Anda di halaman 1dari 3

Extracta (ekstraksi)

Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental dan cair, dibuat dengan mencari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, yaitu maserasi, perlokasi atau penyeduhan dengan air mendidih. Sebagai cairan penyari digunakan air, eter, atau campuran air dengan etanol. Penyarian dilakukan diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Penyari dengan campuran air dan etanol dilakukan dengan cara maserasi atau perlokasi. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perlokasi. Penyarian dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perlokasi, atau disiram dengan air mendidih. Pembuatab sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat yang berkhasiat di dalam simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya. Dalam sediaan akstrak dapat di standarisasikan kadar dengan zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat yang di dapat dalam simplisia sukar di dapat yang sama. Beda penyarian pada ekstrak dan tingtur adalah pada ekstrak disari sampai zat berkhasiat dalam simplisia habis sedangkan dalam tingtur hanya sebagian zat berkhasiat yang di sari.

Maserasi Kecuali dinyatakan lain, maserasi dilakukan ssebagai berikut: sepuluh bagian simplisia dilakukan atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok di masukan dalam sebuah bejana. Lalu dituangkan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan di biarkan Selma 5 hari terlindung dari cahaya matahari sambil sering di aduk. Setelah 5 hari cairan tersebut di serkai, di peras, di cuci ampasnya dengan cairan penyari secukupnya sampai menapai memperoleh 100 bagian. Lalu maserat di pindahkan dibejana tertutup lalu di biarkan di tempat yang sejuk. Terlindung dari matahari selama 2 hari, maserat di enaptuangkan atau di saring. Kemudian maserat di suling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih 50 0 hingga konsistensi yang di kehendaki Maserat yang dibuat dibuat dimaserasi dengan air segera di panasi pada suhu 900 , untuk mengendapkan putih telur, agar sediaan dapat tahan lama.

Perlokasi Kecuali dinyatakan lain, perlokasi dilakukan sebagai berikut, sepuluh bagian simplisia dilakukan atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dibasahi dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, lalu dimasukkan ke dalam bajana tertutup sekurang- sekurangnya selama 3 jam. Masa di pindahkan sekikit dami sedikit ke dalam perlokator sambil tiap kali di tekan hatihati, dituangkan dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai meneras dan di atas simplisisa masih terdapat selapis cairan penyari. Lalu perlokator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam. Kemudian kran dibuka dan dibiarkan cairan penyari menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, cairan penyari berulang-ulang ditambahkan secukupnya hingga selalu terdapat selapis cairan penyari secukupnyanya di atas simplisisa. Perlokasi di teruskan sampai 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Perkolat kemudian disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 500 hingga konsentrasi yang dikehendaki. Pada pembuatan ekstrak cair, 0,8 bagian pertama perkolat dipisahkan, perkolat selanjutnya kemudian di uapkan hingga 0,2 bagian dan selanjutnya dicampur dengan perkolat pertama. Pembuatan ekstrak cair denga etanol dapat dilakukan dengan cara reperlokasi tanpa penggunaan panas. Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air dihangatkan pada suhu lebih kurang 90 0 ,di endapkan dan di serkai diuapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih 50 0 hingga bobot sama dengan bobot simplisia yang di gunakan. Di endapkan di tempat yang sejuk selama 24 jam. Di serkai, di uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0 hingga konsistensi yang di kehendaki. Pemanasan 900 dimaksudkan agar zat putih telur mengendap dan disaring agar ekstrak tidak lekas busuk. Hasil akhir ekstrak cair dengan penyari etanol harus di biarkan di tempat yang sejuk selama 1 bulan, kemudian di saring sambil mencegah penguapan.

Hal-Hal Khusus yang perlu di perhatikan dalam pembuatan resep Extrctum di bedakan berdasarkan konsistensi menjadi : Extrctum liquidum ( ekstrak cair ) Extrctum spissum (ekstrak kental) Extrctum siccum (ekstrak kering) Farmakope menghendaki agar ekstrak kering mudah di gerus menjadi serbuk dan ekstrak kering harus higroskopis, maka itu harus di simpan di dalam botol bertutup kapur tohor CaO.

Sering ekstrak ditambahakan dalam larutan atau diencerkan, maka perlu perlu di ketahui kelarutan ekstrak dalam larutan atau pelarut. Bila ekstrak di buat dengan cairan etanol, maka di gunakan pelarut etanol dalam melarutkan atau mengencerkan. Bila ekstrak di buat dengan cairan penyari air, maka dapat larut atau di encerkan dengan air. Misalkan belladone extractum dan hyoscyami extractum, karena pada pembuatan ekstrak tersebut di lakukan dengan pengenceran dengan air maka nama cairan penyari sering di cantumkan, sehingga diketahui zat cai apa yang digunnakan seperti: Ratanhiae Extrctum aquosum siccum.

Reperlokasi Reperlokasi adalah perlokasi berulang yaitu perkolat yang di peroleh dari perlokasi simplisia pertama digunakan lagi sebagai cairan simplisia ke dua, simplisia yang digunakan adalaj sama. Sebagai contoh adala pembuatan extract Thymi liquidum yang terdapat dalam CMN (Codex Medicamentorum Nederlandicus). Serbuk herbal thyme sebanyak 1 kg di bagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian pertama 500 g, bagian keda 325 g dan again ketiga 175 g. bagan pertama dimasukan dalam percolator dan dengan cairan penyari diperkolasi sampai memperolej perkolat 175 g, dan di sisihkan disebut perkolat 1. Selanjutnnya perkolasi diteruskan dampapi di peroleh cairan 1500 g dan disebut cairan lanjutan 1. Bagian kedua diperlokasi dengan cairan lanjutan 1 sampai memperoleh perkolat 325 g disisihkan dan dusebut perkolat II. Selanjutnya perlokasi dilanjutkan, dan cairan yang keluar berikutnya di sebut perkolat 2. Bagian ketiha do perlokasi dengan cairan lanjutan 2 sampai diperoleh 500 g perkolat dan di sebut perkolat 3. Selanjutnya campurkan prkolat 1,2,dan 3.