Anda di halaman 1dari 21

Tugas Makalah Kimia Sekolah Lanjut

ANALISIS KONSEP UNTUK MEMPERJELAS MAKNA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 7 AHSANA HIKMAH HUSNAENI SANGKALA

PENDIDIKAN KIMIA PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

ANALISIS KONSEP

A. Defenisi Konsep Konsep adalah kesan indrawi yang mempunyai makna tertentu, memiliki kesatuan atribut yang berkaitan dengan simbol tentang objek, peristiwa atau proses dan yang diberi label dalam wujud kata, tanda, gerak badan dan angka. Contoh konsep: melayang, demo, pidato, pertandingan, lombok, merah, sepakbola dan sebagainya. Konsep secara sederhana adalah penamaan (pemberian label) untuk sesuatu yang membantu seseorang mengenal, mengerti dan memahami sesuatu hal tersebut. Konsep adalah kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berfikir dan memecahkan masalah. Contoh, jika kita menemukan informasi misalnya: ada sebuah benda kotak yang cukup besar, benda itu terbuat dari besi atau logam lain, ada rodanya, digerakkan dengan mesin, berjalan di jalan raya, digunakan untuk mengangkut manusia atau barang; dengan kemampuan mental manusia, informasi atau fakta tersebut disederhanakan dengan memberi label atau nama mobil. Konsep menurut Moore (Skeel, 1995:30) adalah sesuatu yang tersimpan dalam pikiran-suatu pemikiran, suatu ide atau suatu gagasan. Sedangkan Parker menyatakan bahwa konsep adalah gagasan-gagasan tentang sesuatu, konsep adalah suatu gagasan yang ada melalui contoh-contohnya. Konsep adalah sekelompok fakta atau data yang memiliki ciri-ciri yang sama dan dapat dimasukkan ke dalam satu nama label. (Sunaryo, 1989:118). Lebih jelas lagi, konsep adalah suatu abstraksi mengenai suatu kelompok benda atau stimulasi yang mempunyai persamaan karakteristik. Hasil dan abstraksi tersebut dinamakan konsep. Dengan demikian namalah yang membedakan antara satu konsep dengan konsep lainnya (Sumaatmadja. 1986:30). Contoh sebuah konsep dalam kehidupan sehari-hari adalah buku. Setiap kali orang menyebut buku maka dalam pikiran terdapat gambaran abstrak tentang apa yang dinamakan buku. Selanjutnya kita akan

selalu dapat menunjukkan mana yang dimaksudkan buku dan mana yang dimaksudkan majalah. Buku dan majalah terdiri atas lembaran- lembaran halaman kertas, namun isi dari masing-masing serta karakteristiknya berbeda. Jadi konsep itu mempunyai tingkatan-tingkatan, yang membedakan tingkatan suatu konsep dengan konsep lainnya adalah derajat abstraksi yang dimilikinya. Hal yang membedakan derajat abstraksi suatu konsep dengan lainnya adalah karakteristik utama konsep yang disebut atribut. Atribut adalah sifat yang membedakan suatu konsep, sehingga menimbulkan bermacam-macam konsep (De Cecco dalam Husem Achmad, dkk. 1982:3). Setiap konsep mempunyai atribut dan tidak selalu sama jumlah dan kualitasnya. Makin tinggi tingkat abstraksi suatu konsep, makin berkurang jumlah atributnya, sehingga ada semacam perbandingan terbalik atau korelasi negatif. Atribut suatu konsep mempunyai nilai, nilai ini mempunyai daya pembeda seperti atribut. Suatu atribut yang sama apabila mempunyai nilai-nilai yang berbeda menyebabkan kita dapat membedakan adanya konsep yang berlainan. Peranan nilai atribut ini sangat terasa apabila kita akan membedakan dua konsep yang mempunyai kedudukan yang sejajar. Sebagai contoh kita akan membedakan antara laki-laki dan perempuan dengan atribut yang kita pergunakan sama yaitu bentuk fisik, suara, dan alat kelamin. Ketiga atribut ini kita kenakan baik kepada konsep laki-laki maupun konsep wanita. Kita dapat membedakan antara lakilaki dan perempuan karena atributnya berbeda. Konsep dinyatakan dalam sejumlah bentuk: konkrit atau abstrak; luas atau sempit; satu kata atau frase. Konsep konkrit misalnya yang berkaitan dengan tempat, objek, lembaga, atau kejadian seperti: manusia, gunung, pulau, lautan, daratan, rumah, negara, pantai politik, barang konsumsi, produsen, pabrik, gempa bumi, kemarau, dan sebagainya. Sedangkan konsep abstrak, misalnya: demokrasi, toleransi, adaptasi, kejujuran, kesetiaan, kebudayaan, kemerdekaan, keadilan, kebebasan, saling ketergantungan, tanggung jawab, kerja sama, hak, kesamaan, pertentangan, sistem hukum, dan sebagainya.

