepatan pembentukan produk = koefisien perawatan sel = kecepatan pertumbuhan sel

Pada growth phase, koefisien untuk pertumbuhan dan produksi menjadi satu sehingga persamaan menjadi :

Sehingga persamaan neraca massa substrat menjadi: ( )

Dengan : = Yield biomassa sel yeast dari substrat x ms = Konsentrasi sel (yeast) = koefisien perawatan sel = kecepatan pertumbuhan sel

amilhasbala@gmail.com - 94 -

3. Neraca Massa Produk

Untuk V konstan

dengan: x qp = Konsentrasi sel (yeast) = kecepatan pembentukan produk (Fogler, 1994) Data-data perhitungan : a. Konsentrasi sel mula-mula Data tentang konsentrasi sel mula mula tidak didapatkan dari observasi lapangan, namun didapatkan dengan memperkirakan jumlah nutrisi yang

amilhasbala@gmail.com - 95 -

dikonsumsi oleh yeast untuk berkembang biak. Dari perhitungan tersebut didapatkan : x0 = 0.00085 g/liter

massa yeast dari pendekatan berbasis gula sangat kasar karena sebenarnya gula lebih banyak digunakan pada proses respirasi yang menghasilkan lebih banyak energi. Sedangkan pendekatang menggunakan basis fosfor juga sangat kasar karena sebenarnya terdapat fosfor juga pada tetes. maka digunakan basis perhitungan yeast dari nitrogen. b. Konsentrasi substrat mula-mula Substrat yang berupa glukosa diperoleh dari tetes yang dipersiapkan dari tangki masakan. s0 = 200 g/liter

Sedangkan data pendukung didapatkan dari literatur: a. b. c. d. kd ms max Yxs = 0,1 j-1 = 0,03 g substrat/(g yeast.jam) = 0,33 jam-1 = 0.008 g substrat/g sel (Atkinson and Mavituna,1988) Dari persamaan (4), (11) dan (13) serta data-data di atas diselesaikan dengan penyelesaian persamaan diferensial ordiner dengan Runge-Kutta.

amilhasbala@gmail.com - 96 -

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. Fase pertumbuhan yeast maksimum saat fermentasi 36 jam 2. Laju pembentukan produk stasioner setelah 36 jam 3. Proses fermentasi pada fermentor PS Madukismo kurang optimum kemungkinan karena tidak adanya pengadukan. SARAN 1. Dilakukan penelitian untuk mencari waktu optimum fermentasi tanpa pengadukan. 2. Dilakukan penelitian utnuk menentukan pengadukan yang cocok.

amilhasbala@gmail.com - 97 -

DAFTAR PUSTAKA Fogler, S.H., 1999, Elements of ChemicalReaction Engineering, 2 ed., Prentice Hall Inc, New Jersey.

amilhasbala@gmail.com - 98 -

LAMPIRAN pemprogramaan clc clear tspan = [0:1:80]; z0 = [0.00085;215;0]; [t,z] = ode45('substrat',tspan,z0) % x = z(:,1); y = z(:,2); figure(1) plot(t,z(:,1)) title('t vs x') xlabel('t (jam)') ylabel('Konsentrasi yeast kg/m3') figure(2) plot(t,z(:,2)) title('t vs S') xlabel('t (jam)') ylabel('Konsentrasi Molases kg/m3') figure(3) plot(t,z(:,3)) title('t vs S') xlabel('t (jam)') ylabel('Konsentrasi ethanol kg/m3')

function zdot = substrat(t,z); um=0.33 kd=0.01 ysc=0.08 m=0.03 kobs=(um.*(1-z(3)/93)^0.52) u=kobs.*z(2)/(1.7+z(2)) zdot1=(u-kd).*z(1); zdot2=-(u/ysc+m).*z(1); zdot3=u.*5.6.*z(1); zdot=[zdot1;zdot2;zdot3]

Hasil run perhitungan menggunakan MATLAB :


amilhasbala@gmail.com - 99 -

t vs x 16 14 12

Konsentrasi yeast kg/m3

10 8 6 4 2 0

10

20

30

40 t (jam)

50

60

70

80
amilhasbala@gmail.com 100

t vs S 250

200

Konsentrasi Molases kg/m3

150

100

50

-50

10

20

30

40 t (jam)

50

60

70

80
amilhasbala@gmail.com 101

t vs S 100 90 80

Konsentrasi ethanol kg/m3

70 60 50 40 30 20 10 0

10

20

30

40 t (jam)

50

60

70

80
amilhasbala@gmail.com 102

- 103 -