Beberapa konsep begitu luas dan abstrak sehingga sulit untuk dirumuskan dan harus diuraikan agar dapat dipahami, misalnya konsep kebudayaan, kasih sayang, kesejahteraan, dan lain-lain. Sementara itu ada konsep yang sangat sempit yang penggunaannya terbatas, misalnya gubuk. Konsep juga bisa terdiri dari satu kata, misalnya kerja, namun bisa juga berupa frase seperti pembagian kerja. Suatu konsep dapat dipahami dengan mudah bila dibahas atribut, kelas (golongan), dan simbolnya. Atribut adalah ciri yang membedakan suatu objek atau peristiwa atau proses dari obyek, peristiwa atau proses lainnya. Atribut dapat didasarkan atas fakta berupa informasi konkret yang dapat dibuktikan melalui laporan seseorang atau hasil pengamatan langsung. Laporan verbal, gambar-gambar, chart yang berisi data dapat digunakan untuk mengkomunikasikan atribut. Hal ini biasanya disampaikan melalui media massa. Misalnya konsep melayang dan konsep terbang, adalah atribut untuk menjelaskan suatu peristiwa melayang dan peristiwa terbang. Kedua konsep tersebut berbeda, tidak dapat disamakan walaupun kondisinya sama. Kelas atau golongan adalah pengelompokan kategori dari benda, kejadian atau gagasan (pikiran). Setiap kelas memasukkan atribut yang sama dan mengeluarkan atribut yang berbeda atau tidak berhubungan. Kelas didasarkan pada atribut yang ditentukan/bukan semua atribut. Contoh: semua orang dapat kita masukkan pada kelas tertentu seperti: Pria-Wanita, PNS-Non PNS, Guru-Murid, Kaya-Miskin, sahabat-kerabat. Setiap kelas merupakan bagian dari sekelompok kelas, dan kelas yang besar dapat dibagi dalam kelas kecil (subkelas). Pada dasarnya kelas merupakan landasan untuk membentuk konsep, dan kelas itu sendiri juga suatu konsep. Simbol. Setiap kelas dapat digambar dengan simbol. Simbol dapat dinyatakan dengan kata, tanda, gerakan badan, angka sebagai alat untuk mengkomunikasikan dengan kelas lain. Sepakbola adalah simbol untuk menjelaskan perilaku manusia

yang bermain bola dengan atribut menggunakan kaki, tidak boleh pakai tangan, dan sebagainya. Berdasarkan penjelasan di atas, konsep dapat dipahami sebagai kumpulan pengertian abstrak (the abstract body of meaning ) yang berkaitan dengan simbol untuk kelas dari suatu benda (obyek), kejadian atau gagasan. Konsep bersifat abstrak berisi pengertian yang berhubungan dengan semua anggota kelas yang mungkin (tidak dengan satu contoh khusus dari kelas). Konsep adalah subyektif dan diinternalisasikan, karena setiap orang akan membangun konsepnya sendiri berdasarkan pengalaman, membaca buku, diskusi dan sebagainya sehingga menangkap sesuatu atau suatu atribut. Setelah itu baru disampaikan kepada manusia yang lainnya baik secara langsung atau tidak langsung. Konsep selain bersifat abstrak, ada juga yang bersifat konkrit (fisik), artinya mudah dilihat, didengar dan dipahami. Konsep sungai, jalan, jembatan, makan, mandi, tas, pensil adalah contoh dari konsep yang bersifat konkrit, sedangkan konsep yang bersifat abstrak seperti demokrasi, persatuan, kerakyatan, ramah, santun dan sebagainya. Konsep bukanlah suatu yang bersifat verbalisasi/tidak spesifik, konsep merupakan kesadaran mental yang bersifat internal yang mempengaruhi perilaku. Artinya perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh kemampuan dalam memahami suatu konsep. Pemahaman yang salah bisa mengakibatkan munculnya perilaku tertentu yang dapat berakibat tidak baik dan menyengsarakan bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya. Misalnya bila seseorang memahami makna lampu lalu lintas sesuka hatinya, tidak seperti yang pahami saat ini, kira-kira apa yang akan terjadi. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas suatu konsep harus memiliki: (1) label yang memungkinkan bersifat tunggal, buntu, agar tidak terjadi dualisme; (2) deskripsi yang diakui dan disepakati secara umum; dan (3) dirumuskan atas dasar fakta, demikian juga sebaliknya yaitu suatu konsep harus ada faktanya.

Macam-macam konnsep yang kita pelajari tidak terbatas. Konsep panas sangat berbeda dari konsep relativitas dalam beberpa dimensi. Flavel (1970) menyarankan bahwa konsep-konsep dapat berbeda tujuh dimensi, yaitu: 1. Atribut Setiap konsep memiliki sejumlah atribut yang berbeda. Contoh-contoh konsep harus mempunyai atribut-atribut yang relevan; termasuk juga atribut-atribut yang tidak relevan, contohnya konsep meja. 2. Struktur Struktur menyangkut cara terkaitnya atau tergabungnya atribut-atribut itu. Ada tiga macam struktur yang dikenal yaitu; konsep-konsep konjuktif adalah konsepkonsep dimana terdapat dua konsep contonya, wanita yang main dalam film dimana atributnya ialah wanita dan main dalam film. Konsep-konsep

disjunktif adalah konsep-konsep dimana satu dari dua atau lebih sifat-sifat harus ada contohnya konsep seorang paman yang merupakan kakak dari ibu atau ayah. Konsep-konsep relasional menyatakan hubungan tertentu antara atributatribut konsep. Kelas social adalah suatu contoh dari konsep relasional. Kelas social ditentukan oleh hubungan antara pendapatan, pendidikan, jabatan atau pekerjaan, dan factor-faktor lainnya. 3. Keabstrakan Konsep-konsep dapat dilihat dan konkrit, atau konsep-konsep itu terdiri dari konsep-konsep lain. 4. Keinklusifan Konsep ini ditujukan pada jumlah contoh-contoh yang terlibat dalam konsep itu. 5. Generalitas atau keumuman Bila diklasifikasikan, konsep-konsep dapat berbeda dalam posisi superordinat atau subordinat. 6. Ketepatan Ketepatan suatu konsep menyangkut apakah ada sekumpulan aturan-aturan untuk membedakan contoh-contoh dari noncontoh-noncontoh suatu konsep.

7. Kekuatan (power) Kekuatan suatu konsep ditentukan oleh sejauh mana orang setuju, bahwa konsep itu penting. Berdasarkan dimensi-dimensi tersebut, manusia tidak bisa sesuka hatinya memberi label, konsep, atas suatu fakta. Karena berbagai fakta yang ada di permukaan bumi sudah memiliki sebutan, kecuali sebutan dengan deskripsi dan fakta yang baru. Selain itu, karakteristik tersebut menjadikan manusia tidak bisa gegabah menyebut suatu fakta dengan konsep tertentu. Maksudnya, suatu obyek atau peristiwa tidak bisa gegabah disebut sebagai konsep tertentu, kalau tidak dipahami terlebih dahulu bagaimana deskripsi dari konsep tersebut yang telah disepakati bersama.

B. Hakikat Analisis Konsep

Hal yang harus disadari saat ini adalah pentingnya belajar konsep tentang sesuatu. Konsep yang dimaksud disini tidak lain dari kategori-kategori yang kita berikan dari stimulus atau rangsangan yang ada di lingkungan kita. Konsep yang ada di dalam struktur kognitif individu merupakan hasil dari pengalaman yang ia peroleh. Jika keadaannya demikian, sebagian konsep yang dimiliki individu merupakan hasil dari proses belajar yang mana proses hasil dari proses belajar ini akan menjadi pondasi (building blocks) dalam struktur berpikir individu. Konsep-konsep inilah yang dijadikan dasar oleh seseorang dalam memecahkan masalah, mengetahui aturanaturan yang relevan, dan hal-hal lain yang ada keterkaitannya dengan apa yang harus dilakukan individu. Di dalam kegiatan pembelajaran, guru mempunyai peran yang sangat besar dalam proses transfer pengetahuan, karena guru mempunyai tugas memfasilitasi dan mengkondisikan terjadinya situasi dimana siswa mampu memahami suatu fakta dan konsep. Bahkan di masa sekarang, tugas guru bukan hanya itu, tetapi ditambah dengan mengkondisikan terjadinya situasi dimana siswa mampu menemukan

pengetahuan, serta menindaklanjuti dalam sikap, perilaku dan keterampilan, serta mengkonstruksi suatu pengetahuan baru. Berdasarkan tugas tersebut, maka salah satu syarat utama untuk menjadi guru adalah memahami fakta dan konsep dengan benar sesuai dengan bidang ilmu masingmasing. Bagaimana mungkin guru bisa menyampaikan fakta, konsep, generalisasi, prosedur, kaidah dan nilai kepada siswa kalau yang bersangkutan tidak memahaminya. Bisa-bisa, nanti yang disampaikan guru bukan sesuatu yang benar, tetapi sesuatu yang menyesatkan, dan akhirnya kesengsaraan. Demikian halnya dengan tugas mengkondisikan situasi agar siswa mampu menemukan dan fakta dan konsep mengkonstruksikannya. Bagaimana guru bisa memfasilitasi siswanya untuk menemukan pengetahuan atau mengkonstruksi pengetahuan kalau yang bersangkutan tidak memahami makna fakta, konsep dan generalisasi dalam suatu bidang ilmu yang menjadi tanggungjawabnya. Selain harus mengetahui memahami dengan benar fakta dan konsep yang akan ditransfer kepada siswa, guru juga harus memahami keterkaitan antar fakta dan konsep. Hal ini ditujukan agar pengetahuan yang disampaikan kepada siswa didasarkan pada data dan bukti-bukti yang secara rasional dan empiris diakui kebenarannya, terutama ketika membahas interaksi antar konsep. Bagi siswa, pemahaman akan suatu fakta dan konsep yang benar menjadi sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hidupannya serta mengatasi berbagai permasalahan hidup yang akan dihadapinya di masa yang akan datang. Kesalahan pemahaman atas suatu fakta dan konsep menjadikan siswa mengalami penderitaan dalam hidupnya kini dan di masa depan. Prasyarat kedua sebagai guru dalam suatu kegiatan pembelajaran adalah memahami teori dan praktek pembelajaran. Seorang guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan fakta, konsep dan generalisasi kepada siswa dengan menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran yang bervariasi, sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.

Setiap fakta dan konsep mempunyai karakteristik khas, dan membutuhkan cara yang khas untuk bisa disampaikan kepada pihak lain secara efektif. Demikian halnya dengan bidang keilmuannya. Maksudnya, cara menyampaikan fakta, konsep dan generalisasi dalam ilmu sosial tidak bisa disamakan dengan ilmu alam begitupun sebaliknya. Kondisi tersebut menuntut guru sebagai pelaku utama dalam kegiatan pembelajaran untuk memahami karakteristik fakta, konsep dan generalisasi dalam ilmu masing-masing agar kegiatan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik, efektif, partisipatif, dan menyenangkan. Prasyarat berikutnya sebagai guru adalah memiliki pemahaman yang utuh dan benar tentang karakteristik psikologis siswa serta kondisi sosial, ekonomi dan budayanya. Pemahaman ini penting bagi guru di dalam memilih fakta, konsep serta generalisasi yang akan disampaikan serta menentukan strategi yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran. Ketiga prasyarat kemampuan di atas bersifat integrative dan interaktif untuk menjadi guru. Artinya, kemampuan dalam memahami fakta, konsep dan generalisasi secara benar, kemampuan memahami teori dan praktek pembelajaran dengan benar, dan kemampuan memahami karakteristik psikologis, sosial, ekonomi dan budaya siswa merupakan satu kesatuan yang utuh, berkaitan, dan proses berkelanjutan. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menganalisis konsep-konsep yang akan diberikan kepada para peserta didik, konsep-konsep yang salah atau miskonsepsi tersebut akan mengakibatkan peserta didik mengalami kesalahan juga untuk konsep pada tingkat berikutnya atau ketidakmampuan menghubungkan antar konsep. Hal ini mengakibatkan terjadinya rantai kesalahan konsep yang tidak terputus karena konsep awal yang telah dimiliki akan dijadikan sebagai dasar belajar konsep selanjutnya. Pembelajaran pada dasarnya berbicara tentang transfer pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari fakta, konsep, generalisasi, prosedur, kaidah dan nilai. Dengan pemahaman akan fakta, konsep dan generalisasi menjadi penting untuk dilakukan baik bagi guru maupun siswa. Bahkan bukan hanya

pemahaman, tetapi juga keterkaitan serta bagaimana mengidentifikasi suatu konsep serta mengembangkan generalisasi. Pemahaman akan fakta, konsep dan generalisasi menjadi dasar bagi manusia dalam mengembangkan keterampilan, prosedur yang baik serta di dalam bersikap dan berperilaku. Kesalahan dalam memahami fakta, konsep, dan generalisasi

mengakibatkan terjadi kondisi ketidakterampilan, prosedur yang salah serta adanya sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai.

C. Analisis Konsep Beberapa konsep yang telah banyak diteliti adalah unsur, senyawa dan campuran; reaksi kimia; ikatan kimia; termokimia dan elektrokimia; atom dan molekul; konsep mol; kelarutan dan larutan; penguapan dan kondensasi; dan sifatsifat materi. Dari penelitian-penelitian tersebut diperoleh hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya miskonsepsi adalah: a. pemisahan ilmu fisik dalam mental mereka (compartmentalization), kimia dianggap sebagai ilmu yang terpisah yang tidak saling terkait sehingga mereka menggunakan istilah yang berbeda untuk menjelaskan fenomena yang sama, b. tidak tersedianya pengetahuan yang tepat, c. penggunaan bahasa sehari-hari yang salah dalam kimia, d. penggunaan definisi dan model ganda, dan e. penggunaan hafalan Klausmeier (1977) menghipotesiskan ada empat tingkat pencapaian konsep, yaitu : 1. Tingkat konkret Tingkat konkret ditandai dengan adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal. Contohnya pada suatu saat anak bermain kelereng dan pada waktu yang lain dengan tempat yang berbeda ia menemukan lagi kelereng, lalu ia bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah kelereng maka anak tersebut sudah mencapai tingkat konkret.

2. Tingkat identitas Pada tingkat identitas seseorang dapat dikatakan telah mencapai tingkat konsep identitas apabila ia mengenal suatu objek setelah selang waktu tertentu, memiliki orientasi ruang yang berbeda terhadap objek itu, atau bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. Misalnya mengenal kelereng dengan cara memainkannya, bukan hanya dengan melihatnya lagi. 3. Tingkat klasifikatori Tingkat klasifikatori dapat digambarkan anak sudah mampu mengenal persamaan dari contoh yang berbeda tetapi dari kelas yang sama. Misalnya anak mampu membedakan antara apel yang masak dengan apel yang mentah. 4. Tingkat formal Pada tingkatan formal anak sudah mampu membatasi suatu konsep dengan konsep lain, membedakannya, menentukan ciri-ciri, memberi nama atribut yang membatasinya, bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal Menganalisis konsep yang akan diberikan pada siswa harus dimulai dengan melihat bagaimana sebenarnya kedudukan konsep itu sendiri dalam konsep dan pemahaman konsep. Konsep merupakan integrasi mental atas dua unit atau lebih aspek realitas (entitas, sifat, kegiatan, kualitas, hubungan, dan sebagainya) yang diisolasikan menurut ciri khas dan disatukan dengan definisi yang khas. Kegiatan pengisolasian yang terlibat merupakan proses abstraksi, yaitu fokus mental selektif yang menghilangkan atau memisahkan aspek tertentu realitas dari yang lainnya. Proses penyatuan yang terlibat bukan semata-mata merupakan penjumlahan, melainkan integrasi, yaitu pemaduan unit menjadi entitas mental yang baru. Suatu konsep diperoleh melalui tiga tahap yaitu: 1. Pertama adalah tahap kategorisasi, yaitu upaya mengkategorikan sesuatu yang sama atau tidak sesuai dengan konsep yang diperoleh. 2. Masuk ketahap selanjutnya, setelah kategori yang tidak sesuai disingkirkan, dan kategori-kategori yang sesuai digabungkan sehingga membentuk suatu

konsep (concept formation). Setelah itu, suatu konsep tertentu baru dapat disimpulkan. 3. Tahap terakhir inilah yang dimaksud dengan perolehan konsep. Pada umumnya, konsep memiliki lima elemen, yaitu: 1. Nama adalah istilah yang diberikan kepada suatu kategori (kumpulan pengalaman, objek, konfigurasi, atau proses). Nama digunakan untuk membantu memahami dan mengomunikasikan konsep 2. Contoh (positif dan negatif) yang menunjuk pada contoh konsep 3. Atribut (esensial dan nonesensial) adalah karakteristik umum untuk menempatkan contoh-contoh dalam kategori yang sama. Atribut digunakan untuk menjelaskan dan membantu memahami dalam mendefinisikan konsep 4. Nilai artibut adalah standar karakteristik pada objek dan fenomena; dan 5. Aturan adalah definisi atau pernyataan khusus tentang atribut esensial suatu konsep (Bruner dalam Joyce & Weill, 1980). Herron (1977) mengidentifikasi karakteristik yang dimiliki konsep

meliputi: label konsep, atribut konsep (atribut kritis dan atribut variabel) dan jenis konsep. Dengan demikian dalam analisis konsep, perlu diidentifikasi karakteristik konsep, yang meliputi ; label konsep, definisi konsep, atribut konsep, hirarki konsep, jenis konsep, contoh dan noncontoh. 1. Label Konsep Label konsep adalah nama konsep atau sub konsep yang dianalisis. Contoh label konsep ; unsur, senyawa, atom, larutan, dan lain-lain. 2. Definisi Konsep Defenisi konsep didefinisikan sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dari siswa. Untuk suatu label konsep yang sama, konsep dapat didefinisikan berbeda sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai siswa dan tingkat perkembangan kognitif siswa. 3. Atribut kritis dan atribut variable

Atribut kritis merupakan ciri-ciri utama konsep yang merupakan penjabaran definisi konsep. Atribut variabel menunjukan ciri-ciri konsep yang nilainya dapat berubah, namun besaran dan satuannya tetap. 4. Hirarki Konsep Hirarki konsep menyatakan hubungan suatu konsep dengan konsep lain berdasarkan tingkatannya, yaitu : a. konsep superordinat (konsep yang tingkatannya lebih tinggi) b. konsep ordinat (konsep yang setara) c. konsep subordinat (konsep yang tingkatannya lebih rendah). Hirarki konsep dapat direpresentasikan dalam bentuk peta konsep

dan digunakan untuk menentukan urutan pembelajaran konsep. 5. Jenis Konsep Umumnya jenis konsep dikelompokkan menjadi dua, yaitu konsep konkrit dan konsep abstrak. Namun dalam ilmu kimia, terdapat banyak konsep yang sukar dikelompokkan dengan jelas ke dalam konsep konkrit ataupun abstrak. Oleh karena itu Herron (1977) mengembangkan jenis-jenis konsep menjadi delapan jenis konsep, yaitu sebagai berikut: a. Konsep konkrit, yaitu konsep yang atribut kritis dan atribut variabel dapat diidentifikasi, sehingga relatif mudah dimengerti, mudah dianalisis dan mudah memberikan contoh dan noncontoh. Contoh konsep konkrit antara lain: gelas kimia, tabung reaksi, batu baterai, sel aki, sel Volta. b. Konsep abstrak, yaitu konsep yang atribut kritis dan atribut variabelnya sukar dimengerti dan sukar dianalisis, sehingga sukar menemukan contoh dan noncontoh. Konsep seperti ini relatif sukar untuk diajarkan/dipelajari, karena tidak mungkin mengkomunikasikan informasi tentang atribut kritis konsep ini melalui pengamatan langsung. Oleh karena itu, diperlukan model-model atau ilustrasi yang mewakili contoh dan noncontoh. Contoh konsep abstrak antara lain: atom, molekul, inti atom, ion, proton, neutron.

c. Konsep abstrak dengan contoh konkrit, yaitu konsepnya mudah dikenali, namun mengandung atribut sukar dimengerti, sehingga sukar membedakan contoh dan noncontoh. Contohnya antara lain: unsur, senyawa, elektrolit. d. Konsep berdasarkan prinsip, yaitu konsep yang memerlukan prinsip-prinsip pengetahuan untuk menggunakan dan membedakan contoh dan noncontoh. Contohnya antara lain: konsep mol, beda potensial. e. Konsep yang menyatakan simbol, yaitu konsep yang mengandung

representasi simbolik berlandaskan aturan tertentu. Contohnya antara lain: rumus kimia, rumus, persamaan. f. Konsep yang menyatakan nama proses, yaitu konsep yang menunjukkan terjadinya suatu tingkah-laku tertentu.Contohnya antara lain: destilasi, elektrolisis, disosiasi, oksidasi, meleleh. g. Konsep yang menyatakan sifat dan nama atribut. Konsep-konsep seperti: massa, berat,muatan listrik, muatan, frekuensi, bilangan oksidasi, dan mudah terbakar merupakan atribut atau ciri-ciri suatu obyek. h. Konsep yang menyatakan ukuran atribut. Sama seperti diatas, namun bentuknya berupa satuan ukuran untuk atribut. Contohnya antara lain satuan konsentrasi : molaritas, molalitas, normalitas, ppm, pH. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Berikut ini langkah-langkah menyusun konsep: 1. Menentukan nama konsep Orang dapat membentuk konsep-konsep tanpa memberi nama pada konsep itu, terutama pada tingkat konkret dan tingkat identitas. Tetapi, setelah mereka masuk sekolah mereka diberi pelajaran tentang nama-nama konsep yang telah diterima secara luas.

2. Menentukan atribut-atribut kriteria dan variabel konsep Atribut-atribut criteria suatu konsep adalah ciri-ciri konsep yang perlu untuk membedakan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh, dan untuk menentukan apakah suatu objek baru merupakan suatu contoh dari konsep. Atribit-atribut variabel konsep ialah ciri-ciri yang mungkin berbeda di antara contoh-contoh tanpa mempengaruhi inklusi dalam kategori konsep itu. 3. Menentukan definisi konsep Pada tingkat formal, siswa dapat belajar konsep melalui definisi yang diberikan. Kemampuan untuk menyatakan suatu definisi dari suatu konsep dapat digunakan sebagai suatu criteria bahwa siswa telah belajar konsep itu. 4. Menentukan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh Dengan membuat daftar dari atribut-atribut dari suatu konsep, pengembangan konsep-konsep dan nonkonsep-nonkonsep dapat diperlancar. 5. Menentukan hubungan konsep pada konsep-konsep lain : superordinat, koordinat, dan subordinat. Untuk sebagian besar konsep-konsep, kita dapat mengembangkan suatu hiarki dari konsep-konsep yang berhubungan yang memperlihatkan bagaimana suatu konsep terkait pada konsep-konsep lain.

D. Analisis Konsep Dalam Kimia Berikut ini disajikan tabel analisis konsep kimia pada materi hidrokarbon ANALISIS KONSEP

No

LABEL KONSEP

DEFENISI KONSEP

JENIS KONSEP

ATRIBUT KONSEP ATRIBUT KRITIS ATRIBUT VARIABE L

KEDUDUKAN KONSEP SUB ORDINAT KOORDINA T SUPER ORDINAT

CONTOH

NON CONTOH

1.

Senyawa hidrokarbon

Senyawa yang terbentuk antara atom C dan H merupakan senyawa hidrokarbon

Konsep yang menyangkut prinsip

Unsur karbon Unsur Hidrogen Senyawa hidrokarbon

Jenis senyawa hidrokarbon

Atom karbon

Senyawa hidrokarbon

Senyawa hidrokarbon jenuh dan senyawa hidrokarbon tak jenuh

C2H6

C 2H5OH

2.

Senyawa hidrokarbon siklik

Jenis senyawa hidrokarbon yang memiliki bentuk rantai karbon

Konsep yang mengandung prinsip

Rantai karbon tertutup Senyawa

Jenis senyawa hidrokarbon

Senyawa karbon

Bentuk rantai Isomer karbon senyawa hidrokarbon

Siklobutana

CHCl3 (kloroform)

tertutup merupakan senyawa hidrokarbon siklik 3. Senyawa hidrokarbon alifatik Jenis senyawa hidrokarbon yang memiliki bentuk rantai karbon terbuka merupakan senyawa hidrokarbon siklik 4. Senyawa hidrokarbon jenuh Jenis senyawa hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya tunggal Konsep yang mengandung prinsip Konsep yang mengandung prinsip

hidrokarbon siklik

Rantai karbon terbuka Senyawa hidrokarbon alifatik

Jenis senyawa hidrokarbon

Senyawa karbon

Bentuk rantai Isomer karbon senyawa hidrokarbon

C4H10

CHCl3 (kloroform)

Ikatan tunggal Senyawa hidrokarbon jenuh

Jenis senyawa hidrokarbon

Senyawa karbon

Jenis ikatan senyawa hidrokarbon

Isomer senyawa hidrokarbon

C3H8

CH3OH

5.

Senyawa hidrokarbon tak jenuh

Jenis senyawa hidrokarbon yang ikatan atom karbonnya rangkap

Konsep yang mengandung prinsip

Ikatan rangkap Senyawa hidrokarbon

Jenis senyawa hidrokarbon

Senyawa karbon

Jenis ikatan senyawa hidrokarbon

Isomer senyawa hidrokarbon

C3H6

CH3OH

tak jenuh 6. Alkana Senya wa hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan karbonkarbonnya memiliki ikatan tunggal merupakan alkana 7. Alkena Senya wa hidrokarbon alifatik tak jenuh dengan satu ikatan karbon rangkap merupakan alkena. Konsep yang mengandung prinsip Senyawa hidrokarbon Alifatik Tak jenuh Ikatan rangkap Alkena 8. Alkuna Senya wa hidrokarbon Konsep yang mengandung Senyawa hidrokarbon Jenis senyawa Alkena Jenis ikatan senyawa Isomer C2H2 CH4 Jenis senyawa hidrokarbon Alkana Jenis ikatan senyawa hidrokarbon Alkuna C2H4 C2H2 Konsep yang mengandung prinsip Senyawa hidrokarbon Rantai terbuka Ikatan karbon Alkana Jenis senyawa hidrokarbon Senyawa karbon Jenis ikatan senyawa hidrokarbon alkena CH4 C2H4

alifatik tak jenuh dengan satu ikatan karbon rangkap tiga merupakan alkuna.

prinsip

Alifatik Tak jenuh Ikatan rangkap tiga Alkuna

hidrokarbon

hidrokarbon

9.

Isomer

Senyawa-senyawa yang berbeda tetapi mempunyai rumus molekul yang sama merupakan isomer.

Konsep yang mengandung prinsip

Senyawasenyawa Rumus molekul Isomer

Jenis senyawa hidrokarbon

Alkuna

Jenis ikatan senyawa hidrokarbon

Reaksi pada senyawa hidrokarbon

Butana dan isobutana

Etana dan etanol

E. KESIMPULAN

1. Konsep adalah sekelompok fakta atau data yang memiliki ciri-ciri yang sama dan dapat dimasukkan ke dalam satu nama label. 2. Konsep terdiri dari 3 komponen utama:
a.

label yang memungkinkan bersifat tunggal, buntu, agar tidak terjadi dualism

b. c.

deskripsi yang diakui dan disepakati secara umum; dan dirumuskan atas dasar fakta,

3. konsep memiliki karakteristik yaitu label konsep, atribut konsep (atribut kritis dan atribut variabel) dan jenis konsep 4. Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam pencapaian konsep 5. Analisis konsep mengarahkan manusia kepada pemahaman akan fakta, konsep dan generalisasi yang menjadi dasar bagi manusia dalam mengembangkan keterampilan, prosedur yang baik serta di dalam bersikap dan berperilaku. Kesalahan dalam memahami fakta, konsep, dan generalisasi mengakibatkan terjadi kondisi ketidakterampilan, prosedur yang salah serta adanya sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai. 6. Langkah-langkah menganalisis konsep
a. b. c. d. e.

merencanakan urutan-urutan pengajaran

bagi

Menentukan nama konsep Menentukan atribut-atribut kriteria dan variabel konsep Menentukan definisi konsep Menentukan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh Menentukan hubungan konsep pada konsep-konsep yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham, et. al. 1992. Understanding and Misunderstanding of Eight Grades of Five Chemistry Concept in Text Book. Journal of Research in Science Teaching. 29(12). Arends, Richard L. 2008. Learning To Teach Edisi Ketujuh Buku Satu. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Dahar, R.W. 2006. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Erlangga: Bandung Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta: Bandung